Salah Tunjuk Pelatih, Parma Kembali Terdegradasi dari Serie A

  • Whatsapp

Dahulu, Parma adalah sebuah kesebelasan yang sangat disegani. Rentetan trofi di era 90an hingga awal 2000an jadi bukti betapa kuatnya klub yang bermarkas di Stadion Ennio Tardini itu di masa lalu.

Pada medio 1990an hingga 2004, Parma mampu memenangi 8 trofi bergengsi, di antaranya 3 trofi Coppa Italia, 1 trofi Supercoppa Italiana, 1 Piala Winners, 1 Piala Super Eropa, dan 2 Piala UEFA di tahun 1995 dan 1999. Parma juga tercatat sebagai tim Italia tersukses keempat di kompetisi Eropa setelah AC Milan, Juventus, dan Inter Milan.

Bacaan Lainnya

Lewat suntikan dana dari Parmalat sang pemilik klub saat itu, Parma mampu mendatangkan pemain-pemain hebat. Sebut saja Ginfranco Zola, Roberto Sensini, Lilian Thuram, Fabio Cannavaro, Juan Sebastian Veron, Thomas Brolin, Hidetoshi Nakata, Hernan Crespo, Adriano dan masih banyak lagi.

Dengan deretan pelatih dan pemain berkulitas yang menghiasi skuad Parma dan raihan trofi bergengsi yang mereka raih pada saat itu menjadikan Parma masuk dalam jajaran Il Sette Magnifico alias The Magnificient Seven. Julukan tersebut disematkan kepada 7 klub Italia yang selalu menguasai persaingan liga Italia, bahkan kompetisi Eropa.

Sayangnya, kejayaan Il Sette Magnifico yang beranggotakan AC Milan, Juventus, Inter Milan, Lazio, Roma, Fiorentina, dan Parma runtuh saat terkuaknya skandal calciopoli yang mengguncang sepak bola Italia di tahun 2006. Khusus Parma, keruntuhan klub berjuluk I Ducali itu telah dimulai di tahun 2004 saat Parmalat dinyatakan bangkrut pasca Calisto Tanzi, sang pemiliknya terlibat kasus penggelapan uang perusahaan.

Kedatangan pemilik baru, Tomasso Ghirardi di tahun 2006 sedikit memberi harapan kepada Parma. Sayangnya, utang besar yang harus ditanggung membuat Parma tak kuasa bertahan di Serie A hingga terdegradasi di musim 2007/2008. Meski langsung kembali promosi di musim berikutnya, kondisi Parma sudah jauh berbeda. Selama 7 tahun berikutnya, mereka hanyalah tim papan tengah yang hidup segan mati tak mau.

Akhirnya, puncak keruntuhan Parma terjadi di tahun 2015 saat klub tersebut dinyatakan pailit dan terpaksa terdegradasi ke Serie D, divisi empat liga Italia atau kasta paling rendah dalam kompetisi sepak bola Italia. Di masa memilukan itu, Parma bahkan harus menjual beberapa trofinya untuk membayar utang.

Singkat cerita, Parma diambil alih oleh beberapa pengusaha lokal. Mereka mulai membangun diri dari nol lagi di musim 2015/2016 dengan nama baru, Parma Calcio 1913. Dengan perjuangan heroiknya, hanya dalam waktu 3 tahun saja, I Ducali sudah mampu kembali ke Serie A di musim 2018/2019.

Lewat tangan dingin Robeto D’Aversa, Parma kembali membangun kekuatannya di Serie A. Di musim pertamanya kembali ke Serie A, Parma mampu bertahan di posisi 14 klasemen. Setahun berselang, performa I Ducali makin membaik dan berhasil finish di posisi 11. Harapan pendukung Parma membuncah kala di akhir musim, Parma diakuisisi oleh pengusaha kaya asal Amerika Serikat, Kyle J. Krause.

Sayangnya, investasi besar pemilik perusahaan induk Krause Group itu tak berbuah manis. Alih-alih bangkit dan kembali menapaki jalan kejayaan, para pendukung Parma mesti menelan pil pahit di akhir musim 2020/2021. Tak lama setelah Inter Milan memastikan diri sebagai juara Serie A musim ini di pekan 34, Parma dipastikan kembali terdegradasi dari kompetisi kasta tertinggi sepak bola Italia itu.

Kepastian terdegradasinya Parma juga terjadi di pekan ke-34. Dalam lanjutan giornata 34 Serie A 2020/2021, Parma tumbang 1-0 kala bertandang ke markas Torino. Gol tunggal Torino yang dicetak Mergim Vojvoda di menit ke-63 mengantar I Ducali itu turun kasta ke Serie B.

Dari 34 pertandingan yang sudah digelar, Parma hanya sanggup mengumpulkan 20 poin saja. Gervinho dkk. hanya menang tiga kali dan sudah menelan kekalahan sebanyak 20 kali sepanjang musim ini. Hasil tersebut sangat kontras bila dibandingkan dengan pencapaian Parma musim lalu.

Di musim 2019/2020, Parma finish di posisi 11 klasemen dengan mengumpulkan 49 poin hasil 14 kali menang dan 7 kali imbang. Bahkan, di pertengahan musim, Parma sempat meramaikan persaingan di zona Liga Europa.

Apa yang dicapai Parma musim ini bisa dibilang tak wajar. Tidak seharusnya Parma terjerembab di zona degradasi. Sebab, sang pemilik baru, Kyle J. Krause yang membeli Parma dari tangan pengusaha Cina, Jiang Lizhang pada September 2020 itu dikenal sebagai orang yang gila bola. Hal itu juga ia buktikan dengan gerak cepatnya di bursa transfer pemain.

Dilansir dari transfermarkt, di bursa transfer musim panas lalu saja, Parma sudah menggelontorkan dana sebesar 79,71 juta euro untuk mendatangkan pemain baru, baik melalui skema pembelian, peminjaman, atau penebusan. Roberto Inglese (18 juta euro) dan Valentin Mihaila (8,5 juta euro) tercatat jadi pembelian termahalnya.

Sayangnya, pembelian mahal nan meyakinkan di awal musim tak dibarengi dengan penunjukan pelatih yang kompeten. Secara mengejutkan, pasca Kyle Krause menjadi presiden klub, Parma justru berpisah dengan Roberto D’Aversa. Tak dijelaskan secara pasti alasan pemecatan D’Aversa yang telah berjasa mengangkat I Ducali dari Serie C hingga promosi ke Serie A pada 2018 lalu.

Fatalnya, Parma justru menunjuk Fabio Liverani sebagi suksesor D’Aversa. Padahal, di musim sebelumnya, Liverani gagal mempertahankan posisi Lecce di Serie A. Keputusan kontroversial itu akhirnya berbuah petaka. Penampilan Parma menurun drastis dan kesulitan mencetak gol ke gawang lawan.

Liverani akhirnya dipecat di awal Januari lalu setelah hanya bertahan selama 16 pekan. Dalam 16 giornata, Parma cuma menang sekali, imbang enam kali, dan menelan 8 kekalahan. Mereka hanya sanggup mengumpulkan 12 poin di paruh pertama dan terjerembab di zona degradasi.

Statistik para pemain Parma di bawah asuhan Liverani juga memprihatinkan. Mereka cuma menghasilkan 13 gol (0,81 gol perlaga) dan sudah kebobolan 31 gol (1,94 gol perlaga) hanya dalam 16 pertandingan. Catatan buruk itulah yang meyakinkan manajemen untuk sesegera mungkin memecat Liverani.

Anehnya, pasca dipecatnya Liverani, Parma justru kembali menunjuk Roberto D’Aversa sebagai pelatih mereka. Tak ingin kembali menyesal, manajemen Parma juga berhati-hati di bursa transfer Januari. Mereka hanya mengeluarkan dana sebesar 14,8 juta euro saja. Mayoritas dana tersebut juga untuk menebus seorang winger baru, Dennis Man seharga 13 juta euro.

Selain itu, Parma juga mendatangkan pemain berpengalaman, baik melalui skema pembelian gratis maupun peminjaman. Graziano Pelle, mantan striker Italia di Euro 2016 didatangkan untuk menambah daya gedor. Sementara di lini belakang, Parma mendatangkan 4 bek anyar, di antaranya Andrea Conti dari Milan dan Mattia Bani dari Genoa.

Hasilnya, di bawah asuhan D’Aversa, Parma tampil lebih menjanjikan. Tumpulnya lini depan yang jadi masalah akut di bawah Liverani mampu dibenahi sedikit demi sedikit oleh D’Aversa. Produktivitas gol mereka naik. Dari 18 pertandingan, Gervinho dkk. berhasil menghasilkan 23 gol (1,3 gol perlaga).

Namun, hingga pekan 34 kemarin, D’Aversa masih gagal membenahi lini belakang Parma. Sudah jadi rahasia umum bila ingin lepas dari zona degradasi, tim wajib memperbaiki pertahanan. Sayangnya, meski sudah dibenahi D’Aversa, pertahanan Parma yang dikomandoi Bruno Alves masih mudah ditembus.

Pada akhirnya, pergantian pelatih dari Liverani ke D’Aversa sepertinya sudah terlambat. Dalam 18 giornata yang sudah dijalani, gawang Parma malah kebobolan 40 gol (2,2 gol perlaga). Meski mampu mencetak lebih banyak gol, I Ducali hanya sanggup meraih 1 kemenangan, 5 kali imbang, dan sudah menelan 12 kekalahan. Tambahan 8 poin yang didapat jelas kurang untuk mengangkat posisi Parma dari peringkat 19 klasemen.

Kini, Parma harus kembali menelan pil pahit. Terdegradasi dari Serie A musim ini bukanlah yang pertama kali untuk Parma. Sejak merasakan kompetisi Serie A untuk pertama kalinya pada 1990, ini adalah kali ketiga Parma terdegradasi ke Serie B. Mereka akhirnya jadi tim kedua setelah Crotone yang terdegradasi dari Serie A musim ini.

“Kami kurang karisma dan tekad, bukan hanya di satu pertandingan, tapi di seluruh musim. Maaf, setelah empat tahun bekerja, sayangnya kami kembali ke divisi yang bukan bagian dari kota dan tim seperti Parma,” ujar Roberto D’Aversa dikutip dari football-italia.net (3/5).

Senada dengan D’Aversa, sang pemilik klub, Kyle Krause juga menyatakan bahwa Parma tak seharusnya turun kasta dan pantas untuk berada di Serie A. Namun, ia yakin dengan masa depan Parma.

“Klub sedang menyusun dirinya untuk menjadi klub penting. Masa depan akan cerah, tapi kami sangat menyesali hal ini. Terdegradasi tidak baik untuk Parma yang layak mendapatkan Serie A.” kata Kyle Krause dikutip dari football-italia.net (3/5).

Langkah perbaikan memang sedang dilakukan sang presiden. Seminggu sebelum dipastikan terdegradasi, Kyle Krause sudah menyiapkan antisipasi terburuknya dengan menunjuk 2 managing director baru, yakni Jaap Kalma dan Javier Ribalta. Kalma akan bekerja di sektor perusahaan, sementara Ribalta bertugas di sektor olahraga.

Khusus Ribalta, ia adalah orang yang sudah malang melintang di berbagai klub. Ribalta adalah mantan pencari bakat Torino dan Milan, serta mantan kepala pencari bakat Novara, Juventus, dan Manchester United. Sebelum bekerja untuk Parma, Ribalta adalah direktur olaharga Zenit St. Petersburg.

Dengan perubahan positif di balik layar dan masih bertahannya investasi Krause Group di Parma, bukan tak mungkin mereka akan segera kembali ke Serie A musim depan. Syaratnya, Parma tak boleh kembali membuat kesalahan yang sama dengan asal-asalan menunjuk pelatih. Semoga lekas promosi kembali Parma!

 

***
Sumber Referensi: Goal, Football Italia, Parma Calcio, Tirto, AP News

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *