Beranda blog Halaman 219

AS Roma Pecat Jose Mourinho, tapi Kok Gantinya Daniele De Rossi?

0

Hari yang telah diprediksi itu akhirnya datang juga. Sebuah kekalahan yang sudah tidak mengagetkan lagi tatkala AS Roma takluk 3-1 dari AC Milan pada giornata 20 Serie A menjadi akhir dari pengabdian Jose Mourinho di ibukota Italia. Dua hari usai kalah di kandang Milan, The Special One akhirnya dipecat.

Waktu dan momen pemecatan Jose Mourinho memang terbilang mengejutkan. Video yang memperlihatkan Mourinho menangis di dalam mobilnya ketika dihampiri fans saat meninggalkan Trigoria, kompleks latihan Roma jadi salah satu buktinya.

Mourinho dan Romanisti memang sudah terlanjur menjadi sepasang kekasih. Rasa cinta keduanya tampak seperti tanpa syarat. Oleh karena itu, pemecatan Mourinho ditanggapi dengan kekecewaan yang amat dalam oleh fans Roma.

Pada hari Rabu, sehari setelah Mourinho dipecat, beberapa fans Roma meluapkan kekecewaan mereka dengan memasang spanduk raksasa di Trigoria yang bertuliskan #FriedkinOut. Tagar tersebut juga digaungkan beberapa fans di media sosial X untuk menentang pemilik klub.

Akan tetapi, mari kita pisahkan romantisme antara pendukung Roma dengan Jose Mourinho dan melihat pemecatan tersebut dari sisi yang lebih rasional. Terlepas dari betapa emosionalnya pengumuman tersebut, pemecatan Jose Mourinho dari kursi pelatih Giallorossi merupakan sebuah keputusan yang tidak lagi mengejutkan.

Roma Sudah Benar Memecat Mourinho

Melihat hasil dalam beberapa pertandingan, keputusan untuk memecat Mourinho memang sudah tak terelakan lagi. Apalagi, Friedkin Group, pemilik AS Roma adalah pebisnis asal Amerika Serikat yang memegang teguh motto: Business is business.

Mourinho memang berhasil mengangkat prestasi AS Roma. 1 trofi UECL adalah bukti kalau The Special One belum kehilangan magisnya, khususnya dalam pertandingan sistem gugur. Namun sayangnya, di level domestik, khususnya liga yang besar kemungkinan jadi standar penilaian penting bagi sang pemilik, Mourinho telah gagal mencapai target. Bukannya meningkat, progress Roma di Serie A justru terlihat menurun.

Selama dilatih Jose Mourinho, AS Roma tak pernah sekalipun mengakhiri musim di peringkat empat besar. Di dua musim beruntun bersama Mourinho, Roma cuma finish di peringkat 6. Dan kini, Roma justru terancam meraih hasil yang lebih buruk.

Performa Giallorossi di musim ini terlihat inkonsisten dengan identitas yang juga makin tidak jelas. Roma sempat duduk di zona degradasi setelah gagal memetik satu pun kemenangan dalam 3 giornata pembuka. Sempat bangkit dan duduk di peringkat 4 pada giornata 14 dan 15, performa Roma kembali merosot di 5 giornata terakhir.

Saat Mourinho dipecat, Roma tengah duduk di peringkat 9 dengan koleksi 29 poin, hasil dari 8 kali menang, 5 kali imbang, dan 7 kali kalah. Selain itu, Roma baru saja tersingkir dari Coppa Italia usai kalah derby dari Lazio dan hanya memenangkan satu dari lima pertandingan sejak Natal.

Tren yang menurun inilah yang membuat target finish empat besar untuk lolos ke UCL musim depan tampak makin sulit digapai. Sebagai tambahan, selama dilatih Jose Mourinho, performa AS Roma ketika menghadapi tim-tim besar Serie A juga amat buruk. Selama dua setengah musim, Mourinho dan Roma telah bersua sebanyak 28 kali dengan AC Milan, Inter Milan, Juventus, Lazio, dan Napoli. Dan hasilnya, Roma cuma menang 4 kali dan 19 kali kalah.

Sebagian fans yang terlanjur jatuh hati dengan Mourinho pasti akan bilang kalau The Special One tidak mampu memaksimalkan skuad karena masalah cedera, kurangnya dukungan dari pemilik, hingga terhalang regulasi Financial Fair Play. Yang perlu football lovers ketahui, Roma terkena FFP juga karena menuruti permintaan Mourinho.

Di musim 2021/2022 atau musim pertama Mourinho, Roma membelanjakan 130 juta euro untuk belanja pemain. Sebuah hal tidak biasa yang membuat Roma melanggar regulasi FFP.

Kemudian, di tengah pembatasan transfer, Roma bertaruh untuk memenuhi permintaan Mourinho untuk merekrut pemain veteran yang mahal. Hasilnya, di tengah kondisi keuangan Roma yang merugi, tagihan gaji mereka musim ini membengkak dan menjadi yang tertinggi ketiga di Serie A, hanya kalah dari Juventus dan Inter Milan. Namun, lihatlah di mana Roma duduk sekarang ini. Wajar dong kalau Dan Friedkin tidak puas dengan kinerja Mourinho.

Itulah beberapa alasan rasional mengapa langkah AS Roma memecat Jose Mourinho sudah benar. Memang, momen pemecatannya mengejutkan. Sebab, di akhir Juni nanti kontrak Mourinho akan habis dengan sendirinya, tetapi pemilik klub justru memilih memecatnya di pertengahan musim.

Pecat Mourinho, Roma Tunjuk De Rossi

Akan tetapi, yang tak kalah mengejutkan dari pemecatan Jose Mourinho adalah penunjukan Daniele De Rossi sebagai penggantinya. Ya, setelah memecat Mourinho, Roma memilih De Rossi sebagai allenatore berikutnya dengan durasi kontrak 6 bulan hingga akhir musim 2023/2024.

Dari kacamata statistik, keputusan tersebut patut dipertanyakan. Pasalnya, sebagai pelatih, De Rossi bisa dibilang masih bau kencur. CV De Rossi sebagai pelatih juga bagai bumi dan langit jika dibanding dengan reputasinya dulu sebagai pesepak bola.

De Rossi mengawali karier pelatihnya sebagai asisten Roberto Mancini di timnas Italia. Ia pun menjadi bagian dari Gli Azzurri yang menjuarai Euro 2020. Setelah itu, De Rossi meninggalkan jabatannya untuk menyelesaikan kursus kepelatihan UEFA A.

Setelah mendapat lisensi, De Rossi kembali bekerja untuk Federasi Sepak Bola Italia, kali ini sebagai kolaborator teknis untuk tim U-15 hingga U-20. Lalu, pada Januari 2022, ia kembali ditarik Mancini untuk mendampinginya di kualifikasi Piala Dunia 2022.

De Rossi lagi-lagi mundur pada September 2022 untuk menyelesaikan kursus UEFA Pro. Sebulan kemudian, Daniele De Rossi mendapat pekerjaan pertamanya sebagai pelatih kepala usai ditunjuk melatih klub Serie B, SPAL.

De Rossi ditunjuk sebagai pelatih SPAL pada 11 Oktober 2022 untuk menggantikan Roberto Venturato. Saat itu, SPAL tengah duduk di peringkat 14. Ia sebenarnya diberi kontrak hingga Juni 2024. Namun, setelah 17 pertandingan, tepatnya pada 14 Februari 2023, SPAL memutuskan untuk mengakhiri lebih cepat masa jabatan mantan gelandang AS Roma tersebut. Bukannya membaik, SPAL justru dibawa De Rossi terjun ke zona degradasi.

Pengalaman tersebut jadi kali terakhir De Rossi menukangi sebuah klub. Artinya, AS Roma adalah klub kedua yang ia tangani dan klub Serie A pertama yang ia latih. Ini jelas mimpi yang jadi kenyataan bagi seorang Daniele De Rossi yang nyaris menghabiskan seluruh nyawanya untuk AS Roma.

Namun, De Rossi punya segudang PR yang harus dibenahi. Seperti yang kami bilang di awal, identitas Roma akhir-akhir ini makin tidak jelas. Tim ini juga terlihat begitu bergantung dengan performa Paulo Dybala. Faktnya, empat dari tujuh kekalahan Roma di Serie A musim ini terjadi ketika La Joya absen.

De Rossi juga punya PR berat untuk kembali menyatukan skuad Roma yang dirundung isu tak sedap sebelum Mourinho dipecat. Mantan kapten Il Lupi itu juga harus mampu menjaga gairah fans Roma yang sudah dibangun Mourinho.

Sebagian besar fans pasti tidak masalah dengan penunjukan De Rossi. Akan tetapi, dengan tim yang sedang bermasalah dan dikejar target untuk memperbaiki posisi di papan klasemen Serie A, mengapa Roma justru menunjuk De Rossi yang kurang pengalaman di saat-saat genting seperti ini?

Apa Alasan Roma Tunjuk De Rossi yang Minim Pengalaman?

Gianluigi Buffon punya jawaban yang menarik. “Ketika Anda sudah mengenal lingkungan dengan baik, Anda sudah selangkah lebih maju. Tidak ada pilihan yang lebih baik untuk Roma pada saat seperti ini. Ini adalah langkah yang cerdas.”

Ya, di tengah kondisi Roma yang keuangannya memprihatinkan, menunjuk Daniele De Rossi adalah keputusan yang bijak. De Rossi yang masih sangat mencintai Roma bahkan menandatangani kontrak tanpa menanyakan gaji, tanpa meminta klausul perpanjang otomatis, dan hanya meminta bonus apabila ia berhasil meloloskan Roma ke UCL. Sangat sesuai dengan bujet pemilik Roma bukan?

De Rossi juga berkata, “Satu-satunya hal yang saya minta adalah diperlakukan sebagai seorang pelatih. Jangan perlakukan saya sebagai seorang mantan pemain, atau legenda atau simbol klub. Sejak saya menerima pesan yang tidak pernah saya duga, saya akan berjuang sampai mati untuk bertahan di sini.”

Seperti kata Buffon, tidak ada sosok lain yang jauh lebih mengerti AS Roma saat ini ketimbang De Rossi. De Rossi yang lahir dan besar di kota Roma sudah bergabung dengan akademi Giallorossi sejak tahun 2000 dan langsung menembus tim utama setahun kemudian.

Total, De Rossi membuat 616 penampilan, mencetak 63 gol, mempersembahkan 2 trofi Coppa Italia dan satu trofi Supercoppa Italia untuk Giallorossi. Melihat CV-nya sebagai mantan pemain, De Rossi jelas sosok yang tepat untuk menggojlok skuad AS Roma peninggalan Jose Mourinho.

De Rossi sendiri tak menunggu lama untuk langsung bekerja. Dalam latihan perdananya, De Rossi dikabarkan mencoba formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1. De Rossi sebenarnya punya formasi andalan yang mirip dengan Mourinho, yakni 3-4-2-1 atau 3-5-2. Namun, formasi tersebut dinilai tidak pas diterapkan di skuad Roma saat ini yang banyak ditinggal pemainnya karena cedera dan tampil di Piala Afrika.

Dalam video yang beredar di media sosial, De Rossi tampak sangat serius memimpin latihan Roma dan meminta anak asuhnya untuk mengalirkan bola lebih cepat. Ini jadi isyarat kalau akan ada perubahan dalam gaya main AS Roma.

Sebuah penyegaran yang layak ditunggu. Begitu pula halnya dengan omongan Daniele De Rossi yang berapi-api di beberapa media. Apakah mantan kapten AS Roma itu sanggup mengangkat posisi mantan klubnya dan mencapai target yang gagal dicapai oleh Jose Mourinho?

“Kami harus memberikan segalanya untuk jersey ini, untuk para penggemar, untuk klub ini. Tetapi juga untuk diri kami sendiri. Saya meminta para pemain untuk berkolaborasi secara maksimal dan mengertakkan gigi bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.”


Referensi: Football Italia, FBref, GFN Italy, ESPN, Football Italia, Cult of Calcio, Sportbible.

Bambang Pamungkas dan Hatinya untuk Timnas Indonesia

0

Firman Utina berdiri 40 meter di depan gawang Bahrain. Posisinya ideal untuk melepas tembakan. Dan benar saja, pemain kelahiran Manado itu melakukannya. Sayang, bolanya cuma mencium tiang. 

Namun, Bambang Pamungkas yang berada dekat kotak penalti mengejar bola rebound sontekan Firman. Kiper Bahrain yang belum siap gagal mengantisipasi tendangan Bambang Pamungkas. Gol tersebut sekaligus mengantarkan kemenangan Indonesia atas Bahrain di laga pertama Piala Asia 2007 silam. 

Mungkin ada yang tidak ingat momen tersebut. Tapi bagi pencinta Timnas Indonesia, sangat mustahil tidak mengingat sosok pencetak gol di laga itu. Ya, Bambang Pamungkas.

Bepe sosok striker tajam yang pernah dimiliki Indonesia dan Persija Jakarta. Sosok yang memberikan hatinya untuk Timnas Indonesia. Bahkan ketika ia sudah tidak lagi berseragam Merah Putih. Seperti apa kisahnya?

Berkarier di Kabupaten Semarang

Sebelum memperkuat Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas tumbuh dan dibesarkan tim ibu kota, Persija Jakarta. Kendati begitu, Bepe mengawali kariernya di dunia sepak bola dari lingkup yang paling kecil. Lahir di Kabupaten Semarang, 10 Juni 43 tahun lalu, Bepe menghabiskan waktu mudanya di Kabupaten Semarang.

Masuk SSB Hobby Sepak bola Getas tahun 1988. Bepe kemudian masuk SSB Ungaran Serasi. Lalu memasuki tahun 1993, Bepe memperkuat Persada Utama Ungaran. Setelah itu, karier mudanya berlanjut di tim Persikas Kabupaten Semarang tahun 1994.

Hingga Diklat Salatiga memakainya antara tahun 1996-1999. Saat masih muda, Bepe berjuang keras untuk menjadi pesepakbola profesional. Memang, sejak kecil Bepe bermimpi untuk menjadi pemain bola. Mimpinya itu ia coba raih dengan bersungguh-sungguh berlatih.

Bepe bahkan sudah masuk SSB sejak usianya baru delapan tahun. Saat anak-anak seusianya masih senang menyeka ingus. Perjalanannya menjadi pesepakbola tidaklah semulus apa yang dibayangkan. Tapi Bepe muda rutin berlatih. Hasilnya, setiap kali bermain, Bepe selalu menonjol di antara pemain lainnya.

Dari Tim Muda Timnas Indonesia ke Persija Jakarta

Oleh sebab itulah, Bepe yang usianya masih muda sudah dilirik Timnas Indonesia. Tahun 1998, Bepe masuk skuad Timnas Indonesia U-18 di kompetisi pelajar Asia di Korea. Lalu, pada tahun yang sama, Bepe juga tergabung di Timnas Indonesia U-19. Berbekal pengalamannya itu, Bepe kemudian direkrut oleh Persija Jakarta tahun 1999.

Usianya masih 19 tahun. Tapi Bepe waktu itu menjadi sorotan karena langsung menembus skuad senior Persija. Tidak hanya menembus tim utama. Bepe juga makin produktif dalam mencetak gol. Total 24 gol ia cetak di Liga Indonesia musim 1999/2000. Jumlah gol itu sekaligus menjadikannya top skor kompetisi.

Usianya saat itu bahkan belum 21 tahun. Sayangnya, musim itu Bepe tidak mengantarkan trofi untuk Persija. Baru pada musim berikutnya, gelar Liga 1 diraih bersama Macan Kemayoran. Bepe pun makin gemilang. Ia tak berhenti melesakkan gol. Meski saat itu tingginya tak lebih dari 170 senti, tapi Bepe sering mencetak gol lewat sundulan.

Debut di Timnas Senior

Nah, sebelum mempersembahkan trofi pertama bagi Macan Kemayoran, Bepe sudah menjalani debutnya di Timnas Senior Indonesia. Hal itu terwujud ketika Timnas Indonesia melawat ke Estonia untuk melakoni laga uji coba pada 2 Juni 1999. Usianya belum genap 19 tahun.

Kelak laga menghadapi Estonia itu akan diingat olehnya. Sebab di laga itulah Bepe mencetak gol debutnya untuk Timnas Indonesia. Tidak hanya mencetak gol, bakat Bepe waktu itu sudah tercium oleh tim-tim Eropa. Ingat, Bepe belum 19 tahun saat itu.

Tim asal Belanda, Roda JC tertarik menawarkan percobaan. Bepe juga mendapat tawaran dari dua tim Jerman: FC Koln dan Borussia Monchengladbach. Namun, pilihannya justru jatuh pada tim divisi tiga Belanda saat itu, EHC Norad. Tahun 2000, Bepe dipinjam Norad. Ia mengemas tujuh gol dari 11 laga selama berseragam tim Belanda tersebut.

Setahun sebelum Bepe menjalani percobaan di EHC Norad, ia sudah menjalani kompetisi pertamanya bersama Timnas Indonesia, yakni SEA Games 1999 di Brunei Darussalam. Setahun setelahnya Bepe masuk Timnas Indonesia asuhan Nandar Iskandar untuk melakoni Piala Asia di Lebanon. Namun, di kompetisi itu Bepe tidak dimainkan.

Baru pada edisi 2004, Bepe mencicipi atmosfer Piala Asia. Setelah sukses mengantarkan Indonesia ke final Piala Tiger 2002, Bepe ikut terbang ke Tiongkok untuk membela Indonesia di Piala Asia. Di turnamen itu, Ivan Kolev menurunkan Bepe di dua laga. Sayangnya ia tidak mencetak gol dan Indonesia gagal ke fase gugur.

Sempat ke Luar Negeri, tapi Balik Lagi ke Indonesia

Setelah Piala Asia 2004, Bepe memutuskan berkarier di Malaysia, membela Selangor FC. Kiprah Bepe di Malaysia makin luar biasa. Bepe yang terbentuk sebagai seorang striker dengan insting mencetak gol di atas rata-rata penyerang lokal hari ini, membukukan setidaknya 42 gol dari 63 laganya bersama Selangor.

Tak hanya torehan gol. Liga Utama Malaysia, Piala Malaysia, dan Piala FA Malaysia juga direngkuhnya selama memperkuat Selangor. Hanya dua tahun Bepe berkarier di Negeri Jiran. Ia kembali ke tanah air. Pulang ke pangkuan Persija Jakarta.

Setelah pulang ke Indonesia, tugas internasional menantinya. Indonesia akan menjadi tuan rumah Piala Asia 2007, bersama tiga negara ASEAN lainnya. Mengusung jargon “Ini Kandang Kita!” Timnas Indonesia tentu tak mau menyerah begitu saja di Piala Asia 2007. Di turnamen ini Bepe mencetak satu gol.

Membela Timnas Adalah Panggilan Hati

Pesona Bepe belum memudar. Tahun 2008, tim dari Inggris, Derby County menginginkan jasanya. Tapi Bepe memutuskan bertahan di Indonesia. Ia pun masih membela Persija dan Timnas Indonesia di beberapa ajang. Salah satunya di Piala AFF 2008.

Kala itu Timnas Indonesia dilatih mendiang Benny Dollo. Bepe sukses mencetak dua gol. Tapi sayang, Indonesia cuma bisa melaju ke semifinal setelah gagal melewati hadangan Thailand.

Dua tahun setelah Piala AFF itu, Bepe berpeluang untuk memperkuat tim Jerman, FC Ingolstadt. Akan tetapi, setelah menjalani percobaan di Jerman, tidak ada kontrak yang disodorkan untuknya. Bepe pun masih tetap di Indonesia dan masih tetap di Persija.

Jelang Piala AFF 2012, muncul generasi baru Timnas Indonesia. Di saat itu pula, pemain-pemain naturalisasi mulai bermunculan. Bambang Pamungkas juga masuk di dalamnya. Namun, masuknya Bepe ke timnas kala itu diiringi kabar kurang sedap. Bepe dituding masuk timnas karena desakan dari beberapa orang.

Namun, pelatih Timnas Indonesia saat itu, Nil Maizar segera menepisnya. Dilansir Kompas, Nil Maizar mengatakan, Bepe bergabung Timnas Indonesia karena panggilan hati. Bukan desakan dari pihak mana pun. Nil Maizar berencana menduetkan Bepe dengan Irfan Bachdim di turnamen itu.

Tetap Memperhatikan Sepak bola Indonesia

Namun, Indonesia justru bernasib malang di turnamen tersebut. Jangankan juara, lolos ke fase gugur saja tidak. Indonesia yang tergabung Grup B, bersama Laos, Malaysia, dan Singapura hanya mampu finis di peringkat ketiga. Kegagalan di Piala AFF 2012 menutup karier Bepe di Timnas Indonesia dengan kepiluan.

Ya, setelah itu Bepe tak lagi memperkuat Timnas Indonesia.  Ia sempat berseragam Pelita Bandung Raya setelah Piala AFF 2012, tapi kembali ke Persija pada 2015 dan gantung sepatu di sana tahun 2019. Sampai hari ini Bepe masih memperhatikan Timnas Indonesia.

Melalui tulisan-tulisannya di blog BambangPamungkas20.com, Bepe kerap mengkritik Timnas Indonesia. Sepanjang kiprahnya untuk timnas, nasionalisme pemain yang identik nomor 20 itu tidak perlu diragukan. Namun, Bepe tetaplah orang yang rendah hati.

Saat terjadi polemik di mana klub-klub tak mau melepas pemainnya untuk Timnas Indonesia, Bepe tak mau menghina rasa nasionalisme seorang pemain apabila si pemain tak membela tim nasional. Bagi Bepe, nasionalisme bukan hanya sekadar mau membela timnas atau tidak.

Menurutnya, nasionalisme adalah ketika seseorang mempunyai kesempatan untuk melukai bangsa kita sendiri, tetapi ia memutuskan tidak melakukannya. Padahal kalaupun melakukannya tidak ada siapa pun yang tahu.

“Nasionalisme itu seperti iman. Kita semua bisa saja menjadi seseorang yang nasionalis dan tidak nasionalis dalam waktu bersamaan,” kata Bambang Pamungkas dalam salah satu tulisannya.

Sumber: Viva, Bolacom, Bolanet, Kumparan, Juaranet, Kompas, BambangPamungkas20

BANGGA GAK SIH? Pelatih Indonesia Ini Mampu Melatih Tim Luar Negeri

Mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional banyak caranya. Olahraga jadi salah satu alat yang mujarab. Tak hanya pemainnya yang jago, pelatihnya juga banyak disegani dunia. Di bulu tangkis misalnya. Indonesia punya Tong Si Fu yang menghasilkan monster tunggal putra Tiongkok, Lin Dan.

Namun apa jadinya kalau di dunia sepakbola? Ya, jarang terdengar nama-nama pelatih Indonesia yang berada di luar negeri. Kalaupun ada, juga hanya segelintir. Namun setidaknya kita patut berbangga akan hal itu.

Rahmad Darmawan

Berjiwa militer bukan berarti hanya jago menembak. Pria gagah kelahiran Lampung 57 tahun silam bernama Rahmad Darmawan membuktikan bahwa angkatan militer juga bisa jadi pelatih sepakbola sukses. Pelatih yang akrab dipanggil Coach RD ini hidupnya memang tak bisa dipisahkan dari tantangan. Jelas saja, wong gelarnya aja mayor.

Karier Coach RD di sepak bola Indonesia tak usah ragukan lagi. Ia juga pernah menangani timnas. Namun, suatu ketika tantangan melatih luar negeri datang kepadanya pada tahun 2015. Coach RD awalnya bimbang.

Sampai sampai ia rela melepaskan jabatan di militernya. Lho, bukannya jabatan itu menggiurkan? Maklum saja, sulit untuk tidak melepaskan jabatan kedinasan militer jika pergi ke luar negeri dalam waktu yang lama.

Namun dengan tekad bulat, Coach RD memberanikan diri menuju Liga Malaysia untuk melatih T-Team atau yang sekarang dikenal Terengganu FC. Namun di sana, tak semudah yang dibayangkan. Awalnya para pemain susah memahami pendekatan Coach RD dalam melatih.

Kedisiplinan serta mengandalkan pemain muda adalah yang pertama diterapkan Coach RD di T-Team. Cara inilah yang bahkan menghasilkan bintang Timnas Malaysia sekarang, Safawi Rashid. Dulu saat masih 17 tahun ia diberi kesempatan oleh Coach RD di T-Team.

Selama dua musim, Coach RD berhasil meninggalkan jejak manis bagi klubnya. Diantaranya masuk semifinal Malaysia Cup dan sempat menyelamatkan timnya dari jeratan degradasi. Meski pada akhirnya, masalah financial dan performa yang anjlok di tahun 2017, membuat Coach RD melepaskan jabatannya sebagai pelatih T-Team.

Andi Susanto

Brasil adalah sebuah “negara sepakbola” yang tak pernah kehabisan talenta, baik pemain dan pelatihnya. Tapi siapa sangka ada salah satu pelatih asal Indonesia yang mampu berkarier di Liga Brasil.

Namanya Andi Susanto. Pasti banyak orang kaget karena jarang mendengar nama pelatih yang satu ini. Ia bukan media darling di sepakbola Indonesia. Maklum, kariernya hanya di level U-21 ketika menukangi Sriwijaya FC.

Namun, hebatnya Andi berani mengambil lisensi kepelatihan di Brasil. Hal itulah yang membuat namanya dikenal di Brasil. Dari situ, pada tahun 2015, ia ditunjuk melatih klub Liga IV Brasil, Bangu Atletico Clube.

Baru dua bulan melatih, Bangu sudah mampu meraih trofi, yakni BTV International Tournament di Vietnam. Hebat bukan? Kehebatan Bang Andi ini tak hanya sampai di Brasil. Di tahun 2017 pelatih gempal berambut gondrong ini ditunjuk melatih klub kasta kedua Liga Timor Leste, Atletico Ultramar.

Beruntung sekali Atletico Ultramar dilatih orang Indonesia. Pasalnya klub tersebut hampir saja meraih treble winner di musim debut bang Andi Susanto melatih. Namun berbagai kesuksesan yang telah ia raih tak membuatnya bertahan.

Bang Andi malah memilih jalan lain berupa tantangan baru melatih klub kasta kedua Timor Leste, Assalam FC. Oh iya, salah satu kiper timnas Markus Horison juga pernah bekerja sama dengan Andi jadi kiper Assalam FC pada tahun 2016.

Rudy Eka Priyambada

Berani untuk bekerja ke negeri orang tanpa punya pengalaman kerja di negaranya sendiri, pasti tak mudah. Namun tidak halnya dengan sosok bernama Rudy Eka Priyambada. Tak beda jauh dari Andi Susanto, Rudy juga namanya kurang populer di kancah persepakbolaan Indonesia. Jadi pemain saja tak terkenal, apalagi jadi pelatih?

Pria 41 tahun itu termasuk orang yang nekat. Tak ada pengalaman melatih sebuah klub dan hanya bermodal Lisensi AFC C, ia memberanikan diri menjajal Liga Australia. Ia menerima tawaran melatih klub semi pro Australia, Monbulk Rangers tahun 2012.

Disana bayaranya kecil. Sampai-sampai Rudy sempat melakukan pekerjaan sambilan jadi penjaga toko roti dan restoran. Salah satu prestasinya di Monbulk adalah menjuarai kompetisi semi pro di Vitoria.

Rudy sempat pulang ke Indonesia setelah melatih di Negeri Kanguru. Ia jadi Analis Taktik Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri tahun 2013 ketika meraih trofi Piala AFF. Setelah itu ia melancong lagi ke luar negeri. Tahun 2015, Rudy bergabung ke klub Liga Dua Bahrain, Al-Najma sebagai asisten pelatih.

Di klub tersebut, ia sempat membawa bek timnas, Ryuji Utomo. Prestasinya juga tak bisa dianggap remeh. Al-Najma langsung dibawa promosi ke Liga Utama Bahrain ketika musim pertama Rudy datang.

Muhammad Yusup Prasetyo

Mendengar ada pelatih Indonesia yang akrab dipanggil Pep Guardioyo, sepintas terdengar lucu karena mirip Pep Guardiola. Nama panggilan tersebut adalah milik Muhammad Yusup Prasetyo, pria kelahiran Tangerang tahun 1990 silam.

Kisah Yusuf Prasetyo jadi pelatih tergolong unik. Padahal seusai memutuskan berhenti jadi pemain sepakbola, ia lebih memilih jalur pendidikan untuk jadi guru. Maka dari itu, ia memutuskan untuk fokus kuliah dan akhirnya lulus dari Fakultas Tarbiyah Uin Syarif Hidayatullah.

Namun, hatinya kembali terpanggil ke dunia sepakbola setelah lulus. Jadi pelatih dengan berbekal sarjana Tarbiyah saja memang tak bisa. Sembari menjadi pelatih di beberapa sekolah sepakbola, ia juga mengembara untuk memburu lisensi kepelatihan AFC.

Dasarnya beruntung, debutnya melatih sebuah klub langsung di klub luar negeri yakni Lilijan FC, di Liga U-16 China pada tahun 2017. Usut punya usut, kenapa Yusup bisa sampai ke China yakni karena ia punya jaringan dari beberapa temannya ketika mengikuti tes lisensi kepelatihan AFC.

Namun masa pengabdian Yusuf di Tiongkok tak lama. Ia hanya semusim di sana. Namun itu tak mengapa, ia terus belajar setelah itu. Usai menjalani karier di China, Yusup tercatat hingga tahun 2019 sempat beberapa kali menimba ilmu kepelatihan di klub-klub besar Eropa seperti Monchengladbach, Liverpool, Ajax, sampai Valencia. Tak heran jika pelatih yang banyak belajar ini ditunjuk lagi melatih klub Liga Malaysia, Kelantan FC U-22 pada 2021.

Jantje Matmey

Sudah seharusnya sepakbola Timor Leste berterima kasih kepada Indonesia. Bagaimana tidak? Sudah banyak pengaruh nyata orang Indonesia di perkembangan sepak bola mereka. Tak terkecuali pelatih bernama Jantje Matmey. Pelatih yang tak terkenal di Indonesia, namun sangat dihormati di Timor Leste.

Pelatih Ambon yang satu ini bak Mourinho di Timor Leste. Pasalnya treble winner pernah ia borong sewaktu melatih klub liga teratas Timor Leste, Lelanok FC. Padahal Matmey ini adalah pelatih yang bangun klub ini dari nol. Karena ia gabung di tahun 2017, setahun setelah klub itu berdiri.

Bayangkan, karier Matmey dimulai dari divisi tiga liga Timor Leste. Betapa beruntungnya Lelanok FC ini pernah dibesut tangan dingin Matmey, sehingga jadi salah satu klub elit di Timor Leste.

Kurniawan Dwi Yulianto

Kamu tau dulu Timnas Indonesia pernah ada program Primavera? Di mana pemain timnas kita dikirim berlatih di Sampdoria, Italia. Ya, salah satu yang ikut serta adalah Kurniawan Dwi Yulianto. Mental Kurniawan sejak muda sudah terbiasa di negeri orang. Sebagai pemain pun ia pernah membela klub Malaysia, Selangor FC.

Hal itu berlanjut di level pelatih. Setelah sering menjadi asisten pelatih, Kurniawan mengawali debutnya sebagai pelatih kepala di Liga Malaysia bersama Sabah FC di tahun 2019. Dua musim si kurus mengantarkan Sabah FC bertahan di liga teratas Malaysia. Sebelum akhirnya didepak di musim ketiganya karena rentetan hasil buruk.

Lepas dari Malaysia, bukan berarti Si Kurus tak berani lagi melatih klub luar negeri. Ia pernah hampir saja melatih klub Como di Serie B Italia. Namun, ia gagal karena masalah lisensi. Kalau beneran jadi gabung Como, pasti publik Indonesia bangga. Seperti juga kebanggaan terhadap pelatih-pelatih lainnya yang sudah berkarier di luar negeri. Ya, paling tidak ini membuktikan bahwa pelatih kita tak cuma hanya jago kandang!

https://youtu.be/JP5pDoz3eGU

Sumber Referensi : bolanas, bola.com, libero, juara, indosport, kompas

Berita Bola Terbaru 19 Januari 2024 – Starting Eleven News

BERITA BOLA TERBARU DAN TERKINI

HASIL PERTANDINGAN

Napoli lolos ke partai puncak Piala Super Italia 2023 usai menaklukkan Fiorentina di semifinal. Peraih Scudetto musim lalu itu menang tiga gol tanpa balas dalam laga yang digelar di Al-Awwal Park, Riyadh, Arab Saudi, Jumat (19/1) dini hari WIB. Napoli membuka keunggulan pada menit ke-22 lewat Giovanni Simeone. Napoli lalu menambah skor di menit ke-84 oleh Alessio Zerbin. Dan dua menit kemudian, Zerbin mencetak brace untuk memastikan kemenangan 3-0 Napoli.

Barcelona berhasil melibas Unionistas de Salamanca dengan hasil akhir 3-1 dalam laga babak 16 besar Copa del Rey 2023/24 di Reina Sofia, Jumat (19/1) dini hari WIB. Barca sempat tertinggal akibat gol Alvaro Gomez. Blaugrana bangkit dan sukses memastikan kemenangan lewat gol-gol yang dicetak Ferran Torres, Jules Kounde, dan Alejandro Balde. Berkat hasil ini, Barcelona pun berhak meneruskan langkah ke babak perempat final alias 8 besar.

Real Madrid harus tersingkir dari Copa Del Rey usai ditumbangkan Atletico Madrid 2-4, Jumat dini hari tadi. Samuel Lino membuka skor untuk tuan rumah di menit ke-39 sebelum Madrid merespons pada injury time babak pertama berkat bunuh diri kiper Atletico Jan Oblak. Di 45 menit kedua, Alvaro Morata mencetak gol untuk Los Rojiblancos. Madrid menolak menyerah dan mampu menyeimbangkan skor 2-2 lewat Joselu delapan menit sebelum waktu normal habis. Namun, Atletico akhirnya mampu memaksa tim tamu tunduk melalui gol-gol Antoine Griezmann dan Rodrigo Riquelme pada perpanjangan waktu. Atas hasil ini, Atletico melaju ke babak delapan besar.

Dari ajang Piala Asia 2023 di Grup B, Australia sukses melaju ke babak 16 besar usai mengalahkan Syria dengan skor 1-0, Kamis malam. Gol tunggal tim Kanguru dicetak oleh Jackson Irvine di menit ke-59. Pada laga lainnya, Uzbekistan menang telak 3-0 atas India. Tiga gol Uzbekistan dicetak oleh Abbosbek Fayzullaev (4′), Igor Sergeev (18′), dan Sherzod Nasrullaev (45′ + 4′).

Di Grup C, Palestina sukses menahan imbang 1-1 lawan Uni Emirat Arab, Jumat dini hari tadi. Sultan Adill Alamiri membawa UEA unggul lebih dulu di menit ke-23, sebelum Palestina mampu menyamakan skor di menit 50 melalui gol bunuh diri Nasser Abaelaziz Bader.

MOHAMED SALAH CEDERA

Timnas Mesir bermain imbang 2-2 melawan Ghana pada ajang Piala Afrika, di Stade Felix Houphouet-Boigny, Abidjan, Pantai Gading, Kamis (18/1) waktu setempat. Pada laga itu, bintang Mesir, Mohamed Salah menderita cedera beberapa saat sebelum tengah babak laga tersebut. Ia sempat terduduk di lapangan sebelum berdiri kembali dan menggelengkan kepalanya kepada rekan-rekan setim. Penyerang Liverpool berusia 31 tahun itu tampak mengalami cedera pada otot hamstringnya. Mo Salah akan menjalani tes untuk mengetahui tingkat cederanya.

JORDAN HENDERSON RESMI KE AJAX

Jordan Henderson mengakhiri petualangannya di Arab Saudi lebih cepat. Mantan kapten Liverpool itu memutus kontraknya dengan Al Ettifaq dan pindah ke Belanda, gabung Ajax. Gelandang berusia 33 tahun itu membubuhkan tanda tangan kontrak sampai 2026. Jordan Henderson pun langsung menegaskan ambisinya untuk membawa Ajax bangkit dari periode buruk yang sejauh ini mereka alami di musim 2023/24 ini.

ARSENAL PERTIMBANGKAN REKRUT KARIM BENZEMA

Arsenal diduga sedang mempertimbangkan mengajukan tawaran pinjaman pada penyerang Al-Ittihad, Karim Benzema. Meski untuk itu, manajemen klub harus mempersiapkan dana besar. Arsenal juga perlu menemukan cara untuk menangani gaji Benzema yang sangat besar jika mereka ingin menyelesaikan kesepakatan. Benzema memegang kontrak di Al-Ittihad hingga 2026, sehingga perpindahan permanen menjadi sangat tidak realistis pada pertengahan musim 2023/24. 

STEVEN GERRARD PERPANJANG KONTRAK DI AL ETTIFAQ

Steven Gerrard telah menyetujui kontrak baru dengan Al Ettifaq. Pelatih asal Inggris ini telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang masa baktinya selama dua tahun bersama Al Ettifaq, hingga musim panas 2027. Gerrard sebelumnya menerima pinangan klub Al Ettifaq pada musim panas 2023. Kedatangan Gerrard mengikuti eksodus pemain-pemain top Eropa ke Liga Arab Saudi.

MU ASINGKAN MARTIAL SEPERTI SANCHO 

Muncul kabar kalau Anthony Martial kini “diasingkan” di Manchester United, seperti halnya Jadon Sancho sebelum dipinjamkan ke Dortmund. Tapi, situasinya berbeda. Disebutkan lebih lanjut, Martial saat ini memang berlatih sendirian tapi itu adalah sesuatu yang lazim dalam program latihan tim Setan Merah pada saat seorang pemain kembali dari masa absen seperti cedera.

SKANDAL PAJAK NEYMAR, POLISI GEREBEK KANTOR KEMENTERIAN EKONOMI PRANCIS

Polisi menggerebek Kementerian Ekonomi Prancis atas kecurigaan bahwa klub sepakbola PSG mendapatkan perlakuan pajak khusus dari pemerintah untuk transfer Neymar pada 2017 dari Barcelona. Petugas dari unit antikorupsi melakukan penggeledahan pada Senin (16/1) waktu setempat. Mereka diperkirakan sedang menyelidiki hubungan antara Jean-Martial Ribes, mantan direktur komunikasi PSG, dan Hugues Renson, yang menjabat menjabat deputi partai yang berkuasa di Prancis pada saat transfer dilakukan.

POSISI ONANA TERANCAM? TEN HAG INCAR KIPER LAZIO

Andre Onana mendapat kritik di MU sejak bergabung dari Inter dan Erik ten Hag diberitakan sedang mencari alternatif lain. Goal melaporkan Ivan Provedel kini muncul sebagai kandidat. The Reds Devils dapat mengajukan tawaran untuk kiper berusia 29 tahun itu di bursa transfer Januari untuk memastikan mereka memiliki opsi kualitas yang bisa diandalkan. Sang kiper belum memperpanjang kontrak di Lazio seiring tuntutan kenaikan gaji di klub. Hal itu memicu potensi Provedel untuk angkat kaki dalam waktu dekat.

ANDRE ONANA KENA SEMPROT MANTAN STRIKER ARSENAL

Andre Onana kena semprot mantan striker Arsenal, Emmanuel Adebayor. Kiper MU itu dianggap tidak menghormati Timnas Kamerun gara-gara insiden kontroversial menjelang gabung Timnas Kamerun di Piala Afrika 2023, di Pantai Gading. Onana dinilai tidak menghormati negaranya. “Saya pernah menjadi pemain seperti dia, bahkan menjadi pemain terpenting yang dipilih saat itu. Saya tidak pernah bertingkah seperti itu (tiba pada hari pertandingan),” ucap Adebayor.

INDONESIA VS VIETNAM: JORDI AMAT JANGAN BLUNDER LAGI

Bek Timnas Indonesia, Jordi Amat diharapkan jangan melakukan blunder lagi saat jumpa Vietnam di laga kedua fase grup Piala Asia. Seperti diketahui, akhir-akhir ini, Amat terus melakukan blunder sejak laga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Dikutip Detik.com, Zein Al Haddad berharap eks Swansea City itu bisa tampil lebih baik. “Dia selalu membuat blunder. Kurang percaya diri artinya, seharusnya berpikir sebelum menerima bola. Jadi saat menerima tidak bingung,” ujarnya.

STY BISA DAPAT KONTRAK BARU HINGGA 2027, TAPI ADA SYARATNYA

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengatakan perpanjangan kontrak pelatih timnas Indonesia Shin Tae-yong sangat bergantung dari performa pelatih tersebut di gelaran Piala Asia 2023 dan Piala Asia U-23 2024. Hal tersebut disampaikan Erick seusai menghadiri MoU Groundbreaking PSSI dan Rumah Sakit Abdi Waluyo di Menara Danareksa, Jakarta, Kamis (18/1). Erick mengatakan jika performa STY dinilai bagus maka akan membuka peluang negosiasi perpanjangan kontrak hingga 2027.

PSSI: TIMNAS INDONESIA TETAP DITARGETKAN 4 POIN

Target mencuri satu poin dari Irak memang telah meleset. Tapi PSSI tetap menargetkan Timnas Indonesia untuk meraih total empat poin. Hal ini diucapkan oleh Erick Thohir selaku ketua umum PSSI. Erick berharap, dua laga selanjutnya harus dimaksimalkan. Pria yang kini menjabat Ketua Lakpesdam PBNU itu meminta kepada para pemain Timnas Indonesia untuk tetap optimistis. Keyakinan kuat disebutnya bisa mengalahkan segala rintangan dan tantangan yang ada.

FIX! BENZEMA MAU BALIK KE EROPA, SIAPA MAU?

Karim Benzema benar-benar ingin balik ke Eropa. Menurut kabar dari ESPN, ia tidak lagi betah bermain di Liga Arab Saudi. Meski sudah berusia 36 tahun, pengalaman serta ketajaman Benzema dianggap masih berguna untuk tim-tim papan atas. Beberapa klub Liga Inggris, termasuk Chelsea, dikabarkan meminatinya. Yang jadi masalah adalah Al Ittihad diwartakan belum mau melepas Benzema yang masih terikat kontrak 2,5 tahun lagi. Bahkan sekalipun ada yang berani menebus mahal Benzema, Al Ittihad akan menolaknya.

GONCALO RAMOS TIBA-TIBA MASUK DAFTAR JUAL PSG

Paris Saint-Germain dikabarkan tidak akan keberatan melepas Goncalo Ramos di bursa transfer januari 2024. Menurut laporan Diario AS, Ramos masuk ke dalam daftar jual PSG karena gagal mencuri hati pelatih kepala, Luis Enrique. Ramos tidak mampu menunjukkan performa konsisten dan baru bisa menciptakan empat gol serta satu assist dari 19 penampilan di lintas kompetisi. Tidak cuma itu, Diario AS juga menyebut Enrique cukup meragukan kemampuan Ramos untuk tampil di pertandingan tensi tinggi. 

CHELSEA MAU BAJAK LUKE SHAW DARI MU?

Chelsea dilaporkan akan mencoba mendaratkan Luke Shaw dari Manchester United. Menurut laporan sportbible, Chelsea butuh bek kiri baru karena mereka sedang mengalami krisis bek kiri. Ben Chilwell dan Marc Cucurella mengalami cedera. Sementara belakangan ini Pochettino mencoba mengatasi situasi ini dengan memasang Levi Colwill di pos itu, namun hasilnya kurang memuaskan. Akan tetapi, Erik Ten Hag kabarnya sama sekali tidak mau melepaskan sang bek. Karena ia merupakan pemain inti United.

HANDANOVIC KEMUNGKINAN GANTIKAN CHIVU SEBAGAI PELATIH INTER PRIMAVERA

Cristian Chivu telah memutuskan untuk meninggalkan tim Inter Milan Primavera (Inter U-19) pada akhir musim ini, dan Samir Handanovic kemungkinan akan menggantikannya. Hal ini menurut Football Italia bahwa mantan kiper Nerazzurri, Handanovic, kemungkinan akan ditunjuk sebagai pelatih baru Inter Primavera untuk menggantikan Chivu. Handanovic merupakan pemain Inter selama 11 tahun, bergabung dari Udinese pada tahun 2012.

DAVIDE ANCELOTTI TOLAK TAWARAN KLUB ARAB SAUDI

Davide Ancelotti, asisten pelatih Real Madrid dan putra Carlo Ancelotti, baru-baru ini ditawari kesempatan pindah ke klub Liga Pro Saudi. Diario AS mengungkapkan bahwa pria berusia 34 tahun itu telah mendapat tawaran dari Arab Saudi, akan tetapi, putra Ancelotti telah menolak tawaran untuk bergabung dengan liga bersama Cristiano Ronaldo dkk. Ancelotti Jr, yang telah memenangkan satu gelar liga dan dua trofi Liga Champions, di antara trofi lainnya, akan terus bekerja di Valdebebas setiap harinya.

MOURINHO DIPECAT AS ROMA, ALLEGRI KEHILANGAN ‘MUSUH’

Jose Mourinho dipecat begitu saja dari posisinya di AS Roma pada Selasa (16/1) setelah hanya meraih satu kemenangan dalam enam laga liga terakhir mereka. Meski pun performanya buruk, pemecatannya ini membuat sepakbola Italia terkejut, terutama mengingat petualangan Mourinho di Eropa bersama klub. Dan bos Juventus, Allegri, juga merasakan kejutan yang sama. Menurut Allegri, ini membuat sepakbola Italia kehilangan sosok penting. The Special One disebutnya telah memberi warna dalam Serie A.

IVAN TONEY BUKA PELUANG PINDAH KLUB SETELAH BEBAS DARI HUKUMAN

Bomber Brentford, Ivan Toney mengakui bahwa dirinya ingin bergabung ke klub top. Namun dia belum tahu kapan akan pindah dari Brentford. Toney mengatakan hal ini setelah sanksi 8 bulannya resmi berakhir dan sang pemain siap untuk kembali merumput. Toney mengatakan bahwa dirinya ingin bersaing dengan Harry Kane untuk menjadi penyerang nomor satu Inggris. Dan salah satu caranya adalah pindah ke klub besar. Salah satu klub besar Inggris, Arsenal, dikabarkan tertarik merekrutnya.

RESMI, NAPOLI REKRUT TRAORE DARI BOURNEMOUTH

Napoli resmi mendatangkan Hamed Junior Traore dari Bournemouth. Pemain sayap berusia 23 tahun itu bergabung dengan Partenopei dengan status pinjaman enam bulan dengan opsi pembelian 25 juta euro. Jika klausul tersebut tidak diaktifkan, pihak klub Italia harus membayar biaya pinjaman. Traore menjalani pemeriksaan medis di ibu kota Campania pada hari Selasa sebelum menandatangani kontraknya.

ENAM KLUB BEREBUT KALVIN PHILLIPS, BARCELONA SALAH SATUNYA!

Enam tim bersaing untuk merekrut Kalvin Phillips pada jendela transfer Januari, dengan masa depan sang gelandang Manchester City itu akan segera ditentukan. Barcelona dan Atletico Madrid telah bergabung dalam perlombaan untuk merekrut pemain internasional Inggris itu. Sementara itu, Crystal Palace dan West Ham telah memantau situasinya dan pengagum jangka panjang Newcastle serta Juventus juga masih mengincarnya. Masa depan Phillips kabarnya bakal diputuskan minggu depan.

ANCELOTTI BERI SEMANGAT XAVI

Carlo Ancelotti memberikan semangat kepada Xavi Hernandez yang berada dalam tekanan duduk di kursi pelatih Barcelona. Hal itu disampaikan Ancelotti menjawab pertanyaan wartawan pada sesi konferensi pers, Rabu (17/1) waktu setempat. Seperti diketahui, Xavi mendapat sorotan tajam setelah kekalahan Barcelona 1-4 dari Real Madrid pada final Piala Super Spanyol, beberapa hari lalu. Ancelotti menilai Xavi punya kapasitas mumpuni untuk menangani klub sebesar Barcelona. 

Bukan Indonesia! Negara Ini Paling Banyak Pemain Naturalisasi di Piala Asia 2023

0

Genderang perang sudah ditabuh oleh Vietnam. Jelang laga melawan Timnas Indonesia kemarin, bek tim nasional Vietnam, yakni Vo Minh Trong melemparkan psywar kepada skuad racikan Shin Tae-yong. Minh Trong sama sekali tak takut dengan kekuatan skuad Garuda. Menurutnya, Indonesia cuma mengandalkan pemain-pemain naturalisasi. 

Pernyataan tersebut tak sepenuhnya salah, karena Coach Shin memang membawa beberapa pemain keturunan. Jika Elkan Baggot dihitung, maka ada delapan pemain naturalisasi yang menghiasi skuad Timnas Indonesia di ajang Piala Asia kali ini.

Namun, Indonesia bukan “si paling” naturalisasi. Masih ada yang lebih banyak menggunakan pemain naturalisasi. Mau bukti? Berikut daftarnya.

Australia

Selain Jepang dan Korea Selatan, Australia menjadi salah satu kiblat sepakbola di Benua Asia. Kemajuan dan kesuksesan sepakbola yang dicapai Negeri Kanguru tak lepas dari peran asing. Bahkan dalam proses menjuarai Piala Asia 2015, Australia dibantu oleh pelatih keturunan Yunani, Ange Postecoglou.

Nah, di Piala Asia kali ini The Socceroos tetap memanfaatkan talenta-talenta keturunan yang ada. Saat pendaftaran pemain untuk berangkat ke Qatar ditutup, Timnas Australia asuhan Graham Arnold membawa sembilan pemain naturalisasi. Itu sedikit lebih banyak dari Indonesia.

Federasi sepakbola Australia cukup gencar menjaring dan menaturalisasi pemain-pemain yang memiliki darah Australia dari orang-orang Timur Tengah dan Eropa. Karena apabila ditelusuri dari sejarahnya, Australia memang jadi negara yang menampung cukup banyak pengungsi dari wilayah tersebut. Oleh karena itu, dua pentolan Socceroos yakni Harry Souttar dan Jackson Irvine merupakan pemain yang memiliki darah Skotlandia.

Irak

Salah satu lawan Timnas Indonesia di Grup D, Irak juga jadi salah satu negara yang mengandalkan pemain keturunan di kompetisi empat tahunan ini. Menurut statistik yang dikemukakan oleh Good Stats, tim nasional Irak setidaknya memiliki sepuluh pemain yang lahir dan besar di negara orang sebelum akhirnya memperkuat Singa Mesopotamia.

Irak tentu tak melewatkan kesempatan untuk memanggil talenta-talenta keturunan yang dimiliki untuk memperkuat tim nasional. Bahkan di skuad Irak yang tampil di Piala Asia 2023 setidaknya ada tujuh pemain yang pernah bermain di timnas kelompok umur negara lain. Pemain keturunan Irak yang paling mencolok adalah Frans Putros.

Dari nama saja udah nggak berbau Timur Tengah sama sekali. Pemain berusia 30 tahun itu lahir dan besar di Denmark. Frans Putros bahkan sempat membela Timnas Denmark U-20 dan U-21. Selain Frans, pemain-pemain lain yang lahir di luar Irak ada Zidane Iqbal yang lahir di Inggris, dan Danilo Al-Saed di Swedia. 

Palestina

Palestina jadi negara yang paling masuk akal apabila mengandalkan pemain-pemain keturunan dan diaspora untuk memperkuat tim nasional. Bagaimana tidak? Pasca invasi Israel, saudara jauh dari Indonesia ini kehilangan banyak penduduk karena memilih untuk mengungsi ke negara-negara lain.

Timnas Palestina masuk jajaran tim yang memiliki pemain keturunan paling banyak di Piala Asia 2023. Menurut CNN Indonesia, setidaknya ada sebelas pemain yang memiliki garis keturunan dari negara lain. Rata-rata pemain keturunan yang berseragam Lions of Canaan berasal dari Eropa. Namun ada pula yang berasal dari Benua Amerika Latin, tepatnya Chile.

Camilo Saldana jadi pemain Palestina yang memiliki darah Chile. Lahir di Santiago de Chile, Saldana baru debut di skuad Timnas Palestina pada November 2023. Selain Saldana, ada pemain  lain yang memiliki darah dan lahir di negara Eropa macam Michel Termanini yang lahir di Swedia dan Yaser Hamed yang lahir di Spanyol.

Qatar

Tim tuan rumah juga tak bisa dilepaskan dari pengaruh pemain-pemain keturunan. Bahkan saat menjuarai Piala Asia edisi 2019, sebagian besar pemain Timnas Qatar adalah pemain-pemain keturunan. Di edisi kali ini, Qatar kembali mengandalkan pemain naturalisasi. Menurut data yang diungkapkan CNN, Qatar membawa 12 pemain naturalisasi. 

Ya, anda tidak salah dengar. Itu sama saja satu skuad lebih. Tak main-main, pemain keturunan yang dimiliki skuad asuhan Tintin Marquez berasal dari negara-negara unggulan di dunia sepakbola dunia, seperti Portugal dan Brazil. Tapi, tak sedikit pula dihiasi pemain keturunan dari negara tetangga macam Bahrain dan Mesir.

Di skuad Qatar kali ini ada satu nama yang mencolok yakni Pedro Miguel. Pemain berusia 33 tahun itu merupakan pemain yang lahir di Portugal dengan garis keturunan Cape Verde, bukan Qatar. Namun, karena sudah menetap di Qatar sejak 2011 dan dianggap mampu memberikan kekuatan tambahan untuk Qatar, ia dinaturalisasi tahun 2016.

Dua pemain paling diandalkan Qatar, Almoez Ali dan Akram Afif juga bukan 100% Qatari. Ali lahir di Sudan, sedangkan Afif memiliki darah Tanzania dan Somalia dari sang ayah.

Hongkong

Di urutan ketiga negara yang paling memanfaatkan pemain keturunan di Piala Asia 2023 adalah Hongkong. Negara yang terkenal dengan industri perfilmannya itu memiliki total 12 pemain naturalisasi dan keturunan di skuad tim nasional. Rata-rata pemain yang dinaturalisasi federasi sepakbola Hongkong berasal dari Brazil.

Tapi tak sedikit juga yang berasal dari Inggris. Hal tersebut karena ada garis sejarah panjang yang terbentang antara Hongkong dan Inggris. Ya, sebelas dua belas sama apa yang dimiliki oleh Indonesia dan Belanda gitulah.

Pemain-pemain keturunan dan naturalisasi yang dibawa oleh Jorn Andersen antara lain Oliver Gerbig yang memiliki darah Jerman, Vas Nunez keturunan Meksiko, serta Everton Camargo dan Juninho yang sama-sama memiliki darah Brazil. Meski tak diunggulkan di Piala Asia kali ini, Hongkong tampaknya ingin berbenah. 

Lebanon

Timnas Lebanon turut jadi tim yang memiliki pemain keturunan paling banyak di Piala Asia 2023. Negara asal penyanyi religi terkenal, Maher Zain itu setidaknya memiliki 12 pemain dengan garis keturunan dari negara lain di skuad yang sedang berjuang di Qatar. Campuran asing di tim Lebanon terbilang beragam karena banyak warga Lebanon yang bermigrasi ke negara lain.

Rata-rata berasal dari Benua Eropa seperti Swedia, Denmark, bahkan Jerman. Namun ada pula pemain yang lahir di belahan benua lain seperti Kanada, Amerika Serikat, Venezuela, Meksiko, Australia, Sierra Leone, hingga di Benua Afrika seperti Pantai Gading.

Dari 12 nama itu, bahkan ada beberapa pemain yang sempat membela tim nasional kelompok umur di negara lain. Tiga pemain di antaranya adalah Soony Saad di Timnas Amerika Serikat U-17 dan U-20, Daniel Lajud di Timnas Meksiko U-20, dan Bassel Jradi di tim nasional Denmark U-20 dan U-21.

Malaysia

Di urutan puncak tidak lain dan tidak bukan adalah sang tetangga berisik, Malaysia. Di Piala Asia edisi kali ini, skuad racikan Kim Pan-gon membawa 14 pemain naturalisasi. Gokil, udah bisa bikin tim nasional sendiri tuh! Dari banyaknya nama tersebut, dibagi menjadi dua jenis. Pemain keturunan dan pemain yang dinaturalisasi karena performanya apik di kompetisi domestik.

Di Piala Asia 2023, tercatat ada empat pemain naturalisasi di skuad Harimau Malaya. Mereka adalah Endrick Dos Santos dan Paulo Josue dari Brazil, Mohamadou Sumareh dari Gambia, dan Romel Morales dari Kolombia. Sementara sepuluh pemain lain adalah pemain yang memang memiliki darah keturunan Malaysia.

Sementara beberapa pemain keturunan yang dimiliki Malaysia kebanyakan dari tanah Eropa seperti Inggris seperti Darren Lok dan La’Vere Corbin-Ong, lalu ada Dion Cools yang berdarah Belgia, dan ada saudara dari legenda Arema, Kiko Insa yakni Natxo Insa yang memiliki darah Malaysia-Spanyol.

Sumber: Good Stats, CNN Indonesia, Bolasport, Bola.net

Pemain Top Ini Justru Menderita di Liga Arab Saudi

0

Eksodus para pemain yang bermain di Eropa ke Arab Saudi dalam satu tahun terakhir telah menimbulkan berbagai respons, tak terkecuali respons negatif. Seperti yang dikatakan oleh Presiden Barcelona, Joan Laporta pemain-pemain bintang yang pada akhirnya memilih bermain di Liga Arab Saudi murni karena uang. Tak ada alasan lain.

Dengan kualitas liga yang dianggap tak sebagus dan tak se-kompetitif liga-liga top Eropa, bermain di Liga Arab Saudi dianggap sebuah penurunan level. Eks pemain top Eropa pasti tak akan kesulitan karena minimnya persaingan.

Namun, yang terjadi akhir-akhir ini justru berkebalikan. Beberapa pemain malah kesulitan dan mendapatkan banyak masalah setelah bermain di Arab Saudi. Mau bukti? Berikut adalah daftar pemain top yang menderita di Arab Saudi.

Karim Benzema

Setelah meraih gelar Ballon d’Or bersama Real Madrid pada tahun 2022, Karim Benzema mengejutkan jagad sepakbola dengan memutuskan untuk bergabung dengan Al-Ittihad pada awal musim 2023/24. Ia bergabung dengan status bebas transfer setelah sepakat untuk tidak memperpanjang kontraknya bersama El Real.

Menjadi bagian dari proyek gila Al-Ittihad, Benzy tak butuh waktu lama untuk memberikan service bintang lima di depan gawang. Dari enam pertandingan awal, mantan pemain Lyon itu sudah berkontribusi dalam lima gol Al-Ittihad. Semua terlihat baik-baik saja sampai pada akhirnya Benzema terlibat perselisihan dengan sang pelatih, Nuno Espirito.

Nuno menganggap kalau Benzema adalah pemain yang malas. Benzema yang tak terima pun akhirnya ngambek dan ngilang dari skuad dan mematikan media sosialnya. Meski Nuno sudah dipecat, Benzy tetap belum kembali ke skuad Al-Ittihad. Oleh karena itu ia jadi bahan olok-olok fans di Arab Saudi. Karena tak menemukan titik temu, Benzy dirumorkan hengkang dari Al-Ittihad.

Roberto Firmino

Pemain selanjutnya adalah salah satu legenda Liverpool, yakni Roberto Firmino. Pada awalnya, situasi tampak sangat baik bagi Roberto Firmino. Dia meninggalkan Anfield untuk bergabung dengan Al-Ahli yang memang tengah membutuhkan striker baru guna bersaing dengan klub-klub elite yang lain.

Firmino langsung tancap gas ketika memainkan laga debutnya untuk Al-Ahli. Bukan hanya satu atau dua gol saja, pemain berkebangsaan Brazil itu langsung mencetak gol di laga debut melawan Al-Hazem. Namun, itu jadi satu-satunya hari di mana Firmino mencetak gol. Sisanya, Firmino melewati hari demi hari tanpa sekalipun menjebol gawang lawan.

Apabila dibandingkan dengan musim lalu, performa Firmino menurun drastis. Bersama Liverpool ia bisa dengan mudah mencapai dua digit gol dalam satu musim. Sedangkan musim ini ia gagal mencetak gol dalam 18 pertandingan beruntun. Kontribusinya bahkan kalah dari pemain lokal Firas Al-Buraikan yang sudah mencetak tujuh gol dalam 12 pertandingan. 

Neymar

Neymar juga jadi pemain bintang yang justru makin menderita ketika bermain di Arab Saudi. Sepakbola Eropa di Paris Saint-Germain digadaikan begitu saja oleh pemain asal Brazil tersebut. Daripada melanjutkan mimpinya untuk meraih Ballon d’Or, Neymar lebih memilih hidup dengan fasilitas mewah bersama Al-Hilal.

Berbeda dengan pemain lain yang bergabung dengan status bebas transfer, Neymar ditebus dengan mahar 90 juta euro atau setara dengan Rp1,5 triliun dari PSG. Itu memang bukan angka yang kecil, tapi bukan uang yang seberapa buat Al-Hilal yang disokong langsung oleh pemerintah Arab Saudi.

Fasilitas kelas wahid macam rumah mewah, mobil mewah, hingga jet pribadi pun telah disiapkan. Namun, Neymar kabarnya tak bisa menikmati kemewahan itu. Dirinya justru lebih disibukan dengan pemulihan cedera ACL nya. Kita semua bisa melihat video yang menampilkan dirinya hanya terbaring di kamar sambil mengerang kesakitan saat melakukan terapi.

Jota

Pemain berikutnya adalah Jota. Eits, bukan Jota yang di Liverpool ya. Sama-sama berasal dari Portugal, Jota yang ini membangun reputasinya sebagai pemain bintang bersama klub Skotlandia, Celtic. Saking dicintai oleh publik Glasgow, fans Celtic sampai memiliki lagu khusus tentangnya yang berjudul “Jota On The Wing”.

Pemain yang memiliki nama lengkap Joao Pedro Neves Filipe ini rela meninggalkan kehidupan yang penuh cinta di Celtic demi gaji selangit yang ditawarkan Al-Ittihad pada awal musim 2023/24. Tapi setelah tawaran itu diambil, Jota terlihat nggak betah di Arab Saudi.

Baru sebulan bergabung, Jota sudah diisukan ingin hengkang dari Al-Ittihad. Dilansir Sportbible, Jota kurang mampu beradaptasi dengan kultur dan cuaca di Arab Saudi. Oleh karena itu, ia merasa tak akan bisa berkontribusi banyak pada tim. Kabarnya, kini sang pemain sedang bernegosiasi dengan Al-Ittihad untuk mengakhiri kontraknya lebih awal.

Jordan Henderson

Meski sudah dilatih oleh mantan rekannya, yakni Steven Gerrard, Jordan Henderson tetap merasa tak betah di Arab Saudi. Pemain berusia 33 tahun itu sebetulnya jadi langganan lini tengah skuad asuhan Steve G. Namun, sang pemain khawatir tak bisa membela tim nasional Inggris lagi.

Tahun 2024, Inggris akan berlaga di EURO 2024 dan Jordan Henderson tak ingin melewatkan itu. Ia merasa kalau terus bermain di Arab Saudi, kemungkinan untuk membela timnas jadi semakin kecil. Akhirnya Henderson berdiskusi dengan klub untuk mencari pintu keluar dari Arab Saudi.

Kedua belah pihak kabarnya telah melakukan pembicaraan untuk mengakhiri kontrak tiga tahun yang sebelumnya sudah ditandatangani. Menurut beberapa media Inggris, Jordan Henderson dikabarkan akan segera bergabung dengan Ajax Amsterdam pada bursa transfer Januari ini. 

Yannick Carrasco

Kalau pemain yang satu ini sih memang memiliki perjalanan karir yang cukup aneh. Sebelum akhirnya bermain untuk Al-Shabab, Yannick Carrasco memang sudah dikenal mata duitan sejak pindah ke Liga China pada tahun 2018. Namun, bermain di liga yang kualitasnya jauh di bawah La Liga, Carrasco justru tak mampu bersinar. 

Jika musim lalu dirinya mampu mencetak dua digit gol di semua ajang bersama Los Rojiblancos, musim ini pemain yang mirip dengan Zayn Malik itu baru bisa cetak enam gol untuk Al-Shabab. Statistik itu kian terlihat buruk karena ia baru mencetak dua gol dalam 13 pertandingan di Saudi Pro League.

Meski terlihat kesulitan, Carrasco menganggap hal seperti ini wajar terjadi dan tak ada niatan untuk meninggalkan Arab Saudi. Dilansir Brussel Times, Arab Saudi adalah pilihan yang realistis bagi kariernya. Carrasco merasa usianya sudah tak muda lagi dan ingin menghindari kemungkinan cedera. Karena di Arab Saudi, jadwal pertandingannya cenderung lebih santai, tidak sepadat di Eropa.

Karl Toko Ekambi

Terakhir ada Karl Toko Ekambi. Agustus tahun 2023, Ekambi bergabung dengan Abha dari klub lamanya, Lyon. Sama halnya dengan pemain-pemain lain, Toko Ekambi awalnya betah-betah aja main di Arab Saudi. Pihak klub dan fans menyambut baik kedatangannya. Namun, seiring berjalannya waktu pemain kelahiran Prancis itu justru mengalami kesulitan mencetak gol.

Mantan penyerang Villarreal itu baru mencetak lima gol dari 17 pertandingan di Saudi Pro League. Menjadi satu-satunya pemain bintang di lini serang, kesulitan mencetak gol jadi beban tersendiri baginya. Ia mendapat tekanan lebih besar daripada di Lyon dan itu membuatnya tak nyaman.

Situasi makin sulit karena Abha kini duduk di zona degradasi dengan hanya mengumpulkan 14 poin dari 19 pertandingan. Banyaknya keluhan dan performa tim yang kian menurun membuat Karl Toko Ekambi ingin hengkang bulan Januari ini. Kabarnya, klub Eropa adalah tujuan prioritas dari Ekambi.

Sumber: Planetfootball, Goal, Sportbible, Standard

Talenta Zion Suzuki: Kiper Kulit Hitam di Timnas Jepang

0

Sepakbola adalah olahraga yang terbilang cukup merakyat namun tetap menyenangkan. Sepakbola bisa dimainkan kapan pun dan dimanapun. Bahkan, kalian bisa mengganti bolanya dengan benda apa pun. Kalian pasti pernah berusaha menendang-nendang kaleng atau botol plastik yang tergeletak di jalan. Hayo, ngaku saja.

Oleh karena itu, sepakbola bisa menjadi alat pemersatu di tengah banyaknya perbedaan. Pesepakbola dari berbagai negara, benua, dan ras yang berbeda bisa bergabung dalam satu tim dan saling bahu membahu untuk meraih sebuah kemenangan. Nah, nilai-nilai keberagaman semacam ini juga tengah diusung oleh Timnas Jepang di Piala Asia 2023.

Dan yang menjadi garda terdepan dalam mengkampanyekan Bhineka Tunggal Ikadi skuad Hajime Moriyasu adalah Zion Suzuki. Dengan penampilan yang begitu mencolok, Zion tetap memberikan 100% dedikasinya untuk tim nasional Jepang. Lantas, bagaimana pemain yang pernah hampir bergabung Manchester United itu menghadapi perbedaan warna kulit di sepakbola Jepang?

Rasisme di Dunia Olahraga Jepang

Sulitnya menerima perbedaan suku, etnis, dan warna kulit acap kali jadi permasalahan di berbagai negara, termasuk Jepang. Rasisme di Jepang terdiri dari sikap dan pandangan negatif terhadap ras atau kelompok tertentu yang memiliki perbedaan mencolok dari masyarakat Jepang pada umumnya.

Jepang bahkan tidak memiliki undang-undang yang melarang diskriminasi ras, etnis, atau agama. Negara ini juga tidak memiliki lembaga hak asasi manusia nasional. Maka dari itu, orang asing di Jepang sering kali menghadapi pelanggaran hak asasi manusia. 

Tindakan seperti itu bahkan bisa terjadi dimanapun, baik di dunia pendidikan, kerja, bahkan olahraga. Meski sudah ada banyak atlet berkulit hitam di tim nasional Jepang, mereka tidak bisa lepas dari kasus rasialisme. 

Sebagai contoh, petenis berdarah Haiti, Naomi Osaka pernah dihina dengan sebutan “kulit yang terbakar” karena kelamaan berjemur dan dianggap tak layak mewakili Jepang di ajang internasional. Jadi tak heran, ketika Zion Suzuki muncul sebagai kiper utama Timnas Jepang di ajang Piala Asia 2023, hal itu menimbulkan berbagai macam respons di media sosial. 

Darah Jepang di Zion Suzuki

Kehadiran Zion Suzuki di skuad tim nasional Jepang pun memunculkan tanda tanya. Sebab, kehadiran pemain berkulit gelap di skuad The Blue Samurai merupakan hal yang tak lazim. Namun, Zion tetap bermain dengan rasa bangga. Karena darah dan semangat seorang samurai mengalir dalam dirinya.

Zion dibesarkan di Prefektur Saitama, Jepang. Kendati pemain berpostur 190 cm itu sejatinya lahir di Little Rock, sebuah daerah di Arkansas, Amerika Serikat. Namun, usai lahir Zion pergi ke Jepang. Ibunya adalah warga negara Jepang, sedangkan sang ayah berasal dari Ghana.

Zion tumbuh dengan kultur, bahasa, dan gaya hidup orang Jepang. Di Jepang pula ia meniti kariernya sebagai pesepakbola. Bakat Zion Suzuki sudah tercium oleh salah satu klub raksasa Liga Jepang, Urawa Reds Diamonds saat usianya masih muda. Karena ia tinggal lama di Jepang dan memiliki darah Jepang dari sang ibunda, Zion memutuskan untuk membela Timnas Jepang.

Urawa dan Riwayat Kasus Rasisme

Zion masuk akademi Urawa Red pada 2009. Namun, lima tahun setelah Zion bergabung ke akademi Urawa, tim ini tersandung kasus rasisme, tepatnya pada tahun 2014. Berstatus sebagai tim papan atas yang memiliki pendukung paling besar di persepakbolaan Jepang, peristiwa ini jadi salah satu dosa paling besar yang dimiliki oleh Urawa Reds Diamonds. 

Kronologinya berawal saat Urawa Reds memainkan laga kandang melawan Sagan Tosu pada Maret 2014. Di tengah pertandingan tiba-tiba geger. Salah satu oknum fans Urawa kedapatan memasang banner besar yang bertuliskan “Japanese Only” di salah satu pintu masuk.

Presiden Urawa Reds kala itu, Keizo Fuchita mengatakan munculnya banner bernuansa diskriminatif itu bisa ditafsirkan sebagai pesan xenophobia terhadap masuknya pesepakbola non-Jepang yang berlebihan ke Liga Jepang. Keizo yang terlanjur malu sampai meminta maaf atas perbuatan fans yang tak bertanggung jawab itu.

Dilansir BBC, karena tak kunjung menemukan pelakunya, Urawa Reds akhirnya dihukum dengan sejumlah denda dan harus memainkan pertandingan berikutnya melawan Shimizu S-Pulse tanpa penonton. Sebelum pertandingan, para pemain Urawa pun mengenakan kaos yang bertuliskan janji untuk memerangi rasisme. 

Kapten tim kala itu, Yuki Abe juga mengambil sikap dengan membacakan pernyataan menyesali spanduk provokatif itu dan berjanji tak akan membiarkan hal ini terjadi lagi. Peristiwa ini pun menimbulkan respons dari ketua J-League kala itu, Mitsuru Murai. Menurutnya keberadaan spanduk itu tidak hanya merusak citra liga, melainkan juga seluruh komunitas sepak bola di Jepang.

Kasus ini pun akhirnya jadi evaluasi oleh Urawa Reds. Kini mereka berusaha menciptakan situasi yang aman dan nyaman bagi pemain kulit hitam. Oleh karena itu, Zion dan dua pemain asing kulit hitam lainnya yakni Jose Kante dan Thiago bisa bermain dengan nyaman di Urawa Reds.

Beruntungnya Zion Suzuki

Untunglah, ketika Zion Suzuki masuk ke tim utama tahun 2021, kasus rasisme di Urawa Reds sudah tutup buku. Tak terbayangkan apabila penggemar Urawa Reds masih saja rasis. Seorang pemain yang dihajar kalimat rasis dari warga lokal. Lihatlah apa yang pernah dialami Musashi Suzuki.

Sebagai pemain keturunan Jamaika, kehidupan Musashi di Jepang tak mudah. Dikutip dari Japan Forward, Musashi beberapa kali jadi korban perundungan karena warna kulitnya. Ia sering diteriaki dengan sebutan “gaijin”, istilah berbahasa Jepang yang sering dipakai untuk merendahkan orang asing.

Musashi bahkan sering diabaikan rekan setimnya saat bermain sepakbola hanya karena penampilannya yang mencolok. Tapi, ia tak menyerah begitu saja. Ia tetap menekuni sepakbola sampai akhirnya menembus skuad tim nasional Jepang pada tahun 2019. Kini, ia sudah mengantongi sembilan caps di Timnas Jepang.

Lahir di generasi yang lebih modern membuat perbedaan yang dimiliki pemain macam Zion Suzuki bisa lebih diterima. Pelatih-pelatih tim nasional pun mampu fokus pada performa dan kehebatan sang pemain di lapangan. Oleh karena itu, Timnas Jepang tak mau kehilangan talenta berharga yang dimiliki Zion.

Untuk memagari Zion dari ketertarikan tim nasional Ghana dan Amerika Serikat, Hajime Moriyasu langsung diberikan kesempatan kepadanya untuk debut di tim senior pada tahun 2022. Kala itu, The Blue Samurai menghadapi Hongkong dan Zion tampil maksimal dengan catatan clean sheet.

Peran Pemerintah Jepang

Meski sudah tak semasif dulu, saat ini belum ada penelitian yang spesifik membahas penerimaan penggemar Liga Jepang terhadap pesepakbola kulit hitam layaknya Zion Suzuki. Namun, apabila kita melihat dari sepak terjangnya, federasi sepakbola Jepang cukup tanggap mengatasi masalah rasisme dalam sepak bola mereka.

Setelah kasus Urawa Reds, pemerintah Jepang terus berupaya mengangkat harkat martabat atlet Jepang yang berkulit hitam. Hal ini bisa dibuktikan pada ajang Olimpiade yang digelar pada tahun 2021 kemarin. Naomi Osaka, petenis Jepang yang sempat mendapat perlakuan rasisme mendapat kehormatan menjadi orang yang menyalakan kaldron dalam seremoni pembukaan Olimpiade. 

Sementara itu, Rui Hachimura, pebasket Jepang yang berkulit hitam karena memiliki keturunan Benin dari ayahnya juga mengambil peran di Olimpiade Tokyo. Ia dipercaya untuk membawa bendera Jepang dalam parade di pembukaan salah satu pesta olahraga terbesar di dunia tersebut.

Kini, Jepang tentu sudah lebih terbuka dengan keberadaan pemain asing dan keturunan. Keberadaan atlet-atlet keturunan kulit hitam yang berprestasi pun mengubah stigma negatif warga lokal. Betapa beruntungnya Zion muncul di generasi Jepang yang lebih siap menghadapi perbedaan. Sehingga Zion Suzuki bisa dengan bangga tampil bersama Timnas Jepang di Piala Asia 2023.

Sumber: The Guardian, Fox Sport, The World, BBC, Japan Trends, Planetfootball

Apakah Benar Lionel Messi Itu Autis?

0

Messi Autis. Terdengar janggal, atau memang sepertinya begitu? Kota kecil di Argentina Rosario, telah jadi saksi kisah awal perjalanan La Pulga dengan segala hambatan yang ada dalam tubuhnya.

Lahirnya bocah bernama Lionel Andres Messi memang anugerah luar biasa yang diberikan Tuhan kepada sepak bola. Tapi benarkah Tuhan juga menganugerahkan keistimewaan lain dalam tubuhnya?

Cerita Di Rosario

Terbang ke Rosario, kota yang jika ditempuh dari Jakarta dengan menggunakan pesawat, membutuhkan waktu sekitar 36 jam. Flashback sejenak ke kota tersebut di tahun 1987. Seorang anak ajaib hadir di dunia dari ayah seorang pekerja besi dan ibu seorang pekerja paruh waktu.

Messi kecil tumbuh dengan segala keterbatasan dibanding teman-temannya. Ia tergolong anak yang berpostur pendek. Messi malu dengan keadaannya tersebut. Messi juga adalah tipe orang yang kurang percaya diri. Ketika bersama teman-temannya bermain bola, tak jarang ia suka dibully.

Sampai suatu waktu di daerah tak jauh dari rumahnya, ia sempat dapat ancaman pukulan dari temannya gara-gara Messi jago sendiri saat bermain bola. Untung saja ketika itu keponakan Messi, Maxi Bianchucchi berhasil melerainya. Itulah kehidupan Messi kecil. Messi yang pendek, kurang percaya diri, tapi sudah punya bakat yang berbeda dari anak pada umumnya dalam mengolah si kulit bundar.

Kelainan Hormon

Mengetahui Messi memiliki bakat yang luar biasa di sepakbola, orang tuanya pun mulai mengupayakan segala cara agar anaknya bisa jadi pesepakbola profesional. Langkah pertama orang tua Messi yakni bagaimana cara mengatasi keterbatasan anaknya tersebut.

Suatu ketika saat Messi masih duduk di bangku sekolah, gurunya sempat memanggil orang tuanya ke sekolah. Guru tersebut mengingatkan agar anaknya tersebut segera dibawa ke psikolog atau dokter khusus. Pasalnya di sekolah, Messi terlihat sulit berinteraksi dengan teman-temannya, pemalu, dan sering di-bully teman-temannya. Guru tersebut takut, jika perkembangan mental Messi terganggu kedepannya.

Yang jadi masalah, orang tua Messi tak punya cukup uang untuk membawa Messi ke psikolog atau dokter. Sampai akhirnya dengan berbagai cara, orang tua Messi bisa membawa anaknya itu ke dokter khusus.

Tepatnya di usia 11 tahun, Messi didiagnosa menderita kelainan hormon atau dalam istilah medisnya Growth Hormone Deficiency (GHD). Messi pun mulai menjalani perawatan intens di rumahnya. Messi bahkan sempat melakukan pengobatan dengan cara menyuntikan sendiri jarum yang berisi cairan ke dalam tubuhnya.

Autisme Messi

Cerita keterbatasan Messi tak hanya sampai di situ. Ada sesuatu cerita yang tertinggal dari kisah masa kecil Lionel Messi. Tak hanya melulu soal kelainan hormon, namun kelainan lain yakni autisme.

Autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD), adalah suatu kondisi perkembangan saraf yang mempengaruhi interaksi sosial, kemampuan komunikasi, dan perilaku individu. Seperti apa yang dikisahkan oleh gurunya, La Pulga memang pribadi yang pemalu di kelas, dan sulit untuk berinteraksi dengan teman-temannya. Bahkan untuk bertanya kepada guru saja, harus temannya yang mengangkatkan tangan Messi.

Menurut Cameron Ridgway di jurnal Wessex Scene, sejak usia 9 tahun Messi sebenarnya sudah dianggap autis di lingkungan sekolahnya. Teman kecil Messi ada yang mengatakan bahwa Messi sudah dijuluki oleh teman-temannya di sekolah sebagai “El Pequeno Audio” atau si bisu kecil.

Tanda-Tanda Autisme Messi

“Si bisu kecil” itu pun tumbuh besar hingga menjadi pesepakbola terkenal. Namun gejala Messi mengidap autisme semakin kentara ketika menjadi pesepakbola profesional. Mendiang Maradona sebagai pelatih timnas Argentina ketika itu, sempat benci kalau berinteraksi dengan Messi. Maradona menganggap ngobrol dengan Messi lebih susah daripada ngobrol dengan tuhan.

Uniknya, bukan hanya susah ngobrol langsung dengan Messi secara tatap muka, diajak ngobrol lewat pesawat telepon saja susah. Messi lebih suka mengirimkan pesan sepenting apa pun lewat teks, ketimbang suara. Hmmm.. Aneh bukan?

Lalu kebiasaan sehari-hari Messi, misal pola tidurnya. Menurut berbagai penelitian, kalau durasi tidur seseorang yang tergolong lama dan tak teratur, juga jadi salah satu tanda orang mengidap autisme. Menurut mantan dokter Messi di Argentina Fernando Signorini, Messi sendiri ternyata bisa tidur hingga 12 jam.

Marisol, saudara tiri Messi, membenarkan hal tersebut. Messi bahagia jika ia tidur pulas dengan durasi lama. Bahkan kalau dibangunkan, ia malah marah besar. Messi, kata Marisol, juga adalah pribadi yang pemalas. Ia susah kalau diajak bepergian. Ia lebih suka menghabiskan waktu di rumah selama berjam-jam sendirian dengan bermain PlayStation.

Tak hanya tanda-tanda dari gaya hidupnya saja, dari gaya bermainnya juga banyak yang menganggap ada gejala Messi itu autis. Mendiang Tito Vilanova pernah mengatakan bahwa Messi itu asik dengan dunianya sendiri. Ia bermain bola layaknya anak-anak. Kalau kita lihat Messi meliak-liuk dengan bolanya, jarang ia memperhatikan kondisi sekitar. Messi benar-benar fokus dan menikmati setiap jengkal langkah dalam mengolah si kulit bundar.

Tanggapan Terhadap Messi

Namun dengan adanya berbagai tanda tersebut, tak serta-merta membuat Messi mengaku autis. Tanggapan jika Messi itu autis justru banyak keluar dari mulut orang lain. Termasuk Romario, sang legenda sepakbola Brazil.

Menurut Romario, Messi adalah pemain yang mengidap sindrom asperger. Sebuah sindrom yang menjadi salah satu gejala dari autisme. Sindrom ini mirip dengan yang dialami Messi, seperti kesulitan berinteraksi, pemalu, dan asik dengan dunianya sendiri.

Namun uniknya, sindrom ini malah bisa membuat orang lebih fokus daripada orang kebanyakan. Nah, semakin jelas. Hal itu mirip dengan gaya main Messi yang fokusnya terbilang luar biasa jika di lapangan.

Tak hanya tanggapan Romario. Asosiasi Jaringan Autis Dunia atau ACN (Autisme Community Network), bahkan pernah menyebut bahwa Messi adalah selebriti yang mengidap autisme. Banyak juga organisasi autisme lain di dunia yang menganggap Messi sebagai bagian dari keluarga mereka.

Apakah Messi Akan Mengakui?

Klaim bahwa Messi autis oleh Jaringan Autisme Internasional, pun tak mengubah sikapnya sejauh ini. La Pulga tetap diam seribu bahasa. Mungkin, bisa saja kisah Messi ini mirip dengan kisah John O’Kane, mantan bek MU di era 90-an.

Pemain MU tersebut sempat dijuluki oleh rekan-rekannya sebagai The Spaceman. John dianggap bak makhluk dari planet lain yang selalu asik dengan dunianya sendiri. Selama aktif bermain, John juga tak merasa dan tak mau mengaku bahwa ia menderita Autis.

Manchester Evening News menceritakan bahwa ketika John sudah pensiun, ia mencoba memberanikan diri untuk mengikuti tes Autisme. Dan hasilnya benar, John didiagnosa menderita autisme di usia pertengahan 40-an. Sejak itulah John lega. Bahkan ia sempat beberapa kali menginspirasi dan berbagi lewat kisah bertahan hidup dengan Autisme.

Dengan berkaca pada kasus tersebut, apakah suatu saat nanti ketika sudah pensiun, Messi akan melakukan hal yang sama seperti John? Atau justru, malah Messi masih bungkam akan hal ini?

https://youtu.be/0Yu_LKwjH4w

Sumber Referensi : exceptionalindividual, otizmpedia, thefootballreports, medium.com, manchestereveningnews, goldenstepaba