Konflik Rusia-Ukraina masih terus berlangsung hingga hari ini dan sejak Rusia menginvasi Ukraina pada 24 Februari lalu, jumlah korban yang berjatuhan terus bertambah. Korban invasi Rusia ke Ukraina juga tak hanya berasal dari kalangan militer saja melainkan juga masyarakat sipil, termasuk mereka yang berasal dari lingkungan sepak bola.
Pada awal Maret lalu, dua pesepak bola Ukraina dilaporkan menjadi korban tewas invasi Rusia. Dua pemain tersebut adalah Vitalii Sapylo (21 tahun) dan Dmytro Martynenko (25 tahun).
Menurut laporan yang dihimpun FIFPRO, Sapylo yang bergabung bersama tentara Ukraina sebagai komandan tank tewas dalam sebuah pertempuran di ibu kota Kyiv. Vitalii Sapylo merupakan pemain muda dari klub divisi 2, Karpaty Lviv.
Sementara Dmytro Martynenko tewas setelah apartemennya dihantam misil Rusia. Martynenko yang merupakan pemain amatir dari klub liga regional, FC Gostomel dilaporkan tewas bersama ibu dan putrinya yang masih berusia 7 tahun.
Terbaru, korban invasi Rusia dari lingkungan sepak bola kembali bertambah. Kali ini korban berasal salah satu klub terbesar Ukraina, Shakhtar Donetsk. Melalui akun Facebook pribadinya, CEO Shakhtar Donetsk, Sergei Palkin menyampaikan bahwa salah satu pelatih akademi mereka tewas tertembak peluru.
โSeorang karyawan kami tewas kemarin. Dia pelatih akademi. Dia dibunuh oleh peluru Rusia. Rusia, kalian telah membunuh warga Ukraina. Stop kegilaan ini!โ tulis Palkin di akun Facebook-nya, dikutip dari Goal.
Kabar tersebut tentu menjadi kabar duka yang sangat memilukan, tak hanya bagi rakyat Ukraina secara luas, tetapi juga bagi klub Shakhtar Donetsk secara khusus. Pasalnya, ini bukan kali pertama bagi pemegang 13 gelar Ukrainian Premier League itu menjadi korban dari konflik Rusia-Ukraina.
Shakhtar Donetsk CEO Serhiy Palkin has announced one of the clubโs youth coaches was killed by a fragment of a Russian bullet in Ukraine this week pic.twitter.com/hn6OAtLsyQ
โ B/R Football (@brfootball) March 4, 2022
Donbass Arena, Kandang Mewah Shakhtar Donetsk yang Rusak Akibat Perang
Jika ditarik mundur, konflik Rusia-Ukraina sejatinya sudah berlangsung begitu lama. Sejak Uni Soviet bubar dan Ukraina meraih kemerdekaannya secara de jure pada 1991, Rusia dan Ukraina sudah beberapa kali terlibat konflik.
Akan tetapi, operasi militer Rusia yang sekarang ini sedang terjadi di Ukraina merupakan buntut dari konflik panas kedua negara yang pecah di tahun 2014. Di masa tersebut, kubu antipemerintah berhasil melengserkan presiden Viktor Yanukovych yang dituding pro-Rusia dari kursi jabatannya.
Saat Yanukovych lengser, Rusia menggunakan kesempatan itu untuk mencaplok wilayah Krimea. Negara yang dipimpin Vladimir Putin itu juga mendukung kelompok pro-Rusia yang melakukan protes di wilayah Donbass, tepatnya di kota Donetsk dan Luhansk. Selain menentang pemerintah, kelompok tersebut juga ingin memerdekakan diri dari Ukraina.
Masalah di wilayah Donetsk dan Luhansk itu kemudian berubah menjadi pemberontakan kelompok separatis bersenjata. Pemerintah Ukraina kemudian merespon dengan mengirim serangan militer balasan. Akibatnya, konflik bersenjata di wilayah Donbass akhirnya tak terbendung lagi dan masih berlangsung hingga hari ini.
Permasalahan itulah yang menyebabkan FC Shakhtar Donetsk menjadi salah satu pihak yang paling menderita akibat konflik Rusia-Ukraina. Pasalnya, klub berjuluk โHirnykyโ alias โMinersโ itu terpaksa terusir dari rumahnya sendiri.
Sejak musim 2009/2010, Shakhtar Donetsk bermarkas di Donbass Arena. Stadion tersebut adalah kandang baru Shakhtar Donetsk yang dibangun dengan anggaran mencapai 400 juta dolar AS. Mengutip dari situs resmi klub, Donbass Arena dibuka pada 29 Agustus 2009 dan memiliki kapasitas maksimum hingga 52.898 tempat duduk.
Stadion yang terletak di Lenin Komsomol Park itu merupakan stadion bintang lima UEFA pertama di Ukraina. Dijuluki โJewel in the Parkโ, Donbass Arena bisa dibilang sebagai salah satu stadion termegah dan termewah yang ada di wilayah Eropa Timur.
Dirancang oleh ArupSports yang juga mengarsiteki Etihad Stadium, Allianz Arena, Beijing National Stadium, hingga National Stadium Singapura, Donbass Arena begitu mencerminkan wajah Shakhtar Donetsk sebagai salah satu raja di Liga Ukraina. Memiliki bentuk seperti permata, Donbass Arena ditutup fasad kaca seluas 24.000 m2 yang dapat menyala di malam hari.
Fasilitas yang dimiliki kandang Shakhtar Donetsk itu juga sangat lengkap. Mengutip dari website resmi klub, terdapat 53 gerai makanan cepat saji, 4 Silver bar, sebuah Fan Cafe, media cafe dan lounge bar, serta 3 restoran mewah yang siap memuaskan pengunjung. Sebuah museum dan toko merchandise resmi juga tersedia di area stadion.
Sementara di dalam stadion, para penonton tak perlu khawatir soal cuaca. 93% dari area tribun penonton sudah tertutup dengan atap. Bahkan setiap kursi penonton di Donbass Arena juga sudah dilengkapi dengan sistem pemanas yang sangat berguna ketika musim dingin.
Selain itu, salah satu ciri khas yang dimiliki Donbass Arena adalah area taman di sekitar stadion yang luasnya mencapai 25 ha. Taman tersebut memiliki lebih dari 77 ribu tanaman dimana 35 ribu di antaranya berupa bunga mawar. Adanya taman, air mancur, dan danau buatan membuat area sekitar Donbass Arena juga menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat setempat.
Dengan fasilitas, kemewahan, dan kemegahan yang dimilikinya, maka wajar bila Donbass Arena dipakai sebagai salah satu venue EURO 2012. Kandang Shakhtar Donetsk itu menjadi tuan rumah pertandingan penyisihan Grup D dan satu pertandingan perempat final serta satu pertandingan semifinal Piala Eropa 2012.
#ThrowbackThursday #groundhopping
Yesterday, 9 years ago, we traveled to #Donetsk to see Spain & France clash in the #Euro2012 quarter-finals at Donbass Arena.
Months later, the region would see itself in a civil war which unfortunately still rages on.#Donbass #Ukraine #football pic.twitter.com/jNwDP14xuKโ R&D on Tour (@RDonTour1) June 24, 2021
Akan tetapi, itu merupakan kondisi Donbass Arena di masa lalu. Sebab, sejak konflik berkecamuk di wilayah Donbass, khususnya di Kota Donetsk, kondisi kandang Shakhtar Donetsk itu menjadi memprihatinkan. Pasalnya, konflik yang terjadi di wilayah tersebut berubah menjadi perang yang mencekam dan area sekitar stadion jadi salah satu medan perang.
Shakhtar Donetsk tercatat terakhir kali bemain di Donbass Arena pada 2 Mei 2014 saat mencatat kemenangan 3-1 atas Illichivets Mariupol. Laga tersebut sekaligus mengamankan gelar liga kelima beruntun mereka di Liga Premier Ukraina.
Dua hari setelah pertandingan tersebut, perang pecah di wilayah Donetsk pasca bendera Republik Rakyat Donetsk dikibarkan secara ilegal. Donbass Arena pun ikut jadi korban. Kerusakan serius terjadi berkali-kali setelah peluru bahkan sebuah roket menghantam stadion. Bagian atap dan fasadnya rusak parah. Berbagai potongan puing juga berserakan di luar stadion.
Worth remembering: Shakhtar’s Donbass Arena has been shut since 2014, when it was hit several times by artillery shelling. They have played in Lviv (600 miles away) and Kharkiv (183 miles). Donestk, in the east of Ukraine, was at the heart of the Ukraine-Russia conflict. pic.twitter.com/dPlZmMv6a0
โ Colin Millar (@Millar_Colin) October 21, 2020
Terusir dari Rumah, Shakhtar Donetsk Jadi Tim Musafir
Menyusul situasi Kota Donetsk yang berubah menjadi medan perang, Shakhtar pun terpaksa mengungsi ke wilayah lain. Donbass Arena yang begitu megah pun terpaksa ditinggalkan dan dibiarkan terbengkalai. Sejak saat itu, Shakhtar Donetsk resmi menjadi tim musafir.
Setelah terusir dari Donbass Arena, Shakhtar Donetsk kemudian mengungsi ke Arena Lviv. Stadion tersebut berada di Kota Lviv yang berjarak lebih dari 1000 km dari rumah mereka di Donetsk. Arena Lviv jadi kandang Shakhtar dari tahun 2014 hingga 2016.
Lalu pada libur musim dingin 2016/2017, Shakhtar Donetsk kembali berpindah homebase ke Metalist Stadium di Kota Kharkiv yang berjarak lebih dari 250 km dari Kota Donetsk. Stadion tersebut jadi kandang The Miners dari 2017 hingga 2020.
Setelah itu, Shakhtar Donetsk mengungsi ke kandang dari tim rival mereka, Dynamo Kyiv di NSC Olimpiyskiy sejak Mei 2020. Kantor administratif dan tempat latihan juga dipindah ke ibu kota Kyiv.
Meski jadi tim musafir, nyatanya prestasi Shakhtar Donetsk tetap mentereng. Mereka masih jadi raja di Ukraina. Selama 8 tahun terusir dari Donbass Arena, Shakhtar masih mampu menjuarai Liga Premier Ukraina sebanyak 5 kali. The Miners juga 4 kali menjuarai Piala Ukraina dan tidak pernah absen dari kompetisi Eropa, baik Liga Champions maupun Liga Europa.
Lalu, bagaimana dengan kondisi Donbass Arena saat ini?
Mengutip dari DailyStar, foto-foto terbaru yang diambil tahun lalu memperlihatkan Donbass Arena yang sudah direnovasi. Fasad stadion yang sebelumnya hancur di beberapa bagian sudah diperbaiki. Rumput di dalam stadion juga tampak terpotong rapi menandakan stadion tersebut sepertinya sudah kembali dirawat.
Jika dihitung sejak 2014, maka Shakhtar Donetsk sudah meninggalkan Donbass Arena selama 8 tahun lamanya. Jumlah tersebut sepertinya masih akan terus bertambah seiring semakin panasnya situasi konflik Rusia-Ukraina yang tak kunjung mereda.
Dengan masih adanya invasi Rusia yang ikut mematikan sepak bola di Ukraina, tentu tidak mungkin bagi Shakhtar Donetsk untuk kembali ke rumahnya. Apalagi, pasca aneksasi Krimea oleh Rusia dan deklarasi kemerdekaan Republik Rakyat Donetsk pada 2014 lalu, FC Shakhtar Donetsk sebagai klub sepak bola kebanggan kota tersebut belum menentukan sikap dan langkah politiknya.
Secara administratif, Shakhtar Donetsk masih terdaftar sebagai wakil Ukraina di pentas Eropa. Hanya saja, markas mereka di Donbass Arena terletak di kota separatis yang menjadi pusat konflik.
Oleh karena itu, Donbass Arena sepertinya masih akan terus ditutup hingga batas waktu yang tidak pasti. Semoga saja, perang segera berakhir dan kedamaian segera tercapai kembali sehingga Shakhtar Donetsk bisa kembali ke rumahnya.
“Saya berdoa untuk kembali ke rumah setiap hari. Semua barang saya masih ada di sana. Saya pikir konflik akan berakhir lebih cepat. Ini kedua kalinya saya mengalami perang dalam hidup saya. jadi saya bisa yakin ketika saya mengatakan bahwa kesehatan dan kedamaian adalah dua hal terpenting yang bisa kita miliki,โ ujar direktur olahraga Shakhtar Donetsk, Darijo Srna, dikutip dari Marca.
***
Sumber Referensi: Kompas, Shakhtar, DailyStar, Goal, Marca, Goal, Kompas.
