Dari Florentino Perez dan Ed Woodward Kita Belajar, Politik dalam Sepak Bola itu Nyata

  • Whatsapp
Dari Florentino Perez dan Ed Woodward Kita Belajar, Politik dalam Sepak Bola itu Nyata 1
Dari Florentino Perez dan Ed Woodward Kita Belajar, Politik dalam Sepak Bola itu Nyata 1

Suatu waktu pernah ada yang mengatakan, bahwa di dunia politik tidak ada yang namanya teman dan musuh yang abadi, semua bergerak demi kepentingan. Sepertinya seseorang yang mencetuskan kalimat itu harus buru-buru merevisinya, karena tidak hanya di politik, di dunia sepak bola pun sama adanya, tidak ada yang namanya teman dan musuh abadi, semua berjalan sesuai kepentingan masing-masing.

Pada tahun 2015 silam, terjadi insiden yang sangat tidak masuk akal di bursa transfer pemain. Bahkan sampai saat ini saya juga masih tidak habis thinking, kok bisa hal semacam itu terjadi di dunia sepak bola yang harus menjunjung tinggi profesionalisme. Asal kalian tahu, drama transfer tersebut jauh lebih greget daripada drama di sinetron Indonesia. Mari kita kawal kronologinya.

Bacaan Lainnya

Sudah satu tahun lama lamanya nama David De Gea Quintana dirumorkan akan pulang kampung, bukan ke Atletico Madrid, melainkan ke rival sebelah yaitu Real Madrid. Berbagai upaya penawaran dilancarkan kubu Real Madrid demi kelancaran transfer De Gea ke Santiago Bernabeu. Siapa yang mempelopori? Jelas the one and only, Florentino Perez.

Setelah bernegosiasi, antara MU dan Real Madrid berhasil mencapai kesepakatan di hari terakhir bursa transfer, dengan rincian 40 juta euro dan barter Keylor Navas. Buset nih kiper baik-baik dari dulu nasibnya ngenes amat diperlakukan kek begitu.

Tapi petaka baru terlihat saat bursa transfer Liga Spanyol ditutup. Tidak ada nama De Gea di situs resmi daftar transfer pemain Liga Spanyol. Jika seperti itu hanya ada dua kemungkinan, sinyal internet di kota Madrid sedang lemot sehingga tidak bisa membuka dokumen yang dikirimkan United dan berimbas mereka terlambat mendaftarkan pemainnya di LaLiga, atau pihak MU yang memang kurang cepat mengirimkan dokumen transfer tersebut. Tapi kemungkinan terakhir adalah spekulasi yang sampai saat ini banyak dipercaya. Semua karena ulah United dengan Ed Woodward.

Ed Woodward beserta Manchester United mengirimkan dokumen di menit terakhir sebelum bursa transfer ditutup, sehingga Real Madrid baru menerima dokumen tersebut pada jam 00.02 waktu setempat, terlambat 2 detik dari aturan penutupan bursa transfer di Spanyol. Bayangin gimana sakitnya pihak Real Madrid, Hyung. Dari kasus ini pula akhirnya ramai pembahasan “The Fax Machine” untuk menjuluki tragedi transfer antara MU dan Real Madrid.

Agak aneh memang, klub sebesar United dan Real Madrid mengalami drama yang tidak masuk akal semacam itu, seperti ada konspirasi di dalamnya. Akhir kisah tragedi tersebut akhirnya De Gea gagal pindah ke Madrid dan justru memperpanjang kontrak dengan MU. Sudah jelas pihak Real Madrid murka melihat hal tersebut, selain fans MU mungkin hanya Keylor Navas dari kubu Real Madrid yang nangis bahagia melihat kegagalan transfer De Gea ke Los Blancos.

Saat terjadi insiden seperti itu, yang menjadi fokus utama adalah para petingginya. Disini Perez dan Ed Woodward banyak menuai sorotan. Presiden Real Madrid tersebut menuding ke Ed Woodward terkait gagalnya transfer De Gea.

“Gue rasa mereka kurang pengalaman. Ini ngingetin sama kejadian transfer Coentrao dan Ander Herrera sebelumnya. Mereka punya tim (manajemen) baru yang gue rasa kurang berpengalaman. Asal kalian tahu, kita pernah nglepas Frank Ribery sama Patrick Vieira, tapi mikir gak sih kalian semua? Yakali MU baru ngajak kita buat negosiasi resmi 12 jam sebelum bursa transfer ditutup?!”

“Orang baru (Ed Woodward) emang kurang pengalaman buat ngurus hal beginian. Kalian liat sendiri kan kita dulu pas jamannya David Gill, Peter Kenyon sama Sir Alex Ferguson aman-aman aja nggak ada masalah. Kita sebenernya masih punya hubungan baik sama United, tapi gue harap mereka mau belajar.”

Sejak kegagalan transfer De Gea pula hubungan MU dan Real Madrid tak sedekat dulu, meski Perez mengatakan baik-baik saja. Jika memang baik-baik tanpa ada keretakan antara dirinya dengan Ed Woodward, Alvaro Morata sudah datang ke Old Trafford sejak 2017 silam.

Real Madrid gagal mendapatkan De Gea karena pihak MU terlambat atau mungkin sengaja mengirim berkas di detik-detik terakhir, maka MU juga gagal mendapatkan Morata karena pihak Real Madrid terus menaikkan harga sang pemain berkali-kali. Sebuah pembalasan yang adil dari Perez untuk Ed Woodward.

Namun satu hal yang harus kalian ingat, tidak ada hal yang abadi di sepak bola. Perez dan Ed Woodward yang dahulu berseteru, beberapa waktu lalu bergandengan tangan dengan erat untuk membentuk European Super League.

Mungkin bagi kalian yang sudah lebih dari satu dekade mengikuti liga sepak bola di Eropa, seharusnya tidak perlu kaget melihat Florentino Perez kembali bertingkah dan menunjukkan jati diri kuasanya. Mengingat track record dirinya yang cukup berpengaruh di dunia sepak bola. Dengan statusnya saja yang menjabat sebagai presiden Real Madrid, dia sudah membawa Madrid menjadi tim bertabur bintang dan menguasai Eropa tiga musim berturut-turut. Pencapaian yang belum bisa dipecahkan siapapun di era UCL.

Karena kekuatannya itu, Florentino Perez melakukan gebrakan dengan mendirikan European Super League, sebuah liga tandingan untuk UCL, dan berposisi sebagai kepala ESL. Kurang greget gimana coba orang satu ini?!

Yang ada dalam angan-angan presiden Real Madrid tersebut adalah dengan adanya ESL maka akan memperbaiki neraca keuangan klub besar yang sedang kolaps *klub elu aja kali yang kolaps. Maka dengan dibentuknya ESL, dimana ada 20 klub besar yang nantinya bertanding pasti akan memberikan hiburan yang seru, big match setiap minggu, sponsor dan hak siar tak terbendung. Never in your wildest dreams, Opa Perez.

Florentino Perez tidak bekerja sendirian saat menggemparkan dunia dengan memunculkan ESL, tapi berjalan bersama kroni-kroni di belakangnya. Ada Agnelli (pemilik Juventus), Joel Glazer (pemilik MU), John W. Henry (pemilik Liverpool), dan Stan Kroenke (pemilik Arsenal) yang ikut menjabat menjadi wakil ketua andaikata itu ESL jadi terbentuk.

Saat ada Glazer sudah jelas ada Ed Woodward juga, ini dua orang kan emang kek Upin dan Ipin, kemana-mana selalu bareng. Bahkan Ed juga turut menandatangani kesepakatan berdirinya ESL. Dengan begitu artinya ia berada dibawah naungan dan tujuan yang sama dengan Florentino Perez, orang yang beberapa tahun silam menyebutnya manajemen kurang berpengalaman.

Jadi penasaran bagaimana reaksi Florentino Perez dan Ed Woodward saat mengingat perseteruan mereka di masa lalu, tebakan saya paling cuma nyengir dan ketawa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *