Setelah menunggu hingga pekan terakhir, Lille akhirnya berhasil memastikan diri sebagai kampiun Ligue 1 musim 2020/2021. Kepastian tersebut mereka dapatkan setelah menundukkan tuan rumah Angers 1-2 di pekan ke-38.
83 poin yang berhasil Lille kumpulkan sudah cukup untuk mematahkan dominasi PSG selama 3 tahun terakhir di Liga Prancis. Lille yang mengkudeta PSG sejak pekan ke-31 hanya unggul 1 poin dari PSG yang keluar sebagai runner-up.
LILLE ARE LIGUE 1 CHAMPIONS 🤯🔥🏆
PSG had won seven of the last eight Ligue 1 seasons 📉 pic.twitter.com/shFXCFdeok
— ESPN FC (@ESPNFC) May 23, 2021
Bagi Lille, gelar juara Ligue 1 musim ini adalah pelepas dahaga mereka setelah kering prestasi selama sedekade terakhir. Terakhir kali Lille merasakan juara terjadi di musim 2010/2011. Kala itu, mereka menjuarai Coupe de France dan Ligue 1 dengan trio penyerang Moussa Sow, Gervinho, dan Eden Hazard.
𝟐𝟎𝟏𝟎-𝟏𝟏 🔀 𝟐𝟎𝟐𝟎-𝟐𝟏
The last time Lille won Ligue 1 they had that iconic front three.
10 years later, an incredible defence was the foundation of their title. pic.twitter.com/wkKibbMmwj
— Squawka Football (@Squawka) May 23, 2021
Gelar juara liga musim ini sendiri merupakan gelar ke-4 bagi Lille sepanjang sejarah klub. Namun, apa yang dicapai Lille musim ini tidaklah terjadi dalam waktu singkat. Gelar juara Liga Prancis musim ini adalah hasil investasi dan perjuangan klub berjuluk Les Douges itu sejak 2017 silam.
Singkatnya, musim ini merupakan buah manis dari perjalanan panjang Lille mencapai kesuksesan. Jadi bagaimana kisah perjuangan mereka hingga bisa keluar sebagai kampiun Ligue 1 musim ini? Berikut ulasannya.
Daftar Isi
Investasi Besar Lille Di Bawah Kepemlikan Gerard Lopez
Semua bermula di tahun 2017 silam saat Lille berganti kepemilikan. Michael Seydoux, pebisnis dan produser film yang sudah berkuasa selama 13 tahun terakhir akhirnya menjual Lille kepada miliarder asal Luksemburg, Gerard Lopez. Sejak saat itu, Lopez yang juga menjabat Presiden Tim Lotus F1 resmi jadi presiden Lille.
Perombakan terjadi di bawah kepemilikan Lopez. Dengan dana besar yang ia bawa, Lopez merekrut Luis Campos sebagai direktur olahraga yang baru. Sebelumnya, Campos juga sudah bekerja di bawah miliarder lainnya, yakni Dmitry Rybolovlev, pemilik AS Monaco.
The genius behind Lille.
Luis Campos (Director of football) – The Transfer Genius pic.twitter.com/rFX3RBrdNW
— TheTrickyReds🔰 (@TheTrickyReds20) May 23, 2021
Campos adalah figur jenius. Di klub sebelumnya, ia adalah sosok penting dalam tim yang membangun kekuatan AS Monaco. Campos adalah orang yang berjasa mendatangkan Dimitar Berbatov, Radamel Falcao, James Rodriguez, Fabinho, Anthony Martial, Bernardo Silva, Kylian Mbappe dan bintang-bintang lainnya di AS Monaco selama tahun 2013 hingga 2016.
Tak hanya Luis Campos yang datang. Gerard Lopez juga berinvestasi besar dengan menunjuk Marcelo Bielsa sebagai pelatih baru. Sayang, dana besar yang digelontorkan Lopez untuk menggaji Bielsa tak sebanding dengan pencapaiannya. Di bawah asuhan Bielsa, Lille justru nyaris terdegradasi.
Sebagai gantinya, mereka bertaruh dengan menunjuk Christophe Galtier sebagai ganti Bielsa pada Desember 2017. Sebelumnya, Galtier melatih Saint-Etienne selama hampir 8 musim terakhir dengan hasil terbaik membawa klub tersebut finish di peringkat 4 klasemen Liga Prancis musim 2013/2014 dan meraih trofi Coupe de la Ligue pada musim 2012/2013.
🔴 Lille were fighting against relegation when they appointed Christophe Galtier in December 2017. They’ve now done what everyone said was impossible – outstripped PSG to win the Ligue 1 title 🏆
🤯 What an unbelievable achievement!@losclive | @LOSC_EN | @Ligue1_ENG pic.twitter.com/SrzcNUIAVj
— FIFA.com (@FIFAcom) May 23, 2021
Cerdasnya Luis Campos dan Christophe Galtier Membawa Lille ke Puncak Kejayaan
Tugas pertama Galtier di Lille tidaklah mudah. Dengan kondisi finansial klub yang rapuh, ia dilarang membeli pemain baru di bursa transfer musim dingin. Galtier juga terpaksa menangani skuad bekas proyek gagal Bielsa. Kala itu, Lille diisi pemain muda minim pengalaman usai pemain-pemain senior mereka dibuang Bielsa.
Galtier datang saat Lille terjerembab di peringkat 18 klasemen Ligue 1 musim 2017/2018. Singkat cerita, Galtier berhasil menyelamatkan Lille dari jurang degradasi setelah di akhir musim berhasil membawa Les Douges finish di posisi 17 dengan koleksi 38 poin, hanya berjarak 1 poin dengan tim di zona degradasi.
Setelah melalui musim yang berat, Lille baru bisa merasakan kerja nyata Luis Campos dan Christophe Galtier mulai musim 2018/2019. Tak tanggung-tanggung, mereka menjual kembali beberapa rekrutan Bielsa yang gagal. Dana segar 69,8 juta euro berhasil mereka dapatkan. Sebagai gantinya, Campos dan Galtier fokus mendatangkan pemain berpengalaman.
Lille mendatangkan pemain sarat pengalaman seperti Loic Remy (31 tahun), Jeremy Pied (29 tahun), dan Jose Fonte (34 tahun). Tak hanya itu, Lille juga mendatangkan pemain muda potensial seperti Jonathan Ikone, Zeki Celik, Jonathan Bamba, dan Rafael Leao yang semuanya cukup ditembus dengan dana 8,9 juta euro.
How about José Fonte. Rejected by clubs in Portugal, rebuilt his career in lower divisions in England, promoted to EPL at 28, debut with Portugal at 30, European champion at 32, China, and now Ligue 1 champion at 37. What a whirlwind! pic.twitter.com/YEJ7EjJpcT
— Rui Miguel Martins (@futebolfactory) May 23, 2021
Pemain-pemain baru itu datang melengkapi skuad muda Lille yang sudah berisi Nicolas Pepe, Luiz Araujo, dan Boubakary Soumare. Hasilnya sungguh luar biasa. Mereka langsung finish posisi 2 di bawah PSG dengan koleksi 75 poin dan memastikan diri lolos ke Liga Champions lagi setelah absen 7 tahun.
Formula yang sama kembali diterapkan di musim berikutnya. Lille mendapat untung besar, nyaris 150 juta euro setelah menjual pemain seperti Thiago Mendes ke Lyon (22 juta euro), Rafael Leao ke Milan (30 juta euro), dan Nicolas Pepe ke Arsenal (80 juta euro). Sebagai gantinya, Lille cuma mengeluarkan biaya 99 juta euro untuk mendatangkan 12 pemain baru. Di antaranya adalah Victor Osimhen (22,4 juta euro), Renato Sanches (20 juta euro), Yusuf Yazici (17,5 juta euro), Reinildo (3 juta euro), Timothy Weah (10 juta euro), dan Benjamin Andre (7 juta euro).
A short story: Lille sell Pepe and Gabriel to Arsenal for £95m. Lille use the money to win Ligue 1 for the first time in 10 years. Arsenal finish 8th. pic.twitter.com/DqNMAy10hB
— ESPN FC (@ESPNFC) May 23, 2021
Musim 2019/2020, Lille mengakhiri Ligue 1 di posisi 4 saat liga dibatalkan di pekan ke-28 akibat pandemi Covid-19. Namun, mereka masih berhasil lolos ke Liga Europa musim berikutnya. Dan lagi-lagi, di musim baru 2020/2021, formula rekrutmen yang Luis Campos dan Christophe Galtier jalankan sejak musim 2018/2019 kembali diterapkan.
Lille dengan berani kembali menjual pemain andalan mereka. Victor Osimhen, top skor mereka musim lalu dilepas ke Napoli dengan harga 70 juta euro dan bek muda utama mereka, Gabriel Magalhaes dilepas ke Arsenal dengan harga 26 juta euro. Dana segar dari penjualan tersebut mereka pakai untuk menebus Sven Botman (8 juta euro), Jonathan David (27 juta euro), dan Burak Yilmaz (free) yang akhirnya menjadi pilar penting yang sukses mengantarkan Lille juara di akhir musim.
A short story: Lille sell Pepe and Gabriel to Arsenal for £95m. Lille use the money to win Ligue 1 for the first time in 10 years. Arsenal finish 8th. pic.twitter.com/DqNMAy10hB
— ESPN FC (@ESPNFC) May 23, 2021
Lalu, bagaimana wajah skuad juara Lille di musim 2020/2021?
Selama menukangi Lille, formasi andalan Galtier adalah 4-4-2. Jatah kiper utama selalu jadi milik Mike Maignan selama 3 musim terakhir. Galtier sendiri merupakan pelatih yang begitu memperhatikan pertahanan dan cenderung memakai formasi 4 bek.
Di musim 2018/2019, Lille jadi tim yang paling sedikit kebobolan. Gawang Lille hanya bobol 33 gol dari 38 laga. Pencapaian itu mereka ulangi di musim ini. Quartet bek yang dihuni Zeki Celik, Jose Fonte, Sven Botman, dan Reinildo hanya kebobolan 23 gol dari 38 laga.
Meski beberapa kali memakai formasi 4-4-1-1, 3-4-2-1, atau 4-2-3-1, Galtier selalu menempatkan double pivot dalam formasinya. Selama 2 musim terakhir, tugas tersebut dipercayakan kepada duet Benjamin Andre dan Boubakary Soumare. Sebagai pelengkap formasi 4-4-2 yang jadi andalan Galtier musim ini, posisi sayap kerap dipercayakan kepada Luiz Araujo di sisi kanan dan Jonathan Bamba di sisi kiri. Sementara ujung tombak jadi milik Burak Yilmaz dan Jonathan David.
Lalu, siapa saja pemain kunci Lille musim ini?
Jumlah kebobolan Lille yang sedikit tak bisa dilepaskan dari jasa Mike Maignan. Kiper 25 tahun itu tampil begitu solid. Sepanjang musim ini, ia sudah membuat 86 penyelamatan (79,4%) dan 21 clean sheets. Performa apiknya itu juga membuatnya dipanggil Didier Deschamps ke EURO 2020.
Mike Maignan: 21 clean sheets, 23 goals conceded. pic.twitter.com/rewFWiwU9g
— Get French Football News (@GFFN) May 24, 2021
Selain Maignan, musim ini juga menjadi musim yang luar biasa bagi Sven Botman. Bek 21 tahun yang baru didatangkan dari Jong Ajax itu bermain di 37 laga Ligue 1 musim ini, membuat 11 tekel, 46 blok, 38 intersep, dan 193 sapuan. Performa impresifnya itu membuat Botman mendapat tawaran menggiurkan dari Liverpool dan Manchester United.
Botman memang sukses menjadi tandem solid Jose Fonte. Bek 37 tahun asal Portugal itu seperti menemukan performa terbaiknya di Lille. Apalagi, kepemimpinan Fonte sangatlah krusial. Ia merupakan kapten tim yang mesti memimpin barisan pertahanan Lille yang dihuni pemain-pemain muda.
With Lille set to win a shock Ligue 1 title, much of the focus has been on young stars like Sven Botman. But at 37 Jose Fonte remains one of the most reliable defenders around, while Burak Yilmaz has proved one of the best signings of the season. #Lille #Ligue1 pic.twitter.com/hhdxGZx6Cu
— Sam (@SamJGollings) May 12, 2021
Gelar juara Liga Prancis musim ini juga tak bisa dilepaskan dari jasa trio Turki dalam skuad Lille, yakni Burak Yilmaz, Yusuf Yazici, dan Zeki Celik. Khususnya Burak Yilmaz dan Yusuf Yazici yang merupakan pemain kunci sekaligus motor serangan Lille. Yazici bermain dalam 32 laga, mencetak 7 gol dan 4 asis. Meski tak banyak tampil sebagai starter, gelandang 24 tahun itu merupakan pemain serba bisa yang dapat dimainkan sebagai striker, second striker, atau gelandang serang.
Fransa Ligue 1’de şampiyon olan Lille takımında forma giyen milli futbolcularımız Burak Yılmaz, Yusuf Yazıcı ve Zeki Çelik’i canıgönülden tebrik ediyorum.
Başarınızla bizleri gururlandırdınız.🇹🇷 pic.twitter.com/HTykMHrGi8
— Mansur Yavaş (@mansuryavas06) May 23, 2021
Sementara Burak Yilmaz jelas jadi sosok paling penting di lini serang. Pemain 35 tahun yang datang secara gratis di awal musim telah menyumbang 16 gol. Duetnya bersama Jonathan David begitu berbahaya. Pasalnya, David, striker 21 tahun asal Kanada juga berhasil menyumbang 13 gol sepanjang musim ini.
Burak Yilmaz was a free transfer last summer and aged 35 he’s beaten £300m duo Neymar and Mbappe to the Ligue Un title.
16 goals, 5 assists, 28 games.
Shows age is just a number. What a player. 👑 pic.twitter.com/ZBoU6bVLXp
— FootballFunnys (@FootballFunnnys) May 23, 2021
Di Ligue 1 musim ini, Lille mampu mencetak 64 gol. Burak Yilmaz jadi top skor tim sementara Jonathan Bamba jadi top asis dengan sumbangan 11 asisnya. Kedisiplinan adalah kunci dalam permainan Galtier. Meski bukan tim paling produktif, Lille mampu mencatat 24 kemenangan dan 11 hasil imbang. Jumlah kemenangan mereka memang kalah dari PSG, tapi Lille hanya merasakan 3 kekalahan musim ini.
2018: Saves Lille from relegation.
2019: Lille finish at the 2nd position.
2021: Lille become the Champions of France.All credits goes to Christophe Galtier. 👏 pic.twitter.com/wr7OSrEKfl
— The Football Arena (@thefootyarena) May 23, 2021
Ironi Lille Di Tengah Euforia Juara
Akan tetapi, Lille tak bisa berlama-lama merayakan euforia juara saat ini. Sebab, Lille sudah dirundung masalah sejak akhir 2020 lalu. Mereka punya utang hingga 225 juta euro kepada kreditur asal Amerika, Elliot Management dan JP Morgan. Utang itulah yeng membuat Gerard Lopez terpaksa menjual kepemilikannya kepada perusahaan Merlyn Partners.
Akuisisi itu tak cuma berimbas kepada tak jelasnya struktur kepemilikan Lille saat ini, tapi juga membuat Luis Campos mundur dari jabatannya sebagai direktur olahraga. Selain itu, kontrak Christophe Galtier diketahui akan habis akhir musim ini. Fabrizio Romano bahkan telah mengabarkan kalau Galtier tengah menjalin komunikasi dengan klub Prancis lainnya, OGC Nice.
Incredible work by Lille board to win the Ligue1 title against PSG 🔴🏆
Congrats to Christophe Galtier – he’s set to join OCG Nice now.
Top signings like Burak Yilmaz for free.
Former Lille director Luis Campos – the man who discovered Mbappé – is big part of this masterpiece. pic.twitter.com/9jv8V4frR2
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) May 23, 2021
Ini jelas menjadi ironi bagi Lille. Pasalnya, performa apik mereka juga membuat beberapa pemainnya diincar klub lain. Lille mesti menemukan solusi atas masalah ini. Bila tidak, akan berat bagi juara bertahan Ligue 1 itu untuk mengarungi musim baru nanti.
Semoga saja Lille dapat segera menemukan solusi terbaik agar dapat kembali meneruskan performa apiknya dan meramaikan kembali persaingan di Ligue 1 dan Liga Champions Eropa.
***
Sumber Referensi: Goal, ESPN, Get Football France, Menafn, Sportskeeda


