Beranda blog Halaman 699

Kisah Kiper Yang Mendapat Skorsing Seumur Hidup Akibat Pura-Pura Cedera

0

Jauh sebelum Claudio Bravo menjadi penjaga gawang terbaik Chile, negara asal Amerika Latin ini pernah punya kiper hebat bernama Roberto Rojas. Rojas merupakan kiper terbaik Chile pada era 80-an. Namun sayang, karir kiper kelahiran 8 Agustus 1957 ini ternodai karena ulahnya sendiri. Pemain yang mendapat julukan El-Condor ini mendapat skorsing seumur hidup dari Federasi Sepakbola Dunia (FIFA). Hukuman ini sebagai akibat dari tindakan diving yang pernah dilakukannya dalam pertandingan internasional.

Roberto Rojas sebenarnya adalah salah satu talenta terbesar yang dimiliki Chile. Ia mengawali karir sepakbolanya bersama kesebelasan lokal Chili, Aviacion pada tahun 1976. Enam tahun kemudian Rojas hijrah ke klub raksasa Chile Colo-Colo. Konon, berkat penampilannya di kesebelasan asal Santiago inilah ia dihadiahi julukan El Condor.  Di klub tersebut, Rojas memenangkan Liga Chile 1983 dan 1986.

Rojas adalah pemain panutan bagi kebanyakan pesepakbola Chile pada waktu itu. Ia dianugerahi ketangkasan yang luar biasa sebagai seorang kiper. Selain itu, dia juga punya kharisma dan seorang yang taat beragama. Pada 1987, Rojas memutuskan untuk bergabung dengan klub asal Brasil, Sao Paulo. Di klub tersebut, Rojas bermain sebanyak 17 kali.

Dekade 80-an merupakan masa terbaik Rojas berkarir sebagai pesepakbola. Selain bersinar terang bersama Colo-Colo, Rojas juga menjadi andalan bagi tim nasional Chile. Ia tampil di tiga Copa America berbeda pada kurun waktu tersebut. Namun sayang, karir gemilangnya itu harus berakhir dengan cara yang sangat memalukan.

Peristiwa itu terjadi pada perhelatan babak kualifikasi piala dunia 1990 zona CONMEBOL. Pada babak kualifikasi itu, Timnas Chile satu grup dengan Brasil dan Venezuela di grup 3. Saat itu, CONMEBOL mendapatkan jatah 4+1 untuk tampil di Piala Dunia 1990. Argentina sebagai juara bertahan lolos otomatis. Lalu, 3 tempat kosong diberikan kepada juara Grup 1, 2, dan 3. Sementara runner-up terbaik akan play-off melawan utusan Oceania.

Brasil dan Chile bersaing ketat di grup 3. Mereka menjadikan Venezuela sebagai bulan-bulanan. Hingga akhirnya laga penentuan pun tiba. Tepat pada 3 September 1989, Brasil menjamu Chile di stadion Maracana. Laga ini menjadi laga hidup mati bagi kedua kesebelasan. Siapapun yang menang, dialah yang berhak melenggang ke putaran final piala dunia di Italia. Brasil tentu lebih diuntungkan mengingat status mereka sebagai tuan rumah dan dihuni banyak pemain berkelas. Sedangkan Chile, kans untuk menang cukup sulit.

Di pertandingan inilah, skandal memalukan itu terjadi. Aktor utamanya tentu saja Roberto Rojas. Demi memenuhi ambisinya tampil di ajang bergengsi sekelas piala dunia, Rojas menghalalkan segala cara untuk bisa menyingkirkan Brasil.

Ketika itu, pertandingan berjalan seperti biasa, normal tidak ada tanda-tanda keributan atau kerusuhan yang bakal terjadi. Skor kacamata masih bertahan hingga turun minum. Namun di awal babak kedua tim samba berhasil membobol gawang Chile  lewat Antonio “Careca” de Oliveira Filho.

Bersamaan dengan Chile yang sedang berusaha menyamakan skor, tiba-tiba pertandingan memanas hingga pendukung tuan rumah melemparkan segala macam benda ke lapangan, termasuk ke belakang gawang Rojas. Kemudian pada menit ke 70, sebuah flare terlempar ke arah gawang Rojas dari tempat para suporter Brasil. Tiba-tiba Rojas tampak terkapar di depan gawangnya. Diketahui pelaku pelemparan flare itu bernama Rosenery Mello.

Melihat insiden tersebut, sebagai bentuk protes atas pelemparan flare yang dilakukan fans Brasil, para pemain dan ofisial Chile, yang dipimpin sang kapten, Fernando Astengo, memutuskan meninggalkan lapangan dengan menggotong Rojas yang berlumuran darah. Kubu Chile pun beramai-ramai mengklaim kalau pertandingan tidak aman dan harus dihentikan. Klaim ini dikabulkan dan pertandingan pun tidak dilanjutkan.

Pasca kejadian tersebut, berbagai opini negatif anti Brasil mulai bermunculan. Brasil, yang meski berhasil meraih kemenangan WO 2-0 di Maracana, tak bisa tenang. Langkah mereka untuk terbang ke Italia masih belum pasti. Federasi sepakbola Chili bahkan menuntut supaya pertandingan digelar kembali di tempat netral.

Awalnya, semua orang percaya jika Rojas mengalami cedera karena lemparan flare yang mengarah tepat ke wajahnya. Tapi, keesokan harinya, berita di televisi dan beberapa foto surat kabar menunjukkan fakta sebaliknya. Flare tidak mengenai tubuh Rojas, apalagi mengenai wajahnya. Flare itu malah mendarat lebih dari 1 meter dari sisi Rojas. Hal ini dibuktikan lewat hasil jepretan fotografer asal Argentina, Ricardo Alfieri. Selain itu, pemeriksaan medis juga tidak menemukan satupun jejak luka bakar.

Tapi apa yang menyebabkan wajah Rojas bersimbah darah?

Ternyata, Rojas menyembunyikan silet di balik sarung tangannya. Tepat ketika kembang api terlempar, pisau cukur tersebut langsung disayatkan ke wajahnya sendiri. Harapannya tentu agar bisa lolos ke piala dunia di Italia dengan kemenangan WO atas Brasil. Tapi setelah fakta ini terbongkar, semua harapannya pupus.

Di saat yang sama Polisi Brasil berhasil menangkap pelaku pelemparan flare, yakni seorang pemuda berusia 24 tahun dari Rio de Janeiro bernama Rosenery Mello do Nascimento, yang kemudian dikenal sebagai Fogueteira do Maracana (Petasan Maracana). 

Berbekal keterangan dari pelaku dan penyelidikan di lapangan, CONMEBOL akhirnya memanggil Rojas untuk bersaksi. Hasil interogasi memunculkan pengakuan mengejutkan dan menggemparkan dari Rojas, yaitu ia mengaku melukai wajahnya sendiri dengan pisau cukur. 

Sepuluh hari setelah pertandingan, FIFA memutuskan Rojas dilarang bermain selamanya dari pertandingan sepakbola profesional. Chile, selain dicoret dari kualifikasi dan dinyatakan kalah WO atas Brasil, juga mendapatkan hukuman tambahan, dilarang ambil bagian di Kualifikasi Piala Dunia 1994.

Selain Rojas yang dihukum seumur hidup, Sergio Stoppel (presiden Asosiasi Sepakbola Chile), Orlando Aravena (pelatih), Fernando Astengo (pemain), dan Daniel Rodriguez (dokter tim) juga mendapat skorsing. Keputusan ini diambil FIFA, karena mereka dianggap turut berkontribusi, meski secara tidak langsung dalam insiden tersebut. 

Keputusan itu membuat media dan fans Chile marah. Akibatnya, Kedutaan Besar Brasil di Kota Santiago diserbu warga Chile yang melakukan aksi demo.

Bahkan, media olahraga ternama Chile ketika itu, Minuto 90, menulis konspirasi bahwa Presiden FIFA asal Brasil, Joao Havelange, sengaja menjatuhkan hukuman demi mengamankan tim Samba di piala dunia Italia 1990.

Di masa-masa hukumannya, Rojas tetap giat menggeluti dunia sepakbola. Ia dikenal sebagai komentator pertandingan dan pendiri sekolah sepakbola untuk anak-anak di Chile. 

Rojas juga dipekerjakan sebagai pelatih kiper Sao Paulo untuk mengasuh kiper muda, Rogerio Ceni. Dia melatih Ceni selama hampir satu dekade. Berkat tangan dinginnya, Rojas berhasil melahirkan sosok ikonik dan legenda Sao Paulo dalam diri Ceni.

Hukuman Rojas berakhir pada tahun 2001 di usia 43 tahun, setelah ia mengajukan permohonan pengampunan pada FIFA.

Sumber Referensi: Panditfootball, Libero, Goal, historia, Bola.net

Ketika Cesc Fabregas Bobol Gawang Barcelona Dalam Kondisi Patah Kaki

Secara logika, pesepakbola yang mengalami cedera, terlebih jika cederanya itu sangat serius, tak mungkin bisa bermain. Namun, dalam sejarahnya, ternyata ada pemain yang meskipun alami cedera parah dia masih bisa bermain, dan luar biasanya lagi bisa mencetak gol.

Pemain tersebut adalah Cesc Fabregas. Fabregas merupakan salah satu gelandang terbaik di dunia sekitar satu dekade yang lalu. Karir Fabregas terbilang sukses. Selain pernah menjuarai ajang piala eropa dan piala dunia, ia juga mengantarkan sejumlah klub meraih berbagai trofi juara. Riwayat karir Fabregas terbentang luas dari Arsenal sampai AS Monaco. Saat masih membela Arsenal, Fabregas pernah melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan para pesepak bola. Yakni, mencetak gol dalam kondisi patah kaki.

Peristiwa tersebut terjadi pada ajang perempat final Liga Champions, April 2010. Kala itu, Fabregas yang masih berseragam Arsenal menghadapi Barcelona di leg pertama perempat final yang dihelat di stadion Emirates. 

Tim Meriam London yang masih dilatih oleh Arsene Wenger kala itu bermain imbang 2-2 melawan Barcelona. Arsenal tertinggal lebih dulu dari Barcelona lewat dua gol dari Zlatan Ibrahimovic. Namun kemudian mereka sukses menyamakan kedudukan melalui gol dari Theo Walcott dan Fabregas.

Gol terakhir pada laga tersebut dicetak oleh Fabregas. Ia jadi pahlawan saat menghindarkan Arsenal dari kekalahan. Eksekusi penaltinya di menit 85 berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2.

Namun, diketahui bahwa saat melakukan tendangan penalti itu Fabregas tidak dalam kondisi sehat. Fabregas dikabarkan mengalami patah kaki saat mengeksekusi penalti tersebut. Memang tak terlihat tanda-tanda Fabregas alami cedera parah saat hendak mengambil penalti, namun setelah cetak gol ia meringis kesakitan.

Fabregas mulai merasakan sakit pada kakinya ketika merayakan gol tersebut, dia sempat duduk tak berdaya di tengah lapangan sebelum mendapat pertolongan pertama dari tim dokter. Fabregas lalu meninggalkan lapangan dengan tertatih-tatih. 

Lantas apa yang sebenarnya terjadi pada Fabregas?

Pemain asal Spanyol itu ternyata divonis mengalami keretakkan pada fibula kanannya. Seusai laga melawan Barcelona tersebut, Fabregas sempat mengatakan bahwa dirinya alami patah kaki. “Kaki saya patah, dan saya juga merasa patah (hati),” ujarnya.

“Saat saya mengambil penalti, saya masih sangat kuat, tapi setelah saya menendang bola saya tak bisa berjalan lagi. Masalahnya di fibula. Saya pikir kaki saya terjepit di antara kaki Puyol saat saya dilanggar dan tertendang.”

Ya, cedera Fabregas pada laga itu terjadi karena dirinya memperebutkan bola dengan kapten El Barca Carles Puyol di kotak penalti. Namun, sejumlah pihak dari klub London Utara mensinyalir, Fabregas memang sudah mengalami patah kaki saat memutuskan ambil bagian pada pertandingan tersebut.

Keputusan menurunkan Fabregas kontra Barcelona memang diambil pada detik-detik terakhir. Pasalnya, kondisi Fabregas sudah diragukan akibat gangguan lutut yang dialaminya kala Arsenal ditahan 1-1 oleh Birmingham City pada lanjutan Premier League pekan sebelumnya.

“Beberapa orang berpikir saya mungkin mengalami patah kaki melawan Birmingham seminggu sebelumnya – dan, sejujurnya, saya tidak tahu. Ya, tempatnya (mendapatkan cedera) sama, tetapi saya tidak berpikir ‘kaki saya patah’ ketika maju berhadapan dengan Barcelona.” ucap Fabregas.

Selepas pertandingan di leg pertama itu, Fabregas kemudian harus menepi dari lapangan hijau selama sisa musim 2009/10 akibat cederanya tersebut. Musim itu, ia mencetak 19 gol dan mencatatkan 19 assist dalam 36 penampilan untuk Arsenal, ia lalu meninggalkan The Gunners dan berlabuh ke klub masa kecilnya, Barcelona pada musim panas 2011.

 Sumber Referensi: Libero, Bola.okezone, Sport.detik, Bolasport

Mengenal Ibrahima Konate: Titisan Virgil van Dijk Yang Direkrut Liverpool

0

Ada banyak pesepak bola bernama belakang Konate, Moussa Konate, Makan Konate, Mohamed Konate dan Ibrahima Konate. Dari sekian nama yang ada, Ibrahima Konate jadi yang paling terkenal saat ini. Seorang bek tengah yang masih muda, berbakat, dan mengesankan secara fisik, juga cukup berpengalaman. 

Sejak kabar ia bakal merapat ke klub raksasa Liga Primer Inggris, Liverpool, nama Ibrahima Konate cukup terdengar nyaring belakangan ini. Klub asuhan Jurgen Klopp itu dikabarkan selangkah lagi bakal segera meresmikan kedatangan Ibrahima Konate. Sang pemain diketahui baru saja menyelesaikan beberapa tes medis yang diperlukan.

Liverpool sendiri memang tengah mencari sosok bek anyar usai tembok andalan mereka Virgil van Dijk alami cedera parah pada lututnya. Beberapa bek diincar dan nama Ibrahima Konate berada dalam posisi teratas.

Kabarnya, Liverpool sudah menggelar negosiasi dengan RB Leipzig. Bahkan pembicaraan berlangsung lancar. Klub asal Jerman itu pun disebut segera melepas Ibrahima Konate ke Anfield. Kabarnya, bandrolnya sekitar 40 juta euro (Rp 683 miliar).

Lantas, siapa sebenarnya Ibrahima Konate? mengapa ia dibanderol dengan harga cukup mahal?

Ibrahima Konate lahir di Paris, Prancis pada 25 Mei 1999. Ia adalah salah satu dari tujuh bersaudara yang mengenal sepak bola dari jalanan di Paris. Masa kecilnya dihabiskan dengan bermain bola. Setiap harinya, Konate selalu belajar mengolah bola mulai dari menendang, hingga mendribel di halaman depan rumahnya. 

Minat dan bakatnya yang besar membuat orang tua Konate mendaftarkannya ke akademi Paris FC pada saat ia berusia 10 tahun.

Di awal karirnya, Konate lebih sering bermain sebagai penyerang. Itu dikarenakan ia mengidolakan striker legendaris Brasil, Ronaldo. Namun, Konate kemudian beralih posisi menjadi gelandang.

Bersama Paris FC, Konate berkembang pesat. Ia menjelma menjadi didikan terbaik akademi klub tersebut. Tak ayal, dirinya mendapat tawaran dari klub-klub lain di Prancis. Saat memasuki usia 14 tahun, tiga klub yakni Rennes, Caen dan Sochaux menawarkan tempat untuk Konate. Namun, dengan berbagai pertimbangan, Konate lebih memilih pindah ke Sochaux.

Sochaux merekrut Konate berkat kepiawaiannya bermain sebagai seorang gelandang.  Ia lalu menghabiskan waktu bersama Sochaux dari level akademi sampai ke tim senior. Tiga tahun setelah bergabung dengan tim akademi Sochaux, Konate mendapatkan kontrak profesional pertamanya bersama klub berjuluk Les Jeunes Et Bleus tersebut.

Namun di tim senior, Konate hanya tampil 13 kali untuk Sochaux. Merasa bahwa dirinya tidak bisa berkembang di sana, Konate pun akhirnya memilih RB Leipzig sebagai pelabuhan berikutnya. Konate resmi menjadi pemain baru RB Leipzig pada bursa transfer musim panas 2017.

Konate menjalani debutnya pada matchday ketujuh Liga Prancis musim 2017/18 saat Leipzig meraih kemenangan atas Cologne dengan skor 2-1. Musim pertamanya bersama Leipzig memang banyak dihabiskan dengan duduk di bangku cadangan.

Sejak direkrut dari Sochaux, Konate memang sengaja didatangkan untuk jadi pelapis Dayot Upamecano. Meski begitu, ia menjadi pemain terbaik di lini pertahanan RB Leipzig.

Musim 2018/19, Konate berhasil masuk di tim utama RB Leipzig dan memainkan 27 laga di Bundesliga. Konate juga turut berperan penting atas finishnya RB Leipzig di peringkat ketiga Bundesliga.

Penampilan Konate musim itu menuai banyak pujian. Salah satunya dari pelatih RB Leipzig kala itu, Ralf Rangnick. Rangnick bahkan menyebut jika Konate dengan potensi yang dia punya, suatu saat bisa bermain dengan klub sekelas Real Madrid atau Barcelona.

“Saya sangat senang dengan berhasilnya RB Leipzig yang merekrut Ibrahima Konate. Kami mendapatkannya dengan status bebas transfer dari Sochaux. Permainannya sangat bagus sehingga kemungkinan ia bisa bermain untuk Real Madrid atau Barcelona suatu hari nanti,” ucapnya.

Setelah cukup sukses pada musim 2018/19, sayangnya Konate mengalami penurunan di musim berikutnya. Dia cuma tampil 11 kali di seluruh kompetisi. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah masalah fisik. Cedera otot yang didapatnya membuat Konate harus menjalani operasi dan absen sebanyak 27 pertandingan. 

Musim ini, kondisi tersebut kembali menimpa Konate. Ia lagi-lagi berkutat dengan masalah fisik dan cedera engkel, yang membuatnya absen selama hampir dua bulan. Padahal, Konate baru bermain 15 kali dan menorehkan satu gol dengan waktu main 890 menit.

Soal gaya bermain, Konate cukup apik tampil di lini pertahanan RB Leipzig. Ia menjadi pesepakbola yang cukup beruntung. Selain diberkahi kecepatan, dan fisik yang ideal, ia juga mampu membangun skema awal penyerangan.

Gaya permainan Konate menyerupai bek Liverpool yang saat ini sedang alami cedera yakni Virgil Van Dijk. Memang, masih terlalu dini bagi Konate untuk dibandingkan dengan bek asal Belanda tersebut, namun hal itu bukan tanpa alasan.

Konate memiliki kurang lebih 65 persen keberhasilan tekel dan ia juga memiliki persentase di atas 70 persen dalam duel udara. Pengidola Sergio Ramos ini mampu menggiring bola hingga ke tengah lapangan dan membuat umpan-umpan manis untuk memulai serangan. Akurasi umpannya pun mencapai 85 persen di tiap laga.

Terkait sisi lain kehidupan Konate, pemain yang juga sering dipanggil untuk memperkuat timnas Prancis di level junior itu, punya julukan unik. Di luar sepak bola, ia mendapat julukan yang kocak dari ibunya sendiri yakni ‘Ibu’.

Julukan itu sempat didengar oleh salah seorang staf RB Leipzig, akibatnya anggota tim lainnya ikut memanggilnya “Ibu”. Bahkan, rekan-rekan setimnya membuat sedikit modifikasi dalam julukannya, yakni ‘ibuprofen’, yang merupakan jenis obat pereda nyeri.

Sumber referensi: Bola.net, Lifebogger, Ligalaga, Indosport

Spanyol Tanpa Pemain Real Madrid di EURO 2020! Apa Alasan Luis Enrique?

Menjelang bergulirnya EURO 2020, para pemain dari negara-negara yang lolos ke ajang paling bergengsi di Eropa itu berlomba-lomba untuk tampil impresif. Ada pula yang berpacu dengan waktu untuk mengembalikan kondisi fisiknya. Semua itu dilakukan demi mendapat panggilan tim nasional untuk EURO 2020.

Sayangnya, meski sudah berjuang hingga pertandingan terakhir musim ini, punggawa Spanyol di Real Madrid tak satupun yang memikat pelatih timnas Spanyol, Luis Enrique. Secara mengejutkan, entrenador 51 tahun itu tak membawa satupun pemain Madrid ke ajang EURO 2020.

Keputusan paling kontroversial dari Enrique tentu saja dicoretnya Sergio Ramos dalam skuad La Furia Roja. Padahal, Ramos adalah kapten tim sekaligus pemegang rekor penampilan internasional terbanyak dengan 180 caps. Tak ayal, keputusan Enrique itu memunculkan dugaan: Apakah Luis Enrique anti Real Madrid?

Pertanyaan tersebut wajar dilontarkan mengingat status Enrique yang pernah membawa Barcelona meraih treble winners pada 2015 silam. Namun, apa alasan sesungguhnya dari Luis Enrique mencoret semua pemain Madrid dari daftar skuad timnas Spanyol di EURO 2020?

Cedera dan Tampil Buruk Jadi Alasan Enrique Tinggalkan Pemain Madrid

Penampilan buruk di musim ini adalah alasan utama Enrique tak menyertakan pemain Madrid dalam skuad pilihannya. Selain itu pemain Madrid juga lebih banyak berkutat dengan cedera ketimbang tampil prima di musim ini. Itu juga yang jadi alasan utama Enrique tak membawa Sergio Ramos. Musim ini, Ramos lebih banyak masuk meja operasi dan hanya mencatat 7 penampilan bersama Real Madrid di tahun 2021.

“Ramos tidak mampu bersaing di musim ini, dia belum bisa berlatih dengan tim ini. Saya meneleponnya tadi malam, itu sungguh sulit. Tentu, saya melihat ini adalah keputusan yang rumit. Saya merekomendasikan bahwa dia harus jadi egois agar dia mendapatkan kembali levelnya untuk bermain di klubnya dan di timnas,” kata Enrique dikutip dari Goal.

Terakait hal itu, Ramos telah membuat pernyataan resmi melalui instagram pribadinya. Ia mengaku ikhlas dan mendoakan yang terbaik bagi Spanyol di Piala Eropa nanti.

“Sungguh menyakitkan tidak mewakili negara Anda, tetapi Anda harus jujur dan tulus. Saya berharap yang terbaik untuk semua rekan tim saya dan saya berharap kami memiliki Piala Euro yang hebat. Saya akan bersorak dari rumah.” tulis Sergio Ramos di instagram pribadinya.

Ramos bukan satu-satunya punggawa Madrid yang dicoret. Sejak menjadi pelatih La Furia Roja usai gelaran Piala Dunia 2018, Ia juga beberapa kali memanggil Dani Carvajal, Marco Asensio, dan Isco. Lalu mengapa pemain-pemain ini tak dipanggil?

Masalah Dani Carvajal mirip dengan Sergio Ramos. Bek kanan itu menderita beragam cedera sepanjang musim ini. Terbaru, Carvajal mengalami cedera otot sejak awal Mei lalu. Imbasnya, ia hanya bermain 13 kali bersama Madrid di La Liga musim ini.

Sementara bagi Marco Asensio, winger kanan itu sejatinya sedang tidak cedera. Namun, Asensio yang mencatat 35 penampilan di La Liga musim ini, hanya mampu mencetak 5 gol dan 2 asis. Bisa dibilang bahwa performanya memang tengah menurun.

Lain halnya dengan Isco yang sudah lama tak dipanggil Enrique. Terakhir kali Isco berseragam La Furia Roja terjadi di tahun 2019. Lagipula, musim ini Isco hanya tampil 8 kali sebagai starter. Setali tiga uang, Nacho Fernandez dan Lucas Vazquez yang tampil di Piala Dunia 2018 bahkan sudah tak pernah mendapat panggilan sejak era Luis Enrique.

Dengan berbagai alasan dan pertimbangan tadi, maka keputusan Enrique untuk tak memanggil satupun pemain Real Madrid sangat bisa dipahami. Lagipula, sangat riskan baginya membawa pemain asal-asalan untuk ajang sekelas EURO. Lalu, bagaimana wajah skuad timnas Spanyol pilihan Luis Enrique untuk ajang EURO 2020? Berikut daftar lengkapnya.

Daftar Lengkap Skuad Spanyol di EURO 2020

Kiper

Di posisi kiper, Luis Enrique memilih David De Gea (Manchester United), Unai Simon (Athletic Bilbao), dan Robert Sanchez (Brighton & Hove Albion). Dari nama-nama tadi, masuknya kiper Brighton, Robert Sanchez jadi kejutan. Kiper 23 tahun itu bermain 27 kali dan mencatat 10 clean sheets di Premier League. Tampil di EURO 2020 menjadi debutnya bersama timnas Spanyol.

Masuknya Sanchez sekaligus menggeser poisisi Kepa Arrizabalaga dari jatah kiper La Furia Roja di Piala Eropa tahun ini. Bersama De Gea, Sanchez sepertinya bakal jadi pelapis kiper Athletic Bilbao, Unai Simon. Pasalanya, di tahun 2021 ini, Unai Simon selalu jadi pilihan pertama.

 

Bek

Untuk mengawal lini pertahanan, Luis Enrique memanggil 7 bek. Mereka adalah Aymeric Laporte, Eric Garcia (Manchester City), Pau Torres (Villareal), Diego Llorente (Leeds United), Cesar Azpilicueta (Chelsea), Jose Gaya (Valencia), dan Jordi Alba (Barcelona).

 

Gelandang

Sementara di posisi gelandang, tak banyak kejutan diberikan oleh Luis Enrique. Sebanyak 7 pemain dipanggil untuk mengisi lini tengah. Mereka adalah Sergio Busquets, Pedri (Barcelona), Marcos Llorente, Koke (Atletico Madrid), Rodri (Manchester City), Thiago Alcantara (Liverpool), dan Fabian Ruiz (Napoli).

Dengan absennya Sergio Ramos, secara otomatis ban kapten jatuh ke lengan Sergio Busquets. Gelandang 32 tahun itu telah tampil 122 laga sejak debut di tahun 2009. Sebagai wakilnya, Luis Enrique menunjuk Koke. Kapten tim Atletico Madrid itu juga cukup berpengalaman dan pernah tampil di Piala Dunia 2014 dan 2018.

 

Penyerang

Luis Enrique juga memanggil 7 nama untuk mengisi sektor penyerang. Striker tajam Gerard Moreno sepertinya bakal jadi ujung tombak. Pasalnya, ia jadi pemain Spanyol dengan total gol tertinggi di La Liga musim ini dengan torehan 23 gol. Moreno bakal bersaing dengan bomber Juventus, Alvaro Morata yang juga kembali dipanggil Enrique.

Sayap kanan jadi posisi yang paling ramai diperebutkan. Di posisi tersebut, ada 3 pemain yang bersaing. Mereka adalah Pablo Sarabia (PSG), Ferran Torres (Manchester City), dan Adama Traore (Wolverhampton).

Masuknya Adama Traore jadi kejutan lain yang dibuat Enrique. Sebab, penampilan pemain yang nyaris membela timnas Mali itu dinilai menurun bersama Wolverhampton. Adama hanya mencetak 2 gol dan 3 asis dalam 37 laga. Namun, kecepatan lari yang luar biasa dari Adama akan sangat berguna bagi Spanyol.

Di sayap kiri, Dani Olmo dari RB Leipzig difavortikan mengisi posisi tersebut. Olmo selalu jadi pilihan Enrique sepanjang tahun 2021 ini. Namun, ia bakal dapat saingan sulit dari penyerang tajam Real Sociedad, Mikel Oyarzabal yang sudah mengemas 11 gol dan 8 asis musim ini.

Dengan pilihan pemain-pemain tadi, Luis Enrique punya banyak opsi di lini serang. Sejauh ini, Enrique banyak memakai formasi 4-3-3 atau 4-1-4-1. Hal itu tak lepas dari kekayaan lini tengah dan pemain sayap yang dimiliki Spanyol.

Lalu, dengan rataan usia 26,5 tahun, siapa saja yang bakal jadi pemain kunci Luis Enrique di EURO 2020?

Masuk sebagai pengganti Sergio Ramos, Aymeric Laporte jelas jadi andalan baru di lini belakang. Pemain keturunan Basque dan kelahiran Prancis itu baru saja memilih untuk membela Spanyol setelah tak pernah dipanggil timnas senior Prancis. Masuknya Laporte sempat memunculkan tuduhan bahwa dirinya adalah penyebab Ramos didepak Enrique.

Pasalnya, Luis Enrique dikabarkan turun langsung untuk melobi Federasi Sepak Bola Kerajaan Spanyol (RFEF) untuk mengizinkan Laporte membela La Furia Roja. Namun, dalam sesi konferensi pers, dirinya membantah tuduhan negatif itu dan mengklaim bahwa keputusannya murni karena performa sang pemain.

“Dia (Laporte) adalah pemain level atas, dia adalah penguat yang hebat untuk tim. Saya ingin Anda tidak menghubungkan ketidakberadaan Ramos dengan pemain lain. Ada kemungkinan Ramos bisa pulih sebelum kompetisi dimulai, tapi menurut saya itu sulit,” tutur Luis Enrique dikutip dari indosport.com.

Punggawa Manchester City lainnya, Rodri juga bakal jadi pemain kunci yang diandalkan. Musim ini ia tampil impresif dan membantu The Citizens juara Liga Premier. Rodri adalah gelandang solid yang mampu memainkan peran playmaker.

Di lini depan, selain Gerard Moreno, sosok Ferran Torres dipastikan jadi tumpuan Luis Enrique. Ferran Torres sepertinya jadi favorit Enrique. Pemain 21 tahun itu pernah mencetak hattrick dalam kemenangan 6-0 atas Jerman, November tahun lalu. Selain itu, Ferran Torres mampu memainkan berbagai posisi di lini serang, mulai dari gelandang serang, pemain sayap di kedua sisi, hingga striker.

Risiko Luis Enrique yang Hanya Membawa 24 Pemain

Sayangnya, Luis Enrique mengambil risiko besar dalam EURO 2020. Bukan soal tidak membawa pemain Madrid. Namun, Enrique tak memaksimalkan kuota pemain di EURO 2020. Total, ia hanya membawa 24 pemain dari total 26 pemain yang diizinkan.

Padahal, UEFA menambah kuota pemain sebagai antisipasi bila terjadi kasus penularan virus di dalam tim peserta. Lagipula, akibat dari keputusan kontroversial itu, ada beberapa pemain Spanyol yang sebetulnya tampil apik musim ini, tetapi luput dari panggilan.

Dari skuad juara Atletico Madrid misalnya. Nama Mario Hermoso tak dipanggil Enrique. Padahal, bek tengah 26 tahun itu tampil solid musim ini dengan 261 pressing, 47 blok, 34 intersep dan mencetak 1 gol serta 1 asis dalam 37 laga. Namun, Enrique justru lebih memilih Eric Garcia yang baru tampil 6 kali di Liga Primer musim ini.

Selain Hermoso, nama Jesus Navas juga hilang dalam daftar. Meski sudah berusia 35 tahun, Navas yang bertransformasi menjadi bek kanan sejak kembali ke Sevilla baru saja terpilih dalam daftar La Liga Team of the Season. Menjadi kontroversi juga kala Enrique hanya membawa satu bek kanan murni, yakni Cesar Azpilicueta.

Hilangnya nama Iago Aspas juga jadi sorotan. Striker 33 tahun itu telah mencetak 14 gol dan menjadi top asis La Liga musim ini dengan 13 asis. Sepertinya, Luis Enrique lebih memilih mempercayakan La Furia Roja di kaki pemain-pemain muda.

Buktinya, hanya ada 2 pemain tersisa dari skuad juara EURO 2012, yakni Sergio Busquets dan Jordi Alba. Spanyol memang sedang berbenah. Meski menjuarai EURO 2008, EURO 2012, dan Piala Dunia 2010, pencapaian La Furia Roja di 2 turnamen akbar terakhir tidak cukup bagus.

Spanyol terhenti di babak 16 besar EURO 2016 dan Piala Dunia 2018. Meski sempat meraih kemenangan 6-0 atas Jerman, dalam 11 laga terakhir, mereka cuma menang 5 kali. Spanyol memang bukan favorit di EURO 2020 dan skuad mereka bukan lagi generasi emas yang memenangi Piala Dunia dan Piala Eropa. Namun, Spanyol tetaplah Spanyol dengan bakat dan talenta yang tak bisa disepelekan.

Di EURO 2020 nanti, Spanyol tergabung di Grup E bersama Swedia, Polandia, dan Slovakia. La Furia Roja akan memulai turnamen di tanggal 14 Juni nanti. Jadi, mampukah skuad Luis Enrique melangkah jauh di EURO 2020?

***
Sumber Referensi: FourFourTwo, Squawka, Kompas,Goal, Indosport

Deretan Striker Hebat yang Ditinggal Timnas di Turnamen Besar (Part 2)

0

Melanjutkan daftar deretan striker hebat yang secara mengejutkan ditinggal tim nasionalnya di tunemaen besar. Berikut Starting Eleven kembali sajikan part keduanya.

 

Italia – Antonio Cassano dan Mario Balotelli

Nama Antonio Cassano sangat identik dengan kata bengal. Mantan penyerang AS Roma, Real Madrid, AC Milan, dan Inter Milan itu memang kerap dihinggapi kontroversi, baik akibat ulah nakalnya di atas lapangan maupun di luar lapangan. Tak jarang, ia kerap menerima hukuman larang bertanding akibat tindakan indisiplinernya.

Namun, takada yang menyangkal bahwa striker bertinggi badan 175 cm itu adalah salah satu penyerang tajam dengan naluri mencetak gol yang luar biasa. Sempat meredup pasca pindah ke Real Madrid, Cassano kembali menemukan performanya saat membela Sampdoria.

Di musim debutnya untuk Il Samp pada 2007/2008 silam, Cassano langsung mencetak 9 gol dan 6 asis dalam 22 pertandingan. Hebatnya lagi, Cassano sukses mencetak 26 gol dan membuat 28 assist dari 78 pertandingan dalam dua musim terakhir sebelum gelaran Piala Dunia 2010.

Namun, kejutan terjadi ketika pelatih timnas Italia saat itu, Marcello Lippi justru meninggalkan Cassano dari skuad Piala Dunia 2010. Gelaran Piala Dunia 2010 sendiri adalah satu dari beberapa penampilan timnas Italia yang ingin dilupakan para pendukungnya. Di ajang Piala Dunia yang diadakan di Afrika Selatan itu, Italia datang dengan status juara bertahan.

Apesnya, mereka langsung tersingkir di babak grup dan menempati peringkat 26 dari 32 kontestan di akhir turnamen setelah tak sekalipun memetik kemenangan di babak grup. Lippi yang sebelumnya berhasil membawa Italia juara di Piala Dunia 2006 justru lebih memilih pemain-pemain gaek yang sudah pernah ia latih ketimbang memilih membawa pemain yang tengah tampil apik seperti Cassano.

Cassano bukan satu-satunya striker potensial yang ditinggal Lippi. Di Piala Dunia 2010, ia juga tak membawa striker bengal lainnya, Mario Balotelli. Balotelli yang kala itu masih berusia 20 tahun mampu mencetak 9 gol dan 6 asis kala berseragam Inter Milan di Serie A.

Dua tahun berselang, kala posisi allenatore berpindah ke tangan Cesare Prandelli, akhirnya Cassano dan Balotelli mendapat panggilan untuk membela Gli Azzurri di EURO 2012. Cassano dan Balotelli yang kala itu masih berseragam Milan dan Manchester City mampu menyalurkan performa apiknya ke timnas Italia. Keduanya jadi duet maut dan mampu mengantarkan Italia mengakhiri EURO 2012 sebagai runner-up.

 

Italia – Giuseppe Rossi

Masih dari Italia, satu lagi striker hebat yang sempat terpinggirkan dari skuad timnas Italia adalah Giuseppe Rossi. Sama seperti Cassano dan Balotelli yang ditinggal di Piala Dunia 2010, Rossi juga tak dibawa Marcelo Lippi ke Afrika Selatan.

Padahal, Rossi tampil di Piala Konfederasi 2009 dan menjadi top skor Italia dengan 2 gol. Ditambah lagi, dalam 2 musim sebelum Piala Dunia 2010, Rossi yang kala itu masih berseragam Villareal mampu mencetak 32 gol dan 9 asis. Seolah ingin membuktikan diri, di musim 2010/2011, Ia tampil lebih ganas lagi. Striker bertinggi badan 173 cm itu mampu mencetak 32 gol dan 11 hanya dalam 55 laga bersama Villareal.

Apesnya, sebelum ajang EURO 2012, Rossi menderita cedera cukup parah hingga harus absen lebih dari 1 musim. Mantan pemain Manchester United itu juga kembali menerima kenyataan pahit kala tak terpilih dalam skuad timnas Italia di Piala Dunia 2014 dan EURO 2016. Sayang disayangkan Gli Azzurri justru tak memanggil Giuseppe Rossi kal dirinya tengah fit dan tampil prima.

 

Prancis – Karim Benzema

Kembalinya Karim Benzema ke skuad timnas Prancis di EURO 2020 adalah sebuah hal yang telah lama dinanti oleh para pendukungnya. Bagaimana tidak, Benzema telah lama absen membela Les Blues sejak dilupakan pada 2015 silam.

Pelatih timnas Prancis, Didier Deschamps enggan memanggil striker Real Madrid itu. Semuanya berawal kala Benzema terlibat kasus hukum bersama rekannya di timnas Prancis, Mathieu Valbuena. Benzema dituduh telah membayar seseorang untuk melakukan pemerasan terhadap Valbuena dengan mengancam akan menyebar rekaman skandal seksual yang diduga diperankan rekannya tersebut.

Meski belum terbukti dan kasus memalukan itu masih berjalan, Benzema berulang kali menyangkal tuduhan tersebut dan menyayangkan sikap Valbuena yang justru membawa masalah tersebut ke ranah hukum meski telah memaafkan dirinya. Sejak saat itu, Benzema tak dipanggil Didier Deschamps ke EURO 2016 dan Piala Dunia 2018.

Padahal, Benzema telah mengoleksi 81 caps dan menyumbang 27 gol untuk Les Blues. Selain itu, sebelum EURO 2016 saja, Benzema mampu menghasilkan 28 gol dan membawa Real Madrid menjuarai Liga Champions. Untungnya, di EURO 2016, Prancis tak kesulitan mencetak gol dan masih mampu finish sebagai runner-up dan menjadi jawara di Piala Dunia 2018 silam.

Namun, dengan hadirnya kembali Karim Benzema dalam skuad Prancis di EURO 2020 jelas akan menambah daya gedor Les Blues. Musim ini saja, striker 33 tahun itu sudah mencetak 30 gol untuk Real Madrid. Maka sangat aneh apabila Deschamps kembali menyingkirkan Benzema dalam skuadnya.

 

Jerman – Kevin Kuranyi

Sebelum Jerman bertumpu pada Mario Gomez dan Miroslav Klose, ujung tombak Der Panzer juga dipercayakan kepada sosok Kevin Kuranyi. Bomber kelahiran Brasil itu hijrah ke Jerman di usia muda saat bergabung dengan akademi Stuttgart pada tahun 1997.

Kuranyi lahir dari seorang ayah Jerman keturunan Hungaria dan ibu asal Panama. Oleh sebab itu, ia memiliki kewarganegaraan Jerman, Panama, dan Brasil serta berkesempatan membela Hungaria. Namun, tumbuh besar di Jerman membuat Kuranyi akhirnya lebih memilih membela timnas Jerman.

Penampilan apiknya bersama tim senior Stuttgart membuat Kuranyi mendapat panggilan pertama. Bagaimana tidak, selama 4 musim membela Stuttgart, ia mampu mencetak 57 gol dari 132 laga di semua kompetisi. Performa apiknya itu membuat Kuranyi dibawa pelatih Jerman kala itu, Rudi Voller ke ajang EURO 2004 dan Piala Konfederasi 2005.

Sayangnya, nasibnya berubah drastis kala pelatih timnas Jerman berganti ke tangan Jurgen Klinsmann. Klinsmann lebih memilih menduetkan Miroslav Klose dengan Lukas Podolski. Kuranyi akhirnya kehilangan tempat di skuad Piala Dunia 2006.

Meski dirinya kemudian tampil menawan kala berseragam Schalke, Kuranyi kembali ditinggal di EURO 2008. Tak ingin menyerah, Kuranyi membuktikan diri dengan tampil apik di Bundesliga. Ia mampu mencetak 36 gol dalam 2 musim sebelum gelaran Piala Dunia 2010.

Apesnya, meski pelatih Jerman sudah berpindah ke tangan Joachim Low, Kuranyi tak juga jadi pilihan utama. Pada laga kualifikas Piala Dunia 2010 melawan Rusia, Kevin Kuranyi yang tak masuk skuad dan harus puas duduk jauh di bangku cadangan merasa kesal dengan keputusan Low. Ia kemudian nekad meninggalkan stadion saat jeda babak pertama dan memilih langsung pulang ketimbang kembali ke pusat latihan timnas.

Low yang kesal jelas tak memilihnya dalam skuad Piala Dunia 2010. Tak hanya itu, Low juga mengatakan bahwa selama dirinya menjabat sebagai pelatih timnas Jerman, dirinya tak akan pernah memanggil Kevin Kuranyi lagi. Kuranyi memang meminta maaf tetapi dia juga menyebutkan bahwa dia tidak menyesal atas tindakannya.

Sejak saat itu, karier Kevin Kuranyi di Der Panzer berakhir. Hingga pensiun pada 2016 silam, Kuranyi telah tampil sebanyak 52 laga untuk timnas Jerman dan menyumbang 19 gol. Sayang, keputusannya memilih membela timnas Jerman justru harus berakhir dengan pahit.

****

Sumber Referensi: thesportster, liputan6, bleacherreport,bbc

Penyerang Seperti Inilah Yang Dirindukan Barcelona Sekarang

Semenjak kepergian Luis Suarez musim lalu, FC Barcelona masih belum bisa temukan pengganti sepadan. Lini serang mereka masih tumpul dan kerap mengandalkan pemain yang sejatinya bukan penyerang murni.

Saat ini, Barcelona masih terus mencari pengganti Luis Suarez yang secara mengejutkan dilepas ke Atletico. Mereka saat ini masih terus berburu striker yang punya ketajaman mumpuni. Bila ditanya penyerang seperti apa yang diinginkan FC Barcelona, maka deretan pemain inilah jawabannya.

Romario

Salah satu pemain terhebat dalam generasinya, Romario, pernah menjadi pemain andalan Blaugrana. Dia yang berjaya bersama PSV Eindhoven kemudian direkrut oleh Johan Cruyff ke Barcelona pada 1993 silam.

Sejak saat itu, Romario menjadi penyerang yang sangat produktif bagi Barcelona. Dia sukses memainkan peran kunci dan mampu menjadi penyerang dengan kemampuan komplit. Sepanjang karirnya bersama Barcelona, Romario telah catatkan 65 pertandingan dan mencetak 39 gol. Lebih dari itu, dia juga telah berhasil memenangkan satu trofi La Liga sebelum akhirnya putuskan pergi pada tahun 1995.

Sebelum pensiun pada tahun 2009 silam, Romario sempat membela beberapa klub termasuk Flamengo, Valencia dan Miami FC.

Samuel Eto’o

Mencetak 130 gol dalam 199 penampilan menjadi alasan mengapa FC Barcelona sangat merindukan penyerang seperti Samuel Eto’o. Pemain asal Kamerun ini sukses menjadi andalan di lini depan, sejak didatangkan klub pada tahun 2004 dengan biaya senilai lebih dari 24 juta pounds.

Eto’o dikenal sebagai penyerang cerdas dan memiliki kemampuan mencetak gol yang sangat luar biasa. Selama periodenya membela klub asal Catalan, sudah banyak sekali momen yang membuktikan bila nama Eto’o kayak dimasukkan ke dalam daftar pemain terbaik FC Barcelona sepanjang masa. Apalagi bila mengetahui dirinya pernah mempersembahkan enam gelar sekaligus dalam satu musim untuk Barca.

Sayangnya, hubungan yang kurang harmonis dengan pelatih barca saat itu membuatnya harus melangkah pergi. Eto’o pergi ke Italia dan mampu meraih sukses bersama Inter Milan.

Cesar Rodriguez

Cesar Rodriguez mungkin menjadi nama yang kurang dikenal oleh penggemar FC Barcelona saat ini. Pasalnya, dia tampil bersama el Barca pada periode 1940 an. Dia merupakan sosok penyerang konsisten yang pernah dimiliki Barcelona. Sampai saat ini sendiri, namanya tercatat sebagai pencetak gol terbanyak kedua klub Catalan, setelah Lionel Messi.

Saat tampil di era kejayaan FC Barcelona, Cesar Rodriguez begitu lekat dengan nama hebat lainnya seperti Laszlo Kubala dan Eduardo Manchon. Pemain Internasional Spanyol itu telah tampil dalam 351 penampilan di semua kompetisi untuk Barcelona, ​​dan mencetak sebanyak 232 gol.

Dia memenangkan lima gelar La Liga bersama klub, serta Trofi Pichichi di musim 1948/49 ketika dia mencetak 28 gol liga hanya dalam 24 pertandingan.

Laszlo Kubala

Sebelum era Lionel Messi, publik Camp Nou pernah disuguhi sosok kharismatik nan tajam bernama Laszlo Kubala. Laszlo Kubala pernah berjaya bersama Barcelona dengan raihan lima trofi pada 1951/52. Seperti Rodriguez, Kubala terkenal karena kehebatannya dalam mencetak gol.

Dia dianggap sebagai salah satu pemain dengan dribble luar biasa, plus penyelesaian mematikan.

Kubala bermain untuk FC Barcelona sejak 1951 dan telah tampil dalam 186 laga untuk el Barca. Selama itu, dia mampu catatkan sebanyak 131 gol dan memenangkan empat gelar La Liga.

Sampai saat ini, dia akan selalu dikenang sebagai salah satu penyerang tertajam yang pernah dimiliki FC Barcelona.

Luis Suarez

Nama terakhir, yang sampai saat ini mungkin masih dirindukan oleh para penggemar FC Barcelona adalah Luis Suarez. Suarez yang didatangkan dari Liverpool benar-benar menjadi penyerang utama terbaik yang pernah dimiliki Barcelona.

Pemain asal Uruguay itu layak disebut sebagai legenda Barcelona di era modern. Suarez membuat 283 penampilan di semua kompetisi untuk Barcelona, dan ​​mencetak 198 gol. Lebih dari itu, dia berhasil memenangkan empat gelar La Liga dan satu gelar Liga Champions Eropa.

Sayangnya, musim lalu dia dilepas dan sudah tidak lagi membela Blaugrana.

Mengingat dirinya tampil luar biasa bersama Atletico, Barcelona mungkin menyesal telah melepas salah satu pemain terbaiknya itu. Apalagi, seperti yang sudah dijelaskan, Barca belum mampu temukan penyerang murni sepadan lainnya selepas kepergian Luis Suarez.

https://youtu.be/XVjbs6W1VXw