Beranda blog Halaman 586

Mengapa AS Monaco Bisa Bermain di Liga Prancis?

0

Association Sportive de Monaco alias AS Monaco telah menata citranya sebagai salah satu klub yang memiliki kesuksesan di Liga Prancis. Meski sering kali identik dengan Liga Petani, pada kenyaatannya sebelum era kejayaan Paris Saint-Germain, AS Monaco menjadi salah satu klub yang memiliki prestasi mengilap dengan 8 gelar liga.

Namun, sulit untuk bisa memungkiri bahwa AS Monaco adalah klub lokal yang betul-betul lahir di Prancis. Kenyataannya AS Monaco memang bukan klub asal Prancis, melainkan klub yang lahir dari rahim kerajaan Monako.

Tentu kamu akrab dong sama Negara Monako? Yup, negara yang memiliki bendera mirip dengan bendera Indonesia itu menjadi salah satu bagian dari negara Prancis.

Akan tetapi, jangan dulu mengira kalau keikutsertaan AS Monaco di Liga Prancis semata-mata karena izin dari pemerintah Prancis. Ada alasan lain yang mendasari mengapa AS Monaco bisa bermain di Liga Prancis.

Timnas Monako Tidak Diakui

Meski termasuk negara kota yang berdaulat, dan termasuk negara kecil terpadat kedua di dunia, namun Kerajaan Monako tak memiliki Tim Nasional dalam konteks tidak diakui oleh organisasi sepak bola apa pun, kecuali federasinya sendiri. Jadi, Monako memang memiliki Tim Nasional, tapi keaktifannya hanya di laga-laga persahabatan amatir.

Apakah Timnas Monako tidak diakui FIFA? Betul sekali, bahkan bukan hanya induk sepak bola dunia yang tidak mengakui Timnas Monako, konfederasi sepak bola dari benua tempat Monako berdiri, UEFA pun tidak mengakui keberadaan Timnas Monako.

Mengapa demikian? Itu karena Monako masih menjadi tanggungan negara Prancis. Keamanan di Kerajaan Monako masih menjadi wewenang pemerintahan Prancis. Namun, dengan status sebagai negara berdaulat, Monako punya kewenangan untuk mengatur negaranya, termasuk yang berkaitan dengan ekonomi.

Walaupun tidak mendapat pengakuan, Timnas Monako sudah melakoni setidaknya 27 pertandingan menghadapi tim kerajaan lain, klub lokal, dan tim yang tidak diketahui banyak orang. Misalnya, Monako pernah menang atas Tibet 2-1 pada tahun 2001 yang digelar di Freiburg, Jerman.

Meski tak mendapat pengakuan dari FIFA, Timnas Monako tetap bisa tampil di Piala Dunia Viva tapi pakai “v”. Yang digelar perdana pada tahun 2006. Namun, di kompetisi yang diikuti empat tim tersebut, Timnas Monako kalah dari Sápmi (wilayah Sami di Skandinavia Utara dan Rusia) di partai final.

Sayangnya, karena tidak mendapat pengakuan dari FIFA itulah, Timnas Monako menjadi tidak aktif. Menurut Sports Quotes and Facts, pertandingan terakhir yang dilakoni Timnas Monako adalah pada tahun 2014. Ketika Monako menang 2-0 dari Vatikan di Roma, Italia. Karena Timnasnya tidak diakui itulah, Monako tidak bisa mengadakan agenda, termasuk kompetisi.

Tidak Punya Liga Domestik

Federasi Sepak bola Monegasque atau Monako, karena tidak mendapat pengakuan dari konfederasi mana pun, akhirnya tidak menggelar kompetisi liga domestik. Akibatnya, klub-klub di Monako, harus mencari liga lain untuk diikuti. Tapi pertanyaanya, memangnya ada klub sepak bola dari Monako?

Iya, ada. AS Monaco itulah klub asal Kerjaan Monako. AS Monaco merupakan salah satu klub sepak bola profesional ekspatriat di sepak bola Eropa. Selain itu, masih ada FC Vaduz dari Kerajaan Liechtenstein yang juga berkompetisi di luar negaranya, yaitu di Liga Swiss.

Bagaimana AS Monaco Berdiri?

Jika menilik sejarahnya, AS Monaco sendiri sebetulnya sudah berdiri tahun 1919. Klub itu berdiri berkat penyatuan klub-klub lokal. Maka dari itu, namanya Association Sportive de Monaco (AS Monaco).

Karena tidak memliki liga domestik, federasi sepak bola Prancis pun menawarkan AS Monaco agar bermain di Liga Prancis. Tawaran itu pun diterima. AS Monaco secara resmi berdiri tahun 1924 kemudian menjadi bagian dari Liga Prancis. Namun AS Monaco harus memulainya dari divisi amatir di wilayah Provence-Alpes-Côte d’Azur, sebuah sub region di Prancis.

Namun, AS Monaco sendiri juga ternyata baru diakui oleh federasi sepak bola Prancis sebagai klub profesional pada tahun 1933. Setelah pengakuan itulah, AS Monaco mulai bermain di liga profesional, tepatnya di divisi dua. Namun, di tahun pertama berlaga di divisi dua, AS Monaco gagal dan kembali terlempar di liga amatir.

AS Monaco pada akhirnya bisa kembali ke divisi dua pada tahun 1948. Les Rouges et Blancs akhirnya bisa mencapai divisi pertama Liga Prancis untuk pertama kalinya pada tahun 1953. Sejak saat itu, prestasi Monaco kian menanjak.

Prestasi yang Kian Menanjak

Walaupun tidak termasuk bagian dari federasi sepak bola Prancis, AS Monaco sukses mengumpulkan sederet gelar di Liga Prancis. Salah satu yang mungkin saja tak bakal dilupakan seluruh rakyat Monako adalah ketika AS Monaco menjuarai divisi pertama Liga Prancis untuk pertama kalinya.

Itu terjadi pada tahun 1960. AS Monaco yang kala itu masih ditukangi pelatih kharismatik, Lucien Leduc sukses mengangkat trofi. Bahkan hebatnya lagi, bukan hanya trofi liga domestik, AS Monaco juga sukses mengangkat trofi Piala Prancis usai mengalahkan Saint-Etienne.

Kiprah AS Monaco di Prancis pun memesona. Selain memborong 8 gelar Ligue 1, klub yang bermarkas di Stade Louis II itu juga meraih lima trofi Coupe de France. Di tataran Eropa, AS Monaco juga turut membanggakan sebagai wakil dari Prancis.

AS Monaco pernah sampai ke final Piala Winner 1992, sebelum dikalahkan Werder Bremen. Di UEFA Champions League, AS Monaco pernah sampai partai semifinal pada tahun 1994. Ketika itu mereka takluk atas sang juara, AC Milan.

Pesaing PSG

Keberadaan AS Monaco di Liga Prancis tentu mengusik ketenangan Paris Saint-Germain. AS Monaco menjadi salah satu pesaing terberat PSG di Liga Prancis. PSG usai kedatangan Qatar Sports Investment pada tahun 2011, jelas mendatangkan keuntungan bagi Ligue 1. Namun, keberadaan AS Monaco juga berpengaruh signifikan.

Terlebih di tahun yang sama saat Al-Khelaifi investasi ke PSG, taipan asal Rusia, Dmitry Rybolovlev juga mengakuisisi AS Monaco. Akhirnya Ligue 1 pun makin diperhitungkan. Perusahaan seperti bandar taruhan online dan industri layanan streaming sejak 2011 tidak hanya fokus menyiarkan PSG, tapi juga AS Monaco.

Soal gelar Ligue 1, AS Monaco menguntit PSG yang memiliki 9 gelar. Sementara di kancah Eropa, prestasi keduanya mirip. AS Monaco dan PSG sama-sama pernah mencapai final. Jika Monaco melakukannya pada tahun 2004, PSG melakukkannya tahun 2020 dengan kekalahan atas Bayern Munchen.

Sumber referensi: footballhistory.org, sqaf.club, fifa.com, hellomonaco.com

Tak Betah, Rashford Mencari Pintu Keluar Old Trafford

Kekalahan telak 4-1 dari rival sekota Manchester City menyisakan beberapa masalah di tubuh Manchester United. Beberapa kabar di luar lapangan menyebutkan ada beberapa pemain yang memang sudah tidak punya semangat lagi untuk membela tim Manchester itu.

Dari beberapa pemain tersebut muncul kabar bahwa salah satu bintang muda mereka Marcus Rashford termasuk dalam daftar pemain yang bermasalah. Ia bahkan akhir-akhir ini mengisyaratkan semakin tidak betah tinggal di Old Trafford. Lantas, apa yang menyebabkan ia semakin tidak betah di Old Trafford?

Performa Menurun

Tidak dipungkiri performa Rashford musim ini bisa dinilai jauh dari kata baik. Ia mengawali musim dengan absen di beberapa laga karena harus menjalani operasi bahu yang dideritanya. Ia baru bermain melawan Leicester di Premier League sebagai pemain pengganti di musim ini pada Oktober 2021.

Performa Rashford setelah pulih dari cedera pun tidak spesial. Ia kerap bermain buruk dan cenderung kurang bersemangat dalam lapangan. Performa menurun ini terlihat drastis di masa kepemimpinan pelatih Ralf Rangnick. Pasalnya, di bawah Ole musim lalu, ia menjadi salah satu bagian penting MU meraih posisi runner up.

Di bawah Rangnick hingga sekarang performanya naik turun, seperti apa yang ia tunjukan ketika partai piala FA saat MU berhadapan dengan Aston Villa. Ia bermain buruk selama pertandingan bahkan sampai mendapat cemoohan dari fans setelah pertandingan, karena ia terlihat lesu saat mengejar bola muntahan yang bisa saja dikejar dan menjadi gol.

Sejak dari itu publik MU berpendapat bahwa performa Rashford sedang tidak baik-baik saja musim ini. Selain efek cederanya, penampilan Rashford setelah kepergian Ole nampaknya dipengaruhi menit bermainnya yang terlihat kurang.

Faktor Menit Bermain

Faktor menit bermain Rashford di MU menjadi penyebab penting ia mulai tak betah tinggal di Theater of Dreams. Tentu kondisi itu harus ia terima akibat penampilannya yang belum prima dan mau tidak mau harus dicadangkan oleh pelatih.

Mengingat ia butuh menit bermain lebih untuk memulihkan kembali penampilannya ketika lama berkutat dengan cedera bahunya. Sejak Rashford bermain sebagai starter pada partai melawan Newcastle pada Desember 2021, dia hanya bermain tiga kali sebagai starter dari 11 pertandingan terakhir United.

Rashford menjadi starter pada leg pertama babak 16 besar Champions League di Atletico Madrid dan pertandingan Piala FA melawan Aston Villa dan Middlesbrough

Pada satu kesempatan dia tidak bisa bermain karena cederanya kambuh lagi, selebihnya ia hanya menghuni bangku cadangan. Kekalahan 4-1 dari Manchester City di Etihad adalah penampilan keenamnya dari bangku cadangan pada musim ini.

Seiring dengan belum pulihnya performa Rashford, menit bermain Rashford juga dihakimi sang pelatih Rangnick. Beda cerita di jaman Ole ketika Rashford kurang perform ia tetap dipakai sebagai starter di pertandingan selanjutnya.

Faktor kepercayaan pelatih sekarang ternyata berbeda. Tampaknya Rashford tidak dipercaya oleh Rangnick. Meskipun Rangnick mengatakan bahwa akan berbuat semampunya agar potensi Rashford bisa dimanfaatkan kembali.

Faktor Taktik Pelatih

Selain faktor kurangnya menit bermain, faktor penerapan posisi Rashford dalam skema taktik Rangnick juga menjadi penyebab tidak nyamannya Rashford di MU sekarang. Dengan pakem 4-2-2-2 atau 4-2-3-1 ala Rangnick, Rashford dinilai tidak cocok menjalankannya. Meski saat dilatih Ole, dengan skema 4-2-3-1, Rashford malah cocok dan bahkan menjadi kekuatan Ole di penyerang kiri musim lalu.

Skema counter attack Ole tampaknya lebih cocok bagi Rashford ketimbang permainan pressing Rangnick. Dalam membangun serangan seringkali terlihat Rashford selalu kebingungan dengan pakem baru Rangnick. Tak jarang ia juga sering dituntut Rangnick untuk sesekali terlibat dalam pertahanan ketika diserang lawan.

Di bawah Rangnick, ia kesulitan beradaptasi dengan filosofi gegenpressing. Kerja kerasnya untuk memahaminya selama dalam latihan selama ini belum terlihat. Disamping itu juga posisi nyaman Rashford di penyerang kiri sering diabaikan oleh Rangnick.

Rangnick akhir-akhir ini lebih sering memasang Jadon Sancho atau Paul Pogba di lini kiri penyerangan United. Rashford pernah dicoba di posisi penyerang kanan dan hasilnya kurang memuaskan. Sehingga Rangnick berputar otak untuk menampilkan seorang Anthony Elanga, pemain belia yang dipercaya dan berbuah hasil di lini kanan penyerangan United.

Kehadiran sosok pemain baru seperti Sancho yang akhir-akhir ini kembali meningkat, semangat menggebu-nggebu dari anak muda seperti Elanga dan juga kehadiran seorang Ronaldo membuat Rashford luput dari sorotan dan cenderung kalah bersaing dengan mereka. Ia seperti tenggelam namanya dari skuad United akhir-akhir ini.

Beberapa rentetan penyebab seperti kurangnya menit bermain serta ketidaknyamanan posisi barunya, bisa saja menjadi kenyataan bahwa Rashford benar-benar geram dan memutuskan untuk meninggalkan Old Trafford musim depan. Mengingat hal itu didorong oleh keterikatan Rashford secara kontrak di United.

Kontrak Habis 2023

Pemain berusia 24 tahun itu memiliki kontrak hingga tahun 2023 dan United memiliki opsi untuk memperpanjang Rashford satu tahun lagi. Secara harga dipasaran Rashford juga masih tinggi jika dilepas manajemen United di musim depan, ketimbang pergi dengan status free transfer pada 2023. Namun, agaknya sampai sekarang hal itu urung dibicarakan manajemen United.

Sekarang, bagaimanapun MU bersama Rangnick akan tetap bertugas sementara sampai akhir musim dan Rashford harus mempertimbangkan apakah dia mau bekerja keras untuk United dalam meningkatkan performanya guna dipercaya lagi oleh Rangnick.

Kurangnya menit bermain, membuat posisi Rashford di Timnas Inggris juga terancam. Penyerang United itu kemungkinan dicoret dari pertandingan persahabatan Inggris melawan Swiss dan Pantai Gading akhir bulan Maret 2022 ini.

Rashford mau tidak mau harus bekerja ekstra keras untuk meningkatkan performa nya guna dipercaya kembali Southgate pergi ke Qatar 2022 bersama Timnas Inggris.

Bagaimanapun secara keputusan, Rashford tetap akan menanti setiap kejelasan yang akan diberikan oleh United. Di sisi lain keengganan Rashford untuk bertahan di Old Trafford juga semakin tinggi. Terlebih sudah ada beberapa tawaran dari klub lainnya seperti klub kaya baru Newcastle, Arsenal sampai PSG.

Manchester United musim depan sedang dalam pencarian manajer permanen, dengan Mauricio Pochettino dan Erik ten Hag sebagai kandidat favorit. Kemungkinan Rashford untuk bertahan dan pergi dari United juga sedikit dipengaruhi faktor ini. Kebutuhan peran Rashford dalam skema pelatih baru akan cocok atau tidak bagi sang pelatih berikutnya.

https://youtu.be/CB3-dm6KyEE

Sumber Referensi : talksport, irishtimes, sportbible, fourfourtwo

Apakah Jesse Marsch Sosok yang Tepat Untuk Leeds United?

Leeds United kalah lagi! Mengawali bulan Maret 2022 dengan bertandang ke markas Leicester City, The Whites tunduk 1-0. Selain menambah panjang rentetan kekalahannya, hasil tersebut juga jadi awal baru Leeds United dengan pelatih barunya, Jesse Marsch.

Ya, pelatih asal Amerika Serikat itu adalah nahkoda baru Leeds United pasca klub yang bermarkas di Elland Road itu memecat Marcelo Bielsa. Bielsa mendapat surat pemecatan pasca serangkaian hasil buruk yang didapat The Whites dalam kurun waktu sebulan terakhir.

Sepanjang bulan Februari 2022, Leeds United gagal meraih satu pun kemenangan. Gawang mereka bahkan tercatat kebobolan 20 gol hanya dalam 5 pertandingan. Rentetan hasil buruk itu mengantar Leeds United turun ke peringkat 16 klasemen Premier League.

Dalam 26 pertandingan yang dijalani bersama Bielsa, Leeds hanya sanggup menang 5 kali dan meraih 8 kali hasil imbang. Ironisnya, Raphinha dkk. tercatat baru mencetak 29 gol dan sudah kebobolan 60 gol.

Keraguan yang Menyertai Penunjukan Jesse Marsch

Demi menyelamatkan kondisi tim yang tengah terpuruk itulah, Leeds United terpaksa berpisah dengan Marcelo Bielsa dan menunjuk Jesse Marsch sebagai penggantinya. Dilansir dari situs resmi klub, Jesse Marsch menekan kontrak di Elland Road hingga Juni 2025.

Penunjukan Jesse Marsch sebagai suksesor Marcelo Bielsa mendapat beragam kritikan. Yang utama, Marsch dianggap sebagai figur yang kurang tepat untuk menangani situasi Leeds United saat ini. Ini tak lepas dari rekor pelatih asal Amerika Serikat di Premier League yang meninggalkan kesan negatif.

Sebelum Marsch, pelatih asal Amerika yang pernah tampil di Liga Inggris adalah Bob Bradley dengan Swansea City dan David Wagner dengan Huddersfield Town. Wagner punya catatan lumayan dengan membawa Huddersfield Town promosi di tahun 2017. Namun, tidak dengan Bob Bradley.

Fakta bahwa Jesse Marsch adalah mantan asisten Bob Bradley membuatnya disamakan dengan mantan bosnya itu. Bradley hanya bertahan di Liga Inggris selama 84 hari dan hanya mendampingi Swansea dalam 11 pertandingan. Ia jadi manajer dengan masa jabatan terpendek keempat dalam sejarah Premier League.

Inilah yang juga jadi tantangan Jesse Marsch di Leeds United. Sebab, ia bakal berhadapan dengan stigma negatif tentang pelatih asal Amerika Serikat di sepak bola Inggris. Saat ini saja, ada beberapa pihak yang menyamakan dirinya dengan Ted Lasso, seorang pelatih sepak bola fiktif dari drama komedi yang berjudul sama.

“Saya pikir mungkin ada stigma di sekitar pelatih Amerika. Saya tidak yakin Ted Lasso membantu. Saya belum menonton acaranya tetapi saya mengerti. Orang-orang benci mendengar kata soccer, saya telah menggunakan kata football sejak saya menjadi pemain profesional dan ini adalah negara kelima tempat saya melatih,” kata Marsch dikutip dari BBC.

Selain itu, rekam jejak Jesse Marsch di RB Leipzig juga kurang mengesankan. Sebelum menyebrang ke Elland Road, pelatih berusia 48 tahun itu terakhir menangani RB Leipzig selama 5 bulan hingga dipecat pada awal Desember tahun lalu.

Semasa dilatih Jesse Marsch, penampilan RB Leipzig tidak konsisten dan angin-anginan. Meski mampu meraih 7 kemenangan, tetapi Die Rotten Bullen juga menelan 4 hasil imbang dan 6 kali menelan kekalahan.

Namun jika menilik CV-nya lebih dalam, Jesse Marsch punya prestasi yang lumayan. Ia 2 kali meraih gelar Liga Austria dan Piala Austria bersama Red Bull Salzburg. Ia juga meraih 2 trofi Supporters’ Shield bersama New York Red Bulls dan sekali terpilih sebagai pelatih terbaik MLS.

Akan tetapi, apapun hasil yang diraih Jesse Marsch bersama klub-klub Red Bull tak bisa dijadikan patokan. Sebab, ini jadi kali pertama ia melatih klub Premier League dan kebetulan ia menjadi nahkoda Leeds United di saat-saat genting. Kebetulan lagi, hasil pertama yang ia raih adalah sebuah kekalahan.

Kini, pertanyannya adalah, apakah Jesse Marsch sosok yang tepat untuk Leeds United?

PR Jesse Marsch di Leeds United

Untuk menganalisisnya, kita perlu menilik beberapa masalah serius yang harus ditangani Jesse Marsch di Leeds United. Yang pertama sudah pasti pertahanan. Kebobolan 60 gol hanya dalam 26 pertandingan jadi bukti betapa rapuhnya pertahanan The Whites.

Berbeda dengan Marcelo Bielsa yang menekankan skema bertahan man-to-man marking, Jesse Marsch lebih menyukai skema zonal marking. Sepintas cara tersebut cukup ampuh di pertandingan melawan Leicester City. Jika sebelumnya Leeds selalu kebobolan minimal 3 gol di 5 pertandingan terakhirnya, melawan Leicester gawang Illan Meslier hanya bobol sekali.

Akan tetapi, ini baru pertandingan pertama dan akan masih banyak ujian lain di pertandingan berikutnya. Lebih jauh lagi, Jesse Marsch masih punya PR lain untuk dibenahi, yaitu soal kinerja lini serang Leeds United musim ini yang kurang menggigit.

Musim lalu, Leeds United finish di peringkat 9 dengan catatan 62 gol dalam semusim. Catatan tersebut kontras dengan pencapaian Leeds di musim ini dimana mereka baru sanggup mencetak 29 gol dalam 27 pertandingan.

Jika melihat catatan statistiknya, musim ini Leeds United sudah menghasilkan 115 shots dan 4,3 shots on target per laga. Catatan tersebut menempatkan mereka di posisi 10 sebagai tim dengan jumlah shots on target terbanyak di Liga Inggris. Sayangnya, dari jumlah tersebut hanya 27 yang berupa peluang emas dan imbasnya The Whites hanya sanggup mencetak 1,1 gol per laga.

Rapuhnya pertahanan dan seretnya gol Leeds United musim ini juga ada kaitannya dengan masalah cedera yang menggerogoti skuad mereka sejak awal musim. Ya, musim ini, Leeds United diserang badai cedera yang membuat mereka kesulitan bersaing. Bahkan hanya untuk sekadar memasang skuad terbaik di tiap laga saja susahnya minta ampun. Bielsa bahkan nyaris memasang susunan pemain bertahan yang berbeda di tiap laganya akibat badai cedera ini.

Di lini tengah, Leeds juga sudah lama tak diperkuat Kalvin Phillips yang sudah menepi sejak awal Desember tahun lalu akibat cedera hamstring. Sementara di lini depan, Patrick Bamford yang musim lalu jadi top skor tim baru tampil 6 kali di liga akibat cedera engkel dan hamstring.

Sejatinya, manajemen Leeds United, khususnya sporting director Victor Orta tak asal-asalan menunjuk Jesse Marsch sebagai pengganti Marcelo Bielsa. Meski secara detail taktik keduanya berbeda, tetapi ada kesamaan yang dimiliki oleh kedua pelatih tersebut.

Marsch juga menyukai gaya main agresif yang berorientasi kepada bola. Dengan gaya main energik nan dinamis, seharusnya para pemain Leeds United bisa dengan cepat beradaptasi dengan gaya taktik Jesse Marsch.

Terbukti di laga melawan Leicester City, para pemain Leeds United mampu melepas 19 tembakan dimana 4 di antaranya mengarah tepat sasaran. Meski belum menghasilkan gol lebih banyak, tetapi formasi 4-2-3-1 yang dapat berubah menjadi 4-2-2-2 ketika laga berjalan sepertinya membuat lini tengah mereka jadi lebih stabil.

Selain itu, Jesse Marsch juga kerap bekerja dengan skuad yang banyak berisikan pemain muda. Kebetulan, banyak pemain muda dalam skuad Leeds United dan Marcelo Bielsa punya kebiasaan untuk memanggil pemain U-23 ke skuad utama. Estafet tersebut sepertinya bisa diteruskan dengan kehadiran Jesse Marsch.

Meski Jesse Marsch punya kontrak hingga Juni 2025, tetapi sebenarnya masa jabatan mantan pelatih RB Leipzig itu sangat singkat. Sebab, tugas utamanya di Elland Road bukanlah sekadar meneruskan tongkat estafet Marcelo Bielsa.

Jesse Marsch punya tugas utama untuk menyelamatkan Leeds United agar tetap bertahan di Premier League. Sayangnya, waktu yang ia miliki tinggal tersisa 11 pertandingan. Marsch juga bukan tipe pelatih instan yang bisa langsung memberi perubahan, ia juga butuh waktu.

Selain itu, Jesse Marsch juga bukan seorang Sam Allardyce yang jago dalam menyelamatkan tim dari jurang degradasi. Pengalaman perdana di Liga Inggris dan langsung menangani tim yang terancam degradasi adalah tantangan terbesarnya. Bila berhasil, ia akan mengubah pandangan publik Inggris terhadap pelatih asal Amerika.

Namun, sebelum membayangkan hal tersebut, ada baiknya para pendukung Leeds United untuk berpikir realistis, sebab ini adalah Premier League. Penunjukan Jesse Marsch sebagai pengganti Marcelo Bielsa sebenarnya tepat-tepat saja. Namun, menilik situasi dan waktu yang dihadapi, menunjuk pelatih tanpa pengalaman Premier League di tengah ancaman degradasi adalah sebuah perjudian yang patut dinanti hasil akhirnya.

“Rasa hormat saya kepada Marcelo Bielsa sangat besar. Saya tahu ada tantangan untuk itu. Saya di sini bukan untuk menjadi Marcelo Bielsa. Saya di sini untuk melanjutkan proses dan mengambil langkah selanjutnya untuk klub. Sama bangganya dengan para penggemar yang bangga dengan hubungan mereka dengan Marcelo, adalah tugas saya untuk memastikan mereka dapat terus bangga dengan apa yang kita miliki,” kata Marsch dikutip dari SkySports.

https://youtu.be/-RPnzPcg7EI
***
Sumber Referensi: The Guardian, LeedsUnited, BBC, Transfermarkt, SkySports.

Tambal Sulam Benfica Saat Bintangnya Dijual

0

Benfica jadi klub Portugal paling produktif urusan melaju ke liga antarklub Eropa. Tercatat As-Aguias telah bertanding di final Liga Champions atau Piala Eropa sebanyak tujuh kali. Kemonceran tersebut diiringi dengan kesuksesan menguasai Liga Primeira Portugal. 37 trofi telah masuk di lemari Estádio do Sport Lisboa Benfica. Jumlah ini belum mampu disusul dua seterunya, FC Porto yang baru mengumpulkan 29 gelar dan Sporting CP dengan 19 gelar.

Kesuksesan Benfica di liga domestik maupun Eropa terletak pada kemampuan klub mengelola akademi dan kebijakan transfer.

Manajemen akan secara rutin melihat pemain tim utama bisa dijual ke klub lain dan menyiapkan pengganti sepadan dari akademi atau membeli pemain. Pekerjaan demikian bagi manajemen Benfica tampaknya tak akan ada habisnya.

Contohnya, Joao Felix yang dilepas ke Atletico Madrid seharga 113 juta euro (Rp1,7 triliun), Victor Lindelof dijual ke Manchester United seharga 30,7 juta euro (Rp481,2 miliar), Ederson seharga 35 juta euro (Rp548,6 miliar) ke Manchester City dan Nelson Semedo ke Barcelona se harga 27 juta euro (Rp423,2 miliar).

Namun, Benfica begitu cerdik menemukan penggantinya, setelah nama-nama tadi mulai hengkang pada tahun 2013. Lantas, bagaimana Benfica bisa cepat menemukan pengganti semua pilarnya yang sudah hengkang?

Empat Pilar Akademi dan Peran Pedro Marques

Per 2018 Benfica menunjuk Direktur Teknik, Pedro Marques. Ia ditugaskan oleh manajemen untuk memimpin  dan mengkoordinasikan program pengembangan Akademi Seixal Futebol sejak direkrut menjadi pemain dari akademi hingga transisi. Pria asal Portugal itu memiliki pengalaman delapan tahun bekerja di Manchester City

Guna memproduksi pemain muda siap pakai di skuad utama. Pedro Marques memiliki empat pilar dalam mengembangkan Akademi Seixal Futebol.

Pilar pertama, scouting. Pengembangan bakat pemain muda akan mulus jika proses scouting dan rekrutmennya berjalan baik. Bagi Marques, akademi klub akan besar saat pemain bagus lolos melalui tahap scouting.

Upaya ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi pemain. Data yang dikumpulkan akan digunakan oleh tim kepelatihan  dalam membuat roadmap pemain. Fungsinya, untuk melihat bakat dan perkembangan pemain yang bergabung di akademi sejak usia delapan atau sembilan tahun akan dipersiapkan bermain di tim utama dalam jangka 10 tahun ke depan.

Pilar kedua, metodologi pengembangan pemain. Pemain yang bergabung di akademi akan diprofilkan untuk perencanaan pengembangan individu. Rencana pengembangan individu didasarkan dalam metode sport science yang dimiliki oleh akademi. 

Tim kepelatihan tak segan akan menilai pemain lalu mendiskusikan bersama untuk membicarakan kebutuhan pengembangan mereka.

Pilar ketiga, kompetisi. Bersaing di kompetisi adalah bagian dari permainan. Akademi perlu mengelola persaingan sehingga pemain mendapatkan tantangan secara tepat.

Akademi melihat persaingan sebagai bagian dari proses pembangunan karakter pemain. Lewat kompetisi internal dan liga kelompok umur selaras membantu pemain berkembang. Di Portugal, kompetisi kelompok usia disusun secara bertahap dari turnamen usia muda hingga transisi ke pro.

Pilar keempat, peluang bermain di tim senior. Pelatih tim utama akan menggunakan jasa pemain akademi dengan skema percobaan di musim pertama. Jika performanya konsisten, di musim berikutnya ia akan digunakan secara reguler pada musim kedua. Wajar, bila pelatih Benfica tak segan menggunakan pemain akademi saat pemain andalannya dijual oleh klub.

Pilar ini digunakan oleh  Marques di akademi Seixal Futebol untuk menghasilkan pemain bagus dan akan mengetuk pintu guna masuk ke tim utama. Oleh sebab itu, didikannya selalu siap saat dipanggil di tim utama.

Usaha Menutupi Utang

Direktur Eksekutif Benfica, Domingos Soares de Oliveira sadar betul bahwa Benfica memiliki setumpuk utang sebesar 100 juta euro (Rp1,5 triliun) dari warisan skandal mantan presiden Luis Felipe Vieira. Peristiwa itu membuat kondisi keuangan klub terguncang. Soares melakukan usaha agar neraca keuangan klub seimbang. 

Guna memuluskan rencananya, Benfica telah menetapkan serangkaian tonggak komersial di sepak bola Eropa. Mereka menjadi klub pertama di liga papan atas Eropa yang menerima pembayaran melalui blockchain, dalam hal ini dengan penyedia cryptocurrency Utrust.

Selain itu, mereka adalah tim sepak bola Portugal yang memiliki platform berlangganan over-the-top (OTT) dan  Benfica Play. Ada juga kemitraan berbagi pengetahuan sport science dengan San Francisco 49ers dan San Francisco Giants

Melalui cara tersebut, Soares mengklaim mampu membayar separuh hutang di akhir tahun 2020. 

Selain sisi komersial, penjualan pemain masuk dalam rencana menyehatkan keuangan klub. Pemain-pemain hasil didikan akademi dijual oleh Benfica, seperti André Gomes (Valencia), Bernardo Silva (AS Monaco), Joao Cancelo (Valencia), Ruben Dias (Manchester CIty), Renato Sanches (Bayern Munich), Nelson Semedo (Barcelona), Victor Lindelof (Manchester United), dan Gonçalo Guedes (PSG), Witsel (Dortmund), David Luiz (Chelsea), Di Maria (Real Madrid)

Penjualan hasil akademi pun disesuaikan kapabilitas pemain. Contohnya, musim panas 2014 Ezequiel Garay  dijual ke Zenit St. Petersburg seharga 12 juta euro (Rp188,1 miliar). Kepergian Garay diganti bek muda dari akademi Victor Lindelof. Manajemen Benfica kembali tak kuasa menahan pemainnya usai Manchester United menggelontorkan mahar 30,7 juta Euro (Rp481,2 miliar) untuk pindah ke Old Trafford per 2017.

Setelah Lindelof pindah ke Manchester United, Benfica mempromosikan bek tengah Ruben Dias dari Benfica B ke tim utama Benfica. Pada musim perdananya, ia hanya tampil 24 kali di liga dan dua pertandingan Liga Champions.

Musim keduanya, Ruben Dias penampilannya meningkat drastis dengan hanya melewatkan lima dari 60 pertandingan Benfica di semua kompetisi. Ia juga membantu As Aquinas merebut kembali gelar liga dari Porto.

Terbukti musim panas tahun 2020 Ruben Dias berganti seragam Manchester City dengan mahar 35.4 juta Euro (Rp555,1 miliar).  Kepergian Dias segera ditutupi dengan kedatangan Nicolas Otamendi dan Jan Vertonghen ke Estádio do Sport Lisboa Benfica.

Soares juga menggunakan pola jual beli pemain Benfica mengacu pada “beli murah, jual mahal”. Contohnya, pergantian Jan Oblak yang dilepas ke Atletico Madrid seharga 12,6 Euro (Rp197,5 miliar) lalu Ederson Moraes didatangkan dari Rio Ave dengan mahar 435 ribu Euro (Rp6,8 miliar).

Performa ciamiknya membuat Manchester City memboyong penjaga gawang berkebangsaan Brazil seharga 35 juta Euro (Rp548,6 miliar).  Lalu Benfica dengan cepat mendapatkan penggantinya yang sepadan, Odysseas Vlachodimos dari Panathinaikos pun dibeli seharga 2,1 juta euro (Rp32,9 miliar).

Kerja-kerja Benfica untuk menghidupkan klub melalui akademi dibarengi dengan kebijakan transfer “jual mahal beli murah” menjadi cara agar skuad mampu bersaing di liga domestik maupun Eropa. 

Referensi: Sport Media, The Guardian, Squawka, GoalForbes, The National, The Sun,

Mengapa Atalanta Bisa Jadi Klub dengan Profit Menjanjikan?

0

Atalanta jadi klub asal Bergamo, Italia yang berhasil lolos dari degradasi lalu masuk di empat besar klasemen Serie A secara konsisten. Kehadirannya menjadi penantang perburuan gelar domestik dan Eropa dalam lima tahun terakhir.

Kemunculan La Dea di papan atas mengejutkan banyak orang. Tim yang tak diperhitungkan keberadaannya, dengan skuad “murah” dan aturan finansial klub super ketat. Pencapaian Atalanta bukan sulap. Ada usaha selama tiga dekade yang dijalankan secara konsisten oleh presiden, akademi, tim, dan suporter. Lalu, bagaimana upaya Atalanta mengelola klub semenjana jadi profit yang menjanjikan?

Becus Urus Finansial

Persoalan keuangan Atalanta tergambar saat Presiden Atalanta, Percassi menjawab pertanyaan wartawan Sky Sport Italia mengenai tips dan trik mengelola keuangan klub selama satu dekade terakhir.

Percassi berusaha menjaga keseimbangan pembukuan keuangan sebagai fondasi bisnis klub. Ia sadar diri anggaran Atalanta sama sekali tidak sebanding dengan Juventus, AC Milan, Inter Milan, atau Napoli.

Alasan Percassi sadar diri melihat Juventus mampu mendatangkan pemain terbaik dunia dan menggaji 31 juta euro (Rp468,5 miliar) per tahun untuk Cristiano Ronaldo. Jumlah itu hampir setengah dari apa yang Atalanta bayarkan untuk seluruh skuad. Keadaan itu membuatnya memutar otak untuk menemukan cara bersaing dengan mereka.

Mula-mula Atalanta mengelola biaya staf kepelatihan. Pada tahun 2020, klub hanya menghabiskan 74 juta euro (Rp1,1 triliun) per tahun untuk biaya staf. Jumlah ini jauh lebih sedikit daripada Inter Milan yang mengeluarkan 198 juta euro (Rp3,09 triliun) atau Juventus 284 juta euro (Rp4,4 triliun).

Pengeluaran untuk staf kepelatihan diimbangi dengan urusan jual beli pemain dalam lima tahun terakhir, La Dea mencatatkan saldo perdagangan pemain yang positif mencapai 22 juta euro (Rp343,6 miliar) pada tahun 2016 tumbuh tiga kali lipat menjadi 68 juta euro (Rp1,06 tiliun) per tahun 2020. Hasil perdagangan pemain berdampak positif pada neraca keuangan klub.

Penjualan yang dilakukan Atalanta dibarengi dengan mengakuisisi 11 pemain agar skuad tetap konsisten dengan total biaya 95 juta euro (Rp1,5 triliun) . Four your information, nilai pasar kesebelas pemain tersebut mencapai 218 juta euro (Rp3,4 triliun) alias dua kali lipat dari harga beli.

Atalanta patut diacungi jempol untuk urusan mengelola keuangan. Sebab Atalanta adalah satu-satunya klub papan atas Serie A yang mendapat keuntungan di tahun 2020 alias tahun pertama pandemi melanda seluruh dunia.

Atalanta yang telah mengumpulkan keuntungan 129 juta euro (Rp20,1 triliun) sejak 2016. Rata mereka mencapai rata-rata keuntungan 25 juta (Rp390,9 miliar) per tahun euro dibandingkan raksasa Italia seperti AC Milan mencatat kerugian tahunan rata-rata sekitar 125 juta euro (Rp1,9 triliun)

Neraca positif Atalanta diraih sebelum suntikan modal atau investasi besar-besaran dari pemilik. Mereka juga belum mendapatkan kesepakatan sponsor besar, dan belum pernah diisukan terlibat skandal Financial Fair Play (FFP).

Kesehatan keuangan mereka adalah konsekuensi dari pekerjaan luar biasa yang dilakukan Percassi dan anggota dewan lainnya.

Peran Presiden Antonio Percassi

Percassi sendiri adalah mantan pesepakbola. Dia melakukan debut pada usia 17 saat bermain untuk Atalanta. Namun, pada usia 24 ia memutuskan pensiun dan mengejar karier sebagai pebisnis. Kecintaannya kepada Atalanta membuatnya enggan berjauhan dengan La Dea, sehingga kantor pusat bisnisnya pun terletak di Bergamo. 

Hingga tahun 2010, ia diangkat menjadi presiden klub dan memiliki kendali lebih serius. Ketika dia mengambil alih klub, Atalanta baru saja terdegradasi ke Serie B. Rencananya, pada musim pertama bertugas, Atalanta akan memenangkan kejuaraan Serie B untuk promosi ke Serie A.

Di bawah kendalinya, klub meningkatkan infrastruktur “Centro Sportivo Bortolotti” sebagai pusat rekreasi olahraga Kota Bergamo. Direkonstruksi menjadi 7 lapangan atau taman bermain, gym, ruang ganti, restoran, fisioterapi, pusat kesehatan, dan ruang pertemuan. Tak berhenti di situ, gebrakan Percassi sebagai presiden klub memutuskan mengakuisisi stadion dari pemerintah kota seharga 8,6 juta euro (Rp134 miliar).

 Produksi Pemain Lewat Akademi 

Akademi Atalanta bisa dibilang yang terbaik di Italia. Berbeda dengan tim besar, mereka tidak mampu membeli nama besar; sebaliknya, mereka memproduksinya. Selama bertahun-tahun secara konsisten menghasilkan pemain level tim utama.

Mino Favini direkrut dari Como untuk merombak sektor junior Atalanta. Hanya butuh dua tahun, klub muda Atlanta mengunci Primavera pertamanya.

Favini mengambil mereka yang memiliki bakat untuk sepak bola, daripada mereka yang besar dan kuat. Strategi perekrutan berdasarkan bakat karena yang dibutuhkan klub muda adalah hati dan jiwa untuk sepak bola. Urusan fisik bagi mantan pelatih muda Como datang dapat dikembangkan di kemudian hari.

Dia ingin menghasilkan karakter pemain yang gigih dalam bermain untuk tim. Alur pelatihannya, menekankan pada permainan tim dan proses pertumbuhan pemainnya. Ia tidak menginginkan bergantung pada super star di masa muda, melainkan pemain haus proses lalu beradaptasi dengan keberadaan tim.

Atalanta meniru model akademi paling terkenal di dunia, La Masia Barcelona. Akademi memiliki fokus pada pengembangan kemampuan teknis para pemain sebelum hal lain. Mereka percaya bahwa tidak ada gunanya fokus pada taktik dan formasi jika para pemain tidak dapat mengeksekusinya.

Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan beberapa produk pemuda terbaik mereka telah membantu mendanai operasi klub.

Misalnya, Dejan Kulusevski ditransfer ke Juventus seharga 34,8 juta euro (Rp600 miliar), Alessandro Bastoni ke Inter seharga 31,1 juta euro (Rp486,3 miliar), Franck Kessie dan Andrea Conti ke Milan masing-masing seharga 26.5 juta euro (Rp414,4 miliar) dan 24 juta euro (Rp375,3 miliar), Roberto Gagliardini ke Inter 22 juta euro (Rp344 miliar), dan Mattia Caldara ke Juventus se harga 19 juta euro (Rp297,1 miliar).

 

Gasperini Effect

Pada akhirnya, satu-satunya cara untuk mengukur keberhasilan proyek Percassi dengan hasil yang diperoleh di lapangan.

Penampilan Atalanta luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Dalam dua musim terakhir berada di empat besar Serie A. Di Liga Champions mereka mencapai perempat final Liga Champions musim 2020 sebelum dikalahkan PSG.

Gian Piero Gasperini menjadi manajer sejak 2016 dan musim pertama membawa tim ke posisi empat. Gasperini telah melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar membawa hasil bagi Bergamo.

Gasperini telah memberikan identitas kepada tim. Dengan sepak bola ofensif dan high press man-marking, bersama dengan formasi 3-4-3 mampu mengubah Atalanta menjadi mesin pencetak gol yang menyenangkan untuk ditonton.

Selain itu, Gasperini selalu menjadi manajer yang menaruh kepercayaan pada pemain muda yang dihasilkan dari Akademi Atalanta. Ia tak perlu kikuk saat pemain-pemain yang sangat penting bagi tim, seperti Kessie, Conti, dan kapten mereka Gomez hengkang.Tambal sepadan telah tersedia di klub atau pembelian harga murah. Jalan keluar ini dipilih Gasperini agar performa timnya tidak menurun

Atalanta telah menunjukkan, bahwa mereka membangun proyek serius dan ambisius dengan pondasi yang sangat kuat bakal membawa kesuksesan klub secara profit dan prestasi saat ini.

https://youtu.be/zyqXZGeT5vc

Referensi: Medium, Bleachreport, Goal, Irish Examiner, The Flanker

 

Berita Bola Terbaru 9 Maret 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

OWEN BERHARAP MO SALAH TEKEN KONTRAK BARU DI LIVERPOOL

Legenda Timnas Inggris dan Liverpool, Michael Owen, ingin bekas klubnya segera merampungkan kontrak baru untuk Mohamed Salah. Mengingat saat ini Salah masih belum meneken kontrak anyar. Padahal kontraknya hanya tersisa setahun lagi ketika musim ini berakhir. Owen tak ingin Mo Salah pergi ke klub lain. Sebab menurutnya, Liverpool masih sangat membutuhkan pemain seperti Salah.

DEULOFEU TENGAH DIPANTAU WEST HAM UNITED

West Ham United dikabarkan tengah memantau dan membuka pembicaraan dengan penyerang asal Spanyol, Gerard Deulofeu. Dilansir Football Espana, The Hammers berkeinginan membawa striker Udinese tersebut kembali ke Liga Inggris pada musim panas nanti. Selain West Ham, klub Italia Inter Milan dikabarkan juga tertarik memboyong Deulofeu.

POCHETTINO TEGASKAN KEMBALI KOMITMEN PSG UNTUK PERTAHANKAN MBAPPE

Pelatih PSG, Mauricio Pochettino menegaskan kembali komitmennya untuk mempertahankan Kylian Mbappe musim panas ini. Sang bintang sejauh ini belum memperbarui kontraknya yang akan habis sebentar lagi. Dikutip Football Espana, Pochettino masih menaruh harapan kepada pemain berusia 23 tahun itu kendati sang pemain kini menjadi incaran serius Real Madrid.

FOFANA PERPANJANG KONTRAK DENGAN LEICESTER CITY

Bek Prancis, Wesley Fofana menandatangani perpanjangan kontrak selama lima tahun dengan Leicester City pada Senin (7/3). Namun, bek 21 tahun itu belum bermain sekalipun pada musim ini setelah mengalami cedera patah kaki dan ligamen pergelangan kaki dalam laga pramusim tahun lalu. Namun, Fofana sudah semakin dekat untuk pulih dan The Foxes memberikan kontrak baru setelah ia tampil gemilang di musim pertamanya sejak didatangkan dari Saint Etienne seharga 30 juta pounds pada 2020.

DE BRUYNE MERASA MU TAK MENYERAH LAWAN MAN CITY

Para pemain Manchester United dituding menyerah saat dikalahkan Manchester City dengan skor telak 4-1 di Liga Inggris. Kritik tersebut dilontarkan oleh legenda klub Setan Merah, Roy Keane. Gelandang Manchester City Kevin De Bruyne pun kemudian memberikan penilaiannya. Meski memahami kritik tersebut, De Bruyne merasa MU bukannya menyerah saat dikalahkan City. Menurutnya, para pemain MU masih kesulitan beradaptasi dengan gaya main Ralf Rangnick.

LAPORTA AKUI TAK MENYESAL TENDANG MESSI DARI BARCA

Dalam momen ini tepat satu tahun menjabat sebagai Presiden Barcelona, Juan Laporta membahas mengenai keputusannya melepas Lionel Messi di bursa transfer musim panas 2021. Meski kepergian Messi menjadi salah satu momen paling menyakitkan, tapi Laporta mengaku tak menyesal melepas Messi karena itu dilakukan demi kebaikan Barcelona.

KONDISI MENTAL NEYMAR DI PSG BIKIN HENRY KHAWATIR

Mantan penyerang Timnas Prancis, Thierry Henry, khawatir melihat kondisi pemain bintang Paris Saint-Germain, Neymar. Pemain Brasil itu sudah bersama PSG sejak 2017. Jelang setengah dekade di PSG, Neymar mencetak 91 gol dari 134 penampilan untuk klub arahan Mauricio Pochettino tersebut. Namun, Neymar tidak menutupi perasaan tertekan yang kerap melandanya. Dia pernah mengatakan kalau Piala Dunia 2022 akan menjadi yang terakhir baginya. Henry menilai perkataan Neymar tersebut adalah ucapan minta tolong.

SHEVCHENKO MINTA DUNIA DUKUNG UKRAINA

Legenda sepak bola Ukraina, Andriy Shevchenko meminta dukungan dari dunia untuk negaranya yang saat ini berperang menghalangi invasi Rusia. Sheva mengakui bahwa banyak orang di Ukraina yang butuh makanan dan alat medis. Eks Bintang AC Milan dan Chelsea tersebut juga meminta dukungan moril untuk rakyat Ukraina. Menurutnya, penting bagi mereka untuk mengetahui bahwa mereka tak berjuang sendirian.

AS ROMA INCAR DIOGO DALOT

AS Roma dilaporkan masih tertarik untuk memboyong bek kanan Manchester United, Diogo Dalot pada musim panas 2022. Tim yang bermarkas di Olimpico tersebut tak kehilangan minatnya untuk mendatangkan sang pemain meskipun gagal pada bursa transfer awal tahun ini. Dilaporkan Football Italia, Manchester United terbuka untuk menerima tawaran klub-klub yang tertarik untuk menggaet Diogo Dalot. MU menginginkan 10 juta euro atau Rp156 miliar untuk klub yang ingin membeli Dalot. 

MILAN DAN LAZIO BERSAING DAPATKAN NICOLO CASALE

Dua klub besar Liga Italia, AC Milan dan Lazio dikabarkan tengah bersaing untuk mendapatkan bek tengah asal Hellas Verona, Nicolo Casale pada bursa transfer musim panas mendatang. Dikutip dari Football Italia, pada bursa transfer Januari lalu, baik AC Milan dan Lazio telah menghubungi Hellas Verona untuk Casale, namun I Mastini enggan menjual pemain berusia 24 tahun tersebut. Kini kedua tim tersebut tak mau menyerah begitu saja mengejar tanda tangan Nicolo Casale. 

LIVERPOOL SINGKIRKAN INTER MILAN

Liverpool berhasil melaju ke babak perempat final Liga Champions 2021/22 meski kalah dari Inter Milan di leg kedua laga babak 16 besar. Dalam laga yang digelar di Anfield, Rabu dinihari, pasukan Jurgen Klopp menyerah dari Inter Milan dengan skor 1-0 melalui gol tunggal Lautaro Martinez di menit 62. Atas hasil ini Liverpool lolos setelah menang agregat atas Inter dengan skor 2-1. 

DIWARNAI HATTRICK LEWY, BAYERN BANTAI SALZBURG

Bayern Munchen pesta tujuh gol ke gawang FC Salzburg pada laga leg kedua babak 16 besar Liga Champions di Allianz Arena. Robert Lewandowski mencetak hattrick di menit 12, 21, dan 23. Sedangkan sisa empat gol dibuat masing-masing oleh Serge Gnabry, Thomas Muller yang mencetak brace, dan ditutup oleh gol Leroy Sane. Sementara satu-satunya gol tim tamu dibuat oleh Maurits Kjaergaard. Kemenangan 7-1 membuat Bayern unggul agregat menjadi 8-2 atas Salzburg dan lolos ke babak berikutnya.

CETAK HATTRICK DALAM 23 MENIT, LEWY BUAT SEJARAH DI UCL

Striker Bayern München, Robert Lewandowski mencetak sejarah usai berhasil mengemas hattrick kontra FC Salzburg. Menariknya, Lewy mengukir hat-trick dalam waktu hanya 23 menit sejak sepak mula. Dengan waktu 23 menit, dia menjadi pencetak hattrick tercepat dalam sejarah Liga Champions (dihitung pasca kickoff). Lewy menyalip torehan Marco Simone yang memborong trigol dalam waktu 24 menit saat AC Milan bersua Rosenborg pada 1996.

LEWANDOWSKY PUTUS KONTRAK SPONSOR CHINA IMBAS BANTU RUSIA

Robert Lewandowski memutus kontrak sponsornya dengan perusahaan teknologi asal China, Huawei setelah perusahaan itu memberikan bantuan kepada Rusia yang sedang menginvasi Ukraina. Huawei dikabarkan memberikan dukungan secara khusus kepada Presiden Vladimir Putin demi menyediakan jaringan internet saat mengatasi serangan hacker di seluruh dunia kepada Rusia. Atas alasan inilah Lewy membatalkan kontraknya sebagai duta dari Huawei di kawasan Polandia, Eropa Tengah dan Timur, serta Skandinavia.

KLOPP SUDAH PREDIKSI INTER BAKAL MENYULITKAN

Manajer Liverpool, Juergen Klopp tak kaget dengan kemenangan Inter Milan atas Liverpool. Sebab, Nerazzurri memang punya kualitas untuk merepotkan The Reds.  Kemenangan susah payah yang didapat Inter ini tak mengejutkan Klopp karena sudah diprediksi sebelumnya. Namun, yang bikin kecewa Klopp adalah anak asuhnya tidak bermain disiplin dan banyak menyia-nyiakan peluang.

BINTANG PSG MBAPPE JADI KE MADRID

Kylian Mbappe dimasukkan dalam skuad Paris Saint-Germain untuk laga tandang melawan Real Madrid di leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Kamis (10/3) dini hari WIB. Setelah sempat diragukan karena cedera saat latihan, Mbappe akhirnya bisa ikut rombongan tim ke ibu kota Spanyol. Dikutip Goal, Mbappe sudah bisa berlatih secara normal pada Selasa, tanpa ada indikasi bahwa kaki kirinya bermasalah.

ANCELOTTI MINTA FANS REAL MADRID SAMBUT KYLIAN MBAPPE

Kehadiran Kylian Mbappe sudah pasti dinantikan fans Madrid. Apalagi kalau bukan soal spekulasi masa depannya terkait minat Madrid kepada Mbappe yang habis kontrak musim panas ini. Belum ada kejelasan terkait spekulasi tersebut karena Mbappe tidak pernah mau mengomentari soal ketertarikan Madrid. Oleh karenanya, laga leg kedua 16 besar ini bisa jadi “gladi bersih” untuk Madridista, sebelum Mbappe benar-benar bergabung. Soal sambutan fans Madrid ke Mbappe, Ancelotti mengatakan, “Saya rasa sejak dulu Bernabeu selalu menyambut dengan meriah para pemain hebat”.

CR7 KEMBALI KE PELATIHAN MANCHESTER UNITED

Cristiano Ronaldo kembali ke tempat latihan Manchester United di Carrington Hari Selasa setelah menghabiskan dua hari di Portugal. Seperti diketahui, Ronaldo  absen dari laga derby Manchester akhir pekan kemarin karena cedera. Sosok Ronaldo lalu tertangkap kamera sedang mengendarai mobilnya menuju ke komplek latihan MU pada Hari Selasa.

TINGGALKAN MU, RASHFORD GABUNG KE PSG?

Beberapa hari terakhir mencuat kabar bahwa Marcus Rashford mempertimbangkan kemungkinan meninggalkan Manchester United. Rashford tidak puas dengan kondisinya yang sekarang. Jurnalis Fabrizio Romano mengabarkan bahwa Rashford sedang mempertimbangkan masa depan di Old Trafford. Akan tetapi menurut Paul Merson, kecil kemungkinan Rashford akan benar-benar pergi karena kontraknya masih tersisa hingga 2023. Situasi ini ternyata dipantau oleh PSG yang ingin merekrut Rashford sebagai pengganti Mbappe yang tampaknya benar-benar akan pergi pada akhir musim nanti.

KARTU MERAH ALEXIS SANCHEZ BIKIN LAUTARO MURKA

Alexis Sanchez sempat membantu Inter merebut kemenangan 1-0 atas Liverpool dengan memberi assist ke Lautaro Martinez. Namun tak berselang lama kemudian petaka menghampiri Inter. Alexis Sanchez mendapat kartu kuning kedua usai melanggar Fabinho. Lautaro mengaku kesal dengan Alexis Sanchez karena kartu merah. Dia menyayangkan kartu merah yang didapat Alexis. Kalah jumlah pemain sejak menit ke-63 menjadi kerugian besar bagi Inter Milan.

KEMARAHAN GUARDIOLA KEPADA BEK MAN CITY KYLE WALKER

Pep Guardiola mengungkapkan bahwa dirinya sangat marah kepada salah satu pemainnya, Kyle Walker. Hal itu karena aksinya pada laga terakhir fase grup A Liga Champions 2021/22 yang berujung pada hukuman larangan bermain di 3 pertandingan. Kasus yang menimpa Walker mendapat kartu merah karena melanggar Andre Silva saat kalah 2-1 atas Leipzig. Guardiola mengatakan dia masih belum memaafkan Walker. Apalagi sejak bek Joao Cancelo dinyatakan absen dalam laga melawan Sporting leg kedua karena sakit.

TIMBULKAN KERUSUHAN, KLUB QUERETARO MENDAPAT SANKSI BERAT

Klub Meksiko Queretaro mendapatkan sanksi berat setelah suporter mereka menjadi biang kerusuhan di Liga Meksiko. Sanksi tersebut diberikan oleh Asosiasi Liga Meksiko. Queretaro diharuskan memainkan pertandingan kandang secara tertutup selama setahun setelah adegan kekerasan pada laga melawan Atlas Sabtu kemarin. Selain memainkan pertandingan kandang tanpa penggemar selama satu tahun, penggemar Queretaro juga dilarang melakukan away selama tiga tahun.

FIFA TUNDA LAGA UKRAINA VS SKOTLANDIA DI SEMIFINAL PLAY OFF PIALA DUNIA

FIFA akhirnya memutuskan menunda semifinal play-off Piala Dunia 2022 antara Ukraina melawan Skotlandia yang dijadwalkan akan digelar pada 24 Maret di Hampden Park. Penundaan diputuskan setelah Ukraina meminta pekan lalu agar FIFA menunda menyusul invasi Rusia ke negaranya. Akibatnya, final play-off untuk pemenang melawan Wales atau Austria pada 29 Maret juga akan ditunda.

BONUS BESAR MENANTI ARSENAL JIKA LOLOS KE LIGA CHAMPIONS

Manajemen Arsenal mengiming-imingi bonus sebesar 500 ribu pounds (sekitar Rp 9,4 miliar) bagi setiap pemain jika berhasil mengantar The Gunners lolos ke Liga Champions musim depan. Lebih lanjut, terdapat pemain Arsenal yang memiliki klausul kenaikkan gaji mingguan apabila Arsenal berkompetisi di Liga Champions. Sebagai informasi, pasukan Mikel Arteta saat ini bertengger di peringkat keempat klasemen Premier League dengan 48 angka.

Inilah 8 Pemain Yang Akan Hengkang Dari Manchester United

Musim 2021/2022 ini tidak berjalan seperti apa yang banyak diharapkan fans Manchester United. Skuad bertabur bintang dengan kualitas mumpuni dan berpengalaman sejauh ini mengalami banyak hambatan baik di bawah Ole maupun Rangnick.

Terkadang talenta-talenta kelas dunia di MU tidak sinkron dalam permainan dan cenderung bermasalah di luar lapangan. Banyak pemain MU bahkan para bintangnya sekarang mulai menghadapi masa depan yang tidak pasti. Berikut beberapa dari mereka yang mungkin akan hengkang dari MU di musim panas mendatang.

Paul Pogba

Pemain yang mungkin akan hengkang dari MU yang pertama yakni Paul Pogba. Gelandang Prancis itu meskipun akhir-akhir ini sering tampil reguler, tetapi ia tidak bisa lepas dari keinginannya untuk meninggalkan Old Trafford.

Salah satu gangguan terbesarnya di MU adalah ia sering bolak balik meja perawatan yang menyebabkan dia jarang konsisten. Kemudian faktor kepindahannya dari posisi terbaiknya sebagai gelandang box to box ke gelandang kiri di MU juga mengganggu performanya. Ia terlihat kurang nyaman di posisi barunya.

Bagaimanapun kondisi Pogba sekarang, ia harus melanjutkan kiprahnya paling tidak sampai akhir musim dengan menunjukan permainan terbaiknya guna memikat para klub besar sekaligus menaikan harga pasarnya di bursa transfer.

Terlebih sekarang, Pogba telah dilaporkan belum juga menandatangani kontrak baru di Old Trafford. Dan tampaknya, kontrak yang akan habis musim ini tidak akan diperpanjang lagi oleh MU. Sekarang Pogba santer diberitakan didekati beberapa klub besar macam Juventus dan PSG. Tinggal menunggu waktu saja Pogba hengkang dari Old Trafford.

Jesse Lingard

Pemain kedua yang akan hengkang adalah pemain muda didikan MU, Jesse Lingard. Ia sekarang jarang bermain di MU era Rangnick. Pintu keluar Lingard sebenarnya ada pada Januari 2022 lalu. Namun ia urung dilepas United, karena buntunya kesepakatan transfer.

Setelah tampil apik selama berstatus sebagai pemain pinjaman di West Ham United musim lalu, Lingard kembali ke United dengan harapan tampil reguler. Terlebih ketika itu Solskjaer mengumumkan bahwa dia dijanjikan peran reguler di skuadnya. Namun, yang terjadi sebaliknya, ia jarang menjadi starter di bawah Ole.

Sekarang, kepercayaan Lingard dengan United mendekati titik terendah. Ia berstatus bebas transfer untuk musim panas ini. Hampir tidak ada jaminan ia bertahan di MU. Seiring tidak dibutuhkannya dalam skema baru MU di bawah Rangnick maupun pelatih berikutnya. Ia sekarang hampir pasti hengkang dari MU.

Juan Mata

Yang ketiga yang hampir pasti hengkang yakni seorang senior, gelandang flamboyan asal Spanyol, Juan Mata. Mata kini terlupakan di antara bintang-bintang yang datang ke United musim ini. Juan Mata kontraknya juga akan habis pada musim panas ini, ketika dia sekarang sudah tidak muda lagi. Ia sekarang berusia 34 tahun.

Mata jarang dipercaya di dalam pola permainan United, baik oleh Ole maupun Rangnick. Mata adalah sosok senior yang kini tersisa di United. Ia tidak lagi hebat seperti dulu. Tampaknya sekarang ia harus mulai memikirkan masa tuannya baik itu bermain di luar Eropa, maupun pulang ke kampung halamanya di Spanyol untuk menikmati masa akhir karirnya sebagai pesepakbola.

Eric Bailly

Pemain keempat yang mungkin akan hengkang dari MU musim depan yakni bek Eric bailly. Eric Bailly tercatat telah menjadi pemain Manchester United selama enam tahun hingga 2022 ini.

Namun selama itu, Bailly gagal mendapatkan tempat utama di lini belakang United seiring penampilannya yang inkonsisten dan bahkan sering blunder. Bailly juga akrab dengan cedera sehingga ia hanya menjadi bek tengah pilihan keempat di United sekarang di bawah Harry Maguire, Victor Lindelof, dan Raphael Varane.

Dengan kontrak yang akan berakhir pada 2024, musim panas ini akan menjadi waktu yang tepat untuk Bailly mencoba mengembalikan performanya di klub lain untuk setidaknya bermain reguler pada setiap pertandingan.

Edinson Cavani

Pemain kelima yang mungkin hengkang dari MU adalah Edinson Cavani. Setelah United berhasil meyakinkan Edinson Cavani untuk memperpanjang kontraknya musim panas lalu, sepertinya kondisi kontraknya sekarang kembali terasa seperti tak menentu.

Pemain Uruguay itu kerap tersingkir dari skuad MU setelah kedatangan CR7 di posisi penyerang tengah. Ia juga sering cedera seiring usianya yang sudah tak lagi muda. Cavani sekarang mulai menyadari untuk membuka peluang hengkang dari United.

Pria yang akan berusia 35 tahun saat kontraknya di MU habis ini mungkin tidak akan bertahan. Dengan peremajaan skuad United di musim panas mendatang dengan pelatih baru, dirinya sadar bahwa perannya sudah tidak lagi dibutuhkan di United.

Anthony Martial

Pemain keenam yang akan hengkang dari MU adalah Anthony Martial. Martial sekarang masih pada fase peminjaman di Sevilla. Ia memiliki klausul pembelian dalam kesepakatannya di Sevilla. United nampaknya sudah rela dengan kepergiannya ke Sevilla.

Pemain Prancis itu mencapai titik jenuh di Old Trafford entah saat dilatih Ole maupun Rangnick. Di mana ia berjuang untuk mendapatkan tempat utama di United. Mengingat bahwa penerapan taktik pelatih MU baik Ole maupun Rangnick tampaknya tidak cocok dengan gaya permainannya.

Aaron Wan Bissaka

Pemain ketujuh yang mungkin akan pergi dari Old Trafford adalah bek kanan Aaron Wan Bissaka. Musim ini menjadi musim yang mengecewakan bagi Aaron Wan-Bissaka. Dirinya kini sering menjadi opsi kedua setelah Diogo Dalot yang kerap dipercaya Rangnick mengisi pos bek kanan United.

Sepertinya manajer berikutnya juga tidak akan mempertahankan dirinya. Calon pelatih United musim depan seperti Erik ten Hag maupun Mauricio Pochettino tampaknya lebih suka gaya permainan bek dengan naluri menyerang serta crossing-nya yang akurat. Hal itu yang tidak dipunyai Wan Bissaka. Ia cenderung bertipe bertahan dan kurang bisa mengoptimalkan crossing.

Dengan Wan Bissaka yang masih berusia 24 tahun, keputusannya untuk mencari klub lain terbuka lebar. Terlebih gaya permainannya sangat cocok di tim-tim inggris yang cenderung lebih bertahan. Opsi kepindahan Wan Bissaka mungkin akan terealisasi musim panas ini.

Cristiano Ronaldo

Dan yang terakhir yang mungkin akan say goodbye dengan United adalah mega bintang mereka, Cristiano Ronaldo. Sebenarnya, kedatangan Ronaldo untuk kali kedua di United dimulai dengan luar biasa. Seiring pergantian pelatih dari Ole ke Rangnick performa dirinya turun drastis. Skema taktik Rangnick seolah kurang cocok baginya.

Ronaldo akhir-akhir ini sering mandul. Ia bahkan sering berurusan di luar lapangan. Ronaldo sempat bermasalah di ruang ganti United bahkan cekcok dengan Rangnick. Hal ini tampaknya menjadi sinyal bahwa ia sudah tidak betah lagi di MU.

Ronaldo hanya menandatangani kontrak dua tahun di United. Ia sekarang mengalami fase terburuk dalam kariernya. Setelah sebelumnya ia membayangkan kembalinya ke United ini dapat meningkatkan lagi performa Setan Merah. Dan iya, yang terjadi justru sebaliknya. Ronaldo malah jadi beban.

Dia bukan tipe orang yang akan bertahan di klub tertentu jika klub itu tidak mengistimewakannya, seperti apa yang terjadi di Juventus musim lalu. Musim ini waktu untuk bernostalgia di Old Trafford bagi Ronaldo sudah habis. Ia banyak dikaitkan dengan PSG saat tim itu kehilangan Mbappe, dan digadang-gadang akan menggantikannya. Terlebih PSG juga mengincar Zidane sebagai pelatih, yang notabene sangat dekat dan cocok dengan gaya permainan Ronaldo.

https://youtu.be/OqhVl35JhAM

Sumber Referensi : acefootball, manchestereveningnews, fourfourtwo

Kiprah Menakjubkan Arsene Wenger: Dari Nagoya Jadi Legenda Arsenal

0

Seorang pelatih berkelas, cerdas, dan penuh talenta pasti menyukai tantangan. Ia tidak akan berkutat pada satu klub saja, atau bahkan berkubang pada satu level kompetisi yang sudah lama ia akrabi.

Arsene Wenger menjadi salah satu pelatih yang sampai Hari Kiamat pun bakal disegani. Entah bagi para penggemar Arsenal atau seluruh penikmat sepak bola di dunia. Seperti kredo tadi, sebagai sosok pelatih cerdas, Arsene Wenger memilih untuk pergi jauh sekali dari negaranya.

Usai memutuskan untuk tak melanjutkan karier di AS Monaco, Wenger memilih terbang ribuan mil jauhnya. Ia bukan pergi ke klub Eropa lain maupun klub-klub di Amerika. Namun, Wenger justru memilih untuk mengunjungi Benua Asia.

Ia datang ke klub Jepang, Nagoya Grampus East dengan status sebagai pelatih top Eropa. Sebelum kemudian proposal dari Arsenal datang, dan membuatnya tak bisa menolak. Namun, untuk menjelaskan bagaimana perjalanannya dari Eropa sampai ke Jepang, untuk kemudian balik lagi ke Eropa dan membangun Arsenal kita bisa memulainya dari pertengahan tahun 1990-an.

Menuju Nagoya

Tahun 1994, Arsene Wenger memasuki masa-masa sulit di AS Monaco. Target juara Ligue 1 yang dibebankan padanya, tak sanggup ia penuhi. Wenger kesulitan membawa AS Monaco meraih titel setelah terakhir meraihnya tahun 1988.

AS Monaco hanya mampu dibawanya mengekor Marseille di peringkat kedua pada tahun tersebut. Namun, belum juga target juara kembali terpenuhi, Wenger harus pergi dari sana. Saat itu, Prancis sedang heboh skandal korupsi yang menyangkut pejabat-pejabat klub, dan itu mengusik integritas seorang Wenger.

Ia merasa Prancis sudah tidak bersih. Wenger tidak nyaman berada di liga di mana orang-orang di dalamnya tak punya integritas. Ia pun memutuskan pergi dari sana, dan meninggalkan pekerjaannya. Meskipun dengan cara dipecat.

Ia pergi dari Prancis, dan tiada yang menyangka kalau Wenger mengambil tiket penerbangan menuju Jepang, salah satu negara top di Asia. Sepak bola Jepang, pada saat itu, kebetulan sedang mengalami fase transformasi.

Dengan kedatangan pemain kaliber Zico dan Dunga, membuat sepak bola Jepang makin populer. Banyak taipan kaya mulai menaruh investasi ke klub-klub di Negeri Sakura. Nah, saat itu, sekitar tahun 1994, Nagoya Grampus East sedang mengalami masa sulit.

Mereka kesulitan di tangga klasemen. Meskipun Nagoya Grampus sudah memiliki investor kaya, sebuah perusahan produsen mobil kenamaan, Toyota, yang menjadi pemilik klub. Tahun 1994, Nagoya Grampus hanya mampu finis di peringkat kedelapan J-League.

Usai dipecat Monaco, sebetulnya beberapa klub kenamaan Eropa menyatakan minatnya pada Arsene Wenger. Seperti Bayern Munchen dan Arsenal itu sendiri. Akan tetapi, hasratnya ke Jepang sulit terbendung.

Apalagi, pada tahun 1994, Wenger sudah lebih dulu bertemu perwakilan dari Toyota saat menghadiri Konferensi FIFA tahun 1994 di Uni Emirat Arab. Pertemuan itu memberinya kesan, sampai-sampai mampu membuat Wenger menerima tawaran untuk melatih Nagoya Grampus.

Pada saat itu, Wenger bertemu Ketua Nagoya Grampus, Shoichiro Todoya. Todoya menyampaikan misinya untuk membangun Nagoya menjadi klub besar dalam kurun seratus tahun. Visi itulah yang kemudian mengusik naluri Wenger, dan membuatnya tidak bisa tidak langsung menandatangani kontrak.

Datang ke Nagoya

Kedatangan Arsene Wenger ke Nagoya bukan berarti membuat seluruh elemen di klub tersebut bersuka cita. Justru kedatangan Wenger ke Nagoya melahirkan pertanyaan besar bagi seluruh elemen, terutama para pemain.

Saat ia resmi menjadi pelatih Nagoya pada Januari 1995, tidak ada yang mempercayai Wenger. Bahkan, kiprah Wenger di Eropa, termasuk tentu saja di Prancis sangat meragukan. Para pemain pun tidak berekspektasi tinggi pada sosok Arsene Wenger.

Bek Nagoya Grampus kala itu, Tetsuo Nakanishi berterus terang mengatakan bahwa tidak ada yang mempercayai Wenger. Menurutnya, Wenger bagi Nagoya tak lebih dari sekadar sosok asing yang mau membongkar Nagoya.

Namun, pendapat itu sangat keliru. Karena kelak, justru Wenger lah yang memberi kesan manis bagi Nagoya meski dalam waktu singkat.

Kiprah di Nagoya

Semuanya tersentak, tatkala Wenger justru mendatangkan kekalahan di tiga laga awalnya bersama Nagoya dari laga debutnya pada Maret 1995. Setelah itu, sampai pada delapan pertandingan bersama Nagoya, Wenger hanya kuasa memberi tiga poin.

Musim pertamanya di Nagoya memang tak berjalan mulus. Wenger masih kesulitan membawa kemenangan bagi Nagoya. Pun sebaliknya, ia kerepotan untuk sekadar menghentikan laju kekalahan.

Seolah enggan memperburuk citra pelatih asal Eropa, Wenger pelan-pelan mencari ritme, mencari langkah, mencari jalan keluar agar Nagoya tak bapuk. Wenger yang semula terkenal kaku dalam melatih, mengubah pendekatannya.

Ia menanyakan apa kemauan tim yang sesungguhnya, terutama para pemain. Wenger mendesak agar pemain mampu memutuskan sendiri apa yang bakal mereka lakukan di lapangan. Dengan kata lain, ia tak mau pemain sekadar menuruti seluruh kemauannya.

Singkat cerita, Nagoya Grampus mulai menunjukkan sinyal positif. Arahan Wenger mulai menunjukkan tanda kecocokan. Pada paruh pertama musim, Nagoya pun menuntaskannya dengan 15 kemenangan, dan duduk di posisi keempat.

Konsistensi pun meledak. Paruh kedua, Nagoya Grampus di bawah Wenger makin gacor. Mereka menuntaskan musim dengan 17 kemenangan dari 26 laga. Rekor itu sudah lebih dari cukup membuat Nagoya nangkring di posisi kedua pada akhir musim. Mereka kalah dari Verdy Kawasaki.

Walau gagal menjuarai J-League, Wenger justru mendapatkan penghargaan Pelatih Terbaik J-League musim itu. Penghargaan itu pun ia kawinkan dengan Piala Kaisar yang ia persembahkan untuk Nagoya Grampus.

Pada musim berikutnya, Wenger masih harus menuntaskan tugasnya meraih trofi Liga Jepang. Namun pada 1996, Wenger masih menemui kegagalan. Nagoya hanya sanggup mengekor Kashima Antlers yang berada di peringkat pertama. Walaupun Nagoya sukses mengemas 21 kemenangan dari 30 laga.

Datang ke Arsenal

Lantaran kiprah manisnya, Nagoya ingin menahan Wenger. Setidaknya untuk satu saja gelar liga. Namun, tawaran dari Arsenal datang lagi. Dan Wenger sulit untuk menolak tawaran itu lagi.

Wenger pun terbang ke London Utara pada tahun 1996. Namun, seperti di Nagoya, Wenger kembali diremehkan sebagai manajer pendatang baru. Ia diragukan bisa menangani Arsenal.

Apalagi secara CV, Wenger belum sekalipun menangani klub Inggris sebelumnya. Bahkan statusnya yang mantan pelatih klub Jepang, membuat reputasinya agak meredup. Tapi ia tak ambil pusing, Wenger memilih menerabas segala sentimen negatif terhadapnya.

Arsenal Cara Jepang

Kelak, Wenger menjadi salah satu manajer paling dihormati. Ia mempersembahkan banyak gelar buat Arsenal. Walaupun pada kenyataannya, Wenger menggunakan cara Jepang untuk melatih Arsenal.

Manajer yang sukses memoles Djorkaeff sampai Henry itu, menerapkan cara sepak bola Jepang untuk melatih Arsenal. Wenger tidak hanya menerapkan gaya Jepang seperti kehormatan, kerja keras, keikhlasan, sampai toleransi.

Ia lebih menekankan pada aspek ketenangan yang selalu dipegang teguh warga Jepang. Hal itu ia terapkan di Arsenal. Wenger selalu memberikan ketenangan bagi punggawa The Gunners.

Ia kerap menahan amarahnya. Alih-alih marah, ia justru menjaga pemain Arsenal agar tetap fokus dan stabil pada saat jeda babak pertama. Ia seperti bapak, mengatakan ke pemain agar bisa mengendalikan diri.

Wenger juga terkesan pada orang Jepang, yang meski kerja keras tapi sehat. Hal itulah yang ia praktikkan di Arsenal. Wenger selalu menjaga supaya pemain Arsenal tetap sehat dengan menjaga pola makan. Ia juga menerapkan diet khusus bagi para pemain Arsenal.

Berkat metode ala Jepang itu, Arsenal jadi masyhur di tangan Wenger. Sampai hari ini, siapa pun akan sepakat bahwa kiprah terbaik The Gunners adalah saat Arsene Wenger menjadi manajer. Sukses selalu Sang Profesor!

https://youtu.be/B4weyxFaWzI

Sumber referensi: thesefootballtimes.co, bleacherreport.com, fourfourtwo.com, wikipedia.org