Benfica jadi klub Portugal paling produktif urusan melaju ke liga antarklub Eropa. Tercatat As-Aguias telah bertanding di final Liga Champions atau Piala Eropa sebanyak tujuh kali. Kemonceran tersebut diiringi dengan kesuksesan menguasai Liga Primeira Portugal. 37 trofi telah masuk di lemari Estádio do Sport Lisboa Benfica. Jumlah ini belum mampu disusul dua seterunya, FC Porto yang baru mengumpulkan 29 gelar dan Sporting CP dengan 19 gelar.
Kesuksesan Benfica di liga domestik maupun Eropa terletak pada kemampuan klub mengelola akademi dan kebijakan transfer.
Manajemen akan secara rutin melihat pemain tim utama bisa dijual ke klub lain dan menyiapkan pengganti sepadan dari akademi atau membeli pemain. Pekerjaan demikian bagi manajemen Benfica tampaknya tak akan ada habisnya.
Contohnya, Joao Felix yang dilepas ke Atletico Madrid seharga 113 juta euro (Rp1,7 triliun), Victor Lindelof dijual ke Manchester United seharga 30,7 juta euro (Rp481,2 miliar), Ederson seharga 35 juta euro (Rp548,6 miliar) ke Manchester City dan Nelson Semedo ke Barcelona se harga 27 juta euro (Rp423,2 miliar).
Here's our 'What If They Hadn't Sold XI' – Benfica 🇵🇹 How would this team do in Europe? 🌟#benfica #portugal #ittcwhatif pic.twitter.com/yVUvYW3fi4
— Into The Top Corner (@ittcfootball) August 13, 2020
Namun, Benfica begitu cerdik menemukan penggantinya, setelah nama-nama tadi mulai hengkang pada tahun 2013. Lantas, bagaimana Benfica bisa cepat menemukan pengganti semua pilarnya yang sudah hengkang?
Empat Pilar Akademi dan Peran Pedro Marques
Per 2018 Benfica menunjuk Direktur Teknik, Pedro Marques. Ia ditugaskan oleh manajemen untuk memimpin dan mengkoordinasikan program pengembangan Akademi Seixal Futebol sejak direkrut menjadi pemain dari akademi hingga transisi. Pria asal Portugal itu memiliki pengalaman delapan tahun bekerja di Manchester City
Thanks to @DFB_Team_EN for the opportunity and invitation to share some of our ideas – two great days of learning with colleagues from around the world 🌍
Congratulations to @DFB_Akademie for the initiative and top organisation.#football #knowledge #coaching #analysis ⚽️🇩🇪 pic.twitter.com/W3t1xKL6Y7
— Pedro Marques (@pmarques82) November 30, 2017
Guna memproduksi pemain muda siap pakai di skuad utama. Pedro Marques memiliki empat pilar dalam mengembangkan Akademi Seixal Futebol.
Training session photos from this morning in Seixal Caixa Futebol Campus pic.twitter.com/eKTvit4iko
— Planet Benfica (@planetbenfica) July 30, 2016
Pilar pertama, scouting. Pengembangan bakat pemain muda akan mulus jika proses scouting dan rekrutmennya berjalan baik. Bagi Marques, akademi klub akan besar saat pemain bagus lolos melalui tahap scouting.
Upaya ini dilakukan untuk mengidentifikasi potensi pemain. Data yang dikumpulkan akan digunakan oleh tim kepelatihan dalam membuat roadmap pemain. Fungsinya, untuk melihat bakat dan perkembangan pemain yang bergabung di akademi sejak usia delapan atau sembilan tahun akan dipersiapkan bermain di tim utama dalam jangka 10 tahun ke depan.
Pilar kedua, metodologi pengembangan pemain. Pemain yang bergabung di akademi akan diprofilkan untuk perencanaan pengembangan individu. Rencana pengembangan individu didasarkan dalam metode sport science yang dimiliki oleh akademi.
Tim kepelatihan tak segan akan menilai pemain lalu mendiskusikan bersama untuk membicarakan kebutuhan pengembangan mereka.
Pilar ketiga, kompetisi. Bersaing di kompetisi adalah bagian dari permainan. Akademi perlu mengelola persaingan sehingga pemain mendapatkan tantangan secara tepat.
Akademi melihat persaingan sebagai bagian dari proses pembangunan karakter pemain. Lewat kompetisi internal dan liga kelompok umur selaras membantu pemain berkembang. Di Portugal, kompetisi kelompok usia disusun secara bertahap dari turnamen usia muda hingga transisi ke pro.
Pilar keempat, peluang bermain di tim senior. Pelatih tim utama akan menggunakan jasa pemain akademi dengan skema percobaan di musim pertama. Jika performanya konsisten, di musim berikutnya ia akan digunakan secara reguler pada musim kedua. Wajar, bila pelatih Benfica tak segan menggunakan pemain akademi saat pemain andalannya dijual oleh klub.
Pilar ini digunakan oleh Marques di akademi Seixal Futebol untuk menghasilkan pemain bagus dan akan mengetuk pintu guna masuk ke tim utama. Oleh sebab itu, didikannya selalu siap saat dipanggil di tim utama.
Usaha Menutupi Utang
Direktur Eksekutif Benfica, Domingos Soares de Oliveira sadar betul bahwa Benfica memiliki setumpuk utang sebesar 100 juta euro (Rp1,5 triliun) dari warisan skandal mantan presiden Luis Felipe Vieira. Peristiwa itu membuat kondisi keuangan klub terguncang. Soares melakukan usaha agar neraca keuangan klub seimbang.
#ECA Board Member Domingos Soares de Oliveira addressed the @WFootballsummit on the topic of ‘Financing Football Clubs’. #WFS18 pic.twitter.com/rj0PYOv69c
— ECA (@ECAEurope) September 25, 2018
Guna memuluskan rencananya, Benfica telah menetapkan serangkaian tonggak komersial di sepak bola Eropa. Mereka menjadi klub pertama di liga papan atas Eropa yang menerima pembayaran melalui blockchain, dalam hal ini dengan penyedia cryptocurrency Utrust.
Selain itu, mereka adalah tim sepak bola Portugal yang memiliki platform berlangganan over-the-top (OTT) dan Benfica Play. Ada juga kemitraan berbagi pengetahuan sport science dengan San Francisco 49ers dan San Francisco Giants.
Melalui cara tersebut, Soares mengklaim mampu membayar separuh hutang di akhir tahun 2020.
Selain sisi komersial, penjualan pemain masuk dalam rencana menyehatkan keuangan klub. Pemain-pemain hasil didikan akademi dijual oleh Benfica, seperti André Gomes (Valencia), Bernardo Silva (AS Monaco), Joao Cancelo (Valencia), Ruben Dias (Manchester CIty), Renato Sanches (Bayern Munich), Nelson Semedo (Barcelona), Victor Lindelof (Manchester United), dan Gonçalo Guedes (PSG), Witsel (Dortmund), David Luiz (Chelsea), Di Maria (Real Madrid)
If only Benfica hadn't sold these players, they would be such an incredible team pic.twitter.com/sXa184igiz
— Oh My Goal (@OhMyGoalUS) November 25, 2019
Penjualan hasil akademi pun disesuaikan kapabilitas pemain. Contohnya, musim panas 2014 Ezequiel Garay dijual ke Zenit St. Petersburg seharga 12 juta euro (Rp188,1 miliar). Kepergian Garay diganti bek muda dari akademi Victor Lindelof. Manajemen Benfica kembali tak kuasa menahan pemainnya usai Manchester United menggelontorkan mahar 30,7 juta Euro (Rp481,2 miliar) untuk pindah ke Old Trafford per 2017.
Setelah Lindelof pindah ke Manchester United, Benfica mempromosikan bek tengah Ruben Dias dari Benfica B ke tim utama Benfica. Pada musim perdananya, ia hanya tampil 24 kali di liga dan dua pertandingan Liga Champions.
Musim keduanya, Ruben Dias penampilannya meningkat drastis dengan hanya melewatkan lima dari 60 pertandingan Benfica di semua kompetisi. Ia juga membantu As Aquinas merebut kembali gelar liga dari Porto.
Terbukti musim panas tahun 2020 Ruben Dias berganti seragam Manchester City dengan mahar 35.4 juta Euro (Rp555,1 miliar). Kepergian Dias segera ditutupi dengan kedatangan Nicolas Otamendi dan Jan Vertonghen ke Estádio do Sport Lisboa Benfica.
Soares juga menggunakan pola jual beli pemain Benfica mengacu pada “beli murah, jual mahal”. Contohnya, pergantian Jan Oblak yang dilepas ke Atletico Madrid seharga 12,6 Euro (Rp197,5 miliar) lalu Ederson Moraes didatangkan dari Rio Ave dengan mahar 435 ribu Euro (Rp6,8 miliar).
Performa ciamiknya membuat Manchester City memboyong penjaga gawang berkebangsaan Brazil seharga 35 juta Euro (Rp548,6 miliar). Lalu Benfica dengan cepat mendapatkan penggantinya yang sepadan, Odysseas Vlachodimos dari Panathinaikos pun dibeli seharga 2,1 juta euro (Rp32,9 miliar).
Kerja-kerja Benfica untuk menghidupkan klub melalui akademi dibarengi dengan kebijakan transfer “jual mahal beli murah” menjadi cara agar skuad mampu bersaing di liga domestik maupun Eropa.
Referensi: Sport Media, The Guardian, Squawka, Goal, Forbes, The National, The Sun,


