Sisi Burik dan Mulus nya Ed Woodward

  • Whatsapp
Sisi Burik dan Mulus nya Ed Woodward
Sisi Burik dan Mulus nya Ed Woodward

We’re just human. We have dark and light sides inside us. Tanpa disadari memang selalu ada sisi gelap dan terang dalam diri setiap manusia. Memiliki nama lengkap Edward Gareth Woodward, pria kelahiran Chelmsford ini dikaruniai otak yang lebih brilian dari manusia pada umumnya. Pada masa sekolahnya, Ed mendapatkan beasiswa di salah satu sekolah sultan yang biayanya bikin jantung hati sobat misqueen menggebu-gebu, sekolah itu ada di pinggiran kota Essex. Jaga-jaga jika kalian lupa, Frank Lampard di pemilik IQ tinggi juga alumni sekolah tersebut, dan Ed Woodward menempuh pendidikan disana dengan beasiswa berkat kecerdasannya.

Setelah lulus dari Brentwood, sekolah elitnya di Essex, Ed kembali melanjutkan pendidikannya di kampus yang masuk ke dalam 50 kampus terbaik dunia, Universitas Bristol, bergabung dengan Fakultas Fisika. Please kalian anak yang masuk jurusan IPA cuma karena gengsi dan gaya-gayaan harap sadar diri.

Bacaan Lainnya

Kesempatan magang di PricewaterhouseCoopers (PWC) sebagai akunting menjadi langkah awal dirinya terjun di dunia bisnis. Meninggalkan dunia fisika beserta para elektromagnetik yang bukan tidak mungkin membawanya menjadi ilmuwan hebat penerus Albert Einstein di masa depan.

Ed Woodward mengambil langkah besar dengan menjadi bankir di JP Morgan, bank yang paling berpengaruh di dunia, yang namanya sempat ramai diperbincangkan beberapa minggu kemarin karena mau mendanai European Super League (ESL). Ed bekerja sebagai bankir di JP Morgan sejak tahun 1999. Jabatannya di JP Morgan masuk dalam divisi merger dan akuisisi internasional, salah satu alasan mengapa dirinya dipertemukan semesta dengan orang paling dibenci fans United, Glazer Family.

Dari situ pula Ed dan Glazer menjalin kontak yang cukup intens. Tahun 2005 Glazer dan Ed Woodward mengambil sebuah keputusan kontroversial, setidaknya untuk saat ini saat fans MU sadar, Glazer mengambil alih mayoritas saham United dimana Ed Woodward menjadi salah satu tim suksesnya. Jika kalian berpikir Glazer Family mengakuisisi MU dengan cara yang sama seperti Sheikh Mansour di Manchester City atau Nasser Al-Khelaifi di Paris Saint-Germain, siap-siap kecewa. Karena Glazer bukanlah seorang sultan dermawan seperti dua nama yang saya sebutkan diatas.

Glazer mengambil alih United dengan menggelontorkan uang 790 juta poundsterling yang ia dapatkan dari bank, dimana United dijadikan jaminan untuk mencicil hutang tersebut setiap musimnya. Dananya dia ambil dari bank mana? JP Morgan dengan Ed Woodward yang membantu untuk mengurusnya. Karena hanya JP Morgan yang mau mendanai proyek itu setelah beberapa bank menolak rencana Glazer karena dianggap terlalu beresiko. Keputusan yang menguntungkan bagi mereka namun membagongkan bagi para penggemar. Hal ini pula yang akhirnya mendorong pemikiran penggemar untuk sulit percaya jika deretan para pengusaha mendirikan ESL demi tujuan mulia memberantas korupsi di tubuh UEFA/FIFA, mau se-husnudzon bagaimanapun pasti sulit untuk percaya mereka sebaik hati itu.

Sisi Mulus dan Kenyalnya si Ed Wordward

Kembali ke Ed Woodward yang akhirnya mendapatkan jabatan sebagai CEO Manchester United pada tahun 2013, setelah sebelumnya dari 2007 mengurus operasional iklan di MU. Meski United mengalami penurunan performa diatas lapangan, namun di sisi finansial tidak bisa dibilang menyedihkan. Di tangan Ed Woodward United menjelma menjadi klub yang memiliki finansial terkuat, bukan finansial yang bersumber kucuran dana dari pemilik seperti PSG dan City, namun berasal dari sponsor yang terus berdatangan dan sukarela mempercayakan uangnya kepada United, hal itu tentu tak lepas dari keahlian Ed Woodward dalam bernegosiasi. Di tahun pandemi seperti saat ini pula, dimana klub lain mengalami kolaps dan kelimpungan memotong gaji pemain dan staff, MU masih tergolong aman terkendali berkat Ed Woodward.

Skill negosiasi Ed Woodward yang paling terlihat adalah saat perekrutan Bruno Fernandes. Pihak Sporting Lisbon yang meminta dana kontan hampir mencapai €80 juta, namun berkat kejeniusan Ed Woodward, United hanya membayar cash sebesar 55 juta euro, dengan tambahan bonus yang nantinya akan diberikan menyusul sesuai dengan performa sang pemain. Jika kalian bertanya bagaimana rincian bonusnya, ringkasannya begini kawan-kawan.

  1. Manchester United akan memberikan bonus tambahan kepada Sporting Lisbon sebesar 5 juta euro setiap kali Bruno Fernandes memenangkan PFA (penghargaan musiman pemain terbaik Premier League) atau masuk 3 besar nominasi Ballon D’OR, bonus itu berlaku maksimal 3 kali pencapaian.
  2. Manchester United akan memberikan bonus 1 juta euro dalam setiap 5 kali Bruno turun sebagai starter. Bonus berlaku sampai di 25 kali starter pertama.
  3. Manchester United akan memberikan bonus sebesar 5 juta euro kepada Sporting jika Setan Merah berhasil melaju ke Champions League 5 tahun terhitung sejak Bruno menandatangani kontrak. Namun bonus ini tidak memiliki kelipatan, artinya hanya berlaku satu kali dalam lima tahun itu.

Ketiga kesepakatan tersebut telah disetujui oleh kedua pihak, dimana United menjadi pihak yang paling diuntungkan. Poin satu dan dua sudah dari kemarin-kemarin masuk ke kantong Sporting Lisbon karena Bruno telah menjadi pilar utama klub dan United masuk ke UCL, meskipun harus kembali terlempar ke Liga Malam Jumat juga. Dan ketiga poin tersebut berhasil Bruno capai, total uang cash dan bonus yang digelontorkan United terkait transfer Bruno hanya berkisar 80 juta euro. 80 juta euro untuk pemain yang berhasil menjadi pilar klub, membawa bermain di UCL, dan menjadi PFA/nominasi 3 besar Ballon D’OR. Nilai yang cukup murah, dibandingkan United mengambil resiko dengan membayar kontan 80 juta euro di awal transfer. Semua karena siapa? Ed Woodward.

Sisi Burik dan Boroknya Ed Wordward

Sayangnya keajaiban transfer seperti Bruno tidak sebanding dengan betapa nyelenehnya Ed Woodward di masa lalu ketika mendatangkan pemain. Asal si pemain laku di pasaran sebagai model jualan jersey, pasti tidak ragu akan ia angkut dan ia pertahankan di klub. Hal itu pula yang menjadikan dirinya sering berselisih dengan manager klub. Moyes maunya Kroos yang datang Fellaini, Van Gaal maunya Ramos yang datang Blind, Mourinho maunya Perisic yang datang Fred. Maka tidak heran United mengalami inkonsistensi yang cukup lama, karena pemain mereka bukan kebutuhan utama sang manager.

Meskipun mantan seorang akunting dan bankir, yang harusnya lebih bijak mengatur keuangan, nyatanya tak membuat Ed Woodward sedikit pintar dalam urusan pemberian gaji pemain. Terlalu ada jurang pemisah yang cukup dalam di struktur gaji pemain Manchester United. Alexis Sanchez, yang didatangkan karena panic buying diberikan gaji mencapai £500.000 per minggu, padahal saat didatangkan usianya hampir 30 tahun, dimana normalnya pemain seusia Sanchez tidak akan mendapatkan gaji setinggi itu karena sudah masuk usia rentan cedera.

Hal ini juga yang menjadikan kondisi ruang ganti menjadi panas dan kurang kondusif, beberapa pemain yang tampil reguler menganggap jika mereka pantas mendapatkan tambahan gaji. Imbasnya? United kehilangan Ander Herrera, salah satu pemain utama di klub yang memilih hengkang ke PSG secara gratis karena manajemen menolak untuk menambahkan gajinya. Itu Ed masih tergolong beruntung karena beberapa pemain bergaji rendah namun tampil reguler seperti Scott McTominay tidak melakukan protes terkait kenaikan gaji, faktor karena dia udah jadi anak sultan sejak lahir.

Dua sisi baik dan buruk dalam diri Ed Woodward pula yang akhirnya menimbulkan dua kubu berbeda pendapat saat dirinya resmi mengundurkan diri dari kursi CEO United akhir tahun nanti, setelah 8 tahun menjabat dan membawa dampak baik juga buruk di klub. Sebuah angin segar karena harapannya United bisa menemukan sosok petinggi klub yang mampu mendatangkan pemain sesuai kebutuhan manager. Tapi sebuah mimpi buruk juga karena klub harus kehilangan mesin uang mereka, mesin uang yang pada 2019 lalu membawa MU memiliki pemasukan setinggi 627 juta poundsterling padahal dalam kondisi amburadul dan puasa gelar. Dalam pernyataan resminya di situs resmi klub, Ed Woodward mengucapkan salam perpisahan terkait keputusannya meninggalkan United.

“Gue ngrasa bangga banget bisa mengabdi di United dan menurut gue itu adalah sebuah kehormatan bisa bekerja buat klub terbesar di dunia selama 16 tahun terakhir ini. Keadaan klub udah ada di kondisi yang baik saat ini dan nantinya. Jujur ini berat banget buat gue ninggalin United akhir tahun nanti. Gue bakal selalu mengenang memori gue selama di Old Trafford, kenangan waktu kita juara Europa League, FA Cup, dan Carabao Cup. Gue bangga bisa meregenerasi budaya klub dan mengembalikan permainan United kek sebelumnya.”

“Gue mau ngucapin terimakasih sebanyak-banyaknya kepada para penggemar buat dukungan mereka pas kita lagi di fase baik dan buruk. Gue tahu kok fase buruk itu mungkin tantangan yang berat buat kalian para penggemar, tapi support kalian itu luar biasa dan nggak gue ragukan lagi. Akhirnya waktu itu datang, gue seneng bisa berkesempatan kerjasama bareng orang-orang hebat, berbakat, dan pekerja keras di klub.”

Terimakasih, Ed Woodward.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *