Class of ’92: Generasi Emas Pengukir Sejarah Manchester United

  • Whatsapp
Class of '92: Generasi Emas Pengukir Sejarah Manchester United
Class of '92: Generasi Emas Pengukir Sejarah Manchester United

Cerita tentang Class of ‘92 menjadi salah satu yang paling menarik dalam sejarah sepakbola. Sekumpulan anak muda dengan semangat luar biasa berhasil membuat semua yang menyaksikan terbelalak.

Class of ‘92 muncul dari sekumpulan anak muda yang kebanyakan lulus dari akademi Manchester United pada tahun 92. Sekumpulan pemain muda berbakat tersebut muncul dari ide Sir Alex Ferguson yang ingin memajukan klub melalui akademi. Seperti diketahui, pada saat itu MU memang tengah mengalami masa paceklik. Mereka yang terakhir kali merajai Eropa pada tahun 1968 beberapa kali terombang-ambing. Mulai dari turun kasta sampai terus dijadikan bulan-bulanan Liverpool, telah menjadi makanan sehari-hari United, ditengah pencarian jati diri yang sebenarnya.

Bacaan Lainnya

Ketika itu, pada tahun 1986, Sir Alex Ferguson ditunjuk sebagai manajer klub. Dalam menjalankan misinya, dia tidak berjalan sendiri. Ada nama-nama hebat lainnya seperti Eric Harrison, Brian Kidd, dan Nobby Stiles, yang turut mendampinginya. Selama kurang lebih lima tahun, mereka akhirnya sukses kumpulkan pemain-pemain dengan potensi luar biasa.

David Beckham, Nicky Butt, Ryan Giggs, Gary Neville, Phil Neville, dan Paul Scholes, yang menjadi nama tenar dari generasi emas tersebut direkrut dari berbagai wilayah berbeda. Ryan Giggs, Paul Scholes, Nicky Butt, Gary Neville diambil dari wilayah Manchester. Sementara David Beckham ditemukan di kawasan ibukota London.

Ketika dikumpulkan menjadi satu kesatuan, rata-rata usia pemain tersebut adalah sekitar 15 sampai 16 tahun. Meski tergolong masih sangat muda, mereka sudah dididik menjadi tim yang sangat solid dan mampu menguasai permainan. Hal itu terbukti ketika mereka dihadapkan dengan para pemain senior. Dari segi permainan, para pemain senior terlihat kewalahan dengan umpan-umpan yang ditunjukkan para pemain tersebut.

Dari situ, kabar tentang kehebatan para pemain muda tersebut langsung menyebar luas ke permukaan. Banyak penggemar yang hadir dalam pertandingan anak-anak itu. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang mulai menjadi idola para penggemar.

Dikatakan bahwa ketika itu banyak penggemar yang terkesan dengan permainan Paul Scholes. Pemain dengan kekuatan kaki luar biasa itu memang digambarkan sebagai pemain yang selalu tampil prima dan sering mencetak gol-gol spektakuler.

“Ketika itu banyak penonton yang hanya ingin menyaksikan mereka di Sabtu pagi. Tim ini punya Beckham, Giggs, Neville bersaudara, Butt, dan Thornley, namun yang menjadi idola adalah Paul Scholes. Permainannya saat itu enak dilihat dan kerap mencetak gol-gol fantastis.” ujar Eric Harrison, selaku manajer tim akademi MU.

Lalu, puncak dari kehebatan mereka tertuang pada kompetisi FA Youth Cup 1991/92. Turnamen itu diikuti oleh pemain-pemain berusia dibawah 18 tahun. MU dengan para pemain berbakatnya pun berhasil melewati hadangan demi hadangan, termasuk melibas Manchester City di kandangnya dengan skor 3-1.

Di partai semifinal, mereka berhasil mengalahkan Tottenham Hotspurs dengan agregat 5-1, sebelum akhirnya bertemu dengan Crystal Palace di partai puncak.

Dimainkan dalam dua pertandingan, United berhasil melibas keduanya dengan skor masing-masing 3-1 dan 3-2. Dengan agregat 6-3, United berhasil meraih trofi pertama mereka setelah 28 tahun lamanya di ajang tersebut. Selain itu, gelar tersebut sekaligus menjadi penanda dari sebuah era emas yang akan dibangun tim Setan Merah.

Setelah melalui berbagai fase yang begitu luar biasa, sampailah pada masa ketika para pemain muda ini tampil di level tertinggi. Giggs memulai debutnya di tim utama pada tahun 1991, sementara Beckham, Butt dan Gary Neville mengikuti pada tahun 1992. Debut senior Scholes terjadi pada tahun 1994, untuk kemudian diikuti oleh Phil Neville pada awal tahun 1995.

Fergie paham betul bila para pemain tersebut merupakan aset baginya.Oleh karena itu, dia benar-benar memperhatikannya dengan baik. Pada musim 1994/95, Fergie mengatakan bila class of ‘92 telah menyelamatkan namanya, di tengah krisis yang dialami tim utama, seperti Eric Cantona yang dihukum selama delapan bulan, sampai Mark Hughes yang mulai sering diterpa cedera.

Dari situ, Fergie benar-benar memberi kepercayaan penuh pada mereka. Sang pelatih merasa bahagia karena keputusannya terbilang tepat. Dia menilai kalau para pemain mudanya sudah mulai matang dan terus berkembang.

Pada musim 1995/96, Fergie menjual berbagai pemain senior seperti Paul Ince, Mark Hughes, dan Andrei Kanchelskis. Namun bukannya mengganti dengan membeli pemain bintang lainnya, Fergie dengan sengaja terus memasang pasukan mudanya untuk membawa nama United di kancah sepakbola inggris.

Meski rencananya itu sempat tidak berjalan mulus, perlahan tapi pasti, class of ‘92 mulai menunjukkan kelasnya. Keyakinan Fergie pada akhirnya menuai hasilnya. Kepercayaannya kepada para pemain muda sukses menelurkan gelar Liga Primer Inggris dan juga Piala FA.

Di musim tersebut, mayoritas lulusan kelas 92 mampu tunjukkan eksistensinya. Gary dan Phil Neville menjelma sebagai bek sayap berkualitas. Paul Scholes berkembang menjadi sosok gelandang luar biasa. Nama Nicky Butt terus melambung tinggi dengan kreativitasnya. Sementara Ryan Giggs dan David Beckham tumbuh menjadi pemain populer dengan kualitas tinggi.

Prestasi Manchester United semakin tak terbendung. Satu yang paling diingat adalah tepat pada musim 1998/99, ketika para penggawa Class of ‘92 sukses menjadi tulang punggung dari era kejayaan MU yang berhasil meraih tiga gelar dalam satu musim kompetisi.

Salah satu fakta yang cukup menarik dari generasi emas class of ‘92 adalah, mereka sempat dibayar dengan gaji murah oleh manajer mereka, Sir Alex Ferguson. Hal tersebut diungkap oleh Keith Gillespie, yang juga merupakan mantan lulusan akademi klub. Gillespie mengatakan kalau gaji murah yang diberikan kepada para pemain itu memang menjadi permintaan Fergie.

Pelatih asal Skotlandia itu mengatakan bila dia memang sengaja menerapkan hal tersebut untuk membuat para pemain agar tetap membumi. Selain itu, Fergie juga menginginkan para pemain muda untuk meningkatkan kualitasnya bila ingin bayaran yang lebih besar lagi. Dikabarkan, para pemain muda tersebut diberi bayaran 230 poundsterling atau setara dengan empat juta rupiah per minggunya.

Karena menjadi generasi yang mampu menginspirasi banyak pihak, Class of ‘92 lalu ditampilkan dalam sebuah film dengan judul yang sama. Film ini dirilis pada Desember 2013 dan menghabiskan anggaran sekitar 900 ribu pounds atau setara 17 miliar rupiah.

 

Sumber referensi: panditfootball, goal, setanmerah

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *