Beranda blog Halaman 697

Puasa Gelar 4 Musim, Manchester United Siap Cuci Gudang?

Kekalahan di partai final Liga Europa musim 2020/2021 masih menyisakan duka mendalam bagi Manchester United. Setan Merah sejatinya begitu dekat dengan gelar juara Liga Europa musim ini. Sayang, mereka kandas adu penalti 11-10 dari Villarreal.

Liga Europa jadi harapan terakhir MU meraih trofi musim ini setelah gugur di semifinal EFL Cup, perempat final FA Cup, dan hanya mampu finish di posisi 2 Liga Primer Inggris. Tak hanya itu, bila pada laga final kemarin MU mampu mengandaskan Villarreal, maka selesai sudah penantian panjang Setan Merah yang sudah puasa gelar begitu lama.

Diketahui, Manchester United memang telah puasa gelar begitu lama. Terakhir kali Setan Merah meraih trofi juara terjadi di musim 2016/2017. Kala itu, MU yang dilatih Jose Mourinho mampu memenangani 3 gelar, yakni Community Shields, EFL Cup, dan Liga Europa.

Mourinho yang kemudian dipecat di pertengahan musim 2018/2019 digantikan posisinya oleh Ole Gunnar Solskjaer. Sejauh ini, menjadi runner-up Liga Europa musim ini adalah prestasi terbaik Solskjaer sebagai manajer Setan Merah. Di musim sebelumnya, Solskjaer hanya mampu membawa MU lolos hingga babak semifinal Liga Europa sebelum kandas oleh Sevilla.

Sementara di kancah domestik, selama 2 setengah tahun menangani Manchester United, finish di posisi 2 Liga Primer Inggris adalah prestasi terbaik Ole Gunnar Solskjaer. Singkatnya, selama 2 setengah tahun itu pula, MU nirgelar dan jika di total, MU telah puasa gelar selama 4 musim terakhir.

Posisi Solskjaer jelas dalam tekanan. Namun, menilik dari bursa transfer pelatih yang tengah ramai di musim panas ini, tak ada desas-desus pergantian pelatih di tubuh Manchester United. Posisi Ole Gunnar Solskjaer diyakini masih aman. Dengan begitu, hanya ada satu upaya besar yang bisa ditempuh Setan Merah di bursa transfer musim panas. Yakni memperkuat tim.

Media-media lokal seperti The Mirror, Daily Mail, dan Manchester Evening News bahkan memberitakan bahwa Setan Merah siap untuk cuci gudang di bursa transfer musim panas ini. Tak tanggung-tanggung, sebanyak 8 hingga 9 pemain bisa dilego Manchester United untuk memberi ruang kepada pemain baru di bursa transfer musim panas ini.

Jadi, siapa saja yang kemungkinan besar masuk daftar jual MU?

 

Phil Jones

Yang pertama adalah Phil Jones. Ia mungkin adalah pemain paling terlupakan dari Manchester United selama 2 musim terakhir. Bayangkan saja, Jones sudah absen membela Setan Merah sejak akhir Januari 2020. Jones diketahui mengalami cedera lutut, tapi hingga kini belum ada konfirmasi kapan dirinya akan sembuh.

Phil Jones diketahui masih punya kontrak hingga 2023. Dengan kontribusinya yang minim, maka sangat wajar dan sudah seharusnya ia dilego ke klub lain. Masalahnya, cedera yang Jones derita akan sedikit mempersulit MU dalam menjual bek 29 tahun itu.

 

Jesse Lingard

Dengan status pinjaman, Jesse Lingard tampil bagus di West Ham United. Lingard mampu mencetak 9 gol dan 5 asis dalam 16 pertandingan. The Hammers dan David Moyes diyakini puas dengan performa Lingard. Namun, beberapa hari yang lalu, Lingard justru membuat postingan yang mengejutkan di akun instagramnya. Ia justru mengucap kata perpisahan kepada The Hammers.

“Terima kasih kepada para penggemar yang mendukung saya sejak saya tiba, sungguh luar biasa bisa bermain di depan Anda pada hari terakhir! Apa pun yang terjadi di masa depan, West Ham United akan memiliki tempat khusus di hati saya!” tulis Jesse Lingard di akun instagramnya.

Sejauh ini, Lingard akan lebih dulu pulang ke Setan Merah. Belum ada pembicaraan baru soal kontrak Lingard yang akan berakhir Juni tahun depan. Namun, David Moyes sudah terang-terangan menginginkan jasa Jesse Lingard di West Ham United.

“Saya tidak bisa mengatakan apa-apa selain berharap Jesse ingin datang ke sini. Itu terserah Manchester United, tapi dia adalah rekrutan yang positif,” kata David Moyes dikutip dari Daily Mail.

 

Diogo Dalot

Dalot diketahui jadi pemain pinjaman di AC Milan sejak awal musim. Ia bermain sebanyak 21 laga di Serie A. Rossoneri disebut cukup puas dengan penampilan bek asal Portugal itu dan siap bernegosiasi dengan MU terkait pembelian permanenen Diogo Dalot.

Andreas Pereira

Pereira jadi salah satu pemain yang juga dipinjamkan ke klub Serie A. Gelandang yang punya posisi sama dengan Bruno Fernandes itu dipinjam Lazio sejak Oktober lalu. Lazio diketahui tak mengaktifkan opsi untuk mempermanenkan Pereira meski sang pemain sudah menyatakan diri ingin bertahan di Lazio dan enggan kembali ke MU. Fakta itu ditambah persaingan yang ketat di posisi gelandang membuat Pereira bisa kembali angkat kaki dari Old Trafford. Apalagi, ia sepertinya tak masuk dalam skema permainan Solskjaer.

 

David De Gea

Penampilan De Gea terus mengalami penurunan selama 3 musim terakhir. Selain itu, masalah utama dari kiper Spanyol itu sejatinya bukan performanya, namun beban gaji yang harus ditanggung Manchester United untuk membayar jasa De Gea. Diketahui, De Gea masih tercatat sebagai kiper dengan bayaran termahal di dunia.

Kiper 30 tahun itu menerima gaji sebesar 19,5 juta pounds per tahun. De Gea juga menjadi pemain dengan bayaran tertinggi di Manchester United. Solskjaer masih dilema soal kiper utama MU musim depan. Namun, melepas De Gea ke klub lain akan sedikit mengurangi beban finansial klub. Apalagi penampilannya di final Liga Europa kemarin mendapat banyak kritik negatif.

 

Nemanja Matic

Meski masih sering tampil, Matic santer dikabarkan masuk daftar jual MU. Menurut Sky Sports, pihak Setan Merah telah mematok harga sebesar 8,6 juta poundsterling untuk gelandang 32 tahun itu. Salah satu klub yang tertarik merekrut Matic adalah AS Roma yang kini dilatih Jose Mourinho, manajer yang dulu memboyong Matic ke MU pada 2017 silam.

 

Paul Pogba

Desas-desus soal penjualan Pogba sejatinya sudah terjadi sejak beberapa musim lalu. Pogba yang menerima gaji 290 ribu pounds perpekan adalah pemain dengan bayaran tertinggi kedua di MU setelah De Gea. Beban gaji yang tinggi dan ulah sang agen di tiap bursa transfer tentu sangat tidak menyenangkan untuk MU.

Apalagi, Pogba hanya punya sisa kontrak hingga Juni 2022. Hingga kini pembicaraan soal perpanjangan kontrak belum menemui kata sepakat. Tentu akan sangat merugikan bila Pogba dibiarkan pergi secara gratis di musim depan. Rumornya, Raiola tengah menjajaki kepulangan Pogba ke Juventus di musim panas ini.

Selain nama-nama tadi, Manchester United juga santer dikabarkan tak memperpanjang kontrak 4 pemain yang kontraknya habis di akhir musim ini. Mereka adalah Joel Pereira, Sergio Romero, Lee Grant, dan Juan Mata yang kemungkinan besar dilepas secara gratis.

Ole Gunnar Solskjaer Butuh 2-3 Pemain Baru

Dana yang didapat dari hasil penjualan pemain akan dipakai MU untuk membeli beberapa pemain baru. Pasalnya, Ole Gunnar Solskjaer sendiri telah mengkonfirmasi bahwa dirinya menginginkan 2 hingga 3 pemain baru datang ke Old Trafford untuk memperkuat tim di musim panas ini.

“Kami perlu melakukan yang lebih baik dan bekerja lebih keras, lebih pintar, tetapi dua atau tiga pemain [diperlukan] untuk memperkuat starting XI dan skuat secara keseluruhan”, kata Ole Gunnar Solskjaer kepada The Times dikutip dari unitedinfocus.com

Dengan adanya sosok John Murtough sebagai direktur olahraga dan Darren Flatcher sebagai direktur teknik, tentu akan mempermudah langkah Manchester United dalam merekrut pemain baru sekaligus mempermudah pekerjaan Ole Gunnar Solskjaer di bursa transfer pemain.

Sejauh ini, ada 4 nama yang santer dikabarkan jadi incaran MU. Di sektor bek ada nama bek muda Villarreal, Pau Torres. Solskjaer disebut sangat menyukai gaya main Torres. Dilansir dari The Guardian, Villarreal mematok harga 30 juta euro untuk bek timnas Spanyol itu.

Sebelumnya, MU juga disebut mengincar bek Real Madrid, Raphael Varane. Tetapi, harganya yang mencapai 60 juta euro akan mempersulit langkah MU merekrut bek 28 tahun itu. Namun, dengan kontrak Varane yang akan habis tahun depan dan hubungannya yang kurang harmonis dengan Carlo Ancelotti akan sedikit memberi harapan kepada Setan Merah.

Sementara di sektor gelandang, MU dikabarkan juga masuk dalam perburuan gelandang West Ham United, Declan Rice. The Hammers disebut tak berniat menjual pemainnya itu, namun bila ada klub yang menawar hingga 100 juta euro, mereka disebut siap melepas Rice ke klub lain.

Selain itu, MU disebut masih terdepan dalam merekrut Jadon Sancho dari Borussia Dortmund. Setan Merah siap kembali menawar Sancho yang sudah didekati sejak musim panas lalu. Dana besar sudah disiapkan Setan Merah untuk menebus pemain 21 tahun itu.

Namun yang pasti, terlepas dari segala rumor yang beredar, MU telah berhasil mendatangkan kiper baru di bursa transfer musim panas ini. Dia adalah Tom Heaton yang didatangkan secara gratis setelah kontraknya habis bersama Aston Villa. Menurut penuturan Fabrizio Romano, Heaton akan segera menjalani tes medis dan menandatangani kontrak hingga Juni 2023 plus opsi perpanjang satu tahun.

Tom Heaton sendiri merupakan mantan produk akademi Manchester United. Kiper 35 tahun itu pernah menimba ilmu di tim muda Setan Merah pada tahun 2000-2005. Terlepas dari siapa kiper utama MU musim depan, hadirnya Heaton sebagai kiper veteran akan sedikit memberi ketenangan dan pengalaman di jajaran penjaga gawang MU.

Bila Ole Gunnar Solskjaer mendapat semua incarannya di bursa transfer musim panas ini, apakah Manchester United dapat mengakhiri puasa gelarnya?

***
Sumber Referensi: Detik Sport, United In Focus, ManchesterEveningNews, The Guardian, Daily Mail

Gianluigi Donnarumma: Ketika Uang Lebih Berarti Ketimbang Kesetiaan

Masih berusia muda, penuh talenta, dan banyak tim besar yang sangat menginginkannya. Itulah gambaran dari seorang Gianluigi Donnarumma. Kiper muda asal Italia yang resmi lanjutkan generasi emas penjaga gawang yang dimiliki Negeri Pizza.

Masih teringat jelas dalam ingatan, ketika pelatih Sinisa Mihajlovic memberi seorang Donnarumma kesempatan tampil di tim utama AC Milan. Mihajlovic, yang merupakan sosok yang menukangi Milan dari Juni 2015 hingga April 2016, merupakan pelatih yang memang banyak orbitkan para bintang muda.

Donnarumma yang jadi salah satunya diberi kesempatan oleh Mihajlovic ketika eks pelatih Sampdoria itu rela membangkucadangkan kiper Diego Lopez di laga kontra Sassuolo. Saat itu, Donnarumma masih berusia 16 tahun dan menjadi salah satu pemain termuda yang melakoni debut di kompetisi Serie A.

Sejak saat itu pula, benih seorang bintang mulai terlihat dalam dirinya. Donnarumma resmi menyegel tempat utama menyusul penampilannya yang sangat luar biasa. Bahkan, boleh dikatakan bila Milan mendapat untung besar karena bisa memiliki kiper sehebat Donnarumma di usia yang masih sangat muda.

Drama Transfer Donnarumma Sudah Terjadi Sejak 2017

Sayangnya, kisah cinta Donnarumma kepada Milan tak sampai berujung ke pelaminan. Dia memang telah memberikan banyak sekali momen penting bagi Milan. Akan tetapi, karena ada satu sosok bernama Mino Raiola, yang tak lain dan tak bukan adalah agen nya, Donnarumma menjelma menjadi sosok mata duitan.

Baru diorbitkan menjadi bintang dan sudah diberi kesempatan tampil di tim utama, Milan yang menginginkan dirinya untuk tinggal lebih lama malah terus mendapat penolakan.

Pada Juni 2017, Milan berniat memberikan Donnarumma kontrak jangka panjang. Milan sudah terlanjur senang dan berniat untuk melanjutkan petualangan cintanya bersama sang penjaga gawang. Namun apa yang terjadi sungguh berada di luar dugaan. Melalui Mino Raiola yang memang dikenal rakus dan kejam, Donnarumma sangat sulit untuk membubuhkan tanda tangan.

Ketika itu, dia bahkan sempat berniat untuk tidak memperpanjang kontrak dengan Milan. Milan ketika itu tak tinggal diam, bila Donnarumma tidak segera memperpanjang kontraknya, maka klub akan memberinya jaminan bangku cadangan. Bukannya menurut, Donnarumma justru seolah melawan. Lagi-lagi, Raiola disebut sebagai dalang dari saga transfer Donnarumma.

Milan dan Raiola sempat bersitegang. Lebih gilanya lagi, sang agen yang punya banyak klien pemain bintang itu sempat ingin mengambil tindakan hukum terhadap AC Milan. Karena menyadari situasi semakin sulit, pada akhir Juni 2017, Milan ingin mengambil langkah untuk mencari kiper baru, dan meninggalkan Donnarumma dengan segala drama menyebalkan.

Puncaknya, para penggemar yang mulai terbakar amarah menumpahkan kekesalannya langsung kepada Donnarumma.

Saat sang kiper tengah melakoni laga euro U21 melawan timnas Denmark, setumpuk uang palsu dihamburkan ke arah gawang Donnarumma. Wasit bahkan sampai harus menghentikan pertandingan sejenak untuk menyingkirkan uang-uang tersebut. Hal itu bisa dikatakan sebagai salah satu momen paling kelam dan memalukan bagi Donnarumma. Namun apa mau dikata, penggemar sudah merasa kesal karena klub kecintaan nya terus dipermainkan oleh pemain yang bahkan belum pantas disebut legenda.

Setelah drama pada tahun 2017 tak kunjung temui titik terang, manajemen Milan mencoba kembali bersabar dengan berusaha keras untuk membujuk Donnarumma dan Raiola agar mau melanjutkan kerjasama. Akhirnya, Donnarumma angkat bicara dan menyatakan kesediaannya untuk bertahan.

Jadilah pada 11 Juli 2017, Donnarumma resmi menandatangani kontrak selama empat tahun bersama Milan. Namun tetap saja, dalam perjanjian itu terdapat catatan yang sebenarnya kurang disukai oleh para penggemar. Yaitu, Milan dipaksa merekrut kakaknya, Antonio Donnarumma, dari Asteras Tripoli, yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh klub.

Yang paling menggelegar tentunya, Donnarumma meminta gaji sebesar 6 juta euro per tahun, yang mana itu menjadikannya sebagai pemain dengan gaji termahal di Milan. Menurut laporan Sportek, Zlatan Ibrahimovic dan Simon Kjaer yang menjadi pemain dengan gaji termahal kedua di klub hanya menerima sebesar 4 juta euro per tahun.

Drama Baru Kembali Terjadi

Setelah empat tahun berlalu, ternyata Donnarumma masih belum juga belajar dari pengalaman. Padahal, para penggemar sudah memaafkannya. Dia juga mampu tampil gemilang di bawah mistar dan semakin pantas disebut sebagai salah satu kiper terbaik di dunia.

Namun apa daya, saat ini kontraknya sudah habis dengan Milan. Dia mengaku tidak ingin memperpanjang kontraknya di klub dan meminta pergi. Bila Milan masih menginginkannya, Donnarumma meminta gaji yang mencapai 10 juta euro per musim, sekaligus memberi komisi kepada Raiola sebagai agen sebesar 20 juta euro.

Milan tidak langsung mengiyakan permintaan tersebut. Mengingat banyak klub-klub Eropa yang tengah alami masalah finansial di masa pandemi, Milan sebetulnya sempat menawarkan gaji sebesar 8 juta euro per musim kepada Milan. Jumlah yang terbilang lebih dari cukup untuk membuat Donnarumma jadi kiper dengan gaji termahal di kompetisi Serie A.

Namun apa responnya? Donnarumma menolak seolah tidak menghargai perjuangan Milan yang memang ingin mempertahankannya.

Tak butuh waktu lama. Maldini yang kini duduk di manajemen Milan tak mau membiarkan bocah kurang ajar seperti Donnarumma mempermainkan klub yang telah banyak ciptakan sejarah. Pada titik ini, banyak penggemar yang sangat mengapresiasi kinerja Maldini karena begitu tegas dalam memberi pelajaran bagi Donnarumma.

Maldini secara terbuka mengatakan bahwa Milan akan membiarkan Donnarumma pergi, dengan status bebas transfer sekalipun. Pasalnya seperti diketahui, kontrak Donnarumma telah habis pada akhir musim ini.

“Aku pikir kami harus berterima kasih kepada semua pemain yang berkontribusi pada musim luar biasa ini,”

“Donnarumma adalah seorang pemimpin dan seringkali menjadi kapten. Namun sebagai seorang profesional, seseorang harus siap untuk menghadapi segala sesuatu. Selalu ada saja mereka yang ingin mengambil jalan yang berbeda,”

“Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya,” ucap Maldini.

Langkah tersebut memang sengaja diambil oleh Maldini, karena dia tidak ingin perkara “remeh” seperti ini mengganggu kestabilan tim.

Seperti yang sudah disinggung di awal, langkah Maldini tersebut mendapat banyak dukungan, tak terkecuali dari Alessandro Nesta, yang punya darah Milan dalam karir sepakbolanya.

“Donnarumma bisa saja menjadi legenda Milan. Menolak gaji sebesar 8 juta di usia 22 tahun merupakan sikap yang sangat tidak terpuji. Maldini telah mengambil keputusan yang tepat. Proyek Milan akan terus berjalan mengingat disana ada Maldini. Aku harap Milan kembali berjaya di Eropa,” ucap Nesta.

Selain itu, dukungan juga datang dari Costacurta yang bahkan berani mengatakan bila Donnarumma hanya peduli dengan rekening pribadinya. Padahal, ada banyak sekali pendukung dan klub itu sendiri yang sudah rela memberikan segalanya.

Sudah Datangkan Pengganti

Dalam hal ini, Paolo Maldini memang layak mendapat pujian tinggi. Di tengah kabar yang menyebut bila Donnarumma bakal hengkang, Maldini langsung bergerak cepat untuk mencari pengganti kiper asal Italia tersebut.

Maldini yang terus memantau nama Mike Maignan dari Lille, langsung membawa kiper asal Prancis tersebut ke San Siro, bahkan sebelum Donnarumma resmi mendapatkan klub barunya.

Mike yang berhasil membawa Lille memutus dominasi Paris Saint Germain di Ligue One Prancis, hanya butuh 15 juta euro saja untuk mau dibawa ke kota Milan. Selain itu, il Diavolo juga langsung mengikat sang kiper sampai lima tahun kedepan, atau sampai 2026 mendatang.

Kedatangan Mike yang dianggap cepat dari perkiraan sempat membuat Donnarumma terkejut. Dia tidak menyangka bila Milan telah menyiapkan pengganti dirinya secepat ini.

Mike sendiri bukan kiper yang bisa dipandang sebelah mata. Dia merupakan kiper dengan statistik luar biasa di lima liga top Eropa. Dia tercatat sebagai kiper dengan jumlah clean sheet terbanyak, yaitu sebanyak 21 kali, diatas Ederson, Oblak, Courtois, dan juga Mendy. Malah, dia berhasil menempati posisi ketiga dalam daftar kiper dengan persentase penyelamatan terbanyak.

Dalam sisi lainnya, Mike yang kini berusia 25 tahun juga hanya memiliki gaji sebesar 2,8 juta euro per tahun. Bandingkan dengan Donnarumma yang meminta sebesar 10 juta per musim. Lebih lanjut, Mike tidak memiliki agen super mengesalkan seperti Donnarumma.

Dengan kualitas jempolan dan gaji yang masih sangat terjangkau, Maldini telah melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia mengetahui betul warisan yang diberikan para pendahulunya di Milan. Oleh karena itu wajar bila dia tidak ingin membiarkan klub yang juga telah membesarkan namanya itu dirusak oleh pemain muda yang diperalat oleh agen mengesalkan.

 

Bagaimana Chelsea Meredam Perlawanan City Di Final Liga Champions Eropa?

Chelsea baru saja mengukir sejarah setelah mereka keluar sebagai juara di kompetisi Liga Champions Eropa. Trofi yang didapat usai kalahkan tim senegara, Manchester City, dengan skor 1-0 ini membuat mereka kini mampu kumpulkan dua trofi Liga Champions Eropa. 

Chelsea berhasil mengejutkan banyak pihak, setelah sebelumnya kebanyakan penggemar sepakbola menaruh nama Manchester City dalam daftar juara. Di atas kertas, memang lebih banyak yang mengunggulkan City ketimbang Chelsea. Padahal sejatinya, kedua tim sama-sama punya kekuatan yang luar biasa hebat. Kedua tim ini merupakan penguasa di grup masing-masing. City memuncaki Grup C, Sementara Chelsea berhasil menempati posisi pertama di Grup E. Keduanya juga berhasil mencetak lebih dari 10 gol dalam total enam pertandingan.

Berlanjut ke fase gugur, dalam enam laga yang harus dihadapi, City mencetak nilai expected goals (xG) sebesar 9,74. Sementara, Chelsea memiliki nilai (xG) sebesar 11,27. Meski peluang yang didapat lebih banyak Chelsea, penyelesaian akhir mampu dimenangkan oleh City, dimana mereka sukses mencetak 12 gol, berbanding delapan yang berhasil dicetak Chelsea. 

Bila dilihat dari peluang yang didapat, City terlihat lebih garang dalam menuntaskan peluang ketimbang rivalnya di final. Namun jangan salah, di sisi lain, Chelsea unggul dalam urusan bertahan. Meski secara statistik nilai expected goals against (xGA) City adalah 4,26 dan Chelsea sebesar 4,76, Chelsea menjadi tim yang lebih tangguh dengan hanya kebobolan dua gol. Sementara itu, City kebobolan satu gol lebih banyak. 

Maka dari itu, cukup adil mengatakan bila sebetulnya Chelsea dan City sama-sama punya kekuatan luar biasa. Apalagi, lawan yang dihadapi kedua tim relatif berat. Mereka harus berjuang keras untuk bisa sampai ke partai puncak. 

Lantas apa yang akhirnya membuat Chelsea mampu meredam permainan Manchester City yang terbilang superior musim ini?

Keberadaan Thomas Tuchel

Keberhasilan Chelsea pada musim ini tak lepas dari peran penting Thomas Tuchel. Tidak bisa dipungkiri bila keberadaan Tuchel memberi pengaruh luar biasa pada kembalinya performa hebat Chelsea. Sejak ditunjuk untuk menggantikan Frank Lampard, Tuchel mampu mengemban tanggung jawab dengan sangat baik. Bermandikan pemain-pemain muda potensial, Tuchel berhasil melibas 14 pertandingan awal sebagai pelatih the Blues. Meski sempat tumbang di tangan West Brom, Tuchel berhasil meredam perlawanan Manchester City dalam dua pertandingan sekaligus, sebelum kembali bertanding melawan mereka di final Liga Champions Eropa. 

Memulai karir dengan memahami taktik Ralf Rangnick, gaya bermain gegenpressing lekat pada dirinya. Terlihat kerap menggunakan formasi tiga bek, Tuchel banyak memanfaatkan peran pemain sayap untuk melakukan serangan balik dan memanfaatkan celah di lini pertahanan tim lawan, meski pelatih asal Jerman itu tetap tidak meninggalkan permainan umpan pendek antar pemain. 

Selain itu, visi bermain yang tak kenal lelah juga berhasil dikombinasikan dengan counter-pressing yang dapat timnya lakukan saat tidak menguasai bola. Hal itu pula yang diterapkannya di laga final melawan Manchester City. 

“Kami mendorong semua orang untuk maju dan keluar, menjadi lebih berani dan membuat serangan balik yang berbahaya.”

“Itu adalah pertandingan fisik yang berat. Kami harus membantu satu sama lain,”

Secara umum, Tuchel telah memberi banyak perubahan di skuad Chelsea, sejumlah nama yang sebelumnya tampil melempem, kini mampu bertanding lebih percaya diri. Sebut saja Kai Havertz, Hakim Ziyech, Thiago Silva. Lalu, ada nama Edouard Mendy yang singkirkan Kepa di bawah mistar. 

Lalu masih ada pula nama Jorginho, Christian Pulisic, Andreas Christensen, dan Timo Werner, yang sempat jadi bahan cemoohan di era Frank Lampard. Bersama Tuchel, potensi para pemain tersebut bisa berkembang lebih maksimal dan mulai bisa kembali diandalkan.

Di partai final melawan City, nama pemain yang disebutkan sukses tampil mengesankan.

Lini Pertahanan Yang Kokoh

Seperti yang sudah disinggung di awal, Chelsea unggul dalam memanfaatkan lini pertahanan ketimbang Manchester City. Bersama Tuchel, Chelsea sudah berhasil meraih 20 kemenangan, enam hasil imbang, dan lima kekalahan. Dari seluruh pertandingan di semua kompetisi itu, Tuchel berhasil membawa Chelsea mencetak 39 gol dan hanya kebobolan sebanyak 16 gol saja. Kekalahan terbesar didapat pada laga melawan West Brom dimana mereka kalah dengan skor 2-5. 

Di partai final ini sendiri, menggunakan formasi tiga bek dan dibantu dengan dua pemain sayap, Chelsea tampil begitu luar biasa. Nama Cesar Azpilicueta, Thiago Silva, dan Antonio Rudiger, tampil sangat brilian. Meski harus diakui bila Mendy juga tampil apik, Rudiger yang berdiri di lini pertahanan patut diacungi jempol. Pemain tersebut mampu mematahkan beberapa peluang yang diciptakan Manchester City.

Menurut catatan who scored, dia berhasil melakukan dua tekel sukses dan dua kemenangan duel udara. Satu hal yang diingat adalah ketika dia berhasil memblok peluang bersih Raheem Sterling. Selain itu, meski mendapat banyak kritik, dia mampu menumbangkan pergerakan Kevin De Bruyne yang berbahaya. Tidak jarang juga dia keluar dari sarang untuk memberi tekanan kepada lawan.

Berikutnya ada Thiago Silva yang meski dipaksa keluar pada menit ke 39 karena cedera, tetap melakukan tugasnya dengan sangat baik. Dia mampu mengorganisir lini pertahanan Chelsea agar tetap aman dan melakukan penyelamatan terhadap pergerakan berbahaya Phil Foden. Gantinya, Andreas Christensen sukses menutup lubang yang ditinggalkan Silva. Dia bermain sangat cemerlang dan sukses membuat siapapun terkesan dengan sejumlah penyelamatan penting. 

Satu nama yang tak boleh tertinggal tentu Cesar Azpilicueta. Sesekali maju kedepan untuk meringankan tugas Kante dan Jorginho, Azpilicueta tetap menjadi pemain seperti biasanya. Kokoh dan tak tergantikan di lini belakang the Blues.

Dari sisi lapangan, Reece James benar-benar tampil kesetanan di laga final. Dia menjadi pemain  yang ciptakan 7 takel dan 5 sapuan sepanjang laga, dimana catatan itu menjadi yang terbanyak di antara pemain lain. 

Sementara di sisi seberang, Ben Chilwell juga sukses memainkan laga yang layak disebut sebagai salah satu yang terbaik darinya pada musim ini. Dia mampu meredam serangan yang dilancarkan City melalui Riyad Mahrez sekaligus melakukan beberapa takel penting.

Lini Tengah Yang Solid

Selain lini pertahanan yang kokoh, komposisi pemain the Blues Chelsea juga semakin berbahaya dengan adanya pemain dengan mobilitas tinggi seperti N’Golo Kante. Pria Prancis yang beroperasi di lini tengah itu sukses membuat semua penonton terkesima.

Kante disebut sebagai pemain brilian karena berhasil mematahkan poros permainan City, yang dihuni oleh Gundogan hingga Kevin de Bruyne. Kante secara brilian mampu mengganggu para pemain City dan dan menggagalkan serangan dengan intersepsi yang cerdik. 

Seperti biasa, dia tidak pernah bisa diam dan selalu sibuk menggagalkan serangan lawan. Satu momen krusial yang diciptakan tentu saat dirinya melakukan tekel ada Kevin De Bruyne di awal babak kedua.

Sepanjang pertandingan melawan the Citizens, Kante berhasil menciptakan satu umpan kunci, 85,3% umpan sukses, 2 sapuan bersih, 7 kemenangan duel, 3 tekel sempurna, dan 2 intersep. Di laga itu, tidak ada juga pemain yang berhasil melewati dirinya.  

Kontribusinya di lini tengah semakin sempurna ketika ia mampu bekerja sama dengan Jorginho. Pemain berkebangsaan Italia itu mampu tampil tenang dan menjadi penghubung yang baik antar lini. Dia tampil nyaris tanpa kesalahan hingga membuat lini tengah the Blues terlihat sangat solid.

Serangan Efektif

Di garis yang lebih maju ke depan, terdapat nama Mason Mount, yang kita tahu juga tak kalah brilian di pertandingan melawan Manchester City. Dia bahkan menjadi pemain asal Inggris pertama yang menciptakan assist di laga final Liga Champions Eropa, setelah terakhir kali Wes Brown melakukannya pada 2008 silam. 

Mason Mount dengan cerdas mengirim umpan kepada Kai Havertz, untuk kemudian pemain asal Jerman tersebut membuktikan mengapa Chelsea harus mengeluarkan dana besar untuk mendatangkannya ke Stamford Bridge. 

Dari gol yang dicetak oleh Havertz pada menit ke 42, nama Werner layak mendapat apresiasi. Meski digantikan Pulisic pada menit ke 65, pergerakannya yang membuat Ruben Dias menjauh berhasil mempermudah Havertz untuk menciptakan gol kemenangan bagi Chelsea di laga itu.

Secara keseluruhan, permainan yang dilakukan Chelsea terbilang efektif. Manchester City dominan, namun Chelsea lebih efektif dalam memaksimalkan peluang. Hal itu terbukti dari banyaknya percobaan yang dilakukan City untuk menyamakan kedudukan, namun tidak ada satupun gol yang bersarang di gawang Mendy.

Kesalahan Pep Guardiola

Selain permainan Chelsea yang begitu brilian, tidak bisa disangkal bila kesuksesan mereka di laga final juga tak lepas dari kesalahan yang dilakukan oleh Pep Guardiola. Pelatih asal Spanyol tersebut sudah menghabiskan sebanyak 1,2 miliar dollar untuk mendatangkan pemain ke Etihad Stadium. Akan tetapi, dia masih juga belum mampu memberi trofi Liga Champions Eropa untuk klub yang berbasis di kota Manchester. 

Setelah sempat membuat City tampil lebih sabar dan tak terburu-buru pada musim ini, di pertandingan final, Pep Guardiola justru kembali membuat City bermain cepat. 

Di laga itu, Pep menurunkan Gundogan karena dinilai cepat dalam menyuplai bola dan menemukan ruang kosong. Namun sayangnya, skema permainan Chelsea justru membuat sang pemain sulit menemukan ruang. Para pemain belakang ikut membantu Kante dan Jorginho dalam meredam lini tengah City. Seperti Rudiger yang terkadang keluar dari sarang dan juga Azpilicueta yang tak kalah sigap dalam menutup serangan City dari lini tengah. 

Lebih lanjut, menempatkan Sterling di sisi kiri dan memainkan Foden lebih ke belakang dengan tujuan mengincar sisi kanan Chelsea juga tak berhasil temui sasaran. Foden yang belakangan sebetulnya tampil lebih baik kala ditempatkan di sisi kiri hanya mampu ciptakan 1 dribel sukses dan 1 tembakan, tanpa pernah melakukan umpan kunci.

Selain itu, Sterling yang ciptakan dua tembakan juga gagal melakukan umpan sukses dan umpan kunci.

Kegagalan rencana Pep Guardiola yang tampak ingin lebih cepat melakukan serangan di sisi kanan Chelsea hancur oleh kedisiplinan yang ditunjukkan Azpilicueta dan Reece James. 

Guardiola kehilangan magis, City kehilangan kreativitas. 

Di laga final melawan Chelsea, the Citizens cuma melepas tujuh tendangan dengan sekali mengarah ke gawang dan menciptakan lima umpan kunci. Lebih dari itu, mereka juga hanya menciptakan peluang sebesar 0,52, dimana itu menjadi yang terkecil dari seluruh laga yang dilakoni pada musim ini.

 

Generasi Emas Belgia Memburu Trofi EURO 2020

Semenjak tersingkir secara memalukan di EURO 2000 dan gugur di babak 16 besar Piala Dunia 2002, tim nasional Belgia kembali ke turnamen akbar dunia dengan generasi emasnya di Piala Dunia 2014. Julukan tersebut merujuk pada penggawa timnas Belgia yang jadi andalan di klub-klub besar liga top Eropa dan punya nilai pasaran yang tegolong mahal.

Hasilnya, mereka melaju hingga babak perempat final di Piala Dunia Brasil sebelum disingkirkan Argentina. Perjuangan generasi emas Belgia kembali berlanjut di EURO 2016. Lagi-lagi, langkah mereka harus terhenti di babak perempat final setelah dijegal Wales.

Pencapaian buruk itulah yang membuat Asosiasi Sepak Bola Kerajaan Belgia memecat Marc Wilmots dari kursi pelatih dan menggantinya dengan Roberto Martinez. Hasilnya, timnas Belgia tampil luar biasa ditangan mantan pelatih Everton itu. Sejak dipegang Martinez, timnas Belgia hanya 4 kali tersentuh kekalahan selama 54 laga. Maka tak heran bila Belgia ditempatkan sebagai favorit juara di EURO 2020.

Mereka datang sebagai salah satu unggulan yang sangat difavoritkan. Bukan tanpa sebab, sejak Oktober 2018 hingga Mei 2021, Belgia belum pernah tergusur dan selalu bertengger di peringkat 1 FIFA. Tim berjuluk The Red Devils ini juga datang ke EURO 2020 dengan modal yang sangat meyakinkan. Anak asuh Roberto Martinez lolos ke Piala Eropa tanpa tersentuh kekalahan di babak kualifikasi. Dalam 8 laga terakhir, Belgia juga sukses memetik 6 kemenangan.

Untuk menghadapi EURO 2020, Roberto Martinez telah memanggil sebanyak 26 pemain terbaik pilihannya. Yang menjadi istimewa, skuad The Red Devils di ajang Piala Eropa tahun ini masih didominasi para generasi emas yang menghuni timnas Belgia sejak Piala Dunia 2014, EURO 2016, dan Piala Dunia 2018.

Daftar Lengkap Skuad Timnas Belgia di EURO 2020

Sebanyak 11 pemain alumni Piala Dunia 2014 masih dipertahankan Roberto Martinez. Mereka adalah Thibaut Courtois, Toby Alderweireld, Thomas Vermaelen, Jan Vertonghen, Axel Witsel, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, Eden Hazard, Simon Mignolet, Dries Mertens, dan Nacer Chadli.

Martinez juga masih membawa nama-nama seperti Yannick Carrasco, Jason Denayer, Thomas Meunier, Christian Benteke, dan Michy Batshuayi yang debut di EURO 2016. Sementara dari skuad Piala Dunia 2018 ada Leander Dendoncker, Dedryck Boyata, Youri Tielemans, dan Thorgan Hazard.

Terakhir, 6 tempat tersisa untuk melengkapi kuota pemain maksimal di EURO 2020 diberikan kepada para debutan di turnamen besar. Mereka adalah Matz Sels, Timothy Castagne, Dennis Praet, Hans Vanaken, Jeremy Doku, dan Leandro Trossard.

Menilik dari data transfermarkt, skuad Belgia di EURO tahun ini punya total nilai pasaran sebesar 669,40 juta euro. Menariknya lagi, dari 26 pemain, hanya 2 pemain yang tercatat membela klub Liga Belgia. Sisanya, yakni sebanyak 24 pemain berkompetisi di luar Belgia dan membela klub top eropa, terutama Liga Primer Inggris.

Taktik dan Formasi

Di bawah asuhan Roberto Martinez, Belgia sangat konsisten dengan formasi dasar 3-4-3 atau 3-4-2-1. Posisi penjaga gawang tentu jadi milik Thibaut Courtois. Kiper Real Madrid itu masih jadi salah satu kiper terbaik dunia. Ia adalah peraih gelar kiper terbaik Piala Dunia dan kiper terbaik FIFA tahun 2018. Musim ini saja, Courtois telah membuat 90 penyelamatan dan 17 clean sheets bersama El Real.

Di depannya, para veteran seperti Alderweireld dan Vertonghen diyakini bakal jadi starter dan mengapit Jason Denayer yang tampil apik bersama Lyon. Di posisi gelandang tengah, Axel Witsel diyakini akan berduet dengan Youri Tielemans yang tampil impresif dan berhasil membawa Leicester City menjuarai FA Cup.

Di sisi sayap, nama Thomas Meunier dan Thorgan Hazard difavoritkan untuk menjaga lebar lapangan sekaligus aktif membantu serangan dan pertahanan. Bila tak cukup efektif, Belgia masih punya Nacer Chadli yang jadi pahlawan saat mengalahkan Jepang di babak 16 besar Piala Dunia 2018 dan Yannick Carrasco yang membantu Atletico Madrid juara La Liga.

Sementara itu, Romelu Lukaku masih akan jadi andalan utama dan ujung tombak timnas Belgia. Lukaku baru saja dinobatkan sebagai MVP Serie musim ini berkat penampilan impresifnya yang mampu menyumbang 24 gol dan 11 asis untuk Inter Milan.

Untuk melengkapi trisula maut Belgia, Kevin de Bruyne dan Eden Hazard diyakini tetap akan jadi penyuplai Romelu Lukaku. Bila de Bruyne dan Hazard tidak fit tepat waktu, Martinez masih punya Dries Mertens, Jeremy Doku, atau Leandro Trossard yang belakangan tampil begitu ganas bersama Brighton.

3 Masalah Timnas Belgia Jelang EURO 2020

Namun, bila menilik skuad yang dibawa Roberto Martinez, ada 3 masalah yang tengah jadi isu hangat jelang bergulirnya EURO 2020. Pertama, daftar bek yang dipanggil Roberto Martinez dinilai kurang meyakinkan.

Belgia membawa 4 bek tengah murni. 3 diantaranya sudah berusia lebih dari 30 tahun. Hanya Jason Denayer yang masih berusia 25 tahun. Yang cukup mengejutkan, Martinez masih memanggil Thomas Vermaelen yang sudah berusia 35 tahun dan kini tercatat sebagai pemain Vissel Kobe di Liga Jepang.

Padahal, Vermaelen juga baru bermain sebanyak 9 kali di J.League musim ini. Ini menunjukkan bahwa Martinez lebih mempercayakan barisan pertahanan timnas Belgia kepada para palang pintu gaek yang sudah kenyang pengalaman. Bisa jadi, EURO 2020 adalah kesempatan terakhir trio Vermaelen, Vertonghen, dan Alderweireld yang sudah berusia lebih dari 30 tahun untuk mengukir prestasi.

Isu kedua adalah kondisi fisik kapten tim, Eden Hazard. Dalam 2 musim terakhir, Hazard lebih sering diganggu cedera. Penampilannya untuk Real Madrid tak sebaik saat dirinya berseragam Chelsea. Dalam 2 musim di La Liga, Hazard tercatat hanya mencetak 4 gol dalam 30 laga.

Namun, Roberto Martinez yakin Eden Hazard dapat kembali ke level terbaiknya di turnamen musim panas ini untuk membantu perjuangan Belgia meraih kejayaan. Menurut kabar yang beredar, Hazard juga menjalani latihan individu intensif bersama timnas Belgia jelang EURO 2020.

“Dia bekerja sangat keras untuk mendapatkan kembali bentuk fisiknya. Apa yang terjadi di Real Madrid sangat tidak biasa. Dia adalah pemain yang tidak akan pernah menyerah dan ingin menjadi sangat sukses dengan timnya,” kata Roberto Martinez dikutip dari Deportes Cuatro.

Tak hanya kondisi fisik Hazard yang jadi problem Belgia. Terbaru, Kevin de Bruyne mengalami cedera di laga final Liga Champions beberapa waktu lalu. De Bruyne diketahui mengalami patah tulang hidung dan tulang orbital kiri setelah bertabrakan dengan Antonio Rudiger.

Namun, berdasarkan laporan medis terbaru, Kevin de Bruyne tak perlu menjalani operasi. Bila benar begitu, maka playmaker andalan Roberto Martinez itu bisa segera bergabung dalam skuad Belgia setelah cukup beristirahat.

“Kevin memiliki program yang berbeda dengan pemain-pemain lainnya. Dia baru akan bergabung tujuh hari kemudian karena dia bertanding dalam final Liga Champions. Kami beruntung sekali bahwa sekalipun mengalami dua tulang retak, dia tak perlu dioperasi. Operasi akan membuat dia mustahil bermain dalam Piala Eropa,” kata Martinez seperti dilaporkan laman ESPN dikutip via suara.com.

Akan tetapi, ada kabar baik bagi Roberto Martinez. Jelang EURO 2020, Thiery Henry kembali bergabung dengan staff pelatih Belgia. Mantan striker Arsenal dan timnas Prancis itu akan bertugas sebagai asisten pelatih. Bersama Henry, Roberto Martinez sukses membawa Belgia juara ketiga Piala Dunia 2018.

Lalu, bagaimana peluang para generasi emas Belgia di EURO 2020?

Menilik dari kualitas para penggawanya, wajar bila Belgia sangat difavortikan juara di Piala Eropa tahun ini. Dan menilik dari usia rata-rata pemainnya, bisa jadi EURO 2020 adalah kesempatan terakhir bagi beberapa generasi emas Belgia untuk mengukir prestasi di kancah internasional. Dengan rataan usia 29,1 tahun, bisa dibilang juga bahwa generasi emas Belgia saat ini tengah berada di usia matangnya.

Tergabung di Grup B, Belgia akan melawan tuan rumah piala dunia 2018, Rusia di pertandingan pertama pada 12 Juni. Kemudian berjumpa dengan tim dinamit Denmark pada 17 Juni dan menutup babak grup dengan melawan tim debutan Finlandia pada 21 Juni. Di atas kertas, Belgia seharusnya mampu memuncaki klasemen.

Jika jadi juara grup, mereka akan berjumpa dengan peringkat 3 dari grup A, D, E, atau F di babak 16 besar. Di fase ini, Belgia bisa saja berjumpa dengan Wales yang mengkandaskan mereka di perempat final EURO 2016. Belgia juga bisa berjumpa dengan Polandia, Swedia, Ceko, atau salah satu dari Prancis, Jerman, dan Portugal.

Babak gugur inilah yang akan jadi ujian sesungguhnya bagi para generasi emas Belgia yang memburu trofi internasional. Meski punya rekor pertandingan yang bagus dan dihuni pemain-pemain hebat, prestasi terbaik Belgia sejauh ini hanyalah juara ketiga Piala Dunia 2018. Tentu, menjadi juara di EURO 2020 akan jadi pelepas dahaga bagi The Red Devils.

Di Piala Eropa sendiri, Belgia pernah menjadi runner-up di gelaran EURO 1980. Sudah sangat lama sejak mereka menyentuh partai final. Jadi, mampukah generasi emas Belgia melampaui pencapaian terbaik para pendahulunya di EURO 1980 dan menjadi juara di EURO 2020?

***
Sumber Referensi: Goal, Suara, FourFourTwo, Squawka, Transfermarkt

Musim 2020/21 Yang Penuh Kejutan Dengan Juara Baru

Musim 2020/21 telah resmi ditutup. Liga-liga top Eropa telah resmi memunculkan juara. Musim ini terbilang sangat menarik dan penuh kejutan karena banyak dominasi yang runtuh, tak terkecuali di sejumlah liga top benua biru.

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan coba merangkum deretan kisah luar biasa, ketika liga-liga di Eropa munculkan juara baru.

Inter Milan – Serie A

Kompetisi Serie A terbilang cukup membosankan dalam beberapa tahun belakangan. Salah satu faktor yang melatarbelakanginya adalah karena Juventus yang terus menjadi juara. Si Nyonya Tua tercatat telah meraih gelar juara dalam sembilan musim beruntun. Namun pada musim 2020/21 ini, Italia sedikit memberi nafas kepada tim lainnya untuk meraih gelar juara.

Adalah Inter Milan, yang mampu runtuhkan dominasi Juventus di ajang Serie A. Mereka berhasil meraih gelar juara untuk yang ke sembilan belas kalinya, dan yang pertama sejak musim 2009/10.

Tim asuhan Antonio Conte sudah berhasil memastikan gelar juara setelah raihan 82 poin mereka sudah tidak dapat dikejar lagi oleh pesaing lainnya. Conte memang berhasil memainkan peran yang begitu luar biasa sebagai pelatih. Dia yang mengandalkan nama-nama seperti Hakimi, Lukaku, Lautaro, hingga kiper kawakan Handanovic, sukses menumbangkan segala halangan dan menutup dahaga para penggemar akan gelar juara.

Lille – Ligue One

Kali ini, Ligue One Prancis tidak lagi bercerita tentang kekuasaan Paris Saint Germain. Klub ibukota yang punya banyak pemain hebat, termasuk Kylian Mbappe dan Neymar Jr itu tunduk dan hanya duduk di posisi kedua, setelah kalah dari Lille dalam perebutan gelar juara liga.

Lille berhasil memastikan gelar juara setelah pada pertandingan terakhir, mereka mampu kandaskan perlawanan Angers dengan skor 2-1. Dua gol dari Jonathan David pada menit ke-10 dan penalti Burak Yilmaz di penghujung babak pertama hanya mampu dibalas satu gol Angelo Fulgini di akhir babak kedua.

Hasil itu membuat Lille mengoleksi sebanyak 83 poin, dan unggul satu poin dari Paris Saint Germain. Trofi ini menjadi yang keempat sepanjang sejarah bagi Lille, dan menjadi yang pertama sejak musim 2010/11, ketika Lille masih diperkuat pemain seperti Eden Hazard. Lebih dari itu, Lille juga berhasil memutus dominasi PSG yang selama ini terus menggondol trofi juara.

Dalam edisi juara kali ini, Lille pantas berterima kasih kepada nama-nama seperti Mike Maignan, kapten José Fonte, Renato Sanches, Jonathan David, dan Burak Yilmaz, yang telah tampil dengan begitu menawan untuk kemudian pantas disebut sebagai pemain kunci klub pada musim ini.

Atletico Madrid – La Liga

Seperti yang kita tahu, kompetisi La Liga begitu lekat dengan nama Real Madrid dan FC Barcelona. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, hanya terlihat dua nama itu saja yang berhasil naik ke panggung juara.

Lalu setelah Diego Simeone resmi menjabat sebagai pelatih Atletico, kompetisi La Liga tidak lagi melulu tentang Madrid dan Barca. Kini, sudah ada Atletico yang tidak pernah terlempar dari posisi tiga besar semenjak dibesut oleh Simeone. Pada musim 2020/21 ini sendiri, mereka berhasil menyelinap ke tangga juara, setelah mampu mengungguli rival sekota yang hanya duduk di tangga kedua.

Melalui taktik yang masih jitu dan pembelian brilian termasuk Luis Suarez dari FC Barcelona, laju Los Rojiblancos tak terhentikan. Meski harus berjuang sampai laga terakhir, trofi La Liga mampu dibawa pulang oleh Atletico.

Dalam sepuluh tahun terakhir, ini menjadi trofi kedua Atletico setelah pada tahun 2014 mereka juga berhasil keluar sebagai juara. Sementara sepanjang sejarah, trofi pada musim ini menjadi yang ke 11 bagi klub yang bermarkas di Wanda Metropolitano.

Rangers – Scottish Premiership

Rangers secara mengejutkan mampu memutus dominasi Celtic setelah mereka memastikan gelar juara liga pada musim ini.

Steven Gerrard yang menjadi pelatih Rangers akhirnya merasakan gelar juara liga dengan memberikan ini untuk Rangers, yang tak pernah menang dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Seperti diketahui, Rangers terakhir kali meraih gelar juara liga pada musim 200/11, ketika mereka dibesut oleh Walter Smith.

Pada awal Maret lalu, raihan 88 poin Rangers sudah mustahil untuk dikejar oleh Celtic yang baru mengoleksi sebanyak 68. Padahal saat itu, Liga Skotlandia masih menyisakan sebanyak enam pertandingan lagi. Saat kompetisi resmi berakhir, Rangers berhasil meraup 102 angka dengan 32 kemenangan dan enam hasil imbang. Hal ini lantas menunjukkan bahwa mereka tak pernah tersentuh satupun kekalahan.

Capaian ini jelas sangat luar biasa setelah muncul fakta bahwa prestasi ini baru muncul setelah 122 tahun lamanya. Hebatnya lagi, pasukan Gerrard memetik kemenangan sempurna 19 laga ketika tampil di kandang sendiri, Ibrox Stadium.

Ini jelas menjadi angin segar bagi Rangers dan bagi kompetisi Liga Skotlandia itu sendiri, yang telah dikuasai Celtic dalam waktu yang relatif lama.

Sporting CP – Primeira Liga

Klub yang telah membesarkan nama Cristiano Ronaldo, Sporting Lisbon, baru saja merayakan momen yang begitu menggembirakan. Mereka yang tampil luar biasa pada musim 2020/21 sukses tampil sebagai juara setelah duduk di tangga teratas, dengan raihan 85 poin.

Sejatinya, Sporting sudah berhasil memastikan gelar juara pada pekan ke 36 setelah mereka sukses kandaskan perlawanan Boavista dengan skor 1-0. Dengan koleksi 82 poin, langkah mereka untuk naik ke panggung juara sudah tak terbendung lagi.

Gelar ini kemudian menjadi sangat berarti bagi Sporting setelah mereka terakhir kali melakukannya pada tahun 2002 silam. Padahal, Sporting merupakan satu dari tiga tim bersama FC Porto dan Benfica yang tergolong ke dalam raksasa Portugal. Dalam 19 tahun lamanya, Sporting selalu berada dibawah bayang-bayang Porto dan Benfica, dengan catatan Porto berhasil juara sebanyak 11 kali dan Benfica sebanyak 7 kali. Beruntung pada musim ini, mereka sukses kembali menjadi penguasa Liga Portugal.

Villarreal – Europa League

Villarreal berhasil mewujudkan mimpi mereka untuk bisa dapatkan gelar mayor pertama dalam sejarah klub.

Ya, beberapa waktu lalu mereka berhasil memastikan diri sebagai peraih trofi Liga Europa setelah di partai final, klub asuhan Unai Emery itu sukses mengandaskan perlawanan Manchester United. Bermain imbang selama 120 menit lamanya, Villarreal sukses memastikan diri sebagai juara setelah unggul dengan skor 11-10.

Seperti yang sudah dijelaskan, Villarreal sukses merengkuh trofi mayor pertama mereka. Dalam sejarah klub, hanya tiga piala minor yang pernah diraih, yaitu Tercera Division (divisi keempat Spanyol) dan dua kali juara Piala Intertoto.

Lebih dari itu, mereka juga berhasil menjadi juara baru di ajang Europa League, kompetisi yang memang begitu lekat dengan nahkoda mereka, Unai Emery.

Misi Rumit Kroasia Mengulang Kejayaan Piala Dunia 2018 Di EURO 2020

Kroasia menjadi negara yang telah siap menyambut Piala Eropa 2020. Mereka yang kini tergolong sebagai negara berbahaya, tengah merajut misi untuk bisa lanjutkan kejayaan di panggung Internasional. Seperti diketahui, kita semua dikejutkan dengan kiprah timnas Kroasia pada Piala Dunia 2018 lalu, ketika mereka berhasil melaju hingga ke partai final sebelum akhirnya tumbang oleh Prancis.

Sejatinya, kekuatan timnas Kroasia memang tidak bisa diremehkan. Pada tahun 1998 lalu, mereka juga berhasil melaju hingga ke fase semifinal Piala Dunia, untuk kemudian sukses mengalahkan Belanda dalam perebutan tempat ketiga.

Di ajang Piala Eropa sendiri, prestasi terbaik mereka terjadi pada edisi 2008 ketika berhasil melaju hingga babak perempat final sebelum dikandaskan secara dramatis oleh timnas Turki. Dalam prosesnya, Kroasia berhasil kandaskan perlawanan timnas Jerman dengan skor 2-1 di fase grup. Yang tak kalah hebat, mereka juga sukses kandaskan perlawanan Spanyol di fase grup Piala Eropa 2016 untuk kemudian lolos ke babak penyisihan.

Kini, setelah lebih dari 10 tahun lamanya, Kroasia kembali memasang nama di tempat tertinggi. Berstatus sebagai runner up Piala Dunia, sekali lagi, misi lanjutkan kejayaan masih terus tertata di kepala setiap penggawa.

Persiapan Yang Matang

Dalam menyambut Piala Eropa 2020, Kroasia menjadi tim yang sudah mempersiapkannya dengan cukup baik. Mereka tampil memukau di babak kualifikasi dengan hanya menelan satu kekalahan dan menempati posisi pertama klasemen. Secara mengejutkan, Kroasia kalah atas Hungaria dan sempat meraih hasil imbang ketika bertemu Wales di Cardiff. Kroasia total berhasil mengumpulkan sebanyak 17 poin, hasil lima kemenangan, dua kali imbang, dan sekali kalah. Negara dari kawasan Balkan tersebut unggul tiga poin dari rival terdekat, Wales, yang duduk di peringkat kedua.

Pada pertandingan-pertandingan selanjutnya pasca kualifikasi, Kroasia tampil cukup mengkhawatirkan dimana mereka tumbang atas Prancis dan Portugal, untuk kemudian mampu mengamankan poin penuh pada pertandingan melawan Swiss dan Swedia. Meski mereka telah menelan sebanyak enam kekalahan, penampilan Kroasia tidak lantas bisa dibilang buruk. Mereka masih cukup kompeten, dan yang terpenting, terus memperbaiki kekurangan pada lini tertentu.

Skuad dan Pelatih Ideal

Pada edisi Piala Eropa 2020 ini, Kroasia masih banyak menggunakan pemain yang berjaya di Piala Dunia 2018. Mereka mengkombinasikan antara pemain berpengalaman dan pemain muda. Skuad yang dibawa pun terbilang banyak yang dikenal dunia.

Di posisi penjaga gawang, terdapat nama Dominik Livakovic yang tampil apik bersama Dinamo Zagreb dimana dia mampu mengemas 15 clean sheet musim ini, dan ditemani oleh Lovre Kalinic dan Simon Sluga. Di lini pertahanan masih ada nama populer seperti Dejan Lovren, Sime Vrsaljko, Domagoj Vida, Borna Barisic, dan juga Domagoj Bradaric.

Nama Lovren masih disebut sebagai pemain terbaik di lini pertahanan Kroasia, setelah dirinya yang tampil apik bersama Zenit Saint Petersburg mampu membawa klub tersebut memuncaki klasemen liga Rusia.

Di lini tengah, seperti yang kita tahu, nama Luka Modric masih mendominasi. Meski usianya sudah tergolong tua, dia tetap dianggap sebagai pemain penting yang akan menjadi pemimpin dari nama-nama seperti Mario Pasalic, Mateo Kovacic, Marcelo Brozovic sampai Nikola Vlasic.

Jangan lupakan pula penggawa Internazionale Milano, Ivan Perisic, yang pada akhirnya sukses jadi pemain yang membuka lembar baru klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza pada musim ini.

Dengan deretan pemain tersebut, lini tengah Kroasia pada gelaran Piala Eropa nanti akan penuh dengan kreativitas dan daya ledak tinggi.

Untuk pemain yang berada di garda terdepan, kita akan disuguhkan dengan permainan ciamik Andrej Kramaric yang sukses menceploskan 19 gol dari 27 penampilan bersama Hoffenheim di kompetisi Bundesliga musim ini. Jangan tinggalkan juga duo Zagreb Mislav Oršić dan Bruno Petkovic. Yang tak kalah penting adalah nama Ante Rebic, yang kita tahu begitu tampil apik bersama raksasa Italia, AC Milan dalam dua musim belakangan.

Semua pemain bertalenta itu akan tunduk pada arahan pelatih Zlatko Dalic, yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Zlatko Dalic sudah ditunjuk menjadi pelatih Kroasia sejak tahun 2017 silam. Artinya, ini akan menjadi debut kepelatihannya di turnamen terakbar antar negara-negara Eropa.

Meski minim pengalaman di ajang Internasional, nama Zlatko Dalic sudah cukup populer dengan raihan partai final di Piala Dunia. Dengan prestasi tersebut, Dalic tentu ingin menunjukkan pada dunia bahwa dia memiliki ambisi besar untuk membawa timnas Kroasia terbang tinggi.

Lebih lanjut, berkat organisasi dan manajemennya yang sangat luar biasa, dia mampu membentuk timnas Kroasia sebagai tim yang terus berkembang.

Taktik

Bersama Dalic, Kroasia dipercaya tidak akan meninggalkan skema 4-1-4-1. Dia akan menempatkan tiga gelandang sentral, yang kemudian diapit oleh dua pemain sayap. Lalu, di lini depan akan terdapat satu nama sebagai ujung tombak. Ada sejumlah penyerang yang punya potensi besar, misalnya saja Andrej Kramaric. Kemudian ada Ante Budimir yang pada musim ini berhasil mencetak 11 gol untuk Osasuna. Atau mungkin, pelatih Zlatko Dalic akan lebih mempercayakan pos tersebut kepada penyerang Dinamo Zagreb, Bruno Petkovic, yang punya gaya main mengesankan seperti Olivier Giroud.

Sementara dua sisi sayap, pemain seperti Ivan Perisic dan Nikola Vlasic dipercaya bakal menjadi andalan. Modric yang merupakan pemain berpengalaman pun tentu akan ditempatkan sebagai pemimpin lapangan tengah.

Di lini belakang, selain Dejan Lovren, bukan tak mungkin bila nama Domagoj Vida bakal diplot sebagai pemegang kunci permainan. Pria berusia 32 tahun ini sudah sangat berpengalaman dan tampil cukup memukau di ajang Piala Dunia 2018 lalu.

Di posisi penjaga gawang sendiri, seperti yang sudah dikatakan, nama Livakovic masih menjadi pilihan.

Bila skema ini gagal temui sasaran, maka masih ada alternatif lain berupa varian yang lebih ofensif dalam skema 4-2-3-1. Strategi tersebut baru-baru ini kerap diterapkan oleh Dalic dan tak jarang munculkan hasil yang memuaskan. Pada skema itu, lini tengah akan berporos pada dua pemain, dimana Brozovic dan Modric dipercaya sebagai pengambil peran utama.

Di lini serang sendiri, akan ada sejumlah nama yang bersaing seperti Perisic, Rebic, Vlasic, sampai Kramaric. Selain itu masih ada nama Mario Pasalic yang dalam beberapa musim tampil menawan bersama Atalanta. Bahkan, pemain seperti Mislav Orsic juga bisa menjadi ancaman dan bukan tak mungkin jadi pilihan strategi Zlatko Dalic.

Peluang

Meski Kroasia masih dianggap sebagai tim yang tidak benar-benar difavoritkan jadi juara, namun perpaduan antara pemain berpengalaman dan pemain muda berpotensi membawa mereka melangkah lebih jauh.

Tergabung di grup D bersama Republik Ceko, Inggris dan Skotlandia, mereka seharusnya bisa lolos setidaknya sebagai runner up grup. Tantangan mereka yang sebenarnya baru akan muncul bila sudah berada di fase gugur.

Bila Kroasia berhasil memuncaki grup D, maka mereka akan berhadapan dengan runner grup F yang dikenal maut. Pasalnya, disana terdapat nama Prancis, Jerman, hingga Portugal. Bila mereka tergelincir, maka pupus sudah harapan untuk lolos lebih jauh.

Akan tetapi bila mereka duduk di posisi runner up, maka situasinya akan lebih menarik. Disini, mereka akan menghadapi salah satu negara yang mengisi grup E, dimana disana ada nama Spanyol, Polandia, Swedia, dan Slovakia. Bila pada akhirnya bertemu dengan Spanyol yang disebut sebagai tim terkuat grup E, Kroasia tak perlu berkecil hati setelah pada edisi Piala Eropa sebelumnya, mereka mampu tunjukkan performa diluar dugaan.

Namun bila mereka berhasil lolos dari babak 16 besar melalui skenario ini, maka lawan yang dihadapi akan semakin sulit mengingat disana ada wakil grup F yang kita tahu punya daftar menakutkan. Selain itu masih ada tim seperti Wales, Denmark, sampai Turki yang berpotensi menjadi lawan.

Kemudian bila Kroasia lolos ke fase gugur sebagai tim ketiga terbaik, maka tentu perjalanan akan semakin rumit mengingat disana ada nama Belanda dan Belgia yang berpotensi menjadi lawan.

Dengan skenario semacam itu, meski akan sulit melewati babak 16 besar, Kroasia berpotensi melaju setidaknya sampai babak perempat final.

Namun kembali lagi, kita semua tahu bila tidak ada yang pasti dalam sepakbola. Segala hal masih bisa terjadi meski sebelumnya sama sekali tidak pernah diprediksi.

Sumber referensi: squawka 1, squawka 2, the dub, fourfourtwo

Tidak Punya Hasrat Bermain Bola Lagi, Pemain Bintang Ini Putuskan Pensiun Dini

Pensiun merupakan jalan yang diambil ketika seorang pemain sepakbola merasa bahwa usia atau kemampuannya sudah tidak mampu lagi berbicara banyak di level tertinggi. Ada banyak alasan yang mendasari seorang pemain untuk tidak mau lagi masuk ke dalam riuhnya pertandingan sepakbola.

Ada juga beberapa dari mereka yang putuskan pensiun setelah merasa bahwa sepakbola bukan jalan baginya lagi untuk menikmati kehidupan. Seperti pada bahasan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan pemain yang putuskan pensiun setelah merasa bahwa sepakbola sudah tak mampu lagi memberi kebahagiaan.

André Schürrle

Pemain asal Jerman, André Schürrle, secara tiba-tiba mengumumkan bahwa dirinya memutuskan untuk berhenti dari dunia sepakbola. Padahal, dia merupakan salah satu pemain berbakat yang usianya baru menginjak 29 tahun. Di usia tersebut, usai sembuh dari cedera, Schürrle juga dilaporkan bakal segera bergabung dengan klub promosi Serie A ketika itu, Benevento. Namun akhirnya rencana tersebut gagal terealisasi.

André Schürrle yang merupakan bagian dari skuad juara timnas Jerman di ajang Piala Dunia 2014 menyatakan, bahwa dirinya sudah tidak lagi memiliki hasrat untuk bermain bola. Schürrle mengatakan bila dunia sepakbola saat ini sudah menjadi bisnis. Dia merasa tidak diizinkan untuk memainkan sepakbola dengan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sebelumnya, Schürrle sempat dikabarkan memilih pensiun karena punya masalah cedera. Akan tetapi, hal itu dibantahnya. Dia mengaku bila sepakbola yang sudah sarat akan bisnis inilah yang membuatnya terpaksa keluar dari permainan yang dicintainya.

“Halo semua. aku ingin memberitahu bahwa aku memilih pergi dari bermain sepakbola profesional. Atas nama ku dan keluarga, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang merupakan bagian dari tahun-tahun yang fenomenal ini!” tulis Schurrle di akun Instagram pribadinya.

Hidetoshi Nakata

Asia pernah berbangga karena memiliki pemain bernama Hidetoshi Nakata. Nakata bukan talenta sembarangan. Dia merupakan pemain dengan skil tinggi, yang mampu bersaing di kompetisi sepakbola Eropa.

Hidetoshi Nakata sendiri memulai karir sepakbolanya di level sekolah. Kemudian, dia ditarik ke timnas Jepang untuk tampil di ajang Piala Dunia U-17. Mampu menunjukkan performa gemilang, Nakata direkrut oleh klub yang bermain di kompetisi J-League, Bellmare Hiratsuka.

Tampil apik di Bellmare Hiratsuka sekaligus menjadi bintang di ajang Piala Dunia 1998 membuatnya mendapat tawaran, hingga akhirnya dia resmi menjadi pemain Perugia yang tampil di kompetisi Serie A. Tampil ciamik bersama Perugia membuatnya punya kesempatan untuk bermain bersama AS Roma, Parma, Sampai Fiorentina.

Namun pada usia 29 tahun, Nakata putuskan pensiun. Bukan karena cedera atau alasan semacamnya, Nakata mengaku bahwa sepakbola sudah tidak mampu memberinya kebahagiaan. Kecintaan nya pada sepakbola yang telah luntur kemudian menuntunnya ke dunia model yang kini terus digelutinya.

Eric Cantona

Nama Eric Cantona tentu begitu tersohor di seluruh jagad sepakbola. Pemain asal Prancis ini telah banyak berikan cerita, terutama di kompetisi Liga Primer Inggris.

Meski tergolong kedalam pemain kontroversial, kedatangan Eric Cantona ke Liga Primer Inggris pada tahun 1992 telah mengubah sejarah kompetisi tersebut. Cantona yang awalnya tampil bersama Leeds United sukses menunjukkan kehebatannya, hingga membuat pelatih Manchester United Sir Alex Ferguson kepincut untuk merekrutnya.

Bersama Manchester United, Cantona menjelma menjadi dewa. Dia tampil dalam 143 pertandingan dan berhasil mencetak 64 gol.

Namun sang legenda sepakbola ini tiba-tiba putuskan pensiun di usia 30 tahun. Alasannya? Dia telah kehilangan gairah dalam bermain bola. Dia bahkan mengaku bila sudah kehilangan hasrat bermain di usia 20, maka ia tak segan untuk melakukannya.

Pada hari ketika dia memutuskan pensiun, banyak sekali pihak yang menyayangkan nya. Pasalnya, Cantona tengah berada pada masa jayanya sebagai seorang pemain. Namun respon Cantona ketika itu adalah, dia justru sengaja pensiun di masa puncak, karena merasa bahwa dia datang sebagai raja dan ingin pula pergi sebagai raja.

David Bentley

David Bentley, merupakan pemain yang sempat digadang-gadang sebagai penerus David Beckham. Dia meniti karir bersama Arsenal dan sempat dipinjamkan ke Norwich City serta Blackburn Rovers, yang mana pada akhirnya ia perkuat secara permanen di tahun 2006.

Kemudian pada tahun 2008, dia dipinjamkan ke Tottenham Hotspurs. Sempat tunjukkan performa yang tak diharapkan, Bentley lalu menghabiskan waktu dengan dipinjamkan ke Birmingham City, West Ham, dan klub Rusia FC Rostov. Tak kunjung temukan performa terbaik, dia lalu kembali ke Blackburn pada akhir musim 2012/13.

Setelah mencatatkan 266 penampilan untuk klub dan memainkan tujuh pertandingan untuk timnas senior Inggris, Bentley tiba-tiba putuskan untuk berhenti dari dunia sepakbola. Ketika ditanya, sang pemain yang saat itu berusia 29 tahun tersebut mengaku sudah menyerah untuk menjadi pemain sepakbola. Dia yang dalam setahun sebelumnya berstatus sebagai pemain tanpa klub mengaku sudah tidak lagi cinta terhadap sepakbola.

Dia bahkan mengatakan kalau sepakbola sudah terasa sangat membosankan. Akhirnya, ditengah kebosanannya itu, Bentley menggeluti bisnis restoran di Marbella, Spanyol, dan berinvestasi di beberapa bar di pesisir pantai Spanyol.

Bentley mengatakan bahwa aktivitasnya di luar sepakbola tersebut sudah amat ia nikmati, dan sekali lagi, dia membeberkan betapa sepakbola tak lagi memberinya gairah yang sama seperti dulu.

Didier Deschamps

Didier Deschamps, selain kini dikenal sebagai pelatih jempolan, juga pernah dikenal sebagai seorang gelandang bertalenta. Ketika masih bermain di atas lapangan, dia merupakan sosok gelandang bertenaga kuda. Cara bermainnya bahkan sukses mengilhami nama-nama seperti Claude Makelele hingga N’Golo Kante.

Selama menjadi pemain, dia juga tergolong sangat sukses. Dia tercatat pernah meraih empat trofi Liga Italia bersama Juventus, dan dua gelar Liga Champions bersama Marseille dan Juventus. Di level Internasional, dia juga berhasil memenangkan trofi Piala Dunia dan Piala Eropa bersama Prancis.

Sayangnya, pada tahun 2001 ketika usianya menginjak 32 tahun, Deschamps membuat keputusan yang sangat mengejutkan. Dia memutuskan pensiun tanpa pernah memberi tahu apa alasannya. Banyak yang mengira kalau sang pemain pensiun karena berkutat dengan masalah cedera. Namun, sampai saat ini, keputusan Deschamps dalam berhenti dari dunia sepakbola masih menjadi misteri.