Liverpool, Riwayatmu Kini! Magis Juara Tahun Lalu Berubah Bobroknya Musim Ini
Betapa bahagianya para penggemar Liverpool, setelah tepat pada 22 Juli tahun lalu, The Reds berhasil memastikan diri sebagai juara di kompetisi Liga Primer Inggris. Kapten Jordan Henderson tampak gagah ketika diminta untuk mengangkat piala kebesaran kompetisi Inggris. Semua telah usai. Penantian selama kurang lebih 30 tahun telah terbayar dengan senyum merekah di atas panggung juara.
Di musim tersebut, Liverpool sukses menjadi salah satu jawara terbaik sepanjang gelaran Liga Primer Inggris, dengan koleksi 99 poin. Sepanjang perjalanannya, yang dimulai sejak kedatangan Jurgen Klopp, Liverpool bahkan sukses menjadikan markas mereka, Anfield, sebagai lapangan yang tak ramah dengan para lawan.
WE’RE PREMIER LEAGUE CHAMPIONS!! 🏆 pic.twitter.com/qX7Duxoslm
— Liverpool FC (@LFC) June 25, 2020
Tercatat, dari 2017 sampai tahun 2020, Liverpool berhasil melewati sebanyak 68 pertandingan di kandang tanpa tersentuh satu pun kekalahan.
Sayangnya, pada musim ini, Liverpool harus mengalami nasib kurang beruntung. Mereka menjadi juara bertahan dengan performa buruk, persis seperti apa yang dialami Chelsea pada musim 2015/16 dan Leicester City musim 2016/17.
Bila menarik sedikit ke belakang, tepat setelah mereka alami kekalahan 0-2 dari Everton, Liverpool sudah menunjukkan tanda-tanda yang tidak beres. Dari laga tersebut, atau setelah Liga Inggris berjalan sebanyak 25 pertandingan, Liverpool sudah mengalami empat kekalahan secara beruntun. Bila dibandingkan dengan musim sebelumnya, maka catatan Liverpool di musim ini terbilang terjun bebas.
Sepanjang 25 pertandingan yang dijalani musim ini, Liverpool hanya mampu meraih 11 kemenangan dan 7 hasil imbang, dengan raihan 40 poin. Sementara musim lalu, Liverpool berhasil meraih 24 kemenangan dan hanya catatkan satu hasil imbang, dari 25 pertandingan. Poin yang didapat pun mencapai angka 73 poin.
Jumlah kebobolan dalam periode yang sama juga terpaut sangat jauh. Dalam 25 pertandingan musim ini, Liverpool sudah kebobolan sebanyak 34 kali. Sementara musim lalu, tercatat hanya ada 15 gol yang bersarang di gawang Alisson Becker. Selain itu, Liverpool hanya bisa mencetak sebanyak 45 gol. Berbeda dengan musim lalu yang jumlahnya sebanyak 60 gol.
Musim ini, Liverpool sudah terlempar dari kompetisi Liga Champions dan kompetisi domestik lainnya. Bila musim ini mereka gagal tempati posisi empat besar, lantas apa yang bisa diharapkan musim depan?
Apa yang dialami Liverpool musim ini tentu disadari betul oleh Jurgen Klopp. Pelatih asal Jerman tersebut mengakui bila Liverpool tengah mengalami penurunan performa. Sampai saat ini, dia masih terus berjuang untuk mengembalikan performa Liverpool ke puncak. Tugas Klopp terbilang sangat berat, mengingat banyak sekali pemain Liverpool yang mengalami penurunan performa, termasuk dua andalannya, Mohamed Salah dan juga Sadio Mane.
Sadio Mane’s slump at Liverpool is down to one key factor | @_ChrisBascombe
Full piece: https://t.co/O1wWrvV82c pic.twitter.com/2eGYNChLQd
— Anfield Watch (@AnfieldWatch) April 30, 2021
Penurunan performa Liverpool sejauh ini sejatinya sudah bisa terlihat sejak dua musim lalu. Namun karena kecerdasan dari setiap pemain, Liverpool bisa bertahan. Mereka tetap mampu memenangkan pertandingan dan berhasil mengungguli lawan dengan permainan sempurna.
Akan tetapi, tetap ada celah yang membuat Liverpool kewalahan. Dalam sejumlah pertandingan, mereka harus susah payah mencetak gol hingga mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.
Pada musim 2018/19, mereka harus kesusahan ketika bertanding melawan Chelsea. Mereka kalah dari Manchester City dan hanya mampu menang tipis melawan Crystal Palace melalui pertempuran tujuh gol. Selain itu, mereka juga harus menunggu sampai menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan di laga melawan tim seperti Fulham, Tottenham, Southampton, dan Newcastle.
Lalu pada musim berikutnya, mereka kewalahan ketika harus menghadapi Manchester City dan juga Chelsea. Kemudian, Liverpool kembali harus menunggu hingga menit akhir pertandingan untuk memastikan kemenangan di laga melawan Leicester City, Manchester United, Tottenham, Crystal Palace, dan West Ham.
Banyak pemerhati yang menyebut bila Klopp terlalu memaksakan permainan Liverpool, hingga membuat para pemain kewalahan sendiri. Seperti diketahui, Klopp selalu memainkan sistem permainan dengan intensitas tinggi. Terlebih, Klopp kerap tampak ragu ketika harus merotasi pemainnya. Dia selalu meminta para pemain yang memang sudah terlalu diandalkan, untuk menekan lawan.
Meski hasilnya luar biasa, hal tersebut juga memiliki dampak yang tak kalah buruk. Hal ini lantas dianggap sebagai penyebab banyaknya pemain Liverpool yang mengalami cedera.
Ya, pada akhirnya, cedera memang disebut sebagai masalah terbesar yang dihadapi Liverpool musim ini. Banyak pemain bintang yang tersandung masalah ini hingga membuat kekuatan mereka pincang.
Di pekan kelima Liga Inggris, Liverpool harus kehilangan Virgil van Dijk akibat mengalami cedera parah di laga melawan Everton. Pertandingan yang berkesudahan dengan skor 2-2 itu memunculkan van Dijk sebagai pemain yang harus beristirahat lama karena mengalami cedera ACL.
Virgil van Dijk and Joe Gomez’s different recovery paths as Liverpool pair step up returns from serious knee injuries | @Mark_Jones86 https://t.co/aRQwxKBHZT pic.twitter.com/dVzZLJb3NZ
— Mirror Football (@MirrorFootball) May 4, 2021
Sejak saat itu, badai cedera mulai menyerang Liverpool. Usai Van Dijk menepi, giliran Joe Gomez dan Joel Matip yang juga turut dibekap cedera. Mereka harus beristirahat dalam waktu yang lama dan benar-benar membuat Klopp harus memutar otak lebih cepat. Saking krisisnya bek yang dialami Liverpool, Klopp bahkan sampai menempatkan bek muda macam Nathaniel Phillips untuk mengisi kekosongan.
Tidak hanya itu, pemain seperti Fabinho dan juga Jordan Henderson juga sempat diminta untuk menjadi bek. Tercatat, Klopp telah menggunakan setidaknya 18 pasangan bek tengah yang berbeda musim ini. Hal itu lantas memaksa Klopp untuk membeli bek baru. Akhirnya, pemain seperti Ozan Kabak dan Ben Davies didatangkan sebagai solusi.
📝 DEAL DONE: Liverpool have signed Ozan Kabak from Schalke on a £1m loan deal until the end of the season, with an option to buy for £18m in the summer. (Source: @LFC) #DeadlineDay pic.twitter.com/PDn0IlTQnF
— Transfer News Live (@DeadlineDayLive) February 1, 2021
Masalah Klopp soal banyaknya pemain yang absen masih berlanjut setelah Mo Salah dan Sadio Mane sempat melewatkan beberapa pertandingan karena virus menular dan beberapa kali cedera. Lalu, duo Liverpool asal Brazil, Allison dan Fabiano juga melewatkan beberapa pertandingan karena cedera. Yang tak kalah krusial, dua pemain sayap andalan Trent Alexander Arnold dan Andy Robertson juga absen dalam beberapa pertandingan karena cedera.
Jangan lupakan pula pemain anyar mereka, Diogo Jota, yang juga sempat menderita cedera jangka panjang.
Masalah cedera bukan satu-satunya yang menjadi penyebab menurunnya performa Liverpool. Seperti yang sempat dijelaskan, penurunan performa para pemain juga memiliki andil besar dalam anjloknya penampilan The Reds.
Musim ini, selain lini belakang yang mudah dieksploitasi lawan hingga dilakukannya banyak perubahan, lini serang Liverpool juga terlihat tak seperti biasanya. Trio Firmino-Salah-Mane tidak lagi seakrab dulu. Banyak kabar yang menyebut bila mulai ada ketidakpercayaan yang menyelimuti tiga pemain andalan tersebut. Namun bila melihat fakta di lapangan, mereka memang terlihat kesulitan untuk mengobrak-abrik lini pertahanan lawan. Terlebih, nama Xherdan Shaqiri dan Divock Origi juga tidak bisa diharapkan.
Xherdan Shaqiri has told his agent that he wishes to leave Liverpool this summer. #awlfc [football insider] pic.twitter.com/ie7Yf9HeIA
— Anfield Watch (@AnfieldWatch) April 26, 2021
Walhasil, semua masalah yang dialami berkumpul menjadi satu dan telah membuat skuad Liverpool secara keseluruhan tampil di bawah standar.
🗣️ Jurgen Klopp on whether Liverpool had any new injuries or if any of his sidelined players are ready to return: “Nope, all the same.”#FFScout #FPL #GW34 #LiverpoolFC #LFC #FantasyPL pic.twitter.com/DWPTEWLf41
— Fantasy Football Scout (@FFScout) April 30, 2021
Kini, Jurgen Klopp dituntut untuk segera temukan solusi. Klopp harus segera melakukan sesuatu yang berbeda untuk kembali mengangkat performa timnya. Bila tidak, maka bukan tak mungkin bila kita akan melihat Liverpool kembali jatuh ke jurang keterpurukan.
Sumber referensi: idntimes, sportskeeda, the12thman
Mengapa Pemain Bola Dianjurkan Untuk Tidak Memiliki Tubuh Kekar?
Tidak seperti para atlet olahraga basket yang rata-rata berpostur tubuh tinggi besar, para pesepakbola mempunyai bentuk tubuh yang beragam. Ada yang kurus, berotot, tinggi, pendek, ramping dan bahkan gemuk. Memang tak ada aturan khusus yang mengatur tentang bentuk tubuh pesepakbola, akan tetapi untuk bermain di olahraga yang membutuhkan banyak gerak, tentu harus mempunyai tubuh yang ideal.
Lalu seperti apakah bentuk badan ideal pesepakbola ?
Menurut Richard Witzig, dalam bukunya yang berjudul “The Global Art of Soccer”, tubuh ideal untuk pesepakbola adalah yang memungkinkannya bisa bergerak cepat dan berlari.
Setiap pemain yang beraksi di atas lapangan memang dituntut memiliki pergerakan cepat. Karena dasar olahraga sepak bola (selain kiper) adalah berlari sprint. Untuk itu agar bisa bergerak cepat dan mudah berlari, para pemain harus memiliki bentuk tubuh yang ramping berisi atau proporsional.
Jadi kelebihan otot dan massa tubuh tidak begitu diperlukan karena bisa menghambat gerakan pesepakbola.
Beberapa pesepakbola top dunia yang mempunyai bentuk tubuh ramping namun berisi diantaranya adalah Cristiano Ronaldo, Neymar, Kylian Mbappe, dan Robert Lewandowski.
Bagaimana dengan pemain bertubuh kekar ?
Meski tak dianjurkan, banyak pesepakbola yang melakukan bulking, yakni kegiatan dalam olahraga fitness yang dilakukan untuk menambah massa otot pada tubuh. Dalam hal ini, pesepakbola biasanya menambah masa otot di bagian bahu, lengan, dan sayap.
Memang ada beberapa manfaat yang didapat ketika pesepakbola memutuskan untuk melakukan bulking.
Dari sisi strength, akan ada peningkatan yang signifikan bahkan besar, karena melatih otot-otot bagian ini memang akan berpengaruh terhadap endurance, tenaga, dan ketahanan fisik.
Sayangnya, otot-otot di area lengan dan sayap juga digunakan untuk berlari, bulking bisa menjadi masalah karena massa otot di area tersebut justru akan membebani tubuh pemain.
Hal itu tentu akan mempengaruhi kecepatan dan kelincahan si pemain. Mungkin secara fisik, ketahanan tubuh pemain semakin baik, namun para pemain bertubuh kekar tak akan selincah pemain bertubuh ramping.
Namun begitu, ada beberapa pemain bertubuh kekar tapi masih punya pergerakan yang luwes dan lincah. Sebut saja Diego Maradona, Wayne Rooney dan Xherdan Shaqiri. Para pemain tersebut mempunyai tubuh kekar berotot, Maradona dan Shaqiri bahkan bisa dikatakan bertubuh gempal, namun secara pergerakan tak kalah lincah dengan pemain bertubuh ramping.
Shaqiri dan Maradona terlihat kekar karena tubuh mereka tidak terlalu tinggi. Berbeda tentunya dengan para pemain seperti Romelu Lukaku atau Adebayo Akinfenwa yang memang memiliki postur tubuh tinggi besar bak raksasa.
Yang berbeda antara para pemain seperti Lukaku atau Akinfenwa dengan Shaqiri atau Maradona adalah soal proporsionalitas massa otot dan juga rampingnya otot kaki. Massa otot kaki menjadi salah satu poin penting selain massa otot tubuh bagian atas. Karena kaki merupakan tumpuan utama pesepakbola.
Maradona dan Rooney meskipun terlihat kekar tapi memiliki kaki-kaki yang ramping. Kaki ramping tersebut yang memudahkan pemain bergerak lincah dan luwes di atas lapangan. Hal ini yang membedakan mereka dengan Lukaku atau Akinfenwa.
Kesimpulannya, sah-sah saja bagi pesepakbola punya badan kekar walaupun sebenarnya tidak dianjurkan, karena semakin besar massa otot, semakin berat pula timbangan badan, yang artinya akan mengurangi fleksibilitas tubuh dan membatasi gerak persendian sehingga akan lebih susah untuk melekuk tubuh.
Sumber Referensi : Ligalaga, Quora, Sportsjoe, Hellosehat
Salah Tunjuk Pelatih, Parma Kembali Terdegradasi dari Serie A
Dahulu, Parma adalah sebuah kesebelasan yang sangat disegani. Rentetan trofi di era 90an hingga awal 2000an jadi bukti betapa kuatnya klub yang bermarkas di Stadion Ennio Tardini itu di masa lalu.
Pada medio 1990an hingga 2004, Parma mampu memenangi 8 trofi bergengsi, di antaranya 3 trofi Coppa Italia, 1 trofi Supercoppa Italiana, 1 Piala Winners, 1 Piala Super Eropa, dan 2 Piala UEFA di tahun 1995 dan 1999. Parma juga tercatat sebagai tim Italia tersukses keempat di kompetisi Eropa setelah AC Milan, Juventus, dan Inter Milan.
Parma’s Lilian Thuram, Roberto Mussi, Alain Boghossian and Fabio Cannavaro with the UEFA Cup trophy, 1999. pic.twitter.com/fDusOPnw3w
— 90s Football (@90sfootball) January 24, 2015
Lewat suntikan dana dari Parmalat sang pemilik klub saat itu, Parma mampu mendatangkan pemain-pemain hebat. Sebut saja Ginfranco Zola, Roberto Sensini, Lilian Thuram, Fabio Cannavaro, Juan Sebastian Veron, Thomas Brolin, Hidetoshi Nakata, Hernan Crespo, Adriano dan masih banyak lagi.
Dengan deretan pelatih dan pemain berkulitas yang menghiasi skuad Parma dan raihan trofi bergengsi yang mereka raih pada saat itu menjadikan Parma masuk dalam jajaran Il Sette Magnifico alias The Magnificient Seven. Julukan tersebut disematkan kepada 7 klub Italia yang selalu menguasai persaingan liga Italia, bahkan kompetisi Eropa.
Sayangnya, kejayaan Il Sette Magnifico yang beranggotakan AC Milan, Juventus, Inter Milan, Lazio, Roma, Fiorentina, dan Parma runtuh saat terkuaknya skandal calciopoli yang mengguncang sepak bola Italia di tahun 2006. Khusus Parma, keruntuhan klub berjuluk I Ducali itu telah dimulai di tahun 2004 saat Parmalat dinyatakan bangkrut pasca Calisto Tanzi, sang pemiliknya terlibat kasus penggelapan uang perusahaan.
Kedatangan pemilik baru, Tomasso Ghirardi di tahun 2006 sedikit memberi harapan kepada Parma. Sayangnya, utang besar yang harus ditanggung membuat Parma tak kuasa bertahan di Serie A hingga terdegradasi di musim 2007/2008. Meski langsung kembali promosi di musim berikutnya, kondisi Parma sudah jauh berbeda. Selama 7 tahun berikutnya, mereka hanyalah tim papan tengah yang hidup segan mati tak mau.
Akhirnya, puncak keruntuhan Parma terjadi di tahun 2015 saat klub tersebut dinyatakan pailit dan terpaksa terdegradasi ke Serie D, divisi empat liga Italia atau kasta paling rendah dalam kompetisi sepak bola Italia. Di masa memilukan itu, Parma bahkan harus menjual beberapa trofinya untuk membayar utang.
Singkat cerita, Parma diambil alih oleh beberapa pengusaha lokal. Mereka mulai membangun diri dari nol lagi di musim 2015/2016 dengan nama baru, Parma Calcio 1913. Dengan perjuangan heroiknya, hanya dalam waktu 3 tahun saja, I Ducali sudah mampu kembali ke Serie A di musim 2018/2019.
Lewat tangan dingin Robeto D’Aversa, Parma kembali membangun kekuatannya di Serie A. Di musim pertamanya kembali ke Serie A, Parma mampu bertahan di posisi 14 klasemen. Setahun berselang, performa I Ducali makin membaik dan berhasil finish di posisi 11. Harapan pendukung Parma membuncah kala di akhir musim, Parma diakuisisi oleh pengusaha kaya asal Amerika Serikat, Kyle J. Krause.
Today was a dream come true. Thank you #Parma for welcoming me, thank you @1913parmacalcio for accepting me.
Being your president is the privilege of a lifetime. #ForzaParma 💛💙 pic.twitter.com/4DXesTVjfB
— Kyle J. Krause (@Kyle_J_Krause) September 18, 2020
Sayangnya, investasi besar pemilik perusahaan induk Krause Group itu tak berbuah manis. Alih-alih bangkit dan kembali menapaki jalan kejayaan, para pendukung Parma mesti menelan pil pahit di akhir musim 2020/2021. Tak lama setelah Inter Milan memastikan diri sebagai juara Serie A musim ini di pekan 34, Parma dipastikan kembali terdegradasi dari kompetisi kasta tertinggi sepak bola Italia itu.
Kepastian terdegradasinya Parma juga terjadi di pekan ke-34. Dalam lanjutan giornata 34 Serie A 2020/2021, Parma tumbang 1-0 kala bertandang ke markas Torino. Gol tunggal Torino yang dicetak Mergim Vojvoda di menit ke-63 mengantar I Ducali itu turun kasta ke Serie B.
⏳ 𝔽𝕦𝕝𝕝-𝕋𝕚𝕞𝕖 ⏳#TorinoParma pic.twitter.com/Y2c66XtLgW
— Parma Calcio 1913 (@ParmaCalcio_en) May 3, 2021
Dari 34 pertandingan yang sudah digelar, Parma hanya sanggup mengumpulkan 20 poin saja. Gervinho dkk. hanya menang tiga kali dan sudah menelan kekalahan sebanyak 20 kali sepanjang musim ini. Hasil tersebut sangat kontras bila dibandingkan dengan pencapaian Parma musim lalu.
Di musim 2019/2020, Parma finish di posisi 11 klasemen dengan mengumpulkan 49 poin hasil 14 kali menang dan 7 kali imbang. Bahkan, di pertengahan musim, Parma sempat meramaikan persaingan di zona Liga Europa.
Apa yang dicapai Parma musim ini bisa dibilang tak wajar. Tidak seharusnya Parma terjerembab di zona degradasi. Sebab, sang pemilik baru, Kyle J. Krause yang membeli Parma dari tangan pengusaha Cina, Jiang Lizhang pada September 2020 itu dikenal sebagai orang yang gila bola. Hal itu juga ia buktikan dengan gerak cepatnya di bursa transfer pemain.
Dilansir dari transfermarkt, di bursa transfer musim panas lalu saja, Parma sudah menggelontorkan dana sebesar 79,71 juta euro untuk mendatangkan pemain baru, baik melalui skema pembelian, peminjaman, atau penebusan. Roberto Inglese (18 juta euro) dan Valentin Mihaila (8,5 juta euro) tercatat jadi pembelian termahalnya.
Sayangnya, pembelian mahal nan meyakinkan di awal musim tak dibarengi dengan penunjukan pelatih yang kompeten. Secara mengejutkan, pasca Kyle Krause menjadi presiden klub, Parma justru berpisah dengan Roberto D’Aversa. Tak dijelaskan secara pasti alasan pemecatan D’Aversa yang telah berjasa mengangkat I Ducali dari Serie C hingga promosi ke Serie A pada 2018 lalu.
Fatalnya, Parma justru menunjuk Fabio Liverani sebagi suksesor D’Aversa. Padahal, di musim sebelumnya, Liverani gagal mempertahankan posisi Lecce di Serie A. Keputusan kontroversial itu akhirnya berbuah petaka. Penampilan Parma menurun drastis dan kesulitan mencetak gol ke gawang lawan.
Liverani akhirnya dipecat di awal Januari lalu setelah hanya bertahan selama 16 pekan. Dalam 16 giornata, Parma cuma menang sekali, imbang enam kali, dan menelan 8 kekalahan. Mereka hanya sanggup mengumpulkan 12 poin di paruh pertama dan terjerembab di zona degradasi.
Statistik para pemain Parma di bawah asuhan Liverani juga memprihatinkan. Mereka cuma menghasilkan 13 gol (0,81 gol perlaga) dan sudah kebobolan 31 gol (1,94 gol perlaga) hanya dalam 16 pertandingan. Catatan buruk itulah yang meyakinkan manajemen untuk sesegera mungkin memecat Liverani.
Parma are considering Roberto D’Aversa’s future after a series of poor results in Serie A (1 draw & 5 losses, 19th on the table). D’Aversa just signed for the Ducali on 7 Jan 2021, replacing Fabio Liverani. #RobertoDAversa #Parma #SerieATIM pic.twitter.com/dKzJsIhjK1
— The Counter Attack (@TheCounterAtta3) February 16, 2021
Anehnya, pasca dipecatnya Liverani, Parma justru kembali menunjuk Roberto D’Aversa sebagai pelatih mereka. Tak ingin kembali menyesal, manajemen Parma juga berhati-hati di bursa transfer Januari. Mereka hanya mengeluarkan dana sebesar 14,8 juta euro saja. Mayoritas dana tersebut juga untuk menebus seorang winger baru, Dennis Man seharga 13 juta euro.
Selain itu, Parma juga mendatangkan pemain berpengalaman, baik melalui skema pembelian gratis maupun peminjaman. Graziano Pelle, mantan striker Italia di Euro 2016 didatangkan untuk menambah daya gedor. Sementara di lini belakang, Parma mendatangkan 4 bek anyar, di antaranya Andrea Conti dari Milan dan Mattia Bani dari Genoa.
Hasilnya, di bawah asuhan D’Aversa, Parma tampil lebih menjanjikan. Tumpulnya lini depan yang jadi masalah akut di bawah Liverani mampu dibenahi sedikit demi sedikit oleh D’Aversa. Produktivitas gol mereka naik. Dari 18 pertandingan, Gervinho dkk. berhasil menghasilkan 23 gol (1,3 gol perlaga).
Namun, hingga pekan 34 kemarin, D’Aversa masih gagal membenahi lini belakang Parma. Sudah jadi rahasia umum bila ingin lepas dari zona degradasi, tim wajib memperbaiki pertahanan. Sayangnya, meski sudah dibenahi D’Aversa, pertahanan Parma yang dikomandoi Bruno Alves masih mudah ditembus.
Pada akhirnya, pergantian pelatih dari Liverani ke D’Aversa sepertinya sudah terlambat. Dalam 18 giornata yang sudah dijalani, gawang Parma malah kebobolan 40 gol (2,2 gol perlaga). Meski mampu mencetak lebih banyak gol, I Ducali hanya sanggup meraih 1 kemenangan, 5 kali imbang, dan sudah menelan 12 kekalahan. Tambahan 8 poin yang didapat jelas kurang untuk mengangkat posisi Parma dari peringkat 19 klasemen.
Parma relegated to Serie B. Only 1 win in their last 25 (2-0 v Roma). Never enough. pic.twitter.com/Y38GyPp9pw
— Adriano Del Monte (@adriandelmonte) May 3, 2021
Kini, Parma harus kembali menelan pil pahit. Terdegradasi dari Serie A musim ini bukanlah yang pertama kali untuk Parma. Sejak merasakan kompetisi Serie A untuk pertama kalinya pada 1990, ini adalah kali ketiga Parma terdegradasi ke Serie B. Mereka akhirnya jadi tim kedua setelah Crotone yang terdegradasi dari Serie A musim ini.
2014/15 – #Parma are relegated from Serie A to Serie B for the first time since 2014/15. Fall.#TorinoParma pic.twitter.com/dCfNjvnZaG
— OptaPaolo (@OptaPaolo) May 3, 2021
“Kami kurang karisma dan tekad, bukan hanya di satu pertandingan, tapi di seluruh musim. Maaf, setelah empat tahun bekerja, sayangnya kami kembali ke divisi yang bukan bagian dari kota dan tim seperti Parma,” ujar Roberto D’Aversa dikutip dari football-italia.net (3/5).
Senada dengan D’Aversa, sang pemilik klub, Kyle Krause juga menyatakan bahwa Parma tak seharusnya turun kasta dan pantas untuk berada di Serie A. Namun, ia yakin dengan masa depan Parma.
“Klub sedang menyusun dirinya untuk menjadi klub penting. Masa depan akan cerah, tapi kami sangat menyesali hal ini. Terdegradasi tidak baik untuk Parma yang layak mendapatkan Serie A.” kata Kyle Krause dikutip dari football-italia.net (3/5).
Langkah perbaikan memang sedang dilakukan sang presiden. Seminggu sebelum dipastikan terdegradasi, Kyle Krause sudah menyiapkan antisipasi terburuknya dengan menunjuk 2 managing director baru, yakni Jaap Kalma dan Javier Ribalta. Kalma akan bekerja di sektor perusahaan, sementara Ribalta bertugas di sektor olahraga.
Javier #Ribalta, Parma’s new Managing Director – Sport, began his role this morning ✅
His initial thoughts ➡️ https://t.co/qxvdbZlKcq#ForzaParma 🟡🔵 pic.twitter.com/MT3rcoJ7x1
— Parma Calcio 1913 (@ParmaCalcio_en) April 19, 2021
Khusus Ribalta, ia adalah orang yang sudah malang melintang di berbagai klub. Ribalta adalah mantan pencari bakat Torino dan Milan, serta mantan kepala pencari bakat Novara, Juventus, dan Manchester United. Sebelum bekerja untuk Parma, Ribalta adalah direktur olaharga Zenit St. Petersburg.
Dengan perubahan positif di balik layar dan masih bertahannya investasi Krause Group di Parma, bukan tak mungkin mereka akan segera kembali ke Serie A musim depan. Syaratnya, Parma tak boleh kembali membuat kesalahan yang sama dengan asal-asalan menunjuk pelatih. Semoga lekas promosi kembali Parma!
***
Sumber Referensi: Goal, Football Italia, Parma Calcio, Tirto, AP News
Bidone D’oro, Penghargaan Pemain Terburuk Serie A & Siapa Saja Pemain Yang Pernah Mendapatkannya
Jika biasanya sebuah penghargaan diberikan kepada yang terbaik, seperti pemain terbaik, pencetak gol terbanyak, pelatih terbaik dan lainnya, namun di Italia ada sebuah penghargaan yang justru diberikan kepada pemain terburuk.
Gelar tersebut bernama Bidone D’Oro atau Golden Bin, sebuah penghargaan yang diberikan kepada pemain paling mengecewakan di Serie A. Meski faktanya award ini merujuk kepada pemain bintang yang dianggap gagal.
Gelar yang merupakan plesetan dari Ballon d’Or ini juga sering disebut dengan istilah ‘Sampah Emas’ atau ‘Keranjang Sampah Emas’.
Trofi Bidone D’Oro mulai dikenalkan pada tahun 2003 dan dipelopori oleh radio Italia, Catersport Radio 2. Pemenangnya akan dipilih melalui pemungutan suara oleh pendengar acara Catersport di Rai Radio 2. Dan, diumumkan pada setiap akhir tahun kalender.
Bintang asal Brasil, Rivaldo, menjadi orang pertama yang meraih Bidone d’oro pada 2003 ketika membela AC Milan. Sejak saat itu, sejumlah pemain mendapatkan penghargaan serupa. Alasan utamanya adalah performa yang tidak sesuai ekspektasi.
Rivaldo sendiri menerima penghargaan tersebut karena tampil buruk bersama Milan. Padahal, status Rivaldo adalah pemenang piala dunia bersama Brasil serta masuk ke dalam tim terbaik turnamen tersebut.
Petinggi AC Milan kala itu, Silvio Berlusconi bahkan mengatakan tidak ada pemain lain yang sebaik Rivaldo. Namun, pada kenyataannya, pemain 30 tahun tersebut gagal bersaing dengan Rui Costa, Clarence Seedorf, Jon Dahl Tomasson dan beberapa pemain lainnya.
Sepanjang berkarir di Milan selama 18 bulan, Rivaldo hanya mencetak 8 gol serta membuat 6 assist dari 40 penampilan. Meskipun berhasil mempersembahkan trofi Liga Champions, itu tidak menghentikan pihak Catersport untuk memberikan trofi Bidone D’oro kepada Rivaldo.
Pemain selanjutnya yang merengkuh trofi Bidone D’oro adalah Nicola Legrottaglie dari Juventus. Bek tengah itu didatangkan Juventus pada tahun 2003. Si Nyonya Tua kepincut penampilan Legrottaglie bersama Chievo Verona. Legrottaglie sempat moncer pada awal karirnya bersama Juventus karena mencetak gol pada laga keduanya di Bianconeri. Akan tetapi kemudian performanya tidak semanis di awal, di mana ia banyak melakukan blunder, salah satunya saat Juventus kalah dari Fiorentina dengan skor 0-2 dalam laga krusial.
Pada tahun 2005, giliran Christian Vieri yang meraih trofi Bidone D’oro. Vieri memang tampil mengecewakan kala merumput di Inter dan AC Milan. Musim 2004/05, Vieri yang masih membela Inter,mencetak 13 gol dari 27 laga, namun setelah ditransfer ke Milan di musim panas 2005, performa Vieri makin mengecewakan. Vieri hanya memperkuat Milan selama setengah musim dengan mencetak 2 gol dari total 14 penampilan. Ia kemudian langsung pindah dan bergabung ke AS Monaco setengah musim selanjutnya.
Pemain bintang selanjutnya yang menjadi korban Bidone D’Oro adalah Adriano. Bomber Inter tersebut mengejutkan banyak pihak ketika menerima penghargaan tersebut pada 2006. Pasalnya, semusim sebelumnya, Adriano sedang berada di puncak karirnya dengan sukses menceploskan 42 gol di semua kompetisi. Namun, karir Adriano berubah akibat sikap buruknya di luar lapangan. Ia kedapatan sering berpesta sampai larut malam hingga mempengaruhi performanya di atas lapangan.
Pada tahun 2007, Adriano kembali mempertahankan gelar tersebut. Meski timnya, Inter Milan juara Serie A musim 2006/07, tapi tidak banyak kontribusi dari Adriano. Pada tahun tersebut, Adriano juga pernah absen dari latihan karena merayakan ulang tahunnya sampai pagi. Pada November 2007, I Nerrazurri memberlakukan unpaid leave kepada Adriano karena sering cedera dan meminjamkannya ke Sao Paulo.
Inter Milan lagi-lagi menyumbang pemainnya meraih trofi Bidone D’oro. Kali ini adalah Ricardo Quaresma pada 2008. Pemain Portugal itu diboyong Inter dari FC Porto pada bursa transfer musim panas 2008. Selain karena kurang disiplin, di bawah asuhan Jose Mourinho, penampilan Quaresma juga tidak sebagus seperti saat di Porto. Pada tahun itu, Quaresma mendapatkan waktu unjuk gigi di Serie A sebanyak 13 pertandingan. Quaresma yang tampil buruk terpaksa dipinjamkan ke Chelsea pada januari 2009.
Setelah Quaresma, peraih penghargaan Bidone D’oro tahun berikutnya adalah Felipe Melo. Gelandang bertahan Brazil ini didatangkan Juventus dari Fiorentina dengan nominal 25 juta euro. Melo sebenarnya tidak bermain buruk-buruk amat bersama Juventus. Bahkan, Melo menjadi salah satu gelandang terbaik yang dimiliki Bianconeri di musim itu. Namun, karena penghargaan ini berdasarkan voting pendengar radio, penilaian performa pemain tak selalu jadi bahan pertimbangan.
Kemungkinan besar alasan Melo mendapatkan penghargaan ini adalah karena ia menyikut dengan kasar kepada Mario Balotelli dalam kemenangan 2-1 melawan Inter Milan.
Setelah Melo, pemain selanjutnya yang mendapatkan Bidone D’oro adalah Adriano. Ini merupakan gelar ketiga bagi penyerang asal Brasil tersebut. Setelah sebelumnya bersama Inter Milan, Adriano meraihnya lagi saat berseragam AS Roma. Setelah sempat membela Flamengo, karir Adriano di AS Roma tidak berjalan mulus. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di ruang perawatan. Alhasil, Adriano hanya tampil dalam lima laga di Serie A, tak mengherankan jika ia kembali dianugerahi Bidone D’oro.
Pemain berikutnya peraih Bidone D’oro adalah Diego Milito. Pasca membawa Inter Milan meraih treble winners tahun 2010, Milito harus menerima kenyataan pahit karena dianugrahi Bidone D’oro pada 2011. Padahal di musim 2009/10, Milito berhasil mengemas 30 gol dalam 52 pertandingan. Bahkan, ia juga menjadi penentu pada setiap laga yang menghasilkan gelar bagi Inter.
Sayangnya, badai cedera yang menimpanya pada 2011 membuat performa Milito merosot tajam. Sang bomber hanya mengemas delapan gol plus sembilan assist dari 34 laga. Tak heran, karena perbedaan kinerja yang mencolok, Milito terpilih memenangi Bidone d’oro.
Lalu, setelah Milito, gelar Bidone D’oro kembali menghinggapi pemain Brasil, yakni Alexandre Pato. Pato, yang sebelumnya digadang-gadang bakal jadi bintang besar meraih gelar ini pada tahun 2012 ketika berseragam AC Milan, ternyata hanya tampil 4 kali di liga domestik tanpa mencetak gol sekali pun. Pada akhirnya ia pulang kampung ke Corinthians pada tahun 2013.
Setelah Pato, perjalanan trofi Bidone D’oro berakhir, karena acara Catersport berhenti mengudara pada 2012.
Sumber Referensi : Peluitpanjang, Kaskus, Footballnews
Petaka Arsenal ketika Memutuskan pindah kandang ke Wembley
Arsenal merupakan salah satu tim terbaik di ranah Inggris. Bisa dikatakan, Arsenal tim terbaik asal kota London setelah Chelsea. Hal itu merujuk kepada sejumlah prestasi yang pernah ditorehkan klub berjuluk The Gunners tersebut dalam sejarah persepakbolaan Inggris.
Trofi terakhir yang direbut oleh Arsenal adalah ajang Community Shield 2020. Ketika itu, dalam laga yang digelar pada 29 Agustus 2020, tim asuhan Mikel Arteta itu mengalahkan Liverpool dengan skor 5-4 lewat adu penalti, setelah dalam waktu normal bermain imbang 1-1. Kemenangan atas Liverpool tercipta di stadion Wembley, stadion terbesar di kota London dan tentunya termegah di negeri ratu Elizabeth.
Bicara tentang stadion Wembley, stadion berkapasitas 90 ribu penonton itu punya sejarah tersendiri bagi Arsenal. Boleh percaya boleh tidak, Stadion Wembley seakan berpihak pada Arsenal tiap kali bertanding di stadion nasional Inggris tersebut.
Saat bermain di Wembley, Arsenal memang lebih sering memenangkan pertandingan. Tercatat, dari 58 kali tampil, The Gunners menang (30) kali dan alami kekalahan (20). Arsenal juga meraih cukup banyak trofi di stadion ini. Termasuk trofi Piala FA musim 2019/20.
Karenanya, sempat muncul ungkapan “Jangan biarkan Arsenal ke Wembley”
Namun, meski cukup sering membuat Arsenal menang, stadion Wembley nyatanya juga pernah memberikan kenangan pahit untuk Arsenal.
Seperti yang terjadi pada 24 juli 1998, the gunners mendapat izin pemakaian Stadion Wembley dari FA untuk bertanding di Liga Champions. Kubu tim yang dilatih oleh Arsene Wenger itu ingin mereka bisa bertanding dengan jumlah penonton lebih banyak. Pasalnya, stadion utama mereka saat itu, yakni Highbury berkapasitas lebih kecil dari Wembley.
Dengan kapasitas mencapai 70 ribu tempat duduk pada saat itu (dua kali lipat dari kapasitas stadion Highbury), Arsenal merasa bahwa bertanding di Liga Champions di Wembley akan memberikan banyak keuntungan. Selain kapasitas yang jauh lebih besar, letak Stadion Wembley yang masih di kota London pun menjadi alasan.
“Jika pertandingan digelar di Highbury, lebih dari enam ribu pemegang tiket musiman, sponsor, dan kelompok khusus bakal direlokasi ke bagian lain stadion. Artinya akan ada ribuan suporter Arsenal yang tidak bisa ke stadion,” demikian pernyataan Arsenal saat itu.
Juru taktik Arsenal Arsene Wenger memang mendukung pindahnya markas untuk laga Liga Champions, akan tetapi sang arsitek juga mewanti-wanti akan ada resiko dari keputusan ini. “Kita bisa menjadi kurang nyaman di Wembley. Tapi ini adalah ajang besar yang akan dimainkan di sana. Kami akan mendapatkan dukungan yang lebih besar juga,” ujar Wenger.
Namun, keputusan Arsenal memakai stadion Wembley ternyata berujung pahit. Kekhawatiran Wenger seakan menjadi kenyataan. Meski mendapat dukungan penuh dari fans, Arsenal tersungkur di kompetisi antarklub eropa tersebut. Performa mereka selama main di Wembley tidak sesuai dengan harapan.
Sepanjang Liga Champions musim 1998/99, Arsenal menjalani tiga partai kandang di Wembley. Dari tiga laga yang dimainkan, The Gunners hanya mampu sekali menang (2-1 vs Panathinaikos), sekali seri (1-1 vs Dynamo Kyiv), dan sekali kalah (0-1 vs Lens). Hasil kurang baik itulah yang menjadikan Arsenal, tahun itu, hanya mampu bertengger di posisi 3 klasemen grup E. Di bawah Dynamo Kyiv dan Lens.
Tercatat, stadion Wembley menjadi markas Arsenal selama dua musim di ajang Liga Champions. Setelah musim 1998/99, mereka memakainya kembali musim 1999/00, hasil yang sama pun didapatkan seperti musim sebelumnya, satu menang, satu kali imbang, dan sekali kalah, mereka pun terhenti di fase grup B, di bawah Barcelona dan Fiorentina.
Pada 2000, Stadion Wembley tidak bisa digunakan karena dalam persiapan pemugaran. Arsenal pun harus kembali bermain di Highbury untuk laga Liga Champions. Hasilnya lumayan bagus. Arsenal mencatat hasil tidak pernah kalah saat tampil di Highbury. Mereka lolos dari fase penyisihan grup, meski akhirnya tersingkir di perempat final oleh Valencia setelah kalah lewat aturan gol tandang.
Sumber Referensi : Panditfootball, Bolaskor, Beritayahoo
