Dalam sepak bola modern, sebuah tim dituntut untuk bisa membangun serangan secara konstruktif. Maksudnya, tidak langsung ujug-ujug umpan lambung selayaknya yang dipraktikkan di Liga Indonesia. Tapi bagaimana membangun serangan dari lini belakang.
Hal ini membuat lini pertahanan menjadi penting sebagai penggagas awal serangan. Bek, bahkan hingga kiper sekalipun sekarang dituntut memiliki kualitas umpan dan naluri menyerang yang baik.
Tim besar umumnya menerapkan taktik menyerang secara konstruktif antar lini dari posisi belakang. Karena tren itu sampai-sampai memunculkan peran baru di bagian defender atau lini belakang. Apa saja peran-peran baru di lini belakang tersebut?
Ball Playing Defender
Ada yang namanya Ball Playing Defender. Peran ini sebenarnya sudah banyak dikenal dulu ketika bek legendaris Jerman Franz Beckenbauer, bek Italia Franco Baresi, sampai Matthias Sammer yg dialihfungsikan menjadi libero dari posisi aslinya sebagai gelandang.
Posisi pemain belakang yang pandai menguasai bola dengan akurasi umpan yang bagus menjadi dasar seorang Ball Playing Defender. Dalam format empat bek biasanya ada satu orang di dua Center Back yang bisa menguasai, mengontrol, bahkan merangsek naik kedepan untuk membantu serangan.
Ball Playing Defender adalah kunci sepakbola modern. Kemampuan teknis seorang defender yang menjadi tumpuan sirkulasi bola atau bisa jadi titik awal dalam memulai serangan sebuah tim.
Beberapa peran Ball Playing Defender sering ditemukan pada bek-bek yang berharga mahal. Sebagai contoh Rio Ferdinand ketika Manchester United berusaha keras menebusnya dengan harga selangit dari Leeds. Ketika itu, Ferguson sangat membutuhkan peran itu dalam timnya.
Di era sekarang banyak tipe Ball Playing Defender yang dipunyai banyak tim besar, antara lain Gerard Pique di Barcelona, David Alaba di Real Madrid, Aymeric Laporte di Man City, maupun Virgil Van Dijk di Liverpool.
1 – No other defender has attempted more passes (18457) and has more recoveries (1895) in #LaLiga in this decade. Prominent.#Opta2010s pic.twitter.com/vsnh11lAVD
— OptaJose (@OptaJose) December 24, 2019
Bagi tim yang membangun serangan dari bawah, sangat penting untuk memiliki Ball Playing Defender yang bisa melakukan progresi bola secara cepat. Dengan berbagai opsi yang tersedia dalam menembus lawan, bek harus bisa mengakses opsi tersebut untuk melompati lini pertama pertahanan lawan.
Ukuran umpan sukses menjadi parameter Ball Playing Defender dikatakan andal atau tidak. Karena umpan yang dihasilkan dari seorang Ball Playing Defender sering kali berhasil mengecoh strategi lawan.
Tak jarang pembelian bek mahal era sekarang lebih mengutamakan memilih pemain yang bisa menjadi Ball Playing Defender. Bahkan klub rela merogoh kocek yang dalam untuk mendapatkanya.
Contoh klub yang rela merogoh kocek dalam yakni Manchester City yang berulang kali membeli bek dengan harga selangit demi bisa mendapatkan bek yang cocok dengan peran Ball Playing Defender, seperti John Stones, Otamendi, Laporte hingga Ruben Dias.
“I like to think of myself as a modern defender rather than an old-school one.
“I’m trying to evolve with how football is going but the truth is, I like the style of playing the ball out from the back and hitting long passes.”
🗣: @Laporte #mancity pic.twitter.com/mRYqjUc30a
— Manchester City (@ManCity) October 9, 2018
Inverted Full Back
Kemudian muncul lagi istilah peran defender yang bernama Inverted Full Back atau bek sayap terbalik. Yang biasa diartikan sebagai bek sayap yang sering masuk ke tengah atau meninggalkan pos aslinya untuk kebutuhan penyerangan tim.
Sebuah contoh Inverted Fullback dalam membangun serangan adalah Philipp Lahm dan David Alaba saat bermain untuk Bayern Munchen di bawah Pep Guardiola. Ataupun Zinchenko dan Cancelo di Manchester City sekarang.
Dengan Full Back yang merangsek masuk ke area tengah, dengan formasi awal 4-3-3, seketika bergeser menjadi 2-3-2-3 saat membangun serangan. Format ini akan menciptakan poros baru dan mampu menang jumlah di tengah saat membangun serangan.
Even Pep plays double pivot 4-4-2 out of possession, but in possession it looks like 3-2-1-4 with Cancelo playing role of second pivot incorporated as inverted fullback or 3-1-1-5 with single pivot. pic.twitter.com/gerFvZPX0F
— Cruijff (@TotalCruyff) January 19, 2022
Penggunaan Inverted Fullback ini bisa menjadi metode untuk mengalahkan jumlah lawan di lini tengah menjadi 5 orang versus 3 orang.
Ketika menyerang biasanya Inverted Fullback dibantu oleh pemain yang mengcover area sayap yang ditinggalkan. Biasanya diisi oleh pemain sayap maupun Center Back untuk menghindari counter cepat dari lawan.
Selain itu, Inverted Fullback juga sering bergeser ke tengah area pertahanan Back Four atau rapat dengan dua Center Back untuk mengantisipasi sisi half space yang dimanfaatkan lawan ketika menyerang.
Sisi lain dari Inverted Fullback tidak hanya bergerak ke area midfield atau centre back, mereka juga sering merangsek jauh ke tengah daerah pertahanan lawan ketika menyerang. Hal itu sering disebut underlap.
Inverted Fullback banyak difungsikan tim untuk underlap. Seperti Zidane yang melakukanya pada Marcelo ataupun Carvajal, ataupun Ole yang melakukanya pada Luke Shaw. Mereka masuk ke area diantara Center Back lawan dan Full Back lawan. Pemain sayap dalam tim diposisikan jauh melebar untuk memancing Full Back lawan.
Rashford often looks to link up with his full-back, Luke Shaw, whether he is on the underlap or the overlap, Rashford looks to find Shaw with passes behind the opposition backline.
Here are just two examples of this. pic.twitter.com/BuB5gEXdEz
— UtdDistrict (@UtdDistrict) March 26, 2021
Terciptanya prinsip tumpang tindih dan kombinasi segitiga antara Inverted Fullback, Winger, dan Attacking Midfield menjadi salah satu alternatif dalam penyerangan.
Dalam pola bertahan, Inverted Fullback juga difungsikan untuk menutup area tengah pertahanan yang sering ditinggalkan Center Back atau Ball Playing Defender ketika menyerang atau set pieces (corner atau free kick)
Dalam memanfaatkan peran posisi Inverted Fullback tidak sembarang pemain atau pelatih bisa melakukannya. Perlu dilatih sesering mungkin dan pada dasarnya diperlukan pemain yang cocok dengan atribut khusus. Seperti akurasi passing yang oke, kecepatan tinggi, defense dan attack yang seimbang, juga diperlukan intelegensi yang tinggi dalam memahami peran baru itu dari pelatih.
Wide Center Back
Kemudian muncul lagi peran defender yang sering orang menyebut dengan istilah Wide Center Back. Bahkan peran ini sempat hype ketika muncul di game Football Manager.
Wide Center Back sering diartikan sebagai seorang Center Back yang sering melebar dan naik membantu penyerangan. Biasanya Wide Center Back difungsikan pada tim yang menggunakan formasi tiga bek.
Skenario formasi yang dipakai biasanya 3-5-2 atau 3-4-3, di mana pemain sayap bisa turun dan membuat formasi menjadi 5-3-2. Jika Wide Center Back melakukan serangan atau saat tim mereka menguasai bola, formasi berubah menjadi 2-3-5.
Jenis peran baru ini terkenal ketika Antonio Conte melatih Chelsea. Ketika itu Conte pada awal musim menangani Chelsea masih menggunakan format 4-3-3, lalu setelah beberapa pertandingan seketika berubah menjadi 3-4-3 sampai akhir musim dan berbuah juara.
Yang terkenal dari Conte ketika itu adalah menempatkan seorang Cesar Azpilicueta menjadi pemain tiga di belakang. Azpi berada di sisi kanan tiga bek chelsea. Kemampuan defend dan attack yang seimbang membuat peran Azpilicueta di skema tiga bek makin moncer, ditambah akurasi crossing dan passing yang baik dari Azpi.
Cesar Azpilicueta on playing CB: “It is a new position for me, but since we have changed the formation, we have worked on it every week.” pic.twitter.com/KWm8OrRg84
— Squawka News (@SquawkaNews) December 18, 2016
Selain itu, di Sheffield United ketika pelatih mereka Chris Wilder menggunakan format 3-5-2 mampu mengejutkan Liga Premier Inggris ketika tahun pertama setelah mereka promosi. Sheffield menggunakan Chris Basham dan Jack O’Connel sebagai Wide Center Back mereka.
Di Atalanta, Gasperini menempatkan Rafael Toloi, Jose Palomino ataupun Berat Djimsiti sebagai Wide Center Back. Bahkan taktik Wide Center Back ala Gasperini cenderung terlalu frontal dengan mengutamakan “attack, attack, and attack”. Maka dari itu, terkadang sering terjadi kekosongan di area Center Back yang mengakibatkan sering jebolnya pertahanan Atalanta.
Atalanta’s front two moved into wide territory and then made runs in behind in an attempt to capitalise on the increased spaces that existed between full-back and central defender after United had reorganised to defend with a back four, from a five… 🧐🧵 pic.twitter.com/VsufK00Y4B
— The Coaches’ Voice (@CoachesVoice) November 3, 2021
Berbeda misalnya dengan Tuchel di Chelsea sekarang, yang menempatkan Rudiger ataupun Chalobah sebagai Wide Center Back. Strategi Wide Center Back yang dijalankan Tuchel lebih seimbang karena melakukan penyerangan jika diperlukan saja.
Di Wolves juga, ketika Nuno Espirito Santo melatih, ia menempatkan Romain Saiss sebagai Wide Center Back mereka. Ada juga yang terkenal di Jerman ketika Nagelsmann sebelum pindah ke Muenchen menggunakan Lukas Klostermann dan Marcel Halstenberg sebagai Wide Center Back eksplosif di RB Leipzig. Di Inter Sekarang juga ada yang namanya Bastoni, di Spursnya Conte Sekarang memakai Ben Davies menjadi Wide Center Back
Ben Davies’ celebration 😍https://t.co/Hfai2NFfG0
— Tottenham News (@Spurs_fl) January 20, 2022
Munculnya berbagai peran dan nama baru para defender menandakan sepakbola sekarang dinamis dan terus berevolusi, setelah berbagai peran seperti Mezzala, Regista, False Nine, Box to Box, Deep Lying Forward dikenal banyak orang.
Peran baru para defender di era sepak bola modern menjadi bagian dari arti “Total Football” yang sebenarnya. Artinya, sekarang semua pemain dalam starting eleven sebuah tim dituntut untuk tidak “stay” pada posisi tertentu. Semua elemen bergerak dinamis dan terlibat dalam semua situasi, baik itu saat bertahan maupun menyerang.
Sumber Referensi : breakthelines, footballcoin, squawka,


