Seorang pelatih berkelas, cerdas, dan penuh talenta pasti menyukai tantangan. Ia tidak akan berkutat pada satu klub saja, atau bahkan berkubang pada satu level kompetisi yang sudah lama ia akrabi.
Arsene Wenger menjadi salah satu pelatih yang sampai Hari Kiamat pun bakal disegani. Entah bagi para penggemar Arsenal atau seluruh penikmat sepak bola di dunia. Seperti kredo tadi, sebagai sosok pelatih cerdas, Arsene Wenger memilih untuk pergi jauh sekali dari negaranya.
Usai memutuskan untuk tak melanjutkan karier di AS Monaco, Wenger memilih terbang ribuan mil jauhnya. Ia bukan pergi ke klub Eropa lain maupun klub-klub di Amerika. Namun, Wenger justru memilih untuk mengunjungi Benua Asia.
Ia datang ke klub Jepang, Nagoya Grampus East dengan status sebagai pelatih top Eropa. Sebelum kemudian proposal dari Arsenal datang, dan membuatnya tak bisa menolak. Namun, untuk menjelaskan bagaimana perjalanannya dari Eropa sampai ke Jepang, untuk kemudian balik lagi ke Eropa dan membangun Arsenal kita bisa memulainya dari pertengahan tahun 1990-an.
Daftar Isi
Menuju Nagoya
Tahun 1994, Arsene Wenger memasuki masa-masa sulit di AS Monaco. Target juara Ligue 1 yang dibebankan padanya, tak sanggup ia penuhi. Wenger kesulitan membawa AS Monaco meraih titel setelah terakhir meraihnya tahun 1988.
AS Monaco hanya mampu dibawanya mengekor Marseille di peringkat kedua pada tahun tersebut. Namun, belum juga target juara kembali terpenuhi, Wenger harus pergi dari sana. Saat itu, Prancis sedang heboh skandal korupsi yang menyangkut pejabat-pejabat klub, dan itu mengusik integritas seorang Wenger.
Ia merasa Prancis sudah tidak bersih. Wenger tidak nyaman berada di liga di mana orang-orang di dalamnya tak punya integritas. Ia pun memutuskan pergi dari sana, dan meninggalkan pekerjaannya. Meskipun dengan cara dipecat.
Ia pergi dari Prancis, dan tiada yang menyangka kalau Wenger mengambil tiket penerbangan menuju Jepang, salah satu negara top di Asia. Sepak bola Jepang, pada saat itu, kebetulan sedang mengalami fase transformasi.
Dengan kedatangan pemain kaliber Zico dan Dunga, membuat sepak bola Jepang makin populer. Banyak taipan kaya mulai menaruh investasi ke klub-klub di Negeri Sakura. Nah, saat itu, sekitar tahun 1994, Nagoya Grampus East sedang mengalami masa sulit.
Arsene Wenger saying farewell to Nagoya Grampus supporters, incredible to look back. pic.twitter.com/I5YOt8lOkO
— Calum (@CalArsenal) August 17, 2016
Mereka kesulitan di tangga klasemen. Meskipun Nagoya Grampus sudah memiliki investor kaya, sebuah perusahan produsen mobil kenamaan, Toyota, yang menjadi pemilik klub. Tahun 1994, Nagoya Grampus hanya mampu finis di peringkat kedelapan J-League.
Usai dipecat Monaco, sebetulnya beberapa klub kenamaan Eropa menyatakan minatnya pada Arsene Wenger. Seperti Bayern Munchen dan Arsenal itu sendiri. Akan tetapi, hasratnya ke Jepang sulit terbendung.
Apalagi, pada tahun 1994, Wenger sudah lebih dulu bertemu perwakilan dari Toyota saat menghadiri Konferensi FIFA tahun 1994 di Uni Emirat Arab. Pertemuan itu memberinya kesan, sampai-sampai mampu membuat Wenger menerima tawaran untuk melatih Nagoya Grampus.
Pada saat itu, Wenger bertemu Ketua Nagoya Grampus, Shoichiro Todoya. Todoya menyampaikan misinya untuk membangun Nagoya menjadi klub besar dalam kurun seratus tahun. Visi itulah yang kemudian mengusik naluri Wenger, dan membuatnya tidak bisa tidak langsung menandatangani kontrak.
Datang ke Nagoya
Kedatangan Arsene Wenger ke Nagoya bukan berarti membuat seluruh elemen di klub tersebut bersuka cita. Justru kedatangan Wenger ke Nagoya melahirkan pertanyaan besar bagi seluruh elemen, terutama para pemain.
Saat ia resmi menjadi pelatih Nagoya pada Januari 1995, tidak ada yang mempercayai Wenger. Bahkan, kiprah Wenger di Eropa, termasuk tentu saja di Prancis sangat meragukan. Para pemain pun tidak berekspektasi tinggi pada sosok Arsene Wenger.
Bek Nagoya Grampus kala itu, Tetsuo Nakanishi berterus terang mengatakan bahwa tidak ada yang mempercayai Wenger. Menurutnya, Wenger bagi Nagoya tak lebih dari sekadar sosok asing yang mau membongkar Nagoya.
Namun, pendapat itu sangat keliru. Karena kelak, justru Wenger lah yang memberi kesan manis bagi Nagoya meski dalam waktu singkat.
Kiprah di Nagoya
Semuanya tersentak, tatkala Wenger justru mendatangkan kekalahan di tiga laga awalnya bersama Nagoya dari laga debutnya pada Maret 1995. Setelah itu, sampai pada delapan pertandingan bersama Nagoya, Wenger hanya kuasa memberi tiga poin.
Musim pertamanya di Nagoya memang tak berjalan mulus. Wenger masih kesulitan membawa kemenangan bagi Nagoya. Pun sebaliknya, ia kerepotan untuk sekadar menghentikan laju kekalahan.
Seolah enggan memperburuk citra pelatih asal Eropa, Wenger pelan-pelan mencari ritme, mencari langkah, mencari jalan keluar agar Nagoya tak bapuk. Wenger yang semula terkenal kaku dalam melatih, mengubah pendekatannya.
Ia menanyakan apa kemauan tim yang sesungguhnya, terutama para pemain. Wenger mendesak agar pemain mampu memutuskan sendiri apa yang bakal mereka lakukan di lapangan. Dengan kata lain, ia tak mau pemain sekadar menuruti seluruh kemauannya.
Singkat cerita, Nagoya Grampus mulai menunjukkan sinyal positif. Arahan Wenger mulai menunjukkan tanda kecocokan. Pada paruh pertama musim, Nagoya pun menuntaskannya dengan 15 kemenangan, dan duduk di posisi keempat.
Konsistensi pun meledak. Paruh kedua, Nagoya Grampus di bawah Wenger makin gacor. Mereka menuntaskan musim dengan 17 kemenangan dari 26 laga. Rekor itu sudah lebih dari cukup membuat Nagoya nangkring di posisi kedua pada akhir musim. Mereka kalah dari Verdy Kawasaki.
Nagoya Grampus lift the 1996 Japanese Super Cup.
Manager: Arsene Wenger
Star player: Dragan Stojkovic pic.twitter.com/GR0zeuD2cV
— Serbian Football (@SerbianFooty) October 25, 2020
Walau gagal menjuarai J-League, Wenger justru mendapatkan penghargaan Pelatih Terbaik J-League musim itu. Penghargaan itu pun ia kawinkan dengan Piala Kaisar yang ia persembahkan untuk Nagoya Grampus.
Pada musim berikutnya, Wenger masih harus menuntaskan tugasnya meraih trofi Liga Jepang. Namun pada 1996, Wenger masih menemui kegagalan. Nagoya hanya sanggup mengekor Kashima Antlers yang berada di peringkat pertama. Walaupun Nagoya sukses mengemas 21 kemenangan dari 30 laga.
Datang ke Arsenal
Lantaran kiprah manisnya, Nagoya ingin menahan Wenger. Setidaknya untuk satu saja gelar liga. Namun, tawaran dari Arsenal datang lagi. Dan Wenger sulit untuk menolak tawaran itu lagi.
Wenger pun terbang ke London Utara pada tahun 1996. Namun, seperti di Nagoya, Wenger kembali diremehkan sebagai manajer pendatang baru. Ia diragukan bisa menangani Arsenal.
Apalagi secara CV, Wenger belum sekalipun menangani klub Inggris sebelumnya. Bahkan statusnya yang mantan pelatih klub Jepang, membuat reputasinya agak meredup. Tapi ia tak ambil pusing, Wenger memilih menerabas segala sentimen negatif terhadapnya.
Arsenal Cara Jepang
Kelak, Wenger menjadi salah satu manajer paling dihormati. Ia mempersembahkan banyak gelar buat Arsenal. Walaupun pada kenyataannya, Wenger menggunakan cara Jepang untuk melatih Arsenal.
Manajer yang sukses memoles Djorkaeff sampai Henry itu, menerapkan cara sepak bola Jepang untuk melatih Arsenal. Wenger tidak hanya menerapkan gaya Jepang seperti kehormatan, kerja keras, keikhlasan, sampai toleransi.
Ia lebih menekankan pada aspek ketenangan yang selalu dipegang teguh warga Jepang. Hal itu ia terapkan di Arsenal. Wenger selalu memberikan ketenangan bagi punggawa The Gunners.
Ia kerap menahan amarahnya. Alih-alih marah, ia justru menjaga pemain Arsenal agar tetap fokus dan stabil pada saat jeda babak pertama. Ia seperti bapak, mengatakan ke pemain agar bisa mengendalikan diri.
Wenger juga terkesan pada orang Jepang, yang meski kerja keras tapi sehat. Hal itulah yang ia praktikkan di Arsenal. Wenger selalu menjaga supaya pemain Arsenal tetap sehat dengan menjaga pola makan. Ia juga menerapkan diet khusus bagi para pemain Arsenal.
Berkat metode ala Jepang itu, Arsenal jadi masyhur di tangan Wenger. Sampai hari ini, siapa pun akan sepakat bahwa kiprah terbaik The Gunners adalah saat Arsene Wenger menjadi manajer. Sukses selalu Sang Profesor!
https://youtu.be/B4weyxFaWzI
Sumber referensi: thesefootballtimes.co, bleacherreport.com, fourfourtwo.com, wikipedia.org


