Leeds United kalah lagi! Mengawali bulan Maret 2022 dengan bertandang ke markas Leicester City, The Whites tunduk 1-0. Selain menambah panjang rentetan kekalahannya, hasil tersebut juga jadi awal baru Leeds United dengan pelatih barunya, Jesse Marsch.
𝗙𝘂𝗹𝗹 𝗧𝗶𝗺𝗲: Unlucky not to get something out of that, but Harvey Barnes’ strike is the decider pic.twitter.com/fNlHIfHrDj
— Leeds United (@LUFC) March 5, 2022
Ya, pelatih asal Amerika Serikat itu adalah nahkoda baru Leeds United pasca klub yang bermarkas di Elland Road itu memecat Marcelo Bielsa. Bielsa mendapat surat pemecatan pasca serangkaian hasil buruk yang didapat The Whites dalam kurun waktu sebulan terakhir.
Sepanjang bulan Februari 2022, Leeds United gagal meraih satu pun kemenangan. Gawang mereka bahkan tercatat kebobolan 20 gol hanya dalam 5 pertandingan. Rentetan hasil buruk itu mengantar Leeds United turun ke peringkat 16 klasemen Premier League.
Dalam 26 pertandingan yang dijalani bersama Bielsa, Leeds hanya sanggup menang 5 kali dan meraih 8 kali hasil imbang. Ironisnya, Raphinha dkk. tercatat baru mencetak 29 gol dan sudah kebobolan 60 gol.
Keraguan yang Menyertai Penunjukan Jesse Marsch
Demi menyelamatkan kondisi tim yang tengah terpuruk itulah, Leeds United terpaksa berpisah dengan Marcelo Bielsa dan menunjuk Jesse Marsch sebagai penggantinya. Dilansir dari situs resmi klub, Jesse Marsch menekan kontrak di Elland Road hingga Juni 2025.
Penunjukan Jesse Marsch sebagai suksesor Marcelo Bielsa mendapat beragam kritikan. Yang utama, Marsch dianggap sebagai figur yang kurang tepat untuk menangani situasi Leeds United saat ini. Ini tak lepas dari rekor pelatih asal Amerika Serikat di Premier League yang meninggalkan kesan negatif.
Sebelum Marsch, pelatih asal Amerika yang pernah tampil di Liga Inggris adalah Bob Bradley dengan Swansea City dan David Wagner dengan Huddersfield Town. Wagner punya catatan lumayan dengan membawa Huddersfield Town promosi di tahun 2017. Namun, tidak dengan Bob Bradley.
ICYMI: Jesse Marsch was appointed manager of Leeds United on Monday. Love seeing another 🇺🇸 coach in the EPL!
Former 🇺🇸 coaches:
1. Bob Bradley, Swansea (2019)
2. David Wagner, Huddersfield Town (2017-2019)
3. Jesse Marsch, Leeds (2022-)@Go on, JM! 👊 pic.twitter.com/qv9QHSR0I3
— Greg Conrad (@GregConrad19) March 8, 2022
Fakta bahwa Jesse Marsch adalah mantan asisten Bob Bradley membuatnya disamakan dengan mantan bosnya itu. Bradley hanya bertahan di Liga Inggris selama 84 hari dan hanya mendampingi Swansea dalam 11 pertandingan. Ia jadi manajer dengan masa jabatan terpendek keempat dalam sejarah Premier League.
Inilah yang juga jadi tantangan Jesse Marsch di Leeds United. Sebab, ia bakal berhadapan dengan stigma negatif tentang pelatih asal Amerika Serikat di sepak bola Inggris. Saat ini saja, ada beberapa pihak yang menyamakan dirinya dengan Ted Lasso, seorang pelatih sepak bola fiktif dari drama komedi yang berjudul sama.
“Saya pikir mungkin ada stigma di sekitar pelatih Amerika. Saya tidak yakin Ted Lasso membantu. Saya belum menonton acaranya tetapi saya mengerti. Orang-orang benci mendengar kata soccer, saya telah menggunakan kata football sejak saya menjadi pemain profesional dan ini adalah negara kelima tempat saya melatih,” kata Marsch dikutip dari BBC.
Selain itu, rekam jejak Jesse Marsch di RB Leipzig juga kurang mengesankan. Sebelum menyebrang ke Elland Road, pelatih berusia 48 tahun itu terakhir menangani RB Leipzig selama 5 bulan hingga dipecat pada awal Desember tahun lalu.
Semasa dilatih Jesse Marsch, penampilan RB Leipzig tidak konsisten dan angin-anginan. Meski mampu meraih 7 kemenangan, tetapi Die Rotten Bullen juga menelan 4 hasil imbang dan 6 kali menelan kekalahan.
Namun jika menilik CV-nya lebih dalam, Jesse Marsch punya prestasi yang lumayan. Ia 2 kali meraih gelar Liga Austria dan Piala Austria bersama Red Bull Salzburg. Ia juga meraih 2 trofi Supporters’ Shield bersama New York Red Bulls dan sekali terpilih sebagai pelatih terbaik MLS.
Akan tetapi, apapun hasil yang diraih Jesse Marsch bersama klub-klub Red Bull tak bisa dijadikan patokan. Sebab, ini jadi kali pertama ia melatih klub Premier League dan kebetulan ia menjadi nahkoda Leeds United di saat-saat genting. Kebetulan lagi, hasil pertama yang ia raih adalah sebuah kekalahan.
Kini, pertanyannya adalah, apakah Jesse Marsch sosok yang tepat untuk Leeds United?
New #LUFC manager Jesse Marsch wanted Marcelo Bielsa to “continue his legacy” at Elland Road and tried to “make that argument” to Director of Football Victor Orta. pic.twitter.com/hRtWB3C7C6
— The Athletic UK (@TheAthleticUK) March 3, 2022
PR Jesse Marsch di Leeds United
Untuk menganalisisnya, kita perlu menilik beberapa masalah serius yang harus ditangani Jesse Marsch di Leeds United. Yang pertama sudah pasti pertahanan. Kebobolan 60 gol hanya dalam 26 pertandingan jadi bukti betapa rapuhnya pertahanan The Whites.
Berbeda dengan Marcelo Bielsa yang menekankan skema bertahan man-to-man marking, Jesse Marsch lebih menyukai skema zonal marking. Sepintas cara tersebut cukup ampuh di pertandingan melawan Leicester City. Jika sebelumnya Leeds selalu kebobolan minimal 3 gol di 5 pertandingan terakhirnya, melawan Leicester gawang Illan Meslier hanya bobol sekali.
Akan tetapi, ini baru pertandingan pertama dan akan masih banyak ujian lain di pertandingan berikutnya. Lebih jauh lagi, Jesse Marsch masih punya PR lain untuk dibenahi, yaitu soal kinerja lini serang Leeds United musim ini yang kurang menggigit.
Musim lalu, Leeds United finish di peringkat 9 dengan catatan 62 gol dalam semusim. Catatan tersebut kontras dengan pencapaian Leeds di musim ini dimana mereka baru sanggup mencetak 29 gol dalam 27 pertandingan.
Jika melihat catatan statistiknya, musim ini Leeds United sudah menghasilkan 115 shots dan 4,3 shots on target per laga. Catatan tersebut menempatkan mereka di posisi 10 sebagai tim dengan jumlah shots on target terbanyak di Liga Inggris. Sayangnya, dari jumlah tersebut hanya 27 yang berupa peluang emas dan imbasnya The Whites hanya sanggup mencetak 1,1 gol per laga.
Rapuhnya pertahanan dan seretnya gol Leeds United musim ini juga ada kaitannya dengan masalah cedera yang menggerogoti skuad mereka sejak awal musim. Ya, musim ini, Leeds United diserang badai cedera yang membuat mereka kesulitan bersaing. Bahkan hanya untuk sekadar memasang skuad terbaik di tiap laga saja susahnya minta ampun. Bielsa bahkan nyaris memasang susunan pemain bertahan yang berbeda di tiap laganya akibat badai cedera ini.
Di lini tengah, Leeds juga sudah lama tak diperkuat Kalvin Phillips yang sudah menepi sejak awal Desember tahun lalu akibat cedera hamstring. Sementara di lini depan, Patrick Bamford yang musim lalu jadi top skor tim baru tampil 6 kali di liga akibat cedera engkel dan hamstring.
Sejatinya, manajemen Leeds United, khususnya sporting director Victor Orta tak asal-asalan menunjuk Jesse Marsch sebagai pengganti Marcelo Bielsa. Meski secara detail taktik keduanya berbeda, tetapi ada kesamaan yang dimiliki oleh kedua pelatih tersebut.
Marsch juga menyukai gaya main agresif yang berorientasi kepada bola. Dengan gaya main energik nan dinamis, seharusnya para pemain Leeds United bisa dengan cepat beradaptasi dengan gaya taktik Jesse Marsch.
Terbukti di laga melawan Leicester City, para pemain Leeds United mampu melepas 19 tembakan dimana 4 di antaranya mengarah tepat sasaran. Meski belum menghasilkan gol lebih banyak, tetapi formasi 4-2-3-1 yang dapat berubah menjadi 4-2-2-2 ketika laga berjalan sepertinya membuat lini tengah mereka jadi lebih stabil.
👀 This is how Leeds United 𝖈𝖔𝖚𝖑𝖉 𝖑𝖎𝖓𝖊-𝖚𝖕 at some point tomorrow night…
😀 Very exciting stuff. #LUFC pic.twitter.com/z18GbV0W1e
— Leeds United Live (@liveleedsunited) March 9, 2022
Selain itu, Jesse Marsch juga kerap bekerja dengan skuad yang banyak berisikan pemain muda. Kebetulan, banyak pemain muda dalam skuad Leeds United dan Marcelo Bielsa punya kebiasaan untuk memanggil pemain U-23 ke skuad utama. Estafet tersebut sepertinya bisa diteruskan dengan kehadiran Jesse Marsch.
Meski Jesse Marsch punya kontrak hingga Juni 2025, tetapi sebenarnya masa jabatan mantan pelatih RB Leipzig itu sangat singkat. Sebab, tugas utamanya di Elland Road bukanlah sekadar meneruskan tongkat estafet Marcelo Bielsa.
Jesse Marsch punya tugas utama untuk menyelamatkan Leeds United agar tetap bertahan di Premier League. Sayangnya, waktu yang ia miliki tinggal tersisa 11 pertandingan. Marsch juga bukan tipe pelatih instan yang bisa langsung memberi perubahan, ia juga butuh waktu.
Selain itu, Jesse Marsch juga bukan seorang Sam Allardyce yang jago dalam menyelamatkan tim dari jurang degradasi. Pengalaman perdana di Liga Inggris dan langsung menangani tim yang terancam degradasi adalah tantangan terbesarnya. Bila berhasil, ia akan mengubah pandangan publik Inggris terhadap pelatih asal Amerika.
Namun, sebelum membayangkan hal tersebut, ada baiknya para pendukung Leeds United untuk berpikir realistis, sebab ini adalah Premier League. Penunjukan Jesse Marsch sebagai pengganti Marcelo Bielsa sebenarnya tepat-tepat saja. Namun, menilik situasi dan waktu yang dihadapi, menunjuk pelatih tanpa pengalaman Premier League di tengah ancaman degradasi adalah sebuah perjudian yang patut dinanti hasil akhirnya.
“Rasa hormat saya kepada Marcelo Bielsa sangat besar. Saya tahu ada tantangan untuk itu. Saya di sini bukan untuk menjadi Marcelo Bielsa. Saya di sini untuk melanjutkan proses dan mengambil langkah selanjutnya untuk klub. Sama bangganya dengan para penggemar yang bangga dengan hubungan mereka dengan Marcelo, adalah tugas saya untuk memastikan mereka dapat terus bangga dengan apa yang kita miliki,” kata Marsch dikutip dari SkySports.
https://youtu.be/-RPnzPcg7EI
***
Sumber Referensi: The Guardian, LeedsUnited, BBC, Transfermarkt, SkySports.


