Beranda blog Halaman 698

Starting XI Pemain Bintang dari Negara yang Absen di EURO 2020

24 negara telah memastikan diri sebagai peserta EURO 2020. Negara besar Eropa seperti Belanda, Inggris, Italia, Jerman, Prancis, dan Spanyol juga turut ambil bagian dalam turnamen akbar se-Eropa ini. Pembagian grup juga telah dilakukan. Beberapa negara yang difavortikan juara bahkan tergabung dalam satu grup.

Seperti biasa, dalam setiap kompetisi atau turnamen pasti akan selalu ada kejutan. Entah siapa yang dijagokan juara atau siapa yang sekadar jadi kuda hitam. Begitu pula dengan Piala Eropa tahun ini. Jauh sebelum pembagian grup yang mencipatkan grup neraka bagi beberapa peserta, EURO 2020 sudah lebih dulu memberi kejutan di babak kualifikasi.

Beberapa negara yang rutin dan sebenarnya punya skuad yang mumpuni gagal lolos ke EURO 2020 setelah lebih dulu terhenti di babak kualifikasi. Di gelaran EURO 2020, tak ada nama Republik Irlandia yang sudah rutin mentas di Piala Eropa sejak 2012 silam. Negara yang banyak menelurkan pesepak bola hebat seperti Serbia, Rumania, dan Bosnia-Herzegovina juga absen. Bahkan, juara EURO 2004, Yunani juga gagal lolos ke EURO 2020.

Dengan demikian kita tak dapat melihat beberapa nama hebat di ajang Piala Eropa tahun ini setelah negara mereka tak lolos ke ajang 4 tahunan itu. Oleh karena itu, kami akan coba merangkum Starting XI pemain hebat dari negara-negara yang absen di EURO 2020.

Sebagai awalan, starting eleven memilih formasi 3-4-1-2. Formasi ini kami nilai pas dan tepat untuk deretan pemain hebat pilihan kami yang absen di ajang Piala Eropa tahun ini. Siapa saja mereka? Berikut daftarnya.

Starting XI Pemain Bintang yang Absen di EURO 2020

 

Kiper: Jan Oblak

Posisi penjaga gawang jelas jadi milik kiper timnas Slovenia, Jan Oblak. Sayang disayangkan, kiper sekelas Oblak yang baru saja menjuarai La Liga tak dapat kita saksikan aksinya di ajang sekelas EURO. Pasalnya, Slovenia sudah terhenti di babak kualifikasi.

Jan Oblak sendiri juga baru saja meraih penghargaan Zamora Trophy sebagai kiper terbaik La Liga musim ini. Oblak berhasil mencatat 18 kali clean sheets dan hanya kebobolan 25 gol di La Liga musim ini. Persentase penyelamatan yang ia buat juga mencapai 80%.

 

Bek tengah: Stefan Savic, Kostas Manolas, dan Nikola Milenkovic.

Beralih ke sektor pertahanan. Pilihan kami jatuh kepada tiga bek tangguh dari 3 negara berbeda yang terhenti di babak kualifikasi. Pertama, Stefan Savic, punggawa timnas Montenegro. Ia adalah rekan setim Jan Oblak di Atletico Madrid yang baru saja memenangi La Liga. Sayang, negaranya jadi juru kunci Grup A kualifikasi EURO 2020.

Kedua, Kostas Manolas, anggota timnas Yunani. Musim ini, Manolas tampil 30 kali untuk Napoli di Serie A. Ia mencatat 34 tekel, 35 blok, dan 26 intersep. Sayangnya, Yunani terhenti di babak kualifikasi EURO 2020 dari Italia dan Finlandia.

Untuk melengkapi formasi 3 bek, nama Nikola Milenkovic wajib disertakan. Bek 23 tahun milik Fiorentina itu tengah jadi incaran banyak klub besar, salah satunya Manchester United. Maklum, bek timnas Serbia yang mampu bermain di posisi bek tengah dan bek kanan itu mampu mencetak 3 gol dan 1 asis musim ini.

 

Wingback kiri: Filip Kostic

Untuk posisi wingback kiri, pilihannya kepada Filip Kostic. Ada beberapa nama yang bisa mengisi posisi ini, namun Kostic adalah yang terbaik saat ini. Musim ini, punggawa timnas Serbia itu mencetak 4 gol dan 17 asis bagi Eintracht Frankfurt. Kostic juga jadi pilihan utama pelatih Serbia di posisi wingback kiri.

 

Wingback kanan: Seamus Coleman

Tak banyak pemain dari negara-negara yang gagal lolos ke EURO 2020 yang dapat memainkan posisi wingbcak kanan dengan baik. Namun, Seamus Coleman adalah pengecualian. Bek kanan Everton itu beberapa kali dimainkan Carlo Ancelotti sebagai wingback kanan di formasi 3-4-1-2.

Selain rajin membantu serangan, Coleman juga ampuh dalam bertahan. Musim ini, Coleman juga sukses membuat 3 asis. Sayang, kapten timnas Iralandia itu gagal membawa negaranya lolos ke EURO 2020 setelah terhenti di babak playoff dari Slovakia.

 

Gelandang Tengah: Miralem Pjanic dan Sergej Milinkovic-Savic

Dalam formasi 3-4-1-2, kami menempatkan 2 double pivot yang jadi milik Miralem Pjanic dan Sergej-Milinkovic Savic. Meskipun penampilan Pjanic bersama Barcelona tak sebaik saat di Juventus, tetapi gelandang 31 tahun asal Bosnia itu tetaplah salah satu yang terbaik di posisinya.

Sebagai tandemnya, nama gelandang andalan Serbia, Sergej Milinkovic-Savic adalah yang paling pas. Lagipula, Sergej merupakan tandem Luis Alberto di Lazio yang punya kemampuan deep lying playmaker laiknya Pjanic. 8 gol dan 10 asis telah dibuat gelandang 26 tahun itu.

 

Gelandang serang: Henrikh Mkhitaryan

Salah satu gelandang serang terbaik musim ini yang tak dapat kita saksikan penampilannya di EURO 2020 adalah Henrikh Mkhitaryan. Miki tengah tampil bagus-bagusnya bersama AS Roma musim ini. Gelandang 32 tahun itu jadi top skor Giallorossi dengan 13 gol dan 11 asis.

Sayangnya, kapten timnas Armenia itu gagal membawa negaranya mentas ke EURO 2020. Armenia hanya menempati peringkat 5 Grup J kualifikasi EURO 2020.

 

Penyerang: Erling Haaland dan Dusan Vlahovic

Di posisi penyerang, kami menduetkan 2 striker U-21 yang tengah mengguncang Eropa. Mereka adalah Erling Haaland dan Dusan Vlahovic. Haaland baru saja dinobatkan sebagai top skor Liga Champions berkat torehan 10 golnya. Bersama Dortmund, ia sukses mencetak 27 gol dan 8 asis di Bundesliga musim ini.

Sementara itu, Dusan Vlahovic yang disebut bakal jadi pesaing Haaland di masa depan juga tengah mencuri perhatian. Bomber Serbia dan Fiorentina itu telah mencetak 21 gol dan 2 asis musim ini. Sungguh sangat disayangkan kita tak dapat melihat penampilan dua striker muda haus gol ini di EURO 2020. Norwegia dan Serbia sama-sama terhenti di babak playoff.

Tak lupa, starting eleven juga menyiapkan 5 pemain cadangan, mulai dari kiper, bek, gelandang, hingga penyerang yang tak kalah hebatnya dari para pemain starter. Berikut daftar pemain cadangan pilihan kami.

5 Pemain Cadangan

 

Odysseas Vlachodimos

Dari posisi kiper, sebagai pelapis Jan Oblak, kami memilih kiper 27 tahun asal Yunani, Odysseas Vlachodimos. Musim ini, ia tampil 18 laga bersama Benfica, mencatat 7 clean sheets dan hanya kebobolan 16 gol.

Berat Djimsiti

Pemain cadangan berikutnya adalah bek serba bisa asal Albania, Berat Djimsiti. Ia mampu memainkan segala posisi di lini belakang. Hal itulah yang membuatnya jadi andalan Gian Piero Gasperini di Atalanta. Djimsiti telah membuat 49 blok dan 48 intersep di Serie A musim ini.

Nicolae Stanciu

Namanya memang tidak terlalu populer. Namun, Nicolae Stanciu adalah gelandang serba bisa milik Slavia Praha dan timnas Rumania. Ia dapat bermain di segala posisi di lini tengah, baik untuk keperluan bertahan maupun menyerang. Di laga terakhir untuk Rumania, ia bahkan bermain sebagai gelandang bertahan.

Stanciu juga dapat bermain sebagai wingback kanan. Ia jelas jadi pelapis sepadan Seamus Coleman. 12 gol dan 6 asis telah ia cetak dalam 30 laga bersama Slavia Praha. Sayang, Rumania juga sudah terhenti di babak playoff EURO 2020.

Josip Ilicic

Pemain cadangan selanjutnya adalah Josip Ilicic. Punggawa timnas Slovenia itu tengah tampil bagus-bagusnya dalam 2 musim terakhir bersama Atalanta. Meski sudah berusia 33 tahun, Ilicic yang mampu bermain di posisi playmaker, winger hingga striker ini masih tampil prima dengan koleksi 6 gol dan 10 asis musim ini.

Edin Dzeko

Cadangan terakhir pilihan kami jatuh kepada Edin Dzeko yang sangat layak masuk daftar. Kapten timnas Bosnia-Herzegovia ini punya 114 caps dan sudah mencetak 59 gol untuk negaranya. Meski sempat tersingkir dari starting lineup Roma musim ini, bomber 35 tahun itu masih mampu mencetak 7 gol dan 4 asis.

Terakhir, tak lupa pula kami memilih pelatih yang sangat layak memimpin skuad ini. Dan pilihan starting eleven jatuh kepada pelatih timnas Serbia, Dragan Stojkovic. Ia mampu merevolusi timnas Serbia pasca gagal di babak kualifikasi Piala Eropa. Serbia dibuatnya bermain dengan formasi 3-4-3 dan 3-5-2 dalam 3 laga terakhir. Hasilnya, 2 kemenangan dan sekali imbang versus Portugal berhasil diraih.

Itulah daftar Starting XI + pemain cadangan pilihan kami yang berasal dari negara yang absen di EURO 2020. Melihat kualitas mereka, tentu menjadi kerugian besar bagi yang bersangkutan tak dapat tampil di ajang sebesar Piala Eropa dan harus rela menjadi penonton EURO 2020.

Tentu akan ada pro dan kontra terhadap pilihan kami. Jadi, bagaimana football lovers, menurutmu siapa lagi pemain dari negara yang absen di EURO 2020 yang layak masuk daftar ini? Silahkan tuliskan pilihanmu di kolom komentar ya. Thank you!

***
Sumber Referensi: Givemesport, Sportbible, mykhel, Givemesport 2

Momen Paling Ikonik dan Tak Terlupakan Sepanjang Gelaran EURO

Kemeriahan Piala Eropa 2020 sudah mulai terasa. Sudah banyak tim yang memastikan siapa saja pemain yang akan dibawa ke gelaran akbar tersebut. Selain itu, sudah banyak yang memprediksi negara mana yang sangat berpotensi menggondol gelar juara. Sebelum menyelami kemeriahan Piala Eropa 2020, ada baiknya kita sedikit mengingat momen penting dan ikonik yang pernah terjadi sepanjang gelaran empat tahunan ini.

Lahirnya Tendangan Panenka

Momen ikonik dalam sejarah Piala Eropa dimulai dari lahirnya tendangan panenka. Tendangan dengan teknik ini sendiri merupakan teknik tendangan penalti dimana sang eksekutor hanya akan mencungkil bola ke arah yang sulit diprediksi. Karena biasanya, kiper akan buru-buru menjatuhkan badan ke arah tertentu sehingga bola yang sejatinya bergulir pelan akan dengan mudah masuk ke dalam gawang.

Tendangan ini lahir di ajang Piala Eropa, tepatnya pada edisi tahun 1976, ketika Cekoslowakia menang atas Jerman Barat di partai puncak. Nama Panenka diambil dari sang eksekutor pertama tendangan tersebut, yaitu Antonin Panenka.

Dalam drama adu penalti, Antonin Panenka menjadi penendang terakhir. Dibebani dengan tanggung jawab besar, Panenka justru melakukan tugasnya dengan penuh ketenangan. Dia memutuskan untuk melakukan tendangan yang pada akhirnya populer sampai sekarang ini dan berhasil memastikan skor menjadi 5-3 untuk kemenangan Cekoslowakia.

Setelah tendangan tersebut berhasil memberi sebuah trofi prestisius, banyak sekali pemain yang ikut melakukannya sampai hari ini. Salah satu tendangan panenka yang juga populer di ajang Piala Eropa adalah milik Andrea Pirlo, ketika dengan sangat tenang dia mampu mengecoh penjaga gawang asal Inggris, Joe Hart.

Gol Spektakuler Marco van Basten

Masih dari partai final, yang kali ini terjadi pada tahun 1988, terdapat sebuah momen yang akan membuat siapapun terpana.

Adalah gol yang dicetak penyerang ikonik asal Belanda, Marco van Basten, dengan cara melakukan tendangan voli yang barangkali dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.

Ketika itu, van Basten berhasil membawa Belanda menang atas Uni Soviet di laga final Piala Eropa tahun 1988 dengan skor 2-0. Van Basten yang saat itu masih berusia 23 tahun sudah layak disebut sebagai salah satu striker paling mematikan sejagat.

Mulanya, Belanda sudah berhasil unggul lebih dulu pada menit ke 32 lewat aksi Ruud Gullit. Kemudian pada menit ke 54, terjadilah gol voli termasyur itu. Berawal dari sepakan Arnold Muhren dari sayap kiri, bola yang melambung tinggi segera menghampiri van Basten. Pada momen tersebut, tidak ada yang menyangka bila dirinya akan mengambil keputusan dengan menembak bola langsung ke arah gawang. Akan tetapi, melalui kemustahilan itu, van Basten justru mampu mengukir sebuah mahakarya.

Dia langsung melepas tendangan ke gawang begitu bola menuju ke arahnya. Melalui sudut sempit, bola hasil sepakan eks penyerang AC Milan ini mampu bersarang di pojok gawang Rinat Dasayev.

Akhirnya, melalui gol spektakuler Marco van Basten yang sampai saat ini masih dikenang, Belanda berhasil meraih trofi Piala Eropa pertama dan satu-satunya sampai sekarang.

Selebrasi Mario Balotelli

Pada ajang Piala Eropa 2012, timnas Italia tampil gemilang dengan mampu lolos sampai ke partai final. Salah satu pemain Gli Azzurri yang jadi sorotan ketika itu adalah Mario Balotelli, dimana penampilannya pada laga melawan timnas Jerman akan selalu diingat oleh khalayak.

Pada laga yang dilaksanakan di National Stadium, Warsawa itu, Balotelli berhasil mencetak sebanyak dua gol. Dia membuka keunggulan pada menit ke 20 melalui sundulan setelah berhasil memanfaatkan umpan yang disodorkan Cassano. Tak berselang lama, dia berhasil menggandakan keunggulan timnas Italia melalui tendangan spektakuler.

Memanfaatkan umpan terukur Riccardo Montolivo, Balotelli sukses mengoyak jala gawang Neuer, dengan membuat kiper FC Bayern itu diam membeku. Setelah itu, dia melakukan selebrasi yang akan selalu diingat oleh siapapun.

Selebrasi ikonik itu dilakukan dengan cara membuka baju dan berdiri mematung, sambil memamerkan otot kekar pada tubuhnya.

Usai momen tersebut, banyak sekali yang membicarakan selebrasi eks bintang Manchester City itu.

Dongeng Timnas Yunani

Dongeng timnas Yunani pada tahun 2004 sukses membius seluruh pecinta sepakbola dunia. Betapa tidak, tim asuhan Otto Rehhagel itu sukses membungkam segala prediksi dengan menjungkirbalikkan tim tuan rumah Portugal di partai final.

Memainkan sepakbola taktis dan bertahan, Yunani berhasil lolos dari jeratan grup A yang diisi oleh Portugal, Rusia, dan Spanyol.

Berhasil lolos ke fase gugur, Yunani lalu mampu kandaskan perlawanan Prancis dengan skor 1-0. Ketika itu penyerang andalan Angelos Charisteas berhasil menjadi bintang dengan torehan golnya. Di babak semifinal, melalui babak tambahan, Yunani berhasil memupus harapan Republik Ceko yang juga tampil luar biasa di ajang Piala Eropa 2004.

Kemudian sampailah pada partai puncak, dimana timnas Portugal sudah menanti. Lagi-lagi, Angelos Charisteas menjadi pahlawan negeri para dewa setelah dirinya berhasil menjebol gawang Portugal pada menit ke 57.

Pada momen tersebut, kebahagiaan Yunani yang diselimuti tangis Ronaldo muda akan selalu masuk ke dalam daftar ingatan para penggemar sepakbola.

Durian Runtuh Timnas Denmark

Pada tahun 1992, tidak ada yang menyangka bila Denmark bakal menjadi juara di ajang Piala Eropa. Bagaimana bisa tim yang tidak lolos ke turnamen tersebut kemudian keluar sebagai juara?

Ya, Denmark yang mulanya tidak lolos ke putaran final Piala Eropa tiba-tiba dipanggil oleh UEFA untuk menggantikan Yugoslavia yang dilarang tampil pada ajang tersebut. Ketika itu, tim dinamit tergabung di Grup A bersama tuan rumah Swedia, Prancis, dan Inggris. Mereka yang melakukan persiapan seadanya dan menjadi tim yang tidak diunggulkan secara mengejutkan mampu lolos grup sebagai runner up.

Tim yang ketika itu dibesut Richard Moller-Nielsen lolos ke babak semifinal, untuk menghadapi timnas Belanda di Ullevi, Gothenburg. Pada laga itu, kedua tim bermain sama kuat 2-2 hingga membuat laga harus dilanjutkan ke babak adu penalti. Marco van Basten yang gagal menjalankan tugasnya dengan baik lantas membuat Denmark lolos ke partai final.

Di partai final, mereka bertemu dengan timnas Jerman yang dikenal punya kekuatan luar biasa. Akan tetapi, Denmark justru malah keluar sebagai juara setelah mereka mampu mengakhiri pertandingan dengan skor meyakinkan 2-0.

Gol dan Selebrasi Ikonik Paul Gascoigne

Pada ajang Piala Eropa 1996, timnas Inggris sempat mendapat cibiran dari para penggemar karena memasukkan nama Paul Gascoigne dalam daftar pemain yang dibawa. Para penggemar menyebut bila Gascoigne hanya akan membuat onar, mengingat pemain yang akrab dengan hal kontroversial itu dicap sebagai pemabuk.

Amarah penggemar semakin menjadi setelah tahu pelatih Terry Venables memasukkan Gascoigne ke dalam starting line up.

Namun kebencian para penggemar seketika berubah menjadi pujian, setelah pada laga itu Inggris menang dengan skor 2-0, dimana salah satu golnya dicetak oleh Paul Gascoigne dengan cara yang spektakuler. Pada menit ke 79, Gascoigne melakukan aksi individu untuk mengecoh bek Skotlandia, Colin Hendry.

Usai mencetak gol, pemain yang akrab disapa Gazza itu langsung melakukan selebrasi dengan cara berbaring sembari membentangkan tangan dan membuka mulut, untuk kemudian rekan setimnya menyiramkan air dari botol minum ke mulutnya.

Selebrasi tak terlupakan itu kemudian dinamai dentist’s chair oleh publik Inggris.

Sayangnya, meski menjadi tuan rumah, Inggris harus takluk dari Jerman melalui babak adu penalti di babak semifinal.

Tangis Ronaldo Di Final

Tangis Ronaldo di partai final Piala Eropa 2016 akan menjadi penutup dari momen paling ikonik sepanjang sejarah gelaran Euro. Pada edisi 2016 lalu, Portugal secara mengejutkan berhasil lolos sampai ke partai final, meski berstatus sebagai peringkat ketiga terbaik.

Di laga final tersebut, tim tuan rumah Prancis jelas lebih diunggulkan, mengingat skuad yang dimiliki sekaligus perjalanan mulus mereka di ajang itu.

Malang bagi Portugal, baru 25 menit berjalan, pemain andalan mereka, Cristiano Ronaldo, harus ditandu keluar karena mengalami cedera parah. Pada momen tersebut, Ronaldo terlihat tak mampu menahan tangis. Akan tetapi, dia menolak beristirahat dan malah berdiri di pinggir lapangan untuk terus menyemangati rekan-rekan setimnya. Akhirnya, Portugal berhasil memastikan gelar juara setelah Eder berhasil menjebol gawang Hugo Lloris dari kejauhan.

Usai peluit panjang dibunyikan, Ronaldo kembali meneteskan air mata. Namun kali ini dia menangis karena tak kuasa menahan bahagia. Keberhasilan Portugal di ajang Piala Eropa sekaligus tangis Ronaldo kemudian menjadi ikonik mengingat banyak sekali yang sulit melupakan momen tersebut.

Selain momen tersebut, momen apalagi yang menurut kalian paling ikonik dan sulit dilupakan?

 

Sukses Berikan Trofi Juara, Mengapa Conte Malah Pergi Tinggalkan Inter

Dalam beberapa hari terakhir, jagad sepakbola dikejutkan dengan banyak sekali hal yang menyita perhatian. Salah satunya adalah kepergian Antonio Conte, tepat setelah dia berhasil memberikan trofi scudetto buat Inter Milan.

Melansir dari bbc, pelatih asal Italia itu putuskan pergi setelah hanya bertahan selama dua tahun, meski sejatinya Conte masih punya sisa kontrak satu tahun lagi. Dalam sebuah pernyataan, Inter sangat berterima kasih kepada Conte atas kerja luar biasanya selama ini. Lebih lanjut, manajemen Inter mengatakan bila perpisahan ini didasari atas keputusan bersama.

Membawa Inter Meraih Gelar Juara

Perpisahan ini jelas menjadi sesuatu hal yang sangat tidak diduga-duga. Betapa tidak, Conte menjadi aktor utama dibalik keberhasilan Inter dalam memutus dominasi Juventus selama sembilan tahun lamanya. Seperti diketahui, dia tiba di Meazza pada tahun 2019. Di musim perdananya, Conte berhasil membawa Inter duduk di peringkat kedua klasemen akhir Serie A, sekaligus menempatkan Inter di partai final Liga Europa. Pada musim perdananya di kompetisi Serie A, Inter bahkan hanya tertinggal satu poin saja dari pesaing terdekat, Juventus.

Hal itu seolah sudah menjadi indikasi bahwa Inter memang harus mempertahankan Conte untuk bisa memberi sesuatu yang lebih.

Benar saja, pada musim keduanya, dia berhasil membawa Inter meraih gelar juara setelah dalam sepuluh tahun lamanya klub tersebut sama sekali tak pernah naik ke panggung tertinggi. Inter berhasil mengklaim gelar juara ke 19 mereka sepanjang sejarah. Bahkan, Inter sudah memastikan gelar juara meski kompetisi Serie A masih menyisakan empat pertandingan.

Lebih dari itu, mereka sukses kumpulkan 91 poin, dimana itu menjadi yang tertinggi kedua sepanjang sejarah klub. Seperti yang kita tahu, raihan poin pada musim 2020/21 hanya kalah dari musim 2006/07, ketika Inter mampu meraih gelar juara dengan raihan 97 poin.

Namun akhirnya, apa yang telah diberikan Conte hanya tinggal kenangan. Dia pergi dengan sejumlah alasan yang mendasari. Melalui instagram pribadinya, Conte lantas menyampaikan salam perpisahannya kepada seluruh penggemar. Dia mengaku senang bisa bergabung dengan Inter. Lebih dari itu, dia juga bahagia, karena misinya untuk mengembalikan kejayaan Inter di kompetisi Serie A berhasil.

Dalam situasi sulit, dia lalu menyampaikan permintaan maaf sekaligus rasa terima kasihnya kepada para penggemar. Sebagai penutup, dia akan selalu ingat momen ketika mengangkat trofi scudetto di stadio Giuseppe Meazza.

Alasan Conte Tinggalkan Inter

Menjadi kabar yang sangat mengejutkan banyak pihak, apa yang kemudian membuat Conte memilih pergi tinggalkan Inter?

Dalam hal ini, krisis finansial menjadi alasan utama mengapa Conte akhirnya memilih untuk tinggalkan Inter. Diberitakan bahwa Suning Group yang menjadi pemilik Inter tengah mengalami krisis keuangan. Sebagaimana diketahui, klub binaan mereka yang tampil di kompetisi Liga Super China, Jiangsu Suning, juga dinyatakan bangkrut meski baru beberapa bulan meraih gelar juara.

Meski awalnya Inter dikabarkan tidak akan terkena imbas dari permasalahan tersebut, nyatanya kini mereka harus menghadapi kenyataan bahwa memang klub sedang diambang ketidakpastian.

Masalah keuangan Inter juga menjadi jelas setelah mereka memutuskan untuk bergabung dengan Liga Super Eropa, meski pada akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya beberapa saat kemudian. Di masa pandemi ini, menurut republic world, Inter diyakini memiliki hutang senilai lebih dari 500 juta euro dan dituntut untuk aktif mencari investor baru.

Menurut surat kabar Italia La Gazzetta dello Sport seperti dilansir dari republic world, Inter lalu memutuskan untuk berpisah dengan Antonio Conte karena mereka perlu memangkas biaya operasional di tengah pandemi virus corona. Surat kabar tersebut mengklaim bila Inter ingin memangkas biaya gaji sebesar 15 sampai 20%. Hal tersebut diberlakukan kepada sejumlah pemain termasuk pelatih Antonio Conte.

Awalnya, Conte menyatakan rasa keberatannya akan keputusan tersebut. Namun dia memutuskan bertahan dan rela gajinya dipotong menjadi 7 juta euro per tahun atau setara 121 miliar rupiah di musim terakhir kontraknya.

Akan tetapi, ada hal yang sangat membuat Antonio Conte terusik, yaitu pemotongan gaji yang juga diberlakukan kepada para pemain andalannya. Conte secara tegas menyatakan bahwa ada delapan nama yang tidak boleh disentuh, termasuk pemain pilar seperti Milan Skriniar, Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez.

Namun ternyata hal tersebut tidak disetujui klub. Pemotongan gaji akan tetap dilakukan kepada para pemain. Yang lebih membuat Conte merasa tidak sejalan dengan keputusan Inter selanjutnya adalah, mereka justru berpotensi menjual sejumlah pemain andalan demi bisa mendapatkan uang yang jumlahnya sekitar 80 juta euro atau setara 1,3 triliun rupiah dalam waktu dekat untuk menutup kebutuhan tertentu.

Sejatinya, segala hal yang telah disiapkan klub itu murni karena alasan mereka ingin menyelamatkan neraca keuangan tim. Selain itu, klub juga sudah menyatakan bahwa meski mereka akan menjual sejumlah pemain pilarnya, tim berjuluk I Nerazzurri berjanji akan fokus pada pengembangan talenta muda. Namun hal tersebut malah membuat Conte tidak senang meski dia tidak benar-benar menentang proyek tersebut.

Conte, yang sebelumnya telah melakukan diskusi dengan klub melalui pembicaraan yang cukup keras, mengatakan bahwa dia justru ingin klub memberikan dana segar baginya untuk membeli pemain anyar. Meski dia sudah cukup puas dengan kekuatan Inter sejauh ini, menurutnya, untuk bisa berjaya di level Eropa dibutuhkan sejumlah pemain lagi yang memang punya kualitas jempolan.

Karena alasan itulah, kedua belah pihak tidak mendapatkan kata sepakat yang tepat. Setelah Conte memutuskan untuk pergi meninggalkan Inter, ketua klub, Steven Zhang, langsung mengeluarkan pernyataan bahwa La Beneamata sudah tidak bekerjasama lagi dengan Conte, yang sejatinya telah memberikan gelar prestige kepada Inter Milan.

Pemain Andalan Bisa Mengikuti Jejak Conte

Setelah kabar ini berhembus sampai ke telinga pemain, banyak yang menyebut kalau Conte akan membawa serta beberapa anak asuhnya di klub barunya nanti. Meski hal ini akan sangat membuat para penggemar marah, tidak bisa dipungkiri bila memang ada beberapa pilar Inter yang berhasil temukan kembali kejayaan ketika berada dibawah asuhan Conte.

Salah satu pemain yang sangat menyesalkan kepergian Conte adalah Romelu Lukaku. Bintang asal Belgia itu benar-benar berterima kasih kepada Conte yang telah memberinya kepercayaan hingga bisa temukan kembali daya magisnya. Disisi lain, dia juga kecewa atas kepergian sang pelatih dan menganggap bahwa tidak ingin hal semacam ini terjadi.

Melalui salam perpisahan yang terbilang menyentuh dari Lukaku, bukan tak mungkin bila beberapa pemain lain termasuk eks Chelsea tersebut, akan bergabung dengan petualangan Conte selanjutnya.

Siapa Pengganti Conte di Inter Milan?

Setelah Conte resmi pergi dan otomatis kursi kepelatihan klub kosong, langsung muncul nama yang berpotensi menjadi suksesor sang manajer. Maurizio Sarri, Paulo Fonseca, dan Sergio Conceicao sempat disebut menjadi pengganti Conte.

Namun setelah beberapa waktu, jurnalis ternama asal Italia, Fabrizio Romano, telah mengkonfirmasi bahwa Simone Inzaghi yang putuskan mundur dari Lazio, ditunjuk sebagai allenatore anyar Inter Milan. Dilaporkan, Inzaghi yang sudah berbicara dengan manajemen klub Lazio maupun Inter, berencana tinggal di kota Milan dalam dua musim kedepan.

 

Sumber referensi: Sky Sport, republic world, BBC, Bolanet

Kembali Rasakan Degradasi Musim Ini, Begini Skuad Hebat Yang Pernah Dimiliki Parma

Setelah sempat bangkrut dan kembali ke kompetisi tertinggi Italia, Parma mampu bertahan selama beberapa musim lamanya. Nahas, pada musim ini, mereka kembali harus turun dan pergi dari kompetisi Serie A, setelah posisi saat ini tidak memungkinkan klub besutan Roberto D’Aversa untuk bertahan.

Kepastian terdegradasi nya Parma didapat setelah mereka dipecundangi tuan rumah Torino dengan skor 1-0. Hasil pertandingan yang dihelat di Stadio Olimpico Grande Torino itu ditentukan oleh gol semata wayang bek kanan Il Toro, Mergim Vojvoda, di pertengahan babak kedua.

Bila menilik pada sejarah, il Gialloblu menjadi salah satu yang disegani di liga Italia di era 1990-an. Mereka pernah diisi oleh nama-nama hebat yang tersebar di seluruh dunia. Dan pada kesempatan kali ini, starting eleven akan menyajikan susunan formasi terbaik yang pernah dimiliki Parma.

Kiper: Gianluigi Buffon (1995-2001)

Gianluigi Buffon sukses menjadi salah satu penjaga gawang terhebat sepanjang masa. Kiper asal Italia ini memulai karirnya bersama Parma. Dia bahkan sudah melakoni debut profesional bersama Parma di usia 17 tahun, dimana dia tampil begitu apik di laga melawan AC Milan.

Dalam debutnya, Gigi berhasil menghentikan upaya dua penyerang paling mematikan dalam sejarah kompetisi Italia, George Weah dan Roberto Baggio. Sejak saat ini, Buffon langsung menjadi andalan tim dan berhasil memenangkan sejumlah trofi, termasuk Coppa Italia dan Liga Europa.

Saat ini, dia masih dianggap sebagai legenda dan belum putuskan pensiun meski usianya sudah menginjak angka 43 tahun.

Bek Kiri: Antonio Benarrivo (1991-2004)

Benarrivo adalah salah satu pemain sayap paling handal di Italia pada zamannya. Dia mampu menjadi pemain yang menyusuri dua sisi lapangan. Antonio Benarrivo telah menghabiskan sekitar 13 tahun bersama Parma dan disebut sebagai legenda oleh para penggemar.

Meski tercatat sebagai pemain yang tidak pernah catatkan gelar Serie A bersama Parma, sama seperti Buffon, dia termasuk ke dalam pemain yang mampu menjuarai kompetisi Eropa kelas dua.

Bek Tengah: Fabio Cannavaro (1995-2002)

Fabio Cannavaro, pernah menyabet gelar sebagai pemain terbaik di dunia. Dia yang berposisi sebagai seorang bek memang punya kemampuan terbaik dalam bertahan. Memulai karir bersama Napoli, Cannavaro yang direkrut Parma langsung mampu jadi andalan di lini belakang.

Cannavaro, seperti kebanyakan pemain di lineup ini, menjadi bagian dari era kejayaan Parma. Sepanjang karirnya, selain bersama Parma, Cannavaro juga pernah tercatat sebagai pemain andalan Juventus, Real Madrid, dan juga timnas Italia.

Bek Tengah: Lorenzo Minotti (1987-1996)

Lorenzo Minotti mampu membawa Parma promosi ke Serie A pada tahun 1990. Dia adalah salah satu pemain paling legendaris yang pernah membela Parma. Dia banyak diidolakan karena punya karakter luar biasa.

Di timnas Italia, Minotti menjadi pesaing ketat bek legendaris milik AC Milan, Franco Baresi. Selain mampu sumbangkan banyak gelar, Minotti juga tercatat sebagai bek yang rajin mencetak gol. Di kompetisi Serie A, dia tercatat telah sumbangkan 29 gol untuk Parma.

Bek Kanan: Lilliam Thuram (1996-2001)

Siapa yang tak kenal Lilliam Thuram, salah satu bek terbaik yang pernah dimiliki timnas Prancis?

Thuram yang bergabung dengan Parma usai diboyong dari Monaco, langsung tunjukkan kualitasnya sebagai penjaga lini pertahanan paling berkualitas. Dia menghabiskan lima musim di Ennio Tardini, dan sukses masuk ke dalam kenangan para penggemar.

Berkat penampilan luar biasanya, dia ditebus oleh Juventus pada tahun 2001.

Gelandang Kanan: Diego Fuser (1998-2001)

Bergeser ke lini tengah, nama Diego Fuser sama sekali tidak bisa disingkirkan. Dia merupakan gelandang berbakat yang membela Parma selama tiga tahun. Sebelumnya, Diego Fuser pernah bermain untuk Milan, Lazio, dan Fiorentina, tetapi levelnya benar-benar naik ketika dia bermain untuk Parma.

DI musim pertamanya, dia langsung mampu membawa Parma meraih gelar juara Piala UEFA. Meski masanya di Parma tergolong singkat, keberadaan Diego Fuser disebut sebagai salah satu yang paling legendaris dalam buku sejarah Parma.

Gelandang Tengah: Dino Baggio (1994-2000)

Dino Baggio yang bermain untuk Juventus telah menciptakan keputusan brilian usai dia bergabung dengan Parma pada 1994.

Beberapa bulan setelah bergabung dengan Parma, Baggio mencetak dua gol yang dibutuhkan Parma untuk mengalahkan Juventus dengan skor 2-1 di partai puncak Piala UEFA. Dijual oleh Parma pada tahun 2000, Dino Baggio meninggalkan klub dengan sebutan legenda.

Gelandang Kiri: Juan Sebastian Veron (1998-1999)

Nama Juan Sebastian Veron begitu tersohor dalam dunia sepakbola. Dia telah banyak membela klub besar, termasuk Parma. Veron bergabung dengan Parma pada musim 1998/99, dan itu akan selalu dianggap sebagai hadiah terbesar bagi seluruh penggemar.

Veron menjadi andalan di lini tengah Parma dan langsung mampu persembahkan gelar Liga Europa. Selain itu, dia juga lantas sumbangkan trofi Coppa Italia untuk Parma. Berkat permainan ciamiknya, Lazio rela mengucurkan dana senilai lebih dari 18 juta pounds untuk bisa amankan tanda tangan Veron.

Meski hanya semusim membela Parma, prestasi yang ditinggalkan Veron sangatlah luar biasa.

Gelandang Serang: Gianfranco Zola (1993-1996)

Gianfranco Zola merupakan salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki Italia. Dia juga merupakan salah satu pemain terpenting dalam sejarah Parma, usai melihat apa yang telah dilakukannya untuk klub.

Meski saat itu dia menjadi pemain yang tidak begitu cocok dengan Carlo Ancelotti, tetap saja, gelontoran 51 golnya selama membela Parma akan selalu dikenang sebagai yang terhebat oleh penggemar.

Penyerang: Hernan Crespo (1996-2000 & 2010-2012)

Hernan Crespo sukses masuk ke dalam buku sejarah Parma, setelah dia mampu tunjukkan kontribusi luar biasa bagi tim.

Penyerang asal Argentina ini punya kemampuan mencetak gol yang sangat luar biasa, hingga layak disebut sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah dimiliki Parma. Meski sempat mengalami masa sulit di awal, Crespo segera bangkit dan tunjukkan jati diri sebagai seorang penyerang sejati. Selama dua periode nya membela klub, Crespo mampu catatkan sebanyak 94 gol untuk Parma.

Penyerang: Enrico Chiesa (1996-1999)

Enrico Chiesa menjadi salah satu pemain terhebat yang pernah dimiliki kompetisi Serie A. Meski tak setenar Crespo, Chiesa memiliki kemampuan terbaik sebagai seorang pencetak gol. Dia mampu mencetak gol di final Piala UEFA tahun 1999, yang pada akhirnya membuat Parma kalahkan raksasa Prancis Olympique Marseille dengan skor 3-0.

Sepanjang turnamen tersebut, nama Chiesa juga tercatat sebagai pemain tersubur dengan koleksi 8 gol.

 

Berstatus Kuda Hitam, Bagaimana Peluang Belanda di EURO 2020?

Selalu diunggulkan di tiap turnamen besar. Itulah status yang selalu disematkan kepada timnas Belanda setiap kali mereka mentas di turnamen akbar. Belanda memang jadi salah satu negara yang rajin memproduksi bakat-bakat hebat sepak bola.

Status unggulan yang dimiliki Belanda bukan tanpa sebab. Sejak dulu, tim Oranje dikenal dengan sistem taktik totaalvoetbal (Total Football) yang sangat atraktif. Timnas Belanda juga selalu tampil menyerang tak peduli siapa lawan mereka.

Akan tetapi, kondisi tim Oranje sekarang tak bisa disamakan dengan para pendahulunya. Penyebabnya tentu saja hasil minor mereka dalam 2 turnamen akbar terakhir. Pasca menjadi juara ketiga di Piala Dunia 2014, Belanda secara tak terduga gagal lolos ke EURO 2016 dan Piala Dunia 2018. Mereka selalu terhenti di babak kualifikasi.

Dua hasil sangat buruk di 2 turnamen itulah yang membuat Belanda datang ke ajang EURO 2020 sebagai kuda hitam. Berbagai rumah judi juga tak ada yang menjagokan timnas Belanda untuk menjuarai EURO tahun ini. Situs FourFourTwo saja menempatkan tim Oranje di bawah Inggris, Prancis, Belgia, Jerman, Spanyol, Portugal, dan Italia. FourFourTwo bahkan menyebut Belanda sebagai outsiders di turnamen paling akbar seantero Eropa itu.

Bisa dipahami. Sebab, Belanda memang tak datang ke ajang EURO 2020 dengan modal meyakinkan. Semenjak ditangani Frank de Boer, tim Oranje hanya menang 4 kali, imbang 3 kali, dan 2 kali kalah dalam 9 pertandingan. Di tangan Frank de Boer yang menggantikan Ronald Koeman, penampilan Belanda juga kurang meyakinkan.

Belanda memang mampu menghasilkan 18 gol dalam 9 pertandingan. Namun, 7 gol terakhir berasal dari kemenangan 7-0 atas negara kecil, Gibraltar. Belanda juga membuka kualifikasi Piala Dunia 2022 dengan kekalahan 4-2 dari Turki. Imbasnya, banyak yang meragukan kapabilitas Frank de Boer sebagai pelatih.

Meski masih belum mampu meyakinkan publik Negeri Kincir, Frank de Boer tetap diberi kepercayaan untuk menangani Memphis Depay dkk. Tugas berat pertamanya tentu berlaga di EURO 2020. Dan untuk menghadapi ajang paling bergengsi di Eropa itu, Frank de Boer telah mengumumkan skuad timnas Belanda yang berisi 26 nama.
Lalu, siapa saja yang dipanggil Frank de Boer? Berikut daftar lengkap skuad Tim Oranje di EURO 2020.

Daftar Lengkap Skuad Timnas Belanda Untuk EURO 2020

Kiper

Di posisi penjaga gawang, Frank de Boer sejatinya memanggil Jasper Cillessen, Tim Krul, dan Maarten Stekelenburg. Namun, pada 1 Juni kemarin, nama Jasper Cillessen dicoret dan tak jadi dibawa ke EURO 2020. Keputusan itu terpkasa dibuat Frank de Boer setelah yang bersangkutan positif Covid-19.

Posisi Cillessen akhirnya digantikan oleh kiper AZ Alkmaar, Marco Bizot. Ketiga kiper pilihan tersebut semuanya telah berusia lebih dari 30 tahun. Stekelenburg jadi yang tertua dengan usianya yang sudah mencapai 38 tahun.

Terpilihnya mantan kiper Belanda di final Piala Dunia 2010 itu memang mengejutkan. Pasalnya, Stekelenburg baru tampil 7 laga bersama Ajax musim ini setelah bertahun-tahun menjadi cadangan abadi di Everton. Namun, Frank de Boer memang tak punya banyak pilihan mumpuni di posisi tersebut. Menilik dari performa musim ini dan pilihan Frank de Boer dalam 3 laga terakhir, kiper Norwich City, Tim Krul sepertinya bakal jadi pilihan utama.

Bek

Di sektor pertahanan, Frank de Boer memanggil 9 bek. Mereka adalah Nathan Ake (Manchester City), Daley Blind (Ajax), Matthijs de Ligt (Juventus), Stefan de Vrij (Inter Milan), Denzel Dumfries (PSV Eindhoven), Jurriem Timber (Ajax), Patrick van Aanholt (Crystal Palace), Joel Veltman (Brighton & Hove Albion), dan Owen Wijndal (AZ Alkmaar).

Belanda masih kehilangan bek utama sekaligus kapten mereka, Virgil van Dijk yang cedera. Dengan begitu, perannya di sentral pertahanan diyakini bakal digantikan oleh Stevan de Vrij dan Matthijs de Ligt yang tampil prima di Serie A musim ini. Yang menarik lagi, Frank de Boer memanggil bek serba bisa Ajax, Jurrien Timber. Bek 19 tahun itu bakal jadi salah satu debutan di timnas Belanda tahun ini.

Gelandang

Sementara itu, 7 nama gelandang dibawa Frank de Boer ke EURO 2020. Pilihan pelatih 51 tahun itu jatuh kepada Frenkie de Jong (Barcelona), Marten de Roon (Atalanta), Ryan Gravenberch (Ajax), Davy Klaassen (Ajax), Teun Koopmeiners (AZ Alkmaar), Donny van de Beek (Manchester United), dan Georginio Wijnaldum (Liverpool).

Absennya Virgil van Dijk secara otomatis menjadikan Wijnaldum sebagai kapten tim. Ia bakal jadi penggerak lini tengah tim Oranje bersama gelandang andalan Barcelona, Frenkie de Jong.

Penyerang

Di sektor penyerang, 7 nama dipilih Frank de Boer untuk jadi juru gedor serangan tim Oranje. Mereka adalah Luuk de Jong (Sevilla), Steven Berghuis (Feyenoord), Memphis Depay (Olympique Lyon), Cody Gakpo (PSV Eindhoven), Donyell Malen (PSV Eindhoven), Quincy Promes (Spartak Moscow), dan Wout Weghorst (VfL Wolfsburg).

Memphis Depay masih bakal jadi tumpuan utama di lini depan Belanda. Penyerang 27 tahun itu memang telah mengemban tugas berat semenjak Arjen Robben, Wesley Sneijder, dan Robin van Persie pensiun dari tim nasional. Musim ini, Depay juga tampil impresif untuk Lyon. Ia mencetak 20 gol dan membukukan 12 asis untuk menjadi pencetak asis terbanyak Ligue 1 musim ini.

Sementara itu, nama bomber Wolfsburg, Wout Weghorst difavoritkan untuk jadi tandem Depay. Striker 28 tahun itu tampil sangat baik selama 3 musim terakhir untuk Wolfsburg. Musim ini saja, ia sudah mencetak 20 gol di Bundesliga.

Sayangnya, bila menilik starting lineup Belanda di beberapa laga terakhir, Weghorst selalu jadi bayang-bayang Luuk de Jong. Padahal, Weghorst tampil jauh lebih tajam dibanding Luuk de Jong yang cuma mencetak 4 gol di La Liga bersama Sevilla. Namun, keputusan akhir tentu ada di tangan Frank de Boer.

Kejutan lain juga dibuat Frank de Boer yang mencoret beberapa nama favorit. Sebut saja Sven Botman, Hans Hateboer, Steven Bergwijn, Anwar El Ghazi, dan Myron Boadu. Sven Botman misalnya. Bek 21 tahun itu baru saja mengantar Lille juara Ligue 1 Prancis. Sementara Boadu adalah striker muda 20 tahun yang mencuri perhatian di Eredivisie musim ini. Boadu berhasil mencetak 13 gol untuk AZ Alkmaar.

Sebagai gantinya, Frank de Boer lebih memilih Cody Gakpo, penyerang serba bisa milik PSV. Gakpo juga merupakan debutan di EURO tahun ini. Musim ini, penyerang 22 tahun itu telah mencetak 7 gol dan 2 asis. Ia bakal jadi pelapis sepadan bagi winger Feyenoord, Steven Berghuis yang telah mencetak 18 gol dan 14 asis di Eredivisie.

Formasi

Memang, nama-nama pemain timnas Belanda generasi sekarang tak bisa disamakan dengan para pendahulunya yang berisi banyak nama bintang top Eropa. Meski begitu, tim Oranje tetap tak bisa diremehkan.

Sejauh ini, formasi 4-3-3 selalu jadi pilihan Frank de Boer, meski dirinya juga pernah memakai formasi 4-2-3-1 atau 4-2-1-3. Bila menilik daftar skuad timnas Belanda, formasi ini memang cocok dengan banyaknya pemain Belanda yang punya keunggulan dalam hal kecepatan. Formasi tersebut juga terbilang fleksibel untuk beberapa andalan Oranje yang mampu memainkan lebih dari 1 posisi.

Lalu, bagaimana peluang Belanda di EURO 2020 tahun ini?

Hasil undian babak grup menempatkan Belanda tergabung di Grup C bersama Austria, Makedonia Utara, dan Ukraina. Di atas kertas, Ukraina yang berisi pemain-pemain muda asuhan Andriy Shevchenko bakal jadi lawan terberat. Austria yang banyak dihuni pemain Bundesliga Jerman juga tak bisa dianggap remeh. Sementara Makedonia Utara yang datang sebagai debutan tentu tak ingin sekadar meramaikan turnamen.

Belanda jelas jadi favorit di Grup ini. Meski bukan jadi salah satu unggulan di EURO 2020, Frank de Boer tetap mematok target tinggi dan mengumbar optimisme. Ketika ditanya apakah timnya mampu mengulang kemenangan di EURO 1988, Frank de Boer mengaku targetnya adalah untuk memenangkan turnamen dan berusaha untuk mengangkat trofi Piala Eropa tahun ini.

Tim Oranje akan memulai laga pertama melawan Ukraina pada 13 Juni nanti. Kemudian melawan Austria pada 17 Juni dan Makedonia Utara pada 21 Juni. Sepanjang keikutsertaannya di turnamen besar, Belanda memang hanya sekali juara di Piala Eropa 1988. Namun, tak ada yang menyangkal kalau mereka adalah salah satu negara kuat di sepak bola dunia.

EURO 2020 bakal jadi penampilan pertama Belanda di turnamen sesungguhnya setelah gagal lolos di EURO 2016 dan Piala Dunia 2018. Tim Oranje juga terlempar jauh ke peringkat 16 FIFA dan datang sebagai kuda hitam di Piala Eropa tahun ini. Namun, hasil bagus di UEFA Nations League bisa jadi modal optimisme skuad Oranje untuk mengukir sejarah baru.

Jadi, akan sejauh mana timnas Belanda melangkah di EURO 2020?

***
Sumber Referensi: Squawka, Independent, FourFourTwo, Football-Oranje, JPNN

Terdegradasi Setelah 41 Tahun! Begini Analisis Penyebab Jatuhnya Werder Bremen

Laga hidup dan mati wajib dihadapi Werder Bremen di pekan terakhir Bundesliga musim 2020/2021. Di pekan ke-34, mereka wajib menang atas tamunya, Borussia Monchengladbach. Sebab, hasil imbang apalagi kalah akan memuluskan jalan mereka untuk turun kasta ke divisi 2.

Benar saja, Werder Bremen yang bertanding di hadapan 100 penonton yang hadir di Weserstadion tumbang dari sang tamu dengan skor 2-4. Gol Milot Rashica dan Niklas Fullkrug di 10 menit jelang akhir laga tak cukup untuk mengejar defisit gol. Dengan hasil itu, Bremen dipastikan terdegradasi dari Bundesliga.

Sebuah hasil yang tentu sangat menyedihkan. Bremen hanya mampu mengumpulkan 31 poin dari 34 laga. Mereka hanya menang 7 kali, imbang 10 kali, dan menelan 17 kekalahan. Bremen juga jadi tim ketiga dengan jumlah kebobolan terbanyak. Gawang Jiri Pavlenka sudah kebobolan 57 gol.

Dengan hasil itu, skuad asuhan Florian Kohfeldt terjerembab ke posisi 17 klasemen Bundesliga. Mereka jadi tim kedua yang secara otomatis turun kasta musim ini bersama Schalke. Sungguh ironis mengingat kedua tim tersebut adalah klub legendaris dengan basis fans yang besar di Jerman.

Lalu, apa penyebab jatuhnya Werder Bremen ke divisi dua Liga Jerman?

Performa Selalu Menurun Jelang Akhir Musim

Sejatinya, masalah internal dan finansial Bremen tidak separah Schalke. Mereka juga tidak mendadak jatuh seperti rivalnya itu. Namun, setidaknya selama 2 musim terakhir, Bremen selalu punya kebiasaan yang sama. Yakni kehabisan tenaga jelang akhir kompetisi.

Penurunan performa dari klub berjuluk The Green Whites itu sudah terjadi sejak musim lalu. Di musim 2019/2020, Bremen nyaris turun kasta. Sejak paruh kedua liga, Bremen sudah terjerembab di zona degradasi. Mereka sulit untuk menyelamatkan diri.

Namun untungnya, di pekan terakhir, rival mereka di zona degradasi, Fortuna Dusseldorf menelan kekalahan 3-0 sementara Bremen menang telak 6-1. Hasil itu membuat mereka mampu mengumpulkan 31 poin, hasil dari 8 kemenangan, 7 kali imbang, dan 19 kekalahan. Poin tersebut sudah cukup untuk melangkahi Dusseldorf dengan jarak 1 poin untuk finish di posisi 16 klasemen Bundesliga.

Werder Bremen kemudian menghadapi laga hidup mati di babak playoff relegasi melawan peringkat tiga 2.Bundesliga (baca: Bundesliga Two), FC Heidenheim. Beruntungnya, di laga playoff, Bremen lagi-lagi ditolong dewi fortuna. Di leg pertama, Bremen yang bertindak sebagai tuan rumah berhasil menahan Heidenheim dengan skor 0-0. Di leg kedua, Bremen yang bertandang ke markas Heidenheim sukses menaham tuan rumah 2-2. The Green Whites akhirnya keluar sebagai pemenang berkat agresivitas gol tandang dan tak jadi turun kasta.

Meski nyaris terdegradasi musim lalu, Werder Bremen masih memilih setia dengan pelatih mereka, Florian Kohfeldt. Kohfeldt yeng menjadi pelatih sejak pertengahan musim 2017/2018 membawa klub bercorak hijau putih itu memulai musim ini dengan cukup aman. Bremen duduk stabil di papan tengah hingga pertengahan musim. Namun, lagi-lagi petaka datang jelang akhir musim.

Dalam 10 laga terakhir Bundesliga musim ini, pasukan Florian Kohfeldt gagal memetik satupun kemenangan dan hanya mampu memetik 1 hasil imbang dan menelan 9 kekalahan. Bahkan sejak pertengahan Maret hingga akhir Mei, Bremen menelan 7 kekalahan beruntun. Alhasil, posisi Bremen yang sebenarnya cukup aman di posisi 11 klasemen di pekan ke-20 langsung turun tajam ke zona degradasi akibat kekalahan beruntun tersebut. Meski begitu, posisi Florian Kohfeldt masih juga dipertahankan.

Kohfledt baru dipecat jelang laga hidup mati di pekan terakhir. Kala itu, posisi Bremen sudah diujung tanduk. Mereka menjadi pesakitan di posisi 16 klasemen dan wajib menang di laga terakhir sembari berharap rivalnya di zona degradasi gagal menang. Sayang, Thomas Schaaf yang ditunjuk sebagai juru selamat gagal membawa Bremen bertahan di Bundesliga.

Tak Punya Penyerang Tajam

Jumlah kebobolan yang banyak dalam 2 musim terakhir jadi bukti gagalnya Florian Kohfledt meracik strategi. Namun, bukan hanya pertahanan saja yang buruk. Lini serang Bremen juga bisa dibilang sangat tumpul.

Musim ini saja, top skor Werder Bremen di Bundesliga adalah Josh Sargent dan Kevin Mohwald yang hanya mampu mengemas 5 gol saja. Total, Bremen hanya mampu menghasilkan 36 gol dalam 34 laga. Tak punya striker tajam dan sulit mencetak gol itulah yang menyulitkan langkah Bremen di laga-laga krusial musim ini.

“Saat ini sulit untuk mengatakan apa pun. Kami tidak berhasil melakukan apa yang ingin kami lakukan. Kami melewatkan kesempatan besar untuk menyamakan kedudukan, yang kami butuhkan. Kami terlambat melawan,” kata Thomas Schaaf dikutip dari worldsoccertalk.com.

Krisis Finansial yang Menggerogoti Werder Bremen

Akan tetapi, performa yang buruk di atas lapangan bukan satu-satunya sebab Bremen mengalami kriris. Di luar lapangan, Bremen tengah kesulitan secara finansial, khususnya sejak pandemi Covid-19 datang di pertengahan tahun lalu.

Sejak akhir musim lalu, manajemen klub sudah memproyeksikan kerugian bila laga masih juga digelar tanpa penonton. Total, kerugian hingga 40 hingga 45 juta euro di akhir musim ini sudah diperkirakan sejak pandemi datang tahun lalu. Mengutip dari The Guardian, Bremen diperkirakan masih terlilit utang sebesar 75 juta euro.

Meminjam dana sebesar itu terpaksa dilakukan manajemen untuk menyelamatkan klub dari kriris. Pasalnya, prospek sponsor Werder Bremen sejak pandemi lalu sangat buruk. Banyak perusahaan termasuk sponsor yang menghentikan suplai dana kepada klub akibat krisis keuangan yang sama-sama diderita.

Selain itu, Bremen juga terancam melakukan pembayaran kembali ke berbagai sponsor akibat gagalnya kesepakatan kontrak setelah pertandingan kandang yang terpaksa digelar tanpa penonton. Ditambah lagi, mereka sulit menggaet sponsor anyar selama semusim terakhir. Imbasnya, penghematan terjadi dan Bremen harus siap menjual bintangnya untuk menyehatkan kondisi finansial klub.

Prestasi dan Bintang Bremen di Masa Lalu

Sejatinya, dalam sejarah klub yang berdiri sejak 1899 itu, Bremen bukanlah tim kaya raya. Mereka tak pernah mengeluarkan biaya besar untuk merekrut pemain. Meski begitu, keuangan mereka sehat-sehat saja. Buktinya, The Green Whites mampu bertahan di Bundesliga selama 41 tahun terakhir.

Terdegradasi musim ini menjadi kali pertama untuk Bremen turun kasta dari Bundesliga sejak 1980. Selama itu, The Green Whites berhasil meraih 3 trofi Bundesliga, 5 trofi DFB-Pokal, 1 trofi DFL-Ligapokal, dan 3 trofi DFL-Supercup. Sementara di kancah Eropa, Bremen mampu menjuarai Piala Intertoto 1998 dan Piala Winners 1992.

Yang paling berkesan tentu musim 2003/2004. Werder Bremen berhasil meraih double winners. Mereka menjuarai Bundesliga dan DFB-Pokal. Kala itu, Bremen punya trio paling berbahaya di Jerman dalam diri Johan Micoud, Ivan Klasnic, dan Ailton. Dengan trio tersebut, Bremen melangkahi Bayern Munchen dan jadi tim paling produktif dengan 79 gol. Johan Micoud menyumbang 10 gol, Ivan Klasnic 13 gol, dan Ailton keluar sebagai top skor Bundesliga dengan torehan 28 gol.

Pencapaian Ailton yang menjadi top skor dengan seragam Werder Bremen mampu disamai oleh Miroslav Klose di musim 2005/2006. Saat itu, Klose mampu mencetak 25 gol untuk membawa Bremen finish sebagai runner-up. Selain mereka, masih banyak pesepak bola yang pernah mengukir prestasi di Bremen. Beberapa bintang sepak bola dunia bahkan mengawali karier impresifnya bersama Bremen.

Sebut saja Diego Ribas dan Mesut Ozil. Keduanya pernah bahu membahu membawa Bremen ke partai final Piala UEFA 2009. Di musim itu, Diego mampu mencetak 21 gol dan jadi top skor kedua tim setelah legenda Bremen lainnya, Claudio Pizarro. Sementara Mesut Ozil menjadi top asis dengan sumbangan 15 asis. Di musim tersebut, trio Diego, Ozil, dan Pizarro juga sukses membawa Werder Bremen menjuarai DFB-Pokal.

Sungguh memori yang indah untuk dikenang para pendukung Werder Bremen. Kini, kenyataan pahit mau tak mau mesti mereka terima. Terdegradasi tak hanya membuat sedih para pemain dan staff klub, tapi juga memicu kemarahan para pendukung Bremen.

Menurut kabar, ratusan bahkan ribuan pendukung telah menunggu para pemain keluar dari stadion usai pertandingan pekan terakhir. Belajar dari kasus pendukung Schalke, pihak kepolisian sudah lebih dulu disiagakan sementara para punggawa Werder Bremen terpaksa lewat pintu belakang untuk menghindari konfrontasi.

Semoga lekas pulih dan kembali ke Bundesliga, Werder Bremen!


***
Sumber Referensi: Bundesliga, Worldsoccertalk, DetikSport, World-today-news, The Guardian