Pemandangan yang tak biasa terjadi dalam skuad timnas Spanyol yang baru saja gagal di Piala Dunia 2022. Sebuah kejutan di mana seorang Rodri yang berposisi sebagai gelandang bertahan tak diduga dipasang bersamaan dengan Sergio Busquets yang juga berposisi sama. Hal itu kembali menggugah ingatan publik Spanyol pada era kejayaan mereka 2010 hingga 2012.
Pada waktu itu, perubahan besar dilakukan sang juru taktik La Furia Roja, Vicente Del Bosque. Ia memunculkan duet baru yang tak terpikirkan sebelumnya. Ya, duo itu adalah duo gelandang Xabi Alonso dan Sergio Busquets.
Daftar Isi
Transisi Spanyol Dari Aragones Ke Del Bosque
Timnas Spanyol tak dipungkiri mengawali era kejayaan dalam genggaman Luis Aragones. Pelatih kawakan yang berhasil meracik komposisi baru timnas Spanyol. Gelar juara Piala Eropa 2008 adalah buah dari hasil racikan Aragones.
A year ago today football lost Luis Aragones, the man who led Spain to Euro 2008 glory. http://t.co/P5dqpsvRNq pic.twitter.com/PhJXxdjsMF
— B/R Football (@brfootball) February 1, 2015
Sebuah transisi yang dilakukan sepeninggal Aragones di 2008, membuat Spanyol dipertanyakan kelanjutannya. Namun, Tim Matador beruntung memiliki penerus yang tak kalah berpengalaman. Ia adalah Vicente Del Bosque González. Mantan pemain sekaligus pelatih yang sering berprestasi bersama Real Madrid.
Del Bosque tentu mengemban misi besar memegang generasi emas Spanyol untuk melanjutkan prestasi yang diraih Aragones. Piala Dunia 2010 adalah kompetisi akbar terdekat untuk pembuktian kualitas seorang Del Bosque.
Permasalahan Friksi Yang Terjadi Antar Ego Pemain Barcelona Dan Real Madrid
Tongkat estafet yang dipegang Del Bosque memang tak semudah yang dibayangkan. Sudah ada beban untuk berprestasi lebih, juga ditambah adanya friksi persaingan di dalam tubuh Spanyol antara punggawa Barcelona dan Real Madrid.
Empujón a Pep. Disputa Cristiano vs Valdés. Codazo de Carvalho a Messi. Patada artera de Ramos a Messi. Y Ramos manoteó a Puyol, retó a Piqué y terminó mal con Xavi. En El Clásico del 5-0, además de la roja directa Ramos, 8 de los 11 titulares del Real Madrid fueron amonestados. pic.twitter.com/r79gZYkRlR
— Invictos (@InvictosSomos) November 29, 2017
Berbicara secara eksklusif kepada The Coaches’ Voice, pelatih asal Spanyol itu mengungkapkan bagaimana dia dan staf pelatihnya mengatasi ketegangan itu untuk membentuk tim.
“We thought Xabi Alonso and Sergio Busquets – two players of such stature – could work as the axis of the whole team”
Watch! | Former Spain head coach Vicente del Bosque on bringing @realmadrid and @FCBarcelona rivals together. #halamadrid #barcahttps://t.co/ZD2twwnU6c pic.twitter.com/nxBq7GaR5U
— The Coaches’ Voice (@CoachesVoice) February 8, 2018
Terkadang persaingan antar duel El Clasico yang panas terbawa hingga timnas. Seperti apa yang terjadi antara Sergio Ramos dan Pique, Xavi dengan Casillas, maupun Xabi Alonso dengan Sergio Busquets.
Untuk memastikan pasangan tersebut tidak membiarkan sikap meremehkan satu sama lain, Del Bosque punya cara agar mereka sadar. Bahwa mereka adalah sosok penting yang dapat saling mendorong satu sama lain demi kesatuan tim Spanyol.
Del Bosque menjelaskan kepada fourfourtwo bahwa penting juga untuk segera menyelesaikan setiap masalah pribadi mereka yang mungkin timbul akibat dari persaingan antara Real Madrid dan Barcelona. Sehingga itu tak terjadi berlarut-larut.
Tak dipungkiri, skuad Spanyol waktu itu didominasi dari kedua klub besar tersebut. Di mana skuad yang dibawa saja terdiri dari tujuh pemain Barcelona dan lima pemain Madrid.
Vicente del Bosque en @RadioMarcaTfe: “Veo al @realmadrid cómo claro favorito para ganar la Champions, los veo muy superiores al resto. Me siento identificado con Sergio Busquets y con @XabiAlonso, que han sido muy importantes para nosotros”. pic.twitter.com/RUAPI2m0c8
— Radio MARCA Tenerife (@RadioMarcaTfe) April 27, 2018
Terbentuknya Duo Busquets Xabi Alonso
Apa yang dilakukan Del Bosque untuk menjaga kondusifitas tim melebar ke sisi strategi. Tak terbayangkan jika Spanyol yang dulunya berhasil dengan hanya menggunakan satu gelandang bertahan di zaman Aragones, tiba-tiba diubah total oleh Del Bosque.
Del Bosque tiba-tiba menduetkan dua gelandang Barcelona dan Real Madrid, Xabi Alonso dan Sergio Busquets. Duet kedua pemain dengan tipe yang sama yakni gelandang bertahan, menjadi pertanyaan banyak pihak.
Vicente del Bosque alineará a Sergio Busquets y Xabi Alonso juntos. pic.twitter.com/i6WMYOhEag
— Sport Total (@STSportTotal) November 19, 2013
Duo tersebut dibentuk Bosque sebelum Piala Dunia 2010 digelar. Apa alasan ia menciptakan duo baru tersebut? Ya, selain untuk mereduksi persaingan antara Madrid dan Barcelona, tak dipungkiri mereka berdua masih dalam performa yang mentereng.
Busquets masih menjadi penjaga kedalaman lini tengah Barcelona bersama Xavi dan Iniesta di musim itu dan masih banyak menggondol gelar. Sementara itu, Xabi Alonso di Real Madrid juga perannya masih gacor sebagai penyeimbang lini tengah era Galacticos jilid dua.
Bosque juga berbicara alasan lain yang tersembunyi kepada The Coaches’ Voice ketika ia ditanya kenapa menduetkan Xabi dengan Sergio. Dia menduetkan kedua pemain karena tuntutan. Orang-orang Barcelona ingin Busquets bermain, pun begitu dengan orang-orang di Madrid yang ingin Xabi Alonso turun.
🗣 “We had both Xabi Alonso and Sergio Busquets at the time. People from Madrid wanted Alonso to play; people from Barcelona would want Busquets in the line-up.”
How Vicente del Bosque used the rivalry between Real Madrid and Barcelona to build his Spain team 🇪🇸 pic.twitter.com/3oeJe3MPIA
— The Coaches’ Voice (@CoachesVoice) June 7, 2019
Kritikan Aragones
Sayang, langkah Del Bosque tersebut tak bisa lepas dari kritik. Eks pelatih Spanyol, Aragones bahkan mengkritik keputusan Del Bosque. Ketika kalah di laga kontra Swiss pada partai pembuka Piala Dunia 2010, Aragones mengkritik Spanyol asuhan Del Bosque dengan mengatakan, “Bukan tim terbaik yang menang, melainkan tim yang paling terorganisir.”
Spain, and specifically Sergio Busquets who took part in this shocking 2010 World Cup defeat, should know better than to underestimate Switzerland 👇pic.twitter.com/DRvu3IpkEx
— 101 Great Goals (@101greatgoals) July 2, 2021
Aragones juga menilai duo Xabi Alonso dan Sergio Busquets juga tak seharusnya dipasang berbarengan ketika Spanyol masih butuh gol untuk menang dan lolos. Memasang dua gelandang dengan tipe bertahan hanya akan menumpuk di area tengah. Sirkulasi bola ke depan jadi lebih terhambat.
Tipe dan Fungsi Berbeda yang Dijalankan Busquets dan Alonso
Kritik Aragones tersebut secara tak langsung ditepis oleh niat Del Bosque yang kekeh memakai keduanya. Kebangkitan permainan Spanyol di laga kedua Piala Dunia 2010 melawan Honduras menjadi bukti.
Del Bosque tentu tak sembarangan menempatkan dua matahari kembar poros lini tengahnya ini. Ia menginstruksikan khusus peran berbeda untuk mereka. Xabi Alonso yang handal dalam umpan lambung akurat, tendangan dari luar kotak penalti, maupun through pass mematikan, lebih difungsikan posisinya agak maju ke depan menjaga jarak dengan posisi yang ditempati Xavi.
Sedangkan Sergio Busquets yang jago dalam passing, penguasaan bola, dan delay permainan, juga lebih difungsikan sebagai gelandang yang hanya stay melindungi kedalaman lini tengah di depan empat bek. Keduanya juga efektif bekerja sama dalam pressing secara bersamaan dalam menghalau kekuatan lini tengah lawan.
Abrazo entre Xabi Alonso y Sergio Busquets. pic.twitter.com/tCQQ51uNkz
— Nairy FCB. (@nairyferfer) March 26, 2013
Juara Dunia 2010 Dan Juara Eropa 2012 Menjadi Bukti
Beberapa kritik yang dilancarkan terhadap pembentukan duo tersebut pun seketika dibungkam oleh sejarah. Sejarah tercipta ketika duo tersebut mampu menjadi bagian Spanyol meraih kejayaan bersama Del Bosque.
Debut turnamen mereka di Afrika Selatan 2010 terbukti konsisten hingga akhirnya gelar juara dunia berada dalam genggaman La Furia Roja. Tak sampai di situ, duo tersebut kembali dipakai Del Bosque di Piala Eropa 2012. Dan hasilnya kembali terbukti. Duo tersebut kembali memberi sumbangsih besar terhadap gelar “back to back” Piala Eropa yang diraih Spanyol.
Spain won Euro 2008 14 years ago today.
They followed it up by winning the 2010 World Cup and Euro 2012 🏆🏆🏆 pic.twitter.com/uDhkKcuHLF
— B/R Football (@brfootball) June 29, 2022
Del Bosque memang mempunyai kegilaan tersendiri dalam hal ide menciptakan skema baru. Hal yang beresiko tersebut berani ia kerjakan apa pun hasilnya. Namun, tak selamanya buah kerja Del Bosque tersebut langgeng.
Semakin bertambahnya usia, penurunan performa maupun lawan yang sudah mengetahui resep untuk menghentikannya, membuat duo ini seketika hancur lebur di Piala Dunia 2014. Mereka tak mampu kembali bertaji dan akhirnya gugur di fase grup bersama sang empunya Del Bosque.
Sumber Referensi : fourfourtwo, eurosport, coachesvoice, bleacherreport


