“That is terrifically acrobatic save from Bounou.” Suara Peter Drury, komentator pertandingan Portugal vs Maroko terdengar nyaring. Komentator yang sangat nyastra itu, tidak bisa tidak memberi pujian atas penyelamatan yang dilakukan kiper Timnas Maroko, Yassine Bounou.
Peter Drury merasa harus memuji penyelamatan itu dengan cara yang hebat dan puitis. Peluang 24 karat dari sepakan pemain Portugal, Joao Felix yang melengkung ditepis dengan sangat paripurna oleh Bounou.
Bukan sekali itu saja Peter Drury memberi pujian pada Bono. Sebab kiper Sevilla itu telah memberikan kesan di Piala Dunia 2022 dengan penyelamatannya yang kelewat gemilang. Bono pun jadi salah satu pahlawan Timnas Maroko yang membunuh tim-tim besar.
Kegemilangan Bono di Timnas Maroko adalah buah dari kerja kerasnya selama ini. Kerja keras yang benar-benar keras. Sebab kamu tahu apa? Bono adalah kiper yang pernah dengan mudahnya disingkirkan oleh klub sekelas Atletico Madrid.
Daftar Isi
Mengawali Karier di Wydad Casablanca
Yassine Bounou sejatinya tidak lahir di Maroko. Orang tuanya berimigrasi ke Kanada, dan ia pun lahir di sana. Bono lahir di Montreal, salah satu kota yang cukup masyhur di Kanada. Sebelum akhirnya pulang ke Maroko. Ia pun memulai karier profesional sebagai pesepakbola di Maroko.
Sekitar tahun 2010-2011, Bono masuk ke klub Wydad Casablanca. Klub yang berbasis di Casablanca, Maroko. Uniknya, karier Bono di Casablanca seperti sangat mudah begitu saja. Ia, di usia yang baru 19 tahun langsung masuk ke skuad utama.
🇲🇦⭐🇹🇳| Yassine Bounou figura hoy frente a España jugo frente al Esperance de Tunez🇹🇳 con la camiseta del Wydad Casablanca de Marruecos🇲🇦 pic.twitter.com/OPQCRXmYjg
— Tunecino a muerte🇹🇳 (@Tunecismo) December 6, 2022
Penampilan Bono di Wydad Casablanca terbilang lumayan. Ia bermain sebanyak 9 kali selama dua musim bersama Wydad Casablanca. Dengan rincian, 8 kali bermain di Liga Maroko dan satu sisanya turun di Liga Champions Afrika. Total, ia menciptakan dua kali clean sheets, walau kebobolan 8 gol.
Bakatnya Terendus Atletico Madrid
Bakat Bono kemudian terendus salah satu tim raksasa di Spanyol yang kebetulan hobi melahirkan kiper hebat, Atletico Madrid. Tentu mendapat tawaran dari klub sebesar Los Rojiblancos, semburat kebahagiaan membuncah dari wajah Bono. Ia rela meninggalkan Dima Maghrib dan terbang ke Spanyol.
Bahkan Bono rela mengorbankan banyak hal untuk bisa bermain di Atletico Madrid. Ia ikhlas gajinya dipotong. Bono paham bahwa kelak, ia akan mendapat gaji yang lebih sedikit di Atletico Madrid daripada di Wydad Casablanca. Tapi itu tak masalah baginya. Sebab bagi Bono yang penting mendapat tantangan di Eropa.
Atletico #Madrid signed #Morocco Intl keeper Yassine Bounou of Wydad. #liga pic.twitter.com/epVVGzeZ
— محترفو العرب بأوروبا (@ArabProFootball) June 14, 2012
Penerbangannya ke Negeri Matador tidaklah sia-sia. Tahun 2012 ia sudah menandatangani kontrak dengan Atletico Madrid. Namun, Bono mesti bersabar. Dia harus memulai karier di Spanyol dengan bergabung ke skuad B. Sebelum ia naik ke tim senior.
Semangatnya pun terpacu agar segera masuk ke tim yang ditukangi Diego Simeone. Bono memperlihatkan penampilan impresifnya di Atletico Madrid B. Tim yang bertarung di Segunda Division B. Bono setidaknya mengemas 24 kaps bersama Atletico B pada musim 2012/13. Dari situ, ia sudah melakukan 7 kali clean sheets.
Lalu di musim berikutnya, jumlah kaps Bono di Atletico Madrid B menurun menjadi 23 kaps saja. Namun, jumlah clean sheets-nya sama sekali tidak berubah, yaitu 7 kali clean sheets. Perjuangannya itu membuat Bono yakin, tidak lama lagi ia akan masuk ke skuad utama.
Gagal Bersaing
Keyakinan Bono itu benar belaka. Bahkan sebelum dikembalikan ke Atletico Madrid B, Bono sempat masuk ke skuad Diego Simeone. Ia dipanggil ke tim utama pada musim 2013/14. Ia terdaftar dalam skuad Atletico Madrid saat itu.
Namun, ia bukanlah kiper pilihan utama. Musim itu, Los Colchoneros masih memiliki Thibaut Courtois. Courtois lah yang jadi kiper utama Atletico Madrid saat itu. Sementara Bono yang saat itu berusia 22 tahun, hanya menempati pilihan ketiga.
Oleh Diego Simeone, Bono tidak diberikan kesempatan bermain satu kali pun. Entah itu di La Liga maupun di Copa del Rey. Mantan kiper Deportivo yang saat itu memperkuat Los Colchoneros, Daniel Aranzubia saja diberi kesempatan barang satu-dua kali.
Tersisih dari Atletico Madrid
Ketika berseragam Atletico Madrid, Yassine Bounou sebenarnya sudah mulai dilirik Timnas Maroko. Tahun 2013 ia menjalani debut bersama Timnas Senior Dima Maghrib setelah berkecimpung di level junior. Tepatnya ketika menghadapi Burkina Faso. Kiprahnya di Timnas Maroko itu membawanya naik daun.
Bono juga sepertinya menyadari. Ia akan sulit bersaing dengan kiper papan atas Atletico Madrid. Sebab setelah tidak lagi diperkuat Thibaut Courtois, alih-alih memakai kiper yang sudah ada, Atletico justru mendatangkan kiper baru. Habis Courtois, terbitlah Jan Oblak. Bono kian tersisih.
Presentado Yassine #Bounou como jugador del #RealZaragoza. pic.twitter.com/gUryZSpozl
— Alex Castresana (@Castresana7) September 9, 2014
Pengorbanannya untuk Atletico Madrid, termasuk rela gajinya disunat seolah tak ternilai di hadapan Diego Simeone. Maka, ketika Los Colchoneros meminjamkannya ke Real Zaragoza, Bono legowo. Bahkan ia sangat senang dengan itu, karena itu artinya ia bisa menjadi pilihan reguler.
Petualangan di La Liga
Masa bakti Bono di Zaragoza terbilang singkat. Hanya dua musim: 2014/15 dan 2015/16. Setelah itu, Girona datang untuk membeli Bono dari Atletico Madrid. Bono dibeli tim La Liga 2 itu dengan biaya yang tidak disebutkan. Tak seperti di Atletico Madrid, ia menjadi penjaga gawang utama di Girona.
Musim 2016/17 ia mencatatkan 21 kaps bagi Girona dan mengemas 7 clean sheets. Bono juga membantu tim itu promosi ke La Liga. Di La Liga kiprahnya makin mentereng dengan 30 kaps dan 9 kali clean sheets pada musim 2017/18. Penampilan apik membawanya ke Piala Dunia 2018. Herve Renard memanggilnya untuk memperkuat Maroko.
Tak Terpakai di Piala Dunia 2018, Andalan AFCON 2019
Penampilan yang menjanjikan di La Liga memang membuatnya masuk skuad Maroko untuk Piala Dunia 2018. Hanya saja, Herve Renard tidak memakainya sebagai penjaga gawang utama. Munir Mohamedi yang jadi pilihan utama Renard.
Bono tak bermain semenit pun di Piala Dunia 2018. Sebab Maroko sudah tersingkir di babak penyisihan grup. Namun, daya tahan Bono sudah teruji. Ia tak goyah dengan kekalahan. Oleh Herve Renard, akhirnya Bono diberi kesempatan menjadi starter di ajang AFCON 2019.
Yassine Bounou also known as Bono
Bono’s game has done plenty of talking in this year’s World Cup; matched up against 2018 World Cup finalists Croatia, Canada and Spain and Portugal .
#FIFAWorldCup2022 @soka25east pic.twitter.com/kSve4FtJIw
— Collins Okinyo (@bedjosessien) December 11, 2022
Di tahun yang sama, Bono juga sudah pindah ke Sevilla. Girona terdegradasi lagi, dan jasanya dipakai Sevilla meski hanya pinjaman. Sayangnya pada gelaran AFCON 2019, ia gagal membawa Maroko ke puncak. Dima Maghrib ditaklukkan Benin di babak 16 besar.
Kembali Diandalkan di AFCON 2021 dan Piala Dunia 2022
Di sisi lain, Bono justru meraih trofi Liga Eropa bersama Sevilla pada musim 2019/20. Hal itulah yang bikin Vahid Halilhodzic, pelatih baru Maroko memanggilnya untuk AFCON 2021. Musim 2019/20 dan 2020/21 memang menjadi musim yang luar biasa bagi Bono.
Walaupun gagal membawa Singa Atlas juara AFCON 2021 setelah didepak Mesir di perempat final. Tapi Bono, pada musim 2020/21 justru meraih penghargaan lain. Musim itu ia meraih penghargaan Ricardo Zamora, penghargaan yang didambakan kiper La Liga.
Jarang ngetweet bola tapi ngga kuat buat ngasih tau kalo YASSINE BOUNOU TUH DI SEVILLA NYA EMANG JAGO BANGET. MUSIM KEMAREN DAPET TROFEO RICARDO ZAMORA ALIAS AWARD BUAT GOALKEEPER YANG PUNYA LOWEST GOALS-TO-GAME RATIO SE-LA LIGA.
Udah. Mau bikin kopi dulu. pic.twitter.com/gY3xKDKZmA
— Perunggu 🥉 (@perunggu__) December 7, 2022
Bono mendapatkannya karena memiliki rasio kebobolan gol terendah selama satu musim. Tahun 2022, meski Sevilla-nya sedang kacau, Bono dipanggil pelatih anyar Maroko, Walid Regragui untuk berangkat ke Qatar. Uniknya, Bono bisa mempengaruhi gaya main Maroko asuhan Walid.
Pria itulah yang sedikit banyak memberi masukan ke Walid. Bono memakai gaya bermain Diego Simeone di Timnas Maroko. Dan itu berhasil. Tanpa banyak menguasai bola, Singa Atlas jadi tim yang lebih dari sanggup untuk menghancurkan tim raksasa. Good job, Yassine!
Sumber: IndianExpress, Prosoccerwire, BBC, FIFA, LeeDaily, NewArab, StraitsTimes, TorontoSun, TheNationalNews, Transfermarkt


