Ajang kualifikasi Piala Dunia 2022 antara Portugal dan Serbia beberapa waktu lalu diwarnai kontroversi. Cristiano Ronaldo murka karena golnya di menit 90+3 dianulir. Padahal, jika melihat tayangan ulang, bola yang ditendang Ronaldo jelas-jelas melewati garis gawang dan seharusnya bisa diakui sebagai gol.
Sayangnya, sang wasit, Danny Makkelie, tak melihatnya sebagai gol, karena bola kemudian ditendang pemain Serbia keluar dari gawang.
Insiden tersebut membuat Ronaldo melakukan protes keras. Alih-alih, mendapat pengakuan atas golnya, Ronaldo justru mendapat kartu kuning. Ia pun meninggalkan lapangan dengan melempar ban kapten ke tanah. Padahal, pertandingan belum selesai.
Kejadian ini membuat pelatih Portugal, Fernando Santos, angkat suara. Dia mengatakan, seharusnya dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Eropa menggunakan VAR.
Ya, VAR atau Video Assistant Referee adalah teknologi terbaru yang dipakai dalam arena sepak bola. Salah satu tugas utama VAR adalah membantu meringankan beban wasit.
Padahal, sebelumnya keberadaan VAR diliputi oleh berbagai macam kontroversi. Ada sebagian pihak yang menganggap bahwa beberapa keputusan VAR sangat merugikan, mulai dari handball, offside, hingga penalti.
Bahkan, tak sedikit manajer yang mengeluhkan keberadaan VAR.
Salah satunya adalah pelatih Arsenal, Mikel Arteta. Ia mengaku sangat kecewa dengan keputusan dianulirnya gol Lacazette, dalam laga Arsenal melawan Leicester City musim 2020/21.
Jose Mourinho, pelatih Tottenham Hotspurs, juga pernah melontarkan kritik pedas mengenai penggunaan VAR. Mourinho bahkan menyebut teknologi itu menghancurkan sepak bola.
“VAR seharusnya membantu sepak bola, untuk membawa kebenaran kepada para penonton. Mereka melakukannya dengan memberi penalti dan membunuh pertandingan dengan keputusan Son,” kata Mourinho.
Mourinho melontarkan kritiknya, usai VAR membuat pemainnya, Son Heung Min diganjar kartu merah dalam lanjutan Liga Inggris musim 2019/20. Mourinho berpendapat, keputusan kartu merah Son seharusnya tidak terjadi. Karena, Anthony Taylor, wasit yang memimpin pertandingan, tidak memutuskan demikian.
Namun, berbanding terbalik dengan mereka yang kontra VAR, Santos justru merasa jika teknologi ini sangat dibutuhkan dalam kualifikasi Piala Dunia 2022. Hal itu, cukup beralasan. Mengingat tidak adanya teknologi tersebut membuat tim yang dilatihnya gagal meraih 3 poin.
“Wasit meminta maaf dan saya sangat menghormatinya, tapi tidak bisa dibiarkan dalam kompetisi seperti ini tidak ada teknologi VAR atau garis gawang.”
“Bola berada setengah meter di dalam gawang, tidak ada penghalang antara penjaga gawang dan garis gawang. Itu sangat jelas.”
“Dia (Makkelie) meminta maaf kepada saya, tetapi ini tidak akan menyelesaikan masalah. Wasit tentu saja bisa melakukan kesalahan. Mereka hanya manusia. Untuk itulah harus ada VAR,” kata Santos (via A Bola)
Namun, Santos tak sendirian. Bek timnas Spanyol, Inigo Martinez, juga mengungkapkan kekecewaannya terkait ketiadaan VAR. Menurutnya, jika dalam pertandingan Spanyol melawan Yunani ada VAR, ceritanya mungkin akan berbeda.
Kekecewaan Martinez bukannya tanpa alasan. Karena dalam laga itu, timnas Yunani mendapatkan hadiah penalti kontroversial. yang membuat pertandingan berakhir seri satu sama.
Dalam pertandingan kualifikasi Piala Dunia, memang tidak menggunakan VAR atau teknologi garis gawang.
Dilansir dari Marca, alasan mengapa VAR dalam ajang ini tidak digunakan adalah untuk penyetaraan. Karena tidak semua stadion yang dipakai untuk pertandingan kualifikasi menyediakan teknologi VAR. Tak hanya di zona Eropa, hal tersebut juga berlaku di zona Asia. Di zona Asia sendiri, masih banyak stadion yang belum memiliki fasilitas VAR.
Jadi keputusan yang diambil oleh badan pengatur sepak bola untuk tidak menggunakannya di kualifikasi manapun, adalah untuk memastikan bahwa semuanya bermain di lapangan dengan fasilitas setara.
FIFA menganggap jika VAR tetap digunakan, akan terasa tidak adil bagi negara-negara yang stadionnya belum memiliki teknologi tersebut.


