Beranda blog Halaman 80

Brest Musim Ini: Perkasa di Liga Champions, Menderita di Liga Sendiri

0

Jika saja malam itu PSV Eindhoven tidak ceroboh dan lebih sabar meladeni perlawanan Stade Brestois, mungkin mereka akan memetik kemenangan. Tapi apa lacur, koordinasi pertahanan PSV lengah ketika Brest mendapat kesempatan tendangan bebas. Keteledoran itu segera dihukum oleh Julien Le Cardinal yang menyambut bola liar dari sundulan Mama Balde.

Di babak kedua, PSV bermain lebih sabar. Terus menggempur pertahanan Brest. Tapi klub Prancis itu berhasil menahannya. Laga pun usai dengan kemenangan Brest. Kemenangan ini hampir pasti mengantarkan Brest ke babak 16 besar Liga Champions. Sesuatu yang, sepanjang sejarah, tidak pernah mereka lakukan.

Yang ironis, empat hari sebelum kemenangan tersebut, Brest dihajar Lille di Liga Prancis. Betul, usai menang atas PSV, Brest lalu menaklukkan Nantes, tapi itu tidak membuat mereka beranjak dari papan tengah Ligue 1. Apa yang membuat Brest berada di situasi semacam ini? 

Mengapa Brest perkasa di Liga Champions, tapi justru menjalani pekan-pekan penuh penderitaan di liga sendiri? Cari tahu jawabannya di sini.

Stade Brestois yang Perkasa di Liga Champions

Mungkin apabila di pertandingan kelima tidak bertemu Barcelona yang belum kehabisan bensin, Brest masih akan bersih dari kekalahan di Liga Champions. Sejak laga pertama, anak asuh Eric Roy tampil meyakinkan di Liga Champions musim ini. Juara Liga Austria, Sturm Graz mereka sikat.

Di laga kedua giliran RB Salzburg. Tim yang juga ternama di Bundesliga Austria itu dikalahkan lewat skor mencolok, 4-0. Tidak cuma itu, Brest mempermalukan Salzburg di depan pendukungnya sendiri. Laga selanjutnya level lawan meningkat. Brest menjamu satu-satunya jawara Bundesliga yang unbeaten.

Mereka sama sekali tidak takut. Justru sebaliknya, Brest cukup cerdik untuk bisa menahan laju serangan Die Werkself. Di sisi lain pasukan Xabi Alonso juga kehilangan ketajamannya. Setelah mencetak gol lewat Florian Wirtz, yang kemudian gol tersebut dibalas oleh Pierre Lees-Melou, Die Werkself tak lagi sanggup menjebol gawang Brest.

Setelah seri atas juara Bundesliga, Brest bersua jawara liga lain. Kali ini dari Liga Ceko, Sparta Praha. Brest mengacaukan permainan Sparta Praha setelah memecah kebuntuan di menit 37 lewat Edimilson Fernandes. Kepanikan yang terjadi membuat Sparta Praha malah mencetak gol ke gawangnya sendiri.

Di hadapan pendukungnya sendiri di Epet Arena, Sparta Praha pontang-panting mencari gol. Tapi gol baru hadir di menit 90+2. Tentu saja itu tidak cukup untuk menyamakan kedudukan.

Empat kemenangan, satu seri, dan sekali kalah membawa Brest ke peringkat tujuh sementara Super League, eh, Liga Champions. Real Madrid, Manchester City, Juventus, PSV, AC Milan, Dortmund, dan Bayern Munchen berada di bawahnya. Bahkan Lille dan PSG harus mendongak untuk melihat posisi Brest.

Terseok-seok di Ligue 1

Namun sebaliknya di Liga Prancis. Dua tim justru harus melongok jauh ke bawah untuk mengetahui posisi Stade Brestois. Ya, di Liga Prancis, Brest malah mengkis-mengkis. Hingga pertandingan ke-15, tim berjuluk Les Pirates itu tertahan di peringkat ke-11. Mereka lebih dekat ke zona degradasi daripada ke zona Liga Champions.

Tidak cuma itu. Berada di peringkat 11 ketika liga sudah berjalan hingga pekan ke-15, ini sebuah penurunan bagi Stade Brestois. Musim lalu, dalam 15 pertandingan pertama di Ligue 1, Brest sudah nangkring di posisi lima besar.

Brest sanggup menempeleng para goliath liga, tapi mereka tak sanggup memetik kemenangan melawan tim yang seharusnya mudah dihadapi di Ligue 1. Ketika menghadapi Montpellier pada 10 November lalu, misalnya, Brest mudah sekali digilas. Begitu pula tatkala melawan Auxerre. Brest bahkan tak bisa mencetak satu pun gol.

Jika dihitung-hitung, Brest hanya memenangkan empat dari 10 laga terakhir di Ligue 1. Berbeda dengan di Liga Champions, tim-tim di bawah Brest bukanlah para juggernaut di Liga Prancis. PSG, Marseille, Nice, AS Monaco, bahkan Olympique Lyon yang mau degradasi saja peringkatnya masih lebih baik.

Belum Siap Main di Liga Champions

Yang cukup menarik, fans tidak terkejut dengan kondisi ini. Sebagian besar dari mereka malah menganggap Brest sebetulnya belum siap bertarung di Liga Champions dan Ligue 1 dalam satu musim. Ada benarnya. Brest memang belum siap main di Liga Champions, orang markasnya saja menyewa milik tim lain.

Selama Liga Champions musim ini, Brest tidak memakai Stade Francis-Le Ble, rumahnya sendiri, melainkan Stade de Roundorou. Brest yang miskin dan cekak modal tak bisa menyuap UEFA. Jadi Stade Francis-Le Ble tak lolos standar stadion untuk menggelar pertandingan Liga Champions. Alhasil, Brest mesti meminjam markasnya EA Guingamp, tim dari Ligue 2.

Dihajar Cedera

Hakekatnya Brest adalah tim amatir yang menyaru profesional. Musim lalu lewat sebuah keberuntungan, Brest finis di posisi ketiga dan lolos ke Liga Champions. Tapi tim kecil tetaplah tim kecil. Di dunia sepak bola yang kejam dan berdarah dingin, bermain konsisten di dua kompetisi bagi tim seperti Brest tak ubahnya oase di gurun Negev.

Musuhnya sudah pasti cedera. Beberapa pemain dipaksa menyerah dihajar cedera. Bradley Locko mesti menjalani operasi tumit Achilles-nya. Pierre Lees-Melou masih belum sembuh betul dari cedera fibula. Julian Le Cardinal harus naik ke ranjang perawatan karena hamstring.

Otot Jonas Martin juga dihantam masalah. Pemain yang dipinjam dari Dortmund, Soumaila Coulibaly pinggulnya mengalami cedera. Dengan banyaknya pemain yang cedera, Brest bermain dengan sisa-sisa kekuatan untuk dua kompetisi domestik dan Liga Champions.

Apa Tidak Ada Rencana Membeli Pemain Baru?

Itu harus dilakukan sebab rasanya, daripada membeli pemain baru, uang lebih baik digunakan untuk menutup biaya operasional. Brest adalah tim dengan anggaran terkecil keempat di Liga Prancis. Menurut laporan Goal, cuma 40 juta euro (Rp677,8 miliar). Lebih kecil dari harga pasar Si Marmut Uruguay milik Liverpool.

Tidak diragukan lagi Direktur Olahraga Gregory Lorenzi memiliki prospek yang serius untuk pemain-pemain yang akan direkrut. Tapi bisa apa dia dengan anggaran yang tanpa disunat pun sudah cekak? Brest tak bisa begitu saja membeli pemain dengan harga berapa pun.

Di bursa transfer kemarin saja, Brest baru bisa mendapatkan pemain yang diincar di menit-menit akhir. Bukan malas-malasan atau diskusinya alot. Tapi Brest berusaha mencari pemain yang bagus tapi harganya tak membuat mereka miskin dalam semalam. Hm… Pak Eric Roy harus main-main ke Liga 1, nih. Siapa tahu tertarik membeli Rizky Ridho atau Egy Maulana “Messi”.

Mentalitas Buruk

Klub kecil seperti Brest tidak hanya bermasalah soal keuangan dan cedera, tapi juga memiliki mental barrier. Penyakitnya Brest musim ini memang itu. Insekuritas menjadi nama tengah mereka. Salah satu bentuknya adalah mentalitas saat tertinggal lebih dulu.

Di dua pertandingan Liga Champions, Brest tertinggal lebih dulu. Tapi hanya di laga melawan Bayer Leverkusen mereka bisa menyamakan kedudukan. Sementara bermain di depan para cules, Brest malah semakin terbenam. Di Liga Prancis situasi ketinggalan lebih dulu sering dialami Les Pirates.

Misalnya di laga melawan AS Monaco, Montpellier, dan Lille. Brest gagal membalikkan keadaan barang satu dari tiga laga tersebut. Semuanya berakhir dengan kekalahan. Hugo Magnetti, sang gelandang, dengan rendah hati mengakui bahwa apabila timnya ketinggalan, itu akan membuat mereka gagal alias kalah.

Masalahnya ada pada efisiensi, begitu kata Pierre Lees-Melou. Saat tertinggal, anak-anak Brest memang bekerja keras untuk mengejarnya. Tapi gerakan terakhir dan penyelesaian pamungkasnya selalu buruk. Sampai sini para penggemar Stade Brestois sudah tidak peduli lagi pada nasib timnya di Liga Champions.

Buat apa melaju terus di Liga Champions, tapi di Liga Prancis pelan tapi pasti justru menggantikan Montpellier di zona degradasi?

https://youtu.be/uTnvWGgA05o

Sumber: BBC, CBSSports, Footamateur, Francebleu, Ouest-France, Goal, APNews

Kualat Sama Vini! Manchester City Kena Tulah Usai Rodri Raih Ballon d’Or

0

“Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku. Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku.”

Sepenggal lirik dari lagu “Tak Lagi Sama” milik Noah itu seakan menggambarkan hubungan Manchester City dengan pemain tengahnya Rodri. Tanpa Rodri, klub yang berbasis di Kota Manchester itu tak lagi sama.

Bahkan Pep Guardiola sendiri mengaku kalau ketidakhadiran Rodri di lini tengah bikin permainan City tidak terkontrol. Alhasil, pekan-pekan yang suram pun harus dilalui oleh The Sky Blues. Namun, bagi beberapa fans Real Madrid, keterpurukan City sekarang adalah buah dari karma.

Karena Rodri telah merampas Ballon d’Or 2024 dari tangan Vinicius. Sejumlah fans percaya yang tak terima pun bahkan sempat mengolok-olok Rodri di media sosial. Hmmm, mau nggak percaya karma, tapi kok setelah dilihat-lihat kayaknya bener juga. 

Lantas, apa saja hal buruk yang menimpa Manchester City usai Rodri memenangkan Ballon d’Or?

Cedera Rodri Menular

Hal buruk yang pertama kali menimpa Manchester City adalah badai cedera. Sebelum memenangkan Ballon d’Or 2024, Rodri sudah mengalami cedera ACL yang cukup parah. Dirinya mengalami cedera tersebut saat menghadapi Arsenal akhir September lalu. Namun, setelah dirinya meraih gelar Ballon d’Or, cederanya pun seakan menyebar ke pemain lain.

Bak penyakit menular, pemain-pemain Manchester City yang lain pun sampai ikutan cedera. Dari mulai Jeremy Doku, Kevin De Bruyne, Ruben Dias, Jack Grealish, hingga Nathan Ake. Bahkan Phil Foden pun sempat ngilang karena mengidap penyakit yang tidak bisa diidentifikasi. Jika kalian mencarinya di situs Transfermarkt, maka tulisannya adalah Foden absen selama tiga pertandingan karena “penyakit yang tidak diketahui”

Yang paling parah mungkin terjadi pada pertengahan November kemarin. Pep Guardiola mengkonfirmasi pemain cedera di sesi latihan. Itu membuat Manchester City hanya memiliki 13 pemain outfield yang dinyatakan sehat wal afiat. “Saya pikir kami dalam masalah, karena dalam sembilan tahun terakhir kami tidak pernah berada dalam situasi dengan begitu banyak cedera,” ucap Pep.

Tampil Buruk Selama 11 Pertandingan terakhir

Cedera tentu bukan masalah paten bagi City, perlahan namun pasti, pemain mulai pulih. Tapi, mereka yang kembali, tak lagi sama. Usai mengalami kekalahan dari Spurs di ajang Carabao Cup, City terus kalah di lima pertandingan berikutnya. Kalah dari Bournemouth, Sporting CP, Brighton, dan Spurs lagi. Itu jadi rekor baru bagi klub. 

Manchester City mencatatkan lima kekalahan beruntun di semua kompetisi untuk pertama kalinya di era Pep Guardiola. Sedangkan kekalahan 2-0 dari Liverpool awal Desember kemarin adalah kekalahan keempat secara beruntun pertama di Premier League. Apakah hasil buruk yang diterima City berhenti di Liverpool? Tentu tidak. 

Meski sempat menang melawan Nottingham Forest, City kembali mengakhiri pertandingan dengan buruk di kemudian hari. Total, dari sebelas pertandingan terakhir, City hanya menang sekali. Sisanya dua kali imbang dan delapan kekalahan.

Penurunan Performa Pemain

Apakah satu-satunya penyebab performa buruk adalah kehilangan Rodri? Tentu tidak. Karena setelah penghargaan Ballon d’Or, performa beberapa pilar utama Manchester City mengalami penurunan. Sebut saja seperti Phil Foden. Pemain yang berstatus sebagai pemain terbaik Premier League musim lalu itu seperti hilang ditelan bumi.

Kontribusinya minim. Dari 18 pertandingan yang sudah dimainkan Foden, dirinya hanya mencetak tiga gol saja. Itu angka yang buruk jika melihat statistiknya musim lalu yang mampu mengemas 27 gol dan 12 assist di semua kompetisi. 19 gol di antaranya dicetak di Premier League.

Di sektor penjaga gawang, Ederson juga dibuat babak belur dihajar penyerang-penyerang tim lawan. Musim lalu, pemain asal Brazil itu hanya kebobolan 34 gol dalam 43 pertandingan di semua kompetisi. Namun, musim ini baru main 18 pertandingan, Ederson sudah kebobolan 29 gol. 

Penurunan performa juga terjadi pada Kevin De Bruyne, Erling Haaland dan beberapa pemain lain. Penyebabnya, selain krisis kepercayaan diri, para pemain City banyak yang dipaksakan untuk terus bermain. Padahal belum 100% pulih dari cedera. 

Kalah di Derby Manchester

Setelah rangkaian performa buruk dan badai cedera, Manchester City dihukum dengan kekalahan memalukan di Derby Manchester. Bermain di hadapan penonton sendiri, City harus takluk 2-1 dari Manchester United. Padahal secara peringkat, United berada jauh di bawah City.

The Sky Blues sebetulnya berhasil unggul lebih dulu melalui tandukan Josko Gvardiol. Andre Onana bahkan dibuat melongo oleh arah bola Gvardiol yang tak ketebak. Namun, babak kedua murni jadi milik Manchester United. Skuad asuhan Ruben Amorim berhasil mengurung pertahanan City dengan penguasaan bola.

City dipaksa terus bertahan hingga akhirnya United berbalik unggul 2-1 di penghujung laga. Menariknya, United hanya butuh 115 detik untuk mencetak 2 gol. Pemain City saat itu, Bernardo Silva bahkan sampai tak kuasa menahan malu dengan performa tim. Dirinya merasa tim bermain seperti Manchester City U-15.

Pep Stress

Serangkaian hasil di luar prediksi bikin sang pelatih Pep Guardiola stress. Beberapa kali, Pep Guardiola muncul di hadapan kamera dengan keadaan wajah dan kepala yang luka-luka. Dirinya pun tak malu untuk mengakui bahwa luka itu disebabkan oleh tangannya sendiri. “I want to harm myself,” katanya.

Dalam ilmu psikologi, kegiatan melukai diri sendiri disebut self harm. Tindakan tersebut dapat berupa melukai tubuh dengan benda tajam atau benda tumpul. Seperti menyayat atau membakar kulit, memukul tembok, membenturkan kepala, menggigit diri sendiri, dan mencabut rambut. Karena Pep nggak punya rambut, jadi menyayat-nyayat wajah jadi pilihannya.

Menurut Alodokter, tindakan ini merupakan salah satu bentuk gangguan perilaku yang berkaitan dengan sejumlah penyakit kejiwaan. Takutnya, situasi sulit Manchester City bikin kejiwaan Pep terganggu. Soalnya, kemarin kita sempat dikejutkan dengan video viral. Dalam video tersebut, Pep hampir aja baku pukul sama salah satu fans rival yang mengejeknya di pinggir jalan. Mungkin Pep harus mencoba terapi golda dan kursi minimarket biar sedikit tenang.

Kasus Bertambah jadi 130 Pelanggaran

Di luar lapangan pun City tetap sial. Bukannya makin dimudahkan, City justru dipersulit saat menghadapi tuduhan pelanggaran laporan keuangan. The Citizens yang semula hanya menghadapi 115 dakwaan, kini bertambah menjadi 130 karena saat otoritas Liga Inggris mengumumkan jumlah kasus awal pada Februari 2023 lalu, terdapat misinformasi.

Namun, setelah dikoreksi ulang dengan berkaca pada peraturan-peraturan yang berbeda setiap tahunnya, muncullah angka 130 tuduhan. Pihak pengadilan dikabarkan akan berusaha secepat mungkin untuk mengeluarkan putusan. Namun, jika City memutuskan banding, maka kasus akan molor hingga musim depan.

Terancam di Liga Inggris dan UCL

Posisi klasemen Manchester City saat ini pun tidak aman. Baik di Liga Inggris maupun Liga Champions. Saat narasi ini ditulis, skuad asuhan Pep Guardiola masih bertengger di urutan kelima klasemen sementara Liga Inggris, dengan torehan 27 poin. Hanya selisih dua poin dari Bournemouth di urutan keenam.

The Cherries yang musim ini dikenal sebagai The Giant Killer, karena telah mengalahkan Manchester City, Spurs, dan Arsenal, siap mengancam posisi City. Dengan persaingan yang begitu ketat, City yang terus-terusan bapuk bukan tidak mungkin akan terlempar dari zona Liga Champions. Jika begitu, mereka tak akan tampil di Liga Champions musim depan.

Itu jadi yang pertama sejak kehadiran Pep Guardiola di Etihad Stadium. Sementara itu, performa buruk juga mempengaruhi kiprah City di Liga Champions musim ini. Dari enam pertandingan, City hanya menang dua kali, kalah dua kali, seri dua kali, dan terjerembab di urutan ke-22. Hanya selisih satu poin dari zona merah. Zona yang membuat City tak bisa lanjut ke babak berikutnya.

https://youtu.be/rhD8uxB7dWM

Sumber: Eurosport, The Athletic, Goal

Berita Bola Terbaru 17 Desember 2024 – Starting Eleven News

HASIL PERTANDINGAN

Dari hasil lanjutan Liga Inggris pekan ke-16, Bournemouth harus berbagi angka 1-1 dengan tamunya West Ham di Vitality Stadium. Tim tamu sempat memimpin terlebih dulu oleh tendangan penalti Lucas Paqueta di menit 87. Namun tak berselang lama, gol tersebut mampu dibalas oleh Enes Unal di menit 90. Hasil seri ini membuat The Cherries sementara berada di peringkat 6 dengan 25 poin. Sementara The Hammers, berada di peringkat 14 dengan 19 poin.

Beralih ke hasil dari lanjutan Serie A giornata ke-16. Inter Milan sukses berpesta enam gol tanpa balas saat bertandang ke markas Lazio, Olimpico. Parade gol kemenangan fantastis Nerazzurri ini masing-masing dilesakkan oleh Hakan Calhanoglu, Di Marco, Barella, Dumfries, Renato Augusto, dan Marcus Thuram. Dengan kemenangan besar ini, pasukan Simone Inzaghi sementara berada di peringkat 3 klasemen dengan 34 poin.

AMAD DIALLO DIINVESTIGASI MU

Dari Manchester tersiar kabar bahwa dua pemain MU, Amad Diallo dan Alejandro Garnacho telah diinvestigasi oleh pihak klub. Dilansir dari Givemesport, investigasi tersebut terkait dengan kebocoran rahasia internal tim. Seperti halnya line up setan merah saat melawan City yang sudah beredar duluan ke publik. Menurut laporan, selain pihak klub, pelatih Ruben Amorim juga telah menginterogasi sendiri dua pemain yang dicurigai tersebut. Namun hasilnya, dua pemain tersebut tidak mengakuinya. Pihak klub dan Amorim pun kini masih berupaya mencari, siapa aktor dibalik kebocoran berita tim ini.

KALAH LAWAN MU, FANS CITY MENINGGAL

Sementara itu, pasca laga MU vs City di Etihad, dilaporkan bahwa satu fans tuan rumah dinyatakan telah meninggal dunia. Menurut Manchester Evening News, para saksi mata telah memberitahu bahwa insiden meninggalnya seorang fans The Citizens tersebut terjadi sekitar pukul 4 sore, di dekat salah satu pintu masuk Etihad. Fans yang berkelamin pria tersebut dilihat oleh saksi pingsan tergeletak. Fans tersebut sempat diberikan pertolongan pertama oleh petugas stadion saat itu. Namun sayang, nyawanya tak tertolong setelah dibawa ke rumah sakit. Meski sudah mengumumkan ke publik, tapi pihak City belum merinci penyebab awal kematian fans tersebut.

OSIMHEN PENGGANTI RASHFORD ?

Masih kabar dari Manchester. Menurut laporan Caughtoffside yang didapat dari orang internal MU yang dekat dengan Amorim, Red Devils kini sedang menjajaki striker baru yakni Viktor Osimhen. Pengejaran terhadap striker asal Nigeria itu, ditunjukan sebagai pengganti Rashford dan Zirkzee yang kemungkinan besar akan dilego segera oleh Setan Merah. Menurut laporan, Amorim sendiri yang menyiapkan rencana tersebut. Manajemen MU pun kini telah bergerak untuk menghubungi agen Osimhen. Mereka siap bersaing ketat dengan Juventus yang juga mendekati Osimhen.

TIDAK ADA VAR DI PIALA FA

Kabar berikutnya datang dari Piala FA. Menurut laporan Sportbible, di babak ketiga dan keempat Piala FA musim ini, telah ditetapkan bahwa seluruh laga tidak akan menggunakan VAR. Penggunaan VAR baru akan dilakukan pada babak kelima dan seterusnya, termasuk semifinal dan final di Wembley. Putaran ketiga Piala FA musim ini akan dimulai pada 9 Januari hingga 13 Januari 2025. Laga-laga menarik juga akan tersaji di babak ini, seperti Arsenal vs MU, maupun City vs klubnya “Clash Of 92”, Salford City.

EKSPERIMEN ANCELOTTI DI BEK KANAN REAL MADRID

Dari Inggris, beralih ke kabar dari La Liga. Dilaporkan oleh Marca, bahwa Real Madrid besutan Carlo Ancelotti lebih memilih akan bereksperimen di sektor bek kanan pada paruh musim kedua ini. Pasalnya, El Real kemungkinan besar baru akan mendapatkan bek kanan incarannya seperti Trent Alexander Arnold maupun Dalot di akhir musim nanti. Ancelotti telah mengatakan bahwa ia akan bereksperimen menggunakan salah satu pemain mudanya yakni bek tengah Raul Asensio yang akan diplot jadi bek kanan bergantian dengan Lucas Vazquez. Ancelotti yakin, Asensio punya banyak kelebihan berada di posisi tersebut.

ASOSIASI SEPAKBOLA SPANYOL PUNYA PRESIDEN BARU

Masih dari Spanyol. Tersiar kabar bahwa Asosiasi Sepakbola Spanyol atau RFEF telah mempunyai presiden baru bernama Rafael Louzan. Louzan akan memimpin RFEF hingga tahun 2028, menggantikan presiden sebelumnya Luis Rubiales yang dilanda kasus. Pria berusia 57 tahun itu mengalahkan satu-satunya kandidat lain yakni Salvador Gomar, dengan memperoleh 90 suara, berbanding 43 suara. Sebelum terpilih jadi Presiden RFEF, Rafael Louzan ini telah menjadi kepala Federasi Sepakbola Galicia sejak tahun 2014.

PIALA SUPER EROPA 2025 DI UDINESE

Lanjut ke kabar berikutnya. Dilansir dari Football Italia, Kota Udine telah resmi ditunjuk oleh UEFA sebagai kota tempat penyelenggara Final Piala Super Eropa 2025. Laga yang akan mempertemukan juara UCL dan UEL ini, nantinya akan dihelat di Stadion Bluenergy. Keputusan tersebut diambil oleh UEFA lewat komite eksekutifnya pada hari Senin, 16 Desember 2024. Laga tersebut nantinya akan dimainkan pada tanggal 13 Agustus 2025. Direktur Jenderal Udinese, Franco Collavino merasa bangga dan terhormat, bahwa Kota Udine dipercaya menjadi tuan rumah laga prestisius. Menurutnya, hal ini tidak hanya penting bagi olahraga, tetapi juga penting bagi kota Udine.

JERMAN DAN ITALIA BEREBUT TUAN RUMAH NATIONS LEAGUE

Jika Udinese sudah ditunjuk resmi oleh UEFA untuk gelar Final Piala Super Eropa, lain halnya dengan Jerman dan Italia yang masih berebut jadi tuan rumah Final Four UEFA Nations League 2025. Menurut laporan, UEFA baru akan menentukan tuan rumah pasca laga Italia vs Jerman di perempat final UEFA Nations League yang baru akan dimainkan pada bulan Maret mendatang. Jika Italia menang, maka Italia akan menjadi tuan rumah. Kabarnya Italia sudah menyiapkan venue di Turin, yakni Stadion milik Juventus dan Torino. Namun jika Jerman yang menang, Jerman-lah yang kan jadi tuan rumah. Jerman juga sudah menyiapkan dua opsi venue, yakni Stadion milik Bayern Munchen dan Stadion Stuttgart. Laga Final Four Nations League sendiri baru akan digelar bulan Juni 2025.

GELANDANG LAZIO KECELAKAAN MOBIL

Sementara itu dari Italia, tersiar kabar bahwa salah satu gelandang Lazio telah mengalami kecelakaan mobil tunggal. Dilansir dari Football Italia, pemain Lazio Fisayo Dele-Bashiru mengalami kecelakaan tunggal di pusat Kota Roma, saat mengendarai mobilnya jelang laga melawan Inter Milan. Namun ia tak mengalami luka-luka dan cedera serius, hanya mobilnya yang rusak. Saat kejadian, pemain asal Nigeria tersebut dijemput langsung oleh rekan satu timnya, Tijjani Noslin. Akibat kejadian itu, Dele Bashiru yang biasanya jadi pemain inti, dicadangkan terlebih dahulu oleh pelatih Baroni di laga melawan Inter.

MANTAN ASISTEN JURGEN KLOPP DIPECAT

Beralih ke kabar berikutnya yang datang dari mantan asisten Jurgen Klopp di Liverpool, yakni Pep Lijnders. Dilaporkan oleh The Sun, Pep Lijnders resmi dipecat sebagai pelatih kepala di Red Bull Salzburg. Padahal ia baru enam bulan menjabat. Salzburg mengalami kesulitan di bawah asuhan Lijnders jelang jeda musim dingin ini di Liga Austria. Mereka sementara masih tertinggal sepuluh poin di belakang pemimpin Liga Austria, SK Sturm Graz. CEO Salzburg, Stephan Reiter dan Direktur Pelaksana Olahraga Rouven Schröder, telah merilis pernyataan bersama yang mengkonfirmasi keluarnya Lijnders. “Akhirnya, kami sampai pada kesimpulan, bahwa tim kami membutuhkan dorongan baru di bawah kepemimpinan baru. Tak lupa kami juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Lijnders atas karyanya.”

STRIKER PSG HIJRAH KE AS MONACO?

Beralih ke kabar dari sepakbola Prancis. Menurut laporan ESPN, striker yang sudah masuk daftar jual PSG bulan Januari nanti, Randal Kolo Muani, akan segera ditampung oleh tim rival di Ligue 1, AS Monaco. Pelatih AS Monaco Adi Hutter sendiri yang mengatakan bahwa, Kolo Muani adalah opsi striker yang bagus dan akan coba direkrut. Hutter mengaku bahwa ketika menjadi pelatih Moenchengladbach, ia sudah mengamati perkembangan Kolo Muani saat bermain di Frankfurt. AS Monaco kini juga sedang mencari amunisi striker tambahan, saat striker mereka Folarin Balogun cedera dan absen cukup lama. Kini opsi striker di AS Monaco terbilang menipis, hanya ada Breel Embolo dan George Ilenikhena.

LOOKMAN TERBAIK DI AFRIKA

Sementara itu dari Kota Marrakesh di Maroko, dilaporkan bahwa pemain Atalanta asal Nigeria, Ademola Lookman resmi dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika 2024 oleh Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF). Lookman mengalahkan pesaingnya seperti Serhou Guirassy, Achraf Hakimi, Simon Adingra, dan Ronwen Williams. Ia adalah warga Nigeria kedua berturut-turut yang meraih penghargaan ini setelah Victor Osimhen pada tahun 2023. Lookman adalah pencetak hattrick sensasional yang membawa Atalanta juara UEL musim lalu. Ia juga mengantarkan Nigeria ke final Piala Afrika 2023. Di level klub, ia juga tampil apik musim ini dan membuat Atalanta sementara memuncaki klasemen Serie A.

KEVIN DIKS AKAN DILEPAS KLUBNYA

Beralih ke kabar soal pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks. Baru saja mengantarkan Copenhagen ke perempat final Oddset Pokalen atau Piala Liga Denmark, Diks justru berpeluang untuk meninggalkan klub. FC Copenhagen dilaporkan siap melepas Kevin Diks, pada akhir musim 2024/25 begitu kontraknya berakhir. Hal itu disampaikan oleh Direktur Olahraga Copenhagen, Sune Smith-Nielsen pasca laga Copenhagen melawan Kolding “Diks tidak akan bertahan. Itu bukan bagian dari rencana,” kata Smith-Nielsen. Belum diketahui ke mana Diks akan berlabuh setelah resmi dilepas Copenhagen.

ERICK THOHIR TIDAK GAJI JENNER DAN HUBNER

Lanjut ke kabar berikutnya soal nasib Justin Hubner dan Ivar Jenner di Piala AFF 2024. Dilansir dari Suara, bahwa Ketum PSSI Erick Thohir, blak-blakan mengatakan bahwa pihaknya telah membiarkan Jenner dan Hubner tak bergabung ke skuad Garuda. Kedua pemain tersebut memang susah dilepas oleh klubnya. Menariknya, Erick Thohir juga mengatakan bahwa Jenner dan Hubner juga tidak digaji oleh PSSI, melainkan klubnya. Jadi, menurutnya itu adalah suatu hal yang wajar. Pak Erick malah berpesan bahwa kita jangan salahkan mereka dan klubnya. Fans Garuda harus respek dan mengerti keadaan seutuhnya.

WOLVES INCAR PELATIH BARU DARI PORTUGAL

Dilaporkan oleh The Guardian, pasca dipecatnya Gary O’Neil, Wolves langsung bergerak mencari pelatih, dan calon terkuatnya kini muncul yakni Vitor Pereira. Pelatih klub Al-Shabab tersebut kabarnya sudah dihubungi oleh perwakilan Wolves untuk segera ditebus klausul pelepasannya. Wolves sudah menyiapkan uang sebesar 800 ribu dollar atau sekitar 16,2 miliar rupiah untuk membawa mantan pelatih Porto dan Olympiakos itu ke Molineux. Manajemen Wolves ingin pelatih asal Portugal itu segera datang dan langsung mendampingi tim ketika bertandang ke Leicester pekan depan di Liga Inggris.

NEWCASTLE SIAP TEBUS MAHAL SAYAP WEST HAM

Sementara itu dari Newcastle, tersiar kabar bahwa pelatih The Magpies, Eddie Howe telah meminta klub untuk segera menambah amunisi sayap serangnya di bursa transfer Januari. Menurut laporan Eurosport, Howe ingin membawa Mohammed Kudus yang dibandrol 90 juta pound oleh The Hammers. Untuk mewujudkan keinginan Howe, Toon Army kini sedang berusaha menjual beberapa pemainnya dulu, agar tak tersangkut aturan PSR.

MARSELINO FERDINAN DITINGGAL PELATIHNYA DI OXFORD

Lanjut ke kabar berikutnya dari Oxford. Dilansir dari Tribalfootball, pelatih Marselino Ferdinan di Oxford United, Des Buckingham, dilaporkan telah resmi hengkang. Ia mengundurkan diri per 15 Desember setelah 13 bulan menjabat. Pelatih yang membawa Oxford promosi ke Championship ini berpisah, setelah timnya terseok-seok di papan 20 klasamen Championship dengan koleksi 18 poin, atau satu poin di atas zona degradasi. Klub secara resmi telah mengeluarkan pernyataan resmi hengkangnya Buckingham dengan ucapan terima kasih dan doa.

LAMINE YAMAL ABSEN SAAT LAWAN ATLETICO MADRID?

Beralih ke kabar dari La Liga. Menurut laporan dari Mundo Deportivo, bintang Barcelona Lamine Yamal diperkirakan tidak akan bisa tampil menghadapi laga penting perebutan puncak klasemen La Liga melawan Atletico Madrid pekan depan. Yamal terlihat tertatih-tatih ketika ditarik keluar di menit 75 saat melawan Leganes karena cedera ankle. Pergelangan kaki kanan Yamal kena tekel keras dari pemain Leganes. Cedera parah Yamal tersebut kini masih ditangani intensif oleh tim medis khusus Barca.

DELE ALLI KE COMO, ADA APA?

Dari La Liga bergeser ke kabar dari Serie A. Ada yang mengejutkan di laga Como vs AS Roma karena terlihat mantan pemain Spurs Dele Alli. Kedatangan Alli ke Stadion Sinigaglia, menurut laporan Foot Italia terkait dengan kunjungan sang pemain bertemu manajemen klub Como. Alli dilaporkan telah diajak keliling oleh manajemen Como melihat beberapa fasilitas latihan. Menurut laporan, Alli akan segera gabung mengikuti pelatihan klub asuhan Cesc Fabregas tersebut untuk mengembalikan kebugarannya setelah absen bermain bola lebih dari satu setengah tahun setengah.

NEMANJA MATIC REUNI DENGAN CONTE?

Masih dari Italia. Dilaporkan Fichajes, pelatih Napoli, Antonio Conte ingin bereuni dengan mantan anak asuhnya ketika mengarsiteki Chelsea, Nemanja Matic. Matic yang kini berseragam Lyon, dibutuhkan oleh Conte untuk menambah kekuatan lini tengah Partenopei. Allenatore asal Italia itu masih yakin dengan kemampuan gelandang asal Serbia tersebut, walaupun sudah berusia 36 tahun. Matic akan diusahakan bisa ditebus pada bursa transfer Januari, sesuai permintaan Conte. Harga yang akan ditebus dilaporkan sesuai dengan harga yang diminta Lyon, yakni sekitar 5 juta euro.

MANTAN STRIKER INTER TERPILIH JADI PRESIDEN KLUB DI ARGENTINA

Lanjut ke kabar selanjutnya yang datang dari Argentina. Mantan pemain Inter Milan asal Argentina, yakni Diego Milito resmi ditetapkan menjadi presiden klub Liga Argentina, Racing Club. Hasil pemilihan umum presiden Racing Club telah dimenangkan oleh kelompok Racing Suena. Fyi, kelompok Racing Suena ini diketuai oleh Diego Milito, dan beranggotakan Hernan Lacunza dan Martin Ferre. Kelompok tersebut pun disambut suka cita pendukungnya, setelah menang memperoleh 10,267 suara, atau 60,08 %.

MANTAN ASISTEN ANGE POSTECOGLOU JADI PELATIH TIMNAS MALAYSIA

Sementara itu dari kabar lainnya, Asosiasi Sepakbola Malaysia (FAM) resmi menunjuk pelatih asal Australia, Peter Cklamovski sebagai pelatih baru Timnas Malaysia menggantikan Pau Marti Vicente pasca Piala AFF. Cklamovski sebelumnya merupakan pelatih klub FC Tokyo. Ia dulu sempat jadi asisten Ange Postecoglou ketika di Yokohama Marinos tahun 2018 dan di Timnas Australia dari 2014-2017. Cklamovski ditargetkan untuk bisa memastikan Harimau Malaya lolos ke Piala Asia 2027, serta memperbaiki peringkat FIFA Malaysia hingga tembus 100 besar.

RANKING FIFA TIMNAS INDONESIA TURUN LAGI?

Beralih ke kabar soal poin dan ranking FIFA Timnas Indonesia. Dilansir Okezone, usai kalah dari Vietnam, ranking Indonesia mengalami penurunan. Menurut perhitungan Footy Rankings, Indonesia telah kehilangan 2,37 poin setelah kalah dari Vietnam. Saat ini, perolehan poin Timnas Indonesia di ranking FIFA menjadi 1.133,43. Dengan poin tersebut, Timnas Garuda yang tadinya menempati posisi 125, turun ke posisi 127, digeser Gambia dan Niger yang sebelumnya menempati posisi 126 dan 127.

TIGA PEMAIN TIMNAS INDONESIA NILAI PASARNYA NAIK DRASTIS

Kabar selanjutnya merupakan kabar membanggakan dari tiga pemain Timnas Indonesia yang nilai pasarnya naik drastis di bulan Desember 2024 ini. Dilansir dari Suara, ketiga pemain tersebut adalah Kevin Diks, Ragnar Oratmangoen, dan Maarten Paes. Kevin Diks nilai pasarnya naik sebesar Rp8,4 miliar. Dari yang sebelumnya Rp67,2 miliar, menjadi Rp75,6 miliar. Sementara Maarten Paes mengalami kenaikan sebesar Rp5 miliar. Dari yang semula Rp25,2 miliar, menjadi Rp30,2 miliar. Yang terakhir, Wak Haji Ragnar yang nilai pasarnya naik sebesar Rp2,5 miliar. Dari yang sebelumnya Rp7,5 miliar, saat ini menjadi Rp10 miliar.

Darah Indonesia Jadi Tumbal Bisnis Haram Roman Abramovich di Vitesse

0

Sempat ragu, pemain keturunan Indonesia, yakni Milliano Jonathans akhirnya memutuskan untuk hengkang dari klub masa kecilnya, Vitesse Arnhem. Dirinya dikabarkan sepakat untuk bergabung dengan FC Utrecht. Kabarnya transfer sudah berada di tahap final. Bahkan sang pemain telah merampungkan tes medis.

Ini jadi kabar yang membanggakan, terutama bagi fans dari Indonesia. Sebab, ini jadi sebuah peningkatan karir bagi Jonathans. Namun, di balik kabar tersebut, tersimpan kisah pilu yang mendasari kepindahan sang pemain ke Utrecht. Jonathans ternyata terpaksa melakukan ini demi menyelamatkan klub masa kecilnya itu dari kehancuran.

Ya, kini Vitesse diambang kebangkrutan. Serangkaian masalah internal jadi penyebabnya. Ironisnya, mantan bos Chelsea, yakni Roman Abramovich jadi salah satu pihak yang bertanggung jawab atas keterpurukan Vitesse. Mengapa demikian? 

Siapa Milliano Jonathans?

Sebelum membahas kondisi Vitesse yang cukup njlimet, kita akan berkenalan dengan Milliano Jonathans. Buat kalian yang masih asing dengan namanya, Jonathans yang kini berseragam Vitesse Arnhem merupakan pemain keturunan Indonesia. 

Meski lahir dan besar di Arnhem, Jonathans punya darah Indonesia dari keluarga ayahnya. Nenek Jonathans disebut berasal dari Depok, Jawa Barat. Hmmm, jadi curiga nih si Milliano masih ada hubungan darah sama Princess Depok, Ayu Ting Ting. Anyway, saat ini Jonathans sudah masuk dalam daftar incaran PSSI.

Kontak antara Milliano dan PSSI pun sudah terjalin. Shin Tae-yong memandang Milliano sebagai pemain sayap yang punya talenta. Ia cepat dan tajam di mulut gawang. Musim ini saja ia sudah mencetak 10 gol dan empat assist untuk Vitesse. 

Sang pemain kabarnya terbuka untuk membela Timnas Indonesia. Namun, Jonathans baru akan memberikan keputusan pada akhir musim nanti. Sebab, pemain berusia 20 tahun itu sedang disibukan dengan proses perpindahan ke FC Utrecht. Menariknya, kepindahan ini bukan kemauannya.

Kondisi Vitesse

Pindah ke FC Utrecht masih jadi salah satu keputusan berat bagi Milliano Jonathans. Ia harus hengkang karena Vitesse sedang berada di kondisi sulit. Saat ini, klub yang bernuansa kuning hitam itu berada di dasar klasmen Eereste Divisie dengan raihan poin minus delapan. Ya, minus!

Hal ini disebabkan karena Vitesse menerima sanksi pengurangan poin. Dilansir Voetbal International, klub Jonathans mengalami pengurangan poin sebesar 23 poin akibat finansial yang tidak stabil. Vitesse dililit hutang karena tidak bisa memenuhi pinjaman bank yang semakin menumpuk sejak awal musim.

Bahkan jika mau ditarik lebih jauh lagi, keberadaan Vitesse Arnhem di Eerste Divisie musim ini bukan semata-mata Vitesse menampilkan performa yang buruk di musim lalu. Melainkan karena Vitesse terjerat kasus pelanggaran berat yang menyebabkan Federasi Sepakbola Belanda menjatuhi sanksi pengurangan 18 poin dan harus terdegradasi. 

Total, tahun 2024 Vitesse sudah mengalami pengurangan 41 poin. Itu jadi yang terbesar dalam sejarah Eredivisie. Selain itu, ini jadi degradasi pertama Vitesse selama 35 tahun berlaga di kasta tertinggi, dan Milliano Jonathans menjadi bagian dari sejarah buruk itu. Lantas, apa yang membuat Vitesse semenyedihkan ini?

Pecahnya Konflik Rusia dan Ukraina

KNVB mengatakan skala hukuman yang belum pernah terjadi sebelumnya ini disebabkan oleh “keseriusan dan tingkat pelanggaran yang luar biasa” yang dilakukan oleh Vitesse terhadap sistem perizinan sepakbola Belanda. Menurut beberapa sumber dari media Belanda, Vitesse dinyatakan telah memberikan informasi yang salah terkait bahan penyelidikan forensik mengenai apakah mereka telah melanggar undang-undang.

Bahkan Vitesse diduga menyembunyikan informasi penting dari KNVB. Lantas, apa informasi penting yang disembunyikan oleh klub yang memiliki julukan FC Hollywood ini? Ternyata, semua berawal pada pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina pada tahun 2022 silam. Peristiwa berdarah itu menyebabkan Uni Eropa memberikan sanksi kepada Oligarki Rusia, Roman Abramovich.

Hubungan baiknya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin membuat Roman kena cancel di seluruh Eropa, termasuk Inggris, di mana ia saat itu masih menjadi pemilik Chelsea. Aset Roman dibekukan. Bisnis dan sebagian harta bendanya disita. Ia dilarang menjalin kesepakatan bisnis dengan siapapun, terutama di Inggris. 

Gerakan “Anti Rusia” pun juga diamini oleh sepakbola Belanda. KNVB pun melakukan penyelidikan kepada beberapa klub yang punya indikasi bisnis dan hubungan dengan pengusaha asal Rusia. Salah satunya adalah Vitesse. Karena saat itu Vitesse dimiliki oleh pengusaha Rusia, Veleriy Oyf. Dirinya jadi pemegang saham Vitesse sejak tahun 2018.

Tidak seperti Roman, Velery awalnya dikabarkan tidak masuk dalam daftar orang-orang yang terlibat dalam invasi ke Ukraina. Namun, Veleriy tetap memutuskan untuk menjual sahamnya di Vitesse. Alasannya demi kebaikan klub.

Jejak Dosa Abramovich

KNVB yang tak mau ada klub Belanda yang dimiliki oleh orang Rusia pun mendukung langkah yang akan diambil Veleriy Oyf. Proses penjualan pun dilakukan pada akhir tahun 2022. Veleriy pun menemukan pembeli. Dia adalah Coley Parry, pengusaha asal Amerika Serikat. Dirinya ingin membeli Vitesse melalui perusahaannya yang bernama Common Group.

Namun, di sinilah masalah baru muncul. Ketika masih mengurus izin dari KNVB, ditemukan dokumen yang mencurigakan. Dokumen yang muncul pada April 2023 itu berisi seputar aliran dana di masa lalu. Bureau of Investigative Journalism mengklaim bahwa dokumen itu adalah bukti bahwa Roman Abramovich telah membiayai pengambilalihan sebelumnya dan beberapa operasional Vitesse.

Roman hanya bekerja di balik layar. Pada tahun 2010, yang melakukan akuisisi dan kemudian menjadi chairman adalah Merab Jordania. Pria asal Georgia itu bak boneka Abramovich. Ini sebuah kabar yang menggemparkan. Karena selama ini, Jordania dan Roman selalu mengelak dari tuduhan punya hubungan gelap. 

Roman kabarnya telah menyalurkan uang dalam bentuk pinjaman ke Vitesse melalui perusahaan-perusahaan lepas pantai di British Virgin Islands, Luksemburg, dan Belize. Setidaknya ada 117 juta euro yang dipinjamkan ke Vitesse. Setelah Jordania, kabarnya praktek yang sama berlanjut ke era Alexander Chigirinsky pada 2013-2018.

Tak cuma uang, Roman juga secara tidak langsung memasok pemain tambahan ke Vitesse melalui klubnya saat itu, Chelsea. Kita semua tahu, saat itu banyak pemain Chelsea yang dipinjamkan ke Vitesse. Padahal saat itu praktek seperti ini sangat dilarang. Karena Vitesse berpotensi berhadapan dengan Chelsea di kompetisi Eropa. 

Well, untuk pembahasan lengkap tentang hubungan gelap Chelsea dan Vitesse bisa kalian tonton di konten Starting Eleven sebelumnya. Kali ini, kita akan fokus pada nasib Vitesse. Nah, dengan terbongkarnya hubungan gelap ini, Vitesse dianggap sebagai pembohong oleh KNVB. 

Mereka menyimpulkan bahwa Vitesse telah memberikan informasi yang salah terkait investigasi keuangan. Selain itu, Vitesse ditetapkan sebagai pihak yang menyembunyikan informasi penting demi menghindari sanksi. Alhasil, Vitesse tidak lolos verifikasi lisensi dan dikurangi 18 poin di akhir musim 2023/24.

Makin Ambruk 

Terus, gimana kabar Coley Parry yang ingin membeli saham Vitesse? Tenang, pengusaha asal Amerika Serikat itu tidak goyah. Pada akhirnya, Coley tetap menjadi pemilik Vitesse. Dirinya berani memberikan jaminan finansial setidaknya dalam lima musim ke depan. Tapi, ya gitu. Parry meminta Vitesse untuk mengamankan lisensinya dulu. 

Pihak klub pun memilih untuk menjalankan proyek bernama “Plan Arnhem”. Langkah ini membuat Vitesse bekerjasama dengan pengusaha lokal untuk mengurus laporan keuangan guna mempertahankan lisensi klub. Karena jika lisensinya sudah dicabut, maka klub dinyatakan bangkrut. Ini tidak bagus bagi para pemain termasuk Milliano Jonathans yang masih terikat kontrak hingga tahun 2025.

Oleh karena itu, Vitesse bermain dengan ancaman pencabutan lisensi. Masih puyeng soal lisensi, Vitesse justru kembali merugi 7 juta euro. Belum lagi masih ada pinjaman-pinjaman lain. Finansial yang tak kunjung stabil membuat Vitesse kembali mengalami pengurangan poin. Sebagian hutang akan ditambal melalui penjualan beberapa pemain di Januari nanti.

Million Jonathans pun jadi salah satu pemain yang dijual. Pada akhirnya, ia harus dikorbankan untuk menebus dosa-dosa klub dan Roman Abramovich di masa lalu. Winger berkaki kidal ini telah menyampaikan salam perpisahan kepada Vitesse usai pertandingan kontra Jong Utrecht. Jonathans yang mencetak satu gol di laga itu terlihat menangis di akhir pertandingan. 

Ia tak menyangka kebersamaannya dengan Vitesse akan berakhir seperti ini. Walaupun pahit, ini jadi satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Jika tidak, maka Vitesse akan bangkrut dan Milliano akan kehilangan klub masa kecilnya itu. 

https://youtu.be/Ih6dW3B4ZQE

Sumber: The Guardian, The Athletic, Dutch News, Voetbal International

Karena 6 Hal Ini, Atalanta Layak Disebut Tim Mengerikan Musim Ini

0

Dalam mitologi Yunani, Atalanta adalah putri yang dibuang ayahnya yang tak menginginkan anak perempuan. Bermaksud agar sang putri tewas diterkam binatang buas, Atalanta justru menjadi perempuan yang cekatan dan kuat. Dia pun lalu dikenal sebagai wanita pemburu dengan lari yang cepat.

Atalanta lalu digambarkan sebagai seorang dewi. Sosoknya bersemayam dalam logo klub sepak bola asal Bergamo bernama Atalanta Bergamasca Calcio. Atalanta pun dijuluki “La Dea” atau “Sang Dewi”. Nasibnya juga sama seperti sang dewi. Atalanta tak pernah menjadi kebanggaan warga Italia. Terbuang, terabaikan, dan tak dilirik.

Namun, sama seperti sang dewi, tim ini menjadi kuat dan cekatan. Lari mereka cepat, tak terkecuali musim ini. La Dea menjadi tim yang mengerikan. Setidaknya ada enam hal yang membuat Atalanta layak disebut tim mengerikan musim ini. Apa itu?

Memuncaki Klasemen

Persis setelah giornata ke-16, Atalanta berada di puncak klasemen Serie A. Jika itu Napoli, Juventus, Inter atau AC Milan, puncak klasemen Serie A menjadi pemandangan yang biasa saja. Tapi bagaimana jika yang di atas sana Atalanta?

Terheran-heran, pasti. Besar kemungkinan orang akan memandang sebelah mata. Ah, paling-paling lawan yang dihadapi masih ecek-ecek, belum ketemu tim tangguh. Sekalipun kenyataannya, dalam lima pertandingan terakhir, Atalanta selalu menang.

Itu lebih baik dari Liverpool di Liga Inggris yang tersandung dua seri. Jauh lebih mulia dari Barcelona, pemuncak La Liga yang cuma memetik satu kemenangan dari lima laga terakhir. Lebih berkelas dari PSG yang di Liga Petani terjegal dua hasil imbang. Dan, lebih mengagumkan dari Bayern Munchen yang di Bundesliga baru saja kalah dari FC Mainz.

Pemandangan centang hijau semua di sebelah nama Atalanta bukan cuma mengingatkan kita pada absensi Madrasah Ibtidaiyah, tapi juga membuat kita bertanya. Siapa sih lawan mereka? Mengalahkan tim yang markasnya lebih kecil dari GBK saja nggak mampu.

Dalam lima laga terakhir, lawan sih harusnya terhitung beragam. Ada yang sulit, ada pula yang gampang. Tapi, dasar liga akik-akik, suka nggak jelas. Lawan yang mestinya sulit malah dibikin gampang sama Atalanta. Lihat saja, mereka bahkan mengalahkan AC Milan dan AS Roma.

Selain lima laga terakhir, yakni di giornata ke-11, Napoli juga sudah dibantai 3-0. Tahu di mana tempat pembantaian itu? Di Kota Naples. Padahal anak asuh Antonio Conte berada di puncak klasemen saat itu. Pemuncak klasemen aja bisa tewas apalagi cuma AS Roma.

Produktif

Bicara Atalanta, kita akan bertemu Gian Piero Gasperini. Pelatih gaek yang nggak bagus-bagus amat dari segi prestasi. Tapi musim lalu, pelatih medioker ini membawa Atalanta juara di Liga Eropa. Yang dikalahkan? Bayer Leverkusen. Skornya? 3-0 saudara-saudara sekalian.

Sejak datang, Gasperini membawa filosofi yang sangat tidak Italia. Dia ingin anak-anak Bergamo bermain kesetanan. Pokoknya mencetak gol. Tidak masalah kebobolan empat gol, yang penting bisa mencetak lima gol. Sebuah mazhab yang agak sinting jika diterapkan di tim seperti Atalanta.

Tapi nyatanya berhasil. Saban tahun Atalanta selalu bermain agresif. Terus memburu gol. Tak peduli resiko kebobolan. Seperti musim ini. La Dea menjadi salah satu tim terproduktif di lima liga top Eropa. Di Italia jumlah gol mereka cuma kalah dari Inter Milan yang baru melibas si lemah Lazio.

Di tempat lain, cuma sohib Liga Petani: PSG dan Bayern Munchen yang mengungguli jumlah gol Atalanta. Liga Inggris? Ah, liga ini cuma menang pamor doang. Nyatanya, sampai kamu menonton video ini, tidak ada satu tim pun yang bisa menyamai gol La Dea. Tidak Chelsea, tidak Liverpool, tidak pula Arsenal.

Oh ya, di Liga Champions, jumlah gol yang dikumpulkan Atalanta juga sama lho dengan Liverpool yang kedinginan di puncak. Kalau gini sih, sekalipun musuhnya Manchester City, Arne Slot akan all in buat Atalanta. Dijamin gacor dan selesai itu Pep Guardiola.

Sulit Dijebol

Tidak berlebihan mengatakan bahwa Manchester City akan kalah dari Atalanta kalau keduanya bertemu musim ini. Ya, gimana ya, melawan Manchester City sekarang seperti melawan Manchester City eranya Hatem Trabelsi. Pasukan Guardiola pasti kesulitan, orang Arsenal saja kliyengan.

Pasukan Mikel Arteta sudah menguji lini belakang Atalanta musim ini di matchday pertama Liga Champions. Selama 90 menit, The Gunners yang terkenal selalu punya ide untuk menjebol gawang lawan, dibuat tak berdaya sama sekali.

Hal yang sama juga dialami Napoli. Antonio Conte dibikin gerah oleh pertahanan Atalanta. Coba ngana pikir. Conte menaruh tiga pemain paling bagus di lini depan: Kvaratskhelia, Romelu Lukaku, dan Matteo Politano. Penopangnya juga bukan sembarangan. Billy Gilmour, McTominay, dan sang jenderal Zambo Anguissa dipasang.

Namun, tidak ada sebiji gol pun tercipta. Atalanta tidak hanya menahan penguasaan bola agar tak jomplang-jomplang amat, tapi Napoli juga dikunci agar kepayahan melepas tembakan ke arah gawang. Cuma tiga tembakan ke arah gawang yang bisa dilepas Napoli. Dan itu bukannya nyekor malah tekor.

Tidak satu pun dari tembakan pemain Napoli berbuah gol. Sebaliknya, Atalanta malah bisa mencetak tiga gol dari tiga tendangan ke arah gawang. Musim ini La Dea baru kebobolan empat gol di Liga Champions. Lebih sedikit dari Stade Brestois, Lille, Atletico Madrid, Barcelona, dan ehm, Real Madrid. Meski begitu, jika ditilik lagi pertahanan Atalanta ada sisi mengkhawatirkan.

Tapi di Serie A mereka sering kebobolan. Dalam 16 giornata, sudah 17 gol bersarang ke gawang La Dea. Mereka menjadi tim dengan jumlah kebobolan terbanyak di empat besar Serie A hingga saat ini. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan Gasperini.

Komposisi lini bertahan mereka masih tambal sulam, terutama karena Giorgio Scalvini cedera. Pemain seperti Isak Hien, Kolasinac, Djimsiti, dan Odilon Kossonou masih terus dibongkar pasang.

Berada di Atas Tim-Tim Besar

Mengapa Atalanta layak disebut tim mengerikan musim ini? Karena posisi mereka berada di atas para juggernaut. Betul bahwa klasemen fluktuatif. Tapi ayolah akui, posisi Atalanta masih di atas Juventus dan AC Milan di Serie A. Ayolah akui saja kalau Real Madrid masih sulit buat ngejar poin Atalanta di Liga Champions.

Real Madrid saja sulit apalagi Manchester City. Sekali-kali coba deh intip klasemen UCL. Atalanta itu berada sembilan tingkat di atas Manchester City. Ngerinya lagi, 12 peringkat di bawah La Dea adalah para mantan juara atau juara bertahan di liganya masing-masing.

Pemain Kunci

Di balik Atalanta yang kuat terdapat pemain yang hebat. Ada tokoh protagonis yang membuat tim ini mengerikan seperti materi filsafat semester tiga. Paling tidak ada tiga pemain kunci: Charles De Ketelaere, Mateo Retegui, dan Ademola Lookman.

Lookman masih menjadi striker yang tajam dan tanpa basa-basi di lini depan. Ia dianugerahi ciri khas pemain Afrika: cepat, tangkas, dan trengginas. Hal itu dibuktikan dengan misalnya, dua gol ke gawang Napoli. Tidak cuma itu, Lookman baru saja meraih gelar Pemain Terbaik Afrika tahun 2024.

Lalu Charles De Ketelaere. Pemain pesakitan di AC Milan tapi begitu dahsyat di tangan Gasperini. Kecepatan adalah elemen fundamental yang ia miliki. Charles menonjol dari segi kreativitas dan kemampuan mencetak gol. Terakhir, Mateo Retegui.

Kalau ada daftar 10 keajaiban Serie A, Retegui layak masuk. Ia seperti Candi Roro Jonggrang. Retegui tiba-tiba muncul, mencetak gol, dan jadi top skor. Sederhana tapi Hojlund nggak bisa. Sejauh ini Retegui mengemas 12 gol di Serie A. Jumlah gol itu akan terus bertambah karena Atalanta, belum menghadapi Juventus.

Pandai Berinvestasi

Sebuah kredo semacam ini pasti pernah kamu dengar. “Tim yang punya banyak uang pasti akan menjadi tim mengerikan.” Benar apa tidak? Jelas tidak. Buktinya Manchester City nggak mengerikan tuh. PSG apalagi. Namun Atalanta, jelas mengerikan. Sebagai tim kecil, Atalanta tidak punya banyak uang.

Hanya saja, Antonio Percassi cerdik dalam mengelola finansial. Satu pembelian termahal Atalanta musim ini masih jauh lebih murah dari pemain paling murah di Starting XI Manchester City saat dihajar MU di Etihad. Ilkay Gundogan tentu tidak masuk karena dibeli gratis.

Pembelian termahal, Retegui dan Charles pun memberi dampak positif. Sisanya, Atalanta secara cerdik memperoleh pemain seperti Nicolo Zaniolo dan Lazar Samardzic lewat peminjaman. Mereka juga mendapatkan Juan Cuadrado dan Rui Patricio gratis. Oh ya, kamu tahu siapa kiper Atalanta sekarang?

Dia adalah Marco Carnesecchi. Dari mana dia datang? Atalanta itu sendiri. Ia sudah berseragam La Dea sejak 2018 tapi baru diberi kesempatan tampil reguler. Apa kehebatannya? Kiper keempat dengan persentase save tertinggi di Serie A musim ini.

Sumber: BergamoNews, Assoanalisti, Tuttoatalanta, Atalantini, PikiranRakyat

Nggak Cuma Arhan, 4 Pemain ini Juga Punya Lemparan Jauh Mematikan

0

Jika di Portugal ada Cristiano Ronaldo yang punya tembakan mematikan dan tak mudah ditebak, di Indonesia ada Pratama Arhan yang punya lemparan jauh, yang bikin kiper manapun was-was menghadapinya. Kiper harus bersusah payah menerka ke mana arah bola mengarah. Tak sedikit dari trik seperti itu berbuah gol.

Tentu saja munculnya trik lemparan roket di Timnas Indonesia tak lepas dari sosok Arhan. Tak pelak para juniornya pun mengikuti jejak Arhan. Mereka muncul seiring pamor strategi ‘lempar lembing’ itu naik daun. Siapa sajakah mereka yang bakal jadi alternatif pilihan ketika Arhan absen?

Yuk sebelum lanjut membahas sosok-sosok pesepakbola tersebut, nyalakan notifikasi dan jangan lupa subscribe agar kamu tak ketinggalan video-video terbaru Starting Eleven.

Spesialis Lemparan Jauh

Rasanya sulit membayangkan Indonesia tanpa lemparan jauh Pratama Arhan di pertandingan AFF 2024, yang nyaris kalah lawan Laos. Indonesia ketinggalan 1-2 menjamu Tim Bumbu Dapur di menit 13. Lalu Timnas kebanggaan kita itu membalas di menit 18 lewat peluang bola mati, lewat lesatan tangan Pratama Arhan.

Alhamdulillah, bola whoosh meluncur deras ke muka gawang Laos dan langsung disambar kepala Ferari. Gol tercipta dan pemain Laos pun terperangah. Mereka yang baru saja menciptakan gol di lima menit sebelumnya, harus dibalas secepat itu oleh sang tuan rumah. Tak dinyana.

Ya, itulah salah satu potret betapa efektifnya lemparan ke dalam yang dimiliki Arhan. Jangan salah, kemampuan Arhan itu sudah mengantarkan Indonesia ke jenjang yang lebih tinggi dari kompetisi Asia Tenggara. Enam gol yang diciptakan Timnas Indonesia melawan tim kuat di Piala Asia dan Kualifikasi Piala Dunia, juga bermula dari kekuatan otot tangan Arhan.

Arhan dan lemparan jauh yang mematikan itu sudah jadi semacam personal branding bagi dirinya sendiri di sepakbola. Dia seperti Rory Delap, pemain legendaris Stoke City. Di mana lemparan jarak jauh Rory Delap sering bikin kiper maklap.

Rupanya, tidak cuma Arhan saja yang punya trik Throw in mematikan, tapi ada beberapa nama lain di kelompok usia. Mereka tak kalah jago dari Arhan soal lempar bola jauh ke gawang. Yang menarik adalah setiap pemain punya cara dan proses tersendiri dalam menguasai trik throw in yang dikuasai betul oleh Arhan.

Robi Darwis

Meski tak memiliki latar belakang sebagai atlet lempar lembing seperti Rory Delap, tapi kemampuan lemparan Pratama Arhan tidak kalah hebatnya. Arhan mampu menerbangkan bola hingga dekat mulut gawang. Demikian juga Robi Darwis yang handal dalam melempar bola.

Robi Darwis mengaku keahlian itu sudah dilatihnya sejak kecil. Lewat sesi latihan dan bertanding semasa di SSB A7. Setiap kali ada bola out dekat lawan, ia tampil untuk memberi umpan panjang ke kotak penalti. Kelak kebiasaan itu terbawa ketika dirinya mulai bergabung ke klub senior.

Pemain yang memperkuat Persib Bandung itu berhasil mencatatkan assist pertama lewat eksekutor throw in, di laga Persib lawan Borneo FC pada 7 Agustus 2022. Meski Persib kalah 4-1 dari tuan rumah, tapi itu catatan yang bagus bagi pemain muda seperti Robi Darwis. Daripada sama sekali tidak menghasilkan gol.

Catatan positif Robi itu ia lanjutkan saat membela Timnas Indonesia. Saat itu, Timnas Indonesia melakoni laga kontra Moldova pada 1 November 2022, dan Robi mendapat kesempatan throw in.

Di situlah Robi Darwis tampil maksimal. Ia bertugas melempar bola jauh ke kotak penalti dan memaksa kiper Moldova terbang menjemput bola. Namun nahasnya bola menggelinding ke arah Ferrari. Lalu Ferrari yang haus gol itu pun langsung memasukkan bola ke gawang.

Alfeandra Dewangga

Berlatih lemparan jauh sejak kecil mungkin hanya berlaku bagi pemain seperti Pratama Arhan dan Robi Darwis. Tapi tidak dengan Alfeandra Dewangga. Karena sama sekali dia tak pernah melakukannya, baik bermain di sepakbola kampung maupun di SSB.

Bahkan saat sudah masuk skuad PSIS Semarang, dia tak pernah melakukan trik Arhan. Sebab posisi sebagai bek tengah tak memungkinkan untuk maju ke depan dan mengambil alih lemparan bola jarak jauh karena terlalu beresiko. Dewangga jelas secara posisi harus menjaga lini belakang.

Namun berbeda saat dia masuk ke Timnas Indonesia U-22 di SEA Games pada 29 Mei 2023. Dewangga mendapat porsi latihan khusus lempar bola sebelum tanding. Bahkan dia dipercaya untuk menggantikan Pratama Arhan yang di laga final absen akibat akumulasi kartu. Hasilnya sangat membanggakan. Indonesia mampu mengalahkan Thailand 3-2. Tentu saja gol bermula dari lesatan bola yang mengerucut ke arah gawang.

Sebagai eksekutor lemparan jarak jauh, Dewangga adalah nama yang baru muncul. Terutama saat dia berhasil mencipta assist kepada Ramadhan Samanta final SEA Games 2023. Sayangnya, Alfeandra Dewangga kini sudah jarang dipanggil ke Timnas Indonesia.

Fabio Azka Irawan

Kabar gembira itu tak berhenti di gelaran SEA Games 2023 saja. Di tahun selanjutnya pada Piala AFF U-16 Indonesia menemukan bakat tersebut pada diri pemain lain. Pemain itu bernama Fabio Azka Irawan.

Kemampuan lemparan jauh yang dimiliki oleh Fabio sudah sejak kecil dilatih. Khususnya saat dia mulai belajar tentang sepakbola. Bahkan teman-teman serta pelatih menyebut kalau Fabio salah satu The Next Arhan. Julukan itu bukannya membuat Fabio percaya diri, malah justru malu untuk mengakui.

Hingga pada akhirnya, Nova Arianto mengamati skil Fabio yang saat itu masih bertanding di ajang Elite Pro Academy musim 2023/2024. Saat itu dia bermain untuk Persija Jakarta U-16. Nova Arianto tanpa ragu memanggil Fabio untuk ikut sesi pelatihan khusus dari pelatih fisik Tim Nasional, Sofie Imam Faizal.

Nah, di sinilah lemparan jauh Fabio dilatih dan ditajamkan. Nova meminta agar Fabio berlatih secara mandiri di luar latihan biasanya. Lewat tangan dingin Coach Sofie, kemampuan lempar bola Fabio makin terasah.

Buktinya saat Indonesia berjumpa Singapura di penyisihan grup Piala AFF 2024 U-16. Gol pemecah kebuntuan didapat dari peluang throw in Fabio.

Welber Jardim

Terakhir dari sekian pemain junior yang ada, Welber Jardim masuk kategori pelempar bola jarak jauh terbaik. Pemain yang bermain untuk Sao Paulo Brasil ini punya kemampuan seperti Pratama Arhan dalam hal memanfaatkan bola mati baik dari sisi kiri maupun kanan.

Welber mengasah itu sejak ia bergabung bersama Sao Paulo. Dia jadi andalan untuk timnya ketika mendapat bola mati. Salah satunya saat Sao Paulo melawan Talleres U-17 di final Piala Criciuma pada 1 Juli 2023, Welber menunjukkan performa terbaiknya. Dari performa terbaik itu, dia akhirnya dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia.

Singkat cerita Welber Jardim bergabung ke Timnas Indonesia U-17. Dia berhasil catatkan assist untuk Arkhan Kaka di pertandingan Indonesia lawan Panama pada 13 November 2023. Lewat umpan lambung yang dikirim ke kotak penalti.

Hasil imbang lawan Panama mengukuhkan Welber pemain terbaik meski untuk lemparan jauhnya belum maksimal menghasilkan assist untuk kemenangan Indonesia.

Ya, begitulah Football Lovers lemparan roket dari pemain-pemain Timnas telah mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Semangat garuda muda!

https://youtu.be/v9lv0jCX5BE

Strategi, DetikJabar, Bola, Mata Banua,

Ketimbang Arab Saudi, Negara Ini Lebih Layak Jadi Tuan Rumah Piala Dunia 2034

0

FIFA telah resmi mengumumkan negara mana saja yang akan menjadi tuan rumah untuk dua edisi Piala Dunia sekaligus. Yang pertama, untuk Piala Dunia 2030 yang kabarnya akan diadakan di enam negara sekaligus. Selain Portugal, Spanyol, dan Maroko; Argentina, Paraguay, dan Uruguay juga akan berstatus tuan rumah meski cuma memainkan pertandingan perayaan 100 tahun Piala Dunia.

Sedangkan di Piala Dunia edisi 2034, yang jadi tuan rumah adalah Arab Saudi. Itu karena FIFA ingin memainkan kompetisi tersebut di Asia. Namun, penunjukan Arab Saudi justru jadi perdebatan. Sebab, negara yang telah dikalahkan oleh Indonesia itu menyimpan segudang kontroversi.

Nah, soal apa kontroversinya, kalian bisa nonton konten Starting Eleven Story sebelumnya. Karena konten ini akan membahas negara-negara yang dinilai lebih layak untuk mengadakan Piala Dunia 2034. Menariknya, Indonesia jadi salah satu negara yang masuk dalam daftar ini.

Australia

Karena niat FIFA ingin menghelat Piala Dunia 2034 di Asia, maka Australia akan masuk dalam kategori ini. Mengapa demikian? Meski berada di benua yang terpisah, Australia berada di bawah naungan Asosiasi Sepakbola Asia atau AFC. 

The Socceroos bahkan merupakan anggota AFF, federasi regional Asia Tenggara sejak tahun 2013. Namun, untuk menjadi wakil Asia di Piala Dunia, Australia bisa diandalkan. Sejak edisi 2006 di Jerman, Australia langganan ikut kompetisi tersebut. Sayangnya, prestasi mereka gitu-gitu doang. Mentok cuma sampai babak 16 besar.

Di edisi 2022 lalu, Australia sempat mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia. Itu menandakan bahwa Negeri Kanguru siap dari segi infrastruktur, stadion, dan akomodasi transportasi. Sialnya, mereka sudah tereliminasi sejak babak pertama voting. Alhasil, yang dipilih saat itu adalah Qatar.

Walaupun begitu, bukan berarti Australia tidak berpengalaman dalam mengadakan turnamen akbar. Tahun 2023, Australia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia Wanita bersama Selandia Baru. 

Kota-kota seperti Sydney, Melbourne, Perth, dan Brisbane dipilih sebagai venue Piala Dunia Wanita. Dalam pelaksanaannya, Australia terbilang sukses. Selain berhasil tembus empat besar, Australia berhasil meraup keuntungan sekitar 865 juta US dollar. Australia sendiri sebetulnya sempat ingin mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034. Tapi FIFA hanya memberi waktu 25 hari. Mereka tak mampu, dan akhirnya memilih menarik diri. 

Indonesia

Menariknya, salah satu media ternama asal Inggris, yakni Planet Football menyebut Indonesia lebih layak dari Arab Saudi untuk urusan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034. Media tersebut mengatakan Indonesia adalah kandidat yang sangat potensial. Apalagi Indonesia memiliki basis penggemar sepakbola yang luar biasa.

Planet Football kagum dengan kecintaan Indonesia terhadap sepakbola. Mereka selalu terkesan dengan stadion-stadion berkapasitas besar, tapi selalu penuh jika ada pertandingan. Apalagi jika yang bermain adalah tim nasional. Dukungan fanatik dari penikmat sepakbola yang ada di Indonesia dapat menciptakan atmosfer yang hidup dan meriah. 

Hal tersebut akan memberikan pengalaman baru dan sekaligus tak terlupakan bagi kontestan dan penonton dari mancanegara. Selain itu, infrastruktur olahraga Indonesia terus berkembang. Sudah banyak stadion-stadion megah dan modern yang semakin siap menyelenggarakan turnamen berstandar FIFA seperti Piala Dunia.

Di luar itu, Indonesia punya kekuatan yang besar di sektor media sosial. FIFA tak perlu susah payah untuk mempromosikan turnamennya. Karena netizen Indo akan dengan senang hati mempopulerkan Piala Dunia jika itu di Indonesia. Cara mempromosikannya pun nggak setengah-setengah. Pasti akan dibalut dengan budaya dan kearifan lokal lainnya.

Soal pengalaman, Indonesia juga tak bisa diremehkan. Indonesia pernah sukses menggelar event-event olahraga multinasional. Seperti Moto GP, Asian Games, Piala Dunia U-17, hingga Piala Dunia Bola Basket.

China

Masih dari Asia, ada China yang bisa dibilang layak untuk menghelat turnamen akbar selevel Piala Dunia. Mereka bahkan nyaris jadi tuan rumah Piala Asia 2023. Sayangnya, karena ada Covid-19, China memutuskan untuk mengundurkan diri dari kandidat. Alhasil, Qatar yang maju jadi tuan rumah.

Di luar itu, China juga berpengalaman dalam menggelar event-event olahraga lain. Contohnya seperti Olimpiade Musim Panas pada tahun 2008 dan Olimpiade Musim Dingin pada tahun 2022. Selain itu, China juga pernah tiga kali jadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1990, 2010, dan 2023.

Data tersebut membuktikan bahwa China siap dalam segi infrastruktur dan akomodasi perjalanan. Menurut Kompas, bermodalkan pengalaman tersebut, China memang sedang mengincar kesempatan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia suatu saat nanti. Mereka bahkan punya target untuk jadi negara superpower Piala Dunia pada tahun 2050.

Kini, China tengah berusaha membangun pusat-pusat baru pelatihan pemuda dan mendorong kota-kota utamanya untuk mendirikan dua atau lebih klub sepakbola profesional pria dan wanita. Hal itu dilakukan sebagai bagian dari upaya negara itu untuk meningkatkan kualitas dan standar sepakbola. Jika demikian, China tak akan pusing menyediakan tempat latihan berstandar FIFA apabila jadi tuan rumah Piala Dunia 2034.

Argentina

Di luar Asia, ada Argentina yang digadang-gadang lebih layak menghelat Piala Dunia 2034 ketimbang Arab Saudi. Mengapa demikian? Karena Argentina lebih khatam urusan sepakbola ketimbang Arab Saudi. Bahkan, The Changcuters mengakui bahwa Argentina adalah salah satu negara sepakbola dalam lagunya yang berjudul “Hijrah ke London”.

Budaya sepakbola sangat kental di sana. Sepakbola bahkan selevel dengan agama bagi publik Argentina. Maka dari itu, banyak yang menyayangkan mengapa tanah kelahiran Lionel Messi itu hanya akan menggelar satu pertandingan di edisi Piala Dunia 2030, edisi yang menjadi peringatan 100 tahun Piala Dunia.

Itu dirasa nanggung untuk negara yang begitu mencintai olahraga tersebut. Muncullah usulan-usulan gila yang mendorong Argentina menjadi tuan rumah lagi di edisi Piala Dunia 2034. Namun, kali ini full satu kompetisi penuh. Ya, itung-itung menghargai sejarah Piala Dunia dan kado usai menjuarai Piala Dunia 2022.

Secara fasilitas, Argentina terbilang sudah teruji saat menggelar Piala Dunia U-20 tahun 2023 kemarin. Argentina punya banyak klub-klub besar yang memiliki stadion-stadion megah. Sebut saja seperti El Monumental, La Bombonera, Alberto J. Armando, dan masih banyak lagi. 

Inggris

Selain Argentina, Inggris jadi wakil Eropa di daftar kali ini. Jika ditanya mengapa harus Inggris? Maka jawabannya mengapa tidak? Sebab, Inggris memiliki semua elemen untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Mulai dari infrastruktur yang sangat baik, stadion kelas dunia, hingga kecintaan masyarakatnya yang mendalam terhadap sepakbola.

Inggris bahkan sudah resmi ditunjuk sebagai salah satu tuan rumah Euro 2028. Itu artinya, mereka sudah lolos verifikasi FIFA dan UEFA untuk menggelar event olahraga besar. Soal fasilitas, Inggris terbilang sangat siap. Entah itu dari transportasi, penginapan, atau tempat ibadah. 

Kalau stadion, udah nggak usah dipertanyakan lagi nggak sih? Kita semua tahu banyak stadion-stadion megah, canggih, dan bersejarah di Inggris. Bahkan hanya di London saja ada belasan stadion. 

Namun jika ingin lebih merata, pemerintah Inggris bisa menyebar pertandingan di kota-kota lain. Seperti Manchester, Nottingham, Birmingham, Leeds, Brighton, atau mungkin Bristol. Dengan begini, perputaran ekonominya pun akan lebih merata. 

Ghana

Ghana muncul sebagai opsi. Setidaknya untuk sedikit bernostalgia. Sebab, terakhir kali negara di Benua Afrika menjadi tuan rumah Piala Dunia, edisi tersebut jadi edisi yang paling tak terlupakan. Banyak budaya dan hal-hal unik yang muncul di Piala Dunia 2010 yang kala itu diselenggarakan di Afrika Selatan. 

Secara pengalaman, Ghana terbilang oke saat menyelenggarakan event sepakbola. Ghana tercatat pernah dua kali jadi tuan rumah Piala Afrika. Tepatnya pada tahun 2000 dan 2008. Jika ditunjuk jadi tuan rumah Piala Dunia 2034, Ghana bisa menggandeng negara lain. Seperti tetangganya, yakni Nigeria misalnya. 

Dengan dibantu negara terkaya kedua di Afrika, Ghana diprediksi bisa menghelat Piala Dunia dengan baik. Kedua negara ini pernah sukses menjadi tuan rumah bersama di Piala Afrika 2000. Anyway, jika Piala Dunia kembali ke Afrika, ekspektasi fans pasti tinggi. Piala Dunia 2010 yang penuh intrik dan drama akan menjadi patokan. 

Sumber: CNN Indonesia, Indozone, Planet Football, FIFA

Mengapa Manchester United dan Manchester City Seperti Bertukar Nasib?

0

Jika kalian masih ingat, dulu salah satu stasiun TV nasional pernah menayangkan program reality show yang berjudul “Tukar Nasib”. Acara itu berusaha mewujudkan mimpi para keluarga yang kurang mampu untuk hidup mewah. Nantinya, si kaya pun juga harus merasakan kehidupan orang-orang tidak berkecukupan. 

Namun, seiring berjalannya waktu, program tersebut mulai redup dengan sendirinya. Nah, lama tak terdengar, kini reality show tukar nasib kembali tayang di Kota Manchester. Rival sekota, United dan City terlihat sedang bertukar nasib. 

Yang biasanya juara justru jadi tim kalahan. Dan si aib Inggris, kini sedang di atas awan. Namun, bagaimana ini bisa terjadi? 

Derby Manchester

Ide konten ini muncul persis setelah Manchester United memenangkan duel Derby Manchester di Etihad Stadium. Dalam laga tersebut, Setan Merah harus bekerja ekstra karena tertinggal lebih dulu. Melalui tandukan Josko Gvardiol, Manchester City menutup babak pertama dengan keunggulan 1-0.

Ruben Amorim berhasil membangkitkan setan yang tertidur. Manchester United membaik di babak kedua. Di paruh kedua, Setan Merah mampu melayangkan enam tembakan yang mana tiga di antaranya menyasar gawang Ederson Moraes. Dari upaya tersebut, akhirnya United berhasil menyamakan kedudukan di menit 88. 

Meski cuma dari titik penalti, gol tetaplah gol. Peluang kedua tim untuk menang kembali menjadi 50:50. Ketika semua yang hadir di stadion merasa laga akan berakhir imbang, umpan membelah lautan dari Lisandro Martinez berhasil dimanfaatkan dengan baik oleh Amad Diallo.

Dengan sedikit sentuhan, Amad berhasil melewati Ederson dan menjebloskan bola ke gawang. Laga berakhir dengan skor 2-1. Setelah era Fergie, Ruben Amorim jadi manajer United pertama yang mampu menang di laga Derby Manchester perdananya.

Dulu dan Sekarang

Melihat United menang di kandang City bak sebuah anomali. Karena terakhir kali itu terjadi pada tahun 2021, hampir empat tahun yang lalu. Kala itu, Ole Gunnar Solksjaer lah yang memimpin skuad MU. Meski United berhasil mengalahkan City, juara di akhir musim tetaplah Manchester City. 

Gelar itu jadi awal di mana City mengukir rekor istimewa di Premier League. Tiga musim setelahnya, City selalu keluar sebagai juara. Itu membuat skuad asuhan Pep Guardiola jadi tim pertama yang menjuarai Premier League empat kali secara beruntun.

Berstatus sebagai tim yang menjuarai enam Premier League dalam tujuh tahun terakhir, City kembali dijagokan untuk menjuarai Premier League musim 2024/25. Apalagi, City sudah memuncaki klasemen sejak pekan kedua. Mereka bahkan tidak terkalahkan dalam sembilan pekan pertama Premier League musim ini. 

Hal itu berbanding terbalik dengan kondisi rival sekota, Manchester United. Menjadi musim ketiga Erik Ten Hag di Old Trafford, United kian merana. Memulai musim dengan amat sangat buruk, United sudah terjerembab di urutan 14 klasemen sejak pekan ketiga. 

United bahkan hanya menang dua kali dari tujuh pertandingan awal musim ini. Puncaknya, United kalah 2-1 dari West Ham yang juga sedang dalam masa paceklik. Sir Jim Ratcliffe yang sudah muak dengan si kepala botak, akhirnya mendepaknya. Di saat City kembali ke puncak, United justru sibuk bergumul dengan Everton, Wolves, dan Ipswich Town di papan bawah. 

Badai Cedera

Namun, kepergian Ten Hag jadi pertanda dimulainya program Tukar Nasib tersebut. City yang belum terkalahkan tiba-tiba dikalahkan oleh Tottenham di ajang Carabao Cup. Awalnya, beberapa pihak hanya mengira ini kekalahan yang wajar. Karena City memang selalu kesulitan jika menghadapi wakil London tersebut.

Yang bikin publik Inggris tak menyangka, itu ternyata jadi awal kemunduran Manchester City. Kekalahan City menjalar ke Premier League saat dipermalukan oleh Bournemouth dengan skor 2-1. Menjadi sebuah hal yang tak biasa, Pep Guardiola pun dihujani pertanyaan dari para wartawan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?” Begitu kira-kira. Pep menyampaikan bahwa dua hasil buruk disebabkan oleh banyaknya pemain penting yang tak bisa dimainkan. Contohnya seperti Rodri yang cedera ACL, Kevin De Bruyne yang mengalami masalah kebugaran, dan Ruben Dias yang mengidap cedera betis.

Di pekan-pekan berikutnya, masalah cedera yang dialami City justru kian memburuk. Situasi ini berhasil dimanfaatkan oleh United yang sudah berpengalaman. Badai cedera adalah masalah yang so last year bagi United. Setelah kepergian Ten Hag, pemain-pemain pesakitan malah pulih. Bahkan, sang makhluk mitologi, yakni Tyrell Malacia kembali muncul di Carrington.

11 Pertandingan Terakhir

Dalam situasi sulit, biasanya Pep Guardiola jadi yang paling tanggap dalam mencari solusi. Namun, kali ini seperti sebuah masalah yang lain bagi Pep. Segala spekulasi dan rancangan formasi tak bisa menyelamatkan City dari jeratan kekalahan. Semakin Guardiola berusaha, City justru semakin hilang arah.

The Sky Blue mengalami empat kekalahan beruntun di Premier League. City bahkan mengakhiri bulan November tanpa satu pun kemenangan. Tiga poin baru kembali ke pelukan City saat mengalahkan Nottingham Forest. Kemenangan atas Forest jadi satu-satunya kemenangan yang bisa diraih Erling Haaland cs dalam sebelas pertandingan terakhir.

Lagi-lagi, itu berkebalikan dengan MU. Empat pertandingan yang dipimpin oleh Van Nistelrooy, tak ada satu pun yang berakhir dengan kekalahan. Paling, cuma sekali imbang. Itu pun lawan Chelsea, si peringkat dua saat ini. Hasil positif pun berlanjut ke era kepemimpinan Ruben Amorim.

Meski sempat kalah dari Arsenal dan Nottingham Forest, itu masih termaafkan. Karena kedua klub tersebut sedang dalam performa yang sangat baik. Dalam jumlah yang sama, United hanya kalah dua kali dalam sebelas pertandingan terakhirnya. 

Sebagai catatan, performa yang tertukar bukan cuma di Premier League aja. Di Eropa pun demikian. United tercatat belum terkalahkan di Europa League. Sedangkan City, terseok-seok di papan tengah. Mereka bahkan terancam tak lolos ke babak berikutnya jika kembali kalah dari PSG.

Produktivitas

Okey, kita akan gunakan sebelas pertandingan terakhir dari kedua klub sebagai patokan. Selain hasil laga yang berbeda jauh, produktivitas Manchester United dan Manchester City juga seperti tertukar. City seperti kehilangan rasa haus golnya di depan gawang lawan. Dari sebelas laga, City hanya mampu cetak sepuluh gol.

Itu berarti, City hanya mencetak 0,9 gol per pertandingan. Beda dengan skuad asuhan Ruben Amorim yang terbilang cukup produktif. Dari sebelas laga, mereka sudah mencetak 25 gol. Itu berarti United setidaknya mampu mencetak 2,3 gol per laga. 

Dari performa individu para penyerang kedua tim pun kelihatan. Erling Haaland hanya mencetak empat gol dari sebelas pertandingan terakhirnya bersama City. Padahal, biasanya Haaland bisa menjamin satu laga satu gol kepada para penonton. 

Di sisi lain, Rasmus Hojlund sedikit lebih baik dari Haaland. Dari sebelas pertandingan terakhirnya, ia bisa mencetak lima gol. Meski cuma beda satu gol, Hojlund terlihat lebih baik karena jumlah menit bermainnya lebih sedikit dari Haaland. Sebab, ia harus bergantian dengan Joshua Zirkzee. 

Mulai Bahas-bahas Sejarah

Nah, yang bener-bener mencerminkan tertukarnya nasib duo Manchester adalah soal kebiasaan. Biasanya, United yang terus-terusan dihujat sana-sini selalu bersembunyi di balik sejarah masa lalu. Para fans selalu membangga-banggakan jumlah gelar Premier League yang jumlahnya dua kali lipat dari milik City.

Tapi, kemarin yang bahas-bahas sejarah malah Pep Guardiola. Usai kalah dari Liverpool, Pep Guardiola jadi bahan olok-olok para kopites. Mereka juga meneriaki pelatih asal Spanyol itu dengan kalimat “Hari ini anda akan dipecat!” Mendengar hal itu, kesabaran Pep habis.

Pep membalas dengan gestur enam jari, merujuk pada jumlah gelar Liga Inggris yang telah diraih bersama City. Gestur tersebut menandakan Pep sudah kehabisan kata untuk membela diri. Timnya benar-benar kalah dalam segala hal saat ini. Satu-satunya hal yang tak tertukar dari kedua klub ini adalah peringkat di liga. Meski United menang atas City, mereka masih aja ngejogrok di urutan 13 klasemen sementara.

https://youtu.be/n2Yfbh5H4j0

Sumber: Fotmob, Eurosport, Daily Mail, ESPN