Beranda blog Halaman 601

Mengapa Taisei Marukawa Mau Gabung Persebaya?

0

Taisei Marukawa adalah salah satu pemain asing yang baru pertama kali menjajal bermain di Liga Indonesia. Ia bergabung dengan Persebaya pada awal musim 2021/2022 dari klub Liga Latvia, Noah Jurmala dengan status bebas transfer.

Meski baru pertama kali bermain di Indonesia, Taisei tak kesulitan untuk beradaptasi dengan pola permainan sepak bola Indonesia. Terbukti, Taisei Marukawa selalu menjadi andalan Aji Santoso di setiap laga yang dimainkan Persebaya.

Pria berusia 25 tahun itu langsung tampil nyetel bersama Bajul Ijo. Taisei Marukawa tak pernah henti membuat pendukung Persebaya dan pecinta sepak bola Tanah Air takjub pada penampilannya di lapangan hijau.

Yang jadi pertanyaan, mengapa ketika pemain muda Indonesia justru didorong untuk bermain keluar negeri, sedangkan seorang Taisei yang berasal dari negeri sepak bola terbaik di Asia, justru mendarat di Persebaya yang berada di liga yang kualitasnya 180 derajat berbeda dari Jepang? 

Karier Taisei Marukawa Sebelum ke Persebaya

Sebetulnya Taisei tidak tertarik untuk berkarier secara profesional di dunia sepak bola. Semasa kecil, Taisei Marukawa hanya menjadikan sepak bola tak lebih dari sekedar hobi.

Ia sama sekali tak pernah membayangkan bahwa sepak bola akan menjadi bagian penting dalam hidupnya. Namun, beranjak dewasa, ia merasa ingin memilih karier sebagai pemain sepak bola profesional.

Sebelum menempuh karier sepak bola profesional seperti sekarang, Taisei Marukawa sempat menimba pendidikan formal di Hiroshima Minami High School, dan Chuo University di Jepang. Di sanalah Taisei mulai serius mengembangkan kemampuan olah bola.

Setelah lulus dari Chuo University Taisei langsung merantau ke Malta untuk mengembangkan bakat sebagai pemain sepak bola profesional. Di usianya ke 22 tahun, Senglea Athletic FC jadi klub profesional pertama Taisei Marukawa. Kala itu Senglea Athletic berlaga di Divisi Kedua Liga Malta.

Dua musim membela Senglea Athletic, pada tahun 2020 Taisei bergabung dengan klub Divisi Utama Liga Malta, Valletta FC. Bersama Valletta FC, Taisei tak begitu banyak mendapat menit bermain. Namun, Pemain berposisi sebagai gelandang serang itu sempat mencicipi kompetisi Europa League meski hanya di tahap kualifikasi. 

Nah, sebelum bermain untuk Persebaya Surabaya, Taisei sempat bergabung dengan Noah Jurmala, klub Liga Latvia. Namun, ia tak pernah mendapat menit bermain.

Mengapa Tidak Berkarier di Jepang?

Mengapa Taisei Marukawa tidak bermain di Jepang saja, ketimbang ke liga yang penuh jokes stand up comedy?

Ada beberapa alasan yang boleh jadi mendasari Taisei tidak pernah mencicipi kompetisi di Liga Jepang. Salah satunya karena Taisei tak mau sepenuhnya memasrahkan hidupnya hanya untuk sepak bola.

Ia juga paham betul pentingnya pendidikan formal di Jepang, hal itu ditunjukan Taisei kala memulai kariernya di dunia sepak bola. Ibarat sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, Taisei lebih memilih untuk menekuni sepak bola sambil menempuh pendidikan formal, daripada fokus mengembangkan skill olah bola bersama klub-klub junior di Jepang.

Hal tersebut juga menyebabkan Taisei harus pandai-pandai dalam membagi waktu antara pendidikan dan sepak bola. Terlebih saat Taisei menempuh pendidikan di tingkat universitas. Ia menghabiskan empat tahun lamanya di Chuo University. 

Waktu empat tahun bukanlah waktu yang sebentar. Taisei Marukawa dirasa terlambat untuk memasuki level sepak bola profesional di Liga Jepang. Jika Taisei lebih memilih fokus bermain bola, mungkin ia bisa memiliki pengalaman lebih di sepak bola Jepang.

Faktor lain yang mungkin menjadi penyebab Taisei Marukawa tak pernah merumput di kompetisi Liga Jepang adalah standar kualitas Liga Jepang itu sendiri. Taisei yang memasuki sepak bola profesional di usia yang agak terlambat, itu akan menimbulkan gap antara Taisei dan kualitas pemain Liga Jepang.

Taisei yang hanya menimba ilmu sepak bola di dunia sekolah rasanya belum cukup untuk bersaing dengan pemain-pemain Jepang lain. Karena kita ketahui bersama persaingan di Liga Jepang itu cukup alot dan fasenya itu tidak sebentar, belum lagi harus bersaing dengan para pemain asing dari Eropa atau Amerika Latin.  

Kenapa Taisei Marukawa Memilih Persebaya?

Beda dengan Liga Jepang, persaingan di Liga Indonesia dirasa lebih masuk akal bagi Taisei Marukawa. Pasalnya level Liga Indonesia cukup jauh apabila dibandingkan dengan liga-liga di Asia seperti Jepang. Untuk masuknya pun tidak ribet, tidak ada kriteria khusus, dan jenjang-jenjang yang merepotkan.

Status Taisei sebagai pemain asing pun derajatnya dianggap lebih tinggi dari para pemain lokal. Jadi, apabila Taisei memilih untuk mencari pengalaman di Indonesia, itu pilihan yang tepat, sekaligus sudah pasti tidak menghuni bangku cadangan terlalu lama. 

Meskipun Taisei Marukawa tak pernah bermain di Liga Jepang. Ia cukup berpengalaman di sepak bola Eropa khususnya Liga Malta dan Latvia. Ketika masih berstatus pemain Noah Jurmala, ia ditawari oleh agennya untuk bermain di Indonesia. Lalu tawaran dari Persebaya pun datang.

Setelah mendapat tawaran tersebut, Taisei pun menghubungi Shunsuke Nakamura, rekannya yang pernah bermain di Persela Lamongan. Shunsuke Nakamura yang ini bukan legenda Jepang yang pernah bermain di Celtic itu ya, ini Nakamura yang lain lagi.

Nakamura mengatakan pada Taisei, bahwa animo masyarakat Indonesia terhadap sepak bola sangat tinggi dan atmosfer kompetisi di Liga Indonesia cukup bagus. Suporter di Indonesia sangat fanatik mendukung tim kesayangannya. Hal itulah yang akhirnya meyakinkan Taisei Marukawa untuk datang ke Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bersama Persebaya.

Selain terkenal dengan suporternya yang fanatik, klub-klub Indonesia juga terkenal memberikan gaji yang cukup besar pada pemain asing. Namun, seperti biasa, pihak Persebaya tidak mengungkapkan berapa besaran gaji yang diterima oleh Taisei.

Adaptasi yang Tak Begitu Sulit

Bila dibandingkan dengan sepak bola Eropa, beradaptasi dengan sepak bola Indonesia bukanlah hal yang sulit bagi Taisei.

Karena tak perlu waktu lama bagi Taisei Marukawa untuk menyesuaikan pola permainan Aji Santoso. Ia langsung tampil cemerlang di setiap pertandingan bersama Bajul Ijo. Selain dipasang sebagai gelandang serang, Taisei Marukawa juga sering tampil melebar sebagai pemain sayap kanan atau kiri. 

Tercatat hingga saat ini, Taisei Marukawa sudah berhasil mengemas 21 kali penampilan serta 12 gol dan bercokol di urutan keempat daftar Top Score bersaing dengan penyerang-penyerang top Liga Indonesia seperti Ilija Spasojevic dan Marko Simic.

Setelah hampir semusim penuh bergabung Bajul Ijo, Taisei Marukawa langsung mengalami kenaikan harga pasar yang sangat signifikan. Berdasarkan situs Transfermarkt, kini nilai transfer Taisei menyentuh angka Rp 6,52 Miliar. Padahal pada awal bergabung dengan Persebaya, Taisei hanya memiliki nilai transfer sebesar Rp 1,6 Miliar.

https://youtu.be/tav8NStSiFg

Sumber: Maltafootball, Transfermarkt, Sportstar, Bola

Kesempatan Kedua dan Transformasi Peran Dani Alves di Barcelona

0

Mengulang cerita manis di klub lama yang pernah dibela ketika masa jayanya, merupakan memori yang indah bagi seorang pemain sepak bola.

Kesempatan kedua seorang pemain balikan ke klub yang membesarkan namanya juga tak jarang hanya menjadikan pemain itu sebagai simbol pemanis saja.

Akan tetapi, lain halnya dengan apa yang dialami Dani Alves. Bek kanan asal Brasil ini, kini kembali ke Barcelona setelah malang melintang di berbagai klub, dan tak hanya sebagai pemain pelengkap di skuad Xavi Hernandez.

Akhirnya Kembali Lagi ke Barcelona

Dani Alves kembali ke Barcelona di usia 38 tahun, dengan status free transfer pada November 2021. Akan tetapi, Dani Alves baru bisa kembali membela Blaugrana pada Januari 2022.

Dia datang setelah mengembara bersama klub seperti Juventus, Paris Saint-Germain, dan terakhir di Sao Paulo.

Selama bersama Barcelona, Dani Alves telah memenangkan 23 trofi termasuk enam gelar liga dan tiga trofi Liga Champions sejak bergabung dari Sevilla pada tahun 2008. Ia kini bertemu kembali dengan mantan kaptennya dulu Xavi Hernandez, tapi dengan status yang berbeda.

Penandatanganan Alves merupakan yang pertama di bawah kepelatihan Xavi. Ini adalah permintaan Xavi dan manajemen untuk membangun klub di bawah kendali para senior yang bisa membimbing skuad yang didominasi para pemain muda.

Di sisi lain kembalinya Alves juga karena regulasi transfer Barcelona. Mengingat klub ini masih mengalami kesulitan keuangan. Dalam kesepakatan, Alves bersedia memotong gajinya, bahkan menjadi salah satu yang terkecil di Barca sekarang. Hal itu ia lakukan demi bisa bergabung dalam proyek Barcelona di era Xavi.

Bergabung di Barca juga menguntungkan buat Dani Alves. Sebab ia masih ingin bermain di Timnas Brasil untuk Piala Dunia 2022 nanti. Maka menit bermain sangatlah dibutuhkan untuk mencapai ke sana.

Kesempatan kedua Daniel Alves di Barcelona tentu mengundang tanya. Dengan usia yang sudah tidak muda lagi, peran yang akan diemban Alves pada kesempatan keduanya ini akan seperti apa?

Peran Baru Dani Alves Dibawah Xavi

Di bawah kendali Xavi, Barcelona diharapkan kembali memunculkan DNA Barca ketika masa kejayaannya. Para pemain ditempa dengan berbagai aturan yang digariskan oleh Xavi termasuk gaya hidup, taktik, serta tepat waktu ketika latihan. Semuanya itu bermuara pada sisi kedisiplinan tim.

Dani Alves bisa jadi role model kedisiplinan terhadap beberapa pemain muda Barca. Sebagai senior di lapangan, secara tidak langsung ia bisa memberikan teladan bagi juniornya. Mentalitas, agresi, dan kepribadiannya di ruang ganti juga diharapkan oleh Xavi.

Kedatangannya di Barca bukan tanpa saingan. Alves akan bersaing untuk posisi bek kanan dengan para pemain seperti Mingueza, Dest, maupun Sergi Roberto. Persaingan yang sehat membuat para pemain yang ada di posisi bek kanan akan lebih termotivasi demi merebut tim utama.

Alih-alih bersaing menjadi bek kanan, Xavi secara mengejutkan memberikan peran berbeda ketika di lapangan. Peran inilah jawaban atas skenario Xavi dalam memulangkan kembali Alves ke Barcelona.

Debut Dani Alves dibawah Xavi terjadi di pertandingan persahabatan melawan Boca Junior di Arab Saudi. Ketika itu peran Alves memang ditempatkan di bek kanan akan tetapi lebih dari sekadar tugas sebagai bek kanan.

Peran Dani Alves dibawah Xavi sering membantu penyerangan baik lewat tengah atau bahkan sampai kotak penalti lawan. Tak jarang, Alves ditempatkan di sektor penyerang sayap kanan seperti apa yang telah dilakukan ketika berjumpa klub Linares di Copa Del Rey.

Meski sudah uzur, Dani Alves masih memiliki sisa-sisa kekuatannya, plus daya jelajahnya yang hampir tetap seimbang baik bertahan maupun menyerang. Hal ini yang membuat kaget Xavi dan tim pelatih. Mereka terkesan tidak percaya Alves masih sebugar itu.

Sampai pada pertandingan El Clasico di semifinal Piala Super Spanyol. Alves kembali dipercaya menempati pos bek kanan. Meskipun berlangsung ketat Barca mengakui kekalahan dari tim rival ketika itu. Peran yang diemban Alves perlahan mulai kelihatan polanya.

Dari situ kita bisa menilai bahwa Xavi telah mentransformasi peran Dani Alves sebagai seorang inverted full back. Yang artinya, peran yang dijalankan Alves berbeda dengan bek sayap pada umumnya. Alves cenderung ditarik ke tengah menemani Busquets sebagai gelandang.

Peran ini membuat Barca menang jumlah atas lawan di sektor tengah ketika menyerang. Xavi memanfaatkan Alves dengan progesi serta umpan-umpan akuratnya untuk menembus ruang kosong antar lini lawan. Tidak hanya sekedar overlap menyisir sisi flank semata.

Hal yang menjadi bukti nyata berhasilnya peran Alves adalah kemenangan atas Atletico Madrid di Camp Nou pada 6 Januari 2022. Ketika itu, Alves mampu mengobrak-abrik pertahanan Atletico yang terkenal kokoh dengan menghasilkan satu assist dan satu gol.

Peran Alves sebagai inverted full back di bawah Xavi merupakan variasi kekuatan baru Barcelona musim ini. Dani Alves akan lebih sering muncul sebagai pengatur lini serang Barcelona di sektor tengah.

Sejauh ini Barca memang belum menemukan sosok pengumpan sekaligus pengatur antar lini yang sejitu Xavi dan Iniesta. Pemain seperti Pedri atau Gavi mungkin bisa mengisi pos itu di masa yang akan datang. Namun, karena usianya yang masih sangat muda mereka butuh waktu untuk bisa berkembang.

Sampai Kapan Barcelona Bergantung Pada Alves?

Seiring berjalannya waktu, tidak mungkin Xavi akan mengandalkan Dani Alves terus-menerus. Mengingat usia si pemain sudah 38 tahun.

Secara teknis permainan, Xavi juga harus mengatur dengan cerdik menit bermain Dani Alves, untuk menyesuaikan usia dan tenaganya. Salah satunya tidak mendaftarkan Dani Alves di Europa League. Selain karena faktor tadi, Xavi terbentur aturan dan harus memainkan pemain baru.

Maka Xavi lebih memilih Aubameyang, Adama Traore, dan Ferran Torres untuk bergabung dalam skuad yang didaftarkan di Europa League. Tidak dengan Dani Alves.

Akan tetapi, Xavi telah menetapkan kebijakan dan kesepakatan untuk karir Dani Alves ke depan. Xavi telah memutuskan untuk memfokuskan penuh peran Dani Alves di kompetisi domestik yakni di La Liga dan Copa Del Rey. Tujuannya agar Barca kembali meraih posisi tertinggi di La Liga setelah tertinggal cukup jauh dari sang rival, Real Madrid.

Kembalinya Dani Alves di kesempatan keduanya bersama Barca, terlepas dari kesepakatan kontrak yang hanya satu tahun, Barca sekarang harus mulai lebih berpikir jangka panjang.

Sekarang, Xavi tidak selamanya bisa mengharapkan Dani Alves untuk tampil sempurna mengingat usia dan tenaga. Xavi harus tetap bekerja keras memutar otak demi menjawab kekurangan pada pos bek kanan di masa-masa yang akan datang.

https://youtu.be/xnZ8QQw9hb8

Sumber Referensi : barcauniversal, mirror, footballtoday

Mengapa Arema FC Masih Sulit Dikalahkan?

0

Persija Jakarta nyaris memutus tren unbeaten Arema FC di gelaran BRI Liga 1. Namun, gol susah payah Marko Simic di babak pertama, hanya mampu bertahan sampai menit ke-56. Sebab semenit berselang, Carlos Fortes menyelamatkan Arema FC dari kekalahan.

Sang kapten sekaligus full back andalan Arema, Johan Farizi sanggup memanfaatkan kesalahan fatal pemain belakang Persija, untuk langsung mengirim umpan akurat ke Fortes.

Rohit Chand yang dekat dengan Fortes tak kuasa memutus umpan tersebut. Fortes mengontrol bola untuk mencetak gol ke gawang Adixi Lenzivio lewat tendangan salto. Gol itu menyelamatkan muka Arema FC.

Hasil imbang kontra Persija pada 5 Februari itu, menggenapi rekor unbeaten Arema di 20 pertandingan terakhir. Sekaligus mengokohkan kesaktian Arema FC. Kehebatan Arema sampai pertandingan lawan Persija belum ada obatnya.

Klub-klub besar di BRI Liga 1, juga semuanya angkat tangan. Persib Bandung sudah lebih dulu dihajar Arema. Bhayangkara dengan Paul Munster-nya juga menelan kekalahan atas Singo Edan. Sementara Bali United, Persebaya, dan PSIS hanya diberi sedekah satu poin.

Terhitung sejak BRI Liga 1 digelar sampai 5 Februari, Arema FC baru sekali menelan kekalahan, ketika Singo Edan takluk 1-2 atas PSS Sleman di pertandingan ketiga. Hal itu jelas bikin penasaran, kini mengapa Arema FC masih sulit dikalahkan?

Kepercayaan Diri Almeida

Sebelum menjawab pertanyaan tadi, perlu diingat bahwa Arema FC bukanlah klub kemarin sore. Singo Edan sudah banyak makan asam garam kompetisi dalam negeri. Kemarin saja, sebelum liga dimulai, Arema FC gagal total di Piala Menpora 2021.

Dari tiga pertandingan di Grup A Piala Menpora, Arema hanya meraih satu poin. Raihan itu membuat Singo Edan berada di posisi juru kunci, dan memaksa mereka mandi lebih cepat di Piala Menpora 2021.

Namun, penampilan buruk tak mau dilanjutkan Arema. Dan benar saja, usai Piala Menpora tuntas, manajemen Arema melakukan perombakan di sana-sini.

Arema mulai tak mau membuang duit percuma untuk memperpanjang kontrak pemain mubazir, seperti Caio Ruan dan Bruno Smith. Selain merombak skuad, Arema juga bergerak cepat mencari pelatih baru. Muncul nama Eduardo Arroja Almeida.

Pelatih berpaspor Portugal itu dipercaya manajemen untuk mendongkrak performa Singo Edan, sekaligus bersaing dengan klub-klub “siluman”.

Penunjukkan Almeida awalnya penuh rasa pesimistis, walaupun ia bukan orang baru di sepak bola dalam negeri. Akan tetapi, reputasinya selama melatih tim sebelumnya, Semen Padang tak cukup mengilap.

Kabau Sirah hanya sanggup menang 5 kali, imbang 5 kali, dan kalah 6 kali saat dilatih Almeida. Menurut data dari Transfermarkt, poin per game Almeida di Semen Padang hanya 1,25.

Hal itu langsung terbukti di tiga laga perdana Arema di BRI Liga 1. Singo Edan gagal memetik satu pun kemenangan. Tulisan Zain di TheFlanker pun menyebut, Almeida sampai mendapat tekanan dan sinyal pemecatan pun muncul.

Beruntungnya, Almeida punya stok kepercayaan diri yang berlimpah. Ia tak menganggap itu sebagai tekanan. Di sinilah titik poinnya. Bekerja secara profesional dan penuh kepercayaan diri, jelas akan memudahkan segalanya.

Apalagi manajemen Arema FC juga masih percaya terhadap Almeida. Kepercayaan diri Almeida, plus manajemen Arema yang turut memercayainya adalah ramuan mujarab untuk meningkatkan performa Arema FC.

Kepercayaan itu langsung terjawab lewat penampilan mengesankan Arema usai kalah di pertandingan ketiga. Dari situ, Arema melaju mulus tanpa sekalipun mengecap pahitnya kekalahan.

Percaya diri dan kepercayaan penuh yang Almeida terima dari manajemen Arema, jelas membuat kualitas dirinya makin canggih. Poin per game Almeida pun meningkat menjadi 2,09 selama menukangi Singo Edan.

Kedalaman Skuad

Terlalu rendah hati rasanya kalau hanya karena kepercayaan pelatih dan manajemen yang membuat Arema sulit dikalahkan. Apalagi Arema ini termasuk salah satu Big Six di BRI Liga 1 yang memiliki kedalaman skuad.

Lini tengah, belakang, depan, bahkan kiper pun semua lengkap. Kita tentu sepakat kalau Carlos Fortes menjadi tumpuan Arema di depan, tapi Almeida masih punya pemain lain.

Opsinya masih ada tiga pemain depan level Tim Nasional seperti Dedik Setiawan, Kushedya Hari Yudo, dan Muhammad Rafli. Perkara kualitas mencetak golnya tak lebih baik dari Fortes, itu bisa diurus belakangan.

Di lini tengah, Almeida tinggal milih karena semua punya kualitas. Seperti Rizky Dwi, Ridwan Tawainella, Renshi Yamaguchi, Sandi Darma Sute, Jayus Hariono, dan silakan Aremania menyebutkan sisanya.

Untuk mendukung skemanya yang cenderung bertahan, Almeida punya banyak opsi di lini belakang. Bagas Adi, Sergio Silva, Hanif Sjahbandi, Fabiano Beltrame, Achmad Figo, sampai sang kapten, Johan Farizi kerap diandalkan Almeida.

Almeida juga nggak bakal pusing andai kiper andalannya, Adilson Maringa tak dapat bermain. Sebab, Arema masih punya cadangan kiper lokal seperti Teguh Amiruddin. Statistik Teguh juga lumayan sebagai pengganti Maringa.

Sampai laga melawan Persija, meski hanya memiliki 4 caps, Teguh sudah melakukan 12 kali penyelamatan. Artinya, rata-rata Teguh paling sedikit melakukan 3 save dalam satu pertandingan.

Pertahanan Kokoh dan Solid

Kinerja bagus kiper Arema tentu saja makin mengokohkan pertahanan mereka. Maringa sendiri sudah melakukan 48 penyelamatan dari 20 caps bersama Arema sejak BRI Liga 1 2021/22 bergulir.

Teguh yang menjadi pengganti Adilson Maringa pun kemampuannya tak jauh berbeda. Dengan begitu, dari segi kiper, Almeida masih cukup aman. Terutama untuk skema bertahan miliknya.

Mengingat Almeida adalah tipe pelatih yang menyukai pola bertahan ketat, dengan 4-4-2. Ia selalu menjaga kedalaman agar Arema tak mudah dibobol, sambil tetap mencari celah untuk melakukan serangan balik cepat.

Untuk memuluskan jalan ke situ, Almeida pun memiliki materi pemain belakang yang bisa membuat lawan frustasi. Bukan cuma ketika menyerang, tapi juga saat terkena terkaman balik Singo Edan.

Bagas Adi dan Sergio Silva selama ini menjadi andalan Almeida di posisi bek tengah. Keduanya rajin melakukan intersep. Sergio memiliki rata-rata intersep 5,24 dari 21 caps di BRI Liga 1 musim ini, sedangkan Bagas mempunyai rata-rata intersep 2,91 dari 22 caps.

Pertahanan Arema tidak hanya kokoh, tapi juga solid. Selain membendung serangan, sektor belakang ini juga turut aktif membantu serangan, terutama dua full back mereka.

Kita sulit memprediksi siapa yang bakal dijadikan full back oleh Almeida. Kadang Diego Michiels, Hanif Sjahbandi, Johan Farizi, atau yang lainnya. Kendati demikian, perannya jelas: bertahan dan aktif ketika transisi menyerang.

Dari sekian pilihan full back itu, yang menonjol tentu saja sang kapten, Johan Farizi. Ia beberapa kali ditempatkan di full back kiri, terutama ketika Almeida menerapkan skema 4-3-3 belakangan ini.

Dalam skema 4-3-3, Johan Farizi ini lebih sering aktif melakukan overlap. Ia melakukan intersep untuk kemudian merangsek dari sisi lapangan, sebelum akhirnya mengirim umpan.

Tak ayal kalau ia membubuhkan dua gol dan satu assist dari 23 caps. Farizi juga mencatat rata-rata intersep 3,57 dari 23 penampilannya itu.

Peran Fortes

Soal penyerangan, peran Fortes yang paling menonjol di skuad Arema. Tanpa Fortes, Arema mungkin akan kesulitan ketika menyerang.

Pria yang pernah satu tim dengan Bruno Fernandes di Timnas Portugal U-20 itu, belakangan ini tengah mengganas. Ia kerap kali jadi penentu kemenangan maupun penyelamat Arema.

Sampai 5 Februari, Carlos Fortes sudah menyumbang 12 gol dan 2 assist. Jumlah tersebut bakal bertambah, apalagi Fortes selalu menjadi pilihan utama saat pemain level Timnas seperti Dedik masih belum tahu caranya mencetak gol.

Carlos Fortes yang ulet menjelma sebagai predator paling berbahaya dari Arema. Ia tak pernah capek untuk memburu bola, mencari ruang, dan memberikan keleluasaan bagi rekannya untuk mengirim umpan saat menyerang.

Ia bisa jadi lebih ganas kalau Arema memiliki pemain nomor 10 yang bagus. Namun kenyataannya, tanpa itu pun Fortes tetap trengginas dan Arema masih sulit dikalahkan.

https://youtu.be/bRlMuI2y96Q

Sumber referensi: theflanker.id, lapangbola.com, transfermarkt.co.id, Twitter Ilhamzada

Mengapa Ada Beberapa Klub Serie A Memakai Lambang “Scudetto”?

0

Apabila kita melihat jersey yang dipakai oleh para pesepakbola saat bertanding di kompetisi tertentu, seringkali kita menjumpai lambang selain logo klub dan logo apparel sponsor dari klub tersebut.

Contohnya seperti yang ada di Serie A, kita bisa menemukan lambang berbentuk perisai kecil berwarna sama dengan bendera negara Italia, yang tersemat di bagian dada baju tanding Inter Milan musim ini. Lambang tersebut dipasang sebagai penanda bahwa Nerazzurri telah menjuarai Liga Italia pada musim sebelumnya. Lambang tersebut bernama scudetto.

Sebenarnya bukan hanya Inter saja yang pernah memakai lambang kehormatan tersebut, sebelumnya ada Juventus yang sudah memakai lambang tersebut selama sembilan tahun lamanya. Selain kedua klub tersebut, sejatinya sudah banyak klub Serie A yang pernah mendapatkan lambang kehormatan tersebut seperti AC Milan, Roma, hingga Torino.

Namun, sebenarnya apa makna dan bagaimana asal-usul lambang scudetto yang dipakai oleh para klub Serie A itu?

Asal-Usul Scudetto

Menurut media Italia, Fokus.it, scudetto merupakan badge atau lambang kehormatan bagi tim juara bertahan kompetisi level tertinggi Italia. Lambang tersebut dulunya dibuat oleh tokoh sastra Italia bernama Gabriele D’Annunzio, yang kebetulan ia juga menggemari olahraga sepak bola.

Pada tahun 1887 silam, Gabriele D’Annunzio muda membeli bola kulit di London, Inggris. Ia membeli bola tersebut di pabrik yang sama dengan pabrik yang menyuplai bola pada kompetisi sepak bola di Inggris, yaitu Football League. Akhirnya, bola tersebut digunakan Gabriele untuk bermain sepak bola bersama teman-teman kampung halamannya di pantai di Pescara.

Di awal tahun 1920, Gabriele tergabung dalam tentara militer Italia. Kala itu tentara Italia berhasil mengakuisisi wilayah bekas Kota Fiume yang masuk wilayah kekaisaran Austria-Hongaria, yang kini bernama Rijeka, Kroasia.

Saat itu mereka menggelar sebuah pertandingan sepak bola antara pasukan militer Italia melawan warga sipil setempat, Gabriele yang sangat antusias dengan pertandingan tersebut akhirnya menyarankan agar tim militer Italia mengenakan lambang khusus berbentuk segitiga yang berwarna hijau, putih, dan merah khas warna bendera negara mereka.

Lantas, Lambang khusus segitiga milik tentara Italia tersebut lah yang kemudian diadopsi menjadi lambang berbentuk perisai bernama scudetto, hingga sekarang. Lambang scudetto hanya dipakai oleh penyelenggara kejuaraan sepak bola Italia.

Penggunaan Lambang Scudetto

Setelah empat tahun berselang, tepatnya pada tahun 1924, Ide perisai scudetto milik Gabrielle D’Annunzio itu menarik perhatian Federasi Sepakbola Italia. Akhirnya federasi sepak bola Italia menyetujui konsep dan memberikan penghargaan lambang perisai itu pada jersey dari tim yang menjuarai Liga.

Menurut catatan sejarah, penggunaan lambang scudetto pertama kali kala Genoa memenangkan gelar kedelapan mereka di Liga Italia. Kala itu, kompetisi Liga sepak bola Italia belum bernama Serie A. Sayangnya, sejak saat itu Genoa belum pernah lagi menggunakan lambang scudetto. Karena kini Genoa tak lebih dari sekadar klub semenjana di Liga Italia.

Jika kita melihat seragam Inter Milan musim ini, seragam mereka memiliki lambang bendera Italia berbentuk perisai. Ya, itu yang dinamakan dengan lambang scudetto. Dalam bahasa Italia, penyebutan scudetto sendiri memiliki arti “perisai kecil”, istilah tersebut berasal dari kata “scudo” yang memiliki arti perisai atau lambang.

Hingga sekarang simbol atau hiasan berwarna bendera Italia dengan bagian pinggir diberi aksen warna emas itu dikenakan oleh klub yang menjuarai kompetisi tertinggi Liga Italia, Serie A, pada musim sebelumnya. Nah, yang memakai simbol perisai pada musim ini adalah Inter Milan, ya karena mereka berhasil menjuarai liga pada musim lalu.

Jadi, scudetto itu cuma penyebutan bagi lambang atau badge berbentuk perisai yang terpasang di jersey tim juara bertahan, bukan nama lain dari trofi Serie A itu sendiri. Namun, istilah scudetto sudah sebegitu melekat pada gelar juara Serie A, seakan-akan 20 klub sepak bola di Serie A hanya memperebutkan badge kecil saja, bukan sebuah trofi. Padahal yang diperebutkan oleh 20 kesebelasan selama satu musim penuh adala trofi Serie A Italia.

Karena apabila klub Serie A dapat menjuarai kompetisi Liga lebih dari satu kali secara beruntun, penyebutanya sudah beda lagi, sebagai contoh saja saat Juventus berhasil menjuarai Liga Italia selama sembilan tahun berturut-turut, fenomena tersebut dapat disebut scudetti, karena dalam bahasa Italia, scudetti sendiri adalah bentuk jamak dari scudetto.

Simbol Lain Penanda Juara Serie A

Nah, selain scudetto, kita juga kadang bisa melihat penggunaan simbol bintang yang dipasang tepat di atas logo kesebelasan. Bagi sepakbola Italia sendiri, satu bintang akan diletakkan di atas logo sebuah klub, apabila kesebelasan tersebut berhasil memenangkan 10 gelar Serie A.

Juventus dapat dijadikan sebagai contoh kembali, ya namanya juga klub kaya yang sering juara. Juventus ini berhak memakai tiga bintang di atas logo kesebelasan mereka. Karena Juventus kini telah mengoleksi 36 trofi juara Liga Italia.

Beda halnya dengan duo Milan, yang hanya berhak menambahkan satu buah bintang di masing-masing logo kesebelasan mereka, karena AC Milan baru mengoleksi 18 gelar, sedangkan Inter masih mengoleksi 19 gelar Serie A. Apabila Inter kembali menjuarai Liga musim ini, Inter berhak mendapatkan satu tambahan bintang diatas logo kesebelasan mereka.

Meski FIFA sejatinya tidak pernah mengeluarkan peraturan atau kebijakan khusus terkait penggunaan tanda bintang. Namun, sejumlah konfederasi sepakbola di belahan dunia menerapkan aturan yang berbeda-beda terkait penambahan bintang pada logo suatu klub.

Seperti di Bundesliga, aturan penambahan jumlah tanda bintang dalam logo klub, hitungannya lebih rumit. Tanda bintang pertama bisa didapat apabila klub tersebut berhasil meraih tiga gelar Bundesliga, lalu bintang kedua didapat seusai meraih gelar kelima, dan bintang ketiga, bisa didapat setelah klub meraih sepuluh gelar. Sedangkan bintang keempat akan didapat jika sudah mengumpulkan 20 gelar.

Beda lagi dengan yang dilakukan oleh klub-klub Indonesia, penggunaan tanda bintang bagi klub Indonesia lebih bersifat inisiatif dari klub yang bersangkutan. Sebab, tidak ada regulasi khusus dari federasi sepak bola Indonesia terkait penggunaan tanda bintang yang disematkan di atas logo klub. Mereka akan menambahkan satu bintang setiap satu kali menjuarai Liga Indonesia. Namun, PSSI pun juga tak melarang penggunaan tanda bintang tersebut.

https://youtu.be/K5xmK0Ftgkw

Sumber: MilanLegend, Panditfootball, Kompas

Otak Atik Lini Tengah Juventus Setelah Kedatangan Denis Zakaria

Juventus mengawali musim 2021/2022 di bawah Allegri dengan tidak memuaskan. Kedalaman skuad Allegri tidak mampu menolongnya dari inkonsistensi.

Kita tahu Allegri sering menyukai pola permainan menyerang yang ditopang dari poros andalannya yakni lini tengah.

Dari struktur atau pola taktik Allegri, tampaknya lini tengah menjadi sesuatu yang perlu dirombak di Juventus musim 2021/2022.

Salah satunya adalah mendatangkan gelandang Denis Zakaria di bursa transfer musim dingin 2021/2022. Dengan datangnya Zakaria, Lantas bagaimana Allegri mengatur struktur lini tengahnya?

Kedatangan Denis Zakaria

Keseriusan Allegri dalam memperkokoh lini tengah benar-benar diwujudkan manajemen. Setelah pembelian cemerlang pemain tengah pertama, Manuel Locatelli dari Sassuolo.

Kini, Allegri kembali mendatangkan pemain tengah eksplosif, Denis Zakaria dari klub Liga Jerman, Borussia Monchengladbach dengan nilai transfer sekitar 4,5 juta euro atau sekitar Rp 74 miliar. Nilai yang cukup ramah di kantong.

Pemain Internasional Swiss berusia 25 tahun itu adalah gelandang yang sangat diinginkan Allegri. Sebab fisiknya sangat mengesankan dengan tinggi mencapai 191 cm. Denis Zakaria juga termasuk tipe gelandang modern yang mampu bertahan dan menyerang dengan sama baiknya.

Zakaria adalah tipe pemain box to box midfielder yang dibutuhkan Juventus untuk membuat lini tengah mereka lebih berkualitas dan juga lebih tangguh dari sudut pandang fisik. Kedatangan Zakaria juga diharapkan bisa menjadi kunci dan opsi kedalaman skuad, untuk memuaskan taktik andalan Allegri, yakni lini tengah.

Apalagi permasalahan Allegri musim ini adalah kurangnya gol dari lini tengah. Juventus hanya mencetak 36 gol dalam 24 pertandingan Serie A sampai Januari 2022. Jumlah gol yang paling sedikit jika dikomparasikan dengan pesaing mereka di empat besar klasemen Serie A: Inter, Napoli, dan AC Milan.

Daftar pencetak gol terbanyak Juventus pun adalah mayoritas berasal dari striker mereka, entah Alvaro Morata maupun Paulo Dybala.

Gol dari lini tengah adalah masalah yang ingin dipecahkan Allegri di jeda paruh musim Januari 2022. Manuel Locatelli telah mencetak dua gol musim ini, seperti halnya Weston McKennie. Sisanya, Adrien Rabiot, Arthur Melo belum membuka rekening gol mereka.

Allegri tampak sangat frustasi dengan kurangnya produktivitas dari lini kedua. Terutama saat lini serang mereka tumpul, apalagi kehilangan Federico Chiesa yang cedera parah dan akan absen cukup lama.

Keinginan untuk mendatangkan Denis Zakaria disiasati manajemen untuk setidaknya membuang beberapa pemain tengah yang dianggap kurang baik di bawah Allegri. Mengingat postur amunisi pemain tengah Juventus musim ini terlihat sangat gemuk, baik itu dari segi jumlah maupun gaji.

Membuang Bentancur dan Ramsey

Rodrigo Bentancur dan Aaron Ramsey menjadi pemain yang dikorbankan untuk dibuang Allegri. Memang kedua pemain tersebut selain performanya kurang, juga bukan dari keinginan atau pembelian Allegri.

Bentancur dan Ramsey juga bermasalah dengan gaji. Manajemen pandai, dan akhirnya bisa membuang mereka meskipun dengan opsi peminjaman. Bentancur dan Ramsey keduanya adalah bekas rekrutan Fabio Paratici eks Direktur Olahraga Juventus yang sekarang pindah ke Tottenham Hotspurs.

Bentancur setuju kembali dipanggil Paratici untuk bergabung ke Spurs. Sedangkan Aaron Ramsey setelah sempat ditawarkan ke beberapa klub Premier League akhirnya malah bergabung dengan klub Skotlandia Glasgow Rangers.

Bisa dikatakan dua pemain yang hengkang dari Juventus tersebut merupakan korban atas datangnya gelandang baru keinginan Allegri yakni Zakaria maupun Locatelli.

Arthur Melo juga sempat dipertimbangkan Allegri untuk menjadi korban selanjutnya ketika Arsenal datang memberi tawaran. Namun, seiring kesepakatan kontrak yang menemui jalan buntu, tampaknya mau tidak mau Allegri harus mengoptimalkan peran Arthur dalam skema taktiknya.

Dengan kedatangan Zakaria maupun Locatelli, akan semakin menarik struktur pola baru kekuatan Juventus di lini tengah di bawah Allegri. Seiring pembenahan juga dilakukan di lini depan dengan mendatangkan Dusan Vlahovic.

Format Lini Tengah Allegri

Format lini tengah yang dipunyai skuad Allegri semasa menangani Juventus memang selalu terpola.

Kita tahu dulu pernah ada trio Pirlo, Pogba dan Vidal, meskipun mereka adalah warisan dari pelatih sebelumnya Antonio Conte. Allegri ketika itu mampu mengubah peran trio gelandang itu dengan cerdas. Hasilnya, di musim 2014/2015 Juventus mampu menembus final UEFA Champions League.

Kesuksesan serupa juga diulangi Allegri pada UEFA Champions League musim 2016/2017. Kala itu, Allegri menaruh kepercayaan pada trio lini tengah: Khedira, Pjanic, dan Matuidi.

Berkaca dari track record Allegri yang sukses dalam membangun tim dari lini tengah, Juventus memiliki modal awal yang besar atas kedatangan amunisi baru di lini tengah musim ini.

Format lini tengah Allegri nampaknya mempunyai harapan serta prospek jangka panjang. Baik itu dengan formasi 4-2-3-1 atau 4-3-3.

Dengan format 4-2-3-1 bisa jadi Zakaria dan Locatelli akan mengisi pos double pivot Juventus. Dengan kekokohan dua pivot tersebut, bukan tidak mungkin Juventus akan balanced dalam bertahan dan menyerang.

Sedangkan dengan pola 4-3-3, Zakaria dan Locatelli akan ditemani salah satu dari McKennie, Arthur, atau Rabiot. Format ini biasanya memakai satu defensive midfield, satu gelandang box to box, dan satu gelandang yang berfungsi sebagai playmaker.

Format trio pada kekuatan andalan skuad Allegri tampaknya akan berjalan lancar ketika progresi posisi Zakaria maupun Locatelli bisa sering masuk area kotak penalti lawan.

Benar saja, sebagai contoh ketika debut pertamanya, Zakaria dipercaya mengisi peran pengontrol lini tengah Juventus sejak awal pertandingan melawan Hellas Verona pada lanjutan pertandingan Serie A.

Allegri memakai pola 4-3-3 atau 4-3-1-2 sedari awal dengan trio penyerang baru Morata, Vlahovic, dan Dybala. Konsep trio di lini tengah memang benar-benar diterapkan oleh Allegri. Dengan menempatkan Denis Zakaria yang ditemani oleh Arthur Melo dan Adrien Rabiot.

Kombinasi ketiga gelandang dengan fungsi atau peran yang berbeda mampu tampil mendominasi. Bahkan, satu gol Juventus tercipta melalui Denis Zakaria.

Melalui progresinya menusuk area kiri lawan dengan sepakan kerasnya mampu mencatatkan gol pertamanya sejak berseragam putih hitam. Inilah jawaban atas keresahan Allegri akan lini tengah Juventus selama ini.

Seiring berjalannya waktu, dengan adaptasi yang terbukti cepat, lini tengah Juventus bukan tidak mungkin akan berfungsi sebagaimana lini tengah Juventus yang dulu pernah dipoles oleh Allegri.

Otak-atik yang dilakukan Allegri di lini tengah Juventus selama ini bisa dikatakan berhasil. Dengan debut manis Zakaria dan lini depan yang makin tajam, membuat Juventus kembali ke jalur sebagai penantang gelar juara Serie A musim 2021/2022.

Di sisi lain, konsistensi merupakan catatan penting bagi lini tengah Allegri dalam mengarungi sisa musim 2021/2022 ini. Karena banyaknya pemain yang cedera dan absen, Allegri harus terus bekerja ekstra keras dan terus memutar otak agar proyeksi lini tengah andalannya bisa menuai hasil positif hingga akhir musim.

https://youtu.be/guz0Rbwh3RM

Sumber Referensi : footballitalia, oldjuve, worldtoday, juvefc.com

Berita Bola Terbaru 7 Februari 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini 7 Februari 2022

CONTE MERASA ANEH SPURS LEPAS 4 PEMAIN DI BURSA TRANSFER JANUARI

Pelatih Tottenham Hotspur, Antonio Conte, merasa heran timnya melepas empat pemainnya yaitu Tanguy Ndombele, Giovani Lo Celso, Bryan Gil, dan Dele Alli pada bursa transfer Januari yang lalu. Dikutip dari Goal, Conte menilai hal ini bisa terjadi mungkin ada kesalahan yang dilakukan oleh Spurs karena biasanya klub mendatangkan pemain untuk memperdalam kekuatan tim. Pelatih asal Italia itu menjelaskan, sebuah klub seharusnya tidak membeli pemain untuk meminjamkannya dua atau tiga tahun ke depan, hal ini mengindikasikan ada sesuatu yang salah pada tahun-tahun sebelumnya.

LIVERPOOL DAN MANCHESTER CITY LIRIK BUKAYO SAKA

Arsenal harus bergerak cepat jika tidak mau kehilangan salah satu pemain muda terbaik mereka, Bukayo Saka. Saat ini Saka dilirik oleh beberapa klub top Premier League, dua diantaranya adalah Liverpool dan Manchester City. Dikutip MARCA, Jurgen Klopp dan Pep Guardiola terus mengamati perkembangan Saka di Arsenal. Arsenal tentu tidak mau kehilangan salah satu talenta terbaiknya. Namun, untuk itu The Gunners harus memberikan tawaran lebih kepada si pemain. Paling tidak, Arsenal harus menawarkan kesempatan bermain di Liga Champions musim depan. 

LIVERPOOL OPTIMIS DAPATKAN CARVALHO DI MUSIM PANAS

Winger Fulham Fabio Carvalho tetap menarik minat Liverpool, meski The Reds gagal merekrutnya pada bursa transfer musim dingin Januari, dan Jurgen Klopp menyebut pihaknya tidak akan menyerah dalam perburuan remaja itu. Paket 8 juta Pounds sudah disepakati untuk Carvalho di hari tenggat transfer Januari, namun dokumen yang relevan tidak bisa diproses tepat waktu sehingga gelandang berusia 19 tahun itu tetap berada di London barat. Liverpool diyakini akan melakukan pendekatan lagi pada bursa transfer musim panas mendatang, meski Carvalho juga diminati Real Madrid.

THOMAS FRANK: ERIKSEN BISA JADI REKRUTAN TERBAIK BRENTFORD

Christian Eriksen menyelesaikan kepindahan kejutan ke Brentford pada deadline transfer Januari, dan sang pelatih Thomas Frank yakin bahwa gelandang Denmark itu mungkin terbukti menjadi rekrutan terbaik yang pernah dilakukan klub. Frank menyatakan kegembiraannya karena bisa mengamankan pemain berbakat Eriksen. Namun, pelatih asal Denmark itu tidak mengharapkan Eriksen langsung bermain penuh 90 menit. Sebaliknya, Brentford tampaknya akan memilih untuk berhati-hati dengan pemain berusia 29 tahun itu.

VIRAL SILAS NWANKWO, WONDERKID TULEN BERMUKA BOROS ATAU CURI UMUR?

Transfer Silas Nwankwo dari klub Nigeria ke klub papan atas Swedia viral dan mencuri perhatian. Selain karena label wonderkid buatnya, Nwankwo juga dicurigai curi umur. Banyak yang tak percaya Silas Nwankwo berusia 18 tahun. Pihak yang tak percaya itu salah satunya adalah Rasim Reiz, sosok yang mengaku pemerhati sepakbola Nigeria dan berbasis di Stockholm. Ia yakin Silas Nwankwo sudah berusia 20-an tahun. “Di Football Manager 2021, usianya 24 tahun. Sedangkan di Football Manager 2022, ia tiba-tiba 17 tahun. Tak masuk akal,” sebutnya dalam sebuah cuitan.

KAPTEN KAMERUN SEBUT MO SALAH PEMAIN BIASA

Kapten sekaligus penyerang Kamerun, Vincent Aboubakar, membuat pernyataan yang menghebohkan sebelum laga semifinal Piala Afrika 2021 melawan Mesir beberapa hari lalu. Dalam wawancaranya dengan stasiun radio RFI, seperti dikutip dari laman Sportbible, Vincent menyebut bahwa Mohamed Salah merupakan pemain yang biasa saja. Pemain milik Liverpool itu dianggap Aboubakar bukan pemain bintang. Bahkan, Aboubakar menyebut Salah tidak lebih baik dari Mbappe. Namun, komentar Aboubakar tentang Salah pada akhirnya tidak membuahkan hasil baik buat Kamerun. Karena Kamerun takluk dari Mesir.

SAUL NIGUEZ JELASKAN PENYEBAB HAZARD KESULITAN DI REAL MADRID

Gelandang Chelsea Saul Niguez menjelaskan mengapa Eden Hazard mengalami kesulitan di Real Madrid setelah meninggalkan Stamford Bridge. Saul yang saat ini membela Chelsea dengan status pinjaman dari Atletico Madrid mengakui bermain di Inggris sangat berbeda dengan bermain di Spanyol. “Mereka benar-benar berbeda. Di sana, jauh lebih taktis, sedangkan di sini lebih fisik dan sedikit lebih gila,” kata Saul. Karena gaya permainan yang berbeda, tidak mudah bagi pemain dari Premier League untuk bermain di La Liga. Saul pun mencontohkan Hazard yang saat ini belum bersinar di Los Blancos.

ALVES: BARCELONA MASIH BISA MEMAKSIMALKAN POTENSI DEMBELE

Bek sayap Barcelona, Dani Alves, angkat bicara mengenai keberadaan Ousmane Dembele di dalam skuadnya. Seperti diketahui, masa depan Dembele di Barcelona tidak jelas setelah ia dikabarkan menolak perpanjangan kontrak dari klub. Makanya, dia di ambang kepergian secara gratis. Di balik situasi tersebut, muncul pertanyaan apakah Barcelona akan tetap memainkan Dembele. Namun, Alves yang disodorkan pertanyaan tersebut, menjawab bahwa Dembele masih memiliki waktu lima bulan untuk membuktikan diri.

PEMAIN BERDARAH INDONESIA KELUHKAN SIKAP ANTONIO CONTE

Pemain berdarah Indonesia, Radja Nainggolan, mengaku menyesal tidak mendapat trofi di AS Roma. Padahal I Giallorossi saat itu diperkuat banyak pemain bintang. Seperti Edin Dzeko, Francesco Totti, Daniele De Rossi, Mohamed Salah, hingga Alisson Becker. Ketika berada di puncak karirnya bersama Roma, Nainggolan selalu menolak tawaran untuk bermain di luar Italia. Conte adalah salah satu dari sederet pelatih yang ingin membawanya ke Chelsea di masa lalu. Kendati demikian, Nainggolan akhirnya bekerja dengan Conte di Inter, tetapi semuanya tidak berjalan sesuai rencana. Nainggolan mengeluhkan sikap Conte yang tidak pernah mengatakan apapun di depannya hingga akhirnya ia pun pergi.

HASIL PERTANDINGAN

Dari ajang La Liga Spanyol pekan ke-23, Real Madrid sukses mengalahkan Granada dengan skor 1-0 di Santiago Bernabeu, Senin (7/2) dinihari WIB. Tanpa gol di babak pertama, Real Madrid baru bisa membobol gawang Granada di menit 74 lewat aksi Marco Asensio. Kemenangan ini semakin mengokohkan Madrid di puncak klasemen La Liga dengan 53 poin. Di laga lain, Villareal menang 2-0 atas Real Betis, Barcelona menang 4-2 atas Atletico Madrid, dan Valencia bermain 0-0 dengan Real Sociedad.

Di ajang Serie A, Juventus berhasil mencengkram Verona dengan dua gol tanpa balas. Bertanding di Allianz Stadium, gol-gol Nyonya Tua dibukukan oleh dua pemain anyar mereka, Dusan Vlahovic di menit 13, dan Denis Zakaria di menit 61. Kemenangan ini membawa Juve naik ke posisi keempat dengan 45 poin, sedangkan Verona masih berada di urutan ke-9. Di laga lain, Udinese menang 2-0 atas Torino.

Di ajang liga Prancis, PSG mengamuk dengan membantai tuan rumah Lille 5-1 di Stade Pierre Mauroy. Lima gol PSG dicetak oleh brace Danilo Pereira, Presnel Kimpembe, Lionel Messi, dan Kylian Mbappe. Sementara satu gol Lille dicetak oleh Sven Botman. Atas hasil ini PSG kini semakin kokoh di puncak klasemen sementara Ligue 1 dengan perolehan 56 poin dari 23 laga.

SADIO MANE ANTAR SENEGAL JADI JUARA PIALA AFRIKA 2021

Senegal sukses mengalahkan Mesir di Final Piala Afrika 2021, senin (7/2) dinihari WIB. Senegal punya kesempatan unggul duluan di babak pertama, namun penalti Sadio Mane gagal berbuah gol, sehingga membuat laga berakhir imbang 0-0 hingga 90 menit plus babak perpanjangan waktu 30 menit. Di babak adu penalti, Senegal menang dengan skor 4-2, di mana Sadio Mane dan kiper Edouard Mendy menjadi pahlawan pada momen ini. Senegal pun juara Piala Afrika untuk kali pertama dalam sejarah mereka.

SENEGAL JUARA, MANE RANGKUL SALAH YANG BERKACA-KACA

Mohamed Salah harus menerima kenyataan pahit tim yang dibelanya gagal menjadi juara Piala Afrika. Usai laga kontra Senegal, tatapan mata Salah yang kosong dan agak berkaca-kaca sempat tertangkap kamera. Di tengah kekecewaan, Sadio Mane kemudian terlihat merangkul Salah. Mane juga tampak membisikkan sesuatu dan menepuk bahu sang rekan di kubu Liverpool. Dengan muka datar, seperti tidak sedang merayakan apapun, Mane kemudian meninggalkan Salah yang masih berupaya menerima realita yang baru saja terjadi.

COMEBACK MANIS HARVEY ELLIOT BERSAMA LIVERPOOL

Harvey Elliott kembali tampil di lapangan setelah absen hampir 3 bulan akibat cedera engkel. Di laga comeback nya ini, gelandang muda Liverpool itu langsung mencetak gol saat The Reds menang 3-1 atas Cardiff City di Piala FA, Minggu malam.  Elliott menjadi bintang dalam gol ketiga Liverpool. Pemain asal Inggris itu mencetak gol spektakuler di kotak penalti. Sementara dua gol Liverpool lainnya dicetak oleh Diogo Jota dan Takumi Minamino.

MBAPPE BANTAH KABAR TELAH SEPAKAT GABUNG MADRID

Kylian Mbappe berbicara soal masa depannya usai laga PSG kontra Lille. Dia membantah telah setuju pindah ke Real Madrid karena penyerang PSG mengaku masa depannya belum diputuskan. Kontrak Mbappe di PSG akan habis akhir musim ini, dan meskipun klub Prancis ingin Mbappe bertahan tapi belum ada kesepakatan baru hingga saat ini. Satu hal yang pasti, ketertarikan Madrid bukan rahasia lagi, setelah klub raksasa Spanyol ini mencoba mengontrak Mbappe pada Agustus lalu.

KLUB BARU XHERDAN SHAQIRI USAI DITENDANG DARI LYON

Teka-teki yang menyelimuti masa depan Xherdan Shaqiri akhirnya terjawab. Pemain b30 tahun tersebut bakal meninggalkan eropa usai kontraknya diputus Olympique Lyon. Kabar teranyar menyebut jika Shaqiri bakal berlabuh ke klub Major League Soccer (MLS) Chicago Fire. Surat kabar terkemuka di Prancis, L’Equipe membocorkan jika Chicago Fire tengah melakukan pendekatan serius untuk membawa Shaqiri ke AS. Diyakini negosiasi akan ditutup di angka 6 juta pound alias setara dengan Rp 116 Miliar saja. 

CARI PENGGANTI RONALDO, MU TARGETKAN ALEXANDER ISAK

Masa depan Cristiano Ronaldo bersama Manchester United kini diragukan. Dilansir dari Sportsmole, Ronaldo bisa meminta keluar dari Old Trafford jika Manchester United gagal tampil di Liga Champions musim depan. Kini MU dilaporkan mengincar striker Real Sociedad Alexander Isak sebagai calon pengganti Ronaldo. Striker Swedia berusia 22 tahun itu tampil luar biasa musim lalu dan mencetak 17 gol dalam 34 penampilannya di La Liga untuk Sociedad. Namun MU harus bersaing dengan Chelsea jika ingin mendatangkan Isak.

GIROUD BANGGA JADI PENENTU KEMENANGAN MILAN ATAS INTER

Olivier Giroud bangga bisa menjadi penentu kemenangan timnya atas Inter Milan, Minggu (6/2) dinihari WIB. Seperti diketahui, Giroud mencetak brace saat Milan menggasak Inter Milan 2-1 di ajang Serie A. Giroud mengakui gol pertamanya sekaligus penyama kedudukan sedikit berbau keberuntungan. Namun gol penentu kemenangan berasal dari umpan yang bagus dari Calabria. Ia pun senang dengan melihat penggemar gembira sekaligus bangga kepada timnya yang tak mengenal menyerah.

XAVI MINTA PENGGEMAR BARCELONA BERHENTI EJEK DEMBELE

Xavi Hernandez meminta fans Barca berhenti mengejek Ousmane Dembele di Camp Nou. Dembele dikabarkan bakal meninggalkan Barca pada hari terakhir bursa transfer Januari karena kontraknya akan habis akhir musim ini. Namun, karena pada akhirnya ia bertahan sampai akhir musim ini. Dembele kemudian disoraki oleh fans Barca setelah tidak jadi dimainkan sebagai pemain pengganti dalam laga kontra Atletico Madrid, Ahad (6/2). Xavi mengatakan, Dembele tidak dimainkan karena keputusan teknis dalam laga tersebut.

ADAMA TRAORE TAMPIL BERINGAS SAAT BANTU BARCELONA MENANG ATAS ATLETICO

Barcelona sukses menggulung Atletico Madrid dengan skor 4-2 di Camp Nou. Empat gol Barca dicetak oleh Jordi Alba, Gavi, Ronald Araujo, dan Dani Alves. Sedangkan gol dari Los Rojiblancos dibukukan oleh Yannick Carrasco dan Luis Suarez. Pemain anyar Barca Adama Traore pun mampu menunjukan kemampuan yang cukup memuaskan pada laga tersebut. Meski tak berhasil mencetak gol, pemain berusia 26 tahun itu sukses memberikan assist yang membuat Barcelona unggul di laga tersebut.

DANI ALVES CETAK GOL DAN DIKARTU MERAH

Bek sayap senior Dani Alves ikut mencatatkan namanya di papan skor di awal babak kedua saat Barca menggilas Atletico Madrid. Alves nyetak gol untuk membuat kedudukan menjadi 4-1. Ini adalah gol pertamanya sejak kembali ke Barcelona. Namun tak berselang lama setelah mencetak gol tersebut, Alves harus diusir dari lapangan di sisa 21 menit di waktu normal akibat pelanggaran keras terhadap Carrasco. Barca pun harus menjalani sisa laga dengan 10 pemain.

INI HASIL UNDIAN BABAK KELIMA PIALA FA

Undian babak kelima atau 16 besar Piala FA telah dilakukan. Hasilnya, Chelsea dan Man City menghadapi lawan yang relatif lebih mudah. Sementara Liverpool bakal berjumpa sesama tim Liga Inggris, Norwich City. City akan menghadapi Peterborough United. Sedangkan Chelsea, yang susah payah menyingkirkan Plymouth Argyle, akan melawan Luton Town. Middlesbrough yang menyingkirkan MU lagi-lagi bertemu lawan berat, yakni Tottenham Hotspurs.

DORTMUND PECUNDANGI BAYER LEVERKUSEN DI KANDANG

Klub Raksasa Jerman, Borussia Dortmund dipecundangi Bayer Leverkusen pada lanjutan Bundesliga 2021/22, Minggu (6/2) malam WIB. Leverkusen mampu menang telak dengan skor 5-2 di Stadion Signal Iduna Park. Hasil laga ini membuat Dortmund duduk di posisi kedua klasemen sementara dengan koleksi 43 poin dan tertinggal sembilan angka dari Bayern Munchen yang bertengger di puncak. Sementara itu, Leverkusen menempati urutan ketiga dengan kumpulan 38 poin.

HASIL PIALA DUNIA ANTAR KLUB: PESTA GOL 6-1, AL HILAL TANTANG CHELSEA

Klub asal Arab Saudi, Al Hilal sukses melibas wakil Uni Emirat Arab, Al Jazira dengan skor 6-1 di laga putaran kedua Piala Dunia Klub 2021 pada Senin (7/2) dini hari WIB. Dengan kemenangan itu Al Hilal berhak melaju ke semifinal dan akan menantang sang juara Liga Champions 2020/21, yakni Chelsea. Laga Al Hilal vs The Blues di semifinal Piala Dunia Klub pun akan dihelat di Stadion Mohammed Bin Zayed, Abu Dhabi, UEA pada Rabu 9 Februari 2022.

5 Klub Premier League Tersukses, Walau Minim Popularitas

0

Popularitas suatu klub pasti akan datang seiring klub tersebut mampu meraih gelar demi gelar. Di Premier League, Manchester United adalah contoh nyata. Klub yang bermarkas di Old Trafford itu telah mendulang popularitas yang luar biasa usai meraih gelar-gelar bergengsi.

Liverpool juga sama. The Reds bahkan menjadi klub terpopuler nomor satu di Inggris, berdasarkan survei Statista tahun 2021. Liverpool juga memiliki sekitar 95 juta pengikut di seluruh media sosialnya. The Reds menguntit Chelsea yang berada di posisi kedua dengan jumlah pengikut di media sosial sekitar 99,5 juta.

Entah Chelsea atau Liverpool, tidak etis rasanya kalau kita menanyakan soal gelar keduanya. Karena tentu gelar yang diperoleh Liverpool dan Chelsea masih mengungguli Brentford, Watford, bahkan klub-klub dari London Utara, terutama yang jersey-nya berwarna putih.

Fans-fans mereka yang banyak adalah hal lumrah dan tidak luar biasa. Karena gelar-gelar yang diperoleh suatu klub pasti akan berimbas pada membludaknya fans. Namun, hal itu rasanya tidak berlaku bagi lima klub Premier League berikut ini.

West Ham United

Tidak ada salahnya kita mulai dari yang paling banyak penggemarnya di daftar ini. Yups, klub tersebut adalah West Ham United. Dari survei Decathlon, sepanjang 2021/22, West Ham menempati urutan kesembilan klub Premier League yang memiliki pengikut di media sosial terbanyak.

West Ham memiliki setidaknya 6,6 juta pengikut di seluruh media sosialnya. Walaupun masuk dalam sepuluh besar, namun jumlah followers West Ham masih kalah dari Leicester City bahkan Tottenham Hotspur.

Sementara survei Statista tahun 2021, West Ham justru tidak masuk sepuluh klub di Inggris yang populer. The Hammers hanya mendapat suara 24%. Persentase itu bahkan masih di bawah Leeds United (28%), Aston Villa (28%), dan Newcastle United (25%).

Namun, ihwal prestasi, penggemar The Irons perlu berbangga hati. Titel yang diraih West Ham ternyata juga tak kalah banyak dari Manchester City. West Ham telah menjuarai Piala FA tiga kali, pada tahun 1964, 1975, dan 1980.

West Ham juga tercatat pernah merebut satu trofi Piala Super Inggris tahun 1965. Di Eropa West Ham juga sempat menggondol satu gelar Piala Winner UEFA tahun 1965, dan Piala Intertoto tahun 1999.

Jika kamu bertanya, “Mana trofi Premier League?” Yup, betul, West Ham adalah klub medioker yang sampai saat ini masih sulit mengangkat trofi Premier League.

Aston Villa

Aston Villa bersama Steven Gerrard hari ini sedang memperbaiki reputasinya di kancah Liga Premier Inggris. Update per 6 Februari 2022, Aston Villa masih berada di klasemen 11 di bawah Leicester. Meski poinnya kini sama dengan The Foxes.

Terlepas dari itu, The Lions sebetulnya adalah klub yang sudah punya nama baik, dengan 7 gelar Premier League.

Ketujuh trofi Liga Inggris itu diraih Aston Villa pada tahun 1894, 1896, 1897, 1899, 1900, 1910, dan 1981. Aston Villa juga meraih Piala FA 7 kali, dan Piala Liga 5 kali.

Musim 1980/81 tampaknya menjadi musim tersukses Aston Villa. Karena pada waktu itu selain menjuarai Liga Utama Inggris, Aston Villa juga menjuarai Piala Super Inggris dan semusim setelahnya menjuarai UEFA Champions League.

Di final UCL musim 1980/81 itu, Aston Villa menaklukkan Bayern Munchen 1-0 lewat gol mantan pelatih Timnas Indonesia, Peter Withe. Semusim setelah itu, Aston Villa juga menyabet Piala Super Eropa musim 1982/83.

Sayangnya, tingkat popularitas Aston Villa hanya 28%. Penggemar mereka juga tidak terlampau banyak. Di seluruh media sosial, Aston Villa hanya memiliki sekitar 6,4 juta followers, atau masih di bawah West Ham.

Newcastle United

Sungguh membosankan mendengar bahwa Newcastle United akan punya banyak prestasi ketika Pangeran Arab turut berinvestasi. Karena nyatanya performa Newcastle United masih berjalan seperti siput, dan cuma bisa menggembosi klub-klub yang selevel.

Lagi pula kalau ngomongin prestasi mah, Newcastle United sudah dari dulu kali. 14 gelar sudah diraih The Magpies sampai musim 2019/20 tuntas. Bahkan sampai tahun 2020, Newcastle menduduki posisi kesembilan dari 10 klub tersukses di Inggris.

Newcastle setidaknya sudah 4 kali juara Liga Inggris, walau sebelum bernama Premier League. Yaitu pada tahun 1905, 1907, 1909, dan 1927. Selain itu, 6 trofi Piala FA juga sudah jadi pajangan di lemari trofi Newcastle United. Yang hebat, dari enam itu, dua di antaranya diraih secara berurutan, yaitu musim 1950/51 dan 1951/52.

Di kancah Eropa, Newcastle hanya mampu mengoleksi satu gelar Piala Intertoto musim 2005/06. Well, capaian-capaian Newcastle United tadi jelas mustahil terekam di otak penggemar karbitan yang baru ngefans Newcastle ketika diakuisisi Pangeran Arab.

Banyak yang berspekulasi kalau Newcastle bakal mengalami peningkatan jumlah fans setelah datangnya investor. Ya… seperti Manchester City gitu.

Sayangnya, survei Statista berkata lain. Survei yang dipublikasikan 31 Januari 2022 itu menempatkan Newcastle United di posisi 11 klub paling populer di Premier League. Jumlah pengikut Newcastle United di seluruh media sosialnya juga tak lebih dari 4,9 juta.

Leeds United

Per 6 Februari 2022 Leeds masih tercecer di peringkat 15 klasemen Premier League. Bahkan pada 22 Januari 2022, mereka kalah atas Newcastle United 0-1. Marcelo Bielsa tampaknya masih kesulitan untuk mengembalikan Leeds ke masa kejayaan.

The Peacocks pernah berada di titik terbaik sebelum masuk tahun 2000-an. Kala itu, klub yang bermarkas di Elland Road kerap membawa pulang trofi. Seperti tiga gelar Liga Inggris tahun 1969, 1974, dan 1992.

Leeds juga mengoleksi satu Piala FA yang diraihnya tahun 1972, dan Piala Liga tahun 1968. Gelar di kompetisi domestik dilengkapi Leeds United dengan dua kali meraih Piala Super Inggris tahun 1970 dan 1993.

Akan tetapi, prestasi cemerlang Leeds tidak sampai ke level elit Eropa. Paling mentok mampu menjuarai kompetisi seperti European Fairs Cup dua kali. Itu diraih pada tahun 1968 dan 1971.

Yang paling mengesankan adalah di European Fairs Cup 1970/1971, atau edisi terakhir. Waktu itu, Leeds mampu mengalahkan Juventus karena unggul gol tandang, meski bermain imbang di dua leg. Leeds mampu cetak dua gol di kandang Juve, sedangkan Bianconeri hanya mampu cetak satu gol di Elland Road.

Catatan itu jelaslah tidak banyak diingat. Sebab, Leeds bukan termasuk klub Inggris yang tersohor. Jumlah fansnya di media sosial tahun 2021 hanya berkisar 2,8 juta. Angka itu membuat Leeds masuk ke lima klub Premier League dengan pengikut terendah di media sosial.

Soal popularitas, Statista menempatkan Leeds United di peringkat kesembilan, dengan 28%. Yhaaa memang lebih populer dari Newcastle dan Everton.

Wolverhampton Wanderers

Persentase popularitas Wolves memang sedikit, hanya 22%. Angka itu membuatnya berada di posisi 14 klub populer di Premier League. Wolves masih kalah dari Southampton, West Ham, sampai Arsenal. Meskipun di media sosial, penggemar Wolverhampton tidak sedikit-sedikit amat.

Nggak masuk 10 besar sih, tapi setidaknya pengikut Wolverhampton Wanderers di seluruh media sosial mencapai 5,9 juta. Nah, klub yang bermarkas di Molineux Stadium juga menjadi klub yang cukup produktif.

Walaupun hampir seluruh gelar Wolves dikumpulkan pada era 1900-an. Misalnya, 3 gelar Liga Inggris tahun 1954, 1958, dan 1959.

Wolverhampton juga punya 4 gelar Piala FA, 2 Piala Liga Inggris, dan 4 kali Community Shield. Di piala domestik dan kasta tertinggi, prestasi Wolves memang tidak cukup bagus.

Namun, Wolverhampton juga mengoleksi gelar di liga-liga di bawah Premier League. Seperti 4 kali menjuarai Liga Divisi Dua atau EFL Championship termasuk pada tahun 2009 dan 2018. Di Eropa, Wolves hanya mampu mencapai final UEFA Cup musim 1971/72.

Nah, itu tadi lima klub Premier League tersukses, meski minim popularitas. Daftar ini sengaja hanya memasukkan klub-klub yang masih berada di Premier League musim 2021/22. Jadi, jangan tanya yang enggak ada, ya…

Sumber referensi: statista.com, decathlon.co.uk, sportbrowser.net, wikipedia.org, transfermarkt.com

Inilah Penyebab Pertahanan Atletico Madrid Musim 2021/2022 Keropos

Sebagai juara bertahan La Liga, Atletico Madrid justru mengawali musim 2021/22 dengan tidak baik-baik saja. Mereka tertatih-tatih merangsek ke papan atas La Liga musim ini.

Bukan tanpa sebab, sang pelatih Diego Simeone menemui masalah baru di lini bertahan Atletico musim ini yang terbilang keropos.

Kini, dengan pertahanan yang keropos, memang bukanlah gaya khasnya Los Rojiblancos. Apalagi musim-musim sebelumnya, pertahanan pasukan Simeone terbilang kokoh. Jadi, apa dong yang bikin pertahanan Atletico Madrid musim ini keropos?

Materi Pemain di Lini Belakang

Salah satu alasannya adalah komposisi para pemain bertahan dan juga faktor cedera. Beberapa kombinasi pemain bertahan yang berbeda telah digunakan dalam starting eleven Simeone musim ini di semua kompetisi. Baik dengan format tiga atau empat bek.

Tiga bek Stefan Savic, José Giménez dan Mario Hermoso paling sering digunakan dan juga paling menunjukan hasil yang positif dengan hanya satu kekalahan.

Di sisi lain, kehadiran bek Felipe di starting eleven Atletico Madrid menuai kritikan. Pasalnya, dari setiap pertandingan yang dilakoni Felipe, Atletico selalu mengalami kekalahan di semua kompetisi.

Di level individu, mantan pemain Porto ini hanya memenangkan 52,4% dari duelnya musim ini di semua kompetisi, menjadikannya bek Atletico dengan persentase duel terendah yang dimenangkan pada musim 2021/22.

Kehilangan Stefan Savic, Jose Gimenez dan Mario Hermoso sewaktu-waktu karena cedera akan memperparah kondisi pertahanan Atletico. Pilihan amunisi center back Simeone tidak banyak. Bahkan sering kali seorang gelandang seperti Geoffrey Kondogbia sering dijadikan center back.

Perubahan formasi yang dilakukan Simeone di lini pertahanan dengan sistem 3 atau 4 bek terkadang tidak berjalan mulus. Sejak dikalahkan Real Madrid di Desember 2021 dengan skor 2-0, lini pertahanan Atletico jebol 16 kali termasuk terakhir kalah dari Barcelona 4-2.

Komposisi di full back mereka juga timpang. Kehilangan Kieran Trippier sedikit berpengaruh. Sering kali Sime Vrsaljko tidak bisa menjalankan peran itu di bek kanan. Simeone pun sering menyiasatinya dengan menempatkan Marcos Llorente di wing kanan pada format 3-5-2.

Kehilangan Thomas Partey tampaknya juga berpengaruh. Kedalaman pertahanan Atletico sebelumnya sering dijaga oleh Partey lewat tekel keras maupun intercept canggihnya. Sekarang peran itu sering diemban pemain baru seperti Kondogbia, Rodrigo De Paul, maupun Herrera yang cenderung bertipikal “bukan pembunuh”.

Materi pemain yang menjaga lini belakang Atletico menjadi salah satu faktor Atletico tidak konsisten musim ini. Terlepas dari menang atau kalah, hasil evaluasi pertahanan Atletico perlu disorot. Termasuk kiper sekalipun.

Jan Oblak

Performa salah satu pemain andalan Atletico Madrid di era Simeone adalah kiper mereka Jan Oblak. Penjaga gawang Slovenia ini telah terinfeksi oleh kelemahan sektor bek Atletico, dan jauh dari penampilannya yang luar biasa di musim lalu ketika juara.

Dia hanya menghentikan 48% tembakan yang menghujam gawang Atletico di La Liga musim 2021/22. Ini adalah persentase penyelamatan terburuk dalam kompetisi di antara penjaga gawang lainnya di La Liga.

Oblak telah kebobolan 30 gol dari 22 pertandingan selama ini sampai kekalahan 4-2 atas Barca. Sedangkan Oblak di musim lalu hanya kebobolan 25 gol. Itu adalah rekor terbaik kebobolan kiper di musim lalu di La liga.

Oblak musim ini cenderung lebih sering melakukan head to head langsung dengan pemain lawan. Ia juga sering banyak menerima tendangan langsung yang mengakibatkan persentase kebobolan Atletico lebih banyak.

Performa menurunnya Oblak berjalan seiring dengan hilangnya lini belakang Atletico dalam membendung serangan dari lawan.

Kehilangan Identitas

Kebobolan Atletico dicatat sebagian besar melalui umpan silang dari flank yang berakhir dengan sundulan. 26% dari gol kebobolan Atletico musim ini di semua kompetisi berasal dari umpan silang lawan, alih-alih dari sektor tengah.

Sering telatnya full back dalam mengantisipasi crossing juga menjadi sebab. Kekompakan antar lini belakang sangat kurang, terlebih dengan pakem 4 bek rentan tereksploitasi lawan yang memanfaatkan longgarnya zona yang dibiarkan oleh lini belakang Atletico.

Identitas bertahan Atletico yang selama ini sangat dikenal sebagai antitesa “tiki taka” Barcelona atau sepak bola menyerang mulai terbaca lawan.

Sistem bertahan dengan 4-4-2 menjadi khas bagi Atletico-nya Simeone. Dengan strategi compact defense atau deep defense, Atletico mampu menasbihkan diri sebagai tim di era modern yang dikenal dengan ciri khusus yakni “bertahan”.

Beda dengan format bertahan ala Jose Mourinho di Madrid ketika itu yang sering dikenal orang dengan “parkir bus”. Sistem bertahan Simeone lebih compact. Dengan mengandalkan pertahanan zona marking.

Di mana pemain menjaga per zona masing-masing dengan memperhatikan arah serangan bola tanpa melakukan man to man marking. Tak jarang sisi sayap serang dan striker diharuskan juga untuk terlibat dalam menjaga kedalaman zona format 4-4-2 Simeone.

Kedisiplinan menjadi penting bagi kolektivitas permainan Simeone. Karakter sepak bola yang “keras” sering diperagakan Simeone di Atletico. Tak jarang berbuah kartu, tapi juga sukses merusak konsentrasi lawan.

Membunuh mental lawan terlebih dahulu kemudian keluar dengan counter attack cepat setelah lawan frustasi atau deadlock dalam menyerang adalah salah satu trik permainan Simeone.

Pemanfaatan set pieces dengan mengandalkan pelanggaran dari pemain-pemainya sering membuahkan hasil. Tak jarang Atletico diselamatkan oleh gol-gol dari intrik melalui set piece.

Musim ini semuanya hilang. Identitas seni bertahan Simeone di Atletico perlahan mulai luntur seketika. Ketika mereka baru saja meraih juara La Liga musim 2020/2021.

Atletico musim 2021/2022 justru lebih banyak membelanjakan transfernya untuk lini depan seperti membeli Griezmann ataupun Suarez. Menandakan mereka mulai memikirkan lini penyerangan mereka, bukannya pertahanan sebagaimana khas mereka.

Status Atletico sebagai peraih titel juara menjadi beban tersendiri. Mereka sekarang tidak lagi dikatakan underdog. Dengan status juara bertahan, Simeone tampaknya mencoba bermain menguasai bola di musim ini. Namun Simeone lupa kalau ada yang keropos, yaitu lini pertahanan mereka.

Faktor materi pemain lini belakang, menurunnya performa Jan Oblak, membuat identitas bertahan Atletico mulai hilang dan imbasnya ke performa Atletico yang kerap tidak konsisten.

https://youtu.be/9SYXreN32Ik

Sumber Referensi : mirror, tellerreport, eurosport