Di setiap kompetisi Piala Dunia maupun kompetisi apa pun, tentu partai final-lah yang paling dinanti oleh para penonton. Namun di sisi lain, di Piala Dunia ada hal yang juga menarik selain laga final. Ya, laga itu adalah laga yang sering dianggap banyak orang tak berfaedah, yakni laga perebutan tempat ketiga.
Secara sejarah, Piala Dunia ini memang menyelenggarakan laga bagi tim yang gagal tersingkir di semifinal untuk membuktikan kembali kemampuannya. Namun dalam perjalanannya, banyak juga kritik terhadap adanya laga tersebut. Lantas apa sih pentingnya diadakannya laga perebutan tempat ketiga ini?
Diselenggarakan Sejak Edisi Kedua Piala Dunia 1934
Perdebatan tentang seberapa penting laga perebutan tempat ketiga di Piala Dunia telah dimulai sejak laga itu diadakan FIFA pada edisi kedua Piala Dunia tahun 1934 di Italia. Ketika itu Jerman menang atas Austria 3-2 di Naples.
World Cup 1934
3rd place Final | Germany-Austria | 3-2@DFB_Team and @oefb1904 have identical kits so the “away team” has to borrow the @sscnapoli shirt, home team of the Stadio Giorgio Ascarelli in Napoli, where the match is played. pic.twitter.com/vo6mdsZQNl— Francesco Caracciolo (@cesco11ab) November 18, 2020
Sejak saat itu dalam perjalanannya, laga tersebut banyak menuai pro dan kontra. Dalam catatan sejarah sendiri, pemenang laga di perebutan tempat ketiga pun sebenarnya urung diingat oleh orang. Tentu partai final dan sang juara yang sering diingat orang.
Namun, FIFA yang kekeh menyelenggarakan laga itu pun tentu bukan tanpa alasan. Banyak faktor yang menjadi alasan diadakannya laga tersebut. Suka tidak suka, seluruh negara harus mematuhinya. Dan kemungkinan hingga 2026 mendatang pun, FIFA tetap akan mempertahankan laga ini.
Berbagai Alasan Kenapa Ada Perebutan Tempat Ketiga
Tentu alasan yang paling utama dari FIFA adalah uang atau pemasukan. Namun sebelum jauh membahas tentang uang, alangkah baiknya faktor lain dibahas terlebih dahulu. Laga perebutan tempat ketiga diadakan sembari menanti partai final biar para penonton yang sudah merasakan atmosfer maupun euforia di Piala Dunia tidak bosan. Apakah itu masuk akal?
Selain itu, laga perebutan tempat ketiga diyakini dapat dipakai sebagai ajang pembuktian para pemain yang jarang mendapat menit bermain lebih. Seperti contohnya di Piala Dunia 2018, ketika Inggris melawan Belgia. Di mana timnas Inggris banyak menurunkan para pemain lapisnya untuk bertarung.
Football: Belgium claim third place in 2018 World Cup with 2-0 win over England pic.twitter.com/JYktRaIMhq
— TRT World Now (@TRTWorldNow) July 14, 2018
Selain itu, laga tersebut bisa juga dijadikan sebagai ajang perpisahan para senior yang akan pensiun dari timnas. Sebagai contoh apa yang dilakukan oleh Oliver Kahn di laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2006 ketika melawan Portugal. Ataupun juga di Piala Dunia 2022, di mana Modric bisa saja memanfaatkan laga itu untuk perpisahan dari timnas Kroasia.
Throwback 🏆 2006 World Cup, with the titan @OliverKahn 💪🏻 A beast full of passion! One of the best ever! 🙌🏻⚽️ #worldcup #passion pic.twitter.com/ULvOtwOUEL
— Lukas-Podolski.com (@Podolski10) April 19, 2020
Pembuktian sebagai tim kejutan terbaik yang berpredikat sebagai peringkat ketiga juga bisa dijadikan alasan. Seperti apa yang dilakukan ketika Bulgaria melawan Swedia di Piala Dunia 1994, Kroasia di Piala Dunia 1998, maupun Turki di Piala Dunia 2002. Setidaknya dari pembuktian tersebut, mereka bisa pulang dengan kepala tegak ke negaranya, dibanding jika hanya jadi pecundang di semifinal.
Quote this tweet with your favourite underdog team performance.
Turkey – 2002 FIFA World Cup – Third place 🇹🇷 pic.twitter.com/9q6kLfH55f
— BocaGalactico™️ (@BocaGalactico) November 20, 2020
Ada juga hal yang lebih penting dari laga ini bagi pribadi seorang pemain. Apalagi pemain tersebut masih butuh pengakuan seperti penyandang gelar top skor. Seperti apa yang terjadi pada Schillaci, striker Italia di Piala Dunia 1990. Ketika itu Italia menang melawan Inggris di perebutan tempat ketiga. Gol penalti Schillaci di menit akhir menjadikannya meraih sepatu emas.
Happy birthday to Salvatore Schillaci, who turns 50 today
Schillaci scored six goals for Italy at the 1990 World Cup pic.twitter.com/MuULeeaG6u
— ESPN FC (@ESPNFC) December 1, 2014
Selanjutnya juga dimanfaatkan Davor Suker, striker Kroasia di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1998. Suker ketika itu berhasil menceploskan gol tambahan ketika melawan Belanda. Gol tersebut akhirnya dapat menasbihkan dirinya sebagai top skor, sekaligus mengantarkan Kroasia juara tiga.
At the 1998 #WorldCup, Croatia secured third place – becoming the second team to do so in their debut since 1934 🇭🇷
In our collection we have a strip of Davor Suker who, with six goals, was the tournament’s top goal scorer and a driving force in #CRO‘s incredible achievement. pic.twitter.com/qGb4LYUuXq
— FIFA Museum (@FIFAMuseum) June 30, 2018
Ada juga Klose di 2006 maupun Kane di 2018, yang berambisi menambah gol untuk memantapkan diri sebagai top skor. Yang menarik terjadi di Piala Dunia 2010. Ketika Forlan dan Muller sama-sama memanfaatkan laga tersebut untuk menjadi top skor. Dan terbukti, mereka sama-sama menambah gol dari laga itu. Namun dengan jumlah gol yang sama, akhirnya mereka berdua sama-sama meraih penghargaan.
Les récompenses individuelles lors de la Coupe du Monde 2010 :
🏆 Meilleur jeune joueur et meilleur
⚽buteur: 🇩🇪Thomas Muller
🏆 Meilleur joueur :🇺🇾 Diego Forlan
🏆 Meilleur gardien de but : 🇪🇦Iker Casillas pic.twitter.com/3JrCkmwVND
— FOOTBALL-TIME⭐ (@Footballtime___) March 3, 2022
Berbagai Kritik Tentang Penyelenggaraan Laga Ini Dalam Perjalanannya
Dari berbagai alasan yang menarik yang timbul dari diselenggarakannya perebutan tempat ketiga, banyak juga yang nyinyir. Tak terkecuali Van Gaal ketika menjadi arsitek De Oranje pada 2014, legenda Jerman Franz Beckenbauer, maupun legenda Inggris Alan Shearer.
Menurut Van Gaal laga perebutan tempat ketiga “tidak adil” bagi kedua tim yang berlaga, karena mereka dituntut bertanding dengan waktu recovery yang mepet. “Yang terburuk dari laga itu, saya yakin adalah kemungkinan tim anda akan kalah dua kali berturut-turut. Dan tim anda kemudian pulang sebagai pecundang dengan kalah di dua pertandingan terakhir,” kata Van Gaal.
Sementara itu, Franz Beckenbauer mengatakan, laga tersebut patut untuk dipertanyakan. Dan seharusnya, laga tersebut bahkan tak perlu digelar. “Ini merupakan tugas tanpa pamrih bagi kedua tim yang tampil. Dan harus segera dipikirkan FIFA, apakah benar-benar masuk akal ada laga untuk memperebutkan tempat ketiga?” Kata Beckenbauer.
Di Piala Dunia 2018 kritikan juga muncul dari Alan Shearer. Ia mengomentari laga Inggris vs Belgia di perebutan tempat ketiga. “Permainan play off perebutan tempat ketiga dan keempat adalah sebuah kebodohan,” kata Alan Shearer melalui akun Twitter pribadinya.
Third and fourth place play off game is utter stupidity. Last thing any player wants. #gethome
— Alan Shearer (@alanshearer) July 12, 2018
Sebagai perbandingan, di kompetisi Piala Eropa saja, laga perebutan tempat ketiga sudah mulai dihilangkan sejak edisi tahun 1980. EURO atau Piala Eropa memang dulu pernah menggelar laga ini antara tahun 1960 sampai 1980. Namun, UEFA memilih meniadakannya karena secara konsisten mengalami penurunan jumlah penonton televisi dan tingkat kehadiran penonton di stadion.
Kesempatan FIFA Memperoleh Pemasukan
Tentu FIFA tak akan mencontoh UEFA. Mereka pasti tetap teguh menjalankan apa yang mereka yakini. Sebab di balik semua alasan diselenggarakannya laga perebutan tempat ketiga, muara utamanya adalah soal uang atau pemasukan bagi FIFA itu sendiri.
Menurut laporan Diario AS, suntikan keuangan yang diterima FIFA dari hak siar serta sponsor sangatlah besar. Selain itu, federasi dari masing-masing negara yang bersaing juga diberikan iming-iming tambahan dana segar.
Seperti diketahui, dalam sistem perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2022, sebagai juara ketiga, tim itu berhak atas 27 juta dolar (Rp420 miliar). Sementara yang kalah akan mendapat 25 juta dolar (Rp389 miliar). Benar, hanya selisih dua juta dolar yang tak berarti apa-apa bagi tim yang bersaing “mati-matian” di laga tersebut.
If you’re curious about what’s at stake, financially, at this point in the World Cup, here’s the team payouts:
⚽️ Fourth Place — $25 million
🥉 Third Place — $27 million
🥈 Second Place — $30 million
🥇 First Place — $42 million pic.twitter.com/pk9ip731zC— Eben Novy-Williams (@novy_williams) December 14, 2022
Uang dan pemasukan yang didapat FIFA tersebut juga berasal dari harga jual tiket di stadion. Sebagai contoh di laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 antara Belgia vs Inggris. Di mana sekitar 68.000 orang rela memesan tiket untuk memenuhi Saint Petersburg demi menyaksikan laga antara dua tim yang tersisih dari semifinal tersebut.
Saint Petersburg Stadium in St. Petersburg will host 68,000 spectators for the World Cup third place Match between Belgium and England pic.twitter.com/tyKuDxIe00
— Kuwait News Agency – English Feed (@kuna_en) July 14, 2018
Harga tiketnya pun cenderung lebih mahal dibandingkan penjualan tahap pertama. Harga tiket yang paling murah awalnya dijual oleh FIFA seharga 175 dolar (Rp2,7 juta). Namun di penjualan tahap kedua, mereka mampu menjualnya dengan lebih dari dari 1.000 dolar (Rp15,5 juta) dan itu laku. Artinya, banyak juga antusiasme penonton yang ingin melihat laga tersebut.
https://youtu.be/r4sc5j_9veg
Sumber Referensi : sportingnews, mirror, fourfourtwo, en.as, sportskeeda, thesefootballtimes
