Ngeprank Penikmat Bola! Ini 5 Wonderkids Sepakbola Paling Mengecewakan

  • Whatsapp
Ngeprank Penikmat Bola! Ini 5 Wonderkids Sepakbola Paling Mengecewakan
Ngeprank Penikmat Bola! Ini 5 Wonderkids Sepakbola Paling Mengecewakan

Apa yang lebih menyedihkan dari kisah seorang wonderkid gagal?

Dalam sepakbola, sudah sangat sering kita saksikan kisah para bintang muda yang gagal tunjukkan kualitas. Tidak sedikit dari mereka yang kesulitan beradaptasi dan bahkan mengalami kehancuran karir yang akan selalu dikenang oleh banyak orang. Sampai saat ini, sudah ada banyak nama pemain muda yang tampil mengecewakan ketika diminta bermain di level senior. Meski tidak sedikit pula dari mereka yang bertahan, masih ada yang lainnya, yang sampai harus bermain di level rendah demi memulihkan kemampuan yang hilang entah kemana.

Bacaan Lainnya

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan coba merangkum deretan wonderkid paling mengecewakan sepanjang masa.

 

Sebastian Deisler

Sebastian Deisler menjadi pemain muda pertama yang meski digadang-gadang bakal menjadi yang terbaik, gagal penuhi ekspektasi.

Deisler merupakan pemain penting dari Jerman. Dia disebut bakal menjadi andalan tim panser di masa mendatang. Sayangnya, semua harapan yang ditaruh di pundak tak mampu dipikulnya. Deisler tenggelam dalam kehancuran. Sebuah cedera merenggut kisah manisnya. Jangankan untuk bersinar, bangkit dari masalah yang selama ini mendera juga dia tak bisa.

Deisler mengalami cedera ligamen yang lagi dan lagi terus menjadi penghalang. Selain itu, dia juga sering diganggu oleh cedera lainnya hingga membuat pemain yang kini berusia 41 tahun itu sampai harus mengalami depresi.

Deisler sejatinya memulai karir bersama Borussia Monchengladbach untuk kemudian bergabung dengan Hertha Berlin pada tahun 1999. Menyusul penampilan gemilangnya, dia lalu direkrut oleh raksasa FC Bayern pada tahun 2002. Nahas, dia datang ke Allianz dengan kondisi yang tidak fit. Meski berhasil menggondol trofi liga, Deisler tidak benar-benar menikmati segalanya. Cederanya kambuhan. Ruang operasi seolah menjadi tempat ternyaman. Hingga pada akhirnya di usia yang baru menginjak 27 tahun, Deisler memilih untuk menghentikan segalanya.

Dia hanya tampil dalam 62 pertandingan dalam empat musim bersama FC Bayern. Kisah tragisnya itu pun banyak menjadi bahan bicaraan. Diluar sana, ada banyak sekali orang yang menyayangkan karir pria Capricorn.

“Aku merasa seperti orang bodoh yang sangat menyedihkan,” ujar Deisler usai putuskan pensiun di usia 27 tahun.

Keirrison

Brasil menjadi negara yang dipercaya untuk menelurkan bakat-bakat luar biasa. Salah satu pemain paling bertalenta dalam sejarah adalah Keirrison. Semua pasti ingat ketika FC Barcelona berani menggelontorkan dana senilai 14 juta euro atau setara 244 miliar rupiah hanya untuk memboyong Keirrison yang baru berusia 20 tahun.

Saat itu Keirrison memang banyak diburu oleh klub Eropa. Bersama dengan Coritiba, dia mampu ciptakan 41 gol dari total 58 pertandingan dan berhasil mempersembahkan gelar Campeonato Paranaense.

Malah torehan 21 golnya di liga sukses mengantar Keirrison duduk di tangga pertama pencetak gol terbanyak. Setelah itu, dia ditarik ke Palmeiras sebelum akhirnya bermukim di Camp Nou.

Nahas, perjalanannya di Eropa tidak berjalan mulus. Dia menjadi pemain yang seolah tidak diinginkan oleh pelatih el Barca, Pep Guardiola. Meski mendapat kontrak selama lima tahun dari Barcelona, dia sama sekali tidak memberi jasa apapun bagi Barcelona. Masa peminjaman hanya menjadi makanan sehari-harinya. Lebih dari itu, kegagalan dan kekecewaan menjadi buah dari kemampuannya yang tidak bisa dimaksimalkan.

Merasa tidak mendapat manfaat dari sang pemain, Barca lalu melepasnya pada tahun 2014. Sempat kembali ke Coritiba, Keirrison kini berstatus sebagai pemain Palm Beach yang tampil di kompetisi Amerika.

Ravel Morrison

Di awal karirnya, Ravel Morrison pernah digambarkan sebagai pemain muda terbaik oleh Sir Alex Ferguson. Dia bahkan disebut bakal menjadi pemain masa depan Manchester United. Akan tetapi, berbagai hal lantas membuatnya gagal tunjukkan bakat. Dia sama sekali tak bisa buktikan kualitas dan malah mengalami masa yang tak diinginkan.

Sejak melakoni debut bersama MU di usia 17 tahun pada 2010 silam, Ravel Morrison malah menjadi seorang pesakitan tanpa pernah membanggakan klub yang dibelanya. Dia dilepas MU pada tahun 2012 untuk kemudian bergabung dengan West Ham United. Setidaknya, ada sekitar 11 tim yang pernah disinggahinya setelah keluar dari Old Trafford. Namun semua itu tidak ada artinya. Ravel Morrison gagal dan benar-benar tak mampu bersinar.

Usianya kini adalah 28 tahun. Sempat menjalani trial bersama ADO Den Haag, Ravel Morrison kini berstatus sebagai seorang pengangguran. Karirnya sebagai seorang pemain sepakbola tak terlihat matang.

Mengejutkannya, dia tampak berlatih bela diri. Ada kabar yang menyebut bahwa dia akan menjajal olahraga MMA, usai berlatih dengan petarung kelas bulu, Lerone Murphy.

Hachim Mastour

Nama Hachim Mastour sempat membuat gempar dunia maya. Pemain asal Maroko itu terlihat membanjiri sosial media Youtube dengan aksi-aksi luar biasanya sebagai seorang pesepakbola.

Hachim Mastour memang bukan nama baru dalam dunia sepakbola. Meski masih berusia muda, bahkan setelah dibuang AC Milan, Hachim Mastour banyak diperbincangkan oleh banyak orang. Selain memiliki kecepatan luar biasa, dia juga terlihat sebagai pemain yang pandai menguasai bola. Tampak mudah baginya untuk melewati lawan. Bahkan, untuk mencetak gol pun bukan perkara sulit untuknya.

Sayangnya, setelah ditarik ke tim utama, Hachim Mastour malah gagal tunjukkan pesona. Talentanya hanya sebatas di ruang online saja. Dia hanya pandai menghibur penonton tanpa pernah memberi kontribusi penting bagi timnya. Maka dari itu, wajar bila AC Milan selaku klub yang memilikinya, memilih untuk meminjamkan sang pemain ke sejumlah klub di Eropa.

Sayangnya, cara itu sama saja. Tidak ada perubahan yang ditunjukkan Hachim Mastour. Malah, karirnya makin menukik tajam.

Kini, di usia 22 tahun, dia hanya tampil di divisi bawah Liga Italia bersama Carpi.

Freddy Adu

Freddy Adu kini berstatus sebagai pemain Osterlen FF yang berkompetisi di divisi tiga Liga Swedia. Bila membayangkan nasibnya sekarang, terasa begitu miris setelah tahu bahwa pemain yang kini berusia 31 tahun itu pernah digadang-gadang bakal menjadi masa depan sepakbola Amerika.

Mantan pemain Internasional Amerika Serikat itu pernah menyandang status sebagai talenta muda terbaik yang pernah ada. Dia melakoni debut bersama DC United pada usia 14 tahun. Dia juga sempat diminati oleh tim sekelas Manchester United, Benfica, sampai Monaco. Namun terlepas dari ketertarikan banyak tim besar Eropa, Adu sama sekali tidak mampu mengembangkan bakat luar biasanya.

Kelemahan Adu ketika dijuluki sebagai pemain muda terbaik di dunia adalah, dia merasa kaget setelah mendapat bayaran yang begitu besar di usia yang tergolong masih sangat muda. Dia tampak tenggelam dalam kemewahan dan seolah tidak memikirkan karir di masa mendatang. Maka dari itu, potensi yang ada pada dirinya tidak mampu dipertahankan. Dia terbuai dengan bujuk rayu dunia dan benar-benar gagal menjadi seorang pemain besar.

Sebanyak 15 tim sudah ia bela, dimana pada tahun 2018 lalu dia sempat menganggur dan tak lagi tampil di kompetisi profesional selama kurang lebih dua tahun.

Nama Freddy Adu hanya banyak meninggalkan penyesalan. Pemain yang juga dijuluki penerus Pele ini gagal, dan hanya jadi bahan bagi sebagian orang untuk mengambil pelajaran.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *