Liverpool, Riwayatmu Kini! Magis Juara Tahun Lalu Berubah Bobroknya Musim Ini

  • Whatsapp
Liverpool Riwayatmu Kini Magis Juara Tahun Lalu Berubah Bobroknya Musim Ini
Liverpool Riwayatmu Kini Magis Juara Tahun Lalu Berubah Bobroknya Musim Ini

Betapa bahagianya para penggemar Liverpool, setelah tepat pada 22 Juli tahun lalu, The Reds berhasil memastikan diri sebagai juara di kompetisi Liga Primer Inggris. Kapten Jordan Henderson tampak gagah ketika diminta untuk mengangkat piala kebesaran kompetisi Inggris. Semua telah usai. Penantian selama kurang lebih 30 tahun telah terbayar dengan senyum merekah di atas panggung juara.

Di musim tersebut, Liverpool sukses menjadi salah satu jawara terbaik sepanjang gelaran Liga Primer Inggris, dengan koleksi 99 poin. Sepanjang perjalanannya, yang dimulai sejak kedatangan Jurgen Klopp, Liverpool bahkan sukses menjadikan markas mereka, Anfield, sebagai lapangan yang tak ramah dengan para lawan.

Bacaan Lainnya

Tercatat, dari 2017 sampai tahun 2020, Liverpool berhasil melewati sebanyak 68 pertandingan di kandang tanpa tersentuh satu pun kekalahan.

Sayangnya, pada musim ini, Liverpool harus mengalami nasib kurang beruntung. Mereka menjadi juara bertahan dengan performa buruk, persis seperti apa yang dialami Chelsea pada musim 2015/16 dan Leicester City musim 2016/17.

Bila menarik sedikit ke belakang, tepat setelah mereka alami kekalahan 0-2 dari Everton, Liverpool sudah menunjukkan tanda-tanda yang tidak beres. Dari laga tersebut, atau setelah Liga Inggris berjalan sebanyak 25 pertandingan, Liverpool sudah mengalami empat kekalahan secara beruntun. Bila dibandingkan dengan musim sebelumnya, maka catatan Liverpool di musim ini terbilang terjun bebas.

Sepanjang 25 pertandingan yang dijalani musim ini, Liverpool hanya mampu meraih 11 kemenangan dan 7 hasil imbang, dengan raihan 40 poin. Sementara musim lalu, Liverpool berhasil meraih 24 kemenangan dan hanya catatkan satu hasil imbang, dari 25 pertandingan. Poin yang didapat pun mencapai angka 73 poin.

Jumlah kebobolan dalam periode yang sama juga terpaut sangat jauh. Dalam 25 pertandingan musim ini, Liverpool sudah kebobolan sebanyak 34 kali. Sementara musim lalu, tercatat hanya ada 15 gol yang bersarang di gawang Alisson Becker. Selain itu, Liverpool hanya bisa mencetak sebanyak 45 gol. Berbeda dengan musim lalu yang jumlahnya sebanyak 60 gol.

Musim ini, Liverpool sudah terlempar dari kompetisi Liga Champions dan kompetisi domestik lainnya. Bila musim ini mereka gagal tempati posisi empat besar, lantas apa yang bisa diharapkan musim depan?

Apa yang dialami Liverpool musim ini tentu disadari betul oleh Jurgen Klopp. Pelatih asal Jerman tersebut mengakui bila Liverpool tengah mengalami penurunan performa. Sampai saat ini, dia masih terus berjuang untuk mengembalikan performa Liverpool ke puncak. Tugas Klopp terbilang sangat berat, mengingat banyak sekali pemain Liverpool yang mengalami penurunan performa, termasuk dua andalannya, Mohamed Salah dan juga Sadio Mane.

Penurunan performa Liverpool sejauh ini sejatinya sudah bisa terlihat sejak dua musim lalu. Namun karena kecerdasan dari setiap pemain, Liverpool bisa bertahan. Mereka tetap mampu memenangkan pertandingan dan berhasil mengungguli lawan dengan permainan sempurna.

Akan tetapi, tetap ada celah yang membuat Liverpool kewalahan. Dalam sejumlah pertandingan, mereka harus susah payah mencetak gol hingga mengakhiri pertandingan dengan kemenangan.

Pada musim 2018/19, mereka harus kesusahan ketika bertanding melawan Chelsea. Mereka kalah dari Manchester City dan hanya mampu menang tipis melawan Crystal Palace melalui pertempuran tujuh gol. Selain itu, mereka juga harus menunggu sampai menit-menit akhir untuk memastikan kemenangan di laga melawan tim seperti Fulham, Tottenham, Southampton, dan Newcastle.

Lalu pada musim berikutnya, mereka kewalahan ketika harus menghadapi Manchester City dan juga Chelsea. Kemudian, Liverpool kembali harus menunggu hingga menit akhir pertandingan untuk memastikan kemenangan di laga melawan Leicester City, Manchester United, Tottenham, Crystal Palace, dan West Ham.

Banyak pemerhati yang menyebut bila Klopp terlalu memaksakan permainan Liverpool, hingga membuat para pemain kewalahan sendiri. Seperti diketahui, Klopp selalu memainkan sistem permainan dengan intensitas tinggi. Terlebih, Klopp kerap tampak ragu ketika harus merotasi pemainnya. Dia selalu meminta para pemain yang memang sudah terlalu diandalkan, untuk menekan lawan.

Meski hasilnya luar biasa, hal tersebut juga memiliki dampak yang tak kalah buruk. Hal ini lantas dianggap sebagai penyebab banyaknya pemain Liverpool yang mengalami cedera.

Ya, pada akhirnya, cedera memang disebut sebagai masalah terbesar yang dihadapi Liverpool musim ini. Banyak pemain bintang yang tersandung masalah ini hingga membuat kekuatan mereka pincang.

Di pekan kelima Liga Inggris, Liverpool harus kehilangan Virgil van Dijk akibat mengalami cedera parah di laga melawan Everton. Pertandingan yang berkesudahan dengan skor 2-2 itu memunculkan van Dijk sebagai pemain yang harus beristirahat lama karena mengalami cedera ACL.

Sejak saat itu, badai cedera mulai menyerang Liverpool. Usai Van Dijk menepi, giliran Joe Gomez dan Joel Matip yang juga turut dibekap cedera. Mereka harus beristirahat dalam waktu yang lama dan benar-benar membuat Klopp harus memutar otak lebih cepat. Saking krisisnya bek yang dialami Liverpool, Klopp bahkan sampai menempatkan bek muda macam Nathaniel Phillips untuk mengisi kekosongan.

Tidak hanya itu, pemain seperti Fabinho dan juga Jordan Henderson juga sempat diminta untuk menjadi bek. Tercatat, Klopp telah menggunakan setidaknya 18 pasangan bek tengah yang berbeda musim ini. Hal itu lantas memaksa Klopp untuk membeli bek baru. Akhirnya, pemain seperti Ozan Kabak dan Ben Davies didatangkan sebagai solusi.

Masalah Klopp soal banyaknya pemain yang absen masih berlanjut setelah Mo Salah dan Sadio Mane sempat melewatkan beberapa pertandingan karena virus menular dan beberapa kali cedera. Lalu, duo Liverpool asal Brazil, Allison dan Fabiano juga melewatkan beberapa pertandingan karena cedera. Yang tak kalah krusial, dua pemain sayap andalan Trent Alexander Arnold dan Andy Robertson juga absen dalam beberapa pertandingan karena cedera.

Jangan lupakan pula pemain anyar mereka, Diogo Jota, yang juga sempat menderita cedera jangka panjang.

Masalah cedera bukan satu-satunya yang menjadi penyebab menurunnya performa Liverpool. Seperti yang sempat dijelaskan, penurunan performa para pemain juga memiliki andil besar dalam anjloknya penampilan The Reds.

Musim ini, selain lini belakang yang mudah dieksploitasi lawan hingga dilakukannya banyak perubahan, lini serang Liverpool juga terlihat tak seperti biasanya. Trio Firmino-Salah-Mane tidak lagi seakrab dulu. Banyak kabar yang menyebut bila mulai ada ketidakpercayaan yang menyelimuti tiga pemain andalan tersebut. Namun bila melihat fakta di lapangan, mereka memang terlihat kesulitan untuk mengobrak-abrik lini pertahanan lawan. Terlebih, nama Xherdan Shaqiri dan Divock Origi juga tidak bisa diharapkan.

Walhasil, semua masalah yang dialami berkumpul menjadi satu dan telah membuat skuad Liverpool secara keseluruhan tampil di bawah standar.

Kini, Jurgen Klopp dituntut untuk segera temukan solusi. Klopp harus segera melakukan sesuatu yang berbeda untuk kembali mengangkat performa timnya. Bila tidak, maka bukan tak mungkin bila kita akan melihat Liverpool kembali jatuh ke jurang keterpurukan.

 

Sumber referensi: idntimes, sportskeeda, the12thman

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *