Beranda blog Halaman 435

Buat Apa Sih Ada Laga Perebutan Juara Ketiga Di Piala Dunia?

Di setiap kompetisi Piala Dunia maupun kompetisi apa pun, tentu partai final-lah yang paling dinanti oleh para penonton. Namun di sisi lain, di Piala Dunia ada hal yang juga menarik selain laga final. Ya, laga itu adalah laga yang sering dianggap banyak orang tak berfaedah, yakni laga perebutan tempat ketiga.

Secara sejarah, Piala Dunia ini memang menyelenggarakan laga bagi tim yang gagal tersingkir di semifinal untuk membuktikan kembali kemampuannya. Namun dalam perjalanannya, banyak juga kritik terhadap adanya laga tersebut. Lantas apa sih pentingnya diadakannya laga perebutan tempat ketiga ini?

Diselenggarakan Sejak Edisi Kedua Piala Dunia 1934

Perdebatan tentang seberapa penting laga perebutan tempat ketiga di Piala Dunia telah dimulai sejak laga itu diadakan FIFA pada edisi kedua Piala Dunia tahun 1934 di Italia. Ketika itu Jerman menang atas Austria 3-2 di Naples.

Sejak saat itu dalam perjalanannya, laga tersebut banyak menuai pro dan kontra. Dalam catatan sejarah sendiri, pemenang laga di perebutan tempat ketiga pun sebenarnya urung diingat oleh orang. Tentu partai final dan sang juara yang sering diingat orang.

Namun, FIFA yang kekeh menyelenggarakan laga itu pun tentu bukan tanpa alasan. Banyak faktor yang menjadi alasan diadakannya laga tersebut. Suka tidak suka, seluruh negara harus mematuhinya. Dan kemungkinan hingga 2026 mendatang pun, FIFA tetap akan mempertahankan laga ini.

Berbagai Alasan Kenapa Ada Perebutan Tempat Ketiga

Tentu alasan yang paling utama dari FIFA adalah uang atau pemasukan. Namun sebelum jauh membahas tentang uang, alangkah baiknya faktor lain dibahas terlebih dahulu. Laga perebutan tempat ketiga diadakan sembari menanti partai final biar para penonton yang sudah merasakan atmosfer maupun euforia di Piala Dunia tidak bosan. Apakah itu masuk akal?

Selain itu, laga perebutan tempat ketiga diyakini dapat dipakai sebagai ajang pembuktian para pemain yang jarang mendapat menit bermain lebih. Seperti contohnya di Piala Dunia 2018, ketika Inggris melawan Belgia. Di mana timnas Inggris banyak menurunkan para pemain lapisnya untuk bertarung.

Selain itu, laga tersebut bisa juga dijadikan sebagai ajang perpisahan para senior yang akan pensiun dari timnas. Sebagai contoh apa yang dilakukan oleh Oliver Kahn di laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2006 ketika melawan Portugal. Ataupun juga di Piala Dunia 2022, di mana Modric bisa saja memanfaatkan laga itu untuk perpisahan dari timnas Kroasia.

Pembuktian sebagai tim kejutan terbaik yang berpredikat sebagai peringkat ketiga juga bisa dijadikan alasan. Seperti apa yang dilakukan ketika Bulgaria melawan Swedia di Piala Dunia 1994, Kroasia di Piala Dunia 1998, maupun Turki di Piala Dunia 2002. Setidaknya dari pembuktian tersebut, mereka bisa pulang dengan kepala tegak ke negaranya, dibanding jika hanya jadi pecundang di semifinal.

Ada juga hal yang lebih penting dari laga ini bagi pribadi seorang pemain. Apalagi pemain tersebut masih butuh pengakuan seperti penyandang gelar top skor. Seperti apa yang terjadi pada Schillaci, striker Italia di Piala Dunia 1990. Ketika itu Italia menang melawan Inggris di perebutan tempat ketiga. Gol penalti Schillaci di menit akhir menjadikannya meraih sepatu emas.

Selanjutnya juga dimanfaatkan Davor Suker, striker Kroasia di perebutan tempat ketiga Piala Dunia 1998. Suker ketika itu berhasil menceploskan gol tambahan ketika melawan Belanda. Gol tersebut akhirnya dapat menasbihkan dirinya sebagai top skor, sekaligus mengantarkan Kroasia juara tiga.

Ada juga Klose di 2006 maupun Kane di 2018, yang berambisi menambah gol untuk memantapkan diri sebagai top skor. Yang menarik terjadi di Piala Dunia 2010. Ketika Forlan dan Muller sama-sama memanfaatkan laga tersebut untuk menjadi top skor. Dan terbukti, mereka sama-sama menambah gol dari laga itu. Namun dengan jumlah gol yang sama, akhirnya mereka berdua sama-sama meraih penghargaan.

Berbagai Kritik Tentang Penyelenggaraan Laga Ini Dalam Perjalanannya

Dari berbagai alasan yang menarik yang timbul dari diselenggarakannya perebutan tempat ketiga, banyak juga yang nyinyir. Tak terkecuali Van Gaal ketika menjadi arsitek De Oranje pada 2014, legenda Jerman Franz Beckenbauer, maupun legenda Inggris Alan Shearer.

Menurut Van Gaal laga perebutan tempat ketiga “tidak adil” bagi kedua tim yang berlaga, karena mereka dituntut bertanding dengan waktu recovery yang mepet. “Yang terburuk dari laga itu, saya yakin adalah kemungkinan tim anda akan kalah dua kali berturut-turut. Dan tim anda kemudian pulang sebagai pecundang dengan kalah di dua pertandingan terakhir,” kata Van Gaal.

Sementara itu, Franz Beckenbauer mengatakan, laga tersebut patut untuk dipertanyakan. Dan seharusnya, laga tersebut bahkan tak perlu digelar. “Ini merupakan tugas tanpa pamrih bagi kedua tim yang tampil. Dan harus segera dipikirkan FIFA, apakah benar-benar masuk akal ada laga untuk memperebutkan tempat ketiga?” Kata Beckenbauer.

Di Piala Dunia 2018 kritikan juga muncul dari Alan Shearer. Ia mengomentari laga Inggris vs Belgia di perebutan tempat ketiga. “Permainan play off perebutan tempat ketiga dan keempat adalah sebuah kebodohan,” kata Alan Shearer melalui akun Twitter pribadinya.

Sebagai perbandingan, di kompetisi Piala Eropa saja, laga perebutan tempat ketiga sudah mulai dihilangkan sejak edisi tahun 1980. EURO atau Piala Eropa memang dulu pernah menggelar laga ini antara tahun 1960 sampai 1980. Namun, UEFA memilih meniadakannya karena secara konsisten mengalami penurunan jumlah penonton televisi dan tingkat kehadiran penonton di stadion.

Kesempatan FIFA Memperoleh Pemasukan

Tentu FIFA tak akan mencontoh UEFA. Mereka pasti tetap teguh menjalankan apa yang mereka yakini. Sebab di balik semua alasan diselenggarakannya laga perebutan tempat ketiga, muara utamanya adalah soal uang atau pemasukan bagi FIFA itu sendiri.

Menurut laporan Diario AS, suntikan keuangan yang diterima FIFA dari hak siar serta sponsor sangatlah besar. Selain itu, federasi dari masing-masing negara yang bersaing juga diberikan iming-iming tambahan dana segar.

Seperti diketahui, dalam sistem perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2022, sebagai juara ketiga, tim itu berhak atas 27 juta dolar (Rp420 miliar). Sementara yang kalah akan mendapat 25 juta dolar (Rp389 miliar). Benar, hanya selisih dua juta dolar yang tak berarti apa-apa bagi tim yang bersaing “mati-matian” di laga tersebut.

Uang dan pemasukan yang didapat FIFA tersebut juga berasal dari harga jual tiket di stadion. Sebagai contoh di laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2018 antara Belgia vs Inggris. Di mana sekitar 68.000 orang rela memesan tiket untuk memenuhi Saint Petersburg demi menyaksikan laga antara dua tim yang tersisih dari semifinal tersebut.

Harga tiketnya pun cenderung lebih mahal dibandingkan penjualan tahap pertama. Harga tiket yang paling murah awalnya dijual oleh FIFA seharga 175 dolar (Rp2,7 juta). Namun di penjualan tahap kedua, mereka mampu menjualnya dengan lebih dari dari 1.000 dolar (Rp15,5 juta) dan itu laku. Artinya, banyak juga antusiasme penonton yang ingin melihat laga tersebut.

https://youtu.be/r4sc5j_9veg

Sumber Referensi : sportingnews, mirror, fourfourtwo, en.as, sportskeeda, thesefootballtimes

Battle of Lusail: Duel Panas Argentina vs Belanda di Piala Dunia 2022

0

Jika ada pertandingan Piala Dunia 2022 yang dapat dikategorikan sebagai “box office”, maka predikat tersebut sangat layak disematkan kepada laga Belanda vs Argentina. Bertemu di babak perempat final Piala Dunia Qatar 2022, Oranje dan La Albiceleste menyajikan sebuah pertandingan yang sarat akan drama dan aksi teatrikal.

Pada laga yang digelar di Lusail Iconic Stadium, 9 Desember 2022 tersebut, Argentina asuhan Lionel Scaloni berhasil unggul terlebih dahulu di menit ke-35. Adalah Nahuel Molina yang berhasil mencetak gol setelah memanfaatkan asis Lionel Messi. La Pulga sendiri kemudian menggandakan keunggulan Argentina di menit ke-73 lewat eksekusi tendangan penalti.

Demi mengejar skor, pelatih Belanda, Louis van Gaal memasukkan Wout Weghorst di menit ke-78. Sosok inilah yang kemudian jadi mimpi buruk Argentina.

Weghorst mencetak dua gol dramatis, masing-masing di menit ke-83 dan menit ke-11 injury time yang membuat keunggulan Argentina sirna dan memaksa laga berlanjut ke extra time.

Takada gol tercipta dalam 2 kali 15 menit. Pemenang dan pecundang laga panas Belanda dan Argentina kemudian harus diselesaikan lewat adu penalti. Drama kembali terjadi di babak ini.

Eksekusi penalti Virgil van Dijk dan Steven Berghuis sukses ditepis Emiliano Martinez. Sementara, di kubu Argentina hanya Enzo Fernandez yang gagal melaksanakan tugasnya. Argentina pun menang usai eksekusi penalti Lautaro Martinez memastikan skor akhir menjadi 4-3.

Hujan Kartu di Battle of Lusail

Hasil akhir yang sarat akan drama membuat duel Belanda vs Argentina menjadi salah satu pertandingan terhebat di Piala Dunia Qatar 2022. Tak hanya drama, yang menjadikan laga ini serasa seperti film box office adalah karena banyaknya aksi teatrikal yang tersaji hingga akhir pertandingan.

Salah satu yang paling ikonik adalah ketika Leandro Paredes melepas tendangan ke arah bench Belanda sesaat setelah melanggar keras Nathan Ake. Aksinya tersebut langsung mendapat balasan Virgil van Dijk dan membuat Paredes diserang para pemain cadangan Belanda.

Aksi teatrikal tersebut adalah buntut dari tensi panas yang menyelimuti kedua tim. Tensi panas tersebut terdisplay dalam jumlah pelanggaran yang tercipta. Belanda melakukan 30 pelanggaran, sementara Argentina melakukan 18 pelanggaran. Alhasil, hujan kartu pun tercipta di laga tersebut.

Belanda menerima 8 kartu kuning. Argentina juga menerima 8 kartu kuning. Sementara dua kartu kuning lainnya diberikan kepada Lionel Scaloni dan asistennya, Walter Samuel.

Total, wasit asal Spanyol, Antonio Miguel Mateu Lahoz, yang memimpin laga tersebut mengeluarkan 18 kartu kuning. Catatan tersebut menjadi rekor baru di Piala Dunia.

Kerasnya laga, drama yang terjadi, dan aksi teatrikal yang tersaji, membuat duel Belanda vs Argentina di perempat final Piala Dunia 2022 tersebut dijuluki sebagai “Battle of Lusail”.

Penyebab Tensi Panas di Laga Belanda vs Argentina

Julukan tersebut memang tepat. Pasalnya, laga Belanda vs Argentina di Lusail Iconic Stadium memang berlangsung dengan tensi panas yang menimbulkan banyak ketegangan, keributan, dan adu mulut yang tak hanya melibatkan pemain, tetapi juga ofisial tim.

Selain aksi Paredes yang menimbulkan reaksi keras dari bench Belanda, pemain dan ofisial kedua tim juga sempat bersitegang begitu wasit Mateu Lahoz meniup peluit panjang di akhir waktu normal.

Aksi ikonik lainnya yang terjadi di laga tersebut adalah selebrasi Lionel Messi usai mencetak gol kedua Argentina. Messi menghadap bench Belanda sambil menempelkan kedua tangannya ke telinga. Selebrasi tersebut dikenal dengan sebutan“Topo Gigio”, selebrasi ikonik dari Juan Roman Riquelme yang kariernya dulu dirusak Van Gaal di Barcelona.

Di laga tersebut, Messi memang punya masalah dengan Louis van Gaal. Sebelum masuk lorong pemain selepas pertandingan selesai, Messi terlihat memberi isyarat dan mendekati Van Gaal yang disebut terlalu banyak omong. Asisten Van Gaal, Edgar Davids terlihat sampai menenangkan Messi.

Sebelumnya, keributan juga pecah usai Argentina melakukan selebrasi kemenangan. Dalam foto yang beredar, beberapa pemain Argentina mengejek pemain Belanda usai tendangan Lautaro Martinez memastikan Argentina melaju ke semifinal. Seusai pertandingan, Nicolas Otamendi memberi klarifikasi soal selebras tersebut.

“Saya merayakan di depan mereka karena ada pemain Belanda, yang di setiap tendangan penalti kami, datang dan mengatakan sesuatu kepada salah satu pemain kami,” kata Otamendi dikutip dari DailyMail.

Dari beberapa cuplikan video dan foto yang beredar, pemain yang dimaksud Otamendi adalah Denzel Dumfries, Wout Weghorst, Noa Lang dan Frenkie De Jong. Itulah mengapa wasit memberi Belanda 3 kartu kuning di babak adu penalti, dua untuk Dumfries dan satu untuk Noa Lang.

Tak sampai disitu, keributan juga terus berlangsung hingga memasuki lorong pemain. Ada satu momen di mana Lionel Messi yang tengah diwawancarai media asal Argentina mengusir Wout Weghorst dengan kata-kata kasar. “Apa yang kamu lihat-lihat? Pergi sana, bodoh?” begitu kata Messi.

Dilansir dari The Mirror, jurnalis Tyc Sports, Esteban Edul yang tengah mewawancarai Messi saat itu menjelaskan situasi yang sebenarnya.

“Setelah pertandingan, mereka semua bertengkar di ruang ganti, bukan hanya Messi. Van Dijk juga berselisih dengan Otamendi. Sebagian besar kemarahan Messi adalah tentang adu penalti, ketika Belanda mengganggu Argentina. Nomor 19 itu menunggu di terowongan. Dia mendekati Messi dan meminta jerseynya. Dari situlah Leo mulai panas. Pemain Belanda itu tidak mengerti, dia berhenti dan Messi menghinanya,” kata Esteban Edul dikutip dari Mirror.

Saat kejadian tersebut, Esteban Edul juga mengaku sempat menenangkan Messi. Ia juga bercerita kalau dirinya tak bisa bertanya kepada Messi, sebab kesempatan tersebut justru dipakai La Pulga untuk mengkritisi Louis van Gaal serta FIFA.

“Van Gaal mengatakan bahwa mereka memainkan sepak bola yang bagus, tetapi yang dia lakukan adalah menempatkan orang-orang tinggi dan mengirim long ball,” ujar Messi kepada Edul, dikutip dari SportBible.

Komentar Messi tersebut memang benar adanya. Dilansir dari The Analyst, sebelum gol Weghorst di menit ke-83, Belanda memang tidak memiliki tembakan tepat sasaran. Selain itu, fakta juga membuktikan kalau pihak Belanda yang bermain lebih kasar. Sejarah juga membuktikan hal tersebut.

Sebelum “Battle of Lusail”, pertandingan dengan jumlah kartu kuning terbanyak di Piala Dunia terjadi di laga Nigeria vs Italia di Piala Dunia 1994 (9 kartu kuning), Senegal vs Uruguay di Piala Dunia 2002 (12 kartu kuning), Kamerun vs Jerman di Piala Dunia 2002 (16 kartu kuning), “Battle of Nuremberg” antara Portugal vs Belanda di Piala Dunia 2006 (16 kartu kuning), dan Belanda vs Spanyol di final Piala Dunia 2010 (14 kartu kuning).

Dari 5 laga “terkotor” tersebut, Belanda terlibat 2 kali. Ditambah “Battle of Lusail”, berarti Belanda sudah terlibat dalam 3 laga terkotor dalam sejarah Piala Dunia. Artinya, negara yang oleh pendukung fanatiknya disebut memainkan sepak bola indah tersebut nyatanya kerap bermain licik dan kasar.

Wout Weghorst adalah salah satu yang terlicik di “Battle of Lusail”. Ia kerap melanggar Messi, ribut dengan pemain lain, bahkan menerima kartu kuning saat masih duduk di bench. Itulah kenapa Messi marah kepadanya.

Akan tetapi, terlepas dari kepemimpinan wasit Mateu Lahoz yang dikritik kedua pihak karena dianggap ringan tangan dalam memberi kartu, pemicu awal dari tensi panas yang terjadi di laga Belanda vs Argentina adalah Louis van Gaal. Ia juga jadi public enemy di “Battle of Lusail”.

Di Maria pernah berkonflik dengan Van Gaal saat masih di MU. Sementara Messi merasa kalau komentar-komentar Van Gaal sebelum laga telah merendahkan Argentina.

“Messi memang pemain paling berbahaya yang menciptakan peluang paling banyak. Tapi di sisi lain dia tidak banyak bermain dengan lawan saat dia menguasai bola. Di situlah peluang kita berada.” Begitulah bunyi pernyataan Van Gaal sebelum pertandingan. Tampaknya, Messi memanfaatkan komentar tersebut sebagai bahan bakar untuk membungkam Van Gaal dan Belanda.

Yang kesal dengan Van Gaal tak hanya Messi. Emiliano Martinez yang jadi pahlawan Argentina di adu penalti juga kesal dengan pelatih Belanda tersebut.

“Saya mendengar Van Gaal mengatakan ‘kami mendapat keuntungan dalam adu penalti. Jika kami melakukan adu penalti, kami menang’. Saya pikir dia harus tutup mulut,” ujar Emi Martinez dikutip dari Sportskeeda.

Atas apa yang terjadi di “Battle of Lusail”, FIFA melakukan investigasi. AFA disinyalir melanggar pasal 12 Kode Disiplin FIFA tentang Pelanggaran Pemain dan Ofisial serta pasal 16 tentang Ketertiban dan Keamanan di Pertandingan. Sementara KNVB hanya diduga melanggar pasal 12 Kode Disiplin FIFA.

Kini, “Battle of Lusail” akan terus terekam sebagai salah satu pertandingan paling kotor dalam sejarah Piala Dunia. “Battle of Lusail” juga memberi kita satu pelajaran berhaga, yakni jangan menyulut api yang bakal membuat Argentina marah. Dari kekalahan menyakitkan yang diterima Belanda, kita juga bisa belajar untuk tidak sesumbar sebelum bertanding dan menaruh respect kepada lawan.
***
Referensi: ESPN, Mirror, DailyMail, Givemesport, Sportskeeda, Opta, SportBible.

Berita Bola Terbaru 14 Desember 2022 – Starting Eleven News

TEN HAG NILAI MARCUS RASHFORD SELEVEL MBAPPE

Erik ten Hag seolah mencegah kepergian Marcus Rashford dengan melempar pujian untuk pemain muda itu. Penampilan gemilang Rashford di Piala Dunia 2022 mendapat pujian dari  Erik ten Hag dengan menyebutnya sejajar dengan bintang Prancis Kylian Mbappe. Ten Hag juga seakan meminta Rashford untuk menyebutkan bahwa MU adalah klub terbaik di tengah isu dirinya tengah direkrut oleh PSG.

JOSKO GVARDIOL DILIRIK KLUB LIGA INGGRIS

Performa apik Josko Gvardiol membuat 3 klub besar Liga Inggris meliriknya. Gvardiol saat ini masih menjadi pemain RB Leipzig. Tapi, dia kini punya kesempatan hijrah ke Liga Inggris karena dibidik Manchester City, Manchester United, dan Chelsea. Tawaran terbesar datang dari City. Konon, klub asuhan Guardiola itu mengajukan 85 juta Pounds atau sekitar Rp 1,6 triliun, termasuk bonus dan persentase penjualan. Sementara itu, Chelsea dan MU diyakini hanya menyodorkan di kisaran 77 juta-82 juta pounds (Rp1,4 triliun – Rp1,5 triliun) untuk jasanya.

SPURS SEGERA LAYANGKAN TAWARAN KONTRAK ANYAR BUAT CONTE

Kontrak Conte bersama Tottenham Hotspur akan habis pada akhir musim ini, tepatnya pada 30 Juni 2023. Kendati begitu, The Lilywhites sepertinya belum mau mengakhiri kerja sama dengan mantan pelatih timnas Italia. Manajemen klub asal London Utara itu dikabarkan sudah mengatur jadwal pertemuan dengan perwakilan Conte pada pekan ini. Agenda terbesar dalam pertemuan tersebut adalah rencana perpanjangan kontrak pelatih berusia 53 tahun tersebut.

VARANE UNGKAP KONTRIBUSI GRIEZMANN DI PIALA DUNIA

Penyerang Atletico Madrid, Antoine Griezmann, menempati peran sebagai gelandang serang dan sukses menjadi penghubung yang efektif di Timnas Prancis. Performa Griezmann dengan Prancis mendapat pujian dari rekan senegaranya, Raphael Varane. Berdasarkan data Squawka, Griezmann menjadi pemain dengan torehan assist terbanyak hingga Piala Dunia 2022 menuntaskan babak perempat final. Selain itu, Griezmann juga menjadi pemain yang mampu menciptakan peluang dan operan terbanyak di bidang lapangan lawan.

MIMPI LUKA MODRIC: PENSIUN DI REAL MADRID

Disela-sela kesibukannya di Piala Dunia, Luka Modric masih sempat-sempatnya membahas masa depannya di Real Madrid. Modric memberikan sinyal bertahan bersama Real Madrid setelah musim 2022/23. Klub ingin mempertahankan Modric karena dianggap masih menjadi pemain vital di skuad Madrid. Kapten Kroasia itu pun dilaporkan akan segera melakukan negosiasi dengan Madrid. Ia bahkan telah menyampaikan niatnya untuk pensiun bersama Madrid.

VILLARREAL INGIN PINJAM BINTANG MUDA BARCELONA

Bintang Barcelona yang sedang naik daun, Pablo Torre mendapat tawaran pindah secara pinjaman pada Januari. Sesuai laporan dari Football Espana, Quique Setien berminat untuk membawa sang pemain ke Castellon, karena ia ingin memulai masa jabatannya di Estadio de la Ceramica, markas Villareal pada tahun 2023. Villarreal akan bergerak cepat mengamankan sang pemain karena Torre juga sudah diminati klub-klub lain di La Liga Spanyol.

TYSON FURY DAN WAYNE ROONEY SEPAKAT LATIHAN TINJU BARENG

Lagi dan lagi. Pesepakbola beralih ke ring tinju. Kali ini ada Wayne Rooney yang akan berlatih tanding tinju dengan Tyson Fury. Postur tubuh Rooney yang saat ini menangani DC United tersebut, dinilai cocok dengan kebutuhan Fury dalam menatap duel menghadapi Oleksandr Usyk. Saat ini, pihak Fury diketahui sedang mengajukan tawaran duel perebutan gelar tinju kelas berat terhadap Usyk, yang menggenggam status juara dunia tinju kelas berat versi IBO, WBA, dan IBF. Kendati begitu, belum ada kepastian soal duel antara Fury dan Oleksandr Usyk.

ENRIQUE ANGGAP SPANYOL TAK GAGAL TOTAL DI PIALA DUNIA

Mantan pelatih timnas Spanyol, Luis Enrique menolak anggapan bahwa La Furia Roja gagal total di Piala Dunia 2022. Menurutnya, masih ada hal positif yang bisa dipetik dari kegagalan timnas Spanyol di turnamen tersebut. “Kami tidak memiliki permainan yang bagus lawan Maroko, tapi saya mendapat gambaran positif dari Piala Dunia dan empat tahun di tim nasional,” kata Enrique. Pria berusia 52 tahun itu juga mengatakan dia akan segera kembali melatih di level klub.

SOUTHGATE TAK MAU GEGABAH TENTUKAN MASA DEPAN

Gareth Southgate punya kontrak hingga 2024 (sampai Piala Eropa 2024) dengan Inggris. Akan tetapi, ia belum memutuskan apakah akan terus melatih Harry Kane dkk setelah tersingkir di perempat final Piala Dunia 2022, kala Inggris kalah 1-2 melawan Prancis. Kendati belum memutuskan soal masa depannya, Southgate masih dapat dukungan untuk terus melanjutkan pekerjaannya.

REAL MADRID INGIN SAINGI MU DAPATKAN KIM MIN JAE

Real Madrid siap menyaingi Manchester United dalam perlombaan untuk mengontrak Kim Min-jae dari Napoli musim panas mendatang. Bek asal Korea Selatan itu mulai menarik perhatian pada musim 2022/23 ini. Ia diangkut oleh Napoli dari Fenerbahce. Pemain berusia 26 tahun itu punya 20 penampilan untuk klub Italia musim ini, membantu tim asuhan Luciano Spalletti memimpin Serie A dan tetap tak terkalahkan di liga, sekitar lima bulan memasuki musim.

ARGENTINA KE FINAL PIALA DUNIA 2022

Timnas Argentina sukses mengalahkan Kroasia dengan skor 3-0 pada laga semifinal Piala Dunia 2022 di Lusail Stadium, Rabu dini hari tadi. Tiga gol kemenangan Tim Tango dicetak oleh Lionel Messi lewat penalti, dan gol solo run Julian Alvarez di babak pertama. Kemudian striker Man City itu kembali bikin gol di babak kedua usai menerima assist Messi. Argentina akan menantang pemenang Prancis vs Maroko di final nanti.

SUKACITA DI BUENOS AIRES ATAS KEMENANGAN ARGENTINA

Argentina melaju ke final Piala Dunia 2022 setelah mengalahkan Kroasia 3-0. Kemenangan ini disambut suka cita warga di Buenos Aires. Seperti dalam foto yang beredar di dunia maya, terlihat suporter tumpah ruah di kawasan Buenos Aires, Argentina. Bahkan, ada suporter yang terlihat menyalakan flare. Tak hanya itu, beberapa suporter juga mengibarkan bendera Argentina.

5 REKOR MESSI USAI ARGENTINA KALAHKAN KROASIA

Lionel Messi panen rekor usai laga Argentina vs Kroasia. Rekor pertama, Messi melewati rekor Gabriel Batistuta sebagai pencetak gol terbanyak Argentina di Piala Dunia dengan 11 gol. Rekor kedua, Messi menyamai catatan Lothar Matthaus sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia dengan 25 laga. Rekor ketiga, Gol Messi selalu menghiasi kemenangan Argentina dalam tiga laga fase gugur, 16 besar, perempat final, dan semifinal. Messi menjadi pemain keenam yang melakukan hal tersebut dalam satu edisi Piala Dunia setelah Salvatore Schillaci (Piala Dunia 1990), Roberto Baggio (1994), Hristo Stoichkov (1994), Davor Suker (1998), dan Wesley Sneijder (2010). Rekor keempat, Messi menjadi pemain pertama yang mencetak gol dan assist dalam empat Piala Dunia yang berbeda. Rekor kelima, Messi terlibat dalam 19 gol, baik sebagai pencetak maupun pengirim assist sejak Piala Dunia 2006.

KASIH SAYANG ARGENTINA UNTUK MODRIC

Luka Modric terluka hatinya usai Kroasia kalah di semifinal. Beberapa pemain Argentina kemudian terlihat memberikan pelukan kepada kapten Kroasia tersebut. Angel di Maria menjadi pemain pertama yang memberikan dukungan. Modric juga mendapatkan respek dari Messi. La Pulga memberikan pelukan kepada pemain 37 tahun itu. Saat berada di lorong stadion menuju ruang ganti, Modric juga disambangi oleh Sergio Aguero selaku eks pesepakbola Argentina.

ZLATKO DALIC KRITIK KEPUTUSAN WASIT

Pelatih Kroasia, Zlatko Dalic merasa timnya sangat dirugikan dengan keputusan wasit yang tidak memberikan sepak pojok sebelum terjadinya penalti Argentina. Dalic merasa gol penalti yang dicetak Messi itu mengubah permainan di lapangan 180 derajat. Dalic yakin bahwa situasi saat itu memang mengharuskan Kroasia mendapatkan sepak pojok. Para pemain Kroasia juga ikut bereaksi tentang keputusan wasit yang tidak memberikan sepak pojok.

POGBA KIRIM PESAN BUAT TIMNAS PRANCIS

Kesedihan masih dirasakan Paul Pogba karena tak bisa tampil membela timnas Prancis dalam Piala Dunia 2022 Qatar. Sebagai bentuk dukungan dan doa, Paul Pogba pun mengirim pesan khusus kepada rekan-rekannya di Timnas Prancis jelang laga semifinal melawan Maroko. “Perancis adalah tim saya, dan para pemainnya adalah teman-teman saya,” ucap Pogba.

ENRIQUE AKUI SANGAT TERKESAN DENGAN PENAMPILAN SOFYAN AMRABAT

Eks pelatih timnas Spanyol, Luis Enrique memuji gelandang Maroko, Sofyan Amrabat yang tampil dengan sangat memukau hingga menyingkirkan timnya di babak 16 besar Piala Dunia 2022. “Pemain yang paling membuat saya terkesan di Piala Dunia ini adalah Amrabat, dia melalui Piala Dunia dengan sangat luar biasa,” kata Enrique, sebagaimana dilansir dari Football-Italia.

IBRAHIMOVIC: SUDAH DITULISKAN, MESSI JUARA PIALA DUNIA 2022

Zlatan Ibrahimovic memprediksi Lionel Messi akan mengangkat trofi Piala Dunia 2022 bersama timnas Argentina. Ibra percaya Messi akan dapat mewujudkan mimpinya meraih gelar juara Piala Dunia 2022 jika melihat performa apiknya sejauh ini. “Saya pikir Messi akan mengangkat trofi (Piala Dunia), itu sudah tertulis,” tutur striker AC Milan itu mengungkapkan prediksinya soal hasil Piala Dunia 2022.

CHELSEA TERPUKUL, ARMANDO BROJA AKAN LEWATKAN SISA MUSIM INI KARENA CEDERA

Chelsea mendapat pukulan pahit setelah Armando Broja diberitahu bahwa dia perlu menjalani operasi pada ligamen anterior yang pecah. Broja ditandu keluar saat The Blues kalah 1-0 di pertandingan persahabatan pertengahan musim melawan Aston Villa pada hari Minggu. Sepatu botnya tersangkut di rumput dan lututnya tersentak. Menurut laporan Skysports, Chelsea pasrah dengan fakta bahwa dia kemungkinan akan melewatkan sisa musim ini

AYAH HAALAND KLAIM PUTRANYA BISA PINDAH KE LUAR INGGRIS

Ayah Erling Haaland, Alfie menegaskan sang striker bisa bertahan di Manchester City selama 15 tahun. Akan tetapi, Alfie juga mengatakan putranya bisa pergi ke Italia, Spanyol, atau Prancis setelah hanya tiga tahun di Liga Premier. “Belum ada yang diputuskan dalam hal ini, tetapi ada kemungkinan karena Erling bisa menang di tim mana pun.”

CARI PENGGANTI SIMEONE, ATLETICO MADRID HUBUNGI CONTE

Klub ibukota Spanyol, Atletico Madrid ternyata telah menyiapkan diri jika suatu saat nanti ditinggalkan oleh Diego Simeone. Atletico Madrid dikabarkan telah menghubungi Antonio Conte yang saat ini melatih Tottenham sebagai salah satu kandidat pengganti Simeone. Conte sendiri sedang dalam proses negosiasi kontrak baru dengan Spurs, yang mungkin membuatnya sedikit berhati-hati menanggapi kabar tersebut. 

RONALDO MAU LANJUT DI TIMNAS PORTUGAL SAMPAI EURO 2024

Portugal tersingkir dari Piala Dunia di perempat final pada hari Sabtu. Banyak yang kemudian bertanya-tanya apakah Ronaldo akan pensiun dari sepakbola internasional. Namun, menurut kabar dari Diario AS, dia ingin terus bermain untuk negaranya hingga setidaknya Euro 2024. Ronaldo ingin kembali ke tim dan menjadi kapten negaranya di turnamen mayor selanjutnya. 

MOURINHO PELATIH PORTUGAL BERIKUTNYA?

Fernando Santos dilaporkan akan dipecat dari jabatannya sebagai pelatih Portugal. Melansir kabar dari Romapress.net Mourinho muncul sebagai favorit untuk menggantikan Santos, dengan Federasi Sepakbola Portugal (FPF) kabarnya telah mendekati sang juru taktik AS Roma dan mengizinkannya melatih tim nasional sembari bekerja di klub. Sementara itu, Maniche, sebagai mantan pemain internasional Portugal, menilai bahwa The Special One akan menjadi pelatih yang sempurna bagi negaranya.

NEYMAR BUTUH BANTUAN PSIKOLOG

Kondisi Neymar pasca Brasil gagal di Piala Dunia 2022 memburuk. Neymar tertekan hingga membutuhkan dukungan psikologis. Hal itu dikatakan legenda Brasil Ronaldo. Ronaldo mengatakan Neymar mengalami tekanan yang tidak proporsional untuk manusia. Sebagai salah satu yang membawa Brasil menang Piala Dunia, Ronaldo pun merasakan hal yang sama seperti Neymar. Ditambah melihat kondisi Neymar seperti itu, Ronaldo makin hancur.

MBAPPE VS HAKIMI: KETIKA DUA SAHABAT BERTARUNG

Duel semifinal Piala Dunia antara Prancis melawan Maroko akan melibatkan dua pemain yang memiliki jalinan persahabatan, yakni Kylian Mbappe dan Achraf Hakimi, di mana keduanya sama-sama berseragam PSG. Keduanya dikenal sangat dekat, bukan hanya karena membela panji yang sama, tapi kebersamaan mereka juga terjalin baik di luar lapangan. Namun, seperti sudah ditakdirkan, mereka akan bertemu di semifinal Piala Dunia. Hanya satu dari keduanya yang bisa menang.

 

Messi Panen Rekor dan Gendong Argentina Balas Dendam! Ibra Bilang Ini Sudah Tertulis Takdir

Argentina, yang sudah menjuarai Piala Dunia sebanyak dua kali. Yaitu di tahun 1978 dan 1986, berhak melaju ke partai final setelah mengalahkan Kroasia dengan skor 3-0. Sementara Kroasia yang pada edisi sebelumnya mengejutkan publik sampai melaju ke final, kali ini harus puas untuk bertanding di perebutan tempat ketiga.

Perjalanan Kroasia di Piala Dunia 2022 ini juga tidak kalah mengejutkannya dengan saat Piala Dunia 2018. Kemenangan atas Kroasia ini sekaligus menuntaskan dendam yang harus dibayar sejak Piala Dunia 2018. Saat itu Messi CS dipermalukan dengan skor 3-0 di babak penyisihan Grup D

Bermain di Stadion Lusail, Kroasia sebenarnya menjalankan strategi yang sama saat mereka mengalahkan Brasil, yaitu menguasai bola sejak menit awal. Tapi pertahanan tim tango yang rapat membuat Modric CS kesulitan masuk ke kotak penalti Argentina.

Anak asuh Lionel Scaloni yang justru mendapatkan kesempatan emas lebih awal. Argentina dihadiahi penalti di menit ke-34. Lionel Messi yang menjadi eksekutor sukses menjalankan tugasnya. Argentina bisa unggul sementara. Mereka kembali beraksi, kali ini Julian Alvarez yang menunjukan kebolehannya dengan membawa bola dari tengah lapangan sebelum mencetak gol di menit ke-39. Membuat Argentina unggul 2-0 di babak pertama.

Masuk ke babak kedua, Argentina tampil lebih percaya diri. Messi yang masih prima memberikan umpan matang ke Alvarez di menit ke-69. Dengan itu Argentina unggul 3-0. Skor tidak berubah sampai peluit panjang dibunyikan.

Messi Ternyata Menderita Hamstring

Hasil itu membuat Messi membawa Argentina ke final Piala Dunia kedua mereka. Setelah yang pertama adalah di tahun 2014, Albiceleste kalah melawan Jerman saat itu. Meskipun di pertandingan ini Argentina bisa menang 3-0, tapi bukan berarti tanpa catatan. Kroasia sebetulnya bisa menguasai jalannya pertandingan untuk setengah jam pertama.

Messi bahkan tidak terlihat di menit-menit awal pertandingan. Ia hanya berjalan menunggu rekan setimnya membuka peluang. Belakangan diketahui, cedera hamstring Messi sempat kumat di pertandingan itu. Sekitar menit ke-20, Messi terlihat berjalan sembari sesekali memegangi bagian paha belakangnya.

Ini sempat menjadi momen yang mengkhawatirkan bagi pendukung Argentina, sebab Messi memang punya sejarah cedera Hamstring. Selain itu, Cedera hamstring biasanya membawa petaka bagi para pemain yang menderitanya.

Tapi tidak lama kemudian, semuanya menjadi aman. Messi bisa melanjutkan pertandingan selama 90 menit penuh. Ia bahkan mencetak gol penalti dan memberikan assist, lalu membawa Argentina ke final. Ini jadi pertandingan terbaiknya selama gelaran Piala Dunia 2022.

Misi Balas Dendam yang Tuntas

Seperti yang disebutkan di awal, kemenangan ini tidak hanya membuat Argentina melaju ke final. Tapi juga sekaligus membayar dendam di tahun 2018 dengan tuntas. Ya, Messi CS berada dalam mimpi buruk setelah kekalahan 3-0 melawan Kroasia di fase grup Piala Dunia 2018.

Lionel Scaloni jadi saksi langsung pembantaian itu. Saat itu dirinya masih menjadi asisten pelatih Jorge Sampaoli. Dan kekalahan itu adalah titik terendah tim nasional yang berujung pada kekacauan perjalanan mereka di turnamen tersebut. Argentina nyaris tidak lolos fase grup. Mereka akhirnya kalah di babak 16 besar melawan Prancis.

Turnamen itu juga merupakan comeback Messi di timnas. Pada tahun 2016 ia sempat memutuskan untuk pensiun setelah gagal di tiga final berturut-turut. Setelah mendapatkan dukungan dari warga Argentina, ia kembali memperkuat Argentina untuk Piala Dunia 2018.

Tapi comeback Messi itu bukan cerita yang membanggakan. Bisa dibilang itu adalah comeback gagalnya. Perjalanan Argentina di Piala Dunia 2018 sangat mengecewakan. Itu seperti momen kehancuran timnas Argentina.

Namun empat setengah tahun kemudian, di pertandingan melawan Kroasia ini, pecinta bola telah menyaksikan Argentina baru yang lahir. Di tahun 2018 dimana perjalanan amburadul Argentina di Piala Dunia yang dihasilkan dari kekalahan atas Kroasia itu. Argentina bisa bangkit dan membayar tuntas skor 3-0 mereka.

Messi Panen Rekor

Selain itu juga, Messi panen segudang rekor di kemenangan Argentina ini. Gol penalti pemecah kebuntuan yang dicetaknya itu adalah gol ke-11 nya di Piala Dunia. Itu artinya Messi sudah resmi menjadi pencetak gol terbanyak Argentina dalam sejarah Piala Dunia. Ia sudah mengungguli Maradona yang mencetak delapan gol di turnamen empat tahunan ini. Messi juga melewati rekor Batistuta yang mencetak 10 gol untuk Argentina di Piala Dunia.

Assist Messi di gol ketiga Argentina juga menjadi rekor bagi La Pulga. Itu adalah assist ke sembilannya dalam ajang Piala Dunia. Menjadikannya sebagai pemain Argentina dengan assist terbanyak di Piala Dunia. Sebelumnya rekor tersebut dipegang oleh Maradona dengan delapan assist.

Messi juga telah mencetak gol serta assist di empat gelaran Piala Dunia yang ia jalani. Itu artinya, ia adalah pemain pertama yang bisa mencetak gol serta assist di empat edisi Piala Dunia berbeda. Dengan begitu, ia tidak lagi berkecil hati setelah Ronaldo menjadi pemain pertama yang mencetak gol di lima edisi turnamen.

Ada satu lagi rekor yang akan dicetak Messi di Piala Dunia terakhirnya ini. Yaitu jumlah penampilan terbanyak di Piala Dunia. Saat ini, ia sejajar dengan legenda Jerman, Lothar Matthaus dengan 25 penampilan. Dengan Argentina sudah memastikan laga final, Messi akan menjalani laga ke 26 di Piala Dunia. Mengungguli Matthaus sebagai pemain dengan penampilan terbanyak di Piala Dunia.

“Sudah Tertulis Dalam Takdir”

Hanya ada satu hal yang masih kurang dari Messi untuk menjadi GOAT sesunggungnya. Ya, gelar juara Piala Dunia. Sebagaimana Maradona dan Pele telah mendapatkan trofi bergengsi itu. Tinggal satu pertandingan lagi untuk Messi memastikan dirinya pemain terbaik yang pernah ada.

Pemain senior, Zlatan Ibrahimovic yakin bahwa Messi akan menjuarai Piala Dunia tahun ini. Ia bahkan menyatakan bahwa ini sudah tertulis. Ia begitu yakin bahwa Argentina akan keluar sebagai Juara Piala Dunia 2022.

“Saya pikir ini sudah tertulis siapa yang akan menang, dan anda tahu siapa yang saya maksud. Messi akan mengangkat trofi itu pada akhirnya, ini sudah tertulis”

Ibra memang terkesan sangat yakin dengan prediksinya itu. Meskipun begitu, ia tidak menyangkal bahwa apapun bisa terjadi di Piala Dunia. Hal gila dan kejutan bisa saja muncul tiba-tiba di waktu yang tidak bisa diperkirakan.

“Menurut saya ini bukan kejutan. Argentina adalah tim yang bagus bahkan sebelum Piala Dunia dimulai. Namun, jelas ini Piala Dunia dan semuanya bisa terjadi”

Selanjutnya, Argentina akan menghadapi pemenang antara laga Prancis melawan Maroko. Tim singa atlas, Maroko tidak bisa diremehkan. Mereka bisa sampai ke babak semifinal setelah mengalahkan para raksasa Piala Dunia. Untuk itu, mereka mendapatkan julukan “si pembunuh raksasa”.

Sementara Prancis juga tim yang tak kalah kuat. Bahkan di atas kertas, Prancis adalah tim yang jauh lebih kuat dibanding Maroko. Mereka punya misi untuk membuat sejarah dengan back-to-back juara. Tapi sebagaimana kata Zlatan, ini Piala Dunia dan semuanya bisa terjadi.

 

Sumber referensi: ESPN, Goal, FIFA, As, Mirror, Daily

Kedermawanan Hakim Ziyech dan Lika-liku Bersama Timnas Maroko

0

Kiprah Timnas Maroko di Piala Dunia 2022 sangat menginspirasi dunia. Ada banyak sekali pemain yang diandalkan dan mendapat sorotan. Orang cenderung akan melihat Youssef En-Nesyri karena golnya ke gawang Portugal di babak perempat final.

Namun, selain En-Nesyri ada pemain lain yang layak mendapat apresiasi atas dedikasinya untuk Timnas Maroko. Ya, dia adalah Hakim Ziyech. Pemain kelahiran Belanda yang memilih untuk membela Maroko meski punya kesempatan untuk berseragam De Oranje.

Perjalanan Hakim Ziyech dalam dunia sepakbola tergolong panjang. Dia punya banyak cerita untuk dikisahkan. Dari mulai pahit hingga manis, pemain yang kini berseragam Chelsea itu telah melewati semuanya. Dan berikut sepenggal kisah kedermawanan Ziyech dan lika-liku bersama Timnas Maroko.

Memilih Maroko Daripada Belanda

Hakim Ziyech tercatat pernah membela berbagai jenjang usia Timnas Belanda. Dari U-19 hingga U-21. Menurut situs Transfermarkt, ia telah mengantongi delapan caps bersama Timnas Belanda muda. Dari situ bakatnya mulai tercium oleh tim-tim Belanda, tak terkecuali FC Twente, klub yang pada akhirnya menjadi pelabuhan Ziyech selanjutnya.

Saat bergabung dengan Twente pada tahun 2014, usianya sudah 21 tahun. Maka dari itu, ia sudah tak bisa membela tim muda Belanda. Ini saatnya ia naik level untuk bergabung dengan skuad senior. Namun, karena Belanda berisikan nama-nama beken macam Wesley Sneijder, Gio Wijnaldum, hingga Arjen Robben, debut Ziyech tertunda.

Ziyech sempat mendapat panggilan ke tim nasional Belanda pada bulan Mei 2015 untuk mempersiapkan laga uji coba melawan Amerika Serikat. Sayangnya, ia mengalami cedera yang membuatnya gagal bergabung dengan skuad asuhan Guus Hiddink. Beberapa bulan berselang, federasi sepakbola Maroko justru datang dengan tawaran yang sangat menggiurkan, yakni proyek jangka panjang dan menit bermain reguler.

Kabarnya, Ziyech juga memiliki hubungan yang buruk dengan staf kepelatihan Belanda saat itu, jadi ia pun menerima tawaran Maroko pada September 2015. Keputusan Hakim Ziyech untuk lebih memilih membela tim nasional Maroko punya konsekuensi yang mahal. Beberapa orang bahkan menyebutnya bodoh dan tak tahu terimakasih karena lebih memilih Maroko ketimbang Belanda yang sudah membesarkannya.

Ziyech Bantu Maroko Lolos ke Piala Dunia 2018

Hakim Ziyech jadi contoh kecil program pemerintah untuk meningkatkan mutu sepakbola Maroko, dengan memulangkan pemain-pemain yang memiliki darah Maroko yang tersebar di berbagai belahan dunia. Sekitar tahun 2014, Federasi Sepak Bola Maroko melakukan pemantauan terhadap bakat-bakat lapangan hijau dengan darah dari negara Afrika tersebut. 

Hal itu dilakukan dengan dasar Maroko yang pernah ditinggal besar-besaran oleh penduduknya ke Benua Eropa saat mengalami krisis ekonomi pada tahun 1970-an. Peristiwa tersebut menyebabkan banyak orang keturunan Maroko yang lahir dan besar di negara dengan sistem pembinaan sepakbola yang sudah oke.

Beruntungnya, meski sudah membangun karir di negara lain, mereka punya nasionalisme yang tinggi pada tanah leluhurnya. Sehingga pemain macam Hakim Ziyech, Achraf Hakimi, dan Yassine Bounou memilih untuk memperkuat Timnas Maroko dibanding negara tempat mereka tumbuh.

Hakim Ziyech bisa dibilang jadi pemimpin generasi baru sepakbola Maroko yang dipersiapkan untuk merevolusi sepakbola Maroko di kancah internasional. Target mereka tak tanggung-tanggung, Piala Dunia 2018 harga mati.

Bersama Skuad yang sudah berevolusi, Hakim Ziyech dkk berjuang untuk tampil di Piala Dunia 2018. Hasilnya? Sangat memuaskan. Timnas Maroko berhasil lolos ke Rusia dengan memuncaki klasemen Grup C kualifikasi babak ketiga Zona Afrika. Ziyech mengukir sejarah bersama Maroko, lolosnya ke Rusia menandakan kembalinya Maroko ke Piala Dunia setelah absen selama 20 tahun. 

Tersisih Dari Skuad Maroko, Kok Bisa?

Sayangnya, sang pelatih Herve Renard yang juga berjasa mengantarkan Hakim Ziyech dan kolega melenggang ke Piala Dunia 2018 justru dipecat pada tahun 2019. Pria berusia 54 tahun itu digantikan oleh Vahid Halilhodžić, mantan pelatih klub Prancis, Nantes. Ia ditunjuk untuk mempersiapkan tim jelang Piala Afrika 2021.

Namun, pergantian kursi kepelatihan ini justru tak berdampak baik pada Hakim Ziyech. Namanya tak masuk dalam skuad jelang kick off Piala Afrika 2021. Nama Ziyech bahkan sudah tak pernah menghiasi skuad Maroko asuhan Vahid, sejak terakhir tampil di laga uji coba melawan Burkina Faso pada 12 Juni 2021.

Kok bisa, pemain andalan Timnas Maroko justru tak dipanggil? Usut punya usut, kabarnya Ziyech tak memiliki hubungan yang baik dengan sang pelatih. Ziyech dan Halilhodžić diketahui sudah beberapa kali terlibat cekcok.

Api konflik antara Ziyech dan Vahid pertama kali mencuat tak lama setelah laga uji coba Maroko melawan Burkina Faso. Setelah laga tersebut, Halilhodžić merasa kecewa dengan perilaku Ziyech yang disebutnya tak pantas jadi panutan di timnas Maroko. Ia juga mencap Ziyech sebagai pemain yang malas, jadi ia tak pantas berada di dalam skuad Maroko.

Sementara itu, Ziyech menganggap pernyataan Vahid adalah kebohongan. Bahkan The Athletic pernah mewartakan kalau ada orang dalam Chelsea yang justru mengklaim Ziyech ini merupakan pemain yang patut dicontoh. Ziyech juga mampu memberikan aura positif di ruang ganti The Blues. Namanya manusia, barangkali pada saat itu, Ziyech tak berada dalam mood terbaiknya.

Buntut dari konfliknya itu, setelah Piala Afrika 2021 Hakim Ziyech mengeluarkan sebuah pernyataan kontroversial. Di depan media, ia dengan tegas menyatakan pensiun dari laga internasional dan enggan membela Timnas Maroko di masa mendatang.

Recall!

Di luar dugaan, Ziyech ternyata masih mau untuk kembali menerima panggilan dari Timnas Maroko jelang Piala Dunia 2022. Orang yang berperan untuk meluluhkan hatinya adalah sang suksesor Vahid, Walid Regragui.

Ketika Walid bicara dengan Ziyech, sang pemain langsung menerima tawaran kembali ke tim nasional. Ziyech bahkan mengaku sudah tidak sabar ingin kembali bermain di level internasional dan membantu Timnas Maroko berjuang di Piala Dunia 2022.

Kehadiran Ziyech tentu menjadi angin segar buat Maroko. Pasalnya, mereka membutuhkan jasa Ziyech agar bisa menunjukkan penampilan terbaik di Piala Dunia 2022 nanti. Dan benar saja, Ziyech lagi-lagi jadi sosok penting di balik kesuksesan Maroko menembus babak semifinal kompetisi empat tahunan tersebut.

Meski baru berkontribusi dua gol dalam lima pertandingan, peran Ziyech di sektor sayap kanan hampir tak pernah tergantikan. Ia membangun trio yang solid dengan Youssef En-Nesyri dan Sofiane Boufal.

Hakim Ziyech Masyaallah Tabarakallah

Jelang laga kontra Prancis di semifinal, terungkap fakta mengejutkan tentang Hakim Ziyech. Ternyata mantan punggawa Heerenveen tersebut selama ini tidak mengambil gaji dan bonusnya di Maroko selama gelaran Piala Dunia 2022. Semuanya telah disumbangkan.

Dilansir dari SportBible, sejak bergabung dengan Timnas Maroko pada tahun 2015 silam, Ziyech tidak pernah mengambil sepeserpun gajinya dari timnas. Ia selalu menyumbangkan seluruh gajinya untuk keluarga miskin di Maroko atau keluarga para staf yang bertugas di timnas Maroko. 

Kabarnya Ziyech juga menyumbangkan gaji timnasnya selama ini ke beberapa rumah sakit untuk pasien penderita kanker. Hal tersebut pun berlanjut di ajang Piala Dunia 2022.

Ziyech akan menerima bonus dari Timnas Maroko sebesar 280 ribu pound atau setara Rp.5,4 miliar selama partisipasinya di ajang Piala Dunia kali ini. Dan uang itu rencananya juga akan disumbangkan. Masyaallah Tabarakallah, akhi Ziyech.

Sumber: Goal, Sporting News, Morocco World News, BBC, The Athletic

Comeback “Gagal” Messi di Piala Dunia 2018

Sebelum Piala Dunia 2018 berlangsung, Messi telah mengumumkan untuk pensiun dari tim nasional. Ini jadi berita yang menggemparkan semua orang, karena Argentina jelas masih butuh Messi di Piala Dunia 2018. Tapi kegagalan-kegagalan Messi selama berseragam putih biru Albiceleste membuatnya putus asa.

Dan rentetan kekecewaan yang diderita sebelumnya bersama Argentina memaksa Messi untuk pensiun. Meskipun ia memutuskan comeback tak lama setelahnya untuk memperkuat Argentina di Piala Dunia 2018.

Piala Dunia 2014

Rentetan kekecewaan Messi berawal dari Piala Dunia 2014. Di Piala edisi ini, Argentina sangat diunggulkan untuk menang. Tentu saja selain tim tuan rumah, Brasil. Tapi juga Argentina punya semua kualitas untuk bisa memenangkan pertandingan. Dari Piala Dunia yang digelar di dekat kampung halaman, sampai susunan tim yang berisikan pemain bintang.

Ditambah, Messi kini berada di puncak performa terbaiknya. Barcelona memang sedang paceklik trofi di musim itu. Namun, dari segi permainan dan kedewasaan, Messi jelas lebih siap dibanding Piala Dunia edisi sebelumnya di tahun 2010. Di Piala Dunia 2014 ini, ia bahkan didapuk sebagai kapten Albiceleste. Menggantikan Javier Mascherano memimpin rekan-rekannya di atas lapangan.

Argentina ditempatkan pada grup yang cukup mudah. Yaitu pada grup F yang berisikan Nigeria, Bosnia, dan Iran. Tentu saja argentina bisa melewati fase grup dengan mudah. Tapi bukan tanpa aksi heroik Messi. Ia mencetak brace di pertandingan melawan Nigeria dan masing masing satu gol ketika melawan Bosnia dan Iran.

Ia membawa performa baiknya itu ke fase berikutnya di babak gugur. Ia memberikan assist penting untuk kemenangan Argentina atas Swiss di babak 16 besar. Dan menuntaskan tugasnya sebagai eksekutor babak adu penalti melawan Belanda di semifinal. Messi pun sukses untuk pertama kalinya membawa Argentina sampai ke final Piala Dunia.

Kecewa di Final

Dan di partai final inilah, dirinya harus menghadapi Jerman. Partai final ini dilabeli dengan pertandingan bertajuk pemain terbaik melawan tim terbaik. Ya, tidak mungkin hilang dari ingatan bagaimana Jerman bisa melumat habis Brasil di depan pendukungnya sendiri dengan skor 7-1. itu lah kenapa Jerman disebut sebagai tim terbaik saat itu.

Sebenarnya Argentina lebih banyak menciptakan peluang di pertandingan tersebut. Tapi tidak ada satupun yang bersarang ke gawang Neuer. Jerman akhirnya bisa memukul balik Argentina, setelah supersubs Mario Gotze mencetak gol kemenangan di menit ke-113. Jerman keluar sebagai Juara Piala Dunia 2014.

Meskipun tidak menang, Messi menerima penghargaan Golden Ball sebagai pemain terbaik sepanjang turnamen. Penghargaan tersebut ia terima tanpa senyum di wajahnya. Tentu saja, yang terpenting baginya adalah membawa pulang Piala Dunia. Trofi yang sudah dibebankan di pundaknya sejak lama. Ditambah, kegagalan Messi di final Piala Dunia ini mendatangkan kritik dari media lokal Argentina.

Kegagalan Copa America 2015 & 2016

Kekecewaan Messi berlanjut di ajang Copa America. Messi masih menjadi andalan di timnas. Ia juga menjalani musim penuh kesuksesan bersama Barcelona di tahun 2015. Tapi sayangnya jersey Argentina masih membuatnya kesulitan untuk mendapatkan gelar bergengsi.

Di Copa America 2015, Argentina sebenarnya bisa lolos fase grup dengan mudah. Dari empat kali bermain, Albiceleste meraih tiga kemenangan dan satu hasil imbang, tanpa sekalipun kalah. Membuat Argentina lolos grup sebagai pemuncak klasemen. Messi bahkan mencetak gol ketika melawan Paraguay di fase grup itu.

Messi juga sukses menjadi eksekutor babak adu penalti ketika melawan Kolombia di perempat final. Lalu menunjukan penampilan memukau dengan mencatatkan tiga assist di babak semifinal. Namun mimpi buruknya kembali datang di partai final.

Argentina kalah secara menyakitkan lewat babak adu penalti melawan Chile. Parahnya Messi jadi satu-satunya eksekutor yang berhasil menuntaskan tugasnya. Sementara empat penendang Chile sukses memasukan bola ke gawang. Sama seperti Piala Dunia 2014, Messi juga menjadi pemain terbaik turnamen. Tapi kali ini ia menolak untuk menerima penghargaan itu.

Berlanjut ke Copa America 2016, menjadi Dejavu bagi Messi. Ia lagi-lagi menggendong Argentina sampai ke partai final dengan mencetak 5 gol dan 4 assist, hanya untuk dikalahkan Chile di babak adu penalti. Parahnya, kali ini Messi yang gagal mengeksekusi tendangan penalti.

Kali ini tidak ada penghargaan pemain terbaik untuk Messi. Yang ada hanya air mata dan patah hati setelah gagal mengeksekusi penalti. Ditambah kegagalan di tiga final berturut turut terlalu berat untuknya. Ia merasa sangat putus asa hingga akhirnya memutuskan untuk pensiun.

Umumkan Pensiun

Ya, Messi yang saat itu baru berusia 29 tahun memutuskan untuk pensiun dari sepak bola internasional. Itu tentu jadi kabar yang menggemparkan bagi semua orang. Apalagi Argentina sedang bersiap untuk kualifikasi Piala Dunia 2018.

Sergio Aguero, mengatakan bagaimana kegagalan di final itu sangat berpengaruh terhadap Messi. Ia mengungkapkan Messi mengeluarkan kesedihannya di ruang ganti setelah pertandingan final.

“Kami semua merasa hancur. Kami berusaha memikirkan hal lain dan terus maju, tapi itu sulit. Sekali lagi keberuntungan telah melawan kami. Sayangnya, yang paling hancur adalah Messi karena penaltinya yang gagal. Saya tidak pernah melihatnya sesedih itu di ruang ganti”

Setelah pertandingan itu berakhir, Messi mengumumkan ia pensiun dengan kata-kata yang penuh keputusasaan. Ia berkata bahwa ia sudah berusaha sebaik mungkin dan masanya di tim nasional sudah habis.

“Bagi saya tim nasional sudah berakhir. Menyakitkan untuk tidak bisa juara. Saya memikirkan ini di ruang ganti, saya sudah selesai bermain dengan tim nasional.”

Dukungan Para Fans

Di masa itu, ada ketakutan di antara warga Argentina bahwa bintang lainnya juga memutuskan untuk pensiun. Karena memang yang memikirkan untuk pensiun setelah kekalahan menyakitkan itu tidak hanya Messi, tapi beberapa pemain lainnya juga.

Karenanya, warga Argentina dan dengan dukungan tokoh seperti Presiden Argentina, Mauricio Macri dan Diego Maradona menjalankan demonstrasi di Buenos Aires. Tepatnya di monumen Obelisco, dimana biasanya para penggemar merayakan kemenangan di situ.

Tapi kali ini mereka berkumpul untuk mencegah Messi pensiun. Sebanyak 50 ribu orang berkumpul sambil membentangkan spanduk bertuliskan No te vayas Leo, atau berarti “jangan pergi, Leo”. Mereka berkata bahwa bakat seperti Messi datang setiap 500 juta tahun sekali. Maka dari itu warga Argentina ingin menikmatinya lebih lama lagi.

Dukungan dari para fans di negaranya ternyata berhasil. Messi tidak jadi pensiun, dan bersedia kembali bermain untuk Argentina. Juga karena Argentina mulai terlihat terseok-seok di babak kualifikasi Piala Dunia 2018. Dikutip dari BBC, Messi berkata bahwa ia sedang tidak berpikir jernih ketika memutuskan untuk pensiun.

“Banyak hal yang saya pikirkan di kepala saya waktu itu. Saya memang serius memikirkan untuk pensiun, tapi kecintaan saya terhadap negara dan Jersey ini terlalu besar”

Comeback Messi Bersama Argentina

Comeback Messi bersama Argentina di Piala Dunia malah bisa dibilang sebagai anti-klimaks. Di pertandingan perdana, Argentina ditahan imbang 1-1 oleh Islandia. Di pertandingan tersebut Messi juga gagal melakukan penalti yang bisa saja membuat Argentina menang.

Lalu di pertandingan selanjutnya, Messi tidak juga menunjukan kelasnya. Argentina kalah 3-0 dari Kroasia yang jadi kuda hitam di tahun itu. Messi baru cetak gol di pertandingan lawan Nigeria. Namun, jika bukan karena gol telat dari Marcos Rojo, ini bisa jadi pertama kalinya Messi tidak lolos grup Piala Dunia.

Perjalanannya di Piala Dunia 2018 berakhir tak lama setelah mereka bisa lolos fase grup sebagai runner up. Messi tak mampu memimpin timnya menang lawan Prancis yang diperkuat Mbappe. Mereka kalah dengan skor 4-3, dengan Mbappe mencetak dua gol.

Ini menyakitkan untuk dilihat oleh para fans. Apalagi, dengan tersingkirnya Argentina pupus sudah melihat duel Ronaldo vs Messi di perempat final. Karena Portugal juga kalah dari Uruguay di babak 16 besar.

 

Sumber referensi: ESPN, Sporting, Guardian, B/R, BBC

Bisa Menang Tanpa Kiper: Malam Ajaib River Plate

0

Dunia sepakbola selalu menghadirkan hal-hal unik. Terkadang selain menyuguhkan kejutan yang tidak terduga, sepakbola juga kerap melahirkan keajaiban. Bahkan keajaiban itu kadang kala terjadi di luar nalar. Kayak, kok bisa sih begini?

Keajaiban itu bisa beraneka ragam. Misal tim kecil yang mendadak bisa mengalahkan tim besar. Atau keajaiban yang memang unik dan jarang terjadi. Klub dari Argentina, River Plate pernah mengalami hal yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Klub berjuluk Los Millonarios itu pernah bermain tanpa seorang kiper pun.

Hebatnya, meski tanpa kiper, River Plate bisa mengalahkan lawannya. Well, kira-kira bagaimana ya ceritanya? Apa yang dilakukan sang pelatih, kok bisa tanpa kiper bisa menang? Lalu, siapa yang menjaga gawang?

Menghadapi Santa Fe di Copa Libertadores 2021

Tentu yang dimaksud tanpa kiper bukanlah bermain tanpa kiper secara harfiah. Hanya saja, memang yang turun menjadi penjaga gawang bukanlah pemain yang berposisi sebagai kiper. Keunikan itu terjadi ketika River Plate menghadapi klub Kolombia, Independiente Santa Fe di ajang Copa Libertadores tahun 2021.

River Plate seolah mengikuti jejak Wigan Athletic di Piala FA 2013 maupun Yunani di EURO 2004. Yaitu bisa mengatasi kekurangan dan berhasil. Namun, yang dilakukan River Plate berada di level yang berbeda. Mereka berhasil mengalahkan Santa Fe 2-1, meski 20 pemain River Plate terpapar Covid-19.

Berlaga di Stadion Monumental di Buenos Aires, River Plate justru menurunkan seorang gelandang, Enzo Perez untuk menjadi kiper. Pelatih River Plate ketika itu, Marcelo Gallardo terpaksa melakukan langkah out of the box tersebut lantaran keempat kiper River Plate dinyatakan positif virus corona.

Sementara, keinginan Gallardo untuk menambah kiper muda baru, demi mengisi kekosongan posisi kiper, ditolak oleh federasi sepakbola Amerika Latin atau CONMEBOL. Jadi terpaksa deh memakai gelandang untuk menjadi kiper.

Hanya 11 Pemain dan Tidak Ada Cadangan

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Selain tidak bisa memainkan kiper, River Plate juga terpaksa hanya bermain dengan 11 pemain saja. Yup benar, artinya River Plate cuma bisa memainkan line up-nya saja.

Sejumlah 16 pemain River Plate saat itu dinyatakan positif virus corona. Empat yang lainnya, yang merupakan kiper juga sama. Jadi ada 20 pemain yang terinfeksi corona. Sementara, River Plate hanya mendaftarkan 32 pemain mereka saja. Dan yang tersisa dan bisa dimainkan cuma 11.

Sebenarnya masih tersisa satu pemain lagi. Ia adalah seorang bek berusia 38 tahun, Javier Pinola. Namun, Pinola masih harus absen karena alami cedera lengan bawah. Pinola sebetulnya menawarkan diri untuk tetap bermain dengan sebagai cadangan.

Akan tetapi, itu jelas beresiko, Gallardo tak mau bertaruh lagi dengan mengorbankan pemain yang jika ia bermain, bisa jadi cederanya semakin lama. Maka, sekali lagi, River Plate bermain hanya 11 pemain dan tidak ada pemain cadangan.

Ironisnya, Enzo Perez yang turun sebagai kiper darurat itu pun sedang tidak dalam kondisi fit 100 persen. Ia ketika itu dikabarkan sedang mengalami cedera otot. Jadi, pemain yang membela River Plate sejak 2017 itu masih kesulitan untuk berlari. Mungkin sebab itu, ia dipilih Gallardo untuk menjaga gawang saja.

Unggul Cepat

Bukan Gallardo namanya kalau tidak bisa menangani kelemahan timnya. Karena tahu mereka lemah, Gallardo menginstruksikan anak asuhnya untuk langsung menggebrak sejak menit pertama. Dengan hanya 11 pemain yang memenuhi syarat, River Plate justru memulai laga dengan sangat gemilang.

Tiga menit usai peluit sepak mula dibunyikan, River Plate langsung unggul lebih dulu. Gelandang mereka, Fabrizio Angileri menceploskan bola ke gawang Santa Fe. Tak butuh waktu lama bagi River Plate untuk menggandakan keunggulan. Sebab tiga menit berselang, striker andalan mereka yang kini berseragam Manchester City, Julian Alvarez membawa River Plate unggul 2-0 hanya dalam waktu enam menit.

Akan tetapi, setelah itu yang ada hanya penderitaan. River Plate harus bisa mempertahankan skor untuk bisa menyabet kemenangan tanpa mengganti pemainnya. Santa Fe melakukan serangan bertubi-tubi ke pertahanan River Plate. Namun, kiper dadakan mereka tampil mengesankan di laga itu.

Kiper Dadakan Tampil Oke

Enzo Perez yang juga sebenarnya sedang mengalami cedera otot, ternyata bisa diandalkan. Gallardo tak salah memilihnya. Sang pemain berkali-kali bisa membendung serangan Santa Fe. Tercatat di laga itu Enzo Perez mengemas setidaknya 4 penyelamatan.

Performa gemilang Enzo sedikit banyak juga dibantu oleh pemain bertahan yang kokoh luar biasa. Tiga bek River Plate: Jonatan Maidana, Tomas Lecanda, dan David Martinez tampil sangat impresif di laga itu. Ketiganya membantu Enzo melakukan blok dan sapuan.

Tercatat di Sofa Score, Lecanda sudah melakukan setidaknya 1 blok dan 8 kali clearances. Lalu Maidana melakukan 2 blok dan 6 sapuan. Dan yang terakhir, Martinez melakukan 4 sapuan dan satu kali blok. Enzo Perez pun nyaris menciptakan clean sheets di laga itu.

Akan tetapi, Santa Fe mengubah permainan dengan memasukkan pemain anyar. Kelvin Osorio masuk dan ia berhasil memanfaatkan situasi kelelahan di tubuh River Plate. Gawang Enzo Perez pun dibobol oleh Osorio berkat asis dari Jhon Arias pada menit ke-73. Untung saja, setelah gol itu gawang Los Millonarios tetap aman.

River Plate pun berhasil mengamankan kemenangan 2-1 di laga fase grup D Copa Libertadores tersebut. Tidak hanya itu, Enzo Perez yang sejatinya bukan kiper pun jadi man of the match di laga itu. Ajaib sekali bukan? Tidak hanya itu, River Plate pun bisa lolos ke 16 besar, bahkan ke perempat final, sebelum akhirnya ditaklukkan Atletico Mineiro.

Kesalahan Sendiri

Sebetulnya bermain hanya dengan 11 pemain saja dan tanpa kiper sejati adalah kesalahan dari River Plate sendiri. Sebelum kompetisi itu bergulir lagi, pihak CONMEBOL sudah mengizinkan agar masing-masing tim mendaftarkan 50 pemainnya. Ini berkaitan karena kompetisi, dalam hal ini Copa Libertadores berlangsung di tengah wabah virus corona.

CONMEBOL tetap melaksanakan itu karena untuk mengejar kompetisi supaya cepat selesai. Nah, diminta 50 pemain didaftarkan, River Plate justru hanya mendaftarkan 32 pemain saja. Pihak Los Millonarios barangkali tidak menyangka akan ada 20 pemain yang terkena virus corona.

Ketika kompetisi sudah bergulir, mereka pun oleh CONMEBOL dilarang memasukkan nama lagi. CONMEBOL hanya mengizinkan River Plate memainkan pemain yang ada.

Karena River Plate bisa memainkan setidaknya 11 pemain, maka pertandingan tetap berlangsung. Meski konsekuensinya, CONMEBOL meminta River Plate meminta pemain outfield menjadi kiper. Karena empat kiper River Plate: Franco Armani, Enrique Bologna, Franco Petroli, dan German Lux terkena virus corona.

Sumber: Insider, Telegraph, AA, SI, Standard, ESPN, TheGuardian, SofaScore

Baru Merdeka 1991, Inilah Sejarah Timbul Tenggelam Timnas Kroasia

0

Apresiasi setinggi-tingginya bagi Kroasia. Negara yang kembali mampu back to back melaju ke babak semifinal Piala Dunia. Meskipun kali ini kandas dari Argentina. Melihat bagaimana heroiknya semangat Kroasia di Piala Dunia 2022 kali ini tak luput dari sejarah mereka sebagai negara baru.

Negara kecil yang berpenduduk kurang dari empat juta tersebut, tak dipungkiri mempunyai rekam jejak di dunia sepakbola yang perlu dicontoh oleh banyak negara. Timbul tenggelam prestasi telah mereka lalui.

Negara Baru Merdeka 1991

Kroasia ini dulunya adalah negara bekas gabungan Yugoslavia. Di mana Kroasia akhirnya memisahkan diri dan baru merdeka pada tahun 1991. Kemerdekaan Kroasia juga tak luput dari represi yang dilakukan oleh Serbia.

Perlawanan rakyat Kroasia terbukti berhasil memisahkan diri dari cengkraman Serbia yang ingin berkuasa. Semangat perlawanan itulah yang banyak dikaitkan dengan apa yang terjadi saat ini dalam sepakbola Kroasia.

Seperti contoh ketika lagu-lagu penyemangat sering dinyanyikan skuad Kroasia. Skuad Kroasia sering berkumpul saat merayakan suatu kemenangan dan menyanyikan lagu-lagu dari penyanyi neo-fasis Thompson. Lagu-lagu yang secara eksplisit isinya merujuk pada rezim kriminal “Herceg-Bosna” di masa perang Bosnia. Perang di mana rakyat dan pemimpin Kroasia dihukum dan dihabisi di perang tersebut.

Termasuk apa yang terjadi pada kakek Luka Modric. Dalam perang tersebut, kakeknya menjadi korban karena terbunuh ketika mengungsi di hotel sewaktu Modric masih kecil.

Sepakbola Kroasia Yang Punya Generasi Emas Pertama

Sejak perang, persepakbolaan Kroasia tak berarti apa-apa. Masa perang menjadi masa yang sulit bagi olahraga seperti sepakbola dapat berkembang.

Semenjak merdeka pun mereka belum sah tercatat dalam anggota FIFA. Karena federasi sepakbolanya pun baru terbentuk pada tahun 1992. Barulah kemudian setelah semuanya kondusif, persepakbolaan Kroasia mulai eksis.

Perlahan generasi emas pertama Kroasia ini lahir. Piala Eropa 1996 di Inggris menjadi saksi lahirnya pemain macam Boban, Prosinecky, maupun Suker. Debut Kroasia di ajang internasional pun dimulai saat itu. Mereka mampu lolos hingga ke perempat final. Namun sayang, debut generasi emas pertama Kroasia tersebut kandas oleh Jerman.

Kejutan Debutan Piala Dunia 1998, Semifinal

Kenangan pahit debut Kroasia di ajang resmi internasional itu pun menjadi pelajaran berharga. Mereka tak lelah melakukan evaluasi untuk ajang berikutnya yakni Piala Dunia 1998.

Generasi emas mereka seperti Boban maupun Suker tak dipungkiri makin berkembang dan menjadi magnet tersendiri di persepakbolaan Eropa. Suker dibeli dan berkembang di Real Madrid setelah Piala Eropa 1996. Boban juga semakin matang bersama AC Milan.

Dengan racikan pelatih Miroslav Blazevic, Kroasia menuju Piala Dunia pertama mereka di 1998. Kiprah Kroasia di Piala Dunia 1998 terbilang fantastis. Mereka tak diduga mencatatkan sejarah untuk pertama kalinya sebagai debutan mampu melaju hingga babak semifinal.

Sayang, tuan rumah Prancis menjadi mimpi buruk mereka di semifinal. Namun, predikat peringkat ketiga, dan gelar top skor bagi Suker menjadi hadiah yang tak terlupakan bagi Vatreni dalam sejarah persepakbolaan mereka.

Namun Seketika Generasi Emas Mereka Hancur

Ketidakberuntungan menghampiri Vatreni di persiapan EURO 2000. Mereka yang notabene masih diisi generasi emasnya, secara mengejutkan tertatih di babak kualifikasi. Kroasia kalah tipis perolehan poin dengan musuh politik mereka, Yugoslavia dan Republik Irlandia. Akhirnya, generasi emas mereka pun gigit jari tak mampu lolos ke EURO 2000.

Seiring dengan menurunnya performa para generasi emas mereka, dan semakin menuanya usia, perlahan generasi emas pertama Kroasia tersebut mulai tergerus.

Generasi baru yang tumbuh seperti Dado Prso, Niko Kovac, Ivica Olic, Niko Kranjcar, maupun Ivan Klasnic belum sepenuhnya mampu berprestasi meneruskan titah para pendahulunya. Transisi antar generasi mereka tak semulus yang dibayangkan.

Generasi baru itu pun butuh jam terbang lebih banyak secara tim. Piala Dunia 2002, EURO 2004 dan Piala Dunia 2006, menjadi ajang pembuktian para generasi baru itu unjuk gigi. Hasilnya minor, Kroasia hanya mentok sampai babak grup.

Sempat Bangkit Di Euro 2008 Namun Tenggelam Lagi

Sempat mengejutkan lagi ketika lahir generasi Modric, Rakitic, Corluka maupun Pranjic di 2008. Di tangan pelatih Slaven Bilic bekas legenda mereka, Vatreni mengejutkan karena mampu lolos hingga perempat final EURO 2008.

Namun, sebagaimana ketika dari Piala Dunia 1998 ke EURO 2000. Kroasia usai mengejutkan di EURO 2008, prestasi mereka kembali terjun bebas. Kroasia gagal lolos ke Piala Dunia 2010. Mereka kalah perolehan poin dengan Inggris dan Ukraina di Grup 6 babak kualifikasi Zona Eropa.

Ketidaklolosan Vatreni di Piala Dunia 2010 juga menimbulkan pertanyaan besar dari publik, apakah generasi penerus Kroasia sudah pantas dianggap gagal?

Perubahan Besar Setelah Piala Eropa 2016

Pertanyaan besar tersebut mulai terjawab ketika Vatreni usai menjalani EURO 2016. Seiring dengan matangnya para generasi penerus mereka, muncul lagi para pemain baru yang menjadi pelengkap macam Subasic, Vrsaljko, Brozovic, Kovacic, Kramaric, maupun Perisic. Kroasia akhirnya kembali masuk babak knockout sejak terakhir kali mereka capai di EURO 2008.

Kroasia menolak anggapan bahwa generasi kedua mereka dicap gagal. Federasi melakukan langkah besar dengan menjunjuk Zlatko Dalic di 2017. Dalic notabene adalah seorang pelatih muda yang tak begitu terkenal namanya di Eropa. Keraguan pun sempat mengemuka terhadap an nasib Vatreni ke depannya di tangan Zlatko Dalic.

Tugas awal Dalic yakni diberi kepercayaan mengantarkan Kroasia lolos ke Piala Dunia 2018. Dalic menyadari beban yang berat di pundaknya. Ia disuguhkan pada materi generasi kedua Kroasia yang dikatakan sudah mencapai masa puncaknya.

Racikan serta keharmonisan Dalic dalam mengeluarkan kapasitas para pemain Kroasia terbukti perlahan berhasil. Lolos ke Rusia melalui babak playoff, Kroasia terbukti mampu berproses di putaran final Piala Dunia 2018.

Hasilnya, mengejutkan dunia. Generasi emas kedua Kroasia yang selama ini timbul tenggelam terbukti tak sia-sia. Dalic menjadi sosok yang mengunduh momentum para generasi ini. Babak final Piala Dunia mampu mereka raih. Sebuah pencapaian yang akan dicatat sebagai sejarah bagi persepakbolaan Kroasia.

Meskipun kejutan itu tak berlanjut di EURO 2020, namun di Piala Dunia 2022 generasi itu sekali lagi mampu menciptakan sejarah. Masih di bawah racikan Dalic, dengan skuad sisa-sisa nafas terakhir generasi mereka yang dianggap sudah habis, Vatreni masih mampu melangkah hingga fase semifinal.

Sekali lagi Dalic mampu menunjukkan bahwa Modric dan kawan-kawan adalah generasi emas kedua Kroasia yang belum habis. Meskipun mereka gagal back to back menjadi finalis, apresiasi setinggi-tingginya tetap harus diberikan oleh dunia. Bagaimanapun negara yang baru merdeka 31 tahun itu, kini telah membuktikan pada dunia bahwa mereka sekarang sudah menjadi negara sepakbola baru yang ditakuti di dunia.

Sumber Referensi : theguardian, foottheball, edition.cnn, indianexpress