Beranda blog Halaman 710

Mengapa Tak Ada Pemain Kulit Hitam di Timnas Argentina?

0

Timnas Argentina menjadi salah satu kekuatan terbesar sepakbola dunia. Dua trofi piala dunia menjadi bukti betapa hebat timnas Argentina di panggung sepakbola. Selain dua trofi piala dunia, di tiap generasinya Argentina juga selalu dihuni pemain-pemain berkelas, seperti Mario Kempes pada era 70-an, Diego Maradona pada 80-an, hingga Lionel Messi di era sekarang.

Bila kita cermati bersama, dalam skuad timnas Argentina tak ada pemain yang berkulit gelap. Padahal beberapa timnas negara lain di Amerika Selatan memiliki pemain berkulit gelap. Brazil misalnya, memiliki Romario, Junior Baiano, Edilson, Pele, dan banyak lagi. Uruguay punya Marcelo Zalayeta. Ekuador memiliki Agustin Delgado. Peru memiliki Teofilo Cubillas. Kolombia memiliki Faustino Asprilla dan Venezuela punya Salomon Rondon.

Hal tersebut tentunya menimbulkan pertanyaan, mengapa tidak ada pemain kulit hitam di timnas Argentina?

Anggapan bahwa tak ada pemain berkulit hitam dalam timnas Argentina sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Tepatnya adalah jumlahnya yang sangat minim. Dengan kata lain, pemain berkulit gelap di tim tango tidak sebanyak timnas negara lain di kawasan Amerika Latin.

Tidak adanya pemain berkulit gelap di skuad La Albiceleste tak terlepas dari sejarah bangsa Argentina itu sendiri.

Sebenarnya, dulu di Argentina ada banyak orang berkulit gelap yang merupakan orang imigran Afrika. Menurut catatan sejarah, warga Afrika datang ke Argentina pada abad ke-16 masehi. Mereka datang ke daerah bernama Rio De La Plata, (sekarang Buenos Aires). Selama di Argentina, para imigran dari Afrika itu kebanyakan bekerja sebagai petani untuk yang laki-laki dan sebagai pembantu rumah tangga bagi kaum perempuan. 

Imigran dari Afrika terus mendiami Argentina sampai awal abad 19 masehi. Lalu, mereka menyebar ke berbagai wilayah seperti Santiago Del Estero, Catamarca, Salta, dan Córdoba. Hingga awal abad 19, populasi rakyat Afro-Argentina cukup tinggi, bahkan mencapai 50 % di sejumlah daerah. Namun sejak masa itulah terjadi penurunan drastis jumlah masyarakat kulit hitam di negeri Diego Maradona.

Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah orang-orang kulit gelap itu.

Diantaranya adalah perang kemerdekaan Argentina yang terjadi pada tahun 1810 hingga 1818, dimana banyak warga Afro-Argentina laki-laki yang karena diiming-imingi akan dibebaskan dari status budak, ikut berpartisipasi jadi tentara dalam perang tersebut. 

Karena jumlahnya yang sangat mendominasi, jumlah korban terbanyak dari perang tersebut juga dari warga kulit hitam. Sementara warga wanita berkulit hitam banyak yang melakukan pernikahan antar ras dengan warga non-kulit hitam.

Faktor berikutnya adalah karena terjadi wabah kolera tahun 1861–1864 yang diikuti oleh wabah penyakit kuning 1871 dimana banyak masyarakat Afro-Argentina yang tersisa terkena wabah ini, akibat banyak diantara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara mereka yang dapat bertahan hidup memilih bermigrasi ke Brasil dan Uruguay.

Lalu ada perang Paraguay (1864–1870) dimana kasus pada Perang Kemerdekaan Argentina kembali terulang. Kebijakan konstitusi negara bagian Argentina di tahun 1853 mendorong imigrasi besar-besaran di tahun 1880–1950 namun masyarakat asal Eropa menjadi prioritas utama plus melarang ekspor budak. 

Dari sejumlah fakta itulah, muncul opini bahwa ‘bangsa kulit hitam sengaja dihapus dari Argentina secara sistematis’. Seiring berjalannya waktu, dengan semakin menyusutnya orang berkulit gelap di Argentina, datanglah orang-orang berkulit putih dari eropa. Gelombang besar kepindahan orang eropa ke Argentina ini terjadi pada akhir abad 19 hingga awal abad 21. Alasan umum mereka pindah karena kondisi eropa lagi carut marut akibat perang dunia pertama dan kedua. 

Hingga sekarang, orang-orang berkulit putih lebih mendominasi di Argentina. Sementara orang berkulit hitam atau keturunan Afrika di Argentina jumlahnya sangat sedikit. Mereka secara total hanya ada 0,37% pada tahun 2010. Maka dari itu tidak mengherankan bila di skuad timnas Argentina diisi oleh pemain-pemain berkulit putih.

Sebenarnya, bukan berarti tidak ada sama sekali pemain kulit hitam di timnas Argentina. Hanya saja itu sudah sangat lama sekali, tepatnya pada 1925. Dia adalah Alejandro de Los Santos yang turut membantu Argentina menjuarai copa America di tahun tersebut.

Sepanjang karirnya, ia hanya mengemas 5 caps bersama timnas Argentina dan tanpa mencetak satu gol pun.

 

Sumber referensi : Instagram, Kompasiana, Iluminasi

Mengenal Flat Earth FC, Klub Pendukung Teori Konspirasi Bumi Datar

0

Beberapa kelompok meyakini bahwa bentuk sejati dari Bumi adalah datar, bukan bulat, seperti yang sering dipelajari. Salah satu kelompok yang mempercayai bahwa bumi itu datar adalah klub sepakbola bernama Flat Earth FC. Dari namanya saja, sudah bisa ditebak jika klub tersebut merupakan penganut teori konspirasi bumi datar. 

Flat Earth FC adalah klub sepakbola asal Spanyol yang terletak 15 mil dari arah kota Madrid. Sebelumnya, klub tersebut bernama Mostoles Balompie. Mostoles Balompie didirikan pada tahun 2016, saat itu mereka membeli lisensi klub yang berdiri pada 1969, CDC Commercial. Kala itu,  Mostoles berstatus sebagai klub satelit RCD Carabanchel, yang bermain di liga preferente (divisi 5 Spanyol). Lalu, pada 2019, mereka promosi ke Tercera Division.

Javi Poves, sang presiden klub,  adalah sosok penting di balik perubahan nama klub. Pola pikirnya yang unik itu bahkan sudah ia tunjukkan sejak sebelum menjabat posisi presiden.

Poves dulunya adalah seorang pemain sepakbola. Ia sempat membela beberapa klub di Spanyol seperti Rayo Vallecano dan Sporting Gijon. Namun, pada 2011, ia memutuskan pensiun saat usianya baru menginjak 23 tahun.

Poves memiliki alasan yang kuat mengapa ia pensiun di usia belia. Ia mengatakan kalau sepakbola profesional saat ini hanyalah lingkup yang memfasilitasi uang dan korupsi. Menurutnya lagi, itu semua merupakan gambaran kapitalisme, yang dianggap telah mematikan esensi sepakbola.

Poves sendiri sudah menjadi presiden Flat Earth FC sejak 2016 dan berhasil membawa klub tersebut berlaga di divisi keempat Liga Spanyol. Saat status klub sedang naik daun, ia memutuskan untuk mengubah citra klub dengan mengubah nama.

Mengenai keyakinan tentang Bumi datar, mendapatkan kesimpulannya sekitar tiga tahun lalu. Pemikiran ini ia dapatkan usai berkeliling dunia dan menjadikan aliran air sebagai pertanyaan besar yang berujung pada pemikirannya bahwa Bumi itu tidak bulat. 

Poves kemudian berselancar di dunia maya hingga akhirnya bertemu dengan orang-orang yang memiliki pemikiran sama. Setelahnya, dia semakin yakin untuk menganut teori konspirasi ini.

Keyakinannya yang kuat soal bumi datar itu akhirnya membuat Poves memutuskan untuk mengubah nama Mostoles menjadi Flat Earth FC pada juni 2019.

Tepat sebelum tampil di Tercera Division grup 7,  Flat Earth FC, resmi jadi klub sepakbola profesional pertama yang mendukung teori bumi datar. Penggantian tersebut dilakukan dengan sengaja, meski tanpa persetujuan dari para penggemar. 

Perubahan nama Flat Earth FC itu sendiri bertujuan untuk mendukung teori bumi datar. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Javi Poves:

“Sepak bola adalah olahraga paling populer dan memiliki pengaruh paling besar di seluruh dunia, jadi membuat klub yang didedikasikan untuk gerakan bumi datar adalah cara terbaik untuk selalu hadir di media.” (via The Guardian)

Keputusan Poves untuk mendirikan Flat Earth FC mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Tentu ada pihak yang pro mendukung perubahan nama, dan ada pula pihak yang kontra dan bertanya-tanya mengapa ia harus sampai mengubah nama klubnya. 

Poves juga sudah punya pemikiran kalau Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) tidak akan senang dengan terbentuknya Flat Earth FC. Tapi hingga kini, Poves belum mendapatkan kabar apa-apa dari RFEF. 

Sama seperti klub sepakbola lainnya, Flat Earth FC juga mempunyai logo, yang berbentuk bumi melingkar.

Klub ini juga punya maskot tim yang berbentuk seorang astronot. Menurut transfermarkt, klub yang dilatih oleh Javier De Lucas ini rata-rata dihuni oleh pemain muda dalam rentang kelahiran 1991-1997.

Flat Earth FC juga mempunyai media sosial. Akun twitternya hingga sekarang punya lebih dari 3500 followers, sementara akun Instagramnya telah mempunyai lebih dari 4 ribu followers. Selain itu, mereka juga mempunyai situs resmi sendiri bernama Flatearthfc.com.

Poves, selaku presiden memiliki ambisi besar untuk membawa Flat Earth FC memenangkan trofi juara Liga Champions Eropa. Namun untuk menuju ke arah sana, mereka butuh tiga kali promosi lagi untuk sampai ke La Liga.

 

Sumber Referensi : Kompasiana, Theguardian, Kompas

Nilai Transfer Pemain Paling Aneh Di Dunia! Ada Yang Dihargai Cuma Rp. 100 Perak

Ngomongin soal bursa transfer, terkadang ada transfer pemain yang nilainya sangat tinggi. Salah satunya, adalah saat kepindahan Neymar dari Barcelona ke PSG pada tahun 2017 yang dibanderol dengan mahar 222 juta euro atau setara dengan Rp 3,4 triliun. Bahkan nilai transfernya hingga saat ini masih tercatat sebagai rekor pembelian pemain termahal sepanjang masa. 

Akan tetapi, tak semua transfer pemain dilakukan klub dengan mengeluarkan uang. Ada juga transfer pemain yang dilakukan dengan cara aneh. Siapa saja yang jadi korban transfer aneh tersebut? Berikut Starting Eleven sajikan ulasannya.

John Barnes (1981)

John Barnes masih berusia 17 tahun saat membela Sudbury Court. Permainan menawan Barnes bersama Sudbury membuat manajer Watford, Graham Taylor, terkesan. Hingga akhirnya Barnes meninggalkan Sudbury menuju Watford.

Uniknya, Watford tidak membayar Barnes dengan uang melainkan dengan satu set baju tim. Dan lima tahun kemudian, Liverpool membeli Barnes seharga 900 ribu Pound.

Garry Pallister (1984)

Eks pemain Manchester United, Gary Pallister rupanya punya transfer yang cukup unik saat masih berusia 19 tahun.

Saat pindah klub dari Billingham ke Middlesbrough, Pallister dibeli dengan seperangkat peralatan latihan. Pallister kemudian bermain selama empat musim bersama Middlesbrough sebelum ia digaet Manchester United dan menjelma menjadi bek tak tergantikan di Setan Merah.

Ernie Blenkisop (1921)

Salah satu bek kiri terbaik yang pernah dimiliki Inggris, Ernie Blenkinsop juga pernah terlibat transfer aneh.

Peristiwa jual beli pemain itu terjadi pada tahun 1921. Saat itu mantan kapten Inggris ini direkrut Hull dari Cudworth United Methodists dengan transfer 100 pounds dan satu barel bir.

Satu barel bir itu sengaja Blenkinsop minta untuk dibagikan pada rekan-rekannya di Cudworth yang terlampau sedih karena nilai transfernya yang sangat kecil.

Zat Knight (1999)

Transfer dengan pembayaran terunik juga terjadi saat kepindahan Zat Knight dari klub Rushall Olympic ke Fulham pada 1999. Zat Knight sendiri merupakan pemain yang berposisi sebagai seorang bek. Meski saat itu ia berstatus bebas transfer, Fulham mengirimkan 30 potong baju olahraga sebagai itikad baik.

Marius Cioara (2006)

Salah satu transfer teraneh yang pernah terjadi di dunia sepak bola adalah saat kepindahan Cioara dari klub Divisi Empat, Regal Hornia ke klub Divisi Dua Rumania, UT Arad. Saat itu Cioara dibayar dengan 15 kg sosis daging babi.

Namun, setelah transfer aneh itu, Cioara memutuskan untuk pensiun dari sepak bola dan memilih pekerjaan lain. Klub Regal yang tak terima kemudian dikabarkan meminta kembali daging yang telah mereka berikan sebagai biaya transfer.

Ian Wright (1985)

Ian Wright, salah satu legenda besar Arsenal dan pernah jadi andalan timnas Inggris, awalnya adalah seorang tukang plester. Bakatnya tercium setelah manajer Crystal Palace, Steve Coppell, melihatnya bermain di klub kecil Greenwich Borough pada era 80-an.

Palace pun segera merekrut Ian Wright, menariknya klub ini menukarnya dengan satu set alat angkat beban.

Tony Cascarino (1982)

Tony Cascarino adalah mantan pemain timnas Republik Irlandia. Saat dibeli oleh Gillingham dari Crokenhill pada 1982, beredar rumor bahwa nilai transfernya hanya seharga satu potong besi seng.

Akan tetapi, Cascarino membantah rumor itu, dan mengatakan bahwa Gillingham membayar dengan satu set seperangkat latihan dan pakaian olahraga.

Hugh McLenahan (1927)

Manchester United membeli Hugh McLenahan dari Stockport County dengan cara yang cukup aneh.

Kisahnya terjadi pada 1927 ketika klub amatir Inggris, Stockport County, sedang mengadakan bazar untuk meningkatkan pendapatan klub.

Asisten manajer MU saat itu, Louis Rocca, yang memiliki bisnis ice cream, menawarkan sebuah lemari es penuh dengan ice cream pada pihak Stockport. Stockport yang saat itu sedang sangat butuh uang terpaksa menerima tawaran itu dan melepas Hugh McLenahan.

Franco Di Santo (2006)

Franco di Santo juga salah satu pemain yang mengalami transfer aneh. 

Hal itu terjadi saat Di Santo pertama kali merintis karirnya di klub Chile, Audax Italiano. Kala itu Di Santo terikat kesepakatan 40 liter cat. Lalu, beberapa tahun kemudian ia dibeli Chelsea dengan mahar yang lebih tidak realistis yakni sebesar 3.4 juta pounds.

Ion Radu (1998)

Ini adalah salah satu transfer aneh yang berasal dari Rumania. Dua klub yang terlibat adalah klub Divisi Empat Liga Rumania, Jiul Petroșani dengan Valcea pada 1998.

Ion radu dilepas Petrosani ke Valcea dengan bayaran dua ton daging sapi dan babi.

Juru bicara Petrosani saat itu mengatakan bahwa daging yang mereka terima akan dijual dan hasilnya akan digunakan untuk membayar gaji semua pemain.

Kenneth Kristensen (2002)

Transfer aneh juga dialami oleh Kenneth Kristensen. Kepindahannya dari dari Vindbjart ke klub Norwegia, Floey, dibayar dengan udang segar.

Namun, dalam catatan kesepakatan kedua klub, berat udang segar tersebut harus setara dengan berat badan Kristensen. Berat badan Kristensen sendiri saat itu adalah 75 Kg.

Indriyanto Nugroho (1996)

Peristiwa transfer unik juga terjadi di Indonesia. Korbannya adalah mantan striker timnas Indonesia, Indriyanto Nugroho. Kasus transfer ketika itu melibatkan Arseto Solo dengan Pelita Jaya. Saat itu, Nugroho disebut masih menjadi milik Arseto yang kemudian dibawa ke proyek PSSI Primavera di Italia.

Lalu, karena ingin segera mengakhiri polemik, Arseto akhirnya mau melepas sang pemain dengan nilai transfer yang sangat murah, yakni Rp 100. Bahkan nominal transfer itu disebut-sebut lebih murah dibandingkan harga materai saat tanda-tangan jual beli kala itu. Atas harga transfer tersebut, Nugroho lalu mendapat julukan Mister Cepek.

Dan itulah deretan transfer teraneh yang pernah terjadi di sepakbola. Kira-kira menurutmu mana yang paling menarik dan paling aneh Football Lovers ?

 

Sumber Referensi : Instagram, Liputan6

 

Kemegahan Akademi Manchester City Yang Ciptakan Banyak Bintang Berkelas

Kita semua pasti setuju bila menyebut Manchester City sebagai tim instan yang banyak menghadirkan pemain bintang untuk meraih sebuah kejayaan. Sejak klub ini diambil alih oleh Sheikh Mansour pada 2008 silam, target Manchester City bukan lagi mengejar papan tengah klasemen. Namun meraih gelar juara yang sebelumnya belum pernah mereka rasakan. Terlebih, mereka juga ingin menyaingi prestasi rival sekota, Manchester United, yang dikenal punya segudang sejarah hebat.

Cara instan yang dilakukan tersebut lantas berdampak pada para pemain muda City, yang tengah tampil di tim junior dan bermimpi untuk bermain bersama tim utama. Padahal, sebelum Sheikh Mansour datang, City sejatinya rajin menyumbang pemain asli didikannya ke tim utama.

Semua tentu masih ingat dengan nama-nama seperti Joey Barton, Shaun Wright-Phillips, Michael Johnson, Kasper Schmeichel, Nedum Onuoha, Micah Richards, Stephen Ireland, sampai Daniel Sturridge. Mereka semua, yang meski tidak mampu membawa City terbang ke tangga juara, tetap dikenal oleh banyak pecinta sepakbola sebagai talenta yang tidak boleh diremehkan.

Akan tetapi, sekali lagi, sejak menjadi tim kaya raya, tercatat hanya ada nama Micah Richards, sebagai pemain asli didikan City yang mampu bertahan dan berhasil menjadi bagian dari skuad yang memenangkan trofi Liga Primer Inggris.

Para pelatih yang ditunjuk untuk membawa City juara tampak tidak memiliki banyak waktu untuk mengembangkan para bakat muda. Mereka yang sudah dibekali dengan dana besar tentu lebih memilih untuk membeli makanan enak dari restoran mahal, ketimbang harus memasak masakan sendiri yang rasanya belum tentu lezat.

Mulai dari dari Mark Hughes, Roberto Mancini, Manuel Pellegrini, sampai kini Pep Guardiola sekalipun, tidak sedikit dari mereka yang memang lebih memilih untuk tampil dengan para pemain bintang yang sudah matang dan teruji kemampuannya, ketimbang harus memberi kesempatan kepada banyak pemain muda, yang mungkin sangat beresiko tinggi bagi hasil yang diraih nantinya.

Para pelatih yang memang diberi tugas berat dan harus tampil di kompetisi menegangkan semacam Liga Primer Inggris dan Liga Champions Eropa memang tidak bisa disalahkan. Apa boleh dikata, hasil akhir lah yang akan jadi penentunya. Bukan bagaimana cara mereka ciptakan pemain, meski hal itu dianggap sebagai sesuatu hal yang juga luar biasa.

Bila menilik pada fokus klub selama ini, Sheikh Mansour sebenarnya tidak ingin selalu bergantung pada pemain bintang yang didatangkan. Dia juga memiliki misi untuk bisa mengembangkan bakat muda yang nantinya berpotensi menjadi andalan klub.

Melalui sebuah janji dengan nada, “We are building a structure for the future, not just a team of all stars,”, pria kaya raya itu rela menggelontorkan dana besar untuk membangun pusat pendidikan dengan fasilitas dan kualitas nomor satu.

Pada akhir 2014 lalu, City Football Academy resmi dibuka. Memiliki luas sekitar 32,3 hektar, akademi tersebut menjadi salah satu bagian dari Etihad Campus dan pembangunannya menghabiskan dana antara 150 juta hingga 200 juta poundsterling.

Kawasan akademi klub yang dihubungkan langsung melalui jembatan dengan Stadion Utama klub tersebut, juga dilengkapi dengan 16,5 lapangan latihan luar ruangan yang dipakai oleh tim utama City, tim sepakbola wanita City, dan para pemain akademi. Dilaporkan, dari 16,5 lapangan itu, 12,5 diantaranya digunakan untuk pengembangan pemain-pemain muda.

Lebih lanjut, akademi itu juga memiliki stadion yang dapat menampung sekitar 7000 penonton, dimana setiap pekannya, ada lebih dari 450 pemain yang berlatih di sana. City Football Academy memiliki sistem pelatihan dari berbagai jenjang usia. Mulai dari tingkat U-6 sampai dengan tim utama.

Siapa yang bisa menjadi bagian dari akademi tersebut mungkin juga akan sangat merasa dimanjakan dengan fasilitas lainnya seperti gym, auditorium, pusat pendidikan, kolam renang, dan lain-lain.

Yang tak kalah mencengangkan adalah, City Football Academy masih memiliki kawasan lebih besar dari beberapa akademi ternama, seperti Ciudad Training Complex milik Real Madrid, Football Association’s National Football Centre milik timnas Inggris, dan juga Ciutat Esportiva Joan Gamper kepunyaan FC Barcelona.

Apa yang telah direncanakan, dibangun, dan dibentuk sesuai dengan standar terbaik ini membuktikan, bahwa Manchester City bukanlah tim yang hanya fokus pada pengumpulan bintang-bintang sepakbola yang tersebar di seluruh dunia saja. Namun, mereka juga ingin membentuk kekuatannya sendiri melalui sebuah sistem pendidikan pemain muda, dengan fasilitas lengkap, mewah, nyaman, dan tentunya berkualitas.

Namun memang, meski memiliki segala hal yang diinginkan, akademi Manchester City masih minim kepercayaan. Artinya, seperti yang sudah disinggung di awal, masih banyak pelatih yang enggan mengambil resiko memasukkan pemain muda ke tim utama.

Beruntung, perlahan tapi pasti, keberadaan City Football Academy mulai diakui. Dalam beberapa tahun ke belakang, mereka berhasil ciptakan prestasi berupa menjuarai Professional Development League U18, Premier League Cup U18 , serta FA Youth Cup.

Dari beragam kesuksesan tersebut, muncul nama Taylor Harwood-Bellis, Cole Palmer, Jayden Braaf, James McAtee, dan Liam Delap, sebagai talentanya.

Selain itu, jangan lupakan pula beberapa pemain dunia yang kini bersinar, yang hadir dari sistem pendidikan City Football Academy. Seperti yang pertama Angelino. Pemain bernama lengkap Jose Angel Esmoris Tasende ini merupakan bek kiri yang kini bejaya bersama RB Leipzig. Dia merupakan pemain akademi Manchester City sejak 2013 silam. Namun meski sempat bermain sebanyak 15 laga untuk tim utama, Angelino masih kurang meyakinkan pelatih hingga membuatnya mencari pelabuhan baru.

Kemudian ada nama Brahim Diaz yang kini berstatus sebagai pemain pinjaman di klub asal Italia, AC Milan. Diaz masih tercatat sebagai pemain asli Real Madrid. Dia merupakan pemain lulusan akademi Manchester City pada 2016 silam. Bersama Milan sendiri, Diaz cukup menjadi andalan dan beberapa kali sukses sarangkan bola ke dalam gawang.

Lalu yang tak kalah hebat adalah Kieran Trippier. Pemain Internasional Inggris ini sudah bergabung dengan Manchester City sejak berusia 9 tahun. Namun saat berhasil masuk ke tim utama City, dia malah lebih sering dipinjamkan, hingga sempat menjadi andalan Tottenham Hotspurs, sebelum akhirnya kini mengukir cerita indah di Spanyol.

Terakhir, tak lain dan tak bukan adalah Jadon Sancho. Pemain muda berbakat asal Inggris itu tengah menikmati masa indahnya bersama Borussia Dortmund. Dia kini menjadi pemain yang banyak diincar oleh klub besar Eropa, termasuk Manchester City itu sendiri, meski punya harga yang sangat mahal.

Di tengah banyaknya talenta City Football Academy yang berjaya di klub lain, Manchester City bersama Pep Guardiola juga masih punya harapan baru. Pelatih asal Spanyol itu berhasil menemukan permata berharga bernama Phil Foden.

Phil Foden merupakan pemain yang berhasil mengantar Inggris menjuarai Piala Dunia U17 pada 2017 silam. Pemain yang berposisi sebagai gelandang itu disebut sebagai lulusan terbaik City Football Academy saat ini. Dia yang sudah bergabung dengan City sejak dini rela bersabar untuk menanti kesempatan. Walhasil, dia masuk radar Pep Guardiola untuk kemudian diangkut ke tim utama.

Pelatih asal Spanyol itu pun tampak tidak salah pilih. Foden, sejak bergabung dengan tim utama, kerap tampil di laga-laga penting. Bahkan dia juga tak jarang mencetak gol kemenangan the Citizens.

Pep Guardiola, yang kita tahu pernah bekerjasama dengan pemain ajaib bernama Lionel Messi, justru menyebut Phil Foden sebagai pemain paling bertalenta yang pernah ditemuinya.

“Dia [Foden] punya segalanya untuk menjadi salah satu pemain terbaik. Aku telah mengatakannya dalam banyak kesempatan saat konferensi pers, tetapi mungkin belum mengatakannya di depan sang pemain: Phil adalah pemain yang paling, paling, paling bertalenta yang pernah aku lihat sepanjang karier ku sebagai manajer,”

Dengan munculnya nama Foden yang begitu istimewa, plus para pemain lainnya yang tercipta dari akademi ini, bukan tak mungkin bila kita akan melihat Manchester City lebih memfokuskan diri pada pengembangan bakat asli mereka, daripada harus mengeluarkan dana besar untuk dipakai merekrut pemain bintang.

 

Sumber referensi: panditfootball, idntimes, sportdetik

7 Pemain Ini Dipercaya Bakal Segera Tinggalkan Liverpool

Musim ini, Liverpool masih menjalani musim yang cukup sulit. Sebagai tim yang memiliki deretan pemain hebat dan belum lama menjadi jawara Eropa, performa Liverpool musim ini terbilang mengecewakan. Memang benar bila Liverpool dihantam badai cedera, akan tetapi, ketidakmampuan mereka dalam bertahan dikala krisis juga banyak mencuri perhatian.

Malah, banyak juga kabar yang menyebutkan bila Liverpool akan kehilangan sejumlah pemain yang tergolong andalan pada musim panas nanti. Dengan berbagai alasan, Liverpool diklaim akan segera ditinggalkan oleh para pemain ini.

Siapa sajakah mereka? Simak ulasannya berikut ini.

 

Divock Origi

Kabar tentang kepergian Divock Origi dari Anfield sudah berhembus sejak lama. Kini, spekulasi kepergian sang pemain pun memasuki babak baru. Origi sendiri sudah merasa tidak betah di Liverpool karena minim kesempatan. Dia tidak tahan dengan kondisi ini sehingga memang berniat pergi.

Origi, yang berposisi sebagai penyerang dikabarkan bakal segera terbang ke Italia untuk bergabung dengan salah satu klub disana. Menurut laporan, klub besutan Antonio Conte, Inter Milan, tertarik untuk mengamankan jasa sang pemain. Conte memang berniat untuk mencari penyerang baru, guna memberi pesaing dua striker andalan mereka saat ini, Romelu Lukaku dan juga Lautaro Martinez.

Conte sendiri kabarnya sudah memantau Origi sejak lama dan menilai ada sesuatu yang spesial dari pria 26 tahun.

Meski masih terikat kontrak dengan Liverpool sampai dengan 2024 mendatang, harga Origi tergolong tidak terlalu besar, yaitu berkisar di angka 20 juta pounds atau setara 402 miliar rupiah.

Bila memang menginginkan jasa Origi, Inter harus bergerak cepat karena disana ada nama Real Sociedad dan Borussia Dortmund yang juga berminat dapatkan tanda tangan sang pemain.

Sumber: FourFourTwo

Naby Keita

Pemain yang didatangkan dengan harga mahal oleh Liverpool, Naby Keita, dikabarkan bakal meninggalkan Anfield dalam waktu dekat ini. Hal tersebut berkaitan dengan minimnya kontribusi sang pemain terhadap klub. Dalam setidaknya 10 kesempatan yang diberikan di liga, Keita belum juga mampu catatkan satupun gol untuk Liverpool. Soal assist, dia juga punya catatan yang sama.

Salah satu tim yang sangat tertarik untuk datangkan Keita adalah Leicester, yang juga berkompetisi di Liga Primer Inggris. Manajer The Foxes, Brendan Rodgers, berniat untuk mencari gelandang baru, dimana Keita telah ditetapkan sebagai target utamanya.

Menurut Rodgers, Keita memiliki kemampuan di atas rata-rata. Dia juga dipercaya bakal membuat lini tengah Leicester semakin hidup.

Dengan nilai sekitar 40 juta euro atau setara 701 miliar rupiah, klub yang bermarkas di King Power Stadium akan coba mendatangkan pemain 26 tahun tersebut.

Sumber: Football Insider

Joel Matip

Berikutnya ada nama pemain yang berposisi sebagai seorang bek, Joel Matip, yang dipercaya bakal segera tinggalkan Anfield.

Kabar tersebut muncul setelah klub asal Inggris itu berniat untuk mempermanenkan status Ozan Kabak. Selain itu, mereka juga akan segera mendapatkan pemain milik RB Leipzig, Ibrahima Konate. Sebagai catatan, rencana tersebut baru akan terlaksana bila Liverpool melepas beberapa pemain mereka, termasuk Joel Matip, untuk mendapatkan dana segar.

Joel Matip sendiri disebut tidak memiliki kondisi yang stabil. Dia rentan terkena cedera seperti yang masih dialami saat ini dan juga tampak mengalami penurunan performa.

Sumber: Ligaolahraga

Alex Oxlade-Chamberlain

Alex Oxlade-Chamberlain juga menjadi nama yang juga dikabarkan bakal tinggalkan Liverpool pada musim panas nanti.

Eks penggawa Arsenal tersebut memang jarang mendapat kesempatan untuk tampil bersama skuad utama. Hal itu berkaitan dengan kondisinya yang memang butuh banyak istirahat. Namun bisa dikatakan, Alex Oxlade-Chamberlain telah menghabiskan waktu lebih banyak untuk istirahat ketimbang tampil di lapangan.

Kondisi itulah yang membuat Liverpool tampak ragu untuk mempertahankan sang pemain.

Kini, muncul nama West Ham United sebagai peminat serius. Bila melihat cv sang pemain, klub asal London tersebut sangat tertarik. Akan tetapi, diluar sana, ada sejumlah penggemar yang memperingatkan tentang kondisi sang pemain yang tergolong tidak stabil.

Sumber: football-london

Xherdan Shaqiri

Di kompetisi Liga Primer Inggris musim ini, Xherdan Shaqiri baru bisa mengemas sebanyak dua assist saja dalam 13 kesempatan yang diberikan. Dengan performa yang tergolong tidak cukup membantu, Shaqiri pun dimasukkan ke dalam daftar jual pemain Liverpool musim ini.

Dalam hal ini, Jurgen Klopp tidak ingin mengambil resiko dengan mempertahankan pemain tersebut. Dengan menjual pemain yang dibeli dari Stoke City pada 2018 senilai 13 juta pounds itu, Liverpool dipercaya akan mendapat suntikan dana yang pas untuk merombak kembali skuad yang ada.

Dalam hal ini, Shaqiri juga menjadi korban seperti Joel Matip yang berniat dijual untuk mendapatkan dana segar demi pemain incaran. Bila memang harus pergi, sudah ada nama Sevilla dan Fenerbahce, yang tertarik untuk mendapatkan jasa pemain berkebangsaan Swiss tersebut.

Sumber: indosport

Georginio Wijnaldum

Rumor kepergian Georginio Wijnaldum dari Liverpool sudah sangat jelas terasa. Sang pemain diklaim sudah mantap bakal tinggalkan Anfield pada akhir musim nanti. Dia sendiri disebut sudah punya destinasi baru yaitu FC Barcelona.

Banyak laporan yang menyebut bila La Blaugrana tertarik untuk mendatangkan Wijnaldum. Disisi lain, Wijnaldum diklaim sudah menyetujui kesepakatan pra kontrak dengan el Barca. Kontrak pemain asal Belanda itu akan berakhir pada musim panas nanti. Jadi, bila sudah tentu bergabung dengan Barcelona, maka Wijnaldum akan pergi ke Spanyol dengan status bebas transfer.

Dalam hal ini, Liverpool sejatinya masih sangat berharap untuk melihat Wijnaldum tinggal lebih lama di Liverpool. Tapi apabila sang pemain yang menginginkan pergi, apa boleh dikata.

Sumber: Bola

Sadio Mane

Selama bertahun-tahun, Sadio Mane telah berhasil menjadi andalan di lini depan Liverpool. Namun kini, di tengah kemerosotan performa Liverpool, Mane juga menjadi salah satu pemain yang kurang maksimal ketika tampil di atas lapangan. Beragam kritik bahkan tak jarang mendatanginya.

Kini, di tengah merosotnya performa Liverpool, pemain asal Senegal itu diberitakan bakal hengkang dari Anfield. Mane mengaku masih ingin tampil di kompetisi Liga Champions Eropa musim depan, sedangkan kini situasi di Liverpool tampak sulit dan cukup rumit. Dalam hal ini, Mane mulai memikirkan ketertarikan Real Madrid terhadapnya. Bila klub asal Spanyol tersebut memang serius menginginkannya, maka bukan tak mungkin dia akan membuka negosiasi.

Di sisi lain, sebagai persiapan apabila kehilangan sosok Mane, Liverpool sendiri sudah memantau bakat asal Prancis yang kini tampil untuk FC Barcelona, Ousmane Dembele. Dembele banyak dianggap sebagai sosok ideal pengganti Sadio Mane.

Menarik untuk dinantikan bagaimana kisah kelanjutan Sadio Mane bersama Liverpool pada akhir musim nanti.

Sumber: Viva

 

Momen Ini Membuktikan Kalau Madrid dan Barca Adalah Anak Emas UEFA! Part.I

Real Madrid dan FC Barcelona layak disebut sebagai dua tim terbaik di Eropa. Kedua tim tersebut telah mendominasi dalam waktu yang lama dan berhasil menjadi raja dalam beberapa kali kesempatan. Akan tetapi, meski termasuk ke dalam klub bergelimang prestasi, baik Barca maupun Madrid kerap dicemooh sebagai tim yang tak jarang dibantu wasit.

Dalam beberapa kesempatan, memang terlihat bila ada keputusan wasit yang lebih memihak dua tim tersebut. Penasaran pada pertandingan apa sajakah itu? Berikut kami berikan ulasannya.

 

Juventus 2018

Pada tahun 2018 lalu, Juventus melakukan langkah yang begitu luar biasa setelah berhasil menyamakan agregat menjadi 3-3, setelah sebelumnya tertinggal 3-0. Nahas, laju klub berjuluk Si Nyonya Tua tak sampai pada apa yang diharapkan.

Pasalnya, di penghujung laga babak perempat final Liga Champions itu akhirnya memunculkan Real Madrid sebagai pemenang. Tepat di menit ke 90+8, melalui aksi Cristiano Ronaldo el Real berhasil mencetak satu gol melalui titik putih dan membuat agregat menjadi 4-3.

Yang jadi kekesalan penggemar Juventus disini adalah diberikannya hadiah penalti kepada Real Madrid di penghujung laga. Di momen tersebut, penalti diberikan setelah Lucas Vazquez dilanggar Medhi Benatia pada menit ke-90+3. Tak sampai disitu, kiper Gianluigi Buffon melakukan protes keras yang berujung kartu merah dari wasit Michael Oliver kepadanya.

Protes Buffon dan pemain lain kepada wasit terjadi karena menganggap bila itu bukanlah sebuah pelanggaran.

Seusai laga, banyak yang menyebut bila langkah mulus Real Madrid terjadi karena bantuan wasit.

PSG 2017

Wasit yang memimpin laga antara FC Barcelona melawan Paris Saint Germain pada tahun 2017 silam dianggap gagal oleh UEFA. Deniz Aytekin disebut banyak timbulkan keputusan kontroversial. Dikabarkan, tiga gol Barcelona yang terjadi selama tujuh menit terakhir banyak dipertanyakan, terutama gol penalti Barca di perpanjangan waktu.

Selain itu ada lagi keputusan wasit Aytekin yang merugikan PSG, seperti tak memberikan penalti kepada PSG, saat Angel Di Maria dijatuhkan Javier Mascherano di kotak penalti

Ketika itu, Barcelona menang dengan skor 6-1 setelah sebelumnya kalah telak dengan skor 4-0 di Paris.

FC Bayern 2017

Pada tahun 2017, para pemain FC Bayern murka dengan keputusan wasit, ketika mereka disingkirkan Real Madrid di kompetisi Liga Champions Eropa.

Setelah di leg pertama kalah dengan skor 2-1, mereka berhasil menyamakan kedudukan di laga kedua setelah berhasil menang dengan skor yang sama. Praktis, pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak tambahan.

Nahas, Bayern kalah dengan skor agregat 3-6, setelah di pertandingan kedua Real Madrid berhasil menambah sebanyak tiga gol di babak tambahan. Akan tetapi, para pemain FC Bayern tidak terima dengan beberapa keputusan wasit Viktor Kassai yang dianggap kontroversi, diantaranya adalah menganggap Lewandowski offside pada menit ke 60, tidak memberikan kartu kepada Casemiro setelah melakukan pelanggaran kepada Arjen Robben, memberi kartu merah kepada Arturo Vidal, serta mengesahkan gol Ronaldo pada menit ke 104 meski berada di posisi offside.

Karena kesal bukan main, ada kabar yang menyebut bila tiga pemain Bayern Munchen yakni Arturo Vidal, Robert Lewandowski, dan Thiago Alcantara, melancarkan protes kepada wasit hingga ruang ganti setelah timnya tersingkir.

PSG 2018

Setelah sebelumnya disingkirkan oleh FC Barcelona dengan cara yang dianggap kurang adil, kini, pada tahun 2018 Paris Saint Germain kembali harus menerima nasib yang sama. Akan tetapi di tahun tersebut mereka harus tersingkir oleh rival FC Barcelona, Real Madrid.

PSG sejatinya berhasil mencetak gol lebih dulu lewat Rabiot sebelum Ronaldo berhasil menyamakan kedudukan lewat titik putih. Akhirnya, Madrid berhasil keluar sebagai pemenang usai mereka mencetak dua gol tambahan.

Dalam laga tersebut, wasit Gianluca Rocchi yang memimpin laga banyak mengundang perhatian. Dia disebut telah memberikan hadiah penalti yang salah kepada Ronaldo. Selain itu, kesalahan Gianluca Rocchi juga tidak memberikan PSG tendangan penalti, setelah Sergio Ramos terlihat menyentuh bola di kotak 16.

Unai Emery yang ketika itu masih membesut PSG pun merasa sangat kecewa. Dia mengatakan bila Paris Saint Germain dirugikan wasit. Lebih dari itu, presiden Les Parisiens, Nasser Al Khelaifi, kecewa dengan kepemimpinan wasit Gianluca Rocchi, untuk kemudian menyebutnya telah membantu Real Madrid.

Kalah 3-1 di leg pertama, PSG akhirnya harus rela tersingkir setelah di pertandingan kedua, mereka kalah dengan skor 2-1.

Arsenal 2011

Arsenal juga pernah menjadi korban dari mulusnya perjalanan FC Barcelona melalui bantuan wasit. Di tahun 2011 silam. Robin van Persie dan kolega harus mengakui kekalahan atas Los Cules dengan skor 3-1.

Sang pengadil lapangan, Massimo Busacca, menjadi sorotan setelah dianggap telah menciptakan banyak keputusan kontroversial. Salah satu keputusannya yang paling menyita perhatian adalah ketika dirinya memberikan kartu merah kepada Robin van Persie.

Pemain asal Belanda itu mendapatkan kartu kuning kedua setelah tetap menendang bola saat wasit sudah meniup peluit tanda dirinya terperangkap offside. Padahal saat itu The Gunners sedang tampil percaya diri setelah berhasil membuat kedudukan menjadi imbang 1-1.

Mengomentari hal tersebut, Arsene Wenger, yang kala itu masih melatih Arsenal juga dibuat bingung. Dia merasa keberatan dengan keputusan wasit yang dengan mudah memberi van Persie kartu merah. Padahal aksi sang pemain bisa dimaklumi karena pada waktu itu terdapat suara gemuruh 90 ribu publik Camp Nou yang membuat Van Persie tidak mendengar peluit tanda offside.

Usai sang penyerang andalan dikeluarkan, seperti yang sudah dijelaskan, tim asal London harus pulang dengan kepala tertunduk.

Begini Nasib Para Pemain Inter Milan Yang Terakhir Kali Raih Scudetto

Inter Milan masih terus menatap scudetto. Klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza diambang gelar juara musim 2020/21. Setelah musim sebelumnya hanya berposisi sebagai runner up, kini, mereka akan benar-benar mewujudkan mimpi meraih gelar juara di tanah Italia.

Hal ini terasa sangat spesial bagi Inter Milan. Betapa tidak, klub yang kini dibesut oleh Antonio Conte terakhir kali merasakan gelar juara di kompetisi Serie A adalah pada tahun 2010 lalu. Ketika itu, mereka bahkan berhasil mengumpulkan sebanyak tiga gelar prestisius dalam satu musim kompetisi.

Untuk mengingatkan football lovers tentang masa kejayaan Inter sekitar lebih dari sepuluh tahun lalu, kami akan menyajikan susunan pemain Inter Milan ketika terakhir kali merengkuh trofi scudetto. Bagaimana nasib mereka sekarang?

 

Kiper: Julio Cesar

Pada musim 2009/10, Julio Cesar menjadi andalan di bawah mistar La Beneamata. Dia tercatat kebobolan sebanyak 34 kali. Dengan penampilan superior ketika itu, Cesar terus menjadi andalan sampai Inter memenangkan tiga gelar termasuk trofi Serie A.

Setelah melewati masa kejayaan bersama Inter Milan, kiper asal Brasil ini lalu hijrah ke Liga Primer Inggris dan bergabung dengan Queens Park Rangers pada tahun 2012. Sempat dipinjamkan ke Toronto, Julio Cesar lalu bergabung dengan Benfica pada 2014, sebelum akhirnya putuskan untuk pulang ke Brasil.

Lalu, tepat pada tahun 2018 lalu, Julio Cesar resmi putuskan pensiun. Dia tampak masih menikmati masa pensiunnya dan belum terlihat kembali di dunia sepakbola.

Bek Kanan: Maicon

Maicon, bek asal Brasil, pernah disebut sebagai yang terbaik pada masanya. Dia merupakan andalan di sisi kanan Inter Milan. Dengan kecepatan dan kekuatan yang dimiliki, Maicon akan selalu diingat sebagai salah satu bek kanan terbaik yang pernah dimiliki klub asal kota Milan.

Maicon tercatat telah membela Inter selama kurang lebih enam tahun. Raihan prestasinya tak perlu diragukan lagi. Pasca menjadi andalan di Inter, dia lalu putuskan hengkang ke Manchester City pada tahun 2012 silam.

Sampai saat ini, di usia 39 tahun, Maicon masih tercatat sebagai pemain aktif. Dia berstatus sebagai pemain ASD Sona Calcio yang tampil di Serie D Italia.

Bek Tengah: Walter Samuel

Walter Samuel berhasil pulihkan kembali ketajamannya sebagai seorang bek setelah sempat meredup bersama Real Madrid. Pada tahun 2005, dia bergabung dengan Inter Milan dan langsung menjadi andalan disana. Walter Samuel merupakan sosok penting selama dia berseragam Inter Milan. Setidaknya, selama nyaris sepuluh tahun lamanya, sudah banyak trofi yang disumbangkan termasuk tiga diantaranya didapat pada musim 2009/10.

Samuel lalu pergi tinggalkan Inter pada tahun 2014 untuk bergabung dengan FC Basel. Dua tahun berselang, dia putuskan pensiun di tim yang sama. Kini, di usia 43 tahun, Samuel bekerja sebagai asisten manajer di tim nasional Argentina.

Bek Tengah: Lucio

Lucio membuktikan diri sebagai salah satu bek terbaik setelah kontraknya tidak diperpanjang oleh FC Bayern. Pada tahun 2009, Lucio yang bergabung dengan Inter Milan langsung dijadikan sebagai andalan. Dengan tubuh besarnya, Lucio bisa dengan mudah menghalau serangan lawan.

Maka dari itu, bukan sesuatu yang mengejutkan bila dia menjadi salah satu pemain yang masuk ke dalam daftar skuad juara Inter Milan.

Pada tahun 2012, setelah dirasa cukup mengukir cerita bersama Inter, Lucio putuskan hengkang ke Juventus dan bergabung di sana selama semusim saja, sebelum akhirnya pulang ke Brasil. Lucio sejak saat itu menjadi pemain yang kerap berganti klub, termasuk menjajal Liga Super India bersama FC Goa. pada awal 2020 lalu, setelah berstatus sebagai pemain tanpa klub, pria Brasil ini pun putuskan pensiun dari dunia sepakbola.

Bek Kiri: Cristian Chivu

Cristian Chivu layak disebut sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Inter Milan. Berposisi sebagai seorang bek tengah namun lebih sering ditempatkan di sisi kiri, Chivu begitu diandalkan oleh tim bercorak biru hitam.

Chivu bergabung dengan Inter Milan pada tahun 2007 dari AS Roma dan bertahan disana sampai tahun 2014, untuk kemudian putuskan berhenti dari dunia sepakbola. Kini, Chivu masih menjadi bagian dari Inter namun dengan peran yang berbeda. Dia ditugaskan sebagai manajer Inter Milan di level usia 18 tahun.

Gelandang: Javier Zanetti

Nama Javier Zanetti tentu tak boleh disingkirkan dari daftar ini. Dia menjadi andalan sekaligus kapten yang membawa Inter menuju puncak kejayaan.

Sejak bergabung dengan Inter Milan pada 1995, Zanetti lalu putuskan untuk selalu membela klub tersebut sampai akhir karirnya pada tahun 2014 silam. Usai pensiun, dia masih terus menjadi bagian dari Inter Milan, dimana kini jabatan wakil presiden menjadi status barunya.

Gelandang: Esteban Cambiasso

Esteban Cambiasso menemani Javier Zanetti yang berposisi sebagai gelandang bertahan. Dia juga bisa dibilang sebagai salah satu pilar terbaik dalam kejayaan Inter Milan di tahun 2010. Dibawah asuhan Mourinho, Cambiasso benar-benar menjadi pemain yang semakin komplit.

Setelah meninggalkan Inter pada tahun 2014, Cambiasso lalu bergabung dengan Leicester dan bermukim di Olympiacos selama dua musim. Pada tahun 2017, Cambiasso putuskan pensiun. Kini, dia tercatat sebagai asisten manajer tim nasional Kolombia.

Gelandang: Wesley Sneijder

Sang kreator serangan asal Belanda, Wesley Sneijder, menjadi pemain kunci dari keberhasilan Inter Milan di musim 2009/10. Perannya sebagai seorang gelandang serang sungguh luar biasa. Dia mampu membaca permainan sekaligus mengambil keputusan tepat dalam pertandingan.

Dalam musim terbaik Inter tersebut, Wesley Sneijder terlibat dalam 23 gol yang diciptakan skuad asuhan Jose Mourinho. Sekali lagi, Sneijder pantas disebut sebagai pilar utama dari era kejayaan Inter Milan ketika itu.

Setelah sempat bergabung dengan Galatasaray, Wesley Sneijder putuskan pensiun pada tahun 2019 lalu bersama dengan klub Al Gharafa.

Penyerang: Mario Balotelli

Jarang mendapat sorotan, Mario Balotelli menjadi pemain yang melewati salah satu masa terbaik dalam karirnya bersama Inter Milan. Di musim treble yang diraih Inter era Mourinho, Balotelli berhasil mencetak sebanyak 11 gol di semua kompetisi.

Dia bertahan di klub selama setidaknya tiga tahun sebelum akhirnya hijrah ke Manchester City pada tahun 2010. Sempat bergonta ganti klub setelahnya, Mario Balotelli kini tercatat sebagai pemain AC Monza yang berkompetisi di Serie B Italia.

Penyerang: Diego Milito

Pencetak gol terbanyak Inter di musim treble, Diego Milito, berdiri kokoh di barisan depan I Nerazzurri. Dia berhasil mencetak 30 gol sepanjang musim untuk membawa skuad asuhan Jose Mourinho berjaya.

Setelah putuskan pergi dari Inter pada tahun 2014, Diego Milito lalu pulang ke klub masa kecilnya, Racing Club. Pemain yang putuskan pensiun pada tahun 2016 itu pun saat ini tercatat sebagai direktur oleh laga klub yang bermarkas di Estadio Presidente Juan Domingo Perón.

Penyerang: Samuel Eto’o

Siapa pemain yang lebih beruntung dari Samuel Eto’o, yang berhasil merebut treble winner dalam dua musim beruntun, bersama dua klub berbeda?

Ya, setelah berjaya bersama FC Barcelona, Eto’o yang dilepas ke Italia langsung mampu lanjutkan kejayaan. Bersama Inter Milan, Eto’o juga menjadi salah satu andalan Jose Mourinho. Dia mampu mencetak 16 gol di musim 2009/10. Kontribusi besarnya pun sukses membawa Inter jadi tim terbaik di Italia sekaligus Eropa.

Setelah putuskan pergi dari Italia pada tahun 2011, pemain asal Kamerun ini pun bergabung dengan klub kaya raya Anzhi Makhachkala, untuk kemudian berkelana ke berbagai negara. Eto’o yang kini telah menginjak usia 40 tahun, sudah memutuskan untuk berhenti dari hingar bingar lapangan hijau sejak tahun 2019 lalu.