Beranda blog Halaman 555

Mantan Pemain Bundesliga Yang Kesusahan Bersaing di Liga Inggris

Resmi sudah Haaland melancong ke Inggris dan bergabung dengan Manchester City. Tapi, mungkinkah Haaland menjadi bintang eks Bundesliga yang sukses bermain di Liga Inggris?

Terlepas bagaimana nanti jadinya, dalam prosesnya, banyak eks bintang Bundesliga yang bermain di Liga Premier. Sebut saja Son Heung-min, Kevin de Bruyne, atau Ilkay Gundogan. Nama-nama tersebut telah membuktikan kehebatan di kompetisi elite Inggris dengan performa yang pantas dibanggakan.

Namun, tidak semua pemain Bundesliga mendapatkan peruntungan yang bagus di Liga Premier. Ada beberapa pesepakbola bagus di tanah Jerman yang harus berjuang sekuat tenaga bertahan di sepakbola Inggris bahkan sampai tersingkir. Berikut deretan para pemain eks Bundesliga yang menemui kesulitan bersaing di Liga Inggris

Sebastien Haller

Haller bisa menjadi striker yang benar-benar mematikan ketika saat ini. Itu karena dia mencetak 46 gol dalam 62 penampilan sejak pindah ke Ajax pada Januari 2021 dan memiliki 11 gol dalam debutnya di Liga Champions. Itu jauh lebih baik dari saat dirinya di Eintracht Frankfurt. Saat itu, dia mencetak 15 gol di Bundesliga musim 2018/19. Ia menghasilkan rekor transfer klub 45 juta pounds (Rp 821 miliar) ketika pindah dari Frankfurt ke West Ham.

Meski The Hammers memiliki performa yang meningkat di bawah David Moyes, Haller musim itu terbukti loyo. Ia hanya sanggup bertahan selama 18 bulan di London dan hanya mengemas 14 gol, kemudian Haller dijual dengan kerugian besar ketika dia pindah ke Ajax.

Timo Werner

Reputasi Werner sebagai salah satu pencetak gol paling mematikan di sepakbola Jerman sangat beralasan. Penyerang ini rata-rata mencetak 19 gol Bundesliga dalam empat tahun bersama Leipzig, termasuk 28 gol yang luar biasa dalam 34 penampilan di tahun terakhirnya.

Tapi, catatannya di Chelsea sejauh ini berbanding terbalik. Musim debutnya di Liga Inggris hanya menghasilkan enam gol. Sementara tahun kedua baru empat gol.

Penyerang Chelsea itu memang memenangkan Liga Champions di musim pertamanya di Stamford Bridge, tetapi bahkan para penggemar The Blues yang paling setia pun akan mengakui bahwa reputasinya tidak terpenuhi.

Kai Havertz

Sama seperti Werner, rekannya di Timnas Jerman, Kai Havertz yang dibeli dengan transfer senilai 70 juta pounds (Rp1,2 triliun) juga belum tampil sebaik ketika berseragam Bayer Leverkusen.

Havertz telah mencetak 36 gol dan 25 assist di Bundesliga ketika berseragam Leverkusen. Sementara dalam 54 penampilan Liga Inggris untuk Chelsea dari musim lalu, gelandang serang ini masih hanya mencetak 11 gol dan 9 assist.

Kasusnya sama dengan Werner, ketika bagi publik Chelsea keduanya optimis bakal menjadi andalan mencetak gol ketika ditangani pelatih asal negaranya sendiri. Namun, justru kebalikannya, seiring adaptasi yang gagal dengan kultur baru di Inggris dan atmosfernya yang ketat. Bisa jadi juga karena faktor Tuchel dengan taktiknya 3-4-3 yang kurang nyaman bagi gaya bermain Havertz maupun Werner.

Andre Schurrle

Pemain asal Jerman lainnya yakni Andre Schurrle tiba sebagai rekrutan pertama Jose Mourinho dalam periode keduanya di Chelsea pada musim panas 2013 setelah tampil apik di Leverkusen dengan 23 gol dan 16 assist-nya.

Namun, ia gagal bersaing dengan pemain hebat lainnya di Chelsea ketika itu. Dia hanya bertahan selama 18 bulan di Stamford Bridge setelah hanya mencetak 14 gol dalam 65 penampilan sebelum ia dilepas ke Wolfsburg dan sekarang sudah memutuskan pensiun.

Naby Keita

Pemain tengah Guinea, Naby Keita telah menunjukkan betapa bagusnya ketika dia saat berada di RB Leipzig sehingga Liverpool kesengsem untuk merekrutnya. Tapi, cedera telah menghalanginya tampil konsisten di lini tengah Liverpool.

Digadang-gadang sebagai penerus Henderson maupun Wijnaldum ketika menua, alih-alih selalu menjadi starter di bawah Klopp, posisinya kini terancam oleh performa Thiago Alcantara yang sedang bagus-bagusnya.

Meskipun ia sering menjadi penyelamat dan bagian dari rotasi Klopp di lini tengah Liverpool, terasa mengurangi nilai lebih Keita ketika di Leipzig dengan 17 gol dan 15 assist-nya selama 2 musim. Kini, Keita hampir tak produktif lagi dan hanya mengemas 11 gol dan 7 assist selama 4 musim di The Reds.

Henrikh Mkhitaryan

Pemain Armenia ini benar-benar brilian di bawah asuhan Thomas Tuchel untuk Borussia Dortmund. Dia berjaya di Bundesliga dengan 11 gol dan 15 assistnya pada musim terakhirnya 2015/16. Itu membuat Mkhitaryan dinobatkan sebagai pemain terbaik Bundesliga musim tersebut.

Akan tetapi, karir sepakbola ke depannya tidak berjalan mulus. Ia dibeli MU di bawah Mourinho. Namun, dia gagal tampil mengesankan dengan seragam United. Ia tercatat hanya mencetak total 5 gol di MU.

Mkhitaryan pun pernah berselisih dengan Jose Mourinho dan hanya bertahan di Old Trafford selama kurang lebih 18 bulan. Sekarang ia bergabung dengan Roma sejak 2019 dan bertemu lagi dengan pelatihnya dulu di MU.

Leon Bailey

Digadang-gadang menjadi penerus Jack Grealish yang hengkang ke City. Dibeli dari Leverkusen sebagai penyerang sayap yang produktif selama kurang lebih 4 musim di Jerman, performa Leon Bailey justru melempem di Aston Villa.

Pemain yang sempat dijuluki “Jamaican Robben” ini, pada musim terakhirnya di Jerman menjadi komoditi panas bursa transfer yang banyak diburu tim elit eropa. Ia mengemas 9 gol dan 9 assist di 30 penampilannya bersama Leverkusen. Total selama di Leverkusen ia mencetak 39 gol dan 26 assist.

Akan tetapi, semua itu berbanding terbalik secara hasil, di Villa ia sering berkutat dengan cedera dan gagal bersaing dengan kehadiran Coutinho dan mungkin tidak masuk skema pelatih baru Villa, Steven Gerrard. Ia selama ini di Villa hanya mengemas 1 gol dan 2 assist dari 18 pertandingan. Hasil yang cukup mengecewakan.

Shinji Kagawa

Sancho maupun Mkhitaryan bukan bintang pertama yang pindah dari Dortmund ke United, karena Shinji Kagawa ditandatangani lebih dulu oleh MU pada tahun 2012.

Pemain Jepang itu memainkan peran penting dalam kemenangan berturut-turut di Bundesliga dengan Borussia Dortmund asuhan Jürgen Klopp. Dia melanjutkannya dengan mengangkat gelar Liga Premier di musim debutnya di Manchester United, meski dengan peran yang lebih sedikit, karena hanya 17 kali bermain.

Tapi, seperti banyak pemain lain, Kagawa berjuang untuk mendapatkan tempat di tim utama di United. Apalagi setelah David Moyes datang, tampaknya Kagawa tidak disukai oleh Moyes dan tidak masuk dalam skemanya. Gelandang Jepang itu hanya berhasil mencetak 6 gol di liga sebelum kembali ke Dortmund pada tahun 2014.

Sumber Referensi : thesun, dailystar, planetfootball, planetsport

Koneksi dan Identitas Yahudi pada Ajax Amsterdam dan Tottenham Hotspur

0

Sebagai klub yang telah berdiri sejak 18 Maret 1900, Ajax Amsterdam sangat layak disebut sebagai tim yang bersejarah. Tak hanya soal usianya saja, tetapi semenjak bediri hingga hari ini, Ajax telah banyak menorehkan prestasi.

36 trofi Eredivisie, 20 trofi KNVB Cup, dan 4 trofi UEFA Champions League adalah beberapa dari banyak trofi kelas dunia yang pernah Ajax menangkan. Selain itu, ratusan bintang sepak bola dunia juga telah Ajax lahirkan lewat akademi pemainnya yang begitu hebat.

Sejarah dan prestasi itulah yang kemudian membentuk jadi diri alias identitas Ajax Amsterdam sebagai sebuah klub sepak bola yang sukses. Sejarah dan prestasi itu pula yang membuat Ajax punya lebih dari 1 julukan.

Karena lambang dan namanya yang bergambar “Ajax” alias “Aias”, seorang pahlawan mitologi Yunani dalam perang troya, mereka dijuluki “de Godenzonen” yang artinya “Anak-anak dewa”. Julukan tersebut jadi julukan utama Ajax Amsterdam.

Selain itu, Ajax juga pernah mendapat julukan “Lucky Ajax”. Dahulu, julukan ini dipakai untuk menyebut Ajax yang memenangkan pertandingan secara kebetulan akibat keputusan wasit, atau secara kebetulan seperti saat mereka memenangi “pertandingan kabut” di Piala Eropa 1967.

Koneksi Yahudi di Balik Julukan “de Joden”

Akan tetapi, julukan lain yang lebih sering disematkan kepada Ajax Amsterdam adalah “de Joden” yang dalam bahasa Belanda berarti “Yahudi”. Meski tak punya banyak pemain atau pelatih dari kalangan Yahudi, tetapi Ajax memang dianggap sebagai “Klub Yahudi” karena identitas dan koneksi mereka dengan kaum Yahudi.

Usut punya usut, asal-usul julukan “de Joden” erat kaitannya dengan sejarah kota Amsterdam yang telah dianggap sebagai “Kota Yahudi” dan pusat komunitas Yahudi di Belanda sejak abad ke-16. Bahkan, sebelum perang dunia kedua pecah, kota Amsterdam dijuluki sebagai “Jerusalem of the West”.

Diperkirakan ada sekitar 80 ribu dari 140 ribu orang Yahudi di Belanda yang tinggal di kota Amsterdam. Kebetulan, mayoritas dari kaum Yahudi tersebut merupakan penggemar Ajax. Pada tahun 1930-an, De Meer Stadion, kandang lawas milik Ajax juga terletak tak jauh dari “Jodenbuurt” yang kebetulan menjadi lingkungan dan pusat orang-orang Yahudi di kota Amsterdam.

Karena sebagian pendukungnya merupakan orang Yahudi, kelompok suporter Ajax kemudian merangkul identitas Yahudi dengan cara menyebut diri mereka “Super Jews” atau meneriakkan kata “Joden” yang berarti Yahudi saat pertandingan berlangsung.

Meski populasi orang Yahudi langsung turun lebih dari 75% usai perang dunia kedua, tetapi para penggemar Ajax Amsterdam tetap mempertahankan identitas Yahudinya. Kehadiran para pemain dan manajer Yahudi yang menghiasi skuad Ajax pasca perang dunia kedua jadi salah satu penyebabnya.

Lagipula, era keemasan Ajax Amsterdam terjadi saat mereka dipimpin oleh orang Yahudi. Adalah Jaap van Praag yang menjadi presiden Ajax selama periode 1964 hingga 1978. Jaap van Pragg adalah salah satu orang Yahudi yang dikabarkan selamat dari tragedi holocaust setelah dirinya bersembunyi di rumah salah satu pemain Ajax.

Selama dipimpin Jaap van Praag, Ajax sukses memenangi Liga Champions 3 kali beruntun pada 1971-1973. Pada masa tersebut, Ajax juga dihuni oleh beberapa pemain berdarah Yahudi, seperti Bennie Muller dan Sjaak Swart yang kemudian kini dikenal dengan julukan Mr. Ajax. Hal-hal itulah yang membuat citra Yahudi pada tubuh Ajax makin menguat.

Era keemasan Ajax bersama Jaap van Pragg kemudian diteruskan oleh sang anak, Michael van Praag yang menjabat sebagai presiden “de Joden” dari tahun 1989 hingga 2003. Kebetulan, selama dipimpin Michael van Praag, Ajax kembali menjuarai Liga Champions musim 1995 dan meraih trofi UEFA Cup pertamanya di musim 1992.

Di masa-masa tersebut, citra Ajax sebagai “Klub Yahudi” memang sangat kuat. Bahkan ada masa di mana lagu “Hava Nagila” dapat diunduh gratis di situs resmi klub. Hava Nagila sendiri merupakan lagu Yahudi yang secara tradisional dinyanyikan pada saat perayaan-perayaan kaum Yahudi.

Namun, karena kesuksesan dan citra Yahudi yang mereka miliki pada masa tersebut, Ajax berulang kali menjadi sasaran antisemitisme. Suporter lawan yang membenci Ajax kerap meneriakkan chants “Hamas! Hamas!” yang tentu saja untuk mengejek suporter Ajax. Mereka yang berseberangan dengan Ajax juga kerap memberikan salam NAZI atau mendesis untuk menirukan bunyi gas dari kamar gas beracun yang dulu menjadi alat pembunuh kaum Yahudi di kamp-kamp konsentrasi milik NAZI.

Namun, meski begitu, para penggemar Ajax, khususnya mereka dari kelompok suporter F-Side tetap mempertahankan identitas Yahudinya bahkan menganggapanya sebagai sebuah kultur, warisan, dan kebanggaan. Bukti lainnya, nyanyian-nyanyian Yahudi masih kerap terdengar di tribun Johan Cruyff Arena.

Selain itu, simbol-simbol Yahudi seperti Bintang Daud dan bendera Israel juga masih dijual bebas di sekitar stadion dan kerap dikibarkan oleh para penggemar Ajax hingga hari ini. Lucunya, dilansir dari Der Spiegel, sekitar 90% penggemar Ajax bahkan tidak tahu di mana Israel berada.

“Ketika mereka berteriak ‘Yahudi, Yahudi!’ atau ‘Super Yahudi’, ini tentang menyemangati tim dan tidak ada yang lain.” kata Hans Knoop, seorang jurnalis Yahudi dikutip dari Spiegel.de.

Aroma Yahudi dalam Tubuh Tottenham Hotspur

Situasi yang hampir serupa juga terjadi di Tottenham Hotspur. Torehan prestasi klub berjuluk The Lilywhites itu jelas sangat tidak sebanding bila disandingkan dengan Ajax. Namun, Tottenham punya satu kesamaan dengan Ajax. Klub asal London Utara itu juga dianggap sebagai “Klub Yahudi”.

Secara historis, situasi kota London di masa lalu cukup mirip dengan kota Amsterdam. Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, Tottenham Hotspur adalah klub yang paling populer di kalangan imigran Yahudi yang menetap di East End. Spurs kala itu juga dianggap lebih glamor ketimbang West Ham United dan Arsenal.

Kebetulan, beberapa distrik di London Utara, seperti Barnet, Hackney, dan Harrow menjadi rumah bagi banyak orang Yahudi. Oleh karena itulah, pada tahun 1930-an, sepertiga dari basis penggemar The Lilywhites diperkirakan berasal dari komunitas Yahudi.

Seiring berjalannya waktu, basis penggemar Spurs dari kalangan Yahudi makin menurun. Meski begitu, aroma Yahudi tetap melekat pada tubuh Tottenham Hotspur. Citra Yahudi pada tubuh Spurs memang tak bisa dihilangkan begitu saja. Bahkan meski Arsenal kemudian memiliki lebih banyak penggemar Yahudi, tetap Spurs yang dianggap sebagai “Klub Yahudi”.

Salah satu penyebabnya adalah koneksi Yahudi dalam tubuh Tottenham Hotspur. Serupa dengan Ajax, Spurs pernah dipimpin oleh orang Yahudi. Tiga ketua Spurs sejak 1982 adalah seorang pengusaha yang berdarah Yahudi. Ketua alias chairman Spurs saat ini, Daniel Levy juga merupakan orang Yahudi.

Karena koneksi dan identitas Yahudi yang mereka miliki, Tottenham Hotspur kemudian mendapat perlakuan antisemitisme dari para penggemar klub saingan mereka. Ejekan dan nyanyian antisemitisme mulai terdengar di era 1960-an dan 1970-an.

Salah satu ejekan tersebut berbunyi “Yids”. Kata tersebut diambil dari kata “Yiddish” yang merupakan salah satu bahasa yang dituturkan orang-orang Yahudi di luar Israel, khususnya di Eropa Timur.

Bukannya marah, fans Tottenham Hotspur justru mengadopsi ejekan tersebut. Sejak saat itu, mereka menjuluki dirinya “Yid Army” dan acap meneriakkan chants tersebut saat Tottenham bertanding. Meski menuai kontroversi karena dianggap menghina kaum Yahudi itu sendiri, tetapi para penggemar Spurs mengaku bahwa mereka menyanyikan chants tersebut dengan bangga dan telah menganggap julukan tersebut sebagai sebuah identitas yang dibanggakan.

Menghapus Identitas Yahudi pada Ajax dan Tottenham Hotspur Bukanlah Perkara Mudah

Karena sama-sama punya koneski dan identitas Yahudi, duel antara Ajax dan Tottenham Hotspur acap kali disebut sebagai “Jewish Derby”. Pendukung kedua kesebelasan juga punya hubungan yang harmonis.

Namun, meski para penggemarnya telah menjadikan Yahudi sebagi identitas mereka, tetapi Ajax dan Tottenham Hotspur sebenarnya kompak enggan disebut sebagai “Klub Yahudi”. Pada awal 2000-an, Ajax bahkan pernah membujuk para penggemarnya untuk menghilangkan citra Yahudi pada tubuh mereka.

Hal yang sama juga dilakukan oleh kubu Tottenham Hotspur. Pasalnya, banyak masyarakat Inggris yang menentang aksi suporter Spurs yang kerap mengibarkan bendera Israel atau menyanyikan yel-yel Yahudi.

Pendukung Spurs sendiri pernah terlibat insiden berdarah akibat identitas Yahudi yang mereka banggakan. Pada 2012 silam, beberapa penggemar Spurs dilaporkan terluka parah setelah diserang Ultras Lazio yang terkenal menganut paham fasis.

Selain itu, identitas Yahudi yang melekat pada Ajax maupun Spurs disebut telah mempersulit mereka dalam menggaet sponsor. Entah benar atau tidak, namun, bagaimanapun langkahnya, menghapus identitas Yahudi yang sudah sangat mengakar pada tubuh Ajax dan Tottenham Hotspur bukanlah perkara mudah.

Meski menolak dengan dalih apapun, Ajax dan Spurs terlanjur identik dengan Yahudi. Selama bendera Israel dan bintang Daud masih berkibar di kandang Ajax Amsterdam maupun Tottenham Hotspur, jangan harap label “Klub Yahudi” yang disematkan kepada mereka akan mudah terlupakan begitu saja.

https://youtu.be/iC8DgT6dcSg
***
Referensi: Squawka, PanditFootball, CNN, Spiegel, Ligalaga, Nssmag, TheJC.

Kembalinya Dominasi Duo Milan di Serie A

0

Cerita gelap sejak 2006 mulai dilupakan dua klub penghuni Kota Milan. Inter Milan dan AC Milan kini menatap Serie A dengan penuh mentalitas, keyakinan, dan rasa balas dendam akan juara yang meletup-letup.

Iya, selama ini, duo Milan kerap terseok-seok di Serie A. Sebab dominasi Juventus sulit terbendung. Sementara duo Milan hanya bisa bergiliran memesan kesengsaraan. Jika yang satu menempel ketat para calon scudetto, yang satunya lagi terpelanting keluar dari lima besar. Begitu pula sebaliknya.

Namun, kini dua musim sudah dua klub asal Kota Milan mulai menunjukkan lagi dominasinya. Penduduk Kota Milan, yang sudah rindu akan dominasinya di Liga Italia, akhirnya terjawab sudah. Tinggal menunggu waktu saja, apakah Kota Milan akan berakhir membiru atau justru memerah.

Hilangnya Dominasi Milan Dulu

Sebelum itu, dominasi Milan mulai menunjukkan tanda-tanda redup sejak 2006. Tapi, meredupnya dominasi keduanya makin kentara memasuki tahun 2011. Pada musim 2011-2012, Juventus yang mengambil scudetto. Sementara, duo Milan nasibnya berbeda signifikan.

AC Milan berada di peringkat kedua, sedangkan Inter terlempar di posisi keenam. Awalnya, sinar dominasi Milan mulai pudar lantaran hilangnya para pemain bintang. Selain tentu saja krisis ekonomi buntut dari kasus calciopoli.

Andai saja duo Milan hanya sekadar kehilangan pemain bintang, itu bukanlah menjadi masalah. Ironisnya, duo Milan bukan hanya kehilangan pemain seperti Ricardo Kaka’, Alessandro Nesta, Dida, Javier Zanetti, Eto’o, sampai Diego Milito, tapi mereka gagal menemukan sosok penerusnya.

Belum lagi masalah juru taktik. Sepeninggal Carlo Ancelotti, AC Milan sendiri tak menemukan pelatih yang cespleng. Max Allegri, yang pernah melatih Rossoneri, waktu itu hanya sanggup membawa Milan berada di posisi terendah.

Sementara, di sisi Inter, usai Jose Mourinho tak lagi melatih, tidak ada pelatih bagus yang menangani Inter, kecuali Roberto Mancini. Nama-nama seperti Andrea Stramaccioni, Walter Mazzarri, sampai Frank de Boer hanya membuat Inter berada di posisi terpuruk.

Kedatangan Manajer Baru, Pioli!

Kembalinya dominasi duo Milan pelan-pelan kelihatan ketika para manajer baru mulai berdatangan. Antonio Conte yang datang ke Inter tahun 2019, dan Stefano Pioli, mantan pelatih Inter yang dipercaya menangani AC Milan di tahun yang sama.

Di kubu AC Milan, Stefano Pioli yang notabene pelatih bekas tetangganya itu, ternyata masih memiliki siasat yang jitu untuk sisi merah Kota Milan. Kegagalan ketika melatih Inter, tampaknya menjadi pelajaran berharga untuk Pioli, agar ia tidak malu lagi di hadapan publik Milan. Meski Milan yang berbeda.

Banyak perubahan komprehensif terjadi di kubu Milan. Tangan dingin Pioli membuat Milan tampil luar biasa sejak kedatangannya pada Oktober 2019. Pioli merombak hampir keseluruhan tubuh AC Milan.

Sejak ia datang, dari segi strategi saja, Milan mengalami perubahan. Dari yang semula memakai pakem formasi 4-3-3 menjadi 4-2-3-1. Pioli pelan-pelan mencoba menyuntikkan apa yang disebut DNA Milan.

Pioli bukan hanya mengubah jiwa seluruh tim. Tapi ia juga menanamkan keseimbangan, keteguhan, dan mentalitas pemenang di atas segalanya. Buktinya, Pioli menggiring AC Milan kembali menyapa penonton Liga Champions Eropa, setelah tidak melakukannya setelah sekian purnama.

Conte Sang Pendobrak!

Lain Rossoneri, lain pula il Nerazzurri. Inter Milan yang tak mau mengulangi hasil-hasil buruk, merekrut Antonio Conte. Awalnya, Inter era Conte tampak biasa-biasa saja. Tapi memang kita tidak boleh terkecoh pada sosok Antonio Conte.

Para pendukung awalnya membenci fakta bahwa, Conte dipekerjakan menjadi pelatih kepala Inter karena ikatan sejarahnya dengan Juventus. Conte pernah melatih Bianconeri. Namun, kebencian itu langsung menjadi senyuman yang tak henti-hentinya setelah Conte membawa Inter scudetto pada musim 2020-2021.


Satu musim yang sangat menggembirakan bagi interisti di seluruh dunia. Meski pada musim pertamanya gagal, Conte telah menunjukkan bahwa manajemen Inter tak salah menunjuknya sebagai pelatih.

Antonio Conte mempersembahkan trofi scudetto dengan mengungguli AC Milan 12 poin. Hebatnya lagi, saat itu juga Conte telah menciptakan rekor, bahwa itu adalah kedua kalinya dalam sejarah, Inter memiliki poin lebih dari 90 di akhir musim Serie A.

Bukan hanya itu. Conte juga menciptakan rekor pribadi. Ia menjadi satu-satunya pelatih Serie A yang bisa juara dengan memenangkan lebih dari 90 poin, dengan klub yang berbeda. Namun, permasalahannya dengan internal La Beneamata, membuat Conte pergi dengan cara yang kurang baik.

Conte Pergi, Tenang Masih Ada Inzaghi

Tidak seperti AC Milan yang masih bertahan dengan Stefano Pioli, Inter memilih menunjuk Simone Inzaghi, mantan pelatih Lazio untuk menahkodai pasukan peninggalan Conte. Masalahnya, tidak semua pemain masih di Inter.

Mau tidak mau, Inzaghi harus meramu taktik baru, gaya main baru, bahkan pendekatan yang baru. Tentu saja demi menjaga dominasi persaingan duo Milan yang sudah mulai pada era Antonio Conte dan Pioli.

Dengan gaya permainan yang lebih dekat kepada kebebasan, khas Simone Inzaghi, para pemain Inter jauh lebih cair dalam mengolah strategi. Kebebasan itu tidak lantas membuat Inzaghi kehilangan kendalinya.

Pemain tetap mengikuti arahannya. Hanya saja, para pemain, oleh Inzaghi, diberikan kebebasan untuk membuat keputusan individu, ketika sudah berada di lapangan. Hasilnya? Seperti apa yang kalian lihat sekarang. Inter masih sanggup menempel ketat AC Milan, dan bonusnya menjuarai Coppa Italia.

Kedalaman Skuad

Salah satu kunci kembalinya dominasi duo Milan adalah kedalaman skuad masing-masing tim. AC Milan dengan Stefano Pioli memiliki beberapa pilihan, kendati pemain seperti Hakan Calhanoglu membelot ke Inter Milan.

Setidaknya, Pioli masih memiliki senjata-senjata tak terduga di kubu Rossoneri. Pioli masih mempunyai pemain seperti Sandro Tonali, Ismael Bennacer, Rafael Leao, Brahim Diaz, Olivier Giroud, sampai tentu saja Zlatan Ibrahimovic.

Rafael Leao dan Ibra beberapa kali menjadi kunci serangan AC Milan. Sementara, Franck Kessie dan Theo Hernandez, menurut The Analyst menjadi otak di balik terciptanya peluang Milan. Lalu, ada nama Alexis Saelemakers dan Brahim Diaz yang kreativitasnya sangat bagus.

Sementara, di kubu Inter, Simone Inzaghi masih tetap melanjutkan tradisi tiga bek Conte. Namun, ia melakukannya dengan cara sendiri. Meski pilihan bek tengahnya agak terbatas, namun Inzaghi berhasil membuatnya jadi mewah. Milan Skriniar yang tampil solid, misalnya.

Lalu, ia juga punya pilihan lain seperti Stefan de Vrij dan Ranocchia. Di sisi tepi, kehilangan Achraf Hakimi bukan masalah, sebab masih ada Matteo Darmian dan pemain baru mereka, Denzel Dumfries.

Di lini tengah, Nicolo Barella menjadi salah satu komponen penting. Itu kemudian ditopang dengan lini depan yang tajam, macam Lautaro Martinez, Alexis Sanchez, sampai Edin Dzeko.

Melempemnya Juventus

Kembalinya dominasi duo Milan juga lantaran Si Nyonya Tua yang benar-benar mencapai masa tuanya. Juventus, sejak terakhir kali menjuarai Serie A, persis ketika dilatih Maurizio Sarri, sudah kehilangan sentuhannya di Liga Italia.

Menurut laporan Goal, Juventus mengalami penurunan mental setelah kepergian Sarri. Pergantian ke mantan pemain mereka sendiri, Andrea Pirlo justru hanya membuat Juventus makin memburuk.

Bersama Max Allegri musim ini, Juventus masih saja seret. Mereka masih kesulitan hanya untuk meraih kemenangan. Bahkan oleh tim-tim yang harusnya mudah mereka kalahkan. Melempemnya Juventus inilah yang coba dimanfaatkan duo Milan untuk kembali menemukan ritmenya di Serie A.

Sumber referensi: TotalFootballAnalysis, CBSSPorts, Sempreinter, Reuters, Goal, Marca, Sempremilan, Quora, Sportco

Berita Bola Terbaru 12 Mei 2022 – Starting Eleven News

Berita Bola Terbaru dan Terkini

NEWCASTLE DAN MU BERSAING DAPATKAN OSIMHEN

Striker Napoli, Victor Osimhen ditargetkan oleh Manchester United dan Newcastle United. Namun, menurut Football Italia, tawaran yang datang belum mencapai harga minimum yang diminta, yaitu 100 juta euro. Laporan juga menyatakan bahwa hanya Newcastle United yang mengajukan penawaran resmi untuk Osimhen.

CONTE BALAS KRITIK KLOPP

Manajer Tottenham Hotspur Antonio Conte memberikan balasan panjang lebar usai taktiknya dikritik manajer Liverpool Jurgen Klopp. Seperti diketahui, Tottenham berhasil menahan Liverpool 1-1 di Anfield, Minggu (8/5). Usai laga, Klopp mengkritik taktik bertahan Spurs. Pada prosesnya, Klopp minta maaf secara terbuka karena komentar negatif tersebut. Conte sendiri memahami rasa frustrasi Klopp. Akan tetapi, pria Italia itu menuding Klopp hanya mencari-cari alasan saja karena Liverpool tak mampu menemukan solusi atas taktik Tottenham.

ANGEL DI MARIA MASIH INGIN BERMAIN DI EROPA MUSIM DEPAN

Kontrak Angel Di Maria akan berakhir pada akhir musim ini setelah dia bermain selama 7 tahun di Paris. Di Maria dirumorkan akan pulang ke Argentina jika PSG tak memperpanjang kontraknya. Namun, sang pemain mengatakan bahwa dirinya ingin bermain di Eropa satu tahun lagi sebelum pulang ke Argentina. Alasannya karena dia masih ingin dipanggil timnas Argentina untuk Piala Dunia 2022.

CHICHARITO KEMBALI PERTIMBANGKAN MAIN DI EROPA

Javier ‘Chicharito’ Hernández berada di musim ketiganya bersama Los Angeles Galaxy. Kontraknya akan habis di tahun 2023. Meskipun Chicharito bahagia di Los Angeles, salah satu tujuan utamanya adalah kembali ke tim nasional Meksiko dan bermain di Piala Dunia pada November di Qatar. Kembalinya ke sepak bola Eropa bisa membuka pintu tim nasional untuk Chicharito dan bermain di Piala Dunia terakhirnya.

ARSENAL SAINGI BARCELONA DALAM PERBURUAN GABRIEL JESUS

Arsenal semakin dekat untuk merekrut Gabriel Jesus. Dilansir Football Espana, striker Brasil itu memutuskan bahwa masa depannya jauh dari Manchester City. Barcelona juga telah dikaitkan dengannya. Tapi asa Barca mendatangkan Jesus mendapat perlawanan dari Arsenal. Sebab, Arsenal membutuhkan nomor sembilan setelah ditinggal Pierre-Emerick Aubameyang pergi ke Barcelona pada jendela Januari.

TERSINGKIR DARI UCL, EVRA KRITIK GUARDIOLA

Mantan pemain Manchester United Patrice Evra mengkritik Pep Guardiola setelah Manchester City tersingkir di semifinal Liga Champions melawan Real Madrid. Beberapa kritik itu disampaikan Evra ketika berbicara dengan Prime Video. “Manchester City membutuhkan pemimpin, tetapi Guardiola tidak menginginkan pemimpin. Dia tidak menginginkan ada seseorang yang memimpin,” kata Evra. Menurut Evra, ketergantungan Guardiola pada pemain tanpa sosok pemimpin di lapangan itu tidak hanya terjadi di Manchester City.

VIERI: AC MILAN FAVORIT SCUDETTO, TAPI INTER BISA BIKIN KEJUTAN

Legenda timnas Italia dan salah satu ikon Inter Milan, Christian Vieri, menilai AC Milan berpeluang besar untuk meraih gelar Liga Italia 2021/22. Meski demikian, bukan berarti Inter Milan sudah habis peluangnya. Christian Vieri menilai bahwa hingga kini, I Nerazzurri masih memiliki harapan untuk meraih scudetto musim ini. Vieri yang juga pernah bermain di AC Milan, menegaskan bahwa laga pekan selanjutnya yaitu di akhir pekan ini bisa menentukan.

DEMBELE LEWATI TOREHAN MESSI

Ousmane Dembele tampil impresif untuk membantu Barcelona menggulung Celta Vigo 3-1. Dembele menyumbang dua assist sehingga dia melewati torehan Lionel Messi. Itu adalah assist kesepuluh Dembele di La Liga sepanjang 2022. Opta mencatat, Dembele menjadi kreator gol terbanyak di antara lima liga top Eropa, melebihi torehan Lionel Messi yang telah mengemas sembilan assist untuk Paris Saint-Germain di rentang waktu serupa.

BARCELONA TERTARIK ANGKUT REGUILON DARI TOTTENHAM

Dilansir Mirror, Barcelona dikabarkan tertarik untuk mendatangkan Sergio Reguilon dari Tottenham musim depan. Sekarang ini Sergio Reguilon masih terikat kontrak jangka panjang di Tottenham, yakni sampai tahun 2025 mendatang. Laporan itu menyebut Blaugrana kini memang sedang aktif mencari bek kiri baru. Mereka mencari pengganti jangka panjang bagi Jordi Alba yang sudah semakin uzur. Akan tetapi Barca bisa saja kesulitan memboyong Reguilon. Pasalnya Real Madrid punya klausul buyback senilai 27,5 juta pounds.

SHIN TAE YONG BICARAKAN KEHADIRAN ELKAN BAGGOT DI TIMNAS INDONESIA

Pelatih timnas U-23 Indonesia, Shin Tae-yong, memberikan jawabannya ketika ditanya kehadiran Elkan Baggott di SEA Games 2021. Elkan Baggot memang masuk daftar 20 pemain timnas di Sea Games kali ini. Shin Tae-yong menyebut kalau Baggott bakal bergabung ke timnas U-23 Indonesia di SEA Games yang digelar di Vietnam. Akan tetapi, Shin Tae-yong belum dapat memastikan waktu kedatangan pemain keturunan Inggris tersebut.

HASIL LIGA INGGRIS

Manchester City semakin dekat dengan gelar juara Liga Inggris. Usai mereka baru saja menghajar tuan rumah Wolverhampton Wanderers dengan skor 5-1 pada lanjutan Liga Inggris pekan ke-36. Kevin de Bruyne jadi bintang lapangan berkat empat gol yang dicetaknya. Masing-masing di menit 7, 16, 24, dan 60. Satu gol tambahan lainnya dicetak Raheem Sterling di menit 84. Sementara gol dari Wolves dibuat Leo Dendoncker di menit 11. 

Di tempat yang berbeda, Chelsea membantai Leeds United tiga gol tanpa balas di Elland Road. Pasukan Thomas Tuchel itu mencetak gol via Mason Mount menit 4, Pulisic menit 55, dan Lukaku menit 83. Dengan hasil ini, Chelsea masih mengamankan posisinya di tiga besar. Sedangkan Leeds terseok-seok di zona degradasi. Posisi puncak sendiri masih dipegang Manchester City dengan perolehan 89 poin. 

Pada laga lainnya, Leicester City menang 3-0 atas Norwich City dan Watford bermain imbang 0-0 dengan Everton.

HASIL LIGA SPANYOL

Di ajang Liga Spanyol, Atletico Madrid mengalahkan Elche di kandangnya sendiri dengan skor 2-0. Butuh 28 menit untuk Los Rojiblancos membuka skor lewat aksi Mateus Cunha. Skuad asuhan Diego Simeone itu lantas menggandakan skor di menit 64 lewat aksi Rodrigo De Paul. Hasil ini makin menegaskan posisi ketiga milik Atletico Madrid. Sedangkan Elche belum beranjak dari peringkat ke-14. Di laga lain, Sevilla bermain imbang 0-0 dengan Mallorca, Osasuna imbang 1-1 dengan Getafe, dan Alaves menang 2-1 atas Espanyol.

INTER MILAN JUARA COPPA ITALIA

Inter Milan menjuarai Coppa Italia setelah mengalahkan Juventus dengan skor 4-2 di final pada Kamis dini hari tadi. Nicolo Barella membawa Inter unggul lebih dulu pada menit ke-7. Pada babak kedua, Juventus berhasil mencetak dua gol dalam 2 menit. Pertama, gol Alex Sandro pada menit ke-50. Kedua, gol Dusan Vlahovic pada menit ke-52. Inter lalu menyamakan skor jadi 2-2 lewat penalti Calhanoglu di menit 80. Laga pun berlanjut ke babak perpanjangan waktu, di mana Inter sukses mencetak dua gol lagi via brace dari Ivan Perisic di menit 99 dan 102.

CETAK EMPAT GOL, SELEBRASI DE BRUYNE JADI SOROTAN

Kevin De Bruyne menjadi sorotan usai Manchester City mengalahkan Wolves dengan skor 5-1. Bukan cuma empat gol yang dibuat, tetapi juga selebrasi yang dilakukan De Bruyne menyerupai Erling Haaland. De Bruyne mengangkat tangannya dan jarinya membentuk angka tiga. Selebrasi De Bruyne itu bisa jadi sebagai penanda ucapan selamat datang kepada Haaland yang telah resmi bakal bergabung ke The Cityzen.

CEDERA HAMSTRING, FABINHO ABSEN DI FINAL PIALA FA

Gelandang Liverpool Fabinho terancam absen saat The Reds melakoni laga final piala FA kontra Chelsea, Sabtu akhir pekan ini. Sebab, pemain plontos itu cedera saat dirinya bermain di laga melawan Aston Villa, kemarin. Hasil pemeriksaan medis kemudian menunjukkan bahwa Fabinho alami cedera hamstring. 

MANCHESTER UNITED JUARA PIALA FA JUNIOR

Manchester United U18 keluar sebagai juara FA Youth Cup pada 2021/22 setelah mengalahkan Nottingham Forest U18 dengan skor 3-1 di final, Kamis (12/5) dini hari WIB tadi. Bermain di Old Trafford di hadapan stadion yang hampir penuh sesak, tim muda United mencetak gol via Rhys Bennett, serta dua gol dari Alejandro Garnacho. 

GABRIEL JESUS TERTARIK DENGAN PROYEK ARSENAL

Agen Gabriel Jesus, Marcelo Pettinati, mengaku sudah bicara dengan Arsenal. Jesus diklaim mempertimbangkan dengan serius kemungkinan pindah ke Arsenal. Jesus yang kontraknya habis satu tahun lagi, kemungkinan besar bakal hengkang dari Etihad di musim panas ini seiring dengan kedatangan Erling Haaland. Selain Arsenal, sang agen juga mengatakan bahwa ada enam klub lain yang tertarik pada Jesus.

CONTE MINTA TOTTENHAM TENANG JELANG LAGA PENTING VS ARSENAL

Antonio Conte meminta Tottenham untuk tetap tenang menjelang laga penting melawan Arsenal yang akan berlangsung pada jumat dini hari nanti. Keduanya sedang bersaing sengit untuk mengamankan tiket ke Liga Champions musim depan. Arsenal di posisi keempat, sedangkan Spurs di bawahnya. Kemenangan di Tottenham Hotspur Stadium dipastikan akan memangkas keunggulan Spurs menjadi satu poin dengan dua laga yang tersisa.

GIORGIO CHIELLINI: SELAMAT TINGGAL JUVENTUS

Giorgio Chiellini sudah membuat keputusan bulat terkait masa depannya. Setelah laga final Coppa Italia, bek veteran itu mengaku akan angkat kaki dari Juventus akhir musim ini. Tidak ada yang mendesak Chiellini untuk segera menutup perjalanannya di Juventus. Keputusan ini datang dari dalam dirinya 100 persen.

FRENKIE DE JONG 95% KE MANCHESTER UNITED

Barcelona diklaim hampir pasti menjual Frenkie De Jong ke Manchester United menyusul kedatangan Erik Ten Hag sebagai pelatih baru Setan Merah. Dikutip dari Barcablaugranes, peluang De Jong bergabung dengan MU mencapai 95 persen. Kedua klub tinggal menyepakati besaran uang transfer, yang diyakini mencapai 70 hingga 80 juta euro. Menjual De Jong merupakan salah satu solusi untuk mengurangi masalah finansial Barcelona musim depan.

INI DIA SOSOK WASIT FINAL LIGA CHAMPIONS 2021/22

Liverpool dan Real Madrid akan berhadapan di final Liga Champions di Stade de France pada tanggal 28 Mei dan UEFA kini telah mengumumkan official pertandingan untuk pertandingan penting tersebut. UEFA menunjuk Clement Turpin, pria Prancis berusia 39 tahun itu telah menjadi wasit internasional sejak 2010 dan merupakan ofisial termuda yang meraih pengakuan itu dari FIFA pada 2009 ketika ia ditambahkan ke daftar elit.

AJAX JUARA EREDIVISIE! KADO PERPISAHAN MANIS ERIK TEN HAG SEBELUM KE MU

Erik ten Hag, meraih trofi keenam dalam kariernya sebagai pelatih dengan membawa Ajax Amsterdam juara Eredivisie dengan satu laga tersisa, Kamis (12/5) dini hari WIB. Ajax sukses membantai Heerenveen dengan skor 5-0. Pria asal Belanda itu memberi kado perpisahan manis buat raksasa Eredivisie tersebut, sebelum ia menjadi manajer Manchester United musim depan.

EKUADOR BERMASALAH, ITALIA BERPELUANG IKUT PIALA DUNIA QATAR

FIFA mengkonfirmasi bahwa penyelidikan telah dibuka atas pemalsuan dokumen yang dapat membuat Ekuador kehilangan tempat di Piala Dunia 2022. Sebelumnya, Chile mengajukan protes ke FIFA yang mengklaim bahwa Ekuador telah memalsukan identitas salah satu pemain mereka di kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar, yakni Byron Castillo.

Secara teori, jika Ekuador tersingkir, Peru yang seharusnya dipromosikan langsung ke turnamen ini ketimbang melalui babak play-off melawan Australia. Sebagai gantinya Chile bisa mengikuti play-off, tetapi ini akan membuka masalah baru, karena Ekuador adalah tim Pot 4 yang diundi dan secara teknis Peru akan menjadi Pot 3, sehingga membuat undian mungkin tidak valid. Ada juga opsi yang mungkin dipertimbangkan FIFA, yaitu dengan mempromosikan tim dengan peringkat dunia tertinggi 2022 yang gagal lolos ke turnamen, dalam hal ini adalah Italia.

JUVENTUS TAWARKAN KONTRAK KEPADA POGBA

Dilansir Marca, Juventus dilaporkan menjadi yang terdepan untuk mengontrak gelandang Manchester United Paul Pogba di musim panas, karena Nyonya Tua telah membuat tawaran kontrak untuk mendapatkan jasa gelandang Prancis itu menjelang musim depan. Juventus akan menawarkan Pogba kontrak senilai 8 juta pounds per tahun, serta bonus besar dan biaya penandatanganan.

Pemain Ini Buktikan Balikan Sama Mantan Tak Selamanya Buruk

0

Football lovers pasti pernah melihat seorang pemain yang bolak-balik ke klub yang sama dengan alasan pembalasan jasa, uang miliaran euro atau bahkan hanya demi mendapat menit bermain.

Seperti yang dialami gelandang Manchester United, Paul Pogba. Setelah United melepasnya secara cuma-cuma ke Juventus, Pogba kembali ke Manchester United pada tahun 2016 dengan biaya yang memecahkan rekor sebagai pemain termahal MU kala itu.

Namun, beberapa pengamat bola menganggap Pogba gagal di MU, ia tak sebagus saat di Juve. Namun, tak semua pemain yang kembali ke klub lamanya bernasib sama dengan Pogba. Berikut buktinya.

Leonardo Bonucci

Selama bertahun-tahun, Leonardo Bonucci telah membangun reputasi sebagai pemain belakang paling sangar se jagad Italia bersama Juventus. Bersama klub yang bermarkas di kota Turin itu, Bonucci telah memenangkan belasan gelar bergengsi. 

Namun, pada musim 2017/2018 hal yang ditakutkan seluruh fans pun terjadi. Dengan mengejutkan, Bonucci malah menyeberang ke rival, AC Milan. Sontak setelah keputusan kontroversialnya itu, hari-hari Bonucci selalu dihiasi oleh kebencian dari fans Juve

Hanya bertahan semusim, ia pun kembali ke pelukan Juve. Selama periode keduanya bersama Juve, Bonucci kembali dibanjiri trofi seperti biasanya. Ia pun kembali menemukan performa terbaiknya dan duetnya bersama Chiellini hampir tak tergantikan hingga sekarang.

Ricardo Kaka

Selanjutnya ada Ricardo Kaka. Ia memenangkan semua yang dia bisa bersama Milan. Bahkan jadi yang terbaik di dunia setelah meraih Ballon d’Or dan pemain terbaik versi FIFA selama ia berseragam panji Rossoneri.

Sihir Kaka di San Siro, membuat Real Madrid tertarik menggunakan jasanya. Ia menjalani empat musim yang tak begitu spesial di Spanyol. Bersama Los Blancos, Kaka tak bisa membawa kualitas yang sama seperti masa-masa indahnya di Milan.

Bahkan ketika di Madrid, Kaka justru sering mengalami cedera sehingga tak begitu banyak mendapat menit bermain dari Jose Mourinho. Kurangnya menit bermain membuat Kaka kembali ke Milan, tempat yang seharusnya tak pernah ia tinggalkan.

Dalam periode keduanya bersama Milan, ia kembali menunjukan permainan memukau. Jika Kaka tak membuang-buang waktunya di Madrid, mungkin Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi tak akan mendapat Ballon d’Or sebanyak sekarang.

Nemanja Matic

Nemanja Matic didatangkan Chelsea pada tahun 2009. Seperti bintang muda lainnya, Matic tak terhindar dari tradisi peminjaman pemain. Ia pun langsung dipinjamkan ke Vitesse. 

Setelah masa peminjamannya selesai, Matic justru dijual ke Benfica. Ia dijadikan alat tukar untuk memperlancar Chelsea dalam merekrut David Silva. Lucunya, pada tahun 2014 Matic kembali mengiyakan pinangan Chelsea yang sempat membuangnya itu.

Menariknya, keputusan Matic untuk melanjutkan kisah lama yang belum usai dengan The Blues adalah keputusan yang tepat. Ia menjadi sosok penting di lini tengah Chelsea dan meraih beberapa trofi bergengsi termasuk dua gelar Liga Inggris pada tahun 2015 dan 2017.

Filipe Luis

Filipe Luis menjelma salah satu bek kiri terbaik kala bermain di Atletico Madrid asuhan Diego Simeone. Setelah musim 2013/14 yang hebat, Chelsea menaruh perhatian pada Luis dan memutuskan untuk mengontraknya. 

Mengemban ekspektasi yang sangat tinggi, Luis nyatanya tak mampu memenuhinya. Bek Brasil itu hanya membuat 15 penampilan bersama The Blues di Liga tanpa mencetak satu gol pun. Luis pun bertahan hanya semusim di Chelsea sebelum akhirnya balikan sama Atletico.

Mungkin karena memang berjodoh dengan Atletico, Filipe Luis menghabiskan empat musim lagi dan kembali menemukan performa terbaiknya. Ia juga berkontribusi dalam dua trofi Eropa yaitu Europa League dan UEFA Super Cup di musim 2017/18. 

Daley Blind

Berikutnya ada mantan punggawa Manchester United, Daley Blind. Pemain internasional Belanda ini dibawa oleh Louis Van Gaal dari Ajax Amsterdam pada tahun 2014.

Namun, setelah kepergian Van Gaal, praktis Daley Blind cukup kesulitan untuk bersaing di skuad utama United. Posisinya tergeser oleh Ashley Young yang diplot sebagai bek kiri oleh Jose Mourinho.

Akhirnya, pada tahun 2018 ia memutuskan untuk kembali ke Ajax yang kala itu sudah dilatih Ten Hag. Bermain di kampung halaman, ia seperti pemain yang terlahir kembali. Ia langsung menjadi sosok yang selalu diandalkan oleh Ten Hag.

Dalam kesempatan keduanya bersama Ajax, ia juga berkontribusi penuh dalam meraih beberapa gelar domestik seperti gelar Liga Belanda pada musim 2018/19, 2020/21 dan 2021/22.

Shinji Kagawa

Selain Daley Blind, Shinji Kagawa juga bernasib sama. Kagawa tergabung dalam skuad Dortmund yang menjuarai Bundesliga 2011 dan 2012. Menjalani dua musim yang luar biasa, membuat Sir Alex tergoda untuk mendatangkannya di awal musim 2012/13.

Sempat berhasil membantu United meraih gelar Liga Inggris di tahun pertamanya, Kagawa mulai tersisih ketika Sir Alex pensiun. Kagawa cukup kesulitan untuk mengamankan satu tempat di skuad utama. 

Merasa sudah habis di Inggris, Dortmund datang untuk menyelamatkan karir Kagawa. Menjalani periode keduanya bersama Dortmund, Kagawa mulai bangkit. Bahkan Ia berhasil menambahkan satu gelar DFB Pokal pada tahun 2016/17.

Van Persie

Mantan pemain Manchester United lainnya ada Robin Van Persie. Berbeda dengan Daley Blind dan Shinji Kagawa, Van Persie tak langsung kembali ke Arsenal ketika sudah menyelesaikan kerjasama dengan Setan Merah.

Van Persie sempat bermain untuk Fenerbahce sebelum akhirnya kembali ke klub masa kecilnya, Feyenoord. Bersama Feyenoord, Van Persie muda dulu pernah mengantarkan klub asal Belanda itu meraih gelar Europa League pada tahun 2002.

Menariknya, di periode keduanya bersama Feyenoord, Van Persie belum habis. Ia membantu Feyenoord untuk meraih dua gelar piala domestik. Bahkan legenda Arsenal ini masih bisa berkontribusi di 21 gol Feyenoord dalam 25 pertandingan di Liga musim 2018/19.

David Luiz

David Luiz yang datang ke Chelsea pada tahun 2011 tergabung dalam skuad Chelsea asuhan Roberto Di Matteo yang berhasil menjuarai Liga Champions untuk pertama kali dalam sejarah klub.

Luiz menghabiskan empat musim bersama Chelsea sebelum akhirnya dipinang oleh klub kaya raya asal Prancis, PSG. Berbeda dengan pemain lain di daftar kali ini, Raihan trofi, David Luiz di PSG semakin deras. Namun, ia tak pernah sekalipun meraih trofi Eropa bersama PSG.

Nah, ketika Antonio Conte menukangi Chelsea, ia memulangkan David Luiz dari PSG. Di Musim debut keduanya, Luiz langsung memberikan gelar Liga Inggris untuk The Blues. Puncaknya pada musim 2018/19, ia kembali meraih trofi Europa League. 

Didier Drogba

Masih dari Chelsea, ada Didier Drogba. Periode pertama Drogba di Chelsea sudah tak bisa diragukan lagi. Drogba yang sempat diragukan, seketika menjelma  mesin pencetak gol di bawah asuhan Jose Mourinho. 

Setelah memenangkan trofi Liga Champions di tahun 2012, Drogba sempat berkelana ke China hingga Turki, sebelum akhirnya kembali memperkuat Chelsea pada tahun 2014. 

Kembali berkolaborasi dengan Jose Mourinho, saat usianya sudah menginjak 36 tahun, Drogba membuktikan diri bahwa ia masih bisa memberikan kontribusi untuk klub. Ia berhasil menghadirkan dua gelar domestik yaitu satu Liga Inggris dan satu Piala Liga pada tahun 2015.

Zlatan Ibrahimovic

Yang terakhir ada Lord Zlatan Ibrahimovic. Sempat berkelana ke beberapa klub top Eropa, pada musim 2020/21, dengan mengejutkan Zlatan kembali memperkuat AC Milan. Di usianya yang tak muda lagi, banyak pihak yang meragukan kapasitas Ibra untuk bermain di sepakbola Eropa.

Namun, semua anggapan itu salah besar. Usia hanyalah angka bagi Lord Ibra. Di musim pertamanya kembali ke AC Milan, Ibra berhasil mencetak 10 gol dari 18 pertandingan musim lalu. Itu angka yang cukup untuk pemain yang sudah berusia 39 tahun.

Kini, ia menjalani musim kedua bersama Milan. Lagi-lagi, Ibra menjadi inspirator semangat Milan. Bahkan Ibra dan kolega sedang berambisi untuk meraih gelar scudetto musim ini demi mengembalikan kejayaan AC Milan yang telah lama hilang.

https://youtu.be/aVBqrpC4VUM

Sumber: Planetfootball, Fadeawayworld, Sportskeeda, Transfermarkt

7 Bukti Kebapukan Manchester United Musim 2021-2022

Satu hal yang menjadi keunggulan Manchester United di musim ini adalah kemampuan mereka untuk terus memburuk dan mencapai titik terendah. Hampir setiap pekannya mereka meninggalkan cerita buruk bagi fansnya. Ada saja hal aneh yang menimpa United mulai dari pemainnya sampai hasil permainannya.

Beberapa catatan rekor dalam titik terendah klub diukir United musim ini. Hal ini secara langsung berdampak buruk bagi Curriculum Vitae perjalanan klub besar seperti United. Berikut beberapa catatan titik terendah United musim ini yang perlu diketahui, yang kalau kata fans United, itu bodo amat.

Start dan Kelanjutan Yang Buruk Pula

Yang pertama adalah start yang buruk dari pelatih ke pelatih lainnya. Pelatih United di awal musim yakni Ole, mempunyai banyak rentetan hasil buruk yang tak bisa diampuni. Ketika dikalahkan Leicester, dicabik-cabik oleh Liverpool di Old trafford, mengubah derby di Old Trafford menjadi pertandingan latihan untuk Manchester City, dan berakhir kemudian dengan dihancurkan 4-1 oleh tim degradasi Watford, sehingga Ole akhirnya benar-benar Out.

MU merasa seolah-olah mendapatkan nafas tambahan ketika mendapatkan manajer sementara yang katanya cerdas dan dianggap bisa menyelesaikan permasalahan di United. Di bawah pelatih interim Ralf Rangnick, masih saja United tampil buruk. Kalah lagi dari Manchester City, kedua kalinya oleh Liverpool dan Arsenal, bahkan gagal melakukan perlawanan ketika mereka kalah di Everton adalah catatan di luar ekspektasi United terhadap Rangnick.

Tapi, dibantainya di kandang Brighton 4 gol tanpa balas adalah yang terburuk. Mereka sudah mencatatkan rekor kebobolan empat gol sebanyak lima kali di Liga Inggris musim ini. Satu lebih banyak dari tim juru kunci Norwich City.

5 Tahun Tanpa Trophy

Titik terendah United berikutnya adalah sudah 5 musim penuh Manchester United tanpa satupun trofi. Sejak terakhir Jose Mourinho mendapatkannya pada musim 2016/17. United musim ini gagal total dalam kurang lebih 4 turnamen yang mereka lakoni. Piala FA, Piala Liga, Liga Inggris dan Liga Champions.

Manchester United musim ini menciptakan cerita unik yakni “hattrick gagal melaju ke perempatfinal” di tiga kompetisi antarklub yang berbeda yakni Piala FA, Piala Liga (Carabao) dan Liga Champions. Di Piala FA, MU gagal melaju ke perempatfinal setelah kandas di 32 besar atas Middlesbrough dengan adu penalti.

Pada ajang Piala Liga, United gagal ke perempat final setelah kandas juga di 32 besar atas West Ham. Kemudian di Liga Champions, United yang melaju ke babak 16 besar gagal ke perempatfinal setelah tidak mampu mengatasi wakil Spanyol, Atletico Madrid.

Dipastikan Tidak Mengikuti UCL Musim Depan

Selain tanpa trophy, Manchester United musim ini juga dipastikan mengukir paling tidak beberapa rekor terburuknya dalam sejarah tampil di Premier League, akibat performanya yang bapuk pada musim ini.

Dengan rentetan hasil buruk musim ini, akhirnya menempatkan Manchester United tertahan sementara di posisi 6 liga dengan 58 poin dan sudah bisa dipastikan mereka gagal merebut tiket ke Liga Champions musim depan.

Dengan menyisakan satu laga lagi musim ini, melawan Crystal Palace, United dipastikan tak lagi punya kesempatan menembus posisi big four. Jatah tiket Liga Champions pun melayang musim ini seperti yang pernah mereka alami di musim 2013-14, 2015-16, dan 2018-19.

Total Poin Terendah Premier League Dalam Satu Musim

Pencapaian terendah Red Devils musim ini lainnya adalah raihan poinnya yang baru 58 poin. Artinya, di atas kertas, poin maksimal MU di Premier League 2021-2022 adalah 61 poin. Jumlah 61 poin tersebut merupakan rekor terburuk buat Manchester United sepanjang sejarahnya tampil di era Premier League yang bergulir sejak tahun 1992.

Sebelum musim ini, raihan poin paling rendah dari United dalam semusim di Premier League adalah 64 poin. Raihan 64 poin itu diraih United pada musim 2013/14. Sebagai Catatan saja kalau soal poin, bagaimanapun rekor 81 poin yang diraih pelatih United Jose Mourinho pada musim 2017/18, masih merupakan performa liga terbaik United di era pasca Sir Alex Ferguson.

Kebobolan Terbanyak Dalam Satu Musim

Manchester United juga punya titik terendah lain di Premier League musim 2021-2022 ini. Ada satu torehan buruk lain yang menyiratkan bahwa Setan Merah sungguh berada di titik nadir.

MU dipastikan mengukir jumlah kebobolan paling banyak dalam semusim di Premier League. Dengan tambahan gol saat dilumat Brighton 4 gol tanpa balas, gawang Manchester United kini sudah kebobolan sebanyak 56 kali pada musim ini. Mengalahkan rekor United sebelumnya dengan kebobolan 54 gol di musim 2018/19.

Angka kebobolan 56 gol itu pun memecahkan rekor sebagai angka kebobolan terbanyak MU sepanjang keikutsertaan mereka di Premier League. Angka kebobolan 56 gol itu pun masih berpeluang bertambah lagi, mengingat United masih memiliki 1 laga sisa musim ini yakni menghadapi Crystal Palace di pekan terakhir Liga Inggris pada 22 Mei 2022.

Jumlah Kemenangan Paling Sedikit Dalam Satu Musim

Setan Merah juga akan menetapkan rekor kemenangan baru di Premier League. Saat ini United masih mencatatkan total 16 kali kemenangan. Dengan satu pertandingan away tersisa melawan Crystal Palace, United dijamin akan menyelesaikan dengan kemenangan lebih sedikit yakni 17 kali kemenangan, kalau menang atas Palace. Perlu diketahui bahwa United terakhir mencapai titik terendah dalam hal jumlah kemenangan yakni pada musim 2016-2017 dan 2019-2020 dengan 18 kemenangan dalam satu musim di Liga Inggris.

Jumlah Kekalahan Terbanyak

Selain titik terendah dalam jumlah kemenangan, United dihadapkan pada titik terendah lainnya yakni jumlah kekalahan terbanyak dalam satu musim. Jika Manchester United kalah dalam pertandingan di pekan terakhir Liga Inggris melawan Crystal Palace, mereka akan dipastikan mencatatkan rekor titik terendah lagi. Yaitu menyamai jumlah kekalahan terbanyak sepanjang masa mereka dalam satu musim di Liga Inggris dengan jumlah total 12 kali kekalahan, seperti apa yang telah terjadi pada musim 2013-2014 jaman Moyes dan Giggs.

https://youtu.be/ffqMm8vC4u0

Sumber Referensi : theatheltic, sportingnews, transfermarket

Berita Bola Terbaru 11 Mei 2022 – Starting Eleven News

 Berita Bola Terbaru dan Terkini

BERNARDESCHI BERSEDIA PANGKAS GAJI DEMI BERTAHAN DI JUVENTUS

Winger timnas Italia, Federico Bernardeschi kabarnya bersedia untuk memperpanjang kontraknya dengan Juventus dalam durasi tiga tahun, meskipun perlu memangkas gajinya. Seperti diketahui, masa bakti Bernardeschi akan segera habis di musim panas mendatang, dan masa depannya telah menjadi pembahasan media selama beberapa bulan terakhir. Peran Bernardeschi yang hanya sebagai pemain pelapis membuat manajemen tidak bersedia menggajinya setara dengan pemain inti.

ZIDANE BAKAL HADIR DI FINAL UCL

Mantan pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane akan menyaksikan langsung laga final Liga Champions kala mantan timnya bersua dengan Liverpool, pada 28 Mei mendatang di Paris. Alasan Zidane mau nonton final Liga Champions belum diketahui. Yang jelas, belakangan, ada laporan yang menyebut jika ia dikaitkan bakal melatih PSG. Selain itu, namanya juga sering dikaitkan dengan Timnas Prancis. 

MARCOS ALONSO SIAP PINDAH KE BARCELONA

Menurut klaim jurnalis sekaligus pakar transfer asal Italia, Fabrizio Romano, Marcos Alonso terbuka untuk bergabung dengan Barcelona pada bursa transfer musim panas mendatang, karena dia ingin kembali ke Spanyol. Kontrak sang bek bersama Chelsea akan segera berakhir pada Juni tahun 2023 mendatang, dan musim panas ini tampaknya menjadi kesempatan terakhir untuk bisa menguangkan kepergiannya, jika memang The Blues tak berniat untuk memperpanjang kontraknya.

KLOPP: PERBURUAN GELAR LIGA INGGRIS BELUM BERAKHIR

Manajer Liverpool, Jurgen Klopp, mengatakan perburuan gelar untuk timnya di Liga Primer Inggris belum berakhir. Saat ini, Liverpool mungkin tertinggal tiga poin dari pemuncak klasemen, Manchester City, dengan menyisakan tiga pertandingan lagi. Meski begitu, Klopp percaya bahwa perburuan gelar belum selesai dan City belum bisa dipastikan menduduki podium puncak.

ARTETA KESAL DENGAN PERMAINAN PEPE VS LEEDS UNITED

Pelatih Arsenal Mikel Arteta tidak habis pikir dengan keputusan Nicolas Pepe, tidak langsung menembak ke gawang yang kosong, saat The Gunners berhadapan dengan Leeds United pada Minggu (8/5) dini hari. “Ketika Anda melihat bahwa dia memiliki jaring kosong di depannya dan dia melakukan sentuhan ke belakang, kami tidak dapat benar-benar mengerti tetapi Anda harus memiliki persepsi pemain pada saat itu,” kata Arteta.

KABAR BAIK MU, VILLARREAL SIAP DISKON HARGA JUAL PAUL TORRES

Rencana Manchester United untuk mengamankan jasa Pau Torres di musim panas nanti berpotensi jadi kenyataan. Hal ini disebabkan Villarreal bersedia menurunkan harga jual sang bek karena kontraknya akan habis di tahun 2024. Sementara sang bek dilaporkan enggan memperbaharui kontraknya di Villarreal.  Torres sebenarnya punya klausul rilis di kontraknya. Ia harus ditebus dengan kisaran 65 juta Euro di musim panas nanti agar ia bisa pergi. Namun Villarreal dilaporkan bersedia melepaskannya di angka 50 juta Euro (Rp767,9 miliar) saja.

INTER MIAMI TERTARIK ANGKUT JAMES RODRIGUEZ

James Rodriguez sudah tak betah berada di Qatar. Laporan terbaru menunjukkan bahwa dia telah meminta agennya untuk mencarikan jalan keluar musim panas ini. Idenya adalah untuk kembali ke Eropa, meskipun dia tidak tertutup untuk jalan lain. Diario AS mengklaim, eks pemain Madrid itu sedang menjadi incaran klub MLS Inter Miami.

LIVERPOOL MASIH JADI FAVORIT DAPATKAN BEK KANAN ABERDEEN

Klub raksasa Inggris, Liverpool tertarik untuk mengontrak bek kanan Aberdeen, Calvin Ramsay, dalam kesepakatan yang bisa memberi klub Liga Utama Skotlandia biaya transfer yang memecahkan rekor klub. Melansir Skysports, pemain berusia 18 tahun telah diidentifikasi di Anfield sebagai saingan bek kanan jangka panjang untuk bintang Inggris, Trent Alexander-Arnold.

LEONARDO SPINAZZOLA BAHAGIA BISA BERMAIN LAGI

Pemain AS Roma Leonardo Spinazzola akhirnya kembali bermain setelah berkutat dengan masalah pergelangan kaki selama 10 bulan terakhir. Ia dimasukkan sebagai pemain pengganti pada menit-menit akhir laga Fiorentina vs AS Roma, Selasa (10/5) dinihari WIB. Spinazzola tentu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia pun sudah tidak sabar ingin kembali menunjukkan penampilan terbaiknya di level klub maupun tim nasional.

ARSENAL SIAPKAN TAWARAN PERDANA UNTUK RAHEEM STERLING

Rumor ketertarikan Arsenal terhadap Raheem Sterling tampaknya benar adanya. Dikutip BBC, The Gunners dilaporkan sedang menyiapkan tawaran perdana untuk winger Manchester City tersebut. Mereka siap menawar Sterling di angka 50 juta pounds atau Rp897 miliar.  The Gunners optimistis bahwa tawaran mereka itu bakal diterima City sehingga Sterling bisa pindah di musim panas nanti.

FIFA PERINTAHKAN BRASIL DAN ARGENTINA MAINKAN LAGA KUALIFIKASI PIALA DUNIA

Komite Banding FIFA telah mengambil keputusan atas laga Tim Nasional Brasil melawan Argentina di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Amerika Selatan. Sebagai informasi, laga tersebut ditunda tahun lalu karena pelanggaran protokol kesehatan. Kedua tim sendiri telah lolos ke Piala Dunia di Qatar akhir tahun ini. Namun FIFA telah memutuskan pada Februari bahwa pertandingan harus diulang. FIFA berpendapat, lewat rapat yang dihelat di Zurich, Senin (9/5), diputuskan bahwa Brasil vs Argentina tetap harus dilaksanakan untuk menyempurnakan 18 pertandingan masing-masing tim. Waktunya saat jeda internasional September mendatang.

HASIL PERTANDINGAN

Liverpool meraih kemenangan penting saat melawan Aston Villa di Villa Park, Rabu dini hari tadi. Skuad besutan Jurgen Klopp itu menang 2-1 atas Villa setelah tertinggal lebih dulu lewat Douglas Luiz di menit ke-3. Liverpool lalu berhasil comeback berkat gol dari Joel Matip di menit ke-6 dan Sadio Mane di menit 65. Liverpool kini masih menempel ketat Manchester City di klasemen papan atas Liga Inggris. Sedangkan Villa ada di peringkat ke-11.

Dari ajang La Liga, Barcelona sukses mengalahkan Celta Vigo dengan skor 3-1. Dalam laga yang dihelat di Camp Nou, tiga gol El Barca dicetak oleh Memphis Depay di menit 30, serta dua gol dari Pierre Emerick Aubameyang di menit 41 dan menit 48. Gol balasan Celta Vigo sendiri dicetak oleh Iago Aspas di menit 50. Tambahan tiga poin masih membuat Barca ada di posisi kedua, sedangkan Celta Vigo menghuni posisi ke-11 klasemen La Liga. Pada laga lainnya dini hari tadi, Real Betis menang 3-0 atas Valencia, dan Granada menang 1-0 atas Bilbao.

MAN CITY – DORTMUND SEPAKATI TRANSFER ERLING HAALAND

Erling Haaland selangkah lagi gabung Manchester City. Melansir Bleacherreport, kabar terbaru menyebutkan, The Citizens telah menyepakati transfer Haaland dengan Borussia Dortmund. Lewat media sosial, Manchester City merilis pernyataan tersebut. City masih harus menyelesaikan rincian-rincian kesepakatan dengan si pemain.

DITINGGAL HAALAND, DORTMUND RESMI REKRUT KARIM ADEYEMI

Borussia Dortmund langsung mendapatkan pengganti Erling Haaland. Mereka secara resmi mengamankan jasa Karim Adeyemi dari klub juara Liga Austria RB Salzburg dengan kontrak hingga 2027. Pengumuman tersebut terjadi beberapa jam setelah Dortmund setuju melepas Haaland ke Manchester City. Dortmund tidak menyebutkan berapa mahar yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan Adeyemi.

EA SPORTS DAN FIFA RESMI AKHIRI KERJASAMA

Masa-masa indah memainkan EA Sports FIFA tampaknya akan segera berakhir. Pasalnya, pihak EA Sports dan FIFA menemui jalan buntu dalam proses perpanjangan kerja sama. Dikutip dari laman resmi EA Sports, gim sepak bola EA Sports FIFA tak terbit lagi setelah Juli 2023 mendatang. Dengan kata lain, EA Sports FIFA 23 akan menjadi edisi terakhir dari seri permainan sepakbola ini.

LIGA CHAMPIONS RESMI PAKAI FORMAT BARU MULAI MUSIM 2024/25

UEFA telah resmi memutuskan bahwa Liga Champions akan memiliki format kompetisi yang baru mulai musim 2024/25, Selasa (10/5). Format anyar Liga Champions tersebut bernama ‘Sistem Swiss’. Jumlah peserta Liga Champions nantinya akan bertambah empat klub dari aturan sebelumnya, yakni menjadi 36. Kemudian, format baru Liga Champions nantinya tidak akan berjalan dengan sistem grup dan babak penyisihan lagi. Namun, Liga Champions akan memakai format liga di mana setiap klub akan melakoni delapan pertandingan yang terbagi menjadi empat laga kandang dan empat laga tandang.

RUDIGER CAPAI KESEPAKATAN DENGAN REAL MADRID

Dikutip Sky Sports, bek Jerman, yang kontraknya habis dengan Chelsea pada Juni, dikabarkan telah menuntaskan kesepakatan dengan Real Madrid melalui agennya. Rudiger dipastikan hijrah ke Santiago Bernabeu dengan status bebas transfer. Rudiger telah meneken kontrak empat tahun bersama Real Madrid. Itu berarti sang defender bakal memperkuat Los Blancos sampai 2026.

MOURINHO CUMA KETAWAIN AJA SAKIT HATINYA SAMA TOTTENHAM

Pelatih AS Roma, Jose Mourinho mengaku sudah tidak sakit hati sama Tottenham Hotspur yang memecatnya jelang laga final Carabao Cup musim lalu. Dilansir dari Football Italia, Jose Mourinho sudah melupakan kenangan pahit di Tottenham Hotspur. Mourinho juga sudah tidak dendam kepada jajaran klub asal London itu. Mourinho memilih untuk enjoy saja. Kenangan pahit di Spurs malah dijadikan sebagai bahan bercanda dengan para jurnalis dari Inggris.

LIHAT SANDRO TONALI, LEGENDA MILAN TERINGAT CONTE

Penampilan gemilang Sandro Tonali di lini tengah AC Milan membuat legenda klub, Demetrio Albertini langsung teringat dengan Antonio Conte saat masih bermain. Gelandang 22 tahun itu telah menjadi bagian integral dari perjalanan klub besutan Stefano Pioli menuju gelar juara Serie A.  Albertini juga mengatakan Tonali sekarang akan bernilai lima kali lipat dari biaya pinjaman awal 10 juta euro yang dibayarkan Milan kepada Brescia untuk jasanya pada tahun 2020.

KARIM BENZEMA DIGANGGU ISU TERORISME

Striker Real Madrid, Karim Benzema, sedang dalam performa terbaiknya pada musim ini. Namun, di tengah performa moncernya itu, Benzema diterpa isu terorisme. Seperti dilansir Le Parisien, Benzema dituding aktivis sayap kanan yang juga anggota Partai Reconquest, Damien Rieu, dekat dengan Imam Nourdine Mamoune. Tak berhenti sampai di situ, Rieu juga memajang foto Benzema sembari mengacungkan jari telunjuk ke atas di akun Twitter-nya. Di foto yang sama juga terdapat beberapa orang yang diduga anggota teroris.

TERUNGKAP! BEK LYON DIPECAT KARENA KENTUT DI RUANG GANTI

Bek veteran asal Brasil, Marcelo, mungkin tidak menyangka tindakan konyolnya di ruang ganti berujung pemutusan kontrak dari Lyon pada Agustus 2021 lalu. Kini, baru terungkap bahwa kepindahan bek 34 tahun itu dipicu etika yang kurang di ruang ganti dengan kentut sembarangan yang mengganggu petinggi Lyon selama periode sulit klub. Namun, dilansir Goal, Marcelo membantah kabar dirinya dipecat karena kentut.

LIONEL MESSI JADI DUTA PARIWISATA ARAB SAUDI

Lionel Messi tiba di Jeddah pada hari Senin (9/5) setelah Otoritas Pariwisata Saudi mengumumkan bahwa bintang PSG dan Argentina sebagai duta pariwisata Arab Saudi yang baru. Saat pengumuman peran barunya sebagai duta Pariwisata menyebar di media sosial, pengguna, termasuk sesama pesepakbola, memuji Kementerian Pariwisata karena berhasil merekrut Messi jadi duta pariwisata Arab Saudi.

BEK BARCELONA KOLAPS DAN DILARIKAN KE RUMAH SAKIT

Kejadian tidak mengenakkan dialami bek Barcelona, Ronald Araujo dalam pertandingan melawan Celta Vigo. Araujo dilarikan ke rumah sakit setelah beradu kepala dengan Gavi pada menit ke-62. Melalui akun media sosialnya, Barcelona membeberkan kondisi Araujo. Pemain berusia 23 tahun tersebut mengalami gegar otak dan telah dibawa ke rumah sakit. Sementara pelatih Barcelona, Xavi memastikan bahwa Araujo saat ini sudah sadar.

LIVERPOOL KEMBALI BUKA NEGOSIASI KONTRAK DENGAN MANE

Liverpool dikabarkan siap menggelar negosiasi kontrak baru dengan perwakilan Sadio Mane. Menurut Goal, pembicaraan antara kubu Mane dan Liverpool dijadwalkan untuk akhir musim.  Laporan itu menambahkan bahwa sementara Sadio Mane saat ini tetap senang dengan kehidupan di Merseyside, pemain sayap itu tidak menentang gagasan transfer di tempat lain.

ADIK RONALDO ‘SENANG’ JIKA KAKAKNYA PERGI DARI MU MUSIM INI

Para penggemar meminta kepada Cristiano Ronaldo agar berpikir ulang terkait masa depannya di Old Trafford. Ia diimbau untuk melupakan sebuah ‘cinta abadi’ dengan MU dan mencari tempat pelabuhan baru. Sinyal tersebut pun disetujui oleh adik perempuannya, Katia Aveiro ketika dirinya menyukai salah satu komentar yang menulis agar Ronaldo berhenti atau meninggalkan MU pada jendela transfer musim panas nanti.

VIDEO VIRAL MO SALAH OGAH NGOPER KE LUIS DIAZ

Video viral Mohamed Salah ogah mengoper Luis Diaz viral di media sosial. Dalam potongan video itu, Mohamed Salah terlihat beberapa kali mengabaikan Diaz yang berada pada posisi lebih ideal. Pada beberapa kesempatan itu, Salah terlihat lebih memilih untuk menembak bola sendiri atau mengoper ke rekan lain pada saat posisi Luis Diaz relatif lebih potensial untuk bikin gol.

TIMNAS INDONESIA LIBAS TIMOR LESTE

Timnas Indonesia sukses mengalahkan Timor Leste dengan skor 4-1 pada laga kedua sea games, selasa malam. Empat gol Indonesia dicetak oleh Egi Maulana Vikri, Witan Sulaiman, Fachrudin Aryanto, dan gol kedua Witan Sulaiman. Sedangkan satu gol Timor Leste dicetak oleh Mouzinho.

Ngapain Marc Klok Masuk Timnas Indonesia?

0

Meski langsung menurunkan seluruh pemain seniornya, Shin Tae-yong belum bisa menghindarkan garuda muda dari kekalahan 3-0 dari sang tuan rumah, Vietnam. Hasil tersebut sontak membuat performa dari salah satu pemain senior, yaitu Marc Klok langsung jadi sorotan netizen Indonesia. 

Kehadiran Marc Klok untuk mengisi slot tiga pemain senior di Timnas Indonesia U-23 telah menimbulkan beberapa anggapan miring, lantaran ia tak menampilkan performa yang greget di lini tengah.

Banyak pihak yang mempertanyakan, mengapa Shin tae-yong lebih memilih Marc Klok ketimbang gelandang-gelandang senior lainnya? Marc Klok dianggap belum pantas untuk masuk skuad utama Timnas Indonesia. Namun, benarkah demikian?

Performa Marc Klok di Sea Games

Marc Klok jadi satu-satunya pemain naturalisasi yang memperkuat Timnas Indonesia di ajang Sea Games Hanoi, Vietnam, lantaran Elkan Baggot belum mendapat izin dari klubnya saat ini, Ipswich Town.

Kembali lagi ke pemahaman bahwa tujuan utama dari program naturalisasi adalah untuk membantu meningkatkan performa Timnas indonesia melalui perbedaan kualitas yang dimiliki oleh para pemain naturalisasi tersebut.

Namun, performa dari Marc Klok ini cenderung biasa-biasa saja. Bahkan penampilan Klok yang diharapkan bisa menjadi aktor utama di lini tengah Timnas Indonesia, malah mengecewakan. 

Di pertandingan pertama, Shin Tae-yong menginstruksikan Klok untuk bermain sebagai gelandang tengah pada babak pertama. Bersama Ricky Kambuaya, pemain Persib itu gagal menerapkan permainan yang dimau oleh Shin Tae-yong.

Klok diharapkan bisa menjadi gelandang box to box yang mana ia seharusnya bisa lebih efektif dalam membantu penyerangan maupun membantu pertahanan. Namun, kenyataannya distribusi Marc klok tak begitu terlihat. 

Punggawa Persib Bandung itu juga sering kehilangan bola dan tidak bisa mengembangkan permainan Timnas Indonesia dengan baik. Intersep yang dilakukan Marc Klok cenderung kurang rapi, sehingga kerap membuahkan pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu.

Seperti yang ia lakukan di pertandingan kedua melawan Timor Leste. Meski anak asuh Shin Tae-yong berhasil menang besar 4-1, performa Klok tetap jadi sorotan publik Indonesia.

Belum genap dua menit laga berjalan, Marc Klok sudah melakukan blunder dengan menjatuhkan pemain Timor Leste di kotak penalti sendiri. Pelanggaran itu diawali dengan Klok yang tak mampu mengontrol umpan Fachrudin dengan baik. 

Dengan niatan ingin bertanggung jawab, Klok bergegas merebut bola. Namun ia malah melakukan tackling ngawur yang membuahkan penalti untuk Timor Leste. Mungkin ini gara-gara Klok keseringan main di Liga Dagelan. Kalau di Liga Dagelan, tackle begini pasti bukan sebuah pelanggaran.

Beruntungnya, di bawah mistar Timnas Indonesia ada Ernando Ari yang menggagalkan sepakan pemain Timor Leste. Marc Klok harus sungkem sama bocah 20 tahun ini.

Pemain Bingung

Dalam laga melawan Timor Leste Marc Klok dimainkan di posisi aslinya yaitu gelandang bertahan menggantikan Rachmat Irianto. Namun, permainan Klok justru tak berkembang. 

Selain sering blunder di area pertahanan sendiri, Klok malah sering out of position. Dengan Abimanyu yang berperan sebagai pembagi bola dan Ricky Kambuaya yang bertugas sebagai penghubung antarlini, Klok justru sibuk mengcover posisi Rio Fahmi di sisi kanan  sehingga lupa dengan tugas sebenarnya.

Jadi, agak bingung juga sama si Marc Klok ini. Dimainkan sebagai gelandang bertahan, suka blunder. Dimainin di gelandang tengah, penampilannya malah kurang menyala. Ia malah sering memainkan bola-bola atas, syukur kalau umpannya akurat, lah ini enggak.

Mungkin karena ini adalah kompetisi resmi pertama bagi Klok bersama Timnas Indonesia, jadi Klok belum terbiasa memainkan skema yang diinginkan Shin Tae-yong. Terlebih Klok juga sudah jarang bermain sebagai gelandang bertahan. 

Posisi Bermain di Klub

Sewaktu bermain di Persib Bandung, ia bermain bersama Muhammad Rashid, nah Rashid lah yang yang lebih sering mengemban tugas sebagai gelandang bertahan yang mengcover Klok yang lebih sering bermain menyerang atau sedikit ke samping.

Memang betul, ketika bermain di Persib, posisi Klok berubah menjadi gelandang tengah atau sesekali tampil sebagai pembantu lini serang. Bahkan ia sudah jarang bermain sebagai gelandang bertahan sejak ia bermain di Persija Jakarta. 

Sama halnya dengan di Persib, Marc Klok saat masih bermain di Persija juga mendapat support dari gelandang yang lebih aktif bertahan seperti Rohit Chand untuk mengcovernya di lini tengah. 

Jadi, Klok sebenarnya tak terbiasa memainkan peran gelandang bertahan sendirian. Ia perlu lawan main yang berjiwa lebih bertahan daripada dirinya untuk mengcover area belakang.

Marc Klok Pilihan Terbaik?

Lalu mengapa Shin Tae-yong masih memilih Marc Klok? Apakah ia merupakan opsi terbaik di lini tengah Timnas Indonesia? Tidak juga. 

Marc Klok hanya unggul di ketahanan tubuh dan kebetulan jebolan FC Utrecht dan Dundee FC. Sisanya standar, biasa-biasa saja, sama seperti gelandang-gelandang lokal pada umumnya.

Apabila dibandingkan dengan pemain tengah langganan Indonesia lainnya, Marc Klok ini kalah bagus sama Rachmat Irianto atau Evan Dimas. Meski Evan tak memiliki badan yang kuat kekar seperti Klok, Evan ini jago memainkan tempo permainan, dan untuk urusan bola mati, Evan juga tak kalah bagus dengan Marc Klok.

Sedangkan Irianto? Sudah tak diragukan lagi. Meski belum matang sempurna, pengambilan bola Irianto ini cukup rapi. Tak seperti Marc Klok yang lebih keras dan beresiko mendapatkan hukuman kartu. Terlebih, Irianto ini tipe pemain yang bisa memimpin lini tengah.

Mereka berdua juga lebih berpengalaman di Timnas Indonesia dan cukup akrab dengan metode kepelatihan dari Shin Tae-yong. Namun sayang, Evan Dimas kali ini tak dipanggil Shin Tae-yong untuk memenuhi kuota pemain senior.

Opsi Lain Lini Tengah Indonesia

Jika nama-nama tersebut dirasa kurang cukup, Indonesia masih punya banyak opsi pemain lain di lini tengah. Sebut saja seperti gelandang Zulfiandi atau gelandang pekerja keras yang lagi-lagi milik Persebaya, Alwi Slamat.

Zulfiandi dikabarkan telah pulih dari cedera lutut. Pemain Madura United ini, sudah kembali bermain di beberapa pertandingan terakhir musim lalu. Kemampuannya mengolah si kulit bundar begitu komplit. 

Pemuda asal Aceh itu piawai mengatur tempo permainan dan visi bermainnya pun cemerlang. Bahkan ia sempat mendapat pujian setinggi langit dari Luis Milla. Mantan pelatih Timnas Indonesia itu berkata bahwa permainan Zulfiandi mirip dengan Sergio Busquets di Barcelona.

Selanjutnya ada Alwi Slamat dari Persebaya. Pemain sayap yang disulap oleh Aji Santoso menjadi gelandang bertahan ini cukup handal dalam memutus serangan lawan. 

Bersama Bajul Ijo, Alwi tampil tak kenal lelah. Ia bisa bermain keras tapi umpannya acap kali ajaib sehingga memudahkan Taisei dan Bruno Moreira di lini depan. Terlebih, Alwi juga memiliki daya jelajah yang tinggi di lapangan. Cukup aneh melihat Shin Tae-yong yang belum memanggilnya ke Timnas.

https://youtu.be/XkJuDa6uhp0

Sumber: Bola, BolaSport, Transfermarkt, Bola Okezone