Beranda blog Halaman 608

7 Pemain Liga Inggris Ini Lolos Wajib Militer Tanpa Melakukannya

0

Meskipun Indonesia tidak memberlakukan kebijakan wajib militer, istilah wajib militer pasti tak asing lagi bagi masyarakat Indonesia terutama para pecinta K-POP yang sabar menanti sang idol kembali dari pendidikan wajib militernya.

Memang, bukan hanya Korea, tapi beberapa negara di dunia masih memberlakukan sistem pemahaman bela negara semacam ini guna membangun rasa nasionalisme. Wajib militer bisa dibilang sebuah kewajiban bagi warga negara berusia muda untuk mengikuti pendidikan militer dalam waktu yang sudah ditentukan oleh masing-masing negaranya.

Kebijakan wajib militer tidak pandang bulu, tak terkecuali bagi para pesepakbola. Bintang-bintang lapangan hijau Serie A lawas seperti Paolo Maldini, Fabio Cannavaro, dan Alessandro Del Piero pernah merasakannya. Mereka menjalani kewajibannya sebagai warga negara dan tetap memiliki karier sepak bola yang cemerlang. Bahkan sempat mengantarkan Italia juara Piala Dunia 2006.

Namun, beberapa pesepakbola menganggap kalau wajib militer bisa menjadi penghambat karier di dunia sepak bola. Maka dari itu, tak sedikit pesepakbola yang menempuh jalan lain, yang penting lolos wajib militer, meski tidak melakukannya.

Nah,berikut nama-nama pemain sepak bola yang lolos dari wajib militer di negaranya. Walaupun tidak mengikutinya.

Park Ji-Sung

Legenda sepak bola Korea Selatan yang juga mantan punggawa Manchester United ini sempat hampir menepi dari sepak bola karena harus menjalani wajib militer selama dua tahun. Namun, pemerintah Korea Selatan menjanjikan dispensasi apabila Park Ji Sung dapat membawa Timnas Korea Selatan berprestasi di Piala Dunia 2002.

Kala itu, Korea Selatan serta Jepang menjadi tuan rumah ajang empat tahunan tersebut. Bermain di rumah sendiri, pada ajang tersebut Park Ji-Sung CS berhasil melaju ke babak gugur dengan status juara grup.

Menariknya, di fase grup mereka sempat menekuk generasi emas Portugal yang masih dihuni oleh pemain sekaliber Luís Figo, Sérgio Conceição, dan Vítor Baía dengan skor 1-0.

Akhirnya Park Ji-Sung berhasil membawa skuat Macan Asia menembus semifinal Piala Dunia 2002. Setelah prestasi tersebut, pemerintah Korea Selatan pun merevisi peraturan wajib militer dengan memberikan pengecualian bagi pemain-pemain kunci di Piala Dunia 2002, Park Ji Sung termasuk di dalamnya.

Mohamed Salah

Beda halnya dengan yang dialami pahlawan sepak bola Mesir, Mohamed Salah. Koneksi yang bagus dengan pemerintah Mesir lah yang menjadi salah satu kunci Mo Salah berhasil menghindari wajib militer yang seharusnya ia tunaikan di Mesir selama 12 hingga 36 bulan lamanya.

Pada tahun 2014 silam kala ia masih berseragam Chelsea, masa depan karier sepak bola Mo Salah sempat terancam hancur, karena ada laporan yang menyatakan bahwa ia harus kembali ke Mesir guna menjalankan wajib militer setidaknya selama 12 bulan.

Beruntungnya, Salah memiliki hubungan yang baik dengan Perdana Menteri Mesir kala itu, Ibrahim Mahlab. Perdana Menteri Mesir langsung turun tangan untuk berdiskusi dengan Menteri Pendidikan Tinggi dan pelatih Timnas Mesir kala itu, Shawky Gharib.

Ibrahim Mahlab menyadari apabila Salah menjalani wajib militer selama itu, maka akan menjadi boomerang tersendiri bagi prestasi Timnas Mesir. Alhasil, Mo Salah pun bebas dari kewajibannya itu.

Nemanja Vidic

Mantan bek tangguh milik Manchester United ini sudah meninggalkan tanah kelahirannya, Uzice di usia 15 tahun untuk pergi ke Belgrade guna membangun karier persepakbolaannya. Vidic pun bergabung dengan klub Red Star Belgrade atau FK Crvena Zvezda.

Nemanja Vidic berhasil lolos dari wajib militer setelah mendapat dispensasi dari pemerintah Serbia kala itu. Ia menyerahkan beberapa dokumen yang menyatakan bahwa ia adalah seorang pemain sepak bola profesional kepada pihak berwenang.

Vidic seperti mendapat berkah dari lolosnya menjalani wajib militer. Pasalnya beberapa hari setelah dispensasi dikeluarkan, NATO meluncurkan kampanye pengeboman yang menargetkan Uzice dan Belgrade. Jika Vidic tak berhasil meloloskan diri dari kewajiban tersebut entah bagaimana nasib Vidic sekarang.

Hwang Hee-chan

Bintang muda Korea Selatan yang kerap dibanding-bandingkan dengan Evan Dimas ini sempat mencuri perhatian kala berhasil menggocek bek Liverpool, Virgil Van Dijk yang terkenal sulit untuk dilewati dalam posisi satu lawan satu di ajang Liga Champions 2018 lalu.

Namun sebelum peristiwa viral tersebut, Hwang Hee-chan terlebih dahulu harus memperjuangkan nasibnya agar terlepas dari jerat kewajibannya sebagai warga negara. Ia harus berjuang untuk mendapat dispensasi dari pemerintah Korea Selatan dengan cara harus membawa pulang medali emas pada Asian Games 2018.

Akhirnya, bersama Heung Min Son yang juga ingin mengupayakan bebas dari wajib militer, Hee-chan berhasil mempersembahkan medali emas pada perhelatan Asian Games 2018. Kini Hwang Hee-chan bermain di Liga Inggris bersama Wolverhampton.

Son Heung-min

Penyerang andalan Tottenham Hotspurs tersebut juga berperan penting pada saat Korea Selatan U-23 berhasil menyabet medali emas di ajang Asian Games 2018. Ia dipilih guna mengisi kuota pemain senior di skuad Korea Selatan. Ketika itu Indonesia menjadi tuan rumah pesta olahraga Asia tersebut.

Son dan Hwang Hee-chan berhasil lolos dari wajib militer Korea Selatan. Namun yang dialami Son sedikit berbeda dari Hwang Hee-chan. Meskipun ia sudah meraih medali Emas Asian Games, Son tetap mesti menjalani latihan militer selama tiga pekan.

Tercatat sejak 20 April hingga 8 Mei 2020, Son mendapatkan latihan sebagai marinir angkatan laut. Son diajari dasar-dasar menjadi seorang marinir seperti cara menggunakan senjata api, bayonet, hingga bahan kimia, biologis, dan radiologis. Pesepakbola berusia 27 tahun itu juga mempelajari skill bertarung individu dan pelatihan pertolongan pertama.

Ia menjalani pelatihan ini pada saat Liga Inggris sedang mandek karena badai Covid yang menyerang daratan Inggris. Lumayan lah ya, daripada harus wamil dua tahun.

Per Mertesacker

Kisah “meloloskan diri” dari wajib militer milik Per Mertesacker cukup lucu. Pemain ini mendapat kewajiban melaksanakan pendidikan militer Jerman di usianya yang sudah dewasa. Namun, ia berhasil lolos setelah menuliskan surat permohonan kepada pihak berwajib.

Mantan pemain Arsenal itu beralasan tubuhnya yang sangat tinggi tidak pas untuk mengikuti pendidikan militer. Ia menuliskan dengan tingginya yang mencapai 1,98 meter, ia tidak akan muat apabila disuruh masuk tank atau kapal selam milik tentara jerman. Akhirnya, ia mendapat tugas pengganti sebagai penjaga klinik.

Yossi Benayoun

Pemain yang pernah membela Chelsea dan Liverpool pada era 2000-an ini sempat bergabung dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) saat usianya masih 18 tahun. Hal itu dikarenakan ada kewajiban bagi setiap warga negara Israel untuk mengikuti pendidikan wajib militer.

Namun beruntungnya Benayoun, Pemerintah Israel memiliki kelonggaran bagi para atlet profesional sepertinya. Benayoun pun bisa sambil meneruskan karier sepak bolanya di Liga Israel bersama Hapoel Beer Sheva U-19.

Dengan kelonggaran yang ia dapat itu akhirnya ia bisa meneruskan kiprah sepak bolanya ke daratan ratu Elizabeth bersama West Ham United, Liverpool, Chelsea, Arsenal, QPR dan beberapa klub Liga Eropa lainya.

Sumber: Liputan6, Standar Media, Prime News, Indosport

 

Munculnya Peran Baru Defender dalam Era Sepakbola Modern

Dalam sepak bola modern, sebuah tim dituntut untuk bisa membangun serangan secara konstruktif. Maksudnya, tidak langsung ujug-ujug umpan lambung selayaknya yang dipraktikkan di Liga Indonesia. Tapi bagaimana membangun serangan dari lini belakang.

Hal ini membuat lini pertahanan menjadi penting sebagai penggagas awal serangan. Bek, bahkan hingga kiper sekalipun sekarang dituntut memiliki kualitas umpan dan naluri menyerang yang baik.

Tim besar umumnya menerapkan taktik menyerang secara konstruktif antar lini dari posisi belakang. Karena tren itu sampai-sampai memunculkan peran baru di bagian defender atau lini belakang. Apa saja peran-peran baru di lini belakang tersebut?

Ball Playing Defender

Ada yang namanya Ball Playing Defender. Peran ini sebenarnya sudah banyak dikenal dulu ketika bek legendaris Jerman Franz Beckenbauer, bek Italia Franco Baresi, sampai Matthias Sammer yg dialihfungsikan menjadi libero dari posisi aslinya sebagai gelandang.

Posisi pemain belakang yang pandai menguasai bola dengan akurasi umpan yang bagus menjadi dasar seorang Ball Playing Defender. Dalam format empat bek biasanya ada satu orang di dua Center Back yang bisa menguasai, mengontrol, bahkan merangsek naik kedepan untuk membantu serangan.

Ball Playing Defender adalah kunci sepakbola modern. Kemampuan teknis seorang defender yang menjadi tumpuan sirkulasi bola atau bisa jadi titik awal dalam memulai serangan sebuah tim.

Beberapa peran Ball Playing Defender sering ditemukan pada bek-bek yang berharga mahal. Sebagai contoh Rio Ferdinand ketika Manchester United berusaha keras menebusnya dengan harga selangit dari Leeds. Ketika itu, Ferguson sangat membutuhkan peran itu dalam timnya.

Di era sekarang banyak tipe Ball Playing Defender yang dipunyai banyak tim besar, antara lain Gerard Pique di Barcelona, David Alaba di Real Madrid, Aymeric Laporte di Man City, maupun Virgil Van Dijk di Liverpool.

Bagi tim yang membangun serangan dari bawah, sangat penting untuk memiliki Ball Playing Defender yang bisa melakukan progresi bola secara cepat. Dengan berbagai opsi yang tersedia dalam menembus lawan, bek harus bisa mengakses opsi tersebut untuk melompati lini pertama pertahanan lawan.

Ukuran umpan sukses menjadi parameter Ball Playing Defender dikatakan andal atau tidak. Karena umpan yang dihasilkan dari seorang Ball Playing Defender sering kali berhasil mengecoh strategi lawan.

Tak jarang pembelian bek mahal era sekarang lebih mengutamakan memilih pemain yang bisa menjadi Ball Playing Defender. Bahkan klub rela merogoh kocek yang dalam untuk mendapatkanya.

Contoh klub yang rela merogoh kocek dalam yakni Manchester City yang berulang kali membeli bek dengan harga selangit demi bisa mendapatkan bek yang cocok dengan peran Ball Playing Defender, seperti John Stones, Otamendi, Laporte hingga Ruben Dias.

Inverted Full Back

Kemudian muncul lagi istilah peran defender yang bernama Inverted Full Back atau bek sayap terbalik. Yang biasa diartikan sebagai bek sayap yang sering masuk ke tengah atau meninggalkan pos aslinya untuk kebutuhan penyerangan tim.

Sebuah contoh Inverted Fullback dalam membangun serangan adalah Philipp Lahm dan David Alaba saat bermain untuk Bayern Munchen di bawah Pep Guardiola. Ataupun Zinchenko dan Cancelo di Manchester City sekarang.

Dengan Full Back yang merangsek masuk ke area tengah, dengan formasi awal 4-3-3, seketika bergeser menjadi 2-3-2-3 saat membangun serangan. Format ini akan menciptakan poros baru dan mampu menang jumlah di tengah saat membangun serangan.

Penggunaan Inverted Fullback ini bisa menjadi metode untuk mengalahkan jumlah lawan di lini tengah menjadi 5 orang versus 3 orang.

Ketika menyerang biasanya Inverted Fullback dibantu oleh pemain yang mengcover area sayap yang ditinggalkan. Biasanya diisi oleh pemain sayap maupun Center Back untuk menghindari counter cepat dari lawan.

Selain itu, Inverted Fullback juga sering bergeser ke tengah area pertahanan Back Four atau rapat dengan dua Center Back untuk mengantisipasi sisi half space yang dimanfaatkan lawan ketika menyerang.

Sisi lain dari Inverted Fullback tidak hanya bergerak ke area midfield atau centre back, mereka juga sering merangsek jauh ke tengah daerah pertahanan lawan ketika menyerang. Hal itu sering disebut underlap.

Inverted Fullback banyak difungsikan tim untuk underlap. Seperti Zidane yang melakukanya pada Marcelo ataupun Carvajal, ataupun Ole yang melakukanya pada Luke Shaw. Mereka masuk ke area diantara Center Back lawan dan Full Back lawan. Pemain sayap dalam tim diposisikan jauh melebar untuk memancing Full Back lawan.

Terciptanya prinsip tumpang tindih dan kombinasi segitiga antara Inverted Fullback, Winger, dan Attacking Midfield menjadi salah satu alternatif dalam penyerangan.

Dalam pola bertahan, Inverted Fullback juga difungsikan untuk menutup area tengah pertahanan yang sering ditinggalkan Center Back atau Ball Playing Defender ketika menyerang atau set pieces (corner atau free kick)

Dalam memanfaatkan peran posisi Inverted Fullback tidak sembarang pemain atau pelatih bisa melakukannya. Perlu dilatih sesering mungkin dan pada dasarnya diperlukan pemain yang cocok dengan atribut khusus. Seperti akurasi passing yang oke, kecepatan tinggi, defense dan attack yang seimbang, juga diperlukan intelegensi yang tinggi dalam memahami peran baru itu dari pelatih.

Wide Center Back

Kemudian muncul lagi peran defender yang sering orang menyebut dengan istilah Wide Center Back. Bahkan peran ini sempat hype ketika muncul di game Football Manager.

Wide Center Back sering diartikan sebagai seorang Center Back yang sering melebar dan naik membantu penyerangan. Biasanya Wide Center Back difungsikan pada tim yang menggunakan formasi tiga bek.

Skenario formasi yang dipakai biasanya 3-5-2 atau 3-4-3, di mana pemain sayap bisa turun dan membuat formasi menjadi 5-3-2. Jika Wide Center Back melakukan serangan atau saat tim mereka menguasai bola, formasi berubah menjadi 2-3-5.

Jenis peran baru ini terkenal ketika Antonio Conte melatih Chelsea. Ketika itu Conte pada awal musim menangani Chelsea masih menggunakan format 4-3-3, lalu setelah beberapa pertandingan seketika berubah menjadi 3-4-3 sampai akhir musim dan berbuah juara.

Yang terkenal dari Conte ketika itu adalah menempatkan seorang Cesar Azpilicueta menjadi pemain tiga di belakang. Azpi berada di sisi kanan tiga bek chelsea. Kemampuan defend dan attack yang seimbang membuat peran Azpilicueta di skema tiga bek makin moncer, ditambah akurasi crossing dan passing yang baik dari Azpi.

Selain itu, di Sheffield United ketika pelatih mereka Chris Wilder menggunakan format 3-5-2 mampu mengejutkan Liga Premier Inggris ketika tahun pertama setelah mereka promosi. Sheffield menggunakan Chris Basham dan Jack O’Connel sebagai Wide Center Back mereka.

Di Atalanta, Gasperini menempatkan Rafael Toloi, Jose Palomino ataupun Berat Djimsiti sebagai Wide Center Back. Bahkan taktik Wide Center Back ala Gasperini cenderung terlalu frontal dengan mengutamakan “attack, attack, and attack”. Maka dari itu, terkadang sering terjadi kekosongan di area Center Back yang mengakibatkan sering jebolnya pertahanan Atalanta.

Berbeda misalnya dengan Tuchel di Chelsea sekarang, yang menempatkan Rudiger ataupun Chalobah sebagai Wide Center Back. Strategi Wide Center Back yang dijalankan Tuchel lebih seimbang karena melakukan penyerangan jika diperlukan saja.

Di Wolves juga, ketika Nuno Espirito Santo melatih, ia menempatkan Romain Saiss sebagai Wide Center Back mereka. Ada juga yang terkenal di Jerman ketika Nagelsmann sebelum pindah ke Muenchen menggunakan Lukas Klostermann dan Marcel Halstenberg sebagai Wide Center Back eksplosif di RB Leipzig. Di Inter Sekarang juga ada yang namanya Bastoni, di Spursnya Conte Sekarang memakai Ben Davies menjadi Wide Center Back

Munculnya berbagai peran dan nama baru para defender menandakan sepakbola sekarang dinamis dan terus berevolusi, setelah berbagai peran seperti Mezzala, Regista, False Nine, Box to Box, Deep Lying Forward dikenal banyak orang.

Peran baru para defender di era sepak bola modern menjadi bagian dari arti “Total Football” yang sebenarnya. Artinya, sekarang semua pemain dalam starting eleven sebuah tim dituntut untuk tidak “stay” pada posisi tertentu. Semua elemen bergerak dinamis dan terlibat dalam semua situasi, baik itu saat bertahan maupun menyerang.

Sumber Referensi : breakthelines, footballcoin, squawka,

Bahaya Match Fixing dan Mengapa Hal Itu Harus Diberantas?

0

Pada akhir tahun 2021 lalu, kasus match fixing atau pengaturan skor di jagad sepak bola Indonesia mencuat. Kasus itu diduga terjadi saat pertandingan antara Perserang vs RANS Cilegon FC di Liga 2. Waktu itu, lima pemain Perserang yang diduga terlibat kabarnya sudah dihukum Komisi Disiplin PSSI.

Itu bukan kasus match fixing pertama di sepak bola dalam negeri. Bahkan Mata Najwa sudah menguliti PSSI sampai jilid 6. Toh, kasus semacam itu bak makanan sehari-hari kompetisi dalam negeri. Tidak pernah tuntas, dan akan terus ada selama PSSI tidak tegas menindak.

Namun, di tengah ketidaktegasan terhadap kasus match fixing, muncul pernyataan yang sungguh mind blowing dari salah satu Exco PSSI, Haruna Soemitro.

Beliau menyatakan di salah satu podcast media lokal, bahwa match fixing bukan sesuatu yang harus diberantas tetapi sesuatu yang harus dilihat secara proporsional. Haruna pun seolah defensif dengan bilang bahwa jangan langsung menuduh bahwa sepak bola Indonesia kerap digelayuti permasalahan tersebut.

Pernyataan tersebut tentu saja menimbulkan banyak stigma di masyarakat. Apalagi sejauh ini kan sepak bola dalam negeri tidak pernah sampai ke tahap profesional. Kasus match fixing sudah seperti rutinitas di liga dalam negeri, tinggal terungkap atau tidak. Kalau ini dibiarkan jelas merugikan sepak bola dalam negeri.

Terlebih pada kenyataannya aktivitas match fixing sudah jadi bahaya laten persepakbolaan Indonesia sejak PSSI era kepemimpinan Nurdin Halid, Djohar Arifin Husin, La Nyalla Mattalitti, Edy Rahmayadi, dan kini Iriawan.

Sebagai seorang purnawirawan bintang tiga kepolisian, masyarakat banyak berharap pada Iwan Bule. Seharusnya dengan track record-nya itu, membersihkan kolam kotor persepakbolaan Indonesia dari match fixing bukanlah perkara rumit.

Tapi, sebenarnya mengapa match fixing ini perlu diberantas? Pertanyaan semacam itu memang perlu kita ulas kembali. Apalagi Exco PSSI saja mengatakan kalau match fixing bukan sesuatu yang harus diberantas.

Apa Itu Match Fixing?

Intinya match fixing adalah pengaturan skor. Istilah ini jamak muncul di dunia olahraga, termasuk tentu saja sepak bola. Biasanya pelaku match fixing ini sering diasosiasikan pada bandar judi yang mengatur pertandingan untuk mendapat keuntungan. Dalam dunia perjudian, pengaturan hasil akhir ini dibagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu match fixing, spot fixing, dan point shaving.

Sementara, match fixing dibagi lagi menjadi dua yaitu arranged match-fixing yang bertujuan memberi salah satu tim yang bertanding keuntungan, lalu ada gambling match-fixing, bertujuan mendapatkan keuntungan dari pasar taruhan tanpa peduli terhadap klub yang bertanding.

Bagaimana Match Fixing Bisa Terjadi?

Ada banyak cara dan alasan mengapa match fixing itu bisa terjadi. Pada umumnya karena alasan perjudian dan keuntungan finansial berupa uang, barang atau fasilitas mewah lainnya. Karena adanya sebuah imbalan yang menggiurkan itulah pelaku terdorong untuk menjalankan sebuah manipulasi pertandingan.

Pengaturan pertandingan terkait taruhan sebagian besar diatur oleh anggota kelompok organisasi kejahatan internasional. Kelompok kejahatan yang terorganisir ini menganggap peraturan dari sebuah pertandingan sepakbola sebagai ladang yang memiliki nilai jual tinggi.

Biasanya perwakilan dari organisasi ini mendekati si pemilik klub, pemain, administrator tim, hingga wasit guna melancarkan kegiatan pengaturan hasil pertandingan. Sasarannya klub-klub yang memiliki masalah finansial.

Sebab tak bisa dipungkiri klub yang tak memiliki finansial yang kuat pasti kesulitan membayar tetek-bengek kebutuhan klub, seperti gaji pemain, pengelolaan, dan sebagainya. Karena itulah klub-klub kekurangan finansial membutuhkan banyak dana, dan jalan keluar yang paling instan adalah menerima suap.

Di sisi lain, match fixing juga tak akan terjadi apabila kondisi klub berada dalam finansial sehat. Terlambatnya gaji pemain dan sulitnya untuk membayar ini-itu, menjadi pintu masuk utama jaringan mafia yang merusak semangat fair play di dalam sepak bola.

Dampak Match Fixing bagi persepakbolaan

Praktik match fixing juga kerap kali berdampak buruk bagi kelangsungan jangka panjang klub, sebut saja dari segi prestasi klub. Perkembangan klub di liga akan terhambat. Alih alih meraih juara, mereka malah harus menerima kekalahan karena terus “menjual” laga yang mereka mainkan hanya demi pemasukan guna menyeimbangkan finansial klub.

Misal pada sistem kompetisi seperti liga dengan 18 kesebelasan, klub akan berpikir tak ada bedanya finish antara posisi ke-10 dengan ke-11. Pertandingan penting menjelang akhir musim adalah pertandingan yang melibatkan gelar juara atau menghindari degradasi. Oleh karena itu kebanyakan klub papan tengah bisa “menjual” laganya kepada yang lebih membutuhkan.

Para pemain pun tak luput dari sasaran para mafia. Dalam hal pengaturan skor, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh sang aktor. Jika terbukti bersalah, kariernya bisa hancur seketika. Kredibilitasnya sebagai manusia pun turut hilang. Oleh sebab itu, tentu dibutuhkan jumlah uang yang sepadan.

Pemain mana yang tak tergoda uang ratusan juta untuk kalah dalam pertandingan atau hanya untuk tidak mencetak gol?

Imbasnya tentu pada kualitas liga. Sangat tidak mengasyikan bukan, apabila kita sudah tahu siapa yang bakal menjuarai liga, bahkan sebelum liga itu dimulai?

Akhirnya suporter dari klub terlibatlah yang paling dirugikan. Bagaimana tidak? Dukungan mereka untuk hadir dengan menyumbang pemasukan klub dari pembelian tiket atau segala bentuk dukungan lain kepada klub yang mereka cinta, terkesan percuma dengan adanya dagelan sepak bola di tengah lapangan hijau.

Harus Diberantas

Match fixing dirasa sudah mencederai nilai-nilai sportifitas dalam olahraga yang sudah dijunjung tinggi oleh para atlet pada saat mereka bertanding.

Pertandingan olahraga terdiri dari kontes antar individu maupun tim, mereka setuju untuk bersaing sehat dengan aturan yang sudah ditentukan. Ketidakpastian hasil merupakan bagian penting dari pertandingan olahraga. Di situlah letak seni dari sebuah olahraga. Jika hasil akhir sudah ditentukan, terus di mana daya tariknya?

Pengelolaan Liga juga harus diperbaiki, karena cara paling efektif dan ramah biaya untuk mengganggu praktik match fixing adalah dengan rancangan turnamen yang lebih baik. Jika rancangan turnamen baik, mafia pun akan kesulitan untuk mencari celah.

Jika muncul pertanyaan mengapa harus diberantas? Silakan gabung saja ke Exco PSSI. Karena jelas match fixing adalah penyakit yang membuat sepak bola tak maju-maju.

Pertanyaannya, mulai dari mana? Wong fenomena pengaturan skor di sepak bola bak budaya mendarah daging di Indonesia?

Mengungkap dan memberantas adalah dua hal yang jauh berbeda. Masih ada upaya-upaya lain yang harus dimaksimalkan oleh federasi. Misalnya dengan mengaktifkan satgas anti mafia bola yang justru malah lenyap entah ke mana.

Kalau begitu saja tak becus, mau sampai kapan prestasi PSSI hanya masuk di Mata Najwa? Federasi harus tegas, jangan harap sepak bola Indonesia akan maju jika masih seperti ini.

Sumber: Fifpro, I trust Sport, Ilmupedia, Panditfootball

5 Klub Paling Sukses di Serie A , Meski Penggemarnya Sedikit

0

Jika bicara klub paling sukses di Serie A Italia, orang cenderung akan langsung menyebut Juventus. Yup, Si Nyonya Tua memang menjadi klub paling sukses di kompetisi tertinggi Liga Italia itu dengan 36 gelar. Lalu, berturut-turut di bawah Juventus, ada AC Milan dan Inter Milan.

Karena kesuksesannya, wajar kalau ketiga klub itu memiliki banyak penggemar. Dari website Statista, penggemar Juventus hingga tahun 2020 saja sudah mencapai 8,7 juta lebih di seluruh dunia. Sementara, di belakang Juve ada Inter yang memiliki penggemar 3,9 juta, disusul AC Milan dengan 3,8 juta penggemar.

Hal itu tentu wajar-wajar saja, karena klub yang sukses sudah pasti penggemarnya bakalan banyak. Well, sebetulnya di Serie A, selain tiga klub tadi, masih ada klub yang juga tak kalah menjadi yang paling sukses di kompetisi Serie A, bahkan Italia. Namun, sayangnya, klub-klub itu tidak punya penggemar sebanyak tiga klub tadi. Bahkan jumlah penggemarnya tak sampai satu juta fans.

Nah, berikut ini Starting Eleven akan menyajikan klub paling sukses di Serie A, meski penggemarnya sedikit.

Genoa C.F.C

Mari kita mulai dari Genoa. Di situs Statista, Genoa menjadi klub di Serie A dengan penggemar yang sedikit. Jumlahnya tidak lebih dari 200 ribu penggemar di seluruh dunia. Akan tetapi, salah besar jika menganggap penggemar yang sedikit itu akan berpengaruh pada prestasi Genoa.

Sebab pada kenyataanya, klub yang berdiri sekitar 1,2 abad yang lalu itu termasuk klub paling sukses di Serie A. Terbukti sejak didirikan tahun 1893, Il Grifone telah menata reputasinya sebagai klub tua di Italia dengan rentetan gelar.

Setidaknya, sudah ada 9 gelar Serie A yang diraih Genoa. Meskipun itu diraih Genoa pada medium 1800 sampai 1900-an. Yang pasti, gelar Serie A itu bahkan lebih banyak dari 6 gelar Serie B yang diraih Genoa. Tak cukup menjuarai dua liga di Italia, The Griffin juga berhasil menyabet satu gelar Copa Italia pada 1935.

Uniknya, walaupun terbilang sedikit jumlah fansnya, tapi markasnya Genoa, Stadio Luigi Farraris menjadi salah satu stadion dengan atmosfer terpanas di Italia.

Bologna FC

Walaupun memiliki penggemar yang hanya 328 ribuan di seluruh dunia, Bologna membuktikan bahwa klub-klub tua di Italia memang punya taji yang luar biasa. Sejak berdiri pada 1909, Bologna telah mengumpulkan gelar-gelar penting untuk masyarakat Bologna.

I Rossoblu paling tidak mengoleksi 7 gelar Serie A Italia. Ketujuh gelar itu diraih Bologna pada sekitaran tahun 1900-an. Yang menarik, Bologna pernah menjuarai Serie A dua kali berturut-turut pada 1936 dan 1937, untuk kemudian back to back dengan meraihnya lagi pada tahun 1939.

Lalu, I Rossoblu juga pernah meraih juara di Serie B tahun 1996 dan 1988. Bologna juga pernah meraih gelar Copa Italia dua kali, pada 1970 dan 1974. Tak hanya jago di kompetisi domestik, yang membuat Bologna makin memikat adalah karena I Rossoblu sukses kampiun pada ajang UEFA Intertoto Cup pada musim 1998/99.

Torino FC

Rival sekota Juventus, Torino juga tak mau ketinggalan untuk soal banyak-banyakan gelar. Il Toro sampai hari ini sudah mengoleksi 12 gelar di Italia. 7 gelar di antaranya adalah trofi Serie A, dan 5 sisanya adalah gelar Copa Italia.

Jumlah 12 gelar itu belum termasuk tiga gelar Serie B yang diraih Il Toro pada 1960, 1990, dan 2001. Ditambah Torino juga pernah meraih gelar Mitropa Cup pada tahun 1991.

Meski punya banyak prestasi di kompetisi domestik, Torino bukanlah klub di Italia yang memiliki basis penggemar yang banyak. Tercatat, sampai tahun 2020, jumlah penggemar Torino hanya mencapai 462 ribu penggemar di seluruh dunia.

Belum lagi dari kedua klub sebelumnya, markas Torino punya kapasitas yang sedikit. Stadio Grande Torino bahkan hanya memiliki kapasitas sekitar 29 ribu tempat duduk. Kapasitasnya bahkan belum menyentuh 30 ribuan seperti markas Genoa dan Bologna.

SS Lazio

Mungkin semua penggemar Serie A sepakat kalau Lazio bukan tim kacangan. Setidaknya, Lazio menjadi salah satu tim yang paling sukses dalam sejarah Serie A. Betapa tidak? Klub bermarkas di Stadion Olimpico di Roma itu sudah menjuarai setidaknya dua kali Serie A, tahun 1974 dan 2000.

Sky Blues juga menjuarai Copa Italia sebanyak 7 kali di tahun 1958, 1998, 2000, 2004, 2009, 2013, dan 2019. I Biancocelesti juga mengoleksi 5 trofi Piala Super Italia di lemari mereka. Bukan sekadar itu, di kancah Eropa, Lazio juga tak kalah trengginas.

Lazio sukses mengawinkan Piala Winner yang diraih pada musim 1998/99 dan Piala Super Eropa yang diraih pada musim 1999/00. Di final Piala Super Eropa musim itu, Lazio menaklukkan Manchester United dengan skor 1-0 lewat gol Marcelo Salas.

Dengan gelar-gelar tadi, I Biancocelesti sepertinya memang cocok menjadi klub paling sukses di Negeri Pizza. Iya, walaupun pada kenyataanya jumlah fans Sky Blues masih jauh dari AC Milan atau bahkan AS Roma. Tahun 2020, jumlah penggemar I Biancocelesti bahkan tak sampai 1 juta, tepatnya berkisar 606 ribu penggemar saja.

ACF Fiorentina

Dari klub-klub sebelumnya, Fiorentina menjadi yang terbanyak penggemarnya di seluruh dunia. Ya, meskipun nggak sampai 1 juta juga. Jumlah fans La Viola tahun 2020, hanya mencapai 673 ribu penggemar saja.

Akan tetapi, jumlah tersebut sama sekali tidak mempengaruhi prestasi yang ditorehkan Fiorentina. Sebab La Viola adalah salah satu klub di Italia yang sangat produktif dalam membawa pulang trofi ke lemarinya.

ACF Fiorentina sudah 2 kali juara Serie A di tahun 1956 dan 1969. Tak hanya itu, jika kamu menilik lemari trofi La Viola, akan ada 6 trofi Copa Italia, dan satu trofi Piala Super Italia.

Satu-satunya Piala Super Italia yang diraih La Viola adalah di musim 1996/97. Saat itu Fiorentina yang masih dilatih Claudio Ranieri menumbangkan AC Milan dengan skor 2-1. Gabriel Batistuta menjadi pahlawan kemenangan dengan memborong dwi gol La Viola.

Namun, prestasi Fiorentina di kancah domestik tak dibarengi dengan prestasi di level Eropa. Satu-satunya catatan terbaik Fiorentina di Eropa adalah dengan meraih Juara Winner Cup tahun 1961.

Nah, itu tadi klub-klub paling sukses di Serie A, meski penggemarnya sedikit. Memang prestasi dan penggemar adalah dua entitas yang berbeda. Klub yang memiliki penggemar banyak, belum tentu produktif menghasilkan gelar.

Pun klub-klub yang hebat dan produktif menghasilkan gelar bukan berarti penggemarnya berlimpah. Karena sesungguhnya jumlah penggemar dan jumlah gelar memang tidak ada kaitannya. Nggak percaya? Silakan tanyakan saja pada penggemar Tottenham Hotspur.

https://youtu.be/NRilvZGMOcI

Sumber referensi: statista.com, sportsbrowser.net, wikipedia.org, transfermarkt.com

Mario Balotelli: Kembalinya si Bengal ke Timnas Italia

0

Siapa nama pertama yang akan muncul dalam pikiran apabila kalian mendengar kalimat “Why Always Me?”? Yup, The one and only, Mario Balotelli. Kabarnya Super Mario akan mendapatkan kesempatan untuk kembali membela Timnas Italia.

Berita bakal kembalinya Balotelli ke dalam skuad Italia diperkuat dengan cuitan Fabrizio Romano yang mengatakan bahwa Mario Balotelli akan kembali dipanggil oleh Roberto Mancini untuk pertandingan Tim Nasional Italia berikutnya.

Seperti yang kita ketahui Italia memiliki jalan yang sulit untuk melaju ke Piala Dunia Qatar yang akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Mereka harus melewati fase play off bersama Makedonia Utara, Turki, dan Portugal guna mengamankan satu tempat di Piala Dunia 2022.

Nah, menjelang jeda Internasional yang akan datang, pelatih Gli Azzurri, Roberto Mancini memutuskan akan memanggil kawan lama untuk sedikit membantu Timnas Italia mempersiapkan diri sebelum melawan Makedonia Utara pada Maret mendatang.

Balotelli akan kembali ke skuad Italia untuk pertama kalinya sejak September 2018, dan melewatkan ajang Euro 2020 yang luar biasa bagi Timnas Italia. Balotelli tak lebih dari sebatas penggemar yang hanya bisa melihat kawan-kawan senegaranya larut dalam suka cita merayakan gelar juara Euro 2020.

Kini setelah Italia mengalami kesulitan untuk lolos ke ajang Piala Dunia 2022, Balotelli memiliki kesempatan kedua untuk memberikan “warna” berbeda di skuad Timnas Italia. Namun, apakah keputusan Roberto Mancini untuk memanggil si Anak Bengal kembali ke Timnas adalah keputusan yang tepat? Apa yang mendasari Mancini untuk memilih sosok Balotelli? Apakah tidak ada opsi lain?

Anak Emas Roberto Mancini

Kebetulan Mario Balotelli juga menyandang status sebagai “anak emas” Roberto Mancini. Terlebih karena Balotelli pernah menjadi andalan saat Roberto Mancini membawa Inter Milan juara Liga Italia, dan kala membawa Manchester City menjadi kampiun Liga Inggris.

Di dua musim terakhir Mancini menangani Inter, Balotelli yang masih muda turut membantu Nerazzurri menjuarai Liga Italia. Ia kemudian mengikuti jejak sang juru taktik ke Man City pada tahun 2010 dan semusim kemudian membantu The Citizens juara Liga Inggris.

Jadi, Mancini juga turut sedih ketika karier sepak bola mantan anak asuhnya menurun drastis. Di mana Balotelli hanya berseragam Adana Demirspor, klub yang baru promosi ke kasta tertinggi liga Turki. Padahal sebelumnya Super Mario sempat menjadi langganan lini depan Timnas Italia. Meski begitu, bagi Mancini, Balotelli tetaplah pemain dengan teknik hebat seperti yang biasa ia kenal.

Lalu muncul pertanyaan, jika Mario Balotelli adalah anak emas dari sang juru taktik Timnas Italia, mengapa Balotelli tak dipanggil ke Timnas pada saat Italia tampil di ajang Euro 2020 atau Kualifikasi Piala Dunia kemarin?

Pertanyaan serupa pernah dilontarkan kepada Mario Balotelli, dan dijawab dengan diplomatis. Ia yakin bahwa Mancini sangat memahami karakter dan kemampuannya. Ia tahu Roberto Mancini tak memanggilnya ke Timnas karena kondisi dan kemampuannya belum mencapai level yang diinginkan oleh sang pelatih.

Jadi ia tak mau larut dalam kekesalan karena tak dipanggil dan lebih memilih untuk fokus memperbaiki kondisi fisiknya hingga laga pembuktian melawan Makedonia Utara Maret nanti.

Mario Balotelli Solusi Lini Depan Italia

Terlepas dari prestasi Italia tahun lalu, ada beberapa poin yang masih membuat Roberto Mancini merasa kurang puas. Meskipun dipenuhi nama-nama seperti Belotti dan Ciro Immobile, lini depan Gli Azzurri dirasa kurang memuaskan. Terlebih selama ini Italia hanya bergantung pada sosok Federico Chiesa yang mana bukanlah seorang penyerang murni.

Kini Italia hanya memiliki segelintir penyerang sejati bertipikal killer di depan mulut gawang, tercatat hanya Ciro Immobile, Andrea Belotti dan dua pemain muda milik Sassuolo yaitu Gianluca Scamacca dan Giacomo Raspadori.

Ciro Immobile dirasa belum maksimal, karena penampilan mengesankannya di Lazio tidak sepenuhnya diterapkan ketika berseragam Timnas Italia. Sedangkan Andrea Belotti sedang mengalami cedera dan dua pemain muda yang masih berusia dibawah 23 tahun dirasa belum cukup jam terbang, karena jumlah penampilan mereka tak mencapai sepuluh caps bagi Timnas.

Dalam situasi seperti ini, mudah bagi Mancini memutuskan untuk kembali bereuni dengan mantan anak asuhnya di Manchester City tersebut, terlebih si tulang punggung Timnas Italia pada gelaran Euro 2020 lalu, sedang mengalami masa sulitnya di Juventus. Federico Chiesa mengalami cedera ACL kala Juventus menghadapi AS Roma pada laga lanjutan Serie A kemarin.

Dengan begitu, kehadiran Balotelli sangat dibutuhkan. Di usianya yang sudah menginjak 31 tahun, Mario Balotelli yang dikenal pembangkang dan susah diatur itu kini telah tumbuh dewasa. Beberapa tahun terakhir kalian pasti sudah jarang melihat berita kurang mengenakkan tentang dirinya, bukan? Kini ia adem-ayem bermain di Liga Turki, dan tampaknya menemukan penampilan terbaiknya di sana. Balotelli telah mencatatkan sembilan gol dan lima assist dalam 21 pertandingan bersama Adana Demirspor.

Pengalaman Mario Balotelli bersama Timnas Italia pun dipercaya sangat membantu lini depan Italia. Pernyataan itu dibuktikan dengan catatan Balotelli yang telah mengemas 14 gol dalam 36 penampilanya untuk Gli Azzurri di masa lalu.

Tepatkah Keputusan Roberto Mancini?

Dalam hampir separuh lebih perjalanan kariernya, Balotelli kerap gagal memenuhi ekspektasi para manajer dan beberapa klub papan atas yang memakai jasanya, sebut saja seperti Liverpool, AC Milan, hingga Marseille. Untungnya, masih ada klub papan bawah yang percaya dan mau menyelamatkan karier sepakbolanya, sebut saja Brescia, Monza dan sekarang klub promosi Liga Turki Adana Demirspor.

Jadi, layakkah Balotelli kembali berseragam biru putih khas Gli Azzurri? For your information aja, penampilan terakhir Balotelli bagi sang juara Eropa terjadi pada September 2018, ketika Italia bermain imbang 1-1 dengan Polandia di UEFA Nations League, dan gol internasional terakhirnya dicetak kala mengalahkan Arab Saudi 2-1 dalam laga uji coba pada Mei 2018 silam.

Mancini jelas paham betul setiap lini harus dalam kondisi terbaiknya jika Italia ingin lolos ke Qatar. Dengan situasi yang mana memungkinkan Italia bertemu Portugal yang memiliki beberapa bek tangguh seperti Pepe dan Ruben Dias, Immobile saja dirasa terlalu “sopan” apabila dihadapkan dengan ganasnya lini belakang Portugal.

Jadi, memanggil Mario Balotelli yang temperamental adalah pilihan yang patut untuk dicoba. Kembali dipanggilnya Balotelli, menandakan bahwa Roberto Mancini akan menghalalkan segala cara untuk lolos ke Piala Dunia Qatar.

Patut dinanti laga comeback dari si bengal di babak play off. Apakah Mario Balotelli dapat melengkapi kepingan puzzle yang hilang milik Timnas Italia? We will see

Sumber: Football Italia, Marca, Lastwordonsport, Talk Sport

Francois Zahoui  Pembuka Pintu Pemain Afrika di Serie A

0

 

Dunia ketiga, keterbelakangan, daerah penjajahan, hingga kelaparan massal jadi stempel kepada penduduk Benua Afrika. Masalah-masalah itu tak rampung, ditumpuk problem-problem pemerintahan otoriter dan perang saudara berkepanjangan. Tumpukan masalah internal tak usai, saat warganya berusaha merantau ke luar negeri dibayang-bayangi korban rasisme dan human trafficking.

Gurat-gurat kepedihan barangkali bisa terkikis kala seorang putra terbaik Pantai Gading berhasil menjadi pesepakbola pertama yang berlaga di Serie A Italia. Cerita itu di mulai dari klub Ascoli dan Francois Zahoui.

Musim 1981, Ascoli hanya nangkring di urutan 10 dari 16 klub. Klub yang berjarak 292 kilometer dari Roma itu nyaris terdegradasi dari Serie A. Jika saja tidak ada keberuntungan. Keberuntungan itu diperoleh usai unggul head-to-head  dengan empat tim yang memiliki poin yang sama.

Kado istimewa di tahun itu, kala Ascoli melawat ke Stadion Artemio Franchi melawan Fiorentina di 27 September 1981 menjadi hari bersejarah bagi François Zahoui. Ia dimasukkan ke lapangan menggantikan Carlo Trevisanello. Laga ini menjadi pintu pembuka pemain-pemain Afrika di Liga Italia.

Pria asal Pantai Gading itu menjadi orang Benua Afrika pertama bermain untuk klub Liga Italia, Ascoli Calcio 1898 F.C.

Di datangkan dari klub peserta Liga Utama Pantai Gading, Stella Club d’Adjamé pada 1981, kala itu Zahoui masih berusia 18 tahun didatangkan ke Kota Ascoli Piceno dengan bandrol 10 Juta Lira atau taksiran 5000 euro -kurs kala itu..

Pundi-pundi uang yang diguyur ke Zahoui dari klub ditambah bonus dari Presiden Pantai Gading, Félix Houphouët-Boigny sebanyak 4 Juta Lira. Barangkali ia membantin, “Aku merantau, maka aku ada”.

Meski dibayang-bayangi stereotip tentang Benua Afrika. Pemain berjuluk “Negretto” mendapatkan sambutan hangat dari fans tim berjuluk Picchio. Kenyamanan itu ia tunjukkan saat konferensi pers pertama di hadapan publik Stadio Cino e Lillo Del Duca.

“Saya bukan pencetak gol. Saya bermain dengan nomor 10 dan saya tahu bagaimana mengoper bola dengan baik kepada rekan satu tim saya. Saya juga mencetak beberapa gol, tapi tidak banyak,” tutur nya kepada La Stampa.  

Zihou ketiban durian runtuh. Kala itu Ascoli berada di masa tim pelatuk burung berlaga di kasta utama pada tahun 1980-1985 saat ditangani Carlo Mazzone. Masa keemasan pertama mereka terjadi pada tahun 1968-1975.

Raihan Ascoli di Liga Italia sejak 1974, dengan finis ke-4 dan ke-6 di musim 1979–80 dan 1981–82. Koleksi trofi di lemari klub juga telah meraih 2 Cadetti (Kejuaraan Seri B) pada 1977–78, dan 1985–86. Musim 1977-78 menghasilkan rekor kejuaraan dengan mencapai 61 poin

Sambutan hangat dan rentetan hasil baik di klub ini membuat pria kelahiran Pantai Gading memujinya.

“Saya sudah jatuh cinta dengan tanah Anda (Italia) karena suporter memiliki kasih sayang  untuk orang luar, saya sangat menyukai Ascoli,” ungkapannya.  

Allenatore Carlo Mazzone kagum dengan penampilan anak muda tersebut. Ia mengaku awalnya tidak merencanakan transfer Zahoui dengan alasan skuad yang diinginkan sudah terpenuhi. Permainan di lapangan lah membuktikan, dalam beberapa minggu pelatih kelahiran Italia itu memujinya.

“Saya telah berubah pikiran. Zahoui telah terbukti menjadi orang yang berpendidikan, pendiam dan sangat perhatian. Dia pasti memiliki masa kecil yang baik –mereka mengajarkan bagaimana berperilaku di dunia- saya pikir dia belajar dengan baik: selain bahasa ibunya, dia juga berbicara bahasa Inggris dengan benar,” ungkapnya.

Rekrutan Asing

Klub-klub Liga Italia pernah menghentikan rekrutmen pemain asing. Alasannya, saat Timnas Italia tampil buruk di Piala Dunia 1966. Mengapa bisa dikatakan buruk? Mereka dikalahkan oleh Korea Utara dan Uni Soviet. Melorotnya prestasi di hajatan sepak bola terbesar itu dikaitkan dengan kuota pemain asing di Serie A berimbas pada bakat lokal. Walhasil jadilah kebijakan ini.

Akibatnya, tidak ada orang asing baru yang diterima di Liga Italia pada tahun tersebut dan 1980. Pintu yang tertutup, di buka kembali saat kedatangan Zahoui, di awal musim 1981-82 menjadi satu dari 17 pemain non-Italia yang bermain di liga. Musim berikutnya, pemain-pemain non Italia bertambah dan meskipun jumlahnya cenderung meningkat pada musim berikutnya, dengan 32 pemain asing, dan Zahoui masih satu-satunya orang Benua Hitam.

Karakteristik pemain-pemain dari Benua Hitam dengan kekuatan fisik dan kecepatan lari. Ketertarikan pemandu bakat terhadap pemain-pemain asal Afrika mula-mula mari kita lihat sumbangsih George Weah bersama AC Milan. Pria yang kini menjabat sebagai Presiden Liberia berhasil menyumbangkan dua gelar Liga Italia bersama Rossoneri.

Patrick M’Boma dan Samuel Eto’o mewakili Kamerun. M’Boma menjadi bomber bagi Parma dan Cagliari, dan Eto’o bersinar bersama Inter dengan treble winner. Kedua penyerang itu sama produktifnya, meskipun caps timnas yang dibubuhkan Eto’o jauh lebih besar daripada rekan setim internasionalnya.

Lalu, Keita Balde Diao pemain dari Benua Hitam lainnya. Meski lahir di Spanyol, ia memilih Senegal. Rekan satu tim internasionalnya Kalidou Koulibaly, satu dari tiga pemain Napoli yang tampil di Seri A. Faouzi Ghoulam dari Aljazair dan Omar El Kaddouri  asal Maroko.

Nama-nama lain seperti Mohamed Salah, Achraf Hakimi, Gervinho, Franck Kessie juga menjadi deretan penari lapangan hijau dari Afrika yang kini berkiprah di Negeri Pizza.

Relasi Afrika dan Italia

Jejak-jejak pemain Afrika ke Italia memang tidak segencar ke Perancis (sebagai negara penjajah). Jejaring pemerintahan Italia dengan negara-negara Afrika pasca Perang Dingin amat mesra

Mencari relasi diplomatik Italia dengan negara-negara di Afrika dilacak oleh Bernardo Venturi dalam paper berjudul Africa and Italy’s Relations After Cold War. Hubungan diplomatik antara Italia dan Afrika Selatan sudah ada sejak tahun 1929,

Sejak 2014, pertemuan puncak Afrika Selatan–Italia diadakan setiap tahun, dengan sektor bisnis secara khusus aktif pada pertemuan-pertemuan ini. Selain KTT, sejak tahun 2000 kerjasama pembangunan Italia telah merealisasikan beberapa program di berbagai sektor, khususnya bidang kesehatan, dengan inisiatif bilateral yang digalakkan oleh sektor non-pemerintah di Afrika Selatan.

Peran kunci, terutama mengenai Afrika dimainkan oleh Mario Giro, mantan Wakil Menteri Luar Negeri Italia untuk kerjasama internasional. Giro, anggota Komunitas Sant’Egidio, telah memberikan kontribusi yang menonjol dalam kerjasama dengan Benua Afrika.

Pada Februari 2017, misalnya, melalui Kementerian Luar Negeri Italia, ia mengadakan kunjungan tiga hari ke Kamerun bersamaan dengan beberapa kegiatan terkait, mulai dari kerja sama pembangunan hingga sektor bisnis.

Dia juga menghadiri “Hari Promosi Ekonomi Italia”, sebuah inisiatif yang dibuat untuk Salon Promote, acara besar di Afrika Tengah yang mempromosikan kemitraan bisnis. Giro menghadiri peresmian acara ini sebagai satu-satunya wakil pemerintah asing.

Kamerun bukanlah prioritas bagi Italia di masa lalu, tetapi kunjungan panjang Presiden Italia Sergio Mattarella pada tahun 2016, bersama dengan pendekatan yang dipimpin oleh Giro, dapat membantu meningkatkan hubungan bilateral tersebut.

Reformasi kerja sama internasional juga meramalkan kolaborasi erat antara sektor laba dan nirlaba untuk pembangunan, sebuah inovasi yang dapat membuka peluang baru dalam hubungan Afrika-Italia.

Kerja-kerja bersama pemerintah Italia dengan negara-negara di Afrika tidak memungkiri ketertarikan terhadap talenta-talenta muda untuk berkiprah di Serie A.

Meskipun catatan Francois Zahoui tak sementereng pemain-pemain Afrika setelahnya di Negeri Pizza. Ibarat pembuka pintu, Zahoui akan tersenyum melihat talenta-talenta muda berkarier di negeri yang konon katanya terlibat di dunia sepak bola jadi jalan hidup.

 

Referensi: InfoMigrant, Spiegel, Gentle Man, Ganti Gol, The Spectator International

.

 

 

Deretan Bintang Real Madrid yang Terkena Kutukan Cedera

Real Madrid memang menjadi klub yang konsisten dalam kumpulkan para pemain bintang. Tercatat dari era galactico pertama, nama seperti Ronaldo de Lima, Luis Figo, sampai David Beckham, pernah mampir ke Estadio Santiago Bernabeu. Kemudian pada era galactico berikutnya, klub yang dipimpin oleh Florentino Perez ini juga berhasil datangkan pemain sekaliber Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka, Xabi Alonso, sampai Gareth Bale.

Di era sekarang, bintang yang sebelumnya membela Chelsea, Eden Hazard, juga mampir dengan mahar yang mencapai 100 juta euro atau setara 1,7 triliun rupiah.

Namun begitu, perbelanjaan besar yang pernah dilakukan Real Madrid tidak semua temui kesuksesan. Meski tidak bisa dipungkiri bila terdapat sejumlah bintang yang pada akhirnya memberi kejayaan bagi el Real, tidak sedikit pula bintang yang meski datang dengan harga besar justru malah lebih sering menghabiskan waktu di ruang perawatan.

Pada kesempatan kali ini, starting eleven akan coba merangkum deretan pemain bintang yang terkena kutukan cedera Real Madrid. Penasaran siapa saja mereka? Simak ulasannya berikut ini.

Ricardo Kaka

Ricardo Kaka menjadi salah satu pemain Brasil yang meraup sukses besar di persepakbolaan Eropa. Pertama kali tampil bersama AC Milan, pria yang sebelumnya berstatus sebagai pemain Sao Paulo ini berhasil menjadi andalan. Dia mampu beradaptasi dengan baik hingga mainkan peran krusial di bawah asuhan Carlo Ancelotti.

Sempat gagal membawa Milan rajai Eropa di tahun 2005, Kaka lalu berhasil persembahkan gelar Liga Champions Eropa untuk Milan pada 2007 silam. Tak hanya itu, dia juga berhasil memenangkan perebutan penghargaan Ballon D’or di tahun yang sama.

Menyusul penampilan gemilangnya, Real Madrid yang memang telah membuka gerbang galactico kedua resmi merekrut Kaka dengan mahar 67 juta euro atau lebih dari 1 triliun rupiah pada tahun 2009 silam.

Kaka didatangkan sebagai salah satu bintang terbesar saat itu. Namun seperti yang sudah diduga, permainannya disana tidak sama seperti saat dirinya membela Milan. Di musim perdananya, dia sudah mengalami cedera yang cukup parah, dimana itu membuatnya harus beristirahat selama 28 hari. Total, Kaka absen dalam enam laga yang dijalani Real Madrid.

Lalu pada musim 2010/11, cedera yang dialami kian parah. Pada Agustus 2010, dia bahkan harus terbang ke Belgia untuk menjalani operasi lutut. Dikabarkan, Kaka mengalami cedera pada meniscus yang harus dilakukan operasi arthroscopic.

Menyusul gangguan yang terjadi pada lututnya itu, Kaka harus melewatkan sebanyak 25 laga bersama Real Madrid! Total, dia harus menjalani perawatan selama kurang lebih 147 hari.

Setelah merasa gagal bersinar bersama Real Madrid, Ricardo Kaka lalu putuskan pulang ke AC Milan, sebelum akhirnya tenaga yang sudah tak lagi perkasa memaksanya untuk pulang ke Brasil.

James Rodriguez

James Rodriguez menjadi bintang selanjutnya yang terkena kutukan cedera di Real Madrid.

Mulanya, James Rodriguez merupakan bintang yang sebelumnya tampil untuk FC Porto, sebelum akhirnya tampil gemilang bersama AS Monaco. Akan tetapi, bukan penampilannya di dua klub tersebut yang sukses menarik perhatian, melainkan aksi spektakulernya kala membela timnas Kolombia di ajang Piala Dunia 2014.

Di ajang yang digelar di Brasil itu, James Rodriguez menjadi salah satu bintang dengan torehan gol menggelegarnya ke gawang Uruguay. Hingga pada akhirnya gol tersebut dinobatkan sebagai yang terbaik, dirinya langsung banjir tawaran usai lakoni gelaran akbar.

Tepat setelah itu, namanya yang kian melambung diminati oleh banyak klub Eropa, termasuk Real Madrid. Sempat mengutarakan kecintaannya pada klub tersebut, James Rodriguez akhirnya resmi bergabung dengan Los Blancos pada 22 Juli 2014.

Dia menandatangani kontrak selama enam tahun dengan klub dan resmi disambut oleh sebanyak 45 ribu penggemar el Real.

Didatangkan Madrid dengan mahar sebesar 63 juta pounds atau setara lebih dari 1 triliun rupiah, beban berat tertanam pada pundak James. Namun yang terjadi selanjutnya hanyalah sebuah penyesalan.

Sepanjang karirnya bersama Real Madrid, James Rodriguez selalu absen dalam nyaris lebih dari 10 laga di setiap musimnya. Pada musim 2014/15, James yang absen dalam 63 hari harus melewatkan sebanyak 11 pertandingan bersama Real Madrid. Pada musim berikutnya, 53 hari perawatan juga memaksanya tak ikut dalam 11 laga yang dilakoni el Real.

Kemudian pada musim 2016/17, dia absen dalam 9 laga setelah harus melakoni perawatan selama 52 hari. Sempat dipinjamkan ke FC Bayern untuk kemudian pulang ke Madrid, tepat pada musim 2019/20, James harus absen dalam 14 laga usai cederanya memaksa sang pemain untuk beristirahat selama 76 hari.

Gareth Bale

Berikutnya ada nama Gareth Bale, yang memang akrab dengan masalah cedera ketika tampil bersama Real Madrid.

Bale yang sebelumnya menjadi bintang bersama Tottenham Hotspurs, resmi diperkenalkan sebagai galactico baru pada 1 September 2013. Dikabarkan, Bale dibayar senilai 91 juta euro atau setara 1,3 triliun rupiah untuk bisa tampil di Bernabeu.

Namun begitu, seperti yang sudah disinggung di awal, masa-masa Bale di Real Madrid banyak diganggu oleh masalah cedera. Nyaris dalam setiap musim, dia selalu diganggu oleh masa tersebut.

Tercatat mulai pada musim debutnya, Bale absen dalam empat laga setelah harus ditandu selama 24 hari. Kemudian pada musim 2015/16, Bale yang harus masuk ke ruang perawatan selama 72 hari harus melewatkan sebanyak 15 laga yang dijalani Real Madrid. Semusim berikutnya, masa absennya malah bertambah parah. Bale diketahui harus menepi sampai 93 hari lamanya. Hal itu lantas membuatnya harus absen dalam 21 laga.

Pada musim 2017/18, Bale lagi-lagi harus bertemu dengan tim medis Real Madrid. Dia harus beristirahat selama kurang lebih 68 hari dan absen dalam 14 laga.

Meski banyak sumbangkan gelar untuk Real Madrid, masalah cederanya benar-benar sulit untuk diatasi. Pada musim 2018/19, Bale kembali absen dalam sembilan laga. Kemudian sebelum resmi dipinjamkan ke Spurs, pria Wales ini juga harus masuk ke ruang perawatan selama 83 hari.

Hal tersebut membuatnya harus melewatkan sebanyak 18 laga di musim 2019/20.

Dalam tujuh musimnya bersama Los Blancos, Bale telah absen selama 532 hari karena masalah cedera, dengan rincian mengalami delapan kali cedera akibat benturan serius, 21 cedera otot, dan satu diagnosis flu.

Eden Hazard

Terakhir ada nama Eden Hazard. Eden Hazard menjadi nama yang didatangkan dari Chelsea dengan mahar yang juga tak kalah gila (100jt euro). Namun sampai saat ini, pemain yang sejatinya diplot sebagai pengganti Cristiano Ronaldo itu belum memberikan apa-apa untuk Los Blancos.

Hazard terus mengalami masalah cedera, yang bahkan diklaim masih lebih buruk dari yang dialami Ricardo Kaka maupun Gareth Bale.

Pria Belgia, setidaknya sampai Februari 2021, tercatat hanya ambil bagian pada 35 dari 81 laga yang dimainkan Madrid sejak datang. Dengan begitu, kontribusinya kepada klub hanya sebesar 29,6% saja. Hazard berulang kali mengalami cedera.

Pada musim 2019/20, Hazard tercatat harus absen selama 176 hari, dimana hal tersebut memaksanya untuk tidak mengikuti sebanyak 24 laga yang dilakoni Real Madrid. Kemudian pada musim 2020/21, dia harus absen dalam 19 laga el Real. Hazard mengalami cedera parah yang mengharuskannya istirahat selama 107 hari.

Namun begitu, ada satu keuntungan yang masih dimiliki Hazard, yaitu dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki semua dan kembali ke performa awal.

Everton di Bawah Farhad Moshiri: Kencang Membeli, Memble Di Trofi

Senyum manis pria Iran di depan kilat jepretan kamera mengiringi kedatangan bos baru Everton. Tangannya melambai ke penjuru stadion dibalas dengan senyum oleh fans sambil menggaruk-garuk kepala. 

Konglomerat asal Iran itu bernama Farhad Moshiri. Ia membeli klub asal Kota Pelabuhan, Everton dengan 49,9 persen saham. Dengan nilainya sebesar 200 juta pound atau sekitar Rp 3,8 triliun. 

Meski saat itu kabar santer The Toffees bakal dibeli pengusaha USA, namun proposal Moshiri lebih menggiurkan sebab ia membeli beserta melunasi hutang-hutang klub.

Layaknya pemimpin baru, pria berusia 66 tahun berjanji akan memberikan suntikan dana segar kepada agar Everton, seperti aktif belanja pemain musim panas nanti.

“Saya senang menjadi pemilik saham Everton. Klub ini salah satu klub terkemuka Eropa. Bill Kenwright (orang kepercayaan) telah mengajarkan saya pentingnya menjadi seorang Evertonian. Harapannya dapat bekerja dengan dia untuk membantu memberikan kesuksesan bagi Everton di masa depan,” ujar Moshiri.

Keseriusan Moshiri dibarengi melepas sahamnya di Arsenal kepada Alisher Usmanov. Bill Kenwright jadi orang kepercayaan dan ditunjuk menjadi Chairman Everton.

Janji Moshiri ditepati pada musim 2016-2017 dengan melakukan pembelian pemain seperti Yannick Bolasie (Crystal Palace), Morgan Schneiderlin (Manchester United), Ashley Williams (Swansea City), Ademola Lookman (Charlton Athletic), Idrissa Gueye (Aston Villa), Dominic Calvert-Lewin (Sheffield United), Maarten Stekelenburg (Fulham) dan Enner Valencia (pinjam West Ham United) dengan menghabiskan 135,6 juta US dollar atau Rp 1,9 triliun. 

Pengeluaran di musim perdana cukup memuaskan. Pembelian Bolasie dan Schneiderlin dikatakan gagal memberikan dampak bagi klub. Namun, service yang diberikan Williams selama dua musim The Toffees layak mendapatkan apresiasi. Gueye pindah ke PSG dan Ademola Lookman dipinjamkan ke Leicester City. Calvert-Lewin telah menjadi penandatanganan yang luar biasa saat ia berhasil menjadi ujung tombak musim lalu dengan torehan 16 gol.

Melihat geliat perdana di bursa transfer saat itu, Moshiri masih bisa tersenyum. Di bawah asuhan meneer Koeman The Toffees bisa nangkring di peringkat 7.

Musim berikut nya dimulai dengan bursa transfer yang lebih jor-joran. Tafsir aktif di bursa transfer yang dijanjikan Moshiri tercermin pada musim 2017-2018.

Gylfi Sigurdsson (Swansea City), Michael Keane (Burnley), Jordan Pickford (Sunderland), Davy Klaassen (Ajax), The Walcott (Arsenal), Cenk Tosun (Besiktas), Nikola Vlasic (Hajduk Split), Henry Onyekuru (KAS Eupen), Sandro Ramirez (Malaga) Wayne Rooney (Manchester United, free), Cuco Martina (Southampton, free), Eliaquim Mangala (Manchester City, loan). Total dana yang digelontorkan 320,8 juta US Dollar atau Rp 4,5 triliun.

Sigurdsson memiliki satu musim yang luar biasa bersama klub barunya pada 2018-19 dengan mencetak 13 gol dan 6 asis. Namun, semenjak rekor itu tercatat ia belum bisa mengulangi performa terbaiknya. Pemain lainnya, Vlasic hanya tampil 19 kali, dan Rooney mengakhiri karier di Liga Premier dengan 10 gol dari 31 penampilan. Keane dan Pickford tetap menjadi pemain reguler tim utama di bawah sejumlah manajer Everton

Celakanya, Tosun, Klaasen, Walcott, Onyekuru, Martina, Mangala dan Sandro tidak berhasil tampil maksimal saat membela Everton.

Sang meneer harus angkat koper lebih dari Goodison Park. Harapan tinggi publik dengan skuad Wayne Rooney, Gylfi Sigurdsson, hingga Davy Klaassen di Premier League musim 2017/2018 hanya mendapatkan 2 kemenangan dari 9 laga awal.

Statistiknya bersama Koeman berhasil memenangkan 19 pertandingan dari 47 kali bermain, sisanya 12 kali kalah dan 16 imbang. Persentase kemenangan di tangannya 41,38% dengan rata-rata per pertandingan 1,17. Permainan offensive-nya menghasilkan statistik  mencetak gol per pertandingan 1,47 dengan kebobolan 1,47.

Usai ditinggal Koeman, Sam Allardyce ditunjuk sebagai pengganti. Tangan dinginnya berhasil membawa The Toffees hingga akhir musim. Separuh musim 2017/2018 mampu mendongkrak performa Everton dari zona degradasi ke peringkat 8 klasemen akhir. Ia berhasil melewati 24 pertandingan dengan 9 kemenangan, 8 kekalahan dan 7 hasil imbang.

Pengalamannya Di Ambil, Hikmahnya Tidak

Pameo “hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali” barangkali terlalu kasar untuk menunjukkan ambisiusnya seorang Moshiri membangun klub yang baru ia miliki dua tahun belakangan. Pembelian pemain dua tahun pertamanya tak diimbangi dengan mengintip kondisi keuangan klub. Belajar pengamalan dari musim 2017/2018 tapi hikmahnya tidak di ambil untuk 2019/2020.

Mula-mula musim 2018/2019 transfernya masih wajar. Kedatangan Richarlison (Watford), Yerry Mina (Barcelona), Lucas Digne (Barcelona), Bernard (Shakhtar Donetsk, free), Kurt Zouma (Chelsea, pinjaman), Andre Gomes (Barcelona, pinjaman) dengan menggelontorkan dana 141.7 juta US Dollar atau Rp 2 triliun lebih.

Hasilnya, penyerang sekaliber Richarlison saat berseragam hanya berhasil menyarangkan 35 gol dalam 117 penampilan Liga Premier. Tapi pemain Brasil yang masih berusia 24 tahun itu selain memiliki nilai jual besar juga meminta bayaran yang lebih besar jika ingin bertahan di Goodison Park.

Penampilan lini belakang Yerry Mina dan Kurt Zouma sangat solid. Tawaran untuk pembelian kepada Chelsea atas Zouma tak kunjung ditandatangani. Sementara Andre Gomes berhasil dipermanenkan pada musim berikutnya.

Tahun ini menjadi penampilan paling impresif Marco Silva di EPL. Musim pertama  menukangi Everton berhasil menduduki posisi ke-8 klasemen akhir.

Musim berikutnya mengulang 2017/2018. Penampilan impresif tahun sebelumnya dibayar transfer jor-joran. Publik memiliki ekspektasi lebih dan pelatih angkat koper lebih pagi. Sudah pelatih dipecat, tertimpa laporan utang klub meningkat.

Transfer 2019/2020 mendatangkan nama-nama seperti Alex Iwobi (Arsenal), Moise Kean (Juventus), Andre Gomes (Barcelona), Jean-Phillipe Gbamin (Mainz), Fabian Delph (Manchester City), Jarrad Branthwaite (Carlisle United), Jonas Lossl (Huddersfield Town, free), Djibril Sidibe (Monaco, pinjaman) dengan total 181.7 juta US Dolar. 

Hasil transfer pemain dari musim, Iwobi  berusia 23 tahun dengan menorehkan 11 gol di seluruh kompetisi. Sedangkan Mossie Kean hanya empa gol. Sementara pemain lainnya, bergantian menghiasi ruang perawatan karena cedera.

Petaka datang untuk Silva bersama Everton. Penampilan buruk The Toffees yang terjerembab zona degradasi pada pekan ke-15. Akibat dari hal tersebut, Marco Silva dipecat. Ia mencatatkan 53 pertandingan dengan kemenangan 19 kemenangan, 23 kekalahan dan sisanya 11 kali imbang.

Penampilan buruk klub ditambah laporan keuangan 2019 yang merugi hingga 111,8 juta paun. Premier League sendiri sudah memberi batasan rugi sebesar 105 juta paun selama tiga tahun

Fans pun mulai berang dengan perilaku pemilik barunya. Janji-janji untuk mendatangkan pemain-pemain kelas wahid ke Goodison Park tidak dibarengi dengan pembenahan prestasi. Namun pihak klub lewat CEO Everton, Denise Barrett-Baxendale menjawab dengan elegan.

“Kami telah menyadari dan merencanakan dampak investasi pada profitabilitas jangka pendek kami dan ini merupakan bagian dari rencana bisnis jangka panjang yang berkelanjutan yang menunjukkan komitmen kami untuk beroperasi secara berkelanjutan secara finansial.”

Sempat ditukangi oleh pelatih Carlo Ancelotti untuk mengangkat pamor tim ke agar mampu tampil di Liga Eropa. Namun pelatih berkebangsaan Italia harus kembali ke Real Madrid pasca ditinggal oleh Zidane Zidane. Penggantinya yang dianggap sepadan, Rafael Benitez nyatanya juga tak bisa mengangkat pamor klub ke arena 10 besar.

Mundurnya Rafa dibarengi dengan kepergian Marcel Brands. Ia merupakan Direktur Sepak bola The Toffees  yang berperan signifikan dalam kebijakan rekrutmen yang gagal di Everton dalam beberapa musim terakhir.

Kini Moshiri sedang wara-wiri mencari pemilik baru beserta tanggungannya. Senyum manis dihadapan jepret kamera enam tahun lalu kini berubah.

Ia barangkali tak bisa lagi kongkow-kongkow dengan konglomerat sebab jokesnya berupa pertanyaan “Kamu beli Everton mau ambil apanya sih?”  Dijawab dengan seksama “Ambil hikmahnya”.

 

Referensi: Sport Optus, Liga Laga, Liverpool Echo, Breaking Lines, Guardian