Ralf Rangnick, ‘Bapak Gegenpressing’ Sumber Inspirasi Jurgen Klopp

  • Whatsapp

Jurgen Klopp adalah salah satu pelatih tersukses saat ini. Sepanjang kariernya, Klopp selalu mampu membawa timnya meraih prestasi. Tercatat, ia telah memenangkan 5 trofi bersama Borussia Dortmund dengan rincian 2 trofi Bundesliga, 2 trofi DFL-Supercup, dan 1 trofi DFB-Pokal.

Klopp kembali sukses meneruskan raihan prestasinya di klubnya saat ini, Liverpool. Menangani The Reds sejak 2015 silam, ia berhasil membawa Liverpool juara di 4 kompetisi bergengsi, yakni Premier League, Liga Champions, UEFA Super Cup, dan Piala Dunia Antarklub.

Salah satu kunci dari kesuksesan Jurgen Klopp adalah taktik gegenpressing yang ia terapkan. Klopp boleh saja jadi pelatih yang mempopulerkan ‘gegenpressing’. Namun, pelatih Jerman berusia 53 tahun itu bukanlah orang yang menemukan taktik tersebut. Adalah Ralf Rangnick, sang inovator yang menemukannya dan yang pertama kali memperkenalkan ‘gegenpressing’.

Awalnya, banyak yang tak tahu jika ‘bapak gegenpressing’ adalah Ralf Rangnick. Bahkan, pada awal perkenalannya, konsep gegenpressing tak langsung diterima. Namun, seiring berjalannya waktu, para penikmat sepak bola sudah paham dengan makin banyaknya pelatih top dunia yang juga menerapkan gegenpressing.

Selain Klopp, Thomas Tuchel dan Julian Nagelsmann adalah pelatih top dunia yang juga mengaplikasikan gegenpressing pada timnya. Selain mereka, hampir seluruh pelatih yang pernah menangani New York Red Bulls, RB Salzburg, dan RB Leipzig juga memakai gegenpressing.

Jadi, siapa sebenarnya Ralf Rangnick ini?

Secara prestasi, Jurgen Klopp jelas lebih mentereng. Sepanjang kariernya, Ralf Rangnick baru memenangi 7 trofi, tapi hanya 4 trofi yang terhitung prestisius. Rangnick meraih Piala Intertoto 2000 bersama Stuttgart serta menjuarai DFL-Ligapokal 2005, DFL-Supercup 2011, dan DFB-Pokal 2011 bersama Schalke.

Akan tetapi, justru kesuksesan Rangnick kala menangani Hoffenheim yang membuat nama dan taktik sepak bolanya melambung. Rangnick ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim pada 2007 silam. Saat itu, Hoffenheim masih berkompetisi di divisi ketiga.

Hebatnya, dengan kendali penuh Rangnick dan bermain dengan sistem gegenpressing yang atraktif, Hoffenheim selalu berhasil promosi di tiap tahunnya hingga mentas di Bundesliga pada musim 2008/2009. Di musim pertamanya, Hoffenheim secara mengejutkan mampu finish di posisi 7.

Selain memberi perubahan dalam gaya bermain, Rangnick juga mengatur urusan teknis dan non-teknis klub, termasuk kebijakan transfer klub dan meremajakan skuad Hoffenheim. Kesuksesannya bersama Hoffenheim itulah yang membuat Red Bull kepincut untuk memakai jasa Rangnick. Ia akhirnya direkrut Red Bull pada 2012 lalu sebagai sporting director untuk RB Salzburg dan RB Leipzig.

Hal pertama yang dilakukan Rangnick adalah membentuk konsep dan menanamkan DNA ke dalam klub sesuai gaya main yang ia inginkan. Dasar permainan yang ia tanamkan di dua klub Red Bull itu tentu saja gegenpressing.

“Gaya bermain harus sangat dikenali sedemikian rupa sehingga, bahkan di hari yang buruk, Anda masih bisa mengenali jenis sepak bola yang ingin dimainkan tim. Dengan melakukan itu, Anda menciptakan identitas di seluruh klub. Tidak hanya dengan para pemain, tetapi juga staf pelatih dan bahkan para suporter.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.

Oleh karena itulah, klub yang berafiliasi dengan Red Bull punya kemiripan gaya permainan. Wajar, sebab semua hal itu diatur sedemikian rupa oleh Ralf Rangnick. Konsep dan identitas yang Rangnick tanamkan itu terbukti sukses besar.

Yang paling terlihat tentu kesuksesan RB Leipzig. Rangnick datang 3 tahun setelah Leipzig terbentuk dan masih berada di divisi 4 liga Jerman. Perubahan perlahan dilakukan Rangnick, termasuk mengganti pelatih yang sevisi dengannya. Hasilnya, Leipzig hanya butuh 4 tahun untuk promosi ke Bundesliga.

Lalu, bagaimana awal mula Rangnick mengembangkan gegenpressing?

Rangnick bukanlah pelatih baru di sepak bola Jerman. Ia sudah terjun ke dunia kepelatihan di tahun 1983 dengan menjadi pemain sekaligus pelatih untuk klub kampung halamannya, FC Viktoria Backnang. Di klub divisi 6 itulah Rangncik mulai mengembangkan filosofi yang kini dikenal sebagai gegenpressing.

Pada Februari 1983, tim asuhan Rangnick bertemu dengan Dynamo Kiev asuhan Valeriy Lobanovskyi saat keduanya berjumpa di pertandingan persahabatan. Perbedaan level jelas menjadikan tim Rangnick kalah total, namun ia belajar satu hal. Para pemain Dynamo Kiev tak henti-hentinya melakukan pressing sepanjang laga.

“Saya pernah bermain melawan tim-tim top sebelumnya, kami selalu kalah melawan mereka, tentu saja, tetapi mereka setidaknya memberi Anda waktu untuk bernafas. Kiev adalah tim pertama yang pernah saya lawan yang memberi tekanan secara sistematis. Itu adalah pencerahan sepakbola saya. Saya mengerti bahwa ada cara bermain yang berbeda.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari bundesliga.com

Valeriy Lobanovskyi bukanlah satu-satunya inspirasi Ralf Rangnick. Selain pelatih legendaris Ukraina itu, gaya permainan Rangnick juga dipengaruhi oleh Arrigo Sacchi. Dari Arrigo Sacchi, Rangnick mengambil salah satu kunci permainan pelatih legendaris AC Milan itu, yaitu sistem zonal marking.

Bersama kawannya, Helmut Groß, Rangnick kemudian menulis manual pelatihannya sendiri dan mulai mengembangkan taktik atraktif yang kini kita kenal sebagai gegenpressing. Rangnick baru benar-benar mengungkap taktik itu ke publik di tahun 1998 setelah ia sukses membawa SSV Ulm promosi ke divisi 2.

Lalu, seperti apa sebenarnya gegenpressing yang dikembangkan Ralf Rangnick itu?

“Gaya yang kami berdua (Rangnick dan Helmut Gross) suka adalah jenis sepak bola yang sangat proaktif. Ini adalah sepak bola dengan tekanan tinggi dan tekanan balik dengan serangan balik yang cepat dan proaktif.”, kata Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.

Gegenpressing adalah frasa dalam bahasa Jerman, atau dalam bahasa Inggrisnya dikenal dengan istilah counter-pressing. Alih-alih membentuk ulang formasi atau kembali ke garis pertahanan, pemain akan mencoba memenangkan kembali penguasaan bola setelah sebelumnya kehilangan bola. Dengan begitu, tim bisa masuk kembali ke fase menyerang.

Itulah ide sederhana dari gegenpressing atau counter-pressing. Dalam pengaplikasiannya, pemain tak serta merta langsung mengerubungi pemain lawan yang membawa bola, tetapi juga menjaga opsi umpan di sekitar lawan dengan tetap memberi tekanan secara intens dan sistematis.

Dalam pakem gegenpressing yang dikembangkan Ralf Rangnick, ia memakai formasi dasar 4-4-2 double six atau 4-2-2-2. Memakai quartet 4 bek dan menempatkan dua gelandang bertahan di lini tengah. Itulah konsep gegenpressing ala Ralf Rangnick yang menginspirasi banyak pelatih top dunia saat ini, khususnya mereka yang pernah bekerja di bawah bimbingannya di RB Salzburg dan RB Leipzig.

Roger Schmidt misalnya. Pelatih PSV itu pernah ditunjuk Rangnick sebagai juru taktik RB Salzburg dari tahun 2012-2014. Pengaruh Rangnick terbukti masih ia bawa di PSV. Schmidt memakai formasi 4-4-2 double 6 di klub yang ia latih.

Begitu juga dengan pelatih Southampton saat ini, Ralph Hasenhuttl. Di bawah asuhan pelatih yang pernah membawa RB Leipzig finish runner-up di Bundesliga 2016/2017 itu, Southampton tercatat sering memakai formasi 4-4-2 double 6.

Sementara itu, meski Julian Nagelsmann lebih sering memakai formasi 3-4-2-1, tetapi ia masih menempatkan 2 gelandang bertahan di lini tengah timnya. Skema berbeda diterapkan Jurgen Klopp yang cenderung memakai formasi 4-3-3, tetapi Klopp sendiri mengakui bahwa Rangnick adalah orang yang memberi pengaruh besar kedalam taktiknya.

“Sudah menjadi rahasia umum bahwa kami (Rangnick dan Klopp) memiliki gagasan yang sangat mirip tentang bagaimana sepak bola harus dimainkan.Tim Hoffenheim saya bermain melawan Borussia Dortmund milik Jurgen pada tahun 2008. Kami mengalahkan mereka 4-1 dan Jurgen mengatakan seminggu kemudian, sebelum pertandingan berikutnya, bahwa gaya kami persis seperti yang dia inginkan untuk bermain bersama Dortmund.”, kata Rangnick mengingat ucapan Klopp kepada dirinya, dikutip dari coachesvoice.com.

Dengan inovasinya yang begitu visioner, wajar bila Rangncik disebut sebagai manajer paling berpengaruh di Jerman saat ini. Secara terang-terangan, Klopp juga menyebut Rangnick sebagai salah satu pelatih terbaik Jerman saat ini.

Rangnick tak hanya merevolusi taktik, tapi juga manajemen klub. Selain mengatur filosofi klub, saat bekerja sebagai sporting director untuk Red Bull, Rangnick juga mengatur kebijakan transfer. Dialah otak dibalik skuad muda RB Salzburg dan RB Leipzig yang siap dijual dengan harga mahal.

“Kami tidak hanya perlu memusatkan perhatian pada memenangkan gelar, tetapi juga pada pengembangan pemain. Dengan mencari dan mengembangkan pemain muda, kita harus menjual mereka untuk mendapatkan keuntungan besar. Saya ingin menjual pemain dengan harga ganda dalam dua tahun.”, ujar Ralf Rangnick dikutip dari coachesvoice.com.

Berkat rentetan jasa dan kesuksesannya, kini nama Ralf Rangnick banyak diminati klub-klub besar Eropa. Itu terjadi setelah ia mundur dari tim Red Bull pada 2020 lalu. Pelatih yang kini berusia 62 tahun itu diisukan sangat diminati oleh Tottenham Hotspur.

Spurs tengah mencari pelatih anyar untuk musim depan usai memecat Jose Mourinho beberapa waktu lalu. Pemilik Spurs, Daniel Levy disebut sangat mengangumi Rangnick. Rekam jejak Rangnick yang mampu meremajakan tim dengan skuad muda dan memberi keuntungan besar lewat penjualan pemain dinilai sesuai dengan profil Spurs saat ini. Namun, Spurs mesti bersaing dengan banyak tim yang juga meminati jasa Rangnick.

Selain, Spurs, AC Milan bahkan sempat menjalin kontak dengan agen Rangnick. Rangnick sendiri juga menyatakan terbuka untuk menerima tawaran dari timnas Jerman yang bakal ditinggal Joachim Low musim depan. Selain mereka, Eintracht Frankfurt dan Schalke juga dikabarkan tertarik menjadikan Rangnick sebagai sporting director mereka.

Dengan pengalaman dan pengaruhnya yang besar, serta filosofi permainannya yang modern dan inovatif, wajar bila banyak pihak yang menginginkan jasa Ralf Rangnick. Menarik untuk disimak bagaimana kiprah selanjutnya dari Ralf Rangncik di masa depan.

***
Sumber Referensi: ESPN, Givemesport, Bundesliga, The Coaches’ Voice 1, The Coaches’ Voice 2, Bulinews.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *