Ngapain Marc Klok Masuk Timnas Indonesia?

spot_img

Meski langsung menurunkan seluruh pemain seniornya, Shin Tae-yong belum bisa menghindarkan garuda muda dari kekalahan 3-0 dari sang tuan rumah, Vietnam. Hasil tersebut sontak membuat performa dari salah satu pemain senior, yaitu Marc Klok langsung jadi sorotan netizen Indonesia. 

Kehadiran Marc Klok untuk mengisi slot tiga pemain senior di Timnas Indonesia U-23 telah menimbulkan beberapa anggapan miring, lantaran ia tak menampilkan performa yang greget di lini tengah.

Banyak pihak yang mempertanyakan, mengapa Shin tae-yong lebih memilih Marc Klok ketimbang gelandang-gelandang senior lainnya? Marc Klok dianggap belum pantas untuk masuk skuad utama Timnas Indonesia. Namun, benarkah demikian?

Performa Marc Klok di Sea Games

Marc Klok jadi satu-satunya pemain naturalisasi yang memperkuat Timnas Indonesia di ajang Sea Games Hanoi, Vietnam, lantaran Elkan Baggot belum mendapat izin dari klubnya saat ini, Ipswich Town.

Kembali lagi ke pemahaman bahwa tujuan utama dari program naturalisasi adalah untuk membantu meningkatkan performa Timnas indonesia melalui perbedaan kualitas yang dimiliki oleh para pemain naturalisasi tersebut.

Namun, performa dari Marc Klok ini cenderung biasa-biasa saja. Bahkan penampilan Klok yang diharapkan bisa menjadi aktor utama di lini tengah Timnas Indonesia, malah mengecewakan. 

Di pertandingan pertama, Shin Tae-yong menginstruksikan Klok untuk bermain sebagai gelandang tengah pada babak pertama. Bersama Ricky Kambuaya, pemain Persib itu gagal menerapkan permainan yang dimau oleh Shin Tae-yong.

Klok diharapkan bisa menjadi gelandang box to box yang mana ia seharusnya bisa lebih efektif dalam membantu penyerangan maupun membantu pertahanan. Namun, kenyataannya distribusi Marc klok tak begitu terlihat. 

Punggawa Persib Bandung itu juga sering kehilangan bola dan tidak bisa mengembangkan permainan Timnas Indonesia dengan baik. Intersep yang dilakukan Marc Klok cenderung kurang rapi, sehingga kerap membuahkan pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu.

Seperti yang ia lakukan di pertandingan kedua melawan Timor Leste. Meski anak asuh Shin Tae-yong berhasil menang besar 4-1, performa Klok tetap jadi sorotan publik Indonesia.

Belum genap dua menit laga berjalan, Marc Klok sudah melakukan blunder dengan menjatuhkan pemain Timor Leste di kotak penalti sendiri. Pelanggaran itu diawali dengan Klok yang tak mampu mengontrol umpan Fachrudin dengan baik. 

Dengan niatan ingin bertanggung jawab, Klok bergegas merebut bola. Namun ia malah melakukan tackling ngawur yang membuahkan penalti untuk Timor Leste. Mungkin ini gara-gara Klok keseringan main di Liga Dagelan. Kalau di Liga Dagelan, tackle begini pasti bukan sebuah pelanggaran.

Beruntungnya, di bawah mistar Timnas Indonesia ada Ernando Ari yang menggagalkan sepakan pemain Timor Leste. Marc Klok harus sungkem sama bocah 20 tahun ini.

Pemain Bingung

Dalam laga melawan Timor Leste Marc Klok dimainkan di posisi aslinya yaitu gelandang bertahan menggantikan Rachmat Irianto. Namun, permainan Klok justru tak berkembang. 

Selain sering blunder di area pertahanan sendiri, Klok malah sering out of position. Dengan Abimanyu yang berperan sebagai pembagi bola dan Ricky Kambuaya yang bertugas sebagai penghubung antarlini, Klok justru sibuk mengcover posisi Rio Fahmi di sisi kanan  sehingga lupa dengan tugas sebenarnya.

Jadi, agak bingung juga sama si Marc Klok ini. Dimainkan sebagai gelandang bertahan, suka blunder. Dimainin di gelandang tengah, penampilannya malah kurang menyala. Ia malah sering memainkan bola-bola atas, syukur kalau umpannya akurat, lah ini enggak.

Mungkin karena ini adalah kompetisi resmi pertama bagi Klok bersama Timnas Indonesia, jadi Klok belum terbiasa memainkan skema yang diinginkan Shin Tae-yong. Terlebih Klok juga sudah jarang bermain sebagai gelandang bertahan. 

Posisi Bermain di Klub

Sewaktu bermain di Persib Bandung, ia bermain bersama Muhammad Rashid, nah Rashid lah yang yang lebih sering mengemban tugas sebagai gelandang bertahan yang mengcover Klok yang lebih sering bermain menyerang atau sedikit ke samping.

Memang betul, ketika bermain di Persib, posisi Klok berubah menjadi gelandang tengah atau sesekali tampil sebagai pembantu lini serang. Bahkan ia sudah jarang bermain sebagai gelandang bertahan sejak ia bermain di Persija Jakarta. 

Sama halnya dengan di Persib, Marc Klok saat masih bermain di Persija juga mendapat support dari gelandang yang lebih aktif bertahan seperti Rohit Chand untuk mengcovernya di lini tengah. 

Jadi, Klok sebenarnya tak terbiasa memainkan peran gelandang bertahan sendirian. Ia perlu lawan main yang berjiwa lebih bertahan daripada dirinya untuk mengcover area belakang.

Marc Klok Pilihan Terbaik?

Lalu mengapa Shin Tae-yong masih memilih Marc Klok? Apakah ia merupakan opsi terbaik di lini tengah Timnas Indonesia? Tidak juga. 

Marc Klok hanya unggul di ketahanan tubuh dan kebetulan jebolan FC Utrecht dan Dundee FC. Sisanya standar, biasa-biasa saja, sama seperti gelandang-gelandang lokal pada umumnya.

Apabila dibandingkan dengan pemain tengah langganan Indonesia lainnya, Marc Klok ini kalah bagus sama Rachmat Irianto atau Evan Dimas. Meski Evan tak memiliki badan yang kuat kekar seperti Klok, Evan ini jago memainkan tempo permainan, dan untuk urusan bola mati, Evan juga tak kalah bagus dengan Marc Klok.

Sedangkan Irianto? Sudah tak diragukan lagi. Meski belum matang sempurna, pengambilan bola Irianto ini cukup rapi. Tak seperti Marc Klok yang lebih keras dan beresiko mendapatkan hukuman kartu. Terlebih, Irianto ini tipe pemain yang bisa memimpin lini tengah.

Mereka berdua juga lebih berpengalaman di Timnas Indonesia dan cukup akrab dengan metode kepelatihan dari Shin Tae-yong. Namun sayang, Evan Dimas kali ini tak dipanggil Shin Tae-yong untuk memenuhi kuota pemain senior.

Opsi Lain Lini Tengah Indonesia

Jika nama-nama tersebut dirasa kurang cukup, Indonesia masih punya banyak opsi pemain lain di lini tengah. Sebut saja seperti gelandang Zulfiandi atau gelandang pekerja keras yang lagi-lagi milik Persebaya, Alwi Slamat.

Zulfiandi dikabarkan telah pulih dari cedera lutut. Pemain Madura United ini, sudah kembali bermain di beberapa pertandingan terakhir musim lalu. Kemampuannya mengolah si kulit bundar begitu komplit. 

Pemuda asal Aceh itu piawai mengatur tempo permainan dan visi bermainnya pun cemerlang. Bahkan ia sempat mendapat pujian setinggi langit dari Luis Milla. Mantan pelatih Timnas Indonesia itu berkata bahwa permainan Zulfiandi mirip dengan Sergio Busquets di Barcelona.

Selanjutnya ada Alwi Slamat dari Persebaya. Pemain sayap yang disulap oleh Aji Santoso menjadi gelandang bertahan ini cukup handal dalam memutus serangan lawan. 

Bersama Bajul Ijo, Alwi tampil tak kenal lelah. Ia bisa bermain keras tapi umpannya acap kali ajaib sehingga memudahkan Taisei dan Bruno Moreira di lini depan. Terlebih, Alwi juga memiliki daya jelajah yang tinggi di lapangan. Cukup aneh melihat Shin Tae-yong yang belum memanggilnya ke Timnas.

Sumber: Bola, BolaSport, Transfermarkt, Bola Okezone

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru