Kisah Kiper Yang Mendapat Skorsing Seumur Hidup Akibat Pura-Pura Cedera
Jauh sebelum Claudio Bravo menjadi penjaga gawang terbaik Chile, negara asal Amerika Latin ini pernah punya kiper hebat bernama Roberto Rojas. Rojas merupakan kiper terbaik Chile pada era 80-an. Namun sayang, karir kiper kelahiran 8 Agustus 1957 ini ternodai karena ulahnya sendiri. Pemain yang mendapat julukan El-Condor ini mendapat skorsing seumur hidup dari Federasi Sepakbola Dunia (FIFA). Hukuman ini sebagai akibat dari tindakan diving yang pernah dilakukannya dalam pertandingan internasional.
Roberto Rojas sebenarnya adalah salah satu talenta terbesar yang dimiliki Chile. Ia mengawali karir sepakbolanya bersama kesebelasan lokal Chili, Aviacion pada tahun 1976. Enam tahun kemudian Rojas hijrah ke klub raksasa Chile Colo-Colo. Konon, berkat penampilannya di kesebelasan asal Santiago inilah ia dihadiahi julukan El Condor. Di klub tersebut, Rojas memenangkan Liga Chile 1983 dan 1986.
Rojas adalah pemain panutan bagi kebanyakan pesepakbola Chile pada waktu itu. Ia dianugerahi ketangkasan yang luar biasa sebagai seorang kiper. Selain itu, dia juga punya kharisma dan seorang yang taat beragama. Pada 1987, Rojas memutuskan untuk bergabung dengan klub asal Brasil, Sao Paulo. Di klub tersebut, Rojas bermain sebanyak 17 kali.
Dekade 80-an merupakan masa terbaik Rojas berkarir sebagai pesepakbola. Selain bersinar terang bersama Colo-Colo, Rojas juga menjadi andalan bagi tim nasional Chile. Ia tampil di tiga Copa America berbeda pada kurun waktu tersebut. Namun sayang, karir gemilangnya itu harus berakhir dengan cara yang sangat memalukan.
Peristiwa itu terjadi pada perhelatan babak kualifikasi piala dunia 1990 zona CONMEBOL. Pada babak kualifikasi itu, Timnas Chile satu grup dengan Brasil dan Venezuela di grup 3. Saat itu, CONMEBOL mendapatkan jatah 4+1 untuk tampil di Piala Dunia 1990. Argentina sebagai juara bertahan lolos otomatis. Lalu, 3 tempat kosong diberikan kepada juara Grup 1, 2, dan 3. Sementara runner-up terbaik akan play-off melawan utusan Oceania.
Brasil dan Chile bersaing ketat di grup 3. Mereka menjadikan Venezuela sebagai bulan-bulanan. Hingga akhirnya laga penentuan pun tiba. Tepat pada 3 September 1989, Brasil menjamu Chile di stadion Maracana. Laga ini menjadi laga hidup mati bagi kedua kesebelasan. Siapapun yang menang, dialah yang berhak melenggang ke putaran final piala dunia di Italia. Brasil tentu lebih diuntungkan mengingat status mereka sebagai tuan rumah dan dihuni banyak pemain berkelas. Sedangkan Chile, kans untuk menang cukup sulit.
Di pertandingan inilah, skandal memalukan itu terjadi. Aktor utamanya tentu saja Roberto Rojas. Demi memenuhi ambisinya tampil di ajang bergengsi sekelas piala dunia, Rojas menghalalkan segala cara untuk bisa menyingkirkan Brasil.
Ketika itu, pertandingan berjalan seperti biasa, normal tidak ada tanda-tanda keributan atau kerusuhan yang bakal terjadi. Skor kacamata masih bertahan hingga turun minum. Namun di awal babak kedua tim samba berhasil membobol gawang Chile lewat Antonio “Careca” de Oliveira Filho.
Bersamaan dengan Chile yang sedang berusaha menyamakan skor, tiba-tiba pertandingan memanas hingga pendukung tuan rumah melemparkan segala macam benda ke lapangan, termasuk ke belakang gawang Rojas. Kemudian pada menit ke 70, sebuah flare terlempar ke arah gawang Rojas dari tempat para suporter Brasil. Tiba-tiba Rojas tampak terkapar di depan gawangnya. Diketahui pelaku pelemparan flare itu bernama Rosenery Mello.
Melihat insiden tersebut, sebagai bentuk protes atas pelemparan flare yang dilakukan fans Brasil, para pemain dan ofisial Chile, yang dipimpin sang kapten, Fernando Astengo, memutuskan meninggalkan lapangan dengan menggotong Rojas yang berlumuran darah. Kubu Chile pun beramai-ramai mengklaim kalau pertandingan tidak aman dan harus dihentikan. Klaim ini dikabulkan dan pertandingan pun tidak dilanjutkan.
Pasca kejadian tersebut, berbagai opini negatif anti Brasil mulai bermunculan. Brasil, yang meski berhasil meraih kemenangan WO 2-0 di Maracana, tak bisa tenang. Langkah mereka untuk terbang ke Italia masih belum pasti. Federasi sepakbola Chili bahkan menuntut supaya pertandingan digelar kembali di tempat netral.
Awalnya, semua orang percaya jika Rojas mengalami cedera karena lemparan flare yang mengarah tepat ke wajahnya. Tapi, keesokan harinya, berita di televisi dan beberapa foto surat kabar menunjukkan fakta sebaliknya. Flare tidak mengenai tubuh Rojas, apalagi mengenai wajahnya. Flare itu malah mendarat lebih dari 1 meter dari sisi Rojas. Hal ini dibuktikan lewat hasil jepretan fotografer asal Argentina, Ricardo Alfieri. Selain itu, pemeriksaan medis juga tidak menemukan satupun jejak luka bakar.
Tapi apa yang menyebabkan wajah Rojas bersimbah darah?
Ternyata, Rojas menyembunyikan silet di balik sarung tangannya. Tepat ketika kembang api terlempar, pisau cukur tersebut langsung disayatkan ke wajahnya sendiri. Harapannya tentu agar bisa lolos ke piala dunia di Italia dengan kemenangan WO atas Brasil. Tapi setelah fakta ini terbongkar, semua harapannya pupus.
Di saat yang sama Polisi Brasil berhasil menangkap pelaku pelemparan flare, yakni seorang pemuda berusia 24 tahun dari Rio de Janeiro bernama Rosenery Mello do Nascimento, yang kemudian dikenal sebagai Fogueteira do Maracana (Petasan Maracana).
Berbekal keterangan dari pelaku dan penyelidikan di lapangan, CONMEBOL akhirnya memanggil Rojas untuk bersaksi. Hasil interogasi memunculkan pengakuan mengejutkan dan menggemparkan dari Rojas, yaitu ia mengaku melukai wajahnya sendiri dengan pisau cukur.
Sepuluh hari setelah pertandingan, FIFA memutuskan Rojas dilarang bermain selamanya dari pertandingan sepakbola profesional. Chile, selain dicoret dari kualifikasi dan dinyatakan kalah WO atas Brasil, juga mendapatkan hukuman tambahan, dilarang ambil bagian di Kualifikasi Piala Dunia 1994.
Selain Rojas yang dihukum seumur hidup, Sergio Stoppel (presiden Asosiasi Sepakbola Chile), Orlando Aravena (pelatih), Fernando Astengo (pemain), dan Daniel Rodriguez (dokter tim) juga mendapat skorsing. Keputusan ini diambil FIFA, karena mereka dianggap turut berkontribusi, meski secara tidak langsung dalam insiden tersebut.
Keputusan itu membuat media dan fans Chile marah. Akibatnya, Kedutaan Besar Brasil di Kota Santiago diserbu warga Chile yang melakukan aksi demo.
Bahkan, media olahraga ternama Chile ketika itu, Minuto 90, menulis konspirasi bahwa Presiden FIFA asal Brasil, Joao Havelange, sengaja menjatuhkan hukuman demi mengamankan tim Samba di piala dunia Italia 1990.
Di masa-masa hukumannya, Rojas tetap giat menggeluti dunia sepakbola. Ia dikenal sebagai komentator pertandingan dan pendiri sekolah sepakbola untuk anak-anak di Chile.
Rojas juga dipekerjakan sebagai pelatih kiper Sao Paulo untuk mengasuh kiper muda, Rogerio Ceni. Dia melatih Ceni selama hampir satu dekade. Berkat tangan dinginnya, Rojas berhasil melahirkan sosok ikonik dan legenda Sao Paulo dalam diri Ceni.
Hukuman Rojas berakhir pada tahun 2001 di usia 43 tahun, setelah ia mengajukan permohonan pengampunan pada FIFA.
Sumber Referensi: Panditfootball, Libero, Goal, historia, Bola.net
Mengenal Ibrahima Konate: Titisan Virgil van Dijk Yang Direkrut Liverpool
Ada banyak pesepak bola bernama belakang Konate, Moussa Konate, Makan Konate, Mohamed Konate dan Ibrahima Konate. Dari sekian nama yang ada, Ibrahima Konate jadi yang paling terkenal saat ini. Seorang bek tengah yang masih muda, berbakat, dan mengesankan secara fisik, juga cukup berpengalaman.
Sejak kabar ia bakal merapat ke klub raksasa Liga Primer Inggris, Liverpool, nama Ibrahima Konate cukup terdengar nyaring belakangan ini. Klub asuhan Jurgen Klopp itu dikabarkan selangkah lagi bakal segera meresmikan kedatangan Ibrahima Konate. Sang pemain diketahui baru saja menyelesaikan beberapa tes medis yang diperlukan.
Liverpool sendiri memang tengah mencari sosok bek anyar usai tembok andalan mereka Virgil van Dijk alami cedera parah pada lututnya. Beberapa bek diincar dan nama Ibrahima Konate berada dalam posisi teratas.
Kabarnya, Liverpool sudah menggelar negosiasi dengan RB Leipzig. Bahkan pembicaraan berlangsung lancar. Klub asal Jerman itu pun disebut segera melepas Ibrahima Konate ke Anfield. Kabarnya, bandrolnya sekitar 40 juta euro (Rp 683 miliar).
Lantas, siapa sebenarnya Ibrahima Konate? mengapa ia dibanderol dengan harga cukup mahal?
Ibrahima Konate lahir di Paris, Prancis pada 25 Mei 1999. Ia adalah salah satu dari tujuh bersaudara yang mengenal sepak bola dari jalanan di Paris. Masa kecilnya dihabiskan dengan bermain bola. Setiap harinya, Konate selalu belajar mengolah bola mulai dari menendang, hingga mendribel di halaman depan rumahnya.
Minat dan bakatnya yang besar membuat orang tua Konate mendaftarkannya ke akademi Paris FC pada saat ia berusia 10 tahun.
Di awal karirnya, Konate lebih sering bermain sebagai penyerang. Itu dikarenakan ia mengidolakan striker legendaris Brasil, Ronaldo. Namun, Konate kemudian beralih posisi menjadi gelandang.
Bersama Paris FC, Konate berkembang pesat. Ia menjelma menjadi didikan terbaik akademi klub tersebut. Tak ayal, dirinya mendapat tawaran dari klub-klub lain di Prancis. Saat memasuki usia 14 tahun, tiga klub yakni Rennes, Caen dan Sochaux menawarkan tempat untuk Konate. Namun, dengan berbagai pertimbangan, Konate lebih memilih pindah ke Sochaux.
Sochaux merekrut Konate berkat kepiawaiannya bermain sebagai seorang gelandang. Ia lalu menghabiskan waktu bersama Sochaux dari level akademi sampai ke tim senior. Tiga tahun setelah bergabung dengan tim akademi Sochaux, Konate mendapatkan kontrak profesional pertamanya bersama klub berjuluk Les Jeunes Et Bleus tersebut.
Namun di tim senior, Konate hanya tampil 13 kali untuk Sochaux. Merasa bahwa dirinya tidak bisa berkembang di sana, Konate pun akhirnya memilih RB Leipzig sebagai pelabuhan berikutnya. Konate resmi menjadi pemain baru RB Leipzig pada bursa transfer musim panas 2017.
Konate menjalani debutnya pada matchday ketujuh Liga Prancis musim 2017/18 saat Leipzig meraih kemenangan atas Cologne dengan skor 2-1. Musim pertamanya bersama Leipzig memang banyak dihabiskan dengan duduk di bangku cadangan.
Sejak direkrut dari Sochaux, Konate memang sengaja didatangkan untuk jadi pelapis Dayot Upamecano. Meski begitu, ia menjadi pemain terbaik di lini pertahanan RB Leipzig.
Musim 2018/19, Konate berhasil masuk di tim utama RB Leipzig dan memainkan 27 laga di Bundesliga. Konate juga turut berperan penting atas finishnya RB Leipzig di peringkat ketiga Bundesliga.
Penampilan Konate musim itu menuai banyak pujian. Salah satunya dari pelatih RB Leipzig kala itu, Ralf Rangnick. Rangnick bahkan menyebut jika Konate dengan potensi yang dia punya, suatu saat bisa bermain dengan klub sekelas Real Madrid atau Barcelona.
“Saya sangat senang dengan berhasilnya RB Leipzig yang merekrut Ibrahima Konate. Kami mendapatkannya dengan status bebas transfer dari Sochaux. Permainannya sangat bagus sehingga kemungkinan ia bisa bermain untuk Real Madrid atau Barcelona suatu hari nanti,” ucapnya.
Setelah cukup sukses pada musim 2018/19, sayangnya Konate mengalami penurunan di musim berikutnya. Dia cuma tampil 11 kali di seluruh kompetisi. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah masalah fisik. Cedera otot yang didapatnya membuat Konate harus menjalani operasi dan absen sebanyak 27 pertandingan.
Musim ini, kondisi tersebut kembali menimpa Konate. Ia lagi-lagi berkutat dengan masalah fisik dan cedera engkel, yang membuatnya absen selama hampir dua bulan. Padahal, Konate baru bermain 15 kali dan menorehkan satu gol dengan waktu main 890 menit.
Soal gaya bermain, Konate cukup apik tampil di lini pertahanan RB Leipzig. Ia menjadi pesepakbola yang cukup beruntung. Selain diberkahi kecepatan, dan fisik yang ideal, ia juga mampu membangun skema awal penyerangan.
Gaya permainan Konate menyerupai bek Liverpool yang saat ini sedang alami cedera yakni Virgil Van Dijk. Memang, masih terlalu dini bagi Konate untuk dibandingkan dengan bek asal Belanda tersebut, namun hal itu bukan tanpa alasan.
Konate memiliki kurang lebih 65 persen keberhasilan tekel dan ia juga memiliki persentase di atas 70 persen dalam duel udara. Pengidola Sergio Ramos ini mampu menggiring bola hingga ke tengah lapangan dan membuat umpan-umpan manis untuk memulai serangan. Akurasi umpannya pun mencapai 85 persen di tiap laga.
Terkait sisi lain kehidupan Konate, pemain yang juga sering dipanggil untuk memperkuat timnas Prancis di level junior itu, punya julukan unik. Di luar sepak bola, ia mendapat julukan yang kocak dari ibunya sendiri yakni ‘Ibu’.
Julukan itu sempat didengar oleh salah seorang staf RB Leipzig, akibatnya anggota tim lainnya ikut memanggilnya “Ibu”. Bahkan, rekan-rekan setimnya membuat sedikit modifikasi dalam julukannya, yakni ‘ibuprofen’, yang merupakan jenis obat pereda nyeri.
Sumber referensi: Bola.net, Lifebogger, Ligalaga, Indosport
Spanyol Tanpa Pemain Real Madrid di EURO 2020! Apa Alasan Luis Enrique?
Menjelang bergulirnya EURO 2020, para pemain dari negara-negara yang lolos ke ajang paling bergengsi di Eropa itu berlomba-lomba untuk tampil impresif. Ada pula yang berpacu dengan waktu untuk mengembalikan kondisi fisiknya. Semua itu dilakukan demi mendapat panggilan tim nasional untuk EURO 2020.
Sayangnya, meski sudah berjuang hingga pertandingan terakhir musim ini, punggawa Spanyol di Real Madrid tak satupun yang memikat pelatih timnas Spanyol, Luis Enrique. Secara mengejutkan, entrenador 51 tahun itu tak membawa satupun pemain Madrid ke ajang EURO 2020.
Former Barcelona manager Luis Enrique becomes the first Spain manager to name a squad for a major tournament with no Real Madrid players 😅 pic.twitter.com/gblcQrTKEe
— ESPN FC (@ESPNFC) May 24, 2021
Keputusan paling kontroversial dari Enrique tentu saja dicoretnya Sergio Ramos dalam skuad La Furia Roja. Padahal, Ramos adalah kapten tim sekaligus pemegang rekor penampilan internasional terbanyak dengan 180 caps. Tak ayal, keputusan Enrique itu memunculkan dugaan: Apakah Luis Enrique anti Real Madrid?
Pertanyaan tersebut wajar dilontarkan mengingat status Enrique yang pernah membawa Barcelona meraih treble winners pada 2015 silam. Namun, apa alasan sesungguhnya dari Luis Enrique mencoret semua pemain Madrid dari daftar skuad timnas Spanyol di EURO 2020?
Daftar Isi
Cedera dan Tampil Buruk Jadi Alasan Enrique Tinggalkan Pemain Madrid
Penampilan buruk di musim ini adalah alasan utama Enrique tak menyertakan pemain Madrid dalam skuad pilihannya. Selain itu pemain Madrid juga lebih banyak berkutat dengan cedera ketimbang tampil prima di musim ini. Itu juga yang jadi alasan utama Enrique tak membawa Sergio Ramos. Musim ini, Ramos lebih banyak masuk meja operasi dan hanya mencatat 7 penampilan bersama Real Madrid di tahun 2021.
“Ramos tidak mampu bersaing di musim ini, dia belum bisa berlatih dengan tim ini. Saya meneleponnya tadi malam, itu sungguh sulit. Tentu, saya melihat ini adalah keputusan yang rumit. Saya merekomendasikan bahwa dia harus jadi egois agar dia mendapatkan kembali levelnya untuk bermain di klubnya dan di timnas,” kata Enrique dikutip dari Goal.
BREAKING: Sergio Ramos has been left out of Spain’s squad for Euro 2020 🤯 pic.twitter.com/MHQ4ihj1mD
— ESPN FC (@ESPNFC) May 24, 2021
Terakait hal itu, Ramos telah membuat pernyataan resmi melalui instagram pribadinya. Ia mengaku ikhlas dan mendoakan yang terbaik bagi Spanyol di Piala Eropa nanti.
“Sungguh menyakitkan tidak mewakili negara Anda, tetapi Anda harus jujur dan tulus. Saya berharap yang terbaik untuk semua rekan tim saya dan saya berharap kami memiliki Piala Euro yang hebat. Saya akan bersorak dari rumah.” tulis Sergio Ramos di instagram pribadinya.
Ramos bukan satu-satunya punggawa Madrid yang dicoret. Sejak menjadi pelatih La Furia Roja usai gelaran Piala Dunia 2018, Ia juga beberapa kali memanggil Dani Carvajal, Marco Asensio, dan Isco. Lalu mengapa pemain-pemain ini tak dipanggil?
Masalah Dani Carvajal mirip dengan Sergio Ramos. Bek kanan itu menderita beragam cedera sepanjang musim ini. Terbaru, Carvajal mengalami cedera otot sejak awal Mei lalu. Imbasnya, ia hanya bermain 13 kali bersama Madrid di La Liga musim ini.
Real Madrid are ready to part ways with Marco Asensio this summer, if a good offer arrives. [https://t.co/mqlQ0XtZkK] pic.twitter.com/dy2TZYr0mg
— cricketsoccer (@cricketsoccer) May 26, 2021
Sementara bagi Marco Asensio, winger kanan itu sejatinya sedang tidak cedera. Namun, Asensio yang mencatat 35 penampilan di La Liga musim ini, hanya mampu mencetak 5 gol dan 2 asis. Bisa dibilang bahwa performanya memang tengah menurun.
Lain halnya dengan Isco yang sudah lama tak dipanggil Enrique. Terakhir kali Isco berseragam La Furia Roja terjadi di tahun 2019. Lagipula, musim ini Isco hanya tampil 8 kali sebagai starter. Setali tiga uang, Nacho Fernandez dan Lucas Vazquez yang tampil di Piala Dunia 2018 bahkan sudah tak pernah mendapat panggilan sejak era Luis Enrique.
The disrespect Luis Enrique showed Nacho is unforgivable
Nacho Fernandez had a stellar season he deserved a called up to the Spanish National Team #Injustice #Spain #EURO2020 pic.twitter.com/RzRmdnMjKv
— Juan Ramón Uriarte (@JRUG_17) May 24, 2021
Dengan berbagai alasan dan pertimbangan tadi, maka keputusan Enrique untuk tak memanggil satupun pemain Real Madrid sangat bisa dipahami. Lagipula, sangat riskan baginya membawa pemain asal-asalan untuk ajang sekelas EURO. Lalu, bagaimana wajah skuad timnas Spanyol pilihan Luis Enrique untuk ajang EURO 2020? Berikut daftar lengkapnya.
Daftar Lengkap Skuad Spanyol di EURO 2020
Not one single Real Madrid player has been included in Luis Enrique’s Spain squad for Euro 2020 🇪🇸 pic.twitter.com/R2f5dLHSiY
— FootballJOE (@FootballJOE) May 24, 2021
Kiper
Di posisi kiper, Luis Enrique memilih David De Gea (Manchester United), Unai Simon (Athletic Bilbao), dan Robert Sanchez (Brighton & Hove Albion). Dari nama-nama tadi, masuknya kiper Brighton, Robert Sanchez jadi kejutan. Kiper 23 tahun itu bermain 27 kali dan mencatat 10 clean sheets di Premier League. Tampil di EURO 2020 menjadi debutnya bersama timnas Spanyol.
Brighton have more players in Spain’s Euro 2020 squad than Real Madrid 😳
Goalkeeper Robert Sanchez was selected ahead of Kepa. pic.twitter.com/6aTrQyQ1r6
— ESPN UK (@ESPNUK) May 24, 2021
Masuknya Sanchez sekaligus menggeser poisisi Kepa Arrizabalaga dari jatah kiper La Furia Roja di Piala Eropa tahun ini. Bersama De Gea, Sanchez sepertinya bakal jadi pelapis kiper Athletic Bilbao, Unai Simon. Pasalanya, di tahun 2021 ini, Unai Simon selalu jadi pilihan pertama.
🚨OFICIAL | Unai Simón es CONVOCADO por Luis Enrique para la EUROCOPA. Se queda FUERA Iñigo Martínez. pic.twitter.com/f23U1SXJiD
— Bilbosport TB (@BilbosportTB) May 24, 2021
Bek
Untuk mengawal lini pertahanan, Luis Enrique memanggil 7 bek. Mereka adalah Aymeric Laporte, Eric Garcia (Manchester City), Pau Torres (Villareal), Diego Llorente (Leeds United), Cesar Azpilicueta (Chelsea), Jose Gaya (Valencia), dan Jordi Alba (Barcelona).
Gelandang
Sementara di posisi gelandang, tak banyak kejutan diberikan oleh Luis Enrique. Sebanyak 7 pemain dipanggil untuk mengisi lini tengah. Mereka adalah Sergio Busquets, Pedri (Barcelona), Marcos Llorente, Koke (Atletico Madrid), Rodri (Manchester City), Thiago Alcantara (Liverpool), dan Fabian Ruiz (Napoli).
Spain’s captain for the Euros.
SERGIO BUSQUETS pic.twitter.com/Dek5UMTqEC— Aalam Bains 🎗 (@AalamBainsFCB) May 24, 2021
Dengan absennya Sergio Ramos, secara otomatis ban kapten jatuh ke lengan Sergio Busquets. Gelandang 32 tahun itu telah tampil 122 laga sejak debut di tahun 2009. Sebagai wakilnya, Luis Enrique menunjuk Koke. Kapten tim Atletico Madrid itu juga cukup berpengalaman dan pernah tampil di Piala Dunia 2014 dan 2018.
A player that rarely gets enough credit: Koke.
One of the only players remaining from Atletico’s miracle La Liga 13/14 win. He rejected moves to Barcelona and other giants to stay with his boyhood club.
Now? He gets to lift La Liga as a captain. A legend of La Liga and Atleti. pic.twitter.com/fq0PKrDIIt
— EiF (@EiFSoccer) May 22, 2021
Penyerang
Luis Enrique juga memanggil 7 nama untuk mengisi sektor penyerang. Striker tajam Gerard Moreno sepertinya bakal jadi ujung tombak. Pasalnya, ia jadi pemain Spanyol dengan total gol tertinggi di La Liga musim ini dengan torehan 23 gol. Moreno bakal bersaing dengan bomber Juventus, Alvaro Morata yang juga kembali dipanggil Enrique.
🇪🇸 LaLiga – 2⃣3⃣
🇪🇺 Europa League – 7⃣🟡 Gerard Moreno scores Villarreal goal number 𝙩𝙝𝙞𝙧𝙩𝙮 for the season to put the Yellow Submarine ahead in Gdansk#UELfinal pic.twitter.com/zaDYinr6RX
— WhoScored.com (@WhoScored) May 26, 2021
Sayap kanan jadi posisi yang paling ramai diperebutkan. Di posisi tersebut, ada 3 pemain yang bersaing. Mereka adalah Pablo Sarabia (PSG), Ferran Torres (Manchester City), dan Adama Traore (Wolverhampton).
Masuknya Adama Traore jadi kejutan lain yang dibuat Enrique. Sebab, penampilan pemain yang nyaris membela timnas Mali itu dinilai menurun bersama Wolverhampton. Adama hanya mencetak 2 gol dan 3 asis dalam 37 laga. Namun, kecepatan lari yang luar biasa dari Adama akan sangat berguna bagi Spanyol.
No player in Europe’s top five leagues has completed more successful dribbles than Adama Traore 💪 pic.twitter.com/HqqR1mnKOF
— ESPN FC (@ESPNFC) May 21, 2021
Di sayap kiri, Dani Olmo dari RB Leipzig difavortikan mengisi posisi tersebut. Olmo selalu jadi pilihan Enrique sepanjang tahun 2021 ini. Namun, ia bakal dapat saingan sulit dari penyerang tajam Real Sociedad, Mikel Oyarzabal yang sudah mengemas 11 gol dan 8 asis musim ini.
Dani Olmo is going to play #EURO2020 with Spain 🇪🇸🔥🙌⏳
VAMOS 👏🏼⚽️ @daniolmo7 #FIRS1 #Convocation pic.twitter.com/379EvBPMmP
— FIRS1 (@FIRS1_Sports) May 24, 2021
Dengan pilihan pemain-pemain tadi, Luis Enrique punya banyak opsi di lini serang. Sejauh ini, Enrique banyak memakai formasi 4-3-3 atau 4-1-4-1. Hal itu tak lepas dari kekayaan lini tengah dan pemain sayap yang dimiliki Spanyol.
OFFICIAL: Spain have announced their squad for the 2020 European Championship. 🇪🇸#EURO2020 pic.twitter.com/YWsEwOJZyy
— Squawka News (@SquawkaNews) May 24, 2021
Lalu, dengan rataan usia 26,5 tahun, siapa saja yang bakal jadi pemain kunci Luis Enrique di EURO 2020?
Masuk sebagai pengganti Sergio Ramos, Aymeric Laporte jelas jadi andalan baru di lini belakang. Pemain keturunan Basque dan kelahiran Prancis itu baru saja memilih untuk membela Spanyol setelah tak pernah dipanggil timnas senior Prancis. Masuknya Laporte sempat memunculkan tuduhan bahwa dirinya adalah penyebab Ramos didepak Enrique.
OFFICIAL: Defender Aymeric Laporte is named in Spain’s squad for the Euros—his first call-up after switching nationality from France 🇪🇸 pic.twitter.com/Z5PT0c9NQm
— B/R Football (@brfootball) May 24, 2021
Pasalnya, Luis Enrique dikabarkan turun langsung untuk melobi Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) untuk mengizinkan Laporte membela La Furia Roja. Namun, dalam sesi konferensi pers, dirinya membantah tuduhan negatif itu dan mengklaim bahwa keputusannya murni karena performa sang pemain.
“Dia (Laporte) adalah pemain level atas, dia adalah penguat yang hebat untuk tim. Saya ingin Anda tidak menghubungkan ketidakberadaan Ramos dengan pemain lain. Ada kemungkinan Ramos bisa pulih sebelum kompetisi dimulai, tapi menurut saya itu sulit,” tutur Luis Enrique dikutip dari indosport.com.
Punggawa Manchester City lainnya, Rodri juga bakal jadi pemain kunci yang diandalkan. Musim ini ia tampil impresif dan membantu The Citizens juara Liga Premier. Rodri adalah gelandang solid yang mampu memainkan peran playmaker.
This is our City! This is our trophy!! 🏆🏆 So proud of this outstanding team! 💙 #PremierLeague #ManCity pic.twitter.com/4MZbffyYp2
— Ferran Torres (@FerranTorres20) May 23, 2021
Di lini depan, selain Gerard Moreno, sosok Ferran Torres dipastikan jadi tumpuan Luis Enrique. Ferran Torres sepertinya jadi favorit Enrique. Pemain 21 tahun itu pernah mencetak hattrick dalam kemenangan 6-0 atas Jerman, November tahun lalu. Selain itu, Ferran Torres mampu memainkan berbagai posisi di lini serang, mulai dari gelandang serang, pemain sayap di kedua sisi, hingga striker.
Risiko Luis Enrique yang Hanya Membawa 24 Pemain
Sayangnya, Luis Enrique mengambil risiko besar dalam EURO 2020. Bukan soal tidak membawa pemain Madrid. Namun, Enrique tak memaksimalkan kuota pemain di EURO 2020. Total, ia hanya membawa 24 pemain dari total 26 pemain yang diizinkan.
Padahal, UEFA menambah kuota pemain sebagai antisipasi bila terjadi kasus penularan virus di dalam tim peserta. Lagipula, akibat dari keputusan kontroversial itu, ada beberapa pemain Spanyol yang sebetulnya tampil apik musim ini, tetapi luput dari panggilan.
Dari skuad juara Atletico Madrid misalnya. Nama Mario Hermoso tak dipanggil Enrique. Padahal, bek tengah 26 tahun itu tampil solid musim ini dengan 261 pressing, 47 blok, 34 intersep dan mencetak 1 gol serta 1 asis dalam 37 laga. Namun, Enrique justru lebih memilih Eric Garcia yang baru tampil 6 kali di Liga Primer musim ini.
Luis Enrique t’as intérêt à sélectionner Mario Hermoso ! 🇪🇸🏆 pic.twitter.com/7CbYhtHZWQ
— CHAMPION D’ESPAGNE 🏆🇫🇷 (@AtletiFrancia) May 22, 2021
Selain Hermoso, nama Jesus Navas juga hilang dalam daftar. Meski sudah berusia 35 tahun, Navas yang bertransformasi menjadi bek kanan sejak kembali ke Sevilla baru saja terpilih dalam daftar La Liga Team of the Season. Menjadi kontroversi juga kala Enrique hanya membawa satu bek kanan murni, yakni Cesar Azpilicueta.
Hilangnya nama Iago Aspas juga jadi sorotan. Striker 33 tahun itu telah mencetak 14 gol dan menjadi top asis La Liga musim ini dengan 13 asis. Sepertinya, Luis Enrique lebih memilih mempercayakan La Furia Roja di kaki pemain-pemain muda.
Los grandes olvidados de la @SeFutbol:
– Iago Aspas
– Sergio Canales
– Jesús Navas
– Nacho Fernández
– Mario Hermoso
– Sergio RamosLuis Enrique se permite el lujo de llevar a 24 futbolistas, en lugar de 26. Y no creo que España vaya sobrada de efectivos para esta Eurocopa. pic.twitter.com/rfqSmKG12d
— Alberto Estévez Ingelmo (@albertoestevezi) May 24, 2021
Buktinya, hanya ada 2 pemain tersisa dari skuad juara EURO 2012, yakni Sergio Busquets dan Jordi Alba. Spanyol memang sedang berbenah. Meski menjuarai EURO 2008, EURO 2012, dan Piala Dunia 2010, pencapaian La Furia Roja di 2 turnamen akbar terakhir tidak cukup bagus.
Spanyol terhenti di babak 16 besar EURO 2016 dan Piala Dunia 2018. Meski sempat meraih kemenangan 6-0 atas Jerman, dalam 11 laga terakhir, mereka cuma menang 5 kali. Spanyol memang bukan favorit di EURO 2020 dan skuad mereka bukan lagi generasi emas yang memenangi Piala Dunia dan Piala Eropa. Namun, Spanyol tetaplah Spanyol dengan bakat dan talenta yang tak bisa disepelekan.
Di EURO 2020 nanti, Spanyol tergabung di Grup E bersama Swedia, Polandia, dan Slovakia. La Furia Roja akan memulai turnamen di tanggal 14 Juni nanti. Jadi, mampukah skuad Luis Enrique melangkah jauh di EURO 2020?
***
Sumber Referensi: FourFourTwo, Squawka, Kompas,Goal, Indosport
Deretan Striker Hebat yang Ditinggal Timnas di Turnamen Besar (Part 2)
Melanjutkan daftar deretan striker hebat yang secara mengejutkan ditinggal tim nasionalnya di tunemaen besar. Berikut Starting Eleven kembali sajikan part keduanya.
Daftar Isi
Italia – Antonio Cassano dan Mario Balotelli
Nama Antonio Cassano sangat identik dengan kata bengal. Mantan penyerang AS Roma, Real Madrid, AC Milan, dan Inter Milan itu memang kerap dihinggapi kontroversi, baik akibat ulah nakalnya di atas lapangan maupun di luar lapangan. Tak jarang, ia kerap menerima hukuman larang bertanding akibat tindakan indisiplinernya.
Namun, takada yang menyangkal bahwa striker bertinggi badan 175 cm itu adalah salah satu penyerang tajam dengan naluri mencetak gol yang luar biasa. Sempat meredup pasca pindah ke Real Madrid, Cassano kembali menemukan performanya saat membela Sampdoria.
Buon compleanno, Antonio #Cassano. 🎂3️⃣8️⃣🎉 💫 pic.twitter.com/B9eAK1Cwz0
— U.C. Sampdoria (@sampdoria) July 12, 2020
Di musim debutnya untuk Il Samp pada 2007/2008 silam, Cassano langsung mencetak 9 gol dan 6 asis dalam 22 pertandingan. Hebatnya lagi, Cassano sukses mencetak 26 gol dan membuat 28 assist dari 78 pertandingan dalam dua musim terakhir sebelum gelaran Piala Dunia 2010.
Namun, kejutan terjadi ketika pelatih timnas Italia saat itu, Marcello Lippi justru meninggalkan Cassano dari skuad Piala Dunia 2010. Gelaran Piala Dunia 2010 sendiri adalah satu dari beberapa penampilan timnas Italia yang ingin dilupakan para pendukungnya. Di ajang Piala Dunia yang diadakan di Afrika Selatan itu, Italia datang dengan status juara bertahan.
Apesnya, mereka langsung tersingkir di babak grup dan menempati peringkat 26 dari 32 kontestan di akhir turnamen setelah tak sekalipun memetik kemenangan di babak grup. Lippi yang sebelumnya berhasil membawa Italia juara di Piala Dunia 2006 justru lebih memilih pemain-pemain gaek yang sudah pernah ia latih ketimbang memilih membawa pemain yang tengah tampil apik seperti Cassano.
ON THIS DAY: In 2012, Mario Balotelli scored twice as Italy beat Germany 2-1 to reach the Euro 2012 final.
One of the iconic modern celebrations was born. pic.twitter.com/5sclWNAOG2
— Squawka Football (@Squawka) June 28, 2019
Cassano bukan satu-satunya striker potensial yang ditinggal Lippi. Di Piala Dunia 2010, ia juga tak membawa striker bengal lainnya, Mario Balotelli. Balotelli yang kala itu masih berusia 20 tahun mampu mencetak 9 gol dan 6 asis kala berseragam Inter Milan di Serie A.
Dua tahun berselang, kala posisi allenatore berpindah ke tangan Cesare Prandelli, akhirnya Cassano dan Balotelli mendapat panggilan untuk membela Gli Azzurri di EURO 2012. Cassano dan Balotelli yang kala itu masih berseragam Milan dan Manchester City mampu menyalurkan performa apiknya ke timnas Italia. Keduanya jadi duet maut dan mampu mengantarkan Italia mengakhiri EURO 2012 sebagai runner-up.
Throwback to when the striker duo of Cassano and Balotelli helped lead Italy to the Euro 2012 finals. 🇮🇹 Image Credit: https://t.co/QzEz3QsTHo#Balotelli #cassano #euro2012 #euro2012final #FIGC #prandelli #pirlo #derossi #buffon #Chiellini #SerieA #Calcio #Campionato pic.twitter.com/tZUlmNWGje
— Calcio Fan Blogs (@calciofanblogs1) April 13, 2020
Italia – Giuseppe Rossi
Masih dari Italia, satu lagi striker hebat yang sempat terpinggirkan dari skuad timnas Italia adalah Giuseppe Rossi. Sama seperti Cassano dan Balotelli yang ditinggal di Piala Dunia 2010, Rossi juga tak dibawa Marcelo Lippi ke Afrika Selatan.
⚠️RUMOR⚠️
El delantero que actualmente juega en EEUU, Giuseppe Rossi el ex delantero del Villareal parece gustar mucho a Arnau. pic.twitter.com/qcxUjsjWON
— Pasion.oviedista1926 (@POviedista1926) July 26, 2020
Padahal, Rossi tampil di Piala Konfederasi 2009 dan menjadi top skor Italia dengan 2 gol. Ditambah lagi, dalam 2 musim sebelum Piala Dunia 2010, Rossi yang kala itu masih berseragam Villareal mampu mencetak 32 gol dan 9 asis. Seolah ingin membuktikan diri, di musim 2010/2011, Ia tampil lebih ganas lagi. Striker bertinggi badan 173 cm itu mampu mencetak 32 gol dan 11 hanya dalam 55 laga bersama Villareal.
When Giuseppe Rossi scored a half volley rocket against USA 🇮🇹🇺🇸
📍 June 15, 2009 – Confederations Cup in South Africa pic.twitter.com/cgQCNFgHvh
— CalcioGoats (@CalcioGoats) September 10, 2020
Apesnya, sebelum ajang EURO 2012, Rossi menderita cedera cukup parah hingga harus absen lebih dari 1 musim. Mantan pemain Manchester United itu juga kembali menerima kenyataan pahit kala tak terpilih dalam skuad timnas Italia di Piala Dunia 2014 dan EURO 2016. Sayang disayangkan Gli Azzurri justru tak memanggil Giuseppe Rossi kal dirinya tengah fit dan tampil prima.
Prancis – Karim Benzema
Kembalinya Karim Benzema ke skuad timnas Prancis di EURO 2020 adalah sebuah hal yang telah lama dinanti oleh para pendukungnya. Bagaimana tidak, Benzema telah lama absen membela Les Blues sejak dilupakan pada 2015 silam.
BREAKING: @Benzema called up for France’s EURO 2020 squad for the first time in 6 years. 🇫🇷🔙 pic.twitter.com/9TEoIH6xzz
— 433 (@433) May 18, 2021
Pelatih timnas Prancis, Didier Deschamps enggan memanggil striker Real Madrid itu. Semuanya berawal kala Benzema terlibat kasus hukum bersama rekannya di timnas Prancis, Mathieu Valbuena. Benzema dituduh telah membayar seseorang untuk melakukan pemerasan terhadap Valbuena dengan mengancam akan menyebar rekaman skandal seksual yang diduga diperankan rekannya tersebut.
Karim Benzema will be forced to appear before the Versailles Criminal Court for the Mathieu Valbuena sextape case.@GFFN @franceinfo pic.twitter.com/uw67zILZ5I
— Madridista TV (@theMadridstaTV) January 7, 2021
Meski belum terbukti dan kasus memalukan itu masih berjalan, Benzema berulang kali menyangkal tuduhan tersebut dan menyayangkan sikap Valbuena yang justru membawa masalah tersebut ke ranah hukum meski telah memaafkan dirinya. Sejak saat itu, Benzema tak dipanggil Didier Deschamps ke EURO 2016 dan Piala Dunia 2018.
Padahal, Benzema telah mengoleksi 81 caps dan menyumbang 27 gol untuk Les Blues. Selain itu, sebelum EURO 2016 saja, Benzema mampu menghasilkan 28 gol dan membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions. Untungnya, di EURO 2016, Prancis tak kesulitan mencetak gol dan masih mampu finish sebagai runner-up dan menjadi jawara di Piala Dunia 2018 silam.
Karim Benzema this season:
45 Games
30 Goals
9 AssistsWhat a season, by Benz 💫 pic.twitter.com/7S2lpBSK6n
— RMadridHome (@RMadridHome) May 22, 2021
Namun, dengan hadirnya kembali Karim Benzema dalam skuad Prancis di EURO 2020 jelas akan menambah daya gedor Les Blues. Musim ini saja, striker 33 tahun itu sudah mencetak 30 gol untuk Real Madrid. Maka sangat aneh apabila Deschamps kembali menyingkirkan Benzema dalam skuadnya.
Jerman – Kevin Kuranyi
Sebelum Jerman bertumpu pada Mario Gomez dan Miroslav Klose, ujung tombak Der Panzer juga dipercayakan kepada sosok Kevin Kuranyi. Bomber kelahiran Brasil itu hijrah ke Jerman di usia muda saat bergabung dengan akademi Stuttgart pada tahun 1997.
Kuranyi lahir dari seorang ayah Jerman keturunan Hungaria dan ibu asal Panama. Oleh sebab itu, ia memiliki kewarganegaraan Jerman, Panama, dan Brasil serta berkesempatan membela Hungaria. Namun, tumbuh besar di Jerman membuat Kuranyi akhirnya lebih memilih membela timnas Jerman.
Penampilan apiknya bersama tim senior Stuttgart membuat Kuranyi mendapat panggilan pertama. Bagaimana tidak, selama 4 musim membela Stuttgart, ia mampu mencetak 57 gol dari 132 laga di semua kompetisi. Performa apiknya itu membuat Kuranyi dibawa pelatih Jerman kala itu, Rudi Voller ke ajang EURO 2004 dan Piala Konfederasi 2005.
Kevin Kuranyi in action for Germany. Can you name the others in the photos? #takeatrip pic.twitter.com/tl0nNQ2nmj
— @ShirtLane (@shirtlane) February 17, 2020
Sayangnya, nasibnya berubah drastis kala pelatih timnas Jerman berganti ke tangan Jurgen Klinsmann. Klinsmann lebih memilih menduetkan Miroslav Klose dengan Lukas Podolski. Kuranyi akhirnya kehilangan tempat di skuad Piala Dunia 2006.
Meski dirinya kemudian tampil menawan kala berseragam Schalke, Kuranyi kembali ditinggal di EURO 2008. Tak ingin menyerah, Kuranyi membuktikan diri dengan tampil apik di Bundesliga. Ia mampu mencetak 36 gol dalam 2 musim sebelum gelaran Piala Dunia 2010.
Apesnya, meski pelatih Jerman sudah berpindah ke tangan Joachim Low, Kuranyi tak juga jadi pilihan utama. Pada laga kualifikas Piala Dunia 2010 melawan Rusia, Kevin Kuranyi yang tak masuk skuad dan harus puas duduk jauh di bangku cadangan merasa kesal dengan keputusan Low. Ia kemudian nekad meninggalkan stadion saat jeda babak pertama dan memilih langsung pulang ketimbang kembali ke pusat latihan timnas.
Low yang kesal jelas tak memilihnya dalam skuad Piala Dunia 2010. Tak hanya itu, Low juga mengatakan bahwa selama dirinya menjabat sebagai pelatih timnas Jerman, dirinya tak akan pernah memanggil Kevin Kuranyi lagi. Kuranyi memang meminta maaf tetapi dia juga menyebutkan bahwa dia tidak menyesal atas tindakannya.
Former #S04 striker Kevin Kuranyi has announced his retirement from football.
Good luck in the future and thanks for all the goals, Kevin! pic.twitter.com/3EvgpRum3o
— Schalke_Canada FC (@Schalke_Canada) March 25, 2017
Sejak saat itu, karier Kevin Kuranyi di Der Panzer berakhir. Hingga pensiun pada 2016 silam, Kuranyi telah tampil sebanyak 52 laga untuk timnas Jerman dan menyumbang 19 gol. Sayang, keputusannya memilih membela timnas Jerman justru harus berakhir dengan pahit.
****
Sumber Referensi: thesportster, liputan6, bleacherreport,bbc
