Mengingat Yaya Toure, Monster Lini Tengah Milik Manchester City

spot_img

Di Pantai Gading, tanah kelahirannya, Yaya Toure mendapat julukan “L’Ordinateur” atau yang bermakna “komputer”. Panggilan itu disematkan kepada Yaya karena ia adalah seorang ahli dalam permainan sepak bola dan memiliki visi misi bermain yang sangat brilian.

Bahkan, Roberto Mancini mantan manajernya di Manchester City, diketahui sering memanggil Yaya Toure sebagai “coach” karena ia selalu menganalisis cuplikan video pertandingan dan menuliskan hasil pengamatannya di buku catatan.

Karier Yaya Toure bersama The Citizen terbilang cukup sukses. Meski tak sempat meraih trofi Liga Champions, penampilan yang ciamik dapat mengantarkan Yaya meraih beberapa gelar prestisius bersama tim maupun sebagai individu dalam periodenya selama berseragam Manchester City. 

Oleh karena itu, mari kita sedikit bernostalgia tentang perjalanan karier serta kejayaan Yaya Toure bersama Manchester City.

Didatangkan Dari Barcelona

Manchester City mendatangkan Yaya Toure dari Barcelona pada musim 2010/11. Kala itu, Yaya Toure baru saja menyelesaikan musim yang luar biasa bersama klub Catalan. Yaya Toure menjadi bagian penting dari skuad Barcelona dalam meraih treble bersejarah dengan rincian trofi Liga Champions, La Liga, dan Copa Del Rey.

Bahkan Toure juga menambahkan tiga trofi lain yaitu Supercopa de España, Piala Super UEFA dan yang terakhir Piala Dunia Antarklub. Pencapaian bersejarah itu menjadikan Barcelona sebagai klub pertama yang meraih enam trofi dalam satu kalender musim.

Namun, musim itu menjadi musim terakhir bagi Yaya, lantaran selisih paham antara ia dengan Pep Guardiola yang kala itu juga masih melatih Barcelona tak bisa dihindari. 

Masalah jadi tambah ruwet ketika Pep lebih memilih Sergio Busquets. Padahal Busquets saat itu baru promosi dari La Masia dan tak punya jam terbang seperti Yaya Toure. Akhirnya tawaran dari klub kaya baru, Manchester City pun datang. 

City tergoda dengan penampilan ciamik yang ditunjukan Yaya Toure saat masih berseragam Barca. Dengan visi misi bermain yang sangat luar biasa dirasa cukup untuk mengisi lini tengah skuad asuhan Roberto Mancini. 

Lantas, Pep Guardiola pun tak melewatkan kesempatan itu untuk menyingkirkan Yaya Toure dari skuad Barcelona.

Awal Mega Proyek

Manchester City yang kala itu hadir dengan sang pemilik baru, seorang miliarder asal Uni Emirat Arab, Sheikh Mansour ingin membawa perubahan untuk klub asal Manchester itu. Melalui Abu Dhabi United Group, Sheikh Mansour membeli Manchester City pada tahun 2008.

Dengan dana segar dari Sheikh Mansour itu, nasib The Citizens pun berubah. Klub mulai berinvestasi besar-besaran untuk membeli pemain-pemain bintang, dan mendatangkan Yaya Toure merupakan satu langkah awal evolusi Manchester City.

Yaya Toure bisa dibilang sebagai contoh pertama dari talenta kelas dunia yang berani memilih City sebagai tujuan karier mereka. Di tengah keraguan terhadap klub, Yaya akan membuktikan bahwa ia akan merangkai kisah sukses bersama City. 

Ditahun yang sama Manchester City juga mendatangkan nama-nama seperti Edin Dzeko, Mario Balotelli, James Milner hingga David Silva yang juga berasal dari klub Liga Spanyol, Valencia. Yaya Toure dan nama-nama tersebut yang mengawali kesuksesan Manchester City hingga kini dikenal sebagai salah satu klub elit Liga Inggris.

Hebatnya, di musim pertama bersama City, Yaya Toure sudah menjadi pahlawan dengan gol semata wayangnya kala berhasil mengalahkan Stoke City di final Piala FA tahun 2011. Ia mempersembahkan trofi pertama di era Manchester City yang baru.

Trofi Yaya Toure Bersama Man City

Meski sempat menjadi pemain terbuang di Barcelona, tak membuat mental Yaya Toure hancur. Hebatnya bersama Manchester City, Yaya Toure malah menjelma sebagai salah satu gelandang box to box terbaik yang pernah bermain di Liga Inggris.

Setelah trofi Piala FA pertama berhasil ia raih, dimusim berikutnya trofi-trofi lain pun semakin deras berdatangan. Musim berikutnya, Yaya Toure berhasil menghadirkan gelar paling dinanti oleh para penggemar, yaitu trofi Liga Inggris musim 2011/12.

Musim 2011/12 jadi musim paling dramatis bagi Manchester CIty. Bagaimana tidak? Pasti kalian tak pernah lupa dengan gol ikonik milik Aguero yang merubah segalanya di menit-menit akhir yang sekaligus memupuskan harapan Manchester United untuk meraih trofi Liga Inggris. 

Praktis, setelah musim bersejarah itu, Yaya Toure telah meraih dua gelar Liga Inggris lainya di musim 2013/14 dan 2017/18. Ia juga meraih tiga Piala Liga pada tahun 2014, 2016 dan tahun 2018. 

Musim Terbaik Yaya Toure

Musim terbaik Yaya Toure datang pada musim 2013/2014, Yang kala itu sudah dilatih Manuel Pellegrini. Saat itu Pellegrini menemukan ramuan sempurna di skuad City dengan mendatangkan Fernandinho sebagai tandem Yaya Toure di lini tengah.

Fernandinho yang bermain lebih bertahan memberikan ruang lebih bagi Yaya Toure untuk mengeksploitasi area pertahanan lawan. Bak monster, performa apik Yaya Toure di lini tengah pun tak terbendung. 

Dia menjadi gelandang Liga Inggris kedua setelah Frank Lampard yang berhasil mencetak lebih dari 20 gol di liga dalam satu musim. Yaya Toure bahkan menyelesaikan musim 2013/14 dengan 24 gol di semua kompetisi.

Dari mulai umpan-umpan terukur, tendangan bebas fantastis, penyelesaian melengkung dari jarak jauh, bahkan melakukan pergerakan dari second line untuk menyambut umpan matang di kotak penalti lawan. Semua dapat dilakukan dengan baik oleh Yaya Toure. Dia merupakan paket lengkap untuk seorang pemain tengah.

Performa apiknya pada musim ini, jadi modal kuat bagi Yaya Toure untuk meraih penghargaan sebagai pemain Afrika terbaik untuk keempat kali secara beruntun dalam sejarah kariernya. 

Mengapa Yaya Toure Tinggalkan City

Yaya Toure tetap menjadi andalan di lini tengah Manchester City hingga akhirnya City mengontrak Pep Guardiola sebagai suksesor Pellegrini pada tahun 2016. Ketidakcocokan Yaya dengan Pep dirasa jadi salah satu alasan ia hengkang dari City.

Bahkan di awal kedatangannya ke City, Pep sudah meminta Yaya Toure untuk pindah dari klub. Namun, sang pemain kemudian memberikan perlawanan dan menolak permintaan Pep.

Sang manajer pun kemudian mengasingkan Yaya Toure. Ia juga sempat tak memasukan nama sang gelandang di skuad Liga Champions musim 2016/17. 

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun akhirnya pada laga terakhir Manchester City musim 2017/18 melawan Brighton. Laga itu didedikasikan untuk Yaya sebagai ucapan selamat tinggal dan terima kasih atas delapan tahun pengabdiannya di klub.

Sumber: The Football Faithfull, Transfermarkt, Official Yaya Toure

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru