Momen Paling Ikonik dan Tak Terlupakan Sepanjang Gelaran EURO

  • Whatsapp
Momen Paling Ikonik dan Tak Terlupakan Sepanjang Gelaran Piala Eropa
Momen Paling Ikonik dan Tak Terlupakan Sepanjang Gelaran Piala Eropa

Kemeriahan Piala Eropa 2020 sudah mulai terasa. Sudah banyak tim yang memastikan siapa saja pemain yang akan dibawa ke gelaran akbar tersebut. Selain itu, sudah banyak yang memprediksi negara mana yang sangat berpotensi menggondol gelar juara. Sebelum menyelami kemeriahan Piala Eropa 2020, ada baiknya kita sedikit mengingat momen penting dan ikonik yang pernah terjadi sepanjang gelaran empat tahunan ini.

Lahirnya Tendangan Panenka

Momen ikonik dalam sejarah Piala Eropa dimulai dari lahirnya tendangan panenka. Tendangan dengan teknik ini sendiri merupakan teknik tendangan penalti dimana sang eksekutor hanya akan mencungkil bola ke arah yang sulit diprediksi. Karena biasanya, kiper akan buru-buru menjatuhkan badan ke arah tertentu sehingga bola yang sejatinya bergulir pelan akan dengan mudah masuk ke dalam gawang.

Bacaan Lainnya

Tendangan ini lahir di ajang Piala Eropa, tepatnya pada edisi tahun 1976, ketika Cekoslowakia menang atas Jerman Barat di partai puncak. Nama Panenka diambil dari sang eksekutor pertama tendangan tersebut, yaitu Antonin Panenka.

Dalam drama adu penalti, Antonin Panenka menjadi penendang terakhir. Dibebani dengan tanggung jawab besar, Panenka justru melakukan tugasnya dengan penuh ketenangan. Dia memutuskan untuk melakukan tendangan yang pada akhirnya populer sampai sekarang ini dan berhasil memastikan skor menjadi 5-3 untuk kemenangan Cekoslowakia.

Setelah tendangan tersebut berhasil memberi sebuah trofi prestisius, banyak sekali pemain yang ikut melakukannya sampai hari ini. Salah satu tendangan panenka yang juga populer di ajang Piala Eropa adalah milik Andrea Pirlo, ketika dengan sangat tenang dia mampu mengecoh penjaga gawang asal Inggris, Joe Hart.

Gol Spektakuler Marco van Basten

Masih dari partai final, yang kali ini terjadi pada tahun 1988, terdapat sebuah momen yang akan membuat siapapun terpana.

Adalah gol yang dicetak penyerang ikonik asal Belanda, Marco van Basten, dengan cara melakukan tendangan voli yang barangkali dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa.

Ketika itu, van Basten berhasil membawa Belanda menang atas Uni Soviet di laga final Piala Eropa tahun 1988 dengan skor 2-0. Van Basten yang saat itu masih berusia 23 tahun sudah layak disebut sebagai salah satu striker paling mematikan sejagat.

Mulanya, Belanda sudah berhasil unggul lebih dulu pada menit ke 32 lewat aksi Ruud Gullit. Kemudian pada menit ke 54, terjadilah gol voli termasyur itu. Berawal dari sepakan Arnold Muhren dari sayap kiri, bola yang melambung tinggi segera menghampiri van Basten. Pada momen tersebut, tidak ada yang menyangka bila dirinya akan mengambil keputusan dengan menembak bola langsung ke arah gawang. Akan tetapi, melalui kemustahilan itu, van Basten justru mampu mengukir sebuah mahakarya.

Dia langsung melepas tendangan ke gawang begitu bola menuju ke arahnya. Melalui sudut sempit, bola hasil sepakan eks penyerang AC Milan ini mampu bersarang di pojok gawang Rinat Dasayev.

Akhirnya, melalui gol spektakuler Marco van Basten yang sampai saat ini masih dikenang, Belanda berhasil meraih trofi Piala Eropa pertama dan satu-satunya sampai sekarang.

Selebrasi Mario Balotelli

Pada ajang Piala Eropa 2012, timnas Italia tampil gemilang dengan mampu lolos sampai ke partai final. Salah satu pemain Gli Azzurri yang jadi sorotan ketika itu adalah Mario Balotelli, dimana penampilannya pada laga melawan timnas Jerman akan selalu diingat oleh khalayak.

Pada laga yang dilaksanakan di National Stadium, Warsawa itu, Balotelli berhasil mencetak sebanyak dua gol. Dia membuka keunggulan pada menit ke 20 melalui sundulan setelah berhasil memanfaatkan umpan yang disodorkan Cassano. Tak berselang lama, dia berhasil menggandakan keunggulan timnas Italia melalui tendangan spektakuler.

Memanfaatkan umpan terukur Riccardo Montolivo, Balotelli sukses mengoyak jala gawang Neuer, dengan membuat kiper FC Bayern itu diam membeku. Setelah itu, dia melakukan selebrasi yang akan selalu diingat oleh siapapun.

Selebrasi ikonik itu dilakukan dengan cara membuka baju dan berdiri mematung, sambil memamerkan otot kekar pada tubuhnya.

Usai momen tersebut, banyak sekali yang membicarakan selebrasi eks bintang Manchester City itu.

Dongeng Timnas Yunani

Dongeng timnas Yunani pada tahun 2004 sukses membius seluruh pecinta sepakbola dunia. Betapa tidak, tim asuhan Otto Rehhagel itu sukses membungkam segala prediksi dengan menjungkirbalikkan tim tuan rumah Portugal di partai final.

Memainkan sepakbola taktis dan bertahan, Yunani berhasil lolos dari jeratan grup A yang diisi oleh Portugal, Rusia, dan Spanyol.

Berhasil lolos ke fase gugur, Yunani lalu mampu kandaskan perlawanan Prancis dengan skor 1-0. Ketika itu penyerang andalan Angelos Charisteas berhasil menjadi bintang dengan torehan golnya. Di babak semifinal, melalui babak tambahan, Yunani berhasil memupus harapan Republik Ceko yang juga tampil luar biasa di ajang Piala Eropa 2004.

Kemudian sampailah pada partai puncak, dimana timnas Portugal sudah menanti. Lagi-lagi, Angelos Charisteas menjadi pahlawan negeri para dewa setelah dirinya berhasil menjebol gawang Portugal pada menit ke 57.

Pada momen tersebut, kebahagiaan Yunani yang diselimuti tangis Ronaldo muda akan selalu masuk ke dalam daftar ingatan para penggemar sepakbola.

Durian Runtuh Timnas Denmark

Pada tahun 1992, tidak ada yang menyangka bila Denmark bakal menjadi juara di ajang Piala Eropa. Bagaimana bisa tim yang tidak lolos ke turnamen tersebut kemudian keluar sebagai juara?

Ya, Denmark yang mulanya tidak lolos ke putaran final Piala Eropa tiba-tiba dipanggil oleh UEFA untuk menggantikan Yugoslavia yang dilarang tampil pada ajang tersebut. Ketika itu, tim dinamit tergabung di Grup A bersama tuan rumah Swedia, Prancis, dan Inggris. Mereka yang melakukan persiapan seadanya dan menjadi tim yang tidak diunggulkan secara mengejutkan mampu lolos grup sebagai runner up.

Tim yang ketika itu dibesut Richard Moller-Nielsen lolos ke babak semifinal, untuk menghadapi timnas Belanda di Ullevi, Gothenburg. Pada laga itu, kedua tim bermain sama kuat 2-2 hingga membuat laga harus dilanjutkan ke babak adu penalti. Marco van Basten yang gagal menjalankan tugasnya dengan baik lantas membuat Denmark lolos ke partai final.

Di partai final, mereka bertemu dengan timnas Jerman yang dikenal punya kekuatan luar biasa. Akan tetapi, Denmark justru malah keluar sebagai juara setelah mereka mampu mengakhiri pertandingan dengan skor meyakinkan 2-0.

Gol dan Selebrasi Ikonik Paul Gascoigne

Pada ajang Piala Eropa 1996, timnas Inggris sempat mendapat cibiran dari para penggemar karena memasukkan nama Paul Gascoigne dalam daftar pemain yang dibawa. Para penggemar menyebut bila Gascoigne hanya akan membuat onar, mengingat pemain yang akrab dengan hal kontroversial itu dicap sebagai pemabuk.

Amarah penggemar semakin menjadi setelah tahu pelatih Terry Venables memasukkan Gascoigne ke dalam starting line up.

Namun kebencian para penggemar seketika berubah menjadi pujian, setelah pada laga itu Inggris menang dengan skor 2-0, dimana salah satu golnya dicetak oleh Paul Gascoigne dengan cara yang spektakuler. Pada menit ke 79, Gascoigne melakukan aksi individu untuk mengecoh bek Skotlandia, Colin Hendry.

Usai mencetak gol, pemain yang akrab disapa Gazza itu langsung melakukan selebrasi dengan cara berbaring sembari membentangkan tangan dan membuka mulut, untuk kemudian rekan setimnya menyiramkan air dari botol minum ke mulutnya.

Selebrasi tak terlupakan itu kemudian dinamai dentist’s chair oleh publik Inggris.

Sayangnya, meski menjadi tuan rumah, Inggris harus takluk dari Jerman melalui babak adu penalti di babak semifinal.

Tangis Ronaldo Di Final

Tangis Ronaldo di partai final Piala Eropa 2016 akan menjadi penutup dari momen paling ikonik sepanjang sejarah gelaran Euro. Pada edisi 2016 lalu, Portugal secara mengejutkan berhasil lolos sampai ke partai final, meski berstatus sebagai peringkat ketiga terbaik.

Di laga final tersebut, tim tuan rumah Prancis jelas lebih diunggulkan, mengingat skuad yang dimiliki sekaligus perjalanan mulus mereka di ajang itu.

Malang bagi Portugal, baru 25 menit berjalan, pemain andalan mereka, Cristiano Ronaldo, harus ditandu keluar karena mengalami cedera parah. Pada momen tersebut, Ronaldo terlihat tak mampu menahan tangis. Akan tetapi, dia menolak beristirahat dan malah berdiri di pinggir lapangan untuk terus menyemangati rekan-rekan setimnya. Akhirnya, Portugal berhasil memastikan gelar juara setelah Eder berhasil menjebol gawang Hugo Lloris dari kejauhan.

Usai peluit panjang dibunyikan, Ronaldo kembali meneteskan air mata. Namun kali ini dia menangis karena tak kuasa menahan bahagia. Keberhasilan Portugal di ajang Piala Eropa sekaligus tangis Ronaldo kemudian menjadi ikonik mengingat banyak sekali yang sulit melupakan momen tersebut.

Selain momen tersebut, momen apalagi yang menurut kalian paling ikonik dan sulit dilupakan?

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *