Bahaya Match Fixing dan Mengapa Hal Itu Harus Diberantas?

spot_img

Pada akhir tahun 2021 lalu, kasus match fixing atau pengaturan skor di jagad sepak bola Indonesia mencuat. Kasus itu diduga terjadi saat pertandingan antara Perserang vs RANS Cilegon FC di Liga 2. Waktu itu, lima pemain Perserang yang diduga terlibat kabarnya sudah dihukum Komisi Disiplin PSSI.

Itu bukan kasus match fixing pertama di sepak bola dalam negeri. Bahkan Mata Najwa sudah menguliti PSSI sampai jilid 6. Toh, kasus semacam itu bak makanan sehari-hari kompetisi dalam negeri. Tidak pernah tuntas, dan akan terus ada selama PSSI tidak tegas menindak.

Namun, di tengah ketidaktegasan terhadap kasus match fixing, muncul pernyataan yang sungguh mind blowing dari salah satu Exco PSSI, Haruna Soemitro.

Beliau menyatakan di salah satu podcast media lokal, bahwa match fixing bukan sesuatu yang harus diberantas tetapi sesuatu yang harus dilihat secara proporsional. Haruna pun seolah defensif dengan bilang bahwa jangan langsung menuduh bahwa sepak bola Indonesia kerap digelayuti permasalahan tersebut.

Pernyataan tersebut tentu saja menimbulkan banyak stigma di masyarakat. Apalagi sejauh ini kan sepak bola dalam negeri tidak pernah sampai ke tahap profesional. Kasus match fixing sudah seperti rutinitas di liga dalam negeri, tinggal terungkap atau tidak. Kalau ini dibiarkan jelas merugikan sepak bola dalam negeri.

Terlebih pada kenyataannya aktivitas match fixing sudah jadi bahaya laten persepakbolaan Indonesia sejak PSSI era kepemimpinan Nurdin Halid, Djohar Arifin Husin, La Nyalla Mattalitti, Edy Rahmayadi, dan kini Iriawan.

Sebagai seorang purnawirawan bintang tiga kepolisian, masyarakat banyak berharap pada Iwan Bule. Seharusnya dengan track record-nya itu, membersihkan kolam kotor persepakbolaan Indonesia dari match fixing bukanlah perkara rumit.

Tapi, sebenarnya mengapa match fixing ini perlu diberantas? Pertanyaan semacam itu memang perlu kita ulas kembali. Apalagi Exco PSSI saja mengatakan kalau match fixing bukan sesuatu yang harus diberantas.

Apa Itu Match Fixing?

Intinya match fixing adalah pengaturan skor. Istilah ini jamak muncul di dunia olahraga, termasuk tentu saja sepak bola. Biasanya pelaku match fixing ini sering diasosiasikan pada bandar judi yang mengatur pertandingan untuk mendapat keuntungan. Dalam dunia perjudian, pengaturan hasil akhir ini dibagi lagi menjadi tiga jenis, yaitu match fixing, spot fixing, dan point shaving.

Sementara, match fixing dibagi lagi menjadi dua yaitu arranged match-fixing yang bertujuan memberi salah satu tim yang bertanding keuntungan, lalu ada gambling match-fixing, bertujuan mendapatkan keuntungan dari pasar taruhan tanpa peduli terhadap klub yang bertanding.

Bagaimana Match Fixing Bisa Terjadi?

Ada banyak cara dan alasan mengapa match fixing itu bisa terjadi. Pada umumnya karena alasan perjudian dan keuntungan finansial berupa uang, barang atau fasilitas mewah lainnya. Karena adanya sebuah imbalan yang menggiurkan itulah pelaku terdorong untuk menjalankan sebuah manipulasi pertandingan.

Pengaturan pertandingan terkait taruhan sebagian besar diatur oleh anggota kelompok organisasi kejahatan internasional. Kelompok kejahatan yang terorganisir ini menganggap peraturan dari sebuah pertandingan sepakbola sebagai ladang yang memiliki nilai jual tinggi.

Biasanya perwakilan dari organisasi ini mendekati si pemilik klub, pemain, administrator tim, hingga wasit guna melancarkan kegiatan pengaturan hasil pertandingan. Sasarannya klub-klub yang memiliki masalah finansial.

Sebab tak bisa dipungkiri klub yang tak memiliki finansial yang kuat pasti kesulitan membayar tetek-bengek kebutuhan klub, seperti gaji pemain, pengelolaan, dan sebagainya. Karena itulah klub-klub kekurangan finansial membutuhkan banyak dana, dan jalan keluar yang paling instan adalah menerima suap.

Di sisi lain, match fixing juga tak akan terjadi apabila kondisi klub berada dalam finansial sehat. Terlambatnya gaji pemain dan sulitnya untuk membayar ini-itu, menjadi pintu masuk utama jaringan mafia yang merusak semangat fair play di dalam sepak bola.

Dampak Match Fixing bagi persepakbolaan

Praktik match fixing juga kerap kali berdampak buruk bagi kelangsungan jangka panjang klub, sebut saja dari segi prestasi klub. Perkembangan klub di liga akan terhambat. Alih alih meraih juara, mereka malah harus menerima kekalahan karena terus “menjual” laga yang mereka mainkan hanya demi pemasukan guna menyeimbangkan finansial klub.

Misal pada sistem kompetisi seperti liga dengan 18 kesebelasan, klub akan berpikir tak ada bedanya finish antara posisi ke-10 dengan ke-11. Pertandingan penting menjelang akhir musim adalah pertandingan yang melibatkan gelar juara atau menghindari degradasi. Oleh karena itu kebanyakan klub papan tengah bisa “menjual” laganya kepada yang lebih membutuhkan.

Para pemain pun tak luput dari sasaran para mafia. Dalam hal pengaturan skor, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh sang aktor. Jika terbukti bersalah, kariernya bisa hancur seketika. Kredibilitasnya sebagai manusia pun turut hilang. Oleh sebab itu, tentu dibutuhkan jumlah uang yang sepadan.

Pemain mana yang tak tergoda uang ratusan juta untuk kalah dalam pertandingan atau hanya untuk tidak mencetak gol?

Imbasnya tentu pada kualitas liga. Sangat tidak mengasyikan bukan, apabila kita sudah tahu siapa yang bakal menjuarai liga, bahkan sebelum liga itu dimulai?

Akhirnya suporter dari klub terlibatlah yang paling dirugikan. Bagaimana tidak? Dukungan mereka untuk hadir dengan menyumbang pemasukan klub dari pembelian tiket atau segala bentuk dukungan lain kepada klub yang mereka cinta, terkesan percuma dengan adanya dagelan sepak bola di tengah lapangan hijau.

Harus Diberantas

Match fixing dirasa sudah mencederai nilai-nilai sportifitas dalam olahraga yang sudah dijunjung tinggi oleh para atlet pada saat mereka bertanding.

Pertandingan olahraga terdiri dari kontes antar individu maupun tim, mereka setuju untuk bersaing sehat dengan aturan yang sudah ditentukan. Ketidakpastian hasil merupakan bagian penting dari pertandingan olahraga. Di situlah letak seni dari sebuah olahraga. Jika hasil akhir sudah ditentukan, terus di mana daya tariknya?

Pengelolaan Liga juga harus diperbaiki, karena cara paling efektif dan ramah biaya untuk mengganggu praktik match fixing adalah dengan rancangan turnamen yang lebih baik. Jika rancangan turnamen baik, mafia pun akan kesulitan untuk mencari celah.

Jika muncul pertanyaan mengapa harus diberantas? Silakan gabung saja ke Exco PSSI. Karena jelas match fixing adalah penyakit yang membuat sepak bola tak maju-maju.

Pertanyaannya, mulai dari mana? Wong fenomena pengaturan skor di sepak bola bak budaya mendarah daging di Indonesia?

Mengungkap dan memberantas adalah dua hal yang jauh berbeda. Masih ada upaya-upaya lain yang harus dimaksimalkan oleh federasi. Misalnya dengan mengaktifkan satgas anti mafia bola yang justru malah lenyap entah ke mana.

Kalau begitu saja tak becus, mau sampai kapan prestasi PSSI hanya masuk di Mata Najwa? Federasi harus tegas, jangan harap sepak bola Indonesia akan maju jika masih seperti ini.

Sumber: Fifpro, I trust Sport, Ilmupedia, Panditfootball

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru