Beranda blog Halaman 701

Cuma Karena Satu Pertandingan, Pemain Ini Dibully Seumur Hidupnya

Pemain sepakbola dituntut untuk selalu tampil prima dalam setiap pertandingan. Mereka harus menjaga kondisi serta tampil konsisten demi mempertahankan tempat di tim utama sekaligus harga diri. Ya, seringkali pemain sepakbola mendapat hinaan meski hanya melakukan beberapa kesalahan saja.

Seperti yang sudah disinggung di awal, setiap pemain memang dituntut untuk selalu tampil memuaskan. Bila tidak, mereka akan memiliki celah untuk dihina, atau bahkan meratapi nasib dimana karirnya sudah tidak lagi sama setelah melakukan kesalahan.

Seperti pada bahasan kali ini, starting eleven akan merangkum deretan pemain yang mengalami penurunan performa setelah dibully habis-habisan meski melakukan kesalahan dalam satu pertandingan saja.

Robert Green

Gelaran Piala Dunia 2010 menjadi pengalaman yang mungkin tidak ingin diingat oleh Robert Green. Pasalnya, di ajang tersebut, Green yang tampil membela Inggris di laga melawan Amerika Serikat telah melakukan blunder yang terbilang fatal.

Insiden itu terjadi pada pertandingan pertama grup C yang juga diisi oleh Aljazair dan Slovenia. Bermain di Royal Bafokeng Stadium di Rustenburg, Inggris langsung melakukan serangan sejak awal. Hasilnya, gelandang mereka, Steven Gerrard berhasil membuka keunggulan pada menit ke 4.

Sayangnya, keunggulan tim tiga singa tidak bertahan lama. Mereka harus rela gawangnya dibobol oleh aksi Clint Dempsey pada menit ke 40. Dempsey melakukan tendangan spekulatif dengan kaki kirinya dari jarak sekitar 25 yard. Dalam prosesnya, kiper Inggris, Robert Green sejatinya sudah berada di posisi yang tepat. Namun, dia justru gagal menangkap bola dengan sempurna. Bola hasil tendangan Dempsey tergelincir melewati tangan kanannya hingga melewati garis gawang.

Media Inggris lalu langsung menyebut kesalahan Robert Green dengan julukan “Tangan yang mengepal”. Sejak saat itu pula, kesalahannya tidak pernah dilupakan oleh dunia, utamanya bagi penggemar Inggris.

Di juga kehilangan tempat untuk kemudian digantikan oleh David James. Sementara itu, sisa karinya juga cenderung biasa-biasa saja. Green tercatat sudah tidak membela Inggris sejak tahun 2012. Di tahun yang sama, dia juga pergi dari West Ham setelah enam tahun lamanya. Di tahun 2019 lalu, dia putuskan pensiun dari dunia sepakbola.

Jerome Boateng

Jerome Boateng, sampai saat ini memang masih menjadi pemain yang wajib diwaspadai. Bahkan setelah melakukan kesalahan tak terlupakan dalam sebuah pertandingan pada tahun 2015 lalu, dia tetap menjadi andalan FC Bayern dan sukses merengkuh berbagai trofi.

Namun sekali lagi, Boateng pernah melakukan kesalahan fatal sekaligus konyol, yang mana itu membuat dirinya dibully oleh seluruh penggemar sepakbola, sampai saat ini!

Di tahun 2015, Messi memang masih mengalami performa luar biasa. Dia tampil moncer di La Liga sekaligus Liga Champions Eropa. Salah satu aksi gemilang Messi di ajang Liga Champions Eropa tentu saat berhadapan dengan FC Bayern. Barca bertemu Munchen di leg kedua yang digelar di Camp Nou. Ketika itu, Los Cules sukses menghajar Bayern dengan skor 3-0.

Pada proses gol kedua yang dicetak pada menit ke 80, Messi berhasil mempermalukan Jerome Boateng dengan liukan mematikan. Boateng tampak tak berkutik sama sekali ketika berhadapan dengan Messi hingga membuat dirinya harus rela dibuat lelucon oleh seluruh penggemar sepakbola.

Seperti yang sudah dijelaskan, Boateng sampai saat ini masih terus menerima candaan dari suporter lewat sosial media. Dia pun meminta mereka untuk berhenti. Namun sepertinya hal tersebut tidak akan pernah terjadi.

Asamoah Gyan

Asamoah Gyan menjadi salah satu pemain yang akan selalu diingat oleh seluruh penggemar sepakbola di Afrika. Di ajang Piala Dunia 2010, Gyan nyaris membawa timnya lolos ke fase semifinal ajang terbesar di seluruh dunia. Namun, hal itu tidak pernah terjadi setelah dirinya melakukan kesalahan yang mungkin belum dimaafkan sampai sekarang.

Di ajang tersebut, Gyan yang membela Ghana harus berhadapan dengan Uruguay di babak perempat final. Kedua tim yang sama-sama tampil ngotot harus melanjutkan pertandingan ke babak tambahan setelah skor berakhir imbang 1-1 di waktu normal. Sejatinya, Ghana bisa dengan mudah melaju ke babak selanjutnya setelah mereka mendapat hadiah tendangan penalti, menyusul handball yang dilakukan Luis Suarez di kotak penalti Uruguay.

Ketika itu, Gyan ditunjuk sebagai algojo penalti. Namun, dia malah gagal melakukan tugasnya dengan baik. Setelah pertandingan dilanjut ke babak adu penalti, Uruguay mampu menang dengan skor 4-2.

Akibat kesalahan itu, seluruh penggemar Ghana menyebut bila Asamoah Gyan adalah penyebab dari kegagalan ini. Bahkan, sepakbola Afrika juga ikut kecewa, meski tidak sedikit pula dari mereka yang mengecam aksi Luis Suarez.

Usai kesalahan di turnamen tersebut, Gyan sempat tampil di kompetisi EPL bersama Sunderland. Namun, setelah itu karirnya menjadi tidak jelas. Mulai dari UAE, China, sampai India pernah dijelajahi olehnya, tanpa diiringi dengan kabar kesuksesannya.

Jonathan Woodgate

Jonathan Woodgate pernah disebut sebagai pemain muda paling menjanjikan setelah tampil brilian bersama Leeds United. Dia bermain apik bersama Leeds dari 1998 sampai dengan 2003. Setelah itu karirnya sempat tersendat bersama Newcastle United.

Namun keajaiban datang setelah pada tahun 2004, dia diminati oleh Real Madrid yang menjadi tim bertabur bintang. Padahal, ketika itu kondisi Woodgate tidak memungkinkan. Dia masih dihantam cedera dan masih harus beristirahat dalam waktu yang lama.

Benar saja, setelah mendarat di Bernabeu, Woodgate tidak bisa langsung melakoni debutnya karena masih terkena cedera. Beberapa bulan kemudian, dia muncul dengan performa prima usai sembuh. Nahas, itu malah menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan oleh siapapun. Di laga melawan Bilbao yang menjadi debutnya, Woodgate malah bermain sangat kacau.

Dia melakukan kesalahan berupa mencetak gol bunuh diri dan mendapat kartu merah. Sejak saat itu, dia tidak akrab lagi dengan tim utama. Karirnya anjlok dan harus membuatnya pulang ke Inggris.

Kesalahan yang dilakukan Woodgate sampai saat ini tidak akan pernah dilupakan dunia. Dia yang disebut sebagai pemain menjanjikan asal Inggris malah melakukan hal paling memalukan ketika tampil bersama raksasa Spanyol.

Loris Karius

Semua tentu masih ingat dengan kesalahan yang dibuat Oleh Loris Karius. Ya, kiper asal Jerman itu membuat dua kesalahan sekaligus di laga yang sama sekali tidak bisa diremehkan, yaitu final Liga Champions Eropa!

Pada laga tersebut, Karius tampil di bawah mistar Liverpool untuk menghadapi Real Madrid. Dia dipercaya oleh Klopp menyusul penampilannya yang menjanjikan. Akan tetapi itu malah menjadi laga terakhirnya sebagai kiper andalan the Kop.

Liverpool kalah dengan skor 1-3, dimana dia patut disalahkan atas gol yang dicetak Karim Benzema. Di momen tersebut, Karius yang telah mengamankan bola terlihat terburu-buru mengirim umpan ke bek Liverpool. Namun aksinya mampu digagalkan oleh Benzema dan berujung gol bagi Real Madrid. Sementara kesalahan kedua, dia gagal mengamankan tendangan jarak jauh Gareth Bale, yang seharusnya dapat ditangkap.

Dari dua gol tersebut, Real Madrid semakin menasbihkan diri sebagai yang terbaik, sementara Liverpool gagal merengkuh trofi pertama sejak tahun 2005 silam.

Karius, seusai pertandingan terlihat meneteskan air mata. Dia berkali-kali mencoba mengusap air mata hasil dari kesalahan fatal yang dibuat. Meski sudah meminta maaf, kesalahan tersebut membuatnya tak lagi dipercaya untuk tampil di tim utama.

Dia bahkan dilepas ke Besiktas dan kini tercatat sebagai pemain Union Berlin dengan status pinjaman.

Mengenal Nicolas Siri : Pemain Muda Incaran Barcelona Yang Patahkan Rekor Pele

0

Setelah Facundo Pellistri, pemain yang direkrut oleh Manchester United dari klub Penarol. Satu lagi, pemain muda asal Uruguay yang punya masa depan cerah muncul ke bumi. Dia adalah Nicolas Siri.

Sama seperti Pellistri, Nicolas Siri juga masih berusia belasan tahun. Pesepak bola bernama lengkap Nicolás Hernán Siri Cagno ini lahir di Montevideo, Uruguay pada 17 April 2004. Di Danubio FC, dia berposisi sebagai seorang striker. Dia juga merupakan adik dari rekan setimnya, Enzo Siri. 

Siri mengawali karir sepakbolanya bersama Danubio di level junior. Dan sejak tahun 2020, ia telah dipromosikan ke tim senior Danubio.

Seiring berjalannya waktu, performa Siri semakin menunjukkan perkembangan. Belum lama ini, ia sukses mencatatkan rekor istimewa. Mencetak hattrick dalam sebuah pertandingan di Liga Uruguay antara Danubio melawan Boston River.

Hattrick tersebut bermakna luar biasa. Pasalnya, Siri melakukannya di usia 16 tahun, 11 bulan dan 2 hari. Wonderkid dari klub Danubio itu pun menjadi pemain termuda dalam sejarah sepak bola profesional yang mencetak hattrick, dan memecahkan rekor dari legenda sepak bola Brasil dan dunia, Pele. Eks pemain Santos ini mencetak hattrick pertamanya pada 24 Juni 1958, saat ia berusia usia 17 tahun 8 bulan.

Siri, penyerang Uruguay ini mencetak gol dalam laga debutnya melawan Nacional beberapa hari lalu. Memainkan laga yang mengesankan dan mencetak hattrick sempurna melawan Boston River pada Jumat (19/3) lalu. Ia mencetak gol lewat sundulan, kaki kiri, dan kaki kanan.

Selain itu, ia juga menampilkan ketenangan yang luar biasa saat membantu timnya meraih kemenangan 5-1 di Centenario Stadium.

“Saya sangat senang, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Beruntung semuanya terjadi. Ini adalah pertama kalinya saya bermain di Centennial, kenyataannya itu semua seperti mimpi. Saya selalu mencoba untuk menikmati diri saya sendiri, saya berharap untuk terus seperti ini” ucap Siri selepas laga.

Siri memiliki kemiripan dengan, Ruben Sosa dan Alvaro Recoba, dua legenda sepak bola Uruguay 1980-an dan 1990-an, yang juga memulai debutnya di usia sangat muda untuk Danubio.

Danubio saat ini duduk di tempat ke-11 di Divisi Primera Uruguay setelah awal musim yang buruk, tetapi Siri menunjukkan kedewasaan yang luar biasa ketika membahas peluang timnya. Ia mengakui bahwa timnya sedang dalam posisi sulit. Namun ia meminta kepada rekan-rekannya untuk selalu memberikan yang terbaik di setiap laga.

Penampilan gemilang Siri rupanya memantik ketertarikan klub raksasa Eropa, Barcelona.  Nicolas Siri disebut sebagai penerus Luis Suarez di sepakbola Uruguay. Menurut kabar dari Football Espana, klub yang dihuni Lionel Messi itu sedang memantau situasi dari bintang muda Uruguay tersebut.

Barcelona, yang masih belum dapat merekrut pengganti yang sepadan dengan Suarez, terus memantau perkembangan Siri dalam beberapa waktu terakhir.

Hanya saja, untuk saat ini, Siri masih belum memiliki niat untuk meninggalkan Uruguay. Sang pemain masih fokus untuk bisa masuk ke tingkat timnas senior Uruguay dan meningkatkan kemampuannya secara keseluruhan.

Sumber referensi: Football Espana, Instagram, tuko, Wikipedia,

Tragisnya Palermo! Dulu Dijejali Para Bintang, Kini Terdegradasi di Serie D

0

Kompetisi Serie A Italia menjadi salah satu liga terbaik dunia. Bagi penggemar kompetisi asal negeri Pizza tersebut, pasti sudah tak asing lagi dengan klub bernama Palermo. Klub asal Sisilia itu merupakan salah satu langganan penghuni papan tengah Serie A. Namun, nama Palermo tidak lagi ada dalam jajaran tim Serie A musim ini.

Lantas dimanakah mereka?

Usut punya usut, Palermo ternyata musim ini bermain di Serie C, kompetisi kasta ketiga sepak bola Italia. Terdamparnya Palermo ke Serie C bukannya tanpa sebab. 

Namun, sebelum membahas bagaimana Palermo turun ke divisi bawah, tak ada salahnya jika kita lebih dulu mengulas tentang perjalanan klub Palermo itu sendiri.

Palermo Football Club merupakan kesebelasan yang didirikan pada 1 November 1900. Selama kurang lebih 120 tahun lamanya, Palermo telah malang melintang di belantika sepak bola Italia. Palermo bukanlah klub sekelas Juventus, AC Milan, atau Inter Milan yang punya segudang prestasi luar biasa.

Prestasi yang pernah ditorehkan Palermo hanya sebatas kompetisi level bawah. Tercatat, Palermo pernah menjuarai kompetisi Serie B sebanyak 5 kali, serta masing-masing satu kali juara Serie C dan Serie D.

Sebelum era 2000-an, nama Palermo tidak terlalu diperhitungkan. Karena pada abad 20, Palermo memang lebih sering naik-turun bermain di kompetisi level bawah. Seperti yang dikutip dari Wikipedia, data menyebutkan Palermo telah berpartisipasi dalam 44 musim Serie B, serta baru sebanyak 29 musim berlaga di Serie A.

Nama Palermo baru benar-benar melambung saat memasuki era kepemimpinan pebisnis Maurizio Zamparini di tahun 2002. Zamparini mengeluarkan dana sebesar 15 juta euro untuk membeli Palermo dari tangan Franco Sensi yang juga merupakan pemilik Roma saat itu.

Apa yang dilakukan oleh Zamparini bukanlah tanpa tujuan, ia ingin membawa Palermo kembali ke Serie A. Bahkan, sang pemilik klub punya tekad kuat untuk membawa Palermo ke kompetisi antarklub Eropa.

Setelah gagal pada percobaan pertamanya, Palermo akhirnya promosi ke Serie A pada musim 2003/04. Itu menjadi pencapaian yang istimewa. Sebab, setelah lebih dari 30 tahun lamanya bermain di divisi kedua dan ketiga di Italia, Palermo kembali merasakan panasnya persaingan di level teratas.

Pada musim 2004/05, Palermo yang dipimpin oleh penyerang Luca Toni tampil luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari keberhasilan mereka finis di posisi enam besar klasemen sekaligus mengunci satu tempat di Piala UEFA musim 2005/06. 

Di musim kedua, tepatnya pada musim 2005/06, Palermo semakin lebih baik. I Rossanero finish di peringkat kelima dan juga mencapai semifinal Coppa Italia. Sementara itu, pada debutnya di Eropa, Palermo mencapai babak kedua fase gugur Piala UEFA sebelum kalah agregat dari Schalke 1-3.

Demi membawa Palermo ke arah yang lebih baik, manajemen tim memutuskan untuk gencar dalam mendatangkan para pemain muda berbakat. Bisa dikatakan, selama masa kepemilikan Palermo ditangan Zamparini, klub ini cukup sukses dalam mengelola pemain muda, yang di kemudian hari menjadi sosok pemain bintang.

Tercatat, Palermo pernah punya sosok bek tengah tangguh bernama Andrea Barzagli. Mantan bek timnas Italia itu bermain di Palermo selama empat tahun dari 2004 hingga 2008. Keberhasilan Barzagli menjaga lini pertahanan Palermo berhasil membawa il Rossanero tampil di kompetisi Eropa lewat Piala UEFA.

Selain Barzagli, pada masa-masa itu, Palermo juga diperkuat pemain timnas Italia lainnya, seperti Fabio Grosso dan Cristian Zaccardo.

Selanjutnya, pada tahun 2006, Palermo mendatangkan Edinson Cavani. Pemain asal Uruguay itu kini dianggap sebagai salah satu striker berbahaya di muka bumi. Pada musim pertama Cavani bermain di Palermo, ia nyaris saja membawa klub lolos ke Liga Champions. 

Setelah Cavani, pemain muda berprospek cerah kembali didatangkan. Mereka antara lain Fabrizio Miccoli, Javier Pastore, dan Josip Ilicic. Nama terakhir bahkan disebut sebagai salah satu gelandang muda terbaik di Eropa waktu itu.

Dengan perpaduan pemain seperti Miccoli, Pastore, dan Ilicic, Palermo sukses menjadi runner up Coppa Italia musim 2010/11. Sebuah pencapaian luar biasa bagi tim sekelas Palermo. 

Setelah sempat bermain baik dalam beberapa musim. Masalah kemudian muncul. Dalam dua musim berikutnya, pasca menjadi runner-up Coppa Italia, Palermo mengalami delapan pergantian pelatih. Situasi tak mengenakan ini membuat mereka harus rela menemui jalan terjal.

Sempat finis di posisi ke-16 Serie A musim 2011/12, mereka kemudian terdegradasi ke Serie B pada 2013. Untungnya, perjalanan mereka di kasta kedua hanya berlangsung selama semusim. Berkat daya ledak striker anyar bernama Andrea Belotti, Palermo memecahkan rekor Serie B dengan 86 poin dan dengan cepat kembali ke Serie A.

Musim berikutnya, 2014/15, Palermo mengandalkan Paulo Dybala, yang sekarang menjadi andalan Juventus. Ia mencetak banyak gol untuk klub bercorak merah muda tersebut. Torehan 13 gol nya pada musim 2014/15 menjadikan Dybala pemain yang jadi rebutan klub-klub besar Eropa, hingga ia pun dilepas ke Si Nyonya Tua di musim panas 2015.

Musim 2015/16 sendiri, Palermo menyelesaikan kompetisi Serie A dengan finis di peringkat ke-11, tepat di bawah AC Milan. Tapi lagi-lagi masalah internal kembali mengacaukan mereka.

Setelah tampil cukup bagus di musim sebelumnya, Palermo kembali melakukan tujuh pergantian pelatih musim 2015/16. Beruntung mereka tak terdegradasi setelah finish di urutan ke-16.

Kendati demikian, nasib malang kembali menghampiri Palermo. Setelah menjual beberapa pemain kunci di musim panas periode tersebut, I Rosanero mengalami musim yang lebih buruk dan kembali lagi terdegradasi ke Serie B setelah menempati peringkat ke-19 musim 2016/17. Setelah itu, presiden klub, Maurizio Zamparini, yang telah 13 tahun mengabdi memutuskan mundur dari jabatannya.

Mundurnya Zamparini sebagai presiden, ternyata menjadi alarm turunnya Palermo. Tak hanya itu, bak jatuh tertimpa tangga, usai terdegradasi, situasi keuangan Palermo juga makin terpuruk.

Setelah beberapa kali alami pergantian pemilik, akhirnya mereka ‘terbuang’ ke Serie C, bahkan parahnya langsung diturunkan ke Serie D.

Keputusan itu dijatuhkan oleh otoritas tertinggi sepak bola Italia (FIGC) pada bulan Juli 2017. Palermo dinyatakan bangkrut oleh FIGC karena gagal mengirim dokumen keuangan sesuai tenggat waktu yang diberikan oleh federasi.

Bayang-bayang degradasi ke kasta terendah kembali menghantui Palermo pada bulan Juni 2019. Klub yang bermarkas di Stadion Renzo Barbera ini kembali gagal mengirimkan dokumen keuangan mereka untuk musim 2019/20.

Untungnya, keikutsertaan Palermo di Serie D ini hanya berjalan selama  satu musim. Karena sebelumnya, mereka telah sukses menjuarai kompetisi kasta keempat Italia tersebut dan berhak promosi ke Serie C.

Sekarang, klub yang pernah diperkuat oleh Salvatore Sirigu, Simon Kjaer, dan Emerson itu tengah berjuang di Serie C, di bawah asuhan pelatih Giacomo Filippi. 

Sumber Referensi: Libero, Sportskeeda, Indosports, Football Tribe, Kumparan

Han Kwang Song : Roket Korea Utara Yang Hancur Terkena Sanksi PBB

0

Bicara soal negara Korea Utara, tidak melulu tentang roket-roket yang diluncurkan oleh pihak militer disana. Korea Utara juga punya cerita tentang sepak bola, meski gairahnya tidak sekuat negara tetangga, Korea Selatan.

Setelah tampil heroik di Piala Dunia 1966, dengan salah satunya menumbangkan Italia satu kosong, sepakbola Korea Utara seolah mati suri setelahnya. Tidak ada lagi prestasi yang bisa dibanggakan, bahkan negara ini belum memunculkan pesepakbola hebat yang bermain di Eropa.

Sepak bola Korea Utara kembali bergairah ketika mereka tampil di Piala Dunia 2010. Meski gagal lolos dari fase grup, setidaknya hal itu menjadi hiburan untuk warga di sana yang telah rindu akan prestasi sepak bola negaranya.

Namun kini, Korea Utara patut berbangga, karena telah muncul satu pesepak bola yang bisa dijadikan andalan. Dia bernama Han Kwang Song, roket muda yang siap meluncur ke panggung sepakbola. Namanya pernah mendunia sekitar empat tahun lalu,karena menjadi pemain Korea Utara pertama yang bermain di Serie A Italia.

Han Kwang Song lahir pada 11 September 1998 di Ibukota Korea Utara, Pyongyang. Han mulai bermain sepakbola ketika diterima bergabung dengan salah satu akademi terbaik di Korea Utara, Chobyong Sports Club.

Setelah tampil menonjol di Akademi, Han dikirim Pemerintah Korea Utara untuk mencoba peruntungan di Italia. Tepat saat ia berusia 18 tahun, Han menjalani trial di Cagliari. Pemain yang membela Korea Utara di Piala Dunia U-17 2015 itu sukses meyakinkan para pelatih klub Sardinia itu, sehingga mendapatkan kontrak di skuad Primavera pada awal tahun 2017.

Terkait kepindahannya ke Cagliari, ada cerita menarik dibaliknya. Hal ini diceritakan sang pemandu bakat yang membawa Han ke Cagliari, Stefano Capozucca. Capozucca mengatakan bahwa saat pertama kali Han datang ke Cagliari, ia hanya memakai pakaian sederhana dan bersandal jepit. Capozucca sampai harus membelikan sepatu untuk sang pemain.

“Temanku bernama Sandro Stemperini memanggilku dan menunjuk Han. Itu setahun yang lalu. Dia juga berkata jika saat itu ada dua pemain Korea Utara yang sangat potensial, salah satunya Han, dan ia menyuruhku untuk bergegas karena Ajax katanya juga tertarik.”

“Kami kemudian berhasil mendapatkan Han. Ia tiba di sini (Cagliari) memakai sandal jepit, lalu aku membelikannya (sepatu) beserta sepasang celana jeans,” ujar Capozucca.

Kisah menarik itu tentu saja menjadi awal perjalanan Han di sepakbola luar negeri.  Di Cagliari, Han tak butuh waktu lama untuk menembus skuad utama. Pada April 2017, ia mendapatkan kesempatan untuk menjalani debut di Serie A.

Han tampil di menit ke 86 untuk menggantikan Marco Sau, ketika Cagliari mengalahkan Palermo 3-1. Meskipun hanya bermain kurang dari lima menit, namun debutnya itu berhasil menorehkan rekor untuk dirinya. Ia menjadi pemain Korea Utara pertama yang bermain di kompetisi teratas negeri Pizza.

Bukan tanpa alasan pelatih Cagliari kala itu, Massimo Rastelli, memberikan kesempatan debut bagi Han yang saat itu masih belum genap berusia 19 tahun. Menurutnya, Han adalah pemain yang sangat menarik, memiliki kualitas hebat, dan sangat cepat.

Terlebih lagi, sepekan setelah catatkan debut, Han mencetak gol perdananya bagi Cagliari, saat dikalahkan Torino 3-2. Berkat gol tersebut, ia kembali mencetak rekor baru, yakni pemain Korea Utara yang pertama mencetak gol di Serie A.

Penampilan apik Han membuat manajemen Cagliari terkagum-kagum. Tak lama setelah gol itu, Han diberi perpanjangan kontrak untuk terus bermain di sana sampai 30 Juni 2022. Pemain bertinggi badan 178 cm ini kemudian melanjutkan musim 2016/17 dengan memainkan total 5 laga Serie A dan mencetak 1 gol.

Pada awal musim 2017/18, Cagliari memutuskan untuk meminjamkan Han ke klub Serie B, Perugia. Di sana, Han kembali mengukir namanya dalam buku sejarah. Saat Perugia menang besar 5-1 atas Entella pada 27 Agustus 2017. Han mencetak hattrick di menit 9, 40, dan 85. Han melanjutkan musim gemilangnya bersama Perugia, mencatat 7 gol dari 19 laga di semua kompetisi.

Han lalu kembali ke Cagliari pada Februari 2018, dan bermain dalam 7 pertandingan di sisa musim 2017/18. Setelah itu ia kembali memperkuat Perugia dengan status pinjaman pada 15 Agustus 2018. Awalnya, Han tidak dapat bermain karena cedera. Lalu, setelah sembuh, ia mencetak gol melawan Ascoli dalam kemenangan 3-0 dan mengakhiri musim 2018/19 dengan 4 gol dalam 20 pertandingan Serie B.

Tampil mengesankan di ajang Serie B, Han dilirik oleh klub raksasa Serie A, Juventus. Dan tepat pada 2 September 2019, klub berjuluk La Vecchia Signora itu meminjam Han dari Cagliari untuk durasi 2 tahun, dengan kewajiban membeli di akhir periode.

Kendati demikian, Han tidak serta merta bisa langsung menembus skuad inti Juventus. Untuk menambah jam terbangnya, Bianconeri memindahkan Han ke tim U-23 yang bermain di kompetisi Serie C.

Pada 26 Oktober 2019, Han nyaris memulai debutnya di tim senior Juventus saat melawan Lecce. Ia bahkan turut disertakan pelatih Maurizio Sarri dalam daftar pemain cadangan bersama Paulo Dybala, Juan Cuadrado, Gonzalo Higuain, Federico Bernardeschi, dan Marco Olivieri.

Namun sayang, Han tak pernah benar-benar merasakan debut di tim senior Juventus. Ia gagal menunjukkan penampilan terbaiknya. Hingga kemudian ia dikembalikan ke tim U-23, dan menyelesaikan musim dengan torehan 1 gol dan 2 assist dari 20 pertandingan.

Pada Januari 2020, Juventus mengaktifkan opsi pembelian Han dari Cagliari seharga 5 juta euro atau sekitar Rp 77 miliar. Namun, Juventus langsung menjual Han ke klub asal Qatar, Al-Duhail dengan harga yang dikabarkan sebesar 7 juta euro.

Bersama Al-Duhail, penampilan Han tidak bisa dibilang mengecewakan. Pasalnya ia turut berkontribusi membawa Al-Duhail juara Qatar Stars League dan menjadi runner up Piala Qatar tahun 2020. Total ia mencetak 5 gol dari 16 penampilan di semua kompetisi bersama klub bercorak warna merah itu.

Sayang, penampilan bagus Han dan prospek cerahnya harus terhenti karena ulah bangsanya sendiri.

Pada September 2020, Dewan Keamanan (DK) PBB mengeluarkan rilis yang mengungkap sejumlah aktivitas Korea Utara melanggar sanksi internasional. Salah satunya mengirimkan pesepakbolanya ke Juventus.

Terhitung sejak 2017, PBB telah menjatuhkan sejumlah sanksi pada Korea Utara, membatasi negara tertutup itu dari aktivitas impor minyak, melarang ekspor batu bara, ikan dan tekstil. Sanksi internasional itu ditujukan untuk mengekang program nuklir Pyongyang.

Dewan Keamanan PBB menyoroti warga Korea Utara yang bekerja di luar negeri yakni pesepakbola Han Kwang Song yang dibeli Juventus pada Januari 2020. 

Seperti disinggung sebelumnya, Juventus langsung menjual Han ke Al-Duhail, enam hari setelah dia meneken kontrak dengan Bianconeri. Penjualan itu, kata Dewan Keamanan, jelas melanggar sanksi PBB yang tidak memperbolehkan Korea Utara mengirim warga negaranya bekerja di luar negeri.

Atas masalah tersebut, Al-Duhail memutus kontrak Han pada akhir 2020. Siaran The Voice of America (VOA) mengutip pakar sepakbola Italia, Marco Bagochi, menyebut Al-Duhail awalnya akan meminjamkan Han ke Selangor di Liga Super Malaysia. Namun, otoritas di Malaysia mengintervensi proses itu, dengan alasan jelas, yakni akan ada konsekuensi berat jika Selangor mempekerjakan Han. 

Hingga sekarang, belum diketahui lagi nasib wonderkid asal Korea Utara tersebut.

Sumber referensi  : Libero, Indosport, Panditfootball, Football Tribe, Ligalaga, bolatimes

Esteghlal vs Persepolis : Derby Terpanas di Asia

0

Pertandingan derby satu kota identik dengan sebuah rivalitas. Di Eropa, kita mengenal beberapa laga derby yang sudah masyhur di kalangan pecinta si kulit bundar. Seperti derby Milan yang mempertemukan Inter vs Milan, lalu ada derby Manchester antara City melawan United, derby Glasgow yang mempertandingkan Rangers menghadapi Celtic atau derby Madrid antara El Real kontra Atlético.

Ternyata, tak hanya di benua Eropa saja, laga derby dengan tensi tinggi pun ada di benua Asia. Tepatnya, di negara Iran, salah satu negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya.

Pertandingan derby tersebut mempertemukan dua klub sepakbola terkuat di sana, yakni Esteghlal FC dan Persepolis FC. Dua klub ini masuk dalam tiga besar liga Iran.

Esteghlal, klub dengan corak warna biru itu telah memenangkan 8 trofi Liga Iran serta 2 gelar Liga Champions Asia. Sedangkan, Persepolis yang identik dengan warna merah telah menjuarai Liga Iran sebanyak 13 kali. Pertemuan keduanya dianggap sebagai yang paling panas di benua kuning.

Kedua tim itu sendiri merupakan kesebelasan yang berasal dari Teheran, ibukota Iran. Tak cuma itu, keduanya juga bermarkas di stadion yang sama, yakni Azadi Stadium. Stadion dengan kapasitas 100 ribu penonton yang diresmikan pada 1973.

Berasal dari kota dan bermarkas di tempat yang sama tak menjadikan keduanya akur.

Rivalitas kedua tim bahkan sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu. Tepatnya pada era 60-an, sebelum Liga Iran dibentuk. Kedua tim pertama kali bertanding pada 5 April 1968, dalam sebuah laga persahabatan yang berakhir dengan skor imbang.

Persaingan semakin panas semenjak Liga Iran mulai dibentuk pada 1970. Baik Esteghlal maupun Persepolis selalu menyajikan suasana dengan tensi tinggi tiap kali bertanding di atas lapangan.

Terlebih lagi, basis pendukung kedua tim tersebut adalah yang terbesar di Iran. Saking kuatnya basis suporter dari kedua klub tersebut, derby ini ibarat membelah kota Teheran menjadi dua warna berbeda, yakni Biru dan Merah.

Namun, sebelum lebih jauh membahas panasnya derby ini, ada baiknya untuk mengupas sejarah berdirinya dua klub tersebut.

Pada awalnya, Esteghlal bukanlah klub sepakbola, melainkan klub olahraga Sepeda. Saat didirikan pada 1945, tim ini bernama Docharkhe Savaran. Empat tahun kemudian, klub ini mulai fokus pada olahraga sepakbola dan berubah nama menjadi Tej Teheran.

Pergantian nama menjadi Esteghlal FC sendiri baru terjadi pada 1979, tepatnya setelah revolusi Iran. Pergantian nama ini karena sebelum revolusi Iran klub ini dikaitkan dengan monarki dan rezim yang berkuasa pada waktu itu.

Pada dekade 1970-1980an, Esteghlal memang identik sebagai klub kalangan atas. Selain mendapat dukungan dari pemerintah, klub ini juga didukung oleh para pebisnis, bangsawan, dan kalangan konglomerat.

Sementara itu, Persepolis, yang didirikan oleh mantan petinju Iran, Ali Abdo pada tahun 1963 didukung oleh kalangan kelas pekerja. Sehingga tak mengherankan jika klub ini memiliki basis suporter yang sangat kuat dan luar biasa.

Pada saat awal-awal terbentuk, Persepolis lebih banyak berkutat di divisi bawah liga Iran. Mereka baru mulai bangkit di tahun 1968, mereka menggunakan eks pemain Shahin FC, sebuah klub yang dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 1967 karena alasan politik.

Parviz Dehdari, juru taktik Persepolis saat itu, adalah orang yang membawa beberapa eks pemain Shahin untuk bergabung ke timnya. Dan sejak saat itu, Persepolis menjadi salah satu kekuatan besar di sepakbola Iran.

Awal mula permusuhan antara Esteghlal dan Persepolis dilatarbelakangi oleh pengaruh dan dukungan dari rezim yang berkuasa pada saat itu.

Menurut seorang penulis asal Iran, Sina Saemian, keduanya mulai bermusuhan sejak Shahin FC dibubarkan oleh pemerintah karena alasan politik.

Seperti disinggung di awal bahwa kebanyakan mantan pemain Shahin FC direkrut ke Persepolis. Selain itu, mereka juga membawa kultur Shahin FC. Sehingga, Esteghlal yang dulunya bermusuhan dengan Shahin FC, berganti jadi membenci Persepolis.

Seiring berjalannya waktu, persaingan diantara kedua kesebelasan semakin sengit. Tak hanya di dalam stadion, kadang kala juga di luar stadion. Suporter dari kedua tim yang dikenal sangat luar biasa sering kali tidak bisa dikendalikan. Lebih parahnya lagi, fanatisme dan kebencian antar fans kedua klub tak jarang membuat pertandingan berakhir dengan baku hantam.

Sampai sejauh ini, kedua tim telah bertanding sebanyak 93 kali di semua kompetisi, dengan 26 kali dimenangkan oleh Esteghlal, 24 kali dimenangkan oleh Persepolis dan sisanya berakhir imbang. Meskipun kemenangan yang dicapai Esteghlal lebih banyak, namun mereka kalah jumlah gol dari Persepolis. Tercatat,  Persepolis berhasil mencetak 93 gol, sedangkan Esteghlal hanya mencatatkan 89 gol.

Selain itu, para pemain yang pernah memperkuat baik Esteghlal atau Persepolis di masa lampau, seperti Ali Daei, Mehdi Mahdivika, Ali Jabbari, Gholam Hossein Mazloumi juga pernah merasakan atmosfer yang luar biasa di setiap pertandingan derby ini. 

Salah satu pertandingan paling panas dan berujung pada bentrokan terjadi pada 11 Januari tahun 1995.

Penyebabnya adalah keputusan wasit yang dianggap berat sebelah. Ketika itu Persepolis sudah unggul 2 gol sampai menit 80, tapi tiba-tiba Esteghlal mampu menyamakan 2 gol, yang salah satunya lewat titik putih. Keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti membuat marah suporter Persepolis. Mereka menyerbu lapangan dan menyebabkan keributan antara pemain dan suporter.

Sejak saat itu, federasi sepakbola Iran memutuskan menggunakan wasit dari luar negeri untuk memimpin derby. Hal tersebut dilakukan demi menjaga netralitas pertandingan. Akan tetapi, walaupun sudah menggunakan wasit asing, bentrokan tetap terjadi di derby ini.

Seperti bentrokan yang pernah terjadi pada tahun 2000 ketika kiper Esteghlal,Parviz Boroumand memukul wajah pemain Persepolis, Payan Rafat. Tak ayal, keributan antar kedua pemain dari kedua klub pun tak bisa dihindari dan lebih parahnya lagi diikuti dengan bentrokan antar suporter baik di dalam maupun di luar stadion.

Akibat kerusuhan tersebut, 250 kendaraan mengalami kerusakan. Selain itu, Polisi juga menangkap 3 pemain dari masing-masing klub dan 60 suporter yang dianggap sebagai provokator.

Teheran Derby menjadi salah satu event olahraga terbesar di tanah arya. Rata-rata terdapat 100 ribu penonton memenuhi stadion dan ditonton lebih dari 30 juta orang di televisi.

Atas dasar tersebut, tekanan yang begitu besar pun datang kepada pemain dan pelatih untuk memenangkan pertandingan. Saking bergairahnya derby ini, kedua kesebelasan beranggapan bahwa memenangkan laga ini lebih penting daripada menjuarai liga karena sarat gengsi dan harga diri.

Tidak hanya itu, begitu pentingnya Derby ini, semua aktivitas masyarakat dan roda perekonomian kota Teheran terganggu karena orang-orang pergi untuk menonton derby ini baik di Stadion Azadi maupun di layar kaca.

Tak heran, jika laga yang mempertemukan Esteghlal dan Persepolis disebut-sebut sebagai derby terpanas di Asia.

Sayangnya, waktu itu kaum perempuan di Iran tidak bisa menikmati derby ini di stadion pasca revolusi Iran. Pemerintah memang melarang wanita Iran untuk menyaksikan laga secara langsung sebelum pada 2019 peraturan itu dicabut.

Sumber Referensi : Instagram, Panditfootball, adventure, Kompasiana

Takuhiro Nakai : Pemain Berjuluk Iniesta Dari Jepang yang Bermain Di Real Madrid

0

Negeri matahari terbit seolah tak kehabisan talenta berbakat di panggung sepakbola. Jepang, negara dengan kultur sepakbola kuat ini terus melahirkan aktor-aktor lapangan hijau yang siap mengguncang kancah persepakbolaan dunia.

Yang terbaru tentu saja sosok bernama Takefusa Kubo. Pemain yang mendapat julukan Messi dari Jepang ini direkrut Real Madrid pada bursa transfer musim panas 2019. Namun, Kubo ternyata bukan satu-satunya wonderkid Jepang di kubu Real Madrid.

Ada nama lain di skuad klub terbesar di Spanyol tersebut. Dia adalah Takuhiro Nakai. 

Takuhiro Nakai telah bersama Real Madrid sejak 2013, dan selama setahun terakhir ini mulai dibicarakan sebagai salah satu bakat potensial yang dimiliki Los Blancos.

Nakai juga disebut sebagai Captain Tsubasa versi dunia nyata, karena skill dan umurnya yang masih muda. Hal yang tidak jauh berbeda dengan Tsubasa saat pertama kali menapaki karir sepakbolanya. 

Takuhiro Nakai yang biasa disapa Pipi memang bukan pesepakbola sembarangan. Buktinya saja, ia diboyong klub sekaliber Real Madrid saat usianya masih 9 tahun. 

Kala itu, Madrid kepincut dengan skill dan potensi yang dimiliki Nakai. El Real resmi mendapatkan Nakai pada 28 september 2013 dan sang pemain masuk dalam program akademi Los Blancos.

Jauh sebelum direkrut Madrid, pemain yang lahir pada 24 Oktober 2004 ini, sebenarnya sudah cukup terkenal di negeri Samurai. Ia pernah tampil di acara televisi Jepang yang menunjukkan kemampuan olah bola yang mumpuni.

Bakat Nakai ditemukan oleh pemandu bakat Real Madrid. Saat ia tengah bermain di salah satu kamp pelatihan di China. Dia diundang untuk uji coba di Spanyol dan tampil cukup mengesankan, sebelum akhirnya ia meninggalkan Azul Shiga dan menandatangani kontrak dengan Real Madrid pada tahun 2014.

Dalam usahanya merekrut Nakai, Real Madrid sempat alami masalah karena harus berhadapan dengan hukuman FIFA perihal perekrutan pemain. Salah satu dakwaan yang didapatkan Los Merengues yakni mereka dianggap memisahkan Nakai dari orang tuanya.

Namun dakwaan ini berhasil dipatahkan setelah ibunda Nakai yang berbicara di Lausanne, Swiss, tempat dimana pembahasan hukuman ini berlangsung.

Ibunda Nakai menceritakan kisah yang menggetarkan hati dan berhasil meyakinkan FIFA bahwa apa yang dilakukan Los Blancos tak salah. Pengorbanan ibunda dan masa kecil yang jauh dari kata menyenangkan yang diterima Nakai pun membuka jalannya untuk menjadi pesepak bola profesional.

Perekrutan Nakai oleh Madrid menjadi penanda bahwa Nakai memiliki apa yang diperlukan untuk membuat pengaruh dengan sang raksasa Eropa tersebut.

Nakai adalah pemain yang lebih sering bermain di lini tengah. Sejak bergabung di usia 9 tahun, para pelatih tim muda Real Madrid selalu memperhatikan sosok Nakai, dan mengembangkan bakatnya secara hati-hati, agar di masa depan Nakai bisa menjadi gelandang serang menakutkan.

Saat pertama kali muncul, Nakai sudah membuat fans Madrid terpesona. Selain itu Marcelo sang bek kiri juga dibuat kagum ketika ia menonton langsung latihan para pemain muda Madrid enam tahun lalu.

Nakai merupakan sosok spesial dari Jepang. Hal ini diakui pula oleh Jose Manuel Lara, pelatih pertama Nakai di Madrid. “Dia datang untuk uji coba bersama tim Alevin B (U-11), dan saya terkesan dengan kemampuan teknisnya,”

“Ketika dia bergabung dengan Alevin A (U12), saya memiliki kesempatan untuk melatihnya dan melihat, bahwa kami memiliki anak laki-laki dengan bakat khusus.” ucap Jose Manuel Lara.

Meskipun Nakai mempunyai ketrampilan olah bola yang dibutuhkan untuk membuatnya sukses di Madrid, tapi ia tetap harus melewati masa adaptasi.

Untuk sukses dalam permainan Eropa, pemain yang lahir di Shiga, Jepang ini, harus bisa menyesuaikan diri dengan negara baru, yang memiliki perbedaan dengan Jepang secara budaya. Selain itu, ia juga harus bisa menghadapi tantangan dalam hal fisik.

Bersama Madrid, Nakai telah melewati proses yang cukup panjang. Ia bermain di segala kelompok umur. Dari tim U-11 Madrid hingga pernah dipanggil untuk latihan bersama skuad Real Madrid Castilla asuhan Raul Gonzalez.

Selama masa gemblengan dengan klubnya di luar Jepang tersebut, Nakai selalu tampil gemilang. Dia kerap kali menyumbang gol di kandang lawan. Setelah lebih dari 7 tahun berada di ibukota Spanyol, gelandang yang punya skill mumpuni ini dinilai mampu mengatasi salah satu masalah terbesarnya yaitu fisik. 

Kemampuan Nakai bermain sebagai gelandang serang akhirnya mampu menarik perhatian Raul Gonzalez (pelatih Real Madrid Castilla) dan juga Zinedine Zidane. Setelah beberapa kali berlatih bersama tim Castilla, Nakai mendapat kesempatan pertamanya berlatih bersama tim senior Real Madrid saat jeda internasional pada oktober tahun lalu.

Seiring berjalannya waktu, Nakai terus berkembang baik secara fisik maupun dalam hal kepelatihannya. Kemudian muncul pertanyaan mengenai posisi terbaiknya.

Sejak lama ia dianggap sebagai pemain bernomor 10, remaja yang mengidolakan Luka Modric dan Andres Iniesta tersebut baru-baru ini menemukan dirinya bermain sedikit lebih dalam sebagai gelandang tengah.

Gaya bermain Nakai dianggap mirip seperti Iniesta. Nakai memang punya skill menggiring bola yang oke, kemampuan khas seorang Iniesta. Tak salah jika media-media luar negeri menjulukinya sebagai Iniesta dari Jepang.

Musim ini sendiri, Nakai lebih banyak bermain di tim Juvenil B. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan ia akan dimainkan di tim Juvenil A (U19) dan bahkan Castilla.

Di luar kehidupannya bermain sepakbola, Nakai menjalani kehidupan yang tenang di ibukota Spanyol. Menurut beberapa sumber, ia sekarang menetap di Spanyol bersama keluarganya. Ia sendiri merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. 

Dan kini, di usianya yang masih 17 tahun, Nakai masih bisa berkembang lebih jauh lagi. Bukan tak mungkin jika nanti ia akan menjadi andalan Madrid di masa depan dan bermain bersama seniornya, Takefusa Kubo.

Sumber Referensi : Goal, akibanation, bolalob, Indosport

Saat Motherwell, Klub Asal Skotlandia Menjadi Raja di Spanyol

0

Kompetisi bergengsi di sepak bola Spanyol, Copa Del Rey atau Piala Raja, selalu menyajikan pertandingan-pertandingan menegangkan di tiap musimnya. Di setiap musimnya, tim-tim yang ada di tanah matador akan berebut merengkuh trofi Copa Del Rey.

Barcelona saat ini masih menjadi pengoleksi trofi terbanyak dengan 30 kali menggenggam gelar juara. Di posisi kedua terdapat Athletic Bilbao yang sudah 23 kali mendapat trofi, lalu ada Real Madrid yang sukses memenangkan 19 gelar.

Namun, tahukah kamu bahwa ada klub di luar Spanyol yang pernah memenangi kompetisi ini? Klub tersebut adalah Motherwell, sebuah kesebelasan dari tanah Skotlandia. Lalu bagaimana ceritanya klub dari luar Spanyol ini memenangkan Copa Del Rey?

Kisah unik itu terjadi pada tahun 1927. Tepat setelah, Motherwell keluar sebagai runner up divisi teratas Skotlandia 1926/1927. Keikutsertaan Motherwell di ajang Copa Del Rey bukannya tanpa alasan.

Karena pada saat itu mereka menerima undangan dari Federasi Sepakbola Spanyol (RFEF) untuk ambil bagian dalam edisi khusus pasca musim kompetisi. Tak hanya Motherwell, klub Inggris Swansea City juga menerima undangan untuk ambil bagian pada kompetisi yang sama.

Motherwell menyambut baik undangan tersebut. Mereka lalu bergegas menuju ke Kota Madrid, Spanyol untuk berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.

Sebelum itu, Motherwell, klub yang sudah ada sejak 17 Mei 1886, telah memenangkan banyak gelar di kancah domestik. Salah satunya ajang Lanarkshire Cup, sebuah kompetisi tahunan yang diikuti tim-tim sepak bola di daerah Lanarkshire.

Motherwell FC sendiri memang-lah klub sepakbola profesional dari Skotlandia yang berbasis di Motherwell, North Lanarkshire. Dan sekarang klub ini masih bersaing di Liga Premier Skotlandia.

Terkait kisah mereka menjuarai Copa Del Rey 1927 jarang dibicarakan suporter. Sebab, itu tidak diakui sebagai gelar resmi, meski bermainnya klub dengan seragam kuning emas-merah hati di turnamen tersebut atas undangan resmi dari RFEF dan Raja Alfonso XIII sendiri.

Sepakbola jaman dulu, berbeda dengan sekarang. Dulu semua klub yang bertanding akan diperlakukan dengan status sama, baik dalam laga resmi maupun ujicoba, namun berbeda dengan saat ini yang klubnya diklasifikasikan dalam beberapa kelompok.

Saat Copa Del Rey 1927 digelar, hanya terdapat empat tim. Dan turnamen kala itu bersifat tidak resmi, hanya sebatas pertandingan biasa. Meski begitu, gairah dan pamornya tetap sama seperti turnamen resminya. Apalagi saat itu Raja Alfonso XIII akan memberikan hadiah trofi spesial bagi sang kampiun.

Trofi spesial itu memang sengaja disiapkan untuk menghormati tamu-tamu dari Britania Raya yang bertanding di tanah Spanyol. Mereka adalah Motherwell dan Swansea City. Menariknya, Motherwell harus berhadapan dengan Swansea di fase penyisihan sebelum diizinkan melaju ke partai final.

Laga yang dimainkan di stadion Chamartin (nama dan bentuk lama Santiago Bernabeu) itu membuat kedua tim dicatat sejarah, karena saat itu, untuk pertama kalinya dua tim asal Britania Raya bertanding di Spanyol.

Laga itu dimenangkan oleh Motherwell dengan skor 4-3. Pertandingan yang memukau banyak pasang mata itu bahkan, sampai membuat Raja Alfonso XIII berkata bahwa laga ini merupakan “brilliant display of scientific football”.

Pada laga final, Motherwel berhadapan dengan sang tuan rumah, yakni Real Madrid. Sebagai catatan, saat itu, klub berjuluk Los Blancos belum pernah menjuarai La Liga. Pasalnya, kompetisi nasional baru diselenggarakan 2 tahun kemudian. 

Real Madrid tentu saja tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk merebut gelar di hadapan publik sendiri. Begitu juga dengan Motherwell, meski laga itu versi tidak resmi dari final Copa del Rey, tapi mereka menganggap jika ini adalah kesempatan untuk merebut trofi di tanah asing.

Laga digelar pada 17 Mei 1927, hanya berselang dua hari pasca Motherwell menaklukkan Swansea. Hasil pertandingannya ternyata diluar dugaan, Madrid dengan dukungan penuh dari fans tak mampu berbuat banyak. Mereka tumbang dari Motherwell dengan skor 3-1. Atas hasil itu, Motherwell mencatatkan diri sebagai klub Skotlandia kedua yang mengalahkan Madrid setelah Dundee United, 7 tahun sebelumnya.

Setelah merebut trofi Copa Del Rey 1927, Motherwell melanjutkan tur Spanyol ke Barcelona beberapa hari kemudian, untuk kembali bermain sepakbola. 

Di tanah Catalan, Motherwell sudah ditunggu Barcelona dan Swansea pada turnamen bertajuk Copa Barcelona. Hasilnya pun sangat memuaskan. Setelah bermain imbang 2-2 dengan El Barca, mereka kemudian mengalahkan Swansea 1-0 di final.

Lalu, bagaimana dengan Copa del Rey versi resminya?

Sebenarnya, pada Piala Raja Alfonso XIII saat itu hampir saja mempertemukan Real Madrid dan Barcelona di laga puncak.

Hanya saja, skenario tersebut berantakan di semifinal. Memainkan semua pertandingan di Zaragoza, 8 Mei 1927, Madrid justru dipermalukan Real Union 0-2. Di sisi lain, Barca harus tunduk 3-4 dari Arenas Club de Getxo. Di final, Union mengalahkan Getxo untuk meraih Copa del Rey keempatnya.

Sementara itu, Motherwell, selepas memenangi ajang Copa Del Rey tidak resmi itu, menjuarai Liga Skotlandia 1931/32, Piala Skotlandia 1951/1952 dan 1990/91, serta piala Liga Skotlandia 1950/51 dan beberapa gelar lainnya.

Sumber referensi : Libero, Mottherwell