Beranda blog Halaman 607

Nestapa Anthony Martial yang Tersingkir dari Skuad MU

0

Kebersamaan Anthony Martial bersama Manchester United yang sudah terjalin sejak 2015 berakhir sudah. Baru-baru ini, Martial telah memutuskan masa depannya. Dia memilih hengkang dari MU, meski masih sementara. Kabar menyebutkan, Martial sudah berlabuh ke salah satu klub Spanyol di bursa transfer Januari ini, dan tentu saja klub itu bukan Barcelona apalagi Real Madrid. 

Wartawan kenamaan, Fabrizio Romano menyebut bahwa penyerang asal Prancis itu resmi bergabung ke Sevilla dengan status pinjaman selama enam bulan. Itu artinya, Sevilla bakal menanggung gaji Martial.

Bahkan kabarnya, Sevilla mau membayar penuh gaji Martial yang berada di kisaran 150 ribu pounds atau Rp 2,9 miliar per pekan sampai Juni 2022 nanti. Sebuah angka yang terlalu besar untuk pemain seperti Martial. 

Akan tetapi, usut punya usut nih, gaji segitu bukan gaji yang diinginkan Martial. Sebab sang pemain menginginkan gaji 250 ribu pounds atau Rp 4,8 miliar per pekan. Oleh karena Sevilla tak sudi membayar Martial dengan gaji segitu, akhirnya Martial mau digaji 100 ribu pounds lebih sedikit dari itu. Apalagi dia ingin secepatnya keluar dari Manchester United. 

Sementara itu, bagi Sevilla mendapatkan pemain seperti Martial mungkin menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Ya gimana nggak bangga? Orang mereka saja berani membayar penuh gaji sang pemain yang di MU nggak terlalu istimewa. 

Bagi MU sendiri, hilangnya nama Martial tentu saja membuat mereka mendapatkan keuntungan, khususnya dari sisi finansial. Mereka diprediksi dapat menghemat sekiranya 4 hingga 5 juta poundsterling. Sebuah angka yang cukup membantu keuangan tim di masa pandemi Covid-19 seperti ini.

Anthony Martial kini nggak perlu lagi ngeluh soal menit bermain yang kurang di MU. Ia kini sudah berada di klub baru. Klub yang ia sangat harapkan bisa membawa berkah bagi dirinya. Meskipun perlu dicatat juga bahwa dalam kesepakatan peminjaman ini, tidak ada opsi pembelian permanen.

Artinya, mau nggak mau, Martial harus menampilkan kemampuan luar biasanya, menunjukkan insting tajamnya di depan gawang, dan performa gacornya di Sevilla. Supaya MU merasa menyesal karena telah melepas Martial, dan bakal memulangkannya dan memakai Martial lagi. Terlebih Martial masih terikat kontrak dengan Manchester United yang bakal berakhir tahun 2024.

PERFORMA MARTIAL DI MANCHESTER UNITED

Tersingkirnya Martial dari skuad Manchester United membuktikan bahwa tidak selamanya pemain yang bergelar “bintang” di masa mudanya, dapat terus tampil konsisten hingga level senior.

Seperti diketahui bersama, Martial direkrut MU tahun 2015. Kala itu ia berstatus bintang muda asal Prancis yang masih berusia 19 tahun. Martial diboyong MU dari Monaco, salah satu klub raksasa di Prancis, dengan mahar yang cukup fantastis untuk pemain seusianya, yakni 58 juta pounds atau Rp 1,1 triliun.

Dibeli dari Monaco dengan mahar fantastis, Martial lebih banyak tampil flop ketimbang jadi bintang. Walaupun ia pernah menjadi top skor klub. Tapi di musim lainnya, Martial dikenal fans sebagai pemain malas.

Ia kerap kehilangan bola dalam take ons, serta dinilai lamban bergerak mencari bola. Dia kadang kala jadi pemain starter, tapi di lain kesempatan ia hanya dibangkucadangkan.

Ketika The Red Devils di bawah kepemimpinan Jose Mourinho, Martial merupakan salah satu pemain yang kerap mendapat kritikan darinya. Salah satu kritikan Mourinho terhadap Martial adalah pemain Prancis itu dianggap malas bertahan. Selama dibesut Mourinho, Martial pun hanya mencatatkan 106 penampilan, menjadi starter sebanyak 68 dan menjadi pengganti sebanyak 38. Mencetak 27 gol dan membuat 17 assist.

Untungnya Mourinho dipecat MU, dan digantikan Ole Gunnar Solskjaer. Kehadiran Ole membawa berkah bagi Martial. Pelan namun pasti, Martial berubah menjadi pemain yang berbeda. Secara teknis, dia dipercaya tampil sebagai penyerang tengah.

Martial menjawab kepercayaan Ole dengan gol demi gol untuk MU. Di bawah komando Ole, Martial yang kembali kenakan jersey nomor 9, tampil sangat bagus pada musim 2019/20. Di Premier League misalnya, Martial mencetak 17 gol. Ini adalah catatan gol terbaiknya dalam semusim. Sebagai tambahan, dia juga mencetak empat gol di Liga Europa.

Masih di bawah bimbingan Ole, di musim 2020/21, Martial sempat dibekap cedera lutut. Penyerang asal Prancis itu cuma bikin tujuh gol dalam 36 kali penampilan di semua kompetisi bersama Setan Merah. Lambat laun, performa Martial semakin menurun, terlebih setelah MU dilatih oleh Ralf Rangnick.

SEMPAT CEKCOK DENGAN RALF RANGNICK

Di bawah asuhan Rangnick, Martial bukanlah pemain utama di lini serang Manchester United. Ketimbang menurunkan Martial, pelatih asal jerman itu lebih sering memainkan Ronaldo atau Rashford, Cavani, dan bahkan Greenwood. Rangnick sangatlah jarang melirik Martial di bangku cadangan. 

Keduanya juga sempat berkonflik usai laga pekan 22 Liga Inggris kontra Aston Villa. Saat itu, Martial tidak ada di dalam daftar skuad MU. Dalam laga yang dimenangkan MU dengan skor 1-0 itu, Rangnick menyebut Martial tidak ingin bermain. Martial langsung membantah tuduhan Rangnick itu melalui akun Insta Story di akun Instagram pribadinya. Kedua pihak kini sudah berdamai. Tapi, Rangnick tidak punya tempat untuk Martial di skuad Manchester United.

MARTIAL JARANG DIMAINKAN RANGNICK

Di musim ini saja, tercatat Martial hanya tampil empat kali sebagai starter. Selain kalah bersaing dengan Ronaldo, Martial juga sempat cedera sehingga tidak dimainkan dalam empat pertandingan pertama MU di bawah Rangnick. Martial hanya bermain sebanyak 10 persen saja dari waktu total yang dijalani MU. Hal ini sangat turun karena sebelum CR7 bergabung, Martial mampu mencatatkan hampir 50 persen waktu bermain.

Dengan kondisi sulit itu, Martial siap untuk menghadapi tantangan baru di klub lain demi bisa tampil reguler untuk memperbesar peluangnya dipanggil Timnas Prancis jelang Piala Dunia 2022. Dan kabar menyebutkan, striker kelahiran tahun 1995 itu sudah berbicara kepada pihak klub mengenai keinginannya untuk hengkang.

Sebelum akhirnya resmi memilih Sevilla sebagai pelabuhan barunya, Martial sebenarnya sempat menjadi incaran beberapa klub Inggris, seperti Newcastle United dan Tottenham Hotspurs serta klub raksasa Italia, Juventus. 

Namun, entah apa alasannya, Martial memilih untuk bergabung dengan Sevilla. Keputusan  Martial bergabung dengan Sevilla adalah keputusan tepat. Ini merupakan langkah yang bisa dibilang baik untuk Martial, setidaknya secara personal. Apalagi Sevilla kabarnya menjamin menit bermain reguler bagi Martial. Sehingga kemungkinan besar ia bakal menjadi pemain utama. Apa pun itu, yang terpenting bagi Martial adalah setiap kali diberi kesempatan bermain, ia harus membuktikannya dengan permainan ciamik nan yahud.

Mampukah Diogo Jota Konsisten Mencetak Gol? 

Sepasang gol Diogo Jota ke gawang Arsenal mengantarkan Liverpool ke final Piala Liga Inggris. Pemain Timnas Portugal memaksa Ramsdale memungut bola dari gawangnya pada menit ke-19. Akselerasinya melakukan tusukan di sisi kanan pertahanan Arsenal mendapat ruang tembak. Shoot on target pertama Liverpool yang dilakukan Jota berhasil membawa Liverpool unggul 1-0.

Pundi-pundi golnya bertambah pada menit 77. Umpan terobosan Trent Alexander-Arnold (TAA) berhasil dikonversi menjadi gol.Dua gol Jota itu membuat Liverpool menjadi tim pertama yang berhasil mencapai final Piala Liga sebanyak 13 kali.

Istimewanya, capaian Liverpool kali ini tanpa diperkuat duo bomber Afrika: Mane dan Salah. Alih-alih pelatih pusing, kesempatan pun datang untuk pemain yang jarang mendapatkan sorotan, Diogo Jota.

Jota memanfaatkan momen ini untuk menunjukkan konsistensi permainan terutama dalam mencetak gol. Pasalnya, selama ini urusan gol The Reds masih bertumpu pada dua bomber yang harus membela Senegal dan Mesir itu.

Salah sudah menyumbang 23 gol, dan Mane sudah memberi 10 gol untuk Liverpool. Sementara, catatan gol Jota di musim ini telah mencapai 14 biji dari 2.403 menit bermain. Jumlah gol tersebut sudah melampaui rekornya musim lalu sebanyak 12 gol dalam 1.760 menit.

Urusan membobol gawang lawan musim ini, ia berada di urutan kedua setelah Mohamed Salah. Produktivitasnya unggul dari penyerang lain, seperti Firmino, Minamino, dan Origi.

Kran Mane musim ini tak kunjung membaik, dan itu artinya ini menjadi kesempatan bagi Diogo Jota untuk menunjukkan kualitasnya. 

Jota dalam Angka

Sejak didatangkan pada tahun 2020, Jota bukan sekadar penghangat bangku cadangan. Ia benar-benar bisa menjadi sosok pelapis yang hebat. Apalagi di 11 pertandingan awalnya bersama The Reds, Jota sudah mencetak 7 gol. 

Jurgen Klopp pun girang bukan kepalang melihat banyaknya opsi lini depan yang gacor. Wajar bila ia memuji kedatangan Jota ke Anfield di depan para jurnalis.

“Diogo hanyalah pemain sepak bola kelas,” kata Klopp tentang pemain yang berusia 23 tahun ketika dia tiba dari Wolves pada September 2020.

Kaki kanan dan kiri Jota sama baiknya untuk melakukan dribble dan tembakan. Urusan dribble digunakan Jota sebagai pemain versatile untuk bermain di area tengah maupun tepi pertahanan lawan. Perihal tembakan diuntungkan dengan kaki kiri dan kanan yang sama baiknya untuk mencetak gol.

Alih-alih beradu kecepatan dengan pemain bertahan lawan, Jota memilih memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan bek lawan saat bentuk pertahanan lawan belum sempurna. Keterampilan ini acap kali mendatangkan pundi-pundi gol bagi The Reds.

Saat didapuk menjadi penyerang tengah, posisinya diapit oleh Sadio Mane dan Mohamed Salah. Kemahirannya mencari ruang untuk melakukan eksplorasi didukung dengan kepiawaiannya dalam dribble. Sisi sayap pertahanan lawan menjadi area yang akan dieksploitasi dengan tujuan membuka ruang serang bagi Mane dan Salah.

Area operasi Jota sebagai penyerang membuka ruang bagi kedua penyerang Liverpool. Pasalnya, akselerasi yang dilakukan olehnya bakal membuat ruang kosong antara full-back dan center-back. Opsi umpan pun terbuka, kala beroperasi di kiri bisa ke arah Robertson atau Mane sementara di kanan ada Salah dan TAA.

Kemampuan itu begitu klop dengan TAA maupun Robertson. Catatan mentereng dibubuhkan TAA dengan 1125 umpan mengarah padanya, kompatriotnya Andrew Robertson 898 umpan. Kemahiran ini didukung dengan gaya menusuk di area sepertiga lawan untuk melepaskan umpan jarak pendek kepada penyerang.

Alih-alih beradu kecepatan dengan full-back lawan seperti Adama Traore saat di Wolves, Jota hadir dengan kepiawaian mengubah arah serangan dengan melakukan switch-ball ke tepi yang luput dari penjagaan lawan.

Dengan kemampuannya itu wajar kalau harapan golnya mencapai 0.62 per 90. Artinya saat mengeksekusi peluang di area pertahanan lawan akan berbuah gol dari rata-rata shot on target 1.32 per pertandingan.

Sistem Klopp yang menuntut penyerang tengah turun ke tengah menjemput bola dan menciptakan ruang menjadikan sentuhan rata-rata Jota per 90 di angka 22.7. Jota memiliki kemampuan 1v1 dan umpan progresif sama baiknya, plus akselerasinya untuk mengeliminasi lawan dengan umpan progresif sebanyak 57 kali percobaan.   

Kemampuan yang dimiliki oleh Diogo Jota terletak pada kecepatan saat melakukan dribble. Perangkat ini digunakan oleh Wolverhampton di bawah asuhan Nuno Espirito Santo untuk transisi bertahan ke menyerang.

Kebiasaan sebagai penyerang yang dapat melakukan transisi secara cepat membantunya untuk beradaptasi dengan dengan taktik Klopp di Liverpool. Kita mafhum dengan mazhab “heavy metal football” yang berusaha menyerang dengan cepat setelah merebut bola dari lawan.

Urusan ini Jota manut dengan filosofi pelatih. Usai kehilangan penguasaan bola di sepertiga lapangan lawan, ia menjadi orang pertama yang melakukan tekanan agar progresi serangan lawan dapat terputus.

Dengan demikian angka bertahan per 90 yang dibubuhkan oleh Jota dalam melakukan pressing mencapai 29.2%, dengan angka tertinggi di area tengah 174 kali, sepertiga pertahanan lawan 166 kali, sisanya “out of possession” 68 kali. Ia berada di peringkat satu di Liverpool untuk urusan ini, sementara jumlah tekel ia mencatatkan 27 kali dan nangkring di posisi 8.

Perangkat bertahan ia gunakan dalam skema counterpress di sepertiga lapangan lawan. Artinya, angka-angka itu menunjukkan Jota tidak hanya aktif meneror gawang lawan tapi juga merusak build up lawan sejak dini.

Tidak hanya agresif bertahan di sepertiga lapangan lawan, urusan bertahan juga dilakukannya saat bentuk pertahanan Liverpool belum sempurna.

Visi Tanpa Aksi Halusinasi

Visi Klopp memangkas jarak poin dengan pemuncak klasemen, Manchester City bakal jadi halusinasi tanpa aksi. Gacornya Jota di lini depan bisa membantu visi Jurgen Klopp itu. Terlebih ketika Liverpool ditinggal Mane dan Salah ke AFCON. 

Kehilangan kedua bomber selama gelaran Piala Afrika 2021 mengharuskan Klopp memutar otak. Tuntutan itu tergambar dalam konferensi pers sebelum pertandingan melawan Chelsea.

“Liverpool tahu akan ada tiga pemain yang berangkat ke Piala Afrika. Salah, Keita, serta Mane sudah sangat membantu Liverpool sejak 2019, tetapi situasi ini tidak terhindarkan dan tidak ideal. Kami harus menyiapkan diri dan menemukan solusi,” tuturnya.

Di akhir konferensi pers, ia bertanya dengan cetus, “Apakah kami akan tetap bisa bermain bagus tanpa mereka? Mungkin tidak, tetapi bodo amat lah.”

Cetusnya Klopp di depan jurnalis menghadapi bulan Januari tanpa ketiga pemain itu bikin kepala pening. Tapi ia tak perlu menelan pil Oskadon tiga kali sehari, sebab pening itu terobati oleh dua gol Jota ke gawang Arsenal.

Jadi, mampukah Jota tampil konsisten untuk menambah jumlah golnya?

https://youtu.be/SBqq3S9KPig

Referensi: holdingmidfield, FBref Diogo JotaThe Flanker, The Flanker, Tactical Time, Coaches Voice, The PSA, SI, FBref Liverpool 

 

 

 

 

 

 

Berita Bola Terbaru 25 Januari 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini 25 Januari 2022

DITUNGGU DI TEROWONGONGAN, GREALISH NYARIS GELUT DENGAN PEMAIN SOUTHAMPTON

Gelandang Man City, Jack Grealish terlibat friksi dengan pemain Southampton, Oriol Romeu ketika kedua tim berduel dalam lanjutan Liga Inggris 2021/22 di St. Mary’s Stadium, Minggu (23/1). Romeu menuduh bintang Inggris itu bermain-main setelah tekel dari Jan Bednarek. Wasit Simon Hooper harus menenangkan kedua pemain. Manajer Southampton, Saints Ralph Hasenhuttl kemudian menyarankan Grealish melanjutkan ‘gelut’ setelah peluit akhir. “Grealish menunggunya di terowongan karena beberapa hal yang terjadi di luar lapangan,” kata Hasenhuttl kepada Sky Sports. Pada akhirnya, Grealish dan Romeu bicara baik-baik sehingga keduanya tetap damai.

KATA MIKEL ARTETA TENTANG CEDERANYA TAKEHIRO TOMIYASU

Pelatih Arsenal, Mikel Arteta, angkat bicara tentang cedera yang dialami oleh pemainnya, Takehiro Tomiyasu. Seperti diketahui, Arsenal baru saja bermain imbang 0-0 kala melawan Burnley di Liga Inggris. Jelang laga, klub asal London Utara tersebut berbagi kabar kurang sedap kepada wartawan berkaitan dengan cederanya Takehiro Tomiyasu. Pelatih asal Spanyol tersebut menjelaskan jika cederanya Takehiro Tomiyasu terjadi setelah laga melawan Liverpool. Tomiyasu mendapat masalah pada betisnya dan membuatnya absen pada laga melawan Burnley.

BENZEMA BELA MESSI, SEBUT PENGKRITIKNYA TAK PAHAM SEPAKBOLA

Lionel Messi menjalani awal musim yang sulit di Paris Saint Germain. Megabintang asal Argentina tersebut baru mencetak enam gol dan lima assist untuk PSG di semua ajang sejauh ini. Hal tersebut dianggap tidak sesuai dengan 16 kali kesempatan tampil yang sudah diberikan oleh pelatih PSG, Mauricio Pochettino. Namun, Karim Benzema memiliki pendapat berbeda terkait situasi Messi ini. Menurut striker Real Madrid itu, orang-orang yang mengkritik Messi “tidak mengerti apa-apa tentang sepakbola”, dengan ia mendukung bintang PSG tersebut untuk meraih kesuksesan di Prancis.

FANS ATLETICO MADRID KECEWA JOAO FELIX DIGANTI VS VALENCIA

Fans Atletico Madrid menyuarakan kekecewaan mereka terkait keputusan Diego Simeone untuk mengganti pemain bintang kesayangan mereka, Joao Felix di pertandingan melawan Valencia pada Sabtu (22/1) malam waktu setempat di Estadio Wanda Metropolitano. Felix digantikan sebelum satu jam laga berjalan untuk memasukkan Felipe yang memicu protes keras dari penonton. Namun memang semuanya terbayar lunas pada akhirnya, Atletico mengamankan kemenangan comeback dan keputusan pelatih Diego Simeone terbukti tepat. 

ANCELOTTI: KESALAHAN BESAR CARI PEMAIN SEPERTI CASEMIRO

Carlo Ancelotti kembali memuji Casemiro. Menurutnya, gelandang Real Madrid sebagai pemain yang unik. Keunikan yang dimaksud pelatih Madrid adalah karakteristik bermain Casemiro. Menurutnya tidak ada lagi pemain di dunia ini yang seperti penggawa timnas Brasil. Bahkan Don Carlo menyebut sebuah kesalahan besar jika ada yang mencari pemain seperti Casemiro. Karena gelandang-gelandang yang selama ini dia tangani punya karakter yang berbeda. “Jika kita mencari di bursa transfer pemain seperti dia, itu artinya kita akan membuat kesalahan besar,” ujar Carlo Ancelotti.

ANCELOTTI PASTIKAN REAL MADRID TAK JUAL HAZARD

Masa depan Eden Hazard menjadi sorotan seiring performanya yang belum sesuai harapan. Tak heran muncul kabar yang menyebutkan bahwa pemain internasional Belgia itu akan segera meninggalkan Santiago Bernabeu, markas Real Madrid. Sejumlah klub mulai dihubungkan dengan Hazard. Tetapi sang pemain berpotensi kembali ke Premier League, kasta tertinggi Liga Inggris. Namun Carlo Ancelotti menepis rumor tersebut. Pelatih asal Italia ini menegaskan bahwa pemain 31 tahun itu tidak akan pergi pada musim panas 2022.

XAVI MINTA 2 AMUNISI BARU SEBELUM AKHIR BULAN

Klub Liga Spanyol, Barcelona telah merekrut dua pemain sepanjang Januari 2022. Mereka adalah Dani Alves dengan status bebas transfer, serta Ferran Torres dari Manchester City. Namun, Xavi sepertinya merasa masih belum cukup. Dia kabarnya menginginkan dua pemain tambahan yang berposisi sebagai penyerang tengah dan bek sayap. Menurutnya dua sektor ini sangat butuh perhatian. Xavi butuh pelapis Luuk de Jong setelah Ansu Fati cedera. Nama Alvaro Morata menjadi prioritas bagi Barcelona di bursa transfer januari ini. 

BUFFON AKAN TINGGALKAN PARMA UNTUK BERKARIR DI LUAR NEGERI

Gianluigi Buffon dikabarkan dapat meninggalkan klub Serie B Parma di musim panas mendatang setelah bergabung di awal musim lalu, dan memiliki rencana untuk mencoba berkarir di luar Italia. Parma saat ini menempati urutan ke-13 di tabel Serie B, lebih dekat ke zona degradasi daripada posisi teratas. Seperti dilansir football Italia, hasil buruk Parma bisa membuat Buffon meninggalkan Parma pada akhir musim, meski kontraknya bersama klub akan berakhir pada 2023. Kiper veteran tertarik untuk memiliki satu pengalaman terakhir dengan klub di luar negeri sebelum gantung sepatu.

NEYMAR BELI NFT DI OPENSEA SEHARGA RP 15 MILIAR

Bintang PSG, Neymar Jr, kini ikut berinvestasi di NFT dengan membeli dua karya Bored Ape Yacht Club di OpenSea. Tak tanggung-tanggung, Neymar menggelontorkan dana hingga 1,1 juta dolar AS atau sekitar Rp15 miliar untuk membeli dua koleksi. Pembelian tersebut dilakukan oleh Neymar melalui personal wallet-nya yang ia miliki di OpenSea dengan nama ‘EneJay’, sesuai dengan inisial namanya. Namun ternyata, Neymar tak sendiri mengeluarkan biaya dengan jumlah tersebut. Dalam unggahannya di Instagram dengan gambar yang ia beli tersebut, Neymar juga mengungkapkan dua rekannya di PSG, Marco Verratti dan Leandro Paredes juga ikut terlibat.

MARTIAL RESMI DIPINJAMKAN KE SEVILLA

Setelah tak mendapat menit bermain yang cukup dibawah Ole Gunnar Solskjaer, Martial kembali alami hal yang sama di era Rangnick. Sempat digadang gadang akan menjadi bintang masa depan MU, namun, performa Martial malah tak konsisten, akhirnya Martial pun dikaitkan dengan beberapa klub di bursa transfer musim dingin ini. Setelah mengalami negosiasi alot, MU pun sepakat lepas Martial ke Sevilla dengan status pinjaman.

KELOLOSAN KAMERUN TERCORENG TRAGEDI TEWASNYA SUPORTER DI LUAR STADION

Kamerun berhasil lolos ke perempat final Piala Afrika 2022, berlangsung di stadion Olembe, Kamerun memastikan satu tempat di perempat final setelah mengalahkan Komoro dengan skor 2-1. Namun kemenangan ini diwarnai oleh tragedi tewasnya 6 orang penonton dalam kerusuhan yang terjadi sebelum pertandingan. Kerusuhan diduga berawal dari penonton yang memaksa masuk stadion meski tak mempunyai tiket.

VLAHOVIC KIAN MENDEKAT KE JUVENTUS

Dusan Vlahovic adalah salah satu primadona di bursa transfer kali ini, ia menjadi incaran beberapa klub papan atas karena ia tampil luar biasa bersama Fiorentina, Sejauh ni Vlahovic sudah mencatatkan 17 gol dari 21 penampilan Serie A. Pihak Juventus merasa profilnya sangat cocok dengan kebutuhan Juventus, seperti yang diketahui, si nyonya tua sedang mengalami krisis striker karena Alvaro Morata dan Moise Kean dirasa kurang maksimal bagi sang juru taktik Massimiliano Allegri.

RUMAH BENZEMA DIBOBOL MALING

Sudah jatuh malah tertimpa tangga, setelah gagal mengeksekusi penalti pada laga melawan Elche. Benzema harus ditarik keluar lapangan pada menit ke-58 dikarenakan ada gangguan pada paha kirinya. Seakan melengkapi keapesan Benzema, di waktu yang bersamaan, rumah Benzema dibobol maling. Benzema pulang ke rumah dan menyadari bahwa rumahnya telah dimasuki orang tak dikenal.

KEJUTAN, MANCHESTER UNITED DEKATI EKS PELATIH GAGAL REAL MADRID

Meski kini sedang diasuh oleh Ralf Rangnick, MU tetap aktif mencari pengganti Rangnick. Pasalnya Rangnick hanya akan menjadi pelatih United hingga akhir musim mendatang, beberapa nama pelatih beken pun dikaitkan pada MU, Luis Enrique yang sedang asik menangani Timnas Spanyol dan Pelatih yang sempat gagal di Madrid yaitu Julen Lopetegui. Namun, mendatangkan Luis Enrique dan Julen Lopetegui bukan perkara mudah bagi MU. Sebab, kedua juru latih itu masih terikat kontrak dengan timnya masing-masing.

PIALA AFRIKA: KAMERUN SUSAH PAYAH REBUT TIKET PEREMPAT FINAL

Kamerun susah payah untuk lolos ke perempat final, meskipun hanya menghadapi Kepulauan Komoro yang kekurangan pemain sehingga hanya bermain dengan 10 orang dan terpaksa memasang seorang bek menjadi kiper. Meskipun hasil akhir dimenangkan oleh Kamerun, Komoro tampil heroik dan membuat Kamerun ketar ketir dengan satu gol yang dicetak Kamoro.

INTER TERTARIK DATANGKAN GOSENS

Inter Milan dikabarkan kembali menjajal peruntungan mereka untuk mengupayakan tanda tangan Robin Gosens dari Atalanta pada bursa transfer Januari ini. Inter sudah lama mengincar sosok Gosens ini, Inter percaya Gosens bakal jadi pengganti sepadan bagi Ivan Perisic.

TANGUY NDOMBELE DIDEKATI PSG, BEGINI RESPON POCHETTINO

Dengan PSG yang berminat boyong Tanguy Ndombele, Mauricio Pochettino beri tanggapan. Pochettino disebut berminat mendatangkan mantan anak asuhnya, yaitu Tanguy Ndombele. Namun Pochettino tetap merespon secara diplomatis, ia berusaha mendinginkan rumor yang ada dengan menyampaikan bahwa ia belum mau membahas pemain lain yang masih milik klub lain. “Saya tidak berbicara tentang pemain yang berada di klub lain,” Pungkas Pochettino seusai laga PSG vs Reims di Liga Prancis.

CLAUDIO RANIERI RESMI DIPECAT WATFORD

Liga Inggris kembali memakan korban, kali ini yang jadi korbannya adalah salah satu pelatih kawakan, Claudio Ranieri. Watford resmi menyingkirkan Ranieri dari kursi kepelatihan, penampilan buruk Watford selama ini yang jadi alasan utama Watford memecat Ranieri. Dewan klub merasa, di pertengahan musim jadi waktu yang tepat untuk melakukan pergantian peran pelatih. Jadi pelatih baru akan mempunyai waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan skuad.

POCHETTINO BERHARAP NEYMAR SUDAH PULIH KETIKA MELAWAN REAL MADRID

Karena pertandingan leg pertama babak 16 Liga Champions melawan Real Madrid hanya menyisakan beberapa minggu lagi, Mauricio Pochettino melakukan pengawasan ketat terhadap pemulihan cedera yang dialami oleh bintang Brazil, Neymar. “Kami belum tahu, kami harap begitu, kami harus mengikuti perkembangannya, dia harus terus berlari minggu depan,” kata Pochettino menyusul hasil melawan Reims.

KEMENANGAN DORTMUND MAKAN TUMBAL, HAALAND CEDERA

Meskipun Borussia Dortmund sukses menaklukan tuan rumah Hoffenheim dengan skor 3-2 dalam lanjutan Bundesliga, Namun, kemenangan Dortmund harus dibayar mahal dengan sang striker Erling Haaland menjadi tumbal kemenangan timnya. Haaland dipaksa keluar pada paruh kedua karena mengalami gangguan pada ototnya, ia perlu perawatan dan pemeriksaan lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang. Haaland pun diperkirakan akan absen di beberapa laga selanjutnya bersama Borussia Dortmund.

DELE ALLI JADI TARGET INCARAN NEWCASTLE

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, begitu kira kira situasi The Magpies sekarang. Pasalnya Newcastle bisa mendapatkan jalan mulus ketika berusaha mendatangkan Dele Alli. Seperti yang diketahui Dele Alli mempunyai agen yang sama dengan dua rekrutan anyar Newcastle, yaitu Kieran Trippier dan Chris Wood. Eddie Howe belum puas dengan datangnya dua pemain tersebut dan berniat ingin segera merampungkan transfer Dele Alli.

JULES KOUNDE MENUJU CHELSEA

Jules Kounde sudah lama dikaitkan dengan beberapa klub Liga Inggris salah satunya tim London Biru, Chelsea. Transfer ini bisa saja terjadi apabila Chelsea mau sedikit merogoh kocek lebih dalam untuk Kounde. Pasalnya The Blues yang ingin melakukan perbaikan di lini belakang sebelum jendela transfer januari ditutup. Jules Kounde diproyeksikan untuk menggantikan posisi Andreas Christensen yang masih belum mau memperpanjang kontraknya di Chelsea.

AUBAMEYANG OGAH KE ARAB SAUDI, PILIH MAIN DI EROPA

Meskipun klub-klub Eropa seperti Marseille, PSG, Juventus, dan AC Milan menaruh minat pada sosok striker Arsenal itu, namun, Klub Arab Saudi Al Nassr adalah satu-satunya pihak yang telah membuat tawaran untuk Aubameyang. Al Nassr berniat untuk meminjam Aubameyang dengan opsi pembelian di akhir musim. Dengan pemberitaan semacam ini, seperti yang dikutip dari Sky Sport, Aubameyang lebih memilih untuk tetap bermain di kompetisi Eropa daripada harus ke Arab Saudi bersama Al Nassr.

TOTTENHAM SEGERA RESMIKAN ADAMA TRAORE

Adama Traore sudah menjadi target Spurs sejak ditangani oleh Nuno Espirito Santo, namun minat itu tetap ada meski kursi kepelatihan sudah berganti ke tangan Antonio Conte. Kabarnya Tottenham Hotspurs segera meresmikan pemain sayap Wolverhampton Wanderers tersebut, usai mencapai kesepakatan senilai 20 juta Pounds atau sama dengan 387 Miliar Rupiah.

 

Nasib Berbeda Trio Negara “Guinea” di Piala Afrika 2021

0

Benua Afrika selain menyimpan talenta yang luar biasa di dunia sepak bola, juga memiliki hal-hal unik yang boleh jadi tidak dipunyai benua lainnya. Ajang Piala Afrika 2021 saja sudah menunjukkan betapa Benua Afrika punya kekhasan sendiri. Mulai dari pemain, model jersey, ilmu hitam, dan lain sebagainya.

Di Benua Afrika juga terdapat negara-negara yang namanya cukup unik. Bahkan ada tiga negara yang sama-sama memakai nama Guinea. Dan uniknya lagi, ketiga negara Guinea itu lolos ke putaran final Piala Afrika 2021.

Mereka adalah Guinea, Guinea-Bissau, dan Guinea Khatulistiwa atau Equatorial. Yang lebih hebatnya lagi, ketiga negara Guinea itu mampu tampil apik di Piala Afrika 2021. Misalnya, Guinea dan Guinea Khatulistiwa yang justru bisa lolos ke fase gugur, di saat tim besar seperti Aljazair, Ghana, dan Nigeria terhempas dari Piala Afrika 2021.

Artinya, negara-negara Guinea telah berkembang dalam dunia sepak bola. Bukan tidak mungkin kalau negara-negara Guinea mampu menjadi ancaman serius tim-tim kuat. Well, apa yang membuat tiga negara Guinea itu berkembang? Dan bagaimana kisahnya?

Guinea

Yang pertama adalah Republik Guinea. Sebuah negara yang terletak di Afrika Bagian Barat. Guinea sering disebut juga dengan Guinea-Conakry, karena ibukotanya yakni Conakry.

Dulu Guinea disebut dengan Guinea Prancis. Sebab negara tersebut dulu merupakan bekas koloni Prancis. Guinea merdeka dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958 dan bahasa resmi mereka adalah Bahasa Prancis.

Timnas Guinea mempunyai sejarah cukup bagus di perhelatan Piala Afrika mereka mampu menembus perempat final dalam tiga kali edisi beruntun 2004, 2006, 2008, dan bahkan di tahun 2015 mereka mampu mencapai perempat final.

Akan tetapi, pada edisi setelah 2015 Guinea di banned alias tidak boleh menyelenggarakan atau bermain sepak bola oleh Federasi Sepakbola Afrika (CAF), karena wabah ebola yang merebak melanda Guinea.

Sampai pada helatan Piala Afrika tahun 2019, mereka akhirnya mampu tampil kembali dan langkahnya terhenti sampai babak 16 besar setelah takluk dari juara tahun itu Aljazair.

Saat ini di Piala afrika 2021, Guinea memiliki tim sepak bola yang cukup diperhitungkan. Salah satu ukurannya tentu saja karena Guinea bisa lolos ke putaran final Piala Afrika 2021 tahun ini. Guinea berada di Grup B bersama Senegal, Malawi dan Zimbabwe.

Lolosnya Guinea ke Piala Afrika 2021 tidak lepas dari pemain bintang mereka yang kini merumput di Liverpool, Naby Keita. Kemudian juga peran dari pemain bintang Guinea lainnya seperti Ilaix Moriba dari RB Leipzig, dan Amadou Diawara dari AS Roma.

Pada pemeringkatan FIFA, tim berjuluk Syli Nationale ini cukup bagus dengan bertengger di peringkat ke-81 per tahun 2021. Dengan modal rangking itu, dan ditambah para pemain bintang, Guinea yakin bisa tampil maksimal di AFCON 2021.

Sayangnya, hal itu harus diganggu oleh krisis kudeta militer di Guinea beberapa waktu belakangan. Kondisi kudeta di Kota Conakry itu bahkan dulu sempat mengganggu Guinea ketika laga melawan Maroko di Pra Piala Dunia 2022. Timnas Guinea bahkan diancam oleh tokoh kudeta militer mereka, Mamady Doumbouya.

Doumbouya yang menjadi presiden interim Guinea menuntut agar Timnas Guinea bisa menjuarai Piala Afrika 2021. Jika gagal, uang yang dipakai Timnas Guinea untuk Piala Afrika 2021 harus dikembalikan ke pemerintah.

Dengan kekuatan dan modal rangking FIFA yang bagus, Guinea memang lolos dari jeratan fase grup. Hanya saja, tekanan memang tidak bisa bohong. Guinea gagal melaju ke perempat final usai kandas dari Gambia lewat skor 1-0.

Guinea-Bissau

Guinea punya tetangga yang sama-sama berada di Afrika Bagian Barat, namanya Guinea-Bissau. Kata “Bissau” sengaja disematkan agar tidak tertukar dengan Guinea. Bissau sendiri merupakan ibu kota Guinea-Bissau.

Melihat sejarahnya, Guinea-Bissau adalah bekas koloni Portugis, jadi wajar saja kalau kebanyakan warga setempat memakai Bahasa Portugis. Guinea-Bissau memerdekakan diri dari cengkraman Portugis pada 24 September 1973. Guinea-Bissau sendiri menjalani debutnya di Piala Afrika pada tahun 2017 di Gabon.

Sejak saat itu, Guinea-Bissau selalu lolos ke Piala Afrika, seperti pada tahun 2019 di Mesir. Sudah dua kali Guinea-Bissau tampil di perhelatan akbar Benua Afrika itu, dan hasilnya selalu nihil. Mereka selalu gagal keluar dari fase grup.

Di tahun 2021 juga begitu. Guinea-Bissau yang kembali tampil di Piala Afrika tak mampu berbuat banyak dengan lagi-lagi tidak lolos dari fase grup. Padahal di edisi Piala Afrika 2021, Guinea-Bissau memiliki pemain-pemain yang tampil di Eropa.

Misalnya, Judilson Mamadu Tuncará Gomes alias Pele yang memperkuat AS Monaco. Mama Balde yang bermain di Troyes, dan Moreto Cassama yang bermain untuk Stade Reims.

Guinea-Bissau juga sesungguhnya memiliki seorang wonderkid yang bermain untuk tim asal Catalan, Barcelona, Ansu Fati. Namun, Ansu Fati memilih menjadi warga negara Spanyol melalui proses naturalisasi.

Guinea Khatulistiwa

Jika Guinea dijajah Prancis dan Guinea-Bissau adalah bekas jajahan Portugis, uniknya Guinea Khatulistiwa atau Equatorial justru adalah bekas koloni Spanyol. Guinea Khatulistiwa bebas dari cengkraman Spanyol pada 12 Oktober 1968. Sesuai namanya, Guinea Khatulistiwa ini memang letaknya dekat dengan garis khatulistiwa.

Nah, debut Guinea Khatulistiwa di Piala Afrika adalah pada tahun 2012 yang kebetulan digelar di rumah sendiri dan Gabon. Guinea Khatulistiwa pun bisa tampil begitu menawan kala itu dengan lolos ke babak perempat final, sebelum akhirnya dikandaskan sang runner-up Piala Afrika 2021, Pantai Gading.

Pada Piala Afrika 2015, Guinea Khatulistiwa kembali menjadi tuan rumah setelah sebelumnya Maroko mengundurkan diri menjadi tuan rumah karena wabah ebola ketika itu.

Dan iya, Guinea Khatulistiwa pun tampil sangat-sangat ciamik sebagai tim kejutan. Entah sebuah keajaiban atau apa, mereka berhasil menjajaki semifinal untuk pertama kalinya dalam sejarah Guinea Khatulistiwa itu sendiri. Ironisnya, di partai semifinal Guinea Khatulistiwa dihempaskan Ghana, dan gagal merebut tempat ketiga usai takluk atas Kongo. Meski begitu ini adalah catatan terbaik Guinea Khatulistiwa.

Pada Piala Afrika 2021, Guinea Khatulistiwa kembali mengejutkan semua orang. Mereka yang berada di Grup E yang berisi kekuatan Afrika seperti Pantai Gading, Aljazair, dan Sierra Leone justru mampu lolos ke 16 besar usai menjadi runner-up grup. Hebatnya lagi Guinea Khatulistiwa mampu memutus rentetan rekor tak terkalahkan Aljazair dengan skor 1-0.

Hal itu seperti sebuah keajaiban karena Guinea Khatulistiwa bukanlah tim yang memiliki pemain yang bermain di klub elit Eropa. Kebanyakan justru pemain-pemain yang bermain di kasta kedua. Sebut saja seperti Jose Machin yang bermain di AC Monza Serie B Italia, Pablo Ganet yang bermain di Murcia Divisi 2 Liga Spanyol, atau Santiago Eneme yang bermain di Nantes B Divisi 2 Liga Prancis.

Meski berbeda-beda yang menjajah, dari segi sejarah, penamaan “Guinea” sebetulnya diawali dari Bahasa Portugis, “Guiné” yang digunakan sebagai panggilan untuk orang-orang berkulit hitam di wilayah itu. Nah, dari segi prestasi, utamanya di Piala Afrika, ketiga negara Guinea mungkin masih cukup tertinggal.

Meski begitu, lolosnya ketiga negara Guinea pada Piala Afrika 2021 secara bersama-sama tetaplah menjadi suatu yang langka. Terlebih sebelum AFCON 2021 digelar, nasib ketiga negara Guinea memang berbeda.

Lolosnya ketiga negara bernama Guinea itu bisa menjadi parameter bahwa performa ketiga negara tersebut mengalami peningkatan signifikan. Bukan tidak mungkin di event Piala Afrika selanjutnya mereka tetap mampu lolos kembali secara bersama, dan mampu berprestasi lebih baik.

https://youtu.be/UIJ4GeWss_U

Sumber Referensi : face2faceafrica, howtheyplay, sportsbrief

Mengapa Bayern Munchen Hobi Membajak Bintang Bundesliga?

0

Semua pasti sepakat kalau Bayern Munchen termasuk salah satu klub terbesar dan paling disegani di liga-liga top Eropa. Die Roten bahkan mampu membuat Bundesliga Jerman menjadi Liga Petani. Pemain-pemain yang hebat, daftar pelatih kenamaan, sampai fans yang militan jadi bagian tak terpisahkan skuad The Bavarians.

Namun, karena kedigdayaannya itu, terutama di Liga Jerman, membuat banyak klub seliga Munchen iri. Bahkan Bayern Munchen menjadi klub yang paling dibenci di Jerman. Hal itu tampak wajar, mengingat Bayern Munchen memang hobi sekali membajak para pemain bintang yang baru mekar di Bundesliga.

Mari kita mendaftarnya satu-satu. Yang paling mencolok adalah Robert Lewandowski yang didatangkan dari Borussia Dormund tahun 2014. Tahun segitu, Lewandowski belum segacor sekarang. Meskipun tentu saja, kualitasnya bersama Die Borussen sudah kelihatan.

Maka dari itu, Die Roten pun tertarik memboyong striker Polandia ke Allianz Arena. Waktu itu, Lewandowski dibajak dari Dortmund bahkan dengan status bebas transfer. Sebelum Lewa, masih banyak bintang Bundesliga yang akhirnya juga dibajak Bayern Munchen. Ada nama legenda Jerman, Michael Ballack yang dibeli dari Leverkusen tahun 2002 dengan biaya 4,5 juta pounds atau Rp 87,2 miliar kurs sekarang.

Ze Roberto juga pernah dipaksa datang ke Bayern Munchen. The Bavarians sukses memboyong Ze Roberto dari Leverkusen tahun 2002 dengan banderol 7,13 juta pounds atau Rp 132 miliar. Bukan hanya dua pemain itu, Niklas Sule, Hummels, Mario Gomez, Sebastian Rudy, sampai sang penjaga gawang, Manuel Neuer adalah hasil membajak klub lain di Liga Jerman.

Pertanyaanya, mengapa Bayern Munchen tega melakukan itu? Mengapa The Bavarians suka sekali membajak pemain bintang, terutama di Bundesliga, walaupun baru saja mekar?

Tidak Ada Aturan yang Melarang

Satu hal yang pasti mengapa Bayern Munchen hobi membajak bintang Bundesliga adalah karena tidak ada aturan yang melarang. Dalam aturan transfer di Bundesliga, tidak ada klausul apa pun yang melarang sebuah klub membajak pemain penting dari klub lainnya.

Melalui situs resmi Bundesliga hanya menyebut beberapa hal yang menyangkut proses transfer pemain. Sebuah klub bisa saja membeli pemain dari klub lain di sesama Bundesliga, asalkan memenuhi aturan dan persyaratan yang ditetapkan. Misalnya, soal kontak. Setiap proses transfer harus ada kontak dari orang-orang yang terlibat.

Lalu, transfer bisa saja terjadi ketika seorang pemain memang sudah didaftarkan ke daftar transfer secara resmi klub itu sendiri. Tidak ada aturan bahwa yang dijual atau yang dimasukkan ke daftar transfer tidak boleh dari pemain bintang.

Hal itulah yang membuat Bayern Munchen sangat leluasa dalam pergerakan transfer. Die Roten, dengan segala kondisinya yang sudah mapan itu, jelas mudah sekali untuk merekrut pemain. Meskipun demikian, sebetulnya aturan mengenai hal itu bisa saja dibuat.

Seandainya bukan dari Bundesliga atau federasi, klub bisa membikin klausul tersendiri. Misalnya, ketika merekrut seorang pemain, bisa ditambahkan klausul bahwa sang pemain tidak boleh bergabung dengan Bayern Munchen. Namun, apa mungkin sang pemain mau menandatangani kontrak dengan klausul semacam itu?

Efek Bebas Transfer

Tak bisa dipungkiri, pembajakan pemain yang dilakukan Bayern Munchen terhadap klub-klub lain di Bundesliga sedikit banyak karena efek bebas transfer. Die Roten tidak selamanya mengeluarkan duit untuk mendatangkan pemain dari klub rival yang sama-sama bermain di Liga Jerman.

Beberapa pemain memang didatangkan secara gratis. Selain Robert Lewandowski yang dibajak dari Dortmund, ada juga Leon Goretzka yang didatangkan Bayern Munchen pada 2018. Bayern tidak membayar sepersen pun kepada Schalke atas transfer Goretzka.

Sebastian Rudy juga diboyong Bayen Munchen dari Hoffenheim tahun 2017, tanpa sedikit pun mengeluarkan uang. Dari pemain yang didatangkan secara gratis, tentu yang paling mengejutkan adalah Robert Lewandowski. Kedatangan Lewa, dan ia yang pada akhirnya menjadi sangat tajam, tentu membuat Dortmund gigit jari.

Ajaibnya, pemain-pemain bintang Bundesliga yang dibeli Bayern Munchen kini harganya melambung tinggi. Robert Lewandowski misalnya. Di Transfermarkt, striker mematikan itu memiliki nilai transfer 50 juta euro atau sekitar Rp 811,9 miliar. Sementara Leon Goretzka harganya juga tak kalah mahal.

Gelandang yang didatangkan Bayern secara gratis dari Schalke itu kini harganya mencapai 70 juta euro atau Rp 1,1 triliun. Sedangkan Sebastian Rudy, di Transfermarkt harganya 2,5 juta euro atau setara Rp 40,5 miliar. Jika ditotal, Bayern Munchen menghemat sekitar 122,5 juta euro atau Rp 1,9 triliun untuk mendatangkan tiga pemain tersebut.

Kesempatan Emas Bagi Pemain

Bukan hanya dari sisi Bayern Munchen-nya. Tak bisa ditampik bahwa FC Hollywood adalah tempat yang paling menggiurkan bagi talenta-talenta terbaik di Jerman. Bahkan bisa dikatakan masuk Bayern Munchen merupakan impian yang boleh jadi dicita-citakan para pemain di Liga Jerman. Apalagi Bayern Munchen adalah klub terkuat di Bundesliga.

Siapa pemain yang tidak tergoda dengan iming-iming juara Bundesliga? Rasa-rasanya pemain yang bermain di Bundesliga semua mengidamkan hal itu. Belum lagi, dengan posisi Bayern Munchen yang selalu berada di puncak, peluang untuk bisa bermain di Liga Champions Eropa menjadi tawaran yang sangat menggiurkan.

Coba saja kalau Bayern Munchen itu tidak konsisten, katakanlah seperti Manchester United, bukan tidak mungkin kalau pemain-pemain bintang di Bundesliga ogah masuk skuad The Bavarians. Tapi, nyatanya kan tidak. Bayern Munchen, setidaknya dalam satu dekade terakhir menjadi klub yang sangat konsisten, entah di kompetisi domestik maupun kompetisi Eropa.

Berani Menggaji Mahal

Bayern Munchen dengan kekuatan finansial yang kokoh tentu bukan perkara rumit kalau sekadar mendatangkan pemain bintang Bundesliga. Sebab Die Roten sudah pasti mampu menggaji tinggi para pemain. Hal yang boleh jadi tidak sanggup dilakukan klub-klub lain di Liga Jerman. Siapa pemain yang tidak tergiur dengan tawaran gaji yang tinggi? Hampir tidak ada.

Ambil contoh Robert Lewandowski. Gaji penyerang Polandia yang diterima dari Bayern Munchen itu sebanyak 19,5 juta euro atau Rp 316,6 miliar per musim. Sementara, Manuel Neuer yang didatangkan dari Schalke itu mendapat gaji 18 juta euro atau Rp 292 miliar.

Pemain lain yang belum lama didatangkan dari klub Bundesliga lainnya, Alexander Nubel setidaknya menerima gaji 5,5 juta euro per musimnya, atau sekitar Rp 89,3 miliar. Selain menggaji tinggi pemain-pemainnya, Bayern Munchen juga dikenal sebagai klub yang jarang memiliki utang banyak.

Die Roten bukanlah Barcelona yang hobi mengurangi gaji pemain. Hal itulah yang boleh saja menjadi daya tarik tersendiri bagi pemain-pemain bintang di Bundesliga. Baru mekar, tapi bisa direkrut Bayern Munchen, dan jaminan bermain di Liga Champions Eropa, plus gaji yang menggiurkan, pemain bintang mana yang tidak tergiur dengan hal-hal semacam itu?

https://youtu.be/faiXHp2Wzlc

Sumber referensi: squawka.com, quora.com, 90min.com, Instagram OpiniBolaId

Apa Pentingnya Naturalisasi Bagi Tim Nasional?

0

Sosok Haruna Soemitro belum lama ini menjadi bahan perbincangan. Ia yang merupakan bagian dari Executive Committe (Exco) PSSI mengomentari Tim Nasional Indonesia asuhan Shin Tae-yong. Lebih tepatnya, beliau ini mengkritik kinerja Coach Shin, dan bilang kalau Coach Shin tersinggung atas kritik tersebut.

Keberadaan Haruna dan Exco PSSI, penting atau tidak, itu nggak usah dibahas. Tapi poin-poin kritik Haruna lah yang menarik untuk dibahas. Apalagi soal naturalisasi pemain. Haruna mengkritik rencana naturalisasi yang bakal dilakukan Shin Tae-yong.

Sebetulnya, kritik tersebut tidak ada tendensi untuk melarang atau tidak sepakat dengan program naturalisasi. Hal itu wajar sih, karena ya, PSSI juga tho yang memulai program naturalisasi? Namun, pernyataan bahwa naturalisasi akan menghambat kesempatan pemain lokal untuk bermain di Timnas Indonesia jadi semacam ironi.

Dengan kata lain, seolah-olah Timnas Indonesia bersih dari naturalisasi. Jadi, ketika Shin Tae-yong punya rencana menaturalisasi Sandy Walsh, Jordy Amat, Mees Hilgers, dan Ragnar Oratmangoen lebih baik dilupakan saja. Pernyataan itu mungkin akan mendapat dukungan seluruh insan sepak bola tanah air, jika tidak paradoks.

Klubnya sendiri, Madura United toh juga melakukan naturalisasi. Timnas Indonesia, dalam hal ini PSSI juga beberapa kali hobi menaturalisasi pemain. Cristian Gonzales, Jhonny van Beukering, Tonnie Cussel, Ruben Wuarbanaran, Victor Igbonefo, sampai Beto Goncalves, apa bisa bermain di Timnas Indonesia kalau tidak dinaturalisasi?

Dulu, dan mungkin juga sekarang, naturalisasi menjadi semacam jalan pintas meraih prestasi yang diidam-idamkan. Walaupun dari nama-nama yang disebutkan tadi, hanya Gonzales program naturalisasi yang terbilang berhasil. Maka, sebenarnya Haruna adalah satu dari ribuan orang yang boleh jadi tidak suka program naturalisasi. Terlebih karena program naturalisasi ini bisa dikatakan penting nggak penting.

Jangka Pendek Okelah

Apa pentingnya naturalisasi bagi Tim Nasional? Pertanyaan itu jelas bisa dijawab dengan mudah: prestasi. Melakukan naturalisasi pemain masih menjadi salah satu cara untuk meraih prestasi secepat polisi menangkap penyebar video porno.

Walaupun sepak bola adalah permainan tim, asumsi semacam itu nyatanya masih melekat di federasi-federasi sepak bola di dunia. Apalagi di bagian dunia yang memang minim talenta sepak bola, atau di negara yang tak becus mengembangkan bibit pemain.

Misalnya, Singapura. Negara yang tak lebih luas dari Pulau Jawa itu sukses karena pemain naturalisasi. Program naturalisasi pemain ini sudah digencarkan Singapura sejak 2002. Nama-nama seperti Mirko Grabovac dan Daniel Bannett pun muncul di skuad Timnas Singapura.

Buah proyek naturalisasi ini pun dipetik dua tahun berselang. Pada 2004, Singapura berhasil membawa pulang Piala Tiger untuk kedua kalinya. Kala itu, Timnas Singapura penuh pemain naturalisasi, seperti Daniel Bannett, Agu Casmir, Itimi Dickson, dan Baihakki Khaizan.

Hal itu diulangi Singapura pada AFF 2007 dan AFF 2012. Singapura bahkan menumbangkan Thailand di final 2012 dengan bantuan pemain naturalisasi seperti Fachruddin Mustafic, Aleksandar Duric, Shi Jiayi, sampai Qiu Li. Namun, setelah kehilangan para pemain naturalisasi, Singapura pun kehilangan tajinya.

Dari contoh itu, program naturalisasi bisa mendatangkan prestasi secara instan. Singapura saja hanya butuh waktu dua tahun untuk juara Piala Tiger dari program naturalisasi. Akan tetapi, itu tidak bertahan lama.

Sebab naturalisasi adalah program jangka pendek. Maka dari itu, Singapura pun akhirnya menghentikan proyek naturalisasi. Sejak tahun 2017, Singapura lebih fokus pada pengembangan bibit muda lokal, alih-alih terpaku pada pemain naturalisasi.

Penting Bagi Pemain

Kalau mau fair, sebenarnya naturalisasi ini justru sangat penting bagi seorang pemain yang dinaturalisasi. Terlebih untuk memberikan kesempatan pemain tampil di kancah internasional.

Dex Glenniza, dalam tulisannya di PanditFootball menyebut kalau kebanyakan pemain naturalisasi, khususnya di Indonesia adalah para pemain yang “terbuang” dari negaranya. Dalam artian tak terpakai sama sekali di Tim Nasionalnya. Kita bisa melihat contohnya seperti Beto Goncalves, Victor Igbonefo, Van Baukering, Tonnie Cussel, dan masih banyak lagi.

Pemain naturalisasi sering dianggap nggak jago menurut perspektif negara asalnya, dan tidak mentereng di negara aslinya. Dengan dinaturalisasi, pemain-pemain tersebut punya kesempatan untuk tampil di level internasional. Suatu portofolio yang bagus, yang mungkin saja sulit didapat sang pemain kalau tidak melalui proses naturalisasi.

Jika Terukur Lebih Baik

Apa yang dilakukan Singapura tentu saja menggiurkan. Apalagi bagi negara yang kemarau gelar seperti Indonesia. Menirunya boleh jadi turut mendatangkan kesuksesan yang sama.

Namun, meniru saja dan tidak terukur itu sama halnya dengan menonton televisi tapi tv-nya mati. Setiap negara tentu saja mempunyai kebijakannya masing-masing tentang naturalisasi. Ya, meskipun tentu tidak melupakan aturan FIFA.

Proyek naturalisasi di Timnas Singapura menunjukkan kalau itu terukur. Prestasi dengan jumlah pemain yang dinaturalisasi bisa dikatakan seimbang. Artinya, Singapura tidak asal melakukan naturalisasi.

Sementara di Indonesia tidak. Naturalisasi dijadikan jalan pintas oleh PSSI untuk meraih prestasi, walaupun yang terjadi justru bikin orang emosi. Betapa tidak? Pemain-pemain yang dinaturalisasi hampir seluruhnya gagal.

Van Beukering misalnya. Entah apa yang ada dipikiran PSSI, sampai pemain yang gempal itu bisa dinaturalisasi. Tidak hanya susah bergerak, Van Beukering kalau ketemu Shin Tae-yong bakal kena marah karena kualitas umpannya pas-pasan.

Siapa lagi? Tonnie Cussel? Ya ampun, pemain ini kalau dibandingkan Evan Dimas saja bagaikan gapura dengan tiang listrik. Sepupu Lilipaly itu tak bagus dalam melakukan operan. Terlebih pada penampilannya di Piala AFF 2012 saat Timnas Indonesia dilatih Nil Maizar.

Selain dua nama itu, masih banyak lagi pemain naturalisasi yang mubazir. Sebut saja Greg Nwokolo, Victor Igbonefo, sampai Bio Paulin.

Kedalaman Skuad

Sejujurnya, naturalisasi menjadi cukup penting untuk kedalaman skuad Tim Nasional. Karena tidak selamanya di satu posisi hanya mengandalkan seorang pemain saja.

Itulah mengapa Shin Tae-yong punya keinginan untuk menaturalisasi Sandy Walsh, meski di posisi fullback kanan masih ada Asnawi yang gacornya setengah mati. Tidak selamanya Asnawi bisa bermain untuk Timnas Indonesia. Itulah yang dibaca Shin Tae-yong.

Hal itu pula yang mungkin membuat pemain naturalisasi, Ezra Walian masih dipertahankan. Selain kehabisan stok striker hebat, tenaga Ezra dibutuhkan untuk memberi opsi di lini depan. Disamping ada nama putra daerah seperti Dedik Setiawan, Kushedya Hari Yudo, dan Hanis Saghara.

Pembinaan Jauh Lebih Baik

Naturalisasi di satu sisi punya manfaat, walaupun nggak banyak. Namun, hal itu juga sebagai pertanda kalau pembinaan di suatu negara mampet. Karena bagaimanapun, pembinaan jauh lebih baik daripada naturalisasi. Apakah mencari bakat itu sulit?

Dalam konteks Indonesia, mencari bakat dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote bukan perkara rumit. Tinggal bagaimana mengembangkannya saja. Sebab mencari talenta dan mengembangkan talenta, itu dua hal yang berbeda.

Jika pembinaan dilakukan dengan baik, kesempatan bagi talenta dalam negeri tentu akan terbuka. Berbeda halnya andai proyek naturalisasi digencarkan. Nah, pertanyaannya apakah pembinaan pemain di Indonesia sudah cukup baik?

Rasanya kok belum, karena kalaupun iya, Shin Tae-yong mungkin tidak akan mencari pemain di luar negeri. Dan mantan pelatih Timnas U-19, Indra Sjafri dulu juga tidak perlu blusukan mencari pemain.

Seandainya pembinaan pemain di Indonesia cukup baik, itu juga tidak bisa menjamin kualitasnya bagus. Apalagi kalau kompetisinya masih sekelas tarkam.

Sumber referensi: fandom.id, okezone.com, genpi.co, panditfootball.com, kontekstual.com

Apa Yang Membuat Trio Casemiro Kroos Modric Begitu Ganas di Madrid?

Ketika FC Barcelona sedang sangat terpuruk, dan Atletico Madrid tengah berjalan ke arah kemerosotan, Real Madrid tidak. Los Galacticos masih tetap konsisten menjadi tim yang garang lagi perkasa. Diam-diam Real Madrid bahkan mampu merangsek ke pucuk klasemen La Liga.

Tak seperti Blaugrana, pergantian pelatih di kubu Real Madrid tidak mempengaruhi apa-apa. Ancelotti yang menggantikan Zinedine Zidane justru seolah membuat performa Los Merengues jauh dari kata terpuruk. Terutama para pemain andalan mereka yang menjadi mesin penggerak tim.

Mesin itu salah satunya ada dalam diri trio lini tengah mereka: Casemiro, Toni Kroos dan Luka Modric. Peran mereka pun sampai di era sekarang makin tak tergantikan. Walaupun ketiganya bukan pada usia yang masih muda. Pertanyaanya, mau sampai kapan trio ini bertahan? Apa yang membuat mereka begitu ganas di lini tengah El Real?

Terbentuknya Trio Casemiro Kroos Modric

Toni Kroos, Luka Modric, dan Casemiro pertama kali memulai debut sebagai trio pada pertandingan pada tanggal 4 Oktober 2015. Ketika itu Real Madrid mengunjungi stadion Vicente Calderon dalam Derby Madrid pertama yang dipimpin oleh Rafael Benitez. Laga itu berakhir imbang 1-1.

Trio Casemiro-Kroos-Modric tidak serta-merta bergabung secara bersamaan ketika itu. Modric lebih dulu datang di Bernabeu pada tahun 2012 ketika dia masih berduet dengan Xabi Alonso.

Kemudian Toni Kroos datang dari Bayern Munchen pada tahun 2014. Kedatangan Kroos di Madrid diiringi kepindahan Xabi Alonso ke Bayern. Modric dan Kroos pun berduet sejak itu.

Yang terakhir pada 2015 datanglah seorang Casemiro, gelandang bertahan yang kembali ke Bernabeu setelah sempat bermain bagi Madrid pada 2013, namun dipinjamkan ke Porto.

Tahun awal debut trio tersebut memang tidak terlalu mentereng. Di bawah Benitez, trio ini sempat dirombak beberapa kali. Sampai dengan kedatangan Zinedine Zidane yang menggantikan Benitez pada waktu itu.

Trio Casemiro-Kroos-Modric dibawah Zidane juga awalnya tidak berjalan dengan lancar. Skema pemilihan taktik Zidane menjadi adaptasi tersendiri bagi mereka ketika itu.

Skema Taktik Real Madrid

Taktik Zidane di Real madrid pada awal musim 2015/2016 mengadaptasi pakem 4-3-3 atau bisa jadi 4-2-3-1 dengan trio gelandang dan trio lini serang.

Sorotan ketika itu ada pada trio lini depan mereka yakni BBC (Bale, Benzema dan Cristiano Ronaldo). Sementara, trio lini tengah mereka jarang mendapat sorotan, walaupun jika menilik peran trio gelandang Madrid ketika itu, pos itulah yang sebenarnya vital dan menjadi kunci permainan Zidane ketika membangun serangan.

Bermain simpel dengan sirkulasi bola cepat serta pressing tinggi mampu dilakukan trio gelandang itu dengan efektif. Format 3 gelandang Zidane tentu berbeda fungsi antara satu dengan yang lainya.

Casemiro sering difungsikan sebagai gelandang bertahan pelindung center back/back four. keberadaan dia bertugas menjaga kedalaman dan mengcover area Modric di sisi kanan dan Kroos di sisi kiri.

Jarak Casemiro dengan Kroos dan Modric selalu dekat. Hal ini diperlukan untuk cover posisi Kroos dan Modric, sehingga Kroos dan Modric bisa masuk ke posisi di mana dia bisa beroperasi tanpa banyak tekanan dari lawan.

Toni Kroos yang berada di sisi kiri sering melebar menutup celah flank dan membuat triangle ketika menyerang bersama bek kiri dan sayap kiri.

Daya jelajah Kroos mencakup hampir seluruh lapangan untuk meminta bola baik itu ke kanan maupun ke belakang. Kroos memakai dan memainkan peran ‘nomor 8’ untuk Real Madrid.

Dengan atau tanpa Luka Modric, umpan progresifnya tidak terbatas, baik itu umpan vertikal ke sayap kiri atau bek kiri.

Kroos dimanfaatkan Zidane dan Ancelotti untuk mencari kelebihan di sebelah kiri dan mengalihkan permainan secara cepat ke tengah maupun kanan. Kroos juga dimanfaatkan untuk mencari ruang kosong lawan bersama Modric.

Di sisi lain, saat Modric menutupi sisi kanan lini tengah, ia adalah target untuk umpan Kroos. Kroos dan Modric adalah duo metronom yang sangat cair dalam permainan. Daya jelajah keduanya tinggi dan pandai memanfaatkan ruang dengan akurasi umpan yang tinggi.

Aliran umpan dari ketiga trio gelandang Madrid sering mampu diselesaikan dengan baik oleh trio yang memiliki kecepatan dan finishing yang baik di depan.

Ketika bertahan trio gelandang Madrid sering jemput bola ketika di pressing lawan, tidak terlalu lama pegang bola, serta akurasi umpan mereka bertiga ampuh untuk skema counter attack setelah bertahan.

Prestasi Trio Casemiro, Kroos dan Modric

Taktik sesimpel itu yang dilakukan Zidane. Dengan memanfaatkan skill individu dan intelegensi mereka bertiga membuat mesin Madrid selalu berjalan mulus. Sampai akhirnya berbuah berbagai gelar di La Liga maupun tiga kali berturut di Liga Champions, empat kali Piala Dunia Antarklub FIFA dan tiga Piala Super UEFA.

Umumnya, ketika trio ini berada di lapangan pada saat yang bersamaan, para bek, winger dan striker tidak perlu cemas aliran bola tidak berjalan. Mereka memiliki koordinasi yang baik dalam permainan. Bahkan, Kroos Modric Casemiro sering dijuluki sebagai trio gelandang terbaik di dunia abad ini.

Kehilangan salah satu dari trio gelandang tersebut mungkin berdampak pada kurangnya performa. Meskipun menang dalam pertandingan, tapi ketergantungan itu akan kentara. Silih berganti peran trio itu di backup oleh Kovacic, Odegaard, Isco, Valverde hingga kini Camavinga.

Ketika era sepeninggal Zidane dan beralih pada Lopetegui dan Solari, peran trio Casemiro-Kroos-Modric tidak seefektif ketika di bawah Zidane. Lopetegui dan Solari sama-sama tidak bisa memanfaatkan skill individu trio tersebut ke dalam racikan taktiknya.

Hasilnya pun buruk, Real Madrid bahkan selalu gagal masuk babak teratas Liga Champions, ketika pada 2018 digugurkan oleh Ajax, dan di 2019 digugurkan oleh Manchester City.

Sampai pada kembalinya Zidane pada musim 2019/2020. Zidane kembali menghidupkan peran trio gelandang Real Madrid yang sempat menurun. Zidane tetap memakai kekuatan pada poros tiga gelandang dan tiga penyerang. Performa dan mental para pemain Real Madrid seketika meningkat dan berbuah kekonsistenan dan keefektifan dalam bermain.

Hasilnya, mereka mampu meraih kembali gelar La Liga. Namun nasib berbeda dialami Madrid ketika itu di Liga Champions. Mereka terhenti di babak semifinal oleh Chelsea. Trio Modric-Casemiro-Kroos ketika itu tak sanggup melawan kedigdayaan gelandang Chelsea seperti Kante, Jorginho, dan Kovacic.

Muncul keraguan setelah hasil minor tersebut. Trio dianggap sudah habis begitu pula Zidane dengan format tiga gelandangnya. Benar saja, Zidane tak lama setelah itu meninggalkan Madrid dan digantikan oleh Carlo Ancelotti yang dipanggil kembali melatih Real madrid.

Melihat Real Madrid era Ancelotti seketika flashback di musim ketika Ancelotti sukses merengkuh titel “La Decima” Real Madrid. Format tiga gelandang dan tiga penyerang masih dipertahankan Ancelotti meskipun sesekali Ancelotti memakai 4-4-2.

Pakem formasi Ancelotti di Madrid kali ini tetap berfokus pada trio Casemiro, Modric dan Kroos, sesekali diganti oleh Camavinga, Isco maupun Valverde.

Penambahan muka baru seperti Alaba, dan mulai moncernya Vinicius membuat tugas trio Casemiro, Modric dan Kroos semakin tertolong. Nampaknya kepiawaian dan pengalaman serta mental Ancelotti yang diterapkan pada setiap pemainya membuat kapasitas skill individu pemain dapat meningkat.

Trio Casemiro, Kroos, Modric di era baru Ancelotti seperti hidup kembali. Tidak terlihat mereka seperti pemain yang sudah berumur dan habis. Meskipun di dalam permainan faktor umur juga tidak bisa bohong.

Bukan tidak mungkin trio gelandang Madrid itu akan merengkuh banyak trophy tahun ini. Akan tetapi regenerasi di tubuh Madrid harus siap, ketika trio itu sudah tidak berjalan, atau salah satunya ada yang pindah atau bahkan pensiun.

Sumber Referensi : 24ssport, marca, therealchamps, managingmadrid

Kisah Eksodus Pemain Prancis di Newcastle United

0

Sejak dikuasai konglomerat dari Arab Saudi, perbincangan soal Newcastle United jadi makin menarik. Apalagi soal transfernya. Namun, jauh sebelum itu terjadi, sebetulnya The Magpies punya sejarah transfer yang cukup unik.

Newcastle United sempat dijuluki sebagai “Revolusi Perancis” artinya banyak pemain berkebangsaan Perancis dan berbahasa Prancis yang didatangkan Newcastle selama musim 2010/2011 sampai 2015/2016

Melihat kebijakan transfer “Revolusi Perancis” tersebut memang mengejutkan publik Inggris. Lantas siapa yang ada di balik kebijakan transfer tersebut? Siapa saja pemain asal Perancis yang datang pada waktu itu?

Newcastle musim 2010/2011-2015/2016

Musim 2010/2011 adalah musim yang menandai kembalinya Newcastle di kancah Premier League di bawah pelatih Chris Hutton. Dalam perjalanannya, Hutton dipecat pada pertengahan musim dan digantikan oleh Alan Pardew.

Di bawah Pardew, Newcastle mendapatkan suntikan peminjaman pemain asal Marseille, Hatem Ben Arfa. Hatem Ben Arfa merupakan pemain rekrutan pertama asal Perancis ketika itu. Pardew dan Newcastle saat itu finish di papan tengah klasemen yakni di peringkat 12 Premier League.

Menyongsong musim baru bersama Pardew pada 2011/2012, Newcastle kembali kedatangan amunisi baru dari negeri menara Eiffel. Di musim itu terdapat beberapa pemain Perancis yang datang seperti Yohan Cabaye dari Lille, Sylvain Marveaux dari Rennes, dan Gabriel Obertan dari Manchester United. Tidak ketinggalan kedatangan andalan duet lini depan mereka musim itu, Demba Ba dan Papise Cisse yang berkewarganegaraan Senegal akan tetapi mempunyai darah Perancis.

Pada musim keduanya di Premier League setelah promosi, Newcastle mampu mengejutkan publik Inggris dengan menempati posisi 5 klasemen dan mampu menembus Liga Eropa. Sebuah prestasi tersendiri bagi klub dan Pardew.

Pada musim 2012/2013, Pardew kembali dipertahankan tentu suntikan dana untuk kembali menambah amunisi Newcastle yang ketika itu juga berkompetisi di Liga Eropa.

Musim ketiga bagi Pardew di Newcastle ini menandai banyaknya pemain asal Prancis yang berbondong-bondong datang ke Newcastle.

Mereka yang didatangkan diantaranya Mapou Yanga Mbiwa dari Montpellier, Mathieu Debuchy dari Lille, Amadou Haidara dari As Nancy, Romain Amalfitano dari Reims, Moussa Sissoko dari Toulouse, dan Yoann Gouffran dari Bordeaux.

Beberapa pemain yang datang melengkapi pasukan Perancis yang ada sebelumnya. Bahkan Pardew pernah memainkan starting eleven Newcastle dengan 8 pemain asal Prancis sekaligus di dalamnya.

Meskipun terdapat banyak pemain Prancis dan keturunan yang ada di Newcastle, sayangnya tidak mampu membawa banyak prestasi pada musim itu. Newcastle finish di peringkat 16 klasemen di akhir musim. Sedangkan di kompetisi Eropa mereka mampu merangsek hingga babak perempat final Europa League.

Pada musim 2013/2014, kembali pasukan Pardew dan amunisi pemain Prancis-nya mampu dipertahankan. Ada satu pemain yang datang ketika itu dari Perancis bernama Loic Remy. Striker asal Perancis itu didatangkan dari Queens Park Rangers berstatus pinjaman selama satu musim.

Kiprah Loic Remy moncer ketika itu, dengan menjadi top skor tim dengan 14 gol. Newcastle di musim itu mampu berubah secara permainan dan kekompakan tim seiring dengan banyaknya pemain Prancis yang lama bermain. Newcastle finish di urutan 10 klasemen artinya lebih baik dari musim sebelumnya.

Memasuki musim 2014/2015, Newcastle mempersiapkan tim yang lebih kompetitif lagi, mengingat mereka mampu menembus Eropa pada dua tahun sebelumnya. Hal itu tampaknya menjadi target tersendiri bagi Newcastle.

Newcastle kembali kedatangan pemain dari Prancis lainnya, yakni striker Emmanuel Riviere dari Monaco, dan gelandang Remy Cabella dari Montpellier.

Akan tetapi, pada musim itu Newcastle banyak kehilangan pemain yang diincar klub-klub besar, sebagai contoh Yanga Mbiwa yang dibeli AS Roma, Debuchy yang dibeli Arsenal, juga Amalfitano dan Ben Arfa yang memutuskan kembali ke klub Liga Prancis.

Di tengah musim juga menyusul pelatih mereka, Alan Pardew yang didepak setelah rentetan hasil buruk Newcastle, dan digantikan oleh John Carter sebagai pelatih sementara. Pada musim itu Newcastle hanya mampu duduk di posisi 15 klasemen, hampir terdegradasi.

Musim berikutnya 2015/2016 adalah musim yang nahas bagi Newcastle, mereka di musim ini mengalami kegagalan yang luar biasa di bawah pelatih Steve McClaren, sebelum digantikan oleh Rafael Benitez menjelang akhir musim.

Ketika itu Newcastle terpuruk di papan 18 klasemen dan mengalami degradasi ke Championship.

Pemain pemain asal Perancis pun banyak yang pergi seperti Obertan, Cabella, Sissoko, dan Marveaux. Akan tetapi kembali lagi dua rekrutan anyar Newcastle asal Perancis datang ke Newcastle pada musim itu, yakni Florian Thauvin dari Marseille, dan Henry Saivet dari Bordeaux.

Tak perlu berselang lama, setahun di Divisi Championship musim 2016/2017, Newcastle langsung mampu promosi di musim berikutnya 2017/2018 lewat tangan dingin Rafael Benitez.

Kembalinya Newcastle ke Premier League ditandai dengan banyaknya pemain asal Perancis yang kembali pergi meninggalkan Newcastle. Mereka diantaranya adalah Gouffran, Riviere, dan Thauvin. Meskipun ketika itu mendapatkan pemain baru asal Perancis lainnya Florian Lejeune dari Eibar.

Beberapa pemain Prancis pun perlahan menghilang seiring dengan kebijakan yang berubah pula dari direktur teknik dan pemilik mereka. Banyak pemain dari Spanyol yang didatangkan tentu sesuai kemauan pelatih Rafael Benitez yang juga berasal dari Spanyol seperti transfer Ayoze Perez, Joselu, Manquillo ataupun Mikel Merino.

Di balik eksodus pemain asal Perancis selama beberapa tahun yang terjadi di Newcastle, memang tidak jauh dari andil kolaborasi pemilik dengan kepala pencari bakat Newcastle, Mike Ashley dan Graham Carr.

Faktor Pemilik dan Direktur Teknik

Graham Carr adalah mantan pesepakbola Inggris yang kini aktif sebagai kepala pencari bakat sebuah klub. Ia telah membangun reputasi yang baik sebagai pencari bakat untuk Tottenham Hotspur dibawah David Pleat.

Pada bulan Februari 2010, ia meninggalkan Spurs untuk bergabung dengan Newcastle United sebagai kepala pencari bakat mereka setelah masa pemerintahan Dennis Wise habis.

Visi yang sama dengan sang pemilik Mike Ashley mudah bagi Carr untuk beradaptasi. Masuknya pemain asing khususnya Prancis dimaksudkan untuk memenuhi visi Mike Ashley menciptakan “Arsenal upon Tyne”. Ketika itu banyak rekrutan berhasil Arsenal banyak dari Perancis seperti Wiltord, Pires, Petit, Vieira, sampai Thierry Henry.

Menurut Ashley, cara Arsene Wenger dan Arsenal melihat pasar transfer di Prancis, membuat Carr yang bekerja sama dengan Pardew pun disuruh menirunya.

Terlebih hal itu juga berkaitan dengan finansial. Salah satu keuntungan merekrut dari Prancis adalah bahwa upah pemain asal Ligue 1 Prancis relatif rendah, sehingga memungkinkan Ashley untuk melanjutkan perjuangannya melawan biaya, sekaligus pemborosan di St James’ Park.

“Pasar Prancis memang bagus pada saat itu, jujur bagi saya itu menjadi seperti klub lokal saya sendiri. Saya bisa pergi ke mana saja di Perancis dengan sangat cepat dan mungkin lebih mudah, saya sangat cinta Perancis dan saya merasa seperti bagian dari warga Perancis,” kata Graham Carr.

Bakat pemain muda Prancis yang dikombinasikan dengan faktor ekonomi, untuk Ashley adalah tujuan utamanya. Menurut Graham Carr, Mike Ashley menyukai jenis kesepakatan seperti biaya transfernya yang murah, gaji pemain yang rendah, dan pemain yang dibeli potensial untuk dijual dengan harga tinggi.

Secara tidak langsung kebijakan Ashley dan Carr memberikan keuntungan baik itu finansial maupun citra brand Newcastle itu sendiri di Perancis.

Wartawan Prancis telah diberikan akses bebas yang hampir belum pernah terjadi sebelumnya di Newcastle. Sebagai akibatnya rakyat Perancis banyak menikmati liputan media tentang Newcastle dan bisa menikmati permainan para pemain Prancis berkumpul dalam satu tim di match di Premier League. Banyak ketika itu pertandingan Newcastle yang sering ditayangkan langsung di televisi Prancis.

Dari sudut pandang bisnis Ashley, investasi dalam membayar tim media Newcastle untuk mengambil hati para warga Prancis telah membuahkan hasil.

Akan tetapi, tidak serta merta kebijakan “Revolusi Prancis” selama lima tahun itu tidak mengalami komentar dan kritik, seperti halnya yang datang dari legenda mereka, Alan Shearer.

Shearer khawatir itu bisa berdampak negatif jika kebijakan “Revolusi Prancis” itu bertentangan dengan kemauan tim pelatih, Pardew.

“Jika hal-hal mulai bertentangan dengan Anda, maka konflik konflik kecil akan muncul di ruang ganti. Saya tidak berpikir itu sebagai hal yang sehat untuk memiliki terlalu banyak pemain Prancis di satu ruang ganti. Saya juga tahu Arsenal memiliki banyak pemain Prancis dan kemudian sukses. Tapi saya tidak melihat Newcastle sesukses itu,” kata Shearer.

Kritik lain datang dari Gérard Houllier, mantan manajer Prancis dan Liverpool. Ia memperingatkan bahwa kedatangan begitu banyak pemain Prancis di ruang ganti dapat “merugikan” semangat tim dengan percikan konflik. Sebagai contoh ada preseden yang tidak menguntungkan di Barcelona dimana perekrutan banyak pemain Belanda oleh Louis van Gaal memicu keretakan besar di akhir 1990-an.

Pola “Revolusi Prancis “ yang dilakukan oleh Mike Ashley dan Graham Carr termasuk sukses dengan menghadirkan eksodus pemain yang berasal dari satu negara berkumpul pada sebuah klub.

Di masa sekarang, kita melihat pola itu ada dalam diri tim seperti Wolverhampton Wanderers yang berisikan banyak sekali pemain dari Portugal.

Mungkinkah kebijakan “Revolusi Perancis” yang pernah dilakukan Newcastle ini akan ditiru oleh pemilik baru Newcastle yang sekarang? Mengingat Newcastle sekarang mempunyai banyak uang untuk mendatangkan banyak pemain baru, patut untuk ditunggu.

https://youtu.be/CfQ-GgNa2UI

Sumber Referensi : chroniclelive, theguardian, bbc