Beranda blog Halaman 712

Ngeprank Penikmat Bola! Ini 5 Wonderkids Sepakbola Paling Mengecewakan

Apa yang lebih menyedihkan dari kisah seorang wonderkid gagal?

Dalam sepakbola, sudah sangat sering kita saksikan kisah para bintang muda yang gagal tunjukkan kualitas. Tidak sedikit dari mereka yang kesulitan beradaptasi dan bahkan mengalami kehancuran karir yang akan selalu dikenang oleh banyak orang. Sampai saat ini, sudah ada banyak nama pemain muda yang tampil mengecewakan ketika diminta bermain di level senior. Meski tidak sedikit pula dari mereka yang bertahan, masih ada yang lainnya, yang sampai harus bermain di level rendah demi memulihkan kemampuan yang hilang entah kemana.

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan coba merangkum deretan wonderkid paling mengecewakan sepanjang masa.

 

Sebastian Deisler

Sebastian Deisler menjadi pemain muda pertama yang meski digadang-gadang bakal menjadi yang terbaik, gagal penuhi ekspektasi.

Deisler merupakan pemain penting dari Jerman. Dia disebut bakal menjadi andalan tim panser di masa mendatang. Sayangnya, semua harapan yang ditaruh di pundak tak mampu dipikulnya. Deisler tenggelam dalam kehancuran. Sebuah cedera merenggut kisah manisnya. Jangankan untuk bersinar, bangkit dari masalah yang selama ini mendera juga dia tak bisa.

Deisler mengalami cedera ligamen yang lagi dan lagi terus menjadi penghalang. Selain itu, dia juga sering diganggu oleh cedera lainnya hingga membuat pemain yang kini berusia 41 tahun itu sampai harus mengalami depresi.

Deisler sejatinya memulai karir bersama Borussia Monchengladbach untuk kemudian bergabung dengan Hertha Berlin pada tahun 1999. Menyusul penampilan gemilangnya, dia lalu direkrut oleh raksasa FC Bayern pada tahun 2002. Nahas, dia datang ke Allianz dengan kondisi yang tidak fit. Meski berhasil menggondol trofi liga, Deisler tidak benar-benar menikmati segalanya. Cederanya kambuhan. Ruang operasi seolah menjadi tempat ternyaman. Hingga pada akhirnya di usia yang baru menginjak 27 tahun, Deisler memilih untuk menghentikan segalanya.

Dia hanya tampil dalam 62 pertandingan dalam empat musim bersama FC Bayern. Kisah tragisnya itu pun banyak menjadi bahan bicaraan. Diluar sana, ada banyak sekali orang yang menyayangkan karir pria Capricorn.

“Aku merasa seperti orang bodoh yang sangat menyedihkan,” ujar Deisler usai putuskan pensiun di usia 27 tahun.

Keirrison

Brasil menjadi negara yang dipercaya untuk menelurkan bakat-bakat luar biasa. Salah satu pemain paling bertalenta dalam sejarah adalah Keirrison. Semua pasti ingat ketika FC Barcelona berani menggelontorkan dana senilai 14 juta euro atau setara 244 miliar rupiah hanya untuk memboyong Keirrison yang baru berusia 20 tahun.

Saat itu Keirrison memang banyak diburu oleh klub Eropa. Bersama dengan Coritiba, dia mampu ciptakan 41 gol dari total 58 pertandingan dan berhasil mempersembahkan gelar Campeonato Paranaense.

Malah torehan 21 golnya di liga sukses mengantar Keirrison duduk di tangga pertama pencetak gol terbanyak. Setelah itu, dia ditarik ke Palmeiras sebelum akhirnya bermukim di Camp Nou.

Nahas, perjalanannya di Eropa tidak berjalan mulus. Dia menjadi pemain yang seolah tidak diinginkan oleh pelatih el Barca, Pep Guardiola. Meski mendapat kontrak selama lima tahun dari Barcelona, dia sama sekali tidak memberi jasa apapun bagi Barcelona. Masa peminjaman hanya menjadi makanan sehari-harinya. Lebih dari itu, kegagalan dan kekecewaan menjadi buah dari kemampuannya yang tidak bisa dimaksimalkan.

Merasa tidak mendapat manfaat dari sang pemain, Barca lalu melepasnya pada tahun 2014. Sempat kembali ke Coritiba, Keirrison kini berstatus sebagai pemain Palm Beach yang tampil di kompetisi Amerika.

Ravel Morrison

Di awal karirnya, Ravel Morrison pernah digambarkan sebagai pemain muda terbaik oleh Sir Alex Ferguson. Dia bahkan disebut bakal menjadi pemain masa depan Manchester United. Akan tetapi, berbagai hal lantas membuatnya gagal tunjukkan bakat. Dia sama sekali tak bisa buktikan kualitas dan malah mengalami masa yang tak diinginkan.

Sejak melakoni debut bersama MU di usia 17 tahun pada 2010 silam, Ravel Morrison malah menjadi seorang pesakitan tanpa pernah membanggakan klub yang dibelanya. Dia dilepas MU pada tahun 2012 untuk kemudian bergabung dengan West Ham United. Setidaknya, ada sekitar 11 tim yang pernah disinggahinya setelah keluar dari Old Trafford. Namun semua itu tidak ada artinya. Ravel Morrison gagal dan benar-benar tak mampu bersinar.

Usianya kini adalah 28 tahun. Sempat menjalani trial bersama ADO Den Haag, Ravel Morrison kini berstatus sebagai seorang pengangguran. Karirnya sebagai seorang pemain sepakbola tak terlihat matang.

Mengejutkannya, dia tampak berlatih bela diri. Ada kabar yang menyebut bahwa dia akan menjajal olahraga MMA, usai berlatih dengan petarung kelas bulu, Lerone Murphy.

Hachim Mastour

Nama Hachim Mastour sempat membuat gempar dunia maya. Pemain asal Maroko itu terlihat membanjiri sosial media Youtube dengan aksi-aksi luar biasanya sebagai seorang pesepakbola.

Hachim Mastour memang bukan nama baru dalam dunia sepakbola. Meski masih berusia muda, bahkan setelah dibuang AC Milan, Hachim Mastour banyak diperbincangkan oleh banyak orang. Selain memiliki kecepatan luar biasa, dia juga terlihat sebagai pemain yang pandai menguasai bola. Tampak mudah baginya untuk melewati lawan. Bahkan, untuk mencetak gol pun bukan perkara sulit untuknya.

Sayangnya, setelah ditarik ke tim utama, Hachim Mastour malah gagal tunjukkan pesona. Talentanya hanya sebatas di ruang online saja. Dia hanya pandai menghibur penonton tanpa pernah memberi kontribusi penting bagi timnya. Maka dari itu, wajar bila AC Milan selaku klub yang memilikinya, memilih untuk meminjamkan sang pemain ke sejumlah klub di Eropa.

Sayangnya, cara itu sama saja. Tidak ada perubahan yang ditunjukkan Hachim Mastour. Malah, karirnya makin menukik tajam.

Kini, di usia 22 tahun, dia hanya tampil di divisi bawah Liga Italia bersama Carpi.

Freddy Adu

Freddy Adu kini berstatus sebagai pemain Osterlen FF yang berkompetisi di divisi tiga Liga Swedia. Bila membayangkan nasibnya sekarang, terasa begitu miris setelah tahu bahwa pemain yang kini berusia 31 tahun itu pernah digadang-gadang bakal menjadi masa depan sepakbola Amerika.

Mantan pemain Internasional Amerika Serikat itu pernah menyandang status sebagai talenta muda terbaik yang pernah ada. Dia melakoni debut bersama DC United pada usia 14 tahun. Dia juga sempat diminati oleh tim sekelas Manchester United, Benfica, sampai Monaco. Namun terlepas dari ketertarikan banyak tim besar Eropa, Adu sama sekali tidak mampu mengembangkan bakat luar biasanya.

Kelemahan Adu ketika dijuluki sebagai pemain muda terbaik di dunia adalah, dia merasa kaget setelah mendapat bayaran yang begitu besar di usia yang tergolong masih sangat muda. Dia tampak tenggelam dalam kemewahan dan seolah tidak memikirkan karir di masa mendatang. Maka dari itu, potensi yang ada pada dirinya tidak mampu dipertahankan. Dia terbuai dengan bujuk rayu dunia dan benar-benar gagal menjadi seorang pemain besar.

Sebanyak 15 tim sudah ia bela, dimana pada tahun 2018 lalu dia sempat menganggur dan tak lagi tampil di kompetisi profesional selama kurang lebih dua tahun.

Nama Freddy Adu hanya banyak meninggalkan penyesalan. Pemain yang juga dijuluki penerus Pele ini gagal, dan hanya jadi bahan bagi sebagian orang untuk mengambil pelajaran.

 

Musim Yang Buruk Untuk Sadio Mane

Musim ini, Liverpool menjadi salah satu tim Liga Primer Inggris yang paling disorot penampilannya. Pemegang enam gelar trofi Eropa itu tampil tidak seperti biasanya. Ada banyak pemain yang boleh dibilang alami penurunan performa. Selain Mohamed Salah yang tak luput dari kritik penggemar, ada nama Roberto Firmino, Gini Wijnaldum, Trent Alexander-Arnold, Andy Robertson, dan bahkan Fabinho, yang juga mengalami penurunan level performa. Performa Liverpool yang terbilang mudun juga dipengaruhi dengan absennya Virgil van Dijk akibat cedera, yang kita tahu selama ini menjadi andalan di lini belakang the Reds.

Namun, di tengah turunnya performa pemain Liverpool, Sadio Mane dianggap sebagai yang paling menyedihkan. Hal tersebut sangat disadari oleh banyak orang, terutama para penggemar The Kopites. Mane memang menjadi sosok sentral sejak didatangkan pada tahun 2016 lalu. Dia berhasil membawa Liverpool lolos ke kompetisi Liga Champions Eropa, plus sumbangkan banyak gelar bergengsi.

Akan tetapi, dia kini tampak berada dibawah bayang-bayang nya sendiri.

Mane, selama musim ini, banyak melakukan pekerjaan yang tidak diperlukan. Dia menjadi pemain yang kerap kebingungan di atas lapangan. Ia bermain buruk dengan pengambilan keputusan yang sama buruknya. Dia bahkan terlihat belingsatan ketika harus mencetak gol, melakukan tembakan, atau bahkan hanya sekadar mengirim umpan.

Dia kehilangan arah dan tampak harus diistirahatkan di bangku cadangan.

Apa yang terjadi kepada Mane pada musim ini memang mengkhawatirkan. Musim lalu, dia berhasil mencetak 18 gol dari 35 kesempatan di Liga Primer Inggris. Akan tetapi, musim ini, dia hanya mampu mencetak delapan gol saja dari 30 kesempatan. Sungguh angka yang terbilang mengejutkan dari seorang pemain yang jadi andalan pelatih Jurgen Klopp.

Penurunan performa Mane, seperti yang sudah disinggung, ditandai dengan banyaknya dia membuang-buang peluang. Pemain asal Senegal ini tidak benar-benar menjadi yang paling berbahaya bagi pertahanan lawan sejak musim ini dimulai. Menurut catatan who scored, Dalam 43 tendangan terakhir yang dilancarkan ke gawang lawan, tercatat hanya dua gol saja yang berhasil dicetak.

Mulanya, dalam 10 pertandingan awal yang dijalani di kompetisi Liga Primer Inggris, Mane memang berhasil mencetak enam gol. Namun itu tidak lantas menjadi angka yang mengagumkan bagi Mane. Pasalnya, dia langsung menjadi seorang pemain mandul, setelah terakhir kali mencetak gol ke gawang Manchester City pada November 2020.

Mane butuh enam laga untuk berhasil mencetak satu gol dan satu assist. Selebihnya, dia tak memberi andil besar kepada klub sampai setidaknya di pertandingan melawan Tottenham Hotspurs pada awal 2021, tepat sebelum dirinya diterpa cedera dan harus absen dalam dua pertandingan.

Sejak saat itu pula, Mane selalu kesulitan mencetak gol. Di kompetisi Liga Primer Inggris utamanya, dia harus membutuhkan sebanyak sepuluh pertandingan untuk bisa kembali mencatatkan nama di papan skor. Ketika itu, atau tepat pada 19 April lalu, Mane berhasil mencetak gol ke gawang Leeds United. Sayangnya, gol yang dicetak gagal membawa Liverpool meraih kemenangan. Kedua tim tersebut hanya mampu bermain imbang setelah Leeds United berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke 87 melalui aksi Diego Llorente.

Di laga itu, Mane banyak menyia-nyiakan peluang yang didapat, sehingga memungkinkan anak asuh Marcelo Bielsa mencuri gol di menit akhir pertandingan.

Dengan turunnya performa Liverpool yang salah satunya disebabkan oleh penampilan Sadio Mane, kini klub yang bermarkas di Anfield bahkan terancam tidak bisa masuk ke zona Eropa. Mereka punya banyak pesaing dengan ambisi besar. Malah, ada dari mereka yang berstatus sebagai tim papan tengah namun telah tunjukkan penampilan yang tidak bisa diremehkan pada musim ini.

Itu baru di kompetisi Liga Primer Inggris saja. Lalu, bagaimana penampilan Sadio Mane di kompetisi Liga Champions Eropa? Ya, semua pasti sudah bisa menebak. Sama buruknya!

Mane hanya mampu membawa Liverpool lolos ke babak perempat final. Disana, skuad asuhan Jurgen Klopp dipecundangi Real Madrid dengan skor agregat 3-1.

Di leg pertama, entah apa yang terjadi, Mane benar-benar tidak tampil seperti biasanya. Pemain asal Senegal itu tidak mampu memberikan apa-apa kepada Liverpool, kecuali kartu kuningnya yang didapat pada menit ke 39. Laman whoscored hanya memberinya nilai sebesar 5,83 saja. Meski tampil selama sembilan puluh menit lamanya, Mane, untuk kesekian kalinya, gagal membuktikan kualitas, seperti pada musim-musim sebelumnya.

Buruknya penampilan Mane yang tidak hanya terjadi dalam satu pertandingan itu pun menyulut kemarahan para suporter. Mereka bahkan menyebut bila inilah saat yang tepat untuk menjual Sadio Mane.

Game FIFA 21 juga turut tersentil dengan bobroknya performa Mane musim ini. Melansir dari laman liverpool echo, Mane yang sebelumnya memiliki rating sebesar 90, kini hanya punya sebanyak 89 angka saja secara keseluruhan. Sejumlah atribut lainnya mengalami penurunan cukup signifikan, seperti finishing dari 90 menjadi 89, passing pendek dari 85 menjadi 84, positioning dari 92 menjadi 90, hingga visi bermain dari 85 menjadi 83.

Bila melihat fakta yang terjadi di atas lapangan. Penyebab dari gagalnya Mane tampil maksimal di setiap pertandingan adalah murni dari menurunnya performa sang pemain. Selain itu, hal tersebut juga sekaligus mengindikasikan kurangnya rasa percaya diri Sadio Mane.

Hal itu pula yang disampaikan langsung oleh mantan penyerang Liverpool, Peter Crouch.

“Penampilan Mane di musim lalu dan musim sebelumnya, jauh berbeda karena biasanya dia tak pernah berpikir dua kali untuk bisa membuat peluang,”

“Ketika dia menyentuhnya (bola), aku mengetahui dia akan mencetak gol. Namun, kini rasa keyakinannya telah meninggalkannya,” ujar Crouch (via Mirror)

Melihat salah satu pemain andalannya mengalami penurunan performa, Jurgen Klopp selaku pelatih klub tidak mau menyalahkan siapapun. Klopp menyadari betul bahwa Mane adalah pemain yang sangat hebat. Namun dalam hal ini, dia juga tidak mengerti persis apa yang tengah dialami oleh Sadio Mane sehingga sering tampil dibawah standar.

Klopp menilai bila Mane terjebak dalam situasi yang kurang baik. Pelatih asal Jerman itu lalu menambahkan, bila dirinya tidak mengkhawatirkan kondisi saat ini dan berjanji akan terus membenahi performa setiap pemain Liverpool termasuk Sadio Mane.

“Mane memiliki mentalitas yang luar biasa. Ia selalu ingin meningkatkan kemampuannya. Tapi, dia sedang terjebak dalam situasi yang kurang baik. Aku rasa, semua penyerang di dunia memahami situasi Mane saat ini.”

“Sejujurnya, aku tak terlalu khawatir dengan penurunan performa Mane. Tapi, aku berjanji akan berusaha membuatnya kembali menunjukkan performa terbaik,” ujar Klopp (via football5star)

Lebih lanjut, Klopp juga mengatakan bila para pemain Liverpool memiliki jadwal yang sangat padat. Namun dia merasa hal tersebut bukanlah penyebab mundurnya performa Mane. Mane juga tidak mengalami masalah fisik. Tapi, menurut Klopp, Mane memang membutuhkan waktu untuk beristirahat.

 

Sumber referensi: Sportskeeda, premierleague, liputan6, liverpoolecho, football5stars

Mengenal Jesse Marsch, Pelatih Baru RB Leipzig Asal Amerika Serikat

Perubahan besar tengah terjadi di Bundesliga Jerman. Beberapa klub mengumumkan pergantian pelatih. Salah satunya adalah RasenBallsport Leipzig yang baru saja mengumumkan Jesse Marsch sebagai pelatih baru mereka.

RasenBallsport Leipzig atau yang biasa kita dengar dengan RB Leipzig dipastikan akan ditangani pelatih anyar di musim depan. Menyusul Julian Nagelsmann yang pindah ke Bayern Munchen, RB Leipzig secara resmi mengumumkan Jesse Marsch sebagai pelatih barunya.

Klub berjuluk ‘Die Roten Bullen’ itu tak butuh waktu lama untuk menunjuk Jesse Marsch. Kurang dari 24 jam pasca Julian Nagelsmann diumumkan sebagai pelatih anyar Bayern, RB Leipzig langsung berhasil mengamankan tanda tangan pelatih 47 tahun asal Amerika Serikat itu. Dalam keterangan resminya, Jesse Marsch yang bergabung dari Red Bull Salzburg akan mulai aktif bekerja di RB Leipzig mulai 1 Juli nanti hingga Juni 2023.

Meski tak terlalu mengejutkan, penunjukan Jesse Marsch cukup menyita perhatian. Pasalnya, sebelum ini Leipzig lebih dulu dirumorkan bakal menunjuk Pellegrino Matarazzo dari Stuttgart atau Oliver Glasner dari Wolfsburg sebagai pelatih barunya. Namun, menilik perjalanan karier Jesse Marsch yang disebut-sebut sebagai pelatih terbaik Amerika Serikat itu, Leipzig justru telah membuat keputusan tepat.

Mengapa demikian? Dan seperti apa profil Jesse Marsch? Berikut ulasannya.

Jesse Marsch, Sukses Sebagai Pemain, Sukses Pula Sebagai Pelatih

Semasa aktif sebagai pemain pro, karier Jesse Marsch tergolong sukses. Marsch menghabiskan seluruh kariernya sebagai pemain di negara asalnya, Amerika. Marsch yang berposisi sebagai gelandang itu memulai kariernya di klub kampusnya, Princeton Tigers sebelum direkrut DC United pada 1996. Meski hanya mencatat 15 penampilan dan hanya mencetak 4 gol dalam 2 musim, Marsch berhasil meraih 4 trofi.

Kariernya kemudian berlanjut ke Chicago Fire pada 1998. Marsch jadi pemain andalan di sana dan bertahan selama 7 tahun, mencatat 200 penampilan, mencetak 19 gol, dan mempersembahkan 5 trofi bergengsi termasuk 3 trofi US Open dan 1 trofi MLS Cup. Marsch kemudian menutup karier profesionalnya di Chivas USA dan menyataka pensiun pada 5 Februari 2010.

Usai pensiun, pemilik 2 caps bersama timnas Amerika itu langsung melanjutkan kariernya di dunia kepelatihan dengan menjadi asisten Bob Bradley di tim nasional. Hanya bertahan setahun di timnas AS setelah Bradley dipecat pada Juli 2011, Marsch kemudian ditunjuk sebagai pelatih Montreal Impact di bulan Agustus 2011. Sayangnya, Marsch hanya bertahan selama 36 laga. Hasil buruk dan perbedaan filosofi jadi penyebabnya.

Sempat menganggur 3 tahun, Jesse Marsch kemudian ditunjuk sebagai pelatih anyar New York Red Bulls di tahun 2015. Masuk ke dalam keluarga Red Bull inilah yang membuat karier kepelatihan Marsch naik drastis. Namun, awal kariernya di New York Red Bull tidaklah mudah.

Jesse Marsch ditunjuk sebagai pengganti Mike Petke yang begitu dicintai pendukung New York Red Bulls. Alhasil, banyak fans yang tak suka dengan penunjukannya sebagai pelatih anyar. Ia banyak mendapat tekanan dari suporternya sendiri. Namun, Marsch menjawabnya dengan prestasi.

Di musim pertamanya, Marsch langsung berhasil mempersembahkan trofi MLS Supporters’ Shield. Berkat capaian apiknya itu, ia dinobatkan sebagai MLS Coach of the Year dan mendapat perpanjangan kontrak.

Usai memimpin New York Red Bulls di 151 pertandingan dengan hasil yang cukup memuaskan, Jesse Marsch kemudian ditarik Red Bull dan ditugaskan sebagai asisten pelatih Ralf Rangnick di RB Leipzig di musim 2018/2019. Bersama mentornya itu, Marsch membantu Leipzig finish di peringkat 3 Bundesliga dan jadi runner-up DFB-Pokal.

Setahun menimba ilmu di bawah Ralf Rangnick, Marsch kemudian ditarik lagi oleh Red Bull untuk menggantikan Marco Rose di Red Bull Salzburg. Di klub Austria itulah tantangan sebenarnya dimulai. Namun, lagi-lagi, Marsch menghadapi situasi yang sama seperti saat menangani New York Red Bulls.

Sebelum resmi ditunjuk sebagai pelatih RB Salzburg, sekelompak suporter membentangkan spanduk besar bertuliskan “Nein zu Marsch”, yang artinya “Tidak untuk Marsch” sebagai bentuk penolakan kepada Jesse Marsch. Namun, Marsch kembali sukses membungkam haters-nya itu dengan prestasi. Di musim pertamanya, ia langsung membawa RB Salzburg menjuarai Austrian Bundesliga dan Austrian Cup 2020.

Namun, momen yang membuat nama Jesse Marsch dikenal seantero Eropa adalah saat ia mendampingi RB Salzburg di Liga Champions musim lalu, khususnya saat menghadapi Liverpool di pertandingan kedua babak grup. Menghadapi juara bertahan, Salzburg berhasil menampilkan performa yang luar biasa.

Kala itu, Salzburg langsung ketinggalan 3-1 di babak pertama. Hebatnya, perubahan yang dilakukan Marsch di jeda pertandingan sukses menginspirasi para pemainnya. Salzburg sempat menyamakan kedudukan menjadi 3-3 lewat kerja sama apik trio mereka, Erling Haaland, Hwang Hee-chan, dan Takumi Minamino sebelum akhirnya kalah 4-3 setelah Mo Salah mencetak gol kemenangan bagi Liverpool.

Meski kalah dan gagal mendapat poin, belakangan ini pidato Jesse Marsch di ruang ganti Salzburg saat jeda pertandingan melawan Liverpool kembali viral. Dengan menggebu-gebu dan diselingi umpatan dalam bahasa Jerman dan Inggris, pidato Jesse Marsch terbukti ampuh membangkitkan permainan anak asuhannya.

Lalu, perubahan dan taktik seperti apa yang akan dibawa Jesse Marsch di RB Leipzig nanti?

Berbicara soal gaya melatih, Jesse Marsch sudah dikenal sebagai pelatih yang disiplin, tegas, tapi juga inovatif. Saat jadi asisten Ralf Rangnick di RB Leipzig, Marsch menerapkan sebuah aturan unik agar para pemain dan staf mematuhi regulasi, yaitu dengan membuat beberapa larangan dan memberi hukuman jika melanggar aturan tersebut.

Mengutip dari bundesliga.com, ada 12 hukuman berbeda yang dapat dikenakan jika datang terlambat ke latihan atau meeting, kembali dari liburan dengan kelebihan berat badan, atau menggunakan ponsel di area terlarang. Pelanggar mesti memutar ‘spinning wheel’ untuk mengundi hukuman yang harus diterima.

Hukuman tersebut tak pandang bulu, bahkan Ralf Rangnick yang notabene bos di RB Leipzig pernah mendapat hukuman oleh para staf dan para pemainnya sendiri. Rangnick diharuskan menyiapkan minuman selama latihan hari minggu setelah kedapatan menaruh HP-nya di atas meja saat acara makan.

Selain demi kedisiplinan, tujuan dari ditegakkannya aturan dan hukuman tersebut adalah untuk mendorong semangat dan kebersamaan tim, serta mencegah adanya pembentukan kubu dalam timnya. Menariknya, kebersamaan itu juga Jesse Marsch terapkan dalam taktik dan gaya main RB Salzburg.

Marsch adalah seorang penggemar ‘gegenpressing’. Taktik yang mengandalkan kolektivitas pressing itu Marsch terapkan dalam 4 prinsip yang disingkat S.A.R.D. Sprinting, Alle Gemeinsam atau All Together, Reingehen atau Going In, dan Dazukommen atau 2nd wave.

Dalam penerapannya di permainan, para pemain diintruksikan untuk sesegera mungkin memberi tekanan kepada lawan yang menguasai bola (sprinting). Dalam gegenpressing yang diterapkan Marsch, tak hanya satu pemain yang berlari dan memberi pressing, serta menutup opsi umpan (All together dan going in). Dengan begitu, para pemain tetap dapat menjaga pressing-nya jika gagal dalam percobaan pertama (2nd wave).

Dalam pernyataannya di kanal The Coaches’ Voice, Marsch mengaku bahwa taktik pressing yang ia terapkan bukan untuk memenangkan penguasaan bola, melainkan untuk mencetak gol. Untuk itulah tim yang dilatih Marsch cenderung mengandalkan counter attack secara cepat dan vertikal.

Statistik RB Salzburg jadi buktinya. Musim ini, Salzburg sudah mencetak 80 gol dalam 28 pertandingan. Mereka bermain sangat agresif dengan mencatat 7,3 tembakan tepat sasaran per pertandingan. Salzburg juga menghasilkan rata-rata 4,6 peluang bagus per pertandingan.

Dalam build-up serangan, Jesse Marsch menginstruksikan timnya untuk membentuk pola segitiga dan berlian. Dengan begitu, tim dapat memiliki banyak opsi umpan untuk mengalirkan bola dari kaki ke kaki. Permainan agresif memang jadi bagian hidup dari Jesse Marsch.

“Menjadi agresif lebih baik daripada pasif… dan itulah cara saya menjalani hidup,” kata Jesse Marsch dalam kanal The Coaches’ Voice.

Kebaruan itulah yang akan dibawa Jesse Marsch ke RB Leipzig musim depan. Musim ini, rata-rata gol per pertandingan Leipzig menurun. Dari 2,4 gol per pertandingan di Bundesliga musim lalu jadi hanya 1,8 gol per pertandingan di musim ini.

Selain itu, Marsch adalah orang yang sangat familier dengan RB Leipzig. Dia adalah produk dari imperium Red Bull di sepak bola. Dididik oleh Ralf Rangnick yang juga jadi mentor pelatih-pelatih lain yang pernah menangani tim Red Bull, seharusnya perubahan gaya bermain dan formasi bukanlah masalah.

Musim ini RB Leipzig banyak memakai formasi 3 bek bersama Julian Nagelsmann. Sementara itu, Marsch tercatat pernah memakai 11 formasi berbeda dengan formasi 4-2-3-1 dan 4-2-2-2 jadi yang paling sering ia pakai.

Perubahan formasi itu juga bisa ia terapkan di RB Leipzig nantinya. Secara, skuad Leipzig jauh lebih komplet ketimbang Salzburg. Apalagi, masih ada beberapa pemain yang pernah bekerja sama dengan Marsch saat ia jadi asisten pelatih di 2018 silam. Ditambah lagi, Marsch akan kembali menangani 2 mantan anak asuhnya, Hwang Hee-chan dan Dominik Szoboszlai yang belum tampil optimal.

Rumornya, Leipzig juga berencana akan mengangkut Patson Daka dari Salzburg. Bekerja di tempat yang familer dengan orang-orang yang sudah dikenal serta mendapat dukungan penuh dari klub bakal mempermudah pekerjaan Jesse Marsch untuk membawa RB Leipzig berprestasi.

Prestasi, itulah yang kini diharapkan RB Leipzig dari pelatih barunya asal Amerika Serikat, Jesse Marsch. Memang tak mudah, namun dengan pendekatan yang ia punya, taktik segudang, dan pengalamannya bekerja di bawah tekanan, bukan suatu hal yang mustahil bagi Jesse Marsch untuk menuai sukses di RB Leipzig.

***
Sumber Referensi: The Guardian, The Coaches’ Voice, Bundesliga, DW

Mengapa Pemain Sepakbola Menggunakan Kaos Kaki Panjang

Dari waktu ke waktu, permainan sepakbola telah mengalami banyak perubahan. Ada beragam aturan yang pada akhirnya mengalami perkembangan hingga membuat semua pihak yang terlibat merasa aman dan juga nyaman. Salah satu perkembangan dalam sepakbola adalah perihal pemakaian sepatu. Ada sepatu khusus yang digunakan dalam permainan ini agar pemain merasa nyaman dan juga tidak membahayakan yang lain.

Dalam pemakaian sepatu, pemain juga melengkapi aksesoris mereka dengan sepasang kaos kaki. Bila diperhatikan, kaos kaki yang digunakan para pemain sepakbola juga tidak sembarangan. Ada bentuk, ukuran, dan desain khusus yang digunakan demi menunjang kenyamanan para pemain di atas lapangan. Kaos kaki yang digunakan para pemain sepakbola biasanya memiliki ukuran panjang yang bahkan sampai menutup kedua lutut.

Bicara tentang kaos kaki panjang yang digunakan oleh para pemain ada kaitannya yang begitu erat dengan penggunaan aksesoris lain, yaitu shin guard. Shin guard atau yang biasa disebut sebagai pelindung tulang kering, tentu digunakan untuk melindungi tulang yang tergolong rawan tersebut.

Pemakaian shin guard bagi setiap pemain sepakbola sangatlah penting. Pasalnya, olahraga ini termasuk yang berjenis keras dan rawan benturan. Oleh sebab itu, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, memakai shin guard menjadi salah satu cara untuk menanggulanginya.

Hubungan antara shin guard dengan kaos kaki panjang tentu sangatlah erat. Salah satu satu alasan mengapa para pemain mengenakan kaos kaki panjang adalah untuk menahan shin guard agar tetap berada pada posisi yang pas, sehingga memungkinkan para pemain bergerak bebas dan juga bisa terhindar dari masalah serius.

Boleh dibilang bahwa penggunaan shin guard telah “memaksa” para pemain untuk mengenakan kaos kaki panjang. Hal tersebut juga sudah tertulis dalam aturan resmi permainan, bahwa pemain sepakbola harus mengenakan kaos kaki panjang untuk menutupi tulang kering sekaligus membuat shin guard tetap berada pada posisi yang sudah ditentukan. Selain menghindari resiko cedera tulang kering, penggunaan kaos kaki panjang oleh para pemain juga bertujuan untuk menghindarkan mereka dari berbagai masalah cedera lainnya. Misalnya saja, dengan memakai kaos kaki panjang, para pemain akan mampu mengurangi resiko cedera pergelangan kaki atau cedera bagian kaki samping dan juga belakang.

Dijelaskan bahwa pemilihan kaos kaki panjang yang pas dan juga ketat sangatlah disarankan. Sekali lagi, hal itu bertujuan untuk menjaga shin guard tetap berada pada posisi dan mengurangi resiko berbagai macam cedera. Bahkan, seperti yang sudah dijelaskan, ada sejumlah pemain yang memilih untuk mengenakan kaos kaki panjang yang sampai menutup lutut. Hal itu tentu bertujuan untuk menjaga lutut agar tidak rentan terhadap cedera bila terjadi benturan.

Alasan lain mengapa para pemain sepakbola menggunakan kaos kaki panjang adalah untuk menjaga tubuh agar tetap hangat. Kita semua tahu bila kebanyakan kaos kaki memiliki bahan tebal dan juga ketat. Akibatnya, kita yang mengenakan kaos kaki akan merasa hangat dan tidak mudah tersapu angin.

Menjaga suhu tubuh agar tetap hangat selama pertandingan menjadi salah satu prioritas utama setiap pemain sepakbola. Pasalnya, bila udara dingin terus menyerang, akan timbul berbagai masalah yang tentunya akan mengganggu kinerja mereka selama sembilan puluh menit lamanya.

Seperti yang kita tahu, udara dingin akan membuat otot mudah kram akibat sirkulasi darah yang buruk dan juga rawan terjadi kontraksi otot. Jadi sudah jelas bila penggunaan kaos kaki panjang akan membuat para pemain tetap hangat dan juga membuat mereka memiliki sirkulasi darah yang lancar selama pertandingan. Bila sirkulasi darah sudah lancar, maka yang akan didapat adalah kenyamanan selama bermain. Para pemain akan lebih mudah bergerak dan tentunya akan lebih lincah dalam melakukan manuver tertentu.

Memang benar bila ada beberapa pemain yang memilih untuk memakai celana tambahan agar tetap hangat. Namun tetap saja bila penggunaan kaos kaki panjang jauh lebih efektif.

Sejauh ini, pemakaian kaos kaki pemain sudah tidak hanya menyoal tentang alasan yang telah disebutkan saja. Namun juga tentang penunjang penampilan yang pastinya akan membuat para pemain lebih percaya diri saat tampil dihadapan orang banyak.

Ya, memakai kaos kaki selama pertandingan juga telah memunculkan sejumlah produk menarik dari berbagai apparel olahraga. Mereka tidak hanya berfokus pada kualitas kaos kaki, namun juga dari segi tampilan seperti warna, desain, dan yang lainnya. Hal itu tentu bertujuan untuk membuat penampilan para pemain secara fisik terlihat lebih menarik.

Bahkan disebutkan pula ada pemain tertentu yang memilih untuk mendesain kaos kaki yang mereka kenakan. Dari mulai warna sampai panjangnya kaos kaki telah ditentukan sendiri oleh beberapa pemain, dengan alasan kenyamanan selama pertandingan.

Selain itu, ada juga cara lain yang tentunya menarik dari sejumlah pemain untuk membuat mereka lebih nyaman saat bertanding. Yaitu dengan melubangi kaos kaki yang mereka kenakan.

Ya, hal ini memang benar adanya. Ada pemain sepakbola yang malah sengaja melubangi kaos kaki panjangnya demi mendapat kenyamanan yang diinginkan.

Salah satu pemain yang tampak melubangi kaos kakinya adalah pemain andalan Manchester City, Kyle Walker. Walker terlihat sering melubangi kaos kakinya saat bertanding. Ketika ditanya tentang alasannya dalam melubangi kaos kakinya saat bertanding adalah, Walker hanya ingin merasakan kakinya lebih bebas saat bermain.

Dia yang berlarian selama sembilan puluh menit membutuhkan kaos kaki yang tak mengekang otot betis nya. Ada beberapa apparel yang membuat kaos kaki panjang yang terlalu ketat. Hal itu membuat sejumlah pemain, termasuk Walker, merasa tidak nyaman. Karena tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, Walker melubangi kaos kaki di bagian belakang agar otot di bagian belakang betis jadi lebih bebas, tak terkekang, dan mengurangi potensi kram.

Selain Kyle Walker, masih ada sejumlah pemain lainnya yang juga memilih untuk melubangi kaos kakinya. Mereka adalah Danny Rose, Arthur Masuaku, Gareth Bale, hingga Ezequiel Garay.

Dengan munculnya fakta tersebut, secara tidak langsung menunjukkan bahwa beberapa apparel belum benar-benar mampu membuat kaos kaki dengan kualitas terbaik. Masih ada pemain yang merasa bahwa kaos kaki yang diproduksi terlalu ketat dan malah membuat otot betis terasa terkekang.

 

Sumber referensi: gethypedsport, fieldinsider, goal

Mengapa Ada Bintang & Bulan Sabit Pada Logo Portsmouth ?

Di era sekarang, kita pasti sudah tidak asing lagi dengan simbol bulan sabit dan bintang. Gambar bulan sabit dan bintang digunakan oleh beberapa negara di dunia dan dilekatkan pada bendera negara mereka. Barisan negara yang menggunakan simbol tersebut adalah Turki, Aljazair, Pakistan, Uzbekistan, dan Tunisia, serta beberapa negara lainnya.

Pastinya ada alasan tertentu mengapa negara tersebut meletakkan gambar bulan sabit dan bintang pada bendera kebangsaannya.

Tak hanya di bendera negara, gambar bulan sabit dan bintang juga terdapat pada logo klub sepakbola. Gambar bintang pada logo klub sepakbola merupakan hal yang biasa. Seperti yang terdapat pada logo klub Galatasaray, Anderlecht, serta Atletico Madrid.

Namun, ternyata tak banyak klub yang memakai gambar bulan sabit dan bintang secara bersamaan pada logo mereka. Berbeda dengan klub asal Irlandia, Drogheda United, klub itu menyematkan gambar bulan dan bintang pada logo klub mereka.

Sejarah bermula ketika pada tahun 1845, terjadi bencana yang disebut dengan ‘kelaparan kentang’ di Irlandia. Maklum, karena pada saat itu kentang merupakan makanan pokok di Irlandia.

Sebanyak satu juta manusia menjadi korban jiwa pada bencana itu. Negara Turki, melalui Khalifah Abdul Majid yang mendengar musibah itu lalu memberikan bantuan makanan pokok dan beberapa uang. Khalifah sempat mengirimkan 1000 poundsterling dan 3 kapal berisi makanan.

Merasa terbantu, rakyat Irlandia tidak mau melupakan kebaikan sang khalifah. Mereka lalu menyematkan lambang bulan bintang khas Turki di logo klub sepakbola Drogheda yang didirikan pada tahun 1919.

Selain Drogheda United, ada juga Portsmouth. Klub yang berbasis di Inggris ini menyematkan bulan sabit dan bintang pada logo klub. Portsmouth FC didirikan pada 5 april 1898 oleh Sir John Brickwood, seorang pengusaha bir lokal dan Frank Brettell. Brickwood kemudian menjadi ketua dan Bretel menjadi pelatih pertama tim berjuluk The Pompey tersebut.

Portsmouth merupakan klub yang punya sejarah panjang di persepakbolaan Inggris. Dalam perjalanannya, mereka telah malang melintang di berbagai divisi sepakbola Inggris. Portsmouth pernah menjuarai Liga Inggris pada 1948/49 dan 1949/50, serta Piala FA pada 1938/39 dan 2007/08. Selain pernah meraih titel kompetisi bergengsi di negeri ratu Elizabeth, Portsmouth juga pernah memenangkan gelar divisi kedua, divisi ketiga dan divisi keempat Liga Inggris.

Berbicara terkait logo Portsmouth. Bulan sabit dan bintang bukanlah lambang yang umum digunakan di Inggris. Namun, kota Portsmouth menggunakan lambang tersebut sejak abad ke-12. Portsmouth sendiri merupakan kota pelabuhan yang terletak di bagian tenggara Inggris.

Meskipun klub sepakbolanya berdiri pada 1989, Portsmouth FC baru memiliki lambang pada tahun 1913. Sejak itu, mereka telah mengganti logo sebanyak sebelas kali dan sebagian besar lambang Portsmouth berbentuk perisai dengan bulan sabit dan bintang di dalamnya.

Logo Portsmouth FC diambil dari lambang kota Portsmouth. Kota Portsmouth memiliki lambang bulan sabit dan bintang dengan delapan sisi berwarna emas di dalam perisai berwarna biru. Sejarah bulan sabit dan bintang pada logo Portsmouth sendiri terdapat dua versi.

Versi pertama menyatakan bahwa lambang yang dipakai pada kota Portsmouth, merupakan hadiah dari raja Richard I atau yang lebih dikenal sebagai Richard the Lionheart yang diambil dari bendera gubernur Siprus dari kekaisaran Bizantium, Isaac Komnenos setelah berhasil dikalahkan pada tahun 1191. Raja Richard sendiri memberikan lambang itu kepada kota Portsmouth pada 2 mei 1194.

Versi selanjutnya menyebut adanya hubungan antara kota Portsmouth dengan Turki pada medio 1850-an. Saat itu, Sultan Turki Utsmani, Abdülmecid I mengirim perwira angkatan laut ke Inggris menggunakan dua kapal untuk pelatihan navigasi dan artileri. Sesampainya tiba di pelabuhan Portsmouth, para pelaut Ottoman menyambut warga yang ingin mengunjungi kapal mereka.

Namun, Pada waktu itu wabah kolera sedang terjadi di kota Portsmouth. Epidemi tumbuh di daerah pelabuhan, yang tidak memiliki sistem saluran pembuangan dan di mana pekerja pelabuhan hidup berdampingan dalam kesengsaraan.

Beberapa awak Ottoman jatuh sakit, dan 26 di antaranya meninggal. Mereka lalu dimakamkan di ruangan khusus Rumah Sakit Militer Kerajaan Haslar di Gosport, yang terletak di seberang kota Portsmouth. Makam itu lalu dipindahkan ke TPU Angkatan Laut Clayhall di pantai Danau Alver. Hal itu dikarenakan adanya pembangunan Rumah Sakit Zymotic pada tahun 1902, yang merupakan tempat nisan pelaut Ottoman dengan bulan sabit dan bintang saat ini berdiri.

Batu nisan itu juga bertuliskan ayat Al-Quran: “Setiap jiwa akan memiliki rasa kematian,” serta nama pelaut dan tanggal kematian. Turki merenovasi pemakaman tersebut pada tahun 1985.

Kisah tersebutlah yang disinyalir sebagai awal mula logo Portsmouth terdapat bulan sabit dan bintang.

Sumber referensi : Dailysabah, Funtrivia

[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=vtO10-NhjvA[/embedyt]

Menakar Kiprah Julian Nagelsmann Bersama FC Bayern

Dari kompetisi Bundesliga, FC Bayern baru saja mengumumkan bahwa mereka resmi mendapatkan pelatih muda nan potensial bernama Julian Nagelsmann. Pelatih yang didatangkan dari RB Leipzig seharga 25 juta euro ini resmi menggantikan posisi Hansi Flick, yang dikabarkan telah mengundurkan diri dari kursi kepelatihan The Bavaria.

Dalam pernyataannya, FC Bayern akan mulai bekerja sama dengan sosok pelatih berusia 33 tahun tersebut pada Juli 2021. Lebih lanjut, Nagelsmann dilaporkan bakal stay di Allianz Arena sampai 2026 mendatang.

Sejatinya, Nagelsmann telah mendapat tawaran untuk melatih beberapa klub. Akan tetapi, dia akhirnya memilih FC Bayern sebagai destinasi barunya. Nagelsmann beralasan bahwa Bayern memang menjadi tim yang telah dia impikan sejak lama. CEO RB Leipzig, Oliver Mintzlaff, sejujurnya masih ingin mempertahankan Nagelsmann untuk menjadi pelatih kepala mereka. Akan tetapi, dia menyadari ambisi sang pelatih yang memang ingin menangani klub terbaik dengan sejarah luar biasa di Jerman.

Perjalanan Karir Sang Pelatih Muda

Julian Nagelsmann sendiri punya perjalanan yang unik sebelum menjadi salah satu juru taktik paling cemerlang di dunia. Nagelsmann sudah memutuskan pensiun dari dunia sepakbola sejak usia 21 tahun, karena mengalami cedera lutut parah. Karena tetap ingin berada di dunia yang dicintainya, Nagelsmann lalu menerima tawaran Thomas Tuchel yang mengajaknya untuk menjadi bagian dari tim Augsburg, tepat di tahun 2008. Ketika itu, Nagelsmann diminta untuk menjadi pelatih tim kedua Augsburg.

Kemudian, dia melanjutkan karir dengan menjadi pelatih akademi 1860 Munich. Tak berselang lama, Nagelsmann kembali lanjutkan langkah untuk bergabung dengan tim akademi Hoffenheim. Sempat ditawari untuk menjadi pelatih tim utama Hoffenheim pada musim 2016/17, Nagelsmann malah menerima jabatan itu lebih cepat.

Tepat pada tahun 2015 silam, pelatih kepala Huub Stevens, resmi mengundurkan diri dari klub karena masalah kesehatan. Maka dari itu, Nagelsmann maju dan resmi menjadi pelatih termuda, di usia 28 tahun.

Kiprah Nagelsmann ketika ditunjuk sebagai pelatih utama Hoffenheim langsung mencuri perhatian. Di musim pertamanya, dia berhasil menyelamatkan tim dari zona degradasi, dimana Hoffenheim hanya memiliki satu poin lebih banyak dari tim yang harus rela turun kasta.

Keajaiban berikutnya adalah, Nagelsmann berhasil membawa Hoffenheim lolos ke kompetisi Liga Champions Eropa untuk kali pertama dalam sejarah, pada musim 2016/17. Sejak saat itu, nama Nagelsmann terus dikaitkan dengan sejumlah tim top Eropa, tak terkecuali Tottenham Hotspurs dan juga Manchester United.

Pada 2019 silam, Nagelsmann kemudian menerima pinangan RB Leipzig, dimana dia juga berhasil ciptakan banyak kejutan di sana, salah satunya adalah membawa tim tersebut lolos ke babak semifinal Liga Champions Eropa. Tidak hanya itu, Nagelsmann juga berhasil menjadikan tim yang bermarkas di Red Bull Arena sebagai salah satu yang terus menjadi penantang gelar di kompetisi Bundesliga sampai sekarang.

Kini, di tengah kabar yang terus memberitakan kelanjutan karir sang manajer, seperti yang sudah disinggung di awal, FC Bayern resmi menjadi klub yang sukses mendapatkan jasanya.

Sekarang, tinggal bagaimana sistem yang akan diusung oleh sang manajer dalam melanjutkan kedigdayaan Bayern di kancah domestik maupun Eropa.

Memanfaatkan Potensi Para Pemain Muda

Kita semua tahu bila sosok Julian Nagelsmann begitu lekat dengan barisan para pemain mudanya. Dia menjadi pelatih yang memang percaya bila kekuatan sebuah tim sedikit banyak bergantung dengan bagaimana cara mereka membina para pemain mudanya.

Di RB Leipzig, Julian Nagelsmann memiliki skuad dengan rata-rata usia 24,6 tahun. Tercatat, hanya nama Peter Gulacsi, Philipp Tschauner, dan Kevin Kampl saja yang sudah menyentuh angka 30 tahun. Jika menilik pada aktivitas transfer pemain yang dilakukan Nagelsmann, dia juga nyaris tidak pernah membeli pemain yang berada di usia lebih dari 25 tahun.

Misalnya saja Angelino dari Manchester City yang berusia 22 tahun, Patrik Schick dan Justin Kluivert dari AS Roma yang masing-masing baru berusia 23 dan 21 tahun. Selain itu, masih ada nama hebat lainnya seperti Alexander Sorloth, Dominik Szoboszlai, serta Hwang Hee-Chan yang usia nya tidak lebih dari 25 tahun.

Sebelum di RB Leipzig, atau tepatnya ketika masih menjadi bagian dari Hoffenheim, Nagelsmann juga begitu lekat dengan beberapa pemain yang bahkan dididiknya dari akademi, seperti Niklas Sule, Jonas Hofmann, Davie Selke, Nadiem Amiri, sampai Sead Kolasinac.

Dengan begitu, akan sangat wajar bila di Bayern nanti, dia akan mencoba untuk mengembangkan para bakat muda.

Bila mengingat pentingnya sosok Sebastian Rudy di era kejayaannya bersama Hoffenheim, Nagelsmann tampak akan tertuju pada pemain bernama Marc Roca. Sosok gelandang bertalenta itu saat ini memang masih belum mampu keluarkan aksi terbaiknya, setelah FC Bayern memiliki pemain sekelas Joshua Kimmich dan Leon Goretzka di lini tengah. Namun di bawah Nagelsmann nanti, bukan tak mungkin bila kita akan lebih sering menyaksikan aksi Roca di atas lapangan.

Di klub dengan gelar Bundesliga terbanyak itu, Nagelsmann akan memberi pengalaman berbeda pada para penggemar, dimana dia disebut akan lebih sering memunculkan nama pemain muda di daftar skuad yang diturunkan.

Perubahan Gaya Permainan

Berikutnya, selain akan lebih memaksimalkan para bakat muda, perubahan gaya bermain Bayern dibawah Julian Nagelsmann juga hampir pasti terjadi.

Di tangan Hansi Flick, Bayern memainkan pertandingan yang begitu luar biasa. Pelatih berusia 56 tahun tersebut berhasil catatkan 68 kemenangan, tujuh kali imbang dan hanya delapan kali kalah dari 83 pertandingan yang dimainkan. Selama 17 bulan kepemimpinannya, dia sangat lekat dengan sistem 4-2-3-1, kecuali dalam 12 pertandingan lainnya.

Di sisi lain, Julian Nagelsmann sangat cocok dengan formasi tiga bek. Meski Nagelsmann tidak asing dengan sistem 4-2-3-1 yang selama ini diusung Bayern, dirinya diprediksi akan tetap berada pada sistem 3-4-2-1 dimana dia telah menggunakannya dalam 58% pertandingan Leipzig musim ini. Perlu diketahui pula bahwa sistem ini sudah dia gunakan sejak menangani Hoffenheim.

Meski hanya menempatkan tiga bek, Leipzig menjadi tim yang paling sedikit kebobolan di kompetisi Bundesliga sejauh ini (25). Tujuh lebih sedikit dari Wolfsburg dan 15 lebih sedikit dari FC Bayern!

Sistem tiga bek memungkinkan tim asuhan Nagelsmann untuk memainkan penguasaan bola, sembari mencari celah dari sisi lapangan dengan tetap melakukan umpan-umpan pendek. Lalu, ketika kehilangan bola, maka mereka akan berusaha untuk merebutnya secepat mungkin. Bahkan, bila memang dibutuhkan, para pemain depan akan turun ke belakang untuk membantu pertahanan.

Dengan cara itu, Leipzig mampu mengumpulkan sebanyak 57% penguasaan bola setiap pertandingannya. Mereka juga mampu menyelesaikan jumlah operan pendek yang sama seperti FC Bayern, yaitu sebanyak 541 kali per pertandingan.

Di FC Bayern, dalam posisi tiga bek, Nagelsmann mungkin akan memanfaatkan pemain seperti Lucas Hernandez, Niklas Süle dan Dayot Upamecano. Dalam hal ini, Nagelsmann praktis bakal mengutak-atik lini pertahanan Bayern, mengingat Die Roten, pada musim ini sering kebobolan oleh gol gol krusial karena memiliki garis pertahanan tinggi yang kerap berlebihan.

Di sistem serangan sendiri, Nagelsmann mungkin tidak akan melakukan banyak perubahan, namun tetap akan melihat potensi pemain yang dirasa cocok untuk mengisi posisi tertentu. Membangun serangan dengan umpan-umpan pendek akan menjadi andalan. Dengan adanya perubahan sistem, Bayern juga diprediksi bakal lebih sering memanfaatkan serangan balik yang tak jarang berawal dari sisi sayap.

Untuk mendukung rencana ini, dari sayap kiri, nama Alphonso Davies tentu akan menjadi andalan mengingat sang pemain punya kecepatan luar biasa. Lalu, di sayap kanan, nama Serge Gnabry juga berpotensi akan lebih sering digunakan, dimana kita tahu sang pemain pernah bekerja sama dengan Julian Nagelsmann ketika keduanya masih sama-sama membela Hoffenheim. Itu mungkin bukan posisi favoritnya, namun, langkah tersebut bakal menjadi solusi terbaik baginya untuk bisa mendapat lebih banyak menit bermain.

Kemudian, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, lini tengah Bayern diklaim akan tetap diisi oleh dua nama berkualitas, Leon Goretzka dan Joshua Kimmich. Dua pemain tersebut berpotensi berguna untuk membuat serangan Bayern datang dari segala arah, persis seperti yang dilakukan oleh Marcel Sabitzer bersama RB Leipzig.

Sementara itu, dua pemain di belakang Robert Lewandowski akan diisi nama Leroy Sane dan Thomas Muller. Ketiga pemain depan itu akan dimanfaatkan untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya. Pasalnya, kita semua tahu bila tidak hanya Lewandowski saja yang punya kemampuan mencetak gol terbaik. Masih ada Thomas Muller dan Leroy Sane, yang memang punya kualitas jempolan sebagai penggedor lini pertahanan lawan.

Meski ada beberapa pemain yang mungkin akan berganti posisi, jangan ragukan Julian Nagelsmann. Dia sudah banyak mengubah posisi pemain. Sebut saja Marcel Sabitzer yang merupakan kapten Leipzig, dia memiliki posisi asli sebagai gelandang serang atau sayap kanan. Namun setelah Nagelsmann mencobanya untuk bermain di lini tengah, laju larinya yang tak kenal lelah serta tembakan gledek yang tak jarang dilepaskan, bisa sangat berguna bagi tim yang dibelanya.

Berikutnya ada Angelino yang kita tahu berposisi sebagai full back, namun diminta bermain lebih maju oleh Nagelsmann untuk menjadi seorang winger. Hasilnya, dia menjadi pemain dengan andil gol terbanyak (19) dibandingkan dengan pemain lain di Leipzig.

Jadi jangan khawatir bila nantinya nama Leroy Sane yang lebih sering kita lihat berposisi sebagai seorang pemain sayap, akan ditempatkan Nagelsmann di belakang penyerang utama. Kita mungkin akan melihat potensi yang jauh lebih besar dari pemain asal Jerman tersebut, ketika sudah ditangani oleh sang pelatih berjuluk “mini-Mourinho”.

 

Sumber referensi: bavarianfootball, dw, highlightsfootball, themastermindsite, bundesliga 1, bundesliga 2

Dusan Vlahovic, Calon Pesaing Rivalitas Haaland dan Mbappe

0

Sepak bola sedang menuju era baru. Dengan makin menuanya duo mega bintang Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, kini sorotan rivalitas pemain terbaik dunia beralih ke sosok Erling Haaland dan Kylian Mbappe. Namun, dua bintang muda itu mesti berhati-hati dengan seorang Dusan Vlahovic.

Namanya memang tak setenar Haaland maupun Mbappe. Maklum, Dusan Vlahovic hanyalah striker tajam yang sedang membela Fiorentina musim ini. Hanya berseragam La Viola jelas membuat Vlahovic minim sorotan dibanding Haaland dan Mbappe yang membela Dortmund dan PSG di Liga Champions.

Akan tetapi, Dusan Vlahovic adalah sebuah sensasi di Serie A musim ini. Usianya sepantaran dengan Haaland dan Mbappe, masih 21 tahun. Meski tergolong muda, striker berkebangsaan Serbia itu telah mengemas 17 gol dari 32 laga Serie A yang sudah ia mainkan.

Catatan tersebut membuatnya berada di daftar atas top skor Serie A musim ini. Bersaing dengan bintang-bintang Serie A semacam Ronaldo, Lukaku, dan Immobile, Vlahovic menempati peringkat 6 di daftar top skor Serie A. Bukan tak mungkin koleksi golnya masih akan bertambah dan bisa membuatnya jadi pesaing kuat top skor Serie A.

Namun, bukan soal gol saja. Apa yang sudah ia perlihatkan dan ia tunjukkan bersama Fiorentina lah yang membuat nama Vlahovic jadi sorotan dan sangat layak untuk disanjung. Seperti yang kita ketahui, Fiorentina yang sekarang bukanlah Fiorentina seperti pada zaman Gabriel Batistuta dan Rui Costa.

Meski berstatus sebagai anggota ‘Il Sette Magnifico’ atau The Magnificent Seven Serie A yang berjaya di era 90an dan awal 2000an, kondisi Fiorentina sekarang lebih sering berkutat di papan tengah klasemen. Bahkan, di musim ini, La Viola sempat menghuni papan bawah hingga terancam degradasi.

Tertahan di peringkat 14, kehadiran Vlahovic sebagai salah satu striker paling menjanjikan di Serie A musim ini bak anugerah di tengah minimnya prestasi Fiorentina. Bayangkan saja, La Viola baru menang 8 kali dan sudah menelan 15 kekalahan di 33 laga yang sudah mereka mainkan.

Di tengah catatan itu, Fiorentina juga baru mencetak 42 gol dan sudah kebobolan 54 gol. Menariknya, berdasarkan catatan transfermarkt, dengan 17 gol yang sudah Vlahovic ciptakan, menandakan ia telah menyumbang 45% gol dari jumlah keseluruhan gol Fiorentina musim ini.

34 poin yang sudah Fiorentina peroleh musim ini juga tak bisa dilepaskan dari jasa Vlahovic. Goal.com mencatat bahwa Vlahovic telah berkontribusi pada 65 persen perolehan poin Fiorentina musim ini.

Berkat kegemilangannya bersama Fiorentina, secara otomatis nama Dusan Vlahovic juga ikut mencuat. Kalau bukan karena kontribusi golnya, sangat mungkin Fiorentina bakal lebih terpuruk musim ini. Atas dasar itulah, Dusan Vlahovic layak untuk disanjung.

Debut Bersama Partizan Beograd, Bersinar Bersama Fiorentina

Dusan Vlahovic direkrut Fiorentina pada 2018 silam. Kala itu, La Viola hanya perlu mengeluarkan dana 1,95 juta euro untuk mengangkutnya dari Partizan Beograd. Meski hanya mengemas 1 gol dari 21 laga di Liga Serbia selama 3 musim membela Partizan, Fiorentina tetap yakin dengan Vlahovic.

Dusan Vlahovic adalah pemegang rekor pemain termuda dalam sejarah Partizan Beograd. Ia menandatangani kontrak profesional dengan Partizan pada 2015 silam saat usianya masih 15 tahun. Pada tahun 2016, ia kembali mencetak rekor. Vlahovic jadi debutan dan pencetak gol termuda dalam sejarah Partizan.

Namun, meski punya sederet rekor fantastis di Partizan Beograd, nama Dusan Vlahovic baru benar-benar bersinar saat ia hijrah ke Fiorentina. Selain sumbangan 17 golnya yang mampu membantu Fiorentina menjauh dari zona degradasi, pencapaian Vlahovic bersama La Viola musim ini juga jadi rekor tersendiri.

Vlahovic adalah pemain Fiorentina pertama yang mampu mencetak 17 gol dalam semusim kompetisi sejak Giuseppe Rossi pada 2013/2014. Setelah mencetak hattrick ke gawang Benevento pada Maret lalu, dia juga menjadi pemain Fiorentina pertama yang mencetak hat-trick di babak pertama Serie A sejak Kurt Hamrin melakukannya pada 1964.

Berdasarkan catatan Opta, Dusan Vlahovic jadi pemain yang mampu mencetak setidaknya 17 gol dalam satu musim Serie A sebelum berusia 22 tahun. Sebelumnya, pemain terakhir yang mampu mencetak rekor tersebut adalah Mirko Vucinic pada 2004/2005 bersama Lecce.

Tak hanya itu, lesatan 17 golnya sejauh ini menjadikan Vlahovic berkesempatan untuk mengejar rekor Gabriel Batistuta di Fiorentina. Batistuta jadi pemain asing terakhir yang mampu menjadi top skor Fiorentina dengan 23 gol di musim 1999/2000. Dengan Serie A yang masih menyisakan beberapa laga, Vlahovic masih sangat berpeluang untuk melewati rekor Batistuta.

Dusan Vlahovic tak hanya membuat rekor di Fiorentina dan Serie A saja. Per 27 April lalu, ia tercatat sebagai pemain U-21 tersubur kedua di lima liga top eropa. Dengan koleksi 17 gol dan 2 asisnya, ia hanya kalah dari Erling Haaland yang mencetak 25 gol dan 7 asis.

Khusus di tahun 2021, sejauh ini Dusan Vlahovic telah mencetak 13 gol di Serie A. Catatan itu juga membuatnya masuk daftar pemain U-23 tersubur di Eropa. Vlahovic berada di posisi keenam, di bawah nama-nama seperti Youssef En-Nesyri, Erling Haaland, dan Kylian Mbappe.

Karakteristik dan Kemampuan Dusan Vlahovic

Sama seperti Erling Haaland, Dusan Vlahovic merupakan pemain yang dianugerahi postur tubuh menjulang. Dengan tinggi badan 190cm, dia adalah sosok yang berbahaya, khususnya dalam situasi duel udara. Vlahovic tercatat sebagai pemain kedua yang paling banyak terlibat duel udara. Sejauh ini, dia telah terlibat dalam 206 duel udara di Serie A musim ini.

Namun, kemapuan utamanya bukan itu. Gol-gol Vlahovic justru lebih banyak hadir melalui kedua kakinya, khususnya kaki kiri. Finishing adalah keunggulan utama dari Vlahovic. Striker yang sudah mencetak 2 gol untuk timnas Serbia itu tercatat sudah melesatkan 75 tembakan di Serie A, dengan 28 di antaranya on target. Menurut catatan fbref, akurasi tembakan on target-nya yang berujung gol adalah sebesar 43%.

Meski tak punya kecepatan laiknya Haaland maupun Mbappe, tapi Vlahovic punya karakteristik unik khas pemain Balkan, yakni punya kemampuan olah bola yang baik. Tak jarang dia menerima umpan di lini tengah, lalu menggiringnya sebelum menyelesaikannya dengan tembakan keras.

Sepintas, gaya mainnya mirip dengan Zlatan Ibrahimovic. Postur tubuh tinggi, pandai berduel udara, dan punya tembakan keras. Maklum, Vlahovic sendiri sudah mengakui bahwa ia juga mengidolakan sosok Ibahimovic. Hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Valeri Bojinov, mantan rekannya di Partizan Beograd.

“Vlahovic gila, benar-benar gila. Dia biasa mengatakan kepada saya: ‘Saya seorang Zlatan Ibrahimovic dari Beograd, saya akan bermain untuk klub terkuat.’ Saya menyukai kesombongannya. Saya pikir dia akan menjadi pemain yang kuat,” kata Valeri Bojinov dikutip dari planetfootball.com (24/4).

Vlahovic Jadi Incaran Klub Besar

Berkat kegemilangannya bersama Fiorentina, nama Dusan Vlahovic masuk dalam daftar incaran klub-klub besar di bursa transfer nanti. Sejauh ini, di Italia sendiri Roma, Juventus, dan AC Milan disebut sebagai peminat utama Vlahovic.

Sementara di luar Italia, Liverpool disebut-sebut juga meminati Vlahovic. Bahkan beberapa media melabeli Dusan Vlahovic sebagai alternatif terjangkau ketimbang mendatangkan Erling Haaland.

Menurut Gianluca Di Marzio, Fiorentina memagari Dusan Vlahovic dengan harga 60 juta euro. Vlahovic masih punya kontrak dengan Fiorentina sampai 2023 nanti. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan kontrak baru dengan La Viola. Artinya, klub-klub peminat punya peluang untuk medatangkan Vlahovic.

Apalagi, gaji yang Vlahovic terima di Fiorentina juga tak terlalu mahal. Dikabarkan, ia hanya menerima gaji sebesar 800 ribu euro permusim dari La Viola. Gaji dan biaya yang dibutuhkan untuk menembus jasa Vlahovic jelas jauh bila dibandingkan dengan harga Haaland atau Mbappe yang sulit dipenuhi di masa pandemi seperti ini.

Bergabung dengan klub yang lebih mapan akan sangat membantu perkembangan Dusan Vlahovic untuk mencapai level yang lebih tinggi. Kepada La Repubblica, Vlahovic sendiri bahkan mengaku bahwa ia mampu untuk mencapai level yang sama dengan Haaland.

“Saya mengawasinya (Haaland) dan saya mencoba memahami penyelesaian akirnya dan bagaimana dia bergerak. Kemudian, saya fokus pada kekuatan dan kelemahan saya. Mungkin terdengar sombong, tapi dengan komitmen, saya juga bisa sampai di sana.” kata Dusan Vlahovic dikutip dari goal.com (17/4).

Menarik mendengar optimisme yang diutarakan Dusan Vlahovic. Di tambah lagi, sudah ada beberapa klub besar yang terang-terangan meminatinya. Akan menarik pula melihat jalan karier Vlahovic di masa depan.

Dengan peluang yang terbuka untuk membela klub yang lebih besar, usia yang masih sangat muda, dan kemampuan yang masih sangat bisa untuk terus di asah, bukan tak mungkin Dusan Vlahovic bisa menjelma sebagai salah satu striker tersubur di Eropa. Kalau sudah begitu, ia akan jadi ancaman serius bagi rivalitas Haaland dan Mbappe di masa yang depan.

***
Sumber Referensi: Goal 1, Goal 2, One Football, Planet Football