Akhiri Dominasi Juventus, Begini Cara Inter Milan Raih Scudetto 2021

  • Whatsapp
Akhiri Dominasi Juventus, Begini Cara Inter Milan Raih Scudetto 2021
Akhiri Dominasi Juventus, Begini Cara Inter Milan Raih Scudetto 2021

Serie A Italia akhirnya punya juara baru! Setelah selama 9 musim terakhir Juventus selalu keluar sebagai juaranya, musim ini, Inter Milan akhirnya sukses meraih scudetto 2021 dan mengakhiri dominasi Juventus di Serie A.

Inter dipastikan sebagai juara Serie A di pekan ke-34. Kepastian tersebut didapat usai Inter meraih kemenangan meyakinkan 2-0 atas Crotone, sementara di laga lain, penantang terdekatnya Atalanta gagal meraih 3 poin saat melawan Sassuolo.

Bacaan Lainnya

Dengan Serie A yang masih menyisakan 4 pertandingan, poin yang dikumpulkan Inter sudah tak mampu lagi dikejar para rivalnya. Klub berjuluk Nerazzurri itu telah mengoleksi 82 poin hasil dari 25 kali menang dan 7 kali imbang dalam 34 laga. Meski Atalanta, Juventus, atau AC Milan meraih poin maksimal di 4 laga sisa, laju Inter Milan musim ini sudah tak terkejar lagi.

Minggu, 2 Mei 2021 kota Milan akhirnya berubah warna menjadi merah-hitam khas Inter. Para pendukung Nerazzurri tumpah ruah di jalan dan berkumpul di objek-objek vital kota untuk merayakan scudetto yang diraih Inter.

Bagi Inter dan pendukungnya, scudetto tahun ini terasa sangat spesial. Selain sukses mengakhiri dominasi Juventus, Nerazzurri juga berhasil mengakhiri puasa gelarnya. Scudetto tahun ini adalah scudetto mereka yang ke-19 dan yang pertama sejak 2010 sekaligus mengakhiri puasa gelar mereka selama 11 tahun terakhir.

Jadi, bagaimana kisah Inter hingga bisa jadi juara Serie A musim ini? Berikut starting eleven ulas untuk Anda.

Inter tidak menjalani musim ini dengan mulus. Cobaan sudah datang silih berganti sejak awal musim. Meski juaranya Inter musim ini tak bisa dilepaskan dari sosok Antonio Conte, namun pelatih 51 tahun justru sempat diragukan sebelum kini dipuja habis-habisan.

Sayangnya, skema set-play Conte dengan formasi 3 bek dan 2 wingback yang aktif membantu serangan dan pertahanan tak berjalan bagus di awal musim. Dalam 7 laga pertamanya, Inter cuma menang 3 kali dan sekali menelan kekalahan menyakitkan dari rival sekotanya, AC Milan. Tiga hasil imbang melawan Lazio, Parma, dan Atalanta juga didapat Inter pasca gagal mempertahankan keunggulan.

Kondisi itu diperparah dengan tersingkirnya Nerazzurri dari fase grup Liga Champions. Singkatnya, Inter tampil inkonsisten di awal musim. Akibatnya, hashtag #ConteOut sempat ramai di media sosial. Conte dikritik habis-habisan. Namun, Conte mampu mengakhiri awal musim yang pahit dengan hasil yang manis. Perlahan, konsistensi Inter raih dengan kerja keras. Mempertahankan pakem 3 beknya, set-play yang jadi gaya khas Conte akhirnya mampu dijalankan dengan baik oleh anak asuhnya.

Lalu, faktor apa saja yang membuat Inter mampu keluar sebagai juara?

1. Lini depan yang tajam

Inter jadi salah satu tim paling produktif di Serie A musim ini. Dengan 74 gol dari 34 laga, hanya Atalanta yang mampu mencetak gol lebih banyak ketimbang mereka. Beruntung, Inter punya barisan penyerang yang sangat tajam.

Duet Romelu Lukaku-Lautaro Martinez jadi momok bagi setiap gawang lawan. Khusus Lukaku, striker 27 tahun asal Belgia itu kini tengah duduk di posisi kedua daftar top skor Serie A dengan koleksi 21 gol dari 33 laga. Produktivitasnya tak cuma soal gol saja. Lukaku tercatat sudah membuat 8 asis di Serie A musim ini dan jadi pencetak asis terbanyak untuk Inter.

Keganasan striker bertinggi 192cm itu mampu dibarengi rekan duetnya, Lautaro Martinez. Lautaro sejauh ini telah mencetak 15 gol dan 5 asis. Dengan 36 gol yang sudah mereka hasilkan menjadikan Lukaku-Lautaro jadi duet paling mematikan di Italia, bahkan Eropa. Baik Lukaku-Lautaro bahkan nyaris selalu terlibat dalam setiap gol Inter musim ini.

Ketika Lukaku atau Lautaro mengalami kebuntuan, mereka masih punya Alexis Sanchez. Alexis baru didatangkan secara gratis dari Manchester United di bursa transfer musim panas kemarin. Keputusan tersebut terbukti tepat dengan sumbangan 5 gol dan 5 asisnya.

2. Lini tengah yang solid

Di lini tengah, Inter beruntung punya duet Nicolo Barella dan Marcelo Brozovic yang tampil solid dan mencatat work rate tinggi. Brozovic dan Barella bagaikan jangkar di lini tengah Inter. Brozovic telah menghasilkan 34 tekel sukses dan menyumbang 6 asis di Serie A musim ini.

Khusus Barella, dia jadi pemain kunci Inter musim ini. Pemain 24 tahun itu sudah melakukan 499 pressing, terbanyak di antara pemain lainnya. Bersama Achraf Hakimi yang menyisir sisi kanan, Barella juga jadi kunci serangan Inter, khususnya dalam skema serangan balik.

Baik Barella dan Hakimi sudah sama-sama menyumbang 6 asis. Ditembusnya Hakimi dengan mahar 45 juta euro dari Madrid terbayar manis. Hakimi yang berposisi sebagai wingback kanan bahkan jadi pencetak gol terbanyak ketiga Inter musim ini dengan sumbangan 7 golnya.

3. Lini belakang yang tangguh

Selain memiliki barisan penyerang yang tajam, lini belakang yang kokoh adalah syarat wajib untuk meraih scudetto. Dan beruntungnya, Inter juga memiliki keuntungan tersebut. Meski Samir Handanovic sudah berusia 36 tahun, tapi kualitasnya di bawah mistar gawag masih sangat solid.

Meskipun beberapa kali refleksnya terlihat menurun, penjaga gawang asal Slovenia itu masih mampu mencatat 73 saves. Namun, faktor terbesar tangguhnya pertahanan Inter yang baru kebobolan 29 gol dari 34 laga adalah trio bek andalan mereka. Inter beruntung punya trio Milan Skriniar, Alessandro Bastoni, dan Stefan de Vrij yang selalu tampil kokoh di depan Handanovic. Dengan trio Skriniar-Bastoni-de Vrij, Inter cuma kebobolan 6 gol dari 17 laga terakhirnya.

4. Inkonsistensi para rival

Akhirnya, penampilan solid para pemain Inter berbuah konsitensi, khususnya di paruh kedua musim ini. Puncaknya, Inter sukses mengkudeta Milan di pekan ke-22 usai menang meyakinkan 3-1 atas Lazio. Di pekan selanjutnya, Nerazzurri makin menjauh dari rivalnya itu setelah memenangi laga derby dengan kemenangan telak 3-0. Setelah itu, kepercayaan diri Inter makin tinggi dan laju mereka makin sulit dikejar. Mereka membuka paruh kedua Serie A dengan meraih 11 kemenangan beruntun.

Di saat bersamaan, sang juara bertahan Juventus tampil angin-anginan. Perjudian Si Nyonya Tua dengan menunjuk Andrea Pirlo yang minim pengalaman terbukti gagal. Di bawah asuhan Pirlo, Juventus tampil sangat labil. Produktivitas gol mereka menurun dan banyak membuang poin di laga krusial.

Daftar formasi yang dipakai Pirlo musim ini jadi bukti labilnya pelatih 41 tahun itu. Pirlo tercatat sudah mengganti formasi Juve sebanyak 5 kali. Dari 3-4-2-1, 3-4-1-2, 3-5-2, 4-2-3-1, hingga kini cenderung memakai formasi 4-4-2. Bongkar pasang formasi membuat sususan starting eleven Juve ikut berubah-ubah.

Hal tersebut kontras dengan pilihan formasi Inter di bawah Antonio Conte. Dengan segudang pengalamannya di timnas Italia dan Chelsea, Conte tetap dengan pakem 3-5-2 atau 3-4-1-2 miliknya. Pilihan starting eleven Conte juga cenderung stabil.

Lukaku dan Lautaro tak tergantikan di lini depan. 3 gelandang dihuni Barella, Brozovic, dan Eriksen. 2 wingback jadi milik Hakimi dan Perisic. Sementara trio bek ditempati dengan kokoh oleh Skriniar, de Vrij, dan Bastoni. Penjaga gawang masih milik sang kapten, Samir Handanovic.

Akhirnya, dominasi Juventus yang bertahan 9 tahun runtuh. Ironisnya, keruntuhan itu disebabkan oleh legenda mereka sendiri, Antonio Conte. Bagi Conte, scudetto 2021 bersama Inter adalah yang keempat baginya. Sebelum meraihnya bersama Inter, Conte tiga kali beruntun membawa Juventus juara Serie A.

Ironisnya lagi, Conte adalah orang yang memulai dominasi Juventus di Serie A 10 tahun lalu dan kini jadi sosok yang mengakhiri dominasi tersebut. Yang lebih menyakitkan, Conte memulai dominasi Juventus pada 2011 silam bersama pelatih Juve saat ini, Andrea Pirlo. Pirlo adalah andalan Conte di lini tengah saat Conte menjabat sebagai pelatih Juventus pada 2011-2014 lalu.

“Ini adalah salah satu keberhasilan terpenting dalam karier saya. Memutuskan untuk bergabung dengan Inter tidaklah mudah. Selain itu, lawannya adalah Juventus yang telah lama saya tangani, yang telah mendominasi selama sembilan tahun. Hari ini kami dapat mengatakan bahwa pengorbanan kami telah terbayar.”, kata Conte kepada stasiun televisi Italia Rai, dikutip dari bbc.com.

Ya, fakta bahwa Conte adalah legenda Juventus membuatnya tak langsung diterima pendukung Inter saat dirinya ditunjuk sebagai pelatih Nerazzurri pada musim 2019/2020. Ditambah lagi, Conte diketahui menerima gaji sebesar 12 juta euro atau lebih dari 200 miliar rupiah per tahun. Conte juga punya kebijakan transfer yang sempat diprotes pendukung Inter. Khusus di musim ini saja, Inter telah menggelontorkan lebih dari 100 juta euro untuk memenuhi permintaan Conte.

Disamping itu, sebagian besar pemain kunci yang datang adalah pemain gaek yang bahkan beberapa dicap sudah habis. Sebut saja Ashley Young, Aleksandar Kolarov, Arturo Vidal, Alexis Sanchez, dan Matteo Darmian yang semuanya sudah berusia lebih dari 30 tahun.

Termasuk juga Christian Eriksen yang dikritik habis saat awal kedatangannya. Namun, ia dan para pemain gaek tadi mampu membuktikan diri dengan kontribusi apiknya di atas lapangan. Perpaduan pemain senior dan muda yang Conte inginkan terbukti ampuh.

Bagi Conte, scudetto musim ini jadi pembuktian dirinya di Inter. Di awal kedatangannya, Conte bahkan secara terang-terangan mengatakan bahwa ia butuh waktu setidaknya 3 tahun untuk membuat Inter kembali kompetitif. Namun dalam waktu singkat, ia telah mengubah Nerazzurri jadi kesebelasan yang kuat.

“Saya datang ke Inter dengan misi membawa kembali kejayaan dalam kurun waktu 3 tahun, dan saya mampu melakukannya,” kata Conte kepada Sky Sports.

Di musim pertamanya, Conte membawa Inter finish di posisi kedua dan lolos ke partai final Liga Europa. Kini, di musim keduanya, Ia membawa Inter juara Serie A. Dengan Inter yang juga dipastikan kembali lolos ke Liga Champions musim depan dan bonus juara yang sudah menanti, menarik untuk disimak kiprah Inter Milan di musim depan dengan Antonio Conte.

Mampukah mereka mempertahankan juara? Atau Juventus yang akan merebut kembali scudetto dari tangan Inter? Yang pasti, selamat merayakan scudetto Inter!

***
Sumber Referensi: BBC, Aljazeera, Sportco.io, Transfermarkt

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *