Beranda blog Halaman 708

Mengenal Lebih Jauh Peran Gelandang Pengangkut Air

Dalam sepakbola, setiap pemain punya posisi dan perannya masing-masing. Salah satunya adalah peran gelandang pengangkut air. 

Footballovers pasti sering mendengar istilah tersebut. Namun, bagaimana sih tugas dari seorang pemain yang berperan sebagai gelandang pengangkut air? Apa tugasnya itu cuma bawa-bawa air. 😁

Istilah gelandang pengangkut air di sepak bola Indonesia dipopulerkan oleh komentator Liga Indonesia, Rendra Soedjono. Rendra mengatakan ‘gelandang pengangkut air’ untuk menyebut posisi seorang pemain Persib Bandung bernama Hariono. Sejak saat itu, istilah gelandang pengangkut air menjadi sangat populer digunakan oleh komentator bola lainnya dari level Nasional sampai Tarkam.

Pada sepak bola internasional, istilah gelandang pengangkut air pertama kali dicetuskan oleh legenda Manchester United, Eric Cantona pada tahun 1996, saat tim yang dibelanya Manchester United akan menghadapi Juventus di fase grup C Liga Champions. Istilah tersebut ditujukan pada Didier Deschamps yang berperan sangat konsisten sebagai gelandang bertahan pada era 90-an. 

“Dia adalah seorang pemain yang berhasil, karena selalu memberikan seluruh kemampuannya di lapangan, tapi dia hanyalah seorang pengangkut air, dan akan tetap seperti itu, tidak lebih.” ucap Cantona.

Kemampuan Deschamps memang terbilang biasa-biasa saja. Namun, jika dicermati lebih dalam, dia adalah tipe pemain yang ulet, punya mobilitas tinggi dan mau bekerja untuk tim. 

Ia orang pertama yang akan merusak irama lawan saat ditekan, pemain yang akan mematikan lawan yang berada di dekatnya, dan juga menjadi poros permainan saat mengalirkan bola. 

Gelandang pengangkut air identik dengan posisi gelandang bertahan. Deschamps dan Hariono adalah dua dari sekian banyak pemain yang berposisi sebagai gelandang bertahan. 

Selama ini, sosok gelandang bertahan acapkali tidak terlalu diperhitungkan. Publik lebih mengapresiasi peran pemain yang bermain di lini serang. Namun begitu, keberadaan gelandang bertahan tak bisa diremehkan. Karena sebenarnya, perannya sangat vital bagi permainan sebuah tim. 

Posisi gelandang bertahan di era sepakbola modern kini sudah berevolusi, baik dari segi taktik maupun fungsi, sedikit banyak berkat jasa dari pemain-pemain seperti Michael Carrick, Esteban Cambiasso, Claude Makelele, Andrea Pirlo, Sergio Busquets dan beberapa pemain lainnya.

Dalam sepakbola klasik, fungsi utama gelandang pengangkut air adalah merampas bola dari kaki lawan, kemudian secara cepat menyalurkannya ke pemain yang berada di belakang, depan, atau sampingnya, yang memiliki kemampuan lebih baik dari si ‘pengangkut air’.

Segala cara dihalalkan dalam merebut bola, termasuk melakukan tekel-tekel horor dan kontak fisik kasar. Hal seperti ini bisa kita lihat dari Gennaro Gattuso saat masih aktif bermain. Gattuso kerap kali merebut bola dari lawan untuk kemudian memberikan bola kepada rekannya, dan biasanya Andrea Pirlo yang sering menerima umpan dari Gattuso tersebut.

Berbeda halnya dengan dulu, di era sekarang, tugas seorang gelandang bertahan atau gelandang pengangkut air tidak melulu hanya menjadi seorang destroyer atau gelandang perusak, ia juga menjadi inisiator serangan sekaligus metronom yaitu pengatur tempo/ritme permainan. Seperti yang diperankan oleh Toni Kroos, baik di tim nasional Jerman maupun di Real Madrid.

Terlebih lagi, zaman sekarang kebanyakan pelatih lebih membutuhkan gelandang bertahan yang mampu menginisiasi serangan, tak sekadar jago aksi defensif. Holding midfielder, begitu sebutannya. Sergio Busquets, Casemiro, Fernandinho, dan Marcelo Brozovic bisa digolongkan dalam daftar ini.

Gelandang pengangkut air biasanya memang tidak membutuhkan skill dan teknik luar biasa dalam melakoni perannya. Akan tetapi, gelandang pengangkut air harus memiliki stamina yang bagus, konsentrasi tinggi, tackling bersih, operan akurat dan tentunya mampu membaca transisi permainan dengan cepat. Seorang gelandang pengangkut air yang baik akan memberi jaminan kuatnya pertahanan hingga dapat membuat pemain penyerang dapat bermain dengan tenang.

Meski, seorang gelandang bertahan seringkali diidentikkan dengan badan tinggi besar dan fisik yang kuat layaknya Patrick Vieira. Namun hal itu tidak selamanya demikian. Karena pemain seperti Gennaro Gattuso, Javier Mascherano dan N’golo Kante bisa dikatakan memiliki postur tubuh kecil namun fisiknya kuat.

Sayangnya, peran gelandang pengangkut air jarang terekspos. Padahal mereka dituntut untuk terus berlari, mempunyai pergerakan tinggi,  menguasai setiap sisi lapangan, kuat, keras, bertenaga kuda, dan dapat menjaga keseimbangan antara menyerang dan bertahan.

Bisa kita simpulkan, alasan kenapa gelandang bertahan juga disebut sebagai gelandang pengangkut air, karena tugas mereka memang serupa dengan pengangkut air. 

Yang bertugas menjemput bola dari pertahanan, untuk kemudian mengatur pendistribusiannya ke segala arah permainan baik ke belakang, samping atau ke depan. Mirip dengan seorang pengangkut air, yang pekerjaannya mengantarkan air untuk orang-orang kelas atas jaman dulu.

Dan seperti prajurit dalam sebuah pleton yang tugasnya membawa air untuk pemain lain, guna menenangkan para prajurit garda depan di tengah medan perang, mungkin begitulah perumpamaan yang dimaksud Eric Cantona dengan memberi julukan “water carrier” kepada Deschamps.

Hal istimewa yang dapat kita petik dari seorang gelandang pengangkut air adalah karakter mereka yang jauh dari egoisme. Mereka ada untuk menjaga keselarasan dalam tim. Mereka juga tidak akan memaksa diri agar tampil menonjol, karena memang pada dasarnya mereka bermain untuk mendukung rekan satu timnya, bukan untuk dirinya sendiri.

 

Sumber referensi : Theflanker, quora, kompasiana, panditfootball

Bagaimana Romelu Lukaku Menjadi Pemain Yang Menginspirasi Inter Raih Scudetto?

Pada Agustus 2019 lalu, para penggemar Inter banyak yang mengkritik keputusan Antonio Conte dalam merekrut penyerang Romelu Lukaku. Sejatinya, hal tersebut terasa wajar. Inter ketika itu masih memiliki Mauro Icardi di lini depan. Penyerang asal Argentina itu punya rapor yang terbilang baik ketika membela Inter Milan. Dia tajam dan selalu menjadi andalan di lini serang dalam beberapa musim ke belakang.

Disisi lain, Romelu Lukaku yang didatangkan Antonio Conte dari Manchester United seharga 80 juta euro dan menjadi rekor klub, cuma mampu mengemas sebanyak 15 gol saja dalam 45 kesempatan yang dijalani. Jelas hal tersebut memberi kekhawatiran tersendiri kepada berbagai pihak.

Namun Antonio Conte tentu tidak asal-asalan dalam membeli pemain. Dia sudah punya perhitungan matang untuk mendatangkan penyerang asal Belgia itu. Conte sudah sangat lama mengamati Lukaku, bahkan ketika dia masih tercatat sebagai pelatih Chelsea.

Ya, pada tahun 2016 silam, Conte begitu ngotot ingin mendatangkan Romelu Lukaku. Sayangnya, manajemen the Blues tidak bisa memenuhi itu. Beruntung, di tahun 2019 lalu, dia punya kesempatan kedua dan berhasil mewujudkan mimpinya untuk bisa bekerja sama dengan Romelu Lukaku.

Seperti yang sudah disinggung, Conte memang tak asal-asalan dalam mendatangkan Romelu Lukaku. Meski sang pemain tampil loyo di Old Trafford, dia langsung nyetel dengan sistem yang diterapkan oleh pelatih asal Italia tersebut.

Disinilah, awal dari kontribusi besar Romelu Lukaku atas bangkitnya kejayaan Inter di persepakbolaan Italia.

Tanpa keraguan sedikitpun, Conte langsung memplot Lukaku sebagai penyerang Inter Milan, dengan menyingkirkan nama Mauro Icardi yang dilego ke Paris Saint Germain. Sepanjang tahun 2019 sejak bergabung dengan La Beneamata, Lukaku langsung mampu kejutkan banyak pihak.

Sebetulnya, ini bukan merupakan kejutan. Pasalnya, seperti yang dikatakan Conte, Lukaku memang punya kemampuan superior. Empat bulan pertamanya bersama Inter, Lukaku berhasil mencetak 14 gol dari 22 pertandingan yang dijalani. Bahkan, dia mampu menyamai catatan Ronaldo de Lima sebagai pemain yang berhasil mencetak sembilan gol dalam sebelas laga awal Serie A.

Perlahan tapi pasti, perannya di skuad Inter Milan semakin krusial hingga mampu membawa klub berjuluk I Nerazzurri meraih gelar juara Serie A untuk kali pertama, sejak tahun 2010 silam.

Lantas, yang jadi pertanyaan, bagaimana Romelu Lukaku kemudian bisa disebut sebagai pemain yang mampu menginspirasi Inter Milan dalam meraih gelar juara? Jawabannya adalah karena memang dia punya peran krusial di tim, yang tidak hanya dalam hal mencetak gol saja, namun juga dalam memberi assist sampai membuka ruang bagi pemain lain.

Musim pertamanya di Serie A, Lukaku memang tampil bagus tapi dia gagal membawa Inter juara, setelah kalah di final Liga Europa sekaligus kalah dalam perburuan gelar Serie A dari Si Nyonya Tua.

Namun musim ini, dalam 33 pertandingan yang dijalani di liga, Lukaku berhasil mencetak setidaknya 21 gol. Lukaku disebut sebagai pemain yang cerdas, setelah nyaris dalam setiap pertandingan, dia selalu tampil hebat dengan kontribusi luar biasanya.

Lukaku mampu memenuhi potensinya sekaligus mengubah dirinya jadi pemain yang jauh lebih berkembang dari sebelumnya.

“Hanya Lewandowski dan Haaland yang berada di levelnya,” kata Ivan Zamorano, legenda Inter.

Sementara itu, penyerang legendaris asal Jerman, Jurgen Klinsmann, juga menyebut Lukaku sebagai pemain yang tidak mementingkan diri sendiri. Hal itu sangat selaras dengan performa apiknya sepanjang musim ini. Dia mampu memberi manfaat bagi pemain lain hingga menjadikan klub tampil prima dalam setiap pertandingan.

Sekali lagi, ilustrasi sempurna dari perubahan yang diperlihatkan Lukaku dari sebelumnya adalah bukan menyoal tentang jumlah gol saja, namun beberapa hal lain termasuk assist, dimana dia sudah mencatatkan sebanyak sembilan umpan terukur kepada rekan setimnya yang kemudian bisa dikonversi menjadi gol.

Catatan itu jelas sangat luar biasa, mengingat dalam 37 pertandingannya di Liga Primer Inggris Lukaku sama sekali gagal sumbangkan assist.

Dalam pertandingan melawan Cagliari, dimana Inter hanya bisa memetik kemenangan satu gol lewat aksi Matteo Darmian, Romelu Lukaku terbilang mampu memberi kontribusi yang cukup penting dari proses terjadinya gol.

Bermula dari akselerasi Achraf Hakimi di sisi lapangan, Lukaku bertugas sebagai pemain yang menahan, mengontrol, sekaligus memberikan bola kembali kepada eks pemain Borussia Dortmund tersebut. Hasilnya, Hakimi bisa dengan mudah mendapatkan bola dan mengirim umpan kepada Darmian yang berada di posisi yang sangat diuntungkan.

Kemudian di laga melawan Sassuolo, Inter berhasil memetik kemenangan tipis 2-1 sehingga menjaga asa mereka untuk bisa meraih gelar. Di laga itu, Lukaku memang berhasil mencetak gol lewat tandukan luar biasanya. Akan tetapi, jangan lupakan pula ketika dengan brilian, dia memberi umpan kepada Lautaro Martinez untuk kemudian berbuah gol.

Dalam prosesnya, Lukaku terlihat berhasil menguasai bola sebelum akhirnya mengelabuhi lawan. Melihat Lautaro Martinez yang terus berlari ke depan, tanpa pikir panjang, dia langsung memberi umpan sempurna yang berhasil dikonversi menjadi gol.

Itu merupakan assist kelima yang diberikan Lukaku kepada Martinez, hingga membuat kedua pemain tersebut dijuluki sebagai salah satu duet terbaik musim ini.

Yang tak kalah hebat dan tentunya tidak akan dilupakan oleh para penggemar Inter Milan adalah aksinya dalam pertandingan derby melawan AC Milan. Disitu, dia bertindak sebagai pemain yang benar-benar berkontribusi besar bagi tim.

Pertama, dia mampu memberi assist luar biasa kepada Lautaro Martinez, setelah sebelumnya memenangkan duel melawan Alessio Romagnoli melalui adu kecepatan. Lukaku sejatinya sempat mengirim umpan di awal. Namun aksinya terhalang oleh Simon Kjaer. Kemudian, kecerdasan memaksa dirinya untuk mencari celah dan mengirim umpan lambung yang langsung diselesaikan oleh penyerang asal Argentina lewat tandukan mematikan.

Kemudian, Lukaku berhasil mencetak gol penutup Inter Milan melalui aksi yang spektakuler. Dia berlari seperti pemain yang tak mungkin dihentikan sebelum akhirnya melepas tendangan roket ke sisi kanan gawang Gianluigi Donnarumma.

Dengan sejumlah fakta tersebut, Lukaku bisa dibilang sebagai pemain yang mampu mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Dia memiliki sentuhan luar biasa dalam permainan hingga membuat banyak rekan setimnya terbantu. Kemudian, yang lebih penting adalah, hal tersebut dilakukannya secara konsisten. Nyaris dalam setiap pertandingan Lukaku menjadi momok menakutkan bagi lawan.

Hal itu pula yang membuatnya disebut sebagai pemain yang menginspirasi Inter Milan meraih gelar juara, sekaligus membuatnya menjadi pemain yang lebih percaya diri.

Menurut catatan Sky Sport, Lukaku sejauh ini, selain berhasil ciptakan 21 gol dan 9 assist, juga sukses melepas tendangan ke gawang lawan sebanyak 81 kali, menciptakan peluang emas sebanyak 10 kali, dan melakukan dribble sempurna sebanyak 46 kali. Itu semua menjadi yang tertinggi dari pemain lain di Inter Milan pada musim ini.

Yang jadi pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana Romelu Lukaku bisa menjadi pemain yang begitu berkembang di Inter Milan? Jawabannya tentu kembali ke Antonio Conte. Ya, kepercayaan yang diberikan Conte sukses membuat Lukaku tampil lebih percaya diri. Selain itu, ada beberapa metode yang diberikan sehingga Lukaku menjelma menjadi pemain yang lebih komplit.

Pertama, Conte memiliki sistem latihan yang sangat keras. Berfokus pada latihan fisik, Conte sukses menjadikan Lukaku sebagai pemain yang jauh lebih kuat dan superior. Pada awalnya, Lukaku sempat mengeluh dengan metode latihan fisik yang diterapkan Conte. Namun ternyata hal itu menjadi yang sangat berguna baginya dalam setiap pertandingan.

Lukaku bahkan mengaku bila bergabung dengan Inter merupakan titik balik dari keterpurukan yang diterima sebelumnya.

“Aku pikir, aku telah kembali temukan diriku yang sesungguhnya,” ucap Lukaku (via Sky Sport)

Berikutnya, Conte dianggap Lukaku sebagai seorang motivator handal. Di luar lapangan, menurut Lukaku, Conte bisa menjadi pria yang sangat menakutkan. Pernah ketika Inter kalah dalam pertandingan Liga Champions, Conte begitu marah dengan Lukaku yang disebut tampil buruk. Teriakan dan cacian keluar dari mulut sang pelatih. Akan tetapi, Lukaku justru merespon positif. Dia menyadari bila hal itu telah mengubahnya menjadi pemain yang jauh lebih kuat.

Gertakan yang digabungkan dengan sistem permainan sempurna dari Antonio Conte, berhasil membuat Lukaku memiliki peran yang sangat penting di kubu biru-hitam.

Apa yang diterapkan Conte kepada Lukaku memang memungkinkan sang pemain tampil sesuai harapan. Conte memberi kebebasan sekaligus kepercayaan penuh kepada Lukaku untuk mengeksplorasi lapangan. Dengan kekuatan serta kecepatan yang dimiliki, Lukaku pun berhasil menjadi pemain yang telah temukan performa apiknya.

 

Sumber referensi: Sky Sport, Panditfootball, Fandom

Mengenal Peran Sporting Director Dalam Klub Sepak Bola

0

Tak bisa dipungkiri bahwa sepak bola bukan lagi tentang olahraga semata. Seiring dengan perkembangan zaman, sepak bola telah bertransformasi menjadi sebuah industri. Bahkan, klub sepak bola sudah menjalankan roda bisnisnya laiknya sebuah perusahaan.

Dengan makin banyaknya investor dan perputaran uang yang sangat besar, risiko finansial dalam industri bisnis sepak bola juga ikut meningkat. Klub sepak bola sudah bukan mengejar gelar semata. Keuntungan finansial sebagai nyawa sekaligus roda kehidupan klub juga perlu dipikirkan.

Untuk itulah, di era modern ini, banyak klub sepak bola telah memperkerjakan seorang Director of Football. Director of Football atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sporting Director adalah sebuah peran baru dalam dunia sepak bola yang hanya dalam waktu singkat telah menjadi bagian penting di klub sepak bola modern.

Jadi, apa itu Sporting Director, dan apa peran yang ia emban di klub sepak bola? Berikut Starting Eleven ulas untuk Anda.

Secara sederhana, seorang sporting director atau direktur olahraga adalah orang yang jadi perantana pelatih dan pemilik klub yang diwakili seorang CEO. Tugas mereka adalah menjembatani keinginan pelatih kepada pemilik atau sebaliknya dengan tujuan agar klub dapat berjalan se-visi.

Namun, perlu diketahui bahwa tanggung jawab sporting director berbeda-beda tergantung pada beberapa faktor, seperti; di negara mana mereka bekerja, di liga/level apa mereka beroperasi, dan di jenis klub apa mereka bekerja. Peran semacam ini sudah lama ada dan mengakar baik di iklim sepak bola Italia, Spanyol, dan Jerman, tetapi lain halnya dengan iklim sepak bola Inggris.

Peran semacam direktur olahraga tidaklah lazim di sepak bola Inggris. Bahkan, di era kejayaan Sir Alex Ferguson dan Arsene Wenger, peran sporting director dianggap tidak dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena peran tersebut cukup diemban oleh seorang manajer yang juga bertindak sebagai pelatih kepala. Saat Jose Mourinho menjabat sebagai pelatih Manchester United, ia juga menolak adanya sporting director yang dianggapnya akan menghalangi kinerjanya.

Namun, belakangan ini, klub-klub Inggris mulai mempekerjakan sporting director. Fenomena ini dimulai sejak klub-klub Liga Inggris kedatangan investor kaya dari berbagai belahan dunia. Meski begitu, penamaan dan tugas yang dilakukan beberapa Sporting Director di klub Liga Inggris sedikit berbeda dengan sporting director di Liga Italia, Spanyol, atau Jerman.

Peran direktur olahraga sendiri memiliki banyak penamaan berbeda, seperti; Technical Director (Direktur Teknik), Head of Football (Kepala Sepak Bola), Head of Football Relations (Kepala Hubungan Sepak Bola) atau Director of Football (Direktur Sepak Bola). Namun, meski punya penamaan yang beragam, mereka punya prioritas tanggung jawab yang kurang lebih sama, yakni:

  1. Mendukung manajer atau pelatih tim utama,
  2. Wajib memiliki hubungan yang baik dengan pemilik dan staff lainnya,
  3. Memperkerjakan kepala departemen klub,
  4. Merancang dan mengawasi filosofi bermain yang jelas di semua tim, dari tim akademi hingga tim utama,
  5. Mengembangkan dan memelihara jaringan scouting pemain, termasuk mengepalai kepala pencari bakat,
  6. Memastikan logistik pemain terpenuhi, dan
  7. Bertanggung jawab di pasar bursa tranfer pemain, baik menjual atau membeli pemain.

Kepada bundesliga.com, Michael Zorc, salah satu sporting director paling berpengaruh saat ini menjelaskan dengan detail peran ia lakukan di Borussia Dortmund. Menurut keterangannya, tugas sporting director tak sekadar meyakinkan pemain untuk menandatangani kontrak.

“Saya juga bertanggung jawab atas filosofi di klub dari tim muda hingga tim utama. Saya mendiskusikan gaya permainan dengan pelatih, dan tim yunior akan mengikuti itu. CEO menangani anggaran yang dimiliki. Selain membeli, menjual, dan memperpanjang kontrak pemain, saya juga seseorang yang dapat mereka ajak bicara selain pelatih. Saya selalu bersama tim selama pertandingan. Saya menghadiri semua sesi latihan dan bahkan akan sering makan dengan para pemain sehingga mereka tahu seseorang dari klub sedang mengawasi mereka.” kata Michael Zorc, Sporting Director Borussia Dortmund dikutip dari bundesliga.com

Lalu, kompetensi seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Sporting Director?

Untuk menjadi seorang Sporting Director yang bekerja dibalik layar tak memerlukan latar belakang khusus. Orang dengan berbagai latar belakang bisa menjadi Sporting Director, entah dia merupakan mantan pemain, pelatih atau seorang ahli keuangan. Yang terpenting, dia sudah punya pengalamanan bekerja di klub sepak bola.

Seperti John Murtough. Ia adalah Sporting Director pertama dalam sejarah Manchester United. Murtough yang baru ditunjuk awal Maret lalu adalah lulusan Sports Science dan Sports Pyschology yang sudah bekerja di Manchester United sejak 2013 silam.

Sebelum jadi direktur olahraga, ia adalah Kepala Pengembangan Sepak Bola Manchester United dan jadi salah satu tokoh penting dalam pembentukan tim sepak bola wanita The Reds Devils. Murtough akan bekerja bersama Darren Fletcher yang ditunjuk sebagai dirtek MU.

Konsep tersebut sama seperti yang dilakukan AC Milan. Sejak dimiliki Elliot Management, rossoneri mempekerjakan Paolo Maldini sebagai Technical Director dan Ricky Massara sebagai sporting director-nya. Keduanya bekerja berbarengan dengan Maldini yang fokus di sektor teknis dan Massara yang berfokus di sektor scouting dan finansial.

Lain halnya dengan Ralf Rangnick yang berlatar belakang pelatih. Dia adalah seorang pelatih yang ditunjuk sebagai sporting director RB Salzburg dan RB Leipzig pada 2012-2020 lalu. Meski berlatar belakang pelatih, Rangnick punya jaringan scouting yang luas, mampu membaca tren dengan baik, dan paham akan finansial klub sepak bola.

Seperti yang kita ketahui, RB Salzburg dan RB Leipzig banyak menghasilkan pemain muda berbakat yang akhirnya dijual mahal. Selama masa jabatannya, nilai pasar klub Red Bull naik dari 120 juta euro menjadi 1,2 miliar euro. Selain itu, Rangnick juga sukses menanamkan filosofi menyerang di klub yang ia tangani. Hasilnya, perlahan tapi pasti, prestasi RB Leipzig terus membaik dan jadi calon juara Bundesliga meski klub tersebut baru terbentuk pada 2009 silam.

Jeli dalam mencari pemain berbakat dan paham keuangan klub jadi 2 hal yang wajib dikuasai bila ingin menjadi Sporting Director. Selain nama-nama tadi, Monchi, director of football Sevilla adalah contoh sukses lainnya. Ia adalah mantan kiper sekaligus legenda Sevilla. Monchi ditunjuk sebagai direktur olahraga pada tahun 2000 pasca Sevilla terdegradasi dari La Liga.

Monchi punya 2 tugas utama, yaitu mengembangkan sistem akademi klub dan menerapkan kebijakan scouting pemain yang luas baik di dalam maupun di luar Spanyol. Di bawah kendali Monchi, Sevilla sukses memenangi 11 trofi, termasuk 6 trofi Liga Europa yang 3 diantaranya diraih secara beruntun.

Selama ia menjabat, Sevilla juga sukses mendatangkan pemain yang di kemudian hari dijual mahal, seperti Sergio Ramos, Jesus Navas, Dani Alves, Julio Baptista, Ivan Rakitic, dan masih banyak lagi. Monchi mengaku bahwa salah satu kunci suksesnya adalah membuat keputusan tepat berdasarkan data dan rekomendasi pemandu bakat.

“Kami membandingkan sudut pandang subjektif pemandu bakat dengan kriteria objektif data. Kami punya data kecil bertahun-tahun lalu. Jika seorang pemain berkaki kiri atau kanan, itu juga merupakan data. Kendati demikian, kami tidak bisa mengabaikan sudut pandang pemandu bakat. Kami menggabungkan kedua pendekatan tersebut,” kata Monchi dikutip dari bolaskor.com (3/1).

Selain nama-nama tadi, direktur olahraga yang juga tak kalah tenar dan sukses adalah Txiki Begiristain di Manchester City, Michael Edwards di Liverpool, Leonardo Araujo di PSG, Piero Ausilio di Inter Milan, Sven Mislintat di Stuttgart, dan Luis Campos di Lille.

Contoh-contoh tadi jadi bukti bahwa seorang sporting director yang baik akan meningkatkan kesuksesan klub, baik prestasinya maupun kesuksesan finansial klub itu sendiri. Idealnya, klub bisa mempekerjakan seorang Direktur Olahraga dengan latar belakang bisnis dan sepak bola untuk meminimalkan risiko finansial yang terkait dengan keputusan yang ia buat.

Namun yang pasti, sporting director bukanlah peran tradisional yang mudah dijalankan. Selain memastikan klub tak salah mengambil keputusan di bursa transfer pemain, seorang direktur olahraga juga mesti memastikan kontinuitas di dalam klub.

Faktanya, di Premier League saja, seorang manajer rata-rata hanya dapat bertahan selama 14 bulan saja sebelum dipecat dan diganti manajer lainnya. Pergantian itu jelas akan mengubah struktur kepelatihan dan pemain baru yang mungkin dibawa sesuai kebutuhan di manajer. Akibatnya, perombokan skuad sangat mungkin terjadi yang tentunya akan memiliki konsekuensi finansial yang signifikan.

Oleh karena itu, penting bagi klub sepak bola modern untuk memiliki seorang Sporting Director yang memiliki filosofi, visi, dan program jangka panjang yang jelas. Dengan demikian, klub sepak bola akan merekrut pelatih, staf, dan pemain agar sesuai dengan filosofi yang diterapkan sporting director-nya. Dengan begitu, kesuksesan baik di dalam maupun di luar lapangan hanya tinggal menunggu waktu saja.

Sumber Referensi: Bundesliga, Sportskeeda, Training Ground, Jobs in Football, FC Business

Menghitung ‘Arloji’ Kemunduran Glazer Family dari Manchester United

Kisah ini berawal dari pengusaha imperium arloji dan perhiasan di Kota Rochester. Pengusaha yang berasal dari keluarga imigran Lithuania dengan datang mengadu nasib ke Tanah Impian, Amerika Serikat. Malcolm Glazer adalah putra tertua dari keluarga tersebut, ilmu bisnis yang mumpuni ia dapatkan berkat ajaran ayahnya bahkan sebelum dirinya berusia 10 tahun. Di masa sekolahnya Glazer bukanlah siswa yang mendapatkan peringkat kredit tinggi seperti layaknya orang yang menjadi bawahan dia, Ed Woodward. Sampai akhirnya Malcolm Glazer memilih untuk keluar dari perguruan tinggi dan melanjutkan bisnis arloji dan perhiasan miliknya.

Nama Glazer mulai dikenal masyarakat luas, khususnya seantero Amerika Serikat saat dirinya berhasil membeli salah satu klub American Football, Tampa Bay Buccaneers. For your information ya gaes, itu American Football beda sama sepak bola yang selama ini kita kenal. American Football dimainkan menggunakan tangan, entah cemana pencetus olahraga itu sampai berani menamainya ‘football’ yang jelas-jelas memiliki arti bola kaki, bukan bola tangan. Sepak bola yang kita kenal ditendang dengan kaki, di Amerika dinamakan soccer.

Oke balik lagi ke Glazer, dia membeli klub American Football pada tahun 1995. Berkat kecerdikannya di dunia bisnis dalam mengelola aset, Tampa Bay Buccaneers, yang sebelumnya adalah klub ampas antah berantah bisa disulap menjadi kandidat serius di NFL (nama liga American Football). Sayangnya apa yang dilakukan oleh Glazer di Tampa Bay Buccaneers berbeda jauh saat dirinya menjadi pemilik Manchester United sepuluh tahun berselang.

Tahun 2005 menjadi awal ketidakharmonisan hubungan antara fans MU dengan owner klub mereka. Glazer mengambil alih kepemilikan saham mayoritas MU, menggantikan posisi John Magnier dan J.P. Mc Manus sebagai pemilik saham mayoritas sebelumnya. Tidak ada yang salah memang dalam dunia kepemilikan sepak bola, siapa yang punya banyak duit mereka bisa bebas membeli saham klub layaknya membeli permen di warung sebelah. Begitupun dengan Glazer, kuasanya di dunia bisnis tidak bisa diragukan lagi. Sampai pada tiba waktunya dirinya resmi dideklarasikan sebagai pemilik Manchester United dengan jumlah saham 90% pada tahun 2005.

Disini yang menjadi permasalahan dan konflik dengan penggemar adalah cara Glazer mengambil alih United dengan uang hasil hutang di JP Morgan. Dimana MU dijadikan jaminan atas besarnya nilai hutang Glazer dan harus mencicil hutang tersebut setiap musimnya. Tidak cukup sampai disitu, para penggemar juga dibatasi ruang gerak mereka untuk memberikan suaranya terkait segala tindak tanduk Glazer di klub kesayangan mereka, pasalnya Glazer tidak mau berbagi saham dengan fans MU, 10% saham sisa yang bukan milik Glazer malah ia jual ke New York Stock Exchange, alih-alih ke fans.

Dilatarbelakangi oleh tindakan semena-mena Glazer dalam mengakuisisi klub yang rakyat Manchester sayangi, sekelompok Manchunian yang terlanjur kecewa membuat gebrakan dengan mendirikan klub baru dalam rangka menentang adanya Glazer Family di tubuh Manchester United. Adalah FC United Of Manchester (FCUM) yang lahir sebagai bentuk protes dan kekecewaan pendukung Manchester United kepada Glazer, sebuah klub yang berjalan dari dana partisipasi penggemar. Sangat berbeda dengan Manchester United yang terkenal glamour dan menyilaukan di dunia bisnis.

Kata kasarnya memang FCUM bisa dibilang mengkhianati Manchester United original, tapi lahirnya FCUM seolah menunjukkan kepada dunia bahwa penggemar adalah tingkatan tertinggi di rantai makanan dunia perbolaan, sepak bola tanpa fans itu tidak akan ada apa-apanya. Para penggemar Setan Merah yang mendirikan FCUM sejatinya masih sangat mencintai kesebelasan mereka yang bermarkas di Old Trafford, mereka hanya tidak bisa terima dengan otoritas yang dilakukan Glazer saat mengakuisisi klub. Bahwa, “ini loh, kita disini sebagai fans nggak mau gitu aja tunduk sama lu, kita bikin aksi nyata biar lu sadar betapa kecewanya fans atas tindakan yang lu lakukan.”

Tidak hanya mendirikan klub baru, mayoritas fans MU yang asli Manchester juga memboikot diri mereka membeli merchandise dan mendatangi Old Trafford untuk menonton laga kandang MU. Loh, kok bisa? Jadi begini teman-teman, mereka menolak diri untuk menonton langsung di Old Trafford karena uang dari tiket yang mereka beli pasti nantinya akan masuk ke kas MU, sama artinya masuk ke kantong Glazer. Nggak rela lah pasti yekan. Jadi saat MU bermain di kandang mereka akan menonton dari TV maupun nobar di kafe, tidak datang ke Old Trafford, karena nyatanya sekarang ini Theatre Of Dreams hanyalah tempat impian bagi para turis ketika mengunjungi Kota Manchester. Makanya tidak heran sorak sorai fans MU lebih keras terdengar saat United berlaga di kandang lawan.

Berhenti sampai disitu? Tentu saja tidak. Di tahun yang sama, yaitu 2005 fans MU juga mendirikan gerakan Love United Hate Glazer (LUHG), dimana kegiatan tersebut sampai detik ini masih berjalan dan sepertinya sedang panas-panasnya. Tindakan protes tidak hanya dilakukan oleh fans dari kalangan masyarakat biasa, tapi juga kalangan atas. Pada tahun 2010 silam, para fans MU yang memiliki latar belakang sebagai pengacara dan bankir, dimana mereka sudah pasti ahli dalam bidang bisnis dan hukum, berniat untuk mengambil alih kepemilikan United dari Glazer. Tapi upaya mereka tetap nihil dan tidak menghasilkan apa-apa. Ngenes emang, kasian juga kadang-kadang kalo liat fans MU, tapi kalo diingetin sama kesombongan mereka di grup neraka, auto pengen ngakak lagi.

Sudah banyak aksi dan tindakan yang dilakukan oleh fans MU untuk melengserkan Glazer, maka dari itu demo yang kemarin ramai terselenggara sebelum kick off Northwest Derby seolah bukan hal baru. Hanya saja menjadi terlihat lebih membara karena didukung oleh beberapa tokoh sepak bola baik dari lingkup mantan pemain United sendiri, maupun mantan pemain rival. Bahkan perdana menteri Inggris juga ikutan nimbrung menyoroti aksi tersebut.

Demo yang mengakibatkan tertundanya laga MU vs Liverpool itu bukan tanpa alasan, setidaknya ada 4 tuntutan yang diajukan oleh fans MU yang menamai diri mereka Manchester United Supporters Trust (MUST). Nih patut dicontoh buat anak-anak muda dalem negeri, kalo demo itu setidaknya tahu apa yang didemokan dan apa tuntutan yang akan diajukan. Bukan sekedar joget tiktok ditengah jalan ya kawan-kawan. Keempat tuntutan itu saya rangkum sebagai berikut:

  1. Pihak klub harus menjalin komunikasi yang baik dan mendukung wacana yang saat ini sedang dipertimbangkan oleh pemerintah Inggris, dimana penggemar bisa mempunyai peran untuk menyeimbangkan struktur kepemilikan yang ada saat ini, harapannya hak kepemilikan klub bisa kembali di tangan penggemar.
  2. Merekrut direktur klub dimana perannya adalah fokus pada sepak bola, bukan menjadi kacung pemilik untuk memperkaya diri mereka.
  3. Bekerjasama dengan MUST dan basis penggemar United lainnya dimana penggemar diberi kesempatan memiliki saham di klub, supaya mereka berhak untuk menyuarakan aspirasi demi keberlangsungan hidup klub. Baik itu dengan Glazer menjual saham sepenuhnya kepada pihak penggemar, atau dengan skema 50+1 pokoknya penggemar harus yang mayoritas (macem klub Jerman gitu loh bro).
  4. Menjalani musyawarah atau konsultasi dengan penggemar terkait keputusan besar di klub, seperti kompetisi apa saja yang nantinya akan diikuti oleh klub (nyindir ESL ceritanya ini cuy).

Jika kita lihat secara kasat mata, tekanan yang terus menerus mengalir ke Glazer Family seharusnya bisa melengserkan posisi mereka di klub, atau paling tidak mengubah tingkah laku mereka supaya tidak semau-maunya menjadikan United sapi perahnya tanpa memikirkan performa dan prestasi klub diatas lapangan. Seperti yang kita ketahui, kapan terakhir kali United mengangkat trofi? 2017 silam Hyung, penulis artikel ini bahkan belum punya KTP waktu itu. Secara finansial berkat campur tangan Ed Woodward, United memang masih terbilang baik di keadaan yang menyedihkan dengan puasa gelar seperti sekarang ini, tapi mau sampai kapan fans MU bisa tahan melihat klubnya bertransformasi menjadi klub komersial alih-alih klub sepak bola seutuhnya?! Coba Glazer Family, hitung sendiri kemunduran kalian dengan detak arloji yang kalian miliki.

Perjalanan Panjang Manchester City Capai Final Liga Champions Eropa

Setelah melakoni pertandingan sebanyak dua leg melawan wakil asal Prancis, Manchester City resmi memesan satu tempat di partai puncak Liga Champions Eropa. Dalam dua laga, Manchester City berhasil menang dengan skor masing-masing 2-1 dan 2-0. Ini tentu menjadi sebuah pencapaian luar biasa bagi Manchester City, mengingat mereka belum pernah mencapai fase ini sepanjang sejarah berdirinya klub.

Ya, dalam perjalanannya sejak klub diakuisisi oleh Sheikh Mansour, prestasi terbaik mereka hanyalah sampai pada fase semifinal saja.

Namun kini, sekali lagi, di tangan Pep Guardiola, City berhasil merebut asa untuk bisa naik ke panggung juara di kancah Eropa. Sesuatu yang sangat membahagiakan dan tak terbayangkan oleh para penggemar klub berjuluk The Citizens.

Tidak mudah bagi Manchester City untuk bisa mencapai final Liga Champions Eropa. Pep Guardiola yang didatangkan klub sejak 2016 lalu memang berhasil sumbangkan sebanyak dua trofi Liga Primer Inggris dan piala domestik lainnya. Akan tetapi, di kompetisi Eropa, dia belum bisa bicara banyak.

Pada kompetisi Liga Champions Eropa musim ini, Manchester City duduk di grup C bersama dengan klub seperti FC Porto, Marseille, dan juga Olympiakos. Di atas kertas, Manchester City sangat diunggulkan untuk jadi jawara grup. Kekuatan mereka disebut melebihi seluruh lawannya di fase grup. Benar saja, skuad asuhan Guardiola berhasil memuncaki klasemen dari enam pertandingan, tanpa pernah tersentuh satu pun kekalahan.

Mereka berhasil meraih sebanyak lima kemenangan dan satu hasil imbang. Praktis, sebanyak 16 poin pun dikumpulkan.

Dari grup C, City ditemani oleh FC Porto yang berhasil duduk di tangga kedua dengan koleksi 13 poin.

Setelah mampu lewati hadangan di fase grup, sampailah mereka pada fase gugur, dimana di babak 16 besar, City dihadapkan dengan Borussia Mönchengladbach. Sejatinya, bukan perkara mudah bagi City untuk menghadapi Borussia Mönchengladbach. Pasalnya, klub asal Jerman tersebut berhasil menyulitkan Real Madrid di babak grup. Bahkan, mereka berhasil menyingkirkan Inter Milan yang notabene menjadi klub yang difavoritkan untuk temani Real Madrid di babak gugur.

Namun, dalam hal ini, City memang punya kekuatan tak main-main. Dalam dua laga yang dijalani, tak ada satu pun gol yang bersarang di gawang Ederson. City sukses melibas perlawanan Borussia Mönchengladbach dalam dua laga, yang masing-masing mereka tuntaskan dengan skor 2-0.

Pada babak perempat final, tantangan yang jauh lebih besar menunggu. Masih dari klub asal Jerman namun bukan sang pemuncak klasemen Bundesliga, melainkan rival mereka yaitu Borussia Dortmund. Kita semua tahu bila Borussia Dortmund punya kekuatan luar biasa. Mereka memiliki deretan pemain muda berbakat, termasuk Erling Haaland dan juga pemain jebolan akademi The Sky Blue, Jadon Sancho.

Masih dalam dua pertandingan yang digelar, Manchester City cukup kesulitan ketika harus meredam serangan Dortmund. Terlebih mereka punya sistem serangan yang amat mengagumkan. Namun itu bukan perkara yang terlalu mengganggu bagi barisan pertahanan Manchester City. Pada laga pertama, mereka sukses akhiri pertandingan dengan skor 2-1.

Pada leg kedua yang digelar di Signal Iduna Park, Dortmund cukup diunggulkan mengingat mereka telah kantongi satu gol tandang. Bahkan, di babak pertama, tim tuan rumah berhasil membuka keunggulan satu nol lewat pemain muda berbakat mereka, Jude Bellingham.

Namun bukan Pep Guardiola namanya bila sampai anak asuhnya kehabisan akal.

Di babak kedua, City mampu menyamakan kedudukan dari sepakan penalti Riyad Mahrez pada menit ke-55. Tidak berselang lama, giliran aksi pemain muda mereka yang guncangkan The Yellow Wall. Adalah Phil Foden yang kemudian mampu membawa Manchester City berbalik memimpin melalui golnya di menit ke-75.

Dengan keunggulan 2-1, City terus bertahan dan berhasil menutup laga dengan skor agregat 4-2.

Kemudian sampailah mereka pada pertandingan yang amat menentukan di babak semifinal. Seperti yang sudah sedikit disinggung di awal, the Citizens harus berhadapan dengan Paris Saint Germain, yang kita semua tahu punya kekuatan luar biasa. Mereka merupakan finalis musim sebelumnya dan punya ambisi besar untuk kembali meraih partai puncak.

Laga ini tergolong berat bagi skuad asuhan Pep Guardiola. Betapa tidak, mereka harus menghadapi kekuatan terbesar sepakbola Prancis, yang di babak sebelumnya, berhasil kandaskan perlawanan sang juara bertahan, FC Bayern. Di laga melawan Die Roten, PSG berhasil lolos dengan mengandalkan agresivitas gol. Meski agregat menunjukkan angka 3-3, armada Mauricio Pochettino layak melaju ke babak semifinal karena mampu mencuri gol di kandang lawan.

Pada pertandingan melawan PSG, di leg pertama, City mendapat cukup tekanan setelah pada menit ke 15 tim tuan rumah berhasil membuka keunggulan lewat aksi Marcos Aoas. Keunggulan Les Parisiens bertahan sampai babak pertama usai. Beruntung, kekuatan City menjadi tak terbendung di babak kedua, setelah pada menit ke 64, Kevin de Bruyne berhasil menyamakan kedudukan.

Tujuh menit berselang, Riyad Mahrez berhasil membuat City unggul setelah mampu ciptakan gol. Hasil ini jelas menjadi bekal sempurna bagi City untuk menyongsong leg kedua yang digelar di Inggris.

Belum lama ini, pertandingan kedua resmi menjadi milik Manchester City setelah PSG yang tampil tanpa Kylian Mbappe sama sekali gagal ciptakan tembakan ke gawang Ederson. Eks pemain Leicester, Riyad Mahrez, kembali menjadi bintang bagi The Citizens. Dia sukses ciptakan dua gol sekaligus yang mana membuat agregat menjadi 4-1 untuk keunggulan City.

Di leg kedua, para pemain tampak frustasi setelah gagal mengimbangi permainan cepat City. Pemain mereka, Angel Di Maria, yang tidak bisa mengontrol emosi bahkan harus diusir wasit karena menginjak kaki Fernandinho.

Selain Mahrez yang berhasil cetak gol, City juga harus berterima kasih kepada sosok Ruben Dias yang tampil bak tembok China di laga tersebut. Sepanjang pertandingan, dirinya yang dipasangkan dengan John Stones benar-benar tampil sesuai harapan. Walhasil, Dias terpilih sebagai pemain terbaik di laga itu.

Menurutnya, kunci sukses City dalam meredam perlawanan PSG adalah karena anak asuh Pep Guardiola punya permainan yang sangat terorganisir. Mulai dari lini bertahan sampai lini serang dianggapnya seimbang.

Usai berhasil kalahkan PSG, dalam menuju partai puncak, Manchester City sukses menorehkan 11 kemenangan dan satu hasil imbang, dimana satu-satunya hasil imbang adalah ketika mereka bermain tanpa gol lawan FC Porto di babak penyisihan grup. Lebih hebatnya lagi, klub yang bermarkas di Etihad Stadium selalu mampu mencetak dua gol sejak tampil di fase knock out. Tim Biru Langit juga selalu menang dalam dua leg yang mereka mainkan.

Kini, setelah semua pertandingan terlewati, Manchester City harus berhadapan dengan tim sesama Inggris, Chelsea yang sukses kalahkan Real Madrid di babak semifinal. Mereka tentu tidak cukup puas dengan hanya tampil di partai puncak Liga Champions Eropa, meski sejatinya itu sudah sangat luar biasa.

Bila Manchester City berhasil meraih gelar juara Liga Champions Eropa, maka mereka akan menyamai rekor Manchester United di tahun 1999 sebagai tim yang berhasil torehkan tiga trofi bergengsi dalam satu musim. Pasalnya, kita tahu bila City sudah memenangi trofi Piala Liga, dan di kompetisi Liga Primer Inggris pun, langkah mereka hampir pasti menapaki panggung juara.

Lebih lanjut, bagi juru taktik mereka, Pep Guardiola, berpeluang jadi pelatih keenam yang menjadi juara Liga Champions dengan dua tim berbeda, setelah Ernst Happel, Ottmar Hitzfeld, Jose Mourinho. Jupp Heynckes, dan Carlo Ancelotti. Kemudian, pelatih asal Spanyol tersebut juga punya peluang menyamai rekor Zinedine Zidane, Carlo Ancelotti, dan Bob Paisley sebagai pelatih dengan gelar Liga Champions terbanyak.

 

Sumber referensi: bbc, wikipedia, cnn, mirror

Berapa Gaji Pemain Saat Membela Timnas?

Bermain untuk tim nasional adalah impian setiap pesepak bola di seluruh dunia. Ada kebanggaan tersendiri ketika bertarung di atas rumput hijau demi negara tercinta. 

Namun begitu, tak sedikit pula yang bertanya-tanya soal seberapa banyak gaji yang diterima oleh setiap pemain timnas. Berbeda halnya dengan klub, yang menggaji para pemainnya secara mingguan, bulanan dan tahunan, tim nasional tidak melakukan seperti yang dilakukan klub.

Saat membela klub, terlebih klub top Eropa, pesepakbola tentu mendapatkan gaji yang besar. Ambil contoh Marcus Rashford yang bisa mendapatkan 227 ribu euro atau sekitar 4 miliar rupiah per pekan dari Manchester United. Gaji pemain di level klub juga biasanya disesuaikan dengan performa pemain, dan berapa banyak penampilan sang pemain. 

Sedangkan, di level timnas, para pemain biasanya mendapatkan gaji dari setiap kali tampil per pertandingan dan dari bonus atau hadiah memenangkan sebuah kejuaraan. 

Besaran nominal gajinya pun berbeda-beda, tergantung apakah sang pemain memenangkan sebuah pertandingan atau tidak. Tentunya setiap asosiasi sepakbola negara mempunyai kebijakan masing-masing terkait dengan bayaran pemain yang tampil bermain untuk tim nasional.

Di negara Inggris, FA atau asosiasi sepakbola Inggris telah menetapkan besaran bayaran untuk para pemain. Pada pertandingan kualifikasi atau pertandingan persahabatan, setiap kemenangan, para pemain yang tampil akan mendapatkan 1,500 pounds atau sekitar 30 Juta Rupiah. Untuk hasil imbang, para pemain menerima 1000 pounds dan 500 pounds untuk setiap kekalahan. 

Meski, FA telah mengatakan bahwa pihaknya tidak akan mengungkapkan besarnya gaji pemain timnas Inggris, namun, media kenamaan BBC membagikan hitungan kasar, kira-kira seberapa banyak bayaran para pemain timnas Inggris.

Dalam hal ini, BBC mengambil contoh dari kebiasaan para pemain Inggris sejak 2007, yang memberikan uang honor mereka ke Yayasan Pesepakbola Inggris, yang telah didistribusikan sebesar lebih dari £ 5 juta untuk amal.

Berdasarkan £ 5 juta tersebut, jika terhitung sejak awal tahun 2008 hingga Juli 2018, terdapat 122 pertandingan yang telah dilakoni timnas Inggris. Maka bisa diartikan rataan per laga mencapai 41 ribu pounds. Jika dibagi skuad yang berjumlah 23 pemain, berarti sekitar 2 ribu pounds per pemain, per pertandingan.

Jumlah gaji yang diterima oleh pemain timnas juga bergantung dari level kompetisi yang mereka ikuti. Untuk level Piala Dunia ataupun Piala Eropa, pemain-pemain yang menjadi starting XI akan dibayar sebesar 2,500 pounds dan para pemain cadangan (baik yang bermain atau tetap di bench) akan dibayar sebesar 1,500 pounds per penampilan.

Selain mendapatkan bayaran dari setiap kali tampil membela timnas, para pemain juga biasanya akan menerima bayaran dalam bentuk bonus. Itu terjadi jika mereka yang bermain untuk timnas, mampu memenangkan sebuah kejuaraan, seperti piala eropa atau piala dunia. 

Tim nasional Prancis misalnya, saat meraih gelar juara dunia 2018, mereka menerima sejumlah uang dari FIFA sebanyak 29 juta pounds atau 38 juta dollar (setara Rp 585 miliar). FIFA pun membebaskan timnas Prancis untuk membagi uang hadiah ini pada para pemain dan seberapa besar mereka menggaji para pemainnya. Salah satu pemain yang kecipratan untung adalah Kylian Mbappe.

Kala itu, Mbappe mendapatkan uang US$ 22.300 atau Rp 320,54 juta pada setiap pertandingan di Piala Dunia 2018. Plus bonus uang US$ 350 ribu atau Rp 5,03 miliar karena Prancis meraih juara gelar dunia.  Jika di total, bonus yang didapatkan pemain PSG itu mencapai US$ 500 ribu atau Rp 7,18 miliar. Sebagai perbandingan, saat di level klub, Mbappe bisa mendapatkan gaji mencapai US$ 1,7 juta (Rp 24,43 miliar) per bulan. Tentu bonus yang diterima Mbappe di Piala Dunia tidak sebanding dengan gajinya saat di PSG.

Selain Mbappe, para pemain yang tampil di Piala Dunia 2018 juga menerima bonus masing-masing dari federasi sepakbola yang bersangkutan. FIFA memang menyiapkan hadiah 400 juta Dollar untuk 32 tim peserta piala dunia. Uang hadiah diberikan berdasarkan seberapa jauh langkah setiap tim di turnamen tersebut. Prancis sebagai sang juara tentu saja mendapatkan uang paling banyak.

Hadiah yang diterima skuad Prancis sedikit lebih banyak ketimbang yang didapat timnas Jerman saat merengkuh trofi piala dunia 2014. Jerman kala itu menerima 25 juta pounds atau 35 juta dollar (setara Rp 406,8 Miliar). Federasi Sepak Bola Jerman waktu itu memberi bonus untuk 23 pemain masing-masing sebesar 300 ribu euro atau 408 ribu dollar (sekitar Rp 4 miliar) yang berhasil memenangkan gelar Piala Dunia keempat kalinya. 

Jumlah bonus itu setara dengan beberapa minggu upah dasar bagi para pemain Jerman yang dikontrak klub-klub kaya Eropa seperti Arsenal, Bayern Munchen, dan Real Madrid.

Berbeda dengan apa yang diraih Prancis dan Jerman, Timnas Ghana, Kamerun, dan Nigeria mendapatkan sedikit uang dan bonus kemenangan dibandingkan federasi lainnya. Pada piala dunia 2014, hadiah uang mereka diumumkan sebesar 1 juta euro untuk setiap kemenangan babak grup dan jumlah 102.500 dollar jika memenangkan gelar. 

Dapat disimpulkan bahwa gaji yang diterima pemain ketika memperkuat timnas ditentukan oleh performa pemain dan juga timnya. Pesepakbola yang menunjukkan penampilan luar biasa di lapangan, mereka dibayar secara individu oleh tim dan kompetisi. Mereka juga mendapatkan banyak medali kehormatan atas kemenangan mereka.

Sumber referensi : Ligalaga, BBC, Goal, Sportsmaza