Timnas Argentina menjadi salah satu kekuatan terbesar sepakbola dunia. Dua trofi piala dunia menjadi bukti betapa hebat timnas Argentina di panggung sepakbola. Selain dua trofi piala dunia, di tiap generasinya Argentina juga selalu dihuni pemain-pemain berkelas, seperti Mario Kempes pada era 70-an, Diego Maradona pada 80-an, hingga Lionel Messi di era sekarang.
Bila kita cermati bersama, dalam skuad timnas Argentina tak ada pemain yang berkulit gelap. Padahal beberapa timnas negara lain di Amerika Selatan memiliki pemain berkulit gelap. Brazil misalnya, memiliki Romario, Junior Baiano, Edilson, Pele, dan banyak lagi. Uruguay punya Marcelo Zalayeta. Ekuador memiliki Agustin Delgado. Peru memiliki Teofilo Cubillas. Kolombia memiliki Faustino Asprilla dan Venezuela punya Salomon Rondon.
Hal tersebut tentunya menimbulkan pertanyaan, mengapa tidak ada pemain kulit hitam di timnas Argentina?
Anggapan bahwa tak ada pemain berkulit hitam dalam timnas Argentina sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Tepatnya adalah jumlahnya yang sangat minim. Dengan kata lain, pemain berkulit gelap di tim tango tidak sebanyak timnas negara lain di kawasan Amerika Latin.
Tidak adanya pemain berkulit gelap di skuad La Albiceleste tak terlepas dari sejarah bangsa Argentina itu sendiri.
Sebenarnya, dulu di Argentina ada banyak orang berkulit gelap yang merupakan orang imigran Afrika. Menurut catatan sejarah, warga Afrika datang ke Argentina pada abad ke-16 masehi. Mereka datang ke daerah bernama Rio De La Plata, (sekarang Buenos Aires). Selama di Argentina, para imigran dari Afrika itu kebanyakan bekerja sebagai petani untuk yang laki-laki dan sebagai pembantu rumah tangga bagi kaum perempuan.
Imigran dari Afrika terus mendiami Argentina sampai awal abad 19 masehi. Lalu, mereka menyebar ke berbagai wilayah seperti Santiago Del Estero, Catamarca, Salta, dan Córdoba. Hingga awal abad 19, populasi rakyat Afro-Argentina cukup tinggi, bahkan mencapai 50 % di sejumlah daerah. Namun sejak masa itulah terjadi penurunan drastis jumlah masyarakat kulit hitam di negeri Diego Maradona.
Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab menurunnya jumlah orang-orang kulit gelap itu.
Diantaranya adalah perang kemerdekaan Argentina yang terjadi pada tahun 1810 hingga 1818, dimana banyak warga Afro-Argentina laki-laki yang karena diiming-imingi akan dibebaskan dari status budak, ikut berpartisipasi jadi tentara dalam perang tersebut.
Karena jumlahnya yang sangat mendominasi, jumlah korban terbanyak dari perang tersebut juga dari warga kulit hitam. Sementara warga wanita berkulit hitam banyak yang melakukan pernikahan antar ras dengan warga non-kulit hitam.
Faktor berikutnya adalah karena terjadi wabah kolera tahun 1861–1864 yang diikuti oleh wabah penyakit kuning 1871 dimana banyak masyarakat Afro-Argentina yang tersisa terkena wabah ini, akibat banyak diantara mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Sementara mereka yang dapat bertahan hidup memilih bermigrasi ke Brasil dan Uruguay.
Lalu ada perang Paraguay (1864–1870) dimana kasus pada Perang Kemerdekaan Argentina kembali terulang. Kebijakan konstitusi negara bagian Argentina di tahun 1853 mendorong imigrasi besar-besaran di tahun 1880–1950 namun masyarakat asal Eropa menjadi prioritas utama plus melarang ekspor budak.
Recall that the war, fought between 1864-1870 pitted Argentina, Brazil and Uruguay against Paraguay. It remains the most important intl conflict on the region. We look at comparable areas: territories lost by Paraguay, as well as neighboring districts in Argentina and Brazil. pic.twitter.com/yuVTuNI364
— Felipe Valencia C. (@felipev84) May 14, 2020
Dari sejumlah fakta itulah, muncul opini bahwa ‘bangsa kulit hitam sengaja dihapus dari Argentina secara sistematis’. Seiring berjalannya waktu, dengan semakin menyusutnya orang berkulit gelap di Argentina, datanglah orang-orang berkulit putih dari eropa. Gelombang besar kepindahan orang eropa ke Argentina ini terjadi pada akhir abad 19 hingga awal abad 21. Alasan umum mereka pindah karena kondisi eropa lagi carut marut akibat perang dunia pertama dan kedua.
Hingga sekarang, orang-orang berkulit putih lebih mendominasi di Argentina. Sementara orang berkulit hitam atau keturunan Afrika di Argentina jumlahnya sangat sedikit. Mereka secara total hanya ada 0,37% pada tahun 2010. Maka dari itu tidak mengherankan bila di skuad timnas Argentina diisi oleh pemain-pemain berkulit putih.
Sebenarnya, bukan berarti tidak ada sama sekali pemain kulit hitam di timnas Argentina. Hanya saja itu sudah sangat lama sekali, tepatnya pada 1925. Dia adalah Alejandro de Los Santos yang turut membantu Argentina menjuarai copa America di tahun tersebut.
Our latest BAME historic player profile in the official @LCFC matchday programme tonight will feature the Argentinian footballer, Alejandro De Los Santos – the first black player to play for Argentina. The article is written by @ICSHC PhD student Mark Orton @MarkAOrton. #LEIBHA pic.twitter.com/8xUcXxjvjv
— ICSHC (@ICSHC) December 13, 2020
Sepanjang karirnya, ia hanya mengemas 5 caps bersama timnas Argentina dan tanpa mencetak satu gol pun.
Sumber referensi : Instagram, Kompasiana, Iluminasi
