Beranda blog Halaman 587

Tak Disangka 6 Pemain Ini Pernah Membela Klub-klub Ini

0

Fenomena perpindahan pemain tentu sangat lazim terjadi pada bursa transfer. Apalagi ketika pemain sepak bola itu merasa perlu untuk berganti klub. Beberapa memutuskan untuk pindah secara permanen, dan yang lain hanya pindah sementara dengan menjalani proses peminjaman.

Dalam kariernya sejumlah pemain lekat dengan seragam masing-masing klub, seperti lord Nicklas Bendtner yang erat kaitannya dengan seragam Arsenal dan Timnas Denmark. Namun, beberapa orang lupa bahwa ia juga pernah berseragam Juventus pada musim 2012/13 dan ajaibnya ia langsung meraih gelar juara bersama Si Nyonya Tua.

Masih ada banyak lagi pemain sepak bola yang tidak disangka ternyata pernah membela klub lain sebelum membela klubnya sekarang. Berikut daftar pemain tak diduga yang pernah bermain untuk klub-klub tak terduga pula.

Mason Mount Pernah Berseragam Derby County

Ternyata sebelum mapan bermain di Chelsea, Mason Mount pernah menimba ilmu di klub kasta kedua Liga Inggris, Derby County. Jadi begini ceritanya, sejatinya Mount merupakan produk asli dari akademi Chelsea. Bahkan ia sudah melakukan debut di Chelsea U-18 sejak tahun 2015 silam.

Penampilan yang apik di Chelsea U18, akhirnya pada tahun 2017 Chelsea memberikan kontrak profesional pertamanya. Mount menandatangani kontrak berdurasi lima tahun pada saat ia sudah berusia 18 tahun.

Usai memperpanjang kontrak, Mason Mount tidak langsung mendapat slot di skuad utama Chelsea. Melainkan ia harus menjalani beberapa proses peminjaman. Nah, pada saat menjalani proses peminjaman inilah ia bergabung dengan Derby County pada tahun 2018.

Menariknya, kala itu Derby County juga dilatih oleh sang legenda Chelsea, Frank Lampard. Salah satu penampilan yang patut diingat adalah saat Mount membantu The Rams menyingkirkan MU dari Piala Liga pada musim 2018/2019 di Old Trafford.

Philippe Coutinho Pernah Berseragam Espanyol

Dalam beberapa tahun terakhir, Philippe Coutinho menjadi seorang pemain petualang. Ia menjadi pemain yang kerap berpindah-pindah klub dari Barcelona, Bayern Munchen hingga kini ia bermain untuk Aston Villa. Hal ini terjadi lantaran dirinya yang tak kunjung menemukan performa terbaiknya.

Sebelum bersinar bersama The Reds pun, sejatinya Coutinho sudah menjadi pemain yang berpetualang ke beberapa klub di liga-liga top Eropa. Coutinho pernah berseragam raksasa Italia, Inter Milan, dan yang tak terduga ia juga pernah berseragam Espanyol.

Ya benar, Espanyol. Bayern Munchen bukan satu-satunya klub yang pernah meminjam Coutinho ke klub lain. Pada saat ia masih membela Inter, mereka pernah meminjamkan The Little Magician kepada klub asal Liga Spanyol tersebut.

Masa kariernya di Espanyol inilah yang kerap terlupakan. Apalagi dia masuk pada pertengahan musim 2012. Meski begitu, penampilan Coutinho tak begitu buruk. Bersama Espanyol ia mencatatkan 5 gol dan 1 assist dari 16 pertandingan.

Fabinho Pernah Berseragam Real Madrid

Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Fabinho memiliki catatan karier yang cukup unik di sepak bola Eropa. Sebelum ia merangkai kisah manis bersama Liverpool, Fabinho sudah melalang buana di sepak bola Eropa.

Fabinho mengawali karier sepak bola bersama klub portugal, Rio Ave. Namun, belum genap semusim, ia sudah dipinjamkan ke Real Madrid Castilla atau yang biasa kita kenal dengan Real Madrid B pada tahun 2012.

Performa yang cukup apik di Madrid B, menarik perhatian Jose Mourinho yang kala itu masih menjadi pelatih El Real. Debut Fabinho bersama Real Madrid senior akhirnya terwujud pada 8 Mei 2013 saat Los Blancos menang besar atas Malaga di Stadion Santiago Bernabeu.

Mohamed Salah Pernah Berseragam Fiorentina

Siapa yang tak kenal Mohamed Salah? Pemain sayap asal Mesir ini berhasil mengukir sejarah bersama klub Liga Inggris, Liverpool. Namun, dalam mencapai kesuksesannya ini, Mo Salah menemui banyak lika-liku dalam perjalanan kariernya.

Yang mungkin kalian lupa, selain pernah bermain di AS Roma, ia juga pernah bermain untuk tim Serie A lainnya, Fiorentina. 

Kepindahan Salah ke Fiorentina pada pertengahan musim 2014/15 cukup disesali oleh publik Mesir, lantaran mereka berpikir itu merupakan penurunan level dalam karier seorang Mohamed Salah.

Namun, Salah punya alasan tersendiri, ia merasa percuma apabila bermain untuk klub besar Liga Inggris tapi tak pernah mendapat menit bermain yang cukup. Mungkin bisa dibilang saat bermain di Fiorentina menjadi titik balik karier Mo Salah.

Son Heung-min Pernah Berseragam Hamburg SV

Selanjutnya ada nama salah satu bakat terbaik Asia, Son Heung-min. Sebelum terkenal dan melekat dengan jersey putih khas Tottenham Hotspur, Ternyata selain pernah bermain untuk Bayer Leverkusen, Son pernah berseragam Hamburg SV.

Liga Jerman memang cukup ramah bagi pemain-pemain Asia terutama Jepang dan Korea. Setelah merantau dari Korea Selatan, Son memulai karier Eropanya bersama tim muda Hamburg pada tahun 2008 silam.

Namun, Son baru bisa menembus skuad utama Hamburg SV pada tahun 2010. Bersama Hamburg ia mulai memperkenalkan diri kepada publik sepak bola Eropa bahwa ada pria asal Korea Selatan yang memiliki skill olah bola bagusnya bukan main.

Bersama Hamburg ia telah membukukan 78 penampilan dan mencetak 20 gol. Performanya terus meningkat dan hingga kini ia berkarier di Liga Inggris bersama Tottenham.

Harry Kane Pernah Berseragam Leicester City

Terakhir ada nama lain dari Tottenham Hotspurs, yaitu Harry Kane. Pada dasarnya Harry Kane merupakan produk asli Tottenham Hotspurs. Cukup aneh apabila melihat Kane berseragam klub lain.

Tapi hal itu memang pernah terjadi. Kariernya di Tottenham tak berjalan mulus, ia juga pernah menjalani proses peminjaman ke beberapa klub Inggris lainnya. Pada tahun 2013 ia sempat dipinjamkan Spurs ke Leicester City.

Pada periode pinjamannya di Leicester. ketika itu, Kane hanya mencatatkan 2 gol dari 15 kali penampilan. Jika kalian masih ingat pula di dalam skuad tersebut ada nama penyerang Inggris lainnya yaitu Jamy Vardy. Foto kebersamaannya di bangku cadangan sempat viral beberapa bulan yang lalu.

Kini Harry Kane telah menjelma menjadi penyerang papan atas Liga Inggris. Sempat akan bergabung dengan Man City, namun kesepakatan itu gagal dan akhirnya ia bertahan dengan Spurs, klub yang membesarkan namanya itu. 

Nah, itulah beberapa nama pemain tak terduga yang pernah membela klub tak terduga pula. Menurut football lovers, siapa lagi?

https://youtu.be/GEKYmA4fzMo

Sumber: Talksport, Libero, Mirror, Transfermarkt

Remuknya Sepak bola Ukraina Akibat Invasi Rusia

0

Ketegangan Rusia dengan Ukraina sejatinya sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu. Percikan-percikan itu muncul ketika Parlemen Ukraina mencopot presiden Ukraina yang pro-Rusia, Viktor Yushchenko dari kursi kepemimpinan pada tahun 2014.

Praktis, setelah peristiwa itu, hubungan Rusia dengan Ukraina mulai memanas dan keadaan negara Ukraina terancam oleh rombongan militer Rusia yang berjaga di perbatasan antara Ukraina dan Rusia. Puncaknya, pada akhir Januari kemarin, hal-hal yang seperti kita lihat sekarang pun terjadi.

Invasi Rusia kepada Ukraina sangat berdampak pada berbagai sektor di dunia, tak terkecuali juga sektor olahraga sepak bola, terutama sepak bola Ukraina itu sendiri.

Tercatat sejak beberapa tahun lalu sepak bola Ukraina terusik akibat Invasi tersebut. Yang teranyar Liga Ukraina kini resmi dihentikan untuk sementara waktu, menyusul adanya kekhawatiran invasi skala penuh bakal dilancarkan oleh pihak Rusia.

Klub Pada Bangkrut

Tentu tak hanya itu. Sejak konflik tahun 2014, Liga Ukraina sempat berantakan karena keadaan finansial klub-klub Ukraina yang mulai bermasalah.

Situasi ekonomi Ukraina kian memburuk setelah memanasnya perang dingin tersebut. Para pemilik klub pun mulai kebingungan untuk membayar segala kerugian yang dialami klub. Bahkan di beberapa klub, pemain dipaksa untuk bermain selama berbulan-bulan tanpa dibayar.

Contoh saja yang dialami oleh klub FK Dnipro, klub yang sempat bermain di kasta tertinggi Liga Ukraina. Pada tahun 2016, Ihor Kolomoyskyi selaku pemilik klub sudah tak mau mendanai klub. 

Hal itu berakibat pemain hingga staf pelatih tidak menerima gaji, dan sebagai hukuman, Federasi Sepak Bola Ukraina mengurangi sembilan poin milik FK Dnipro. Dan Dnipro pun terdegradasi di akhir musim.

Pada tahun 2018, FIFA kembali membuat keputusan untuk menurunkan FK Dnipro ke divisi bawah liga Ukraina karena hutang yang tak kunjung dibayar oleh pemiliknya. Akhirnya FK Dnipro pun dinyatakan bubar pada tahun 2019 lalu.

Dengan bangkrutnya beberapa klub, mereka juga memutuskan untuk membubarkan diri dan bahkan pada musim 2016/2017 hingga musim 2019/2020 jumlah klub di Liga Ukraina hanya tersisa 12 klub saja. 

Pemasukan Penjualan Tiket Sangat Menurun

Selain itu, penjualan tiket pun jauh menurun. Bahkan penurunan jumlah penonton di Liga Ukraina sudah terjadi sebelum datangnya pandemi Covid 19. 

Tercatat selama musim 2019/20 saja, pertandingan Liga Ukraina memiliki rata-rata penonton yang hadir hanya di angka 3.000 penonton. Padahal sejak tahun 2000-an rata-rata penonton di Liga Ukraina mencapai 13.000 penonton.

Hal itu didukung dengan kota-kota besar Ukraina seperti Odessa, Kharkiv, Kryvyi Rih dan Mykolaiv yang sudah tidak lagi memiliki perwakilan klub di kasta tertinggi sepak bola Ukraina. Apalagi sekarang konflik semakin memanas, masyarakat setempat sudah tak ada waktu lagi untuk memikirkan sepak bola.

Klub Kehilangan Homebase

Konflik Rusia-Ukraina juga berdampak pada raksasa Ukraina, Shakhtar Donetsk. Sialnya Homebase dari klub langganan Liga Champions ini terletak di wilayah konflik dengan Rusia.

Konflik tersebut memiliki dampak yang jauh lebih besar dari sekedar politik. Dan telah menimbulkan keraguan di pihak Shakhtar Donetsk tentang apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Klub tersebut berlokasi di kota Donetsk, yang mana merupakan salah satu dari dua wilayah timur Ukraina yang kini telah dikuasai oleh kelompok separatis pro-Rusia. Shakhtar bermarkas di Donbass Arena tetapi mereka tidak pernah lagi bermain di sana sejak Mei 2014.

Donbass Arena, sebuah stadion berkapasitas 52.000 penonton, yang pernah menjadi tuan rumah pertandingan EURO 2012, saat ini tidak digunakan oleh Shakhtar dan klub mana pun karena konflik berkepanjangan yang terjadi di Ukraina timur

Donbass Arena yang tadinya penuh gemuruh suporter Shakhtar Donetsk pun berubah menjadi stadion yang sunyi sepi, lantaran sang empunya dipaksa untuk meninggalkan markas yang sudah mereka tempati sejak.

Sejak Kota Donetsk dikuasai kelompok separatis pro-Rusia, Shakhtar Donetsk telah menjadi klub yang nomaden keliling Ukraina. Dari tahun 2014 hingga tahun 2016 mereka sempat bermain di Lviv lalu pindah ke Metalist Stadium yang merupakan kandang dari FC Metalist Kharkiv. 

Namun, mereka tak lama di Kharkiv, lantaran fasilitas stadion di Kharkiv mulai rusak dan tidak memungkinkan melakukan penerbangan di masa pandemi. Maka, mulai tahun 2020 Shakhtar Donetsk mau nggak mau harus menumpang di NSC Olimpiyskiy, yang terletak di Kota Kyiv, kandang dari rival abadi mereka, Dynamo Kiev. 

Kini Kyiv yang juga ibukota Ukraina menjadi pusat administratif klub dan menjadi lokasi di mana Shakhtar menggelar pemusatan latihan setelah terusir dari Donetsk.

Liga Ukraina Dihentikan

Teranyar, Liga Ukraina resmi ditunda untuk sementara waktu. Sejatinya setelah libur musim dingin, lanjutan Liga utama Ukraina bakal di lanjut pada tanggal 25 Februari kemarin. Namun, terpaksa harus dibatalkan.

Keputusan tersebut di konfirmasi langsung oleh operator Liga, mengingat presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, memberlakukan status darurat militer pada negara Ukraina. Liga Ukraina bakal diberhentikan sementara selama 30 hari dimulai dari tanggal 25 Februari kemarin.

Namun, apabila keadaan Ukraina kembali memburuk, maka bukan tidak mungkin jika Liga Ukraina akan dihentikan untuk waktu yang lebih lama.

Kabarnya, pemberlakuan status darurat itu memungkinkan pihak berwenang Ukraina melakukan pembatasan, memblokir aksi unjuk rasa serta melarang kegiatan partai dan organisasi politik apa pun termasuk segala kegiatan keolahragaan. 

Padahal Liga Ukraina sendiri baru digelar selama 18 pekan dan hanya menyisakan 12 laga dengan Shakhtar Donetsk masih memimpin klasemen sementara dengan perolehan 47 poin unggul 2 poin dari Dynamo Kyiv sebagai penghuni peringkat kedua dengan jumlah pertandingan yang sama. 

Dapat Pengecualian dari FIFA

Menyusul tindakan invasi Rusia kepada Ukraina, yang telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang berkelanjutan. Beberapa hari lalu, FIFA telah mengumumkan bahwa mereka akan menangguhkan kontrak pemain asing yang saat ini terikat dengan klub Ukraina dan Rusia untuk sisa musim 2021-22.

FIFA menyampaikan mengenai situasi di Ukraina, untuk memberikan pemain dan pelatih kesempatan untuk bekerja dan menerima gaji. Maka semua kontrak kerja pemain asing dan pelatih dari klub yang berlaga di Liga Ukraina akan ditangguhkan secara otomatis hingga akhir musim ini. Pernyataan ini dipublikasikan oleh FIFA melalui situs resmi mereka.

Penangguhan kontrak ini berarti bahwa pemain dan pelatih akan dianggap habis kontrak hingga 30 Juni 2022. Oleh karena itu, mereka bebas untuk menandatangani kontrak dengan klub lain di mana pun tanpa menghadapi konsekuensi dalam bentuk apa pun. 

FIFA juga menambahkan bahwa pemain harus mendaftar dengan klub baru sebelum 7 April. Mereka diizinkan pindah meski masa pendaftaran pemain baru untuk tim telah ditutup. Klub hanya berhak mendaftarkan maksimal dua pemain baru menggunakan pengecualian ini.

Sumber: FIFA, Goal, TheAtletic, Emerging Europe

Kunci Sukses AC Milan Dan Kesempatan Merebut Juara Serie A

Mental pemenang AC Milan di bawah Pioli terlihat lagi saat mereka menaklukan pesaingnya, Napoli dengan skor 1-0. Dari hasil itu, Rossoneri naik ke puncak klasemen Serie A dan semakin memuluskan jalan mereka untuk meraih Scudetto yang ke-19 musim ini.

Mereka sudah lama tidak lagi merengkuh titel juara serie A sejak musim 2010/11 di bawah Allegri. Seiring berjalannya waktu terjadi beberapa perubahan di tubuh AC Milan yang menjadi kunci sukses untuk kembali bersaing meraih juara Serie A musim 2021/22.

Perubahan Internal

Titik perubahan nyata di tubuh Milan berawal setelah sang pemilik legendaris Milan, Silvio Berlusconi memilih untuk menjual Milan ke konsorsium China pada April 2017.

Akan tetapi, tak dinyana bahwa proses akuisisi Milan oleh konsorsium China itu ternyata dilakukan dengan uang pinjaman. Seiring waktu, akhirnya pada saat jatuh tempo, taipan asal Negeri Tirai Bambu ini tak dapat membayar hutangnya.

Kemudian muncullah penyelamat dari Amerika melalui Elliott Management. Perusahaan manajemen investasi ini hadir dengan bantuan untuk menyelamatkan Milan agar tetap stabil secara finansial.

Elliot juga membongkar jajaran direksi AC Milan. Salah satu yang paling mencolok adalah penunjukkan Ivan Gazidis sebagai CEO. Sebelumnya, Gazidis pernah memegang jabatan serupa di Inggris bersama Arsenal. Perubahan krusial lainnya yang terjadi di tubuh Milan adalah masuknya legenda klub Paolo Maldini sebagai direktur olahraga menggantikan posisi Leonardo yang hengkang ke PSG

Gazidis sendiri ingin memperbaiki proses transfer Milan mulai dari proses pencarian pemain sampai perekrutannya. Untuk hal itu Gazidis menunjuk Geoffrey Moncada sebagai kepala pemandu bakat Milan setelah sebelumnya bekerja enam tahun untuk AS Monaco. Moncada terbukti sukses menemukan berbagai bakat yang akhirnya dipoles oleh Monaco, termasuk Kylian Mbappe.

Transfer Pemain

Salah satu sisi yang tampak dari perubahan besar di tubuh AC Milan adalah untuk kembali menstabilkan kondisi klub melalui transfer yang efektif dan efisien. Milan kini lebih fokus pada perekrutan bakat-bakat muda dalam kebijakan transfernya. Kondisi ini, selain bentuk pengetatan keuangan klub, juga adalah sebagai tindakan jangka panjang klub guna peremajaan skuat.

Perekrutan pemain muda yang berbasis data dan pemantauan juru bakat inilah yang membedakan gerak transfer Milan sekarang dengan yang dulu. Tak ada lagi langkah sembrono yang dilakukan Rossoneri ketika beroperasi di bursa transfer seperti yang dilakukan pemilik sebelumnya.

Kini bisa dilihat bahwa wajah baru Milan jauh lebih segar dengan talenta muda. Lini serang diisi oleh talenta muda seperti Rafael Leao. Sisi sayap juga bergairah dengan hadirnya Brahim Diaz yang dipinjam dari Madrid. Kemudian lini tengah pun terjaga dengan determinasi dari pemuda Aljazair bernama Ismael Bennacer dan wonderkid Italia bernama Sandro Tonali.

AC Milan terbilang cukup cerdik dalam beberapa bursa transfer. Analisa dari tim Moncada kemudian diteruskan oleh Maldini berbuah hasil. Mereka sukses dalam hal membujuk pemain untuk bergabung ke Milan. Sebagai contoh Sandro Tonalli yang semula santer diberitakan akan bergabung dengan Inter. Maldini mampu meyakinkan Tonalli untuk memilih Milan.

Faktor kebijakan transfer yang bagus tentu juga diimbangi dengan faktor kebutuhan tim. Apa yang diperlukan tim dalam mendatangkan pemain adalah fokus kerja seorang pelatih lewat evaluasinya yang tepat. Di mana kecermatan pelatih diperlukan dalam hal ini.

Faktor Pioli

Hal itu tampaknya hadir dalam diri Stefano Pioli mantan pelatih Lazio. Setelah sebelumnya di AC Milan silih berganti nama-nama pelatih datang dan pergi di San Siro sejak Allegri yang pindah ke Juventus.

Petinggi Milan mempekerjakan Pioli sebagai pengganti sementara pelatih sebelumnya Giampaolo, hingga akhir musim 2019/2020. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, pelatih asal Italia itu mampu membawa Milan ke Europa League di akhir musim. Selanjutnya, Pioli diberi perpanjangan kontrak dan membawa Milan runner up Serie A pada musim berikutnya yakni 2020/21.

Musim 2021/22 pun Pioli diberi kesempatan. Kedatangan amunisi baru Milan seperti Olivier Giroud, Mike Maignan sampai Lazetic, menumbuhkan sikap optimis tersendiri bagi Pioli untuk membawa Milan berprestasi lebih baik dari musim lalu.

Secara filosofi permainan, Pioli secara garis besar lebih suka menggunakan pakem sepak bola menyerang ketimbang bertahan. Ia lebih suka berkreasi dalam timnya di sektor penyerangan.

Kunci Permainan

Milan di bawah Pioli biasanya menggunakan formasi 4-2-3-1. Sesekali sambil melakukan rotasi posisi di sepanjang pertandingan. Pola Ini sangat efektif, yakni dengan gaya menekan yang berorientasi pada banyaknya gol.

Dua pivot lini tengah pertahanan diisi oleh Franck Kessie dan salah satu dari Sandro Tonali atau Ismael Bennacer. Keduanya pun sering difungsikan untuk turun ke lini belakang untuk memberikan perlindungan bagi serangan berbahaya dari sisi bek sayap, yang sering ditinggalkan Theo Hernandez dan Davide Calabria.

Rossoneri dalam memulai serangan memiliki salah satu andalan tersendiri yakni melalui bek kiri mereka Theo Hernandez. Hernandez dan rekannya di bek sayap, Calabria merupakan bagian integral dari serangan awal Milan. Duo ini membuat serangan Milan bervariasi. Tak jarang mereka bertransformasi menjadi penyerang sayap.

Kunci permainan di depan terletak pada peran Rafael Leao yang menjadi penggedor utama andalan Pioli di lini depan sebelah kiri AC Milan. Tak jarang ia dimanfaatkan dengan skill individu dan kecepatannya untuk merusak pertahanan lawan.

Kunci permainan apik Milan lainnya terletak pada kokohnya kiper mereka. Ditinggal Donnarumma ke PSG, ternyata Milan mampu mengambil langkah cerdik dengan mengambil kiper Lille, Mike Maignan.

Hingga saat ini, kiper berusia 26 tahun itu telah mencatatkan sepuluh clean sheet di Serie A. Maignan kini telah menjelma menjadi kekuatan yang tak tertembus di gawang Milan pada musim 2021/22.

Kehadiran target man senior seperti Giroud dan Ibrahimovic yang sering menciptakan gol di partai-partai penting, juga menjadi salah satu kunci sukses permainan Milan. Kedua sosok senior itu paling tidak kehadirannya dibutuhkan dalam tim untuk menyalurkan mental pemenang dan juara bagi para pemain muda Milan.

Persaingan Dengan Rival

Optimisme Milan untuk merengkuh kembali mahkota juara Serie A dari Inter Milan sepertinya mulai berkobar. Rossoneri hingga awal Maret 2022 masih duduk di puncak klasemen Serie A unggul dua angka dari Inter yang masih mempunyai satu pertandingan.

Persaingan dengan rival terdekat seperti Inter maupun Napoli sangat ketat, terlebih dengan dua kemenangan Milan atas keduanya musim ini, membuat Milan makin optimis untuk juara.

Apalagi tim-tim besar lain seperti Juventus, Lazio dan Roma kebetulan masih tertatih untuk merangsek naik ke papan atas dengan segala problema yang ada. Ini adalah kesempatan kedua bagi Milan untuk menjadi Juara Serie A, yang seharusnya tidak lagi disia-siakan.

Dengan 10 pertandingan tersisa di Serie A musim ini, ambisi Milan untuk merebut Scudetto makin terbuka lebar. mengingat lima dari sisa pertandingan terakhir Rossoneri adalah melawan tim yang saat ini menempati bagian bawah klasemen.

https://youtu.be/cbpdIyL2Xsg

Sumber Referensi : sempremilan, theanalyst, breakingthelines

Kisah Terakhir Kalinya Tottenham Hotspurs Dapat Trofi

0

Di dalam belantika sepak bola Inggris, Tottenham Hotspurs bukanlah tim yang kaya akan trofi layaknya Manchester United, Liverpool, Chelsea dan Manchester City. Meski sering meramaikan perburuan juara Liga Primer Inggris, Tottenham Hotspurs pada akhirnya selalu gagal menapaki tangga juara. Mereka selalu kalah bersaing dengan tim-tim tradisional tersebut.

Pada musim ini saja Tottenham Hotspur kembali apes. Klub berjuluk The Lilywhites tersebut dipastikan kembali gagal membawa pulang trofi ke lemari mereka. Kepastian itu terjadi setelah Tottenham Hotspurs tersingkir dari ajang Piala FA. Kalah 1-0 dari tim Championship Middlesbrough di babak 16 besar, peluang Tottenham mendapatkan trofi musim ini pun tertutup.

Sebelumnya, Tottenham sudah tersingkir dari Piala Liga usai dijegal Chelsea di semifinal. Klub asuhan Antonio Conte ini juga sudah tersingkir dari kompetisi antarklub Eropa yang mereka ikuti, UEFA Conference League.

Kini peluang Tottenham Hotspurs untuk mendapatkan trofi, sesuatu yang sangat mereka idamkan, tinggal tersisa di Liga Primer Inggris. Kendati demikian, rasanya sangat mustahil bagi Tottenham Hotspurs untuk merengkuh trofi Liga Inggris musim ini, sebab mereka tertinggal puluhan poin dari sang pemuncak klasemen. Hanya sebuah keajaiban yang bisa membawa Tottenham menjadi kampiun kompetisi bergengsi sedunia musim ini.

Performa Spurs dalam sedekade terakhir

Performa Tottenham Hotspurs dalam satu dekade terakhir sejatinya tidak begitu buruk. Saat masih ditukangi Mauricio Pochettino, Tottenham dibawanya melaju hingga ke final Liga Champions tahun 2019. Meski belum berhasil juara, setidaknya itulah prestasi terbaik Tottenham Hotspurs sejak terakhir kali merengkuh trofi pada tahun 2008.

Sejak terakhir kali meraih trofi piala Liga pada 2008, Tottenham Hotspur belum kembali merasakan manisnya mencium trofi. Meski telah bergonta-ganti pelatih, dari sosok Harry Redknapp sampai Nuno Espirito Santo, pencapaian Tottenham Hotspur hanyalah sebagai tim penggembira saja. Mereka hanya kerap ‘nyaris’ juara.

Selain nyaris jawara Liga Champions, Tottenham juga nyaris juara Liga Inggris, tepatnya di musim 2016/17. Kala itu saat dilatih Pochettino, Spurs nangkring di peringkat kedua klasemen Liga Inggris, tertinggal 7 poin dari Chelsea. Dua musim sebelumnya, 2014/15 Tottenham juga kalah dari Chelsea di final Piala Liga dengan skor 2-0.

Fakta memang berbicara, dalam beberapa tahun terakhir, Tottenham Hotspur memang kesulitan meraih juara. Meski mereka jadi bagian dari “The Big Six” Premier League, prestasi Tottenham Hotspur jauh bila dibandingkan dengan anggota peserta liga lainnya.
Tottenham Hotspur, dalam sejarahnya sebenarnya sudah memiliki beberapa trofi, namun trofi-trofi tersebut diraih saat jamannya Premier League belum lahir atau kompetisi sepak bola negeri ratu elizabeth belum sepopuler seperti sekarang ini.

Kalau kita menghitung, Spurs sudah menjuarai Liga Inggris 2 kali pada musim 1950/51 dan 1961/61. Kemudian FA Cup 8 kali, Piala Winners satu kali, dan Piala UEFA 2 kali.
Momen Tottenham Hotspurs juara Piala Liga 2008

Trofi terakhir yang diraih Tottenham terjadi sudah lama sekali. Tepatnya pada musim 2007/08, jaman di mana MU, Liverpool, Chelsea dan Arsenal masih menguasai empat besar Liga Primer Inggris. Namun bukan trofi Liga Primer Inggris yang didapat Spur pada waktu itu. Tetapi hanya trofi juara Piala Liga di bawah asuhan Juande Ramos. Ketika itu, Spurs mampu mengangkat Piala Liga musim 2007/08 setelah mengalahkan Chelsea 2-1 di laga final.

Perjalanan Tottenham Hotspurs merengkuh trofi Piala Liga 2007/08 dilalui dengan mulus. Mereka tidak tersentuh kekalahan dalam enam pertandingan sepanjang Piala Liga 2007/08. Spurs yang diperkuat sejumlah nama seperti Robbie Keane, Dimitar Berbatov, Ledley King, Didier Zokora, dan Paul Robinson sukses menyingkirkan lawan-lawannya, mulai dari Middlesbrough, Blackpool, Manchester City hingga Arsenal yang mereka tekuk di semifinal.

Selanjutnya Tottenham Hotspur bertemu dengan Chelsea di partai puncak, tim yang kala itu juga dihuni sejumlah nama beken seperti Frank Lampard, Didier Drogba, John Terry dan Nicolas Anelka.

Pertandingan berjalan seimbang sejak peluit pertama dibunyikan oleh wasit. Kedua tim saling jual beli serangan. Tercatat penguasaan bola dari kedua tim adalah 52% milik Chelsea dan sisanya milik Spurs.

Tottenham Hotspurs sempat tertinggal lebih dulu oleh gol Didier Drogba di babak pertama. Anak asuh Juande Ramos lalu menyamakan kedudukan lewat tendangan penalti striker andalan mereka Dimitar Berbatov di babak kedua, dan memastikan kemenangan melalui gol Jonathan Woodgate di masa extra time. Tottenham pun berpesta di Wembley. Segenap pemain, pelatih, official hingga suporter larut dalam suka cita.

Prestasi Spurs di Piala Liga atau yang saat itu dikenal juga sebagai Piala Carling berbanding terbalik dengan pencapaian Spurs di Liga Inggris. Di Premier League, Spurs hanya finis di posisi ke-11 musim 2007/08, sehingga tak bisa mendapatkan tiket tampil di kompetisi Eropa.

Kendati tak berhasil di Liga Primer Inggris, prestasi Spurs di Piala Liga sudah terbilang sangat sensasional. Maklum saja, trofi juara merupakan sesuatu yang sangat sulit didapat oleh Tottenham Hotspurs. Sehingga dengan gelar juara Piala Liga ini patut untuk dirayakan dan tentu saja untuk dikenang.

Sang pelatih Juande Ramos layak mendapat catatan istimewa, karena ia baru empat bulan bekerja di White Hart Lane. Pelatih asal Spanyol itu menggantikan Martin Jol yang dipecat di bulan Oktober.

Bagi Tottenham Hotspurs sendiri ini merupakan kali keempat mereka menjuarai Piala Liga Inggris dari enam penampilannya di partai final. Kali terakhir mereka memenanginya adalah di tahun 1999, yang mana itu merupakan terakhir kalinya pula The Lilywhites mengangkat sebuah tropi juara.

Jumlah Trofi Spurs tak Lebih Banyak dari Trofi Milik Mourinho

Secara keseluruhan, jumlah trofi yang sudah diraih Tottenham Hotspur adalah 24 gelar. Jumlah ini ternyata masih kalah banyak dibanding trofi yang sudah diraih Jose Mourinho, pelatih yang pernah mereka pekerjakan pada tahun 2019 hingga 2021.

Mourinho merupakan ahlinya dalam meraih trofi. Sebab, juru taktik berpaspor Portugal itu sudah mengoleksi 25 trofi selama karier kepelatihannya. Mourinho mengoleksi satu trofi lebih banyak daripada mantan klubnya tersebut.

Kini Tottenham Hotspurs perlu waktu lebih lama lagi untuk kembali meraih gelar juara. Lemari trofi mereka yang sudah berdebu selama 14 tahun rasanya perlu dibersihkan. Agar suporter dapat kembali tersenyum melihat tim kebangaannya menjadi jawara.

Piala FA dan Piala Liga sudah pernah mereka dapatkan. Tinggal trofi Premier League yang belum pernah Tottenham sentuh. Spurs tentu saja sangat berharap bisa menjadi juara Premier League untuk pertama kalinya. Biar mereka nggak dicap sebagai tim pelengkap saja.

Berita Bola Terbaru 8 Maret 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

CESC FABREGAS PUJI TRIO PEMAIN ARSENAL

Gelandang AS Monaco, Cesc Fabregas memuji penampilan Martin Odegaard, Bukayo Saka, dan Gabriel Martinelli. Ketiganya mencetak gol untuk memberi The Gunners kemenangan 3-2 atas The Hornets di Liga Primer akhir pekan kemarin. Fabregas menyebut mereka sebagai bintang masa depan Arsenal setelah tampil gemilang pada pertandingan tersebut. 

ASTON VILLA INCAR WIJNALDUM DARI PSG

Aston Villa dikabarkan siap menampung gelandang asal Belanda, Georginio Wijnaldum, dari Paris Saint-Germain di bursa transfer musim panas ini. Menurut laporan The Sun, PSG siap untuk melepas eks pemain Liverpool tersebut dengan nilai 21 juta pounds atau sekitar Rp 399 miliar meskipun kontraknya masih tersisa hingga 2024. Karier Wijnaldum sendiri bersama PSG tidak berjalan mulus setelah hanya tampil 13 kali di Ligue 1 musim ini dan sulit menembus Starting XI di bawah pelatih Mauricio Pochettino.

MULAI GERAH, FANS MU MINTA RANGNICK DIPECAT

Penggemar Manchester United mulai tak kerasan klubnya dilatih Ralf Rangnick. Dikutip Marca, penggemar Setan Merah tak terima timnya dihajar klub rival sekota Manchester City 4-1 di Etihad Stadium, Minggu (6/3) malam. Kandidat yang akan menggantikan posisi Rangnick adalah pelatih PSG, Mauricio Pochettino, pelatih Real Madrid, Carlo Ancelotti, pelatih ajax Amsterdam, Erik ten Hag dan bekas pelatih Madrid, Zinedine Zidane.

REAL MADRID REKRUT WONDERKID EINTRACHT FRANKFURT

Real Madrid telah menyetujui kesepakatan untuk menandatangani prospek pemain muda menjanjikan Enrique Herrero dari Eintracht Frankfurt. Herrero dianggap sebagai salah satu prospek muda terbaik di sepak bola Spanyol. Sang remaja muncul dalam kompetisi La Liga Promises 2017, di mana ia dinobatkan sebagai Pemain turnamen.  Selain Madrid, Pemain berusia 17 tahun itu juga menjadi target transfer rival bebuyutan nya Barcelona.

BANGKITNYA BARCELONA, 11 LAGA BERUNTUN TANPA KEKALAHAN

Klub berbasis Catalan, Barcelona tengah menikmati periode yang indah bersama Xavi sebagai pelatih. Pasalnya, 11 laga dilalui di ajang La Liga, klub raksasa Spanyol itu tidak pernah tersentuh pahitnya kekalahan. Teranyar, Barcelona menang dengan skor tipis 2-1 atas Elche di pekan ke 27 La Liga. Hasil itu membuat Barcelona yang awalnya diragukan bisa menembus empat besar kini berada di posisi ketiga.

BENZEMA SELANGKAH LAGI LEWATI REKOR GOL DI STEFANO

Penyerang andalan Real Madrid, Karim Benzema, berpeluang mencatatkan rekor pribadi saat berhadapan dengan PSG dalam leg kedua babak 16 besar Liga Champions, tengah pekan ini. Dia berpotensi melewati rekor gol milik legenda Madrid, Alfredo Di Stefano. Jika Benzema mampu mencetak dua gol, pria berusia 34 tahun itu akan menyamai rekor gol terbanyak klub milik Di Stefano. Hanya ada dua pemain yang telah melewati rekor gol tersebut, yakni Raul Gonzalez dengan koleksi 323 gol dan Cristiano Ronaldo yang telah mencetak 451 gol untuk Real Madrid.

PENGARUH MESSI BIKIN PSG UNTUNG BESAR

Kedatangan Lionel Messi ke PSG membawa dampak yang besar. Hal itu diungkapkan direktur sponsor olahraga PSG, Marc Armstrong. Menurutnya, kehadiran La Pulga membawa transformasi besar dalam hal komersial di klub dalam sepuluh tahun terakhir. Amstrong menambahkan ketika seorang pemain memutuskan hengkang setelah 20 tahun meraih kesuksesan bersama klub. Hal itu pasti merupakan peristiwa yang luar biasa. Sehingga tak aneh penjualan tiket di setiap laganya meningkat pesat.

SARRI BERI RANGNICK SOLUSI AGAR RONALDO TAJAM LAGI

Pemain Portugal, Cristiano Ronaldo tengah menjalani periode sulit dalam karir sepakbolanya bersama Manchester United arahan Ralf Rangnick. Ronaldo dianggap tak mampu mengeluarkan performa terbaiknya karena pendekatan taktik yang diterapkan Rangnick.Eks pelatih Ronaldo, Maurizio Sarri pun memberikan solusi agar CR7 bisa tajam lagi. Sarri menyebut CR7 harus lebih banyak diberikan keleluasaan. Jangan terus-terusan memainkan Ronaldo sebagai striker nomor 9.

MASA DEPAN LEWANDOWSKI BELUM JELAS, OLIVIER KAHN ANGKAT BICARA

Belum adanya kesepakatan kontrak baru membuat Lewandowski mulai dikaitkan dengan pintu keluar Bayern Munchen. Masa bakti Lewandowski di Allianz Arena memang hanya tersisa satu musim lagi dan akan selesai pada tahun 2023. Dia sebelumnya juga sudah memberi sinyal ingin mencoba tantangan bersama klub lain andai benar-benar hengkang dan tak memperpanjang kontrak. Namun, sepertinya kini para penggemar Bayern bisa sedikit bernafas lega, pasalnya CEO klub, Oliver Kahn mengonfirmasi bahwa Die Roten masih berencana untuk menambah kontrak striker berusia 33 tahun tersebut.

PIOLI ENGGAN SESUMBAR SOAL PELUANG SCUDETTO

AC Milan menang tipis 1-0 atas Napoli di Stadion Diego Armando Maradona. Dengan hasil itu, Milan mengambil alih puncak klasemen Liga Italia dari Inter Milan, dengan unggul 2 poin dari sang rival sekota. Akan tetapi Pioli enggan sesumbar soal peluang timnya mendapatkan Scudetto. “Inter Milan toh tetap favorit Scudetto karena mereka itu juara bertahan dan masih memiliki satu pertandingan di tangan. Mereka itu adalah tim yang sangat tangguh, yang tahu apa yang dibutuhkan untuk menang.”

HASIL PERTANDINGAN

Tottenham Hotspurs kalahkan Everton dalam laga lanjutan Liga Inggris dengan skor fantastis 5-0. Bertanding di Tottenham Hotspurs Stadium, satu gol The Lilywhites berkat bunuh diri bek Everton, Michael Keane. Son Heung Min dan Reguilon mencetak sat gol, dan Harry Kane memborong dua gol. Hasil ini membuat Spurs telah mengoleksi 45 poin dari 26 pertandingan. sedangkan Everton masih tertahan di posisi ke-17.

Dari ajang La Liga Spanyol, Athletic Bilbao sukses menang 3-1 atas Levante. Tiga gol Bilbao dikemas Mikel Vesga, Inaki Williams, dan Oier Zarraga. Sedangkan satu gol Levante dibuat oleh Sebastian di penghujung laga. Hasil ini tak mengubah posisi kedua tim di klasemen. Bilbao masih di urutan ke-8, sementara Levante di dasar klasemen.

JELANG REAL MADRID VS PSG, MBAPPE MALAH CEDERA

Bintang Paris Saint-Germain, Kylian Mbappe mengalami cedera jelang laga leg kedua 16 besar Liga Champions 2021/22 kontra Real Madrid. Mbappe cedera saat menjalani sesi latihan bersama tim utama pada Senin. Dalam video yang viral, punggung kaki kanan Mbappe mendapat tekel keras dari gelandang PSG, Idrissa Gueye. Setelahnya, Mbappe jatuh tersungkur kesakitan. Dari hasil scan, PSG bisa bernafas lega, lantaran Mbappe tidak mengalami cedera serius macam retak tulang. Namun Mbappe belum bisa dipastikan bisa main atau tidak lawan Madrid.

KLOPP: TANPA LIVERPOOL, MAN CITY SUDAH JUARA SEJAK FEBRUARI

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp, mengklaim Manchester City akan dinobatkan sebagai juara Liga Inggris pada Februari jika bukan karena timnya. The Reds saat ini menempel The Citizens dengan selisih enam poin dan masih ada satu laga di tangan. “Jika kami tidak bisa berada di sini musim ini, atau dua tahun lalu, atau tiga tahun lalu, maka City akan menjadi juara pada Februari. Karena kami ada, itu lebih ketat. Jika City tidak ada, saya pikir ada peluang bagus kami akan jadi juara.” ujar Klopp.

KLOPP NGOTOT DESAK LIGA INGGRIS TERAPKAN 5 PERGANTIAN PEMAIN

Pelatih Liverpool, Jurgen Klopp mendesak Liga Inggris menerapkan lima pergantian untuk meminimalisir resiko cedera terhadap para pemain bintang. Diketahui, lima pergantian pemain sempat diterapkan di sejumlah kompetisi sepak bola dunia, selama dua musim terakhir sebagai upaya adaptasi di masa pandemi. Menurut Klopp, regulasi lima pergantian pemain sangat mendukung permainan intens di lapangan, termasuk saat final Liga Champions musim lalu.

HARRY KANE LEWATI CATATAN GOL THIERRY HENRY

Tambahan dua gol striker Spurs Harry Kane ke gawang Everton bermakna spesial. Dilansir Skysports, Kane menggeser legenda Arsenal Thierry Henry dalam urusan top skor sepanjang masa Premier League. Kane kini menempati posisi keenam daftar tersebut. Pemain 28 tahun ini mencetak 176 gol, melewati 175 gol milik Henry. Kane juga berpeluang melewati rekor gol legenda Chelsea, Frank Lampard yang hanya berselisih satu gol.

ABRAHAM DIAMBANG LAMPAUI REKOR BATISTUTA DAN MONTELLA

Striker AS Roma, Tammy Abraham selangkah lagi untuk melampaui pencapaian dari legenda klub ibu kota Italia tersebut, Gabriel Batistuta dan Vincenzo Montella. Abraham hanya terpaut satu gol dari torehan Batistuta dan Montella ketika pada musim pertamanya membela AS Roma. Abraham mencetak 20 gol bersama Roma pada musim pertamanya, sedangkan Batistuta mencetak 21 gol pada musim 2000/2001 dan Montella melakukan hal serupa di musim 1999/2000.

INTER MILAN MULAI RAYU SUAREZ PINDAH KE GIUSEPPE MEAZZA

Kontrak Suarez bersama Atletico Madrid akan segera berakhir.  Inter Milan dikabarkan memulai usaha untuk membujuk Luis Suarez agar pindah ke Italia musim depan. Bomber asal Uruguay itu disebut sudah memutuskan enggan untuk memperpanjang kontraknya di Wanda Metropolitano. Sehingga situasi ini akan dimanfaatkan Inter untuk menggaet Suarez. Selain Suarez, satu penyerang lagi yang ingin direkrut Inter adalah Gianluca Scamacca dari Sassuolo.

FABINHO: LIVERPOOL HARUS HABISI INTER MILAN SECEPATNYA

Liverpool punya bekal kemenangan dari leg pertama jelang menjamu Inter Milan di 16 besar Liga Champions dengan skor 2-0. Meski punya tabungan dua gol, Fabinho mewanti-wanti Liverpool agar tak lengah saat menjamu Inter di Anfield. “Kami harus melakukan apa yang biasanya kami lakukan di Anfield: memainkan permainan terbaik kami dan mencoba menghabisi mereka secepat mungkin, kalau kami bisa,” kata Fabinho.

TOTTENHAM DAN INTER MENGINCAR PAULO DYBALA DARI JUVENTUS

Mengutip Football Italia, Tottenham Hotspur dilaporkan tengah mengincar penyerang Juventus, Paulo Dybala. Klub rival Arsenal itu disebut ingin mendapatkan pemain internasional Argentina itu dengan status bebas transfer pada musim panas nanti. Namun Spurs harus bersaing dengan Inter Milan untuk mendapatkan Dybala. Inter dikatakan siap mengajukan tawaran gaji 6,6 juta pound (sekitar Rp 125,3 miliar) per musim ditambah bonus 1,65 juta pound (sekitar Rp 31,3 miliar).

BRAITHWAITE PERTIMBANGKAN MASA DEPANNYA DI BARCELONA

Martin Braithwaite tengah mempertimbangkan masa depannya di Barcelona setelah ia tidak menjadi pilihan utama pada beberapa laga terakhir. Diketahui Braithwaite sempat mengalami cedera pada awal musim ini dan kembali pulih di Januari lalu, namun tidak menjadi pilihan utama dari pelatih Xavi Hernandez. Dia juga kalah bersaing dengan pemain lain, sehingga memikirkan untuk pergi saja dari Tim Catalan tersebut.

BARCELONA SEGERA RAMPUNGKAN TRANSFER CHRISTIANSEN

Dikutip Football Espana, Barcelona dikabarkan segera merampungkan kontrak bek Chelsea, Andreas Christensen. Kubu Barca sedang bekerja untuk menyelesaikan kesepakatan Christensen dengan kontrak lima tahun. Menurut pakar transfer Fabrizio Romano, sudah ada kesepakatan verbal dari kedua pihak. Tetapi, belum ada yang ditandatangani.

RONALDO DIKABARKAN ‘KABUR’ KE PORTUGAL SAAT DERBY MANCHESTER

Mega bintang Manchester United, Ronaldo dikabarkan sengaja pulang ke Portugal pada hari pertandingan kontra Manchester City, Minggu (6/3). Kabar itu disampaikan oleh salah satu media ternama Inggris, The Athletic. Skuad MU sangat terkejut ketika mendengar Ronaldo lebih memilih terbang ke Portugal daripada datang ke Stadion Etihad.

FIFA IZINKAN PEMAIN ASING TANGGUHKAN KONTRAK DENGAN KLUB RUSIA

FIFA mengizinkan pemain asing menangguhkan kontrak secara sepihak dengan klub Rusia. Selama masa penangguhan kerja sama, FIFA juga membebaskan pemain untuk menandatangani kerja sama dengan klub lain sampai 30 Juni 2022. Langkah FIFA Buka Jendela Transfer Khusus untuk Pemain Asing di Rusia hanyalah tindakan sementara yang tidak akan memberikan banyak bantuan, kata serikat pemain (FIFPRO).

NEUER SUDAH SIAP KEMBALI KAWAL GAWANG BAYERN

Penjaga gawang Bayern Munchen, Manuel Neuer, telah kembali usai absen sejak pertengahan Februari karena cedera lutut. Pelatih Julian Nagelsmann memberi indikasi bakal menurunkan Manuel Neuer pada partai Bayern Munchen vs Red Bull Salzburg, Rabu (9/3) dinihari WIB. Nagelsmann memastikan Neuer akan kembali tampil jika tidak menunjukkan komplikasi di sesi latihan pamungkas.

PERKELAHIAN BRUTAL DI LIGA MEKSIKO, GUBERNUR QUERETARO BANTAH 17 ORANG TEWAS

Kericuhan mewarnai jalannya Liga Meksiko (Liga MX) yang mempertemukan Queretaro vs Atlas, Sabtu (5/3) waktu setempat. Perkelahian brutal ini dikabarkan telah menyebabkan belasan fans terluka, 2 orang kritis dan bahkan kabarnya ada 17 orang meninggal dunia. Namun Gubernur Queretaro, Mauricio Kuri membantah kabar tersebut. Dia memastikan tidak ada korban meninggal dalam insiden itu setidaknya sampai sejauh ini. Dia menyebut hanya ada 14 korban luka baik ringan atau yang parah. 

6 Pembelian Termahal Abramovich, Siapa Paling Bikin Tekor?

0

Keputusan Roman Abramovich menjual Chelsea menjadi bahan perbincangan hangat. Apalagi  Abramovich termasuk sosok yang telah membangun reputasi Chelsea sebagai salah satu klub sepak bola kuat di Eropa, sejak ia mengambil alih klub 19 tahun lalu.

Dalam proses menaiki tangga kesuksesan, Roman Abramovich telah menghabiskan uang yang tak sedikit untuk Chelsea. Uang-uang tersebut dipakai untuk meningkatkan kualitas skuad dengan membeli pemain-pemain bintang dengan bandrol tinggi.

Lantas siapa saja pemain termahal yang pernah didatangkan Chelsea pada era Roman Abramovich? Check this out…

Fernando Torres

Di urutan ke enam ada Fernando Torres, ia dibeli dari Liverpool pada tahun 2011 dengan harga 58,5 juta euro atau sekitar Rp913 miliar. Transfer itu membuat pendukung The Reds marah besar lantaran Torres merupakan stiker andalan bagi publik Anfield. 

Pemain Spanyol itu menjadi pemain termahal klub sepanjang masa ketika ia bergabung dengan The Blues. Namun, performa Torres justru jauh menurun dibandingkan saat membela Liverpool.

Sebetulnya sih, performa Torres tidak buruk-buruk amat. Namun, ekspektasi fans yang terlalu tinggi lantaran berkaca dengan performa Torres yang mengagumkan bersama The Reds, menjadikan Torres dianggap pemain yang gagal bersama Chelsea.

Penyerang internasional Spanyol itu hanya membukukan 45 gol dari 172 pertandingan selama berseragam The Blues.

Christian Pulisic

Ya benar, Christian Pulisic menjadi urutan ke lima dari daftar pemain termahal yang direkrut Chelsea selama era Abramovich. Pemain berusia 23 tahun itu didatangkan dari Borussia Dortmund pada Januari 2019 lalu dalam kesepakatan kontrak senilai 64 juta euro atau sekitar Rp 1 triliun. 

Sejauh ini, dengan harga yang cukup mahal, Pulisic dirasa belum memenuhi ekspektasi. Diperkirakan, cedera jadi salah satu permasalahan yang terus-menerus menghambat perkembangannya. Terlepas dari struggle dan lambatnya perkembangan, dalam momen tertentu Pulisic telah membuktikan diri bahwa dia dapat menjadi pemain penting bagi The Blues

Hal itu dibuktikan dengan kontribusinya dalam membantu Chelsea untuk meraih trofi beberapa tahun terakhir. Catatan golnya pun tak begitu buruk, ia sudah mencetak 22 gol dari 102 pertandingan bersama Chelsea. Jumlah itu lebih banyak daripada yang ia catatkan di Dortmund. 

Alvaro Morata

Selanjutnya ada Alvaro Morata, yang memang sempat jadi incaran banyak klub pada tahun 2017 lalu, salah satunya Chelsea. Chelsea terpesona pada penampilan Alvaro Morata bersama Real Madrid. Terlebih, striker asal Spanyol itu juga meraih berbagai gelar bersama Juventus.

Dengan CV mentereng Chelsea tak ragu menyodorkan dana sebesar 66 juta euro kepada Real Madrid demi mengamankan tanda tangan sang pemain. Angka itu hampir setara dengan Rp 1 triliun lebih.

Namun, berbekal CV mentereng dan performa apik pada musim sebelumnya, penampilan Morata tak begitu mengesankan selama berseragam The Blues. Pemain yang digadang-gadang bakal jadi ujung tombak klub pun hanya menambah daftar panjang kegagalan Chelsea dalam mendatangkan pemain bernomor 9. Bahkan ia hanya bertahan selama 18 bulan saja di Stamford Bridge.

Penyerang tampan ini hanya mencatatkan 24 gol selama berseragam Chelsea. Itu angka yang sangat mengecewakan mengingat harganya yang menyentuh satu triliun rupiah.

Kepa Arrizabalaga

Di nomor tiga ada mantan kiper utama Chelsea, Kepa Arrizabalaga. Superioritas Chelsea di bursa transfer semakin terlihat usai memboyong Kepa dari Liga Spanyol. 

Bahkan The Blues hingga memecahkan rekor transfer termahal untuk seorang penjaga gawang setelah mendapatkan Kepa dari Athletic Bilbao dengan harga 80 juta euro atau sekitar Rp1,25 triliun.

Lagi-lagi harga yang mahal tak bisa jadi jaminan. Meskipun sejatinya ia sempat menampilkan performa yang apik di bawah mistar gawang. Namun, kisah cinta yang kandas tampaknya sangat berdampak pada performanya di lapangan.

Kepa melakukan sejumlah blunder yang membuatnya sering dijadikan kambing hitam. Tak heran bila akhirnya Chelsea mendatangkan Edouard Mendy untuk menggantikan posisi Kepa sebagai kiper utama.

Kai Havertz

Di urutan kedua ada pemain internasional Jerman, Kai Havertz. Dalam upaya untuk mengamankan jasa Havertz, Chelsea menemui jalan yang cukup terjal. Pasalnya, Bayer Leverkusen yang kala itu sebagai klub Havertz menginginkan angka yang sangat tinggi.

Negosiasi sempat berjalan alot, namun, akhirnya Chelsea dan Leverkusen sepakat di angka 80 juta euro atau sekitar Rp1,25 triliun. Angka tersebut terbilang fantastis untuk pemain muda berusia 21 tahun.

Dan ya, benar saja. Havertz tak langsung nyetel, ia butuh waktu cukup lama untuk beradaptasi dengan pola permainan Chelsea.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir ia menampilkan penampilan yang menakjubkan. Havertz selalu menjadi pemain yang mencetak gol kemenangan bagi The Blues di final Liga Champions dan Piala Dunia Antarklub.

Hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa ia telah mencapai level yang sama dengan label harganya. Terutama dengan 18 gol dan 13 assist yang sudah ia buat selama membela Chelsea, semakin memantapkan bahwa ia telah menjelma sebagai calon bintang masa depan Chelsea dan juga Timnas Jerman.

Romelu Lukaku 

Di urutan pertama dalam daftar pembelian termahal Chelsea di era Roman Abramovich adalah Romelu Lukaku. Sejatinya Lukaku bukanlah wajah baru di skuad The Blues. Ia sempat keluar masuk klub London Biru tersebut. Tepatnya pada 2011 silam ia didatangkan Chelsea dari klub Liga Belgia, Anderlecht.

Namun, ia hanya menghabiskan masa baktinya di Chelsea untuk menjalani proses peminjaman ke beberapa klub Liga Inggris lainnya. Ia juga sempat berseragam Setan Merah setelah menampilkan performa menjanjikan bersama Everton

Tak konsisten bersama United, ia melanjutkan kariernya di Italia bersama Inter Milan. Bersama Inter, ia bak menemukan kembali performa terbaiknya. Hal itulah yang membuat Chelsea tertarik untuk mendatangkan kembali Romelu Lukaku.

Butuh biaya mahal bagi Chelsea untuk balikan dengan sang mantan. The Blues harus merogoh kocek hingga 113 juta euro atau sekitar Rp1,7 triliun untuk membuat Inter Milan mau melepaskan sang pemain.

Namun, kesempatan kedua Lukaku di Chelsea tak berjalan mulus. Fakta berbicara bahwa gaya permainannya tidak cocok dengan pola permainan Thomas Tuchel. Lukaku dibeli mahal-mahal hanya untuk penghangat bangku cadangan saja.

Ironisnya, dengan PD ia justru sempat mengungkapkan bahwa keputusannya untuk kembali ke Chelsea adalah keputusan yang ia sesali. Dalam sebuah wawancara bersama Sky Sports, striker asal Belgia itu mengaku malah ingin balik ke Inter.

Jadi, dengan harga yang selangit namun kontribusinya yang cukup minim. Pantas apabila Lukaku mendapat predikat sebagai pemain termahal sekaligus paling merugikan bagi Roman Abramovich.

https://youtu.be/PV0gv_Mdrq8

Sumber: FourFourTwo, Sportsmole, Transfermarkt

5 Kontroversi yang Pernah Terjadi Gara-gara Bendera Korner

0

Seperti halnya tiang gawang, bendera korner menjadi bagian terpenting dalam permainan sepak bola. Namun, sebagai benda mati yang tak salah apa-apa, bendera korner acap kali menjadi pemicu tindakan kontroversial di setiap pertandingan sepak bola. Disamping tentu saja wasit.

Meskipun sebetulnya, fungsi bendera korner adalah untuk membantu wasit mengetahui apakah bola sudah keluar dari garis tepi, yang menghasilkan lemparan ke dalam, atau apakah bola sudah melewati garis akhir yang berarti menghasilkan tendangan pojok.

Selain itu, para pemain kerap memanfaatkan bendera korner untuk selebrasi. Biasanya usai mencetak gol, seorang pemain akan berlari menuju bendera korner dan diikuti kawan-kawannya. Atau bisa juga pemain yang baru saja mencetak gol, lantas memukul bendera korner.

Sayangnya, yang semacam itu bukan cuma kesenangan. Namun, ada kalanya bisa menjadi kontroversi, seperti kejadian-kejadian yang pernah terjadi di dunia sepak bola berikut ini.

Jamie Vardy (2020)

Striker andalan Leicester City, Jamie Vardy pernah dipermasalahkan hanya karena bendera korner. Hal itu terjadi ketika timnya menghadapi Sheffield United di Liga Inggris tahun 2020. Ketika itu, Vardy turut menyumbangkan gol bagi Leicester.

Setelah mencetak gol, Vardy berlari ke sudut lapangan. Selebrasi itu pun sampai merusak bendera korner di Bramall Lane yang kebetulan berwarna pelangi simbol LGBT. Sontak kejadian itu memancing respons negatif dari kaum LGBT, terutama mereka yang juga penggemar Leicester.


Komentar-komentar negatif pun menghujani Vardy. Apalagi bendera korner tersebut menjadi pertanda Rainbow Laces Stonwall. Hal itu pun makin membesar ketika penggemar lainnya yang tergabung dalam Foxes Pride, dan bukan LGBT turut menyangsikan perilaku Vardy.

Banyak yang menganggap Vardy telah menunjukkan rasa sentimennya terhadap LGBT dari perusakan bendera korner tersebut. Akibat kejadian itu, akhirnya Vardy pun merasa harus meminta maaf.

Permohonan maafnya itu ia tunjukkan dengan mengganti bendera korner yang rusak. Ia menggantinya sekaligus memberikan tulisan yang bernuansa positif. Vardy pun menulis “FOXES PRIDE! Keep The Good Work” atau “FOXES PRIDE! Teruslah bekerja dengan baik”, dan menandatangani di bendera korner yang baru dan berwarna pelangi itu.

Marek Hamsik (2018)

Pemain berambut mohawk asal Slovakia, Marek Hamsik juga pernah mendapat masalah gara-gara bendera korner. Ketika ia masih bermain untuk klub Italia, Napoli, Hamsik melakukan selebrasi yang berlebihan. Tepatnya saat Napoli menghadapi SPAL pada tahun 2018.

Hamsik sukses membubuhkan satu gol di laga itu. Ia mencetak gol melalui sundulan dari hasil kreasi umpan pemain asal Brasil, Allan. Gol itu membawa Napoli unggul atas SPAL 2-0 di babak kedua.


Ia seketika menunjukkan kesenangannya. Hamsik pun berlari menuju sudut lapangan, dan merusak bendera korner yang tidak salah apa-apa. Namun, tunggu sebentar, kekonyolan tidak berakhir sampai di situ saja.

Tak berapa lama usai Hamsik merasa mencetak gol, wasit justru memberi pertanda kalau dirinya harus menonton VAR untuk memutuskan bola sundulan Hamsik itu gol atau tidak.

Seperti terkena lemparan telur di wajahnya, Hamsik harus menerima kenyataan kalau gol tersebut dianulir. Sebab posisi pria Slovakia itu sudah berada di posisi offside. Masa pemain sudah offside, golnya sah? Ini kan, Liga Italia, bukan Indonesia.

Bak sudah jatuh tertimpa antena, Hamsik pun justru mendapat hukuman kartu kuning. Sebab ia sudah merusak bendera korner hingga hancur berkeping-keping.

West Ham vs Burnley (2018)

Masih di tahun yang sama. Paul Coulborne, pria 61 tahun, seorang penggemar West Ham tiba-tiba berlari ke lapangan. Ia bangkit dari tempat duduknya untuk mencabut bendera korner dan berlari ke tengah lapangan.

Pria yang belakangan diketahui sebagai pebisnis operator perjalanan itu, membawa bendera korner ke tengah lapangan saat pertandingan West Ham vs Burnley berlangsung di London Stadium.

Ia berlari dan berdiri di tengah lapangan sambil mengangkat bendera korner. Para pemain pun tercengang melihat aksi yang lebih mirip orang terlilit pinjol tersebut. Pertandingan pun sempat terhenti beberapa saat. Namun, kejadian itu sudah terlanjur ditonton oleh jutaan orang di televisi.

Ketika diwawancara MailOnline, ia mengakui kalau perbuatannya itu sebagai bentuk protes terhadap pemilik West Ham. Ia marah karena pemilik West Ham mengundang buldoser untuk menghancurkan Upton Park, rumah dari West Ham yang lama yang sudah digunakan selama 112 tahun.

Nottingham Forest vs Derby County (2009)

Siapa menyangka, bendera korner, yang benda mati itu, justru bisa menimbulkan perkelahian di satu pertandingan sepak bola. Sekalipun bukan bendera kornernya yang memprovokasi. Kejadian itu bermula ketika pertandingan antara Nottingham Forest menghadapi Derby County di ajang EFL Championship pada tahun 2009.

Pertandingan yang berlangsung di Bridgford End atau City Ground, markasnya Nottingham Forest berakhir dengan kemenangan 3-2 untuk Nottingham Forest. Namun, kemenangan itu harus ternodai karena seorang pemain Nottingham, Nathan Tyson berperilaku tidak terpuji.

Ia melakukan selebrasi yang berlebihan dengan mencabut bendera korner. Tyson mencabutnya dan melambai-lambaikan bendera korner di hadapan pendukung Derby County persis seperti para penonton konser Slank.


Tindakan itu kemudian membuat para pemain Derby County geram, dan para pendukungnya mendidih emosinya. Dua pemain The Rams, Dean Leacock dan Gary Teale menghampiri Tyson, dan pemain lain pun mengikutinya. Karena merasa kawannya terancam, pemain Nottingham lainnya mencegah para pemain Derby County menghampiri Tyson.

Aksi itu pun akhirnya berbuntut perkelahian antarpemain. Pemain dari kedua klub saling terlibat memberi pelajaran. Situasi yang memanas di lapangan, tidak afdol rasanya kalau pendukung tidak campur tangan.

Kubu kedua pendukung pun langsung terjun ke lapangan, menciptakan keos. Perkelahian massal antarpemain, ofisial, dan pendukung pun sulit dihindari. Insiden itu membuat FA harus bertindak tegas pada dua klub tersebut.

Dilaporkan Telegraph, Asosiasi sepak bola Inggris memberi denda 20 ribu pounds (Rp377 juta) kepada Derby County, dengan jumlah separuhnya ditangguhkan. The Rams juga harus membayar 400 poundsterling (Rp7,5 juta). Sementara Nottingham Forest harus membayar denda 25 ribu pounds (Rp471,2 juta), dengan dengan 10 ribunya ditangguhkan.

Final Piala Dunia 1974

Final Piala Dunia 1974 sempat membuat publik di seluruh dunia geger sekaligus tertawa. Ada satu kejadian ceroboh yang membuat banyak orang terpaksa tertawa. Kala itu, laga yang mempertemukan Jerman vs Belanda harus tertunda gara-gara bendera korner.

Wasit asal Inggris, Jack Taylor yang memimpin pertandingan di laga itu, terpaksa harus menunda pertandingan, lantaran bendera korner belum terpasang. Hal itu diketahui, karena staf lapangan lupa memasang bendera korner usai upacara penutupan berlangsung.

Jack Taylor sendiri sangat menyayangkan kenapa hal tersebut bisa terjadi. Dikutip The Guardian, Taylor mengatakan kepada surat kabar Midlands Express and Star bahwa kejadian memalukan itu tidak akan pernah ia lupakan.

Menurutnya, itu adalah kesalahan amatir yang harusnya tidak terjadi di laga besar seperti final Piala Dunia. Ketika didatangi staf lapangan untuk menunda peluit kick off dan memulai lagi pertandingan, ia tak bisa berkata-kata. “Itu lucu dan tidak benar,” kata dia.

https://youtu.be/7nOB1KPxkpg

Sumber referensi: football-stadiums.co.uk, skysports.com, express.co.uk, dailymail.co.uk, derbytelegraph.co.uk, onthepitch.org, theguardian.com

Diincar Timnas Indonesia untuk Dinaturalisasi, Siapa Sebenarnya Emil Audero?

0

Timnas Indonesia hari ini sudah dihuni para kiper muda, seperti Nadeo Argawinata, Ernando Ari, sampai Muhammad Riyandi. Namun, tampaknya Timnas Indonesia belum puas dengan kiper-kiper tersebut, dan berencana untuk menambah satu kiper lagi. Ia adalah Emil Audero Mulyadi, punggawa Sampdoria yang rencananya bakal dinaturalisasi. Ia pun melejit, usai nama Emil Audero Mulyadi tercantum di daftar prioritas PSSI dan pelatih Shin Tae-yong.

Sebelumnya, agen PSSI di Italia melakukan pertemuan dengan manajer Emil Audero. Dalam pertemuan itu, manajer Emil Audero meminta waktu satu hari untuk berkomunikasi secara intens dengan kiper milik Sampdoria tersebut. PSSI pun mengerti dan memberikan tenggat sampai Jumat, 4 Maret 2022.

Seiring berjalannya waktu, manajer Emil Audero menghubungi agen PSSI bahwa pihaknya tidak bisa memberikan jawaban dalam waktu dekat ini. Sebab, Emil Audero tengah berlibur dan tidak bisa diganggu. Sang penjaga gawang baru bisa memberikan jawaban kemungkinan pada pekan depan. Lantas, siapa sebenarnya Emil Audero?

Tempat Kelahiran

Emilio Audero Mulyadi atau lebih dikenal dengan nama Italianya, Emil Audero dilahirkan pada tanggal 18 Januari 1997 di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ayahnya, Edy Mulyadi merupakan sosok asli Indonesia sedangkan ibunya Antonela Audero asli warga Italia.

Meskipun lahir di Indonesia, Emil Audero lebih banyak menghirup udara di Italia. Satu tahun setelah kelahirannya, orang tua Emil membawanya ke negeri Pizza. Dia hidup dan besar di negara yang pernah jadi juara Piala Dunia tersebut.

Emil Audero saat ini tinggal di Cumiana, Italia. Meski begitu, ia suka liburan ke Lombok. Pada 2019 lalu, Emil Audero pun menyempatkan diri pulang ke NTB untuk berlibur ke Lombok sembari bertemu keluarganya.

“Saya menyukai tanah di sana. Ayah saya adalah warga Indonesia dan saya lahir di sana. Dan pantai di sana (Lombok) juga sangat indah,” ucapnya.

Karier Bermain dari Junior Hingga Senior

Emil Audero Mulyadi mengawali karier juniornya bersama Juventus. Dia masuk ke tim akademi Juventus pada tahun 2008 saat usianya masih 11 tahun. Pada 1 Juli 2012, ia berhasil menjadi penjaga gawang utama tim junior Juventus dan bertahan tiga tahun sampai 1 Juli 2015.

Bersama tim Juventus U-19, Emil Audero sempat berhasil membawa timnya mencapai final Campionato Nazionale Primavera musim 2015/16 di bawah asuhan pelatih Fabio Grosso. Sayangnya, Juventus harus menyerah dari AS Roma lewat drama adu penalti dengan skor 7-6 pada final tersebut.

Penampilan apiknya bersama Juventus junior membuatnya mendapat pemanggilan dari Timnas Junior Italia. Emil Audero tercatat sudah beberapa kali menjadi andalan Gli Azzurri di berbagai kelompok umur mulai dari U-17, U-18, U-19, dan U-21. Namun, hingga saat ini Emil belum mendapat kesempatan untuk membela Italia di level senior.

Meski bermain di tim junior Juventus, Emil Audero sempat beberapa kali mencicipi latihan bersama tim utama Juventus. Pada 30 November 2014, Emil Audero pertama kali dipanggil ke tim utama Juventus oleh manajer Massimiliano Allegri.

Kala itu, Emil Audero dipercaya untuk mengisi bangku cadangan saat Juventus menang 2-1 atas rival sekota Torino. Tercatat, setelah itu, sepanjang musim 2014/15, Emil Audero dipanggil ke bangku cadangan sebanyak lima kali. Hal ini cukup membuktikan, bahwa Emil Audero adalah kiper yang punya kualitas bagus.

Emil Audero dipromosikan ke tim utama Juventus pada tahun 2015. Hanya saja, ia cuma menjadi kiper ketiga selama memperkuat klub berjuluk Si Nyonya Tua (2015-2017). Tercatat, Emil Audero turun satu kali bersama skuad senior Juventus, tepatnya di laga pamungkas Liga Italia 2016/17 saat si Nyonya Tua menang 2-1 atas Bologna.

Meski jarang dimainkan oleh Juventus, namun dengan dipercayanya ia duduk di bangku cadangan, membuatnya semakin percaya diri bahwa dirinya punya kapasitas untuk bisa bersaing di bawah mistar Juventus. Namun pada akhirnya, Emil Audero harus berkarier di luar Juventus karena persaingan posisi kiper yang cukup berat pada saat itu.

Emil Audero kemudian dipinjamkan ke Venezia pada 8 Juli 2017. Klub yang diperkuat Emil Audero kala itu masih bermain di Serie B. Sepanjang musim 2017/18, Emil Audero dipercaya menjadi kiper utama Venezia. Ia mampu tampil apik dengan total bermain sebanyak 38 kali.

Kemudian setelah dipinjamkan ke Venezia, pada 17 Juli 2019 Emil Audero dipinjamkan oleh Juventus ke Sampdoria selama semusim penuh dengan opsi dibeli permanen. Sampdoria kemudian mempermanenkan Emil Audero pada 26 Februari 2019 dengan nilai transfer 20 juta Euro atau setara Rp 314 miliar.

Kepindahan ke klub berjuluk Il Samp tersebut menjadi batu loncatan bagi Emil Audero dalam berkarier di kasta tertinggi sepak bola Italia. Sejak kepindahannya, Emil langsung menjadi andalan Sampdoria di bawah mistar gawang.

Statistik Bermain

Dikutip dari laman Transfermarkt, Emil Audero tercatat telah tampil sebanyak 248 kali di Eropa terhitung sejak musim 2012/13. Selama bermain dengan total 248 penampilan itu, Emil Audero telah kebobolan 336 kali dan mencetak 66 clean sheet.

Di musim ini, bersama Sampdoria, Emil Audero yang perlahan mulai tergeser oleh Wladimiro Falcone itu, telah tampil sebanyak 21 kali di berbagai kompetisi dengan kebobolan 39 kali dan mencatatkan dua nirbobol saja.

Sedangkan untuk catatan clean sheet Emil Audero berada di angka 21,2 persen saja dalam satu tahun terakhir. Namun, catatannya dalam penyelamatan penalti terbilang mumpuni, yakni sebesar 33,3 persen.

Di kancah Serie A selama 20 pertandingan awal musim ini, rata-rata Emil Audero melakukan penyelamatan sukses sebesar 62,9 persen dari 97 tembakan ke arah gawang yang dihadapinya. Dari jumlah itu, tercatat rata-rata bola yang masuk ke gawangnya per 90 menit mencapai 1,9 gol.

Melihat dari persentase penyelamatan itu, Emil Audero berada di peringkat ke-17 dari 21 kiper yang bermain reguler di kancah Serie A musim ini. Catatan ini tak terbilang buruk, mengingat Emil Audero berada di posisi ke-9 dari 38 kiper yang sering mendapat tembakan ke gawang di Serie A musim ini. Apalagi di usianya yang masih cukup muda, masih banyak waktu bagi Emil Audero untuk lebih berkembang lagi ke depan. Ya syukur-syukur apa yang diimpikan PSSI terkabul sehingga Indonesia mempunyai kiper top yang pernah berkarir di salah satu liga terbaik dunia.