Mengenal Lebih Jauh, Apa Itu Peran Sweeper Keeper?

  • Whatsapp
Mengenal Lebih Jauh, Apa Itu Peran Sweeper Keeper
Mengenal Lebih Jauh, Apa Itu Peran Sweeper Keeper

Jika kamu sering menonton pertandingan klub Bayern Munchen atau tim nasional Jerman, kamu pasti sering melihat Manuel Neuer keluar dari kotak penalti untuk menghentikan serangan lawan atau menyapu bola.

Aksi seorang penjaga gawang yang keluar dari sarangnya untuk menghalau serangan, seperti yang dilakukan oleh Neuer itu disebut sebagai peran Sweeper Keeper.

Seperti kita ketahui bersama, seiring berjalannya waktu, sepakbola pun ikut berkembang, salah satu yang mengalami perkembangan adalah peran-peran pemain yang semakin bervariasi.

Di era modern saat ini, muncul peran-peran baru bagi pesepakbola dalam penerapannya di lapangan, seperti  inverted winger, false nine dan ball-playing defender. Selain itu semua, ada pula peran Sweeper Keeper.

Namun, pada pembahasan kali ini kita hanya akan mengulas seputar Sweeper Keeper. Nah tahukah kamu, apa itu sebenarnya peran Sweeper keeper?

Sweeper-keeper adalah penjaga gawang yang bertanggung jawab dalam mengendalikan ruang di belakang lini pertahanan suatu tim. Peran ini meliputi kendali jarak antara sang pemeran dengan pemain bertahan agar lebih dekat dari biasanya, menjaga kecekatan kaki mereka untuk 90 menit waktu pertandingan, dan sigap memberikan lemparan untuk serangan balik cepat dengan kecepatan dan akurasi.

Dengan kata lain, peran sweeper keeper ini tidak seperti penjaga gawang pada umumnya, yang hanya menunggu serangan lawan di dalam kotak penalti dan menjaga gawangnya agar tidak kebobolan.

Memang tugas penjaga gawang yang paling utama adalah menjaga gawang agar tidak kebobolan. Namun, dalam peran sweeper keeper, seorang penjaga gawang juga harus mampu untuk mengontrol dan mengomandoi ruang di belakang lini pertahanan, dan aktif berpartisipasi dalam membangun serangan.

Penjaga gawang yang memainkan peran sweeper keeper tentunya harus mempunyai banyak kelebihan. Tidak sembarang kiper bisa memerankan peran ini. Untuk menjadi sweeper keeper harus memiliki atribut-atribut dasar seorang kiper, seperti refleks, kegesitan, dan menangkap bola.

Selain itu, yang lebih penting adalah kiper juga harus mampu mengoper dan mengontrol bola dengan baik, memiliki kecepatan, dan juga ketenangan ketika mengendalikan bola di kakinya.

Di sepakbola eropa sendiri, peran sweeper keeper ini memang masih tergolong baru.

Peran tersebut baru populer sekitar satu dekade terakhir. Peran ini populer setelah merebaknya tren sepakbola “possession football”, yang diikuti dengan munculnya tren sepakbola “pressing football”. Dan perannya juga lebih sempit, seperti yang sudah dijelaskan tadi, bahwa hanya sebatas ‘penyapu bola’ seperti bek saat lawan menekan, atau ‘pengoper bola’ saat tim sedang membangun serangan.

Berbeda dengan peran sweeper keeper di sepakbola Amerika Latin. Di sana, awal dari peran ini lebih diidentikkan dengan kiper bergaya main eksentrik, yakni kiper yang gemar keluar dari sarangnya untuk naik membantu serangan atau mencetak gol saat tim terdesak.

Kiper dengan peran ini banyak dijumpai di Amerika Latin. Sebut saja dua nama paling populer yakni Rene Higuita (Colombia) dan José Luis Chilavert (Paraguay).

Kedua kiper tersebut tidak hanya sebatas berpatroli di dalam kotak penalti atau area sekitarnya, tapi kadang kala maju ke depan untuk mencetak gol, bahkan kita kerap kali melihat Higuita memainkan bola di area tengah lapangan meski risiko kebobolan sebenarnya cukup tinggi. Tak mengherankan jika keduanya menjadi legenda karena kebiasaannya di lapangan yang sangat berbeda dengan penjaga gawang pada umumnya. 

Meski terlihat sebagai sebuah produk sepakbola modern, sweeper-keeper sebetulnya bukan benar-benar barang baru di sepak bola. Malah, sejak Perang Dunia II selesai, sudah mulai bermunculan pemain-pemain model ini.

Sebut saja seperti Bert Trautmann, kiper yang pernah 15 tahun memperkuat Manchester City. Lalu ada Gyula Grosics, kiper legendaris tim nasional Hungaria di era 50-an. Ia sempat membawa Hungaria menjadi runner up piala dunia 1954. Kemudian ada lagi Lev Yashin. Bicara soal sweeper keeper terasa kurang jika tidak memasukkan penjaga gawang hebat asal eropa timur tersebut.

Kalau di era sekarang, kita mengenal Manuel Neuer yang telah kita bahas tadi. Kiper yang pernah bersinar bersama Schalke ini memang ahli memainkan peran sweeper-keeper. Tak hanya menghadang aksi ofensif lawan, ia juga sanggup menginisiasi serangan timnya dari bawah.

Selain Neuer, ada pula Victor Valdes. Valdes, saat masih aktif di Barcelona bertindak sebagai contoh luar biasa bagi pemain dengan set keterampilan yang diinginkan untuk seorang ​sweeper-keeper. Nama-nama lain yang juga sering memainkan peran sweeper keeper adalah Marc Andre Ter Stegen, Hugo Lloris dan Ederson.

Para penjaga gawang tersebut memang mempunyai kriteria untuk menjadi sweeper keeper, karena mereka punya kemampuan membaca permainan yang cepat. Pasalnya, dalam peran sweeper keeper, ia akan terlibat dalam umpan pendek dengan para bek.

Pelatih yang mengandalkan penguasaan bola seperti Pep Guardiola biasa menggunakan penjaga gawang tipe ini. Kiper yang diinginkan untuk peran tersebut harus teknis, sangat disiplin, dan di atas segalanya – harus punya kepercayaan diri yang tinggi saat mengambil keputusan untuk menyelamatkan tim dari jurang kekalahan.

Seperti halnya peran-peran lain dalam sepakbola, peran sweeper keeper ini juga punya kelemahan. Kelemahannya yaitu blunder. Blunder yang konyol adalah musuh utama yang menyelimuti gaya main mereka.

Biasanya, keberadaan sweeper keeper ini membuat sebuah tim berani memainkan garis pertahanan tinggi. Tapi disisi lain, strategi ini juga rentan sekali terhadap serangan balik kilat karena ruang yang dapat dieksploitasi lawan begitu luas. 

Jika para bek gagal menghalau, para sweeper-keeper akan keluar dari sarangnya untuk melakukan penyelamatan. Sayangnya, di momen seperti inilah sering terjadi blunder-blunder fatal. Salah satunya, tentu antisipasi yang buruk, sehingga lawan bisa menceploskan bola ke gawang kosong yang telah ditinggalkan kiper.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *