Mengenal Jesse Marsch, Pelatih Baru RB Leipzig Asal Amerika Serikat

  • Whatsapp
Mengenal Jesse Marsch, Pelatih Baru RB Leipzig Asal Amerika Serikat
Mengenal Jesse Marsch, Pelatih Baru RB Leipzig Asal Amerika Serikat

Perubahan besar tengah terjadi di Bundesliga Jerman. Beberapa klub mengumumkan pergantian pelatih. Salah satunya adalah RasenBallsport Leipzig yang baru saja mengumumkan Jesse Marsch sebagai pelatih baru mereka.

RasenBallsport Leipzig atau yang biasa kita dengar dengan RB Leipzig dipastikan akan ditangani pelatih anyar di musim depan. Menyusul Julian Nagelsmann yang pindah ke Bayern Munchen, RB Leipzig secara resmi mengumumkan Jesse Marsch sebagai pelatih barunya.

Bacaan Lainnya

Klub berjuluk ‘Die Roten Bullen’ itu tak butuh waktu lama untuk menunjuk Jesse Marsch. Kurang dari 24 jam pasca Julian Nagelsmann diumumkan sebagai pelatih anyar Bayern, RB Leipzig langsung berhasil mengamankan tanda tangan pelatih 47 tahun asal Amerika Serikat itu. Dalam keterangan resminya, Jesse Marsch yang bergabung dari Red Bull Salzburg akan mulai aktif bekerja di RB Leipzig mulai 1 Juli nanti hingga Juni 2023.

Meski tak terlalu mengejutkan, penunjukan Jesse Marsch cukup menyita perhatian. Pasalnya, sebelum ini Leipzig lebih dulu dirumorkan bakal menunjuk Pellegrino Matarazzo dari Stuttgart atau Oliver Glasner dari Wolfsburg sebagai pelatih barunya. Namun, menilik perjalanan karier Jesse Marsch yang disebut-sebut sebagai pelatih terbaik Amerika Serikat itu, Leipzig justru telah membuat keputusan tepat.

Mengapa demikian? Dan seperti apa profil Jesse Marsch? Berikut ulasannya.

Jesse Marsch, Sukses Sebagai Pemain, Sukses Pula Sebagai Pelatih

Semasa aktif sebagai pemain pro, karier Jesse Marsch tergolong sukses. Marsch menghabiskan seluruh kariernya sebagai pemain di negara asalnya, Amerika. Marsch yang berposisi sebagai gelandang itu memulai kariernya di klub kampusnya, Princeton Tigers sebelum direkrut DC United pada 1996. Meski hanya mencatat 15 penampilan dan hanya mencetak 4 gol dalam 2 musim, Marsch berhasil meraih 4 trofi.

Kariernya kemudian berlanjut ke Chicago Fire pada 1998. Marsch jadi pemain andalan di sana dan bertahan selama 7 tahun, mencatat 200 penampilan, mencetak 19 gol, dan mempersembahkan 5 trofi bergengsi termasuk 3 trofi US Open dan 1 trofi MLS Cup. Marsch kemudian menutup karier profesionalnya di Chivas USA dan menyataka pensiun pada 5 Februari 2010.

Usai pensiun, pemilik 2 caps bersama timnas Amerika itu langsung melanjutkan kariernya di dunia kepelatihan dengan menjadi asisten Bob Bradley di tim nasional. Hanya bertahan setahun di timnas AS setelah Bradley dipecat pada Juli 2011, Marsch kemudian ditunjuk sebagai pelatih Montreal Impact di bulan Agustus 2011. Sayangnya, Marsch hanya bertahan selama 36 laga. Hasil buruk dan perbedaan filosofi jadi penyebabnya.

Sempat menganggur 3 tahun, Jesse Marsch kemudian ditunjuk sebagai pelatih anyar New York Red Bulls di tahun 2015. Masuk ke dalam keluarga Red Bull inilah yang membuat karier kepelatihan Marsch naik drastis. Namun, awal kariernya di New York Red Bull tidaklah mudah.

Jesse Marsch ditunjuk sebagai pengganti Mike Petke yang begitu dicintai pendukung New York Red Bulls. Alhasil, banyak fans yang tak suka dengan penunjukannya sebagai pelatih anyar. Ia banyak mendapat tekanan dari suporternya sendiri. Namun, Marsch menjawabnya dengan prestasi.

Di musim pertamanya, Marsch langsung berhasil mempersembahkan trofi MLS Supporters’ Shield. Berkat capaian apiknya itu, ia dinobatkan sebagai MLS Coach of the Year dan mendapat perpanjangan kontrak.

Usai memimpin New York Red Bulls di 151 pertandingan dengan hasil yang cukup memuaskan, Jesse Marsch kemudian ditarik Red Bull dan ditugaskan sebagai asisten pelatih Ralf Rangnick di RB Leipzig di musim 2018/2019. Bersama mentornya itu, Marsch membantu Leipzig finish di peringkat 3 Bundesliga dan jadi runner-up DFB-Pokal.

Setahun menimba ilmu di bawah Ralf Rangnick, Marsch kemudian ditarik lagi oleh Red Bull untuk menggantikan Marco Rose di Red Bull Salzburg. Di klub Austria itulah tantangan sebenarnya dimulai. Namun, lagi-lagi, Marsch menghadapi situasi yang sama seperti saat menangani New York Red Bulls.

Sebelum resmi ditunjuk sebagai pelatih RB Salzburg, sekelompak suporter membentangkan spanduk besar bertuliskan “Nein zu Marsch”, yang artinya “Tidak untuk Marsch” sebagai bentuk penolakan kepada Jesse Marsch. Namun, Marsch kembali sukses membungkam haters-nya itu dengan prestasi. Di musim pertamanya, ia langsung membawa RB Salzburg menjuarai Austrian Bundesliga dan Austrian Cup 2020.

Namun, momen yang membuat nama Jesse Marsch dikenal seantero Eropa adalah saat ia mendampingi RB Salzburg di Liga Champions musim lalu, khususnya saat menghadapi Liverpool di pertandingan kedua babak grup. Menghadapi juara bertahan, Salzburg berhasil menampilkan performa yang luar biasa.

Kala itu, Salzburg langsung ketinggalan 3-1 di babak pertama. Hebatnya, perubahan yang dilakukan Marsch di jeda pertandingan sukses menginspirasi para pemainnya. Salzburg sempat menyamakan kedudukan menjadi 3-3 lewat kerja sama apik trio mereka, Erling Haaland, Hwang Hee-chan, dan Takumi Minamino sebelum akhirnya kalah 4-3 setelah Mo Salah mencetak gol kemenangan bagi Liverpool.

Meski kalah dan gagal mendapat poin, belakangan ini pidato Jesse Marsch di ruang ganti Salzburg saat jeda pertandingan melawan Liverpool kembali viral. Dengan menggebu-gebu dan diselingi umpatan dalam bahasa Jerman dan Inggris, pidato Jesse Marsch terbukti ampuh membangkitkan permainan anak asuhannya.

Lalu, perubahan dan taktik seperti apa yang akan dibawa Jesse Marsch di RB Leipzig nanti?

Berbicara soal gaya melatih, Jesse Marsch sudah dikenal sebagai pelatih yang disiplin, tegas, tapi juga inovatif. Saat jadi asisten Ralf Rangnick di RB Leipzig, Marsch menerapkan sebuah aturan unik agar para pemain dan staf mematuhi regulasi, yaitu dengan membuat beberapa larangan dan memberi hukuman jika melanggar aturan tersebut.

Mengutip dari bundesliga.com, ada 12 hukuman berbeda yang dapat dikenakan jika datang terlambat ke latihan atau meeting, kembali dari liburan dengan kelebihan berat badan, atau menggunakan ponsel di area terlarang. Pelanggar mesti memutar ‘spinning wheel’ untuk mengundi hukuman yang harus diterima.

Hukuman tersebut tak pandang bulu, bahkan Ralf Rangnick yang notabene bos di RB Leipzig pernah mendapat hukuman oleh para staf dan para pemainnya sendiri. Rangnick diharuskan menyiapkan minuman selama latihan hari minggu setelah kedapatan menaruh HP-nya di atas meja saat acara makan.

Selain demi kedisiplinan, tujuan dari ditegakkannya aturan dan hukuman tersebut adalah untuk mendorong semangat dan kebersamaan tim, serta mencegah adanya pembentukan kubu dalam timnya. Menariknya, kebersamaan itu juga Jesse Marsch terapkan dalam taktik dan gaya main RB Salzburg.

Marsch adalah seorang penggemar ‘gegenpressing’. Taktik yang mengandalkan kolektivitas pressing itu Marsch terapkan dalam 4 prinsip yang disingkat S.A.R.D. Sprinting, Alle Gemeinsam atau All Together, Reingehen atau Going In, dan Dazukommen atau 2nd wave.

Dalam penerapannya di permainan, para pemain diintruksikan untuk sesegera mungkin memberi tekanan kepada lawan yang menguasai bola (sprinting). Dalam gegenpressing yang diterapkan Marsch, tak hanya satu pemain yang berlari dan memberi pressing, serta menutup opsi umpan (All together dan going in). Dengan begitu, para pemain tetap dapat menjaga pressing-nya jika gagal dalam percobaan pertama (2nd wave).

Dalam pernyataannya di kanal The Coaches’ Voice, Marsch mengaku bahwa taktik pressing yang ia terapkan bukan untuk memenangkan penguasaan bola, melainkan untuk mencetak gol. Untuk itulah tim yang dilatih Marsch cenderung mengandalkan counter attack secara cepat dan vertikal.

Statistik RB Salzburg jadi buktinya. Musim ini, Salzburg sudah mencetak 80 gol dalam 28 pertandingan. Mereka bermain sangat agresif dengan mencatat 7,3 tembakan tepat sasaran per pertandingan. Salzburg juga menghasilkan rata-rata 4,6 peluang bagus per pertandingan.

Dalam build-up serangan, Jesse Marsch menginstruksikan timnya untuk membentuk pola segitiga dan berlian. Dengan begitu, tim dapat memiliki banyak opsi umpan untuk mengalirkan bola dari kaki ke kaki. Permainan agresif memang jadi bagian hidup dari Jesse Marsch.

“Menjadi agresif lebih baik daripada pasif… dan itulah cara saya menjalani hidup,” kata Jesse Marsch dalam kanal The Coaches’ Voice.

Kebaruan itulah yang akan dibawa Jesse Marsch ke RB Leipzig musim depan. Musim ini, rata-rata gol per pertandingan Leipzig menurun. Dari 2,4 gol per pertandingan di Bundesliga musim lalu jadi hanya 1,8 gol per pertandingan di musim ini.

Selain itu, Marsch adalah orang yang sangat familier dengan RB Leipzig. Dia adalah produk dari imperium Red Bull di sepak bola. Dididik oleh Ralf Rangnick yang juga jadi mentor pelatih-pelatih lain yang pernah menangani tim Red Bull, seharusnya perubahan gaya bermain dan formasi bukanlah masalah.

Musim ini RB Leipzig banyak memakai formasi 3 bek bersama Julian Nagelsmann. Sementara itu, Marsch tercatat pernah memakai 11 formasi berbeda dengan formasi 4-2-3-1 dan 4-2-2-2 jadi yang paling sering ia pakai.

Perubahan formasi itu juga bisa ia terapkan di RB Leipzig nantinya. Secara, skuad Leipzig jauh lebih komplet ketimbang Salzburg. Apalagi, masih ada beberapa pemain yang pernah bekerja sama dengan Marsch saat ia jadi asisten pelatih di 2018 silam. Ditambah lagi, Marsch akan kembali menangani 2 mantan anak asuhnya, Hwang Hee-chan dan Dominik Szoboszlai yang belum tampil optimal.

Rumornya, Leipzig juga berencana akan mengangkut Patson Daka dari Salzburg. Bekerja di tempat yang familer dengan orang-orang yang sudah dikenal serta mendapat dukungan penuh dari klub bakal mempermudah pekerjaan Jesse Marsch untuk membawa RB Leipzig berprestasi.

Prestasi, itulah yang kini diharapkan RB Leipzig dari pelatih barunya asal Amerika Serikat, Jesse Marsch. Memang tak mudah, namun dengan pendekatan yang ia punya, taktik segudang, dan pengalamannya bekerja di bawah tekanan, bukan suatu hal yang mustahil bagi Jesse Marsch untuk menuai sukses di RB Leipzig.

***
Sumber Referensi: The Guardian, The Coaches’ Voice, Bundesliga, DW

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *