Beranda blog Halaman 436

Berita Bola Terbaru 13 Desember 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

TERSISIH DI PIALA DUNIA 2022, BRASIL DIPREDIKSI LAKUKAN REVOLUSI

Brasil diperkirakan akan membuat perubahan besar atau revolusi setelah tersisih di perempat final Piala Dunia 2022. Pelatih Brasil dikritik keras setelah Brasil gagal memenangkan turnamen. Abel Ferreira (Palmeiras), Fernando Diniz (Fluminense), Mano Menezes (Internacional), dan Dorival Junior (agen bebas) disebut sebagai calon pengganti Tite. Presiden Federasi Sepak Bola Brasil (CBF) yang baru, Ednaldo Rodrigues sekarang diharapkan membuat keputusan besar. Dia sedang berpikir untuk mendatangkan Andres Sanchez, yang bisa menggantikan Juninho Paulista sebagai koordinator tim. Rodrigues juga akan memutuskan pengganti Tite.

CEDERA LUIS DIAZ MEMBURUK

Liverpool nampaknya harus menunggu lebih lama untuk kembali menggunakan jasa Luis Diaz. Pasalnya, cedera lutut yang dialami Diaz semakin memburuk dan sang pemain kemungkinan besar harus menepi hingga Maret 2023. Pelatih The Reds, Jurgen Klopp terpukul dengan memburuknya cedera Diaz. Nakhoda berpaspor Jerman itu mengatakan Diaz kembali menderita cedera ketika berlatih.

DENZEL DUMFRIES MASUK RADAR BARCELONA

Barcelona terus memantau bek kanan Inter Milan, Denzel Dumfries. Xavi ingin membawa bek kanan baru, karena itu dianggap sebagai area terlemah timnya. Mereka saat ini memang memiliki Sergi Roberto dan Hector Bellerin sebagai pemain alami di posisi tersebut, sementara Jules Kounde dan Alejandro Balde juga bisa mengisinya. Namun, itu adalah posisi yang ingin diperkuat Barcelona. Untuk menggaet Dumfries sendiri, Barca perlu merogoh kocek sebesar 60 juta euro.

FIORENTINA INCAR GELANDANG MAROKO MILIK SAMPDORIA

Fiorentina tertarik menggaet pemain tengah Timnas Maroko yang kini bermain di Sampdoria, Abdelhamid Sabiri. Sabiri salah satu punggawa Maroko yang tampil ciamik di Piala Dunia 2022. Menurut Football Italia, Fiorentina telah melakukan pembicaraan dengan Sampdoria untuk gelandang kreatif tersebut dalam beberapa hari terakhir. La Viola kabarnya hanya bersedia membayar 10 juta euro, sedangkan Il Samp sekarang meminta 15 juta euro.

BERSEDIA TAMPUNG EDEN HAZARD, INTER MILAN AJUKAN SYARAT INI

Raksasa Liga Italia, Inter Milan sedang berusaha mendatangkan kapten Timnas Belgia, Eden Hazard yang sepertinya akan ditendang Real Madrid karena sudah tidak lagi dibutuhkan. Berdasarkan laporan dari Jurnalis Sky Sport Italia, Marco Barzaghi, Inter adalah tim yang secara kebetulan sedang mencari sosok pemain dengan karakteristik Hazard. Namun dengan biaya mengupahnya yang tinggi, angan-angan menjadikan Hazard sebagai target agak mustahil. Hazard hanya akan bisa ditampung oleh beberapa klub yang tertarik kepadanya termasuk Inter, apabila ia rela memotong biaya upahnya.

KETIKA RICHARLISON NYARIS KETINGGALAN BUS SKUAD BRASIL

Saking sedihnya Richarlison atas kegagalan Brasil, ia bahkan sempat hampir tertinggal bus Timnas Brasil. Kala itu Richarlison menghabiskan waktu di kamar hotel di Qatar dengan menangis. Richarlison juga sempat mencurahkan rasa sedihnya ketika menemui beberapa fansnya. Seusai insiden tersebut, Richarlison mengunggah sebuah pesan di akun sosial medianya. Pesan yang ditulis Richarlison berisi tentang rasa sakitnya menerima kenyataan Brasil gugur di Piala Dunia 2022.

PSG GANGGU BARCELONA UNTUK REKRUT KANTE DARI CHELSEA

Klub papan atas Eropa dikabarkan siap memperebutkan tanda tangan N’golo Kante. Setelah sebelumnya Kante diklaim masuk dalam rencana belanja Barcelona, kini menurut laporan terbaru dari Football Espana, PSG juga sudah menjadikan sang pemain sebagai target utama. PSG memang sudah berencana untuk menambah amunisi di musim panas 2023, selain Kante, klub yang saat ini bermarkas di Parc des Princes itu juga diklaim mengincar Marcus Rashford dari MU.

BARCELONA TIDAK TERBURU-BURU INGIN PERPANJANG KONTRAK DEMBELE

Barcelona ingin mengikat Ousmane Dembele dengan kontrak baru. Tetapi mereka tidak terburu-buru untuk memulai pembicaraan dengan pemain dan perwakilannya. Menurut laporan dari Sport, Dembele senang di Barca dan klub senang dengan penampilannya di lapangan. Baik klub maupun pemain tidak ingin mengulang masa lalu dan berharap tidak mencapai tahun terakhir kontrak Dembele tanpa mengikat masa depannya dengan klub.

PELE MINTA NEYMAR JANGAN PENSIUN DARI TIMNAS BRASIL

Neymar mengaku bahwa dia hancur secara psikologis akibat tersingkirnya Brasil dari Piala Dunia. Neymar mengatakan bahwa dia mungkin telah memainkan pertandingan terakhirnya untuk negaranya. Tetapi Pele mendesaknya untuk “terus menginspirasi kami”. Pria berusia 82 tahun itu mengatakan di Instagram bahwa dia berharap Neymar terus bermain. Pele menambahkan bahwa pencapaian dalam mencetak gol tidaklah sebanding dengan kehormatan mewakili Brasil.

LIVERPOOL SUDAH DEKATI BENFICA UNTUK DATANGKAN ENZO FERNANDEZ

Raksasa Premier League Liverpool dikabarkan kepincut dengan bintang Timnas Argentina, Enzo Fernandez. Menurut laporan Football Espana, The Reds bahkan disebut sudah bergerak cepat untuk menghubungi dan membuka pembicaraan dengan Benfica guna membahas kemungkinan transfer Enzo. Liverpool sendiri tampaknya tak akan mudah bisa mendatangkan Enzo. Pasalnya Benfica mematok harga minimal 100 juta pounds bagi pemain 21 tahun tersebut.

MU INCAR GONCALO RAMOS UNTUK GANTIKAN CR7

Manchester United ingin beli Goncalo Ramos untuk gantikan posisi Cristiano Ronaldo sebagai penyerang. Dilansir Sports Mole, Setan Merah ingin membeli sang pemain pada Januari 2023. Ketertarikan MU terhadap Ramos tak terlepas dari performa sang striker di Piala Dunia bareng Timnas portugal. Ramos mencetak hattrick kala menang atas Swiss di 16 besar.

JOAO FELIX JADI REBUTAN ARSENAL, NEWCASTLE, DAN BAYERN

Joao Felix telah banyak dikaitkan dengan kepindahan dari Atletico Madrid. Duo Liga Inggris, Arsenal dan Chelsea tergoda. Bayern Munchen juga tertarik, dan Newcastle United jadi tim teranyar yang berminat pada bintang Portugal itu. The Gunners paling serius mendapatkan tanda tangan Felix karena cedera Gabriel Jesus. Bayern juga butuh alternatif Thomas Muller, dan Newcastle ingin menambah daya dobrak meskipun sudah memiliki Callum Wilson.

RONALDO DUKUNG MESSI RAIH PIALA DUNIA 2022

Legenda sepak bola Brasil, Ronaldo secara jujur mengakui bahwa ia kini mendukung negara rivalnya, Argentina dan Lionel Messi untuk menjadi juara Piala Dunia 2022. Ronaldo mengakui bahwa ia tak bisa begitu saja mendukung Argentina juara. Namun, karena ada sosok Messi, maka ia menilai Tim Tango layak juara. Lebih lanjut, Ronaldo menilai permainan Argentina sejatinya tidak terlalu mengesankan. Namun, mereka memiliki Messi yang selalu bisa menjadi pembeda.

BERHALTER AKUI NYARIS PULANGKAN SATU PUNGGAWA TIMNAS AS DARI QATAR

Pelatih Timnas Amerika Serikat, Gregg Berhalter mengakui, nyaris mengirim satu penggawanya untuk kembali ke Amerika Serikat saat tengah berpartisipasi di Piala Dunia 2022. Namun, Belharter tidak mau menyebut secara spesifik nama pemain tersebut. Kendati Berhalter tidak menyebutkan namanya, The Athletic sempat melansir laporan soal pemain yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi dan memiliki sikap buruk tersebut. Giovanni Reyna adalah pemain yang dimaksud.

KOUNDE TEGASKAN PRANCIS TAK REMEHKAN MAROKO

Pemain Tim Nasional Prancis, Jules Kounde memastikan timnya mengakui kehebatan dan kekuatan Maroko yang akan menjadi lawan mereka di semifinal Piala Dunia 2022. Untuk itulah bek Prancis tersebut menegaskan bahwa pasukannya takkan meremehkan tim berjuluk Singa Atlas. Kounde pun mewaspadai permainan kolektif yang diperagakan Hakim Ziyech dkk yang bermain kompak baik dalam menyerang maupun bertahan dengan pressing yang ketat.

SPANYOL DIPEGANG LUIS DE LA FUENTE, RAMOS PUNYA KANS UNTUK KEMBALI

Sergio Ramos berpeluang kembali membela timnas Spanyol setelah kursi kepelatihan dipegang Luis de la Fuente. Dalam sesi konferensi pers pertamanya, Fuente mengatakan Ramos dan pemain-pemain lain yang dalam kondisi bagus memiliki kesempatan untuk dipanggil ke timnas. Pelatih berusia 61 tahun ini merasa mendapatkan opsi yang lebih banyak ketika menangani timnas senior dibandingkan sebelumnya ketika ia menangani tim usia muda.

TIMNAS BRASIL INGIN BAJAK CARLO ANCELOTTI

Dikutip Diario AS, menyusul kegagalan di Piala Dunia 2022, Brasil akan menunjuk pelatih baru menggantikan Tite dan nama Carlo Ancelotti mencuat sebagai kandidat kuat. Juru taktik asal Italia tersebut saat ini masih menjadi milik Real Madrid dan belum pernah menangani tim nasional sebelumnya, tapi FA Brasil cukup yakin. Nama Ancelotti masuk radar Brasil disamping Pep Guardiola yang juga diminati Selecao.

SCALONI MARAH ARGENTINA DISEBUT PEMENANG TERBURUK

Pelatih Argentina, Lionel Scaloni geram setelah Argentina dihujat sebagai pemenang yang buruk karena keributan yang terjadi saat menyingkirkan Belanda di babak 8 besar Piala Dunia 2022. Scaloni menganggap kritikan terhadap pemain Argentina ini tak adil. Pasalnya, pemain Belanda juga melakukan provokasi pemain Argentina. Scaloni mengungkap tindakan di laga kontra Belanda bukan cerminan sikap asli pasukannya.

GAGAL DI PIALA DUNIA, INGGRIS PULANG BAWA KUCING DARI QATAR

Alih-alih membawa trofi Piala Dunia, timnas Inggris pulang dari Qatar dengan membawa seekor kucing. Kucing itu dibawa dua pemain Man City, Kyle Walker dan John Stones. Tidak ada yang spesial dari kucing yang kemudian diberi nama Dave oleh Stones. Kucing tersebut adalah kucing liar yang menyambangi tempat latihan Inggris di Qatar. Sesampainya di Inggris, Walker dan Stones tak bisa langsung bermain bersama dengan Dave, karena kucing tersebut harus menjalani masa karantina selama empat bulan.

MODRIC: ARGENTINA BUKAN HANYA MESSI

Kroasia kini mengincar babak final Piala Dunia berturut-turut saat berhadapan dengan Argentina di semifinal pada Rabu (14/12). Kapten Luka Modric menyadari Argentina akan diperkuat oleh salah satu pemain terbaik dunia, Lionel Messi. Tapi ia menegaskan bukan hanya Messi yang perlu diwaspadai, tapi tim Argentina secara keseluruhan. “Saya ingin memainkan semifinal lagi melawan tim besar, itu yang saya inginkan, bukan hanya melawan pemain,” ujar Modric.

SATU LAGI WARTAWAN MENINGGAL MENDADAK DI QATAR 2022

Seorang wartawan meninggal dunia saat meliput pertandingan Piala Dunia 2022. Jurnalis Qatar, Khalid Al-Misslam meninggal dunia secara mendadak saat meliput Piala Dunia 2022. Beberapa media di Qatar melaporkan, Al-Misslam wafat saat menjalankan tugasnya sebagai jurnalis foto untuk kantornya, TV Al Kass. Sebelum kematian Al-Misslam, seorang wartawan asal Amerika Serikat, Grant Wahl juga meninggal dunia  secara ‘tiba-tiba’ di stadion.

CADANGKAN CR7, FIGO KECAM SANTOS

Legenda sepakbola Portugal, Luis Figo mengkritik Fernando Santos karena menepikan Cristiano Ronaldo. Santos dianggap bertanggung jawab atas kegagalan Portugal di Piala Dunia 2022. “Anda tidak bisa memenangi Piala Dunia dengan Ronaldo di bangku cadangan. Baiklah, anda mengalahkan Swiss? Hasil yang bagus! Namun, bisakah anda melakukannya di setiap pertandingan? Tidak.” ujar Figo.

DUA PUNGGAWA PRANCIS ABSEN LATIHAN JELANG LAWAN MAROKO

Gelandang Aurelien Tchouameni dan bek Dayot Upamecano melewatkan latihan Timnas Prancis pada Senin menjelang semifinal Piala Dunia 2022 melawan Maroko. Federasi Prancis tidak memberikan penjelasan apa pun atas ketidakhadiran mereka, tetapi laporan dari Inshorts mengklaim bahwa Upamecano mengalami sakit tenggorokan dan Tchouameni menderita cedera. 

WASIT MATEU LAHOZ DIPULANGKAN DARI PIALA DUNIA

Wasit Mateu Lahoz sudah tidak lagi mendapatkan tugas di Piala Dunia 2022. Meski ajang sepakbola paling top di bumi ini masih menyisakan empat pertandingan. Dalam laporan COPE, dikutip dari Football Espana, Lahoz sudah kembali ke Spanyol. Kritikan keras memang mengalir pada Lahoz usai laga Argentina vs Belanda. Messi jadi salah satu pemain yang memberikan kritik pada wasit tersebut.

HEAD TO HEAD ARGENTINA VS KROASIA

Timnas Argentina akan bentrok dengan Kroasia di semifinal Piala Dunia 2022, Rabu dini hari. Berdasarkan data Transfermarkt, ini merupakan pertemuan ketiga antara Argentina dan Kroasia di pentas Piala Dunia. Keduanya sebelumnya pernah bertemu di fase grup Piala Dunia 1998 dan 2018 dengan masing-masing tim mengantongi satu kemenangan. Argentina menang 1-0 berkat gol Mauricio Pineda pada Piala Dunia 1998. Adapun pada Piala Dunia 2018 di Rusia, giliran Kroasia yang meraih kemenangan 3-0 atas Tim Tango.

 

Apa yang Terjadi Pada Brasil Pasca Pembantaian 7-1 di Piala Dunia 2014?

Kita semua tahu apa yang terjadi di Piala Dunia 2014. Ya, pembantaian Brasil oleh Jerman dengan skor 7-1. Brasil sebagai tuan rumah Piala Dunia 2014, digilas rata dengan tujuh gol di depan ratusan ribu pendukungnya sendiri. Untung Jerman masih punya hati untuk memberikan satu gol hiburan di penghujung laga.

Berbicara soal Jerman yang masih punya hati, ada cerita unik dari laga tersebut. Ternyata setelah Jerman dengan mudah mencetak lima gol di babak pertama, mereka berembuk di ruang ganti. Skuad Der Panzer, yang dipimpin oleh Joachim Low sepakat untuk tidak ingin mempermalukan Brasil di rumahnya sendiri. Mereka sepakat untuk tidak bermain menyerang dan menambah gol.

Tapi ada satu orang yang tidak ikut dalam rembukan itu. Yaitu Andre Schurrle yang sedang berada di kamar mandi. Ia tidak tahu ada kesepakatan untuk tidak menambah gol di babak kedua. Akhirnya ketika babak kedua dimulai, Schurrle malah mencetak dua gol tambahan.

Dan terjadilah bencana terbesar dalam sejarah Brasil. Tapi kali ini bukan bahasan soal kekalahan Brasil itu sendiri. Itu sudah pernah dibahas sebelumnya. Melainkan, apa yang terjadi pada Brasil setelahnya? Bagaimana reaksi para penggemar? Dan bagaimana Brasil bisa bangkit dari keterpurukan.

Reaksi Penonton

Reaksi pertama yang dirasakan para pendukung di stadion tentu saja kaget. Mereka tidak percaya akan kejadian itu. Diikuti dengan kesedihan, tangisan dan air mata yang seolah membasahi seisi tribun stadion. Berdasarkan laporan dari Daily Mail, para penonton bahkan sudah mulai ricuh di stadion ketika gol keempat terjadi. Para sesama pendukung Brasil juga dilaporkan terlibat perkelahian dan saling adu jotos di dalam stadion.

Di luar stadion, polisi anti huru hara dikerahkan di beberapa kota di Brasil untuk mengantisipasi kerusuhan yang terjadi. Pihak berwenang juga dipanggil ke Rio de Janeiro setelah dilaporkan beberapa orang membakar transportasi umum. Dan beberapa pendukung yang menonton pertandingan itu lewat layar kaca melempar TV mereka di jalan.

Presiden Brasil saat itu, Dilma Rousseff sampai meminta maaf lewat sosial media. Ia mengatakan bahwa dirinya juga turut sedih dengan hasil memalukan yang diterima Brasil di laga tersebut.

“Seperti semua warga Brasil, saya sangat, sangat sedih dengan kekalahan ini. Saya merasa buruk untuk kami semua. Untuk para penggemar, juga untuk para pemain kami. Tapi jangan berlarut dalam kesedihan. Brasil bangkit, singkirkan noda dan kembali ke puncak” ungkapnya.

Banyak yang percaya kekalahan ini akan menodai reputasi Dilma sebagai Presiden. Apalagi sebelumnya warga Brasil sudah memprotes anggaran dana yang dikeluarkan untuk Piala Dunia dianggap terlalu besar. Sekarang diperburuk dengan kejadian memalukan ini.

Pukulan dari Media

Penderitaan seleccao tidak terjadi hanya sampai di hari pertandingan saja. Di keesokan harinya, media Brasil memberikan pukulan yang sangat keras. Seperti menaruh garam diatas luka yang masih basah, mereka menerbitkan tajuk utama dengan judul yang sangat memojokkan anak asuh Scolari.

O Globo, surat kabar ternama Brasil yang bermarkas di Rio de Janeiro melabeli peristiwa ini dengan sebutan “Minieratzen”. Sebutan itu mengkaitkan kekalahan memalukan melawan Uruguay di Final Piala Dunia 1950 yang dikenal sebagai “Maracanazo”. Dimana saking memalukannya “Maracanazo” saat itu, sampai memicu bunuh diri seorang suporter dan membuat tiga orang terkena serangan jantung.

Surat kabar O Globo kemudian juga menuliskan “Apa yang kita saksikan di Mineiro bukanlah permainan sepak bola tapi pembantaian”. Mereka lalu memberikan rating kepada setiap pemain dengan kata-kata yang menyakitkan seperti “Julio Cesar: Terkubur. Maicon: Hancur. Dante: Hilang. David Luiz: Kebingungan. Marcelo: Tanpa tujuan. Luiz Gustavo: Porak poranda.” Dan lain sebagainya.

Koran Extra, dengan nada sarkas memberikan selamat karena tragedi “Maracanazo” bukan lagi tragedi terburuk Brasil. Setelah kekalahan 7-1 menjadi tragedi sepakbola terburuk Brasil sepanjang masa. Sementara koran O Diao memasang gambar Scolari di halaman depan dengan tulisan “Pergilah ke neraka.”

Bagi masyarakat Brasil, kata “sete a um” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti 7-1 sudah menjadi ungkapan perumpamaan. Ungkapan 7-1 jadi kata ganti untuk menggambarkan kekalahan yang memalukan. Bahkan tidak hanya untuk sepak bola, tapi juga kekalahan politik dan bidang lainnya.

Kalah di Perebutan Juara Ketiga

Brasil yang terluntang lantung kehabisan nyawa diharuskan untuk berlaga melawan Belanda di perebutan juara ketiga. Bagaimanapun hasilnya, Selecao tidak akan dimaafkan oleh pendukungnya. Bahkan banyak pendukung tim samba yang ingin Brasil dihancurkan Belanda sekalian sebagai hukuman dari hasil memalukan melawan Jerman.

Tapi Luiz Felipe Scolari tampaknya masih belum mau menyerah. Ia memainkan skuad utamanya sambil berharap ada penebusan dosa dari hasil pertandingan melawan Belanda ini. Tapi bencana yang menimpa mereka di pertandingan sebelumnya masih terasa. David Luiz CS masih terguncang dengan mimpi buruk itu, seolah mereka masih belum terbangun.

Alhasil, Belanda bisa dengan mudah mencetak gol ketika laga baru berjalan 3 menit. Robin van Persie sukses mengkonversi hadiah penalti menjadi gol. Bagi para pemain Brasil, gol ini bagaikan mimpi buruk yang tak kunjung usai. Daley Blind menambah keunggulan tim oranye di menit ke 16. Seperti tak kenal ampun, Wijnaldum masih tega untuk menambah pundi gol di penghujung laga.

Pelatih dan Pemain yang Terbuang

Tidak lama setelah kegagalan di laga penebusan dosa melawan Belanda, Scolari memutuskan untuk mengundurkan diri dari tim nasional Brasil. Itu bukan langkah yang mengejutkan. Malah, banyak yang menantikan pengunduran dirinya itu sejak kekalahan melawan Jerman. Scolari saat itu mengatakan bahwa “ini adalah hari terburuk” baginya.

Tapi kekalahan melawan Belanda ini menjadi momentum pamungkas. Bahwa itu benar-benar saat waktunya bersama selecao usai. Pengunduran dirinya itu diumumkan oleh federasi CBF lewat laman resmi mereka.

Disitu mereka menuliskan “Pelatih Luiz Felipe Scolari beserta jajaran staf kepelatihannya mengumumkan untuk mengundurkan diri dari tim nasional. Pengunduran ini diterima oleh presiden federasi, Jose Maria Marin yang berterima kasih atas dedikasi yang diberikan selama Piala Dunia ini”

Sebelum mengundurkan diri, Scolari pernah berkata bahwa dari 23 pemainnya, 14 atau 15 diantara mereka akan tetap bermain untuk Brasil di Piala Dunia 2018. Tapi prediksinya salah. Hanya ada enam pemain yang mampu bertahan. Sepuluh pemain dari kekalahan 7-1 bahkan tidak pernah dipanggil lagi oleh Brasil. Mereka adalah Julio Cesar, Victor, Dante, Maxwell, Henrique, Hernanes, Ramires, Bernard, Jo, dan Fred.

Penjaga gawang Brasil saat itu, Julio Cesar bahkan mengaku kekalahan 7-1 ini masih saja menghantuinya sampai dirinya pensiun. Ia menganggap bahwa kegagalan Brasil di Piala Dunia 2014 adalah beban yang ia bawa kemana pun dirinya pergi.

“Ini adalah beban yang kubawa kemana pun. Bahkan setelah saya pensiun, ketika saya bersandar itu adalah hal yang selalu saya pikirkan. Saya membayangkan ketika saya mati nanti, saya akan diumumkan sebagai penjaga gawang di kekalahan 7-1 Brasil”

Cara Brasil Bangkit

Pembantaian di tahun 2014 itu memang merupakan kejadian yang memalukan bagi Brasil. Jika kita melihat fakta-faktanya yang terjadi setelah kejadian itu, kita akan mengira Brasil tidak akan bangkit lagi. Tapi beberapa tahun setelahnya, mereka nyatanya bisa kembali ke level tertinggi mereka.

Dimulai dari pemilihan pelatih. Setelah Scolari mengundurkan diri, Brasil mengangkat Dunga sebagai juru taktik. Tapi ia dipecat setelah gagal membawa Brasil menjuarai Copa America 2015 dan 2016. Dari situ, diangkatlah Tite sebagai manajer baru. Meskipun masih tidak berjaya di Piala Dunia 2018, tapi Tite mambu membawa Brasil menjadi juara di Copa America 2019.

Selain itu, Brasil mulai mengurangi ketergantungan mereka terhadap Neymar. Beberapa orang menyalahkan tidak hadirnya Neymar yang menyebabkan kekalahan 7-1 itu. Tapi di tahun tahun setelahnya, khususnya di Piala Dunia 2018 itu berubah. Brasil lebih mempercayakan pemain lain seperti Philippe Coutinho, Willian, dan Douglas Costa.

Brasil memang masih belum bisa menjuarai Piala Dunia. Tapi mereka secara perlahan mampu menghilangkan hantu 7-1 dari diri mereka.

 

Sumber referensi: Independent, Eurosport, Daily, DW, Times, Guardian

Bertabur Bintang, Kenapa Inggris Selalu Gagal di Ajang Internasional?

0

Ketika peluit panjang dibunyikan, kapten Timnas Inggris, Harry Kane langsung tertunduk lesu. Ia harus kembali menerima kenyataan pahit timnya kalah dengan skor tipis 2-1 dari sang juara bertahan Prancis.

Inggris sebetulnya punya peluang untuk menyamakan kedudukan, andai tendangan penalti kedua dari penyerang Tottenham Hotspur itu tak menyasar burung. Dengan kegagalan penalti tersebut, Kane menambah daftar kegagalan penalti Inggris di beberapa turnamen besar.

Penalti memang jadi mimpi buruk Timnas Inggris di ajang-ajang Internasional. Namun, nyatanya kegagalan The Three Lions di kompetisi antarnegara bukan hanya disebabkan oleh penalti. Berikut beberapa alasan mengapa Inggris selalu gagal di ajang internasional, meski skuadnya bertabur bintang.

Football’s Coming Home Terossss

Setiap Timnas Inggris tampil di kompetisi internasional, para fans akan selalu meneriakan sebuah lagu berjudul “Three Lions”. Lagu ini memuat frasa populer, “Football’s coming home”, yang kurang lebih menggambarkan ekspektasi para pendukung tim sepakbola Inggris ketika mendukung tim kesayangan mereka.

Lewat lagu yang ditulis Baddiel dan Skinner, vokalis The Lightning Seeds, Ian Broudie, mengajak para pendengar dan publik pecinta sepakbola Inggris untuk tak pernah putus harapan untuk mendukung tim nasional. 

Secara umum, lagu ini mengusung misi optimisme untuk mendorong skuad The Three Lions yang sering mengalami kekalahan agar berprestasi di kancah internasional. Namun, bagi beberapa pemain, lagu ini justru menjadi beban tersendiri. Karena ketika baru menang sekali di babak penyisihan, lagu ini pasti sudah diputar di mana-mana. Seakan-akan fans sudah menaruh harap setinggi langit pada tim yang sedang berlaga.

Tekanan yang diberikan fans dan media-media Inggris yang terkenal memang pada lebay itu bikin para pemain Timnas Inggris jadi kurang lepas saat bermain. Contohnya saja Wayne Rooney yang trengginas di Kualifikasi Piala Dunia 2010, tapi nggak nyekor sama sekali di putaran final.

Belum lagi kritikan pedas yang dilayangkan kepada pemain apabila gagal memenuhi ekspektasi fans sangat meresahkan. Mulai dari kegagalan penalti Gareth Southgate di Euro 1996 sampai David Beckham yang masih muda sudah dikupas habis-habisan oleh media Inggris setelah mendapat kartu merah di Piala Dunia 1998.

Sial di Adu Penalti

Jika sebuah tim menghadapi situasi adu penalti, maka peluangnya bisa dikata menjadi 50:50. Adu penalti bak sebuah lotre yang mengandalkan sedikit keberuntungan, campuran ketenangan, dan pengalaman para pemain itu sendiri. Dan Inggris tampaknya memiliki track record yang buruk di babak adu penalti.

Sudah banyak contohnya. Setahun sebelum gagalnya tendangan Harry Kane di babak perempat final Piala Dunia 2022, The Three Lions juga gagal di babak adu penalti saat melawan Timnas Italia di partai final Euro 2020.

Bermain di Wembley Stadium, Inggris justru takluk dari tim tamu. Gli Azzurri sukses mengangkat trofi Euro 2020 di kandang Timnas Inggris usai mengalahkan mereka dengan skor akhir 3-2. Jauh sebelum itu, Italia juga pernah memulangkan Inggris melalui babak adu penalti di Euro 2012.

Salah satu momen yang paling diingat adalah tendangan panenka Andrea Pirlo yang sukses mengecoh Joe Hart. Pada tahun 2021, OptaJoe menyebutkan bahwa Inggris hanya mampu memenangkan dua dari sembilan adu penalti di turnamen besar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Inggris memang sial jika menghadapi situasi adu penalti. 

Pemilihan Manajer

Pemilihan manajer juga jadi faktor. Timnas Inggris hampir tidak pernah menunjuk pelatih ternama untuk menukangi tim di ajang internasional. tercatat sejak Piala Dunia 2002 mungkin hanya Fabio Capello, pelatih dengan nama besar yang pernah melatih Inggris. Sisanya? Wallahualam.

Sebut saja macam Steve McClaren, Roy Hodgson, Sam Allardyce, dan yang sekarang, Gareth Southgate. Mereka dirasa tak memiliki pengalaman yang oke di taraf internasional maupun klub. Kita ambil contoh Southgate, sebelum melatih Inggris dia hanya seorang pelatih tim gurem macam Middlesbrough.

Jadi untuk menangani tim semewah Timnas Inggris, Southgate dirasa tak memiliki kapasitas yang cukup. Bahkan dilansir Telegraph, Southgate jadi pelatih Inggris paling overrated sepanjang masa.

Ego Pemain Bintang

Ada juga soal ego para pemain bintang. Faktor pelatih juga erat kaitannya dengan ini, karena peran pelatih sangat penting dalam mengatur stok pemain-pemain Inggris yang kerap menjadi bintang di klubnya masing-masing. Contohnya saja David Beckham yang kala itu jadi bintang di MU dan Real Madrid, atau Harry Kane yang menjadi pentolan di Spurs.

Pada dasarnya apabila pemain-pemain bintang dijadikan satu, yang akan nampak di permukaan adalah egonya. Jadi peran pelatih sangat diperlukan untuk meredam ego para pemain bintang ini. Contohnya di generasi emas Inggris angkatan Piala Dunia 2006, di satu posisi saja ada banyak pemain bintang. 

Jika dalam satu posisi stoknya melimpah, mau tak mau mau ada bintang yang harus dicadangkan. Pemilihan pemain yang tepat akan berhubungan dengan kemistri di dalam tim yang sebenarnya penting untuk dibangun. 

Contohnya pada Piala Dunia 2006. John Terry, Rio Ferdinand, Sol Campbell, dan Jamie Carragher sedang apik-apiknya bersama klub. Namun hanya dua dari mereka yang bisa menjadi starter. Jika pelatih tak piawai meredam ego mereka, suasana ruang ganti sudah pasti akan memanas.

Apalagi Inggris kerap memprioritaskan pemain-pemain yang bermain di liga lokal. Jadi, aura rivalitas di klub kadang terbawa hingga ke timnas. Contohnya saja Gary Neville yang selalu bersaing dengan Jamie Carragher soal klub siapa yang terbaik, MU atau Liverpool.

Bermain Setengah Hati?

Selanjutnya ada rumor yang mengatakan bahwa pamor kompetisi-kompetisi antarklub baik domestik maupun Eropa dirasa lebih menarik bagi para pemain-pemain Inggris, ketimbang kompetisi antarnegara. Karena kompetisi macam Liga Inggris, Piala Liga, dan Liga Champions tersaji setiap tahun, tidak seperti Piala Dunia yang harus menunggu empat tahun.

Belum lagi si pemain sudah mendapat bayaran yang tinggi ketika bermain di klub. Dengan uang yang didapatkan dari klub, seorang pemain bisa berinvestasi, salah satunya untuk kebugaran. Sementara di level internasional, resiko yang ditanggung cukup berat. Apalagi pemain yang dilepas untuk melakukan tugas internasional, acap kali berakhir cedera.

Ketika cedera saat menjalani tugas internasional, si pemain bisa jadi tertutup kesempatannya untuk kembali membela klubnya. Dan itu, apabila kompetisi bergengsi seperti Liga Inggris maupun Liga Champions, sangat merugikan bagi pemain bahkan klub itu sendiri. Sialnya lagi, jika tak mendapat menit bermain yang cukup di klub, pemain tersebut tidak akan dipanggil timnas.

Kutukan Masa Lalu

Percaya tidak percaya, kegagalan Timnas Inggris tak lepas dari sebuah kutukan di masa lalu. Skuad The Three Lions berhasil juara Piala Dunia pada edisi 1966. Di partai final, mereka berhasil menekuk perlawanan Jerman Barat dan laga berkesudahan dengan skor 4-2.

Namun pada laga itu, Jerman Barat sempat protes dengan keputusan wasit lantaran telah mengesahkan gol Geoff Hurst. Mereka menilai jika bola belum melewati garis gawang. Lantas, mereka pun mengutuk Inggris tidak akan pernah menjadi juara Piala Dunia lagi. Dan hingga saat ini, skuad The Three Lions belum mampu juara lagi di Piala Dunia. 

https://youtu.be/kGUJm8C9TYw

Sumber: Sportskeeda, The Guardian, Telegraph, BRfootball, Foottheball

Kegilaan Del Bosque Duetkan Xabi Alonso dan Sergio Busquests

Pemandangan yang tak biasa terjadi dalam skuad timnas Spanyol yang baru saja gagal di Piala Dunia 2022. Sebuah kejutan di mana seorang Rodri yang berposisi sebagai gelandang bertahan tak diduga dipasang bersamaan dengan Sergio Busquets yang juga berposisi sama. Hal itu kembali menggugah ingatan publik Spanyol pada era kejayaan mereka 2010 hingga 2012.

Pada waktu itu, perubahan besar dilakukan sang juru taktik La Furia Roja, Vicente Del Bosque. Ia memunculkan duet baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ya, duo itu adalah duo gelandang Xabi Alonso dan Sergio Busquets.

Transisi Spanyol Dari Aragones Ke Del Bosque

Timnas Spanyol tak dipungkiri mengawali era kejayaan dalam genggaman Luis Aragones. Pelatih kawakan yang berhasil meracik komposisi baru timnas Spanyol. Gelar juara Piala Eropa 2008 adalah buah dari hasil racikan Aragones.

Sebuah transisi yang dilakukan sepeninggal Aragones di 2008, membuat Spanyol dipertanyakan kelanjutannya. Namun, Tim Matador beruntung memiliki penerus yang tak kalah berpengalaman. Ia adalah Vicente Del Bosque González. Mantan pemain sekaligus pelatih yang sering berprestasi bersama Real Madrid.

Del Bosque tentu mengemban misi besar memegang generasi emas Spanyol untuk melanjutkan prestasi yang diraih Aragones. Piala Dunia 2010 adalah kompetisi akbar terdekat untuk pembuktian kualitas seorang Del Bosque.

Permasalahan Friksi Yang Terjadi Antar Ego Pemain Barcelona Dan Real Madrid

Tongkat estafet yang dipegang Del Bosque memang tak semudah yang dibayangkan. Sudah ada beban untuk berprestasi lebih, juga ditambah adanya friksi persaingan di dalam tubuh Spanyol antara punggawa Barcelona dan Real Madrid.

Berbicara secara eksklusif kepada The Coaches’ Voice, pelatih asal Spanyol itu mengungkapkan bagaimana dia dan staf pelatihnya mengatasi ketegangan itu untuk membentuk tim.

Terkadang persaingan antar duel El Clasico yang panas terbawa hingga timnas. Seperti apa yang terjadi antara Sergio Ramos dan Pique, Xavi dengan Casillas, maupun Xabi Alonso dengan Sergio Busquets.

Untuk memastikan pasangan tersebut tidak membiarkan sikap meremehkan satu sama lain, Del Bosque punya cara agar mereka sadar. Bahwa mereka adalah sosok penting yang dapat saling mendorong satu sama lain demi kesatuan tim Spanyol.

Del Bosque menjelaskan kepada fourfourtwo bahwa penting juga untuk segera menyelesaikan setiap masalah pribadi mereka yang mungkin timbul akibat dari persaingan antara Real Madrid dan Barcelona. Sehingga itu tak terjadi berlarut-larut.

Tak dipungkiri, skuad Spanyol waktu itu didominasi dari kedua klub besar tersebut. Di mana skuad yang dibawa saja terdiri dari tujuh pemain Barcelona dan lima pemain Madrid.

Terbentuknya Duo Busquets Xabi Alonso

Apa yang dilakukan Del Bosque untuk menjaga kondusifitas tim melebar ke sisi strategi. Tak terbayangkan jika Spanyol yang dulunya berhasil dengan hanya menggunakan satu gelandang bertahan di zaman Aragones, tiba-tiba diubah total oleh Del Bosque.

Del Bosque tiba-tiba menduetkan dua gelandang Barcelona dan Real Madrid, Xabi Alonso dan Sergio Busquets. Duet kedua pemain dengan tipe yang sama yakni gelandang bertahan, menjadi pertanyaan banyak pihak.

Duo tersebut dibentuk Bosque sebelum Piala Dunia 2010 digelar. Apa alasan ia menciptakan duo baru tersebut? Ya, selain untuk mereduksi persaingan antara Madrid dan Barcelona, tak dipungkiri mereka berdua masih dalam performa yang mentereng.

Busquets masih menjadi penjaga kedalaman lini tengah Barcelona bersama Xavi dan Iniesta di musim itu dan masih banyak menggondol gelar. Sementara itu, Xabi Alonso di Real Madrid juga perannya masih gacor sebagai penyeimbang lini tengah era Galacticos jilid dua.

Bosque juga berbicara alasan lain yang tersembunyi kepada The Coaches’ Voice ketika ia ditanya kenapa menduetkan Xabi dengan Sergio. Dia menduetkan kedua pemain karena tuntutan. Orang-orang Barcelona ingin Busquets bermain, pun begitu dengan orang-orang di Madrid yang ingin Xabi Alonso turun.

Kritikan Aragones

Sayang, langkah Del Bosque tersebut tak bisa lepas dari kritik. Eks pelatih Spanyol, Aragones bahkan mengkritik keputusan Del Bosque. Ketika kalah di laga kontra Swiss pada partai pembuka Piala Dunia 2010, Aragones mengkritik Spanyol asuhan Del Bosque dengan mengatakan, “Bukan tim terbaik yang menang, melainkan tim yang paling terorganisir.”

Aragones juga menilai duo Xabi Alonso dan Sergio Busquets juga tak seharusnya dipasang berbarengan ketika Spanyol masih butuh gol untuk menang dan lolos. Memasang dua gelandang dengan tipe bertahan hanya akan menumpuk di area tengah. Sirkulasi bola ke depan jadi lebih terhambat.

Tipe dan Fungsi Berbeda yang Dijalankan Busquets dan Alonso

Kritik Aragones tersebut secara tak langsung ditepis oleh niat Del Bosque yang kekeh memakai keduanya. Kebangkitan permainan Spanyol di laga kedua Piala Dunia 2010 melawan Honduras menjadi bukti.

Del Bosque tentu tak sembarangan menempatkan dua matahari kembar poros lini tengahnya ini. Ia menginstruksikan khusus peran berbeda untuk mereka. Xabi Alonso yang handal dalam umpan lambung akurat, tendangan dari luar kotak penalti, maupun through pass mematikan, lebih difungsikan posisinya agak maju ke depan menjaga jarak dengan posisi yang ditempati Xavi.

Sedangkan Sergio Busquets yang jago dalam passing, penguasaan bola, dan delay permainan, juga lebih difungsikan sebagai gelandang yang hanya stay melindungi kedalaman lini tengah di depan empat bek. Keduanya juga efektif bekerja sama dalam pressing secara bersamaan dalam menghalau kekuatan lini tengah lawan.

Juara Dunia 2010 Dan Juara Eropa 2012 Menjadi Bukti

Beberapa kritik yang dilancarkan terhadap pembentukan duo tersebut pun seketika dibungkam oleh sejarah. Sejarah tercipta ketika duo tersebut mampu menjadi bagian Spanyol meraih kejayaan bersama Del Bosque.

Debut turnamen mereka di Afrika Selatan 2010 terbukti konsisten hingga akhirnya gelar juara dunia berada dalam genggaman La Furia Roja. Tak sampai di situ, duo tersebut kembali dipakai Del Bosque di Piala Eropa 2012. Dan hasilnya kembali terbukti. Duo tersebut kembali memberi sumbangsih besar terhadap gelar “back to back” Piala Eropa yang diraih Spanyol.

Del Bosque memang mempunyai kegilaan tersendiri dalam hal ide menciptakan skema baru. Hal yang beresiko tersebut berani ia kerjakan apa pun hasilnya. Namun, tak selamanya buah kerja Del Bosque tersebut langgeng.

Semakin bertambahnya usia, penurunan performa maupun lawan yang sudah mengetahui resep untuk menghentikannya, membuat duo ini seketika hancur lebur di Piala Dunia 2014. Mereka tak mampu kembali bertaji dan akhirnya gugur di fase grup bersama sang empunya Del Bosque.

Sumber Referensi : fourfourtwo, eurosport, coachesvoice, bleacherreport

Kisah Alan Smith yang Patah Kaki Usai Membelot ke Klub Rival

0

Si Pirang, Alan Smith diakui sebagai bintang muda cetakan Leeds United awal 2000-an. Namun, karena klub mengalami masalah finansial, Smith terpaksa dilego ke Manchester United. Namun, kepindahan itu ternyata melukai hati para fans. Mereka kecewa, mengapa dari sekian banyak klub di Inggris, Smith harus memilih sang rival?

Mungkin Smith bukan satu-satunya pemain Leeds yang menembus tembok tinggi yang sudah dibangun antara Elland Road dan Old Trafford, sudah ada Rio Ferdinand, Dennis Irwin, hingga Eric Cantona. Namun, Smith jadi yang paling menyakitkan.

Produk Akademi Leeds

Sejarah Leeds United dipenuhi oleh pemain-pemain bakal calon bintang. Dan salah satunya adalah Alan Smith. Pemain yang terkenal dengan rambut pirang menyalanya itu merupakan produk asli dari Leeds United. Ia bahkan lahir di Rothwell, salah satu wilayah di daerah Leeds. Jadi tak heran apabila Smith jadi salah satu pemain lokal paling dibanggakan oleh fans.

Di tempa bersama akademi Leeds, Alan Smith tumbuh sebagai penyerang yang tajam. Meski masih sangat muda, Smith sudah masuk dalam skuad inti Leeds. Di usianya yang baru 18 tahun, ia memainkan laga debutnya ketika Leeds menghadapi Liverpool di ajang Premier League. 

Berseragam putih dengan rambut pirangnya yang khas, Alan Smith menjadi pemain yang selalu dielu-elukan. Ia langsung menjadi andalan di lini depan dan fans pun merasa bahwa memiliki idola baru hasil binaan Leeds.

Selama enam musim bersama Leeds, Smith membangun reputasi sebagai striker muda potensial di Inggris. Ia juga membantu klub untuk finis di empat besar dan menandai kembalinya Leeds ke Liga Champions musim 2000/01. Alan Smith sukses memimpin Leeds merangkai cerita dongeng dengan lolos hingga semifinal di kompetisi antarklub paling bergengsi di Eropa tersebut.

Namun di musim 2003/04, Leeds mengalami masa-masa sulit dengan berakhir di peringkat 19 klasemen Liga Inggris. Di matchday terakhir musim yang emosional itu, Leeds kalah 1-0 dari Chelsea, dan Smith mencium logo Leeds di jerseynya dengan berlinang air mata. Namun, momen itu justru penanda berakhirnya hubungan Leeds dengan Alan Smith.

Kepindahan yang Mengejutkan

Di akhir musim 2003/04, Leeds terlilit hutang sebesar 100 juta pound atau setara Rp1,9 triliun. Situasi itu memaksa klub untuk menjual beberapa bintangnya guna menyelamatkan neraca keuangan. Alan Smith pun jadi salah satu pemain yang harus dilepas. Ia meninggalkan Yorkshire setelah melakoni 223 pertandingan dengan catatan 54 gol. 

Musim panas 2004, Alan Smith pun memutuskan untuk pindah ke Manchester United. Berita-berita tentang kepindahan Smith ke kubu Setan Merah membuat para fans Leeds murka. Apalagi statusnya sebagai pemain andalan Leeds membuat kepindahan Smith menimbulkan sentimen.

Kritikan dari fans soal kepindahan Smith menyeruak lantaran ia mengaku menukar seragam putihnya dengan seragam merah The Red Devils. Kepindahan ini justru memperpanas rivalitas antara Leeds dan Manchester United.

Dikutip The Athletic, dua tahun sebelum bergabung dengan Manchester United, Alan Smith pernah mendeklarasikan kalau Manchester United adalah klub yang tidak akan pernah dia bela sampai kapan pun. Itu karena United tidak sesuai dengan latar belakangnya sebagai pemain yang Leeds banget.

Sayangnya, janji Alan hanya manis di bibir saja. Ketika menerima tawaran dari Manchester United, ia justru mengaku tak bisa menolak apabila diinginkan oleh Sir Alex Ferguson, yang merupakan manajer terbaik di dunia saat itu. Ia pun berdalih bahwa kepindahannya murni untuk membantu klub yang tengah berada diambang kebangkrutan. 

Fans Leeds tak mengindahkan pembelaan Smith. Beberapa fans Leeds menganggap kepergian Smith seperti pengkhianatan Brutus kepada Julius Cesar. Yang mana itu merupakan hal yang amat dibenci dan menimbulkan kehancuran.

Awal yang Manis bersama Manchester United

Uniknya, niat Sir Alex mendatangkan Alan Smith untuk menggantikan Roy Keane. Sebab Fergie pernah melihat Smith memainkan peran yang lebih bertahan dengan sangat baik di Elland Road. Meski demikian, Smith tak keberatan, toh posisi utamanya tetap sebagai striker. 

Menghadapi Arsenal di final Community Shield, Smith langsung memberikan dampak yang instan. Ia yang diturunkan sebagai striker berhasil memuaskan Sir Alex Ferguson. Ia menyumbang satu gol dalam kemenangan 3-1 atas klub asal London tersebut. trofi Community Shield jadi trofi pertama Smith bersama Setan Merah.

Performa apik ia teruskan di ajang Premier League. Di pekan kedua saat menghadapi Norwich City, Smith jadi pemain yang paling berpengaruh dalam pertandingan tersebut. Smith mencetak satu gol dan satu assist, dan gol debutnya itu terasa spesial karena dicetak melalui sepakan voli indah buah umpan dari Ryan Giggs. Gol indah tersebut jadi momen yang tak terlupakan baginya. 

Si Pirang Kena Batunya?

Di musim keduanya bersama Setan Merah, ia semakin jarang memainkan peran sebagai striker. Ia lebih sering diturunkan sebagai gelandang kanan atau gelandang serang bernomor 10. Maka dari itu, torehan golnya pun kian menurun. Ia bahkan tak mencetak satu gol pun dalam 12 pertandingan pertama musim 2005/06.

Gol perdana Alan Smith baru hadir di pekan ke-13 kala United melawat ke markas Charlton. Akibat performanya yang cenderung biasa-biasa saja, Fergie sempat mengeluarkan Smith dari daftar pemain yang ia bawa. Smith hanya memainkan pertandingan-pertandingan di piala domestik.

Namun, ketika bermain di Piala Liga, Smith justru apes. Pada paruh kedua musim 2005/06, Manchester United menghadapi Liverpool di ronde kelima Piala Liga. Maka dari itu, United bertandang ke Anfield dengan kekuatan terbaik. 

Alan Smith memulai pertandingan dari bangku cadangan. Ia masuk menggantikan Darren Fletcher. Namun baru sepuluh menit bermain, peristiwa nahas pun menimpa mantan punggawa Leeds United tersebut. Di menit ke-88, Liverpool mendapat tendangan bebas dari jarak sekitar 30 meter dari gawang Manchester United.

Tendangan bebas tersebut dieksekusi oleh bek kiri Liverpool, John Arne Riise,yang terkenal memiliki tendangan keras dan mematikan. Smith yang entah sedang memikirkan apa, justru memberanikan diri untuk menahan laju bola tendangan roket milik Riise. Dan ya, tendangan maha dahsyat tersebut justru membuat kakinya patah tepat di bagian engkel.

Smith membutuhkan setahun lebih untuk sembuh dan kembali merumput. Cedera itu mengubah karir Smith sekaligus membuktikan kalau kepindahannya ke Manchester United justru mendatangkan petaka. 

Performanya kian menurun dan ia pun dilepas ke Newcastle pada tahun 2007. Bersama The Magpies, Smith bahkan hampir tak pernah mencetak gol. Cedera membuat Smith tak bermain lepas. Pada 2018 Smith pun pensiun dengan keadaan sulit berjalan.

Sumber: Thesportsman, The Athletic, BRfootball, Manutd, The Guardian, Fandom

Bau Busuk Hubungan Prancis dan Qatar: Skandal Besar Piala Dunia 2022

0

Setiap ajang akbar Piala Dunia yang menyita jutaan pasang mata, kadang tak luput dari sebuah cerita kontroversi. Sejarah pun akan mencatat, bahwa pesta sepak bola dunia 2022 di Qatar ini akan dikenang anak cucu kita beberapa puluh tahun ke depan sebagai Piala Dunia yang penuh dengan kontroversi dan skandal.

Terendus bau tak sedap dari FIFA, induk sepakbola dunia soal penyelenggaraan Piala Dunia 2022. Tak terkecuali hubungan senyap yang belum banyak terkuak antara Qatar dengan Prancis. Memangnya ada apa dengan hubungan kedua negara tersebut?

Pernyataan Sepp Blatter Tentang Qatar Yang Tak Seharusnya Jadi Tuan Rumah

Awal permasalahannya terkuak dari mulut mantan presiden FIFA, Sepp Blatter. Ia berkomentar terhadap penyelenggaraan Piala Dunia yang diselenggarakan di Qatar kali ini.

“Bagi saya jelas, penunjukan Qatar adalah sebuah kesalahan. Itu merupakan pilihan yang buruk. Qatar adalah negara yang terlalu kecil. Sepakbola dan Piala Dunia terlalu besar bagi mereka,” kata Blatter kepada surat kabar Swiss, Tages-Anzeiger.

Itulah unek-unek Blatter yang mengejutkan publik. Blatter diketahui sebelumnya memang sepakat dan mendukung paket Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022. Hal itu menurut Blatter adalah sesuatu yang ideal, di mana dua negara yang secara gestur politik berseteru akan menyelenggarakan Piala Dunia secara beruntun.

Harapan Blatter tersebut akhirnya tak tercapai. Amerika tiba-tiba kalah di pemungutan suara yang dilakukan di Zurich, Swiss pada 2010. Awalnya, Amerika Serikat yang telah banyak diprediksi menjadi tuan rumah kalah suara dengan Qatar. Amerika mendapat 8 suara dan Qatar mengejutkan mendapat 14 suara.

Pertanyaanya, siapa yang bisa membalik suara tersebut? Blatter kemudian berkomentar akan hal itu. Bahwa ia mencurigai Michel Platini, Presiden UEFA pada saat itu sebagai biang kerok utama kemenangan Qatar. “Terima kasih kepada empat suara tambahan dari Platini dan tim UEFA. Akhirnya Piala Dunia jatuh ke tangan Qatar ketimbang Amerika Serikat,” kata Blatter.

FYI aja, pemungutan suara paket tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 itu dilakukan oleh para anggota komite eksekutif FIFA. Dari total 22 pemilik suara FIFA, selain Blatter ada total enam orang yang berasal dari UEFA.

Pertemuan Presiden Prancis Sarkozy Dengan Emir Qatar Sembilan Hari Sebelum Penunjukan Tuan Rumah Piala Dunia 2022

Nah, bau tak sedap Platini dan Qatar mulai terkuak dengan pengakuan Blatter. Blatter mengatakan bahwa Platini secara khusus diajak makan siang dengan Presiden Prancis ketika itu, Nicolas Sarkozy di Elisse Palace.

Peristiwa penting yang mengubah segalanya itu terjadi ketika Sarkozy sedang makan siang dengan putra mahkota Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani yang sekarang menjadi Emir Qatar.

Berdasarkan laporan Le Monde, makan siang antara Sarkozy dan Tamim tersebut terjadi sembilan hari sebelum pemungutan suara. Dalam perjamuan makan siang tersebut, Platini diundang untuk berdiskusi mengenai pemilihan tuan rumah Piala Dunia. Sarkozy pun bertanya pada Platini tentang langkah apa yang bisa dilakukan teman-teman di UEFA agar Qatar menjadi tuan rumah.

Andil Michel Platini Yang Memberi Suara Lebih Bagi Qatar

Hasilnya terbukti pada pemilihan. Suara Qatar melambung tinggi berkat suara tambahan yang diduga dari UEFA yang membelot dari Amerika. Untuk itu, UEFA dan Platini kemudian diinvestigasi lebih lanjut tentang kebenaran kasus tersebut.

Platini dicurigai menjadi aktor utama pada membaliknya suara voters UEFA kepada Qatar. Platini sempat ditahan oleh Parquet National Financial (PNF), badan yudisial yang menangani kejahatan ekonomi Perancis pada 2019. Ia dimintai keterangan terkait korupsi yang melibatkan Perancis dalam pemilih Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

Hal itu semakin menguatkan bahwa Platini lah yang mempunyai andil besar suara bagi Qatar. Namun setelah dibebaskan oleh PNF, Platini kemudian mengelak bahwa dirinya sebagai dalang utama di balik penunjukan Qatar.

Platini membantah tuduhan bahwa ia memberikan suara kepada Qatar karena permintaan Sarkozy. Ia mengatakan telah mengubah haluan, dari mendukung Amerika jadi mendukung Qatar jauh sebelum peristiwa makan siang tersebut.

Efek Positif Hubungan Bisnis Prancis dengan Qatar Menang Menjadi Tuan Rumah Piala Dunia

Tak sampai pada Platini, ada bukti lain yang semakin menguatkan bahwa deal-deal antara kedua negara lewat Sarkozy dan Qatar di makan siang tersebut, mampu memuluskan jalan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Enam bulan setelah Qatar menang menjadi tuan rumah, tiba-tiba peristiwa besar terjadi. Qatar Sports Investments (QSI) mengejutkan dunia dengan membeli saham mayoritas klub Ligue 1, PSG. FYI aja, Sarkozy memang merupakan suporter fanatik PSG dan sering terlihat menonton langsung di Parc des Princes jauh sebelum jadi presiden Prancis.

Kemudian yang kedua adalah peristiwa grup media asal Qatar, beIN yang secara langsung membeli hak siar penuh seluruh pertandingan Ligue 1. Pemilik beIN kita tahu, tak lain dan tak bukan adalah Nasser Al-Khelaifi yang juga merupakan pemilik PSG dan QSI.

Tak hanya lewat bisnis olahraga, Prancis sebagai sebuah negara juga mendapatkan banyak keuntungan dari Qatar. Prancis sangat untung ketika bisa menjual 50 pesawat jenis Airbus kepada maskapai Qatar Airways.

Kemudian keuntungan lainnya yang diperoleh Prancis adalah pembelian 24 pesawat jenis jet tempur buatan Perancis, Rafaele dengan total harga sekitar 7 miliar dollar atau sekitar Rp110 triliun.

Selain keuntungan negara, Presiden Sarkozy juga diklaim mendapat keuntungan pribadi dari Qatar. Berdasarkan hasil investigasi salah satu media Prancis, Mediapart, Qatar membantu Sarkozy dalam bisnis pribadinya setelah ia kalah dalam Pemilu Prancis 2012 ketika melawan Francois Hollande.

Namun, Sarkozy yang ketika itu kembali menjadi pengacara setelah kalah pemilu, mengelak seluruh tuduhan yang dialamatkan padanya. “Olahraga bukan milik negara-negara tertentu. Itu adalah milik seluruh dunia. Saya tidak paham alasan mereka mengatakan bahwa acara-acara olahraga harus selalu digelar di negara negara besar,” katanya.

Well, apa pun yang terjadi, beberapa peristiwa yang mengekor setelah terpilihnya Qatar menjadi tuan rumah, semakin menguatkan bahwa hubungan busuk Prancis dan Qatar mulai terkuak.

Ada Bukti Bahwa Prancis Tak Ikut-Ikutan Protes Di Piala Dunia 2022

Pada perhelatan Piala Dunia 2022 kali ini, Prancis juga membuktikan bahwa dirinya tak terlalu banyak protes dengan apa yang dilakukan oleh Qatar dan FIFA. Sebagai salah satu bukti yakni, ketika kapten Hugo Lloris mengatakan menolak memakai ban kapten “One Love” yang banyak dikampanyekan negara-negara Eropa.

Menurutnya, ia lebih nurut dengan apa yang dikatakan FIFA maupun presiden FFF, Noël Le Graët mengenai aturan yang harus dipatuhi di Qatar. Padahal di negaranya sendiri, kampanye kecaman terhadap Qatar menyeruak di berbagai belahan kota di Prancis.

Hubungan senyap yang berbau busuk antara Prancis dan Qatar, akan mulai dicatat dalam buku sejarah piala dunia. Bagaimana Piala Dunia 2022 Qatar ini memang merupakan skandal besar dalam sejarah penyelenggaraan piala dunia.

Sumber Referensi : theguardian, marca, nytimes, eurosport, mirror

Yassine Bounou: Dibuang Atletico Madrid, Jadi Pahlawan Maroko

0

That is terrifically acrobatic save from Bounou.” Suara Peter Drury, komentator pertandingan Portugal vs Maroko terdengar nyaring. Komentator yang sangat nyastra itu, tidak bisa tidak memberi pujian atas penyelamatan yang dilakukan kiper Timnas Maroko, Yassine Bounou.

Peter Drury merasa harus memuji penyelamatan itu dengan cara yang hebat dan puitis. Peluang 24 karat dari sepakan pemain Portugal, Joao Felix yang melengkung ditepis dengan sangat paripurna oleh Bounou.

Bukan sekali itu saja Peter Drury memberi pujian pada Bono. Sebab kiper Sevilla itu telah memberikan kesan di Piala Dunia 2022 dengan penyelamatannya yang kelewat gemilang. Bono pun jadi salah satu pahlawan Timnas Maroko yang membunuh tim-tim besar.

Kegemilangan Bono di Timnas Maroko adalah buah dari kerja kerasnya selama ini. Kerja keras yang benar-benar keras. Sebab kamu tahu apa? Bono adalah kiper yang pernah dengan mudahnya disingkirkan oleh klub sekelas Atletico Madrid.

Mengawali Karier di Wydad Casablanca

Yassine Bounou sejatinya tidak lahir di Maroko. Orang tuanya berimigrasi ke Kanada, dan ia pun lahir di sana. Bono lahir di Montreal, salah satu kota yang cukup masyhur di Kanada. Sebelum akhirnya pulang ke Maroko. Ia pun memulai karier profesional sebagai pesepakbola di Maroko.

Sekitar tahun 2010-2011, Bono masuk ke klub Wydad Casablanca. Klub yang berbasis di Casablanca, Maroko. Uniknya, karier Bono di Casablanca seperti sangat mudah begitu saja. Ia, di usia yang baru 19 tahun langsung masuk ke skuad utama.

Penampilan Bono di Wydad Casablanca terbilang lumayan. Ia bermain sebanyak 9 kali selama dua musim bersama Wydad Casablanca. Dengan rincian, 8 kali bermain di Liga Maroko dan satu sisanya turun di Liga Champions Afrika. Total, ia menciptakan dua kali clean sheets, walau kebobolan 8 gol.

Bakatnya Terendus Atletico Madrid

Bakat Bono kemudian terendus salah satu tim raksasa di Spanyol yang kebetulan hobi melahirkan kiper hebat, Atletico Madrid. Tentu mendapat tawaran dari klub sebesar Los Rojiblancos, semburat kebahagiaan membuncah dari wajah Bono. Ia rela meninggalkan Dima Maghrib dan terbang ke Spanyol.

Bahkan Bono rela mengorbankan banyak hal untuk bisa bermain di Atletico Madrid. Ia ikhlas gajinya dipotong. Bono paham bahwa kelak, ia akan mendapat gaji yang lebih sedikit di Atletico Madrid daripada di Wydad Casablanca. Tapi itu tak masalah baginya. Sebab bagi Bono yang penting mendapat tantangan di Eropa.

Penerbangannya ke Negeri Matador tidaklah sia-sia. Tahun 2012 ia sudah menandatangani kontrak dengan Atletico Madrid. Namun, Bono mesti bersabar. Dia harus memulai karier di Spanyol dengan bergabung ke skuad B. Sebelum ia naik ke tim senior.

Semangatnya pun terpacu agar segera masuk ke tim yang ditukangi Diego Simeone. Bono memperlihatkan penampilan impresifnya di Atletico Madrid B. Tim yang bertarung di Segunda Division B. Bono setidaknya mengemas 24 kaps bersama Atletico B pada musim 2012/13. Dari situ, ia sudah melakukan 7 kali clean sheets.

Lalu di musim berikutnya, jumlah kaps Bono di Atletico Madrid B menurun menjadi 23 kaps saja. Namun, jumlah clean sheets-nya sama sekali tidak berubah, yaitu 7 kali clean sheets. Perjuangannya itu membuat Bono yakin, tidak lama lagi ia akan masuk ke skuad utama.

Gagal Bersaing

Keyakinan Bono itu benar belaka. Bahkan sebelum dikembalikan ke Atletico Madrid B, Bono sempat masuk ke skuad Diego Simeone. Ia dipanggil ke tim utama pada musim 2013/14. Ia terdaftar dalam skuad Atletico Madrid saat itu.

Namun, ia bukanlah kiper pilihan utama. Musim itu, Los Colchoneros masih memiliki Thibaut Courtois. Courtois lah yang jadi kiper utama Atletico Madrid saat itu. Sementara Bono yang saat itu berusia 22 tahun, hanya menempati pilihan ketiga.

Oleh Diego Simeone, Bono tidak diberikan kesempatan bermain satu kali pun. Entah itu di La Liga maupun di Copa del Rey. Mantan kiper Deportivo yang saat itu memperkuat Los Colchoneros, Daniel Aranzubia saja diberi kesempatan barang satu-dua kali.

Tersisih dari Atletico Madrid

Ketika berseragam Atletico Madrid, Yassine Bounou sebenarnya sudah mulai dilirik Timnas Maroko. Tahun 2013 ia menjalani debut bersama Timnas Senior Dima Maghrib setelah berkecimpung di level junior. Tepatnya ketika menghadapi Burkina Faso. Kiprahnya di Timnas Maroko itu membawanya naik daun.

Bono juga sepertinya menyadari. Ia akan sulit bersaing dengan kiper papan atas Atletico Madrid. Sebab setelah tidak lagi diperkuat Thibaut Courtois, alih-alih memakai kiper yang sudah ada, Atletico justru mendatangkan kiper baru. Habis Courtois, terbitlah Jan Oblak. Bono kian tersisih.

Pengorbanannya untuk Atletico Madrid, termasuk rela gajinya disunat seolah tak ternilai di hadapan Diego Simeone. Maka, ketika Los Colchoneros meminjamkannya ke Real Zaragoza, Bono legowo. Bahkan ia sangat senang dengan itu, karena itu artinya ia bisa menjadi pilihan reguler.

Petualangan di La Liga

Masa bakti Bono di Zaragoza terbilang singkat. Hanya dua musim: 2014/15 dan 2015/16. Setelah itu, Girona datang untuk membeli Bono dari Atletico Madrid. Bono dibeli tim La Liga 2 itu dengan biaya yang tidak disebutkan. Tak seperti di Atletico Madrid, ia menjadi penjaga gawang utama di Girona.

Musim 2016/17 ia mencatatkan 21 kaps bagi Girona dan mengemas 7 clean sheets. Bono juga membantu tim itu promosi ke La Liga. Di La Liga kiprahnya makin mentereng dengan 30 kaps dan 9 kali clean sheets pada musim 2017/18. Penampilan apik membawanya ke Piala Dunia 2018. Herve Renard memanggilnya untuk memperkuat Maroko.

Tak Terpakai di Piala Dunia 2018, Andalan AFCON 2019

Penampilan yang menjanjikan di La Liga memang membuatnya masuk skuad Maroko untuk Piala Dunia 2018. Hanya saja, Herve Renard tidak memakainya sebagai penjaga gawang utama. Munir Mohamedi yang jadi pilihan utama Renard.

Bono tak bermain semenit pun di Piala Dunia 2018. Sebab Maroko sudah tersingkir di babak penyisihan grup. Namun, daya tahan Bono sudah teruji. Ia tak goyah dengan kekalahan. Oleh Herve Renard, akhirnya Bono diberi kesempatan menjadi starter di ajang AFCON 2019.

Di tahun yang sama, Bono juga sudah pindah ke Sevilla. Girona terdegradasi lagi, dan jasanya dipakai Sevilla meski hanya pinjaman. Sayangnya pada gelaran AFCON 2019, ia gagal membawa Maroko ke puncak. Dima Maghrib ditaklukkan Benin di babak 16 besar.

Kembali Diandalkan di AFCON 2021 dan Piala Dunia 2022

Di sisi lain, Bono justru meraih trofi Liga Eropa bersama Sevilla pada musim 2019/20. Hal itulah yang bikin Vahid Halilhodzic, pelatih baru Maroko memanggilnya untuk AFCON 2021. Musim 2019/20 dan 2020/21 memang menjadi musim yang luar biasa bagi Bono.

Walaupun gagal membawa Singa Atlas juara AFCON 2021 setelah didepak Mesir di perempat final. Tapi Bono, pada musim 2020/21 justru meraih penghargaan lain. Musim itu ia meraih penghargaan Ricardo Zamora, penghargaan yang didambakan kiper La Liga.

Bono mendapatkannya karena memiliki rasio kebobolan gol terendah selama satu musim. Tahun 2022, meski Sevilla-nya sedang kacau, Bono dipanggil pelatih anyar Maroko, Walid Regragui untuk berangkat ke Qatar. Uniknya, Bono bisa mempengaruhi gaya main Maroko asuhan Walid.

Pria itulah yang sedikit banyak memberi masukan ke Walid. Bono memakai gaya bermain Diego Simeone di Timnas Maroko. Dan itu berhasil. Tanpa banyak menguasai bola, Singa Atlas jadi tim yang lebih dari sanggup untuk menghancurkan tim raksasa. Good job, Yassine!

Sumber: IndianExpress, Prosoccerwire, BBC, FIFA, LeeDaily, NewArab, StraitsTimes, TorontoSun, TheNationalNews, Transfermarkt

Kutukan Piala Dunia: Prancis yang Memulai, Prancis yang Mengakhiri

0

Prancis datang ke Piala Dunia 2022 dengan sebuah kutukan yang menghantui. Kutukan tersebut membuat juara bertahan Piala Dunia dari benua Eropa akan selalu terhenti di fase grup.

Ironisnya, yang menciptakan dan memulai kutukan tersebut adalah Prancis itu sendiri.

Awal Mula Kutukan Juara Bertahan Piala Dunia Tercipta

Ini dimulai di Piala Dunia 2002 di Korea dan Jepang. Kala itu, Prancis datang dengan status sebagai juara bertahan usai memenangi Piala Dunia 1998 yang digelar di rumah mereka

Tim Ayam Jantan juga menyandang status sebagai tim peringkat 1 dunia. Prancis adalah unggulan pertama. Skuad yang mereka bawa saat itu juga mayoritas masih berisikan para pemain yang membawa Prancis juara dunia 1998.

Namun, yang terjadi justru bencana. Prancis langsung kalah mengejutkan di pertandingan pembuka Piala Dunia 2002. Les Bleus kalah 1-0 dari Senegal yang kala itu berstatus tim debutan.

Di pertandingan berikutnya, Prancis ditahan imbang 0-0 oleh Uruguay dan kalah 2-0 dari Denmark. Tak satu pun menghasilkan gol, hanya meraih 1 poin, dan jadi juru kunci Grup A, Prancis terhenti di fase grup.

Sebelum Prancis ada Uruguay. Juara dunia 1930 itu gagal mencapai putaran kedua Piala Dunia 1934. Namun, kala itu, penyebab kegagalan Uruguay bukan karena kekalahan, tetapi karena mereka enggan ikut serta ke Piala Dunia yang diadakan di benua Eropa.

Artinya, Prancis adalah juara bertahan pertama yang terhenti di fase grup Piala Dunia. Setelah Prancis, juara bertahan berikutnya yang gagal lolos dari fase grup adalah Italia di Piala Dunia Afsel 2010.

Di Piala Dunia Brasil 2014, giliran Spanyol, juara dunia 2010 yang terhenti di fase grup. Lalu, di Piala Dunia Rusia 2018, giliran juara bertahan Jerman yang gagal lolos dari fase grup.

Dari 5 edisi terakhir Piala Dunia, 4 juara bertahan terhenti di fase grup. Berulangnya kejadian tersebut membuat orang-orang percaya kalau itu adalah sebuah kutukan. Kutukan yang membuat negara yang memenangkan Piala Dunia terakhir gagal dalam kondisi memalukan untuk mempertahankan mahkota juara dengan tidak lolos dari fase grup.

Herannya, kutukan tersebut hanya berlaku bagi juara bertahan Piala Dunia yang berasal dari benua Eropa. Dan tokoh yang memulai kutukan tersebut adalah Prancis.

Kutukan Juara Bertahan Piala Dunua Menghantui Prancis di Qatar 2022

Kutukan itu pula yang menghantui Prancis di Piala Dunia Qatar 2022. Les Bleus adalah kampiun Piala Dunia 2018. Sejak 2002, hanya Brasil yang lolos dari kutukan juara bertahan Piala Dunia.

Meski jadi salah satu yang diperhitungkan sebagai favorit juara, tetap saja banyak pihak yang memprediksi Prancis akan terhenti di fase grup. Banyak faktor yang mendukung kutukan juara bertahan Piala Dunia akan kembali terulang di edisi 2022.

Hasil undian fase grup menempatkan Prancis tergabung di Grup D bersama Denmark, Tunisia, dan Australia. Kecuali Tunisia, susunan tersebut adalah pengulangan Grup C Piala Dunia 2018.

Di grup tersebut, Denmark adalah batu sandungan terbesar Prancis. Di dua pertemuan terakhir kedua negara di UEFA Nations League, Prancis dua kali tumbang dari Denmark.

Head to head kedua negara di 2 pertemuan terakhir mereka di Piala Dunia juga berpihak kepada Denmark. Di edisi 2002, Prancis kalah 2-0 dari Denmark. Sementara di edisi 2018, Prancis ditahan imbang Denmark dengan skor 0-0.

Akan tetapi, faktor terbesar yang menghalangi usaha Prancis untuk menghindari kutukan juara bertahan Piala Dunia untuk kedua kalinya adalah badai cedera yang menerjang skuad mereka. Banyaknya pemain kunci yang cedera membuat pilihan Didier Deschamps tergerus.

N’Golo Kante dan Paul Pogba sudah dipastikan absen jauh sebelum kickoff Piala Dunia. Begitu pula dengan kiper Mike Maignan. Menjelang keberangkatan, Prancis juga kehilangan Christopher Nkunku dan Presnel Kimpembe yang mengalami cedera saat menjalani latihan di Clairefontaine.

Ketika sudah sampai di Qatar, kabar buruk datang dari Karim Benzema. Bomber Real Madrid itu menderita cedera paha yang membuatnya dipastikan absen. Absennya Benzema membuat Piala Dunia tahun ini digelar tanpa kehadiran pemenang Ballon d’Or.

Badai cedera yang dialami Prancis tak selesai di situ. Di laga pertama Grup D melawan Australia, Lucas Hernandez menderita robek ACL di lutut kananya yang memaksanya naik meja operasi dan membuatnya dipastikan absen hingga akhir musim ini.

Akhiri Kutukan, Prancis Lolos ke Fase Gugur Piala Dunia 2022

Namun, dengan kondisi skuad yang pincang, Prancis tetap sanggup menunjukkan kelasnya. Australia mereka lumat dengan skor 4-1. Di pertandingan kedua yang menentukan kontra Denmark, Les Bleus berhasil membalikkan prediksi dan meraih kemenangan dramatis berkat gol Kylian Mbappe yang mengubah skor menjadi 2-1.

Hasil itu membuat Prancis telah mengumpulkan 6 poin dalam dua pertandingan pembuka. Koleksi poin yang tak akan tergoyahkan dan memastikan Les Bleus lolos ke babak 16 besar.

Lolosnya Prancis ke fase gugur tak sekadar mematahkan berbagai prediksi, tetapi juga membuat Prancis terhindar dari kutukan juara Piala Dunia yang mereka ciptakan.

Prancis adalah juara bertahan pertama yang lolos ke fase gugur Piala Dunia sejak Brasil di edisi 2002. Tim Ayam Jantan adalah juara bertahan Piala Dunia pertama dari benua Eropa yang bisa melakukan hal tersebut.

Artinya, lolosnya Prancis ke babak 16 besar Piala Dunia 2022 juga sekaligus mengakhiri kutukan juara bertahan Piala Dunia yang selalu terhenti di fase grup. Lalu, faktor apa yang membuat mereka berhasil mengakhiri kutukan tersebut?

Jawabannya cukup sederhana, tetapi sulit ditiru negara lain. Prancis diberkahi dengan pilihan pemain yang melimpah. Saat ini, mereka tengah dipuji karena regenerasi pemainnya yang luar biasa.

Badai cedera memang menggoyahkan kedalaman skuad mereka. Akan tetapi, Prancis sukses menggantinya dengan beberapa pemain yang tak kalah bagusnya sehingga membuat skuad Les Bleus tampil lebih fresh.

Pos yang ditinggalkan Kante dan Pogba diluar dugaan berhasil diisi dengan apik oleh Aurélien Tchouaméni dan Adrien Rabiot. Sementara posisi Lucas Hernandez sukses digantikan oleh sang adik, Theo Hernandez.

Namun, kekhawatiran soal kedalaman skuad Prancis kembali mencuat saat berjumpa dengan Tunisia. Deschamps merotasi 9 pemain pada starting eleven-nya. Banyaknya perubahan akhirnya membuat Prancis takluk 1-0.

Beruntung, kekalahan tersebut tak mengubah posisi Prancis yang tetap kokoh di puncak klasemen Grup D.

Prancis di Ambang Juara Back-to-Back Piala Dunia

Tak ingin mengulang kesalahan, Deschamps kembali menurunkan skuad terbaiknya di laga 16 besar kontra Polandia. Hasilnya, mereka menang meyakinkan dengan skor 3-1 dan memastikan tiket ke babak perempat final.

Prancis pun kembali mematahkan kutukan. Mereka adalah juara bertahan Piala Dunia pertama yang mencapai perempat final sejak Brasil pada edisi 2006.

Meski menang besar, tetapi keraguan akan kehebatan Prancis belum sirna sepenuhnya. Sebab, lawan mereka sejauh ini hanyalah Australia, Denmark, Tunisia, dan Polandia. Belum ada lawan sepadan.

Inggris pun datang sebagai ujian terberat Les Blues di babak perempat final. Lawan yang lebih dari sepadan, sebab The Three Lions datang dengan status tim tersubur di Qatar.

Namun, dengan keindahan dan sedikit keberuntungan, Prancis berhasil memulangkan Inggris dengan skor 2-1. Hasil akhir yang membuat Prancis mampu mematahkan kutukan yang sudah berlangsung lebih dari 2 dekade. Prancis adalah juara bertahan pertama yang melaju ke semifinal sejak Brasil pada edisi 1998.

Keberhasilan itu tentu tak lepas dari kejeniusan Didier Deschamps dalam meramu skuad dan taktik. Penampilan apik Kylian Mbappe yang jadi calon top skor Piala Dunia 2022 dan Olivier Giroud yang memecahkan rekor pencetak gol terbanyak Les Blues juga memberi andil yang sangat besar.

Deschamps juga harus berterima kasih kepada Antoine Griezmann. Di Piala Dunia ketiganya ini, Griezmann bermain lebih dalam di lini tengah sebagai penghubung gelandang dan penyerang.

Kontribusi terbesarnya bukan gol, tetapi asis. Ada di mana-mana, Griezmann sudah menyumbang 3 asis yang menjadikannya sebagai pemberi asis terbanyak di Qatar. 2 asisnya di laga kontra Inggris juga membuat Griezmann tercatat sebagai pemberi assist terbanyak sepanjang masa timnas Prancis dengan 28 asis.

Kini, setelah memutus dan mengakhiri kutukan serta memecahkan beberapa rekor, Prancis diambang menciptakan sejarah baru. Les Bleus hanya tinggal berjarak 2 pertandingan untuk menjadi juara back-to-back Piala Dunia.

Sejak Brasil melakukannya pada 1962, belum ada negara lain yang dapat mempertahankan trofi Piala Dunia. 60 tahun sudah rekor tersebut bertahan. Lalu, apakah Prancis sanggup memecahkan rekor tersebut dan keluar sebagai juara back-to-back Piala Dunia?

https://youtu.be/WXv3Xw7q1EE
***
Referensi: Sporting News, FIFA, Opta, CBS, Detik.