Beranda blog Halaman 583

Taji Christian Eriksen Kembali Teruji Di Brentford

Kisah mengerikan dialami Christian Eriksen ketika perhelatan EURO 2020 saat Denmark melawan Finlandia. Pingsannya Eriksen karena serangan jantung ketika itu menggegerkan publik sepak bola dunia. Ketika itu karier Eriksen diprediksi akan selesai.

Setelah peristiwa penyakit jantung yang dideritanya ia kemudian dipasangi alat yang bernama ICD (Implantable Cardioverter Defibrillator) alat yang dapat mengembalikan detak jantungnya ke ritme yang teratur jika masalah muncul di kemudian hari.

Dilepas Inter Milan

Eriksen yang mempunyai masa pengabdian di klub Italia, Inter Milan terpaksa untuk mengurungkan niatnya kembali ke klub tersebut lantaran berbenturan dengan aturan. Aturan Serie A mengatakan bahwa pemain yang menggunakan alat pacu jantung seperti ICD tidak diperbolehkan bermain di Serie A. Alhasil, Inter pun secara resmi melepas Eriksen dengan terpaksa pada 17 Desember 2021. Eriksen pun menjadi free agent setelah dilepas Inter.

Padahal Eriksen memiliki kontrak senilai 11 juta pounds (Rp 205 miliar) dengan Inter yang berlangsung hingga musim panas 2024. Laporan di Italia menunjukkan bahwa Program Perlindungan Klub dari FIFA akan mengganti kerugian Inter Milan 8,5 juta pounds (Rp 159 miliar) mengingat peristiwa tragis eriksen itu terjadi saat bertugas di laga internasional.

Akan tetapi, usai dilepas Inter, perlahan namun pasti Eriksen menjalani perawatan hingga kembali normal. Ia bertekad untuk kembali ke dunia sepak bola meski resiko besar menantinya. Tim medis yang sudah mengizinkannya untuk bermain kembali, membuat Eriksen tergerak.

Bergabung Dengan Brentford

Setelah dilepas Inter Milan ia tidak lagi punya klub. Belum ada tawaran dari klub mana pun. Selama itu Eriksen menghabiskan untuk pemulihan fisik dan melakukan training camp pribadi.

Eriksen kemudian bertekad menuju Belanda untuk pemusatan latihan. Ia menuju training camp Ajax Amsterdam, klub yang pernah dibelanya dulu. Ia bersama tim muda Ajax berlatih untuk mengembalikan sentuhannya yang telah lama hilang sejak EURO 2020. Sembari menunggu pinangan dari beberapa klub Premier League yang mulai banyak tertarik kepada nya.

Klub-klub Premier League ternyata banyak menginginkan tanda tangannya. Setelah ia dipantau perkembangannya ternyata menunjukkan grafik yang positif selama di training camp di Ajax.

Klub-klub semacam Newcastle, Leicester bahkan klub lamanya Tottenham Hotspur berminat merekrutnya. Klub-klub di Premier League seperti diketahui tidak ada aturan yang melarang bahwa pemain yang dipasang alat pacu jantung tidak bisa bermain. Berbeda dengan Serie A.

Tidak lama kemudian setelah Eriksen selesai melakukan training camp di Ajax, tawaran serius datang dari Brentford. Brentford yang notabene klub baru promosi di Premier League sangat menginginkan jasa gelandang Denmark itu. Apalagi faktor pelatih Brentford, Thomas Frank dan asistennya berasal dari satu negara dengan Eriksen.

Banyaknya pemain Denmark yang bermain bagi Brentford seperti Norgaard, Zanka, Sorensen, Jonas Lossl, Rasmussen, maupun Mathias Jensen adalah salah satu pertimbangan bagi Eriksen untuk berlabuh ke klub London tersebut.

Eriksen akhirnya dikontrak Brentford dengan durasi enam bulan hingga akhir musim 2021/2022 dengan status free transfer. Ia dikontrak dengan harga 13 juta pounds atau sekitar (Rp260 miliar) dengan opsi perpanjangan kontrak selama satu tahun sampai 2023.

Debut bersama Brentford

Eriksen mulai berlatih di Brentford pada 7 Februari 2022. Ia melakukan beberapa sesi latihan dengan beberapa teman senegaranya di bawah arahan Thomas Frank. Meskipun ia tidak langsung tampil membela tim utama Brentford.

Eriksen kemudian melakukan debutnya secara tidak resmi di Brentford melawan klub Southend United pada 21 Februari 2022. Itu adalah pertandingan tertutup yang diisi oleh beberapa Tim B Brentford.

Eriksen berperan penting dalam kemenangan Brentford ketika itu dengan skor akhir 3-2. Eriksen membuat satu assist untuk gol pertama Brentford yang dicetak Josh Dasilva. Sebetulnya ia juga memiliki peluang untuk mencatatkan namanya di papan skor. Sayangnya, upaya Eriksen masih bisa digagalkan kiper lawan. Dan 60 menit dirasa cukup untuk Eriksen menjalani debutnya.

Eriksen debut untuk kedua kalinya di Brentford kembali di pertandingan uji coba tak resmi melawan Rangers. Pertandingan itu berakhir imbang 2-2. Eriksen kembali berpengaruh dalam laga tersebut. Ia menciptakan dua assist satu dari corner dan satu dari tendangan bebas tak langsung yang diselesaikan oleh pemain Brentford lainnya.

Dengan kedua debut Eriksen tersebut tampaknya ia menunjukan tanda-tanda positif untuk segera melakukan debutnya di partai resmi Premier League. Ia terlihat sudah siap masuk dalam skema taktik arahan pelatih Thomas Frank.

Pengaruhnya di Brentford

Debut Eriksen di partai resmi pun terjadi. Setelah ia muncul dalam skuad yang dibawa Brentford melawan Newcastle di rumah sendiri pada partai lanjutan Premier League.
Meskipun ia berada di bench dari awal laga, ia kemudian masuk sebagai pemain pengganti di menit 51 babak kedua untuk menggantikan rekan senegaranya Mathias Jensen.

Eriksen pun mendapat sorakan sambutan meriah publik Brentford. Namun, debutnya tidak mampu menolong timnya dari kekalahan 2-0 atas Newcastle ketika itu.

Selanjutnya Brentford melakukan partai tandang ke Norwich di Premier League. Kali ini pelatih Thomas Frank mempercayainya sebagai starter. Inilah kali pertama Eriksen kembali menjadi starter di pertandingan resmi.

Ia tampil apik dengan mengawali proses gol pertama Brentford oleh Ivan Toney berawal dari sepak pojoknya. Alhasil Brentford mampu diantarkannya mencuri tiga poin dengan hasil akhir 3-1 untuk kemenangan Brentford. Eriksen dalam partai itu mampu tampil penuh 90 menit.

Di pertandingan berikutnya taji Eriksen kembali teruji. Partai kandang melawan Burnley diselesaikan dengan kemenangan meyakinkan 2-0. Kembali Eriksen turun sebagai starter dan bermain penuh selama 90 menit.

Eriksen mampu mencetak assist resmi pertamanya dalam laga ini melalui umpan matangnya yang diselesaikan oleh sundulan Ivan Toney. Dan kemudian assist tak langsungnya membuat Toney dilanggar di kotak penalti dan berbuah gol kedua Brentford dari titik putih.

Tampaknya taji seorang Eriksen itu terbukti masih berpengaruh dalam tim. Tim sekelas Brentford yang notabene medioker mampu diangkatnya kembali memperoleh dua kemenangan beruntun setelah ia bermain sebagai starter.

Brentford pun perlahan mulai naik klasemen Premier League. Brentford saat ini masih berada di posisi 15 klasemen. Mengingat sebelumnya Brentford hampir terjerumus dan bertarung di papan bawah zona degradasi.

Pola yang dipakai oleh Thomas Frank baik itu 3-5-2 atau 4-5-1 berbuah manis atas kehadiran Eriksen yang berfungsi sebagai playmaker di belakang striker yang sesekali melakukan penetrasi masuk ke kotak penalti lawan.

Performa sentuhan Eriksen akhir-akhir ini telah kembali di Brentford. Berkat performanya yang telah pulih itu ia kembali dipanggil Timnas Denmark untuk melakoni laga persahabatan akhir Maret 2022 melawan Belanda dan Serbia. Kesempatan itu tampaknya tidak akan disia-siakan Eriksen demi tujuannya untuk pergi ke Qatar 2022 bersama Denmark.

https://youtu.be/w3z-dPWMODA

Sumber Referensi : theathletic, sportingnews, givemesport

Satu Benua, Mengapa CONCACAF dan CONMEBOL Tidak Bergabung Saja?

0

Legenda Barcelona sekaligus salah satu gelandang terbaik yang pernah dihasilkan Argentina, Javier Mascherano dalam satu kesempatan mengutarakan pendapatnya mengenai penggabungan dua konfederasi sepak bola di Benua Amerika. Menurutnya, CONMEBOL dan CONCACAF memang lebih baik bersatu.

Nantinya, di dalam satu Benua Amerika hanya akan ada satu kompetisi. CONCACAF tidak perlu menggelar Piala Emas sendiri, begitu pula CONMEBOL tidak lagi menggelar Copa America. Kompetisinya menjadi satu seperti EURO maupun Piala Asia.

Namun, ya, tentu saja, itu hanya pendapat seorang Javier Mascherano. Karena pada kenyataannya, kita akan kesulitan melihat kedua konfederasi di Amerika ini menyatu. Sekalipun kalau secara geografis mereka berada di satu benua. Hal itu membuat Benua Amerika seperti berbeda sendiri.

Saat benua-benua lain punya satu konfederasi saja macam AFC di Asia, OFC di Oseania, UEFA di Eropa, dan CAF di Afrika. Benua Amerika tidak demikian. Sejak dulu, upaya penggabungan keduanya acap kali menemui jalan buntu.

Apalagi, pihak pro dan kontra selalu mewarnai upaya penggabungan dua konfederasi tersebut. Jika Mascherano sepakat penggabungan, lain pendapat seorang veteran Piala Dunia empat kali, pesepakbola asal Amerika, DeMarcus Beasley yang mengatakan keduanya tak perlu bergabung.

Menurut DeMarcus, sistemnya tidak ada masalah. Jadi, tak perlu digabung segala. Lihatlah! Betapa dari segi pendapat saja sudah menuai pro dan kontra. Namun, tentu bukan karena berbeda pendapat saja. Ada beberapa hal yang membuat kedua konfederasi ini seperti minyak dan air.

Wilayah yang Berbeda

Sebelum kita beranjak lebih jauh, mari pahami dulu bahwa sekalipun berada di dalam satu benua, CONCACAF dan CONMEBOL adalah konfederasi yang mewakili dua wilayah yang berbeda. Pada dasarnya, sesuai namanya, Central America and Carribean Association Football (CONCACAF) mewakili negara-negara di Amerika Utara, Tengah, dan Karibia.

Sementara, Confederation Sudamericana de Futbol (CONMEBOL) mewakili negara-negara di Amerika Selatan atau Amerika Latin. Nah, mengapa kita memulainya dengan membedakan wilayahnya?

Perlu digarisbawahi dulu, bahwa kedua wilayah Amerika ini, sekalipun berada dalam satu benua, memiliki kondisi yang berbeda. Selain kondisi geografis yang itu memang sunatullah, keduanya juga memiliki kondisi sosial yang berbeda.

Negara-negara yang tergabung dalam CONCACAF bukanlah negara sepak bola. Maksudnya, negara-negara tersebut tidak terlalu fokus di sepak bola. Marilah kita sebut misalnya, Amerika Serikat. Dalam risetnya, Andrei Markovits menulis sepak bola tidak menjadi budaya yang mengakar di Amerika Serikat.

Kondisi itulah yang membuat CONCACAF minim menghasilkan pemain sepak bola. Apalagi CONCACAF sendiri dipengaruhi cukup besar oleh Amerika Serikat.

Berbeda dengan CONMEBOL. Orang bilang CONMEBOL adalah surganya sepak bola. CONMEBOL adalah pesaing terberat negara dari konfederasi lain, seperti UEFA. Banyak negara-negara di CONMEBOL yang menghasilkan pesepakbola pilih tanding.

Mengapa demikian? Karena sepak bola di CONMEBOL menjadi cukup diperhitungan. Jika melihat peta kekuatannya, hanya Venezuela yang empot-empotan di dunia sepak bola.

Perbedaan Level

Wilayah yang berbeda, kondisi sosial masyarakat yang berbeda, tentu saja mempengaruhi kualitas kedua konfederasi tersebut. Pada tahun 2017, FIFA merencanakan akan menambah kuota peserta Piala Dunia menjadi 48 tim pada Piala Dunia 2026 mendatang.

Usulan yang baru-baru ini kembali ramai diperbincangkan itu, juga memuat keinginan lain FIFA. Melalui sang presiden, Gianni Infantino, terkait penambahan jumlah peserta Piala Dunia itu, FIFA juga menginginkan agar kualifikasi antara CONMEBOL dan CONCACAF dijadikan satu saja.


Demi mewujudkan rencana itu, FIFA menggelar pertemuan khusus bersama petinggi CONCACAF dan CONMEBOL. Pertemuan itu berlangsung di Miami, Amerika Serikat. Namun, Presiden CONCACAF, Victor Montagliani menolak mentah-mentah usulan itu.

Menurut Montagliani, perbedaan level antara CONCACAF dan CONMEBOL sangatlah tinggi. Kendati, menurut anggota dewan CONCACAF, Ernesto Meija seperti dikutip Latin American Post, penyatuan kedua konfederasi sangat mungkin meningkatkan semangat kedaerahan (Amerika). Namun, hal itu, menurut Meija butuh waktu yang tidak sebentar.

Terkait Sejarah

Keduanya, CONCACAF dan CONMEBOL juga memiliki sejarah yang berbeda. CONMEBOL lebih dulu lahir atau dengan kata lain yang tertua. Confederation Sudamericana de Futbol terbentuk sekitar tahun 1916. Uniknya, pendirian CONMEBOL awalnya untuk menandai 100 tahun kemerdekaan Argentina.

Di tahun yang sama pula, Campeonato Sudamericano de Futbol atau Copa America Selatan dilaksanakan. Waktu itu, anggota CONMEBOL yang bermain bersama di Copa America edisi pertama baru Brasil, Argentina, Chili, dan Uruguay yang turut berpartisipasi.

Dengan kata lain, empat negara itulah yang menginisiasi berdirinya CONMEBOL sekaligus terselenggaranya Copa America. Negara-negara lain di Amerika Selatan pun menyusul kemudian.

Paraguay mulai bergabung pada 1921, disusul Peru (1925); Bolivia (1926); Ecuador (1927); Kolombia (1936); dan terakhir Venezuela (1952). Lalu, 45 tahun kemudian CONCACAF baru berdiri.

18 September 1961 Konfederasi Sepak bola Amerika Utara, Tengah, dan Karibia berdiri. Yang unik, CONCACAF ini lahir dari hasil “persetubuhan” dua konfederasi yang berbeda. NACF dari Amerika Utara yang berdiri tahun 1946 dan CCCF dibentuk negara-negara Amerika Tengah dan Karibia sekitar tahun 1937.

Dengan begitu, si pencetus CONCACAF jauh lebih banyak daripada CONMEBOL. Ada dua belas negara yang menjadi inisiator berdirinya CONCACAF. Di antaranya Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Honduras, Kosta Rika, El Salvador, Guatemala, Nicaragua, Panama, Kuba, Curacao, dan Haiti.

Kendati berdiri untuk mewadahi negara-negara di wilayah Amaerika Utara, Tengah, dan Karibia, namun ada pula negara dari Amerika Selatan yang justru bergabung ke CONCACAF. Mereka adalah Guyana, French Guiana, dan Suriname.

Saling Berpartisipasi

Sekalipun kedua konfederasi sulit untuk bergandengan tangan, namun negara-negara di CONCACAF juga pernah diundang untuk berpartisipasi di Copa America. Sejak 1993, negara anggota CONCACAF ikut berkompetisi di Copa America. Salah satu yang langganan masuk adalah Meksiko.

Negara-negara CONCACAF lain yang turut diundang di antaranya Amerika Serikat, Jamaika, Haiti, Panama, Honduras, sampai tentu saja Kosta Rika. Selain undangan, kedua konfederasi ini juga pernah menggelar turnamen bersama.

Tahun 2016, atau sekitar enam tahun lalu kedua konfederasi di Benua Amerika ini menggelar Copa America Centenario. Turnamen yang idenya sudah ada sejak 2012 itu diikuti 10 tim perwakilan dari CONMBEOL dan 6 tim dari CONCACAF.

Empat tahun usai turnamen yang dimenangkan Chili itu, Presiden Sepak bola Amerika Serikat, Carlos Cordeiro mengajukan tawaran untuk menggelar turnamen antar dua konfederasi itu lagi.

Dengan catatan 10 tim CONMEBOL dan 6 dari CONCACAF. Tak main-main Carlos Cordeiro seperti dilansir The New York Times, akan menawarkan jaminan 200 juta dolar (Rp2,8 triliun) pada tim tamu, dalam hal ini CONMEBOL.

Namun, Presiden CONMEBOL, Alejandro Dominguez menolak mentah-mentah usulan turnamen itu. Selain kurangnya persetujuan dari FIFA, Dominguez menolak karena ia lebih memprioritaskan Copa America, yang notabene turnamen sepak bola intenasional tertua di dunia.

https://youtu.be/kUlN1aEiiYA

Sumber referensi: latinamericanpost.com, burgundywave.com, duke.edu, tirto.id, quora.com

Dosa Ralf Rangnick Yang Dianggap Sebagai Penipu Di Rusia

Sosok pelatih Ralf Rangnick yang dikagumi banyak orang dengan gaya bermainnya yang khas dan mendapat julukan sebagai “bapaknya gegenpressing” tampaknya tidak luput dari kontroversi. Rangnick ternyata punya masalah lain sebelum ia datang ke Old Trafford.

Rangnick sebelumnya pernah menjadi salah seorang yang ditunjuk sebagai direktur teknik di klub Rusia Lokomotiv Moscow. Ia didaulat memimpin proyek klub itu demi mempertahankan prestasi. Namun apa yang terjadi, Rangnick dianggap melakukan dosa-dosa di klub Rusia tersebut, lantas apa saja dosa Rangnick?

Merombak Staf Dan Pelatih

Sejak datang pada pada Juli 2021 di Lokomotiv Moscow, Rangnick langsung merombak beberapa staf dan manajer sebelumnya. Rangnick langsung memberhentikan pelatih Marko Nikolic yang notabene berhasil mengantarkan Lokomotiv Moscow ke Europa League musim sebelumnya usai berada di peringkat empat besar musim 2020/21. Sekaligus Nikolic juga mengantarkan Lokomotiv Moscow sebagai juara Piala Liga Rusia di musim yang sama.

Nikolic dianggap Rangnick tidak sesuai dengan visi jangka panjangnya di Moskow. Gaya permainan yang cenderung pragmatis dinilai tidak cocok bagi Rangnick. Meskipun tercatat Nikolic merupakan seorang pekerja keras bagi publik Lokomotiv Moscow.

Rangnick juga melakukan penunjukan direktur teknik muda yang baru berusia 26 tahun, Thomas Zorn asal Jerman, meski memiliki track record buruk selama berada di Spartak Moscow. Rangnick juga merombak susunan staf dan manajemen Lokomotiv Moscow. Ia membawa rekan-rekannya sesama Jerman yang sudah ia kenal dan tentu satu visi dengannya untuk duduk di jajaran staf kepelatihan Lokomotiv Moscow.

Ditambah penunjukan pelatih baru Markus Gisdol yang juga merupakan orang Jerman menunjukan beberapa hal yang dianggap sebagai nepotisme. Markus Gisdol dianggap sebagai bonekanya Rangnick karena dengan adanya beberapa staf yang dibawa Rangnick serta datangnya Gisdol membuat Rangnick bisa secara leluasa memainkan perannya dalam hal bisnis perekrutan pemain maupun intervensi strategi di lapangan.

Mantan presiden Lokomotiv Nikolay Naumov mengkritik penunjukan Gisdol tersebut, dengan mengatakan: “Gisdol bukan pelatih, melainkan sekretaris. Rangnick tidak membutuhkan seseorang seperti Jose Mourinho atau Roberto Mancini, melainkan seorang pria yang akan mengikuti instruksinya.

“Rangnick datang ke klub hanya dengan satu tujuan yakni mengubah Lokomotiv menjadi bisnis jual beli pemain. Hasil tidak penting bagi mereka, dan mereka membutuhkan pelatih anonim yang bersedia menerima gaji bagus dan melakukan apa yang rangnick katakan,” kata Nikolay Naumov.

Hal itu tentu menimbulkan banyak pertanyaan bagi publik Lokomotiv Moscow. Eksodus beberapa orang Jerman yang dibawa Rangnick mungkin awalnya dianggap akan sukses seperti apa yang Rangnick lakukan di klub Red Bull.

Rangnick pun menyebut dengan kehadirannya ingin membuat “Redbull baru di Rusia”. Hal inilah yang kemudian diamini oleh banyak fans yang percaya akan visi itu. Perubahan visi itu tampaknya disertai dengan keputusan kontroversial lainnya dari Rangnick yakni menjual pemain pentingnya.

Transfer Yang Kontroversial

Salah satu pemain penting yang didepak Rangnick adalah gelandang Timnas Polandia, Grzegorz Krychowiak. Hal itu ternyata bertentangan dengan keinginan sang pemain. Dan tidak diketahui juga oleh sang pemain. Pemain internasional Polandia itu dibeli oleh rival Lokomotiv, yakni Krasnodar, dengan harga hanya 2,5 juta pounds (Rp46 Miliar) pada awal Agustus 2021, dan mampu tampil gemilang bersama klub barunya.

Daftar rekrutan musim panas Rangnick cenderung gagal, termasuk gelandang Prancis, Alexis Beka Beka dari klub Ligue 2, Caen dan pemain sayap Belanda, Gyrano Kerk dari Utrecht, keduanya masing-masing berharga 6 juta pounds (Rp112 Miliar )

Lokomotiv juga membayar pemain dari sang rival CSKA Moscow yakni gelandang yang belum terbukti, Konstantin Maradishvili dan Nair Tiknizyan, Kemudian ada Tin Jedvaj mantan wonderkid Bayer Leverkusen. Banyak pakar berkomentar bahwa strategi Rangnick di pasar transfer dinilai terlalu mahal dan berisiko.

Pasalnya, Rangnick ketika itu menghabiskan dana hampir 30 juta pounds (Rp487 miliar) untuk belanja. Uang yang cukup besar bagi transfer klub-klub di Liga Rusia. Mengingat kondisi waktu itu Lokomotiv Moscow sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja secara keuangan. Laporan neraca keuangan mereka sedang merah.

Sudah merombak secara besar-besaran ketika tiba di Moskow. Rangnick seakan mau menjawabnya dengan berbagai rentetan pertandingan dengan hasil nyata. Pertandingan-pertandingan sudah dilakoni di beberapa pekan di Liga Rusia. Namun, hasil positif itu tak kunjung datang. Bahkan sempat beredar kabar bahwa klub Inggris Manchester United menginginkan Rangnick sebagai manajernya pada November 2021.

Kontrak Yang Tidak Jelas Dan Pergi

Kontrak Rangnick pun cenderung tak jelas, bahkan ada yang menyebut tidak ada tertulis resmi apa pun dalam pembukuan kontrak di Lokomotiv Moscow, melainkan hanya tertulis melalui agensi bisnisnya. Meskipun begitu, secara pengakuan klub Rangnick sudah dikontrak dari awal Juli 2021 sampai Juli 2024 artinya durasi 3 tahun kontrak harus dijalani Rangnick di Lokomotiv Moscow.

Akan tetapi, akhirnya Rangnick benar-benar meninggalkan Moscow yang ia janjikan akan dibangun sebagai proyek besar sebagai “Red Bull-nya Rusia”. Ia lebih memilih gaji yang tiga kali lipat lebih banyak yang ditawarkan oleh MU untuk menjadi manajer pada akhir November 2021.

Atas hal itu tampaknya Moscow menelan pil pahit dari Rangnick. Ia selama bersama Lokomotiv Moscow sebagai direktur teknik olahraga dan pengembangan. Meninggalkan prestasi yang belum tampak nyata. Proses yang masih dibangun ternyata dikhianati oleh dirinya sendiri.

Kini, Rangnick telah dianggap sebagai penipu bagi publik Lokomotiv Moscow. Ia meninggalkan Lokomotiv Moscow yang sampai sekarang masih tercecer di peringkat ketujuh Liga Premier Rusia hingga pekan ke 20. Jauh dari performa Lokomotiv Moscow musim lalu yang berlomba mengisi tempat di papan atas Liga Rusia.

Akan tetapi seiring dianggapnya Rangnick sebagai sang perusak Lokomotiv Moscow. Tentu ada juga pikiran bahwa apa yang dibawa Rangnick itu adalah suatu perubahan radikal di sebuah klub yang harus memakan waktu lama untuk memetik hasil, bukan instan.

Sehingga apa pun yang dilakukan Rangnick selama lima bulan dari Juli hingga November 2021 belum bisa dinilai. Meskipun secara etika dengan kaburnya Rangnick secara sepihak ke MU merupakan sebuah bentuk lari dari tanggung jawab.

Sumber Referensi : thesun, goal.com, irishmirror, panditfootball, transfermarket

 

Banyak Klub Milik Taipan Rusia, Mengapa Hanya Abramovich yang Kena Sanksi?

0

Lengkap sudah penderitaan Chelsea ketika Roman Abramovich resmi didiskualifikasi dari jabatannya sebagai direktur klub oleh dewan Liga Inggris. 

Sekretaris Kebudayaan Nadine Dorries mengatakan bahwa Chelsea akan mendapatkan lisensi khusus, yang memungkinkan klub untuk tetap membayar staf klub dan fans yang memegang tiket terusan tetap bisa menghadiri pertandingan Chelsea.

Beruntungnya, Chelsea memiliki lisensi tersebut. sehingga serangkaian hukuman yang diterima Abramovich tak berdampak pada kegiatan klub untuk berlatih dan memainkan pertandingan sisa pada musim ini.

Inggris sendiri menjadi negara yang paling lantang untuk menyuarakan penolakan atas serangan Rusia kepada Ukraina dalam tiga minggu terakhir. Namun muncul pertanyaan, kenapa hal serupa tak terjadi dengan klub-klub yang dimiliki oleh pengusaha Rusia yang lain? Kenapa cuma Abramovich?

Kedekatan Abramovich Dengan Rusia

Roman Abramovich adalah satu dari tujuh taipan Rusia yang mendapat sanksi dari pemerintah Inggris. Menariknya, Abramovich adalah satu-satunya yang berstatus sebagai pemilik klub sepak bola.

Mengapa demikian? Menurut beberapa media Inggris hal itu karena Abramovich memiliki kedekatan dengan pemerintahan Rusia. Kesuksesan bisnis milik mantan bos Chelsea ini berimbas pada peta perpolitikan Rusia.

Misalnya saja, pada saat Putin jadi presiden pada tahun 2000, Abramovich memiliki peran penting dalam membangun pemerintahan baru di Rusia, seperti memilih menteri atau membuka dan menutup kasus 

Roman Abramovich juga sempat menjadi gubernur di suatu wilayah di Rusia bernama Chukotka. Pada periode menjadi Gubernur itulah Abramovich membeli Chelsea pada tahun 2003.

Meski Abramovich sempat membantah bahwa ia memiliki kedekatan dengan pemerintahan Rusia, khususnya Vladimir Putin. Namun, sanksi dari pemerintah Inggris sama sekali tak bisa dihindari olehnya. 

Kebijakan Inggris

Di sepak bola Inggris sejatinya ada klub sepak bola lain yang dimiliki oleh pengusaha asal Rusia. Klub tersebut adalah Bournemouth, klub yang sempat berlaga di kasta tertinggi sepak bola Inggris. Karena terdegradasi pada akhir musim 2019/20, kini mereka hanya bermain di kasta kedua Liga Inggris.

Bournemouth sendiri dimiliki oleh pengusaha minyak bernama Maxim Demin. Ia membeli 50 persen saham Bournemouth pada tahun 2011. Namun, baru mengakuisisi Bournemouth sepenuhnya pada tahun 2019 lalu.

Munculah pertanyaan, mengapa Bournemouth tak bernasib sama dengan Chelsea? Ada salah satu kebijakan Inggris yang menjadi kunci selamatnya Maxim Demin dari sanksi yang diberikan oleh pemerintah Inggris.

Hal ini dikemukakan oleh beberapa media Inggris seperti The Sun dan Dosert Live. Mereka menuliskan bahwa “Pemilik AFC Bournemouth, Maxim Demin memang kelahiran Rusia. Namun, Demin bukan seorang oligarki dan ia merupakan Warga Negara Inggris

Maxim Demin mendapat pengecualian dari pemerintah Inggris karena ia memiliki paspor Inggris, jadi ia terdaftar sebagai warga negara Inggris dan terhindar dari sanksi.

Sedangkan Roman Abramovich, ia dikenal memiliki beberapa paspor negara. Ia memiliki paspor Rusia, Israel, bahkan Portugal. Namun tidak dengan paspor Inggris.

Bagaimana Dengan Alisher Usmanov?

Jika muncul pertanyaan lagi, lalu apa yang terjadi dengan Alisher Usmanov dan Everton? Tentu itu hal yang berbeda lagi. Alisher Usmanov memang seorang miliarder yang berasal dari Rusia. Namun ia bukanlah pemilik klub Everton.

Pemilik Everton saat ini adalah Farhad Moshiri. Sedangkan Alisher Usmanov hanya berstatus sebagai investor atau sponsor bagi Everton. Melalui USM Holdings, Usmanov mendanai tempat untuk latihan skuad The Toffees.

Merespon konflik Rusia dengan Ukraina, Everton langsung menangguhkan kesepakatan 20 juta euro atau setara dengan Rp 315 miliar dengan USM Holdings. Keputusan Everton untuk menangguhkan kerjasama dengan perusahaan milik Usmanov disebut juga sebagai bentuk dukungan untuk salah satu pemain mereka asal Ukraina, Vitaliy Mykolenko. 

Kini Alisher Usmanov bernasib sama dengan Roman Abramovich. Seluruh asetnya dibekukan oleh pemerintah Inggris dan pergerakan Usmanov sangat dibatasi.

AS Monaco dan Cercle Brugge (Dmitry Rybolovlev)

Roman Abramovich terpaksa menjual klub tersayangnya itu karena pengaruh konflik Rusia dengan Ukraina. Meski begitu, perlu kita ketahui bahwa ada beberapa klub Eropa lainnya yang juga dimiliki oleh pengusaha asal Rusia. Lalu bagaimana nasibnya?

Sebut saja seperti AS Monaco, salah satu klub tersukses di Liga Prancis itu dimiliki oleh taipan asal Rusia, Dmitry Rybolovlev. Pengusaha yang aktif di bidang pupuk kalium ini telah membeli saham AS Monaco sejak Desember 2011 lalu.

Pada satu titik, klub berada di ambang kebangkrutan karena uang Rybolovlev mengering dan memaksa klub untuk menjual aset berharga mereka seperti Kylian Mbappe dan Bernardo Silva pada tahun 2017. 

Dmitry Rybolovlev kabarnya akan tetap mempertahankan kepemilikan 66,6 persen sahamnya di AS Monaco yang ternyata diatasnamakan dengan nama anaknya, Ekaterina. Selain AS Monaco, Dmitry Rybolovlev juga berstatus sebagai pemilik klub Cercle Brugge yang bermain di kasta tertinggi Liga Belgia. 

Ia sempat terancam bakal terseret dalam konflik persanksian ini dan memilih akan melepaskan Cercle Brugge ketimbang AS Monaco. Namun untungnya nama Dmitry Rybolovlev diketahui bersih dari keterlibatan persanksian tersebut.

Salah satu Faktor Abramovich diberi sanksi adalah karena ia memiliki kedekatan dengan pemerintah Rusia, Sedangkan Rybolovlev tercatat memiliki hubungan yang kurang baik dengan pemerintah Rusia, hal itu dibuktikan dengan Rybolovlev yang sempat bersengketa dengan pemerintah Rusia pada tahun 2006 hingga 2008 terkait perusahaan tambang miliknya, Uralkali.

Vitesse Arnhem (Valery Oyf) 

Klub lain yang dimiliki oleh pengusaha kaya raya asal Rusia adalah Vitesse Arnhem. Klub yang bermain di kasta tertinggi Liga Belanda ini dimiliki oleh Valeriy Oyf. Valeriy sebelumnya men-take over kepemilikan atas Vitesse dari Alexander Chigirinsky pada 2018.

Identitas Valeriy Oyf sebagai pemilik klub Vitesse, cukup terkenal di Inggris khususnya kota London. Hal itu karena Valeriy memiliki kedekatan khusus dengan mantan bos Chelsea, Roman Abramovich. 

Vitesse juga sempat menjadi klub yang menampung bakat-bakat muda Chelsea agar mendapat menit bermain yang cukup dan bisa mendapatkan pengalaman bermain di skuad utama.

Nama-nama pemain Chelsea yang pernah dititipkan di Vitesse seperti, Mason Mount, Fikayo Tomori dan Armando Broja semuanya menghabiskan waktu dengan status pinjaman di Vitesse sebelum akhirnya mendapat tempat di skuad utama atau bahkan dijual ke klub lain.

Mungkin kebijakan negara Belanda berbeda dengan Inggris. Untuk saat ini nama Valeriy Oyf belum disebut dalam daftar 26 orang pengusaha yang dikenai sanksi. 

Tetapi hubungannya dengan perusahaan-perusahaan Rusia seperti Rosneft dan Gazprom, bukan tidak mungkin apabila ia akan menjadi target selanjutnya dan ikut menjual klub sepak bolanya.

Bagaimanapun, sepak bola tak elok apabila dicampur adukan dengan politik. Ulasan ini juga tak bermaksud untuk memihak atau menjatuhkan siapa pun, informasi ini bertujuan hanya untuk membahas sisi lain dari sepak bola. Jadi be smart ya football lovers.

Seumber: The Sun, Box2Box, Sportstar, Dorset, The Black Sea

Berita Bola Terbaru 15 Maret 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

FERDINAND KLAIM MU BUKANLAH SIAPA-SIAPA TANPA RONALDO

Legenda Manchester United, Rio Ferdinand, menolak anggapan yang menyebutkan bahwa The Red Devils tampil lebih baik tanpa Cristiano Ronaldo. Belum lama ini Ronaldo menjadi bintang lapangan kontra Tottenham Hotspurs. Sang pemain berhasil mencetak hattrick sekaligus membantu timnya mengamankan poin sempurna. Ferdinand menyebut penampilan MU lebih baik tanpa kehadiran CR7 sebagai omong kosong. Menurutnya, MU bukanlah siapa-siapa tanpa Ronaldo.

RANGNICK SEBUT JADON SANCHO DEKATI TINGKAT PERFORMA TERBAIK DI MU

Pelatih Manchester United, Ralf Rangnick merasa bahwa Sancho sudah mulai mendekati tingkat performa terbaiknya di Manchester United. Rangnick bahkan mengatakan Sancho sempat mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan sifat fisik dan intensitas yang lebih tinggi di Liga Inggris. Rangnick mengatakan ketika ia menjadi manajer baru MU, terdapat usaha yang signifikan untuk membantu pemain-pemain seperti Sancho untuk kembali ke tingkat performa terbaiknya. 

SAUL NIGUEZ KECIL KEMUNGKINAN DIPERMANENKAN CHELSEA DARI ATLETICO

Sanksi otoritas Inggris terhadap Roman Abramovich dan pembekuan aset-asetnya berdampak pada rencana belanja klub. Satu di antara pemain yang terdampak oleh prahara di Chelsea itu adalah Saul Niguez yang direkrut dengan status pinjaman dari Atletico Madrid. Saul disebutkan akan kembali ke Spanyol, namun bakal kesulitan untuk tetap bertahan di Atletico Madrid dan besar kemungkinan akan dilepas di bursa transfer musim panas 2022 Juni mendatang.

TOM BRADY TERPERANGAH LIHAT RONALDO CETAK HATTRICK DI OLD TRAFFORD

Legenda NFL Tom Brady tampak terbius dengan penampilan Cristiano Ronaldo di lapangan hijau. Brady terlihat hadir di tribun penonton Old Trafford untuk menghadiri pertandingan Liga Inggris antara Manchester United vs Tottenham Hotspurs. Ekspresi melotot Tom Brady terlihat jelas saat duduk di tribun. Dia terperangah melihat Ronaldo mencetak hattrick pada laga tersebut. Brady yang sempat menyatakan pensiun pada pada akhir Januari lalu, pada pertengahan Maret ini dia memastikan diri menjadi pemain lagi.

TALENTA MUDA ATLETICO MADRID TOREHKAN REKOR TAK DIINGINKAN DI LA LIGA

Pemain muda Atletico Madrid, Javier Serrano menorehkan rekor yang tidak diinginkan di saat timnya meraih kemenangan 2-1 atas Cadiz di laga Jumat malam waktu setempat di Wanda Metropolitano. Brady hanya bertahan selama empat menit dan 49 detik saja karena ia diganjar kartu merah usai melakukan tekel berbahaya. Hal itu menjadikan ia penerima rekor kartu merah tercepat untuk seorang pemain pengganti. Sebelumnya di 2020 Ansu Fati hanya bertahan selama 4 menit dan 37 detik saat melawan Espanyol.

LAPORTA SEBUT BARCELONA TIDAK MUNGKIN BOYONG HAALAND

Barcelona santer dikaitkan dengan kepindahan striker Borussia Dortmund Erling Haaland dan bahkan klub Catalan itu menjadikan Haaland sebagai target utama mereka. Namun sekarang, Joan Laporta akhirnya buka suara untuk mulai mendinginkan kabar tersebut. Laporta mengatakan bahwa Barcelona saat ini masih membangun stabilitas keuangan mereka setelah krisis di awal musim ini. Hal itu membuat Barca tak punya kekuatan finansial untuk mengeluarkan biaya transfer besar demi membawa Haaland ke Camp Nou.

VICTOR OSIMHEN: SAYA YAKIN NAPOLI BISA RAIH SCUDETTO

Victor Osimhen yakin Napoli akan bisa meraih Scudetto pada musim 2021/22 ini setelah meraih kemenangan 2-1 atas Hellas Verona dalam lanjutan Serie A Italia di Stadio Bentegodi, Minggu (13/3) malam WIB. Pemain asal Nigeria itu mencetak dua gol untuk menghadirkan tiga poin untuk Napoli, lewat sundulan kepala dan tap-in dari jarak enam yard. Napoli mengincar gelar Serie A pertamanya sejak Diego Maradona mengangkat klub selatan itu hanya meraih dua trofi liga Italia pada 1987 dan 1990.

CHIELLINI KLAIM VLAHOVIC TELAH MENJADI PEMBEDA UNTUK SKUAD JUVENTUS

Walau baru berada di kota Turin selama dua bulan, Dusan Vlahovic memang terlihat memberikan dampak instan yang mengoleksi tiga gol dari enam pertandingan pada ajang Serie A, sekaligus membantu Bianconeri kembali ke zona Liga Champions. Pemain berpaspor Serbia sudah menunjukkan penampilan impresif bersama La Vecchia Signora. Giorgio Chiellini selaku kapten tim pun memuji kinerja dari Vlahovic yang menyatakan sosoknya, telah membuat pembeda di sektor penyerangan.

SERGINO DEST DIINCAR OLEH AS ROMA

AS Roma sudah bekerja menuju jendela transfer musim panas dan sebagai hasilnya, beberapa nama telah dikaitkan dengan klub ibu kota dalam beberapa pekan terakhir. Salah satu nama yang paling gigih adalah Sergiño Dest. Masa depan bek sayap Barcelona di Spanyol masih belum pasti untuk saat ini dan sang pemain dapat mempertimbangkan tawaran dari klub luar negeri pada bulan Juni. Menurut Romapress, pemain berusia 21 tahun itu terbuka untuk bermain di bawah kendali Jose Mourinho.

POCHETTINO SEDIH MESSI DAN NEYMAR DIEJEK PENDUKUNG PSG

Pelatih Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino, mengaku sedih mendengar suporter klub mencemooh Neymar dan Lionel Messi. Megabintang asal Argentina dan Brasil itu menjadi sasaran kekesalan suporter tuan rumah di sepanjang laga Liga Prancis melawan Bordeaux, yang berakhir 3-0 pada Senin. Suporter menilai bahwa Messi dan Neymar gagal membawa perubahan di PSG, terutama di kompetisi Liga Champions. Pochettino kecewa dengan aksi para suporter dan merasa cemoohan itu mempengaruhi timnya.

HASIL PERTANDINGAN

Dari lanjutan Liga Primer Inggris, Crystal Palace sukses menahan imbang sang pemuncak klasemen Manchester City, Selasa dinihari tadi. Bertanding di Selhurst Park, kedua tim tak mampu memaksimalkan peluang yang ada. Hasil ini tak merubah posisi kedua tim di klasemen. City masih di puncak, sedangkan Palace ada di urutan ke-11.

Sementara dari kompetisi La Liga, Real Madrid sukses menghajar tuan rumah Real Mallorca 3-0. Tiga gol Madrid dicetak di babak kedua lewat aksi Vinicius Junior di menit 55, dan brace Karim Benzema di menit 77 dan menit 82. Atas hasil ini membuat Madrid semakin kokoh di puncak klasemen dengan koleksi 66 poin. Sedangkan Mallorca masih bertahan di posisi ke-16.

Di ajang Liga Italia, Lazio menang tipis 1-0 atas Venezia di Olimpico. Gol semata wayang Lazio dicetak Ciro Immobile di menit 58 lewat penalti. Tambahan tiga angka ini bikin Lazio naik ke posisi ke 5 klasemen sementara dengan 49 poin dari 29 pertandingan.

DITAHAN IMBANG PALACE, GUARDIOLA TETAP KALEM

Manchester City harus puas bermain imbang kontra Crystal Palace pada laga pekan ke-29 Premier League. Kendati Manchester City gagal meraih tiga poin, dan posisinya terancam digusur oleh Liverpool di papan atas klasemen, Pep Guardiola mengaku tidak risau. Manajer asal Spanyol itu menyebut anak asuhnya telah mengerahkan seluruh kemampuan terbaik untuk memetik kemenangan.

ANCELOTTI BAKAL DUKUNG APA PUN KEPUTUSAN MADRID SOAL KONTRAK PEMAIN

Real Madrid memiliki sejumlah pemain yang masa baktinya akan segera kadaluarsa pada bursa transfer musim panas mendatang. Mereka adalah Luka Modric, Marcelo, Gareth Bale, dan Isco Alarcon. Dalam daftar tersebut, hanya Modric yang mungkin mendapatkan kontrak baru dari Los Merengues. Keputusan perihal masa depan keempat pemain tersebut masih belum jelas, namun Carlo Ancelotti menekankan bahwa dirinya akan mendukung apa pun keputusan klub tentang hal ini.

AYAH JAJAKI KEMUNGKINAN MESSI KEMBALI KE BARCA?

Ayah sekaligus agen Lionel Messi, Jorge Messi, kabarnya mulai mengupayakan anaknya keluar dari Paris Saint-Germain. Menurut jurnalis Spanyol, Gerard Moreno, ayahnya sudah menghubungi Barcelona agar Messi bisa kembali ke Camp Nou. Jorge Messi kabarnya menjalin kontak lagi dengan Joan Laporta dalam beberapa hari terakhir. Dalam pembicaraannya, disebut Messi berhasrat kembali ke Barcelona.

MU VS ATLETICO MADRID, BRUNO FERNANDES SIAP COMEBACK

Pemain andalan Manchester United, Bruno Fernandes, kembali berlatih setelah pada laga sebelumnya melawan Tottenham Hotspur absen karena COVID-19. Ralf Rangnick selaku pelatih mengutarakan bahwa hadirnya pemain asal Portugal tersebut mampu menambah daya gedor tim. Bruno Fernandes kabarnya siap dimainkan saat Manchester United bersua Atletico Madrid pada leg kedua babak 16 besar Liga Champions 2021/22 tengah pekan ini.

ALPHONSO DAVIES KEMBALI JALANI LATIHAN

Alphonso Davies kembali berlatih bersama Bayern Munchen. Kabar itu terlihat dari unggahan foto Davies di akun twitter resminya. Sebelumnya, pemain asal Kanada ini harus menepi dari lapangan hijau sejak pertengahan januari karena masalah jantung. Meski kembali berlatih, Davies belum dapat dipastikan bisa bermain atau tidak. Dia masih harus menjalani pemulihan terlebih dahulu agar fit 100%.

PSG MULAI INCAR PELATIH ATLETICO DIEGO SIMEONE

Pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone menjadi incaran PSG yang sedang mencari pengganti Mauricio Pochettino. Posisi Pochettino sebagai pelatih PSG terancam setelah menelan kekalahan 3-1 dari Real Madrid di leg kedua babak 16 besar Liga Champions. Kode akan didepaknya Pochettino dari Parc des Princes keluar dari mulut Leonardo selaku direktur olahraga klub. Leonardo mengaku jika PSG memang kecewa usai gugur dari Liga Champions namun enggan terlalu dini memberi surat PHK untuk sang bos. Selain Pochettino, Zidane juga menjadi kandidat pelatih PSG musim depan.

CIRO IMMOBILE BIKIN REKOR MENTERENG DI LIGA ITALIA

Penyerang Lazio, Ciro Immobile, resmi menjadi top skorer sepanjang masa I Biancoceleste di Serie A mengalahkan Silvio Piola. Immobile memecahkan rekor itu di laga lawan Venezia, di mana ia mencetak satu-satunya gol kemenangan Lazio. Gol penaltinya itu membuat dia sudah mencetak 144 gol untuk Lazio di Serie A. Sedangkan di semua kompetisi, Immobile kini sudah mencatatkan 176 gol untuk Lazio.

INTER DAPAT ‘BANTUAN’ WASIT DI LIGA ITALIA, AC MILAN NGAMUK

Kubu AC Milan marah besar dengan performa wasit di Liga Italia musim ini, terutama setelah Inter Milan mendapatkan ‘bantuan’ dari sang pengadil di laga terbaru. Seperti diketahui, laga Inter vs Torino diwarnai sejumlah keputusan kontroversial wasit, yang dianggap memihak kepada Inter. Salah satunya saat tidak memberikan hadiah penalti kepada Torino ketika Andrea Belotti dilanggar Andrea Ranocchia di kotak terlarang. Milan, yang merupakan rival Inter dalam perburuan Scudetto jelas marah. Apalagi Rossoneri justru kerap mengalami nasib sebaliknya dengan beberapa kali mendapatkan keputusan merugikan dari wasit.

ALASAN DI BALIK KUNJUNGAN SEEDORF DAN KLOSE KE MARKAS AC MILAN

Clarence Seedorf dan Miroslav Klose mengunjungi tempat latihan AC Milan, Milanello, kemarin 14 Maret 2022. Mantan bintang Serie A itu bertemu di tempat latihan Rossoneri. Kedatangan dua mantan pesepakbola itu dengan maksud yang berbeda-beda. Seedorf melakukan kunjungan pribadi ke markas bekas klubnya, sementara Klose mempelajari AC Milan sebagai bagian dari kursus kepelatihannya.

SULIT DAPATKAN HAALAND, BARCELONA INCAR MO SALAH

Dikutip Express, Barcelona dilaporkan siap mendatangkan Mohamed Salah. Penyerang Liverpool itu menjadi opsi kedua jika mereka gagal mendapatkan Haaland yang harganya terbilang mahal karena saat ini mereka juga sedang mengalami krisis finansial. Di sisi lain, winger asal Mesir tersebut kontraknya akan habis pada 2023 mendatang, tapi belum ada tanda-tanda perpanjangan kontrak dari Liverpool.

AUBAMEYANG HADIAH YANG JATUH DARI LANGIT UNTUK BARCELONA

Pelatih Barcelona, Xavi Hernandez semringah melihat performa Aubameyang yang terus menanjak. Keputusannya yang sempat dipertanyakan kini mulai membuahkan hasil dan mengangkat prestasi Barca secara perlahan. “Aubameyang adalah hadiah yang jatuh dari langit. Ini bukan mengenai gol saja, itu cara dia berlatih dan profesionalismenya. Dia adalah contoh [semua pemain],” kata Xavi dikutip ESPN.

STADION OLD TRAFFORD DIROBOHKAN, MU MENGUNGSI DI MARKAS MAN CITY?

Keluarga Glazer selaku pemilik Manchester United dikabarkan ingin membangun ulang stadion Old Trafford menjadi venue yang lebih modern. Markas baru MU ditargetkan memiliki kapasitas 90 ribu penonton menyaingi stadion terbesar di Inggris, Wembley Stadium. Proyek tersebut diperkirakan akan memakan waktu pembangunan dua hingga tiga tahun. Jika proyek ini berjalan, tentu MU harus mengungsi untuk melakoni laga kandang dan Stadion Etihad kabarnya bisa jadi opsi buat Setan Merah.

FANS BERAT SEKALIGUS TAIPAN ARAB SAUDI AMBIL ALIH CHELSEA

Konglomerat Arab yang tergabung dalam Saudi Media menjadi investor terdepan yang bakal mengakuisisi Chelsea dari tangan Roman Abramovich. Saudi Media adalah perusahaan asal Arab Saudi yang bergerak di media periklanan dan juga memiliki beberapa kantor di Kawasan Timur Tengah. Dilansir Sportbible, satu hal unik di balik Saudi Media adalah perusahaan ini dipimpin oleh Mohamed Alkhereiji, yang tak lain adalah fans Chelsea sendiri.

Catatan Magis 59 Hattrick Ronaldo Dalam Kariernya

Nama Cristiano Ronaldo sudah tidak asing lagi di telinga ketika mendengar jumlah gol yang ia lesakkan ke gawang lawan. Dia memang jagonya dalam hal itu. Akan tetapi, CR7 memiliki rekor lain dalam hal gol. Ya, Ronaldo baru saja melewati rekor sebagai pencetak hattrick terbanyak dengan 59 kali hattrick.

CR7 menorehkan rekor hattrick golnya itu ketika berjumpa Tottenham Hotspurs di Old Trafford. Hattrick dia mengantarkan MU meraih tiga poin ketika skor 3-2 menjadi hasil akhir pertandingan. Menarik untuk dilihat kiprah rekor hattrick CR7 selama kariernya di klub maupun timnas.

Hattrick Di Timnas Portugal

Ronaldo ketika di Timnas Portugal sudah mencetak 10 hattrick sampai sekarang. Oktober 2021 lalu ia mencetak hattrick melawan Luxemburg pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022 yang berakhir dengan kemenangan Portugal 5-0. Di mana dual gol Ronaldo berasal dari titik putih dan satu sundulan kepala.

Sementara, hattrick pertama yang dicetak Ronaldo di Timnas Portugal adalah pada partai tandang kualifikasi Piala Dunia 2014 melawan Irlandia Utara. Kemenangan 4-2 diperoleh Portugal salah satunya berkat hattrick CR7. Hattrick Ronaldo waktu itu membuat Portugal yang ketika masih tertinggal atas Irlandia Utara 2-1 bisa comeback.

Ronaldo sendiri bersama Timnas Portugal mampu mencetak hattrick pertamanya di hajatan Piala Dunia ketika pertandingan awal melawan Spanyol di fase grup Piala Dunia 2018 Rusia.

Gol hattrick Ronaldo hadir di menit awal babak pertama lewat titik putih dan gol keduanya di menit akhir babak pertama. Hattrick-nya ia tuntaskan dengan spektakuler melalui tendangan bebas khasnya di menit-menit akhir laga yang berhasil menyamakan kedudukan akhir menjadi imbang 3-3. Hattrick itu sekaligus mengantarkan Portugal lolos ke babak 16 besar.

Hattrick Di Real Madrid

Karena Ronaldo menghabiskan sebagian besar kariernya di Real Madrid dan menikmati tahun-tahun terbaiknya di sana, tidak mengherankan jika sebagian besar hattrick-nya datang untuk Los Blancos.

Dia mencetak 44 hattrick dalam sembilan musimnya di ibukota Spanyol. Setelah pindah ke Real Madrid dari MU, ia berhasil mencetak hattrick pertamanya untuk Los Blancos dalam lanjutan pertandingan La Liga musim 2009/10 pekan ke-36, Mei 2010 melawan Real Mallorca. Ini merupakan hattrick CR7 kedua dalam kariernya, setelah pertama diciptakan di MU.

Real Madrid tertinggal terlebih dahulu lewat gol Aritz Aduriz, namun Ronaldo menjawab gol itu dengan hattrick yang luar biasa, masing-masing pada menit ke-26, 56, dan 71. Hattrick tersebut lahir murni dari aksi individunya mengelabui beberapa bek lawan.

Cristiano Ronaldo pun mampu mencetak hattrick perdananya di Liga Champions waktu bersama Real Madrid saat menebas Ajax Amsterdam, di Amsterdam Arena, pada laga grup D Liga Champions musim 2012/13. Saat itu Real Madrid unggul 4-1 atas tuan rumah. Ronaldo mencetak hattrick-nya masing-masing pada menit ke-42, 79 dan 81.

Hattrick Di Juventus

Sementara itu ketika Ronaldo pindah dari Real Madrid ke Juventus pada musim panas 2018, ia tercatat mampu mencetak hattrick sebanyak 3 kali dalam tiga musimnya bersama si Nyonya Tua. Hattrick-nya adalah dua di laga Serie A dan satunya di Champions League.

Hattrick pertamanya untuk Juventus datang melawan Atletico Madrid. Kedua klub bertemu di babak 16 besar Liga Champions musim 2018/19, di mana CR7 mencetak hattrick di pertandingan leg kedua dan membawa Juventus ke perempat final. Gol Ronaldo salah satunya berasal dari titik putih dan dua gol lainnya berasal dari sundulan kepalanya. Hattrick itu sekaligus sebagai hattrick ketiganya selama melawan Atletico Madrid.

Anehnya, kedua hattrick Ronaldo setelah itu tercipta saat melawan klub yang sama di Serie A yakni Cagliari. Hattrick yang dicetak Cristiano Ronaldo ke gawang Cagliari yang pertama saat Juventus menang 4-0 di pekan ke-18 Serie A di Stadion Allianz, pada Januari 2020. Tiga dari empat gol itu dilesakkan Ronaldo di menit ke-49, 67, dan 82. Di mana satu golnya berasal dari titik putih.

Sementara, hattrick kedua Ronaldo yang dicetak ke gawang Cagliari terjadi pada lanjutan pekan ke-27 Serie A musim 2020/21 di kandang Cagliari yang berakhir dengan kemenangan Juve 3-1. Hattrick Ronaldo tercipta di babak pertama, masing-masing pada menit ke 10, 25, dan 33 di mana satu golnya berasal dari titik putih.

Hattrick Di MU

Sejak kepindahannya dari Sporting Lisbon ke MU, Ronaldo baru menciptakan hattrick dua kali selama kariernya berseragam setan merah. Termasuk setelah kepulangannya kembali di musim 2021/22.
.
Hattrick pertama Cristiano Ronaldo terjadi dalam kemenangan 6-0 melawan Newcastle di laga lanjutan Premier League musim 2007/08. CR7 mencetak gol pembuka hattrick-nya pada menit ke-48 pertandingan lewat tendangan bebasnya, sementara Gol kedua Ronaldo tercipta di menit ke-69. Ronaldo menyelesaikan hattrick pertamanya dalam sejarah karirnya itu di menit 87. Tak hanya hattrick pertama bagi Ronaldo, itu juga menjadi hattrick pertamanya untuk Red Devils.

Hattrick kedua di MU diciptakan Ronaldo ketika ia kembali ke Old Trafford dari Juventus pada musim 2021/2022. Hattrick dibuatnya ketika melawan Spurs dalam lanjutan Premier League. Lewat golnya di menit 12 dengan sepakan kencang dari luar kotak penalti. Kemudian gol kedua di menit 38 melalui tap in ball-nya dari assist Jadon Sancho. Dan yang terakhir di menit 81 lewat sundulannya lewat umpan dari sepak pojok.

Korban Hattrick Kesukaan CR7

Ronaldo ternyata telah mencetak hattrick melawan sejumlah tim lebih dari sekali. Ternyata juga ada beberapa klub yang menjadi langganan hattrick-nya. Ketika di La Liga bersama Real Madrid, ia gemar mencetaknya di gawang Sevilla. Tercatat ia membobol gawang Sevilla dengan hattrick-nya sebanyak lima kali selama ia berseragam El Real. Dan semua itu terjadi di partai La Liga.

Kemudian yang terbanyak kedua gawangnya dibobol oleh hattrick Ronaldo ialah Atletico Madrid. Tercatat Atletico Madrid telah menjadi korban hattrick Ronaldo selama empat kali.

Tiga di antaranya terjadi ketika bersama Real Madrid di La Liga, dan satu terjadi ketika ia berseragam Juventus. Ketika Juventus bertemu Atletico Madrid di babak 16 besar Champions League musim 2018/2019.

Sementara itu klub-klub di La Liga macam Getafe, Espanyol, Celta Vigo, berada di tempat berikutnya dalam daftar lawan favorit Ronaldo untuk mencetak hattrick. Dengan masing-masing menjadi korban hattrick Ronaldo sebanyak tiga kali.

Itulah beberapa fakta menarik Ronaldo ketika ia menciptakan rekor hattrick-nya. Rekor hattrick itu juga melewati pemain-pemain lainya di dunia termasuk Messi. Akan tetapi Ronaldo belum bisa melampaui rekor hattrick legenda hidup Brasil, Pele. Ia masih jauh melangkahi rekor hattrick Pele yang mencapai 92 kali selama kariernya sebagai pesepakbola.

https://youtu.be/KJD2K1lRUpw

Sumber Referensi : fourfourtwo, sportmob, indianexpress

5 Duo Lini Tengah Terbaik Dalam Sejarah Liga Inggris

0

Dalam beberapa tahun terakhir, Liga Inggris memiliki banyak gelandang kelas dunia. Di era sekarang ada sosok macam  N’golo Kante, gelandang penjelajah milik klub Chelsea. Namun, untuk menampilkan performa yang apik, Kante butuh partner guna menyeimbangkan ritme permainan.

Di situlah hadir Jorginho sebagai lawan main yang solid bagi Kante di lini tengah The Blues. Dengan Jorginho yang cenderung tampil bertahan serta ketenangannya di lini tengah, ia bisa mengimbangi Kante yang tampil lebih eksplosif dan kerap mengeksploitasi area pertahanan lawan.

Itu di Chelsea, klub-klub Liga Inggris lainnya juga memiliki duo lini tengah yang tak kalah solid. Berikut lima duo gelandang terbaik dalam sejarah Liga Inggris.

Roy Keane & Paul Scholes (Manchester United)

Roy Keane dan Paul Scholes adalah salah satu duet gelandang terbaik dalam sejarah Manchester United. Kombinasi solid mereka tersaji pada era 90-an hingga awal 2000-an. Kerja sama Keane dan Scholes membuat lini tengah Man United sangat menakutkan pada masanya. Saat itu, duo Roy Keane-Paul Scholes tak pernah tergantikan.

Roy Keane mengambil bagian sebagai perusak ritme permainan lawan, sedangkan Scholes dengan skill, kreativitas dan akurasi tendangan jarak jauhnya membuat duo ini saling mengisi satu sama lain.   Kombinasi keduanya berhasil meraih belasan trofi bergengsi yang akan sangat panjang apabila disebutkan satu persatu.

Salah satu prestasi terbaik Keane dan Scholes adalah meraih trofi Liga Champions 1998/99. Keane dan Scholes tidak bermain di partai puncak dramatis kontra Bayern Munich, tapi peran mereka berdua sangat krusial untuk mengantarkan United sampai di partai final.

Patrick Vieira & Gilberto Silva (Arsenal)

Pasangan lini tengah Gilberto Silva dan Patrick Vieira milik Arsenal terbilang cukup singkat. Mereka bermain bersama hanya dalam rentang waktu 2002 hingga 2005. 

Namun, meski dalam waktu yang singkat, kombinasi kedua pemain ini menjadi ikon lini tengah Liga Inggris dan mungkin juga dalam sejarah sepak bola, karena mereka merupakan perpaduan dua pemain tengah yang cukup serasi. 

Sebelum bersama Gilberto, di Arsenal Patrick Vieira sempat memiliki koneksi yang cukup bagus dengan Emmanuel Petit pada era 90an akhir. Mereka berhasil meraih empat trofi selama kemitraan mereka terjalin. Namun, kombinasi Gilberto-Vieira di awal 2000-an dirasa lebih sangar daripada duo Vieira-Petit. 

Kala itu para bek Arsenal sangat nyaman bermain dibelakang duo gelandang Gilberto-Vieira. Hal itu dibuktikan dengan catatan 49 pertandingan tak terkalahkan milik Arsenal.

Apalagi, prestasi Patrick Vieira dan Gilberto Silva di musim 2003/04 jadi alasan kuat duet ini pantas masuk dalam daftar. Bagaimana tidak? Kerja sama dua pemain itu membantu Arsenal menjadi juara Liga Inggris 2003/04 dengan rekor tidak terkalahkan. 

Selain itu, Gilberto Silva dan Patrick Vieira juga mempersembahkan dua trofi  Piala FA dan dua Community Shield untuk Arsenal.

Steven Gerrard & Xabi Alonso (Liverpool)

Steven Gerrard merupakan salah satu gelandang terbaik dalam sejarah Liga Inggris dan bahkan mungkin salah satu yang terbaik di dunia. Bersama Liverpool, ia pernah dipasangkan dengan Xabi Alonso pada rentang waktu 2004 hingga 2009.

Meskipun kombinasi ini tidak pernah menghasilkan satu pun gelar Liga Inggris. Namun, dengan Alonso yang tampil lebih bertahan dipadukan dengan Gerrard yang lebih condong ikut membantu serangan, cara bermain mereka sangat menghibur untuk ditonton. Kedua pemain tersebut merupakan kombinasi yang cukup serasi. 

Kala itu, Liverpool jadi salah satu tim dengan kombinasi gelandang paling solid di Liga Inggris. Bahkan dalam lima tahun, Alonso dan Gerrard telah membangun reputasi lini tengah The Reds menjadi salah satu lini tengah paling mengerikan di sepak bola Eropa.

Kekuatan utama dari Alonso dan Gerrard adalah akurasi umpan-umpan jarak jauh mereka. Duet Alonso dan Gerrard membantu Liverpool meraih empat trofi yang salah satunya adalah Liga Champions 2004/05.

Kombinasi Alonso dan Gerrard berhasil mengantarkan Liverpool menjuarai Liga Champions 2004/05 secara dramatis dengan mengalahkan AC Milan dalam babak adu penalti. Meski sempat tertinggal 0-3 lebih dulu.

Kini tongkat estafet, duo lini tengah Liverpool berlanjut di diri Fabinho dan Jordan Henderson. Mereka juga cukup sukses dalam meraih trofi dalam beberapa tahun terakhir bersama Jurgen Klopp. 

Frank Lampard & Michael Essien (Chelsea)

Jauh sebelum era kombinasi Jorginho dengan Kante, Chelsea sempat memiliki duet gelandang tangguh di lini tengah mereka saat Michael Essien dan Frank Lampard bermain bersama. Duet mereka begitu luar biasa saat Essien berada di puncak performanya pada era 2005 hingga 2012.

Essien menjalani peran sebagai gelandang box to box dan juga penghancur serangan, sedangkan Frank Lampard bertugas untuk mendobrak pertahanan lawan dengan naluri menyerang yang luar biasa untuk ukuran pemain tengah. Kombinasi Essien dan Lampard membantu Chelsea meraih banyak trofi di awal era Jose Mourinho.

Setelah era Mourinho berakhir pun kombinasi ini masih kokoh di lini tengah The Blues. Salah satu trofi paling bersejarah yang berhasil diraih oleh kombinasi Lampard dan Essien adalah Liga Champions musim 2011/12. Fyi saja, itu merupakan trofi Liga Champions pertama dalam sejarah Chelsea.

Kevin De Bruyne & Fernandinho (Manchester City)

Dalam sedekade terakhir, Manchester City telah berevolusi sebagai klub elit yang mendominasi Liga Inggris. Dalam periode evolusi tersebut city selalu memiliki kombinasi lini tengah yang sangat menakjubkan.

City sempat memiliki sejumlah gelandang-gelandang hebat dalam diri Yaya Toure atau David Silva, tapi apabila mencari siapa yang paling efisien dan produktif di lapangan maka kombinasi Kevin De Bruyne dan Fernandinho adalah kombinasi yang paling tepat.

De Bruyne dan Fernandinho berhasil memperlihatkan perpaduan seni menyerang dan bertahan yang sempurna. Kombinasi dua pemain ini dan ditambah dengan taktik jitu milik Pep Guardiola, City menjelma sebagai klub yang cukup ditakuti di sepak bola Inggris.

Keduanya pun sukses meraih tiga gelar Liga Inggris termasuk di musim 2017/18 di mana The Citizens mampu membukukan 100 poin dalam satu musim. Mereka juga sudah menghasilkan lima Piala Liga, dua Community Shield dan satu Piala FA.

Dengan menjadi duo yang masih aktif hingga sekarang, bukan tidak mungkin bahwa kombinasi ini akan menghasilkan lebih banyak trofi lagi. Terlebih sekarang City sedang berada di puncak kelasemen Liga Inggris guna memperebutkan trofi liga kedelapan dalam sejarah klub.

https://youtu.be/tnjXxaMfexI

Sumber: Sportmob, 90min, Transfermarkt

Percayalah ! Arsenal Bakal Masuk UCL Lagi

Memulai musim ini dengan tiga kali kalah di laga pembuka Liga Inggris, Arsenal pelan namun pasti mulai bangkit. Apalagi The Gunners sejak kekalahan-kekalahan itu, mulai berbenah.

Meriam London kini bangkit dan sedang bersaing di jalur empat besar Liga Inggris. Jalur yang bisa mengantarkannya kembali ke zona Liga Champions Eropa. Ajang yang sudah cukup lama mereka mimpikan dan rindukan. Mimpi dan kerinduan itu bukan tanpa sebab, beberapa indikator mulai terlihat bagaimana mereka akan merealisasikan mimpi itu.

Dorongan Semangat 2016

Arsenal bagaimanapun akan mengobarkan kembali semangat saat mereka tampil di Liga Champions untuk terakhir kalinya. Tepatnya pada musim 2015/16.

Ketika itu Arsenal masih ditangani oleh Arsene Wenger. Mereka terakhir kali finis di posisi empat besar pada 2015/16, tepatnya menjadi runner up. Kemudian pada musim 2016/2017, Arsenal hanya mampu finis di urutan ke-5 klasemen.

Di musim 2017/18 mereka bahkan turun dan finis di posisi 6 klasemen. Di musim 2018/19 mereka kembali gagal menembus Liga Champions karena hanya duduk di tabel 5 klasemen. Bahkan yang lebih parahnya pada musim 2019/2020 dan 2020/2021, Arsenal terlempar jauh dari empat besar Liga inggris dan hanya bisa finis di peringkat 8 klasemen.

Semenjak gonta-ganti pelatih, Arsenal belum bisa menunjukkan lagi performa yang mengesankan untuk bisa bersaing kembali merebut posisi empat besar yang telah lama hilang. Terhitung sejak musim 2016/17 hingga sekarang mereka belum pernah lagi lolos ke Liga Champions.

Percaya Diri Terhadap Transfer dan Skuad Yang Banyak Diremehkan

Musim ini, Arsenal tampaknya percaya diri terhadap transfer yang dilakukan meski banyak yang meremehkan. Dalam hal ini, Arteta ingin menunjukan bahwa pembeliannya tepat dan skuad yang diramunya memang benar-benar bisa kompak dan tampil baik.

Memasuki musim 2021/2022, Arsenal mulai sadar akan pentingnya kebijakan transfer yang tepat untuk meningkatkan performa tim yang sudah ada.

Arsenal tidak main-main dalam menghabiskan uang belanjanya. Arsenal dibilang cukup jor-joran musim ini. Mereka telah menghabiskan sekitar 150 juta pounds atau sekitar Rp 2,8 triliun untuk membeli pemain.

Akan tetapi, pemain-pemain yang dibeli cenderung diremehkan publik lantaran kurang populer dan berharga mahal. Ambil contoh Ben White yang dihargai hampir 50 juta pounds (Rp932 miliar) yang dibeli dari Brighton And Hove Albion.

Beberapa pemain yang datang seperti kiper Aaron Ramsdale, Tomiyasu, Nuno Tavares, Sambi Lokonga, bahkan Odegaard, semuanya cenderung masih berusia muda dan minim pengalaman.

Mikel Arteta juga terlihat tenang-tenang saja melihat aktivitas transfer Arsenal di bulan Januari 2022. Padahal, The Gunners amat kekurangan pemain, khususnya di sektor depan.

Kapten sekaligus bomber utama Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang, dilego secara cuma-cuma ke Barcelona. Minimnya penyerang membuat pilihan Arteta sangatlah tipis. Praktis, mereka cuma memiliki Alexandre Lacazette dan Eddie Nketiah yang berposisi sebagai penyerang murni.

Akan tetapi, dari segala kebijakan, Arteta dan Arsenal tentu memiliki misi tersendiri. Arteta cenderung melakukan proses “cuci gudang” di skuad Arsenal yang dianggapnya kurang mampu menyukseskan visinya. Seperti meminjamkan beberapa pemain macam Torreira, Guendouzi, Pablo Mari, Bellerin, atau melepas pemain seperti Willock, David Luiz maupun Willian.

Visi Arteta dalam membangun tim pilihannya ini ternyata berbuah hasil. Arsenal, dengan para pemain yang dipercaya Arteta perlahan mulai menunjukan performanya yang meningkat.

Lini Serang dan Pertahanan Arteta Membaik

Terbukti performa meningkat diperlihatkan Arsenal. Mereka cenderung meningkat dalam segala lini, terutama dari segi pertahanan dan penyerangan. Kendati sebetulnya keputusan Arteta tak mendatangkan penyerang justru berbuah rasa was-was.

Performa Lacazette dan Nketiah kurang memuaskan. Lacazette sejauh ini masih mengoleksi empat gol. Sedangkan Nketiah bahkan belum sama sekali membuat gol di Premier League. Meski begitu, tanpa penyerang tajam, Arsenal tak benar-benar terpuruk.

Arsenal bisa survive dan terus menerus mendulang gol dengan cara main mereka yang mengandalkan peran lini kedua. Secara permainan, Arteta tak membebankan penyerang utama untuk mengoleksi banyak gol.

Lacazette yang piawai melindungi bola dan membuka ruang betul-betul dimaksimalkan oleh Arteta. Cara kerja Lacazette di bawah Arteta adalah dengan menahan bola, lalu melepaskan umpan kepada gelandang yang masuk dari lini kedua.

Saka, Martin Odegaard, Emile Smith Rowe, Gabriel Martinelli, dan Nicolas Pepe adalah peluru-peluru lini kedua Arsenal yang mendapatkan manfaat dari umpan dan pergerakan tanpa bola Lacazette.

Pemain-pemain tersebut memang tidak berada di dalam kotak penalti. Namun, lewat kombinasi dan penetrasi yang kerap dilakukan, mereka sering bisa membuat gol.

Top skor sementara mereka bahkan hingga kini masih dipegang pemain muda lini kedua mereka yakni Emile Smith Rowe dengan 9 gol. Kombinasi sistem penyerangan Arsenal milik Arteta tersebut terbukti ampuh dalam memenangkan pertandingan demi pertandingan.

Selain lini serang, lini belakang juga makin solid. Komposisi Gabriel, Ben White di tengah dan juga Tomiyasu atau Cedric dan Tierney di kanan dan kiri pertahanan mampu membendung serangan lawan dengan efektif. Ditambah kokohnya penjaga gawang baru mereka Aaron Ramsdale.

Arsenal tercatat dengan pertahanannya mampu setidaknya 12 kali menciptakan clean sheet di Liga Inggris. Clean sheet terakhir mereka ciptakan saat menjamu Leicester di Emirates dengan skor 2-0. Hal ini menunjukan pertahanan mereka selama ini menjadi salah satu kunci.

Terlebih mereka juga sering produktif dalam menciptakan gol maupun assist lewat bek-beknya seperti Gabriel maupun Tierney. Selain beknya, lini pertahanan Arsenal kerap dijaga oleh dua pivot mereka Xhaka dan Thomas Partey. Keduanya sangat krusial dalam menjaga keseimbangan pertahanan Arsenal.

Secara permainan dengan gaya menyerang dan bertahan yang semakin baik, Arsenal semakin berani menatap mimpi kembali finis di empat besar, terlebih jadwal mereka yang menguntungkan dan masih menyimpan laga tunda dari para pesaingnya.

Jadwal Menguntungkan

Alasan terakhir adalah jadwal yang menguntungkan dari para pesaingnya. Arsenal masih menyimpan 10 laga sisa di Liga Inggris terhitung sejak partai terakhir melawan Leicester.

Secara jadwal dari laga sisa Arsenal musim 2021/22 ini cenderung akan melawan tim-tim medioker macam Leeds, Newcastle, maupun Crystal Palace. Praktis hanya partai melawan Liverpool dan MU yang berat. Terlebih, Arsenal akhir-akhir ini cenderung mulus ketika melawan tim-tim medioker, mereka hanya kesusahan ketika ketemu tim big six.

Keuntungan lainnya Arsenal hanya fokus di Liga Inggris. Tidak seperti pesaing ketatnya di empat besar MU yang masih harus menuntaskan partai Liga Champions. Sedangkan West Ham juga masih bertahan di Europa League.

Kini kesempatan terbuka lebar, mimpi mereka 7 tahun yang lalu untuk mendengar kembali anthem khas Liga Champions mungkin akan terealisasi dengan berbagai alasan yang ada.

https://youtu.be/sOC9qb1cyzc

Sumber Referensi : telegraph, theathletic, dailymail