Rafael van Der Vaart dan Kisah Cintanya Dengan Tottenham Hotspurs

  • Whatsapp
Rafael van Der Vaart dan Kisah Cintanya Dengan Tottenham Hotspurs
Rafael van Der Vaart dan Kisah Cintanya Dengan Tottenham Hotspurs.

“Seharusnya aku tidak meninggalkan Tottenham pada saat itu. Akan tetapi, aku merasa bila pelatih Andre Villas Boas tidaklah cocok untukku,”

Ungkapan tersebut keluar dari mulut Rafael van Der Vaart pada saat diwawancarai oleh FourFourTwo pada tahun 2018 silam. Terlepas dari ketangguhan Spurs saat ini, klub yang terletak di wilayah ibukota itu pernah mengukir cerita indah bersama dengan pemain asal Belanda bernama Rafael van Der Vaart.

Bacaan Lainnya

Rafael van Der Vaart ketika itu langsung menjadi idola, sejak pertama kali didatangkan ke White Hart Lane. Dia berhasil mengambil hati para penggemar dengan sebuah permainan indah. Bahkan, tak jarang bola yang bersarang di gawang lawan berasal dari kaki-kaki lincahnya.

Van Der Vaart sendiri muncul di klub asal Belanda, Ajax Amsterdam. Ketika itu, dia memulai debut pada usia 17 tahun setelah berhasil menunjukkan performa yang begitu luar biasa. Dia disebut sebagai pemain paling bertalenta oleh salah satu majalah sepakbola di Italia, dan memang, pemain yang kini berusia 38 tahun itu langsung menunjukkan performa yang amat mengagumkan bersama klub berjuluk Die Amsterdammers.

Rafael van Der Vaart bertahan selama kurang lebih enam musim di Ajax sebelum akhirnya muncul sebagai pahlawan Hamburg SV dengan persembahan Piala Intertoto. Penampilan apiknya lalu tak luput dari pandangan Real Madrid, dimana disana, dia langsung mendapatkan peran penting dalam setiap pertandingan yang dijalani Los Blancos.

Sayangnya, ketika Jose Mourinho datang dan duduk di kursi panas Estadio Santiago Bernabeu, namanya tiba-tiba tersingkir. Secara gamblang, Mou mengatakan bahwa dia lebih menyukai Mesut Ozil untuk mengambil peran sebagai pemain nomor 10 di skuat andalannya. Praktis, pelatih asal Portugal itu mengusir pemain yang berhasil mencetak 12 gol untuk tim berjuluk Los Blancos.

Ketika tahu bahwa nasibnya akan segera berakhir di Spanyol, van Der Vaart langsung mencari cara untuk menyambung hidup. Akhirnya, saat agennya dihubungi oleh salah satu perwakilan dari Tottenham Hotspurs, van Der Vaart langsung menerimanya dengan senang hati. Biaya senilai 8 juta pounds atau setara 160 miliar rupiah berhasil membuatnya hijrah ke London.

Ditengah nasibnya yang dibuang oleh Real Madrid, van Der Vaart malah mendapat sambutan luar biasa dari para penggemar Spurs. Dia merasa begitu senang karena tidak menyangka bila orang-orang disana akan sangat antusias dengan kedatangannya.

Bermain untuk Spurs, van Der Vaart langsung dibuat kagum oleh sang pelatih Harry Redknapp. Dia mengatakan bila pria itu memiliki cara melatih yang sangat luar biasa. Bahkan, dalam sebuah kesempatan, van Der Vaart tak segan untuk menyebut Redknapp sebagai seorang pria ajaib sekaligus sosok ayah baginya.

Dengan sebuah kepercayaan yang diberi oleh sang pelatih, van Der Vaart membayarnya dengan begitu elegan. Dia menunjukkan sihirnya di hadapan banyak orang dan secara spontan mendapat banyak pujian.

Tiga gol dalam empat pertandingan Liga Primer Inggris merupakan catatan brilian yang diberikan van Der Vaart kepada klub tercinta. Lebih lanjut, dia berhasil mempersembahkan satu gol dan satu assist untuk Spurs di kompetisi Liga Champions Eropa. Dengan begitu, tidak sulit bagi van Der Vaart untuk mendapat berbagai komentar positif dari para penggemar yang sebelumnya memang sudah menaruh harapan besar di pundaknya.

Meski karirnya di Spurs sempat diterpa cedera, Rafael van Der Vaart terus berjuang hingga pada akhirnya mampu kembali merumput dengan yang lainnya. Sebuah laga Boxing Day melawan Aston Villa menjadikannya sebagai sosok pahlawan. Dia berhasil mencetak gol kedua untuk Spurs dalam kemenangan 1-2 bagi tim yang dibelanya.

Kemudian pada April 2011, van Der Vaart kembali tampil sebagai bintang setelah berhasil menyelamatkan Spurs dari kekalahan dalam laga panas melawan rival sekota, Arsenal. Pria Belanda mampu mencetak sebanyak dua gol sekaligus menutup laga menjadi 3-3.

Melalui kombinasi apik bersama dengan Luka Modric, van Der Vaart benar-benar menjadi pemain yang sangat lengkap. Hebatnya, dia berhasil menutup musim pertamanya dengan Spurs dengan torehan 13 gol, dimana itu menjadi yang terbanyak di klub sepanjang musim. Tak ketinggalan pula torehan sembilan assist yang makin membuat nama van Der Vaart banyak digaungkan.

Boleh dibilang, masuknya Spurs ke kompetisi Liga Europa saat itu merupakan buah dari kontribusi besar yang diciptakan van Der Vaart.

Pada musim berikutnya, kontribusi van Der Vaart untuk Spurs makin ganas. Dia mampu mencetak enam gol hanya dalam enam pertandingan liga. Selain itu, dia juga berhasil mencetak gol dalam lima laga beruntun, yang mana catatan tersebut sukses membuatnya menyamai rekor Teddy Sheringham.

Gol dan kesuksesan lainnya berhasil ditorehkan oleh van Der Vaart untuk Spurs. Sayangnya, penampilan gemilang sang pemain tidak dibarengi dengan catatan gelar di sebuah kompetisi. Selama kurang lebih dua tahun berada di London, van Der Vaart sama sekali tidak pernah mempersembahkan gelar untuk The Lilywhites. Hal itu jelas menjadi sebuah kesedihan tersendiri.

Pada akhirnya, gagalnya Spurs dalam meraih gelar membuat mereka tak segan untuk memecat Redknapp. Imbasnya, Andre Villas Boas yang ditunjuk sebagai nahkoda baru tidak memasukkan nama Rafael van Der Vaart ke dalam rencananya. Pemain seperti Moussa Dembele, Clint Dempsey, hingga Gylfi Sigurdsson didatangkan untuk mengisi lini tengah Spurs. Praktis, nasib van Der Vaart jauh semakin terbelit.

Setelah sempat menikmati masa indah bersama Redknapp, van Der Vaart menjadi pemain yang tak pernah sama di bawah asuhan Villas Boas. Keduanya tampak tak serasi hingga membuat sang pemain akhirnya pergi. Dengan hengkangnya van Der Vaart dari White Hart Lane, berakhir pula kisah cintanya dengan klub berwarna dominan putih.

Meski sudah lama kisah cintanya berakhir dengan Spurs, sekali lagi, keputusan meninggalkan klub tersebut masih menjadi penyesalan terbesarnya sepanjang karir.

“Meninggalkan Tottenham adalah keputusan terbodoh yang pernah aku buat. Aku benar-benar menyesal karena punya dua tahun luar biasa,”

“Tapi, tidak bisa dipungkiri bila dia (Villas Boas) tidak menginginkanku,” ujar van Der Vaart via Evening Standard)

 

Sumber referensi: pundit feed, sport detik, standart uk, wikipedia

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *