Beranda blog Halaman 713

5 Lulusan Tersukses Hennes-Weisweiler Academy

0

Makin banyaknya pelatih muda berbakat yang muncul dari Jerman membuat nama Hennes-Weisweiler Academy kembali mencuat. Hennes-Weisweiler Academy atau yang akrab disebut dengan ‘die Akademie’ adalah jawaban dari banyaknya pelatih-pelatih hebat dari Jerman.

Berdiri sejak 1947, Hennes-Weisweiler Academy merupakan sekolah kepelatihan bestandar tinggi di Jerman. Namanya sendiri diambil dari mantan pelatih Jerman tersukses pada masanya, Hans Weisweiler.

Pusat sekolah kepelatihan yang terletak di German Sport University Cologne itu adalah tempat terbaik untuk memperoleh lisensi Pro UEFA. Pasalnya, ‘die Akademie’ dijalankan dengan sangat profesional dan eksklusif.

Dimulai dari pendaftaran yang ketat. Tiap tahunnya, ‘die Akademie’ hanya menerima 24 atau 25 peserta saja. Sebelum terpilih, para calon peserta kursus atau pelamar harus menjalani setidaknya 3 tes terlebih dahulu.

Pertama, pelamar akan diwawancarai dan diberi tes tertulis soal logika sepak bola. Kemudian, pelamar akan menjalani tes praktek berupa simulasi pertandingan dengan beragam situasi. Terakhir, tes ditutup kembali dengan tes tertulis. Semua rangkaian tes tersebut juga diawasi oleh seorang psikolog yang menilai kesiapan mental para pelamar.

Keunikan dari sekolah kepelatihan ini adalah mereka tak hanya menerima peserta yang punya latar belakang sepak bola saja dan tak harus berkewarganegaraan Jerman. Meski begitu, para calon peseta wajib memenuhi syarat administrasi lainnya, yakni sudah memegang Lisensi DFB-A atau lisensi UEFA-A, punya pengalaman melatih minimal 1 tahun, dan menjadi bagian dari klub DFB (asosiasi sepak bola Jerman).

Setelah terpilih, para peserta pelatihan akan menjalani kursus selama 11 bulan atau menempuh studi di ‘die Akademie’ selama 815 jam. Masa studi tersebut jauh di atas ketetapan minimal Lisensi Pro yang ditetapkan UEFA, yakni 240 jam. Hal yang membuat waktu kursus di ‘die Akademie’ lama adalah fokus mereka yang lebih kepada praktek ketimbang teori.

Di samping harus mengikuti 8 kali sesi workshop, para peserta setidaknya harus magang selama 8 pekan di salah satu klub Bundesliga. Sebelum lulus, mereka masih harus membuat makalah tentang filosofi sepak bola mereka. Setelah dinyatakan lulus, para peserta akan mendapat gelar ‘Fußball-Lehrer’ yang artinya ‘Guru Besar Sepak Bola’. Gelar itulah yang jadi syarat untuk bekerja di tiga divisi sepak bola Jerman.

Lalu, siapa saja lulusan tersukses dari Hennes-Weisweiler Academy?

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa akademi pelatih tersebut sudah berdiri sejak 1947, artinya ada ratusan bahkan mungkin ribuan pelatih lulusan Hennes-Weisweiler Academy. Maka dari itu, starting eleven hanya akan memuat 5 lulusan Hennes-Weisweiler Academy tersukses yang masih aktif hingga sekarang. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya.

 

1. Hansi Flick

Hansi Flick berhasil membuat sensasi di tahun 2020. Menggantikan Niko Kovac di pertengahan musim, Flick mampu memperbaiki performa Bayern Munchen yang naik turun. Perlahan tapi pasti, dia mengantarkan Bayern menjuarai Bundesliga dan DFB-Pokal di akhir musim.

Puncaknya, Hansi Flick secara luar biasa sukses mempersembahkan trofi Liga Champions 2020. Tak cukup sampai di situ, ia kembali mempersembahkan trofi lain, yakni DFL-Supercup, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Dengan begitu, ia telah sukses meraih 6 gelar dalam satu musim alias sextuple.

Hansi Flick lulus dari Hennes-Weisweiler Academy di tahun 2003 silam. Sebelum bekerja untuk Bayern Munchen, dari tahun 2006 hingga 2014, Hansi Flick bekerja sebagai asisten pelatih di timnas Jerman. Kemudian dari tahun 2014 hingga 2017, ia dipercaya menjadi direktur olahraga di Asosiasi Sepak Bola Jerman usai sukses menjuarai Piala Dunia 2014.

 

2. Jurgen Klopp

Jurgen Klopp memperoleh gelar ‘Fußball-Lehrer’ di tahun 2004. Di tahun tersebut, ia juga sukses membawa FSV Mainz promosi ke Bundesliga. Sebagai pemain, karier Klopp terbilang biasa saja, namun lain cerita ketika ia mulai merintis karier sebagai pelatih di usia 34 tahun.

Kesuksesan Klopp dimulai saat ia menerima tawaran melatih di Borussia Dortmund pada 2008 silam. Di Dortmund, Klopp memperkenalkan ‘gegenpressing’ yang sukses meruntuhkan dominasi Bayern Munchen kala itu. Bersama Dortmund, Klopp sukses mempersembahkan 2 trofi Bundesliga, 1 trofi DFB-Pokal, 2 trofi DFL-Supercup. dan 1 trofi German Supercup.

Jurgen Klopp kemudian meneruskan kesuksesannya di Liverpool. Menangani The Reds sejak 2015, pelatih yang kini berusia 53 tahun telah mempersembahkan 4 trofi untuk Liverpool. Yang paling dikenang tentu saja juara Premier League musim lalu. Itu merupakan trofi liga pertama buat Liverpool di era Premier League.

Klopp juga sukses membawa Liverpool juara Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub 2019. Rentetan trofi itulah yang mengantarkan Klopp meraih 2 gelar pelatih terbaik FIFA di tahun 2019 dan 2020.

 

3. Thomas Tuchel

Sama seperti Jurgen Klopp, karier Thomas Tuchel sebagai pemain tidaklah hebat. Bahkan, Tuchel terpaksa pensiun dini di tahun 1998 saat usianya masih 25 tahun akibat cedera lutut parah. Tak lama setelah itu, ia beralih menjadi pelatih tim muda Stuttgart di tahun 2000.

Thomas Tuchel memperoleh gelar ‘Fußball-Lehrer’ di tahun 2006. Saat itu, ia masih menjadi pelatih tim cadangan FC Augsburg. Namun, kesuksesan Tuchel dapatkan saat ia ditunjuk sebagai pengganti Jurgen Klopp di Borussia Dortmund.

Selama 2 tahun di Dortmund, Tuchel sukses mempersembahkan 1 trofi DFB-Pokal di tahun 2017. Setahun berselang, dia ditunjuk sebagai pelatih PSG. Bersama PSG, dia menjuarai Ligue 1 dua musim beruntun dan membawa klub Paris itu ke final Liga Champions 2020.

Sejak Januari lalu, Tuchel menjabat sebagai manajer Chelsea. Ia sukses memperbaiki performa The Blues dan membawa timnya lolos ke partai final Piala FA musim ini. Tak hanya itu, kini Thomas Tuchel juga kembali berpeluang tampil di partai final Liga Champions musim ini apabila sukses membawa Chelsea menang di babak semifinal melawan Real Madrid.

 

4. Joachim Low

Tak bisa dipungkiri bahwa faktor terbesar berprestasinya timnas jerman di kancah internasional selama 2 dekade terakhir tak lepas dari racikan taktik Joachim Low. Low yang ditunjuk pasca Piala Dunia 2006 itu telah berhasil membawa Jerman jadi kampiun Piala Dunia 2014.

Low merupakan lulusan Hennes-Weisweiler Academy angkatan tahun 2000, satu angkatan dengan Jürgen Klinsmann and Matthias Sammer. Selain Piala Dunia 2014, Low juga sukses membawa Jerman jadi kampiun Piala Konfederasi 2017, runner-up Euro 2008, dan juara 3 Piala Dunia 2010.

 

5. Julian Nagelsmann

Sama seperti mentornya, Julian Nagelsmann juga pensiun dini sebagai pemain seperti halnya Thomas Tuchel. Ia pensiun di usia 20 tahun akibat cedera meniskus parah dan kerusakan tulang rawan. Setelah pensiun pada tahun 2008, dia langsung jadi asisten Thomas Tuchel di Augsburg.

Nagelsmann jadi sensasi kala ditunjuk sebagai pelatih Hoffenheim di bulan Februari 2016. Kala itu usianya masih 28 tahun dan menjadikan Nagelsmann sebagai pelatih termuda di Bundesliga. Nagelsmann yang lulus dari Hennes-Weisweiler Academy di tahun 2014 itu sukses membawa Hoffenheim ke Liga Champions untuk pertama kalinya di musim 2018/2019.

Karier Nagelsmann makin naik kala bergabung dengan RB Leipzig di tahun 2019 lalu. Bersama Leipzig, prestasi terbaiknya adalah membawa klub muda tersebut menjadi semifinalis Liga Champions 2020. Dia juga tercatat sebagai pelatih termuda yang sukses menembus babak semifinal Liga Champions.

Terbaru, Nagelsmann telah secara resmi diumumkan sebagai pelatih baru Bayern Munchen musim depan. Dikontrak selama 5 musim, Bayern harus membayar biaya transfer sebesar 25 juta euro kepada RB Leipzig. Hal itu menjadikan Nagelsmann memecahkan rekor transfer pelatih yang sebelumnya dipegang oleh Andre Villas-Boas saat pindah ke Chelsea di tahun 2011 dengan biaya transfer 15 juta euro.

Itulah 5 pelatih tersukses lulusan Hennes-Weisweiler Academy. Di luar nama-nama tadi, masih ada Jupp Heynckes, Ottmar Hitzfeld, Otto Rehagel, dan Ralf Rangnick yang juga lulusan ‘die Akademie’. Ada pula Roger Schmidt yang kini melatih PSV. Schmidt adalah bukti bahwa ‘die Akademie’ menerima peserta kursus dari berbagai latar belakang. Sebelum lulus dari Hennes-Weisweiler Academy di tahun 2011, Schmidt adalah seorang insinyur mesin di perusahaan otomotif Benteler.

Meski banyak menelurkan pelatih top bergelar ‘Fußball-Lehrer’, tak sedikit pula yang gagal di Hennes-Weisweiler Academy. Kompetitifnya pendidikan di sekolah kepelatihan tersebut jadi sebabnya. Namun, dengan begitu Jerman tak pernah kehabisan pelatih berbakat yang sudah teruji kualitasnya dan siap terjun di lapangan.

***
Sumber Referensi: Pandit Football, Vice, Bundesliga, DW, Goal

RANS Cilegon FC: Kebangkitan Klub yang Hampir Bangkrut?

Tepat pada 1 April lalu, klub sepak bola yang berlaga di Liga 2, Cilegon United resmi diakuisisi oleh presenter kondang asal Indonesia bernama Raffi Ahmad.

Eks Presiden Cilegon United, Yudi Apriyanto mengatakan bahwa alasan dijualnya Cilegon United ke suami Nagita Slavina tersebut tak lain dan tak bukan adalah demi menyelamatkan klub dari kebangkrutan.

Terhitung sejak tahun 2017, Cilegon United FC memang sudah mulai diterpa masalah finansial. Dari masalah korupsi yang melibatkan mantan Wali Kota Cilegon, Iman Ariyadi, klub berjuluk The Volcano tersebut juga sudah tak lagi mendapat sponsor dari perusahaan. Padahal, sebelum masalah-masalah tersebut muncul, Cilegon United (CU) masih bisa bermain di Liga 2.

Yudi sendiri cukup sedih saat harus melepaskan CU.

Cilegon United sendiri adalah klub yang didirikan pada 2015. Bermula dari klub amatir dan masih dibiayai pemerintah daerah hingga akhirnya bisa tampil di Liga 2.

Pada tahun 2020, CU mencoba bangkit dari keterpurukan. Namun sayang, usaha The Volcano tak membuahkan hasil. Dari masalah lapangan yang sulit untuk latihan, sang presiden CU juga merasa kesulitan mencari dana sponsor. Situasi CU saat itu benar-benar berada di ambang kehancuran jika tak segera diselamatkan.

Sampai akhirnya, Yudi mengambil keputusan. Daripada melihat klub yang sudah ia bangun hancur tak bersisa, ia memilih untuk melepas CU ke Rans Entertainment dan Prestige Motorcars pada 31 Maret 2021. Rans adalah perusahaan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, sedangkan Prestige adalah dealer supercar asal Jakarta Utara.

Setelah diakuisisi, nama Cilegon United pun berganti menjadi Rans Cilegon FC. Tak hanya berganti nama, Rans Cilegon FC juga menggunakan logo baru. RANS Cilegon FC memiliki logo burung Phoenix, yang bila diartikan adalah dia memiliki harapan agar klub bisa bertahan lama dan terus tumbuh.

Melalui akun instagram pribadinya, sang pemilik baru mengungkapkan bahwa burung Phoenix adalah simbol keabadian, lambang dari siklus kehidupan yang panjang abadi, dan simbol dari kebangkitan.

Burung Phoenix sendiri adalah sejenis burung api legendaris dalam mitologi Mesir yang keramat. Burung ini dikatakan dapat hidup dalam rentang waktu yang lama, antara 500 atau 1461 tahun.

Selain nama serta logo yang sudah terjadi perubahan, sejauh ini RANS Cilegon juga mengumumkan bahwa mereka akan memberikan salah satu fasilitas bus kepada para pemain yang setara dengan standar klub Eropa. Kabar tersebut disampaikan langsung oleh Gilang Widya Pramana, selaku bos dari Juragan 99 yang menjadi sponsor RANS Cilegon FC.

“Kami telah berikan sponsor kepada dua klub Bali United dan Arema Malang, berupa bus. Rans Cilegon FC juga akan diberi bus kelas Eropa,”

“Semoga Rans Cilegon FC bisa segera naik ke Liga 1 dan kami siap untuk support. Supportnya kita akan kasih bus,” kata Gilang. (via viva)

Raffi, selaku pemilik Rans Cilegon ingin sekali membawa RANS Cilegon tampil di divisi tertinggi kompetisi Indonesia. Namun, dia tidak mau cepat-cepat memasang target yang terlalu tinggi. Dia masih ingin memperbaiki klub dari bawah, mulai dari infrastruktur sampai dengan fasilitas bagi pemain, agar apa yang direncanakan nantinya bisa berjalan dengan baik.

Dalam sebuah wawancara, Raffi mengungkapkan target yang telah dia tetapkan untuk RANS Cilegon.

Pertama, seperti yang memang sudah menjadi kehendak Raffi, akan dibangun akademi sepakbola berkualitas. Memperhatikan segala hal yang memang dibutuhkan, agar nantinya, setiap pemain yang ikut berlatih akan keluar sebagai lulusan dengan kualitas jempolan.

Berikutnya, dia ingin membangun lapangan sepakbola sesuai standar FIFA. Melalui rekan kerjanya, Rudy Salim, RANS Cilegon mempresentasikan rencana pembangunan fasilitas sepak bola berstandar FIFA yang akan dibangun di daerah Pantai Indah Kapuk 2, dengan luas area sekitar 2,7 hektar. Di situ, nantinya akan di bangun akademi hingga sekolah sepak bola.

Meski tampaknya akan memiliki masa depan cerah, namun dalam poin ini, Raffi Ahmad sempat mendapat pertentangan dari para suporter. Para penggemar Cilegon memang bangga dengan rencana yang ditetapkan Raffi. Akan tetapi, mereka menyayangkan jika home base harus dipindah ke Jakarta.

“Teman-teman suporter sudah was-was karena kekhawatiran akan dipindahkannya kandang Cilegon United setelah diakuisisi Raffi Ahmad. Kalau pindah, kami mau mendukung tim mana lagi.”

“Kami berharap banget tidak pindah dan kami sangat mendukung sekali akuisisi ini,” ungkap Pembina Volcano Cilegon, Samanudi (via bolasport)

Rencana selanjutnya adalah, RANS Cilegon akan membangun lapangan indoor. Klub mengungkapkan bila mereka akan membangun lapangan indoor dengan berbagai fasilitas olahraga, mulai dari futsal sampai dengan bulu tangkis.

Setelah segala rencana awal telah disampaikan, sampailah pada jajaran sosok penting yang terlibat dalam klub RANS Cilegon FC. Setelah ada nama Raffi Ahmad dan juga Rudy Salim, ada Roofi Ardian yang ditunjuk sebagai Presiden RANS Cilegon, Yudhi Apriyanto yang kini menjabat sebagai Dewan Penasehat setelah tak lagi jadi Presiden Cilegon United, serta Hamka Hamzah yang berstatus sebagai manajer tim.

Kemudian, ada Bambang Nurdiansyah yang ditunjuk sebagai pelatih kepala sekaligus diberi tanggung jawab untuk mengurus tim di level akademi.

Di dalam daftar pemain sendiri, RANS Cilegon sudah merilis sebanyak 30 pemain yang telah terpilih untuk diikutkan dalam kompetisi. Dalam daftar tersebut, ada sejumlah nama kondang termasuk Tarik El Janaby, Cristian Gonzales sampai mantan wonderkid Indonesia, Syamsir Alam.

Kemunculan RANS Cilegon di kancah sepakbola indonesia seketika memang ciptakan pesona baru. Bahkan, laporan menyebut bila sudah ada sebanyak 40 perusahaan yang mengantri untuk bisa menjadi sponsor klub Raffi Ahmad dan Rudy Salim ini.

Selain itu, ada banyak komentar yang bermunculan usai RANS Cilegon FC diresmikan. Klub tersebut bahkan sempat menjadi topik bahasan paling ramai di sosial media Twitter. Tidak sedikit yang menyebut bila RANS Cilegon akan menjadi kekuatan baru di sepakbola Indonesia.

Bahkan, ada beberapa dari mereka yang mengatakan kalau RANS Cilegon akan segera mengikuti jejak klub asal Jerman, RB Leipzig, yang tidak punya sejarah dan cenderung bermodal kekuatan finansial, namun bisa ciptakan dominasi luar biasa.

Akankah Rans Cilegon FC bisa seperti RB Leipzig atau menjadi Manchester City nya Indonesia?

 

Sumber : sport.detik, merdeka

Orang-Orang Inilah yang Selalu Buat Keributan di Jagad Sepak Bola

Harus diakui bila sepakbola menjadi olahraga paling digemari di dunia. Selain terdapat pemain dan kumpulan suporter yang begitu luar biasa, juga terdapat berbagai macam karakter yang tak jarang timbulkan cerita di luar lapangan.

Selain terdapat aktor protagonis, dalam sepakbola, juga terdapat banyak aktor antagonis. Seperti yang sudah dijelaskan, para aktor yang disebut kerap timbulkan cerita diluar lapangan ini biasanya sering dipandang sebagai sosok kontroversial. Tak jarang aksi yang mereka lakukan sampai mengundang amarah para penggemar.

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan sosok dalam sepakbola yang sering timbulkan kontroversi.

 

Eric Cantona

Eric Cantona dikenal sebagai salah satu pesepakbola paling hebat di dunia. Dia menjadi legenda yang banyak dikenal oleh publik Manchester United. Prestasinya pun tak main-main. Pemain yang dikenal memiliki keterampilan teknis, kreativitas, dan kemampuan mencetak gol sangat baik ini berhasil membawa MU menjadi raja di kompetisi Liga Primer Inggris.

Namun dibalik prestasi yang diraih, pemain asal Prancis ini juga dikenal sebagai sosok yang begitu kontroversial. Cantona disebut sebagai pemain bengal yang sulit tunduk pada aturan. Bahkan, dia tak segan meneriaki hingga menghina rekan setimnya ketika tampil tak sesuai apa maunya.

Salah satu aksi paling gila yang pernah dilakukan Cantona adalah melancarkan tendangan kungfu ke arah suporter lawan. Cantona yang ketika itu merasa dihina, tanpa pikir panjang, langsung menghadiahi tendangan yang tak akan terlupa oleh siapapun. Akibat perbuatannya itu, dia sampai harus dihukum selama delapan bulan lamanya.

Selain hal tersebut, masih ada banyak ucapan maupun aksi Cantona yang penuh dengan teka-teki.

Jose Mourinho

Jose Mourinho menyebut dirinya sebagai sosok yang sangat spesial. Namun, dia juga lupa kalau dirinya banyak disebut sebagai salah satu sosok paling kontroversial dalam sepakbola. Tidak sedikit sikap nyeleneh yang ditunjukkan Mourinho, baik itu di dalam maupun di luar lapangan. Dia selalu timbulkan cerita yang bahkan sampai mengundang amarah para penggemar.

Sebagai pelatih, dia pernah berseteru dengan Arsen Wenger, pernah mencolok mata Tito Vilanova, sekaligus terlibat perang dingin dengan Pep Guardiola. Tidak sampai disitu saja, mantan pelatih FC Porto ini juga tak jarang terlibat konflik dengan para wartawan. Dengan sikap arogan yang dimiliki, Mourinho tak keberatan bila harus mengeluarkan kata-kata tidak pantas kepada insan pers.

Selain berseteru dengan para pihak tersebut, jangan lupakan pula perseteruan Mourinho dengan banyak anak asuhnya. Entah berapa banyak pemain yang pernah terlibat konflik dengannya. Yang pasti, semua pasti setuju bila sosok Jose Mourinho, selain dikenal berprestasi, juga dikenal sebagai sosok yang kerap timbulkan keributan.

Diego Maradona

Diego Maradona mungkin disebut sebagai salah satu sosok paling inspiratif dalam sepakbola. Dia telah menikmati karir yang sangat luar biasa, baik bersama tim nasional, atau klub yang dibelanya. Kejeniusannya kerap tertumpah dalam sebuah pertandingan.

Akan tetapi, meski menjadi sosok yang banyak disegani, Maradona juga dikenal sebagai pria yang tak jarang timbulkan keributan. Mantan pemain yang telah meninggal dunia karena masalah jantung ini beberapa kali terlibat dalam kejahatan obat-obatan terlarang. Bahkan, dia pernah diskors oleh FIFA karena kedapatan memakai obat sesaat sebelum pertandingan.

Maradona dipercaya punya hubungan langsung dengan figur-figur berbahaya yang tersebar di seluruh dunia.

Sekali lagi, meski pantas disebut sebagai pesepakbola terbaik sepanjang sejarah, nama mendiang Maradona tak pernah lepas dari cerita kelam yang sempat membuat hidupnya tenggelam dalam dunia hitam.

Mario Balotelli

Pemain Internasional Italia, Mario Balotelli, pernah mendapatkan penghargaan sebagai pemain muda terbaik di dunia. Banyak yang menginginkan bakatnya ketika itu. Pasalnya, dia dianggap sebagai salah satu pemain yang bakal bersinar di masa mendatang.

Namun apalah daya. Mario Balotelli malah lebih banyak menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak berguna. Dia kerap melakukan pesta dan timbulkan cerita kontroversial. Balotelli pernah diperiksa polisi karena kedapatan membawa uang yang terlampau banyak di jalan, pernah melukai rekan setimnya di Manchester City, pernah bertengkar hebat dengan pelatih, sampai pernah melakukan pesta kembang api di dalam rumahnya sendiri.

Semua hal itu masih sedikit dari banyaknya aksi berbahaya yang dia lakukan.

Sosoknya pun semakin tak dilirik oleh khalayak, setelah karir sepakbolanya tiba-tiba mandek. Balotelli gagal meraih apa yang seharusnya didapat, dan malah terjerumus ke dalam kubangan masalah, yang bahkan sampai saat ini masih dia rasakan.

Antonio Cassano

Antonio Cassano pernah menjadi remaja termahal yang dibeli oleh Real Madrid. Pemain berbakat asal Italia ini nyaris memiliki perjalanan karir yang sama dengan Mario Balotelli. Meski punya potensi besar, Cassano tak pernah menjadi pemain yang benar-benar dipuja banyak orang.

Ketika tampil untuk Real Madrid, dia bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan meniduri wanita, ketimbang mengikuti latihan. Secara terang-terangan, Cassano tidak menyukai latihan. Dia juga mengaku tidak terlalu menghormati pelatih. Yang ada di pikirannya saat itu adalah, dia merupakan pemain Real Madrid dan punya banyak uang.

Karena kebiasaan buruknya itulah, Cassano tak dibutuhkan di Real Madrid dan putuskan kembali ke Italia. Saat sudah memutuskan pensiun dari dunia sepakbola, Cassano juga masih sering melontarkan komentar-komentar kontroversial, yang tak jarang menyerang individu tertentu dalam sepakbola.

Florentino Perez

Florentino Perez menjadi sosok yang masih hangat dibicarakan saat ini. Presiden klub Real Madrid itu tengah dibully banyak orang karena aksinya yang membentuk kompetisi tandingan UEFA.

Florentino Perez dituding menjadi dalang dari munculnya kompetisi kontroversial ini. Hal itu benar-benar membuat marah banyak orang. Tidak hanya pemain, namun juga pelatih dan pihak lainnya yang juga punya nama.

Selain menjadi sosok paling berpengaruh di kompetisi Liga Super Eropa, Florentino Perez juga pernah begitu dibenci ketika secara kontroversial mendatangkan Luis Figo dari FC Barcelona. Florentino Perez disebut telah memaksa Figo agar mau membelot ke klub ibukota.

Selain itu, dia juga disebut telah menyingkirkan pemain bertalenta semacam Claude Makelele dari skuad Real Madrid, sekaligus pernah menolak Ronaldinho untuk bergabung dengan Los Blancos dengan alasan sang pemain memiliki wajah yang jelek.

Josep Maria Bartomeu

Josep Maria Bartomeu menjadi mantan presiden FC Barcelona yang mungkin tidak disukai oleh kebanyakan penggemar el Barca. Bartomeu banyak mengeluarkan keputusan kontroversi yang bahkan dianggap sampai merugikan klub.

Keputusan kontroversial Bartomeu yang pertama adalah melepas Neymar. Meski mendapat pertentangan dari Messi sekaligus para penggemar ketika itu, Bartomeu justru dengan mudah melepas pemain yang bahkan dianggap sebagai salah satu yang terbaik di klub.

Kemudian, kebijakan transfer yang sangat aneh. Dimulai dari melepas Neymar, Bartomeu lalu mendatangkan Coutinho dan juga Dembele yang disebut sebagai pengganti namun malah gagal. Lalu dia juga banyak mendatangkan pemain yang dianggap tidak berguna semacam Jean-Clair Todibo, Malcom, Andre Gomes, Kevin Prince Boateng, Junior Firpo, hingga Martin Braithwaite.

Keputusan nyeleneh lainnya adalah dia memecat Valverde dan malah menunjuk Setien sebagai pengganti. Dalam hal ini, kisruh dengan Messi juga bisa disebut sebagai salah satu keributan paling menyita perhatian yang pernah dibuat Bartomeu.

Puncak dari kontroversi yang dibuatnya adalah, Bartomeu ditangkap polisi karena skandal Barcagate. Dia dituding telah menggunakan dana klub untuk menyewa agensi bernama I3 Ventures sebagai buzzer, guna menaikkan pamornya yang ingin kembali mengikuti pemilihan presiden tahun 2021.

Selain itu, I3 Ventures juga ditugaskan untuk menyerang nama-nama seperti Lionel Messi, Gerard Pique, Carles Puyol, Xavi Hernandez, hingga Pep Guardiola dengan kampanye negatif.

 

Sumber referensi: Sportskeeda, Ronaldo

Lord Jesse Lingard, West Ham, dan Mimpi Tampil Di Eropa

Kompetisi Liga Primer Inggris, tak hanya memunculkan persaingan klasemen yang begitu ketat, namun juga sosok mengejutkan yang berhasil kembali ke puncak performa.

Jesse Lingard, yang kita kenal sebagai salah satu pesepakbola terbaik di dunia memiliki pengalaman yang amat mengagumkan bersama Manchester United pada musim 2017/18 silam. Di masa itu, capaian 13 gol dan 7 assist membuktikan bahwa Lingard memang pantas mengisi skuad utama Manchester United. Catatan itu pula yang pada akhirnya membuat Lingard masuk ke skuad Tiga Singa yang tampil di ajang Piala Dunia 2018.

Akan tetapi, pada musim berikutnya, semua tak berjalan sesuai rencana.

Entah apa yang terjadi, Lingard yang sebelumnya muncul sebagai pahlawan, justru berubah menjadi figur dari berbagai lelucon yang tersebar di dunia maya. Pada tahun 2019, Lingard bahkan sama sekali tidak mampu ciptakan satu pun gol atau assist dalam kesempatan yang diberikan. Pada awal 2020, kritik tajam mulai tertuju padanya. Malah, semenjak MU kedatangan pemain seperti Bruno Fernandes, namanya mulai tenggelam. Di musim 2019/20 sendiri, nasibnya benar-benar tak jelas. Selain hanya diberi 935 menit kesempatan di Premier League, Lingard, selain tenggelam oleh nama Bruno Fernandes, juga kian terpuruk setelah dia tak mampu bersaing dengan Mason Greenwood dan Marcus Rashford.

Beruntung, David Moyes yang berstatus sebagai pelatih West Ham United melihat ada sesuatu yang istimewa dari sosok Jesse Lingard. Tepat pada awal 2021 lalu, Lingard, yang banyak mendapat cacian dari para penggemar resmi menerima tawaran dari The Hammers. Dia bergabung dengan tim tersebut dengan status pinjaman sampai pada akhir musim nanti.

Di usia 28 tahun, Lingard dipercaya Moyes untuk membantu tim melangkah lebih jauh. Meski semua tahu kalau Lingard belum dimainkan sama sekali di Liga Inggris, dan cuma diturunkan sekali di Piala FA dan dua kali di Piala Liga Inggris, Moyes tetap pada pendiriannya.

Dia ingin mengulang kejayaan ketika berhasil memoles dua mantan MU, Phil Neville dan Louis Saha, yang mengalami penurunan performa saat masih tampil di Old Trafford.

Kepercayaan Moyes kepada Lingard pun bukan isapan jempol belaka. Hanya sekitar lima hari usai menandatangani kontrak, dia langsung diberi mandat untuk tampil di tim utama. Di laga debut Premier League bersama West Ham, Moyes memilih untuk mengistirahatkan Pablo Fornals dan Jarrod Bowen guna memberi ruang pada Lingard.

Di laga melawan Aston Villa itu, Lingard ditempatkan di belakang Michail Antonio, serta bertandem dengan Said Benrahma dan Ryan Fredericks di kedua sayap.

Lingard tampil dengan penuh semangat meski belum pernah tampil di kompetisi Liga Primer Inggris musim ini. Benar saja, dia beberapa kali mampu memberi ancaman sebelum akhirnya berhasil mencetak gol pertamanya untuk the Hammers di babak kedua. Tak sampai disitu saja, tujuh menit jelang bubaran, dia kembali mencetak gol dan sukses membawa West Ham menang dengan skor 1-3 atas Aston Villa.

Dampak dari keberhasilannya di laga debut bersama West Ham membuat Lingard bisa kembali tertawa. Dia mengaku rindu dengan sepakbola setelah apa yang dialami sebelumnya.

“Aku tersenyum sebelum dan sesudah pertandingan. Aku sekadar mencintai sepakbola dan senang bermain. Sudah lama, ya (sejak Lingard terakhir bermain sepakbola). Aku menikmati ini, dan pulang dengan dua gol serta tiga poin, yang merupakan hal terpenting,”

Usai laga tak terlupakan itu, Lingard terus menjadi andalan The Hammers. Dia kembali mencuri perhatian dengan performa yang ditunjukkan. Dalam 11 pertandingan yang dijalani bersama West Ham sejauh ini, Lingard berhasil mencetak sembilan gol dan catatkan empat assist.

Di klub nya sekarang ini, Lingard tampak diberi kebebasan dalam mengeksplorasi pertahanan musuh. Tak jarang, Lingard juga berperan sebagai inisiator serangan ketika menguasai bola.

Pada awal April lalu, Lingard bahkan mampu tampil menggila di laga melawan Wolverhampton Wanderers. Di laga itu, dia membantu West Ham dalam menjinakkan The Wolves dengan skor akhir 2-3. Satu gol dan satu assist-nya di laga itu membuat predikat man of the match jatuh ke pangkuan. Lingard berhasil memompa semangat skuad asuhan David Moyes dengan gol yang dicetaknya pada menit ke 6.

Delapan menit berselang, dia kembali mengirim kontribusi ciamik, setelah secara brilian mempertahankan bola dengan sempurna di sudut sempit dekat tiang corner lalu mengelabui penjagaan dan mengalirkan bola pada Arthur Masuaku. Kemudian, Arthur Masuaku langsung mengirim umpan kepada Pablo Fornals yang sukses mencatatkan namanya di papan skor.

Pada kontribusi berikutnya, Lingard berhasil mengirim assist sempurna kepada Jarrod Bowen, yang dengan mudahnya mencetak gol ketiga untuk West Ham.

Menyusul performa apiknya di laga melawan Wolverhampton, Opta mencatat, tak ada satupun pemain dalam sejarah Liga Primer yang mampu membuat keterlibatan gol lebih banyak dibanding Lingard sejak meniti debut karir untuk West Ham pada 3 Februari lalu.

Berkat penampilan gemilangnya bersama West Ham sejauh ini, Lingard bahkan kembali dipanggil untuk mengisi skuad Inggris sejak Juni 2019 silam.

Dengan apa yang ditampilkan sejauh ini, legenda MU, Gary Neville, sampai dibuat terheran dengan peningkatan performa yang ditunjukkan Lingard.

“Dia benar-benar pemain bagus. Dia akan memiliki karier gemilang. Manchester United telah mengirim dia ke West Ham untuk menghidupkan kariernya, mungkin juga untuk menaikkan harga jualnya,”

Perlahan tapi pasti, Lingard memang benar-benar mampu temukan kepercayaan diri di atas lapangan. Bahkan, dia diambang membawa tim yang bermarkas di Stadion Olimpiade London menatap kompetisi benua biru. Ya, klasemen Liga Primer Inggris musim ini tampak berbeda. Tidak ada Liverpool dan juga Arsenal di posisi lima besar. Setidaknya dalam 33 pertandingan yang telah dijalani. Disana, terdapat Leicester City yang duduk di peringkat ketiga, serta tentunya, ada West Ham, yang sampai saat ini mampu mempertahankan posisi kelima.

Jarak poin antar mereka pun tidak banyak. Bila West Ham mampu tampil konsisten, bukan tak mungkin mimpi mereka untuk bermain di kompetisi Eropa bisa terwujud.

Sumber referensi: Goal, Panditfootball, Fandom, Oh My Goal

Memanen Berlian Sepak Bola di Akademi Anderlecht

0

Bagi pecinta sepak bola Indonesia, mungkin nama Anderlecht cukup asing. Namun, klub Liga Belgia itu terkenal punya akademi pemain yang hebat di jagad sepak bola. Bahkan, timnas Belgia saja juga memanen berlian-berlian mereka alias bakat-bakat terbaiknya dari Anderlecht.

Timnas Belgia memang layak berterima kasih kepada Anderlecht. Pasalnya, di Piala Dunia 2018 kemarin, dimana Belgia mampu finish di tempat ketiga, sebanyak 35% skuad timnas Belgia saat itu adalah lulusan akademi Anderlecht.

Pelatih timnas Belgia, Roberto Martinez membawa Vincent Kompany, Marouane Fellaini, Michy Batshuayi, Leander Dendoncker, Adnan Januzaj, Youri Tielemans, Dries Mertens, dan Romelu Lukaku ke Piala Dunia 2018 lalu. Kedelapan pemain tadi pernah menimba ilmu di akademi Anderlecht.

Lalu, bagaimana ceritanya hingga Anderlecht mampu menyumbang begitu banyak bakat hebat ke ‘generasi emas’ timnas Belgia? Berikut kisahnya.

Tak bisa dipungkiri bahwa Anderlecht merupakan klub tersukses di Belgia. Dibentuk pada 1908, klub berjuluk Purple & White itu menjadi penguasa Liga Pro Belgia. Sejauh ini, mereka sudah menjuarai liga sebanyak 34 kali, terbanyak di antara klub lainnya.

Selain itu, klub yang bermarkas di Lotto Park itu juga menjuarai 9 Belgian Cup dan 13 Belgian Super Cup. Anderlecht sendiri adalah salah satu raksasa Eropa di era 70 dan 80an. Hal itu dibuktikan dengan raihan 2 trofi Piala Winners 1976 dan 1978, Piala UEFA 1983, dan 2 Piala Super Eropa 1976 dan 1978.

Hebatnya, seluruh gelar bergengsi yang kini tertata rapi di lemari trofi Anderlecht itu tak lepas dari jasa para pemain lulusan akademinya sendiri. Anderlecht memang sudah terkenal sebagai klub top eropa yang memang mengandalkan darah muda dalam skuadnya. Musim ini saja, rataan usia skuad utama Anderlecht hanya 22,2 tahun.

Rahasia rataan usia yang sangat muda itu diawali dengan rapinya struktur akademi Anderlecht yang diakui dan dipuji di seluruh Eropa. Bahkan, berkat suburnya akademi Anderlecht yang tak pernah absen memproduksi pemain berbakat, model pengembangan akademi mereka banyak dipelajari dan diaplikasikan oleh akademi-akademi lainnya.

Suburnya akademi Anderlecht yang tak pernah absen menghasilkan berlian yang siap panen tak lepas dari jelasnya visi dan slogan klub. Anderlecht punya visi khusus untuk akademinya, yaitu “untuk menghasilkan pemain yang mampu bersaing di papan atas dan Liga Champions pada usia 18-21 tahun”.

Slogan mereka juga sangat bergairah, yakni “Turn your passion into your profession”. Meski terdengar sederhana, slogan tersebut diaplikasikan dengan program yang disiplin dan penuh dedikasi terhadap pengembangan sepak bola usia dini.

Anderlecht sendiri punya tim akademi berjenjang, dari U-8 hingga U-13 dan U-14 hingga U-21. Akademi Anderlecht mengajarkan pemainnya sistem permainan 3-4-3 yang menekankan pada sepak bola menyerang tingkat tinggi.

Fleksibilitas dan kemampuan adaptasi adalah kunci. Sebab, setelah para pemain akademi masuk ke tim U-15 hingga U-19, mereka akan bermain dengan formasi 4-3-3. Dari tim U-11 hingga U-19, ada empat sesi latihan 90 menit dalam seminggu, dengan satu pertandingan kompetitif di dalamnya.

Saat para pemain masuk ke kategori elit, yakni U-21 sesi latihan 90 menit diadakan setiap hari. Dengan jadwal di awal pekan adalah latihan ketahanan dan kekuatan. Namun, setiap menjelang pertandingan, penekanan dialihkan ke jadwal yang lebih taktis dan teknis. Perlu digaris bawahi bahwa bagi orang Belgia, termasuk Anderlecht, cara bermain jauh lebih penting ketimbang hasil. Usaha yang utama, menang adalah bonus.

Anderlecht tak hanya berkomitmen untuk menghasilkan pesepakbola berbakat saja. Namun, mereka punya ambisi mulia, yakni melatih para pemain akademinya sebagai pemimpin, sebagai panutan, dan sebagai ikon. Inilah alasan mengapa akademi Anderlecht sangat dihargai di jagad sepak bola Eropa.

Cara akademi Anderlecht tak hanya mempersiapkan para pemainnya untuk menghadapi sepak bola saja, melainkan juga untuk mempersiapkan mereka di kehidupan nyata. Di Anderlecht ada satu program khusus yang bernama ‘Purple Talent Programme’.

Program tersebut dibentuk pada tahun 2007 silam dan diinisiasi oleh ayah Romelu Lukaku. Program tersebut berupa kolaborasi Anderlecht dengan sekolah-sekolah lokal di sekitarnya. Dengan begitu, akademi Anderlecht akan mendapat lebih banyak akses ke bakat muda sekaligus tetap memastikan para rekrutannya mendapat pendidikan.

“Ayah Romelu-lah yang mendorong kami untuk memulai kolaborasi dengan sekolah. Pada usia 15 tahun dia menjadi terkenal dan ada banyak peminat. Dia mengatakan kepada saya ‘Lille, Lens, Auxerre, dan Saint-Étienne semuanya tertarik pada putra saya dan semua klub itu dapat memberinya sekolah, akomodasi, dan pendidikan sepak bola. Ada segalanya’.” kata direktur akademi Jean Kindermans kepada Cano Football.

Dalam program tersebut, para pemain akan mengikuti kelas pagi yang diberikan oleh pelatih di Pusat Pelatihan Anderlecht. Kelas individu ini didasarkan pada pengembangan teknis para pemain dengan mementingkan kesempurnaan dan kecerdasan teknis. Kelas tersebut dijalankan tiap pagi sebelum para pemain melanjutkan sekolah akademisnya.

Anderlecht juga punya fasilitas pelatihan yang modern. Tak hanya dilengkapi dengan lapangan rumput, mereka juga punya lapangan sintetis, pusat kebugaran, dan pusat medis. Akademi Anderlecht juga tak hanya dijalankan oleh pelatih-pelatih sepak bola saja. Mereka juga memperkerjakan tenaga pendidik pada tim mudanya. Tujuannya adalah untuk membentuk dan menanamkan mental pemenang kepada para pemainnya.

Meski tak selalu berorientasi pada hasil, tetapi akademi Anderlecht juga tak mengesampingkan prestasi. Di kompetisi UEFA Youth League yang mempertandingankan tim U-19, Anderlecht sukses 2 kali menjadi semifinalis pada 2015 dan 2016 silam.

Setelah menimba ilmu di tim akademi, para lulusan akademi Anderlecht tersebut tak hanya dinikmati oleh timnas Belgia saja. Bakat sepak bola dari Anderlecht juga sukses mendatangkan pundi-pundi pemasukan kala diminati klub lain.

Youri Tielemans misalnya. Setelah dipromosikan ke tim utama pada 2013 silam, Tielemans kemudian sukses mempersembahkan 2 trofi liga dan 2 trofi super cup selama 4 tahun berseragam Anderlecht. Gelandang yang dipromosikan dari tim U-17 Anderlecht itu kemudian dijual ke Monaco dengan harga 26,2 juta euro.

Begitu pula dengan Romelu Lukaku dan Vincent Kompany. Setelah mencetak 41 gol selama 4 musim berseragam Anderlecht, Lukaku kemudian dilego ke Chelsea dengan biaya 15 juta euro pada 2011 silam. Sementara itu, Kompany dilego Anderlecht ke Hamburg pada 2006 silam dengan biaya 10,5 juta euro.

Kini, baik Tielmens dan Lukaku telah menjelma jadi bintang di Leicester City dan Inter Milan. Keduanya juga jadi pilihan utama Roberto Martinez di timnas Belgia. Sementara Kompany yang telah pensiun pada 2020 lalu, sekarang tengah mengabdi sebagai pelatih Anderlecht.

Di bawah asuhan Kompany, ada dua pemain lulusan akademi Anderlecht yang kini jadi incaran banyak klub. Keduanya adalah Albert Sambi Lokonga dan Yari Verschaeren yang sama-sama berposisi sebagai gelandang. Keduanya jadi bukti terkini bahwa akademi Anderlecht tak pernah berhenti menghasilkan pesepakbola berbakat.

Dengan dukungan fasilitas modern, struktur akademi yang rapi dan berjenjang, visi dan filosofi yang jelas, dan program serta pelatih-pelatih profesional, akademi Anderlecht tak akan pernah berhenti memproduksi berlian-berlian sepak bola yang siap panen.

***
Sumber Referensi: Squawka, These Football Times, The Guardian, Cano Football,The Football Faithful

Kuartet Lini Pertahanan Terbaik Sepanjang Masa

Biasanya, kita akan lebih sering membicarakan tiga penyerang terbaik yang dimiliki sebuah tim. Sebut saja trio Liverpool yang diisi nama Mo Salah, Roberto Firmino, dan Sadio Mane. Atau trio Barcelona yang dulu pernah diisi oleh nama Neymar Jr, Luis Suarez, dan Lionel Messi.

Para pemain-pemain depan itu memang mematikan. Tapi bisakah kita sedikit bercengkerama dan membicarakan tentang duet bek-bek terbaik yang pernah ada? Bukan hanya duet antara dua bek, namun empat bek sekaligus.

Pada bahasan kali ini, starting eleven akan memberikan sajian tentang kuartet lini pertahanan terbaik sepanjang masa.

 

Kennedy, Hansen, Lawrenson & Neal

Bek-bek terhebat yang muncul pada baris pertama dalam daftar ini adalah pemain hebat Liverpool yang hadir dari pertengahan 1980-an. Hansen adalah pemain paling populer dari kelompok tersebut. Pemain tengah kelas dunia ini memiliki pemahaman yang begitu brilian tentang sebuah permainan. Hansen berduet dengan bek super tangguh bernama Lawrenson. Lalu ada Kennedy yang menjadi palang pintu terbaik di sisi kiri.

Sementara Neal merupakan bek kanan yang tak kenal lelah dan sangatlah cerdas. Selama empat tahun bersama, kuartet terbaik yang pernah dimiliki Liverpool ini sukses memenangkan 3 gelar Divisi Pertama, 3 Piala Liga, Piala Eropa, dan Charity Shield.

De Boer, Blind, Rijkaard & Reiziger

Jauh dari anggapan empat bek terbaik, orang-orang lebih mengenal susunan tiga bek terbaik asal Belanda yang diisi nama-nama seperti De Boer, Blind dan Reiziger. Sementara Rijkaard terkadang beroperasi dalam peran yang sedikit lebih maju. Namun dalam perannya, ia juga tak jarang membantu pertahanan tim hingga membuat pemain yang sudah ada terlihat lebih tangguh dan kokoh.

Semua pemain internasional Belanda yang memenangkan masing-masing 42, 72, 73, dan 112 pertandingan untuk de Orannje ini memiliki kemampuan individu yang sangat baik. Frank Rijkaard, meski saat itu telah berada di ambang pensiun, tetap menjadi pemain yang menonjol. Bersama dengan Frank De Boer, ia menjadi pemain bertahan yang memiliki kemampuan teknis luar biasa.

Sementara Reiziger memiliki kecepatan yang amat mengagumkan, meskipun secara defensif ia tidak terlalu mahir. Kuartet ini benar-benar menghabiskan satu musim bersama, dan sukes memenangkan Eredivisie, Liga Champions, dan Johan Cruyff Shield.

Maldini, Nesta, Stam & Cafu

Melihat pemain dalam daftar ini, sudah bisa dibayangkan seberapa hebat kekuatan yang mereka miliki. Keempatnya adalah bek kelas dunia, dan untuk mendefinisikan kehebatan mereka, butuh istilah yang tak sembarangan. Maldini, Nesta, dan Cafu, semuanya merupakan pemain yang punya sejarah penjang bersama AC Milan. Sementara Jaap Stam hanya menghabiskan dua musim di San Siro.

Selama itu, mereka berhasil memenangkan Piala Super Italia, dan finish sebagai runner-up di kompetisi Serie A. Mereka nyaris mendapatkan gelar Liga Champions Eropa, namun sayang harus takluk dari Liverpool dalam sebuah pertandingan yang amat dramatis.

Maldini jelas mewakili sosok pemain dengan teknik defensif sempurna. Kalian pun bisa menggunakan deskripsi yang sama untuk menggambarkan kehebatan seorang Alessandro Nesta, yang merupakan salah satu dari pemain belakang yang hebat sepanjang masa. Untuk Stam, ia merupakan seorang raksasa dalam lini pertahanan, yang ukuran tubuh, kecepatan, dan kekuatannya membuat dirinya sangat sulit ditaklukkan.

Sementara Cafu, dia tampak seperti pemain yang memiliki tiga paru-paru. Stamina super dan kecepatan luar biasa menjadi mimpi buruk bagi setiap lawan di sisi lapangan.

Facchetti, Guarneri, Picchi & Burgnich

Empat bek di lini pertahanan yang membentuk fondasi hebat di Inter Milan ini begitu terkenal pada pertengahan 1960-an. Selama lima tahun, kuartet ini membentuk pertahanan grandel yang amat sulit ditaklukkan. Dimulai dari Facchetti, dirinya bisa dibilang sebagai bek sayap ofensif pertama di Eropa. Dalam hal soliditas, pertahanan mereka bisa disebut sebagai yang terbaik sepanjang masa.

Facchetti merupakan sebuah ancaman nyata bagi siapapun yang gemar menyerang dari sisi kiri. Untuk Guarneri, dia merupakan sosok bek tengah yang begitu solid.

Picchi menjadi bek dengan teknik membaca permainan yang begitu baik. Sementara Burgnich, ia memiliki julukan ‘Batu’. Jadi sudah bisa ditebak seperti apa hebatnya dia di lini pertahanan. Di bawah kepemimpinan Helenio Herrera, empat bek ini berkontribusi dalam 3 gelar Serie A, 2 Piala Eropa, dan 2 Piala Intercontinental, hanya dalam waktu lima tahun.

Breitner, Schwarzenbeck, Beckenbauer & Vogts

Berikutnya ada pertahanan Jerman Barat antara tahun 1971 dan 1977, yang terdiri dari Paul Breitner, Hans-Georg Schwarzenbeck, Franz Beckenbauer dan Berti Vogts. Tiga dari empat pemain tersebut, nama Schwarzenbeck menjadi yang paling populer. Dia adalah bek tengah yang sangat ulung dan pandai menyapu bola.

Beckenbauer, juga tak kalah tangguh. Ia begitu populer dan punya kemampuan terbaik sepanjang masa. Ia dikenal sebagai seorang pembaca permainan yang brilian, sangat berani, teknis, dan merupakan sosok penyapu bola yang sangat baik. Sementara Breitner adalah bek kiri yang tak kenal lelah. Untuk Vogts, ia sama konsistennya dengan mereka. Dirinya punya energi tak kalah super dan kecerdasan yang begitu mengagumkan.

Berkat kerjasama yang sangat baik, mereka sukses memenangkan Piala Dunia tahun 1974.

Lizarazu, Blanc, Desailly & Thuram

Berikutnya, ada nama-nama yang tak kalah mengagumkan. Empat bek asal Prancis ini telah memenangkan trofi Piala Dunia 1998 dan Euro 2000. Di posisi bek kiri, Lizarazu bisa menjadi pelari yang tak kenal lelah. Kemudian Blanc akan selalu menjadi pemain berbakat yang membawa kombinasi teknik terbaik dalam permainan. Lalu ada Desailly yang terkenal sangat tangguh. Dia tak akan pernah membiarkan pemain lawan memenangkan bola. Dan Thuram, adalah salah satu bek kanan terbaik yang pernah ada dalam sejarah sepak bola.

Ketika keempatnya bermain bersama, Prancis nyaris dipastikan tidak pernah kalah dalam sebuah pertandingan.

Maldini, Baresi, Costacurta & Tassotti

Yang terakhir adalah kumpulan bek-bek terbaik asal Negeri Pizza. Paolo Maldini, seperti yang sudah dijelaskan, merupakan bek terbaik yang pernah ada. Franco Baresi, juga punya reputasi terbaik sebagai seorang bek sekaligus kapten dalam wajah AC Milan. Sementara Costacurta, akan selalu menjadi bek tengah yang tidak kenal kompromi serta punya kecerdasan luar biasa. Yang terakhir, nama Tasotti akan selalu dikenang sebagai bek terbaik yang mengandalkan kecerdasannya.

Mereka total menghabiskan sebelas tahun bersama, dan dalam kurun waktu tersebut, mereka telah membentuk susunan kuartet di lini pertahanan yang amat luar biasa.

Di bawah Arrigo Sacchi, para pemain tersebut menjadi monster di lini belakang. Mereka bermain begitu apik dan sangat efektif. Antara tahun 1988 dan 1995, di bawah Sacchi untuk kemudian dilanjutkan oleh Fabio Capello, Milan sukses memenangkan gelar Piala Eropa sebanyak tiga kali dan kalah di final sebanyak dua kali.

Selain susunan empat pemain bertahan tersebut, nama-nama seperti Marcelo, Varane, Ramos dan Carvajal, atau Marcelo, Pepe, Ramos dan Carvajal, juga layak mendapat perhatian. Jangan tinggalkan pula susunan pemain belakang seperti Cole, Terry, Carvalho dan Ferreira di Chelsea. Serta Evra, Vidic, Ferdinand dan Neville yang pernah berjaya bersama Manchester United.