Percayalah ! Arsenal Bakal Masuk UCL Lagi

spot_img

Memulai musim ini dengan tiga kali kalah di laga pembuka Liga Inggris, Arsenal pelan namun pasti mulai bangkit. Apalagi The Gunners sejak kekalahan-kekalahan itu, mulai berbenah.

Meriam London kini bangkit dan sedang bersaing di jalur empat besar Liga Inggris. Jalur yang bisa mengantarkannya kembali ke zona Liga Champions Eropa. Ajang yang sudah cukup lama mereka mimpikan dan rindukan. Mimpi dan kerinduan itu bukan tanpa sebab, beberapa indikator mulai terlihat bagaimana mereka akan merealisasikan mimpi itu.

Dorongan Semangat 2016

Arsenal bagaimanapun akan mengobarkan kembali semangat saat mereka tampil di Liga Champions untuk terakhir kalinya. Tepatnya pada musim 2015/16.

Ketika itu Arsenal masih ditangani oleh Arsene Wenger. Mereka terakhir kali finis di posisi empat besar pada 2015/16, tepatnya menjadi runner up. Kemudian pada musim 2016/2017, Arsenal hanya mampu finis di urutan ke-5 klasemen.

Di musim 2017/18 mereka bahkan turun dan finis di posisi 6 klasemen. Di musim 2018/19 mereka kembali gagal menembus Liga Champions karena hanya duduk di tabel 5 klasemen. Bahkan yang lebih parahnya pada musim 2019/2020 dan 2020/2021, Arsenal terlempar jauh dari empat besar Liga inggris dan hanya bisa finis di peringkat 8 klasemen.

Semenjak gonta-ganti pelatih, Arsenal belum bisa menunjukkan lagi performa yang mengesankan untuk bisa bersaing kembali merebut posisi empat besar yang telah lama hilang. Terhitung sejak musim 2016/17 hingga sekarang mereka belum pernah lagi lolos ke Liga Champions.

Percaya Diri Terhadap Transfer dan Skuad Yang Banyak Diremehkan

Musim ini, Arsenal tampaknya percaya diri terhadap transfer yang dilakukan meski banyak yang meremehkan. Dalam hal ini, Arteta ingin menunjukan bahwa pembeliannya tepat dan skuad yang diramunya memang benar-benar bisa kompak dan tampil baik.

Memasuki musim 2021/2022, Arsenal mulai sadar akan pentingnya kebijakan transfer yang tepat untuk meningkatkan performa tim yang sudah ada.

Arsenal tidak main-main dalam menghabiskan uang belanjanya. Arsenal dibilang cukup jor-joran musim ini. Mereka telah menghabiskan sekitar 150 juta pounds atau sekitar Rp 2,8 triliun untuk membeli pemain.

Akan tetapi, pemain-pemain yang dibeli cenderung diremehkan publik lantaran kurang populer dan berharga mahal. Ambil contoh Ben White yang dihargai hampir 50 juta pounds (Rp932 miliar) yang dibeli dari Brighton And Hove Albion.

Beberapa pemain yang datang seperti kiper Aaron Ramsdale, Tomiyasu, Nuno Tavares, Sambi Lokonga, bahkan Odegaard, semuanya cenderung masih berusia muda dan minim pengalaman.

Mikel Arteta juga terlihat tenang-tenang saja melihat aktivitas transfer Arsenal di bulan Januari 2022. Padahal, The Gunners amat kekurangan pemain, khususnya di sektor depan.

Kapten sekaligus bomber utama Arsenal, Pierre-Emerick Aubameyang, dilego secara cuma-cuma ke Barcelona. Minimnya penyerang membuat pilihan Arteta sangatlah tipis. Praktis, mereka cuma memiliki Alexandre Lacazette dan Eddie Nketiah yang berposisi sebagai penyerang murni.

Akan tetapi, dari segala kebijakan, Arteta dan Arsenal tentu memiliki misi tersendiri. Arteta cenderung melakukan proses “cuci gudang” di skuad Arsenal yang dianggapnya kurang mampu menyukseskan visinya. Seperti meminjamkan beberapa pemain macam Torreira, Guendouzi, Pablo Mari, Bellerin, atau melepas pemain seperti Willock, David Luiz maupun Willian.

Visi Arteta dalam membangun tim pilihannya ini ternyata berbuah hasil. Arsenal, dengan para pemain yang dipercaya Arteta perlahan mulai menunjukan performanya yang meningkat.

Lini Serang dan Pertahanan Arteta Membaik

Terbukti performa meningkat diperlihatkan Arsenal. Mereka cenderung meningkat dalam segala lini, terutama dari segi pertahanan dan penyerangan. Kendati sebetulnya keputusan Arteta tak mendatangkan penyerang justru berbuah rasa was-was.

Performa Lacazette dan Nketiah kurang memuaskan. Lacazette sejauh ini masih mengoleksi empat gol. Sedangkan Nketiah bahkan belum sama sekali membuat gol di Premier League. Meski begitu, tanpa penyerang tajam, Arsenal tak benar-benar terpuruk.

Arsenal bisa survive dan terus menerus mendulang gol dengan cara main mereka yang mengandalkan peran lini kedua. Secara permainan, Arteta tak membebankan penyerang utama untuk mengoleksi banyak gol.

Lacazette yang piawai melindungi bola dan membuka ruang betul-betul dimaksimalkan oleh Arteta. Cara kerja Lacazette di bawah Arteta adalah dengan menahan bola, lalu melepaskan umpan kepada gelandang yang masuk dari lini kedua.

Saka, Martin Odegaard, Emile Smith Rowe, Gabriel Martinelli, dan Nicolas Pepe adalah peluru-peluru lini kedua Arsenal yang mendapatkan manfaat dari umpan dan pergerakan tanpa bola Lacazette.

Pemain-pemain tersebut memang tidak berada di dalam kotak penalti. Namun, lewat kombinasi dan penetrasi yang kerap dilakukan, mereka sering bisa membuat gol.

Top skor sementara mereka bahkan hingga kini masih dipegang pemain muda lini kedua mereka yakni Emile Smith Rowe dengan 9 gol. Kombinasi sistem penyerangan Arsenal milik Arteta tersebut terbukti ampuh dalam memenangkan pertandingan demi pertandingan.

Selain lini serang, lini belakang juga makin solid. Komposisi Gabriel, Ben White di tengah dan juga Tomiyasu atau Cedric dan Tierney di kanan dan kiri pertahanan mampu membendung serangan lawan dengan efektif. Ditambah kokohnya penjaga gawang baru mereka Aaron Ramsdale.

Arsenal tercatat dengan pertahanannya mampu setidaknya 12 kali menciptakan clean sheet di Liga Inggris. Clean sheet terakhir mereka ciptakan saat menjamu Leicester di Emirates dengan skor 2-0. Hal ini menunjukan pertahanan mereka selama ini menjadi salah satu kunci.

Terlebih mereka juga sering produktif dalam menciptakan gol maupun assist lewat bek-beknya seperti Gabriel maupun Tierney. Selain beknya, lini pertahanan Arsenal kerap dijaga oleh dua pivot mereka Xhaka dan Thomas Partey. Keduanya sangat krusial dalam menjaga keseimbangan pertahanan Arsenal.

Secara permainan dengan gaya menyerang dan bertahan yang semakin baik, Arsenal semakin berani menatap mimpi kembali finis di empat besar, terlebih jadwal mereka yang menguntungkan dan masih menyimpan laga tunda dari para pesaingnya.

Jadwal Menguntungkan

Alasan terakhir adalah jadwal yang menguntungkan dari para pesaingnya. Arsenal masih menyimpan 10 laga sisa di Liga Inggris terhitung sejak partai terakhir melawan Leicester.

Secara jadwal dari laga sisa Arsenal musim 2021/22 ini cenderung akan melawan tim-tim medioker macam Leeds, Newcastle, maupun Crystal Palace. Praktis hanya partai melawan Liverpool dan MU yang berat. Terlebih, Arsenal akhir-akhir ini cenderung mulus ketika melawan tim-tim medioker, mereka hanya kesusahan ketika ketemu tim big six.

Keuntungan lainnya Arsenal hanya fokus di Liga Inggris. Tidak seperti pesaing ketatnya di empat besar MU yang masih harus menuntaskan partai Liga Champions. Sedangkan West Ham juga masih bertahan di Europa League.

Kini kesempatan terbuka lebar, mimpi mereka 7 tahun yang lalu untuk mendengar kembali anthem khas Liga Champions mungkin akan terealisasi dengan berbagai alasan yang ada.

https://youtu.be/sOC9qb1cyzc

Sumber Referensi : telegraph, theathletic, dailymail

 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru