Ketika peluit panjang dibunyikan, kapten Timnas Inggris, Harry Kane langsung tertunduk lesu. Ia harus kembali menerima kenyataan pahit timnya kalah dengan skor tipis 2-1 dari sang juara bertahan Prancis.
Inggris sebetulnya punya peluang untuk menyamakan kedudukan, andai tendangan penalti kedua dari penyerang Tottenham Hotspur itu tak menyasar burung. Dengan kegagalan penalti tersebut, Kane menambah daftar kegagalan penalti Inggris di beberapa turnamen besar.
Penalti memang jadi mimpi buruk Timnas Inggris di ajang-ajang Internasional. Namun, nyatanya kegagalan The Three Lions di kompetisi antarnegara bukan hanya disebabkan oleh penalti. Berikut beberapa alasan mengapa Inggris selalu gagal di ajang internasional, meski skuadnya bertabur bintang.
Daftar Isi
Football’s Coming Home Terossss
Setiap Timnas Inggris tampil di kompetisi internasional, para fans akan selalu meneriakan sebuah lagu berjudul “Three Lions”. Lagu ini memuat frasa populer, “Football’s coming home”, yang kurang lebih menggambarkan ekspektasi para pendukung tim sepakbola Inggris ketika mendukung tim kesayangan mereka.
Lewat lagu yang ditulis Baddiel dan Skinner, vokalis The Lightning Seeds, Ian Broudie, mengajak para pendengar dan publik pecinta sepakbola Inggris untuk tak pernah putus harapan untuk mendukung tim nasional.
football’s coming home pic.twitter.com/Ef5c2Djr7a
— wan ˋ°•*⁀➷ (@akuawan_) December 4, 2022
Secara umum, lagu ini mengusung misi optimisme untuk mendorong skuad The Three Lions yang sering mengalami kekalahan agar berprestasi di kancah internasional. Namun, bagi beberapa pemain, lagu ini justru menjadi beban tersendiri. Karena ketika baru menang sekali di babak penyisihan, lagu ini pasti sudah diputar di mana-mana. Seakan-akan fans sudah menaruh harap setinggi langit pada tim yang sedang berlaga.
Tekanan yang diberikan fans dan media-media Inggris yang terkenal memang pada lebay itu bikin para pemain Timnas Inggris jadi kurang lepas saat bermain. Contohnya saja Wayne Rooney yang trengginas di Kualifikasi Piala Dunia 2010, tapi nggak nyekor sama sekali di putaran final.
Belum lagi kritikan pedas yang dilayangkan kepada pemain apabila gagal memenuhi ekspektasi fans sangat meresahkan. Mulai dari kegagalan penalti Gareth Southgate di Euro 1996 sampai David Beckham yang masih muda sudah dikupas habis-habisan oleh media Inggris setelah mendapat kartu merah di Piala Dunia 1998.
Sial di Adu Penalti
Jika sebuah tim menghadapi situasi adu penalti, maka peluangnya bisa dikata menjadi 50:50. Adu penalti bak sebuah lotre yang mengandalkan sedikit keberuntungan, campuran ketenangan, dan pengalaman para pemain itu sendiri. Dan Inggris tampaknya memiliki track record yang buruk di babak adu penalti.
Sudah banyak contohnya. Setahun sebelum gagalnya tendangan Harry Kane di babak perempat final Piala Dunia 2022, The Three Lions juga gagal di babak adu penalti saat melawan Timnas Italia di partai final Euro 2020.
On this day in 2012, Andrea Pirlo stepped up for Italy in a penalty shootout against England.
That Panenka was so cold ❄️
(🎥: @EURO2020)pic.twitter.com/Q4uKDa1IRs
— B/R Football (@brfootball) June 24, 2021
Bermain di Wembley Stadium, Inggris justru takluk dari tim tamu. Gli Azzurri sukses mengangkat trofi Euro 2020 di kandang Timnas Inggris usai mengalahkan mereka dengan skor akhir 3-2. Jauh sebelum itu, Italia juga pernah memulangkan Inggris melalui babak adu penalti di Euro 2012.
Salah satu momen yang paling diingat adalah tendangan panenka Andrea Pirlo yang sukses mengecoh Joe Hart. Pada tahun 2021, OptaJoe menyebutkan bahwa Inggris hanya mampu memenangkan dua dari sembilan adu penalti di turnamen besar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Inggris memang sial jika menghadapi situasi adu penalti.
Pemilihan Manajer
Pemilihan manajer juga jadi faktor. Timnas Inggris hampir tidak pernah menunjuk pelatih ternama untuk menukangi tim di ajang internasional. tercatat sejak Piala Dunia 2002 mungkin hanya Fabio Capello, pelatih dengan nama besar yang pernah melatih Inggris. Sisanya? Wallahualam.
“We’ve now got some very young players with a lot of big match experience already.”
Gareth Southgate on how our recent experiences can help the #ThreeLions moving forwards: pic.twitter.com/JUEKoNselq
— England (@England) December 12, 2022
Sebut saja macam Steve McClaren, Roy Hodgson, Sam Allardyce, dan yang sekarang, Gareth Southgate. Mereka dirasa tak memiliki pengalaman yang oke di taraf internasional maupun klub. Kita ambil contoh Southgate, sebelum melatih Inggris dia hanya seorang pelatih tim gurem macam Middlesbrough.
Jadi untuk menangani tim semewah Timnas Inggris, Southgate dirasa tak memiliki kapasitas yang cukup. Bahkan dilansir Telegraph, Southgate jadi pelatih Inggris paling overrated sepanjang masa.
Ego Pemain Bintang
Ada juga soal ego para pemain bintang. Faktor pelatih juga erat kaitannya dengan ini, karena peran pelatih sangat penting dalam mengatur stok pemain-pemain Inggris yang kerap menjadi bintang di klubnya masing-masing. Contohnya saja David Beckham yang kala itu jadi bintang di MU dan Real Madrid, atau Harry Kane yang menjadi pentolan di Spurs.
Pada dasarnya apabila pemain-pemain bintang dijadikan satu, yang akan nampak di permukaan adalah egonya. Jadi peran pelatih sangat diperlukan untuk meredam ego para pemain bintang ini. Contohnya di generasi emas Inggris angkatan Piala Dunia 2006, di satu posisi saja ada banyak pemain bintang.
Which current England players gets in to 2006 golden generation squad? pic.twitter.com/xtEUvbqJxR
— Ash (@Ash_coys) May 31, 2022
Jika dalam satu posisi stoknya melimpah, mau tak mau mau ada bintang yang harus dicadangkan. Pemilihan pemain yang tepat akan berhubungan dengan kemistri di dalam tim yang sebenarnya penting untuk dibangun.
Contohnya pada Piala Dunia 2006. John Terry, Rio Ferdinand, Sol Campbell, dan Jamie Carragher sedang apik-apiknya bersama klub. Namun hanya dua dari mereka yang bisa menjadi starter. Jika pelatih tak piawai meredam ego mereka, suasana ruang ganti sudah pasti akan memanas.
Apalagi Inggris kerap memprioritaskan pemain-pemain yang bermain di liga lokal. Jadi, aura rivalitas di klub kadang terbawa hingga ke timnas. Contohnya saja Gary Neville yang selalu bersaing dengan Jamie Carragher soal klub siapa yang terbaik, MU atau Liverpool.
Bermain Setengah Hati?
Selanjutnya ada rumor yang mengatakan bahwa pamor kompetisi-kompetisi antarklub baik domestik maupun Eropa dirasa lebih menarik bagi para pemain-pemain Inggris, ketimbang kompetisi antarnegara. Karena kompetisi macam Liga Inggris, Piala Liga, dan Liga Champions tersaji setiap tahun, tidak seperti Piala Dunia yang harus menunggu empat tahun.
Belum lagi si pemain sudah mendapat bayaran yang tinggi ketika bermain di klub. Dengan uang yang didapatkan dari klub, seorang pemain bisa berinvestasi, salah satunya untuk kebugaran. Sementara di level internasional, resiko yang ditanggung cukup berat. Apalagi pemain yang dilepas untuk melakukan tugas internasional, acap kali berakhir cedera.
Ketika cedera saat menjalani tugas internasional, si pemain bisa jadi tertutup kesempatannya untuk kembali membela klubnya. Dan itu, apabila kompetisi bergengsi seperti Liga Inggris maupun Liga Champions, sangat merugikan bagi pemain bahkan klub itu sendiri. Sialnya lagi, jika tak mendapat menit bermain yang cukup di klub, pemain tersebut tidak akan dipanggil timnas.
Kutukan Masa Lalu
Percaya tidak percaya, kegagalan Timnas Inggris tak lepas dari sebuah kutukan di masa lalu. Skuad The Three Lions berhasil juara Piala Dunia pada edisi 1966. Di partai final, mereka berhasil menekuk perlawanan Jerman Barat dan laga berkesudahan dengan skor 4-2.
It hurts. But we’re family and we’ll stick together ❤️ pic.twitter.com/PNO8pvJMXh
— England (@England) December 10, 2022
Namun pada laga itu, Jerman Barat sempat protes dengan keputusan wasit lantaran telah mengesahkan gol Geoff Hurst. Mereka menilai jika bola belum melewati garis gawang. Lantas, mereka pun mengutuk Inggris tidak akan pernah menjadi juara Piala Dunia lagi. Dan hingga saat ini, skuad The Three Lions belum mampu juara lagi di Piala Dunia.
https://youtu.be/kGUJm8C9TYw
Sumber: Sportskeeda, The Guardian, Telegraph, BRfootball, Foottheball


