Beranda blog Halaman 711

Rafael van Der Vaart dan Kisah Cintanya Dengan Tottenham Hotspurs

“Seharusnya aku tidak meninggalkan Tottenham pada saat itu. Akan tetapi, aku merasa bila pelatih Andre Villas Boas tidaklah cocok untukku,”

Ungkapan tersebut keluar dari mulut Rafael van Der Vaart pada saat diwawancarai oleh FourFourTwo pada tahun 2018 silam. Terlepas dari ketangguhan Spurs saat ini, klub yang terletak di wilayah ibukota itu pernah mengukir cerita indah bersama dengan pemain asal Belanda bernama Rafael van Der Vaart.

Rafael van Der Vaart ketika itu langsung menjadi idola, sejak pertama kali didatangkan ke White Hart Lane. Dia berhasil mengambil hati para penggemar dengan sebuah permainan indah. Bahkan, tak jarang bola yang bersarang di gawang lawan berasal dari kaki-kaki lincahnya.

Van Der Vaart sendiri muncul di klub asal Belanda, Ajax Amsterdam. Ketika itu, dia memulai debut pada usia 17 tahun setelah berhasil menunjukkan performa yang begitu luar biasa. Dia disebut sebagai pemain paling bertalenta oleh salah satu majalah sepakbola di Italia, dan memang, pemain yang kini berusia 38 tahun itu langsung menunjukkan performa yang amat mengagumkan bersama klub berjuluk Die Amsterdammers.

Rafael van Der Vaart bertahan selama kurang lebih enam musim di Ajax sebelum akhirnya muncul sebagai pahlawan Hamburg SV dengan persembahan Piala Intertoto. Penampilan apiknya lalu tak luput dari pandangan Real Madrid, dimana disana, dia langsung mendapatkan peran penting dalam setiap pertandingan yang dijalani Los Blancos.

Sayangnya, ketika Jose Mourinho datang dan duduk di kursi panas Estadio Santiago Bernabeu, namanya tiba-tiba tersingkir. Secara gamblang, Mou mengatakan bahwa dia lebih menyukai Mesut Ozil untuk mengambil peran sebagai pemain nomor 10 di skuat andalannya. Praktis, pelatih asal Portugal itu mengusir pemain yang berhasil mencetak 12 gol untuk tim berjuluk Los Blancos.

Ketika tahu bahwa nasibnya akan segera berakhir di Spanyol, van Der Vaart langsung mencari cara untuk menyambung hidup. Akhirnya, saat agennya dihubungi oleh salah satu perwakilan dari Tottenham Hotspurs, van Der Vaart langsung menerimanya dengan senang hati. Biaya senilai 8 juta pounds atau setara 160 miliar rupiah berhasil membuatnya hijrah ke London.

Ditengah nasibnya yang dibuang oleh Real Madrid, van Der Vaart malah mendapat sambutan luar biasa dari para penggemar Spurs. Dia merasa begitu senang karena tidak menyangka bila orang-orang disana akan sangat antusias dengan kedatangannya.

Bermain untuk Spurs, van Der Vaart langsung dibuat kagum oleh sang pelatih Harry Redknapp. Dia mengatakan bila pria itu memiliki cara melatih yang sangat luar biasa. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, van Der Vaart tak segan untuk menyebut Redknapp sebagai seorang pria ajaib sekaligus sosok ayah baginya.

Dengan sebuah kepercayaan yang diberi oleh sang pelatih, van Der Vaart membayarnya dengan begitu elegan. Dia menunjukkan sihirnya di hadapan banyak orang dan secara spontan mendapat banyak pujian.

Tiga gol dalam empat pertandingan Liga Primer Inggris merupakan catatan brilian yang diberikan van Der Vaart kepada klub tercinta. Lebih lanjut, dia berhasil mempersembahkan satu gol dan satu assist untuk Spurs di kompetisi Liga Champions Eropa. Dengan begitu, tidak sulit bagi van Der Vaart untuk mendapat berbagai komentar positif dari para penggemar yang sebelumnya memang sudah menaruh harapan besar di pundaknya.

Meski karirnya di Spurs sempat diterpa cedera, Rafael van Der Vaart terus berjuang hingga pada akhirnya mampu kembali merumput dengan yang lainnya. Sebuah laga Boxing Day melawan Aston Villa menjadikannya sebagai sosok pahlawan. Dia berhasil mencetak gol kedua untuk Spurs dalam kemenangan 1-2 bagi tim yang dibelanya.

Kemudian pada April 2011, van Der Vaart kembali tampil sebagai bintang setelah berhasil menyelamatkan Spurs dari kekalahan dalam laga panas melawan rival sekota, Arsenal. Pria Belanda mampu mencetak sebanyak dua gol sekaligus menutup laga menjadi 3-3.

Melalui kombinasi apik bersama dengan Luka Modric, van Der Vaart benar-benar menjadi pemain yang sangat lengkap. Hebatnya, dia berhasil menutup musim pertamanya dengan Spurs dengan torehan 13 gol, dimana itu menjadi yang terbanyak di klub sepanjang musim. Tak ketinggalan pula torehan sembilan assist yang makin membuat nama van Der Vaart banyak digaungkan.

Boleh dibilang, masuknya Spurs ke kompetisi Liga Europa saat itu merupakan buah dari kontribusi besar yang diciptakan van Der Vaart.

Pada musim berikutnya, kontribusi van Der Vaart untuk Spurs makin ganas. Dia mampu mencetak enam gol hanya dalam enam pertandingan liga. Selain itu, dia juga berhasil mencetak gol dalam lima laga beruntun, yang mana catatan tersebut sukses membuatnya menyamai rekor Teddy Sheringham.

Gol dan kesuksesan lainnya berhasil ditorehkan oleh van Der Vaart untuk Spurs. Sayangnya, penampilan gemilang sang pemain tidak dibarengi dengan catatan gelar di sebuah kompetisi. Selama kurang lebih dua tahun berada di London, van Der Vaart sama sekali tidak pernah mempersembahkan gelar untuk The Lilywhites. Hal itu jelas menjadi sebuah kesedihan tersendiri.

Pada akhirnya, gagalnya Spurs dalam meraih gelar membuat mereka tak segan untuk memecat Redknapp. Imbasnya, Andre Villas Boas yang ditunjuk sebagai nahkoda baru tidak memasukkan nama Rafael van Der Vaart ke dalam rencananya. Pemain seperti Moussa Dembele, Clint Dempsey, hingga Gylfi Sigurdsson didatangkan untuk mengisi lini tengah Spurs. Praktis, nasib van Der Vaart jauh semakin terbelit.

Setelah sempat menikmati masa indah bersama Redknapp, van Der Vaart menjadi pemain yang tak pernah sama di bawah asuhan Villas Boas. Keduanya tampak tak serasi hingga membuat sang pemain akhirnya pergi. Dengan hengkangnya van Der Vaart dari White Hart Lane, berakhir pula kisah cintanya dengan klub berwarna dominan putih.

Meski sudah lama kisah cintanya berakhir dengan Spurs, sekali lagi, keputusan meninggalkan klub tersebut masih menjadi penyesalan terbesarnya sepanjang karir.

“Meninggalkan Tottenham adalah keputusan terbodoh yang pernah aku buat. Aku benar-benar menyesal karena punya dua tahun luar biasa,”

“Tapi, tidak bisa dipungkiri bila dia (Villas Boas) tidak menginginkanku,” ujar van Der Vaart via Evening Standard)

 

Sumber referensi: pundit feed, sport detik, standart uk, wikipedia

Akhiri Dominasi Juventus, Begini Cara Inter Milan Raih Scudetto 2021

Serie A Italia akhirnya punya juara baru! Setelah selama 9 musim terakhir Juventus selalu keluar sebagai juaranya, musim ini, Inter Milan akhirnya sukses meraih scudetto 2021 dan mengakhiri dominasi Juventus di Serie A.

Inter dipastikan sebagai juara Serie A di pekan ke-34. Kepastian tersebut didapat usai Inter meraih kemenangan meyakinkan 2-0 atas Crotone, sementara di laga lain, penantang terdekatnya Atalanta gagal meraih 3 poin saat melawan Sassuolo.

Dengan Serie A yang masih menyisakan 4 pertandingan, poin yang dikumpulkan Inter sudah tak mampu lagi dikejar para rivalnya. Klub berjuluk Nerazzurri itu telah mengoleksi 82 poin hasil dari 25 kali menang dan 7 kali imbang dalam 34 laga. Meski Atalanta, Juventus, atau AC Milan meraih poin maksimal di 4 laga sisa, laju Inter Milan musim ini sudah tak terkejar lagi.

Minggu, 2 Mei 2021 kota Milan akhirnya berubah warna menjadi merah-hitam khas Inter. Para pendukung Nerazzurri tumpah ruah di jalan dan berkumpul di objek-objek vital kota untuk merayakan scudetto yang diraih Inter.

Bagi Inter dan pendukungnya, scudetto tahun ini terasa sangat spesial. Selain sukses mengakhiri dominasi Juventus, Nerazzurri juga berhasil mengakhiri puasa gelarnya. Scudetto tahun ini adalah scudetto mereka yang ke-19 dan yang pertama sejak 2010 sekaligus mengakhiri puasa gelar mereka selama 11 tahun terakhir.

Jadi, bagaimana kisah Inter hingga bisa jadi juara Serie A musim ini? Berikut starting eleven ulas untuk Anda.

Inter tidak menjalani musim ini dengan mulus. Cobaan sudah datang silih berganti sejak awal musim. Meski juaranya Inter musim ini tak bisa dilepaskan dari sosok Antonio Conte, namun pelatih 51 tahun justru sempat diragukan sebelum kini dipuja habis-habisan.

Sayangnya, skema set-play Conte dengan formasi 3 bek dan 2 wingback yang aktif membantu serangan dan pertahanan tak berjalan bagus di awal musim. Dalam 7 laga pertamanya, Inter cuma menang 3 kali dan sekali menelan kekalahan menyakitkan dari rival sekotanya, AC Milan. Tiga hasil imbang melawan Lazio, Parma, dan Atalanta juga didapat Inter pasca gagal mempertahankan keunggulan.

Kondisi itu diperparah dengan tersingkirnya Nerazzurri dari fase grup Liga Champions. Singkatnya, Inter tampil inkonsisten di awal musim. Akibatnya, hashtag #ConteOut sempat ramai di media sosial. Conte dikritik habis-habisan. Namun, Conte mampu mengakhiri awal musim yang pahit dengan hasil yang manis. Perlahan, konsistensi Inter raih dengan kerja keras. Mempertahankan pakem 3 beknya, set-play yang jadi gaya khas Conte akhirnya mampu dijalankan dengan baik oleh anak asuhnya.

Lalu, faktor apa saja yang membuat Inter mampu keluar sebagai juara?

1. Lini depan yang tajam

Inter jadi salah satu tim paling produktif di Serie A musim ini. Dengan 74 gol dari 34 laga, hanya Atalanta yang mampu mencetak gol lebih banyak ketimbang mereka. Beruntung, Inter punya barisan penyerang yang sangat tajam.

Duet Romelu Lukaku-Lautaro Martinez jadi momok bagi setiap gawang lawan. Khusus Lukaku, striker 27 tahun asal Belgia itu kini tengah duduk di posisi kedua daftar top skor Serie A dengan koleksi 21 gol dari 33 laga. Produktivitasnya tak cuma soal gol saja. Lukaku tercatat sudah membuat 8 asis di Serie A musim ini dan jadi pencetak asis terbanyak untuk Inter.

Keganasan striker bertinggi 192cm itu mampu dibarengi rekan duetnya, Lautaro Martinez. Lautaro sejauh ini telah mencetak 15 gol dan 5 asis. Dengan 36 gol yang sudah mereka hasilkan menjadikan Lukaku-Lautaro jadi duet paling mematikan di Italia, bahkan Eropa. Baik Lukaku-Lautaro bahkan nyaris selalu terlibat dalam setiap gol Inter musim ini.

Ketika Lukaku atau Lautaro mengalami kebuntuan, mereka masih punya Alexis Sanchez. Alexis baru didatangkan secara gratis dari Manchester United di bursa transfer musim panas kemarin. Keputusan tersebut terbukti tepat dengan sumbangan 5 gol dan 5 asisnya.

2. Lini tengah yang solid

Di lini tengah, Inter beruntung punya duet Nicolo Barella dan Marcelo Brozovic yang tampil solid dan mencatat work rate tinggi. Brozovic dan Barella bagaikan jangkar di lini tengah Inter. Brozovic telah menghasilkan 34 tekel sukses dan menyumbang 6 asis di Serie A musim ini.

Khusus Barella, dia jadi pemain kunci Inter musim ini. Pemain 24 tahun itu sudah melakukan 499 pressing, terbanyak di antara pemain lainnya. Bersama Achraf Hakimi yang menyisir sisi kanan, Barella juga jadi kunci serangan Inter, khususnya dalam skema serangan balik.

Baik Barella dan Hakimi sudah sama-sama menyumbang 6 asis. Ditembusnya Hakimi dengan mahar 45 juta euro dari Madrid terbayar manis. Hakimi yang berposisi sebagai wingback kanan bahkan jadi pencetak gol terbanyak ketiga Inter musim ini dengan sumbangan 7 golnya.

3. Lini belakang yang tangguh

Selain memiliki barisan penyerang yang tajam, lini belakang yang kokoh adalah syarat wajib untuk meraih scudetto. Dan beruntungnya, Inter juga memiliki keuntungan tersebut. Meski Samir Handanovic sudah berusia 36 tahun, tapi kualitasnya di bawah mistar gawag masih sangat solid.

Meskipun beberapa kali refleksnya terlihat menurun, penjaga gawang asal Slovenia itu masih mampu mencatat 73 saves. Namun, faktor terbesar tangguhnya pertahanan Inter yang baru kebobolan 29 gol dari 34 laga adalah trio bek andalan mereka. Inter beruntung punya trio Milan Skriniar, Alessandro Bastoni, dan Stefan de Vrij yang selalu tampil kokoh di depan Handanovic. Dengan trio Skriniar-Bastoni-de Vrij, Inter cuma kebobolan 6 gol dari 17 laga terakhirnya.

4. Inkonsistensi para rival

Akhirnya, penampilan solid para pemain Inter berbuah konsitensi, khususnya di paruh kedua musim ini. Puncaknya, Inter sukses mengkudeta Milan di pekan ke-22 usai menang meyakinkan 3-1 atas Lazio. Di pekan selanjutnya, Nerazzurri makin menjauh dari rivalnya itu setelah memenangi laga derby dengan kemenangan telak 3-0. Setelah itu, kepercayaan diri Inter makin tinggi dan laju mereka makin sulit dikejar. Mereka membuka paruh kedua Serie A dengan meraih 11 kemenangan beruntun.

Di saat bersamaan, sang juara bertahan Juventus tampil angin-anginan. Perjudian Si Nyonya Tua dengan menunjuk Andrea Pirlo yang minim pengalaman terbukti gagal. Di bawah asuhan Pirlo, Juventus tampil sangat labil. Produktivitas gol mereka menurun dan banyak membuang poin di laga krusial.

Daftar formasi yang dipakai Pirlo musim ini jadi bukti labilnya pelatih 41 tahun itu. Pirlo tercatat sudah mengganti formasi Juve sebanyak 5 kali. Dari 3-4-2-1, 3-4-1-2, 3-5-2, 4-2-3-1, hingga kini cenderung memakai formasi 4-4-2. Bongkar pasang formasi membuat sususan starting eleven Juve ikut berubah-ubah.

Hal tersebut kontras dengan pilihan formasi Inter di bawah Antonio Conte. Dengan segudang pengalamannya di timnas Italia dan Chelsea, Conte tetap dengan pakem 3-5-2 atau 3-4-1-2 miliknya. Pilihan starting eleven Conte juga cenderung stabil.

Lukaku dan Lautaro tak tergantikan di lini depan. 3 gelandang dihuni Barella, Brozovic, dan Eriksen. 2 wingback jadi milik Hakimi dan Perisic. Sementara trio bek ditempati dengan kokoh oleh Skriniar, de Vrij, dan Bastoni. Penjaga gawang masih milik sang kapten, Samir Handanovic.

Akhirnya, dominasi Juventus yang bertahan 9 tahun runtuh. Ironisnya, keruntuhan itu disebabkan oleh legenda mereka sendiri, Antonio Conte. Bagi Conte, scudetto 2021 bersama Inter adalah yang keempat baginya. Sebelum meraihnya bersama Inter, Conte tiga kali beruntun membawa Juventus juara Serie A.

Ironisnya lagi, Conte adalah orang yang memulai dominasi Juventus di Serie A 10 tahun lalu dan kini jadi sosok yang mengakhiri dominasi tersebut. Yang lebih menyakitkan, Conte memulai dominasi Juventus pada 2011 silam bersama pelatih Juve saat ini, Andrea Pirlo. Pirlo adalah andalan Conte di lini tengah saat Conte menjabat sebagai pelatih Juventus pada 2011-2014 lalu.

“Ini adalah salah satu keberhasilan terpenting dalam karier saya. Memutuskan untuk bergabung dengan Inter tidaklah mudah. Selain itu, lawannya adalah Juventus yang telah lama saya tangani, yang telah mendominasi selama sembilan tahun. Hari ini kami dapat mengatakan bahwa pengorbanan kami telah terbayar.”, kata Conte kepada stasiun televisi Italia Rai, dikutip dari bbc.com.

Ya, fakta bahwa Conte adalah legenda Juventus membuatnya tak langsung diterima pendukung Inter saat dirinya ditunjuk sebagai pelatih Nerazzurri pada musim 2019/2020. Ditambah lagi, Conte diketahui menerima gaji sebesar 12 juta euro atau lebih dari 200 miliar rupiah per tahun. Conte juga punya kebijakan transfer yang sempat diprotes pendukung Inter. Khusus di musim ini saja, Inter telah menggelontorkan lebih dari 100 juta euro untuk memenuhi permintaan Conte.

Disamping itu, sebagian besar pemain kunci yang datang adalah pemain gaek yang bahkan beberapa dicap sudah habis. Sebut saja Ashley Young, Aleksandar Kolarov, Arturo Vidal, Alexis Sanchez, dan Matteo Darmian yang semuanya sudah berusia lebih dari 30 tahun.

Termasuk juga Christian Eriksen yang dikritik habis saat awal kedatangannya. Namun, ia dan para pemain gaek tadi mampu membuktikan diri dengan kontribusi apiknya di atas lapangan. Perpaduan pemain senior dan muda yang Conte inginkan terbukti ampuh.

Bagi Conte, scudetto musim ini jadi pembuktian dirinya di Inter. Di awal kedatangannya, Conte bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa ia butuh waktu setidaknya 3 tahun untuk membuat Inter kembali kompetitif. Namun dalam waktu singkat, ia telah mengubah Nerazzurri jadi kesebelasan yang kuat.

“Saya datang ke Inter dengan misi membawa kembali kejayaan dalam kurun waktu 3 tahun, dan saya mampu melakukannya,” kata Conte kepada Sky Sports.

Di musim pertamanya, Conte membawa Inter finish di posisi kedua dan lolos ke partai final Liga Europa. Kini, di musim keduanya, Ia membawa Inter juara Serie A. Dengan Inter yang juga dipastikan kembali lolos ke Liga Champions musim depan dan bonus juara yang sudah menanti, menarik untuk disimak kiprah Inter Milan di musim depan dengan Antonio Conte.

Mampukah mereka mempertahankan juara? Atau Juventus yang akan merebut kembali scudetto dari tangan Inter? Yang pasti, selamat merayakan scudetto Inter!

***
Sumber Referensi: BBC, Aljazeera, Sportco.io, Transfermarkt

Mengenal Lebih Jauh, Apa Itu Peran Sweeper Keeper?

Jika kamu sering menonton pertandingan klub Bayern Munchen atau tim nasional Jerman, kamu pasti sering melihat Manuel Neuer keluar dari kotak penalti untuk menghentikan serangan lawan atau menyapu bola.

Aksi seorang penjaga gawang yang keluar dari sarangnya untuk menghalau serangan, seperti yang dilakukan oleh Neuer itu disebut sebagai peran Sweeper Keeper.

Seperti kita ketahui bersama, seiring berjalannya waktu, sepakbola pun ikut berkembang, salah satu yang mengalami perkembangan adalah peran-peran pemain yang semakin bervariasi.

Di era modern saat ini, muncul peran-peran baru bagi pesepakbola dalam penerapannya di lapangan, seperti  inverted winger, false nine dan ball-playing defender. Selain itu semua, ada pula peran Sweeper Keeper.

Namun, pada pembahasan kali ini kita hanya akan mengulas seputar Sweeper Keeper. Nah tahukah kamu, apa itu sebenarnya peran Sweeper keeper?

Sweeper-keeper adalah penjaga gawang yang bertanggung jawab dalam mengendalikan ruang di belakang lini pertahanan suatu tim. Peran ini meliputi kendali jarak antara sang pemeran dengan pemain bertahan agar lebih dekat dari biasanya, menjaga kecekatan kaki mereka untuk 90 menit waktu pertandingan, dan sigap memberikan lemparan untuk serangan balik cepat dengan kecepatan dan akurasi.

Dengan kata lain, peran sweeper keeper ini tidak seperti penjaga gawang pada umumnya, yang hanya menunggu serangan lawan di dalam kotak penalti dan menjaga gawangnya agar tidak kebobolan.

Memang tugas penjaga gawang yang paling utama adalah menjaga gawang agar tidak kebobolan. Namun, dalam peran sweeper keeper, seorang penjaga gawang juga harus mampu untuk mengontrol dan mengomandoi ruang di belakang lini pertahanan, dan aktif berpartisipasi dalam membangun serangan.

Penjaga gawang yang memainkan peran sweeper keeper tentunya harus mempunyai banyak kelebihan. Tidak sembarang kiper bisa memerankan peran ini. Untuk menjadi sweeper keeper harus memiliki atribut-atribut dasar seorang kiper, seperti refleks, kegesitan, dan menangkap bola.

Selain itu, yang lebih penting adalah kiper juga harus mampu mengoper dan mengontrol bola dengan baik, memiliki kecepatan, dan juga ketenangan ketika mengendalikan bola di kakinya.

Di sepakbola eropa sendiri, peran sweeper keeper ini memang masih tergolong baru.

Peran tersebut baru populer sekitar satu dekade terakhir. Peran ini populer setelah merebaknya tren sepakbola “possession football”, yang diikuti dengan munculnya tren sepakbola “pressing football”. Dan perannya juga lebih sempit, seperti yang sudah dijelaskan tadi, bahwa hanya sebatas ‘penyapu bola’ seperti bek saat lawan menekan, atau ‘pengoper bola’ saat tim sedang membangun serangan.

Berbeda dengan peran sweeper keeper di sepakbola Amerika Latin. Di sana, awal dari peran ini lebih diidentikkan dengan kiper bergaya main eksentrik, yakni kiper yang gemar keluar dari sarangnya untuk naik membantu serangan atau mencetak gol saat tim terdesak.

Kiper dengan peran ini banyak dijumpai di Amerika Latin. Sebut saja dua nama paling populer yakni Rene Higuita (Colombia) dan José Luis Chilavert (Paraguay).

Kedua kiper tersebut tidak hanya sebatas berpatroli di dalam kotak penalti atau area sekitarnya, tapi kadang kala maju ke depan untuk mencetak gol, bahkan kita kerap kali melihat Higuita memainkan bola di area tengah lapangan meski risiko kebobolan sebenarnya cukup tinggi. Tak mengherankan jika keduanya menjadi legenda karena kebiasaannya di lapangan yang sangat berbeda dengan penjaga gawang pada umumnya. 

Meski terlihat sebagai sebuah produk sepakbola modern, sweeper-keeper sebetulnya bukan benar-benar barang baru di sepak bola. Malah, sejak Perang Dunia II selesai, sudah mulai bermunculan pemain-pemain model ini.

Sebut saja seperti Bert Trautmann, kiper yang pernah 15 tahun memperkuat Manchester City. Lalu ada Gyula Grosics, kiper legendaris tim nasional Hungaria di era 50-an. Ia sempat membawa Hungaria menjadi runner up piala dunia 1954. Kemudian ada lagi Lev Yashin. Bicara soal sweeper keeper terasa kurang jika tidak memasukkan penjaga gawang hebat asal eropa timur tersebut.

Kalau di era sekarang, kita mengenal Manuel Neuer yang telah kita bahas tadi. Kiper yang pernah bersinar bersama Schalke ini memang ahli memainkan peran sweeper-keeper. Tak hanya menghadang aksi ofensif lawan, ia juga sanggup menginisiasi serangan timnya dari bawah.

Selain Neuer, ada pula Victor Valdes. Valdes, saat masih aktif di Barcelona bertindak sebagai contoh luar biasa bagi pemain dengan set keterampilan yang diinginkan untuk seorang ​sweeper-keeper. Nama-nama lain yang juga sering memainkan peran sweeper keeper adalah Marc Andre Ter Stegen, Hugo Lloris dan Ederson.

Para penjaga gawang tersebut memang mempunyai kriteria untuk menjadi sweeper keeper, karena mereka punya kemampuan membaca permainan yang cepat. Pasalnya, dalam peran sweeper keeper, ia akan terlibat dalam umpan pendek dengan para bek.

Pelatih yang mengandalkan penguasaan bola seperti Pep Guardiola biasa menggunakan penjaga gawang tipe ini. Kiper yang diinginkan untuk peran tersebut harus teknis, sangat disiplin, dan di atas segalanya – harus punya kepercayaan diri yang tinggi saat mengambil keputusan untuk menyelamatkan tim dari jurang kekalahan.

Seperti halnya peran-peran lain dalam sepakbola, peran sweeper keeper ini juga punya kelemahan. Kelemahannya yaitu blunder. Blunder yang konyol adalah musuh utama yang menyelimuti gaya main mereka.

Biasanya, keberadaan sweeper keeper ini membuat sebuah tim berani memainkan garis pertahanan tinggi. Tapi disisi lain, strategi ini juga rentan sekali terhadap serangan balik kilat karena ruang yang dapat dieksploitasi lawan begitu luas. 

Jika para bek gagal menghalau, para sweeper-keeper akan keluar dari sarangnya untuk melakukan penyelamatan. Sayangnya, di momen seperti inilah sering terjadi blunder-blunder fatal. Salah satunya, tentu antisipasi yang buruk, sehingga lawan bisa menceploskan bola ke gawang kosong yang telah ditinggalkan kiper.

 

Penyerang Bernaluri Pembunuh Dengan Nomor 9! Siapa Saja Mereka?

Sepanjang sejarah sepakbola, terdapat banyak pemain bernomor punggung 9 dengan kualitas luar biasa. Pemain bernomor punggung 9 sendiri identik dengan posisi seorang striker murni. Tugas utamanya tentu saja mencetak gol. Dahulu, pemain bernomor 9 banyak dijumpai.

Namun di era sepakbola modern seperti sekarang ini, striker murni menjadi barang yang langka. Kini, ruang gerak para striker lebih luas. Mereka menjelajah semua sektor dan lini serta berinteraksi dengan para gelandang untuk menciptakan peluang bagi rekan-rekannya.

Bahkan, di zaman sekarang, pemain bernomor 9 tidak selalu seorang striker, meski demikian, tugasnya tetap sama, yakni membawa rekan satu tim ke dalam permainan dan mencetak gol.

Untuk itu, kali ini starting eleven akan sajikan deretan striker bernomor punggung 9 dengan naluri mencetak gol yang tinggi dalam sejarah sepakbola. Siapa saja mereka?

Gerd Muller (Jerman Barat)

Pemain asal Jerman, Gerd Muller secara luas dianggap sebagai salah satu penyerang paling klinis sepanjang masa. Torehan 68 gol dari 62 caps bersama tim nasional Jerman Barat menjadi bukti betapa hebatnya seorang Gerd Muller.

Muller adalah titik fokus serangan timnas Jerman dan Bayern Munchen pada era 60an hingga 70an. Ia merupakan pemain yang gesit dan lincah yang sulit dihadang oleh bek-bek lawan.

Sepanjang karirnya, Muller berhasil memenangkan sejumlah gelar bergengsi, seperti Bundesliga Jerman, serta trofi piala eropa dan piala dunia. Selain itu, ia juga pernah menyabet penghargaan Ballon D’or pada 1970 serta sejumlah penghargaan lainnya.

Ian Rush (Wales)

Tak dapat dibantah lagi bahwa Ian Rush merupakan salah satu striker paling berbahaya di dunia. Pada generasinya, Rush adalah salah satu striker terbaik. Karir terbaiknya tentu saja saat ia membela Liverpool

Pemain internasional Wales itu menjadi striker penting untuk klub yang bermarkas di Anfield. Ia berjasa besar mengantarkan Liverpool meraih kejayaan pada era-80 hingga awal 90-an. Tercatat 19 trofi sudah ia persembahkan untuk The Reds. Secara keseluruhan, Rush mencetak 346 gol untuk Liverpool dan menjadi partner ideal Kenny Dalglish pada 1980-an. Duetnya bersama King Kenny sangat ditakuti pada waktu itu.

Marco Van Basten (Belanda)

Sama seperti Ian Rush, Marco van Basten juga hidup di periode 80-an. Van Basten adalah salah satu striker terbaik di dunia pada waktu itu. Ia pernah bersinar bersama klub Ajax Amsterdam, AC Milan dan tim nasional Belanda. Ia adalah penyerang utama timnas Belanda saat memenangkan turnamen Euro 1988 dan gaya permainannya membuatnya mendapat julukan ‘The Swan of Utrecht’.

Van Basten mencetak 24 gol dalam 58 caps untuk Belanda dan memenangkan Ballon d’Or dalam tiga kesempatan. Selain itu, ia juga meraih tiga trofi Liga Champions, dan 4 gelar Scudetto bersama AC Milan.

Romario (Brasil)

Siapa yang tak mengenal Romario. Sebelum kemunculan Ronaldo, Romario adalah striker utama tim nasional Brasil. Ia mengenakan kostum nomor 9 di level klub dan nomor 11 di timnas. Meskipun tubuhnya pendek, namun ia mampu berkembang sebagai penyerang tengah yang hebat, kelebihannya terdapat pada kecepatan, gerakan dan kemampuannya dalam penyelesaian akhir.

Ringkasnya, Romario adalah sosok penyerang yang ditakuti lawan pada era 90-an. Mantan bintang Vasco Da Gama, PSV, dan Barcelona itu mencetak 55 gol dalam 70 caps untuk Brasil. Sepanjang perjalanan karirnya, Romario telah menorehkan banyak prestasi membanggakan, salah satunya yakni trofi piala dunia 1994. 

George Weah (Liberia)

Sebelum munculnya generasi Samuel Eto’o dan Didier Drogba, Afrika pernah melejit di kawasan eropa berkat satu nama, yakni George Weah. Weah termasuk di antara sejumlah striker yang merevolusi peran Nomor 9 di tahun 1990-an, dengan lebih menekankan pada keterampilan dan kecepatan.

Pemain asal Liberia itu masih tercatat sebagai satu-satunya pemain asal Afrika yang mampu memenangkan Ballon D’or. Weah dianggap sebagai salah satu pemain Afrika terhebat sepanjang masa berkat penampilan gemilangnya bersama AC Milan, Paris Saint-Germain dan Monaco, serta Liberia.

Alan Shearer (Inggris)

Bagi penggemar timnas Inggris, nama Alan Shearer tentu sudah tidak asing lagi. Shearer, adalah seorang juru gedor yang cerdas dan tangguh, ia merupakan salah satu penyerang terbaik Inggris dan terkenal karena kemampuannya dalam menyundul bola.

Shearer sudah lama pensiun, tapi dia masih memegang rekor sebagai top scorer abadi Premier League hingga sekarang. Koleksi total 260 golnya sangat susah dipecahkan. Selain torehan jumlah golnya yang sangat luar biasa, Shearer juga pernah membawa klub semenjana, Blackburn Rovers merebut gelar EPL tahun 1995. Di level internasional sendiri, Shearer mencetak 30 gol dari 63 pertandingan untuk The Three Lions.

Ronaldo (Brasil)

Dikenal sebagai ‘The Phenomenon’ di Brasil, Ronaldo dianggap sebagai salah satu nomor 9 terbaik yang pernah ada. Tinggi, kuat, dan memiliki kecepatan yang luar biasa, Ronaldo memukau para pemain bertahan saat bermain untuk Barcelona, ​​Inter Milan, dan Real Madrid.

Kehadiran ronaldo di tahun 90an membawa evolusi nyata dalam peran nomor 9, ia membawa banyak dinamika dan membuat bek-bek lawan tenggelam dalam ketakutan.

Sepanjang karirnya, dia telah mencetak lebih dari 400 gol, termasuk 62 gol untuk negaranya.

Meski di ujung karirnya sering diserang cedera parah, namun kemampuan mencetak gol Ronaldo adalah hal yang tak bisa ditampik, apalagi di kancah kompetisi internasional bersama tim samba, ia sukses membawa negaranya menjuarai dua turnamen Piala Dunia.

Gabriel Batistuta (Argentina)

Sampai mendapat julukan Batigol, Gabriel Batistuta adalah salah satu striker bernomor 9 paling komplit yang pernah ada. Power, tendangan keras, sundulan akurat, insting mencetak gol hingga kemampuan mengeksekusi free kick terangkum jadi satu dalam dirinya. 

Batistuta memang striker yang menakutkan, ia bisa mencetak gol dari arah manapun, baik dari tepi kotak penalti atau dengan sundulan- dia bisa melakukan semuanya. 

Bahkan, karena kemampuannya yang luar biasa, Batistuta jadi pemegang rekor top scorer Fiorentina dan timnas Argentina. Dia juga menempati peringkat 10 dalam daftar top scorer sepanjang masa Serie A.

Ruud Van Nistelrooy (Belanda)

Ruud van Nistelrooy, tak perlu diragukan lagi merupakan salah satu striker mematikan pada dekade 2000-an.

Tubuhnya yang tinggi membuat ia jadi target man yang ideal dan kemampuan teknisnya mampu membawa rekan setimnya untuk ikut serta membantu serangan di sepertiga lapangan lawan

Mengawali karirnya sebagai pemain bernomor 10, tetapi ia menjelma menjadi salah satu penyerang tengah terbaik di dunia. Ia menjadi bintang di klub-klub besar eropa macam PSV, Manchester United dan Real Madrid. Selain itu, ia juga menjadi andalan timnas Belanda dengan catatan 70 penampilan dan mencetak 35 gol. 

Robbie Fowler (Inggris)

Satu lagi legenda Liverpool yang menyandang status sebagai salah satu striker bernaluri pembunuh. Dia adalah Robbie Fowler, yang selama karirnya di Anfield diperlakukan layaknya seorang dewa.

Kaki kiri menjadi andalan pemain kelahiran 1975 tersebut. Sayangnya, sejak hijrah dari Liverpool ke Leeds United pada 2001, karier Fowler diwarnai sederet cedera dan dia tak pernah bisa kembali ke performa terbaiknya.

Andai tak diserang cedera, eks bintang Liverpool itu bisa saja menjadi pencetak gol terbaik dalam sejarah sepakbola Inggris. 

Pemain yang pensiun pada 2012 itu berhasil mencetak total 183 gol untuk Liverpool, dan 128 di antaranya adalah gol liga. 

Dan itulah deretan striker bernomor punggung 9 yang punya naluri ‘pembunuh’ dalam sejarah sepakbola.

 

Sumber referensi : Goal, Bola.com, Kaskus

Dari Florentino Perez dan Ed Woodward Kita Belajar, Politik dalam Sepak Bola itu Nyata

Suatu waktu pernah ada yang mengatakan, bahwa di dunia politik tidak ada yang namanya teman dan musuh yang abadi, semua bergerak demi kepentingan. Sepertinya seseorang yang mencetuskan kalimat itu harus buru-buru merevisinya, karena tidak hanya di politik, di dunia sepak bola pun sama adanya, tidak ada yang namanya teman dan musuh abadi, semua berjalan sesuai kepentingan masing-masing.

Pada tahun 2015 silam, terjadi insiden yang sangat tidak masuk akal di bursa transfer pemain. Bahkan sampai saat ini saya juga masih tidak habis thinking, kok bisa hal semacam itu terjadi di dunia sepak bola yang harus menjunjung tinggi profesionalisme. Asal kalian tahu, drama transfer tersebut jauh lebih greget daripada drama di sinetron Indonesia. Mari kita kawal kronologinya.

Sudah satu tahun lama lamanya nama David De Gea Quintana dirumorkan akan pulang kampung, bukan ke Atletico Madrid, melainkan ke rival sebelah yaitu Real Madrid. Berbagai upaya penawaran dilancarkan kubu Real Madrid demi kelancaran transfer De Gea ke Santiago Bernabeu. Siapa yang mempelopori? Jelas the one and only, Florentino Perez.

Setelah bernegosiasi, antara MU dan Real Madrid berhasil mencapai kesepakatan di hari terakhir bursa transfer, dengan rincian 40 juta euro dan barter Keylor Navas. Buset nih kiper baik-baik dari dulu nasibnya ngenes amat diperlakukan kek begitu.

Tapi petaka baru terlihat saat bursa transfer Liga Spanyol ditutup. Tidak ada nama De Gea di situs resmi daftar transfer pemain Liga Spanyol. Jika seperti itu hanya ada dua kemungkinan, sinyal internet di kota Madrid sedang lemot sehingga tidak bisa membuka dokumen yang dikirimkan United dan berimbas mereka terlambat mendaftarkan pemainnya di LaLiga, atau pihak MU yang memang kurang cepat mengirimkan dokumen transfer tersebut. Tapi kemungkinan terakhir adalah spekulasi yang sampai saat ini banyak dipercaya. Semua karena ulah United dengan Ed Woodward.

Ed Woodward beserta Manchester United mengirimkan dokumen di menit terakhir sebelum bursa transfer ditutup, sehingga Real Madrid baru menerima dokumen tersebut pada jam 00.02 waktu setempat, terlambat 2 detik dari aturan penutupan bursa transfer di Spanyol. Bayangin gimana sakitnya pihak Real Madrid, Hyung. Dari kasus ini pula akhirnya ramai pembahasan “The Fax Machine” untuk menjuluki tragedi transfer antara MU dan Real Madrid.

Agak aneh memang, klub sebesar United dan Real Madrid mengalami drama yang tidak masuk akal semacam itu, seperti ada konspirasi di dalamnya. Akhir kisah tragedi tersebut akhirnya De Gea gagal pindah ke Madrid dan justru memperpanjang kontrak dengan MU. Sudah jelas pihak Real Madrid murka melihat hal tersebut, selain fans MU mungkin hanya Keylor Navas dari kubu Real Madrid yang nangis bahagia melihat kegagalan transfer De Gea ke Los Blancos.

Saat terjadi insiden seperti itu, yang menjadi fokus utama adalah para petingginya. Disini Perez dan Ed Woodward banyak menuai sorotan. Presiden Real Madrid tersebut menuding ke Ed Woodward terkait gagalnya transfer De Gea.

“Gue rasa mereka kurang pengalaman. Ini ngingetin sama kejadian transfer Coentrao dan Ander Herrera sebelumnya. Mereka punya tim (manajemen) baru yang gue rasa kurang berpengalaman. Asal kalian tahu, kita pernah nglepas Frank Ribery sama Patrick Vieira, tapi mikir gak sih kalian semua? Yakali MU baru ngajak kita buat negosiasi resmi 12 jam sebelum bursa transfer ditutup?!”

“Orang baru (Ed Woodward) emang kurang pengalaman buat ngurus hal beginian. Kalian liat sendiri kan kita dulu pas jamannya David Gill, Peter Kenyon sama Sir Alex Ferguson aman-aman aja nggak ada masalah. Kita sebenernya masih punya hubungan baik sama United, tapi gue harap mereka mau belajar.”

Sejak kegagalan transfer De Gea pula hubungan MU dan Real Madrid tak sedekat dulu, meski Perez mengatakan baik-baik saja. Jika memang baik-baik tanpa ada keretakan antara dirinya dengan Ed Woodward, Alvaro Morata sudah datang ke Old Trafford sejak 2017 silam.

Real Madrid gagal mendapatkan De Gea karena pihak MU terlambat atau mungkin sengaja mengirim berkas di detik-detik terakhir, maka MU juga gagal mendapatkan Morata karena pihak Real Madrid terus menaikkan harga sang pemain berkali-kali. Sebuah pembalasan yang adil dari Perez untuk Ed Woodward.

Namun satu hal yang harus kalian ingat, tidak ada hal yang abadi di sepak bola. Perez dan Ed Woodward yang dahulu berseteru, beberapa waktu lalu bergandengan tangan dengan erat untuk membentuk European Super League.

Mungkin bagi kalian yang sudah lebih dari satu dekade mengikuti liga sepak bola di Eropa, seharusnya tidak perlu kaget melihat Florentino Perez kembali bertingkah dan menunjukkan jati diri kuasanya. Mengingat track record dirinya yang cukup berpengaruh di dunia sepak bola. Dengan statusnya saja yang menjabat sebagai presiden Real Madrid, dia sudah membawa Madrid menjadi tim bertabur bintang dan menguasai Eropa tiga musim berturut-turut. Pencapaian yang belum bisa dipecahkan siapapun di era UCL.

Karena kekuatannya itu, Florentino Perez melakukan gebrakan dengan mendirikan European Super League, sebuah liga tandingan untuk UCL, dan berposisi sebagai kepala ESL. Kurang greget gimana coba orang satu ini?!

Yang ada dalam angan-angan presiden Real Madrid tersebut adalah dengan adanya ESL maka akan memperbaiki neraca keuangan klub besar yang sedang kolaps *klub elu aja kali yang kolaps. Maka dengan dibentuknya ESL, dimana ada 20 klub besar yang nantinya bertanding pasti akan memberikan hiburan yang seru, big match setiap minggu, sponsor dan hak siar tak terbendung. Never in your wildest dreams, Opa Perez.

Florentino Perez tidak bekerja sendirian saat menggemparkan dunia dengan memunculkan ESL, tapi berjalan bersama kroni-kroni di belakangnya. Ada Agnelli (pemilik Juventus), Joel Glazer (pemilik MU), John W. Henry (pemilik Liverpool), dan Stan Kroenke (pemilik Arsenal) yang ikut menjabat menjadi wakil ketua andaikata itu ESL jadi terbentuk.

Saat ada Glazer sudah jelas ada Ed Woodward juga, ini dua orang kan emang kek Upin dan Ipin, kemana-mana selalu bareng. Bahkan Ed juga turut menandatangani kesepakatan berdirinya ESL. Dengan begitu artinya ia berada dibawah naungan dan tujuan yang sama dengan Florentino Perez, orang yang beberapa tahun silam menyebutnya manajemen kurang berpengalaman.

Jadi penasaran bagaimana reaksi Florentino Perez dan Ed Woodward saat mengingat perseteruan mereka di masa lalu, tebakan saya paling cuma nyengir dan ketawa.

Sisi Burik dan Mulus nya Ed Woodward

We’re just human. We have dark and light sides inside us. Tanpa disadari memang selalu ada sisi gelap dan terang dalam diri setiap manusia. Memiliki nama lengkap Edward Gareth Woodward, pria kelahiran Chelmsford ini dikaruniai otak yang lebih brilian dari manusia pada umumnya. Pada masa sekolahnya, Ed mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah sultan yang biayanya bikin jantung hati sobat misqueen menggebu-gebu, sekolah itu ada di pinggiran kota Essex. Jaga-jaga jika kalian lupa, Frank Lampard di pemilik IQ tinggi juga alumni sekolah tersebut, dan Ed Woodward menempuh pendidikan disana dengan beasiswa berkat kecerdasannya.

Setelah lulus dari Brentwood, sekolah elitnya di Essex, Ed kembali melanjutkan pendidikannya di kampus yang masuk ke dalam 50 kampus terbaik dunia, Universitas Bristol, bergabung dengan Fakultas Fisika. Please kalian anak yang masuk jurusan IPA cuma karena gengsi dan gaya-gayaan harap sadar diri.

Kesempatan magang di PricewaterhouseCoopers (PWC) sebagai akunting menjadi langkah awal dirinya terjun di dunia bisnis. Meninggalkan dunia fisika beserta para elektromagnetik yang bukan tidak mungkin membawanya menjadi ilmuwan hebat penerus Albert Einstein di masa depan.

Ed Woodward mengambil langkah besar dengan menjadi bankir di JP Morgan, bank yang paling berpengaruh di dunia, yang namanya sempat ramai diperbincangkan beberapa minggu kemarin karena mau mendanai European Super League (ESL). Ed bekerja sebagai bankir di JP Morgan sejak tahun 1999. Jabatannya di JP Morgan masuk dalam divisi merger dan akuisisi internasional, salah satu alasan mengapa dirinya dipertemukan semesta dengan orang paling dibenci fans United, Glazer Family.

Dari situ pula Ed dan Glazer menjalin kontak yang cukup intens. Tahun 2005 Glazer dan Ed Woodward mengambil sebuah keputusan kontroversial, setidaknya untuk saat ini saat fans MU sadar, Glazer mengambil alih mayoritas saham United dimana Ed Woodward menjadi salah satu tim suksesnya. Jika kalian berpikir Glazer Family mengakuisisi MU dengan cara yang sama seperti Sheikh Mansour di Manchester City atau Nasser Al-Khelaifi di Paris Saint-Germain, siap-siap kecewa. Karena Glazer bukanlah seorang sultan dermawan seperti dua nama yang saya sebutkan diatas.

Glazer mengambil alih United dengan menggelontorkan uang 790 juta poundsterling yang ia dapatkan dari bank, dimana United dijadikan jaminan untuk mencicil hutang tersebut setiap musimnya. Dananya dia ambil dari bank mana? JP Morgan dengan Ed Woodward yang membantu untuk mengurusnya. Karena hanya JP Morgan yang mau mendanai proyek itu setelah beberapa bank menolak rencana Glazer karena dianggap terlalu beresiko. Keputusan yang menguntungkan bagi mereka namun membagongkan bagi para penggemar. Hal ini pula yang akhirnya mendorong pemikiran penggemar untuk sulit percaya jika deretan para pengusaha mendirikan ESL demi tujuan mulia memberantas korupsi di tubuh UEFA/FIFA, mau se-husnudzon bagaimanapun pasti sulit untuk percaya mereka sebaik hati itu.

Sisi Mulus dan Kenyalnya si Ed Wordward

Kembali ke Ed Woodward yang akhirnya mendapatkan jabatan sebagai CEO Manchester United pada tahun 2013, setelah sebelumnya dari 2007 mengurus operasional iklan di MU. Meski United mengalami penurunan performa diatas lapangan, namun di sisi finansial tidak bisa dibilang menyedihkan. Di tangan Ed Woodward United menjelma menjadi klub yang memiliki finansial terkuat, bukan finansial yang bersumber kucuran dana dari pemilik seperti PSG dan City, namun berasal dari sponsor yang terus berdatangan dan sukarela mempercayakan uangnya kepada United, hal itu tentu tak lepas dari keahlian Ed Woodward dalam bernegosiasi. Di tahun pandemi seperti saat ini pula, dimana klub lain mengalami kolaps dan kelimpungan memotong gaji pemain dan staff, MU masih tergolong aman terkendali berkat Ed Woodward.

Skill negosiasi Ed Woodward yang paling terlihat adalah saat perekrutan Bruno Fernandes. Pihak Sporting Lisbon yang meminta dana kontan hampir mencapai €80 juta, namun berkat kejeniusan Ed Woodward, United hanya membayar cash sebesar 55 juta euro, dengan tambahan bonus yang nantinya akan diberikan menyusul sesuai dengan performa sang pemain. Jika kalian bertanya bagaimana rincian bonusnya, ringkasannya begini kawan-kawan.

  1. Manchester United akan memberikan bonus tambahan kepada Sporting Lisbon sebesar 5 juta euro setiap kali Bruno Fernandes memenangkan PFA (penghargaan musiman pemain terbaik Premier League) atau masuk 3 besar nominasi Ballon D’OR, bonus itu berlaku maksimal 3 kali pencapaian.
  2. Manchester United akan memberikan bonus 1 juta euro dalam setiap 5 kali Bruno turun sebagai starter. Bonus berlaku sampai di 25 kali starter pertama.
  3. Manchester United akan memberikan bonus sebesar 5 juta euro kepada Sporting jika Setan Merah berhasil melaju ke Champions League 5 tahun terhitung sejak Bruno menandatangani kontrak. Namun bonus ini tidak memiliki kelipatan, artinya hanya berlaku satu kali dalam lima tahun itu.

Ketiga kesepakatan tersebut telah disetujui oleh kedua pihak, dimana United menjadi pihak yang paling diuntungkan. Poin satu dan dua sudah dari kemarin-kemarin masuk ke kantong Sporting Lisbon karena Bruno telah menjadi pilar utama klub dan United masuk ke UCL, meskipun harus kembali terlempar ke Liga Malam Jumat juga. Dan ketiga poin tersebut berhasil Bruno capai, total uang cash dan bonus yang digelontorkan United terkait transfer Bruno hanya berkisar 80 juta euro. 80 juta euro untuk pemain yang berhasil menjadi pilar klub, membawa bermain di UCL, dan menjadi PFA/nominasi 3 besar Ballon D’OR. Nilai yang cukup murah, dibandingkan United mengambil resiko dengan membayar kontan 80 juta euro di awal transfer. Semua karena siapa? Ed Woodward.

Sisi Burik dan Boroknya Ed Wordward

Sayangnya keajaiban transfer seperti Bruno tidak sebanding dengan betapa nyelenehnya Ed Woodward di masa lalu ketika mendatangkan pemain. Asal si pemain laku di pasaran sebagai model jualan jersey, pasti tidak ragu akan ia angkut dan ia pertahankan di klub. Hal itu pula yang menjadikan dirinya sering berselisih dengan manager klub. Moyes maunya Kroos yang datang Fellaini, Van Gaal maunya Ramos yang datang Blind, Mourinho maunya Perisic yang datang Fred. Maka tidak heran United mengalami inkonsistensi yang cukup lama, karena pemain mereka bukan kebutuhan utama sang manager.

Meskipun mantan seorang akunting dan bankir, yang harusnya lebih bijak mengatur keuangan, nyatanya tak membuat Ed Woodward sedikit pintar dalam urusan pemberian gaji pemain. Terlalu ada jurang pemisah yang cukup dalam di struktur gaji pemain Manchester United. Alexis Sanchez, yang didatangkan karena panic buying diberikan gaji mencapai £500.000 per minggu, padahal saat didatangkan usianya hampir 30 tahun, dimana normalnya pemain seusia Sanchez tidak akan mendapatkan gaji setinggi itu karena sudah masuk usia rentan cedera.

Hal ini juga yang menjadikan kondisi ruang ganti menjadi panas dan kurang kondusif, beberapa pemain yang tampil reguler menganggap jika mereka pantas mendapatkan tambahan gaji. Imbasnya? United kehilangan Ander Herrera, salah satu pemain utama di klub yang memilih hengkang ke PSG secara gratis karena manajemen menolak untuk menambahkan gajinya. Itu Ed masih tergolong beruntung karena beberapa pemain bergaji rendah namun tampil reguler seperti Scott McTominay tidak melakukan protes terkait kenaikan gaji, faktor karena dia udah jadi anak sultan sejak lahir.

Dua sisi baik dan buruk dalam diri Ed Woodward pula yang akhirnya menimbulkan dua kubu berbeda pendapat saat dirinya resmi mengundurkan diri dari kursi CEO United akhir tahun nanti, setelah 8 tahun menjabat dan membawa dampak baik juga buruk di klub. Sebuah angin segar karena harapannya United bisa menemukan sosok petinggi klub yang mampu mendatangkan pemain sesuai kebutuhan manager. Tapi sebuah mimpi buruk juga karena klub harus kehilangan mesin uang mereka, mesin uang yang pada 2019 lalu membawa MU memiliki pemasukan setinggi 627 juta poundsterling padahal dalam kondisi amburadul dan puasa gelar. Dalam pernyataan resminya di situs resmi klub, Ed Woodward mengucapkan salam perpisahan terkait keputusannya meninggalkan United.

“Gue ngrasa bangga banget bisa mengabdi di United dan menurut gue itu adalah sebuah kehormatan bisa bekerja buat klub terbesar di dunia selama 16 tahun terakhir ini. Keadaan klub udah ada di kondisi yang baik saat ini dan nantinya. Jujur ini berat banget buat gue ninggalin United akhir tahun nanti. Gue bakal selalu mengenang memori gue selama di Old Trafford, kenangan waktu kita juara Europa League, FA Cup, dan Carabao Cup. Gue bangga bisa meregenerasi budaya klub dan mengembalikan permainan United kek sebelumnya.”

“Gue mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya kepada para penggemar buat dukungan mereka pas kita lagi di fase baik dan buruk. Gue tahu kok fase buruk itu mungkin tantangan yang berat buat kalian para penggemar, tapi support kalian itu luar biasa dan nggak gue ragukan lagi. Akhirnya waktu itu datang, gue seneng bisa berkesempatan kerjasama bareng orang-orang hebat, berbakat, dan pekerja keras di klub.”

Terimakasih, Ed Woodward.

Class of ’92: Generasi Emas Pengukir Sejarah Manchester United

Cerita tentang Class of ‘92 menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah sepakbola. Sekumpulan anak muda dengan semangat luar biasa berhasil membuat semua yang menyaksikan terbelalak.

Class of ‘92 muncul dari sekumpulan anak muda yang kebanyakan lulus dari akademi Manchester United pada tahun 92. Sekumpulan pemain muda berbakat tersebut muncul dari ide Sir Alex Ferguson yang ingin memajukan klub melalui akademi. Seperti diketahui, pada saat itu MU memang tengah mengalami masa paceklik. Mereka yang terakhir kali merajai Eropa pada tahun 1968 beberapa kali terombang-ambing. Mulai dari turun kasta sampai terus dijadikan bulan-bulanan Liverpool, telah menjadi makanan sehari-hari United, ditengah pencarian jati diri yang sebenarnya.

Ketika itu, pada tahun 1986, Sir Alex Ferguson ditunjuk sebagai manajer klub. Dalam menjalankan misinya, dia tidak berjalan sendiri. Ada nama-nama hebat lainnya seperti Eric Harrison, Brian Kidd, dan Nobby Stiles, yang turut mendampinginya. Selama kurang lebih lima tahun, mereka akhirnya sukses kumpulkan pemain-pemain dengan potensi luar biasa.

David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, dan Paul Scholes, yang menjadi nama tenar dari generasi emas tersebut direkrut dari berbagai wilayah berbeda. Ryan Giggs, Paul Scholes, Nicky Butt, Gary Neville diambil dari wilayah Manchester. Sementara David Beckham ditemukan di kawasan ibukota London.

Ketika dikumpulkan menjadi satu kesatuan, rata-rata usia pemain tersebut adalah sekitar 15 sampai 16 tahun. Meski tergolong masih sangat muda, mereka sudah dididik menjadi tim yang sangat solid dan mampu menguasai permainan. Hal itu terbukti ketika mereka dihadapkan dengan para pemain senior. Dari segi permainan, para pemain senior terlihat kewalahan dengan umpan-umpan yang ditunjukkan para pemain tersebut.

Dari situ, kabar tentang kehebatan para pemain muda tersebut langsung menyebar luas ke permukaan. Banyak penggemar yang hadir dalam pertandingan anak-anak itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang mulai menjadi idola para penggemar.

Dikatakan bahwa ketika itu banyak penggemar yang terkesan dengan permainan Paul Scholes. Pemain dengan kekuatan kaki luar biasa itu memang digambarkan sebagai pemain yang selalu tampil prima dan sering mencetak gol-gol spektakuler.

“Ketika itu banyak penonton yang hanya ingin menyaksikan mereka di Sabtu pagi. Tim ini punya Beckham, Giggs, Neville bersaudara, Butt, dan Thornley, namun yang menjadi idola adalah Paul Scholes. Permainannya saat itu enak dilihat dan kerap mencetak gol-gol fantastis.” ujar Eric Harrison, selaku manajer tim akademi MU.

Lalu, puncak dari kehebatan mereka tertuang pada kompetisi FA Youth Cup 1991/92. Turnamen itu diikuti oleh pemain-pemain berusia dibawah 18 tahun. MU dengan para pemain berbakatnya pun berhasil melewati hadangan demi hadangan, termasuk melibas Manchester City di kandangnya dengan skor 3-1.

Di partai semifinal, mereka berhasil mengalahkan Tottenham Hotspurs dengan agregat 5-1, sebelum akhirnya bertemu dengan Crystal Palace di partai puncak.

Dimainkan dalam dua pertandingan, United berhasil melibas keduanya dengan skor masing-masing 3-1 dan 3-2. Dengan agregat 6-3, United berhasil meraih trofi pertama mereka setelah 28 tahun lamanya di ajang tersebut. Selain itu, gelar tersebut sekaligus menjadi penanda dari sebuah era emas yang akan dibangun tim Setan Merah.

Setelah melalui berbagai fase yang begitu luar biasa, sampailah pada masa ketika para pemain muda ini tampil di level tertinggi. Giggs memulai debutnya di tim utama pada tahun 1991, sementara Beckham, Butt dan Gary Neville mengikuti pada tahun 1992. Debut senior Scholes terjadi pada tahun 1994, untuk kemudian diikuti oleh Phil Neville pada awal tahun 1995.

Fergie paham betul bila para pemain tersebut merupakan aset baginya.Oleh karena itu, dia benar-benar memperhatikannya dengan baik. Pada musim 1994/95, Fergie mengatakan bila class of ‘92 telah menyelamatkan namanya, di tengah krisis yang dialami tim utama, seperti Eric Cantona yang dihukum selama delapan bulan, sampai Mark Hughes yang mulai sering diterpa cedera.

Dari situ, Fergie benar-benar memberi kepercayaan penuh pada mereka. Sang pelatih merasa bahagia karena keputusannya terbilang tepat. Dia menilai kalau para pemain mudanya sudah mulai matang dan terus berkembang.

Pada musim 1995/96, Fergie menjual berbagai pemain senior seperti Paul Ince, Mark Hughes, dan Andrei Kanchelskis. Namun bukannya mengganti dengan membeli pemain bintang lainnya, Fergie dengan sengaja terus memasang pasukan mudanya untuk membawa nama United di kancah sepakbola inggris.

Meski rencananya itu sempat tidak berjalan mulus, perlahan tapi pasti, class of ‘92 mulai menunjukkan kelasnya. Keyakinan Fergie pada akhirnya menuai hasilnya. Kepercayaannya kepada para pemain muda sukses menelurkan gelar Liga Primer Inggris dan juga Piala FA.

Di musim tersebut, mayoritas lulusan kelas 92 mampu tunjukkan eksistensinya. Gary dan Phil Neville menjelma sebagai bek sayap berkualitas. Paul Scholes berkembang menjadi sosok gelandang luar biasa. Nama Nicky Butt terus melambung tinggi dengan kreativitasnya. Sementara Ryan Giggs dan David Beckham tumbuh menjadi pemain populer dengan kualitas tinggi.

Prestasi Manchester United semakin tak terbendung. Satu yang paling diingat adalah tepat pada musim 1998/99, ketika para penggawa Class of ‘92 sukses menjadi tulang punggung dari era kejayaan MU yang berhasil meraih tiga gelar dalam satu musim kompetisi.

Salah satu fakta yang cukup menarik dari generasi emas class of ‘92 adalah, mereka sempat dibayar dengan gaji murah oleh manajer mereka, Sir Alex Ferguson. Hal tersebut diungkap oleh Keith Gillespie, yang juga merupakan mantan lulusan akademi klub. Gillespie mengatakan kalau gaji murah yang diberikan kepada para pemain itu memang menjadi permintaan Fergie.

Pelatih asal Skotlandia itu mengatakan bila dia memang sengaja menerapkan hal tersebut untuk membuat para pemain agar tetap membumi. Selain itu, Fergie juga menginginkan para pemain muda untuk meningkatkan kualitasnya bila ingin bayaran yang lebih besar lagi. Dikabarkan, para pemain muda tersebut diberi bayaran 230 poundsterling atau setara dengan empat juta rupiah per minggunya.

Karena menjadi generasi yang mampu menginspirasi banyak pihak, Class of ‘92 lalu ditampilkan dalam sebuah film dengan judul yang sama. Film ini dirilis pada Desember 2013 dan menghabiskan anggaran sekitar 900 ribu pounds atau setara 17 miliar rupiah.

 

Sumber referensi: panditfootball, goal, setanmerah

Ralf Rangnick, ‘Bapak Gegenpressing’ Sumber Inspirasi Jurgen Klopp

Jurgen Klopp adalah salah satu pelatih tersukses saat ini. Sepanjang kariernya, Klopp selalu mampu membawa timnya meraih prestasi. Tercatat, ia telah memenangkan 5 trofi bersama Borussia Dortmund dengan rincian 2 trofi Bundesliga, 2 trofi DFL-Supercup, dan 1 trofi DFB-Pokal.

Klopp kembali sukses meneruskan raihan prestasinya di klubnya saat ini, Liverpool. Menangani The Reds sejak 2015 silam, ia berhasil membawa Liverpool juara di 4 kompetisi bergengsi, yakni Premier League, Liga Champions, UEFA Super Cup, dan Piala Dunia Antarklub.

Salah satu kunci dari kesuksesan Jurgen Klopp adalah taktik gegenpressing yang ia terapkan. Klopp boleh saja jadi pelatih yang mempopulerkan ‘gegenpressing’. Namun, pelatih Jerman berusia 53 tahun itu bukanlah orang yang menemukan taktik tersebut. Adalah Ralf Rangnick, sang inovator yang menemukannya dan yang pertama kali memperkenalkan ‘gegenpressing’.

Awalnya, banyak yang tak tahu jika ‘bapak gegenpressing’ adalah Ralf Rangnick. Bahkan, pada awal perkenalannya, konsep gegenpressing tak langsung diterima. Namun, seiring berjalannya waktu, para penikmat sepak bola sudah paham dengan makin banyaknya pelatih top dunia yang juga menerapkan gegenpressing.

Selain Klopp, Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann adalah pelatih top dunia yang juga mengaplikasikan gegenpressing pada timnya. Selain mereka, hampir seluruh pelatih yang pernah menangani New York Red Bulls, RB Salzburg, dan RB Leipzig juga memakai gegenpressing.

Jadi, siapa sebenarnya Ralf Rangnick ini?

Secara prestasi, Jurgen Klopp jelas lebih mentereng. Sepanjang kariernya, Ralf Rangnick baru memenangi 7 trofi, tapi hanya 4 trofi yang terhitung prestisius. Rangnick meraih Piala Intertoto 2000 bersama Stuttgart serta menjuarai DFL-Ligapokal 2005, DFL-Supercup 2011, dan DFB-Pokal 2011 bersama Schalke.

Akan tetapi, justru kesuksesan Rangnick kala menangani Hoffenheim yang membuat nama dan taktik sepak bolanya melambung. Rangnick ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim pada 2007 silam. Saat itu, Hoffenheim masih berkompetisi di divisi ketiga.

Hebatnya, dengan kendali penuh Rangnick dan bermain dengan sistem gegenpressing yang atraktif, Hoffenheim selalu berhasil promosi di tiap tahunnya hingga mentas di Bundesliga pada musim 2008/2009. Di musim pertamanya, Hoffenheim secara mengejutkan mampu finish di posisi 7.

Selain memberi perubahan dalam gaya bermain, Rangnick juga mengatur urusan teknis dan non-teknis klub, termasuk kebijakan transfer klub dan meremajakan skuad Hoffenheim. Kesuksesannya bersama Hoffenheim itulah yang membuat Red Bull kepincut untuk memakai jasa Rangnick. Ia akhirnya direkrut Red Bull pada 2012 lalu sebagai sporting director untuk RB Salzburg dan RB Leipzig.

Hal pertama yang dilakukan Rangnick adalah membentuk konsep dan menanamkan DNA ke dalam klub sesuai gaya main yang ia inginkan. Dasar permainan yang ia tanamkan di dua klub Red Bull itu tentu saja gegenpressing.

“Gaya bermain harus sangat dikenali sedemikian rupa sehingga, bahkan di hari yang buruk, Anda masih bisa mengenali jenis sepak bola yang ingin dimainkan tim. Dengan melakukan itu, Anda menciptakan identitas di seluruh klub. Tidak hanya dengan para pemain, tetapi juga staf pelatih dan bahkan para suporter.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.

Oleh karena itulah, klub yang berafiliasi dengan Red Bull punya kemiripan gaya permainan. Wajar, sebab semua hal itu diatur sedemikian rupa oleh Ralf Rangnick. Konsep dan identitas yang Rangnick tanamkan itu terbukti sukses besar.

Yang paling terlihat tentu kesuksesan RB Leipzig. Rangnick datang 3 tahun setelah Leipzig terbentuk dan masih berada di divisi 4 liga Jerman. Perubahan perlahan dilakukan Rangnick, termasuk mengganti pelatih yang sevisi dengannya. Hasilnya, Leipzig hanya butuh 4 tahun untuk promosi ke Bundesliga.

Lalu, bagaimana awal mula Rangnick mengembangkan gegenpressing?

Rangnick bukanlah pelatih baru di sepak bola Jerman. Ia sudah terjun ke dunia kepelatihan di tahun 1983 dengan menjadi pemain sekaligus pelatih untuk klub kampung halamannya, FC Viktoria Backnang. Di klub divisi 6 itulah Rangncik mulai mengembangkan filosofi yang kini dikenal sebagai gegenpressing.

Pada Februari 1983, tim asuhan Rangnick bertemu dengan Dynamo Kiev asuhan Valeriy Lobanovskyi saat keduanya berjumpa di pertandingan persahabatan. Perbedaan level jelas menjadikan tim Rangnick kalah total, namun ia belajar satu hal. Para pemain Dynamo Kiev tak henti-hentinya melakukan pressing sepanjang laga.

“Saya pernah bermain melawan tim-tim top sebelumnya, kami selalu kalah melawan mereka, tentu saja, tetapi mereka setidaknya memberi Anda waktu untuk bernafas. Kiev adalah tim pertama yang pernah saya lawan yang memberi tekanan secara sistematis. Itu adalah pencerahan sepakbola saya. Saya mengerti bahwa ada cara bermain yang berbeda.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari bundesliga.com

Valeriy Lobanovskyi bukanlah satu-satunya inspirasi Ralf Rangnick. Selain pelatih legendaris Ukraina itu, gaya permainan Rangnick juga dipengaruhi oleh Arrigo Sacchi. Dari Arrigo Sacchi, Rangnick mengambil salah satu kunci permainan pelatih legendaris AC Milan itu, yaitu sistem zonal marking.

Bersama kawannya, Helmut Groß, Rangnick kemudian menulis manual pelatihannya sendiri dan mulai mengembangkan taktik atraktif yang kini kita kenal sebagai gegenpressing. Rangnick baru benar-benar mengungkap taktik itu ke publik di tahun 1998 setelah ia sukses membawa SSV Ulm promosi ke divisi 2.

Lalu, seperti apa sebenarnya gegenpressing yang dikembangkan Ralf Rangnick itu?

“Gaya yang kami berdua (Rangnick dan Helmut Gross) suka adalah jenis sepak bola yang sangat proaktif. Ini adalah sepak bola dengan tekanan tinggi dan tekanan balik dengan serangan balik yang cepat dan proaktif.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.

Gegenpressing adalah frasa dalam bahasa Jerman, atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan istilah counter-pressing. Alih-alih membentuk ulang formasi atau kembali ke garis pertahanan, pemain akan mencoba memenangkan kembali penguasaan bola setelah sebelumnya kehilangan bola. Dengan begitu, tim bisa masuk kembali ke fase menyerang.

Itulah ide sederhana dari gegenpressing atau counter-pressing. Dalam pengaplikasiannya, pemain tak serta merta langsung mengerubungi pemain lawan yang membawa bola, tetapi juga menjaga opsi umpan di sekitar lawan dengan tetap memberi tekanan secara intens dan sistematis.

Dalam pakem gegenpressing yang dikembangkan Ralf Rangnick, ia memakai formasi dasar 4-4-2 double six atau 4-2-2-2. Memakai quartet 4 bek dan menempatkan dua gelandang bertahan di lini tengah. Itulah konsep gegenpressing ala Ralf Rangnick yang menginspirasi banyak pelatih top dunia saat ini, khususnya mereka yang pernah bekerja di bawah bimbingannya di RB Salzburg dan RB Leipzig.

Roger Schmidt misalnya. Pelatih PSV itu pernah ditunjuk Rangnick sebagai juru taktik RB Salzburg dari tahun 2012-2014. Pengaruh Rangnick terbukti masih ia bawa di PSV. Schmidt memakai formasi 4-4-2 double 6 di klub yang ia latih.

Begitu juga dengan pelatih Southampton saat ini, Ralph Hasenhuttl. Di bawah asuhan pelatih yang pernah membawa RB Leipzig finish runner-up di Bundesliga 2016/2017 itu, Southampton tercatat sering memakai formasi 4-4-2 double 6.

Sementara itu, meski Julian Nagelsmann lebih sering memakai formasi 3-4-2-1, tetapi ia masih menempatkan 2 gelandang bertahan di lini tengah timnya. Skema berbeda diterapkan Jurgen Klopp yang cenderung memakai formasi 4-3-3, tetapi Klopp sendiri mengakui bahwa Rangnick adalah orang yang memberi pengaruh besar kedalam taktiknya.

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa kami (Rangnick dan Klopp) memiliki gagasan yang sangat mirip tentang bagaimana sepak bola harus dimainkan.Tim Hoffenheim saya bermain melawan Borussia Dortmund milik Jurgen pada tahun 2008. Kami mengalahkan mereka 4-1 dan Jurgen mengatakan seminggu kemudian, sebelum pertandingan berikutnya, bahwa gaya kami persis seperti yang dia inginkan untuk bermain bersama Dortmund.”, kata Rangnick mengingat ucapan Klopp kepada dirinya, dikutip dari coachesvoice.com.

Dengan inovasinya yang begitu visioner, wajar bila Rangncik disebut sebagai manajer paling berpengaruh di Jerman saat ini. Secara terang-terangan, Klopp juga menyebut Rangnick sebagai salah satu pelatih terbaik Jerman saat ini.

Rangnick tak hanya merevolusi taktik, tapi juga manajemen klub. Selain mengatur filosofi klub, saat bekerja sebagai sporting director untuk Red Bull, Rangnick juga mengatur kebijakan transfer. Dialah otak dibalik skuad muda RB Salzburg dan RB Leipzig yang siap dijual dengan harga mahal.

“Kami tidak hanya perlu memusatkan perhatian pada memenangkan gelar, tetapi juga pada pengembangan pemain. Dengan mencari dan mengembangkan pemain muda, kita harus menjual mereka untuk mendapatkan keuntungan besar. Saya ingin menjual pemain dengan harga ganda dalam dua tahun.”, ujar Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.

Berkat rentetan jasa dan kesuksesannya, kini nama Ralf Rangnick banyak diminati klub-klub besar Eropa. Itu terjadi setelah ia mundur dari tim Red Bull pada 2020 lalu. Pelatih yang kini berusia 62 tahun itu diisukan sangat diminati oleh Tottenham Hotspur.

Spurs tengah mencari pelatih anyar untuk musim depan usai memecat Jose Mourinho beberapa waktu lalu. Pemilik Spurs, Daniel Levy disebut sangat mengangumi Rangnick. Rekam jejak Rangnick yang mampu meremajakan tim dengan skuad muda dan memberi keuntungan besar lewat penjualan pemain dinilai sesuai dengan profil Spurs saat ini. Namun, Spurs mesti bersaing dengan banyak tim yang juga meminati jasa Rangnick.

Selain, Spurs, AC Milan bahkan sempat menjalin kontak dengan agen Rangnick. Rangnick sendiri juga menyatakan terbuka untuk menerima tawaran dari timnas Jerman yang bakal ditinggal Joachim Low musim depan. Selain mereka, Eintracht Frankfurt dan Schalke juga dikabarkan tertarik menjadikan Rangnick sebagai sporting director mereka.

Dengan pengalaman dan pengaruhnya yang besar, serta filosofi permainannya yang modern dan inovatif, wajar bila banyak pihak yang menginginkan jasa Ralf Rangnick. Menarik untuk disimak bagaimana kiprah selanjutnya dari Ralf Rangncik di masa depan.

***
Sumber Referensi: ESPN, Givemesport, Bundesliga, The Coaches’ Voice 1, The Coaches’ Voice 2, Bulinews.