Beranda blog Halaman 700

Meraba Kekuatan Timnas Prancis Di Piala Eropa 2020

Setelah sempat ditunda karena pandemi yang menyerang bumi, Piala Eropa 2020 kini bakal bergulir sebentar lagi di tahun 2021. Ada banyak sekali hal yang menarik dinantikan dari gelaran empat tahunan ini, salah satunya adalah kekuatan para kontestan yang tentunya tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari sekian banyak tim kuat yang ikut berpartisipasi, nama timnas Prancis menjadi yang mungkin paling menarik perhatian.

Tim Ayam Jantan sudah sejak lama tapakkan kaki di kompetisi bergengsi antar klub Eropa ini. Mereka merupakan kampiun tahun 2000 silam. Dalam sepuluh tahun belakangan, kekuatan mereka juga layak dianggap sebagai yang terbaik. Pada tahun 2016, ketika menjadi tuan rumah ajang akbar ini, Prancis berhasil melaju ke partai final meski pada akhirnya takluk dari tim yang tak diduga-duga, Portugal.

Dua tahun berselang, luka di tanah Eropa berhasil dibayar dengan sangat lunas setelah mereka mampu menjadi juara di ajang Piala Dunia tahun 2018 yang digelar di Rusia.

Melibas Babak Kualifikasi dan Pertandingan Lainnya

Kini, berstatus sebagai sang jawara dunia, kokok si ayam jantan kian terdengar nyaring setelah mereka berhasil memastikan diri tampil di ajang Piala Eropa 2020. Kekuatan hebat Prancis sudah bisa ditakar sejak babak kualifikasi. Dari sepuluh pertandingan yang dijalani, mereka berhasil memenangkan delapan pertandingan diantaranya. Mereka hanya tidak mampu berbuat banyak ketika berhadapan dengan Turki, dimana ketika tampil di Istanbul mereka harus menelan kekalahan dan ketika melakoni laga tandang di Paris, hanya hasil imbang yang berhasil diraih.

Namun dengan delapan pertandingan, dunia seolah diberi tahu bahwa sang raja dunia masih datang dengan kekuatan terbesar. Terlebih, Griezmann yang jadi salah satu penggawa mereka sukses catatkan sebanyak tujuh assist.

Setelah memastikan diri tampil di Piala Eropa, Prancis masih belum mau tampil sederhana. Belakangan, mereka malah terlihat lebih garang. Di kompetisi UEFA Nations League saja, mereka berhasil meraih lima kemenangan dan satu hasil imbang dari total enam pertandingan. Mereka kini lolos ke babak semifinal untuk melakoni laga melawan Belgia.

Kemudian dalam total 18 pertandingan yang dijalani pasca kualifikasi Piala Eropa, Prancis hanya menelan satu kekalahan saja. Itu pun berasal dari laga persahabatan melawan Finlandia, dimana mereka ketika itu menurunkan pemain lapisnya.

Menatap Euro 2020 Dengan Skuad Mumpuni

Setelah segala pemanasan dirasa cukup, Prancis secara resmi mengumumkan skuad mereka yang akan dibawa ke ajang Piala Eropa. Tidak banyak perubahan yang dilakukan Didier Deschamps. Paling hanya pemanggilan Karim Benzema saja yang pada akhirnya sukses menarik mata dunia.

Ya, Benzema secara mengejutkan kembali dipanggil oleh Deschamps, setelah sebelumnya sempat hanya dianggap sebagai pembuat onar di skuad ayam jantan. Dalam hal ini, Deschamps tampak memahami betul peran Benzema bersama Real Madrid beberapa musim belakangan. Dia seolah sulit menyangkal bila peran Benzema di lini depan Los Blancos sangatlah krusial.

Bersama Benzema di lini depan, Deschamps juga masih setia dengan pemain andalannya, Olivier Giroud. Selain itu, dia tak lupa menempatkan nama hebat lainnya seperti Antoine Griezmann, Kylian Mbappé, Ousmane Dembele, sampai anak dari bek legendaris Prancis, Marcus Thuram.

Mundur ke belakang, Deschamps juga masih setia dengan nama Paul Pogba dan N’Golo Kante. Untuk semakin menambah daya ledak di lini tengah, pelatih berusia 52 tahun itu juga turut memanggil nama Adrien Rabiot, Corentin Tolisso, dan juga Moussa Sissoko.

Dari lini belakang, terdapat banyak sekali nama kuat, yang musim ini tampil luar biasa bersama timnya masing-masing. Misalnya saja Kurt Zouma dan Lucas Hernandez. Disana, terdapat pula nama Raphael Varane, Jules Kounde, Clement Lenglet, hingga Presnel Kimpembe. Menariknya, tidak terdapat nama Dayot Upamecano yang kita tahu tampil luar biasa dalam beberapa musim ini dan bakal segera mengenakan seragam kebesaran FC Bayern pada musim depan.

Di posisi penjaga gawang, siapa lagi kalau bukan nama Hugo Lloris yang berdiri di bawah mistar. Lloris yang sudah bergabung dengan Prancis sejak tahun 2008 kerap dijadikan andalan oleh sejumlah pelatih. Dia yang saat ini posisinya sulit disingkirkan, ditemani oleh Steve Mandanda dan juga Mike Maignan yang pada musim ini tampil gemilang bersama Lille.

Prancis, bila dilihat secara skuad, sangatlah siap untuk bersaing di ajang Euro 2020. Selain punya deretan pemain hebat di skuad utama, mereka juga punya kedalaman skuad yang tak kalah mumpuni. Ini bisa menjadi letak kekuatan Prancis lainnya ketika mendapat batu sandungan.

Dalam hal pemain yang dipanggil, nama Kylian Mbappe dan Antoine Griezmann masih dianggap sebagai bintang yang bakal bersinar nantinya. Dua penggawa bertalenta itu disebut bakal teruskan kesuksesan timnas Prancis di ajang prestise ini.

Selain deretan pemain hebat, Prancis juga dibesut oleh pelatih berpengalaman, Didier Deschamps. Sejak berhasil memenangkan Piala Dunia sebagai pemain maupun pelatih, Deschamps resmi bergabung dengan nama Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer. Dia sudah membesut timnas Prancis sejak tahun 2012 dan berhasil memperbaiki satu demi satu kekurangan yang berada dalam skuad Les Bleus.

Taktik Yang Diusung

Deschamps dikenal sebagai pelatih yang sangat terampil. Dengan kembali memanggil Karim Benzema dalam skuad, dia tampak akan membuat lini serangan Prancis kian gahar. Bersama Deschamps, para pemain Prancis mampu fokus dan selalu memperhatikan pergerakan dengan benar. Dia tahu bagaimana meramu tim membuat Prancis tampak lebih hebat dari yang sebelumnya.

Meski secara taktis Prancis tergolong tim yang rumit, Deschamps kemungkinan akan tetap fokus pada skema 4-3-1-2. Kemudian meski ada godaan untuk memasang tiga bek, dia mungkin akan tetap melanjutkan strategi yang membuatnya berjaya.

Untuk prediksi line up nya sendiri, seperti biasa, dia akan menempatkan Lloris dibawah mistar. Kemudian, dua bek tangguh Raphael Varane dan Presnel Kimpembe tampak bakal mengisi dua slot pemain belakang. Dari sisi kanan lapangan, nama Benjamin Pavard tetaplah favorit, dimana pada sisi lainnya, Lucas Hernandez akan tetap menjadi andalan.

Di lini tengah, N’Golo Kante yang menjadi jangkar akan diapit oleh duo Pogba dan Rabiot. Sementara di posisi yang lebih ke depan, Antoine Griezmann akan menjadi penyokong duo penyerang Kylian Mbappe dan Karim Benzema. Meski dua pemain tersebut belum pernah bekerja sama sebelumnya, kehebatan yang dimiliki masing-masing pemain tampak akan sangat membuat lini serang Prancis lebih menakutkan.

Peluang Juara

Bila melihat kesiapan dan kepemilikan skuad yang ada, Prancis jelas layak dimasukkan ke dalam daftar kandidat kuat juara. Terlebih bila mereka keluar sebagai juara grup, yang diisi dengan nama Jerman, Hungaria, dan juga Portugal.

Bila Prancis keluar sebagai juara grup, mereka diprediksi bakal melawan Swedia atau Polandia yang berpotensi jadi runner up grup E di fase gugur. Tantangan mereka baru akan terasa di babak perempat final, dimana kemungkinan besar Belgia akan menjadi lawan mereka, yang sangat berpotensi menjadi jawara grup B. Bila berhasil melewati tantangan tersebut, peluang Prancis untuk menjadi juara mungkin bisa dikatakan terbuka, meski tetap saja masih ada kekuatan lainnya yang tentu tak akan mudah dikalahkan.

Akan tetapi bila Prancis gagal menjadi juara grup, maka peluang mereka untuk meraih gelar juara diprediksi bakal semakin rumit.

Namun kembali lagi, selama Prancis mampu memanfaatkan skuad yang ada dan tidak lengah dengan segala hadangan, seperti yang sudah disinggung di awal, mereka yang jadi salah satu kandidat juara berpotensi kembali mengukir cerita indah ketika berhasil mengawinkan trofi Piala Dunia dan Piala Eropa.

 

Menakar Peluang Juara Bertahan Portugal di EURO 2020

Juara bertahan Piala Eropa, Portugal telah resmi mengumumkan skuadnya untuk menghadapi EURO 2020. Seperti yang banyak diprediksi, tim berjuluk Selecao itu membawa pemain-pemain terbaiknya. Fernando Santos, pelatih timnas Portugal paham betul betapa krusialnya EURO tahun ini. Bagaimana tidak, akan sangat memalukan bila Portugal yang notabene datang sebagai juara bertahan yang sudah pasti diunggulkan justru gugur di awal turnamen.

Pasalnya, sang juara bertahan mesti memulai EURO 2020 dari grup neraka. Portugal harus menghadapi kenyataan tergabung dalam satu grup yang sama dengan Prancis, Jerman, dan Hungaria. Jadi, bagaimana peluang Portugal untuk mempertahankan gelar juara di EURO tahun ini?

Namun sebelum itu, mari kita analisis terlebih dahulu skuad Portugal pilihan Fernando Santos untuk EURO 2020 yang akan bergulir 11 Juni – 11 Juli 2021.

11 Pemain dari Skuad EURO 2016 Tersingkir di EURO 2020

Fernando Santos memanfaatkan dengan baik batas maksimal pemain yang boleh ia bawa. Sebanyak 26 pemain terbaik Portugal telah ia pilih dengan matang. Tak banyak kejutan yang diberikan pelatih 66 tahun itu. Beberapa pilar penting di Piala Eropa 5 tahun lalu masih ia pertahankan.

Dari skuad juara di EURO 2016, Santos meninggalkan 12 pemain. Dan keputusan mantan pelatih timnas Yunani itu juga dapat dipahami. 3 dari 12 pemain sudah memutuskan pensiun. Mereka adalah Eduardo, Eliseu, dan Ricardo Carvalho.

Sementara sisanya sudah lama tak dipanggil ke timnas. Mereka adalah Bruno Alves, Vierinha, Cedric Soares, Nani, Ricardo Quaresma, Andre Gomes, Adrien Silva, Eder, dan Joao Mario. Yang cukup disayangkan adalah terpinggirnya Cedric Soares dan Joao Mario. Semenjak pindah ke Arsenal di tahun 2020, Cedric tampil minimalis dan hanya jadi penghangat bangku cadangan.

Sementara Joao Mario sebetulnya tampil cukup apik dan berhasil mengantarkan Sporting Lisbon juara Liga Portugal. Sayang, performanya belum cukup untuk meyakinkan Fernando Santos untuk memanggilnya kembali sejak terpinggirkan pada 2020 lalu.

Namun diluar nama-nama tadi, 26 pemain pilihan Fernando Santos sudah cukup menjanjikan. 11 nama dari skuad juara EURO 2016 masih dipertahankan. Mayoritas pemain andalan yang jadi kunci juara di UEFA Nations League juga masih mengisi skuad Portugal tahun ini. Dengan rataan usia 27,9 tahun, skuad Portugal jelas berisi pemain-pemain matang.

Skuad Lengkap Portugal di EURO 2020

Di posisi penjaga gawang, Rui Patricio, kiper 33 tahun asal Wolverhampton sepertinya masih akan jadi pilihan utama Fernando Santos. Ia telah tampil sebanyak 92 laga dan selalu jadi pilihan utama di Piala Dunia 2014, EURO 2016, dan Piala Dunia 2018.

Bila bukan Patricio, Anthony Lopes dan Rui Silva tak kalah bagusnya. Lopes adalah kiper utama Lyon dan sudah membuat 94 saves dan 11 clean sheets musim ini. Catatan tersebut lebih baik dari statistik Rui Patricio. Sementara bagi Rui Silva, tampil di EURO 2020 bakal jadi debutnya di timnas senior. Kiper 27 tahun itu telah membuat 78 saves dan 8 clean sheets bersama Granada di La Liga musim ini.

Di posisi bek, Fernando Santos hanya memanggil 7 pemain saja. Mereka adalah Pepe, Jose Fonte, Ruben Dias, Joao Cancelo, Nelson Semedo, Raphael Guerreiro, dan Nuno Mendes. Jatah bek utama sudah pasti jatuh kepada Ruben Dias. Ia selalu jadi andalan Pep Guardiola dan berhasil membawa Manchester City juara Premier League musim ini. Dias juga terpilih sebagai pemain terbaik The Citizens dan pemain terbaik Liga Inggris versi Football Writers’ Association.

Pepe dan Jose Fonte yang masih tampil prima di usianya yang nyaris 40 tahun akan bergiliran menemani Ruben Dias. Jose Fonte sendiri baru saja juara Ligue 1 bersama Lille. Di posisi bek kanan, jatah starter akan diperebutkan rekan Dias di Manchester City, Joao Cancelo dan bek milik Wolverhampton, Nelson Semedo.

Posisi bek kiri Portugal di EURO 2020 bakal diperebutkan Raphael Guerreiro dan Nuno Mendes. Guerreiro jelas lebih unggul. Selain berhasil membawa Dortmund juara DFB-Pokal, ia juga produktif sebagai bek kiri dengan torehan 5 gol dan 10 asis. Namun, Nuno Mendes tak bisa dianggap remeh. Pemuda 18 tahun itu baru saja mengantarkan Sporting Lisbon juara Liga Portugal.

Untuk memperkuat lini tengah, Fernando Santos membawa 8 gelandang. Mereka adalah Joao Palhinha (Sporting Lisbon), Joao Moutinho (Wolves), William Carvalho (Betis), Danilo Pereira (PSG), Renato Sanches (Lille), Ruben Neves (Wolves), Sergio Oliveira (Porto), dan Bruno Fernandes (MU). Yang paling mentereng jelas Bruno Fernandes. Ia adalah top skor dan top asis Manchester United di Liga Inggris musim ini dengan 18 gol dan 11 asis. Bruno sukses mengantar MU lolos ke babak final Liga Europa musim ini dan baru saja terpilih sebagai pemain terbaik Setan Merah.

Di lini depan, skuad Portugal jauh lebih mentereng lagi. 8 penyerang yang dibawa punya kelebihan masing-masing. Mereka adalah Rafa Silva (Benfica), Diogo Jota (Liverpool), Goncalo Guedes (Valencia), Pedro Goncalves (Sporting CP), Joao Felix (Atletico Madrid), Bernardo Silva (Manchester City), Andre Silva (Frankfurt), dan Cristiano Ronaldo (Juventus). Santos jelas akan dibikin pusing dengan daftar tersebut.

Dari nama-nama tadi, Pedro Goncalves adalah debutan seperti Rui Silva. Meski begitu, Pedro adalah top skor Liga Portugal musim ini dengan torehan 23 gol. Gelandang serang Sporting Lisbon itu juga bisa memainkan posisi sayap dan striker. Selain Pedro, penyerang timnas Portugal lainnya yang berstatus top skor adalah Andre Silva dan Cristiano Ronaldo.

Andre Silva berhasil mencetak 28 gol di Bundesliga musim ini untuk Eintracht Frankfurt. Sementara Cristiano Ronaldo yang juga kapten tim adalah top skor Serie A musim ini dengan 29 gol. Ronaldo jelas pemain terbaik dalam skuad Portugal di EURO 2020. Magisnya baik di dalam dan di luar lapangan sudah terbukti di EURO 2016 lalu.

Selain para top skor itu, penyerang Selecao juga diisi para juara. Joao Felix baru saja mencicipi gelar La Liga bersama Atletico Madrid dan Bernando Silva juara Premier League bersama Manchester City. Fernando Santos juga punya sosok supersub dalam diri Diogo Jota. Musim ini, ia kerap tampil impresif saat memulai laga dari bangku cadangan Liverpool.

Dalam skuad EURO 2020, hanya ada 3 pemain yang sudah tampil lebih dari 100 laga untuk timnas Portugal. Mereka adalah Pepe (113 caps), Joao Moutinho (130 caps), dan Cristiano Ronaldo (173 caps). Mereka dipastikan bakal jadi mentor bagi rekannya di masing-masing posisi. Kepemimpinan dan mentalitas juara yang dimiliki 3 pemain tersebut akan sangat berguna bagi Portugal di Piala Eropa nanti.

Meski bukan yang paling mahal, skuad Portugal untuk EURO 2020 memiliki nilai pasar sebesar 829,5 juta euro. Di bawah asuhan Fernando Santos, Portugal hampir dipastikan bermain dengan skema 4 bek. Kreativitas dan rotasi akan terjadi di lini tengah dan lini serang.

Pasalanya, Portugal banyak berisi pemain bertipe menyerang. Maka dari itu, permainan proaktif dengan gaya main menyerang sangat bisa diharapkan. Sejauh ini, formasi 4-3-3 dan 4-2-3-1 selalu jadi favorit Fernando Santos. Meski masih mengandalkan Ronaldo, bukan berarti Portugal selalu bergantung kepadanya. Buktinya, dalam beberapa tahun terakhir, Fernando Santos sukses menjadikan Portugal sebuah tim utuh dengan kolektivitas permainan yang luar biasa.

Lalu, bagaimana peluang Portugal di EURO 2020?

Tergabung di grup neraka adalah langkah awal yang sulit bagi sang juara bertahan. Masalahnya, keberuntungan seperti yang mereka raih di babak grup EURO 2016 tak boleh jadi patokan. Kala itu Portugal cukup beruntung finish sebagai salah satu tim peringkat 3 terbaik berkat 3 hasil imbang.

Memang, memetik hasil minimalis seperti di Piala Eropa edisi sebelumnya masih sangat memungkinkan. Namun, anak asuh Fernando Santos mesti selalu mentarget menang di tiap laga. Sebab, meraih hasil imbang di hadapan Hungaria, Jerman, dan Prancis bukanlah perkara mudah.

Portugal akan membuka laga grup F melawan Hungaria (15 Juni). Di EURO 2016, kedua tim juga tergabung di grup yang sama. Kala itu, skor 3-3 jadi hasil akhirnya. Namun, di 2 pertemuan terakhir di kualifikasi Piala Dunia 2018, Portugal selalu menang atas Hungaria dengan skor 4-0 dan 1-0.

Di laga kedua, Portugal akan bertemu dengan Jerman. Ini bakal jadi laga paling berat bagi skuad Fernando Santos. Der Panzer adalah lawan terburuk Selecao di turnamen besar. Sejak Piala Dunia 2006, kedua tim selalu bertemu di EURO 2008, EURO 2012, dan Piala Dunia 2014. Di semua pertemuan itu, Portugal selalu kalah. Terakhir kali Portugal menang atas Jerman di turnamen besar terjadi di ajang EURO 2000.

Terakhir, Portugal mesti mewaspadai Prancis yang jelas ingin balas dendam. Portugal memang mengalahkan Prancis di final EURO 2016. Namun, di dua pertemuan terakhir kedua tim di tahun 2020, Les Blues mampu memetik 1 kemenangan dan 1 hasil imbang atas Selecao.

Akan tetapi, ada kabar baik bagi para pecinta timnas Portugal. Selecao punya rekor bagus selama lolos ke ajang EURO. Mereka sekali juara, sekali runner-up, 2 kali jadi semifinalis, dan 2 kali lolos ke perempat final sepanjang keikutsertaannya di Piala Eropa. Intinya, Portugal selalu berhasil lolos dari babak grup.

Apalagi, performa mereka di tahun 2020 dan 2021 cukup bagus. Portugal hanya sekali kalah dan mampu menang 5 kali dalam 7 pertandingan. Sementara di 3 laga pembuka kualifikasi Piala Dunia 2022, Cristiano Ronaldo dkk menang 2 kali dan sekali imbang.

Ini adalah modal bagus Portugal untuk menghadapi EURO 2020 nanti. Jadi, mampukah Portugal melangkah jauh hingga berhasil mempertahankan gelar juara Piala Eropa?

**
Sumber Referensi: Givemesport, CNN, FourFourTwo, Bola

Pembelian Paling Berpengaruh Musim 2020/21

Musim 2020/21 sebentar lagi berakhir. Ada banyak sekali pemain yang tampil luar biasa pada musim ini, dimana diantaranya adalah pemain yang baru saja mendarat di klub barunya. Meski baru saja bergabung dengan rekan-rekan setimnya, banyak dari mereka yang justru langsung menjadi andalan dan ciptakan momen-momen penentuan.

Pada bahasan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan pembelian terbaik dan paling berpengaruh pada musim 2020/21.

Edinson Cavani – Manchester United

Edinson Cavani baru saja menciptakan momen spektakuler dimana dia mampu lesakkan gol yang tak akan pernah dilupakan oleh para penggemar Setan Merah. Gol tersebut seolah memberitahu dunia bahwa di usianya yang terbilang tua, Cavani masih mampu menjadi andalan di level tertinggi.

Di usia 33 tahun, Cavani resmi menandatangani kontrak dengan tim yang bermarkas di Old Trafford. Dia diplot sebagai penyerang Setan Merah yang memang dalam beberapa waktu belakangan memiliki masalah di sektor tersebut. Awalnya, kedatangan Cavani banyak diremehkan. Namun apa yang ditampilkannya di atas lapangan sungguh berada di luar dugaan. Cavani mampu mencukupi kebutuhan MU dalam hal mencetak gol. Dia menjadi penyerang utama MU dan mampu berikan kontribusi yang amat luar biasa bagi tim.

Dari 38 laga yang dijalani di semua kompetisi, Cavani sudah berhasil mencetak 16 gol. Dia yang mulanya hanya diberi kontrak selama setahun kemudian mendapat perpanjangan kontrak untuk bisa kembali unjuk gigi pada musim depan.

Cavani telah memberikan banyak pengaruh bagi MU sekaligus memutus kutukan nomor punggung 7 di Manchester United.

Achraf Hakimi – Inter Milan

Achraf Hakimi layak disebut sebagai salah satu pembelian tersukses yang pernah dilakukan Inter Milan. Meski tak dipakai oleh Real Madrid, Hakimi yang sempat mampir di Borussia Dortmund langsung menjadi pemain yang banyak diincar oleh klub Eropa. Inter yang melihat potensi pada sang pemain pun tanpa ragu mengeluarkan dana senilai 40 juta euro atau setara 700 miliar rupiah.

Dia yang masih berusia 22 tahun langsung nyetel dengan strategi yang diracik oleh allenatore Inter Milan, Antonio Conte. Tak hanya bertahan, Hakimi juga seringkali menjebol gawang lawan. Lebih dari itu, dia kerap melakukan akselerasi yang tak jarang membuat lawan kerepotan.

Hakimi, dalam 44 pertandingan yang dijalani di semua kompetisi, sudah berhasil menciptakan sebanyak 7 gol dan 10 assist. Berkat kontribusi luar biasanya itu, Inter Milan juga berhasil meraih trofi scudetto untuk kali pertama setelah lebih dari 10 tahun lamanya.

Bila melihat permainannya pada musim ini pula, tidak berlebihan jika menyebutnya sebagai salah satu pemain terbaik Serie A.

Luis Suarez – Atletico Madrid

Siapa yang berani menyangkal kontribusi luar biasa yang diberikan Luis Suarez kepada Atletico Madrid?

Kepergian Luis Suarez pada musim panas lalu mungkin menjadi penyesalan terbesar yang pernah dialami FC Barcelona. Betapa tidak, mereka secara mudah melepas pemain yang sudah menjadi andalan di lini depan secara bertahun-tahun ke kubu rival. Bahkan sampai saat ini, Barcelona masih kesulitan dalam mencari pengganti Suarez yang putuskan bergabung dengan Los Rojiblancos.

Ya, meski datang sebagai pemain buangan FC Barcelona, Suarez benar-benar serius dalam melanjutkan perjalanan karirnya di Wanda Metropolitano. Dari total 37 pertandingan yang dimainkan, Suarez yang sudah dianggap tua oleh Barcelona mampu mencetak sebanyak 20 gol. Bahkan, tidak jarang pemain asal Uruguay tersebut menjadi penentu kemenangan skuad asuhan Diego Simeone.

Sampai saat ini, Suarez bahkan mampu memimpin rekan-rekannya dalam menyambut gelar La Liga yang sudah lama dirindukan.

Ruben Dias – Manchester City

Ruben Dias mampu menjadi pembelian tersukses Manchester City setelah didatangkan dari Benfica pada musim panas lalu. Pemain bertinggi 187 cm ini baru berusia 24 tahun, namun kontribusi yang diberikan kepada skuad Pep Guardiola sangatlah luar biasa. Ruben Dias memang bukanlah sosok bek biasa. Dia didatangkan dengan dana senilai 68 juta euro atau setara 1,1 triliun rupiah.

Kontribusinya di Manchester City saat ini sudah sangat luar biasa. Dia mampu tampil konsisten di berbagai kompetisi, termasuk Liga Primer Inggris dan Liga Champions Eropa. Dalam 30 pertandingan liga, dia bahkan mampu catatkan sebanyak 14 clean sheet. Selain itu, dia juga mampu catatkan setidaknya 2 kemenangan duel udara dalam setiap pertandingan. Yang tak kalah penting, Dias selalu ciptakan akurasi umpan sukses sebanyak lebih dari 90% per pertandingan.

Kedatangan Ruben Dias di kubu The Citizens memiliki pengaruh yang nyaris sama dengan apa yang telah diberikan Virgil van Dijk kepada Liverpool. Dia luar biasa, dan bahkan siap membawa Manchester City merajai Eropa untuk kali pertama, setelah sebelumnya telah memastikan gelar juara di kompetisi Inggris.

Sven Botman – LOSC Lille

Kompetisi Prancis musim ini tidak terasa membosankan setelah Lille mampu duduk di tangga tertinggi liga. Mereka mampu tunjukkan permainan gemilang hingga berhasil memotong dominasi Paris Saint Germain di persepakbolaan Prancis.

Kinerja apik yang ditunjukkan Lille musim ini tak lepas dari kontribusi besar yang diberikan oleh pemain bernama Sven Botman. Dia merupakan pemain yang baru didatangkan Lille pada musim ini dari Ajax Amsterdam. Meski baru datang, pemain yang dihargai 8 juta euro atau setara 137 miliar ini sudah mampu tunjukkan kontribusi sempurna.

Pemain yang berposisi sebagai bek ini berhasil membuat lini pertahanan Lille tampil solid, dimana Lille hanya kebobolan sebanyak 22 gol dan menjadi yang paling sedikit di kompetisi Ligue One Prancis.

Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Botman sudah diambang membuat sejarah bersama Lille. Maka dari itu, tak heran bila sejumlah klub besar, termasuk duo Manchester, begitu tertarik untuk mendapatkan tanda tangannya.

Jesse Lingard – West Ham

Jesse Lingard memang baru didatangkan West Ham United dari Manchester United pada musim dingin tahun ini. Selain itu, dia juga berstatus sebagai pemain pinjaman. Namun seperti yang kita tahu, kontribusi yang diberikan kepada The Hammers sangatlah luar biasa. Bahkan, pelatih David Moyes berani berujar kalau Lingard merupakan sosok pembeda di skuadnya saat ini.

Lingard, sejauh ini, sudah banyak ciptakan gol untuk West Ham. Padahal ketika masih berseragam MU, Lingard banyak dicaci menyusul permainan buruknya. Kini, dari 18 pertandingan yang dijalani bersama West Ham, Lingard mampu mencetak sebanyak 9 gol. Sebuah raihan yang begitu mengejutkan bagi semua pihak, terutama penggemar Setan Merah.

Bahkan, Lingard sukses menyabet dua penghargaan bulanan Liga Primer Inggris sekaligus, yakni Pemain dan Gol Terbaik edisi April. Hal itu memang terasa wajar setelah Lingard mampu menyumbangkan empat gol dan satu assist dalam empat pertandingan. Lebih dari itu, dia juga berhasil menginspirasi West Ham untuk stabil di papan atas sejak dipinjam dari Manchester United.

Apa Kegunaan Water Break Bagi Pemain Sepakbola?

Pernah mendengar istilah ‘water break‘?

Akhir-akhir ini istilah water break dalam dunia si kulit bundar semakin populer dan familiar bagi masyarakat pecinta sepakbola. 

Namun, apa sih water break itu?

Sesuai dengan namanya, water break adalah waktu dimana para pemain sepakbola yang sedang bertanding diberi kesempatan istirahat sejenak untuk minum.

Meskipun sudah sering terdengar di telinga, istilah water break masih tergolong baru dalam sepak bola. FIFA sendiri baru memberlakukan aturan tersebut enam tahun lalu. 

Water break mulai diberlakukan pada ajang Piala Dunia 2014 Brasil. Momennya terjadi saat laga Amerika Serikat melawan Portugal di pertandingan grup G, dimana itu menjadi momen water break pertama dalam sejarah Piala Dunia. Ketika itu, wasit asal Argentina, Nestor Pitana, menghentikan pertandingan pada menit ke-39 untuk mempersilahkan para pemain mengonsumsi air sejenak.

Penerapan aturan water break di Piala Dunia 2014 sendiri bukannya tanpa alasan. FIFA, selaku induk sepak bola dunia tentu punya pedoman dan alasan logis kenapa harus ada water break dalam pertandingan sepak bola.

Keputusan diberlakukannya water break dalam laga Portugal kontra Amerika Serikat karena kota tempat laga berlangsung, Manaus, memang memiliki iklim yang cukup ekstrim. Selain memiliki tingkat kelembaban yang tinggi, suhu rata-ratanya juga bisa mencapai 32 derajat celcius. Kondisi ini tentu akan menguras cairan para pemain yang tengah bertanding.

Peraturan Water Break di Piala Dunia Brazil 2014 lalu, sebenarnya juga merupakan permintaan Pelatih timnas Italia, Cesare Prandelli. Prandelli meminta agar Water Break diberlakukan, mengingat kondisi cuaca panas dan lembab di Brasil. Kondisi ini dikhawatirkan akan menyulitkan para pemain Eropa, yang terbiasa bermain dalam kondisi iklim dingin, sehingga mereka rentan mengalami dehidrasi.

Karena alasan tersebut, FIFA langsung melakukan penelitian di Turki dengan mengukur temperatur tubuh pemain selama permainan. Sedangkan, untuk hasil penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports.

(source: https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/sms.12371)

Setelah melihat hasil riset tersebut, proposal pengajuan water break oleh pelatih timnas Italia tersebut akhirnya disetujui oleh FIFA dan diputuskan akan diberlakukan pada Piala Dunia Brasil 2014. 

Pada aturan FIFA, disebutkan bahwa jika suhu udara berada di atas 32 derajat celcius, maka wasit diperkenankan untuk memberikan istirahat pada menit 30 dan menit 75, tanpa menghentikan waktu normal, artinya waktu normal terus berjalan.

Diberlakukannya water break adalah demi menghindari dehidrasi. Suatu kondisi di mana air yang keluar dari tubuh melebihi air yang masuk. Dehidrasi dapat muncul karena kekurangan cairan atau kehilangan air secara berlebihan. Hilangnya air dari tubuh biasanya dikarenakan keringat berlebih, dan ini yang paling sering menimpa para pemain sepak bola, terlebih ketika bermain di cuaca yang panas.

Dehidrasi bukanlah kondisi yang dapat diremehkan begitu saja, apalagi untuk seorang atlet sepakbola. Dimana sepak bola termasuk olahraga berat yang sangat menguras energi.

Untuk dehidrasi ringan saja, pesepak bola bisa mengalami pusing, kram, dan perubahan emosi secara mendadak. Apalagi, jika sang pemain sampai mengalami dehidrasi berat, tentu akan sangat berbahaya, karena bisa membuat pemain  muntah dan pingsan.

Kondisi tersebut tentunya akan membuat pemain tidak bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya secara maksimal. Sebab, si pemain kurang konsentrasi. Selain itu, pergerakan pemain juga akan turut melambat.

Karena itulah si pemain membutuhkan tambahan cairan yang masuk ke tubuhnya. Water break menjadi solusi terbaik bagi pemain untuk mengisi cairan yang hilang dari tubuhnya.

Water break dalam pertandingan sepak bola sangatlah penting. Sebab, sepak bola merupakan salah satu olahraga yang memakan waktu lama, sehingga tubuh akan mengeluarkan keringat sebanyak 750-2000 ml per jam.

Untuk olahraga dengan durasi lebih dari 30 menit memang dianjurkan untuk mengonsumsi air sebanyak 150-350 ml per 15-20 menit. Dan jumlah konsumsinya harus ditingkatkan menjadi lebih dari 350ml jika kondisi cuaca panas.

Selain itu, dianjurkan juga untuk mengonsumsi cairan sebanyak 500-600 ml 2-3 jam sebelum pertandingan/latihan.

Untuk jenis minuman yang disarankan adalah minuman jenis sports drink. Karena minuman jenis ini banyak mengandung elektrolit dan karbohidrat. Elektrolit dalam minuman ini bisa menjadi pengganti elektrolit tubuh yang hilang karena berkeringat, menjaga volume darah tetap stabil, mengefisiensikan pendinginan, dan membantu penyerapan air dan karbohidrat dalam usus.

Sementara, karbohidrat dalam minuman ini akan sangat berguna, karena bisa menjadi pasokan energi baru untuk atlet yang energinya sudah terkuras selama pertandingan.

Biasanya, jika tidak ada water break, pesepakbola akan mencuri-curi kesempatan untuk meminum air. Entah ketika akan dilakukan sepak pojok atau saat sedang ada pemain yang mendapat perawatan cedera. Pada momen-momen itulah, pesepak bola di atas lapangan akan mengambil kesempatan untuk meminum air.

Namun, tetap saja hal itu kurang efektif, karena hanya beberapa pemain saja yang merasakannya, sedangkan pemain lainnya terkadang tidak mendapat kesempatan untuk mengambil air minum.

Dengan adanya water break, maka setiap pemain punya kesempatan yang sama untuk mengisi cairan dalam tubuhnya. Tapi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa water break hanya dilakukan saat laga digelar pada suhu udara di atas 32 derajat celcius.

Dalam setiap water break, waktu yang dialokasikan hanyalah tiga menit. Untuk itu, setiap pesepak bola harus menggunakan waktu yang singkat ini dengan sebaik-baiknya.

Water break sendiri ternyata tidak hanya bermanfaat bagi kebugaran para pemain. Ada manfaat lain yang bisa dimaksimalkan dari aturan water break ini. Yakni, para pelatih dapat menyampaikan perubahan taktik sebagai bentuk respon atas kejadian di lapangan. Sedangkan, untuk pemegang hak siar, 3 menit water break bisa digunakan untuk menambah spot iklan.

 Sumber Referensi: Fandom, Panditfootball, Republika, Sports.sindonews, liga.kgkompas

Mengapa Tidak Ada VAR Dalam Ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022?

0

Ajang kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Portugal dan Serbia beberapa waktu lalu  diwarnai kontroversi. Cristiano Ronaldo murka karena golnya di menit 90+3 dianulir. Padahal, jika melihat tayangan ulang, bola yang ditendang Ronaldo jelas-jelas melewati garis gawang dan seharusnya bisa diakui sebagai gol.

Sayangnya, sang wasit, Danny Makkelie, tak melihatnya sebagai gol, karena bola kemudian ditendang pemain Serbia keluar dari gawang.

Insiden tersebut membuat Ronaldo melakukan protes keras. Alih-alih, mendapat pengakuan atas golnya, Ronaldo justru mendapat kartu kuning. Ia pun meninggalkan lapangan dengan melempar ban kapten ke tanah. Padahal, pertandingan belum selesai.

Kejadian ini membuat pelatih Portugal, Fernando Santos, angkat suara. Dia mengatakan, seharusnya dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa menggunakan VAR.

Ya, VAR atau Video Assistant Referee adalah teknologi terbaru yang dipakai dalam arena sepak bola. Salah satu tugas utama VAR adalah membantu meringankan beban wasit.

Padahal, sebelumnya keberadaan VAR diliputi oleh berbagai macam kontroversi.  Ada sebagian pihak yang menganggap bahwa beberapa keputusan VAR sangat merugikan, mulai dari handball, offside, hingga penalti. 

Bahkan, tak sedikit manajer yang mengeluhkan keberadaan VAR.

Salah satunya adalah pelatih Arsenal, Mikel Arteta. Ia mengaku sangat kecewa dengan keputusan dianulirnya gol Lacazette, dalam laga Arsenal melawan Leicester City musim 2020/21. 

Jose Mourinho, pelatih Tottenham Hotspurs, juga pernah melontarkan kritik pedas mengenai penggunaan VAR. Mourinho bahkan menyebut teknologi itu menghancurkan sepak bola.

“VAR seharusnya membantu sepak bola, untuk membawa kebenaran kepada para penonton. Mereka melakukannya dengan memberi penalti dan membunuh pertandingan dengan keputusan Son,” kata Mourinho.

Mourinho melontarkan kritiknya, usai VAR membuat pemainnya, Son Heung Min diganjar kartu merah dalam lanjutan Liga Inggris musim 2019/20. Mourinho berpendapat, keputusan kartu merah Son seharusnya tidak terjadi. Karena, Anthony Taylor, wasit yang memimpin pertandingan, tidak memutuskan demikian.

Namun, berbanding terbalik dengan mereka yang kontra VAR, Santos justru merasa jika teknologi ini sangat dibutuhkan dalam kualifikasi Piala Dunia 2022. Hal itu, cukup beralasan. Mengingat tidak adanya teknologi tersebut membuat tim yang dilatihnya gagal meraih 3 poin.

“Wasit meminta maaf dan saya sangat menghormatinya, tapi tidak bisa dibiarkan dalam kompetisi seperti ini tidak ada teknologi VAR atau garis gawang.”

“Bola berada setengah meter di dalam gawang, tidak ada penghalang antara penjaga gawang dan garis gawang. Itu sangat jelas.”

“Dia (Makkelie) meminta maaf kepada saya, tetapi ini tidak akan menyelesaikan masalah. Wasit tentu saja bisa melakukan kesalahan. Mereka hanya manusia. Untuk itulah harus ada VAR,” kata Santos (via A Bola)

Namun, Santos tak sendirian. Bek timnas Spanyol, Inigo Martinez, juga mengungkapkan kekecewaannya terkait ketiadaan VAR. Menurutnya, jika dalam pertandingan Spanyol melawan Yunani ada VAR, ceritanya mungkin akan berbeda.

Kekecewaan Martinez bukannya tanpa alasan. Karena dalam laga itu, timnas Yunani mendapatkan hadiah penalti kontroversial. yang membuat pertandingan berakhir seri satu sama.

Dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia, memang tidak menggunakan VAR atau teknologi garis gawang. 

Dilansir dari Marca, alasan mengapa VAR dalam ajang ini tidak digunakan adalah untuk penyetaraan. Karena tidak semua stadion yang dipakai untuk pertandingan kualifikasi menyediakan teknologi VAR. Tak hanya di zona Eropa, hal tersebut juga berlaku di zona Asia. Di zona Asia sendiri, masih banyak stadion yang belum memiliki fasilitas VAR.

Jadi keputusan yang diambil oleh badan pengatur sepak bola untuk tidak menggunakannya di kualifikasi manapun, adalah untuk memastikan bahwa semuanya bermain di lapangan dengan fasilitas setara.

FIFA menganggap jika VAR tetap digunakan, akan terasa tidak adil bagi negara-negara yang stadionnya belum memiliki teknologi tersebut.

Sumber Referensi : Marca, Kumparan, Kompas, abola

Mengenal Kayky Da Silva : The Next Neymar Dengan Kaki Kiri Mematikan

0

Brasil kembali melahirkan calon bintang masa depan. Dia adalah Kayky Da Silva Chagas. Di usianya yang masih 17 tahun, ia sudah dilirik oleh klub sekelas Manchester City. Dilansir The Sun, klub Manchester Biru itu sudah menjajaki pembicaraan selama berbulan-bulan dengan Fluminense, selaku klub dari Kayky Da Silva. Nilai transfer Kayky kabarnya bisa mencapai 21,5 juta pounds atau setara Rp 425,8 miliar.

Masih remaja dan punya harga selangit. Siapa sebenarnya Kayky Da Silva?

Kayky Da Silva Chagas lahir pada 11 Juni 2003 di Brasil. Ia mengawali karir sepakbolanya dengan bermain di klub Fluminense.

Awalnya, pada saat berusia 8 tahun Kayky sempat terlupakan oleh Fluminense. Ia gagal dalam audisi masuk akademi klub tersebut, dan malah masuk sekolah Samba Mangueira. Namun, pencari bakat Fluminense melihatnya kembali, dan mengajaknya bergabung. Dan keputusan Fluminense mengajak Kayky tak salah. Sebab sang pemain mampu menunjukkan penampilan yang apik di setiap pertandingan.

Kayky merupakan pesepak bola yang berposisi sebagai penyerang. Kualitas olah bolanya dianggap sangat baik. Hingga ia disebut-sebut sebagai calon bintang masa depan tim nasional Brasil. Kemampuannya memainkan bola menuai banyak pujian dalam setiap penampilan di lapangan.

Bahkan, publik Brasil kerap membanding-bandingkan Kayky dengan sosok Neymar. Wajar saja, dari gaya permainan, keduanya memang amat mirip. Setiap bola ada di kakinya, sulit bagi pemain lawan untuk merebutnya.

Kayky mempunyai segala atribut untuk menjadi pesepakbola hebat. Kecepatan, kontrol bola yang baik, dribble menawan, serta yang paling mengesankan adalah kualitas dari kaki kirinya. Kaki kiri Kayky disebut sangat mematikan. Ketika sepakan kaki kirinya mengarah ke gawang, bisa dipastikan sulit bagi kiper untuk mengantisipasinya.

Kayky yang biasa beroperasi di sektor penyerang sayap kiri juga sering menusuk ke pertahanan lawan. Kelebihan-kelebihan itulah yang membuat Kayky dinilai sebagai The Next Neymar.

Dilansir The Sun, pelatih Fluminense U17, Guilherme Torres mengatakan bahwa Kayky punya kualitas teknik yang bagus, utamanya dalam hal satu lawan satu. Selain itu, ia juga penyerang yang menakutkan jika sudah berada di area kotak penalti.

“Kayky adalah pemain yang sangat menonjol karena kualitas tekniknya, terutama dalam hal satu lawan satu, dan ketika sudah berada di depan gawang,” ucapnya.

Kayky diyakini bakal menjadi bintang besar di masa depan. Terlebih lagi klub Fluminense memang dikenal telah banyak melahirkan pemain berkualitas. Sebut saja bek sayap Real Madrid Marcelo, gelandang tengah Liverpool Fabinho, dan duo kembar Fabio dan Rafael da Silva yang pernah bermain di Manchester United. Mereka semuanya adalah produk dari akademi Fluminense.

Kayky bersama Metinho menjadi pemain kunci di tim Fluminense saat menjuarai kejuaraan Brazil U-17 pada tahun lalu. Kemudian pada Copa De Brazil U-17, Kayky menjadi pencetak gol terbanyak di Brasileirao Under-17 Championship dengan perolehan 12 gol.

Kelebihan lainnya yang dimiliki Kayky ialah, ia pandai mencari ruang kosong di lapangan dan memiliki kemampuan yang baik untuk memberikan assist untuk rekan satu timnya. Masih menurut pelatihnya di tim U17 Fluminense, Kayky disebutnya mempunyai mentalitas pemenang dan kompetitif, sesuatu yang penting bagi pemain untuk berada di level tinggi. 

Dengan bakatnya yang luar biasa, bukan tidak mungkin Kayky akan menjadi pemain seperti Neymar di masa mendatang. Kini, patut kita nantikan perkembangan dari anak muda asal Brasil ini

Sumber Referensi : The sun, Sportdetik, Beritagratis, Krsumsel

Perjalanan Panjang Lille Akhiri Dominasi PSG di Ligue 1

Setelah menunggu hingga pekan terakhir, Lille akhirnya berhasil memastikan diri sebagai kampiun Ligue 1 musim 2020/2021. Kepastian tersebut mereka dapatkan setelah menundukkan tuan rumah Angers 1-2 di pekan ke-38.

83 poin yang berhasil Lille kumpulkan sudah cukup untuk mematahkan dominasi PSG selama 3 tahun terakhir di Liga Prancis. Lille yang mengkudeta PSG sejak pekan ke-31 hanya unggul 1 poin dari PSG yang keluar sebagai runner-up.

Bagi Lille, gelar juara Ligue 1 musim ini adalah pelepas dahaga mereka setelah kering prestasi selama sedekade terakhir. Terakhir kali Lille merasakan juara terjadi di musim 2010/2011. Kala itu, mereka menjuarai Coupe de France dan Ligue 1 dengan trio penyerang Moussa Sow, Gervinho, dan Eden Hazard.

Gelar juara liga musim ini sendiri merupakan gelar ke-4 bagi Lille sepanjang sejarah klub. Namun, apa yang dicapai Lille musim ini tidaklah terjadi dalam waktu singkat. Gelar juara Liga Prancis musim ini adalah hasil investasi dan perjuangan klub berjuluk Les Douges itu sejak 2017 silam.

Singkatnya, musim ini merupakan buah manis dari perjalanan panjang Lille mencapai kesuksesan. Jadi bagaimana kisah perjuangan mereka hingga bisa keluar sebagai kampiun Ligue 1 musim ini? Berikut ulasannya.

Investasi Besar Lille Di Bawah Kepemlikan Gerard Lopez

Semua bermula di tahun 2017 silam saat Lille berganti kepemilikan. Michael Seydoux, pebisnis dan produser film yang sudah berkuasa selama 13 tahun terakhir akhirnya menjual Lille kepada miliarder asal Luksemburg, Gerard Lopez. Sejak saat itu, Lopez yang juga menjabat Presiden Tim Lotus F1 resmi jadi presiden Lille.

Perombakan terjadi di bawah kepemilikan Lopez. Dengan dana besar yang ia bawa, Lopez merekrut Luis Campos sebagai direktur olahraga yang baru. Sebelumnya, Campos juga sudah bekerja di bawah miliarder lainnya, yakni Dmitry Rybolovlev, pemilik AS Monaco.

Campos adalah figur jenius. Di klub sebelumnya, ia adalah sosok penting dalam tim yang membangun kekuatan AS Monaco. Campos adalah orang yang berjasa mendatangkan Dimitar Berbatov, Radamel Falcao, James Rodriguez, Fabinho, Anthony Martial, Bernardo Silva, Kylian Mbappe dan bintang-bintang lainnya di AS Monaco selama tahun 2013 hingga 2016.

Tak hanya Luis Campos yang datang. Gerard Lopez juga berinvestasi besar dengan menunjuk Marcelo Bielsa sebagai pelatih baru. Sayang, dana besar yang digelontorkan Lopez untuk menggaji Bielsa tak sebanding dengan pencapaiannya. Di bawah asuhan Bielsa, Lille justru nyaris terdegradasi.

Sebagai gantinya, mereka bertaruh dengan menunjuk Christophe Galtier sebagai ganti Bielsa pada Desember 2017. Sebelumnya, Galtier melatih Saint-Etienne selama hampir 8 musim terakhir dengan hasil terbaik membawa klub tersebut finish di peringkat 4 klasemen Liga Prancis musim 2013/2014 dan meraih trofi Coupe de la Ligue pada musim 2012/2013.

Cerdasnya Luis Campos dan Christophe Galtier Membawa Lille ke Puncak Kejayaan

Tugas pertama Galtier di Lille tidaklah mudah. Dengan kondisi finansial klub yang rapuh, ia dilarang membeli pemain baru di bursa transfer musim dingin. Galtier juga terpaksa menangani skuad bekas proyek gagal Bielsa. Kala itu, Lille diisi pemain muda minim pengalaman usai pemain-pemain senior mereka dibuang Bielsa.

Galtier datang saat Lille terjerembab di peringkat 18 klasemen Ligue 1 musim 2017/2018. Singkat cerita, Galtier berhasil menyelamatkan Lille dari jurang degradasi setelah di akhir musim berhasil membawa Les Douges finish di posisi 17 dengan koleksi 38 poin, hanya berjarak 1 poin dengan tim di zona degradasi.

Setelah melalui musim yang berat, Lille baru bisa merasakan kerja nyata Luis Campos dan Christophe Galtier mulai musim 2018/2019. Tak tanggung-tanggung, mereka menjual kembali beberapa rekrutan Bielsa yang gagal. Dana segar 69,8 juta euro berhasil mereka dapatkan. Sebagai gantinya, Campos dan Galtier fokus mendatangkan pemain berpengalaman.

Lille mendatangkan pemain sarat pengalaman seperti Loic Remy (31 tahun), Jeremy Pied (29 tahun), dan Jose Fonte (34 tahun). Tak hanya itu, Lille juga mendatangkan pemain muda potensial seperti Jonathan Ikone, Zeki Celik, Jonathan Bamba, dan Rafael Leao yang semuanya cukup ditembus dengan dana 8,9 juta euro.

Pemain-pemain baru itu datang melengkapi skuad muda Lille yang sudah berisi Nicolas Pepe, Luiz Araujo, dan Boubakary Soumare. Hasilnya sungguh luar biasa. Mereka langsung finish posisi 2 di bawah PSG dengan koleksi 75 poin dan memastikan diri lolos ke Liga Champions lagi setelah absen 7 tahun.

Formula yang sama kembali diterapkan di musim berikutnya. Lille mendapat untung besar, nyaris 150 juta euro setelah menjual pemain seperti Thiago Mendes ke Lyon (22 juta euro), Rafael Leao ke Milan (30 juta euro), dan Nicolas Pepe ke Arsenal (80 juta euro). Sebagai gantinya, Lille cuma mengeluarkan biaya 99 juta euro untuk mendatangkan 12 pemain baru. Di antaranya adalah Victor Osimhen (22,4 juta euro), Renato Sanches (20 juta euro), Yusuf Yazici (17,5 juta euro), Reinildo (3 juta euro), Timothy Weah (10 juta euro), dan Benjamin Andre (7 juta euro).

Musim 2019/2020, Lille mengakhiri Ligue 1 di posisi 4 saat liga dibatalkan di pekan ke-28 akibat pandemi Covid-19. Namun, mereka masih berhasil lolos ke Liga Europa musim berikutnya. Dan lagi-lagi, di musim baru 2020/2021, formula rekrutmen yang Luis Campos dan Christophe Galtier jalankan sejak musim 2018/2019 kembali diterapkan.

Lille dengan berani kembali menjual pemain andalan mereka. Victor Osimhen, top skor mereka musim lalu dilepas ke Napoli dengan harga 70 juta euro dan bek muda utama mereka, Gabriel Magalhaes dilepas ke Arsenal dengan harga 26 juta euro. Dana segar dari penjualan tersebut mereka pakai untuk menebus Sven Botman (8 juta euro), Jonathan David (27 juta euro), dan Burak Yilmaz (free) yang akhirnya menjadi pilar penting yang sukses mengantarkan Lille juara di akhir musim.

Lalu, bagaimana wajah skuad juara Lille di musim 2020/2021?

Selama menukangi Lille, formasi andalan Galtier adalah 4-4-2. Jatah kiper utama selalu jadi milik Mike Maignan selama 3 musim terakhir. Galtier sendiri merupakan pelatih yang begitu memperhatikan pertahanan dan cenderung memakai formasi 4 bek.

Di musim 2018/2019, Lille jadi tim yang paling sedikit kebobolan. Gawang Lille hanya bobol 33 gol dari 38 laga. Pencapaian itu mereka ulangi di musim ini. Quartet bek yang dihuni Zeki Celik, Jose Fonte, Sven Botman, dan Reinildo hanya kebobolan 23 gol dari 38 laga.

Meski beberapa kali memakai formasi 4-4-1-1, 3-4-2-1, atau 4-2-3-1, Galtier selalu menempatkan double pivot dalam formasinya. Selama 2 musim terakhir, tugas tersebut dipercayakan kepada duet Benjamin Andre dan Boubakary Soumare. Sebagai pelengkap formasi 4-4-2 yang jadi andalan Galtier musim ini, posisi sayap kerap dipercayakan kepada Luiz Araujo di sisi kanan dan Jonathan Bamba di sisi kiri. Sementara ujung tombak jadi milik Burak Yilmaz dan Jonathan David.

Lalu, siapa saja pemain kunci Lille musim ini?

Jumlah kebobolan Lille yang sedikit tak bisa dilepaskan dari jasa Mike Maignan. Kiper 25 tahun itu tampil begitu solid. Sepanjang musim ini, ia sudah membuat 86 penyelamatan (79,4%) dan 21 clean sheets. Performa apiknya itu juga membuatnya dipanggil Didier Deschamps ke EURO 2020.

Selain Maignan, musim ini juga menjadi musim yang luar biasa bagi Sven Botman. Bek 21 tahun yang baru didatangkan dari Jong Ajax itu bermain di 37 laga Ligue 1 musim ini, membuat 11 tekel, 46 blok, 38 intersep, dan 193 sapuan. Performa impresifnya itu membuat Botman mendapat tawaran menggiurkan dari Liverpool dan Manchester United.

Botman memang sukses menjadi tandem solid Jose Fonte. Bek 37 tahun asal Portugal itu seperti menemukan performa terbaiknya di Lille. Apalagi, kepemimpinan Fonte sangatlah krusial. Ia merupakan kapten tim yang mesti memimpin barisan pertahanan Lille yang dihuni pemain-pemain muda.

Gelar juara Liga Prancis musim ini juga tak bisa dilepaskan dari jasa trio Turki dalam skuad Lille, yakni Burak Yilmaz, Yusuf Yazici, dan Zeki Celik. Khususnya Burak Yilmaz dan Yusuf Yazici yang merupakan pemain kunci sekaligus motor serangan Lille. Yazici bermain dalam 32 laga, mencetak 7 gol dan 4 asis. Meski tak banyak tampil sebagai starter, gelandang 24 tahun itu merupakan pemain serba bisa yang dapat dimainkan sebagai striker, second striker, atau gelandang serang.

Sementara Burak Yilmaz jelas jadi sosok paling penting di lini serang. Pemain 35 tahun yang datang secara gratis di awal musim telah menyumbang 16 gol. Duetnya bersama Jonathan David begitu berbahaya. Pasalnya, David, striker 21 tahun asal Kanada juga berhasil menyumbang 13 gol sepanjang musim ini.

Di Ligue 1 musim ini, Lille mampu mencetak 64 gol. Burak Yilmaz jadi top skor tim sementara Jonathan Bamba jadi top asis dengan sumbangan 11 asisnya. Kedisiplinan adalah kunci dalam permainan Galtier. Meski bukan tim paling produktif, Lille mampu mencatat 24 kemenangan dan 11 hasil imbang. Jumlah kemenangan mereka memang kalah dari PSG, tapi Lille hanya merasakan 3 kekalahan musim ini.

Ironi Lille Di Tengah Euforia Juara

Akan tetapi, Lille tak bisa berlama-lama merayakan euforia juara saat ini. Sebab, Lille sudah dirundung masalah sejak akhir 2020 lalu. Mereka punya utang hingga 225 juta euro kepada kreditur asal Amerika, Elliot Management dan JP Morgan. Utang itulah yeng membuat Gerard Lopez terpaksa menjual kepemilikannya kepada perusahaan Merlyn Partners.

Akuisisi itu tak cuma berimbas kepada tak jelasnya struktur kepemilikan Lille saat ini, tapi juga membuat Luis Campos mundur dari jabatannya sebagai direktur olahraga. Selain itu, kontrak Christophe Galtier diketahui akan habis akhir musim ini. Fabrizio Romano bahkan telah mengabarkan kalau Galtier tengah menjalin komunikasi dengan klub Prancis lainnya, OGC Nice.

Ini jelas menjadi ironi bagi Lille. Pasalnya, performa apik mereka juga membuat beberapa pemainnya diincar klub lain. Lille mesti menemukan solusi atas masalah ini. Bila tidak, akan berat bagi juara bertahan Ligue 1 itu untuk mengarungi musim baru nanti.

Semoga saja Lille dapat segera menemukan solusi terbaik agar dapat kembali meneruskan performa apiknya dan meramaikan kembali persaingan di Ligue 1 dan Liga Champions Eropa.

 

***
Sumber Referensi: Goal, ESPN, Get Football France, Menafn, Sportskeeda