Klub Celtic kembali menarik perhatian publik pecinta sepak bola, khususnya para penikmat sepak bola dari Asia Timur. Pasalnya, di bursa transfer musim dingin kemarin, klub bersejarah Liga Skotlandia itu kembali menggaet pemain asal Jepang.
Tak tanggung-tanggung, Celtic memboyong tiga pemain sekaligus dari Kompetisi kasta tertinggi Liga Jepang. Tiga pemain tersebut adalah, Rio Hatate dan Yosuke Ideguchi yang sama-sama berposisi sebagai pemain tengah, lalu ada Daizen Maeda yang berposisi sebagai pemain sayap.
Sebelumnya, Celtic juga sudah mendatangkan satu pemain asal Jepang bernama Kyogo Furuhashi dari Vissel Kobe pada Juli 2021. Jadi, pada musim 2021/2022 kali ini, Celtic telah diperkuat oleh empat pemain nasional Jepang.
We are the champions! 🏆
I am so happy to win the first title with @CelticFC! Proud of this team! This is for you, Celtic fans! Thank you for your support!🍀 pic.twitter.com/9d6tUz6RpM— Kyogo Furuhashi 古橋 亨梧 (@Kyogo_Furuhashi) December 19, 2021
Hal itu melengkapi daftar pemain Jepang yang bermain untuk Celtic. Jauh sebelum empat nama tersebut muncul di Liga Skotlandia, nuansa negeri sakura di Celtic sudah terasa kala raksasa Skotlandia itu mendatangkan Shunsuke Nakamura pada tahun 2005 silam. Dengan ketajaman kaki kirinya, Nakamura dapat memberikan warna yang berbeda di skuad Celtic kala itu.
Langkah Celtic untuk mendatangkan empat pemain jepang sekaligus menjadi suatu hal yang patut dipertanyakan, sebenarnya mengapa Celtic mendatangkan pemain-pemain Jepang? Apa tidak tertarik gitu buat mendatangkan pemain Indonesia?
Pelatih Anyar Celtic
Nuansa Jepang yang cukup kental di skuad Celtic musim ini diawali dari langkah Celtic untuk mencari sosok pelatih anyar pengganti Neil Lennon yang kontraknya habis pada Februari 2021. Akhirnya, pada pertengahan tahun 2021, manajemen Celtic menjatuhkan pilihan pada sosok Ange Postecoglou yang mana adalah mantan pelatih Yokohama F Marinos.
Ange Postecoglou menjadi nama yang cukup asing di kancah persepakbolaan Eropa. Lantaran sebelum memutuskan untuk melatih Celtic, pria berusia 56 tahun tersebut memulai karier kepelatihan bersama South Melbourne. Kemudian dirinya ditunjuk sebagai pelatih tim muda Australia pada 2000 hingga 2007 dalam kelompok umur U-17 hingga U-20.
Ia juga sempat menangani beberapa klub Liga Australia, seperti Brisbane Roar dan Melbourne City. Catatan yang apik bersama klub mengantarkan Ange untuk menukangi Timnas Senior Australia. Pria kelahiran Athena, Yunani itu berpisah dengan negaranya setelah berhasil membawa mereka lolos ke kualifikasi Piala Dunia 2018 di Rusia
Dalam upaya perpanjangan kontrak, federasi sepak bola Australia dan Angelos Postecoglou tak menemui titik temu. Akhirnya di tahun yang sama, Ange mencoba peruntungan di negeri sakura bersama Yokohama F Marinos.
🎙️ “We go through the season trying to continually new benchmarks and try to create new levels for ourselves”🍀
More from Ange Postecoglou👇#MOTCEL | #cinchPrem | #COYBIG💪
— Celtic Football Club (@CelticFC) February 5, 2022
Kisah Ange Postecoglou bersama Yokohama F Marinos sangatlah manis, Ange hampir memenangkan setiap laga yang ia pimpin. Puncaknya, pada tahun kedua Ange di Jepang. Kala itu Yokohama meraih titel J-League musim 2019/2020. Prestasi tersebut sekaligus memutus puasa gelar Yokohama F Marinos selama 15 tahun lamanya.
Tiga tahun Postecoglou di Jepang adalah bukti bahwa ia seorang praktisi yang kuat dari sepak bola berbasis kerjasama tim. Dia percaya pada sepak bola yang menghibur daripada hanya berfokus pada hasil. Performa Yokohama F Marinos di musim tersebut adalah bukti ideologi sang manajer.
Tiga tahun itu pula jadi alasan yang cukup bagi Postecoglou untuk menyimpulkan bahwa kualitas pemain Jepang tak kalah dengan pemain-pemain Eropa. Mereka layak untuk bersaing di level kompetisi yang lebih tinggi.
Harga Yang Murah
Dengan pengalaman tiga tahun melatih di Liga Jepang, Ange Postecoglou tahu betul betapa bagusnya kualitas pemain-pemain Jepang. Pemain Jepang pertama yang didatangkan oleh Postecoglou ke Celtic adalah Kyogo Furuhashi. Pemain itu didatangkan hanya seharga 4,6 juta poundsterling atau sekitar Rp 90 miliar.
Itu adalah angka yang cukup kecil bagi klub-klub Britania Raya seperti Celtic. Terlebih dengan harga yang segitu, Furuhashi menampilkan permainan yang apik. Ia tak canggung meski baru merasakan atmosfer sepak bola Eropa. Sejauh ini Furuhashi sudah mengemas 16 gol dan 5 assist dalam 26 pertandingan di semua kompetisi.
Nah, saat mereka berada di situasi yang memaksa membuntuti sang rival, Rangers, selama setengah musim penuh, momen bursa transfer musim dingin kemarin dimanfaatkan dengan baik oleh manajemen Celtic. Mereka ingin merebut kembali posisi pertama Liga Skotlandia dari Rangers.
Di sinilah kejelian Celtic, manajemen klub ingin melakukan peningkatan pada skuad, namun dengan ongkos yang seminimal mungkin. Pemain Jepang lah solusinya. Akhirnya, manajemen bersinergi dengan sang pelatih yang tentu cukup berpengalaman di sepak bola Asia. Celtic berusaha mendatangkan pemain-pemain terbaik yang ada di Jepang untuk memperkuat Celtic.
Dan Yosuke Ideguchi pun didatangkan dari Gamba Osaka dengan biaya hanya Rp 13 miliar. Lalu, Rio Hatate direkrut dari Kawasaki Frontale dengan biaya sekitar Rp 26 miliar. Sementara Daizen Maeda datang dengan status pinjaman dari Yokohama F Marinos dan akan menjadi permanen di musim panas nanti.
☑️ The beginning of the week saw another transfer window done and dusted.
📸 Here we take a look back at some previous first days in Paradise as a Celt for some heroes of previous seasons.🍀⤵️
— Celtic Football Club (@CelticFC) February 5, 2022
Harapannya dengan kembali mendatangkan tiga pemain asal Jepang, mereka dapat memberikan kontribusi positif seperti Furuhashi. Siapa coba yang tidak tergoda dengan rataan harga yang tak lebih dari Rp 30 miliar?
Pemain Jepang dapat memberikan kontribusi yang cukup signifikan. Terbukti kini Celtic kembali memimpin kelasemen Liga Skotlandia.
Tak bisa dipungkiri, Liga Jepang memang menjadi salah satu Liga terbaik yang ada di Asia, tak ayal, pemain-pemain sekelas Iniesta, Lukas Podolski, hingga David Villa memilih Liga Jepang untuk menikmati masa-masa akhir karier sepak bola mereka.
Marketing ke Asia
Langkah Celtic dalam mendatangkan empat pemain nasional Jepang, bukanlah hanya sekedar investasi bodong. Melainkan investasi jangka panjang yang menguntungkan bagi klub, Liga Skotlandia, dan Jepang itu sendiri.
Bagaimana tidak? Dengan mendatangkan lebih banyak pemain Jepang, akan ada peningkatan minat yang cukup besar terhadap klub Glasgow di Jepang. Pasar sepak bola Skotlandia akan semakin luas mencakup negara-negara Asia terutama Jepang itu sendiri.
Efek domino pun akan terjadi, apabila fans Celtic di Asia Timur bertambah, maka otomatis harga hak siar untuk sepak bola Skotlandia akan jauh lebih meningkat. Hal ini juga akan menguntungkan pihak Celtic. Mereka akan mendapat lebih banyak perhatian dari pasar sepak bola yang lebih besar.
Sekelas pemain Jepang saja masih mau dijadikan media promosi oleh klub Eropa seperti Celtic. Hal semacam ini akan menjadi simbiosis mutualisme antara Jepang dan Celtic. Pemain Jepang akan mendapat porsi latihan sesuai kurikulum sepak bola Eropa.
Terlebih apabila pemain Jepang dapat membuktikan diri di Liga Skotlandia, tak menutup kemungkinan mereka akan dilirik oleh klub-klub Top Eropa yang tak mau mengambil resiko dengan bertaruh pada pemain Asia yang belum matang.
Sumber: Transfermarkt, Scotsman, Football365, Goal
