Everton di Bawah Farhad Moshiri: Kencang Membeli, Memble Di Trofi

spot_img

Senyum manis pria Iran di depan kilat jepretan kamera mengiringi kedatangan bos baru Everton. Tangannya melambai ke penjuru stadion dibalas dengan senyum oleh fans sambil menggaruk-garuk kepala. 

Konglomerat asal Iran itu bernama Farhad Moshiri. Ia membeli klub asal Kota Pelabuhan, Everton dengan 49,9 persen saham. Dengan nilainya sebesar 200 juta pound atau sekitar Rp 3,8 triliun. 

Meski saat itu kabar santer The Toffees bakal dibeli pengusaha USA, namun proposal Moshiri lebih menggiurkan sebab ia membeli beserta melunasi hutang-hutang klub.

Layaknya pemimpin baru, pria berusia 66 tahun berjanji akan memberikan suntikan dana segar kepada agar Everton, seperti aktif belanja pemain musim panas nanti.

“Saya senang menjadi pemilik saham Everton. Klub ini salah satu klub terkemuka Eropa. Bill Kenwright (orang kepercayaan) telah mengajarkan saya pentingnya menjadi seorang Evertonian. Harapannya dapat bekerja dengan dia untuk membantu memberikan kesuksesan bagi Everton di masa depan,” ujar Moshiri.

Keseriusan Moshiri dibarengi melepas sahamnya di Arsenal kepada Alisher Usmanov. Bill Kenwright jadi orang kepercayaan dan ditunjuk menjadi Chairman Everton.

Janji Moshiri ditepati pada musim 2016-2017 dengan melakukan pembelian pemain seperti Yannick Bolasie (Crystal Palace), Morgan Schneiderlin (Manchester United), Ashley Williams (Swansea City), Ademola Lookman (Charlton Athletic), Idrissa Gueye (Aston Villa), Dominic Calvert-Lewin (Sheffield United), Maarten Stekelenburg (Fulham) dan Enner Valencia (pinjam West Ham United) dengan menghabiskan 135,6 juta US dollar atau Rp 1,9 triliun. 

Pengeluaran di musim perdana cukup memuaskan. Pembelian Bolasie dan Schneiderlin dikatakan gagal memberikan dampak bagi klub. Namun, service yang diberikan Williams selama dua musim The Toffees layak mendapatkan apresiasi. Gueye pindah ke PSG dan Ademola Lookman dipinjamkan ke Leicester City. Calvert-Lewin telah menjadi penandatanganan yang luar biasa saat ia berhasil menjadi ujung tombak musim lalu dengan torehan 16 gol.

Melihat geliat perdana di bursa transfer saat itu, Moshiri masih bisa tersenyum. Di bawah asuhan meneer Koeman The Toffees bisa nangkring di peringkat 7.

Musim berikut nya dimulai dengan bursa transfer yang lebih jor-joran. Tafsir aktif di bursa transfer yang dijanjikan Moshiri tercermin pada musim 2017-2018.

Gylfi Sigurdsson (Swansea City), Michael Keane (Burnley), Jordan Pickford (Sunderland), Davy Klaassen (Ajax), The Walcott (Arsenal), Cenk Tosun (Besiktas), Nikola Vlasic (Hajduk Split), Henry Onyekuru (KAS Eupen), Sandro Ramirez (Malaga) Wayne Rooney (Manchester United, free), Cuco Martina (Southampton, free), Eliaquim Mangala (Manchester City, loan). Total dana yang digelontorkan 320,8 juta US Dollar atau Rp 4,5 triliun.

Sigurdsson memiliki satu musim yang luar biasa bersama klub barunya pada 2018-19 dengan mencetak 13 gol dan 6 asis. Namun, semenjak rekor itu tercatat ia belum bisa mengulangi performa terbaiknya. Pemain lainnya, Vlasic hanya tampil 19 kali, dan Rooney mengakhiri karier di Liga Premier dengan 10 gol dari 31 penampilan. Keane dan Pickford tetap menjadi pemain reguler tim utama di bawah sejumlah manajer Everton

Celakanya, Tosun, Klaasen, Walcott, Onyekuru, Martina, Mangala dan Sandro tidak berhasil tampil maksimal saat membela Everton.

Sang meneer harus angkat koper lebih dari Goodison Park. Harapan tinggi publik dengan skuad Wayne Rooney, Gylfi Sigurdsson, hingga Davy Klaassen di Premier League musim 2017/2018 hanya mendapatkan 2 kemenangan dari 9 laga awal.

Statistiknya bersama Koeman berhasil memenangkan 19 pertandingan dari 47 kali bermain, sisanya 12 kali kalah dan 16 imbang. Persentase kemenangan di tangannya 41,38% dengan rata-rata per pertandingan 1,17. Permainan offensive-nya menghasilkan statistik  mencetak gol per pertandingan 1,47 dengan kebobolan 1,47.

Usai ditinggal Koeman, Sam Allardyce ditunjuk sebagai pengganti. Tangan dinginnya berhasil membawa The Toffees hingga akhir musim. Separuh musim 2017/2018 mampu mendongkrak performa Everton dari zona degradasi ke peringkat 8 klasemen akhir. Ia berhasil melewati 24 pertandingan dengan 9 kemenangan, 8 kekalahan dan 7 hasil imbang.

Pengalamannya Di Ambil, Hikmahnya Tidak

Pameo “hanya keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali” barangkali terlalu kasar untuk menunjukkan ambisiusnya seorang Moshiri membangun klub yang baru ia miliki dua tahun belakangan. Pembelian pemain dua tahun pertamanya tak diimbangi dengan mengintip kondisi keuangan klub. Belajar pengamalan dari musim 2017/2018 tapi hikmahnya tidak di ambil untuk 2019/2020.

Mula-mula musim 2018/2019 transfernya masih wajar. Kedatangan Richarlison (Watford), Yerry Mina (Barcelona), Lucas Digne (Barcelona), Bernard (Shakhtar Donetsk, free), Kurt Zouma (Chelsea, pinjaman), Andre Gomes (Barcelona, pinjaman) dengan menggelontorkan dana 141.7 juta US Dollar atau Rp 2 triliun lebih.

Hasilnya, penyerang sekaliber Richarlison saat berseragam hanya berhasil menyarangkan 35 gol dalam 117 penampilan Liga Premier. Tapi pemain Brasil yang masih berusia 24 tahun itu selain memiliki nilai jual besar juga meminta bayaran yang lebih besar jika ingin bertahan di Goodison Park.

Penampilan lini belakang Yerry Mina dan Kurt Zouma sangat solid. Tawaran untuk pembelian kepada Chelsea atas Zouma tak kunjung ditandatangani. Sementara Andre Gomes berhasil dipermanenkan pada musim berikutnya.

Tahun ini menjadi penampilan paling impresif Marco Silva di EPL. Musim pertama  menukangi Everton berhasil menduduki posisi ke-8 klasemen akhir.

Musim berikutnya mengulang 2017/2018. Penampilan impresif tahun sebelumnya dibayar transfer jor-joran. Publik memiliki ekspektasi lebih dan pelatih angkat koper lebih pagi. Sudah pelatih dipecat, tertimpa laporan utang klub meningkat.

Transfer 2019/2020 mendatangkan nama-nama seperti Alex Iwobi (Arsenal), Moise Kean (Juventus), Andre Gomes (Barcelona), Jean-Phillipe Gbamin (Mainz), Fabian Delph (Manchester City), Jarrad Branthwaite (Carlisle United), Jonas Lossl (Huddersfield Town, free), Djibril Sidibe (Monaco, pinjaman) dengan total 181.7 juta US Dolar. 

Hasil transfer pemain dari musim, Iwobi  berusia 23 tahun dengan menorehkan 11 gol di seluruh kompetisi. Sedangkan Mossie Kean hanya empa gol. Sementara pemain lainnya, bergantian menghiasi ruang perawatan karena cedera.

Petaka datang untuk Silva bersama Everton. Penampilan buruk The Toffees yang terjerembab zona degradasi pada pekan ke-15. Akibat dari hal tersebut, Marco Silva dipecat. Ia mencatatkan 53 pertandingan dengan kemenangan 19 kemenangan, 23 kekalahan dan sisanya 11 kali imbang.

Penampilan buruk klub ditambah laporan keuangan 2019 yang merugi hingga 111,8 juta paun. Premier League sendiri sudah memberi batasan rugi sebesar 105 juta paun selama tiga tahun

Fans pun mulai berang dengan perilaku pemilik barunya. Janji-janji untuk mendatangkan pemain-pemain kelas wahid ke Goodison Park tidak dibarengi dengan pembenahan prestasi. Namun pihak klub lewat CEO Everton, Denise Barrett-Baxendale menjawab dengan elegan.

“Kami telah menyadari dan merencanakan dampak investasi pada profitabilitas jangka pendek kami dan ini merupakan bagian dari rencana bisnis jangka panjang yang berkelanjutan yang menunjukkan komitmen kami untuk beroperasi secara berkelanjutan secara finansial.”

Sempat ditukangi oleh pelatih Carlo Ancelotti untuk mengangkat pamor tim ke agar mampu tampil di Liga Eropa. Namun pelatih berkebangsaan Italia harus kembali ke Real Madrid pasca ditinggal oleh Zidane Zidane. Penggantinya yang dianggap sepadan, Rafael Benitez nyatanya juga tak bisa mengangkat pamor klub ke arena 10 besar.

Mundurnya Rafa dibarengi dengan kepergian Marcel Brands. Ia merupakan Direktur Sepak bola The Toffees  yang berperan signifikan dalam kebijakan rekrutmen yang gagal di Everton dalam beberapa musim terakhir.

Kini Moshiri sedang wara-wiri mencari pemilik baru beserta tanggungannya. Senyum manis dihadapan jepret kamera enam tahun lalu kini berubah.

Ia barangkali tak bisa lagi kongkow-kongkow dengan konglomerat sebab jokesnya berupa pertanyaan “Kamu beli Everton mau ambil apanya sih?”  Dijawab dengan seksama “Ambil hikmahnya”.

 

Referensi: Sport Optus, Liga Laga, Liverpool Echo, Breaking Lines, Guardian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru